Category: Tekno

  • Teradata Tahan Gaji Karyawan Demi Investasi AI

    Teradata Tahan Gaji Karyawan Demi Investasi AI

    JBNews.id — Perusahaan perangkat lunak cloud Teradata secara terbuka memberi tahu lebih dari 5.000 karyawannya bahwa mereka tidak akan mendapatkan kenaikan gaji pada tahun 2026 karena anggaran perusahaan dialihkan untuk investasi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam cara para eksekutif teknologi mengkomunikasikan prioritas finansial mereka.

    Keputusan tersebut diungkapkan melalui memo internal yang diperoleh Business Insider. Dalam memo itu, CEO Teradata Steve McMillan secara eksplisit menyatakan bahwa perusahaan akan mendanai investasi AI dengan mengalokasikan ulang anggaran yang sebelumnya disiapkan untuk penyesuaian gaji tahunan. “We will fund this AI investment by reallocating the budget from 2026 annual salary adjustments,” tulis McMillan.

    Langkah Teradata ini menjadi salah satu contoh paling gamblang di mana kepentingan karyawan dikorbankan demi mengejar tren teknologi. Alih-alih meredam sentimen anti-AI yang terus tumbuh, keputusan ini justru berpotensi memperburuk hubungan antara manajemen dan tenaga kerja. Para pakar mulai mempertanyakan apakah mengesampingkan tenaga kerja manusia demi investasi AI adalah keputusan yang bijak.

    Investasi AI yang Gagal

    Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak investasi AI tidak memberikan hasil yang diharapkan. Sebuah studi MIT tahun lalu mengungkapkan angka yang mengejutkan: 95 persen program percontohan AI di perusahaan mengalami kegagalan dan tidak memberikan dampak terukur terhadap profitabilitas. Temuan ini memicu keraguan di kalangan pemimpin industri tentang efektivitas strategi yang mengutamakan AI di atas segalanya.

    Selain itu, biaya operasional untuk mengganti staf manusia dengan AI ternyata melonjak signifikan. Perusahaan harus menanggung biaya penggunaan kode AI yang sangat besar, sehingga memunculkan pertanyaan baru: apakah mempekerjakan pekerja manusia sebenarnya lebih murah? Realitas ini secara serius menantang asumsi bahwa AI akan menggantikan pekerja dan menekan biaya.

    Keputusan Teradata untuk memotong kenaikan gaji demi mendanai AI menjadi sangat dipertanyakan di tengah bukti bahwa investasi semacam itu seringkali tidak membuahkan hasil. Para ahli yang berbicara dengan Business Insider menilai bahwa pengakuan Teradata yang begitu terus terang menandai perubahan penting dalam cara para pemimpin teknologi berbicara tentang keputusan mereka.

    “Apakah itu lebih jujur atau lebih sinis tergantung pada cara Anda membacanya, tetapi ini menandai pergeseran nyata dalam apa yang bersedia dikatakan para pemimpin di depan umum,” ujar pakar strategi tempat kerja dan penulis Jennifer Moss kepada Business Insider. “Dan apa yang menjadi bisa diucapkan cenderung menjadi lebih bisa dilakukan.”

    Sinyal untuk Investor yang Berisiko

    Bagi sebagian pengamat, langkah Teradata merupakan upaya para CEO untuk mengirimkan sinyal kepada investor bahwa mereka bersedia merangkul teknologi mutakhir dengan segala cara. Namun, strategi ini bisa menjadi bumerang. “Ketika para pemimpin secara terbuka memotong kompensasi manusia untuk mendanai AI, mereka mencoba memproyeksikan manajemen yang tegas dan maju secara teknologi,” jelas ekonom Universitas Oxford Jan-Emmanuel De Neve kepada Business Insider.

    De Neve menambahkan, “Namun, pesan sebenarnya yang sampai ke tenaga kerja adalah bahwa mereka tidak memiliki masa depan yang aman di organisasi.” Pernyataan ini menyoroti kesenjangan antara persepsi manajemen dan realitas yang dirasakan oleh karyawan. Ketika perusahaan seperti Teradata mengambil langkah drastis, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh karyawan yang terkena dampak langsung, tetapi juga oleh seluruh ekosistem industri teknologi.

    Fenomena ini bukanlah kasus yang terisolasi. Banyak perusahaan rintisan teknologi yang juga mulai mempertanyakan apakah model AI mandiri yang mereka bangun benar-benar memberikan nilai tambah. Sementara itu, pengembangan AI tiruan otak manusia terus berlanjut, namun belum ada jaminan bahwa investasi tersebut akan segera menghasilkan keuntungan.

    Implikasinya bagi pembaca cukup jelas: tren mengorbankan kepentingan karyawan demi investasi AI mungkin akan terus berlanjut, terutama jika para CEO merasa perlu menunjukkan komitmen mereka terhadap teknologi terbaru. Namun, data menunjukkan bahwa strategi ini penuh risiko. Tingkat kegagalan investasi AI yang tinggi dan biaya operasional yang membengkak membuat keputusan seperti yang diambil Teradata menjadi semakin dipertanyakan.

    Para pekerja di industri teknologi perlu waspada. Jika perusahaan tempat mereka bekerja mulai menunjukkan tanda-tanda serupa—mengutamakan investasi AI di atas kesejahteraan karyawan—mungkin sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali prospek karir jangka panjang. Di sisi lain, investor juga harus lebih kritis terhadap klaim-klaim ambisius tentang potensi AI yang belum terbukti secara nyata.

    Kisah Teradata adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk adopsi AI, sumber daya manusia tetap menjadi aset paling berharga bagi perusahaan. Mengorbankan mereka demi teknologi yang belum terbukti efektif bukanlah strategi yang bijaksana, melainkan sebuah perjudian yang bisa berakhir dengan kerugian besar.

    Dengan semakin banyaknya bukti bahwa investasi AI seringkali gagal memberikan hasil yang dijanjikan, para pemimpin perusahaan perlu memikirkan ulang prioritas mereka. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan kesejahteraan karyawan harus dijaga, bukan dikorbankan untuk mengejar tren sesaat.

    Keputusan Teradata mungkin menjadi awal dari gelombang baru di mana perusahaan-perusahaan teknologi semakin terbuka tentang pengorbanan yang mereka lakukan demi AI. Namun, jika data kegagalan investasi AI terus bertambah, gelombang ini bisa berbalik arah dengan cepat.

  • IPO SpaceX: Misi Mars Tergusur Fokus Pusat Data AI

    IPO SpaceX: Misi Mars Tergusur Fokus Pusat Data AI

    JBNews.id — IPO SpaceX yang tinggal sepekan lagi menghadapi perubahan fundamental. Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu tak lagi menjadikan misi pemukiman Mars sebagai prioritas utama. Sebaliknya, Musk justru menggabungkan SpaceX dengan perusahaan rintisan AI miliknya, xAI, untuk fokus mengembangkan pusat data berbasis antariksa (space-based data centers). Langkah ini dinilai sebagai pengalihan yang sangat mahal dan berpotensi sia-sia.

    IPO SpaceX bertujuan menggalang dana sebesar USD 75 miliar dengan valuasi astronomis mencapai USD 1,78 triliun. Namun, keputusan merger dengan xAI mengubah struktur biaya perusahaan secara drastis. Mayoritas pengeluaran pasca-merger kini tersedot untuk membiayai operasional xAI yang terus membakar uang tunai. Kondisi ini memperparah posisi keuangan SpaceX yang sebelumnya sudah membakar miliaran dolar setiap tahunnya.

    Sejumlah analis mulai mempertanyakan kemampuan SpaceX mempertahankan valuasi setinggi itu dalam jangka panjang. Richard Waters dari Financial Times dalam analisis terbarunya menyoroti apakah valuasi tersebut masih bisa dijustifikasi lima hingga sepuluh tahun ke depan. Bahkan untuk standar Musk sekalipun, rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) yang agresif ini bisa menjadi bumerang jika kepercayaan investor mulai luntur.

    Kekhawatiran tersebut memicu perbincangan hangat di kalangan investor mengenai rencana short selling saham SpaceX. Situasi ini menyiapkan panggung bagi pergerakan harga saham yang liar pasca-IPO nanti. Ketegangan semakin meningkat karena transformasi SpaceX menjadi perusahaan AI, bersamaan dengan IPO raksasa AI lainnya seperti OpenAI dan Anthropic, dikhawatirkan akan menambah beban pada pasar Wall Street yang sudah kelebihan kapasitas.

