Category: Tekno

  • Waspada Scammer Kirim Permintaan Pertemanan di Media Sosial

    Waspada Scammer Kirim Permintaan Pertemanan di Media Sosial

    JBNews.id — Komplotan scammer internasional yang melibatkan eks artis Fabiola Elizabeth mengincar korban melalui fitur pertemanan di media sosial dan aplikasi kencan. Pakar keamanan siber memperingatkan pengguna agar tidak mudah tergiur dengan ajakan kenalan dari akun dengan foto menarik.

    Alfons Tanujaya, pakar keamanan siber dari Vaksincom, mengungkapkan bahwa modus penipuan ini memanfaatkan fitur friend suggestion atau people you may know yang disediakan platform media sosial. Pengguna secara tiba-tiba menerima rekomendasi pertemanan dari akun-akun yang sebenarnya palsu dan dikendalikan oleh sindikat penipuan internasional.

    “Itu isinya akun-akun nggak jelas semua, rata-rata pakai foto seksi minta jadi teman. Kalau diikuti, jadilah pig butchering scam,” kata Alfons dalam perbincangan dengan detikINET, Kamis (4/6/2026).

    Istilah pig butchering scam merujuk pada praktik di mana korban digiring secara perlahan untuk kemudian dikuras habis-habis oleh pelaku. Modus ini tidak hanya menargetkan laki-laki, tetapi juga perempuan yang tiba-tiba diincar oleh akun-akun dengan foto pria tampan.

    Modus Video Call dan AI

    Menariknya, meskipun banyak scammer kini menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk membuat video call palsu, kelompok yang melibatkan Fabiola Elizabeth masih menggunakan metode konvensional. Mereka mengandalkan video call sungguhan langsung dari Fabiola untuk memikat korban.

    Alfons menegaskan bahwa pada intinya modus penipuan ini tetap sama. Pelaku berusaha memikat korban dengan wajah menarik dan mengajak kenalan di media sosial. Ia memberikan tips yang cukup keras namun realistis bagi pengguna awam.

    “Tipsnya agak nyakitin tapi realistis. Kalau kita sudah tahu kita ini kurang ganteng, katakan mukanya biasa-biasa saja, lalu tahu-tahu ada cewek cantik mati-matian minta kenalan lalu berinteraksi dan kamu percaya. Yah namanya bodoh,” tegas Alfons.

    Platform media sosial dinilai memudahkan modus ini terjadi. Selain fitur rekomendasi pertemanan, pengguna juga kerap menerima direct message dari akun tidak dikenal dengan foto profil menarik yang langsung mengajak berkenalan.

    Dampak dan Implikasi

    Fenomena ini menunjukkan bahwa kejahatan siber terus berevolusi dengan memanfaatkan celah interaksi sosial di dunia digital. Pengguna media sosial di Indonesia, termasuk di Jawa Barat dan Banten, menjadi sasaran empuk karena tingginya penetrasi internet dan penggunaan aplikasi kencan.

    Alfons mengingatkan bahwa setiap orang harus waspada ketika tiba-tiba dihubungi oleh orang asing dengan wajah menarik di media sosial. Jangan mudah percaya dan segera lakukan verifikasi sebelum menjalin komunikasi lebih lanjut.

    Bagi Anda yang sering menerima permintaan pertemanan dari akun mencurigakan, langkah paling aman adalah menolak dan melaporkan akun tersebut ke platform terkait. Jangan pernah memberikan data pribadi atau informasi keuangan kepada siapapun yang baru dikenal di dunia maya.

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik tampilan menarik di media sosial, bisa jadi ada jaringan penipuan internasional yang siap menguras habis harta korban. Kewaspadaan adalah kunci utama untuk terhindar dari jeratan scammer.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai modus penipuan online lainnya, simak juga artikel tentang scammer internasional yang mengincar warga negara asing maupun WNI.

    Selain itu, pemerintah melalui Komdigi juga terus mendorong platform digital untuk lebih serius dalam melindungi pengguna, terutama anak-anak, dari konten dan interaksi berbahaya. Baca selengkapnya tentang komitmen platform digital dalam melindungi pengguna.

    Di sisi lain, industri teknologi informasi di Indonesia juga menghadapi tantangan lain seperti serapan pajak dari raksasa teknologi global yang masih rendah. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi pengembangan ekosistem digital nasional.

    Dengan meningkatnya kasus penipuan online, penting bagi setiap pengguna internet untuk selalu waspada dan tidak mudah tergiur dengan tawaran pertemanan dari orang asing, terutama yang menggunakan foto profil terlalu menarik dan mencurigakan.

  • Cisco Rilis Spesifikasi Open Source untuk AI Keamanan Siber

    Cisco Rilis Spesifikasi Open Source untuk AI Keamanan Siber

    JBNews.id — Cisco resmi merilis Foundry Security Spec sebagai proyek open-source, sebuah kerangka kerja untuk membangun sistem evaluasi keamanan berbasis agentic AI tingkat perusahaan. Langkah ini menjawab tantangan di mana tim keamanan siber kewalahan menghadapi serangan peretas yang memanfaatkan kecerdasan buatan dengan kecepatan mesin.

    Di era AI, para peretas kini mampu mengeksploitasi kerentanan sistem secara otomatis. Siklus tradisional mencari dan menambal celah keamanan secara manual dinilai tidak lagi memadai. Namun, mengandalkan AI mentah-mentah juga bukan solusi instan. Banyak tim TI yang mencoba menyodorkan ribuan baris kode ke Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT atau Claude, lalu memintanya mencari bug. Hasilnya sering kali berakhir kacau—AI justru berhalusinasi, membanjiri layar dengan false positive, dan memberikan hasil yang sulit diverifikasi oleh auditor keamanan.

    Cisco menyadari bahwa perbedaan antara demo AI yang keren dan sistem keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan terletak pada orkestrasi dan pembatasan (guardrails). Foundry Security Spec hadir sebagai ‘buku resep’ untuk membungkus model AI dengan pagar keamanan yang dirancang sejak awal. Sistem ini mengubah LLM dari sekadar mesin penjawab menjadi agen otonom yang mampu memberikan temuan bug terprioritas dan dapat diverifikasi, menghasilkan rantai asal-usul data (provenance chain) yang transparan, serta mengetahui secara pasti kapan sebuah proses evaluasi benar-benar ‘selesai’.

    Karena sifatnya yang model-agnostic dan stack-agnostic, kerangka ini bisa diterapkan menggunakan model AI apa pun dan di atas infrastruktur perangkat lunak mana pun sesuai kebutuhan unik tiap organisasi. Cisco membagi spesifikasi ini ke dalam dua artefak utama: “Spec” Artifact yang berisi cetak biru arsitektur mencakup 8 peran agen inti (seperti Orchestrator, Detector, Validator) lengkap dengan 130 persyaratan fungsional operasional, serta “Constitution” Artifact yang berisi 11 prinsip mutlak yang pantang dilanggar oleh AI—setiap aturan lahir dari pengalaman pahit Cisco menghadapi kegagalan nyata di lingkungan produksi mereka sendiri.

