Category: Tekno

  • Kurangi Penggunaan Teknologi, Kemampuan Membaca Siswa Melonjak Drastis

    Kurangi Penggunaan Teknologi, Kemampuan Membaca Siswa Melonjak Drastis

    JBNews.id — Sebuah eksperimen berani di sebuah sekolah menengah atas di Minneapolis, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengurangan drastis penggunaan teknologi di kelas mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam membaca hingga dua kali lipat dalam waktu kurang dari enam bulan.

    Maureen Mulvaney, seorang guru AP Literature dan Bahasa Inggris di Washburn High School, Minneapolis, memulai eksperimen tanpa teknologi (low-tech) ini tahun lalu. Ia frustrasi dengan maraknya plagiarisme, siswa yang mudah terdistraksi, serta tingkat literasi yang terus menurun. Dengan dukungan penuh dari orang tua, ia akhirnya melarang penggunaan ponsel dan laptop di kelas. Semua tugas sekolah harus dikerjakan dengan pensil dan kertas.

    Hasilnya terlihat cepat dan signifikan. Pada bulan September, sebelum eksperimen dimulai, hanya 46 persen siswa Mulvaney yang merasa percaya diri dengan kemampuan membaca mereka. Angka tersebut melonjak menjadi 95 persen pada bulan Februari. “Kami menghadapi banyak masalah dalam pendidikan, dan menurut para siswa saya, solusinya adalah dengan mengurangi penggunaan teknologi,” ujar Mulvaney kepada stasiun berita lokal KARE 11, seperti dikutip dalam laporan. “Kembali ke cara-cara lama. Hilangkan semua gangguan, dan kita bisa mendapatkan kembali anak-anak kita.”

    Mulvaney awalnya membiarkan siswanya beradaptasi secara bertahap. Mereka memulai hanya dengan membaca dan menulis tangan selama sepuluh menit. Namun, hari pertama terasa berat. Dalam esainya di The Minnesota Star Tribune, ia menulis bahwa sebagian besar siswa menyerah setelah menulis setengah halaman dengan tangan. “Saya bilang ke anak-anak, ini seperti angkat beban,” katanya. “Kamu tidak bisa langsung mulai dengan beban 80 pon.”

    Pada bulan Februari, sebagian besar siswa mampu menulis setidaknya dua halaman, dan beberapa bahkan menghasilkan lima hingga enam halaman. Sebanyak 79 persen siswa mengaku lebih mudah menuangkan dan mengatur pikiran mereka di atas kertas dibandingkan di layar komputer. “Sejujurnya ini sangat menyenangkan,” kata salah satu siswa, Rue Falbo. “Saya menikmati tidak menggunakan teknologi, dan saya rasa semua orang jadi lebih terhubung satu sama lain.”

    Siswa lain, Khalil Omar, mengatakan bahwa setelah eksperimen ini, ia lebih menikmati menulis dengan tangan daripada mengetik di laptop. “Di Chromebook, saya mungkin tergoda untuk mencari sesuatu, mencari definisi. Tapi saat menggunakan kertas, saya merasa bisa menulis untuk diri saya sendiri,” jelasnya. Seorang siswa lain menambahkan, “Saat menggunakan kertas, tidak ada godaan untuk menggunakan AI. Saya harus memaksa diri untuk menghasilkan ide sendiri.”

    Hasil eksperimen Mulvaney menjadi angin segar di tengah kekhawatiran para dosen dan guru yang mengeluhkan bahwa siswa mereka kehilangan kemampuan membaca. Kondisi ini diperparah dengan maraknya kecurangan yang difasilitasi oleh alat-alat kecerdasan buatan (AI). Banyak pihak menyalahkan AI dan ponsel, karena terdapat banyak bukti yang menunjukkan efek negatif keduanya terhadap kognitif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI mengganggu kemampuan berpikir kritis dan menyebabkan aktivitas otak yang lebih rendah saat menulis esai.

    Yang menarik dari keputusan Mulvaney adalah larangannya terhadap laptop. Selama ini, laptop sering luput dari kritik dalam diskusi serupa. Banyak sekolah melarang ponsel, tetapi tidak melarang laptop yang bisa digunakan siswa untuk bermain game, berbelanja, atau berinteraksi dengan model AI. Selama beberapa dekade, laptop dianggap sebagai alat belajar yang sangat diperlukan, namun para ahli kini mulai mempertanyakan asumsi tersebut.

    Kecepatan Mulvaney meraih hasil positif juga menjadi catatan penting. Hal ini menunjukkan bahwa masalah penurunan kemampuan kognitif akibat kecanduan perangkat digital mungkin tidak mustahil untuk diatasi. “Anak-anak tidak berubah,” tulis Mulvaney dalam op-ed-nya. “Pendidikanlah yang berubah, dan kita harus kembali ke apa yang berhasil.”

    Eksperimen di Minneapolis ini menjadi studi kasus menarik bagi dunia pendidikan global, termasuk di Indonesia. Di tengah gencarnya digitalisasi sekolah, pertanyaan tentang keseimbangan antara teknologi dan metode pembelajaran tradisional kembali mengemuka. Prestasi anak muda Indonesia di bidang teknologi, seperti yang ditunjukkan oleh dua developer RI yang bertemu Tim Cook di WWDC 2026, membuktikan bahwa penguasaan teknologi tetap penting. Namun, eksperimen ini mengingatkan bahwa fondasi literasi yang kuat mungkin justru lahir dari ruang kelas yang bebas dari gangguan digital.

    Implikasinya bagi para pendidik dan orang tua di Indonesia jelas: penggunaan teknologi di ruang belajar perlu dikaji ulang secara lebih mendalam. Bukan berarti teknologi harus dihilangkan sepenuhnya, melainkan diperlukan pendekatan yang lebih bijak dalam mengintegrasikannya ke dalam proses belajar-mengajar. Kemampuan membaca dan menulis yang baik tetap menjadi fondasi utama kesuksesan akademik, dan terkadang, cara terbaik untuk membangunnya adalah dengan kembali ke metode paling sederhana.

  • Biaya AI Membengkak, Perusahaan Teknologi Mulai Rem Penggunaan

    Biaya AI Membengkak, Perusahaan Teknologi Mulai Rem Penggunaan

    JBNews.id — Gelombang penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara masif di perusahaan teknologi mulai menemui titik balik. Para eksekutif kini dihadapkan pada kenyataan pahit: tagihan AI yang membengkak di luar kendali, mendorong mereka untuk membatasi penggunaan alat-alat AI oleh karyawan.

    Fenomena yang sebelumnya didorong oleh para CEO untuk memaksimalkan AI dalam setiap aspek operasional, dari coding hingga evaluasi kinerja, kini berubah menjadi kekhawatiran. “Ini akan menjadi mimpi buruk yang absolut,” ujar seorang eksekutif teknologi besar tanpa nama kepada The Economist, menggambarkan dilema perusahaan dalam menyeimbangkan biaya dan efisiensi AI.

