Category: Tekno

  • Amazon Luncurkan Sleep Studio untuk Anak di Echo

    Amazon Luncurkan Sleep Studio untuk Anak di Echo

    JBNews.id — Amazon telah meluncurkan fitur baru untuk smart speaker Echo dan Echo Kids bernama Sleep Studio yang dirancang untuk membuat transisi menuju waktu tidur lebih menarik bagi anak-anak dan tidak terlalu membuat stres bagi orang tua. Fitur ini menggabungkan dongeng pengantar tidur, suara relaksasi, dan meditasi terpandu, lengkap dengan opsi penjadwalan dan kustomisasi yang hanya dapat diakses oleh orang dewasa.

    Sleep Studio kini tersedia bagi pelanggan Amazon Kids Plus seharga USD 5,99 per bulan tanpa biaya tambahan. Amazon juga menawarkan uji coba gratis satu bulan untuk layanan tersebut, sementara pembelian perangkat Echo Kids akan memberikan langganan komplementer selama enam atau 12 bulan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Amazon untuk memperkuat ekosistem perangkat rumah pintar mereka, terutama di segmen keluarga.

    Kurasi daftar putar dan jadwal tidur dapat dikonfigurasi untuk anak-anak menggunakan Amazon Kids Parent Dashboard, yang tersedia sebagai aplikasi seluler iOS/Android mandiri dan situs web khusus. Melalui dashboard ini, orang tua dapat mengatur jadwal tidur, jendela tidur, dan daftar putar yang sesuai dengan rutinitas anak. Sistem ini memberikan fleksibilitas penuh bagi orang tua untuk menyesuaikan pengalaman tidur anak mereka.

    Rutinitas wind-down selama setengah jam akan secara otomatis dipicu di perangkat Echo 30 menit sebelum jadwal tidur anak. Anak-anak juga dapat memulainya sendiri kapan pun mereka merasa mengantuk dengan mengatakan “Alexa, mainkan Sleep Studio.” Fitur ini memungkinkan anak-anak untuk mengambil kendali atas rutinitas tidur mereka sendiri, yang dapat membantu membangun kemandirian dan kebiasaan tidur yang baik.

    Echo Glow, yang berfungsi ganda sebagai lampu tidur, juga akan menyala dengan lampu berkode warna sehingga anak-anak dapat melihat kapan mereka harus tidur dan kapan waktunya bangun dari tempat tidur. Integrasi visual ini memberikan isyarat yang jelas bagi anak-anak, mengurangi kebingungan dan potensi pertengkaran di waktu tidur. Warna lampu yang berbeda membantu anak-anak memahami transisi waktu tidur secara visual, yang sangat efektif untuk anak-anak yang lebih kecil.

    Konten menenangkan yang tersedia melalui Sleep Studio berasal dari platform-platform ternama seperti Headspace, Moshi, dan Calm. Kolaborasi ini memastikan bahwa konten yang disediakan memiliki kualitas tinggi dan telah teruji secara ilmiah untuk membantu relaksasi dan tidur. Headspace dikenal dengan meditasi terpandunya, Moshi dengan cerita tidur interaktifnya, dan Calm dengan suara latar yang menenangkan.

    “Tidur malam yang nyenyak penting untuk pikiran yang sehat dan istirahat bagi semua orang. Itulah sebabnya Calm telah menciptakan perpustakaan luas meditasi, lagu pengantar tidur, soundscape, dan Sleep Stories untuk anak-anak,” kata Fergal Walker, wakil presiden kemitraan di Calm, dalam rilis dari Amazon. Pernyataan ini menekankan komitmen Calm untuk menyediakan konten yang mendukung kesehatan mental anak-anak melalui tidur yang berkualitas.

    Peluncuran Sleep Studio hadir di tengah berbagai pengembangan lain di Amazon. Fitur Terbaru ini menunjukkan fokus Amazon pada inovasi produk rumah tangga. Sementara itu, Robot Amazon Proteus juga terus dikembangkan dengan kemampuan baru. Sleep Studio menjadi contoh bagaimana Amazon mengintegrasikan teknologi AI dan konten kurasi untuk memecahkan masalah sehari-hari orang tua.

    Fitur Sleep Studio juga relevan dengan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon terus berinvestasi dalam solusi rumah pintar yang berfokus pada kesejahteraan. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya tidur yang berkualitas, terutama bagi anak-anak, fitur ini dapat menjadi nilai jual yang signifikan bagi perangkat Echo Kids. Amazon tampaknya memahami bahwa orang tua modern mencari solusi yang tidak hanya praktis tetapi juga mendukung perkembangan anak secara holistik.

    Dari segi implementasi teknis, Sleep Studio bekerja secara mulus dengan ekosistem Amazon yang sudah ada. Orang tua dapat mengatur semua preferensi melalui Amazon Kids Parent Dashboard, yang sudah familiar bagi pengguna lama. Dashboard ini menyediakan antarmuka yang intuitif untuk mengelola konten, jadwal, dan pengaturan privasi anak. Integrasi dengan perangkat Echo lainnya, seperti Echo Glow, menambah lapisan fungsionalitas yang membuat fitur ini lebih menarik.

    Amazon juga memastikan bahwa keamanan dan privasi menjadi prioritas dalam Sleep Studio. Semua data terkait jadwal tidur dan preferensi anak disimpan dengan aman dan hanya dapat diakses oleh orang tua melalui dashboard yang dilindungi kata sandi. Ini penting mengingat kekhawatiran yang berkembang tentang privasi data anak-anak di era digital. Amazon telah mengambil langkah-langkah untuk mematuhi regulasi seperti COPPA (Children’s Online Privacy Protection Act) di Amerika Serikat.

    Kolaborasi dengan Headspace, Moshi, dan Calm juga menunjukkan bahwa Amazon serius dalam menyediakan konten berkualitas. Headspace, misalnya, telah lama dikenal dengan meditasi terpandunya yang didukung penelitian ilmiah. Moshi menawarkan cerita tidur interaktif yang dirancang khusus untuk anak-anak, sementara Calm memiliki perpustakaan suara dan meditasi yang luas. Ketiga platform ini memiliki reputasi yang solid dalam industri kesehatan mental digital.

    Fitur Sleep Studio juga dapat menjadi alat yang berguna bagi orang tua yang memiliki anak dengan kesulitan tidur atau gangguan tidur ringan. Dengan menyediakan rutinitas wind-down yang terstruktur dan konten yang menenangkan, fitur ini dapat membantu anak-anak belajar untuk menenangkan diri sebelum tidur. Ini bisa sangat bermanfaat bagi anak-anak yang cemas atau yang memiliki energi berlebih di malam hari.

    Dari perspektif bisnis, Sleep Studio adalah langkah cerdas Amazon untuk meningkatkan nilai langganan Amazon Kids Plus. Dengan menambahkan fitur eksklusif seperti ini, Amazon dapat mendorong lebih banyak orang tua untuk berlangganan layanan tersebut. Ini juga dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan mendorong pembelian perangkat Echo Kids tambahan. Model langganan ini memberikan aliran pendapatan berulang yang stabil bagi Amazon.

    Amazon juga telah mempertimbangkan aspek inklusivitas dalam desain Sleep Studio. Konten yang tersedia mencakup berbagai bahasa dan budaya, memastikan bahwa anak-anak dari berbagai latar belakang dapat menikmati fitur ini. Opsi kustomisasi yang luas juga memungkinkan orang tua untuk menyesuaikan pengalaman sesuai dengan kebutuhan spesifik anak mereka, termasuk untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus.

    Peluncuran Sleep Studio juga menunjukkan bagaimana Amazon terus berinovasi di segmen rumah pintar meskipun menghadapi tantangan di bidang lain. Perusahaan ini telah menghadapi kritik terkait praktik ketenagakerjaan dan dampak lingkungan dari pusat datanya. Namun, dengan produk seperti Sleep Studio, Amazon menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghadirkan solusi yang bermakna bagi konsumen.

    Ke depannya, Amazon kemungkinan akan terus mengembangkan Sleep Studio dengan menambahkan lebih banyak konten dan fitur. Integrasi dengan perangkat rumah pintar lainnya, seperti lampu pintar atau termostat, bisa menjadi langkah logis berikutnya. Amazon juga dapat menambahkan fitur analitik yang memungkinkan orang tua melacak pola tidur anak mereka dari waktu ke waktu, memberikan wawasan yang berharga untuk meningkatkan kualitas tidur.