    Kritik Terhadap Valuasi dan Strategi Bisnis

    Para pengamat membandingkan situasi ini dengan sejarah saham Tesla. Perusahaan mobil listrik milik Musk itu selama ini bertahan dengan valuasi tinggi berkat janji-janji masa depan tentang robot humanoid dan kendaraan otonom, sementara pendapatan riil perusahaan tertinggal jauh. Pola serupa kini terlihat pada SpaceX, di mana fundamental bisnis kemungkinan bukan menjadi faktor utama penentu harga saham.

    Sumber pendapatan utama SpaceX saat ini adalah jaringan komunikasi satelit Starlink. Bisnis ini baru mulai memberikan kontribusi berarti terhadap pengeluaran raksasa perusahaan. Selain itu, SpaceX masih sangat bergantung pada kontrak pemerintah yang menguntungkan. Ketergantungan pada dua sumber pendapatan ini membuat struktur keuangan perusahaan rentan terhadap perubahan kebijakan atau persaingan pasar.

    Musk juga telah menggabungkan proyek-proyek lain yang terus membakar uang, seperti platform X (sebelumnya Twitter) dan xAI, ke dalam struktur SpaceX. Integrasi ini menciptakan campuran yang lebih eksplosif jika kondisi keuangan memburuk. Para analis memperingatkan bahwa IPO SpaceX pada dasarnya tidak mengubah fakta mendasar: Musk tidak menjual proposisi bisnis yang menguntungkan kepada investor ritel, melainkan menjual mimpi tentang masa depan yang belum terbukti.

    Konsep Pusat Data Orbital yang Belum Teruji

    Para ahli tetap skeptis terhadap konsep pusat data orbital (orbital data centers). Teknologi ini sepenuhnya belum teruji dan memerlukan investasi infrastruktur yang sangat besar. Meskipun roket dan jaringan komunikasi satelit SpaceX merupakan pencapaian yang mengesankan, banyak pihak meragukan kelayakan komersial pusat data di luar angkasa dalam waktu dekat.

    Analis dari berbagai lembaga keuangan juga menyoroti bahwa IPO SpaceX yang besar, bersama dengan IPO OpenAI dan Anthropic, bisa menjadi pemicu gelembung pasar saham. Jika antusiasme investor yang sudah memuncak tidak diimbangi dengan fundamental bisnis yang kuat, dampaknya bisa meluas ke seluruh sektor teknologi.

    “Roket dan jaringan komunikasi satelit SpaceX, seperti halnya mobil listrik Tesla, tentu merupakan pencapaian yang mengesankan,” tulis Waters dalam analisisnya. “Namun kejeniusan Musk yang sesungguhnya terletak pada kemampuannya menciptakan mitos (mythmaking).” Pernyataan ini menekankan bahwa kekuatan utama Musk bukan pada inovasi teknologi semata, melainkan pada kemampuan membangun narasi yang memikat investor.

    Bagi investor ritel yang berencana membeli saham IPO SpaceX, penting untuk memahami bahwa mereka tidak hanya membeli saham perusahaan antariksa, tetapi juga investasi di perusahaan AI yang belum terbukti menguntungkan. Valuasi IPO SpaceX yang mencapai Rp27.000 triliun menimbulkan pertanyaan serius tentang ekspektasi pasar. Analis memperingatkan bahwa saham tersebut kemungkinan besar overvalued, dan investor harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi.

    Ilustrasi foto yang menampilkan Elon Musk dengan latar belakang roket SpaceX.

    Implikasi dari perubahan strategi ini sangat luas. Jika fokus utama SpaceX bergeser dari eksplorasi Mars ke pusat data AI, misi jangka panjang untuk menjadikan manusia sebagai spesies antarplanet bisa tertunda selama bertahun-tahun. Sementara itu, investor ritel yang tergiur dengan valuasi tinggi dan narasi futuristik Musk harus siap menghadapi risiko besar. IPO SpaceX bukanlah investasi di perusahaan yang sudah terbukti menghasilkan laba, melainkan taruhan pada visi seorang pengusaha yang belum tentu terwujud.

  • Microsoft Kehilangan Mojo AI: Wawancara Eksklusif Scott Hanselman

    Microsoft Kehilangan Mojo AI: Wawancara Eksklusif Scott Hanselman

    JBNews.id — Setelah tiga tahun memimpin era AI generatif, Microsoft menghadapi tekanan besar. Sahamnya menurun, produk AI Copilot kurang diminati, dan GitHub, anak perusahaannya, mengalami downtime yang memicu keluhan pengguna. Dalam wawancara eksklusif dengan Steven Levy, VP Microsoft sekaligus staf teknis GitHub, Scott Hanselman, mengakui tantangan ini namun optimistis dengan masa depan agen AI.

    Microsoft, yang dulu menjadi pionir dengan Copilot, kini harus mengejar ketertinggalan dari Anthropic yang unggul dengan pendekatan agentic coding. Bahkan, Microsoft sempat mengakhiri lisensi Claude Code untuk memaksa pengembangnya beralih ke Copilot. Situasi ini diperparah dengan downtime GitHub yang belum pernah terjadi sebelumnya, membuat pengguna setia mulai berpaling. “Has GitHub become a dumpster fire?” tanya sebuah postingan Reddit.

    Bagi Microsoft, kehilangan kepercayaan komunitas pengembang adalah bencana besar. Mantan CEO Steve Ballmer pernah menekankan bahwa kunci kesuksesan perusahaan adalah developer. Scott Hanselman, yang telah 18 tahun di Microsoft dan hampir hengkang tahun lalu, kini menjadi tokoh sentral dalam upaya perusahaan merebut kembali momen agentic AI.

    Krisis GitHub dan Tekanan Bot

    Salah satu masalah paling kritis yang dihadapi Microsoft adalah Microsoft Copilot yang kurang diminati dan downtime GitHub. Hanselman menjelaskan bahwa lalu lintas ke GitHub kini dipenuhi oleh bot, sama seperti spam membanjiri email dua dekade lalu. “Incoming traffic to GitHub and the usage of GitHub is as many bots as people,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa GitHub sedang berusaha keras untuk melakukan scaling, namun bot sangat cepat.

    Ketika ditanya bagaimana meyakinkan pengembang bahwa ini hanya masalah sementara, Hanselman menjawab, “People forget that it’s up 99 percent of the time. It’s just under tremendous pressure from the bots.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinan bahwa infrastruktur GitHub masih andal meskipun dalam tekanan berat.

    Lompatan ke Agen AI: Scout dan OpenClaw

    Di tengah krisis, Microsoft mengumumkan langkah besar di konferensi Build 2026: adopsi OpenClaw melalui produk bernama Scout. Hanselman berperan penting dalam mewujudkan hal ini, bahkan membawa pendiri OpenClaw, Peter Steinberger, ke dalam proses. “It’s just one of those things that happens when open-source people talk,” katanya.

    Hanselman mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada agen AI dimulai November lalu, saat ia menghabiskan waktu liburan berbicara dengan coding agents. “It’s been an absolute rocket ship of a ride since then,” ungkapnya. Ia membantu membawa OpenClaw, yang bersifat open-source, ke dalam ekosistem Microsoft dan menjadi bagian dari keynote Satya Nadella di Build.

    Persaingan dengan Claude Code

    Meskipun Claude Code dari Anthropic kini dianggap memimpin dalam coding tools, Hanselman dengan sopan menolak anggapan bahwa Microsoft tertinggal. “Coding models are part of it, but Microsoft is a great place for developers,” tegasnya. Ia menekankan bahwa Windows adalah platform terbuka di mana siapa pun bisa membangun apa pun.

    Hanselman juga menyoroti bahwa istilah “Copilot” pertama kali diciptakan oleh Microsoft dan kini menjadi istilah generik seperti Kleenex. Ia melihat persaingan sebagai “thumb war” di mana semua pihak saling kejar-mengejar. “Everybody’s in catch-up mode, because you pull ahead and then you go back and forth,” jelasnya.

