Microsoft Kehilangan Mojo AI: Wawancara Eksklusif Scott Hanselman

Scott Hanselman VP Microsoft wawancara soal krisis Microsoft Copilot dan agen AI

JBNews.id — Setelah tiga tahun memimpin era AI generatif, Microsoft menghadapi tekanan besar. Sahamnya menurun, produk AI Copilot kurang diminati, dan GitHub, anak perusahaannya, mengalami downtime yang memicu keluhan pengguna. Dalam wawancara eksklusif dengan Steven Levy, VP Microsoft sekaligus staf teknis GitHub, Scott Hanselman, mengakui tantangan ini namun optimistis dengan masa depan agen AI.

Microsoft, yang dulu menjadi pionir dengan Copilot, kini harus mengejar ketertinggalan dari Anthropic yang unggul dengan pendekatan agentic coding. Bahkan, Microsoft sempat mengakhiri lisensi Claude Code untuk memaksa pengembangnya beralih ke Copilot. Situasi ini diperparah dengan downtime GitHub yang belum pernah terjadi sebelumnya, membuat pengguna setia mulai berpaling. “Has GitHub become a dumpster fire?” tanya sebuah postingan Reddit.

Bagi Microsoft, kehilangan kepercayaan komunitas pengembang adalah bencana besar. Mantan CEO Steve Ballmer pernah menekankan bahwa kunci kesuksesan perusahaan adalah developer. Scott Hanselman, yang telah 18 tahun di Microsoft dan hampir hengkang tahun lalu, kini menjadi tokoh sentral dalam upaya perusahaan merebut kembali momen agentic AI.

Krisis GitHub dan Tekanan Bot

Salah satu masalah paling kritis yang dihadapi Microsoft adalah Microsoft Copilot yang kurang diminati dan downtime GitHub. Hanselman menjelaskan bahwa lalu lintas ke GitHub kini dipenuhi oleh bot, sama seperti spam membanjiri email dua dekade lalu. “Incoming traffic to GitHub and the usage of GitHub is as many bots as people,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa GitHub sedang berusaha keras untuk melakukan scaling, namun bot sangat cepat.

Ketika ditanya bagaimana meyakinkan pengembang bahwa ini hanya masalah sementara, Hanselman menjawab, “People forget that it’s up 99 percent of the time. It’s just under tremendous pressure from the bots.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinan bahwa infrastruktur GitHub masih andal meskipun dalam tekanan berat.

Lompatan ke Agen AI: Scout dan OpenClaw

Di tengah krisis, Microsoft mengumumkan langkah besar di konferensi Build 2026: adopsi OpenClaw melalui produk bernama Scout. Hanselman berperan penting dalam mewujudkan hal ini, bahkan membawa pendiri OpenClaw, Peter Steinberger, ke dalam proses. “It’s just one of those things that happens when open-source people talk,” katanya.

Hanselman mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada agen AI dimulai November lalu, saat ia menghabiskan waktu liburan berbicara dengan coding agents. “It’s been an absolute rocket ship of a ride since then,” ungkapnya. Ia membantu membawa OpenClaw, yang bersifat open-source, ke dalam ekosistem Microsoft dan menjadi bagian dari keynote Satya Nadella di Build.

Persaingan dengan Claude Code

Meskipun Claude Code dari Anthropic kini dianggap memimpin dalam coding tools, Hanselman dengan sopan menolak anggapan bahwa Microsoft tertinggal. “Coding models are part of it, but Microsoft is a great place for developers,” tegasnya. Ia menekankan bahwa Windows adalah platform terbuka di mana siapa pun bisa membangun apa pun.

Hanselman juga menyoroti bahwa istilah “Copilot” pertama kali diciptakan oleh Microsoft dan kini menjadi istilah generik seperti Kleenex. Ia melihat persaingan sebagai “thumb war” di mana semua pihak saling kejar-mengejar. “Everybody’s in catch-up mode, because you pull ahead and then you go back and forth,” jelasnya.

Masa Depan Agen AI: Antara Harapan dan Skeptisisme

Microsoft menargetkan Scout tidak hanya untuk pengembang, tetapi juga pekerja produktivitas dan konsumen. Namun, tantangan besar adalah kesalahan dan halusinasi yang masih sering terjadi pada agen AI. Hanselman mengakui hal ini dengan jawaban jujur, “That’s a good question. I don’t know. Trust but verify.”

Ia memberikan contoh penggunaan OpenClaw untuk memantau kadar gula darahnya karena ia penderita diabetes tipe 1. Meskipun ada reaksi negatif terhadap pemberian akses data kesehatan ke agen AI, Hanselman menganggapnya sangat berguna. “I don’t think that’s a controversial thing,” ujarnya.

Menanggapi skeptisisme publik terhadap AI, Hanselman membandingkannya dengan pengenalan teknologi baru seperti gergaji mesin atau mesin pembakaran internal. “There’s a chaotic time as people figure out how to make this thing good for humans,” katanya. Ia sendiri mengaku tidak sepenuhnya “all in” pada AI, karena tidak menggunakan AI untuk generasi gambar atau video, hanya untuk coding.

Implikasi bagi Pengembang dan Pasar

Bagi komunitas pengembang, situasi ini menunjukkan bahwa Microsoft sedang dalam fase transisi kritis. Keberhasilan Scout dan OpenClaw akan menentukan apakah Microsoft bisa kembali memimpin atau terus tertinggal. Sementara itu, Microsoft Akui Targetkan Kecanduan AI pada pengguna, menunjukkan strategi agresif perusahaan dalam mendorong adopsi AI.

Hanselman mengakhiri wawancara dengan optimisme. Ia menceritakan bahwa beberapa pengguna Mac yang menyaksikan peluncuran Surface Laptop Ultra di Build 2026 berkata, “Dang it, you’re going to make me get a Surface, aren’t you?” Meskipun bercanda, ini menunjukkan bahwa Microsoft masih memiliki daya tarik di kalangan pengembang. “The trash cans at Fort Mason are full of MacBook Airs now?” tanya Hanselman setengah bercanda.

Bagi pembaca, inti dari situasi ini adalah bahwa Microsoft, meskipun menghadapi tekanan besar, masih memiliki sumber daya dan inovasi untuk bersaing. Model AI Flagship Baru yang diluncurkan di Build 2026 menjadi bukti bahwa perusahaan tidak menyerah. Namun, waktu akan menjawab apakah langkah agresif ini cukup untuk merebut kembali hati komunitas pengembang dan pengguna AI secara umum.