Uji Coba Manusia Regenerasi Gigi Dimulai pada 2026

Ilustrasi model gigi menunjukkan kerusakan gigi untuk artikel regenerasi gigi

JBNews.id — Perusahaan farmasi Jepang, Toregem Biopharma, mengumumkan rencana untuk memulai uji klinis fase kedua pada manusia untuk terapi regenerasi gigi pada tahun 2026. Langkah ini didukung pendanaan segar senilai sekitar USD 5,3 juta yang akan mempercepat pengembangan klinis teknologi tersebut.

Pada tahun 2023, Toregem mengumumkan temuan baru untuk menghambat gen yang bertanggung jawab menekan pertumbuhan gigi. Temuan ini membuka jalan bagi pendekatan revolusioner di bidang kedokteran gigi yang sebelumnya dianggap mustahil: menumbuhkan gigi hidup baru untuk menggantikan gigi yang rusak.

“Tujuan akhir kami adalah menawarkan solusi klinis yang maju dan berbasis ilmiah untuk pertumbuhan gigi yang berasal dari jaringan pasien sendiri,” kata Presiden Toregem, Honoka Kiso, dalam pernyataan resmi pada 2023.

Pendekatan ini merupakan terobosan radikal dalam dunia kedokteran gigi yang selama ini hanya menawarkan opsi terbatas seperti gigi palsu atau implan. “Gagasan menumbuhkan gigi baru adalah impian setiap dokter gigi,” ujar salah satu pendiri sekaligus peneliti utama Toregem, Katsu Takahashi, kepada surat kabar Jepang The Mainichi pada tahun yang sama.

Pendanaan dan Rencana Uji Klinis

Dengan dana segar sekitar USD 5,3 juta yang berhasil dikumpulkan dalam putaran pendanaan terbaru, Toregem menyatakan akan “lebih mempercepat pengembangan klinis” terapinya. Perusahaan berencana melaksanakan uji klinis fase kedua yang melibatkan partisipan manusia di Jepang.

Meski demikian, siaran pers perusahaan belum mengungkapkan jadwal pasti kapan uji coba akan dimulai. Toregem masih berada pada tahap awal pengembangan perawatan ini. Namun, terdapat sejumlah tanda yang mendukung optimisme terhadap teknologi ini.

Dalam sebuah studi pada tahun 2021, perusahaan mendemonstrasikan bahwa antibodi penetralnya dapat menekan protein yang disebut USAG-1, yang menghambat pertumbuhan tunas gigi. Perusahaan mengklaim telah berhasil memulihkan gigi pada tikus yang lahir tanpa gigi akibat defisiensi gen Runx2, gen “sakelar utama” yang berperan penting dalam perkembangan kerangka dan gigi.

Pada studi tahun 2024, perusahaan berargumen bahwa pendekatan yang sama dapat bekerja pada manusia. Uji klinis fase pertama, yang melibatkan partisipan pria dewasa, telah menguji keamanan pendekatan ini pada tahun sebelumnya, namun hasil akhirnya masih menunggu.

Mekanisme Kerja Terapi Regenerasi Gigi

Terapi yang dikembangkan Toregem bekerja dengan cara menghambat gen yang menekan pertumbuhan gigi. Secara spesifik, antibodi penetral yang dikembangkan perusahaan dapat menekan protein USAG-1, yang secara alami menghambat pertumbuhan tunas gigi pada manusia dan hewan.

Dengan menonaktifkan protein penghambat ini, tubuh dapat mengaktifkan kembali mekanisme alami pertumbuhan gigi yang biasanya hanya aktif selama masa perkembangan anak-anak. Pendekatan ini berbeda secara fundamental dengan implan gigi yang bersifat mekanis dan tidak menggantikan jaringan hidup.

Keberhasilan pada model tikus menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat memicu pertumbuhan gigi baru dari jaringan sendiri, bukan sekadar mengganti struktur gigi yang hilang dengan material buatan. Jika berhasil pada manusia, terapi ini dapat menjadi solusi permanen bagi pasien yang kehilangan gigi akibat cedera, penyakit, atau faktor usia.

