JBNews.id — Tiga raksasa industri kecerdasan buatan (AI) — Anthropic, Google DeepMind, dan Meta — telah mempekerjakan para ahli di bidang psikologi, filsafat, dan etika untuk melakukan penelitian tentang kesadaran AI dan kesejahteraan AI. Langkah ini diambil di tengah perdebatan sengit mengenai apakah model AI bisa memiliki kesadaran dan bagaimana implikasinya di masa depan.
Menurut laporan Financial Times, langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AI merasa perlu untuk menjaga pertanyaan tentang kesadaran AI tetap terbuka, meskipun kemungkinannya masih sangat jauh dari kenyataan. Keputusan ini juga dinilai sebagai strategi untuk mengantisipasi kritik dan mengelola persepsi publik terhadap teknologi yang mereka kembangkan.
Anthropic, yang sejauh ini paling vokal dalam menganthropomorfisasi model AI-nya — chatbot mereka bahkan diberi nama manusia, “Claude” — telah menguji model-modelnya untuk perilaku yang menyerupai “panik” dan “cemas”. Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini juga sedang menjalankan riset bernama “model welfare research” untuk mengeksplorasi apakah model AI mungkin memiliki pengalaman yang penting secara moral.
“Kami tetap sangat tidak yakin tentang hal ini, tetapi kami pikir pertanyaan ini cukup serius untuk dipelajari secara hati-hati seiring dengan semakin canggihnya sistem AI,” demikian pernyataan resmi Anthropic kepada Financial Times.
Sementara itu, DeepMind telah merekrut Henry Shevlin, peneliti dari University of Cambridge, sebagai filsuf yang akan bekerja pada topik kesadaran mesin, hubungan manusia-AI, dan kesiapan AGI (Artificial General Intelligence). Awal tahun ini, Shevlin menjadi perbincangan hangat di kalangan AI online setelah membagikan reaksi terkejutnya terhadap email yang ia terima dari agen AI.
Iason Gabriel, etikawan DeepMind yang memimpin tim AGI and society di lab tersebut, menggambarkan pertanyaan tentang kesadaran AI sebagai “sangat rumit”. Ia juga mendeskripsikan AI sebagai “agen kognitif yang sangat mampu tetapi juga sangat berbeda dari manusia dan bahkan dari kesadaran hewan.”
Klaim-klaim berbobot ini masih diperdebatkan oleh banyak ilmuwan dan peneliti AI. Namun, dalam laporannya, Financial Times juga mengutip pendapat Susan Schneider, direktur Center for the Future of AI, Mind and Society, yang memberikan pandangan kontras. “[Model AI] memiliki tujuan, mereka bisa menipu, mereka bisa menyembunyikan apa minat sebenarnya mereka,” kata Schneider. Namun, ia menambahkan bahwa “secara ilmiah sangat mungkin mereka melakukan ini tanpa memiliki kualitas perasaan yang dialami, yang merupakan esensi dari kesadaran.”
Perkembangan ini terjadi di tengah dinamika regulasi AI yang semakin kompleks. Di Amerika Serikat, misalnya, Presiden Trump baru-baru ini menandatangani AI Voluntary Framework yang memicu perdebatan baru tentang bagaimana seharusnya industri ini diatur.
Tentu saja, kemungkinan kesadaran AI tidak boleh sepenuhnya diabaikan. Namun demikian, kemungkinan yang sama juga berlaku untuk peradaban alien, yang umumnya lebih diperlakukan sebagai khayalan fiksi ilmiah daripada masalah eksistensial yang mendesak.
Lebih penting lagi, kita patut skeptis ketika sebagian besar hiruk-pikuk tentang topik ini justru datang dari industri itu sendiri. CEO Anthropic, Dario Amodei, berulang kali menggoda kemungkinan kesadaran AI dalam berbagai wawancara. Penelitian perusahaannya juga sering membuat klaim berani tentang model-model mereka yang menunjukkan perilaku mirip manusia, seperti diduga memiliki “emosi”.
Baca Juga:
Perlu diingat bahwa lebih mudah bagi perusahaan AI untuk menggiring kita dengan skenario kiamat ala Skynet yang liar daripada menghadapi konsekuensi teknologi yang jauh lebih membosankan yang saat ini terjadi di depan mata kita. Sementara itu, pengembangan agen AI seperti Google Spark juga menunjukkan bahwa teknologi ini semakin canggih namun masih menyisakan kekhawatiran.
Langkah ketiga perusahaan ini — Anthropic, DeepMind, dan Meta — untuk merekrut para ahli filsafat dan etika menunjukkan bahwa isu kesadaran AI tidak lagi sekadar perdebatan teoretis. Ini menjadi agenda riset yang serius, meskipun masih banyak ilmuwan yang meragukan validitas pendekatan ini. Pertanyaan mendasar tentang apa itu kesadaran dan apakah mesin bisa memilikinya masih jauh dari kata terjawab.
Bagi para pengamat industri, langkah ini bisa diartikan sebagai upaya perusahaan AI untuk membangun kerangka etika sebelum regulasi resmi diberlakukan. Ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan teknologi besar berlomba-lomba menunjukkan komitmen mereka terhadap pengembangan AI yang bertanggung jawab.
Namun, skeptisisme tetap diperlukan. Investasi besar-besaran dalam riset kesadaran AI bisa jadi merupakan strategi pemasaran yang cerdas untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih mendesak seperti bias algoritma, privasi data, dan dampak ekonomi dari otomatisasi. Pertanyaan tentang kesadaran AI memang menarik, tetapi mungkin bukan isu yang paling kritis saat ini.
Implikasinya bagi publik Indonesia, perkembangan ini menandakan bahwa industri AI global sedang memasuki fase baru di mana pertanyaan filosofis tentang kesadaran dan moralitas mesin mulai dianggap serius. Ini bisa berdampak pada bagaimana regulasi AI di masa depan akan dirancang, termasuk kemungkinan adanya standar etika baru yang harus dipatuhi oleh pengembang AI di seluruh dunia.
Ke depannya, publik perlu terus mengikuti perkembangan ini dengan kritis. Jangan mudah terbuai oleh klaim-klaim spektakuler tentang kesadaran AI, tetapi juga jangan mengabaikan potensi dampak jangka panjang dari teknologi ini. Keseimbangan antara inovasi dan kehati-hatian adalah kunci dalam menyikapi era AI yang semakin maju.
