Category: Tekno

  • IPO OpenAI dan Anthropic, Ujian Terberat Industri AI Segera Dimulai

    IPO OpenAI dan Anthropic, Ujian Terberat Industri AI Segera Dimulai

    JBNews.id — Industri kecerdasan buatan (AI) global akan menghadapi ujian terberatnya dalam waktu dekat. OpenAI, Anthropic, dan SpaceX bersiap melantai di bursa saham, membawa serta valuasi gabungan yang hampir menyentuh triliunan dolar. Langkah ini menandai transisi dari pengawasan pasar privat yang longgar menuju tekanan ketat Wall Street yang menuntut pertumbuhan eksplosif.

    OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, menjadi raksasa AI terbaru yang mengumumkan rencana penawaran umum perdana (IPO). Langkah ini menyusul pernyataan Anthropic yang telah mengajukan IPO secara rahasia. Sementara itu, SpaceX yang menaungi xAI milik Elon Musk, sudah lebih dulu melakukan debut pasar yang spektakuler.

    Tekanan Wall Street Mulai Terasa

    Ketiga IPO ini diharapkan dapat memberikan gambaran paling jelas mengenai kondisi pasar AI saat ini. Potensi dana yang bisa diraup mencapai ratusan miliar dolar dari penjualan saham besar-besaran. Namun, konsekuensinya juga berat: bisnis AI yang selama ini berkembang di bawah radar harus siap menghadapi pengawasan jauh lebih ketat.

    “Ekspektasi yang tampaknya masih bisa dikendalikan di pasar privat dapat berubah menjadi tekanan tanpa henti di bawah sorotan kepemilikan publik,” ujar Nigel Green, CEO firma penasihat keuangan deVere Group, kepada CNN.

    Tekanan itu sudah terbukti nyata. Broadcom, mitra bisnis OpenAI dan Anthropic, melaporkan pertumbuhan pendapatan 48% pada kuartal kedua dan proyeksi pertumbuhan semikonduktor 180%. Namun, angka tersebut belum cukup membuat investor terkesan. Saham Broadcom anjlok lebih dari 13%, mencatatkan minggu terburuknya sejak September 2024.

    Saham-saham chip AI lainnya pun ikut tersungkur. Bahkan Nvidia, perusahaan publik paling bernilai di dunia, menghadapi pengawasan serupa. Pada Januari 2025, produsen chip AI tersebut kehilangan rekor nilai pasar sebesar USD 600 miliar dalam sehari setelah DeepSeek, pesaing baru asal China, muncul di pasar.

    Kesiapan Finansial di Bawah Sorotan

    OpenAI dan Anthropic kemungkinan besar akan dinilai dengan standar yang sama seperti perusahaan teknologi lainnya. Wall Street akan mencari bukti bahwa kedua perusahaan memiliki jalur profitabilitas yang jelas dan uang tunai yang cukup untuk menopang pengeluaran besar-besaran pada infrastruktur AI.

    OpenAI telah memberi sejumlah sinyal positif. Perusahaan mengumpulkan dana sebesar USD 122 miliar pada bulan Maret, mendorong valuasinya menjadi USD 852 miliar. Pada bulan yang sama, mereka mengklaim meraup USD 2 miliar setiap bulan, naik signifikan dari sebelumnya USD 1 miliar per kuartal. ChatGPT juga menjadi aplikasi tercepat yang mencapai satu miliar pengguna bulan lalu, hanya dalam waktu sekitar tiga tahun—jauh lebih cepat dibandingkan TikTok atau YouTube yang membutuhkan lima hingga delapan tahun.

    Di sisi lain, valuasi Anthropic melonjak drastis dari USD 380 miliar pada bulan Februari menjadi USD 965 miliar pada bulan Mei, melampaui OpenAI. Untuk pertama kalinya pada bulan Mei, lebih banyak bisnis menggunakan Anthropic ketimbang OpenAI, menurut perusahaan fintech Ramp.

    Langkah IPO ini bisa menjadi indikasi bahwa OpenAI dan Anthropic telah cukup percaya diri terhadap jalur profitabilitas mereka untuk menghadapi kejamnya Wall Street. Analis kemungkinan juga akan mencecar CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei mengenai masa depan bisnis serta produk-produk mendatang.

    Implikasinya jelas: investor dan pengamat pasar kini memiliki tolok ukur baru untuk menilai kesehatan industri AI. Tekanan untuk mempertahankan pertumbuhan eksplosif akan menjadi ujian terberat yang pernah dihadapi para pemain besar AI. Bagi perusahaan rintisan AI lainnya, langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa era “uang murah” di sektor AI telah berakhir dan tuntutan profitabilitas akan semakin menguat.

  • Hyundai Ioniq V Resmi Meluncur, Baterai LFP Jarak Tempuh 620 Km

    Hyundai Ioniq V Resmi Meluncur, Baterai LFP Jarak Tempuh 620 Km

    JBNews.id — Hyundai resmi memperkenalkan mobil listrik bergaya fastback Ioniq V di ajang Beijing Auto Show 2026 dengan mengusung baterai LFP berkapasitas hingga 66,8 kWh yang mampu menempuh jarak 620 kilometer berdasarkan standar CLTC. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pabrikan asal Korea Selatan tersebut untuk memperkuat kembali posisinya di pasar China yang semakin kompetitif.