Tantangan dan Keraguan Ahli

Meskipun prospeknya menjanjikan, para ahli masih memiliki keraguan apakah pendekatan ini benar-benar dapat bekerja pada manusia. Mary MacDougall, dekan fakultas kedokteran gigi Universitas British Columbia, menyampaikan beberapa catatan penting kepada New Scientist tahun lalu.

Pertama, pendekatan ini mungkin hanya efektif pada anak-anak yang masih memiliki banyak sel epitel gigi. Sel-sel ini memainkan peran fundamental dalam perkembangan gigi. Orang dewasa yang kehilangan gigi dan kekurangan sel-sel tersebut mungkin tidak akan mendapatkan manfaat yang sama.

Kedua, MacDougall berargumen bahwa mengarahkan obat untuk bekerja pada satu gigi tertentu mungkin tidak memungkinkan. Hal ini berpotensi memicu pertumbuhan gigi yang tidak diinginkan di beberapa gigi sekaligus.

Meskipun demikian, implikasi dari terapi yang memungkinkan manusia menumbuhkan kembali gigi sangatlah besar. Bahkan kemungkinan keberhasilannya sudah cukup beralasan untuk dilakukan investigasi menyeluruh.

Sementara Toregem menargetkan membawa terapinya ke pasar pada tahun 2030, masih banyak penelitian dan pengujian yang harus dilakukan. Perkembangan ini sejalan dengan tren inovasi di bidang bioteknologi dan robotika, seperti penggunaan robot humanoid di berbagai sektor.

Implikasi bagi Industri Kedokteran Gigi

Jika terapi regenerasi gigi ini berhasil, dampaknya akan sangat luas bagi industri kedokteran gigi global. Pasar implan gigi dan gigi palsu yang bernilai miliaran dolar dapat mengalami disrupsi signifikan. Pasien tidak lagi harus bergantung pada material buatan yang memerlukan perawatan dan penggantian berkala.

Dari sisi biaya, terapi regeneratif mungkin menawarkan solusi yang lebih ekonomis dalam jangka panjang. Meskipun biaya awal pengembangan dan pengobatan diperkirakan tinggi, pasien tidak perlu lagi menjalani prosedur penggantian implan setiap beberapa tahun.

Perkembangan ini juga menarik perhatian para pelaku industri teknologi, mengingat pendekatan serupa dalam pengembangan teknologi canggih juga memerlukan investasi besar dan kolaborasi multidisiplin.

Prospek Masa Depan

Terapi regenerasi gigi Toregem masih menghadapi jalan panjang sebelum dapat digunakan secara luas. Uji klinis fase kedua yang direncanakan akan menjadi tonggak penting untuk membuktikan efektivitas pendekatan ini pada manusia.

Jika hasil uji coba positif, perusahaan akan melanjutkan ke fase uji klinis lebih lanjut dan proses regulasi sebelum produk dapat dipasarkan. Target tahun 2030 masih realistis mengingat kemajuan yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi pasien yang kehilangan gigi, terapi ini menawarkan harapan baru. Tidak lagi harus memilih antara gigi palsu yang tidak nyaman atau implan yang mahal dan invasif, pasien mungkin suatu hari bisa menumbuhkan gigi baru yang sepenuhnya alami.

Perkembangan di bidang regenerasi gigi ini juga menunjukkan bagaimana bioteknologi modern terus mendorong batas-batas pengobatan konvensional. Inovasi serupa juga terlihat di bidang robotika, di mana regulasi baru mulai diterapkan untuk mengakomodasi kemajuan teknologi.

Kesimpulannya, meskipun masih terdapat keraguan dan tantangan, langkah Toregem untuk memulai uji klinis fase kedua pada manusia menandai babak baru dalam upaya mewujudkan regenerasi gigi sebagai solusi nyata bagi pasien di seluruh dunia. Industri kedokteran gigi dan pasien sama-sama menanti hasil uji coba ini dengan penuh antisipasi.