JBNews.id — Para peneliti di Arizona State University mengembangkan alat diagnostik baru yang memungkinkan deteksi autisme lebih awal melalui evaluasi urine. Metode ini mampu mengidentifikasi senyawa tertentu dalam urine anak dengan tingkat akurasi mencapai 90 persen.
Temuan ini dipublikasikan di jurnal Molecular Psychiatry dan didasari oleh data peningkatan diagnosis autisme yang meroket sebesar 175 persen di Amerika Serikat antara tahun 2011 dan 2022. Dengan mendeteksi gangguan perkembangan lebih awal, pilihan pengobatan bisa didapatkan lebih baik, demikian dikutip dari laman New York Post, Kamis.
Alat klasifikasi yang disebut Sistem Metabolit Turunan Mikroba (MDM) memberikan skor untuk jumlah metabolit dalam urine anak yang melebihi kisaran normal. Penelitian ini menggunakan sampel urine dari anak-anak berusia 2 hingga 11 tahun untuk menyaring 17 metabolit mikroba, atau molekul yang diproduksi oleh mikroorganisme di dalam usus.
Dari sampel tersebut, 52 anak telah didiagnosis mengidap gangguan spektrum autisme, dengan sekitar tiga metabolit yang meningkat, dengan beberapa kadar mencapai hingga 1.000 kali lebih tinggi. Sedangkan 47 anak lainnya tidak mengidap autisme.
“Yang benar-benar mengejutkan tentang bakteri ini adalah mereka menghasilkan metabolit yang pada dasarnya merupakan versi serotonin dan dopamin yang telah dimodifikasi,” kata penulis studi terkait, James Adams.
Autisme memengaruhi cara orang belajar, berperilaku, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain, dengan sepertiga populasi juga memiliki disabilitas intelektual. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kadar metabolit tertentu secara konsisten pada anak-anak dengan autisme, termasuk metabolit yang berasal dari asam amino yang terlibat dalam neurotransmiter utama.
Kedua neurotransmiter ini memengaruhi suasana hati, kognisi, dan memori, yang dapat menjelaskan banyak gejala dan gejala penyerta pada anak-anak dengan autisme yakni komunikasi sosial, kecemasan, depresi, dan perhatian mereka. Temuan ini konsisten dengan lebih dari 40 studi yang menunjukkan metabolit mikrobioma usus yang lebih tinggi pada anak-anak dengan autisme.
Sepanjang uji coba, tes tersebut menunjukkan akurasi 90 persen dalam mengidentifikasi anak-anak dengan autisme, tanpa salah mengidentifikasi satu pun. Pengujian lebih lanjut sedang dilakukan untuk memeriksa keakuratan alat tersebut pada ukuran sampel yang lebih besar.
Meskipun tes yang ada saat ini bergantung pada pengamatan perilaku, skrining baru ini berarti identifikasi lebih awal, pengobatan lebih awal, dan hasil perkembangan yang lebih baik. Para peneliti juga berharap alat baru ini akan menghapus stigma yang mengelilingi gangguan tersebut.
“Terkadang keraguan dalam mendiagnosis terjadi karena orang tua merasa mereka bukan orang tua yang cukup baik dan mereka sedang dihakimi,” kata penulis utama studi tersebut, Christina Flynn.
Para peneliti mencatat bahwa metabolit ini tidak menyebabkan autisme dan mengusulkan subtipe baru yang disebut ASD-terkait dengan metabolit yang berasal dari mikroba, atau ASD-MDM, yang mencakup sekitar 90 persen kasus autisme.
Inovasi diagnostik ini membuka jalan baru dalam penanganan autisme. Dengan identifikasi yang lebih dini, intervensi dapat dilakukan lebih cepat, yang berpotensi meningkatkan hasil perkembangan anak secara signifikan. Bagi orang tua dan tenaga medis, metode ini menawarkan alternatif yang lebih objektif dibandingkan observasi perilaku yang seringkali subjektif.
Para peneliti di Arizona State University terus mengembangkan alat ini dengan pengujian pada sampel yang lebih besar untuk memvalidasi keakuratannya. Jika berhasil, tes urine ini dapat menjadi standar baru dalam skrining autisme pada anak-anak di seluruh dunia.