    Berdasarkan laporan Carnewschina pada Senin (15/6) waktu setempat, model yang dikembangkan melalui perusahaan patungan Beijing Hyundai ini memiliki panjang hampir lima meter. Ioniq V dibekali teknologi layar berukuran 27 inci dan motor listrik bertenaga 168 kW atau setara 225 hp pada varian tertingginya.

    Data dari China EV DataTracker menunjukkan bahwa Hyundai mencatat penjualan 6.500 unit kendaraan di China pada Mei 2026. Angka tersebut turun 8,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peluncuran Ioniq V diharapkan dapat membalikkan tren penurunan tersebut.

    Dua Varian Baterai dan Motor Listrik

    Menurut daftar terbaru kendaraan yang mendapatkan insentif pengurangan pajak pembelian dari Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) China, Hyundai Ioniq V tersedia dalam dua varian utama. Varian standar menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 53,5 kWh yang dipasok oleh CATL. Baterai tersebut dipadukan dengan motor listrik bertenaga 140 kW atau setara 188 hp.

    Kombinasi itu memungkinkan kendaraan menempuh jarak antara 520 hingga 540 kilometer berdasarkan standar CLTC, tergantung konfigurasi yang digunakan. Baterai pada varian dasar memiliki bobot 395 kilogram, sementara bobot kosong kendaraan berada pada rentang 1.707 hingga 1.737 kilogram.

    Untuk varian jarak jauh (long-range), Hyundai membekali Ioniq V dengan baterai LFP berkapasitas 66,8 kWh yang juga diproduksi oleh CATL. Paket baterai tersebut dipadukan dengan motor listrik bertenaga 168 kW atau sekitar 225 hp. Dengan konfigurasi tersebut, Hyundai Ioniq V mampu menempuh jarak antara 620 hingga 650 kilometer dalam siklus pengujian CLTC. Bobot baterainya mencapai 465 kilogram, sedangkan bobot kosong kendaraan berkisar antara 1.782 hingga 1.808 kilogram.

    Dimensi dan Desain Eksterior

    Secara dimensi, Hyundai Ioniq V memiliki panjang 4.900 mm, lebar 1.890 mm, tinggi 1.470 mm, dan jarak sumbu roda 2.900 mm. Ukuran tersebut menempatkannya di segmen mid-size yang kompetitif di pasar China.

    Desain eksteriornya mengusung siluet aerodinamis dengan kap mesin yang menyatu secara visual dengan kaca depan, menciptakan tampilan yang lebih modern dan futuristis. Fitur eksterior lainnya meliputi gagang pintu semi-tersembunyi serta lampu depan model terpisah (split headlamp).

    Teknologi Kabin dan Sistem Pengisian Daya

    Di dalam kabin, Hyundai menyematkan layar ganda berukuran 27 inci yang menjadi pusat informasi dan hiburan kendaraan. Teknologi ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen yang mencari pengalaman berkendara modern dan terhubung.

    Ioniq V juga dibekali sistem bantuan mengemudi canggih yang dikembangkan bersama Momenta serta arsitektur kelistrikan 800 volt. Arsitektur ini mendukung pengisian daya lebih cepat dan efisiensi energi yang lebih baik dibandingkan sistem 400 volt konvensional.

    Sebelum debut resminya, Ioniq V telah beberapa kali tertangkap kamera saat menjalani pengujian di jalan raya China. Hal ini menunjukkan bahwa Hyundai telah melakukan persiapan matang sebelum peluncuran resmi.

    Rencana Varian EREV

    Hyundai juga dikabarkan akan menghadirkan versi EREV (Extended Range Electric Vehicle) untuk Ioniq V pada tahap berikutnya. Varian ini akan menawarkan jangkauan yang lebih luas dengan menggabungkan motor listrik dan mesin pembakaran internal sebagai generator.

    Langkah ini sejalan dengan tren pasar China yang menunjukkan peningkatan permintaan terhadap kendaraan listrik dengan jangkauan diperpanjang. Konsumen di China semakin menginginkan fleksibilitas tanpa mengorbankan manfaat kendaraan listrik murni.

    Dengan peluncuran Ioniq V, Hyundai menunjukkan komitmennya untuk bersaing di segmen kendaraan listrik China yang sangat ketat. Baterai LFP dari CATL memberikan keseimbangan antara biaya produksi dan performa, sementara jarak tempuh hingga 620 km menjadi nilai jual utama.

    Bagi konsumen yang mencari mobil listrik dengan Fitur Terbaru dan teknologi canggih, Ioniq V menawarkan paket yang menarik. Sementara itu, bagi yang tertarik dengan tren kendaraan listrik secara lebih luas, perkembangan ini menunjukkan betapa cepatnya industri otomotif bertransformasi, mirip dengan inovasi pada Teknologi Terkini di sektor elektronik.

  • Diskon Steam 90%: Waktu Tepat Borong Game PC Murah

    Diskon Steam 90%: Waktu Tepat Borong Game PC Murah

    JBNews.id — Valve memberikan diskon hingga 90% untuk sejumlah game PC di platform Steam, menjadikan ini momen paling tepat bagi gamer untuk membeli game favorit dengan harga murah. Berdasarkan pantauan pada Selasa (16/6/2026), diskon besar-besaran ini mencakup berbagai judul populer dengan potongan harga yang signifikan.