    Mencegah Bug Bahkan Sebelum Selesai Diketik

    Kehebatan sesungguhnya dari inisiatif ini muncul ketika Foundry dikawinkan dengan Project CodeGuard, sebuah platform aturan deteksi keamanan open-source yang telah disumbangkan Cisco ke Coalition for Secure AI (CoSAI). Keduanya menciptakan efek bola salju (flywheel) perlindungan yang sangat cerdas. Ketika agen AI Foundry bereksplorasi dan menemukan kerentanan baru yang belum dikenali oleh aturan CodeGuard mana pun, sistem akan mencatatnya sebagai “celah”. Celah ini kemudian otomatis dirumuskan menjadi aturan CodeGuard yang baru.

    Aturan baru ini kemudian disuntikkan kembali ke dalam asisten coding (LLM) yang dipakai oleh para programmer di perusahaan tersebut. Hasilnya, saat programmer lain mencoba menulis kode dengan pola kerentanan yang sama, AI akan langsung memblokir dan mencegahnya bahkan sebelum kode tersebut selesai diketik. Ini menciptakan siklus perlindungan yang terus-menerus meningkat seiring waktu.

    Langkah Cisco ini sejalan dengan tren industri di mana Anthropic, DeepMind, dan Meta juga gencar merekrut ahli untuk riset kesadaran AI, menunjukkan bahwa keamanan dan transparansi AI menjadi prioritas global.

    Mengapa Hanya Spesifikasi, Bukan Source Code?

    Banyak yang bertanya mengapa Cisco tidak langsung merilis aplikasi jadinya saja. Omar Santos, Distinguished Engineer AI Security Engineering Cisco, menjelaskan bahwa source code internal mereka sangat terikat dengan infrastruktur privat Cisco. Jika dilepas ke publik, kode itu tidak akan bisa berjalan di server perusahaan lain. Oleh karena itu, yang dibuka adalah rancangan arsitekturnya.

    “Foundry Security Spec adalah spesifikasi open-source, bukan layanan terkelola. Kami menyediakan kerangka acuan untuk pagar keamanan, namun Anda lah yang harus memastikan bahwa konsep ‘peran manusia’ tetap menjadi pengambil keputusan akhir,” jelas Omar, dalam keterangan yang diterima detikINET.

    Dengan langkah ini, Cisco berharap komunitas keamanan siber dapat bergerak lebih cerdas dan fokus pada temuan keamanan yang berdampak nyata, tanpa perlu pusing memilah ribuan notifikasi palsu dari AI yang belum dijinakkan. Bagi para profesional keamanan, spesifikasi ini menawarkan cetak biru yang teruji untuk membangun sistem pertahanan siber berbasis AI yang dapat diandalkan dan transparan—sebuah kebutuhan mendesak di era di mana serangan siber semakin canggih dan otomatis.

    Implikasi dari inisiatif ini sangat luas. Organisasi kini memiliki akses ke kerangka kerja standar untuk mengimplementasikan AI dalam keamanan siber tanpa harus memulai dari nol. Dengan sifat open-source dan model-agnostic, Foundry Security Spec memungkinkan adopsi yang lebih cepat dan lebih luas, sekaligus mendorong kolaborasi komunitas untuk terus meningkatkan kemampuan deteksi dan respons terhadap ancaman siber.

    Seiring dengan meningkatnya ketergantungan pada AI di berbagai sektor, inisiatif seperti Foundry Security Spec menjadi krusial untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan secara bertanggung jawab dan efektif dalam melindungi infrastruktur digital. Robot humanoid Phantom MK-1 yang dikerahkan ke medan perang Ukraina menjadi pengingat bahwa AI dan otomatisasi kini hadir di berbagai lini pertahanan, termasuk siber.

    Dengan fondasi yang jelas dan pagar keamanan yang terdefinisi, Foundry Security Spec berpotensi menjadi standar baru dalam pengembangan dan implementasi sistem keamanan siber berbasis AI. Organisasi yang mengadopsi kerangka ini akan memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi ancaman siber yang terus berevolusi.

  • Scammer RI Incar Warga AS, Bukti Kejahatan Digital Tanpa Batas Negara

    Scammer RI Incar Warga AS, Bukti Kejahatan Digital Tanpa Batas Negara

    JBNews.id — Kasus penipuan daring lintas benua yang melibatkan mantan artis Fabiola Elizabeth di Sukoharjo membuktikan bahwa kejahatan digital telah menembus batas fisik antar negara. Para pelaku dari Indonesia berhasil menjangkau dan menipu korban yang berada di Amerika Serikat.

    Pakar politik siber dan kajian stratejik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Prakoso Aji, menegaskan bahwa insiden ini menjadi bukti nyata bagaimana teknologi digital menghilangkan sekat geografis. Jarak antar benua tidak lagi menjadi penghalang bagi para penjahat siber untuk beraksi.

    “Berbagai kemudahan dalam ruang digital membuka celah potensi berbagai kejahatan yang dapat terjadi di dalamnya. Jarak antar negara, bahkan antar benua dapat diakses dengan mudah melalui ruang digital,” kata Aji kepada detikINET, Kamis (4/6/2026).

    Kasus ini mengungkap bahwa korban Scammer Eks Artis Fabiola tidak hanya berada di Indonesia, melainkan tersebar hingga ke Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa modus operandi pelaku telah berevolusi menjadi lebih canggih dan transnasional.

    Menurut Aji, tantangan terbesar yang kini dihadapi pemerintah dan aparat penegak hukum adalah sifat kejahatan digital yang lintas yurisdiksi. Pelaku dapat beroperasi dari berbagai platform dan negara yang berbeda, sehingga proses penelusuran menjadi sangat kompleks.

    “Pelaku kejahatan digital bisa saja berada di berbagai platform dan tidak mudah untuk ditelusuri,” ungkap Aji.

    Selain itu, penelusuran aliran dana yang terkait dengan para pelaku juga menjadi kendala serius. Perbedaan regulasi antar negara seringkali menjadi hambatan dalam proses pengusutan kasus-kasus kejahatan digital semacam ini.

    “Regulasi yang juga mungkin berbeda-beda antar negara juga perlu dicermati agar tidak menjadi hambatan mengusut kejahatan digital,” tambah Aji.

    Kasus penipuan online lintas negara ini menjadi pengingat bahwa era digital telah menciptakan medan baru bagi aktivitas kriminal. Batas-batas negara yang selama ini menjadi pagar fisik tidak lagi relevan di dunia maya.

    Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya memperkuat kerja sama internasional dalam menangani kejahatan siber. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam hal harmonisasi regulasi dan pertukaran data antar negara.

    Aji menekankan bahwa tujuan utama dari semua upaya ini adalah untuk menciptakan ruang digital yang aman bagi masyarakat.

    “Tujuan utamanya agar mampu membentuk ruang digital yang aman dari kejahatan digital yang dapat merugikan masyarakat,” pungkas Aji.

    Sementara itu, publik juga diimbau untuk lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan daring yang semakin variatif. Edukasi literasi digital menjadi kunci utama dalam melindungi diri dari ancaman kejahatan siber.

    Kasus di Sukoharjo ini menjadi pelajaran berharga bahwa tidak ada seorang pun yang kebal terhadap ancaman penipuan online, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Kewaspadaan harus terus ditingkatkan seiring dengan perkembangan teknologi.

    Ke depannya, diharapkan ada regulasi yang lebih ketat dan terpadu untuk mengantisipasi maraknya kejahatan digital lintas negara. Kerja sama multilateral menjadi sangat krusial dalam memberantas jaringan penipuan online yang sudah mendunia.

