JBNews.id — Wahana antariksa Hayabusa2 milik Jepang saat ini sedang menempuh perjalanan menuju objek 1998 KY26 yang diidentifikasi oleh astronom Harvard sebagai relik misi Phobos 1 milik Uni Soviet. Objek yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai asteroid kecil berputar cepat tersebut dijadwalkan akan dicapai pada Juli 2031 setelah Hayabusa2 sukses menyelesaikan misi pengambilan sampel di asteroid Ryugu pada Juni 2018.
Identifikasi ini muncul dari penelitian terbaru yang dipimpin oleh Avi Loeb, seorang astronom dari Harvard yang telah lama mempelajari perilaku objek luar angkasa yang tidak biasa. Dalam makalah penelitian yang belum ditinjau sejawat (peer-reviewed), Loeb dan rekan-rekannya menyarankan bahwa 1998 KY26 bukanlah batu ruang angkasa alami, melainkan sisa-sisa sejarah dari program luar angkasa Rusia yang hilang di jalur menuju Mars.
Objek 1998 KY26 sendiri merupakan kandidat menarik bagi para ilmuwan karena karakteristiknya yang unik. Objek ini berputar sangat cepat dan memiliki ukuran yang kecil, menjadikannya bagian dari kelas objek yang masih misterius. Beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai “dark comet”, sebuah kategori yang terinspirasi dari pengunjung antarbintang ‘Oumuamua pada tahun 2017. Fenomena benda langit yang tidak terduga ini sering kali memiliki kemiripan dengan Meteor Bola Api yang melintasi atmosfer bumi.
Baca Juga:
Identifikasi Relik Phobos 1 Uni Soviet
Loeb menjelaskan dalam sebuah unggahan blog bahwa 1998 KY26 secara potensial merupakan wahana Phobos 1. Wahana milik Uni Soviet tersebut mengalami kegagalan sistem fatal hanya dua bulan setelah peluncurannya pada Juli 1988. Kegagalan tersebut disebabkan oleh kesalahan teknis yang sangat spesifik, yakni pengunggahan perintah yang salah akibat kesalahan pengetikan atau typo berupa tanda hubung (hyphen) yang hilang.
Kesalahan sepele tersebut menyebabkan sistem krusial pada wahana Phobos 1 mati total, sehingga wahana tersebut gagal mengirimkan sinyal kembali ke Bumi pada Agustus 1988. Berdasarkan analisis data terbaru, Loeb dan timnya menemukan bahwa pembakaran pendorong (thruster) pada wahana yang gagal tersebut kemungkinan besar menempatkan Phobos 1 ke dalam orbit yang serupa dengan 1998 KY26.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kedua orbit tersebut saling berkonvergensi dan secara statistik dinyatakan kompatibel. Selain kesamaan orbit, peneliti juga berargumen bahwa wahana antariksa yang sudah tidak berfungsi tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang “cukup memanjang” (elongated), sangat mirip dengan profil fisik 1998 KY26 yang diamati selama ini.
Debat Klasifikasi Dark Comet dan Teknologi Ekstraterestrial
Meskipun hipotesis ini dianggap cukup berani mengingat luasnya ruang hampa udara, Loeb mendesak komunitas ilmiah untuk memperluas set data pelatihan mereka. Menurutnya, ilmuwan tidak boleh hanya terpaku pada batuan dan bongkahan es, tetapi juga harus mempertimbangkan objek luar angkasa yang diluncurkan oleh manusia selama 69 tahun terakhir sebagai bagian dari kemungkinan identifikasi objek di langit.
Jika terbukti bahwa 1998 KY26 adalah objek teknologi buatan manusia, Loeb berpendapat hal ini akan memperkuat teorinya yang kontroversial mengenai ‘Oumuamua. Ia mempertanyakan apakah para ahli komet akan mengakui bahwa ‘Oumuamua mungkin bukan “dark comet” alami jika 1998 KY26 terbukti secara sah memiliki asal-usul teknologi.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai apa yang akan ditemukan oleh Hayabusa2 saat tiba di lokasi pada tahun 2031. Rotasi asteroid yang sangat cepat juga diprediksi akan menyulitkan proses pendaratan wahana tersebut. Namun, para peneliti mendorong studi observasi, dinamika, dan teoretis lebih lanjut untuk memperketat batasan mengenai sifat dan properti 1998 KY26 sebelum misi Jepang tersebut memberikan jawaban pasti dalam lima tahun ke depan.