    Salah satu game dengan diskon tertinggi adalah RoboCop: Rogue City, yang harga normalnya Rp 399.999 kini hanya Rp 39.999. Borderlands 3 juga mengalami penurunan harga drastis, dari Rp 555 ribu menjadi Rp 55.500 untuk versi Standar. Sementara versi Super Deluxe Edition dijual Rp 167.800 dari harga asli Rp 839 ribu.

    Bagi gamer dengan budget terbatas, ada beberapa judul yang bisa didapatkan dengan harga di bawah Rp 20 ribu. Carrion misalnya, dari harga normal Rp 165.999 kini hanya Rp 16.599. Blasphemous juga tidak kalah menarik, turun dari Rp 199.999 menjadi Rp 19.999.

    Periode diskon setiap game berbeda-beda. RoboCop: Rogue City misalnya, diskonnya berlaku hingga 26 Juni 2026. Sementara Resident Evil 2 yang saat ini dibanderol Rp 103.800 hanya dapat dinikmati sampai 19 Juni 2026. Gamer disarankan untuk mengecek halaman masing-masing game guna mengetahui batas waktu promo.

    Daftar Game Diskon Hingga 90%

    Berikut adalah daftar lengkap game PC yang mendapatkan diskon hingga 90% di Steam, dengan harga yang sudah dipotong:

    • Resident Evil Village – Rp 129.750
    • Resident Evil 3 – Rp 103.800
    • Like a Dragon: Infinite Wealth – Rp 197.250
    • Mafia III Definitive Edition – Rp 69 ribu
    • Hitman – Rp 210.399
    • Ninja Gaiden – Rp 270 ribu
    • Hunt: Showdown 1896 – Rp 102 ribu
    • Monster Hunter Wilds – Rp 364.980
    • Rust – Rp 164.500
    • Hearts of Iron IV – Rp 112.799
    • Final Fantasy VII Rebirth – Rp 291.600
    • Street Fighter 6 – Rp 245 ribu
    • EA Sports FC 26 – Rp 47.800
    • Football Manager – Rp 325 ribu
    • Rematch – Rp 122.999
    • Captain Tsubasa Rise of New Champions – Rp 47.880
    • Eternal – Rp 290.070

    Diskon besar-besaran ini menjadi kabar gembira bagi para gamer yang ingin menambah koleksi game PC tanpa harus menguras kantong. Dengan potongan harga mencapai 90%, banyak judul premium yang kini bisa didapatkan dengan harga sangat terjangkau.

    Valve sebagai pengembang platform Steam memang rutin mengadakan periode diskon besar seperti ini. Namun, diskon hingga 90% untuk puluhan game sekaligus tergolong jarang terjadi. Gamer disarankan untuk segera memanfaatkan kesempatan ini sebelum periode promo berakhir.

    Bagi yang tertarik dengan game olahraga, EA Sports FC 26 saat ini dijual hanya Rp 47.800, turun drastis dari harga normalnya. Sementara penggemar game petualangan bisa mendapatkan Like a Dragon: Infinite Wealth seharga Rp 197.250.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren teknologi terbaru, Anda bisa membaca artikel tentang Rencana AI Preemption AS yang tengah menjadi perbincangan hangat di industri teknologi.

    Dengan adanya diskon besar-besaran ini, gamer di Indonesia memiliki kesempatan emas untuk mendapatkan game-game berkualitas dengan harga miring. Pastikan untuk selalu mengecek halaman Steam secara berkala agar tidak ketinggalan promo-promo menarik lainnya.

  • Karyawan Meta Sebut Divisi AI Seperti Gulag

    Karyawan Meta Sebut Divisi AI Seperti Gulag

    JBNews.id — Semangat karyawan Meta dilaporkan memburuk akibat gelombang PHK yang terus berlanjut. Mereka yang dipindahkan ke divisi AI bahkan menyebut tempat kerja baru mereka sebagai ‘gulag’ atau penjara kerja paksa.

    Drama ini terungkap ketika seseorang membajak presentasi yang disiarkan langsung khusus untuk karyawan pekan ini. Pelaku meluapkan amarahnya dan mengajak peserta livestream untuk menghina seorang eksekutif senior Meta. Salah satu presenter dilaporkan menutupi wajahnya dengan tangan.

    Ledakan emosi itu, menurut laporan Wired yang dikutip TechCrunch, Selasa (16/6/2026), mencerminkan amarah yang terpendam dalam Applied AI. Unit ini berisi 6.500 engineer dan manajer yang ditugaskan untuk mendukung ambisi riset AI perusahaan.

    Dipindahkan Secara Mendadak

    Laporan Business Insider bulan lalu mengungkap banyak karyawan Meta yang kaget setelah dipindahkan ke divisi Applied AI. Mereka hanya diberi tahu lewat email dan salah satu karyawan mengatakan prosesnya cukup acak.

    Menurut pengumuman internal yang dilihat Business Insider, alasan pemindahan adalah karena model AI Meta masih kekurangan pengetahuan untuk melampaui kemampuan manusia dalam tugas teknis seperti coding. Karyawan ditugaskan membuat puzzle dan masalah coding untuk melatih model AI.

    Para karyawan yang dipindahkan menggambarkan bahwa mereka seolah diberi dua pilihan: bergabung ke Applied AI atau keluar. Banyak yang menyebut pekerjaan baru tersebut sebagai ‘wajib militer’.