    Masa Depan Agen AI: Antara Harapan dan Skeptisisme

    Microsoft menargetkan Scout tidak hanya untuk pengembang, tetapi juga pekerja produktivitas dan konsumen. Namun, tantangan besar adalah kesalahan dan halusinasi yang masih sering terjadi pada agen AI. Hanselman mengakui hal ini dengan jawaban jujur, “That’s a good question. I don’t know. Trust but verify.”

    Ia memberikan contoh penggunaan OpenClaw untuk memantau kadar gula darahnya karena ia penderita diabetes tipe 1. Meskipun ada reaksi negatif terhadap pemberian akses data kesehatan ke agen AI, Hanselman menganggapnya sangat berguna. “I don’t think that’s a controversial thing,” ujarnya.

    Menanggapi skeptisisme publik terhadap AI, Hanselman membandingkannya dengan pengenalan teknologi baru seperti gergaji mesin atau mesin pembakaran internal. “There’s a chaotic time as people figure out how to make this thing good for humans,” katanya. Ia sendiri mengaku tidak sepenuhnya “all in” pada AI, karena tidak menggunakan AI untuk generasi gambar atau video, hanya untuk coding.

    Implikasi bagi Pengembang dan Pasar

    Bagi komunitas pengembang, situasi ini menunjukkan bahwa Microsoft sedang dalam fase transisi kritis. Keberhasilan Scout dan OpenClaw akan menentukan apakah Microsoft bisa kembali memimpin atau terus tertinggal. Sementara itu, Microsoft Akui Targetkan Kecanduan AI pada pengguna, menunjukkan strategi agresif perusahaan dalam mendorong adopsi AI.

    Hanselman mengakhiri wawancara dengan optimisme. Ia menceritakan bahwa beberapa pengguna Mac yang menyaksikan peluncuran Surface Laptop Ultra di Build 2026 berkata, “Dang it, you’re going to make me get a Surface, aren’t you?” Meskipun bercanda, ini menunjukkan bahwa Microsoft masih memiliki daya tarik di kalangan pengembang. “The trash cans at Fort Mason are full of MacBook Airs now?” tanya Hanselman setengah bercanda.

    Bagi pembaca, inti dari situasi ini adalah bahwa Microsoft, meskipun menghadapi tekanan besar, masih memiliki sumber daya dan inovasi untuk bersaing. Model AI Flagship Baru yang diluncurkan di Build 2026 menjadi bukti bahwa perusahaan tidak menyerah. Namun, waktu akan menjawab apakah langkah agresif ini cukup untuk merebut kembali hati komunitas pengembang dan pengguna AI secara umum.

  • Kebocoran Baru di ISS, Astronot Dievakuasi ke Pesawat

    Kebocoran Baru di ISS, Astronot Dievakuasi ke Pesawat

    JBNews.id – Tiga astronot NASA dan satu kosmonot Rusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) diperintahkan untuk berlindung di dalam pesawat ruang angkasa mereka setelah ditemukan kebocoran dan retakan baru di segmen Rusia. Perintah evakuasi darurat ini dikeluarkan menyusul rencana perbaikan ekstensif oleh badan antariksa Rusia, Roscosmos.

    Menurut pernyataan resmi dari juru bicara NASA, Bethany Stevens, kebocoran baru terdeteksi di terowongan transfer segmen Rusia. “Menyusul kebocoran baru, Roscosmos telah memilih untuk melanjutkan operasi perbaikan yang lebih ekstensif pada Jumat, 5 Juni,” tulis Stevens. “Sebagai langkah kehati-hatian, NASA telah mengarahkan keempat anggota Crew-12 SpaceX dan astronot NASA Chris Williams untuk mengambil postur keamanan yang lebih tinggi di pesawat ruang angkasa Dragon selama perbaikan berlangsung.”

    Stevens menambahkan, “Kami terus bekerja sama dengan rekan-rekan Rusia, bersama dengan komunitas internasional lainnya yang mendukung stasiun luar angkasa, untuk mencapai solusi yang lebih permanen.” Keputusan untuk mengevakuasi kru ke dalam pesawat Dragon mengindikasikan bahwa prosedur perbaikan yang akan dilakukan mungkin lebih invasif dari biasanya.

    Saat ini, tidak ada indikasi bahwa kru dalam bahaya. Namun, kejadian ini menambah daftar panjang masalah kebocoran yang telah menghantui segmen Rusia ISS sejak September 2019. Selama bertahun-tahun, para kru telah berupaya keras menemukan retakan-retakan ini menggunakan berbagai metode. Pada akhir tahun 2020, kosmonot bahkan menggunakan kantong teh untuk mendeteksi kebocoran dengan cara membiarkannya melayang perlahan di stasiun sambil direkam kamera.

    Ilustrasi foto Stasiun Luar Angkasa Internasional yang mengorbit Bumi, diberi efek warna merah.

    Kebocoran Berulang dan Risiko Keamanan

    Kebocoran yang terjadi sebelumnya telah memaksa NASA untuk menunda kedatangan pesawat ruang angkasa. Inspektur Jenderal NASA bahkan menyebut “retakan dan kebocoran udara yang sedang berlangsung di Terowongan Transfer Modul Layanan” sebagai “risiko keamanan utama” pada tahun 2024. Masalah ini menjadi sorotan serius mengingat ISS dijadwalkan pensiun sekitar empat tahun lagi setelah puluhan tahun dihuni oleh kru manusia.

    Meskipun ada jadwal pensiun, usia stasiun luar angkasa yang menua jelas mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang signifikan. Para ahli terus memantau situasi dan berupaya mencari solusi jangka panjang. Kejadian ini juga memicu diskusi tentang perlunya investasi lebih besar dalam teknologi antariksa dan infrastruktur pendukung.

    Kebocoran di ISS ini menjadi pengingat akan tantangan besar dalam menjaga infrastruktur luar angkasa yang menua. Dengan rencana pensiun yang sudah di depan mata, fokus kini beralih pada bagaimana memastikan keamanan kru hingga masa transisi ke stasiun luar angkasa komersial. Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam mengelola aset luar angkasa yang kompleks dan mahal.

    Implikasi untuk Misi Luar Angkasa Masa Depan

    Kejadian ini memberikan pelajaran berharga untuk misi luar angkasa di masa depan. Kegagalan struktural seperti ini menekankan perlunya desain yang lebih tangguh dan sistem pemantauan yang lebih canggih. Selain itu, insiden ini juga berdampak pada jadwal misi dan alokasi sumber daya, yang bisa mempengaruhi dinamika politik dan industri di Bumi.

    Bagi para astronot di ISS, prioritas utama saat ini adalah keselamatan mereka. Dengan berlindung di pesawat Dragon, mereka memiliki kendaraan penyelamat yang siap digunakan jika terjadi keadaan darurat yang lebih parah. Sementara itu, para insinyur di Bumi bekerja keras untuk merencanakan perbaikan yang aman dan efektif.

    Ke depannya, komunitas antariksa internasional harus belajar dari insiden ini. Investasi dalam penelitian material baru, teknik perbaikan di luar angkasa, dan sistem deteksi dini yang lebih baik menjadi krusial. Peristiwa ini bukan hanya tentang memperbaiki kebocoran, tetapi juga tentang memastikan keberlanjutan eksplorasi manusia di luar angkasa. Untuk informasi lebih lanjut tentang isu terkini, Anda bisa membaca kebijakan energi terkini.

    Kesimpulannya, kebocoran baru di ISS ini adalah pengingat serius akan kerapuhan infrastruktur luar angkasa. Meskipun kru saat ini aman, insiden ini menyoroti risiko yang terus ada dan kebutuhan mendesak akan solusi permanen. Bagi pembaca, ini berarti bahwa masa depan eksplorasi luar angkasa sangat bergantung pada kemampuan kita untuk mengatasi tantangan teknis dan mempertahankan kerja sama global yang kuat.

  • Kevin O’Leary Setuju Perkecil Data Center Utah 50 Persen

    Kevin O’Leary Setuju Perkecil Data Center Utah 50 Persen

    JBNews.id — Investor “Shark Tank” Kevin O’Leary akhirnya setuju untuk memperkecil proyek pusat data raksasanya di Utah hingga 50 persen, setelah mendapat tekanan dari warga dan pejabat setempat. Langkah ini diambil setelah O’Leary sebelumnya bersikeras tidak akan mengurangi skala proyek “Stratos Hyperscale Data Center” yang direncanakan di dekat Great Salt Lake.