    Fenomena scamming lintas negara seperti ini juga menjadi peringatan bagi platform digital untuk lebih proaktif dalam memfilter konten dan aktivitas mencurigakan di layanan mereka. Tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem digital yang aman tidak hanya berada di pundak pemerintah, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan.

    Dengan semakin canggihnya teknologi yang digunakan para pelaku, masyarakat diharapkan untuk selalu berpikir kritis dan tidak mudah tergiur dengan tawaran yang menggiurkan di dunia maya. Verifikasi informasi menjadi langkah preventif yang paling efektif.

    Kasus ini juga menunjukkan bahwa penegakan hukum di era digital membutuhkan pendekatan yang berbeda dari kejahatan konvensional. Investigasi digital dan forensik siber menjadi keterampilan yang wajib dimiliki aparat penegak hukum saat ini.

    Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil menjadi formula yang tepat dalam memerangi kejahatan siber yang semakin kompleks dan terorganisir. Sinergi ini harus diperkuat untuk menciptakan ruang digital yang benar-benar aman dan nyaman bagi semua pengguna.

  • Scammer Eks Artis Fabiola Incar Warga AS, WNI Tetap Berisiko

    Scammer Eks Artis Fabiola Incar Warga AS, WNI Tetap Berisiko

    JBNews.id — Komplotan scammer internasional yang melibatkan mantan artis Fabiola Elizabeth di Sukoharjo, Jawa Tengah, mengincar warga Amerika Serikat sebagai korban utama. Meski demikian, pakar keamanan siber memperingatkan bahwa warga negara Indonesia (WNI) tetap tidak aman dari ancaman penipuan online lintas negara.

    Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Himawan Sutanto Saragih, mengungkapkan bahwa jaringan internasional yang beroperasi di Solo Baru, Sukoharjo ini secara spesifik menyasar warga negara asing, khususnya dari Amerika Serikat. Para korban diincar melalui media sosial, aplikasi kencan, dan platform digital lainnya.

    Meskipun tidak ada korban dari Indonesia dalam kelompok Fabiola, pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menegaskan bahwa hal tersebut bukan jaminan keamanan bagi WNI. Ia menjelaskan pola kerja jaringan penipuan online internasional yang selalu menghindari yurisdiksi negara korban.

    “Mereka cenderung akan menghindari melakukan penipuan dari yurisdiksi negara korbannya. Jadi kalau mau menipu orang Indonesia lakukan dari Kamboja, menipu orang Amerika, Vietnam, China atau Eropa lakukan dari Indonesia,” kata Alfons kepada detikINET, Kamis (4/6/2026).

    Momen Polda Jateng menggerebek kantor di Solo Baru, Sukoharjo, yang menjadi lokasi jaringan scammer internasional.

    Pernyataan ini menjelaskan mengapa komplotan di Sukoharjo mengincar warga AS. Dengan beroperasi dari Indonesia, mereka berharap dapat menghindari jerat hukum Amerika Serikat. Sebaliknya, WNI justru menjadi target empuk penipu online yang beroperasi dari negara-negara seperti Kamboja.

    Meskipun ada komplotan penipu online lokal yang mengincar warga lokal, pelaku penipuan lintas negara sengaja merancang strategi untuk menghindari penegakan hukum. Mereka memanfaatkan perbedaan yurisdiksi dan batas negara sebagai tameng.

    Walaupun akhirnya, kelompok seperti Fabiola tetap bisa dicokok oleh Polri. Penggerebekan di Solo Baru, Sukoharjo, menjadi bukti bahwa aparat penegak hukum Indonesia mampu menjangkau jaringan internasional yang beroperasi di dalam negeri.

    Pelajaran dari Kasus Fabiola

    Kasus ini memberikan pelajaran penting bahwa tidak ada satu pun orang yang benar-benar aman dari incaran penipu online. Pola yang terjadi bersifat simetris: orang asing diincar penipu dari Indonesia, sementara orang Indonesia diincar penipu asing.

    Alfons Tanujaya menekankan bahwa kunci utama untuk terhindar dari penipuan adalah kewaspadaan dan sikap skeptis terhadap tawaran yang menggiurkan. “Simpel, apapun penawaran yang too good to be true itu, jangan dipercaya. Tawaran apapun yang memberikan keuntungan besar, lebih dari bunga bank, jangan dipercaya,” pungkasnya.

    Nasihat ini relevan untuk semua jenis penipuan online, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Prinsip dasarnya sama: jika sesuatu terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, hampir pasti itu adalah penipuan.

    Kasus Fabiola Elizabeth juga menunjukkan betapa canggihnya operasi jaringan penipuan internasional. Mantan artis tersebut diduga berperan sebagai model atau figur yang digunakan untuk menarik perhatian korban, terutama dalam skenario penipuan melalui aplikasi kencan.

    Modus operandi seperti ini memanfaatkan kepercayaan dan emosi korban. Pelaku membangun hubungan personal terlebih dahulu sebelum akhirnya melancarkan aksi penipuan yang biasanya bermuara pada permintaan transfer uang atau investasi palsu.

    Pakar keamanan siber juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Dengan memahami modus operandi penipu, masyarakat dapat lebih waspada dan tidak mudah terjebak dalam skema yang merugikan.

    Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga berpotensi dimanfaatkan oleh para penipu. Teknologi deepfake dan suara sintetis dapat digunakan untuk membuat penipuan semakin meyakinkan. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat regulasi AI masih terus dikembangkan di berbagai negara.

    Pemerintah Indonesia melalui kepolisian terus berupaya memberantas jaringan penipuan online. Keberhasilan membongkar komplotan di Solo Baru menjadi bukti keseriusan aparat dalam menangani kejahatan siber lintas negara.

    Namun, penegakan hukum saja tidak cukup. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman. Edukasi dan sosialisasi tentang bahaya penipuan online harus terus digencarkan.

    Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kejahatan siber tidak mengenal batas geografis. Seorang penipu di Sukoharjo bisa dengan mudah menjangkau korban di Amerika Serikat hanya melalui koneksi internet. Sebaliknya, penipu di Kamboja juga bisa mengincar WNI tanpa harus meninggalkan negara mereka.

    Alfons Tanujaya menambahkan bahwa kesadaran akan risiko ini harus dimiliki oleh semua pengguna internet. Tidak ada jaminan keamanan mutlak di dunia maya, tetapi kewaspadaan dapat meminimalkan risiko menjadi korban.

    “Jangan pernah memberikan informasi pribadi atau data keuangan kepada orang yang tidak dikenal di internet. Waspadai setiap permintaan transfer uang, terutama jika disertai dengan janji keuntungan besar,” imbaunya.

    Pesan ini relevan tidak hanya untuk WNI, tetapi juga untuk semua pengguna internet di seluruh dunia. Penipuan online adalah ancaman global yang membutuhkan respons global pula.

    Ke depan, diharapkan kerja sama internasional dalam penegakan hukum siber semakin diperkuat. Pertukaran informasi dan koordinasi antara kepolisian berbagai negara menjadi kunci untuk membongkar jaringan penipuan yang beroperasi lintas batas.