    “Ini benar-benar seperti gulag,” kata seorang karyawan kepada Wired. “Kebanyakan orang menganggap pekerjaan ini sangat melelahkan jiwa,” ujar karyawan lain.

    Ketegangan internal ini sejalan dengan laporan sebelumnya tentang Ketegangan Internal Meta yang melibatkan ribuan karyawan.

    Petisi dan Lingkungan Kerja Brutal

    Bukan hanya di unit Applied AI yang semangat karyawannya buruk. Lebih dari 1.600 karyawan Meta kabarnya menandatangani petisi untuk memprotes program yang memantau klik dan penekanan tombol mereka untuk data pelatihan AI.

    Suasana di perusahaan milik Mark Zuckerberg ini cukup suram sampai Chief Product Officer Chris Cox merasa perlu untuk membahas lingkungan kerja yang ‘brutal’ dalam pertemuan dengan karyawan pekan ini.

    Fenomena PHK massal di industri teknologi bukan hanya terjadi di Meta. Sebelumnya, Ubisoft PHK 380 Karyawan dan menutup dua studio sebagai bagian dari restrukturisasi.

    Situasi di Meta menunjukkan tekanan besar yang dihadapi perusahaan teknologi dalam perlombaan kecerdasan buatan. Di satu sisi, Meta harus mempertahankan talenta terbaiknya, namun di sisi lain kebijakan PHK dan pemindahan paksa justru menciptakan ketidakpuasan di kalangan karyawan.

    Bagi para pengamat industri, kasus ini menjadi contoh bagaimana transisi ke AI bisa berdampak negatif pada moral karyawan jika tidak dikelola dengan baik. Implikasinya, Meta berisiko kehilangan talenta berharga di tengah persaingan ketat dengan perusahaan AI lainnya.

    Karyawan yang menolak kebijakan ini juga terlihat dalam aksi Karyawan Meta Tolak Hackathon AI yang menjadi simbol perlawanan terhadap tekanan internal.

    Belum ada pernyataan resmi dari Meta mengenai protes internal ini. Namun, ledakan emosi dalam presentasi langsung dan petisi yang ditandatangani ribuan karyawan menunjukkan bahwa masalah ini sudah mencapai titik kritis.

    Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri teknologi, situasi di Meta ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap inovasi AI, ada dampak nyata pada tenaga kerja yang perlu diperhatikan.

  • Chrome 151 Hapus Dukungan Ekstensi Ad Blocker Lama

    Chrome 151 Hapus Dukungan Ekstensi Ad Blocker Lama

    JBNews.id — Google akan menghentikan dukungan untuk ekstensi pemblokir iklan (ad blocker) lawas secara total pada Chrome versi 150 dan 151 yang dijadwalkan rilis akhir Juni dan Juli 2026. Langkah ini menandai akhir dari era Manifest V2, platform ekstensi yang selama bertahun-tahun menjadi andalan pengguna untuk menjalankan ad blocker populer seperti uBlock Origin.

    Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari keputusan Google pada tahun 2024 untuk menghentikan dukungan terhadap ekstensi berbasis Manifest V2. Sejak saat itu, sebagian besar pengguna Chrome telah beralih ke ad blocker versi baru yang kompatibel dengan Manifest V3, seperti uBlock Origin Lite, atau memilih untuk menggunakan browser lain. Kini, Google menghapus kode-kode terakhir yang merujuk pada platform Manifest V2, sehingga hanya ad blocker yang bekerja pada platform Manifest V3 yang dapat berfungsi di Chrome versi 151 dan seterusnya.

    Developer Google, Devlin Cronin, memberikan komentar terkait komit Chromium yang menyerukan penghapusan referensi terakhir ke Manifest V2. Cronin menjelaskan bahwa ekstensi Manifest V2 tidak lagi diizinkan di semua versi Chrome yang didukung. “Kami menghapus dukungan untuk mereka dan fungsionalitas terkait. Kami tidak akan dapat menyediakan/memelihara fungsionalitas ini tanpa batas waktu karena kompleksitas dan utang teknis, serta risiko keamanan yang ditimbulkannya,” ujar Cronin. Ia menambahkan bahwa timnya telah menemukan sejumlah bug yang spesifik untuk MV2 akhir-akhir ini. “Tentu saja, browser lain dapat terus mendukung ini jika mereka menginginkannya,” pungkasnya.

    Perubahan ini memiliki implikasi besar bagi jutaan pengguna yang masih bergantung pada ad blocker lawas. Meskipun sebagian besar telah beralih, masih ada pengguna setia yang menggunakan ekstensi seperti uBlock Origin. Dengan penghapusan total ini, mereka tidak punya pilihan selain beralih ke ekstensi berbasis Manifest V3 yang dianggap lebih terbatas dalam kemampuan memblokir iklan. Platform Manifest V3 dirancang Google dengan prioritas keamanan dan privasi yang lebih ketat, namun para pengembang ad blocker mengkritiknya karena membatasi efektivitas pemblokiran.

    Bagi pengguna yang tidak ingin beralih ke ekstensi baru, opsi lain adalah beralih ke browser yang masih mendukung Manifest V2. Beberapa browser berbasis Chromium, seperti Brave dan Vivaldi, telah menyatakan akan terus mendukung ekstensi lawas. Firefox dari Mozilla juga tidak terpengaruh oleh kebijakan Google karena menggunakan arsitektur ekstensi yang berbeda. Keputusan Google ini semakin memperkuat posisi browser alternatif di pasar.

