JBNews.id — Sutradara legendaris Martin Scorsese memicu kontroversi setelah secara resmi mempromosikan startup AI bernama Black Forest Labs, dengan menyatakan bahwa ia telah menggunakan teknologi tersebut untuk membantu perencanaan film-film terbarunya. Langkah ini mengejutkan banyak pihak mengingat Scorsese adalah salah satu ikon perfilman yang paling dihormati.
Dalam sebuah pernyataan kepada The New York Times pada Selasa lalu, Scorsese mengungkapkan kolaborasi ini bersamaan dengan dirilisnya video promosi dari Black Forest Labs. Video tersebut menampilkan sutradara berusia 83 tahun itu menggunakan alat generasi gambar AI untuk storyboarding, yaitu proses memvisualisasikan adegan menggunakan ilustrasi sebagai persiapan syuting. Menurut laporan, Scorsese telah menandatangani kontrak sebagai mitra dan penasihat perusahaan rintisan tersebut sejak tahun lalu.
Keputusan Scorsese untuk mendukung AI langsung menuai reaksi keras dari komunitas film. Banyak sineas dan penggemar merasa kecewa karena sang maestro dianggap mengkhianati nilai-nilai artistik yang selama ini diperjuangkannya. “Tidak bisa cukup ditekankan betapa mengecewakannya Martin Scorsese berkolaborasi dengan perusahaan AI dan menodai namanya di akhir hidup dan kariernya,” tulis seorang pengamat film di media sosial.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah dampak AI terhadap mata pencaharian para seniman, terutama storyboard artist. “Membuat storyboard artist kehilangan pekerjaan itu buruk dan seharusnya bukan menjadi pendapat yang kontroversial,” tulis pengguna lain dengan nada kesal. Jurnalis film Richard Newby bahkan mengungkapkan reaksi yang lebih ekstrem. “Saya merasa seperti ingin muntah,” cuitnya di Twitter.
Kekecewaan ini mudah dipahami mengingat posisi Scorsese dalam industri perfilman. Sutradara di balik film “GoodFellas” dan “Mean Streets” ini mempelopori gerakan yang melepaskan belenggu sistem studio lama dan melahirkan Renaisans perfilman Hollywood. Gaya sinematiknya yang khas, dengan penghormatan mendalam terhadap sineas asing seperti Akira Kurosawa hingga duo Michael Powell dan Emeric Pressburger, telah menciptakan karya-karya yang lebih stilistik dan transgresif. Scorsese juga dikenal karena pandangannya yang tajam terhadap isu-isu sosial.
Di luar perannya di belakang kamera, Scorsese juga merupakan pelopor penting yang memperjuangkan film-film internasional yang terabaikan dan membantu melestarikan sejarah perfilman melalui Film Foundation-nya. Dukungannya terhadap AI dianggap sebagai kemenangan besar bagi industri teknologi, namun menjadi pukulan telak bagi para seniman yang melihat AI sebagai ancaman tidak hanya bagi mata pencaharian mereka, tetapi juga bagi kreativitas itu sendiri.
Meskipun demikian, Scorsese secara sengaja membatasi cara ia memuji AI, meskipun hal ini kemungkinan kecil akan meredakan kemarahan kelompok anti-AI. Dalam video promosi dan pernyataannya kepada NYT, ia berhati-hati untuk menekankan bahwa ia hanya menggunakan AI untuk storyboarding. Ia mengklaim bahwa alat tersebut memungkinkan timnya “bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas atau keahlian” selama tahap praproduksi.
“Selama 70 tahun, saya telah membuat storyboard saya sendiri,” kata Scorsese kepada NYT dalam sebuah pernyataan yang terkesan lebih seperti rilis resmi perusahaan daripada wawancara mendalam yang biasa ia berikan. “Selalu ada masalah tentang bagaimana Anda mengomunikasikan apa yang Anda lihat di kepala Anda kepada para pemain dan kru. Ada beberapa hal yang harus Anda lihat dan rasakan.”
“Sekarang dengan alat ini,” tambahnya, “saya bisa membagikan apa yang saya visualisasikan dengan lebih jelas dan efisien kepada tim kreatif saya—production designer, art designer, dan sinematografer.”
Namun, pembelaan ini tidak cukup meyakinkan banyak pihak. Rasa pengkhianatan terasa sangat dekat bagi salah satu penggemar Scorsese. “Storyboard Scorsese untuk Taxi Driver adalah inspirasi besar bagi saya, seorang seniman miskin, untuk merasa percaya diri menggambar ide untuk dibagikan kepada ilustrator kami,” keluh seorang pengembang gim indie. “Saya tidak bisa mengerti mengapa begitu banyak seniman generasi tua tergoda oleh sampah ini ketika mereka sudah memiliki segalanya.”
Baca Juga:
Polemik ini menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang peran AI dalam industri kreatif. Di satu sisi, teknologi seperti yang dikembangkan Black Forest Labs menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam proses produksi. Di sisi lain, penggunaannya memicu pertanyaan etis tentang penggantian tenaga kerja manusia dan dampaknya terhadap orisinalitas artistik.
Bagi para sineas dan pekerja kreatif, kasus Scorsese menjadi contoh nyata bagaimana tokoh yang paling dihormati sekalipun dapat terbelah antara inovasi teknologi dan nilai-nilai tradisional. Dampak dari kolaborasi ini kemungkinan akan terus bergema di industri film, memicu diskusi lebih lanjut tentang batasan penggunaan AI dalam seni.
Implikasinya jelas: keputusan Scorsese untuk mendukung AI bukan sekadar langkah pribadi, melainkan sinyal kuat tentang arah industri film ke depan. Bagi para seniman yang menggantungkan hidup pada keterampilan manual dan tradisional, ini adalah pengingat bahwa batas antara alat bantu dan pengganti semakin kabur.
Dengan Scorsese sebagai sosok terkemuka yang justru merangkul AI, banyak pihak kini bertanya-tanya: apakah ini awal dari era baru di mana teknologi mengambil alih peran kreatif manusia? Atau justru sebaliknya, ini adalah kesempatan untuk mendefinisikan ulang hubungan antara seniman dan alat yang mereka gunakan? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan industri perfilman global.
