IPO SpaceX: Valuasi Rp27.000 Triliun, Analis Peringatkan Overvalued

Gedung perkantoran modern dengan logo SpaceX besar berwarna putih di tengah fasad kaca, latar oranye terang bercorak titik-titik

JBNews.id — SpaceX dijadwalkan melantai di bursa saham dalam dua pekan ke depan dengan target valuasi mencapai USD 1,75 triliun (sekitar Rp 27.000 triliun), namun sejumlah analis memperingatkan bahwa perusahaan milik Elon Musk tersebut overvalued dan berpotensi menjadi investasi yang buruk.

Perusahaan antariksa ini berencana mengumpulkan dana sebesar USD 75 miliar dalam penawaran umum perdana (IPO) dengan valuasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, ada spekulasi bahwa SpaceX dapat mendorong valuasi tersebut hingga USD 2 triliun.

Meskipun SpaceX telah menjadi mitra kunci NASA dalam misi kembali ke Bulan dan mengakuisisi startup AI milik Musk, xAI, para analis mulai meragukan kelayakan valuasi raksasa tersebut. Morningstar, firma riset investasi, memperkirakan valuasi wajar SpaceX hanya sekitar USD 780 miliar — atau 48 persen lebih rendah dari valuasi pasar privatnya yang mencapai USD 1,5 triliun.

“Kami menilai perusahaan ini telah dinilai terlalu tinggi secara signifikan dan investor akan memiliki kesempatan untuk membeli saham di level yang lebih menarik setelah IPO,” tulis analis Morningstar dalam catatan mereka, Senin (Juni 2026).

Kekhawatiran utama terletak pada profitabilitas SpaceX, terutama setelah merger dengan xAI — perusahaan yang terus membakar uang tunai dalam jumlah besar. Morningstar menyebut merger ini sebagai “ancaman material terhadap nilai perusahaan.” Bahkan sebelum merger, SpaceX mencatat kerugian bersih hampir USD 5 miliar pada tahun 2025 dan kerugian USD 4 miliar pada kuartal pertama tahun ini saja.

Gedung perkantoran modern dengan logo SpaceX besar berwarna putih di bagian tengah fasad kaca, dengan latar oranye terang bercorak titik-titik di sisi kanan gambar.

Antusiasme Investor vs Fundamental Bisnis

Meskipun fundamental bisnis menunjukkan tanda-tanda bahaya, antusiasme investor yang terpendam justru dapat mendorong harga saham SpaceX melonjak dalam jangka pendek. Morningstar memperkirakan bahwa dengan jumlah saham yang beredar kecil dan dukungan hampir semua bank investasi besar, saham SpaceX kemungkinan akan bertahan dan bahkan naik untuk sementara waktu.

“Dengan jumlah saham awal yang kecil, didorong oleh hampir semua bank investasi di planet ini, permintaan investor yang besar untuk infrastruktur AI, dan jalur yang belum pernah terjadi menuju indeks Nasdaq 100 hanya 15 hari perdagangan setelah IPO, kami memperkirakan harga saham SpaceX kemungkinan akan bertahan dan bahkan mungkin naik, setidaknya untuk sementara,” tulis Morningstar.

Namun, investor harus bersabar jika berharap SpaceX benar-benar menghasilkan keuntungan. Perusahaan itu sendiri mengakui keterbatasan finansialnya dalam pengajuan ke SEC pada 20 Mei 2026, dengan menyatakan bahwa mereka memiliki “riwayat kerugian bersih dan mungkin tidak mencapai profitabilitas di masa depan.”

SpaceX juga mengakui bahwa divisi AI mereka “padat modal, telah menimbulkan kerugian operasional yang signifikan, dan beroperasi di pasar yang baru dan berkembang pesat di mana potensi AI masih belum pasti.”

Perbandingan dengan Tesla dan Peringatan Investor Ritel

Kekhawatiran investor ritel terhadap valuasi multitriliun dolar ini tidak muncul tanpa alasan. Jika pengalaman dengan perusahaan Musk lainnya — terutama Tesla — bisa dijadikan acuan, perjalanan ini bisa menjadi sangat bergejolak. Saham Tesla juga mendapat keuntungan besar dari valuasi yang dinilai terlalu tinggi, seringkali mencerminkan dukungan publik terhadap CEO-nya yang temperamental, bukan fundamental bisnis yang solid.

Investor ritel Neil Rozenbaum menyatakan bahwa SpaceX terlalu dihebohkan menjelang IPO-nya. “Anda mulai membandingkan berapa banyak pendapatan yang dihasilkan perusahaan, berapa banyak keuntungan, dan kemudian Anda mulai melihat perbedaan besar dan sesuatu tidak masuk akal,” katanya kepada Business Insider. “Apakah saya ingin memiliki SpaceX pada akhirnya? Ya, tapi mungkin tidak pada hari pertama.”

Di media sosial, beberapa warganet bahkan bercanda menyarankan untuk menjual saham SpaceX secara pendek (short selling). “Short it, no balls,” canda seorang pengguna Reddit. “Goldman Sachs, sebagai penjamin emisi utama, sedang mempersiapkan diri untuk gugatan pemegang saham terbesar sepanjang masa ketika lipstik ini terlepas dari babi ini,” tulis pengguna lainnya.

SpaceX juga mengakui bahwa mereka sangat bergantung pada “kontrak pemerintah AS yang tunduk pada penawaran kompetitif,” menambah risiko ketidakpastian pendapatan jangka panjang.

Bagi investor ritel Indonesia yang tertarik dengan IPO raksasa ini, penting untuk memahami bahwa antusiasme pasar awal belum tentu mencerminkan nilai intrinsik perusahaan. Dengan kerugian miliaran dolar setiap kuartal dan prospek profitabilitas yang tidak pasti, keputusan investasi harus didasarkan pada analisis fundamental yang cermat, bukan sekadar euforia pasar.

Sejarah menunjukkan bahwa akuisisi besar dan ekspansi cepat seringkali membawa risiko finansial yang signifikan, terutama ketika valuasi pasar jauh melampaui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.