    Sleep Studio adalah contoh sempurna tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggabungkan konten yang menenangkan, penjadwalan yang cerdas, dan kontrol orang tua yang kuat, Amazon telah menciptakan solusi yang dapat membantu keluarga membangun rutinitas tidur yang lebih baik. Ini adalah langkah positif dalam penggunaan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak.

    Bagi orang tua yang sudah memiliki perangkat Echo Kids, Sleep Studio adalah tambahan yang berharga yang dapat membantu mengurangi stres di waktu tidur. Dengan uji coba gratis satu bulan, tidak ada salahnya untuk mencoba fitur ini dan melihat apakah itu cocok untuk keluarga Anda. Sleep Studio mungkin menjadi alat yang Anda butuhkan untuk membuat waktu tidur menjadi momen yang lebih damai dan menyenangkan bagi semua orang.

  • Kesalahan Identifikasi Wajah: Pria Florida Ditangkap gegara Akurasi 93%

    Kesalahan Identifikasi Wajah: Pria Florida Ditangkap gegara Akurasi 93%

    JBNews.id — Seorang pria berusia 52 tahun di Florida, Amerika Serikat, ditangkap polisi setelah sistem pengenalan wajah (face recognition) milik kepolisian setempat mencocokkan fotonya dengan gambar tersangka pelecehan anak dengan tingkat akurasi 93 persen. Robert Dillon, seorang penangkap kepiting komersial dari Fort Myers, kini menggugat pihak berwenang setelah tuduhan terhadapnya dibatalkan total.

    Insiden ini bermula pada 2 November 2023, sesaat sebelum tengah malam, di sebuah restoran McDonald’s di Jacksonville Beach. Seorang pria diduga mendekati seorang anak perempuan di bawah usia 12 tahun dan berulang kali memintanya pergi bersamanya. Anak itu menolak. Setelah pria tersebut mendekatinya untuk kedua kalinya, korban memanggil ibunya. Pelaku meninggalkan lokasi sebelum polisi tiba.

    Seorang petugas polisi Jacksonville Beach yang menangani kasus ini kemudian mengirimkan buletin permintaan identifikasi ke instansi terkait pada November 2023, menggunakan foto-foto dari rekaman pengawasan McDonald’s yang diambil dengan ponsel. Seorang sersan dari Kantor Sheriff Jacksonville (JSO) menjalankan gambar tersebut melalui sistem bernama FACES—sistem pengenalan wajah yang dioperasikan oleh Kantor Sheriff Pinellas County. Hasilnya, sistem mengembalikan kecocokan sebesar “93 persen” dengan nama Robert Dillon.

    Skor yang dikeluarkan sistem FACES mewakili seberapa mirip dua gambar menurut algoritma, bukan seberapa besar kemungkinan gambar tersebut menunjukkan orang yang sama. Sistem ini menyimpan puluhan juta foto mug shot dan foto SIM Florida, dan merupakan salah satu database pengenalan wajah polisi tertua di Amerika Serikat, beroperasi sejak 2001.

    Petugas penyidik kemudian meminta pencarian pembaca plat nomor untuk dua kendaraan yang terdaftar atas nama Dillon, mencakup hari-hari sekitar kejadian. Hasilnya, tidak satupun kendaraan tersebut terdeteksi berada di wilayah Jacksonville. Menurut gugatan yang diajukan American Civil Liberties Union (ACLU), hasil ini sengaja tidak dicantumkan dalam permohonan surat perintah penangkapan.

    Enam bulan berlalu tanpa penyelidikan lebih lanjut. Pada Juli 2024, petugas tersebut mengajukan surat perintah. Seorang hakim menandatanganinya, dan Dillon ditangkap pada bulan berikutnya. Penangkapan terjadi di rumahnya di depan istrinya. Ia ditahan semalaman di sel yang dingin dan diangkut dengan van tanpa lampu yang dikurung. Ia harus menjaminkan surat kepemilikan truknya untuk membayar jaminan.

    Penangkapan itu terjadi pada puncak musim penangkapan kepiting batu, menyebabkan Dillon terlambat membayar sewa dan nyaris kehilangan rumahnya. Foto mug shot-nya tetap online selama hampir setahun, baru dihapus dari situs web county setelah seorang reporter TV turun tangan. Orang asing kini mendekati Dillon di tempat umum untuk menanyakan kasusnya, dan ia tidak lagi merasa nyaman berbicara dengan anak-anak.

    Dillon menyewa pengacara pidana dan pada Oktober 2024 menyatakan tidak bersalah. Kantor Jaksa Wilayah membatalkan semua tuduhan beberapa minggu kemudian. Namun, petugas penyidik yang menangani kasus ini justru dipromosikan pada akhir tahun.

    Gugatan yang diajukan ACLU menyebutkan beberapa fakta yang menunjukkan Dillon bukanlah pelaku, namun tidak pernah sampai ke meja hakim yang menandatangani surat perintah penangkapan. Seorang manajer McDonald’s mengatakan kepada penyidik bahwa tersangka adalah “pelanggan tetap” yang sering ia lihat di sana. Sementara itu, Dillon tidak pernah mengunjungi Jacksonville Beach, karena ia tinggal ratusan mil jauhnya.

    Dampak Teknologi Pengenalan Wajah pada Warga Biasa

    “Saya tidak akan pernah bisa melupakan betapa ketakutan dan khawatirnya saya, bertanya-tanya apakah saya akan pernah pulang ke istri dan putri saya lagi,” kata Dillon dalam pernyataan yang dibagikan pengacaranya. “Lebih dari setahun kemudian, saya masih merangkai kembali potongan-potongan hidup saya, semua karena polisi mengandalkan teknologi berbahaya ini alih-alih melakukan pekerjaan mereka dan benar-benar menyelidiki.”

    Gugatan tersebut menyebut petugas penyidik dan sersan JSO secara individu, serta menargetkan Kota Jacksonville Beach, Sheriff Jacksonville, dan Sheriff Pinellas County dalam kapasitas resmi mereka. Gugatan menuntut ganti rugi kompensasi dan punitif, serta meminta pengadilan memerintahkan ketiga lembaga tersebut untuk merombak kebijakan pengenalan wajah mereka.

    “Karena adanya litigasi yang tertunda, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut mengenai insiden ini,” kata juru bicara Kantor Sheriff Jacksonville kepada WIRED dalam sebuah pernyataan. Kantor Sheriff Pinellas County tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    Sheriff Jacksonville T.K. Waters mengatakan kepada stasiun berita lokal Action News Jax setelah kasus ini dibatalkan bahwa hasil pengenalan wajah saja tidak akan menjadi dasar probable cause di kantornya. “Jika Anda datang kepada saya dengan hasil pengenalan wajah dan itu adalah dasar probable cause Anda, saya mungkin akan mengusir Anda dari kantor saya,” katanya.

    Rekam Jejak Sistem FACES di Florida

    Sistem FACES telah dioperasikan oleh Kantor Sheriff Pinellas County sejak 2001. Pada puncaknya di tahun 2021, puluhan juta foto mug shot dan foto SIM Florida yang tersimpan di sistem ini dapat diakses oleh lebih dari 260 lembaga, termasuk FBI dan ICE. Untuk menggunakan sistem ini, penyidik mengunggah gambar tersangka, sistem membandingkannya dengan galeri, dan mengembalikan daftar peringkat kemungkinan kecocokan.

    Sistem ini telah lama beroperasi dengan sedikit pengawasan. Sebuah studi tahun 2016 oleh Pusat Privasi dan Teknologi Georgetown Law menemukan bahwa Kantor Sheriff Pinellas County tidak melakukan audit terhadap bagaimana database tersebut dicari dan tidak memerlukan kecurigaan yang beralasan untuk menjalankan kueri. Ketika ditanya apakah kantornya mengaudit pencarian untuk penyalahgunaan, Sheriff Bob Gualtieri menjawab, “Tidak, tidak juga.”

    Lembaga-lembaga di Florida juga telah menggunakan FACES untuk memindai pengunjuk rasa damai, menurut laporan Sun Sentinel dan Pulitzer Center.

    ACLU menyatakan kasus Dillon adalah salah satu dari setidaknya 15 kasus penangkapan salah yang diketahui di Amerika Serikat yang disebabkan oleh teknologi pengenalan wajah. Awal tahun ini, Kantor Sheriff Jacksonville yang sama secara keliru menangkap seorang pria dari Carolina Utara dalam penyelidikan pencurian mobil. Menurut Action News Jax, ia menghabiskan hampir tiga bulan di penjara setelah kecocokan 85 persen menyebabkan penangkapannya. Pada saat tuduhan dibatalkan, ia telah kehilangan rumah, pekerjaan, dan hak asuh kedua anaknya.