    Perubahan ini juga berdampak pada ekosistem pengembang ekstensi. Para developer yang sebelumnya membangun ekstensi untuk Manifest V2 kini harus memigrasikan kode mereka ke Manifest V3. Proses ini memakan waktu dan sumber daya, terutama untuk ekstensi kompleks seperti ad blocker yang membutuhkan akses luas ke permintaan jaringan. Google telah memberikan masa transisi yang panjang, namun batas waktu akhir kini semakin dekat.

    Dalam konteks yang lebih luas, langkah Google ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengontrol lebih ketat ekosistem Chrome. Dengan membatasi kemampuan ekstensi, Google dapat mengurangi potensi penyalahgunaan dan meningkatkan keamanan browser. Namun, langkah ini juga menuai kritik dari komunitas pengguna yang menganggap Google terlalu dominan dalam menentukan fitur browser.

    Dari sisi bisnis, keputusan ini menguntungkan Google karena ad blocker mengurangi pendapatan iklan perusahaan. Dengan mempersulit penggunaan ad blocker yang efektif, Google dapat meningkatkan pendapatan dari iklan yang ditayangkan di Chrome. Ini menjadi isu sensitif mengingat Google adalah perusahaan induk dari Chrome dan juga raksasa periklanan digital. Perusahaan sebelumnya telah menegaskan bahwa perubahan ini didorong oleh alasan keamanan, bukan kepentingan bisnis.

    Bagi pengguna di Indonesia, dampak perubahan ini mungkin tidak langsung terasa. Namun, pengguna setia uBlock Origin dan ad blocker lawas lainnya perlu segera mencari alternatif. Ekstensi seperti uBlock Origin Lite atau AdBlock Plus versi terbaru sudah tersedia di Chrome Web Store dan kompatibel dengan Manifest V3. Meskipun fiturnya mungkin tidak selengkap versi lawas, ekstensi ini tetap efektif untuk memblokir sebagian besar iklan.

    Google juga telah menyediakan panduan migrasi bagi pengguna dan developer. Pengguna dapat memeriksa versi Chrome mereka dan memperbarui ekstensi secara manual. Developer dapat mengakses dokumentasi resmi Google untuk mempelajari cara memigrasikan ekstensi ke Manifest V3. Proses ini membutuhkan penyesuaian kode, terutama untuk ekstensi yang menggunakan webRequest API yang kini dibatasi.

    Penting untuk dicatat bahwa tidak semua ekstensi akan terpengaruh. Ekstensi sederhana seperti pengelola kata sandi atau pembaca mode gelap kemungkinan besar sudah kompatibel dengan Manifest V3. Hanya ekstensi yang membutuhkan akses luas ke permintaan jaringan, seperti ad blocker, yang mengalami perubahan signifikan. Pengguna disarankan untuk memeriksa kompatibilitas ekstensi mereka sebelum pembaruan Chrome dirilis.

    Bagi yang ingin tetap menggunakan ad blocker lawas, beralih ke browser lain adalah solusi paling praktis. Brave, misalnya, sudah memiliki fitur pemblokir iklan bawaan yang tidak memerlukan ekstensi. Firefox juga mendukung ekstensi uBlock Origin tanpa batasan. Pilihan browser alternatif ini semakin relevan bagi pengguna yang mengutamakan privasi dan kontrol atas pengalaman browsing mereka.

    Dalam jangka panjang, perubahan ini dapat memperkuat tren fragmentasi pasar browser. Pengguna yang kecewa dengan kebijakan Google mungkin akan beralih ke browser yang lebih ramah privasi. Hal ini dapat mendorong inovasi di kalangan browser alternatif dan mengurangi dominasi Chrome. Namun, Chrome masih menjadi browser paling populer dengan pangsa pasar lebih dari 60 persen, sehingga dampaknya mungkin tidak langsung signifikan.

    Google sendiri telah mengonfirmasi bahwa perubahan ini tidak akan mempengaruhi fungsionalitas dasar Chrome. Browser tetap akan berjalan normal, hanya saja ekstensi lawas tidak akan berfungsi. Pengguna yang tidak menggunakan ekstensi ad blocker mungkin tidak merasakan perubahan sama sekali. Namun, bagi pengguna yang mengandalkan ad blocker, perubahan ini memerlukan adaptasi.

    Dari sisi keamanan, Google berargumen bahwa Manifest V3 lebih aman karena membatasi akses ekstensi ke data pengguna. Ekstensi Manifest V2 memiliki akses luas yang dapat disalahgunakan oleh pihak jahat. Dengan membatasi akses ini, Google mengurangi risiko serangan siber melalui ekstensi. Argumen ini masuk akal, namun para kritikus menilai bahwa Google menggunakan alasan keamanan untuk membatasi kompetisi.

    Perubahan ini juga berdampak pada ekosistem iklan digital. Dengan ad blocker yang kurang efektif, pengiklan dapat menjangkau lebih banyak pengguna. Ini berarti pendapatan iklan digital dapat meningkat, terutama bagi Google yang mendominasi pasar periklanan online. Namun, pengguna mungkin akan melihat lebih banyak iklan yang mengganggu pengalaman browsing mereka.