    Keputusan ini diumumkan O’Leary dalam sebuah surat kepada Presiden Senat Utah, J. Stuart Adams, pada Kamis lalu. Dalam surat tersebut, O’Leary setuju untuk memotong 19.430 hektare dari total lahan proyek, serta menghapus satu bidang tanah seluas 620 hektare di bagian timur laut proyek dekat jalan raya. Pengurangan ini setara dengan 50 persen dari rencana awal, meskipun Adams sebelumnya meminta pengurangan hingga 75 persen.

    “Saya tidak punya pilihan,” kata O’Leary kepada NBC News di sela-sela acara Washington AI Network’s AI Honors gala pada Rabu lalu. Fasilitas Stratos awalnya direncanakan membentang lebih dari 40.000 hektare di lahan yang belum tergabung di Box Elder County, dan telah mendapat persetujuan dari komisi tiga anggota county tersebut bulan lalu.

    Namun, warga setempat telah melakukan protes keras terhadap proyek data center sejak pertama kali diusulkan dan terus melakukannya bahkan setelah mendapat persetujuan. Protes ini mencerminkan gelombang penolakan terhadap pembangunan data center di seluruh Amerika Serikat, seperti yang terungkap dalam survei terbaru.

    Kekhawatiran utama warga meliputi dampak fasilitas raksasa ini terhadap pasokan air setempat, harga energi, dan polusi suara. Kekhawatiran terhadap air sangat menonjol di Utah, di mana Great Salt Lake telah menyusut dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir.

    Pada Senin lalu, saat kemarahan warga mencapai puncaknya, Presiden Senat Utah J. Stuart Adams mengirimkan surat kepada O’Leary yang meminta pengurangan ukuran proyek sebesar 75 persen untuk “membatasi dampak pada wilayah dan lingkungan yang lebih luas.”

    “Saya berbagi kekhawatiran konstituen saya dan berharap Tn. O’Leary merespons dengan tepat dan menerapkan perubahan yang diperlukan untuk mengatasinya,” kata Adams dalam sebuah pernyataan saat itu.

    Awalnya, O’Leary bereaksi keras terhadap permintaan tersebut. Dalam wawancara dengan The Salt Lake Tribune, ia menyebut proposal Adams sebagai “keterlaluan” dan mengira angka tersebut adalah kesalahan ketik. “Saya tidak akan mundur,” tegas O’Leary, nyaris tidak bisa menahan amarahnya. “Bukan siapa saya. Saya tidak bekerja seperti itu.”

    Namun pada akhirnya, ia menyerah pada tekanan. Pada Kamis, O’Leary mengirim surat yang lebih bersahabat kepada Adams yang menyetujui pemotongan lahan. Adams menyambut baik keputusan tersebut. O’Leary juga berjanji untuk mengatasi masalah lingkungan, menyetujui analisis ilmiah independen terhadap beban termal fasilitas, dan mengembalikan kelebihan air ke Great Salt Lake.

    “Konsesi O’Leary sebagai tanggapan atas surat permintaan yang saya kirim adalah langkah maju yang positif,” kata Adams pada hari yang sama, seperti dilaporkan ABC4 News. “Kekhawatiran yang diajukan warga Utah adalah valid, itulah sebabnya saya mendorong perubahan berarti untuk memastikan masalah tersebut ditangani sebelum proyek dapat dilanjutkan.”

    Namun, O’Leary terdengar jauh lebih getir tentang kisah ini dalam wawancara dengan NBC News. Ia menuduh Adams meminta pengurangan “karena alasan politik,” dan kembali mengangkat klaim konspiratifnya bahwa para demonstran anti-data center didanai oleh China.

    Rincian kesepakatan masih perlu diuraikan dan diformalkan di atas kertas. Ini berarti saga proyek data center Utah masih jauh dari selesai. Bagi warga Utah yang khawatir tentang dampak lingkungan, konsesi ini setidaknya memberikan sedikit kelegaan, meskipun pengawasan ketat terhadap proyek tersebut kemungkinan akan terus berlanjut.

    Fasilitas data center yang diperkecil ini kini akan memiliki ukuran setara dengan satu Manhattan, turun dari rencana awal yang lebih dari dua kali lipat luas Manhattan. Langkah O’Leary ini menunjukkan bagaimana tekanan publik dan regulasi dapat memaksa investor besar untuk menyesuaikan rencana ambisius mereka.

    Implikasi dari kasus ini bagi industri data center secara lebih luas adalah bahwa pembangunan fasilitas berskala raksasa akan menghadapi hambatan regulasi dan sosial yang semakin besar, terutama di wilayah dengan sumber daya air yang terbatas. Investor dan pengembang perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat sejak tahap awal perencanaan.

  • Karyawan Google Kecam AI Internal, Sebut Bikin Kerja Makin Berat

    Karyawan Google Kecam AI Internal, Sebut Bikin Kerja Makin Berat

    JBNews.id, Jakarta — Karyawan Google secara terbuka mengecam teknologi kecerdasan buatan (AI) internal perusahaan, termasuk alat coding AI bernama Jetski, melalui pesan internal yang bocor ke publik. Mereka mengeluhkan bahwa alat-alat tersebut tidak dapat diandalkan dan justru mempersulit pekerjaan mereka.

    Pesan internal yang diperoleh 404 Media ini mengungkapkan gelombang sindiran dan kritik tajam dari para staf Google. CEO Sundar Pichai sebelumnya membanggakan bahwa 75 persen kode baru perusahaan kini dihasilkan oleh AI, namun meme anti-AI yang beredar justru menunjukkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan karyawan.

    Gambar-gambar sindiran tersebut diposting di papan pesan internal yang diberi nama “Memegen”. Salah satu unggahan, yang muncul saat konferensi tahunan I/O bulan lalu, menggunakan tangkapan layar presentasi perusahaan. “I/O mengumumkan cara-cara baru untuk menghasilkan ‘slop’,” bunyi meme tersebut, dengan kata “slop” ditempelkan di atas salah satu kata di layar presentasi. Unggahan ini mendapat lebih dari 100 dukungan dari karyawan lain.

    Menurut laporan tersebut, puluhan meme serupa beredar di papan pesan. Seorang karyawan memperkirakan jumlah total meme anti-AI yang dibagikan di internal Google dalam setahun terakhir mencapai “ratusan hingga ribuan”. Jumlah ini disebut “melonjak saat ada pengumuman produk, pembaruan model, atau saat Jetski rusak,” tambah karyawan tersebut.

    Meme lain menyindir antusiasme berlebihan para petinggi Google terhadap AI. “Apa kamu tidak pakai AI? Siapa yang masih butuh waktu lama? AI itu ajaib, apa kamu muggle? Alat AI terbaru terbaik diluncurkan hari ini,” begitu bunyi teks pada gambar seekor ikan dengan dahi besar yang menyelip di samping seorang penyelam yang sedang fokus bekerja. “Saya, bekerja,” demikian teks yang menandai penyelam tersebut.

    Ilustrasi foto yang menampilkan CEO Google Sundar Pichai di latar depan sementara seorang pria di belakangnya memutar mata.

    Dalam pernyataannya yang membanggakan 75 persen kode Google dihasilkan AI, Pichai menekankan bahwa kode tersebut “telah disetujui oleh para insinyur.” Namun, ia tidak mengungkapkan apa yang dirasakan para insinyur tersebut saat harus memeriksa kode berkualitas rendah secara terus-menerus.

    Dalam sebuah meme bergaya “Barbenheimer”, gambar Margot Robbie yang ceria sebagai Barbie diberi keterangan: “Penulis CL membuat perubahan besar dengan vibe coding.” (CL adalah singkatan dari changelist, yaitu kode yang diperbarui dalam proyek yang sudah ada.) Di sebelahnya terdapat gambar Cillian Murphy yang muram sebagai Robert Oppenheimer, diberi label: “Peninjau Kode.”

    Seorang karyawan mengeluhkan bahwa AI mungkin memungkinkan kode dihasilkan lebih cepat, tetapi hal itu hanya mengalihkan beban kerja ke tahap selanjutnya. Programmer bisa menggunakan AI untuk menghasilkan 100 tugas individual, tetapi penyelesaian akhir tetap membutuhkan tinjauan manusia, yang memakan waktu sama seperti tanpa AI.

