JBNews.id — Microsoft secara terang-terangan menyebut “kecanduan” sebagai target utama dalam strategi pengembangan agen AI terbarunya, Scout, menurut dokumen internal yang bocor ke publik. Pengakuan ini memicu kekhawatiran baru di tengah kritik bahwa perusahaan AI sengaja merancang model mereka agar terlalu menarik secara psikologis hingga berpotensi membahayakan kesehatan mental pengguna.
Dokumen yang diperoleh 404 Media tersebut mengungkapkan rencana Microsoft untuk mengintegrasikan versi mainstream dari agen AI OpenClaw ke dalam rangkaian perangkat lunak Microsoft 365. Strategi itu dijabarkan dalam “tiga fase,” dan fase pertama berbunyi: “Membuat orang kecanduan.”
“Lanjutkan pengiriman pengalaman ClawPilot yang berdiri sendiri. Uji coba UX, perluas basis pengguna, dan bangun ekosistem keterampilan serta alat yang membuat orang bergantung padanya setiap hari. Ini sudah terjadi secara organik,” demikian bunyi dokumen tersebut, seperti dikutip dari laporan 404 Media.
Pernyataan itu menuai reaksi beragam dari karyawan Microsoft anonim yang berbicara kepada 404 Media. Seorang karyawan menyebut bahasa eksplisit tentang kecanduan itu “sangat meresahkan.”
“Kami melihat semakin banyak kecanduan terjadi dengan chatbot dan agen AI, dan menurut saya kecanduan adalah sesuatu yang tidak boleh menjadi bagian dari strategi pembangunan produk mana pun,” kata karyawan tersebut. “Rasanya seperti salah satu momen ‘mengucapkan bagian yang keras dengan lantang’ dalam dokumen itu.”
Namun, karyawan lain bersikap lebih sinis, dengan beralasan bahwa “bukankah tujuan akhir dari semua perangkat lunak yang dibuat oleh semua perusahaan teknologi besar adalah membuat ketagihan?” “Untungnya bagi kami,” candanya, “Microsoft cukup buruk dalam membuat produk adiktif dibandingkan dengan beberapa perusahaan besar lainnya.”
Karyawan Sendiri Jadi Pengguna Awal
Jika target Microsoft memang membuat AI-nya adiktif, orang pertama yang mulai kecanduan justru berasal dari tenaga kerjanya sendiri. Dokumen tersebut mengklaim bahwa lebih dari 1.000 karyawan, termasuk CEO Satya Nadella, telah menggunakan alat baru ini.
“ClawPilot telah tumbuh secara organik menjadi salah satu alat internal yang paling banyak diminta di Microsoft. Tanpa pengumuman resmi, tanpa pemasaran, tanpa dorongan di seluruh organisasi,” tulis dokumen itu. Menariknya, dokumen tersebut juga mencatat bahwa laporan itu sendiri “diciptakan bersama” dengan AI.
Kecanduan telah menjadi salah satu kata yang menakutkan di industri AI. Karena chatbot dan alat AI lainnya berkomunikasi dalam bahasa alami dan percakapan — dengan tambahan sifat penjilat di dalamnya — pengguna bisa menjadi terikat secara tidak sehat dengan mereka. Pertanyaannya, apakah perusahaan yang membangunnya secara sadar memanfaatkan hal ini untuk mendorong keterlibatan meskipun ada risiko kognitif dan kesehatan mental?
Bagi Microsoft untuk secara terang-terangan mengklaim kecanduan sebagai tujuan akhirnya adalah tindakan yang paling tidak tone-deaf, dan paling sinis secara berbahaya.
Baca Juga:
Strategi ini muncul di tengah persaingan ketat pasar agen AI. Nvidia RTX Spark baru-baru ini diluncurkan sebagai chip khusus untuk menjalankan agen AI di PC, menandakan bahwa perlombaan untuk mendominasi ekosistem AI personal semakin memanas.
Dengan pengakuan internal ini, publik kini memiliki bukti langsung bahwa Microsoft secara sadar merancang produk AI-nya untuk menciptakan ketergantungan, bukan sekadar kegunaan. Implikasinya bagi pengguna ribuan pelanggan Microsoft 365 di Indonesia dan global: alat produktivitas yang seharusnya membantu justru bisa menjadi jebakan adiktif yang menguras waktu dan perhatian.

Belum ada pernyataan resmi dari Microsoft mengenai kontroversi ini. Namun, dokumen internal yang bocor ini dipastikan akan menjadi bahan diskusi hangat di kalangan regulator dan pegiat perlindungan konsumen digital, terutama terkait etika desain produk teknologi raksasa dunia.