    Bagi para pengembang, transisi ke Manifest V3 membutuhkan investasi waktu dan sumber daya. Google telah menyediakan alat migrasi otomatis untuk memudahkan proses ini. Namun, ekstensi kompleks mungkin memerlukan penulisan ulang kode secara manual. Google juga telah memperpanjang masa transisi beberapa kali untuk memberikan waktu yang cukup bagi developer.

    Di Indonesia, komunitas pengguna Chrome cukup besar. Banyak pengguna yang mengandalkan ad blocker untuk menghemat kuota data dan mempercepat loading halaman. Dengan perubahan ini, mereka perlu mencari solusi alternatif. Beberapa pengguna mungkin beralih ke browser lain, sementara yang lain akan mengadopsi ekstensi baru. Edukasi tentang perubahan ini penting untuk membantu pengguna beradaptasi.

    Google juga telah merilis pembaruan untuk Chrome Web Store yang memudahkan pengguna menemukan ekstensi kompatibel. Toko ekstensi sekarang menampilkan label khusus untuk ekstensi Manifest V3. Pengguna dapat memfilter pencarian untuk hanya menampilkan ekstensi yang didukung. Ini membantu mengurangi kebingungan saat mencari alternatif ad blocker.

    Dalam menghadapi perubahan ini, pengguna disarankan untuk proaktif. Periksa ekstensi yang terinstal dan pastikan semuanya kompatibel dengan Manifest V3. Jika belum, cari alternatif yang tersedia di Chrome Web Store. Jangan menunggu hingga pembaruan Chrome dirilis untuk bertindak, karena ekstensi lawas akan berhenti berfungsi secara otomatis.

    Google juga telah mengumumkan bahwa mereka akan terus memantau umpan balik pengguna terkait perubahan ini. Jika ada masalah signifikan, perusahaan mungkin akan melakukan penyesuaian. Namun, keputusan untuk menghapus Manifest V2 sudah final dan tidak akan diubah. Pengguna dan developer harus beradaptasi dengan realitas baru ini.

    Perubahan ini juga mempengaruhi pengguna yang menggunakan Chrome di perangkat seluler. Meskipun ekstensi di Chrome Android lebih terbatas, beberapa ad blocker tersedia. Dengan perubahan ini, ad blocker di Chrome Android juga harus kompatibel dengan Manifest V3. Pengguna smartphone perlu memperhatikan pembaruan ini agar tidak kehilangan fitur pemblokiran iklan.

    Dari perspektif industri, langkah Google ini menunjukkan arah pengembangan browser di masa depan. Keamanan dan privasi menjadi prioritas utama, bahkan jika itu berarti mengorbankan beberapa fungsionalitas. Browser lain kemungkinan akan mengikuti jejak Google, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Komunitas open-source mungkin akan mengembangkan solusi alternatif untuk mengatasi keterbatasan Manifest V3.

    Bagi pengguna yang ingin mempertahankan kontrol penuh atas pengalaman browsing mereka, beralih ke browser berbasis Firefox atau Brave adalah pilihan terbaik. Browser ini menawarkan fleksibilitas lebih besar dalam hal ekstensi dan privasi. Meskipun Chrome masih dominan, tren menuju browser yang lebih ramah privasi terus meningkat.

    Google juga telah menyediakan saluran komunikasi bagi pengguna yang mengalami masalah. Forum dukungan Chrome dan Chromium dapat digunakan untuk melaporkan bug atau memberikan umpan balik. Tim Google akan merespons dan membantu menyelesaikan masalah yang muncul. Partisipasi pengguna dalam memberikan umpan balik sangat berharga untuk meningkatkan pengalaman Chrome.

    Kesimpulannya, penghapusan dukungan Manifest V2 di Chrome 151 adalah langkah signifikan yang mengubah lanskap penggunaan ad blocker. Pengguna harus bersiap untuk beralih ke ekstensi baru atau browser alternatif. Meskipun perubahan ini mungkin tidak nyaman, Google berargumen bahwa ini diperlukan untuk keamanan dan stabilitas jangka panjang. Bagi pengguna yang mengutamakan privasi dan kontrol, opsi browser alternatif tetap tersedia dan terus berkembang.

    Langkah Google ini juga bertepatan dengan berbagai perkembangan lain di perusahaan. Seperti diberitakan sebelumnya, Google memesan 3 juta chip AI ke Intel yang mulai menggeser posisi TSMC. Selain itu, pengadilan Jerman baru-baru ini memvonis Google bertanggung jawab atas ringkasan AI yang dihasilkan sistem mereka. Kedua berita ini menunjukkan dinamika besar yang sedang terjadi di raksasa teknologi tersebut.

    Bagi para pengguna yang masih bingung, penting untuk memahami bahwa perubahan ini tidak akan terjadi dalam semalam. Chrome versi 150 akan dirilis akhir Juni, diikuti versi 151 pada Juli. Ini memberi waktu beberapa minggu bagi pengguna untuk mempersiapkan diri. Manfaatkan waktu ini untuk mengeksplorasi opsi yang tersedia dan membuat keputusan yang tepat.

    Google juga telah menyediakan dokumentasi lengkap tentang perbedaan antara Manifest V2 dan V3. Pengguna dan developer dapat mempelajari perubahan teknis yang terjadi. Dokumentasi ini mencakup contoh kode, panduan migrasi, dan FAQ. Sumber daya ini sangat berguna bagi siapa pun yang ingin memahami dampak perubahan ini secara mendalam.