    Bagi masyarakat Indonesia, kasus Fabiola Elizabeth menjadi wake-up call bahwa ancaman penipuan online nyata dan dekat. Tidak ada yang kebal terhadap modus penipuan yang semakin canggih, kecuali mereka yang selalu waspada dan tidak mudah percaya pada tawaran yang terlalu indah.

    Seiring dengan perkembangan teknologi, modus penipuan juga akan terus berevolusi. Industri kreatif dan teknologi pun harus turut serta dalam upaya perlindungan konsumen, termasuk dalam pemanfaatan AI yang etis dan bertanggung jawab.

    Pada akhirnya, kesadaran dan kewaspadaan individual adalah tameng terkuat melawan penipuan online. Prinsip “too good to be true” harus selalu diingat dan diterapkan dalam setiap interaksi digital.

    Dengan memahami pola dan strategi penipu, masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman di dunia maya. Edukasi berkelanjutan dan pembaruan informasi tentang modus penipuan terbaru menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

    Kasus ini juga menyoroti pentingnya peran platform digital dalam mencegah penyebaran konten penipuan. Kontrol konten yang lebih ketat dan sistem deteksi dini dapat membantu mengurangi jumlah korban penipuan online.

    Dengan kolaborasi semua pihak, mulai dari aparat penegak hukum, platform digital, hingga masyarakat pengguna, diharapkan ancaman penipuan online dapat ditekan secara signifikan. Keselamatan dan keamanan di dunia maya adalah tanggung jawab bersama.

  • Tes Urine Deteksi Autisme pada Anak Akurat 90 Persen

    Tes Urine Deteksi Autisme pada Anak Akurat 90 Persen

    JBNews.id — Para peneliti di Arizona State University mengembangkan alat diagnostik baru yang memungkinkan deteksi autisme lebih awal melalui evaluasi urine. Metode ini mampu mengidentifikasi senyawa tertentu dalam urine anak dengan tingkat akurasi mencapai 90 persen.

    Temuan ini dipublikasikan di jurnal Molecular Psychiatry dan didasari oleh data peningkatan diagnosis autisme yang meroket sebesar 175 persen di Amerika Serikat antara tahun 2011 dan 2022. Dengan mendeteksi gangguan perkembangan lebih awal, pilihan pengobatan bisa didapatkan lebih baik, demikian dikutip dari laman New York Post, Kamis.

    Alat klasifikasi yang disebut Sistem Metabolit Turunan Mikroba (MDM) memberikan skor untuk jumlah metabolit dalam urine anak yang melebihi kisaran normal. Penelitian ini menggunakan sampel urine dari anak-anak berusia 2 hingga 11 tahun untuk menyaring 17 metabolit mikroba, atau molekul yang diproduksi oleh mikroorganisme di dalam usus.

    Dari sampel tersebut, 52 anak telah didiagnosis mengidap gangguan spektrum autisme, dengan sekitar tiga metabolit yang meningkat, dengan beberapa kadar mencapai hingga 1.000 kali lebih tinggi. Sedangkan 47 anak lainnya tidak mengidap autisme.

    “Yang benar-benar mengejutkan tentang bakteri ini adalah mereka menghasilkan metabolit yang pada dasarnya merupakan versi serotonin dan dopamin yang telah dimodifikasi,” kata penulis studi terkait, James Adams.

    Autisme memengaruhi cara orang belajar, berperilaku, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain, dengan sepertiga populasi juga memiliki disabilitas intelektual. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kadar metabolit tertentu secara konsisten pada anak-anak dengan autisme, termasuk metabolit yang berasal dari asam amino yang terlibat dalam neurotransmiter utama.

    Kedua neurotransmiter ini memengaruhi suasana hati, kognisi, dan memori, yang dapat menjelaskan banyak gejala dan gejala penyerta pada anak-anak dengan autisme yakni komunikasi sosial, kecemasan, depresi, dan perhatian mereka. Temuan ini konsisten dengan lebih dari 40 studi yang menunjukkan metabolit mikrobioma usus yang lebih tinggi pada anak-anak dengan autisme.

    Sepanjang uji coba, tes tersebut menunjukkan akurasi 90 persen dalam mengidentifikasi anak-anak dengan autisme, tanpa salah mengidentifikasi satu pun. Pengujian lebih lanjut sedang dilakukan untuk memeriksa keakuratan alat tersebut pada ukuran sampel yang lebih besar.

    Meskipun tes yang ada saat ini bergantung pada pengamatan perilaku, skrining baru ini berarti identifikasi lebih awal, pengobatan lebih awal, dan hasil perkembangan yang lebih baik. Para peneliti juga berharap alat baru ini akan menghapus stigma yang mengelilingi gangguan tersebut.

    “Terkadang keraguan dalam mendiagnosis terjadi karena orang tua merasa mereka bukan orang tua yang cukup baik dan mereka sedang dihakimi,” kata penulis utama studi tersebut, Christina Flynn.

    Para peneliti mencatat bahwa metabolit ini tidak menyebabkan autisme dan mengusulkan subtipe baru yang disebut ASD-terkait dengan metabolit yang berasal dari mikroba, atau ASD-MDM, yang mencakup sekitar 90 persen kasus autisme.

    Inovasi diagnostik ini membuka jalan baru dalam penanganan autisme. Dengan identifikasi yang lebih dini, intervensi dapat dilakukan lebih cepat, yang berpotensi meningkatkan hasil perkembangan anak secara signifikan. Bagi orang tua dan tenaga medis, metode ini menawarkan alternatif yang lebih objektif dibandingkan observasi perilaku yang seringkali subjektif.

    Para peneliti di Arizona State University terus mengembangkan alat ini dengan pengujian pada sampel yang lebih besar untuk memvalidasi keakuratannya. Jika berhasil, tes urine ini dapat menjadi standar baru dalam skrining autisme pada anak-anak di seluruh dunia.

    Implikasi dari temuan ini sangat luas. Bagi sistem kesehatan, metode skrining berbasis urine dapat mengurangi beban diagnosis yang selama ini bergantung pada psikolog dan psikiater anak. Bagi keluarga, deteksi dini berarti akses lebih cepat ke terapi perilaku, terapi wicara, dan dukungan pendidikan yang sesuai.

    Autisme bukanlah kondisi yang dapat disembuhkan, tetapi dengan intervensi dini, banyak anak dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Tes urine ini, jika terbukti efektif dalam skala besar, dapat menjadi alat penting dalam upaya tersebut.

    Penelitian ini juga membuka pintu untuk pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara mikrobioma usus dan perkembangan otak. Metabolit yang dihasilkan bakteri usus ternyata memiliki pengaruh signifikan terhadap fungsi neurologis, yang dapat menjelaskan berbagai gejala autisme.

    Ke depannya, pendekatan berbasis biomarker seperti ini dapat diterapkan untuk gangguan perkembangan lainnya. Para peneliti optimistis bahwa metode serupa dapat dikembangkan untuk kondisi seperti ADHD, gangguan kecemasan, dan depresi pada anak-anak.

    Bagi para orang tua yang memiliki anak dengan autisme, temuan ini memberikan harapan baru. Dengan alat diagnostik yang lebih akurat dan non-invasif, proses diagnosis yang seringkali panjang dan melelahkan dapat dipersingkat, sehingga anak dapat segera mendapatkan intervensi yang tepat.