Baca Juga:
Implikasi dari temuan ini sangat luas. Bagi sistem kesehatan, metode skrining berbasis urine dapat mengurangi beban diagnosis yang selama ini bergantung pada psikolog dan psikiater anak. Bagi keluarga, deteksi dini berarti akses lebih cepat ke terapi perilaku, terapi wicara, dan dukungan pendidikan yang sesuai.
Autisme bukanlah kondisi yang dapat disembuhkan, tetapi dengan intervensi dini, banyak anak dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Tes urine ini, jika terbukti efektif dalam skala besar, dapat menjadi alat penting dalam upaya tersebut.
Penelitian ini juga membuka pintu untuk pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara mikrobioma usus dan perkembangan otak. Metabolit yang dihasilkan bakteri usus ternyata memiliki pengaruh signifikan terhadap fungsi neurologis, yang dapat menjelaskan berbagai gejala autisme.
Ke depannya, pendekatan berbasis biomarker seperti ini dapat diterapkan untuk gangguan perkembangan lainnya. Para peneliti optimistis bahwa metode serupa dapat dikembangkan untuk kondisi seperti ADHD, gangguan kecemasan, dan depresi pada anak-anak.
Bagi para orang tua yang memiliki anak dengan autisme, temuan ini memberikan harapan baru. Dengan alat diagnostik yang lebih akurat dan non-invasif, proses diagnosis yang seringkali panjang dan melelahkan dapat dipersingkat, sehingga anak dapat segera mendapatkan intervensi yang tepat.
Penelitian ini merupakan langkah maju dalam integrasi antara mikrobiologi, neurologi, dan diagnostik klinis. Kolaborasi antar disiplin ilmu ini menunjukkan bahwa solusi untuk tantangan medis yang kompleks seringkali datang dari pendekatan yang tidak terduga.
Sementara itu, para peneliti lain di berbagai institusi juga tengah mengembangkan metode deteksi dini autisme berbasis teknologi lainnya, termasuk analisis sampel rambut dan pemindaian otak. Persaingan dalam bidang ini diharapkan dapat mempercepat penemuan metode yang paling efektif dan terjangkau.
Dalam konteks Indonesia, di mana kesadaran tentang autisme masih terus berkembang, metode diagnostik yang sederhana dan murah seperti tes urine dapat menjadi solusi yang tepat. Banyak anak di daerah terpencil yang tidak terdiagnosis karena kurangnya akses ke psikolog anak. Tes urine dapat dibawa ke laboratorium sederhana dan dianalisis secara terpusat.
Pemerintah Indonesia perlu mulai mempersiapkan infrastruktur untuk adopsi teknologi ini jika nantinya terbukti efektif. Pelatihan tenaga kesehatan, penyediaan alat laboratorium, dan sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara simultan.
Yang tidak kalah penting adalah edukasi untuk menghilangkan stigma terhadap autisme. Dengan alat diagnostik yang objektif, diharapkan orang tua tidak lagi merasa dihakimi atau disalahkan atas kondisi anak mereka. Autisme adalah kondisi neurologis, bukan akibat dari pola asuh yang salah.
Penelitian di Arizona State University ini menunjukkan bahwa sains terus bergerak maju untuk menjawab tantangan kesehatan yang kompleks. Dengan pendekatan yang inovatif dan kolaboratif, masa depan penanganan autisme tampak semakin cerah.
Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi terkini, kami juga merekomendasikan artikel tentang Kolaborasi Nvidia yang menciptakan robot humanoid, serta Robot Humanoid Phantom yang dikerahkan ke medan perang Ukraina.
Dengan segala keterbatasannya, penelitian ini tetap menjadi tonggak penting dalam upaya memahami dan menangani autisme. Data menunjukkan bahwa satu dari 36 anak di AS didiagnosis autisme, dan angka ini terus meningkat. Metode deteksi yang lebih baik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Para peneliti berharap dalam waktu dekat, tes urine ini dapat tersedia secara komersial dan digunakan oleh dokter anak di seluruh dunia. Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu terobosan terbesar dalam diagnostik gangguan perkembangan anak dalam beberapa dekade terakhir.
Autisme bukanlah akhir dari segalanya. Dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, anak-anak dengan autisme dapat tumbuh menjadi individu yang produktif dan bahagia. Tes urine ini adalah salah satu alat untuk mewujudkan harapan tersebut.