    Pada akhirnya, keputusan ada di tangan pengguna. Apakah akan tetap setia pada Chrome dengan mengadopsi ekstensi baru, atau beralih ke browser alternatif yang lebih fleksibel. Yang jelas, era ad blocker lawas di Chrome telah berakhir. Saatnya untuk beradaptasi dengan realitas baru dan memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan.

  • Anthropic Blokir Akses Fable 5 dan Mythos 5 atas Perintah Pemerintah AS

    Anthropic Blokir Akses Fable 5 dan Mythos 5 atas Perintah Pemerintah AS

    JBNews.id — Anthropic, perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) di balik model Claude, memblokir akses ke dua model AI terbarunya, Fable 5 dan Mythos 5, pada 12 Juni 2026, setelah menerima perintah hukum dari Pemerintah Amerika Serikat. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa model-model tersebut dapat digunakan untuk membantu serangan siber.

    Perintah pemblokiran akses dari luar negeri itu diterbitkan hanya tiga hari setelah Anthropic meluncurkan Fable 5 dan Mythos 5 pada 9 Juni 2026. Saat peluncuran, Anthropic menyatakan bahwa “kemampuan Fable 5 melampaui model mana pun yang pernah kami rilis secara umum.” Sementara itu, Claude Mythos 5 disebut memiliki model dasar yang sama, “tetapi dengan pengamanan yang dilonggarkan di beberapa area.”

    Menurut laporan yang beredar, perintah tersebut dikeluarkan setelah serangkaian percakapan antara Amazon dan Gedung Putih. Percakapan itu dipicu oleh temuan para peneliti yang mengklaim berhasil mengeksploitasi celah pada Fable 5 untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan dalam serangan siber. Temuan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pejabat keamanan nasional AS.

    Menanggapi situasi ini, Anthropic dengan cepat mengambil tindakan dengan memblokir akses ke kedua model bagi seluruh pelanggan. Dalam pernyataan resminya, perusahaan tersebut mengatakan, “Kami mematuhi arahan hukum pemerintah dan menonaktifkan akses ke Fable 5 dan Mythos 5 untuk semua pengguna. Namun, kami tidak setuju bahwa temuan tentang potensi jailbreak yang sempit harus menjadi alasan untuk menarik model komersial yang telah digunakan oleh ratusan juta orang.”

    Kebijakan ini menandai eskalasi signifikan dalam hubungan antara perusahaan AI terkemuka dan pemerintah AS. Sebelumnya, Anthropic juga tengah menghadapi perselisihan terpisah dengan Pentagon. Keputusan untuk menarik model yang baru saja dirilis ini merupakan langkah yang jarang terjadi di industri teknologi dan menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara inovasi dan keamanan nasional.

    Fable 5 dan Mythos 5 merupakan model AI generasi terbaru dari Anthropic yang dirancang dengan kemampuan yang sangat canggih. Peluncuran kedua model ini sempat disambut antusias oleh komunitas pengembang dan peneliti AI. Namun, kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan teknologi ini akhirnya menjadi faktor utama yang memicu intervensi pemerintah.

    Kasus ini juga menjadi sorotan dalam konteks regulasi AI yang lebih luas di Amerika Serikat. Pemerintah AS saat ini tengah berupaya mempercepat pembentukan kerangka hukum untuk mengawasi pengembangan dan penyebaran AI. Salah satu inisiatif yang sedang dibahas adalah AI Preemption, namun upaya ini masih terganjal polemik KOSA dan keterbatasan waktu, sebagaimana dilaporkan dalam artikel Rencana AI Preemption AS.

    Perintah pemblokiran ini juga berpotensi memicu dampak luas pada industri AI global. Banyak pengembang dan perusahaan yang telah mengintegrasikan Fable 5 atau Mythos 5 ke dalam produk mereka kini harus mencari alternatif. Langkah ini juga dapat memengaruhi kepercayaan pasar terhadap kemampuan perusahaan AI untuk mematuhi regulasi yang berubah-ubah.

    Di sisi lain, insiden ini juga menyoroti kerentanan model AI terhadap jailbreak. Meskipun Anthropic menganggap temuan tersebut sempit, fakta bahwa peneliti berhasil mengeksploitasi celah keamanan pada model yang sangat canggih menunjukkan bahwa tantangan keamanan AI masih jauh dari selesai. Hal ini menjadi pengingat bagi seluruh industri untuk terus meningkatkan mekanisme pengamanan.

    Situasi ini juga memicu diskusi tentang tanggung jawab perusahaan AI dalam mengelola risiko keamanan. Beberapa pihak berpendapat bahwa perusahaan seperti Anthropic harus lebih proaktif dalam mengidentifikasi dan menambal celah keamanan sebelum meluncurkan model ke publik. Sementara itu, pihak lain menilai bahwa intervensi pemerintah yang terlalu cepat dapat menghambat inovasi dan daya saing AS di bidang AI.

    Dampak dari pemblokiran ini tidak hanya dirasakan oleh Anthropic, tetapi juga oleh ekosistem pengembang yang bergantung pada model-model tersebut. Banyak startup dan perusahaan kecil yang telah menginvestasikan sumber daya untuk mengintegrasikan Fable 5 dan Mythos 5 kini harus menghadapi ketidakpastian. Hal ini dapat memperlambat adopsi AI di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan hingga analisis data.

