JBNews.id — Sutradara dan penulis pemenang Emmy, Jorge Gutierrez, memutuskan mundur dari program kecerdasan buatan (AI) Amazon hanya dua hari setelah pengumuman resminya, menyusul gelombang kecaman keras dari komunitas kreatif dan publik. Keputusan ini menjadi sinyal paling jelas bahwa resistensi terhadap AI di industri hiburan semakin menguat.
Pada 27 Mei 2026, Amazon mengumumkan pemesanan serial animasi berjudul “Punky Duck” sebagai bagian dari GenAI Creators’ Fund. Dana tersebut merupakan kolaborasi antara Amazon MGM Studios dan Amazon Web Services, yang dirancang untuk memberikan akses kepada kreator terhadap alat AI kelas profesional dan pendanaan guna memproduksi tayangan sinematik berkualitas tinggi. Amazon menyebut proyek ini sebagai “terobosan kreatif.”
Gutierrez, yang sebelumnya dikenal lewat karya-karya animasi orisinal, mengaku takjub dengan kekuatan yang diberikan kepadanya. “Cara terbaik untuk menggambarkannya adalah, ini seperti Anda berhubungan seks, lalu seseorang menyerahkan bayinya kepada Anda,” ujarnya dalam sebuah panel pekan lalu. “Ini cukup gila.” Pernyataan kontroversial ini langsung memicu reaksi negatif yang luar biasa.
Reaksi terhadap berita tersebut sangat negatif. Gutierrez dengan cepat menjadi sasaran kemarahan daring yang luar biasa. Profil Wikipedia-nya diedit untuk mendeskripsikannya sebagai “sellout,” dan upaya awal untuk membiarkan para penggemarnya meluapkan frustrasi di akun Instagram-nya tidak berjalan baik, memaksanya untuk menghapus banyak unggahan.
Kecaman tidak hanya datang dari warganet biasa. “Sangat menggoda bahwa sekarang ada sesuatu yang berisi karya kolektif jutaan seniman dan penulis kata-kata yang semuanya dimasukkan ke dalam blender, memungkinkan seseorang menuangkan hal-hal berdasarkan saran dan perintah,” tulis pengisi suara terkenal Billy West. “Kamu menjadi pencuri jiwa, semacam perampok kuburan. Kamu adalah seorang seniman! Tuhan memberimu karunia dan tujuan yang jauh lebih besar untuk dibagikan kepada orang lain. Kami membutuhkan dirimu yang sebenarnya!”
Gelombang protes begitu masif sehingga Gutierrez akhirnya mundur total dari proyek menguntungkan tersebut. “Saya memutuskan untuk keluar dari program AI di Amazon,” cuitnya pada 29 Mei, hanya dua hari setelah pengumuman perusahaan. “Saya tidak akan membuat serial Punky Duck. Tindakan lebih keras daripada kata-kata.”
Insiden ini secara sempurna menggambarkan betapa besarnya resistensi terhadap AI yang terus berkembang. Para ahli memperingatkan bahwa teknologi ini menyebabkan stagnasi budaya, sementara para aktor Hollywood panik karena khawatir akan digantikan. Beberapa nama terbesar di industri ini secara terbuka menyuarakan penentangan terhadap penggunaan AI di bidang kreatif, membentuk garis perlawanan yang semakin meluas.
Dalam cuitan terpisah, Gutierrez mengungkapkan bahwa serangan tidak hanya bersifat verbal. “Hal-hal rasis dan serangan terhadap anak saya sudah keterlaluan,” tulisnya, menunjukkan bahwa para pengkritik daring telah bertindak ekstrem. Upaya untuk meredakan situasi ini pun tidak berjalan mulus, dengan beberapa pengguna menuduhnya menggunakan “kartu rasis” untuk mengalihkan perhatian dari keputusannya yang buruk.
Menariknya, Gutierrez dulunya adalah seorang kritikus vokal terhadap AI. Seperti dilaporkan Los Angeles Times, ia mengunggah beberapa meme yang mengecam teknologi AI antara tahun 2023 dan 2025. Kontradiksi ini menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan penggemar dan koleganya.
“Mengancam pria itu dan keluarganya jelas sudah keterlaluan, tapi saya tetap menentang animator besar menggunakan AI, 100 persen,” argumen seorang pengguna Reddit. “Saya tetap senang dia mundur, tapi saya benci bahwa orang-orang mengancam pria itu.” “Animasi tidak sebanding dengan itu, ada apa dengan orang-orang?” tambah pengguna tersebut.
Sementara itu, Gutierrez telah berusaha untuk kembali mendapatkan dukungan dari massa yang marah. “Belajar banyak dari kalian semua,” cuitnya. “Terima kasih. Banyak informasi yang saya cerna dengan sepenuh hati. Saya benar-benar memahami kekhawatiran tentang penggunaan AI untuk membantu jalur produksi animasi.” “Bagi semua yang menunjukkan belas kasihan, saya sangat menghargainya,” tambah Gutierrez. “Saya punya banyak hal untuk dipikirkan.”
Insiden Gutierrez menjadi studi kasus penting tentang bagaimana persepsi publik terhadap AI di industri kreatif telah berubah drastis. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai inovasi masa depan kini dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi para seniman dan pekerja kreatif. Keputusan mundur Gutierrez, meskipun terlambat bagi sebagian pihak, menunjukkan bahwa tekanan publik masih bisa mengubah arah kebijakan di industri hiburan.
Bagi para kreator dan studio yang tengah mempertimbangkan adopsi AI, pesan dari insiden ini sangat jelas: risiko reputasi dan hubungan dengan komunitas kreatif bisa sangat besar. Meskipun teknologi AI menawarkan efisiensi dan kemampuan baru, biaya sosial dan etisnya mungkin terlalu tinggi untuk diabaikan. Industri kini menunggu langkah selanjutnya dari Amazon dan studio-studio besar lainnya dalam merespons gelombang perlawanan ini.
Implikasinya bagi pembaca JBNews.id: perlawanan terhadap AI di industri kreatif bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran fundamental dalam hubungan antara teknologi dan seni. Bagi para profesional kreatif, insiden ini menegaskan pentingnya solidaritas dan suara kolektif dalam menentukan masa depan industri. Sementara bagi para penggemar teknologi, ini menjadi pengingat bahwa inovasi harus diimbangi dengan pertimbangan etis dan dampak sosial yang matang.