    “Tidak seorang pun boleh kehilangan kebebasan atau takut meninggalkan rumah karena algoritma salah,” kata Nate Wessler, wakil direktur Proyek Bicara, Privasi, dan Teknologi ACLU, yang menyerukan kepada departemen kepolisian Florida untuk memperbaiki kesalahan dan mengadopsi perlindungan untuk mencegah penangkapan salah di masa depan. “Kepolisian di seluruh negeri sudah diperingatkan,” tambah Wessler. “Teknologi pengenalan wajah yang tidak dapat diandalkan menyakiti orang, dan kami akan terus berjuang untuk membuat mereka bertanggung jawab atas penyalahgunaan ini.”

    Kasus Robert Dillon menjadi pengingat nyata bahwa teknologi pengenalan wajah, meskipun canggih, memiliki keterbatasan fatal jika digunakan sebagai satu-satunya alat bukti tanpa penyelidikan yang memadai. Bagi warga biasa, ini berarti risiko penangkapan salah akibat kesalahan algoritma bukan lagi sekadar skenario fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang dalam semalam.

  • Instagram Beri Kendali Algoritma Feed, Ini Cara Kerjanya

    Instagram Beri Kendali Algoritma Feed, Ini Cara Kerjanya

    JBNews.id — Instagram resmi meluncurkan fitur Your Algorithm yang memungkinkan pengguna menyesuaikan topik yang muncul di main feed mereka. Langkah ini merupakan perluasan dari fitur serupa yang sebelumnya tersedia untuk Reels dan halaman Explore.

    Dalam pengumuman resminya, Kepala Instagram Adam Mosseri menyatakan bahwa fitur ini memungkinkan pengguna untuk melihat dan mengubah topik yang dianggap sistem sebagai minat mereka. “Anda kini dapat melihat topik yang kami pikir Anda minati, dan mengubahnya, di seluruh bagian utama Instagram,” ujar Mosseri dalam unggahan di Threads.

    Saat ini, fitur Your Algorithm baru menampilkan daftar topik. Namun, Mosseri mengonfirmasi bahwa timnya sedang mengembangkan dukungan untuk “permintaan terkait orang, suasana hati atau vibe berbeda, jenis konten, dan masih banyak lagi.” Perluasan ini menunjukkan komitmen Instagram dalam memberikan lebih banyak kendali kepada pengguna atas algoritma yang menentukan apa yang mereka lihat.

    Filosofi di Balik Fitur Baru

    Mosseri tidak hanya memperkenalkan fitur teknis, tetapi juga menyampaikan pandangan filosofis tentang arah pengembangan Instagram ke depan. “Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar fitur,” kata Mosseri. “Saya percaya bahwa demi kepentingan terbaik kami sebagai bisnis adalah memberdayakan orang untuk membentuk Instagram menjadi sesuatu yang bekerja bagi mereka, dan bahwa orang harus memiliki tingkat kendali yang berarti atas produk yang mereka habiskan begitu banyak waktu.”

    Pernyataan ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan Instagram terhadap algoritma rekomendasi. Mosseri mengakui bahwa meskipun rekomendasi algoritmik merupakan “pencapaian teknis yang sejati dalam banyak hal,” ada “biaya” yang harus dibayar terkait “kendali pengguna.” Ia mencatat bahwa interaksi pengguna dengan sistem selama ini menjadi satu arah.

    “Sistem belajar dari apa yang Anda ketuk, tonton, dan bagikan, tetapi Anda tidak benar-benar bisa memberi tahu sistem apa yang Anda inginkan,” jelas Mosseri. “Saya pikir inilah yang sebagian orang rasakan ketika mereka merasa tidak nyaman dengan media sosial — bukan kontennya sendiri, tetapi perasaan bahwa pengalaman itu terjadi pada mereka, bukan dibentuk oleh mereka.”

    Pendekatan baru ini sejalan dengan tren industri teknologi yang semakin sadar akan pentingnya user agency. Dalam konteks yang lebih luas, langkah Instagram ini menunjukkan bagaimana platform media sosial mulai merespons kekhawatiran publik tentang algoritma yang terlalu dominan.

    Teknologi di Balik Fitur

    Mosseri menjelaskan bahwa untuk waktu yang lama, model peringkat konten dibangun “dengan teknologi yang tidak dapat dipahami orang.” Namun, perkembangan terbaru dalam model bahasa besar (Large Language Models/LLM) membuka kemungkinan baru. “LLM dapat melihat kumpulan konten dan mendeskripsikannya dalam bahasa yang dipahami orang,” kata Mosseri.

    Kemampuan ini, menurut Mosseri, memberi Instagram “cara untuk menunjukkan kepada orang apa yang sistem pikir mereka minati, dan cara bagi mereka untuk memberi tahu sistem apa yang sebenarnya mereka inginkan.” Ini menjadi fondasi teknis yang memungkinkan fitur Your Algorithm bekerja secara efektif.

    Dengan teknologi LLM, Instagram dapat mengelompokkan konten ke dalam kategori yang mudah dipahami, bukan sekadar data mentah yang tidak bermakna bagi pengguna biasa. Pengguna kemudian dapat memilih untuk mempertahankan, menambah, atau menghapus topik tertentu dari rekomendasi mereka.

    Dampak bagi Pengguna

    Fitur Your Algorithm memberikan pengguna kemampuan untuk secara aktif membentuk pengalaman mereka di Instagram. Sebelumnya, pengguna hanya bisa memengaruhi algoritma secara pasif melalui interaksi seperti like, share, dan waktu menonton. Kini, mereka dapat secara eksplisit menyatakan preferensi topik.

    Bagi pengguna yang merasa feed mereka terlalu didominasi topik tertentu — misalnya, konten politik atau gossip selebriti — fitur ini menjadi solusi praktis. Mereka dapat menghapus topik yang tidak diinginkan dan menambahkan topik yang lebih relevan dengan minat mereka.

    Mosseri menekankan bahwa ini baru permulaan. Rencana pengembangan ke depan mencakup dukungan untuk permintaan berdasarkan orang, suasana hati, dan jenis konten. Ini berarti di masa mendatang, pengguna mungkin bisa meminta Instagram untuk menampilkan lebih banyak konten dari akun tertentu atau konten yang sesuai dengan mood tertentu.

    Dalam konteks industri media sosial, langkah Instagram ini dapat menjadi preseden bagi platform lain untuk mengadopsi pendekatan serupa. Transparansi algoritma dan kendali pengguna semakin menjadi tuntutan publik, terutama di tengah kekhawatiran tentang echo chamber dan manipulasi konten.

    Implikasi untuk Pengguna Indonesia

    Bagi pengguna Instagram di Indonesia, fitur Your Algorithm menawarkan peluang untuk mendapatkan pengalaman yang lebih personal dan relevan. Dengan populasi pengguna media sosial yang besar, Indonesia menjadi pasar penting bagi Meta, perusahaan induk Instagram.

    Pengguna dapat mulai mengeksplorasi fitur ini dengan membuka pengaturan akun mereka dan mencari opsi Your Algorithm. Dari sana, mereka akan melihat daftar topik yang saat ini digunakan algoritma untuk merekomendasikan konten. Mereka dapat menghapus topik yang tidak diinginkan atau menambahkan topik baru yang lebih sesuai.

    Langkah ini juga relevan bagi kreator konten dan pebisnis yang menggunakan Instagram sebagai platform pemasaran. Dengan memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana pengguna dapat menyesuaikannya, mereka dapat menyusun strategi konten yang lebih efektif.

    Fitur ini juga dapat membantu mengurangi kejenuhan pengguna terhadap konten yang monoton. Dengan kemampuan untuk mengubah topik kapan saja, pengguna dapat menjaga feed mereka tetap segar dan menarik tanpa harus membuat akun baru atau mengikuti ulang akun lain.

    Masa Depan Kendali Algoritma

    Mosseri menyebut fitur ini sebagai “awal dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar fitur.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Instagram memiliki visi jangka panjang untuk mengubah hubungan antara platform dan penggunanya. Prinsip bahwa “orang harus dapat memiliki tingkat kendali yang berarti atas produk yang mereka habiskan begitu banyak waktu” akan menjadi landasan pengembangan fitur-fitur selanjutnya.