    Biaya Token AI Melonjak Drastis

    Data terbaru dari Ramp AI Index menunjukkan bahwa perusahaan yang paling “kecanduan AI” menghabiskan rata-rata sekitar $7.500 per karyawan setiap bulannya. Angka ini mencerminkan betapa besarnya investasi yang dikeluarkan tanpa jaminan produktivitas yang sepadan.

    Kasus paling ekstrem terjadi di beberapa perusahaan. Seorang karyawan tunggal di sebuah perusahaan menghabiskan lebih dari $150.000 per bulan hanya untuk token AI. Seorang eksekutif Nvidia bahkan mengakui bahwa biaya AI untuk tim risetnya melebihi gaji yang dibayarkan kepada karyawan sebenarnya. Satu perusahaan dilaporkan kehilangan $500 juta dalam sebulan karena biaya penggunaan Claude.

    Ilustrasi ironis ini menjadi tamparan keras bagi para pendukung AI. Beberapa perusahaan seperti Amazon dan Meta sebelumnya bahkan menerapkan sistem papan peringkat (leaderboard) yang mendorong karyawan untuk menggunakan token AI sebanyak mungkin, seolah-olah sedang berkompetisi. Meta bahkan memasukkan penggunaan AI ke dalam evaluasi kinerja karyawan.

    Namun, semua itu kini mulai ditinggalkan. Amazon dan Meta telah menghapus papan peringkat AI mereka. Seorang eksekutif puncak Uber menyatakan bahwa AI tidak memberikan peningkatan produktivitas yang jelas dibandingkan biayanya yang mahal. Tak lama setelah pernyataan itu, Uber menerapkan batas token bulanan sebesar $1.500 per karyawan.

    Perang Harga Model AI Mengintai

    Kekhawatiran akan biaya AI tidak hanya berdampak pada perusahaan pengguna, tetapi juga pada pembuat model AI itu sendiri. Biaya token saat ini mungkin merupakan yang termurah yang pernah ada, karena secara efektif disubsidi oleh perusahaan penyedia model untuk menarik pelanggan.

    Pertanyaan kritis muncul: dapatkah perusahaan AI bertahan dengan harga rendah ketika jalan menuju profitabilitas masih belum jelas? OpenAI, yang dipimpin Sam Altman, dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk memangkas tarifnya secara drastis untuk memicu perang harga dengan saingan utamanya, Anthropic. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi langkah serupa dari Anthropic.

    Strategi ini memang bisa mengamankan lebih banyak pelanggan dalam jangka pendek dan meyakinkan dunia bisnis bahwa model AI mereka masih layak untuk diinvestasikan. Namun, semua mata akan tertuju pada kedua perusahaan untuk melihat apakah akses AI murah dapat berkelanjutan dalam jangka panjang, atau hanya langkah putus asa sebelum mereka mulai mengenakan tarif lebih tinggi lagi.

    Para ahli menyarankan perusahaan untuk menerapkan batas token pada karyawan, lebih selektif dalam penerapan AI, dan menggunakan model yang lebih murah. Langkah-langkah ini menjadi krusial di tengah sinyal perubahan yang jelas: dari euforia AI menuju kehati-hatian yang lebih besar dalam pengelolaan biaya.

    Implikasinya bagi pembaca: era AI murah dan tanpa batas mungkin akan segera berakhir. Perusahaan dan individu perlu mulai menghitung biaya riil dari penggunaan AI dan mempersiapkan diri untuk skenario di mana harga token AI naik secara signifikan.

  • Tukang Las SpaceX Kini Miliarder Usai IPO

    Tukang Las SpaceX Kini Miliarder Usai IPO

    JBNews.id — Juan Hernandez, seorang tukang las yang pernah bekerja di SpaceX selama satu dekade, mendadak menjadi miliarder setelah perusahaan roket milik Elon Musk resmi melantai di bursa saham. Debut perdana saham SpaceX di Nasdaq pada Jumat lalu mengubah hidup ribuan karyawannya, termasuk Hernandez yang kini memegang saham senilai lebih dari Rp18 miliar.

    SpaceX memulai perdagangan sahamnya di Nasdaq pada Jumat (12/6/2026) dengan simbol ticker SPCX. Harga saham perusahaan antariksa itu ditutup di angka USD 160,95 per lembar pada hari pertama. Dengan kepemilikan sekitar 6.500 saham, nilai investasi yang dimiliki Hernandez mencapai USD 1.046.175 atau setara dengan Rp18,5 miliar.

    Hernandez bergabung dengan SpaceX pada 2015 setelah direkomendasikan oleh seorang teman yang juga bekerja sebagai tukang las di sana. Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendengar tentang perusahaan tersebut. SpaceX menawarinya saham senilai USD 10.000 sebagai bagian dari paket kompensasi karyawan.

    “Itu bukan sesuatu yang besar. Saat itu saya tidak tahu apa-apa soal itu. Saya tidak tahu akan menjadi sebesar ini sekarang,” ujar Hernandez, seperti dikutip dari CBS, Selasa (16/6/2026).

    Selama 10 tahun bekerja di SpaceX, Hernandez bertugas sebagai tukang las yang menyiapkan roket untuk lepas landas. Ia membangun struktur yang membawa roket ke landasan peluncuran serta infrastruktur pendukung lainnya. Kariernya terus menanjak hingga akhirnya ia menjadi supervisor.

    Hernandez menuturkan bahwa kebijakan SpaceX yang menawarkan saham kepada karyawan memberikan dampak positif. Para pekerja merasa memiliki peran yang lebih besar dalam perusahaan dan termotivasi untuk bekerja lebih baik.

    “Mereka juga akan bekerja lebih baik karena, maksud saya, ini perusahaan mereka juga,” ucap Hernandez.

    SpaceXs next-generation Starship spacecraft atop its powerful Super Heavy rocket is prepared for launch as the moon rises over the companys Boca Chica launchpad, in Brownsville, Texas, U.S., November 16, 2024. REUTERS/Joe Skipper

    Saat ini, Hernandez bekerja di Blue Origin, startup roket milik Jeff Bezos. Meski telah menjadi miliarder dadakan, ia mengaku tidak akan berubah. Sebagai seorang imigran di Amerika Serikat, Hernandez bertekad terus bekerja keras dan mewariskan pengalamannya kepada anak-anaknya.

    Ia kini mengajari tiga orang anaknya, termasuk putrinya yang berusia 16 tahun, untuk berinvestasi. Sang putri sudah memegang saham Meta dan sejumlah perusahaan lainnya. Hernandez ingin keluarganya memahami pentingnya investasi berdasarkan apa yang ia pelajari sebagai pemilik saham SpaceX.