    “Kami menemukan bahwa AI telah meredakan tekanan dan hambatan dalam pembuatan kode, tetapi segalanya menjadi hambatan baru: waktu pengujian dan pembangunan di seluruh Google, penundaan tinjauan manusia, infrastruktur dan VCS yang relatif lambat,” kata karyawan tersebut kepada 404 Media. “Kesimpulan yang dicapai banyak rekan kerja adalah bahwa infrastruktur dan budaya engineering Google dibangun untuk menjadi stabil dan sengaja dibuat lambat, dan tekanan untuk mempercepat menggunakan AI berbenturan dengan hal itu.”

    Fenomena ini menunjukkan kesenjangan antara visi manajemen puncak dengan realitas di lapangan. Fitur Deteksi Telepon Palsu yang baru dirilis Google mungkin berguna, tetapi jika alat internal seperti Jetski justru menghambat produktivitas, inovasi jangka panjang bisa terancam. Sementara itu, Fitur Profil Search untuk kreator besar di AS juga menuai perhatian, namun kritik internal ini menjadi pengingat bahwa adopsi AI tidak selalu berjalan mulus.

    Implikasinya jelas: meskipun AI dapat mempercepat produksi kode, kualitas dan beban kerja manusia tetap menjadi faktor penentu. Tanpa perbaikan infrastruktur dan proses review yang memadai, efisiensi yang dijanjikan AI bisa jadi hanya ilusi.

  • ACERUN 2026 Padukan AI dan Gaya Hidup Sehat, Digelar 2 Agustus

    ACERUN 2026 Padukan AI dan Gaya Hidup Sehat, Digelar 2 Agustus

    JBNews.id — Acer Indonesia kembali menghadirkan ACERUN 2026, ajang lari yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI), gaya hidup sehat, dan pengalaman digital berbasis komunitas. Acara ini akan digelar pada 2 Agustus 2026 dengan format baru 7 kilometer yang diklaim lebih menantang sekaligus interaktif bagi peserta.

    Mengusung tema “Shift the Game, Set the Pace”, ACERUN 2026 dirancang sebagai ajang olahraga yang tidak hanya berfokus pada aktivitas fisik, tetapi juga mendorong perubahan gaya hidup aktif yang didukung teknologi. Presiden Direktur Acer Indonesia, Leny Ng, mengatakan ACERUN menjadi wadah untuk menginspirasi perubahan gaya hidup yang lebih positif.

    “Set the Pace mengajak Acerunners untuk dapat terus menjadi standar baru yang menginspirasi lingkungan kita, tidak hanya pada saat berolahraga tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dua semangat ini yang ingin kami bagikan melalui ACERUN, dan dua semangat ini pula yang mendorong Acer untuk terus berinovasi dan hadir lebih dekat dengan masyarakat,” kata Leny di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

    Berbeda dari tahun sebelumnya yang mengusung jarak 5K, ACERUN 2026 akan menggunakan format 7K. Rute dimulai dari Plaza Tenggara Gelora Bung Karno (GBK) menuju kawasan Semanggi, kemudian berputar ke area ASEAN sebelum kembali ke titik awal di Plaza Tenggara GBK.

    Rute lari ACERUN 7K 2026.

    ACERUN 2026 kembali menggandeng adidas sebagai official jersey partner. adidas menghadirkan jersey resmi yang menjadi bagian dari race pack untuk memberikan pengalaman berlari yang lebih nyaman dan berkualitas bagi peserta.

    ACERUN 7K 2026 membuka dua kategori lomba, yaitu Open (17 tahun ke atas) dan Master (40 tahun ke atas) yang berlaku untuk pria dan wanita. Pemenang di masing-masing kategori berkesempatan mendapatkan laptop Acer terbaru yang akan diluncurkan pada Acer Day 2026. Selain itu, peserta juga dapat memenangkan berbagai hadiah lain berupa uang tunai serta perangkat dari Acer dan Acerpure.

    Acer juga memperkenalkan inovasi digital melalui aplikasi ACERUN yang dirancang untuk mendukung pengalaman peserta mulai dari pendaftaran hingga race day. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan program lari berdasarkan profil dan fitness level, menetapkan target latihan, memantau capaian secara real-time, serta terhubung dengan komunitas ACERUN. Aplikasi tersebut sudah tersedia di iOS dan akan segera hadir di Android.

    Pendaftaran ACERUN 7K 2026 telah dibuka sejak 5 Juni 2026 dengan beberapa skema harga, yaitu Early bird (5-12 Juni 2026): Rp375.000, Normal (13 Juli-18 Juli 2026): Rp450.000, dan Bundling Acerpure Cozy HF1 (5 Juni-18 Juli 2026): Rp599.000. Adapun, pengambilan race pack dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli-1 Agustus 2026.

    Integrasi AI dalam aplikasi ACERUN menjadi daya tarik utama tahun ini. Dengan memanfaatkan teknologi terkini, peserta dapat merasakan pengalaman berlari yang lebih personal dan terukur. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pengguna mencapai target kebugaran mereka secara optimal.

    Komunitas menjadi elemen penting dalam ACERUN 2026. Melalui aplikasi, peserta dapat terhubung dengan sesama pelari, berbagi pencapaian, dan saling memotivasi. Hal ini sejalan dengan semangat Acer untuk membangun ekosistem digital yang mendukung gaya hidup sehat.

    Kehadiran adidas sebagai official jersey partner menambah nilai lebih bagi peserta. Jersey resmi yang disediakan dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal saat berlari, sehingga peserta dapat fokus pada performa mereka.

    Hadiah utama berupa laptop Acer terbaru yang akan diluncurkan pada Acer Day 2026 menjadi insentif menarik bagi para pemenang. Selain itu, uang tunai dan perangkat dari Acer serta Acerpure juga siap diperebutkan.

    Dengan format 7K yang baru, ACERUN 2026 menawarkan tantangan yang lebih besar dibandingkan edisi sebelumnya. Rute yang melintasi kawasan ikonik Jakarta seperti Semanggi dan GBK memberikan pengalaman berlari yang unik.

    Bagi para penggemar olahraga lari dan teknologi, ACERUN 2026 menjadi ajang yang tidak boleh dilewatkan. Perpaduan antara aktivitas fisik dan inovasi digital menciptakan pengalaman yang berbeda dari event lari pada umumnya.

    Pendaftaran yang telah dibuka sejak 5 Juni 2026 memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan harga early bird yang lebih terjangkau. Dengan biaya mulai dari Rp375.000, peserta sudah mendapatkan race pack lengkap termasuk jersey resmi dari adidas.

    ACERUN 2026 juga menjadi bukti komitmen Acer Indonesia dalam mendekatkan diri dengan masyarakat melalui kegiatan yang relevan dengan gaya hidup modern. Dengan menggabungkan teknologi AI, olahraga, dan komunitas, Acer ingin menginspirasi lebih banyak orang untuk menjalani hidup yang lebih aktif dan sehat.

    Bagi kamu yang tertarik dengan perkembangan dunia gaming atau regulasi digital, JBNews.id juga menyediakan berbagai informasi terkini lainnya.

    Implikasi dari ACERUN 2026 bagi pembaca adalah kesempatan untuk mengikuti event lari yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga memberikan pengalaman digital yang interaktif. Dengan harga terjangkau dan hadiah menarik, acara ini cocok untuk semua kalangan, baik pelari pemula maupun profesional.

    Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari ACERUN 2026. Daftarkan diri Anda sekarang dan rasakan sendiri perpaduan antara teknologi AI dan gaya hidup sehat.

  • Telkom Perkuat Layanan Internet Bisnis dan Monitoring Jaringan Industri

    Telkom Perkuat Layanan Internet Bisnis dan Monitoring Jaringan Industri

    JBNews.id — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperkuat infrastruktur digital bagi industri nasional melalui layanan internet bisnis dan monitoring jaringan. Kedua layanan ini menjadi andalan dalam menjaga efisiensi dan stabilitas operasional perusahaan manufaktur di tengah percepatan transformasi digital.

    Melalui Telkom Solutions, perusahaan pelat merah ini menghadirkan layanan internet bisnis sebagai tulang punggung konektivitas perusahaan modern yang membutuhkan stabilitas tinggi. Layanan ini dirancang untuk mendukung berbagai sistem operasional digital, mulai dari aplikasi berbasis cloud, komunikasi lintas unit kerja, hingga integrasi sistem produksi dan manajemen data.