    Dalam jangka panjang, pendekatan ini bisa mengubah cara Instagram mendesain produknya. Jika sebelumnya algoritma adalah black box yang bekerja di balik layar, ke depannya pengguna akan memiliki lebih banyak visibilitas dan kendali. Ini sejalan dengan tren global menuju algorithmic transparency dan user empowerment.

    Bagi industri teknologi, langkah Instagram ini menunjukkan bahwa model bisnis yang mengandalkan algoritma opak mungkin perlu beradaptasi. Pengguna semakin sadar akan bagaimana data mereka digunakan dan ingin memiliki lebih banyak kendali atas pengalaman digital mereka.

    Dengan peluncuran fitur Your Algorithm, Instagram mengambil langkah berani untuk mengubah paradigma hubungan platform-pengguna. Jika berhasil, ini bisa menjadi cetak biru bagi platform media sosial lain untuk mengikuti jejak serupa.

    Bagi yang tertarik dengan perkembangan teknologi dan media sosial, fitur ini layak dicoba. Pengguna dapat langsung mengakses pengaturan akun Instagram mereka dan mulai menyesuaikan topik yang muncul di feed utama. Dengan fitur ini, pengalaman bersosial media menjadi lebih personal dan sesuai keinginan masing-masing individu.

  • Google Digugat Musisi Independen atas Pelatihan AI Lyria

    Google Digugat Musisi Independen atas Pelatihan AI Lyria

    JBNews.id — Sekelompok musisi independen menggugat Google atas dugaan penggunaan lagu-lagu yang diunggah ke YouTube untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) musik bernama Lyria 3. Google mengajukan mosi untuk menolak gugatan tersebut dengan alasan bahwa para musisi telah menyetujui persyaratan layanan (ToS) YouTube yang memberikan lisensi luas atas konten yang diunggah.

    Gugatan ini diajukan oleh para musisi independen yang menuduh Google secara ilegal menggunakan karya mereka yang telah diunggah ke YouTube untuk melatih model AI Lyria 3. Dalam mosi penolakannya, Google menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Perusahaan raksasa teknologi itu berargumen bahwa para penggugat telah memberikan lisensi yang luas kepada YouTube dan Google melalui persyaratan layanan yang berlaku.

    “Gugatan mereka didasarkan pada hipotesis yang tidak didukung bahwa Google melatih model pada karya spesifik mereka,” demikian pernyataan Google dalam mosi tersebut. “Bahkan jika kami menerima tuduhan mereka yang belum teruji sebagai fakta, gugatan ini tidak dapat berdiri. Setiap penggugat telah memberikan lisensi luas kepada YouTube dan Google — yang menyediakan layanan — untuk menggunakan konten yang diunggah. Lisensi tersebut, yang ada dalam Persyaratan Layanan YouTube, telah mengesahkan perilaku yang dituduhkan dalam Gugatan.”

    Pernyataan ini merupakan bentuk lindung nilai hukum yang standar: “Anda tidak dapat membuktikan kami melakukannya, dan bahkan jika kami melakukannya, kami diizinkan.” Ketika ditanya secara langsung apakah Google menggunakan video YouTube untuk melatih model AI musik Lyria 3, perusahaan tersebut menolak berkomentar. Namun, berdasarkan pernyataan publik sebelumnya, tampaknya aman untuk berasumsi bahwa jawabannya adalah ya.

    Pernyataan CEO YouTube dan Konfirmasi Internal

    Dalam sebuah wawancara pada April 2024 dengan Bloomberg, CEO YouTube Neal Mohan mengatakan bahwa “sebagian” dari video YouTube dapat digunakan secara internal untuk melatih model seperti Gemini. Kemudian pada tahun yang sama, sebuah posting blog tentang alat kreator mengonfirmasi hal tersebut, dengan menyatakan bahwa “kami menggunakan konten yang diunggah ke YouTube untuk meningkatkan pengalaman produk bagi kreator dan pemirsa di seluruh YouTube dan Google, termasuk melalui pembelajaran mesin dan aplikasi AI.”

    Google bahkan telah mengonfirmasi kepada CNBC bahwa mereka menggunakan unggahan YouTube untuk melatih model Gemini dan Veo. Namun, yang belum dilakukan Google adalah secara spesifik mengonfirmasi bahwa mereka juga menggunakan unggahan YouTube untuk melatih Lyria. Celah inilah yang menjadi titik sentral dalam strategi hukum perusahaan.

    Dalam mosi penolakannya, Google menegaskan bahwa dengan mengunggah konten langsung ke YouTube, para penggugat telah menyetujui persyaratan layanan yang memberikan perusahaan hak untuk “memperbanyak, mendistribusikan, [dan] menyiapkan karya turunan” berdasarkan unggahan tersebut.

    Implikasi Hukum dan Strategi Google

    Dengan semua pertimbangan tersebut, mungkin tampak aneh bahwa Google tidak mau mengakui hal yang sudah jelas. Namun saat ini, perusahaan memiliki sedikit keuntungan dengan mencatat secara resmi. Dan dengan litigasi yang masih berlangsung, mempertahankan kemungkinan untuk menyangkal adalah langkah yang diperhitungkan. Google tampaknya lebih memilih untuk menjaga ambiguitas daripada memberikan pernyataan yang dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan.

    Kasus ini menyoroti ketegangan yang semakin meningkat antara kreator konten dan perusahaan teknologi besar terkait penggunaan data untuk pelatihan AI. Para musisi independen khawatir bahwa karya mereka digunakan tanpa izin atau kompensasi yang layak untuk mengembangkan model AI yang pada akhirnya dapat menggantikan peran mereka.

    Persyaratan Layanan YouTube yang ada saat ini memberikan hak yang sangat luas kepada Google untuk menggunakan konten yang diunggah. Ini berarti bahwa jutaan kreator di seluruh dunia mungkin secara tidak sadar telah memberikan izin untuk penggunaan karya mereka dalam pelatihan AI. Pertanyaan tentang transparansi dan persetujuan yang diinformasikan menjadi semakin kritis di era AI ini.

    Google belum secara resmi mengkonfirmasi penggunaan unggahan YouTube untuk Lyria, tetapi pola pernyataan publik dan kebijakan internal menunjukkan arah yang jelas. Perusahaan mungkin sedang menunggu hasil litigasi sebelum membuat pengumuman resmi tentang praktik pelatihan AI mereka.

    Dampak bagi Kreator dan Industri Musik

    Bagi para musisi independen, kasus ini memiliki implikasi yang signifikan. Jika Google menang dalam mosi penolakannya, ini akan memperkuat interpretasi bahwa persyaratan layanan platform digital memberikan hak yang hampir tidak terbatas atas konten yang diunggah. Sebaliknya, jika para penggugat berhasil, ini dapat memaksa perusahaan teknologi untuk merombak praktik pelatihan AI mereka dan memberikan kompensasi yang lebih adil kepada kreator.

    Kasus ini juga menjadi preseden penting untuk industri musik secara keseluruhan. Model AI yang dilatih dengan karya musisi tanpa izin dapat menghasilkan musik yang meniru gaya tertentu, berpotensi mengurangi permintaan untuk karya asli. Ini adalah kekhawatiran yang nyata bagi para musisi yang menggantungkan hidup pada karya kreatif mereka.

    Google, di sisi lain, berargumen bahwa penggunaan data untuk pelatihan AI adalah bagian dari peningkatan pengalaman produk yang diizinkan oleh persyaratan layanan. Perusahaan melihat AI sebagai alat untuk membantu kreator, bukan menggantikan mereka. Namun, tanpa transparansi yang jelas, sulit bagi kreator untuk mempercayai klaim tersebut.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan AI dan dampaknya, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Keamanan Siber dan Privasi 2026 yang membahas tantangan privasi di era AI, serta Karyawan Google Kecam AI Internal yang menyoroti kekhawatiran dari dalam perusahaan sendiri.

    Implikasi dari kasus ini jelas: kreator perlu lebih waspada terhadap persyaratan layanan platform yang mereka gunakan. Sementara itu, perusahaan teknologi harus mempertimbangkan kembali tingkat transparansi yang mereka berikan kepada pengguna tentang bagaimana data mereka digunakan. Tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, konflik antara kreator dan perusahaan AI kemungkinan akan terus berlanjut.

  • Microsoft Batasi Claude Fable 5 karena Aturan Data Baru

    Microsoft Batasi Claude Fable 5 karena Aturan Data Baru

    JBNews.id — Microsoft membatasi penggunaan model AI terbaru Anthropic, Claude Fable 5, di lingkungan internal perusahaan karena kekhawatiran terhadap persyaratan retensi data yang baru. Langkah ini diambil hanya beberapa hari setelah model tersebut dirilis secara luas kepada pelanggan GitHub Copilot dan Foundry.