    IPO SpaceX tidak hanya mengubah hidup Hernandez. Peristiwa ini juga menjadikan Elon Musk sebagai triliuner pertama di dunia. Ribuan pegawai biasa SpaceX lainnya juga mendadak tajir berkat kepemilikan saham perusahaan.

    Jika diberi kesempatan berbicara langsung dengan Musk, Hernandez mengatakan ia akan berterima kasih. “Ia membantu orang-orang seperti kita, misalnya juru masak atau tukang listrik. Ia membuat kehidupan semua orang ini menjadi lebih baik dan berarti bagi keluarga mereka juga,” pungkasnya.

    Kisah Hernandez menjadi bukti nyata bagaimana program kepemilikan saham karyawan dapat menciptakan perubahan finansial yang dramatis. Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini juga sejalan dengan perkembangan teknologi terkini yang mengubah lanskap industri secara fundamental.

    Bagi para pekerja di sektor teknologi, kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memahami nilai kompensasi non-tunai. Saham perusahaan rintisan yang kemudian melantai di bursa bisa menjadi sumber kekayaan yang tak terduga, sebagaimana dialami oleh Hernandez dan ribuan karyawan SpaceX lainnya.

    Ke depan, kesuksesan IPO SpaceX diprediksi akan mendorong lebih banyak perusahaan teknologi untuk memberikan skema kompensasi serupa kepada karyawannya. Hal ini bisa menjadi tren baru dalam industri teknologi global yang semakin kompetitif dalam merebut talenta terbaik.

  • KSGC 2026 Buka Akses Pendanaan dan Pasar Korea untuk Startup Global

    KSGC 2026 Buka Akses Pendanaan dan Pasar Korea untuk Startup Global

    JBNews.id — K-Startup Grand Challenge (KSGC) 2026 memasuki tahun ke-11 dengan menawarkan akses pendanaan tanpa ekuitas hingga 950 juta won serta peluang kemitraan dengan lebih dari 20 konglomerat Korea. Program akselerasi inbound ini telah menarik 21.537 pendaftar sejak 2016, menjadikannya program paling sukses di kawasan Asia.

    Berbeda dari program akselerasi lain yang hanya menawarkan eksposur, KSGC 2026 memberikan momentum bisnis nyata di Korea. Peserta mendapatkan akses ke pertemuan negosiasi, pembicaraan pendanaan, dan kemitraan korporat yang berujung pada peningkatan pendapatan dan pertumbuhan.

    Peluang Kemitraan dengan Konglomerat Korea

    KSGC memfasilitasi peluang kerja sama bagi perusahaan rintisan terpilih dengan lebih dari 20 konglomerat terkemuka Korea. Program ini menyediakan uji konsep (PoC) yang terstruktur serta kesempatan pengembangan bersama dengan para pemimpin industri yang mencari mitra inovasi. Satu proyek PoC di Korea saja dapat membuka akses ke seluruh rantai suplai regional.

    Selain PoC, KSGC juga memfasilitasi proses pencocokan bisnis secara berkelanjutan selama program berlangsung. Perkenalan bertarget diberikan kepada perusahaan, distributor, dan mitra strategis di berbagai sektor seperti AI, bioteknologi, fintech, manufaktur pintar, mobilitas, dan energi.

    Akses Investor di COMEUP 2026

    Di COMEUP 2026, festival perusahaan rintisan terbesar di Korea Selatan, para peserta KSGC mempresentasikan ide bisnis mereka di hadapan investor modal ventura dan CVC paling aktif di Korea. Acara ini diikuti dengan sesi lanjutan yang difasilitasi oleh panitia KSGC.

    Sesi hubungan investor swasta eksklusif mempertemukan para pendiri secara langsung dengan para investor modal ventura dan CVC terkemuka. Sesi ini memberikan akses ke investor yang sulit ditandingi oleh program lain di Asia.

    Dukungan Dana Tanpa Ekuitas

    KSGC 2026 membagikan hadiah uang tunai tanpa ekuitas sebesar 380 juta won kepada 20 tim teratas. Selain itu, hibah pengembangan usaha sebesar 250 juta won diberikan kepada 8 tim teratas. Dengan dukungan partisipasi dan komersialisasi yang disertakan, total dukungan tanpa ekuitas mencapai angka hingga 950 juta won.

    Program ini terbuka bagi perusahaan rintisan yang didirikan oleh orang non-Korea dan telah beroperasi kurang dari tujuh tahun (sepuluh tahun untuk teknologi modern), dari berbagai sektor industri. Tidak diwajibkan memiliki entitas di Korea.

    Fase 1 diselenggarakan secara daring sepenuhnya, dengan 80 tim yang terpilih untuk mengikuti program ini. Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 17 Juni 2026 pukul 15.00 GMT+9.

    Korea sebagai Pintu Masuk ke Asia

    Bagi perusahaan rintisan global, KSGC bukanlah tujuan akhir. Program ini menjadi titik awal ekspansi ke Asia. Jaringan korporat, hubungan dengan investor, dan kredibilitas pasar yang dibangun melalui program ini menjadi landasan untuk ekspansi ke Jepang, Asia Tenggara, dan wilayah lain.

    Para alumni KSGC telah berhasil mendirikan entitas di Korea, memperoleh kontrak perusahaan, dan menggalang modal lanjutan di seluruh kawasan yang lebih luas. Program ini didanai oleh Kementerian UKM dan Startup Korea (MSS), dikelola oleh Korea Institute of Startup & Entrepreneurship Development (KISED), dan dijalankan oleh Global Center for Entrepreneurship & Innovation (GCCEI).

    Perusahaan rintisan yang berminat disarankan untuk segera mendaftar. Pendaftaran dapat dilakukan di ksgc.global atau melalui email apply@ksgc.global.

    KSGC telah berjalan sejak 2016 dan membantu ratusan perusahaan rintisan internasional membangun kehadiran komersial di Korea dan Asia. Program ini menjadi salah satu program akselerasi paling bergengsi di kawasan.

    Bagi startup yang ingin memperluas jangkauan ke pasar Asia, KSGC 2026 menawarkan peluang yang sulit ditandingi. Kombinasi pendanaan tanpa ekuitas, akses ke konglomerat, dan jaringan investor membuat program ini relevan bagi perusahaan rintisan global yang serius mengembangkan bisnisnya.

  • Fisikawan Usulkan Bintang Mati Jadi Alam Semesta Baru

    Fisikawan Usulkan Bintang Mati Jadi Alam Semesta Baru

    JBNews.id — Dua fisikawan dari Goethe University Frankfurt mengusulkan teori baru yang menyatakan bahwa kematian bintang masif tidak selalu berujung pada lubang hitam, melainkan dapat melahirkan alam semesta mini yang sarat energi gelap. Teori ini diterbitkan dalam jurnal Physical Review D.