    Dengan kualitas konektivitas yang lebih terjamin, perusahaan dapat menjaga kelancaran operasional tanpa terganggu oleh hambatan jaringan yang bersifat kritikal. Internet bisnis dari Telkom juga menjadi fondasi bagi perusahaan untuk melakukan scaling digital, karena mampu mendukung peningkatan trafik data seiring pertumbuhan aktivitas operasional dan adopsi teknologi baru di lingkungan industri.

    Monitoring Jaringan Berbasis Observability

    Selain konektivitas, Telkom memperkuat nilai tambah melalui solusi monitoring jaringan berbasis observability untuk memberikan visibilitas menyeluruh terhadap kondisi jaringan pelanggan. Lewat platform seperti Netmonk, perusahaan dapat memantau performa jaringan secara real-time, mulai dari status layanan, potensi gangguan, hingga analisis trafik.

    Pendekatan ini memungkinkan tim IT perusahaan melakukan deteksi dini terhadap anomali sebelum berdampak pada operasional bisnis. Dengan sistem monitoring yang lebih proaktif, pengelolaan jaringan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan berbasis data dan analitik. Hal ini membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional IT, mempercepat waktu respons, serta mengurangi risiko downtime yang dapat mengganggu proses bisnis utama.

    Kombinasi antara internet bisnis dan monitoring jaringan mencerminkan pergeseran penting dalam lanskap infrastruktur digital: dari sekadar penyedia konektivitas menjadi intelligent digital infrastructure yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Model ini memungkinkan perusahaan tidak hanya “terhubung”, tetapi juga memiliki kontrol dan insight terhadap seluruh ekosistem jaringannya.

    Implementasi di Sektor Manufaktur

    Salah satu implementasi solusi tersebut dilakukan pada sektor manufaktur tekstil dan garmen melalui kerja sama dengan PT Dan Liris, perusahaan yang telah beroperasi sejak 1974 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dengan dukungan internet bisnis dan sistem monitoring jaringan dari Telkom Solution, PT Dan Liris kini dapat menjaga stabilitas konektivitas untuk mendukung aktivitas produksi, komunikasi internal, serta pengelolaan data operasional secara lebih efisien.

    Manager IT Infrastruktur PT Dan Liris, Akbar Aprilato, menjelaskan bahwa kebutuhan konektivitas terus meningkat seiring dengan transformasi digital perusahaan. “Telkom Solution merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan internet yang terus meningkat, mendukung inisiatif digital yang mencakup pengembangan teknologi, peningkatan efisiensi operasional, serta kolaborasi yang efektif antar tim,” ujar Akbar.

    Langkah Telkom ini menjadi bagian dari strategi besar perusahaan dalam memperkuat peran sebagai penyedia infrastruktur digital nasional. Dengan menghadirkan solusi yang terintegrasi, perusahaan BUMN ini mendorong adopsi teknologi di berbagai sektor industri, termasuk manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian.

    Ke depan, model intelligent digital infrastructure yang ditawarkan Telkom diproyeksikan akan semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan industri akan konektivitas yang andal dan sistem monitoring yang proaktif. Perusahaan yang mengadopsi solusi ini dapat memperoleh keunggulan kompetitif melalui efisiensi operasional dan pengambilan keputusan berbasis data.

    Layanan internet bisnis dan monitoring jaringan Telkom juga membuka peluang bagi perusahaan untuk mengadopsi teknologi AI dalam operasional mereka. Dengan infrastruktur yang stabil, perusahaan dapat mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk analitik prediktif, otomatisasi proses, dan optimalisasi rantai pasok.

    Inovasi ini menegaskan komitmen Telkom dalam mendorong transformasi digital di Indonesia, khususnya di sektor industri yang membutuhkan solusi konektivitas dan monitoring yang handal. Dengan pendekatan yang terukur dan berbasis data, Telkom membantu perusahaan nasional meningkatkan daya saing di era digital.

  • Apple Tunda Rilis AirPods Kamera karena Kesiapan Siri

    Apple Tunda Rilis AirPods Kamera karena Kesiapan Siri

    JBNews.id — Apple dipastikan akan menunda peluncuran AirPods yang dilengkapi kamera karena kemampuan visual Siri belum memadai. Informasi ini diungkapkan oleh sumber anonim yang mengetahui langsung masalah tersebut kepada WIRED, setelah Bloomberg melaporkan bahwa perangkat tersebut tengah dalam tahap pengujian akhir bersama karyawan Apple.

    Menurut laporan Bloomberg yang ditulis oleh Mark Gurman, Apple telah merancang AirPods dengan kamera agar Siri dapat “melihat” lingkungan sekitar pengguna. Perangkat ini disebut-sebut sebagai bagian dari dorongan besar Apple di bidang kecerdasan buatan. Namun, sumber yang tidak berwenang berbicara secara publik tersebut mengungkapkan bahwa Apple kemungkinan besar akan menunda perangkat ini.

    “Meskipun perangkat keras sudah siap, kecerdasan visual Siri belum setara,” kata sumber tersebut. Kekhawatiran lain yang muncul di internal Apple adalah risiko privasi yang signifikan dari earbud berkamera tanpa kasus penggunaan yang menarik. Apple belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar WIRED.

    Pertanyaan utamanya kini adalah: apa keuntungan yang sebenarnya dicari Apple dengan menambahkan kamera ke AirPods, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran konsumen tentang pengawasan tidak sengaja melalui kamera smart glasses, bel pintu kamera, dan bahkan kamera ponsel?

    Navigasi, Belanja, dan Siri yang Lebih Pintar

    Menurut Bloomberg, AirPods ini memiliki batang yang lebih besar untuk menampung kamera beresolusi rendah. Kamera tersebut berfungsi sebagai mata Siri untuk memberikan konteks visual pada permintaan suara. Tidak seperti smart glasses, perangkat ini tidak dirancang untuk mengambil foto atau video.

    Beberapa kasus penggunaan yang disebutkan dalam laporan tersebut mencakup navigasi berbasis landmark dan identifikasi makanan untuk membantu belanja bahan makanan. “Navigasi berbasis visi adalah yang paling jelas,” ujar Anshel Sag, analis utama di Moor Insights & Strategy. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini harus bersifat pasif, dan penggunaan untuk akurasi lokasi guna memperbaiki GPS adalah yang paling masuk akal.

    Google juga menggunakan kamera di smart glasses terbarunya untuk memahami posisi pengguna saat menggunakan navigasi jalan kaki dengan Google Maps. Fitur potensial lainnya akan familiar bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan smart glasses.

    Peter Richardson, wakil presiden di Counterpoint Research, menyukai ide berdiri di depan kulkas dan bertanya pada asisten AI apa yang harus dimasak untuk makan malam. “Itu membutuhkan informasi visual,” kata Richardson. “Ada banyak konteks: apakah ini pertengahan minggu? Apakah saya punya latihan besok pagi? Apakah ini hari Jumat ketika saya mungkin ingin minum segelas anggur? Apakah teman-teman saya datang?”

    Demikian pula, jika dikombinasikan dengan Apple Watch, data visual bisa membuat Siri lebih intuitif. “Jika saya di Stasiun Paddington dan saya berlari, mungkin saya terlambat untuk kereta, jadi jangan kirim panggilan ke saya,” contoh Richardson.

    Seperti banyak perangkat wearable khusus, ada juga aplikasi aksesibilitas yang menarik. 9to5mac menyarankan bahwa Siri yang bisa melihat melalui AirPods, mungkin dengan kemampuan inframerah, dapat meningkatkan kemampuan Image Explorer dan Voice Over untuk pengguna tunanetra. Dalam semua skenario ini, informasi kunci yang belum diketahui adalah apakah kamera akan menghadap ke depan atau ke dunia luar. Gurman mengindikasikan bahwa “lampu LED kecil” akan menyala saat data visual dikirim ke cloud.

    Data Visual untuk Kecerdasan Buatan

    Pada pandangan pertama, alasan di balik pengembangan ini mungkin sudah jelas: pengumpulan data dunia nyata. Saat pembuat model AI raksasa terus mendorong batas di luar model bahasa besar berbasis teks ke pencitraan, pemetaan, dan robotika, aksesori populer Apple bisa diubah menjadi setara dengan mobil StreetView Google di tahun 2026.