    Menurut sumber internal yang mengetahui masalah ini, Claude Fable 5 tidak tersedia di pemilih model yang digunakan karyawan Microsoft untuk versi internal GitHub Copilot. Sementara itu, semua model Claude lainnya masih dapat diakses secara internal karena beroperasi di bawah aturan Zero Data Retention (ZDR).

    Perbedaan mendasar ini muncul karena Anthropic menerapkan kebijakan retensi data untuk mengoperasikan pengklasifikasi keamanan baru pada Claude Fable 5. Kebijakan tersebut mengharuskan Anthropic menyimpan prompt dan output pengguna selama 30 hari sebelum dihapus. Bahkan, beberapa prompt dan output dapat disimpan hingga dua tahun jika terindikasi melanggar kebijakan penggunaan Anthropic.

    Microsoft dikabarkan telah memberi tahu karyawannya bahwa tim hukum perusahaan sedang mengevaluasi perubahan persyaratan retensi data Anthropic. Kekhawatiran utama berpusat pada data pelanggan dan informasi rahasia yang mungkin terekspos melalui kebijakan baru ini. Hingga saat ini, belum jelas apakah tim hukum Microsoft akan menyetujui penggunaan Claude Fable 5 untuk keperluan internal.

    Keputusan ini menjadi ironis mengingat Microsoft justru dengan cepat merilis Claude Fable 5 kepada pelanggan eksternal melalui GitHub Copilot dan Foundry. Ketidakselarasan antara ketersediaan untuk pelanggan dan pembatasan untuk karyawan internal menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kebijakan perusahaan.

    Latar Belakang Model Mythos Class

    Claude Fable 5 merupakan model pertama dari keluarga Mythos class yang dirilis secara luas oleh Anthropic. Peluncuran ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Anthropic menyatakan bahwa keluarga model tersebut sangat mumpuni dalam tugas keamanan siber sehingga dianggap terlalu berbahaya untuk dirilis ke publik.

    Untuk mengatasi risiko tersebut, Anthropic telah menerapkan perlindungan prompt yang membuat Fable 5 lebih aman digunakan. Namun, langkah pengamanan ini justru memicu perubahan kebijakan retensi data yang menjadi sumber kekhawatiran Microsoft saat ini.

    Perubahan kebijakan ini juga menimbulkan dilema bagi Microsoft yang selama ini dikenal sebagai investor utama Anthropic. Hubungan kedua perusahaan yang kompleks—sebagai mitra sekaligus pesaing di bidang AI—kini diuji dengan kebijakan data yang kontroversial ini.

    Microsoft menolak memberikan komentar resmi ketika dimintai konfirmasi terkait pembatasan ini. Sementara itu, Anthropic belum memberikan pernyataan resmi mengenai kekhawatiran yang disampaikan Microsoft.

    Implikasi bagi Ekosistem AI Perusahaan

    Kebijakan retensi data Anthropic menimbulkan tantangan baru bagi perusahaan besar yang ingin mengadopsi model AI canggih. Persyaratan penyimpanan data hingga 30 hari, dan bahkan dua tahun untuk konten yang melanggar kebijakan, dapat bertentangan dengan kepatuhan regulasi perlindungan data di berbagai yurisdiksi.

    Bagi Microsoft, situasi ini semakin rumit mengingat perusahaan sedang membangun strategi AI mandiri pasca-pemisahan dari OpenAI. Langkah pembatasan Claude Fable 5 menunjukkan bahwa Microsoft semakin selektif dalam mengelola risiko data di tengah persaingan ketat pasar AI.

    Para pengamat industri menilai bahwa insiden ini dapat memicu evaluasi ulang kebijakan adopsi AI oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya. Jika Microsoft—sebagai salah satu pemimpin industri teknologi—merasa perlu membatasi penggunaan model tertentu, perusahaan lain kemungkinan akan mengikuti jejak serupa.

    Dari sisi teknis, kebijakan retensi data Anthropic dirancang untuk meningkatkan keamanan model melalui pengklasifikasi keamanan yang memerlukan akses ke data pengguna. Namun, pendekatan ini berbenturan dengan prinsip Zero Data Retention yang selama ini menjadi standar industri untuk melindungi kerahasiaan data pelanggan.

    Keputusan Microsoft untuk tetap menyediakan Claude Fable 5 kepada pelanggan eksternal sambil membatasi penggunaannya secara internal menunjukkan adanya perbedaan perlakuan yang mungkin didasarkan pada pertimbangan hukum dan risiko yang berbeda.

    Bagi pelanggan GitHub Copilot dan Foundry yang sudah menggunakan Claude Fable 5, situasi ini belum menimbulkan dampak langsung. Namun, jika Microsoft akhirnya memutuskan untuk menarik model tersebut dari layanan pelanggan, hal ini dapat mengganggu alur kerja pengembang yang sudah mengandalkan kemampuan Fable 5.

    Insiden ini juga menyoroti tantangan yang lebih luas dalam industri AI: bagaimana menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan data. Anthropic memilih pendekatan yang lebih ketat dengan mengorbankan privasi pengguna demi keamanan model, sementara Microsoft dan banyak perusahaan lain lebih memprioritaskan perlindungan data.

    Dengan belum adanya keputusan final dari tim hukum Microsoft, masa depan Claude Fable 5 di ekosistem Microsoft masih belum pasti. Perusahaan harus menemukan keseimbangan antara memanfaatkan inovasi AI terbaru dan mematuhi standar perlindungan data yang ketat.

    Para pengamat memperkirakan bahwa kasus ini akan menjadi preseden penting bagi industri AI secara keseluruhan. Jika Microsoft akhirnya menyetujui penggunaan Claude Fable 5 dengan modifikasi tertentu, hal ini dapat membuka jalan bagi model-model AI canggih lainnya untuk diadopsi dengan persyaratan data yang lebih ketat.

    Sebaliknya, jika Microsoft memutuskan untuk tidak menggunakan model tersebut secara internal, keputusan ini dapat menjadi sinyal bagi perusahaan lain untuk lebih berhati-hati dalam mengadopsi model AI yang memerlukan retensi data pengguna.

    Perkembangan ini terjadi di tengah persaingan ketat antara raksasa teknologi dalam mengembangkan dan mengadopsi model AI tercanggih. Keputusan Microsoft untuk membatasi Claude Fable 5 menunjukkan bahwa pertimbangan keamanan data kini menjadi faktor kritis yang dapat menghambat adopsi teknologi AI, bahkan oleh perusahaan yang paling agresif sekalipun dalam mengadopsi AI.

  • Lulusan Baru Boikot Pidato AI, Microsoft Angkat Bicara

    Lulusan Baru Boikot Pidato AI, Microsoft Angkat Bicara

    JBNews.id — Gelombang protes dari lulusan baru perguruan tinggi di Amerika Serikat terhadap pidato wisuda yang mempromosikan kecerdasan buatan (AI) mendapat tanggapan langsung dari Microsoft. Dalam sebuah blog post sepanjang lebih dari 3.100 kata, Wakil Ketua dan Presiden Microsoft Brad Smith menulis bahwa respons negatif tersebut merupakan “panggilan untuk membangunkan” para eksekutif teknologi.

    Fenomena ini mencuat setelah serangkaian video viral dari upacara kelulusan, seperti mantan CEO Google Eric Schmidt yang diejek di University of Arizona, atau seorang pembicara di Florida yang terkejut saat mahasiswa mencemooh penyebutan AI sebagai “revolusi industri berikutnya.” Video-video tersebut, menurut analisis, mencerminkan sentimen masyarakat yang lebih luas terhadap AI—teknologi yang kini sangat tidak populer meskipun perusahaan teknologi terus menyematkannya di mana-mana tanpa persetujuan.

    Brad Smith mengambil nada rekonsiliatif dalam blog post-nya. “Mahasiswa yang meringis atau bahkan mencemooh referensi tentang AI memberi tahu kami apa yang perlu kami dengar, bahwa sudah waktunya untuk meningkatkan standar,” tulis Smith. Ia menambahkan bahwa keluhan seperti itu sebenarnya sudah sering terdengar dari mahasiswa selama beberapa dekade. “Kuncinya adalah selalu menyalurkan ketidakpastian menjadi langkah-langkah yang bertujuan membangun masa depan yang lebih baik.”