    Peneliti Daniel Jampolski dan Luciano Rezzolla mengemukakan bahwa ketika bintang raksasa kehabisan bahan bakar nuklir, alih-alih runtuh total menjadi lubang hitam, bintang tersebut dapat berhenti pada titik hampir runtuh. Pada titik ini, energi gelap memberikan tekanan ke luar yang menyeimbangkan gravitasi, mencegah keruntuhan total.

    “Ledakan Besar dari alam semesta yang muncul dapat terjadi setelah bintang hampir runtuh hingga menjadi lubang hitam,” jelas Jampolski dalam pernyataan resmi. Teori ini membangun jalur alternatif bagi bintang raksasa yang sekarat.

    Alih-alih menjadi lubang hitam dengan kepadatan tak terhingga, bintang mencapai keseimbangan saat energi gelapnya mendorong ke belakang tahap akhir keruntuhan. Kondisi ini mirip dengan batu bata yang mencegah pintu garasi menutup sepenuhnya.

    Secara spesifik, alam semesta baru akan berada di inti objek yang disebut “gravastar.” Gravastar telah dipahami sebelumnya sebagai objek dengan inti yang terbuat dari energi gelap, kekuatan kosmik hipotetis yang diperkirakan mencakup sekitar 68 persen dari total konten energi-massa alam semesta yang diketahui.

    Kondisi saat gravastar terbentuk, menurut Jampolski dan Rezzolla, tidak jauh berbeda dengan kondisi saat Ledakan Besar terjadi miliaran tahun lalu. Tekanan dari energi gelap memberikan tekanan ke luar yang cukup untuk menstabilkan gravastar, menghentikannya dari keruntuhan lebih lanjut.

    Dengan energi gelap yang cukup, gaya gravitasi ini dapat diseimbangkan, menghasilkan gravastar yang stabil. Jenis tekanan ke luar yang sama mendorong ekspansi alam semesta kita sendiri, menurut model saat ini.

    Para peneliti menekankan bahwa teori mereka tentang pembentukan gravastar yang stabil tidak serta merta menyangkal keberadaan lubang hitam. “Mencari alternatif lubang hitam tidak boleh menunjukkan skeptisisme terhadap lubang hitam, yang masih mewakili solusi paling alami dan paling sederhana untuk nasib keruntuhan gravitasi,” argumen Rezzolla.

    “Namun, sebagai ilmuwan pada umumnya, dan sebagai fisikawan teoretis pada khususnya, sangat penting untuk menjaga pendekatan yang tidak bias terhadap apa yang tidak kita ketahui dan karenanya mengeksplorasi baik kebijaksanaan yang diterima maupun interpretasi yang lebih eksotis,” tambahnya. “Sejarah mengajarkan kita bahwa tidak jarang yang terakhir menjadi yang pertama.”

    Teori ini membuka kemungkinan baru dalam memahami nasib bintang masif. Jika terbukti benar, gravastar dapat menjadi objek astronomi yang sepenuhnya baru, berbeda dari lubang hitam. Implikasinya bagi fisika fundamental sangat besar, karena menantang pemahaman kita tentang ruang, waktu, dan asal-usul alam semesta.

    Bagi pembaca, teori ini mengingatkan bahwa batas pengetahuan manusia terus bergerak. Apa yang dianggap mustahil hari ini, bisa menjadi kebenaran ilmiah di masa depan. Alam semesta, ternyata, masih menyimpan lebih banyak misteri daripada yang bisa kita bayangkan.

  • Rencana AI Preemption AS Terganjal Polemik KOSA dan Keterbatasan Waktu

    Rencana AI Preemption AS Terganjal Polemik KOSA dan Keterbatasan Waktu

    JBNews.id — Upaya terakhir lobi Big Tech untuk mengesahkan undang-undang AI federal yang komprehensif (preemption) di Kongres AS kini terganjal oleh polemik internal Partai Republik dan keterbatasan waktu menjelang reses musim panas. Rencana untuk menggabungkan aturan AI dengan undang-undang keselamatan anak (KOSA) justru memicu kebingungan di antara para pemangku kepentingan.

    Selama berbulan-bulan, para pelobi Big Tech di Washington mengejar “cawan suci” regulasi AI: preemption. Undang-undang ini akan menerapkan satu aturan AI di seluruh AS, menggantikan pendekatan negara bagian yang rumit secara hukum. Namun, upaya tersebut terus menemui hambatan politik yang signifikan. Kini, dengan kemungkinan Kongres beralih ke tangan Partai Demokrat yang lebih bermusuhan setelah pemilu paruh waktu, para pelobi berada dalam tekanan waktu yang sangat ketat.

    Laporan yang bocor awal pekan ini mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah memberi tahu kelompok keselamatan anak dan perusahaan Big Tech bahwa mereka akan mendukung serangkaian undang-undang keselamatan anak yang didukung oleh Senator Marsha Blackburn (R-TN), salah satu penulis Kids Online Safety Act (KOSA), sebagai bagian dari paket preemption. Meskipun keselamatan anak memiliki tumpang tindih yang berarti dengan AI, isu ini hanyalah satu aspek dari serangkaian masalah yang jauh lebih besar dan kompleks dalam undang-undang yang komprehensif: keselamatan model frontier, diskriminasi, dampak lingkungan, dan lainnya.

    Kebuntuan antara Gedung Putih dan DPR

    Kesepakatan potensial ini menemui satu kendala besar: Gedung Putih ternyata tidak memberi tahu anggota DPR dari Partai Republik bahwa mereka akan menggunakan versi KOSA milik Blackburn sebagai kendaraan legislatif. DPR baru saja mengesahkan versi KOSA mereka sendiri. Para anggota DPR dari Partai Demokrat yang telah bekerja sama dengan Blackburn dalam versi KOSA Senat juga dikabarkan tidak diberi tahu. Situasi ini menciptakan kebingungan total selama seminggu bagi para pendukung kedua kebijakan tersebut. Pertanyaan kuncinya adalah: akankah preemption AI dan keselamatan anak digabungkan untuk memastikan preemption ditandatangani menjadi undang-undang, tetapi versi keselamatan anak mana yang akan disahkan? Apakah KOSA Senat yang lebih ketat? Atau versi yang lebih longgar yang didukung oleh Pemimpin Mayoritas DPR Steve Scalise (R-LA)? Dan di mana posisi Gedung Putih dalam semua ini?

    “Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang mengemudikan ini,” kata seorang pelobi Partai Republik untuk perusahaan teknologi menengah kepada The Verge. “Semua orang sangat, sangat, sangat skeptis terhadap pergerakan [RUU] ini, karena semua orang berada di halaman yang sangat berbeda. Saya pikir DPR tidak akan menyetujui apa pun yang diinginkan Blackburn.”