    “Mendapatkan informasi visual atau bahkan akustik adalah informasi baru yang belum pernah digunakan untuk melatih AI,” kata Richardson. “Tapi itu hanya berguna jika bisa digunakan untuk melatihnya.” Apple tidak memiliki model fundamental untuk bersaing dengan GPT OpenAI atau Gemini Google, sehingga menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

    “Saya justru berpikir mereka akan tetap mengembangkan model mereka sendiri, jadi ini bisa memberi mereka data untuk melakukannya,” kata Sag. “Untuk sebagian besar perangkat AI yang cerdas, memiliki visi sangat penting. Tapi Apple sangat sadar privasi, dan itu sudah menjadi bagian besar dari pemasaran mereka selama ini, jadi ini adalah tali yang sangat sulit untuk mereka seimbangkan.”

    Jika Apple berbagi data visual dengan Google—Apple telah membuat kesepakatan dengan Google untuk menyematkan Gemini ke produk Apple—maka untuk menghormati kebijakan privasinya yang terdepan di industri, Richardson menyarankan Apple perlu menerapkan anonimisasi yang ketat dan “pembersihan radikal” data pribadi dari AirPods masa depan.

    Salah satu alternatifnya adalah Apple menggunakan umpan kamera resolusi rendah untuk isyarat kontekstual dasar, yang diproses di perangkat itu sendiri di earbud atau iPhone pengguna, untuk membuat Siri lebih mumpuni. Belum diketahui apakah ini secara teknis mungkin dilakukan dengan standar yang tinggi. Kemudian ada Private Cloud Compute, sistem AI berbasis server Apple, yang menggunakan LLM yang lebih kompleks untuk menangani permintaan yang lebih berat. Sistem ini beroperasi melalui cloud Apple dengan server Apple Silicon khusus dan enkripsi ujung-ke-ujung.

    Nasib infrastruktur Private Cloud Compute selama lima tahun ke depan akan menjadi fokus utama pengambilan keputusan bagi CEO Apple John Ternus, yang berdampak pada segala hal mulai dari AI hingga privasi hingga komitmen iklim.

    Menuju Kacamata Apple

    Alasan terakhir bagi Apple untuk bermain-main dengan earbud berkamera adalah mempersiapkan tim desain, teknik, dan pelanggan untuk kacamata Apple yang sudah lama dirumorkan. Kacamata tersebut bisa diluncurkan dengan dua kamera bawaan. Dengan AirPods di satu sisi dan Vision Pro di sisi lain, Apple mungkin mendekati masalah smart glasses dari dua arah: aksesori murah dan sistem rumah kelas atas.

    AirPods akan menjadi “tingkat awal untuk apa yang mereka anggap sebagai AI multimodal,” kata Sag. “Hanya dengan memiliki sensor, bahkan untuk akses Gemini, akan menjadi lebih berguna. Saya pikir smart glasses tetap menjadi target yang tepat karena memiliki aspek visi, tapi juga dekat dengan telinga dan mulut.”

    Qiran Ju, analis senior di Omdia, lebih optimis dan memandang ini sebagai langkah logis dalam penelitian dan pengembangan. AirPods “lebih sadar konteks daripada ponsel, tapi berpotensi lebih ringan dan lebih familiar daripada kacamata,” kata Ju. Ia juga melihatnya cocok secara alami ke dalam “strategi komputasi spasial yang lebih luas” Apple. Ia menunjuk pada promosi foto dan video spasial untuk Vision Pro dan bahwa AirPods berkamera bisa menangkap “gambar dan video imersif orang pertama.”

    Ada pandangan yang lebih sinis bahwa Apple membelanjakan uangnya untuk mengamankan paten untuk semua jenis desain dan fitur wearable pasca-smartphone guna menyingkirkan pesaing. Misteri terbesar adalah apa yang sebenarnya akan terwujud dari kolaborasi antara Jony Ive dan OpenAI. Selain ponsel OpenAI yang dirumorkan dengan prosesor sinyal gambar canggih, apakah kita akan melihat earbud GPT pintar? Atau semua hal di atas dalam satu ekosistem?

    Tantangan Baterai dan Pesaing

    Apple bisa melegitimasi seluruh kategori teknologi konsumen sebelum merilis produk. Rumor dan bocoran sudah cukup untuk mendorong peta jalan perangkat keras di seluruh dunia. Jika kita tidak melihat kelompok peniru AirPods berkamera tahun ini, mereka akan muncul di CES tahun depan, prediksi Sag.

    Bagi Ju yang berbasis di Shanghai, konsep ini sudah ada di udara dalam perjalanan terakhirnya ke Shenzhen. “Topik yang persis ini muncul di beberapa pertemuan,” katanya. Perusahaan China, termasuk Guangfan Technology yang didukung Lenovo, VibeLens, dan Mozin telah “meluncurkan atau menjajaki earbud berkamera” dan headset.

    Ada alasan praktis mengapa menambahkan kamera ke AirPods mungkin bukan langkah terbaik. Salah satunya adalah daya tahan baterai. AirPods sudah tertinggal dari pesaing terdekatnya dalam hal stamina, lebih mengutamakan desain yang lebih ringan dan nyaman. Menambahkan sensor kamera membutuhkan lebih banyak ruang di dalam sasis dan lebih banyak daya untuk beroperasi.

    “Tidak ada ruang sama sekali di dalamnya, dan Anda memiliki baterai yang sangat terbatas,” kata Sag. “Jadi Anda tidak ingin kamera itu menyala lebih dari yang diperlukan, yang kemudian mengalahkan tujuannya. Saya akan membatalkannya, targetkan Max dulu, dan lihat bagaimana hasilnya.”

    Dalam makalah Universitas Washington yang diterbitkan pada bulan April, peneliti menambahkan kamera ke Sony WF-1000XM3 dan AirPods Pro 2 dan mengujinya. Hasilnya: daya tahan baterai berkurang setengahnya, dengan waktu pakai hanya lebih dari tiga jam untuk AirPods 2.

    Setelah bertahun-tahun penundaan, kita kemungkinan akan melihat pembicaraan tentang Siri yang ditingkatkan di WWDC minggu depan, dengan lebih banyak lagi pada bulan September di acara iPhone tahunan. Perhatikan apakah eksekutif Apple mulai meletakkan dasar untuk aksesori yang dimodifikasi yang mungkin tidak langsung berguna pada hari pertama.

    “Ide kamera di AirPods agak aneh,” kata Richardson. “Jika Anda memiliki rambut panjang, itu tidak akan berguna.” Dan Sag mengatakan dia menentang ide tersebut. “Itu tidak pernah masuk akal bagi saya.” Julian Chokkattu berkontribusi dalam pelaporan.

  • Investor Ganda OpenAI dan Anthropic: Strategi atau Konflik?

    Investor Ganda OpenAI dan Anthropic: Strategi atau Konflik?

    JBNews.id — Sekitar 90 perusahaan modal ventura dan manajer investasi tercatat memiliki saham di dua raksasa kecerdasan buatan (AI) yang bersaing ketat, OpenAI dan Anthropic, dalam beberapa tahun terakhir. Temuan ini berdasarkan analisis data PitchBook oleh WIRED, yang mengungkapkan tingkat tumpang tindih investor yang belum pernah terjadi sebelumnya di industri teknologi.

    Data menunjukkan bahwa OpenAI berbagi sekitar 42 persen dari total investornya dengan Anthropic. Sementara itu, hampir sepertiga investor Anthropic juga merupakan pendukung OpenAI, termasuk nama-nama besar seperti Sequoia Capital, Greylock, Founders Fund, Redpoint Ventures, Emerson Collective, dan Sound Ventures. Fenomena ini menjadi sorotan karena kedua perusahaan AI tersebut tengah mempersiapkan debut pasar saham mereka tahun ini.

    Jumlah investor bersama ini kemungkinan masih merupakan angka yang lebih rendah dari kenyataan, karena mengumpulkan informasi tentang investasi swasta sangatlah menantang. WIRED mengidentifikasi setidaknya beberapa investor yang hilang dari daftar OpenAI dalam data PitchBook, termasuk Amazon. Tingkat tumpang tindih ini dinilai mencengangkan bagi dua pesaing sengit yang memulai penggalangan dana dalam rentang waktu yang berdekatan.