    Penelitian ini merupakan langkah maju dalam integrasi antara mikrobiologi, neurologi, dan diagnostik klinis. Kolaborasi antar disiplin ilmu ini menunjukkan bahwa solusi untuk tantangan medis yang kompleks seringkali datang dari pendekatan yang tidak terduga.

    Sementara itu, para peneliti lain di berbagai institusi juga tengah mengembangkan metode deteksi dini autisme berbasis teknologi lainnya, termasuk analisis sampel rambut dan pemindaian otak. Persaingan dalam bidang ini diharapkan dapat mempercepat penemuan metode yang paling efektif dan terjangkau.

    Dalam konteks Indonesia, di mana kesadaran tentang autisme masih terus berkembang, metode diagnostik yang sederhana dan murah seperti tes urine dapat menjadi solusi yang tepat. Banyak anak di daerah terpencil yang tidak terdiagnosis karena kurangnya akses ke psikolog anak. Tes urine dapat dibawa ke laboratorium sederhana dan dianalisis secara terpusat.

    Pemerintah Indonesia perlu mulai mempersiapkan infrastruktur untuk adopsi teknologi ini jika nantinya terbukti efektif. Pelatihan tenaga kesehatan, penyediaan alat laboratorium, dan sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara simultan.

    Yang tidak kalah penting adalah edukasi untuk menghilangkan stigma terhadap autisme. Dengan alat diagnostik yang objektif, diharapkan orang tua tidak lagi merasa dihakimi atau disalahkan atas kondisi anak mereka. Autisme adalah kondisi neurologis, bukan akibat dari pola asuh yang salah.

    Penelitian di Arizona State University ini menunjukkan bahwa sains terus bergerak maju untuk menjawab tantangan kesehatan yang kompleks. Dengan pendekatan yang inovatif dan kolaboratif, masa depan penanganan autisme tampak semakin cerah.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi terkini, kami juga merekomendasikan artikel tentang Kolaborasi Nvidia yang menciptakan robot humanoid, serta Robot Humanoid Phantom yang dikerahkan ke medan perang Ukraina.

    Dengan segala keterbatasannya, penelitian ini tetap menjadi tonggak penting dalam upaya memahami dan menangani autisme. Data menunjukkan bahwa satu dari 36 anak di AS didiagnosis autisme, dan angka ini terus meningkat. Metode deteksi yang lebih baik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

    Para peneliti berharap dalam waktu dekat, tes urine ini dapat tersedia secara komersial dan digunakan oleh dokter anak di seluruh dunia. Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu terobosan terbesar dalam diagnostik gangguan perkembangan anak dalam beberapa dekade terakhir.

    Autisme bukanlah akhir dari segalanya. Dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, anak-anak dengan autisme dapat tumbuh menjadi individu yang produktif dan bahagia. Tes urine ini adalah salah satu alat untuk mewujudkan harapan tersebut.

  • Pemimpin AI Serukan Regulasi Screening DNA Sintetis

    Pemimpin AI Serukan Regulasi Screening DNA Sintetis

    JBNews.id — Empat pemimpin perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka dunia menandatangani surat terbuka yang mendesak pemerintah untuk mewajibkan perusahaan penjual DNA dan RNA sintetis melakukan screening ketat terhadap pelanggan dan pesanan. Langkah ini bertujuan mencegah penyalahgunaan materi genetik yang diperparah oleh kemajuan AI.

    Surat yang diorganisir oleh Institute for Progress dan Foundation for American Innovation ini ditandatangani oleh Demis Hassabis (Google DeepMind), Sam Altman (OpenAI), Dario Amodei (Anthropic), dan Mustafa Suleyman (Microsoft AI). Dalam pernyataannya, mereka mengakui bahwa dengan kecepatan pengembangan AI saat ini, “ada kemungkinan nyata bahwa hambatan pengetahuan yang secara historis mencegah aktor jahat mendapatkan senjata biologis akan terkikis secara signifikan.”

    Kekhawatiran ini muncul seiring dengan murahnya biaya sintesis gen. Proses yang pertama kali berhasil dilakukan oleh ilmuwan Arthur Kornberg pada tahun 1950-an kini telah sepenuhnya otomatis. Puluhan perusahaan di seluruh dunia menggunakan synthesizer komersial untuk “mencetak” dan menjual sekuens genetik khusus yang digunakan untuk penelitian ilmiah, pengembangan obat, dan diagnostik.

    Banyak penyedia layanan menjual hanya kepada peneliti kualifikasi, perusahaan bioteknologi, dan institusi pendidikan. Namun, tidak semuanya melakukan verifikasi terhadap pelanggan atau sekuens gen yang dipesan. Pada tahun 2017, para peneliti Kanada menimbulkan kekhawatiran saat mereka menggunakan DNA pesanan pos senilai $100.000 untuk merekonstitusi virus horsepox yang sudah punah. Kritikus menyatakan metodologi yang sama dapat digunakan untuk membangun virus cacar (smallpox), virus yang sangat terkait dan mematikan.

    Sejak saat itu, biaya sintesis gen terus menurun. Ditambah dengan kemajuan AI, kini dimungkinkan untuk merancang racun dan patogen berbahaya baru menggunakan large language model. Meskipun pelatihan biologi mungkin masih diperlukan untuk membuat virus fungsional dari awal, risiko penyalahgunaan dinilai semakin nyata.

    Risiko Pandemi Buatan AI

    Meskipun serangan bioteror masih jarang terjadi, potensi dampaknya sangat besar: korban massal, kepanikan publik, dan kerugian ekonomi. Kekhawatiran utama adalah bahwa patogen yang dirancang AI dapat secara sengaja atau tidak sengaja memicu pandemi global. David Relman, ahli mikrobiologi dan keamanan hayati di Stanford University yang turut menandatangani surat, menjelaskan bagaimana AI mempermudah aksi jahat.

    “Alat AI memungkinkan pengguna dengan sangat cepat mengidentifikasi ke mana harus memesan sekuens yang tidak akan menjalani screening,” ujar Relman. “Jika diminta dengan tepat, mereka juga dapat memberi tahu cara mengubah sifat pesanan Anda, sehingga bahkan mereka yang melakukan screening pun mungkin tidak dapat mendeteksi apa yang Anda coba buat.”

    Para penandatangan surat juga mencakup ilmuwan lain, pakar keamanan nasional, serta eksekutif dari perusahaan sintesis gen seperti Twist Bioscience dan Ansa Biotechnologies. Perusahaan-perusahaan ini adalah anggota International Gene Synthesis Consortium yang dibentuk pada 2009 untuk menerapkan praktik screening sukarela. Banyak perusahaan sudah menggunakan perangkat lunak untuk memeriksa pesanan terhadap “sekuens yang menjadi perhatian” yang dapat berkontribusi pada toksisitas organisme atau kemampuannya menyebabkan penyakit.

    “Jika Anda memiliki teknologi yang mampu mensintesis DNA, maka Anda harus memastikan teknologi itu digunakan secara bertanggung jawab. Bagian dari itu adalah memastikan Anda memahami apa yang Anda buat dan untuk siapa Anda membuatnya,” kata James Diggans, wakil presiden kebijakan dan keamanan hayati di Twist Bioscience. Perusahaan telah mendukung penerapan aturan formal selama bertahun-tahun.