    Meskipun pertarungan regulasi AI telah menyebabkan perpecahan besar antara pimpinan Partai Republik dan anggota populis mereka, Presiden Donald Trump sendiri telah menyerukan pengesahan RUU preemption AI. Ini berarti Partai Republik harus mewujudkannya. Para pembuat kebijakan Gedung Putih saat ini sedang mencoba untuk merumuskan pendekatan preemption yang dipengaruhi oleh Mike Davis, seorang pengacara sekutu Trump dan pendiri Article III Project, yang sebelumnya berhasil menggagalkan moratorium AI lain di Senat tahun lalu.

    Secara umum, untuk mendapatkan persetujuan Davis, undang-undang preemption harus secara berarti melindungi seperangkat nilai yang disebut Davis sebagai “Four Cs”: children (anak-anak), conservatives (konservatif), creators (kreator), dan communities (komunitas). Beberapa dari nilai-nilai itu termasuk dalam rancangan undang-undang AI komprehensif yang diusulkan Gedung Putih pada Maret tahun ini, dan dimasukkannya KOSA memenuhi persyaratan “anak-anak”. Namun, Davis mengatakan kepada The Verge bahwa ia menginginkan undang-undang tersebut mencakup keempatnya. “Tidak ada kemungkinan preemption AI akan lolos jika tidak membahas Four Cs. Saya akan memastikan itu. Lagi.”

    Perbedaan Versi KOSA dan Tekanan Waktu

    Mengesahkan KOSA, bagaimanapun, melibatkan rekonsiliasi perbedaan besar antara versi DPR dan Senat dari RUU yang sama. Versi Senat akan mewajibkan perusahaan teknologi untuk mengasumsikan “duty of care,” tindakan pencegahan untuk melindungi pengguna muda, dan akan memperpanjang tanggung jawab itu ke perusahaan AI juga. Namun, versi DPR, yang dipimpin oleh Scalise, melonggarkan ketentuan itu pada akhir November lalu, yang membuat marah para advokat keselamatan anak. Pengecualian DPR dari diskusi Gedung Putih, oleh karena itu, sangat mencolok bagi para pengamat. “[Blackburn] benar-benar tidak menginginkan KOSA versi DPR,” catat Michael Toscano, peneliti senior dan direktur Family First Technology Initiative untuk Institute for Family Studies yang konservatif.

    Bahkan jika Trump berhasil menggalang anggota DPR dari Partai Republik, mereka akan menghadapi masalah lain: anggota DPR dari Partai Demokrat, yang juga mengetahui negosiasi Blackburn dengan Gedung Putih pada saat yang sama dengan anggota DPR dari Partai Republik. Meskipun KOSA Senat disponsori bersama oleh Senator Richard Blumenthal (D-CT) dan disahkan dengan suara 91-3 pada tahun 2024, mereka tidak menyadari bahwa undang-undang mereka sekarang akan digandengkan dengan tujuan preemption AI yang tidak populer. “Jika mereka [Blackburn dan Gedung Putih] melihat RUU yang berdiri sendiri, itu harus melalui Senat,” kata seorang advokat kebijakan AI, mencatat bahwa versi baru dari RUU ini kemudian akan membutuhkan 60 suara — dan karena itu, suara Partai Demokrat — untuk lolos.

    Bahkan jika RUU itu memiliki popularitas tertentu, jadwal mungkin tidak memungkinkan. “Sekarang pertengahan Juni. Anda punya waktu satu setengah bulan sebelum orang-orang pergi untuk reses [lima minggu]. Dan kemudian musim pemilihan [umum],” kata advokat kebijakan AI. “Tidak mungkin.” Minggu-minggu yang tersisa dalam kalender legislatif sudah diserap oleh hal-hal yang lebih mendesak: pembaruan FISA, paket penindakan imigrasi, peningkatan belanja pertahanan untuk perang Trump dengan Iran, RUU struktur pasar kripto, langkah-langkah keterjangkauan, dan RUU pemilihan SAVE America yang kontroversial. Belum lagi item anggaran rutin seperti Medicaid.

    Menggabungkan preemption dan KOSA menghadirkan pilihan sulit bagi Big Tech: Apakah mereka menginginkan preemption AI federal yang menyeluruh lebih dari mereka menginginkan kekebalan dari “duty of care”? Dan mereka tidak punya banyak waktu untuk membuat pilihan ini, catat pelobi teknologi Partai Republik, terutama jika Partai Demokrat mengambil alih salah satu kamar. “Setelah pemilihan, insentif apa yang dimiliki Partai Demokrat untuk mendukung apa pun? Seperti, mengapa mereka tidak akan berkata, ‘Persetan, kami akan melakukan urusan kami di Kongres yang baru?’ Saya sangat skeptis.”

    Austin Carson, mantan kepala operasi hubungan pemerintah Nvidia dan pendiri SeedAI, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan akses AI untuk komunitas lokal, lebih skeptis bahwa pernikahan kenyamanan KOSA-preemption ini akan berhasil. “Saya tidak bisa membayangkan skenario di mana [RUU ini] akan bergerak,” katanya kepada The Verge. “Saya tidak bisa membayangkannya.”

    Implikasi dari kebuntuan ini sangat jelas: tanpa adanya kesepakatan yang cepat, kemungkinan besar tidak akan ada undang-undang AI federal yang komprehensif dalam waktu dekat. Ini berarti perusahaan teknologi harus terus menghadapi regulasi yang berbeda-beda di setiap negara bagian, sebuah situasi yang tidak efisien dan mahal. Bagi para pelobi Big Tech, waktu adalah musuh terbesar mereka, dan dengan jadwal legislatif yang padat dan perpecahan politik yang dalam, peluang untuk mencapai preemption tampaknya semakin menipis.

    Ketidakpastian ini juga menciptakan dilema bagi perusahaan yang bergerak di sektor AI. Di satu sisi, mereka mendambakan kepastian hukum melalui regulasi federal yang seragam. Di sisi lain, mereka harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam undang-undang yang terlalu ketat, terutama yang berkaitan dengan “duty of care” yang dapat membuka celah litigasi. Sementara itu, para advokat keselamatan anak melihat peluang untuk mengamankan perlindungan yang lebih kuat bagi pengguna muda, meskipun harus melalui jalur legislatif yang rumit dan tidak pasti.

    Kisruh ini menunjukkan bahwa bahkan dengan dukungan presiden sekalipun, mengesahkan undang-undang AI yang komprehensif di AS adalah tugas yang sangat berat. Pertarungan antara kepentingan bisnis, keselamatan anak, dan ideologi politik menciptakan labirin yang sulit dinavigasi, terutama dalam waktu yang sangat terbatas. Masa depan regulasi AI di Amerika Serikat, setidaknya untuk saat ini, masih menggantung.