    Krisis Kepercayaan Generasi Muda

    Data menunjukkan bahwa generasi muda menggunakan AI, namun merasa bersalah karenanya. Perlawanan terhadap pusat data raksasa juga telah menjadi isu politik yang menentukan. Ada perasaan bahwa klip-klip viral ini merupakan ekspresi katarsis dari betapa tidak pekanya para eksekutif dan teknokrat terhadap realitas yang dihadapi generasi penerus.

    Meskipun bernada rekonsiliatif, substansi blog post Microsoft sebenarnya tidak jauh berbeda dari alasan yang memicu cemoohan tersebut. Smith berargumen bahwa AI akan membentuk kembali budaya, tenaga kerja, dan hubungan dengan cara-cara yang bahkan mungkin belum kita pahami sepenuhnya. Ia juga menyebut bahwa para lulusan justru lebih siap menghadapi masa depan yang dipenuhi AI karena tumbuh dengan teknologi dan lebih lincah beradaptasi.

    “Kamu berada dalam posisi unik untuk memberikan dampak positif. Kamu telah melewati tantangan signifikan,” tulis Smith kepada para lulusan. “Meskipun mungkin terasa tidak adil bahwa pasar kerja begitu tidak pasti, kamu diciptakan untuk momen ini.”

    Kritik terhadap Inkonsistensi Industri

    Gagasan bahwa yang perlu dilakukan industri teknologi hanyalah “meningkatkan standar” kemungkinan akan disambut skeptis oleh konsumen. Pasalnya, orang-orang yang sama—termasuk mitra Microsoft seperti Sam Altman dari OpenAI—pernah memperingatkan efek katastrofik AI, hanya untuk menarik kembali pernyataan tersebut setelah menyadari dampak buruknya terhadap persepsi publik.

    Eksekutif Microsoft sendiri juga sedang berusaha mencari celah di tengah isu penggantian tenaga kerja oleh AI. Pertanyaan mendasarnya: mengapa publik harus percaya bahwa orang-orang yang menyebabkan ketidakpastian ini adalah pihak yang tepat untuk membersihkan kekacauan?

    Cara alternatif untuk memahami pesan Microsoft adalah bahwa surat terbuka itu sebenarnya tidak ditujukan kepada para lulusan yang marah, melainkan kepada para eksekutif C-suite yang melihat klip-klip ini dan mungkin menganggapnya sepele. Dalam sebuah unggahan di X, Smith mengatakan bahwa para lulusan yang mencemooh tersebut “mengingatkan kita bahwa AI harus melayani manusia, bukan menggantikan mereka.”

    Fakta bahwa para eksekutif Microsoft perlu diingatkan akan hal ini justru menjadi inti permasalahan. Sentimen negatif terhadap AI di kalangan generasi muda bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan indikator serius tentang kesenjangan antara visi industri teknologi dan realitas sosial yang mereka ciptakan. Microsoft, melalui pernyataan Smith, mencoba menjembatani kesenjangan tersebut, namun skeptisisme publik tetap tinggi.

    Implikasinya bagi pembaca jelas: perdebatan tentang peran AI dalam masyarakat masih jauh dari selesai. Generasi muda yang akan memasuki pasar kerja justru menjadi pihak yang paling vokal menolak narasi optimistis tanpa syarat tentang AI. Ini adalah sinyal bahwa adopsi teknologi tidak bisa lagi dilakukan secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan psikologisnya.

    Bagi para profesional dan pengamat industri, respons Microsoft ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar mulai menyadari perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dalam mengkomunikasikan transformasi digital. Namun, tanpa perubahan substantif dalam kebijakan dan praktik bisnis, kata-kata manis semata tidak akan cukup untuk memulihkan kepercayaan yang hilang.

  • Google Ubah Pengaturan Privasi Search, Simpan Data Suara dan Gambar

    Google Ubah Pengaturan Privasi Search, Simpan Data Suara dan Gambar

    JBNews.id — Google mulai menerapkan perubahan kebijakan privasi pada layanan Search-nya dengan memperkenalkan pengaturan baru bernama “Search Services History”. Pengaturan ini secara spesifik menyimpan data interaksi pengguna berupa gambar, file, audio, dan video yang digunakan untuk mencari informasi, termasuk hasil pencarian dari Google Lens dan perintah suara.

    Dalam pemberitahuan yang dikirimkan kepada pengguna, Google menyatakan bahwa pengaturan baru ini akan memisahkan data pencarian berbasis media dari pengaturan “Web & App Activity” yang selama ini berlaku. Langkah ini merupakan bagian dari transparansi yang lebih besar terkait bagaimana data pengguna dikelola dan digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa tersebut.

    Perubahan ini mencerminkan tren industri teknologi yang semakin ketat dalam mengatur privasi pengguna. Seperti yang dibahas dalam artikel Keamanan Siber 2026, perusahaan-perusahaan besar seperti Meta, xAI, dan Google terus beradaptasi dengan regulasi privasi yang semakin kompleks.

    Rincian Pengaturan Search Services History

    Berdasarkan informasi yang diperbarui di situs resmi Google, “Search Services History” akan menyimpan berbagai jenis interaksi pengguna. Data yang dimaksud mencakup gambar yang dicari menggunakan Google Lens, rekaman suara dari alat pencarian real-time Search Live, pencarian suara (voice search), serta frasa yang diucapkan ke dalam Google Translate.

    Pengguna diberikan kendali penuh atas pengaturan ini. Google menyediakan opsi untuk mematikan pengaturan “Search Services History” sepenuhnya. Selain itu, pengguna juga dapat menonaktifkan opsi “Save Media” jika tidak ingin Google menyimpan interaksi berbasis media tersebut.

    Google menegaskan bahwa data yang dikumpulkan melalui Search Services History akan digunakan untuk “menyediakan, mengembangkan, dan meningkatkan layanannya,” termasuk model kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan. Data ini juga akan digunakan untuk memberikan saran yang dipersonalisasi dan iklan jika pengguna mengaktifkan pengaturan “Personalized Recommendations” yang baru.

    Implikasi bagi Pengguna AI dan Privasi

    Kebijakan ini memiliki implikasi langsung terhadap pengembangan AI Google. Dengan menyimpan data suara dan gambar, perusahaan dapat melatih model AI-nya dengan lebih baik. Hal ini sejalan dengan upaya Google memperkuat ekosistem AI-nya, termasuk peluncuran Gemini Go untuk HP Android Murah yang baru-baru ini dirilis.

    Namun, langkah ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pegiat privasi. Pasalnya, data suara dan gambar dianggap lebih sensitif dibandingkan data pencarian teks biasa. Rekaman suara dapat mengungkap identitas seseorang, sementara gambar dapat berisi informasi pribadi yang tidak ingin dibagikan.

    Kekhawatiran internal tentang pengembangan AI juga pernah mencuat di Google. Seperti dilaporkan dalam artikel Karyawan Google Kecam AI Internal, sebagian karyawan menilai pengembangan AI justru menambah beban kerja, bukan meringankannya.

    Pemisahan dari Web & App Activity

    Salah satu perubahan paling signifikan adalah pemisahan Search Services History dari pengaturan “Web & App Activity”. Sebelumnya, interaksi pencarian yang melibatkan media, seperti rekaman audio dan pencarian visual, disertakan dalam satu pengaturan yang sama dengan riwayat pencarian teks.

    Dengan pemisahan ini, pengguna kini memiliki kontrol yang lebih granular. Mereka dapat memilih untuk menyimpan riwayat pencarian teks tetapi tidak menyimpan data suara dan gambar, atau sebaliknya.

    Bagi pengguna yang sebelumnya telah memblokir Google untuk menyimpan riwayat pencarian melalui Web & App Activity, Google akan mempertahankan pengaturan Search Services History dalam keadaan mati setelah transisi dilakukan. Perusahaan juga akan membawa preferensi personalisasi pengguna saat pengaturan ini diluncurkan secara bertahap dalam “beberapa bulan ke depan.”

    Dampak bagi Pengguna dan Industri

    Perubahan ini memiliki dampak langsung bagi pengguna Google di Indonesia. Pertama, pengguna perlu memeriksa pengaturan akun Google mereka untuk memastikan apakah Search Services History aktif atau tidak. Kedua, pengguna yang peduli privasi disarankan untuk menonaktifkan opsi “Save Media” jika tidak ingin data suara dan gambar mereka disimpan.

    Dari sisi industri, langkah ini menunjukkan bahwa Google semakin serius dalam mengelola data pengguna secara terpisah. Hal ini bisa menjadi preseden bagi perusahaan teknologi lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.