    Pemerintah federal AS sebenarnya telah memperkenalkan pedoman selama era pemerintahan Biden yang mewajibkan ilmuwan dan perusahaan yang menerima dana federal untuk memesan sekuens gen sintetis dari penyedia yang melakukan screening pembelian. Sebuah rancangan undang-undang bipartisan yang diperkenalkan awal tahun ini di Senat akan mewajibkan semua penyedia sintesis gen yang beroperasi di AS untuk melakukan screening terhadap pesanan dan pelanggan guna mendeteksi aktor jahat atau patogen berbahaya.

    Namun, alat screening tidaklah sempurna. Tahun lalu, para peneliti Microsoft menerbitkan studi yang menunjukkan bahwa alat desain protein AI mampu menghasilkan sekuens gen berbahaya yang lolos dari perangkat lunak screening perusahaan. Model-model tersebut menyarankan sekuens protein baru dengan struktur yang mirip dengan protein yang diketahui berbahaya.

    Geoff Ralston, mantan presiden Y Combinator dan mitra di Safe AI Fund, berpendapat bahwa laboratorium AI dengan model biologi harus melakukan screening sendiri terhadap pengguna mereka. “Seharusnya sangat sulit, bahkan tidak mungkin, untuk meminta model membantu Anda melakukan sesuatu yang sangat berbahaya,” ujar Ralston yang juga menandatangani surat tersebut.

    Relman setuju bahwa regulasi seputar prosedur screening hanyalah bagian dari solusi. “Mengingat bahwa screening mungkin gagal dalam beberapa kasus, kita harus memiliki titik kontrol lain,” katanya. “Di situlah perusahaan AI harus mengambil langkah lebih lanjut.”

    Langkah para pemimpin AI ini menunjukkan kesadaran industri akan urgensi pengaturan keamanan hayati di era AI. Surat terbuka tersebut menjadi sinyal kuat bagi pemerintah di seluruh dunia untuk segera merumuskan regulasi yang mengikat, bukan sekadar sukarela. Bagi industri bioteknologi dan AI, implikasinya jelas: keamanan hayati harus menjadi prioritas utama sebelum teknologi melampaui kemampuan pengawasan manusia.

    Perkembangan ini juga berdampak pada dinamika industri AI secara lebih luas. IPO Raksasa AI yang direncanakan oleh beberapa perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI kini mendapat sorotan baru terkait tata kelola risiko. Sementara itu, investasi properti yang terkait dengan perusahaan AI juga menunjukkan betapa besarnya ekspektasi pasar terhadap sektor ini.

  • Robot Humanoid Tampil di Catwalk Seoul, Kolaborasi Fesyen dan AI

    Robot Humanoid Tampil di Catwalk Seoul, Kolaborasi Fesyen dan AI

    JBNews.id — Robot humanoid dan model manusia berbagi panggung catwalk dalam sebuah peragaan busana futuristis di Seoul, Korea Selatan. Ajang bertajuk MACH33: Physical AI Fashion Show ini menandai babak baru kolaborasi antara industri fesyen dan teknologi kecerdasan buatan fisik.

    Acara yang digelar di Galaxy Robot Park, Seoul, pada awal Juni 2026 ini menampilkan robot humanoid yang berjalan di atas runway. Model manusia dan robot tampil mengenakan busana serasi, mengeksplorasi kemungkinan hidup berdampingan antara manusia dan AI fisik.

    Robot humanoid dan model manusia berbagi catwalk di Seoul

    Dalam pertunjukan tersebut, robot berjubah melangkah di runway sebelum model manusia memperagakan koleksi busana yang sama. Penyelenggara menilai robot dapat hadir sebagai mitra yang mendampingi manusia, bukan menggantikannya. Hal ini menjadi simbol kolaborasi antara kreativitas manusia dan teknologi.

    Model dan robot juga menampilkan gerakan koreografi yang tersinkronisasi di atas panggung. Penampilan ini memadukan unsur fesyen, hiburan, dan inovasi robotika dalam satu pertunjukan yang utuh. Suasana peragaan busana AI fisik di Galaxy Robot Park menampilkan interaksi unik antara manusia dan robot.

    Acara tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan teknologi dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan.

    Model manusia dan robot tampil dengan busana serasi

    Masa Depan Kolaborasi Manusia dan Robot

    Konsep peragaan busana ini mengeksplorasi kemungkinan hidup berdampingan antara manusia dan kecerdasan buatan fisik. Penyelenggara menilai robot dapat hadir sebagai mitra yang mendampingi manusia, bukan menggantikannya. Pertunjukan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara kreativitas manusia dan teknologi.

    Penyelenggara menilai robot dapat hadir sebagai mitra yang mendampingi manusia, bukan menggantikannya. Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan.

    Robot berjubah melangkah di runway

    Perkembangan AI fisik di Korea Selatan terus menjadi sorotan global. Berbagai inovasi di bidang robotika dan kecerdasan buatan telah menarik perhatian publik dan investor. Acara seperti MACH33: Physical AI Fashion Show menjadi bukti bahwa teknologi AI fisik dapat diintegrasikan ke dalam berbagai sektor, termasuk industri kreatif.

    Peragaan busana ini juga menjadi ajang untuk memamerkan kemampuan robot humanoid dalam bergerak dan berinteraksi di lingkungan yang dinamis. Kehadiran robot di catwalk membuktikan bahwa teknologi robotika telah mencapai tingkat kecanggihan yang memungkinkan mereka untuk tampil di depan publik.

    Model dan robot menampilkan gerakan koreografi tersinkronisasi

    Dampak bagi Industri Fesyen dan Teknologi

    Kolaborasi antara fesyen dan teknologi AI fisik membuka peluang baru bagi kedua industri. Industri fesyen dapat memanfaatkan teknologi robotika untuk menciptakan pertunjukan yang lebih inovatif dan menarik. Sementara itu, industri teknologi dapat menggunakan platform fesyen untuk memperkenalkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas.

    Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan. Pertunjukan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara kreativitas manusia dan teknologi.

    Robot dan model berpose bersama setelah peragaan busana

    Penyelenggara menilai robot dapat hadir sebagai mitra yang mendampingi manusia, bukan menggantikannya. Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan.

    Ke depannya, kolaborasi antara manusia dan robot diprediksi akan semakin meluas ke berbagai sektor. Industri kreatif, termasuk fesyen, hiburan, dan seni pertunjukan, menjadi salah satu bidang yang paling potensial untuk mengintegrasikan teknologi AI fisik. Hal ini sejalan dengan regulasi AI yang terus berkembang di berbagai negara.

    Peragaan busana ini juga menjadi ajang untuk memamerkan kemampuan robot humanoid dalam bergerak dan berinteraksi di lingkungan yang dinamis. Kehadiran robot di catwalk membuktikan bahwa teknologi robotika telah mencapai tingkat kecanggihan yang memungkinkan mereka untuk tampil di depan publik.

    Bagi para penggemar teknologi dan fesyen, acara ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana masa depan kolaborasi manusia dan robot. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan wawasan tentang potensi teknologi AI fisik dalam kehidupan sehari-hari.

    Acara seperti MACH33: Physical AI Fashion Show menjadi bukti bahwa teknologi AI fisik dapat diintegrasikan ke dalam berbagai sektor, termasuk industri kreatif. Perkembangan ini juga memicu diskusi tentang regulasi AI yang perlu diadaptasi untuk mengakomodasi inovasi baru.