  • Roblox Uji Coba Verifikasi Usia Wajah Demi Keamanan Anak

    Roblox Uji Coba Verifikasi Usia Wajah Demi Keamanan Anak

    JBNews.id — Roblox mulai menguji coba teknologi verifikasi usia berbasis pemindaian wajah (video selfie) untuk memastikan penggunanya benar-benar berusia sesuai yang diklaim. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan global agar platform digital lebih serius melindungi anak-anak dari konten dan interaksi yang tidak sesuai.

    Wakil Presiden Roblox untuk Kebijakan Produk Keamanan, Eliza Jacobs, menyatakan optimismenya terhadap teknologi baru ini. “Mencentang kotak untuk mengatakan Anda berusia 13 tahun atau lebih, itu sudah tidak cukup lagi,” ujar Jacobs kepada NBC News, seperti dikutip dalam laporan yang menjadi acuan artikel ini.

    Roblox mengklaim teknologi estimasi usia wajah mereka mampu mendeteksi usia anak dalam rentang yang sangat akurat. Jacobs menyebutkan bahwa perkiraan tersebut biasanya “berada dalam 1,4 tahun dari usia pasti seorang anak.” Akurasi ini menjadi kunci untuk menyaring pengguna berdasarkan kelompok usia yang tepat.

    Pengujian dengan Anak-Anak dan Hasilnya

    Untuk menguji ketangguhan sistem ini, NBC News mengundang sekelompok anak-anak untuk mencoba proses verifikasi usia Roblox. Salah satu skenario yang diuji adalah apakah anak-anak dapat mengelabui sistem dengan menggunakan kumis palsu. Hasilnya, mereka tidak berhasil melewati verifikasi tersebut, menunjukkan bahwa teknologi pengenalan wajah Roblox cukup canggih untuk mendeteksi upaya pemalsuan fisik.

    Keberhasilan uji coba ini menjadi modal penting bagi Roblox untuk melanjutkan implementasi teknologi tersebut secara lebih luas. Sebelumnya, pada April 2026, Roblox telah mengumumkan rencana untuk menggunakan teknologi estimasi usia berbasis video selfie guna mengelompokkan pemain ke dalam kategori usia tertentu.

    Pembatasan Akun Berdasarkan Usia

    Saat ini, sistem pengelompokan usia Roblox sudah mulai diterapkan. Pengguna di bawah 16 tahun secara otomatis ditempatkan ke dalam akun Roblox Select, sementara pengguna di bawah 9 tahun masuk ke dalam akun Kids. Kedua jenis akun ini memiliki akses terbatas ke fitur chat dan jenis permainan tertentu. Selain verifikasi wajah, pengguna juga dapat menggunakan kartu identitas pemerintah (government ID) untuk memverifikasi usia mereka. Orang tua juga diberikan opsi untuk mengatur kelompok usia anak mereka secara manual.

    Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Roblox untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman. “Kami memiliki visi jangka panjang tentang keamanan dan kesopanan di platform yang kami bangun dan yakini,” tegas Jacobs.

    Dampak pada Jumlah Pengguna

    Penerapan verifikasi usia yang lebih ketat ini bukannya tanpa konsekuensi. Pada April 2026, Roblox melaporkan adanya penurunan jumlah pengguna harian (daily users) setelah menerapkan pemeriksaan usia. Meskipun demikian, Jacobs tetap pada pendiriannya. “Tidak masalah jika beberapa orang tidak selalu senang dengan hal itu,” ujarnya, menegaskan komitmen perusahaan terhadap keamanan di atas segalanya.

    Penurunan pengguna ini menjadi indikator bahwa sebagian pemain mungkin tidak nyaman dengan proses verifikasi yang lebih ketat, atau mungkin ada pengguna di bawah umur yang sebelumnya mengaku lebih tua dan kini tidak bisa lagi mengakses konten tertentu. Namun, bagi Roblox, ini adalah harga yang harus dibayar untuk menciptakan ekosistem yang lebih aman.

    Langkah Roblox ini sejalan dengan tren industri teknologi global yang semakin ketat dalam melindungi anak-anak di dunia digital. Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga telah menagih komitmen platform digital untuk melindungi anak dengan tenggat waktu yang ketat. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan regulasi terhadap platform seperti Roblox akan terus meningkat.

    Teknologi verifikasi usia berbasis wajah ini juga membuka peluang integrasi dengan platform lain. Misalnya, FIFA Piala Dunia yang dibawa ke Roblox dengan skor langsung, atau prediksi EA Sports FC tentang juara Piala Dunia 2026, semuanya membutuhkan basis pengguna yang terverifikasi usianya agar konten dapat disajikan secara tepat.

    Bagi para orang tua, langkah Roblox ini memberikan alat yang lebih baik untuk mengawasi aktivitas anak-anak mereka di platform. Dengan adanya verifikasi wajah dan opsi pengaturan manual, orang tua memiliki kendali lebih besar terhadap jenis konten dan interaksi yang dapat diakses oleh anak-anak mereka.

    Ke depannya, Roblox berencana untuk terus menyempurnakan teknologi ini. Jacobs mengakui bahwa sistem ini masih akan terus berkembang dan menjadi lebih baik seiring waktu. “Kami optimistis bahwa teknologi estimasi usia wajah ini akan terus menjadi lebih baik,” pungkasnya.

    Implikasi dari langkah ini sangat jelas: era anonimitas dan klaim usia tanpa verifikasi di platform game online mungkin akan segera berakhir. Roblox, sebagai salah satu platform terbesar di dunia dengan basis pengguna anak-anak yang masif, menjadi pionir dalam penerapan teknologi ini. Jika berhasil, bukan tidak mungkin platform lain akan mengikuti jejak serupa, mengubah lanskap keamanan digital untuk anak-anak secara fundamental.

  • Morale Anjlok di Tim AI Meta: Tugas “Soul-Crushing” Picu Protes

    Morale Anjlok di Tim AI Meta: Tugas “Soul-Crushing” Picu Protes

    JBNews.id — Rencana ambisius Mark Zuckerberg membangun unit “Superintelligence” di Meta justru berujung pada krisis moral di internal perusahaan. Sebuah laporan mengungkap bahwa ribuan karyawan di tim Applied AI mengalami tekanan kerja berat dan kejenuhan luar biasa akibat tugas-tugas rutin yang dianggap tidak bermakna.

    Tim Applied AI yang beranggotakan 6.500 staf, dibentuk pada Maret lalu untuk mendukung Superintelligence Labs, kini dilanda demoralisasi. Tiga karyawan yang berbicara secara anonim kepada Wired menggambarkan tugas mingguan mereka, seperti membuat teka-teki untuk menguji keandalan model AI Meta, sebagai pekerjaan yang “soul-crushing” atau menghancurkan jiwa.