    Fenomena Investasi Tak Biasa

    Tiga pakar yang mempelajari industri modal ventura menggambarkan kondisi ini sebagai sesuatu yang tidak biasa, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini mencerminkan evolusi terkini industri modal ventura, munculnya dua perusahaan luar biasa yang telah mengumpulkan dana dalam jumlah yang belum pernah terdengar sebelumnya, dan persaingan ketat di antara mereka dan pemain AI lainnya.

    “Struktur kepemilikan yang Anda lihat sekarang adalah wawasan nyata tentang bagaimana investor canggih memandang pasar ini, dan jawabannya tampaknya adalah bahwa hanya sedikit yang yakin ini akan menjadi pasar yang dimenangkan oleh satu pihak, atau jika demikian, siapa pemain dominannya,” kata Tom Nicholas, profesor Harvard Business School dan penulis buku VC: An American History.

    Ketika Anthropic dan OpenAI bertujuan untuk melakukan debut pasar saham mereka tahun ini, persimpangan investor ini menjadi semakin penting. Penawaran umum perdana (IPO) seringkali menjadi kesempatan bagi investor untuk merealisasikan keuntungan dari kepemilikan mereka di sebuah perusahaan rintisan. Namun, tahun lalu, hanya dua pertiga dari IPO yang berhasil menarik lonjakan nilai yang signifikan. Dengan bertaruh pada kedua perusahaan, investor mungkin menggandakan peluang keberhasilan mereka.

    “Daripada melihat perusahaan-perusahaan ini sebagai teknologi yang tumpang tindih, apa yang dilakukan investor besar ini adalah melindungi kemampuan mereka untuk menciptakan keuntungan,” ujar Kyle Stanford, direktur riset modal ventura di PitchBook.

    Evolusi Industri Modal Ventura

    OpenAI dan Anthropic sama-sama tidak menanggapi permintaan komentar. Beberapa perusahaan modal ventura yang berinvestasi di kedua perusahaan juga menolak atau tidak menanggapi permintaan komentar tentang mengapa mereka memutuskan untuk mendukung keduanya. Beberapa bersedia berbicara hanya dengan syarat anonimitas untuk menghindari membahayakan hubungan industri, dan masing-masing menyebut peluang investasi ganda dengan OpenAI dan Anthropic tidak seperti situasi apa pun yang pernah mereka hadapi sebelumnya.

    Secara historis, perusahaan modal ventura memusatkan taruhan mereka pada satu perusahaan di area persaingan untuk menghindari konflik kepentingan. Perusahaan terkadang berbagi informasi kepemilikan dengan investor atau mengandalkan mereka untuk nasihat atau tata kelola, dan memiliki saham di pesaing mengundang percakapan yang canggung.

    Namun, industri modal ventura telah berevolusi seiring dengan pertumbuhan dana. Perusahaan mendukung jumlah startup yang lebih besar, dan perusahaan tetap swasta lebih lama serta mengumpulkan lebih banyak uang dari sebelumnya. OpenAI dan Anthropic masing-masing telah mengumpulkan lebih dari $100 miliar dengan valuasi mendekati $1 triliun. Selama dekade terakhir, garis antara berbagai kelas perusahaan investasi menjadi semakin kabur.

    Sekitar 30 dari investor bersama Anthropic dan OpenAI dalam data PitchBook diidentifikasi sebagai hedge fund, perusahaan ekuitas swasta, atau manajer kekayaan yang biasanya menyebarkan taruhan mereka. Sisanya adalah perusahaan malaikat atau modal ventura tradisional yang kini mengikuti strategi yang sama.

    “Setiap investor tunggal akan memiliki porsi yang sangat kecil dari sebuah perusahaan sehingga konflik tidak menjadi perhatian besar,” kata Stanford. Mereka akan memiliki akses lebih sedikit ke informasi internal dan kemampuan yang berkurang untuk memengaruhi lintasan perusahaan. “Investor secara tradisional ingin berinvestasi di salah satu untuk menjadikannya pemenang. Perusahaan-perusahaan ini tumbuh begitu besar sehingga perpecahan itu tidak terlalu penting,” tambah Stanford.

    Beberapa investor bersama juga telah berinvestasi di laboratorium riset AI milik Elon Musk, xAI. Perusahaan itu dibeli tahun ini oleh SpaceX, yang diperkirakan akan mengadakan IPO sendiri minggu depan. Paralel terdekat dengan penyerbukan silang investor AI mungkin berasal dari sekitar satu dekade lalu. Raksasa telekomunikasi Jepang SoftBank menginvestasikan miliaran dolar di perusahaan ride-hailing di seluruh dunia, beberapa di antaranya memiliki ambisi untuk bersaing satu sama lain di negara tertentu.

    Logika ‘Pepsi dan Coke’

    Seorang perwakilan dari satu investor besar mengatakan perusahaannya memperkirakan taruhan mereka di OpenAI dan Anthropic akan membuahkan hasil karena permintaan untuk teknologi AI tersebar luas. Investor lain menggambarkan kepemilikan mereka di salah satu perusahaan sebagai terlalu kecil untuk dipandang bertentangan dengan kepemilikan yang lebih besar di perusahaan lainnya.

    Seorang pemodal ventura, yang telah membantu keluarga kaya di seluruh AS berinvestasi dalam dana yang mencakup saham Anthropic dan OpenAI, menggambarkan AI sebagai teknologi transformasional yang akan mendorong pertumbuhan di semua industri. “Mengapa Anda tidak ingin berada di Pepsi dan Coke?” katanya. “Sama halnya di sini.”

    Ankur Nagpal, mitra umum untuk USVC, yang mengumpulkan investasi mulai dari $500 dari individu ke dana lain, membuat argumen serupa. “Tujuan kami adalah menciptakan cara terbaik bagi siapa pun untuk memiliki bagian dari perusahaan paling berharga di masa depan,” katanya.

    Ada juga kemungkinan bahwa ketidakpastian atas struktur perusahaan OpenAI yang tidak biasa, yang selama bertahun-tahun secara eksplisit membatasi jumlah pengembalian yang bisa diharapkan investor, dapat memotivasi beberapa dana untuk mengambil saham di Anthropic. Sulit juga untuk mengabaikan rasa takut ketinggalan.

    “Dalam kasus ini, beberapa VC masuk karena mereka tidak ingin ketinggalan hal besar berikutnya,” kata ekonom Universitas Chicago Steve Kaplan.

    Bagi setidaknya satu investor, tumpang tindih itu tidak disengaja. Perusahaan Madrona Ventures akhirnya memiliki saham di kedua raksasa AI setelah satu startup yang diinvestasikannya diakuisisi oleh OpenAI dan startup lainnya diakuisisi oleh Anthropic. Persimpangan yang tidak disengaja bisa menjadi lebih umum seiring dengan perubahan cepat dalam teknologi AI yang mendorong startup untuk mengubah arah lebih sering.

    Sejumlah kecil perusahaan modal ventura besar hanya mendukung satu dari laboratorium AI besar, termasuk pendukung OpenAI seperti Khosla Ventures dan Thrive Capital. Sementara itu, Menlo Ventures dan General Catalyst hanya menaruh uang mereka di belakang Anthropic, menurut data PitchBook. Matt Murphy, mitra di Menlo Ventures, mengatakan kepada WIRED bahwa perusahaannya “all in” untuk mendukung perusahaan portofolio dan tidak percaya mendukung pesaing langsung.

    “Mungkin ada nuansa di beberapa pasar, di mana dua perusahaan mungkin tampak berdekatan tetapi pada akhirnya menuju ke arah yang sangat berbeda,” katanya. “Tetapi kami tidak memandang demikian dengan OpenAI dan Anthropic, dan kami tidak pernah mempertimbangkan untuk berinvestasi di OpenAI karena alasan itu.” Thrive merujuk pada posting X berusia setahun dari pendirinya, Joshua Kushner, di mana ia membahas tumpang tindih di industri AI dengan menulis, “Sebut kami kuno … tapi kami adalah monogamis serial.”

    Fenomena ini juga menjadi sorotan seiring dengan perkembangan regulasi AI global. Saat ini, Florida Gugat OpenAI terkait keamanan ChatGPT, menambah kompleksitas lanskap investasi. Sementara itu, langkah Microsoft untuk membangun model AI mandiri pasca-pisah dari OpenAI menunjukkan dinamika persaingan yang semakin ketat di industri ini.