    Penyelenggara menilai robot dapat hadir sebagai mitra yang mendampingi manusia, bukan menggantikannya. Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan.

    Kolaborasi antara fesyen dan teknologi AI fisik membuka peluang baru bagi kedua industri. Industri fesyen dapat memanfaatkan teknologi robotika untuk menciptakan pertunjukan yang lebih inovatif dan menarik. Sementara itu, industri teknologi dapat menggunakan platform fesyen untuk memperkenalkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas.

    Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan. Pertunjukan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara kreativitas manusia dan teknologi.

    Penyelenggara menilai robot dapat hadir sebagai mitra yang mendampingi manusia, bukan menggantikannya. Peragaan busana futuristis di Seoul menghadirkan gambaran era baru ketika teknologi dan ekspresi kreatif berjalan beriringan. Acara ini menarik perhatian publik terhadap perkembangan AI fisik di Korea Selatan.

  • Sony Gratiskan 3 Game PS4 dan PS5, Khusus Pelanggan PS Plus

    Sony Gratiskan 3 Game PS4 dan PS5, Khusus Pelanggan PS Plus

    JBNews.id — Sony secara resmi memberikan tiga game gratis untuk konsol PlayStation 4 (PS4) dan PlayStation 5 (PS5) mulai Juni 2026. Namun, program ini hanya berlaku bagi pelanggan aktif PlayStation Plus.

    Kebijakan ini diumumkan oleh Director, Game Services – Content, Sony Interactive Entertainment, Adam Michel. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan tiga judul game yang bisa diunduh tanpa biaya tambahan oleh anggota PS Plus.

    Ketiga game tersebut adalah Grounded Fully Yoked Edition, Nickelodeon All-Star Brawl 2, dan Warhammer 40,000: Darktide. Ketiganya dapat diklaim mulai Selasa, 2 Juni hingga Senin, 6 Juli 2026.

    Bagi gamer yang belum berlangganan, ketiga game ini harus dibeli secara terpisah dengan total harga mencapai Rp1.670.000. Rincian harga masing-masing game adalah Grounded Fully Yoked Edition seharga Rp579 ribu, Nickelodeon All-Star Brawl 2 Rp699 ribu, dan Warhammer 40,000: Darktide Rp392 ribu.

    Warhammer 40K 10th edition.

    “Ketiga judul tersebut akan tersedia untuk semua anggota PlayStation Plus* mulai Selasa, 2 Juni hingga Senin, 6 Juli, dan anggota PlayStation Plus,” ungkap Adam Michel dalam keterangan resminya.

    Dengan berlangganan PS Plus, gamer hanya perlu membayar biaya bulanan mulai dari Rp126.000 untuk paket Essential. Berikut daftar lengkap harga langganan PS Plus:

    • Essential: Rp126.000/bulan, Rp331.000/tiga bulan, Rp1.010.000/tahun
    • Extra: Rp189.000/bulan, Rp536.000/tiga bulan, Rp1.710.000/tahun
    • Deluxe: Rp221.000/bulan, Rp632.000/tiga bulan, Rp1.999.000/tahun

    Dengan perbandingan tersebut, pelanggan PS Plus bisa menghemat hingga lebih dari Rp1,5 juta dibandingkan membeli ketiga game secara terpisah. Ini menjadikan program game gratis sebagai salah satu keuntungan utama berlangganan layanan tersebut.

    Masih Ada Kesempatan Klaim Game Bulan Lalu

    Adam Michel juga mengingatkan bahwa ada satu game gratis dari program PS Plus bulan lalu yang masih bisa diklaim hingga pertengahan Juni 2026. Game tersebut adalah EA Sports FC 26.

    “EA Sports FC 26, yang awalnya diumumkan sebagai bagian dari jajaran Game Bulanan PS Plus Mei, akan tetap tersedia sebagai Game Bulanan PlayStation Plus hingga 16 Juni,” pungkasnya.

    Dengan adanya perpanjangan waktu klaim ini, pelanggan PS Plus yang belum sempat mengunduh EA Sports FC 26 pada bulan Mei masih memiliki kesempatan hingga 16 Juni 2026. Ini menjadi nilai tambah bagi anggota yang mungkin melewatkan periode klaim sebelumnya.

    Program game gratis bulanan PlayStation Plus telah menjadi salah satu strategi Sony untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Dengan memberikan tiga game berkualitas setiap bulannya, Sony berharap dapat meningkatkan jumlah pelanggan layanan berbayar ini.

    Bagi gamer yang belum berlangganan, keputusan untuk menjadi anggota PS Plus kini semakin menarik. Dengan biaya bulanan yang relatif terjangkau, mereka bisa mendapatkan akses ke puluhan game setiap tahunnya tanpa harus membeli satu per satu.

    Dalam industri game yang semakin kompetitif, langkah Sony ini sejalan dengan tren yang dilakukan kompetitor seperti Microsoft dengan layanan Game Pass-nya. Kedua raksasa teknologi ini terus bersaing menawarkan nilai terbaik bagi para gamer.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren teknologi dan game, Anda bisa membaca artikel terkait Perebutan Regulasi AI yang juga menjadi sorotan di industri teknologi global.

    Bagi pengguna yang tertarik dengan keamanan akun, penting juga untuk mengetahui bahwa Komunitas Reddit juga aktif membahas berbagai isu terkait keamanan digital dan harga layanan.

    Dengan berakhirnya periode klaim pada 6 Juli 2026, para pelanggan PS Plus disarankan untuk segera mengunduh ketiga game tersebut agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan game senilai Rp1,67 juta secara gratis.

    Implikasinya bagi gamer Indonesia, dengan nilai tukar rupiah yang fluktuatif, berlangganan PS Plus menjadi pilihan ekonomis bagi mereka yang ingin menikmati game-game terbaru tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Ini adalah strategi cerdas bagi gamer dengan budget terbatas yang tetap ingin mendapatkan pengalaman bermain game berkualitas.

  • Pembasmi Nyamuk Laser Buatan Steven Cheng, Akurasi Tinggi

    Pembasmi Nyamuk Laser Buatan Steven Cheng, Akurasi Tinggi

    JBNews.id — Seorang pakar computer vision dan robotika, Steven Cheng, berhasil menciptakan sistem pembasmi nyamuk berbasis laser yang memadukan teknologi deep learning dan penargetan presisi. Proyek ini mengubah masalah rumah tangga menjadi pencapaian teknik yang mengesankan dengan tingkat akurasi deteksi yang sangat baik.

    Sistem ini bertumpu pada model visual yang dilatih secara khusus menggunakan kumpulan data nyamuk buatan Cheng sendiri. Ia memanfaatkan kamera DSLR yang dilengkapi lensa zoom pembesaran tinggi untuk memotret nyamuk secara detail sebagai data pelatihan. Menariknya, kamera yang sama tidak hanya digunakan sebagai alat pengumpulan data di awal, tetapi juga berfungsi sebagai sensor utama untuk mendeteksi nyamuk secara langsung.