    “Ini benar-benar seperti gulag,” ujar salah satu karyawan kepada Wired. “Anda tiba-tiba tidak punya tujuan hidup, hampir tidak berinteraksi dengan siapa pun, Anda hanya memiliki tugas-tugas ini setiap minggu.”

    Suasana tegang bahkan sempat terjadi saat sebuah presentasi internal. Seorang pekerja yang kecewa menyela presentasi dan menuduh eksekutif AI Meta “menjadi budak perusahaan,” mendorong rekan-rekannya untuk menulis surat kepadanya dan “mengatakan bahwa dia adalah sampah.”

    Restrukturisasi yang berfokus pada AI di Meta telah menyebabkan ribuan karyawan dipecat, memaksa mereka yang tersisa untuk menanggung beban kerja tambahan. Salah satu karyawan yang di-PHK bahkan langsung ditahan oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) segera setelah pemecatan, sementara seruan rekan-rekan mereka kepada atasan tidak diindahkan.

    Lebih dari 1.600 karyawan telah menandatangani petisi yang menentang inisiatif baru yang dianggap drakonian. Inisiatif tersebut melibatkan pemasangan perangkat lunak di komputer kerja untuk melacak segala aktivitas karyawan, termasuk ketukan keyboard dan klik mouse. Data tersebut kemudian digunakan untuk melatih AI.

    “Visi yang kami bangun adalah di mana agen kami terutama melakukan pekerjaan, dan peran kami adalah mengarahkan, meninjau, dan membantu mereka berkembang,” kata chief technology officer Meta Andrew Bosworth kepada staf dalam memo April yang diperoleh Reuters.

    Meta juga berusaha keras mengendalikan krisis PR terkait pengawasan lainnya. Pekan lalu, Wired melaporkan bahwa Meta secara diam-diam telah mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah ke dalam kacamata pintarnya. Langkah ini menambah daftar panjang masalah yang harus dihadapi kepemimpinan Meta di tengah persaingan AI yang semakin ketat.

    Zuckerberg sendiri mengakui adanya “moral yang sangat rendah” di perusahaannya. Dalam memo pada Jumat lalu, ia menyatakan bahwa “kami telah membuat kesalahan dan hampir pasti akan membuat lebih banyak lagi.”

    “Saat kami melewati periode ini, saya juga fokus untuk memberikan stabilitas sebanyak mungkin ke depannya,” tambahnya.

    Zuckerberg berjanji bulan lalu bahwa PHK massal akan dihentikan setidaknya selama tujuh bulan ke depan. Namun, apakah upayanya untuk mengendalikan kekacauan ini akan mampu menghidupkan kembali departemen AI yang kacau masih diragukan.

    Dalam memo pekan lalu, Zuckerberg secara khusus membahas moral di dalam tim Applied AI perusahaannya, menyebut pekerjaan kasar itu “sangat penting untuk memajukan model kami.”

    Namun, reaksi publik justru berbeda. Pengguna internet kesulitan untuk bersim simpati pada karyawan Applied AI. Argumen mereka: para pekerja tahu apa yang mereka hadapi saat bergabung dengan Meta.

    “Zuckerberg hanya bisa membangun spyware yang menghabiskan sumber daya bangsa karena mereka rela mengambil uangnya,” komentar seorang pengguna pada laporan Wired. “Sekarang tiba-tiba mereka merasa teraniaya karena sedikit tidak nyaman saat membangun kerajaan sampahnya? Ayolah.”

    “Jadi para karyawan ini baik-baik saja dengan menciptakan AI yang menghancurkan jiwa yang akan dipaksakan pada pekerja lain di perusahaan lain atau yang akan mengambil pekerjaan mereka,” tulis pengguna lain, “asalkan mereka merasa pekerjaannya menantang?”

    Krisis di tim AI Meta ini menjadi gambaran nyata dari Meta Lisensi Software Pengenalan Wajah yang kontroversial dan Meta Rahasiakan Fitur Pengenalan Wajah di perangkatnya. Pertanyaan besarnya adalah apakah Zuckerberg mampu membalikkan keadaan sebelum kehilangan lebih banyak talenta terbaiknya.

    Ilustrasi Mark Zuckerberg dengan latar belakang gelap dan tegang.

  • Bos Xbox Siapkan PHK Besar dan Reset Perusahaan

    Bos Xbox Siapkan PHK Besar dan Reset Perusahaan

    JBNews.id — CEO Xbox, Asha Sharma, berencana melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas anggaran dan bersiap memberhentikan sejumlah besar karyawan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi “reset” perusahaan di tengah tekanan keuangan yang semakin berat.

    Dilansir Bloomberg, Senin (15/6/2026), pengurangan karyawan pertama dijadwalkan terjadi pada Juli mendatang, segera setelah berakhirnya tahun fiskal perusahaan. Anggaran yang dipotong mencakup dana pemasaran dan beberapa area bisnis lainnya. Meskipun jumlah pasti karyawan yang terdampak belum diumumkan, beredar rumor bahwa 1.000 karyawan akan terkena PHK. Xbox menolak memberikan komentar terkait hal tersebut.

    Langkah ini diambil setelah Sharma secara terbuka mengakui tantangan keuangan yang dihadapi Xbox. Dalam sebuah email kepada karyawan yang kemudian dipublikasikan di blog Xbox berjudul “Next 100 Days: XBOX Reset”, terungkap bahwa kinerja perusahaan sedang tidak baik-baik saja.

    Data internal menunjukkan Xbox mengalami margin akuntabilitas sebesar 3% pada fiskal ini, dan pendapatan tahunan telah menurun hampir setengah miliar dolar. “Tidak termasuk Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir, kami telah menghabiskan lebih dari USD 20 miliar untuk investasi berkelanjutan dalam konten, platform, dan subsidi perangkat keras kami, tetapi pendapatan tahunan kami telah menurun hampir setengah miliar selama periode tersebut. Ke depannya, ini tidak dapat berlanjut,” tulis Sharma dalam pernyataannya.

    Krisis yang melanda Xbox tidak terjadi secara tiba-tiba. Penjualan bisnis hardware anjlok, perusahaan gagal menghadirkan sejumlah game sukses, dan layanan Game Pass mengalami stagnasi. Di bawah tekanan dari perusahaan induknya, Microsoft, untuk meningkatkan margin keuntungan, Xbox telah menghabiskan dua tahun terakhir untuk menutup studio, membatalkan pengembangan game, dan menaikkan harga.

    Sharma menegaskan Xbox perlu membangun kembali infrastruktur platformnya dan memikirkan ulang portofolio dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Perusahaan telah melakukan ekspansi untuk meningkatkan pasokan kontennya, termasuk merilis sejumlah game eksklusif seperti Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution, serta menurunkan harga layanan berlangganan Game Pass.

    Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Xbox sedang berada dalam fase transformasi yang kritis. Sebelumnya, Harga Xbox Game Pass yang naik drastis telah menyebabkan kehilangan jutaan pelanggan, memperparah kondisi keuangan perusahaan.

    Keputusan untuk melakukan PHK besar-besaran ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Asha Sharma dalam membawa Xbox keluar dari krisis. Para pengamat industri akan mencermati apakah strategi reset ini mampu mengembalikan profitabilitas perusahaan di tengah persaingan ketat dengan Sony dan Nintendo.

    Implikasinya bagi para pemain dan pelanggan Xbox adalah potensi perubahan besar dalam strategi konten dan layanan ke depannya. PHK besar-besaran ini diprediksi akan berdampak pada jadwal rilis game dan pengembangan hardware di masa mendatang.

    Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Microsoft akan memangkas 650 karyawan di divisi game Xbox. Langkah ini merupakan PHK ketiga di unit video games Microsoft.

    Krisis yang dialami Xbox juga memicu spekulasi tentang kemungkinan perubahan strategi konsol. Beberapa analis memperkirakan Microsoft akan semakin fokus pada layanan cloud gaming dan konten lintas platform, mengurangi ketergantungan pada penjualan hardware tradisional.

    Dengan pendapatan tahunan yang terus menurun dan biaya investasi yang membengkak, Xbox menghadapi tekanan untuk segera menunjukkan hasil nyata dari program reset ini. Langkah-langkah penghematan dan restrukturisasi yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu arah bisnis Xbox dalam jangka panjang.

    Bagi para penggemar Xbox, situasi ini menimbulkan ketidakpastian tentang masa depan platform yang mereka gunakan. Namun, komitmen Sharma untuk membangun kembali infrastruktur platform dan memikirkan ulang portofolio memberikan secercah harapan akan inovasi baru yang mungkin lahir dari proses transformasi ini.

    Ke depannya, Xbox harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk memangkas biaya dengan investasi yang diperlukan untuk tetap kompetitif. Kesalahan dalam mengeksekusi strategi reset ini bisa berakibat fatal bagi posisi Xbox di industri game global.

  • Jadwal Timnas MLBB di Asian Games 2026 Mulai 18 Juni

    Jadwal Timnas MLBB di Asian Games 2026 Mulai 18 Juni

    JBNews.id — Babak kualifikasi Asian Games 2026 untuk cabang esports Mobile Legends: Bang Bang akan dimulai pada 18 Juni 2026. Timnas Indonesia tergabung dalam Grup A bersama tujuh negara Asia Tenggara lainnya dan wajib finis di lima besar untuk melaju ke babak utama di Jepang.

    Fase kualifikasi ini akan diselenggarakan di Singapura selama empat hari, dari 18 hingga 21 Juni 2026. Format pertandingan yang digunakan adalah Single Round Robin best of 3 (Bo3). Artinya, setiap tim harus memenangkan dua dari tiga game dalam satu pertandingan untuk meraih kemenangan.

    Total ada 22 negara yang akan bertarung di babak kualifikasi ini. Mereka terbagi ke dalam empat grup. Grup A dihuni oleh delapan negara Asia Tenggara, sementara Grup B, C, dan D diisi oleh negara-negara dari Asia Barat, Asia Tengah, dan Asia Selatan.

    Berikut adalah pembagian grup selengkapnya berdasarkan pantauan detikINET, Senin (15/6/2026):

    Daftar Grup Kualifikasi

    Grup A: Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Vietnam, Filipina.

    Grup B: Iran, Arab Saudi, Yordania, UAE, Oman.

    Grup C: Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Tajikistan.

    Grup D: Nepal, Sri Lanka, Hong Kong China, Mongolia, Pakistan.

    Jadwal Timnas Mobile Legends di Asian Games 2026

    Selama babak kualifikasi, Timnas Mobile Legends Indonesia akan menjalani tujuh pertandingan. Berikut jadwal lengkapnya dalam Waktu Indonesia Barat (WIB):

    18 Juni 2026

    • Indonesia vs Laos — 16.00 WIB
    • Indonesia vs Vietnam — 19.30 WIB

    19 Juni 2026

    • Singapura vs Indonesia — 16.00 WIB

    20 Juni 2026

    • Indonesia vs Malaysia — 16.00 WIB
    • Indonesia vs Filipina — 19.30 WIB

    21 Juni 2026

    • Indonesia vs Myanmar — 16.00 WIB
    • Indonesia vs Kamboja — 19.30 WIB

    Format Pertandingan

    Format kelolosan berbeda antar grup. Untuk Grup A, lima tim teratas berhak melaju ke babak utama di Jepang. Sementara untuk Grup B, C, dan D, hanya tim yang finis di peringkat dua teratas yang lolos.

    Selain itu, akan ada pertandingan penentu untuk memperebutkan satu tiket terakhir ke babak utama. Tim yang berada di peringkat ketiga Grup B dan D akan saling bertarung untuk menentukan tim ke-12 yang berhak tampil di panggung utama Asian Games 2026.

    Ini menjadi momen krusial bagi timnas Indonesia. Dengan jumlah pertandingan yang padat dalam empat hari, konsistensi permainan menjadi kunci utama. Para pemain harus mampu menjaga performa di setiap laga, terutama melawan lawan-lawan kuat seperti Filipina dan Vietnam yang juga memiliki basis pemain Mobile Legends yang solid.

    Bagi penggemar esports di Indonesia, perjuangan timnas ini layak untuk diikuti. Kesuksesan di babak kualifikasi akan membuka jalan menuju babak utama di Jepang, sebuah panggung bergengsi di ajang multicabang terbesar se-Asia.

    Persaingan di Grup A dipastikan ketat. Selain Indonesia, ada tujuh negara lain yang juga mengincar tiket ke Jepang. Malaysia dan Filipina menjadi rival terdekat yang patut diwaspadai. Namun, dengan persiapan yang matang, timnas Indonesia memiliki peluang besar untuk melaju ke babak utama.

    Implikasi dari hasil kualifikasi ini sangat besar bagi perkembangan esports di Indonesia. Jika berhasil lolos, ini akan menjadi prestasi bersejarah dan semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama Mobile Legends di Asia Tenggara.

    Seluruh pertandingan kualifikasi ini akan menjadi ajang pembuktian bagi skuad timnas yang mayoritas diisi oleh pemain dari tim Alter Ego. Konsistensi dan kerja sama tim akan menjadi faktor penentu di turnamen bergengsi ini.

    Untuk informasi lebih lanjut seputar perkembangan teknologi dan inovasi, Anda dapat membaca artikel tentang NASA X-59 yang baru saja memecahkan rekor kecepatan suara.