    Sementara itu, Google terus memperluas jangkauan teknologinya ke berbagai sektor. Salah satu contohnya adalah keterlibatan Google dalam dunia olahraga melalui Google Gemini Sponsor Timnas Argentina, yang menunjukkan bagaimana AI dan data digunakan di luar ranah pencarian tradisional.

    Cara Mengelola Pengaturan Baru

    Pengguna yang ingin mengelola pengaturan Search Services History dapat melakukannya melalui halaman “Data & Privacy” di akun Google mereka. Langkah-langkahnya meliputi:

    • Mematikan pengaturan “Search Services History” sepenuhnya
    • Menonaktifkan opsi “Save Media” untuk mencegah penyimpanan data gambar dan suara
    • Memeriksa apakah pengaturan “Personalized Recommendations” aktif dan menonaktifkannya jika tidak diinginkan

    Google menyatakan bahwa pengaturan ini akan diluncurkan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan. Pengguna akan menerima notifikasi saat perubahan mulai berlaku di akun mereka.

    Implikasi Faktual bagi Pembaca

    Bagi pengguna biasa di Indonesia, perubahan ini berarti satu hal: data interaksi Anda dengan Google kini dikelola dengan lebih transparan, tetapi juga lebih terpisah-pisah. Jika sebelumnya Anda cukup mematikan satu pengaturan untuk membatasi pelacakan, kini Anda perlu memeriksa beberapa pengaturan berbeda.

    Bagi para profesional dan pelaku bisnis yang menggunakan Google Workspace atau layanan Google lainnya, perubahan ini penting untuk dipahami dalam konteks kepatuhan terhadap regulasi privasi data di Indonesia, seperti UU PDP.

    Dengan pemisahan pengaturan ini, Google memberikan kontrol lebih kepada pengguna, tetapi juga menuntut kesadaran yang lebih tinggi untuk mengelolanya secara efektif.

  • Steam Hentikan Penjualan Kartu Fisik Akhir 2026

    Steam Hentikan Penjualan Kartu Fisik Akhir 2026

    JBNews.id — Valve resmi menghentikan penjualan kartu hadiah fisik Steam di toko ritel setelah lebih dari satu dekade beredar. Keputusan ini diambil karena maraknya aksi penipuan yang menargetkan pengguna layanan game tersebut.

    Dalam laman dukungan yang ditemukan oleh Windows Central, Valve menyatakan tidak akan lagi melakukan restok kartu hadiah fisik begitu stok yang tersisa habis. Perusahaan mengaitkan langkah ini dengan para penipu yang “terus berdampak pada pelanggan Steam dan individu lain yang tidak menaruh curiga.”

    Valve mulai menjual kartu hadiah fisik pada 2012 dan memperkirakan seluruh stok akan habis pada akhir 2026. Meski begitu, perusahaan menegaskan bahwa kartu yang sudah dibeli tetap dapat digunakan kapan pun.

    “Meskipun kami tidak lagi menjual kartu hadiah fisik, Anda tetap dapat menggunakan kartu hadiah yang sudah ada di Steam kapan pun Anda mau,” tulis Valve dalam pernyataan resminya.

    Modus Penipuan yang Terus Beradaptasi

    Dalam pengumumannya, Valve menautkan artikel Komisi Perdagangan Federal (FTC) yang menjelaskan bagaimana penipu meyakinkan korban untuk membeli kartu hadiah di toko dan memberikan kode yang tertera. Modus ini kerap digunakan dalam penipuan yang mengaku sebagai petugas pajak, dukungan teknis, atau anggota keluarga yang membutuhkan bantuan darurat.

    Valve mengaku telah merespons ancaman ini dengan bekerja sama dengan aparat penegak hukum, menambahkan peringatan pada kemasan kartu hadiah, dan membatasi ketersediaannya di toko fisik. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai belum cukup efektif.

    “Penipu telah beradaptasi,” kata Valve, menjelaskan alasan penghentian total penjualan kartu fisik.

    Dampak bagi Ekosistem Game

    Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam strategi distribusi Valve. Kartu hadiah fisik Steam selama ini menjadi pilihan populer bagi pengguna yang tidak memiliki akses ke kartu kredit atau dompet digital. Namun, risiko keamanan yang terus meningkat membuat Valve memilih untuk beralih sepenuhnya ke kartu hadiah digital.

    Langkah Valve ini sejalan dengan tren industri game yang semakin digital. Platform seperti Steam telah lama mendorong transaksi daring melalui dompet digital dan kartu hadiah elektronik. Penghentian kartu fisik juga mengurangi jejak karbon dari produksi dan distribusi plastik.

    Bagi pengguna, transisi ini berarti mereka harus beralih ke metode pembayaran digital. Kartu hadiah digital Steam dapat dibeli melalui situs resmi atau mitra ritel daring, dan kode dikirimkan langsung ke email pembeli.

    Valve tidak menyebutkan apakah akan memperkenalkan metode alternatif lain, seperti kemitraan dengan dompet digital lokal atau sistem pembayaran nontunai lainnya, untuk menggantikan fungsi kartu fisik.

    Implikasi bagi Konsumen

    Keputusan ini memiliki implikasi langsung bagi konsumen yang selama ini mengandalkan kartu fisik sebagai hadiah atau metode pembayaran. Setelah stok habis, satu-satunya cara untuk memberikan saldo Steam kepada orang lain adalah melalui kartu digital. Selain itu, pengguna tanpa akses perbankan daring mungkin akan kesulitan bertransaksi di platform tersebut.

    Valve menegaskan bahwa semua kartu fisik yang masih berlaku tetap dapat digunakan. Tidak ada batas waktu penggunaan saldo yang sudah ditambahkan ke akun. Perusahaan juga memastikan bahwa pengguna tidak akan kehilangan akses ke game atau konten yang sudah dibeli.

    Bagi pelaku industri, langkah ini menjadi pengingat bahwa keamanan siber harus menjadi prioritas utama dalam setiap inovasi produk. Teleskop Webb mungkin mendeteksi metana di antarbintang, namun di Bumi, ancaman penipuan digital terus berkembang dan menuntut respons cepat dari perusahaan teknologi.

    Dengan berakhirnya era kartu hadiah fisik Steam, Valve menutup satu babak dalam sejarah distribusi game digital. Keputusan ini, meskipun drastis, menunjukkan komitmen perusahaan untuk melindungi penggunanya dari kerugian finansial akibat penipuan yang semakin canggih.

    Pengguna diimbau untuk selalu waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan Steam atau layanan game lainnya. Jangan pernah memberikan kode kartu hadiah kepada pihak yang tidak dikenal, sekalipun mereka mengaku sebagai perwakilan resmi perusahaan.

  • Dilarang Pakai Deodoran di Pabrik Chip AI Intel

    Dilarang Pakai Deodoran di Pabrik Chip AI Intel

    JBNews.id — Pabrik pembuatan chip kecerdasan buatan (AI) milik Intel di Oregon, Amerika Serikat, menerapkan aturan yang sangat ketat bagi siapa pun yang masuk ke fasilitas tersebut. Larangan tersebut mencakup penggunaan deodoran, hairspray, hingga makeup karena partikel aerosol dari produk-produk ini dapat merusak chip yang sedang diproduksi. Kebijakan ekstrem ini diungkap langsung oleh jurnalis Business Insider, Olivia Nemec, yang mendapatkan kesempatan langka untuk melihat langsung ke dalam fasilitas fabrikasi Intel.

    Menurut laporan yang dikutip pada Senin (22/6/2026), lingkungan di dalam pabrik fabrikasi (fab) sangat sensitif. Peralatan yang digunakan untuk membuat chip AI begitu presisi sehingga kontaminan sekecil apa pun dapat menyebabkan kerusakan fatal pada chip yang bernilai jutaan dolar. “Saya merasa seperti raksasa yang bergerak melalui dunia yang dibangun untuk benda-benda yang jauh lebih kecil dan lebih rapuh dari saya,” tulis Nemec dalam laporannya.

    Aturan Ketat Sebelum Masuk Fasilitas

    Dalam kunjungannya ke pabrik Intel di Oregon, Nemec mendapati bahwa daftar barang yang tidak boleh digunakan atau dibawa sangatlah panjang. Beberapa di antaranya adalah makeup, hairspray, perangkat bluetooth, hingga velcro. Yang paling mengejutkan, deodoran juga termasuk dalam daftar larangan tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana bau di dalam fasilitas setelah shift panjang bekerja.

    Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Partikel aerosol dari produk-produk tersebut dapat berkisar dari beberapa nanometer hingga puluhan mikrometer. Sementara itu, chip AI modern dibuat dalam skala atom. Sebagai perbandingan, satu helai rambut manusia memiliki lebar sekitar satu juta atom. Semprotan deodoran atau hairspray yang cepat saja bisa menjadi bencana besar bagi produksi chip.

    Chris Auth, wakil presiden pengembangan manufaktur Intel, menjelaskan kepada Nemec bahwa menghancurkan satu wafer silikon—lempengan semikonduktor yang sangat datar yang menjadi fondasi microchip—dapat merugikan perusahaan hingga setengah juta dolar AS. “Setiap titik kecil dapat menyebabkan cacat, yang akan menghancurkan chip,” kata Auth saat Nemec dan timnya berada di ruang pembersihan alat.

    Prosedur Sterilisasi Ketat

    Prosedur masuk ke fasilitas Intel sangatlah ketat. Semua perlengkapan, termasuk peralatan kamera, harus disterilkan dengan tisu pembersih khusus. Setelah ruang pembersihan, pengunjung dan karyawan harus memasuki ruang gowning, di mana mereka harus mengenakan pakaian terusan putih (white overalls) yang dirancang untuk mencegah partikel kulit terlepas saat berada di dalam pabrik.

    Nemec juga mencatat bahwa kertas biasa pun dapat melepaskan partikel yang bisa merusak chip. Oleh karena itu, hampir semua pekerjaan di dalam fasilitas Intel dilakukan oleh robot dari berbagai jenis, mulai dari ban berjalan (conveyor belts) hingga lengan robotik (robotic arms). Manusia, di sisi lain, hampir dianggap sebagai spesies invasif di lingkungan super-bersih ini.

    Untuk menjaga kebersihan udara, lantai pabrik dilengkapi dengan filter udara yang mampu mengganti seluruh udara di dalam pabrik hanya dalam waktu satu menit. Sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa manusia—yang secara alami melepaskan partikel kulit dan rambut—tidak mengeluarkan terlalu banyak partikel kontaminan ke lingkungan produksi.

    Dampak Lonjakan Permintaan Chip AI

    Lonjakan permintaan chip semikonduktor Intel belakangan ini didorong oleh percepatan pembangunan pusat data AI (data center). Konsekuensi finansial dari kesalahan produksi menjadi sangat besar. Setiap chip yang rusak tidak hanya berarti kerugian material, tetapi juga keterlambatan dalam memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

    Dengan lingkungan produksi yang sangat terkontrol ini, Intel berusaha meminimalkan risiko cacat produksi. Robot-robot yang mendominasi lantai pabrik bekerja tanpa menghasilkan partikel kontaminan seperti yang dilakukan manusia. Hal ini menjadi kunci untuk memproduksi chip AI dalam jumlah besar dengan tingkat kegagalan yang sangat rendah.

    “Kita hidup di dunia yang berjalan di atas chip,” tutup Nemec dalam laporannya. “Namun, untuk membuatnya, kita harus menciptakan seluruh lingkungan yang dirancang untuk melindungi chip dari kita.”

    Laporan ini memberikan gambaran betapa rumit dan mahalnya proses produksi chip AI. Bagi konsumen dan pelaku industri, pemahaman ini menjelaskan mengapa harga chip AI masih sangat tinggi dan mengapa rantai pasokannya sangat rentan terhadap gangguan. Ke depannya, inovasi dalam proses produksi yang lebih toleran terhadap kontaminasi mungkin menjadi kunci untuk menekan biaya dan meningkatkan pasokan chip AI global.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan industri semikonduktor, baca juga Perkembangan Chip AI dan Industri Semikonduktor 2026.

  • Agibot Ekspansi ke Indonesia Bawa Robot Humanoid dan AI

    Agibot Ekspansi ke Indonesia Bawa Robot Humanoid dan AI

    JBNews.id — Perusahaan robotika global Agibot resmi memasuki pasar Indonesia dengan membawa teknologi robot humanoid dan kecerdasan buatan (AI). Ekspansi ini ditandai melalui penyelenggaraan Agibot Partner Conference Indonesia (APC Indonesia) di Jakarta, menggandeng PT Denka Pratama Indonesia sebagai mitra strategis.

    Langkah ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam membawa teknologi robotika ke tahap implementasi nyata. Agibot menargetkan untuk mendukung transformasi industri dan digital di Tanah Air melalui solusi berbasis embodied Artificial Intelligence (AI).

    Dukungan Penuh dari Pemerintah

    Kehadiran Agibot di Indonesia dinilai sangat tepat waktu dan sejalan dengan fokus pemerintah dalam mempercepat adopsi teknologi embodied AI di berbagai sektor. Acara tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah dan industri.

    Beberapa pejabat yang hadir antara lain Direktur Teknologi Digital Baru di Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Dandy Yudha Feryawan, S.Ak., M.A., Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Aju Widya Sari, S.T., M.T., serta Staf Khusus Wakil Presiden RI Achmad Adhitya.

    Para peserta dari lintas sektor tersebut secara aktif berdiskusi mengenai implementasi nyata AI, penggunaan robot humanoid, kolaborasi antar-industri, serta strategi lokalisasi teknologi di Indonesia.

    Solusi Inovatif: Konsep RaaS dan Sewa Robot

    Untuk mendobrak hambatan biaya dan kerumitan adopsi teknologi canggih di pasar domestik, Agibot memperkenalkan model bisnis Robot as a Service (RaaS). President of Middle East and Asia Pacific Region Agibot, Abel Deng, menegaskan bahwa langkah ini akan membawa embodied AI ke fase realisasi sesungguhnya.

    “Robot dirancang agar mampu bekerja layaknya manusia untuk menciptakan produktivitas nyata,” ujar Abel Deng dalam pernyataannya.

    Keyakinan serupa diungkapkan oleh Founder Denka, Ching. Dalam keterangan yang diterima detikINET, ia menyebut perpaduan keunggulan teknologi Agibot dengan jaringan luas serta kapabilitas operasional lokal milik Denka akan membuka peluang pasar baru yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

    Sinergi bisnis ini semakin solid dengan ditunjuknya PT Robotika Futuristik Indonesia sebagai mitra resmi untuk penyewaan humanoid dan robodog.

    “Kolaborasi strategis ini siap membawa industri teknologi Tanah Air memasuki babak baru melalui penyediaan solusi robotika mutakhir untuk kebutuhan komersial, eksibisi, aktivasi merek, atraksi inovatif, hingga edukasi interaktif bagi masyarakat luas,” jelas Direktur RFI, Vincent Ie.

    Pendekatan XYZ Curve untuk Transformasi Digital

    Sebagai peta jalan ke depan, Agibot turut memaparkan konsep XYZ Curve dalam konferensi tersebut. Konsep ini merupakan pendekatan sistematis untuk pengembangan industri embodied AI, yang berlandaskan pada tujuh skenario produktivitas utama untuk mengimplementasikan robot di berbagai sektor industri.

    Dukungan terhadap ekosistem ini juga datang dari berbagai mitra asosiasi dan komunitas teknologi lokal yang turut berpartisipasi, seperti AIFI (AI Forum Indonesia), ARKAI (Asosiasi Robotika & Kecerdasan Artificial Indonesia), AICO (AI Community), dan Sekreativ Ai.

    Ke depannya, Agibot bersama Denka berkomitmen untuk menghadirkan portofolio produk dan solusi khusus yang telah dioptimalkan sesuai dengan kebutuhan pasar lokal. Harapannya, inovasi ini dapat membantu perusahaan-perusahaan di Indonesia meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempercepat laju transformasi digital mereka.

    Ekspansi Agibot ke Indonesia menjadi salah satu gelombang terbaru adopsi teknologi robotika di kawasan Asia Tenggara. Sebelumnya, berbagai inovasi teknologi juga bermunculan dari China Resmikan Pusat Data hingga peluncuran satelit. Sementara itu, perkembangan robot humanoid juga semakin pesat dengan berbagai aplikasi di sektor ritel dan layanan.

    Dengan model bisnis RaaS, Agibot berupaya menurunkan hambatan masuk bagi perusahaan lokal yang ingin mengadopsi teknologi robotika. Langkah ini dinilai strategis mengingat pasar Indonesia yang masih dalam tahap awal pengembangan embodied AI.

    Para pelaku industri dan pengamat teknologi menilai bahwa kehadiran Agibot dapat mempercepat transformasi digital di Indonesia, terutama di sektor manufaktur, logistik, dan layanan publik.