    Cheng mengungkapkan bahwa proses pengumpulan data ini tidaklah mudah. Ia harus rela mendapatkan gigitan nyamuk tak terhitung jumlahnya di sekujur tubuh, sebuah pengingat bahwa proyek teknis tingkat tinggi pun terkadang menuntut kontak langsung yang kurang nyaman dengan dunia nyata. Foto-foto tersebut kemudian dianotasi dan digunakan untuk melatih model deep learning agar mampu mengenali nyamuk yang sedang terbang.

    Proses pelatihan ini, menurut Cheng, sangat menguras kinerja kartu grafis (GPU) miliknya. Namun, kerja keras tersebut membuahkan hasil dengan tingkat akurasi deteksi yang sangat baik, di mana sistem mampu membedakan nyamuk dari gangguan visual di latar belakang dengan andal.

    Eksekusi Presisi dengan Laser

    Setelah sistem deteksi bekerja optimal, Cheng beralih pada mekanisme eksekusi. Ia mengintegrasikan laser yang dikalibrasi, kemudian dipasang pada dudukan putar industri berpresisi tinggi, memungkinkannya bergerak cepat dan akurat mengikuti target yang telah dikunci oleh sistem visi.

    Hasilnya adalah sistem closed-loop (lingkaran tertutup) yang bekerja seketika: kamera mendeteksi nyamuk, model AI mengonfirmasinya, dan perangkat keras langsung menyesuaikan bidikan lalu menembakkan laser. Berbeda dengan perangkap nyamuk konvensional yang mengandalkan daya tarik pasif, sistem ini secara aktif melacak dan menyerang serangga satu per satu.

    Inovasi ini mengingatkan pada perkembangan teknologi robotika yang juga diterapkan di berbagai sektor. Salah satunya adalah Robot Anjing Boston Dynamics yang memicu kontroversi saat patroli Piala Dunia 2026.

    Sistem Keamanan Berlapis

    Mengingat penggunaan laser di dalam rumah memiliki risiko, Cheng tidak melupakan aspek keamanan. Ia menambahkan kamera kedua bersudut lebar (wide-angle) sebagai pengaman tambahan. Kamera ini bertugas memantau keberadaan manusia dan benda-benda mudah terbakar di sekitarnya.

    Jika sistem mendeteksi adanya tumpang tindih antara objek-objek tersebut dengan target nyamuk, pelatuk laser akan otomatis dinonaktifkan untuk mencegah kerusakan atau cedera yang tidak disengaja.

    Setelah merakit dan mengujinya, Cheng mengoperasikan sistem ini di rumahnya. Ia mengklaim bahwa hanya dalam satu malam pengoperasian, seluruh nyamuk di kediamannya berhasil dibasmi. Meski proyek ini masih bersifat eksperimental, inovasi Cheng membuktikan bagaimana perakit mandiri (DIY builders) masa kini mampu memadukan perangkat keras konsumen dengan teknik robotika tingkat lanjut.

    Komponen yang mudah ditemukan di pasaran—seperti kamera, GPU, dan perangkat keras penggerak—kini memungkinkan siapa saja membangun sistem pelacakan real-time yang canggih langsung dari rumah mereka.

    Perkembangan teknologi deep learning juga berdampak pada sektor lain. Di Indonesia, Gugatan Class Action terkait deepfake Grok menjadi sorotan karena korban mengancam mundur jika identitas dibuka. Sementara itu, Martin Scorsese Dukung AI yang memicu reaksi keras dari industri film.

    Implikasi dari inovasi ini sangat jelas: teknologi yang dulunya hanya ada di laboratorium riset kini bisa diakses oleh individu dengan sumber daya terbatas. Bagi pembaca yang ingin mengatasi masalah nyamuk di rumah, pendekatan aktif berbasis AI ini menawarkan solusi yang jauh lebih efektif dibandingkan perangkap pasif konvensional. Namun, perlu diingat bahwa sistem ini masih dalam tahap eksperimental dan memerlukan keahlian teknis untuk merakitnya.

  • 450 Guru PAUD dan TK Jateng Dibekali Koding dan Robotik

    450 Guru PAUD dan TK Jateng Dibekali Koding dan Robotik

    JBNews.id — Sebanyak 450 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) di Jawa Tengah mengikuti pelatihan koding, robotik, dan matematika untuk mendukung transformasi pendidikan di era digital. Pelatihan ini berlangsung di Semarang dengan antusiasme tinggi dari para peserta.

    Para guru tampak aktif mengikuti arahan fasilitator, mencoba berbagai perangkat robotik, serta mempraktikkan permainan edukatif yang dirancang untuk melatih logika, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah pada anak-anak. Program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat transformasi pendidikan usia dini agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

    Selain mengenalkan teknologi, pelatihan ini juga menanamkan berbagai nilai penting kepada para pendidik, seperti kerja sama, pencegahan perundungan, literasi digital, serta penggunaan teknologi secara bijak tanpa menimbulkan ketergantungan pada gawai. Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan relevan dengan kebutuhan generasi masa depan.

    Pendekatan pembelajaran berbasis koding dan robotik dinilai dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sejak usia dini. Ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks.

    Pelatihan ini juga menjadi momentum bagi para guru untuk saling bertukar pengalaman dan metode pengajaran. Dengan bekal keterampilan baru, mereka dapat mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum harian secara lebih efektif. Para fasilitator memberikan pendampingan langsung agar setiap guru mampu mengoperasikan alat peraga robotik dan memahami konsep dasar koding.

    Dalam sesi praktik, para guru diajak merakit robot sederhana dan memprogramnya untuk bergerak sesuai instruksi. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengajarkan logika berurutan yang menjadi fondasi pemrograman. Guru-guru juga mendapatkan modul pembelajaran yang bisa langsung diterapkan di kelas masing-masing.

    Transformasi pendidikan usia dini menjadi prioritas mengingat anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan yang sangat digital. Modus Baru Phishing dan ancaman siber lainnya menjadi pengingat pentingnya literasi digital sejak dini. Pelatihan ini menjawab kebutuhan tersebut dengan pendekatan yang tepat dan kontekstual.

    Dengan bekal ini, para guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan. Anak-anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami cara kerja dan logika di baliknya. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    Program ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Orang tua siswa juga menyambut baik inisiatif ini karena dinilai relevan dengan perkembangan zaman. Ke depannya, diharapkan program serupa dapat diperluas ke daerah lain di Jawa Barat dan Banten.

    Pelatihan ini juga membuka wawasan para guru tentang pentingnya Fullerton Health dan sektor lain yang mulai mengadopsi teknologi canggih. Dengan pemahaman ini, guru dapat mempersiapkan anak didiknya untuk berbagai peluang masa depan.

    Secara keseluruhan, pelatihan koding dan robotik bagi 450 guru PAUD dan TK di Jawa Tengah ini menjadi langkah konkret dalam transformasi pendidikan era digital. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para guru, tetapi juga oleh ribuan anak didik yang akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan.

    Ini adalah bukti bahwa pendidikan usia dini tidak boleh tertinggal dalam arus digitalisasi. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengembangkan potensi anak sejak usia dini. Para guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki peran krusial dalam mewujudkan hal tersebut.

    Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta perlu terus diperkuat. Indonesia Kurang Serap Pajak dari raksasa teknologi global menjadi pengingat bahwa penguasaan teknologi harus dimulai dari pendidikan dasar. Investasi pada guru adalah investasi pada masa depan bangsa.