    Langkah pemerintah AS ini juga dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk menerapkan kebijakan serupa. Jika model AI dianggap sebagai ancaman keamanan nasional, maka pembatasan akses lintas batas bisa menjadi alat regulasi yang lebih sering digunakan. Hal ini berpotensi memecah belah ekosistem AI global menjadi blok-blok regional yang terisolasi.

    Anthropic sendiri belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Perusahaan tersebut kemungkinan akan berupaya bernegosiasi dengan pemerintah AS untuk mendapatkan izin agar dapat merilis kembali model-modelnya dengan pengamanan tambahan. Namun, hingga saat ini, belum ada jadwal pasti kapan akses akan dipulihkan.

    Bagi para pengguna dan pengembang yang terkena dampak, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi dalam penggunaan model AI. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu penyedia layanan dapat menimbulkan risiko operasional yang signifikan ketika terjadi perubahan kebijakan atau regulasi yang mendadak.

    Di tengah ketidakpastian ini, industri AI di Indonesia juga perlu mencermati perkembangan regulasi global. Meskipun perintah pemblokiran ini berlaku di Amerika Serikat, dampaknya bisa terasa hingga ke Indonesia mengingat banyak perusahaan rintisan dan pengembang lokal yang menggunakan model AI dari penyedia internasional.

    Ke depannya, kasus ini kemungkinan akan mendorong diskusi lebih lanjut tentang tata kelola AI yang lebih baik. Baik pemerintah maupun perusahaan swasta perlu duduk bersama untuk merumuskan kerangka kerja yang dapat mengakomodasi inovasi sekaligus menjaga keamanan nasional. Tanpa adanya keseimbangan yang tepat, industri AI berisiko menghadapi gejolak regulasi yang berkepanjangan.

    Implikasi faktual dari situasi ini sangat jelas: keamanan AI kini menjadi isu prioritas utama yang tidak bisa diabaikan. Perusahaan AI harus berinvestasi lebih besar dalam pengujian keamanan dan mekanisme mitigasi risiko sebelum meluncurkan model ke publik. Sementara itu, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang jelas dan konsisten agar tidak menimbulkan ketidakpastian yang merugikan inovasi.

    Bagi para pelaku industri di Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga. Penting untuk selalu memantau perkembangan regulasi AI di negara-negara maju karena kebijakan mereka sering kali menjadi acuan bagi regulator di negara lain. Selain itu, membangun kemandirian dalam pengembangan model AI juga bisa menjadi strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

    Dengan semua perkembangan ini, satu hal yang pasti: industri AI sedang memasuki fase baru yang lebih kompleks. Inovasi dan keamanan kini harus berjalan beriringan, dan perusahaan yang mampu menyeimbangkan keduanya akan menjadi pemenang di era baru ini.

  • Mahasiswa Stanford Boikot Pidato CEO Google Sundar Pichai

    Mahasiswa Stanford Boikot Pidato CEO Google Sundar Pichai

    JBNews.id — Ratusan mahasiswa Universitas Stanford melakukan aksi walk-out saat CEO Google, Sundar Pichai, hendak menyampaikan pidato kelulusan pada akhir pekan lalu. Aksi ini menjadi bentuk protes terhadap kontrak militer dan kepolisian yang dimiliki Google.

    Menurut laporan SF Gate yang dikutip Futurism, sekitar 200 mahasiswa meneriakkan yel-yel, meniup peluit, dan membentangkan spanduk saat Pichai naik ke podium. Mengingat Stanford hanya meluluskan sekitar 2.000 mahasiswa sarjana setiap tahun, aksi ini sangat terlihat dan menjadi sorotan utama acara tersebut.

    Protes ini merupakan respons atas sejumlah kontrak Google dengan militer dan lembaga kepolisian domestik, termasuk Israel Defense Forces (IDF) dan US Immigration and Customs Enforcement (ICE). Berbeda dengan protes wisuda lain yang fokus pada isu AI dan otomatisasi yang lebih abstrak, protes di Stanford kali ini memiliki nada yang lebih spesifik dan tajam.

    “Google secara aktif mendukung dan mengambil untung dari apartheid dan genosida Israel terhadap warga Palestina melalui Project Nimbus,” demikian pernyataan panitia protes dalam ikrar walk-out mereka. “Google juga telah memungkinkan penganiayaan tetangga kami oleh ICE. Tahun ini, Google DeepMind baru saja menyetujui kontrak AI Pentagon tanpa batas merah, mengkhianati permohonan para penelitinya sendiri untuk berhenti mempersenjatai perang.”

    Setelah walk-out, para pengunjuk rasa mengundang para wisudawan ke acara alternatif yang digelar tepat di seberang venue resmi. Acara tersebut menghadirkan Mahmoud Khalil sebagai pembicara utama. Khalil adalah aktivis terkemuka asal Aljazair-Palestina dan mantan aktivis mahasiswa di Columbia University. Ia ditangkap oleh agen ICE tanpa seragam pada Maret 2025, dan menghabiskan 104 hari di tahanan meskipun tidak pernah dihukum atau bahkan didakwa melakukan kejahatan.

    “Kami tidak perlu miliarder teknologi lain untuk memberi tahu kami cara menjadi kaya dari pembunuhan dan pengawasan terhadap warga Palestina dan imigran AS,” tulis pernyataan tersebut. “Ambil sikap menentang perdagangan perang. Katakan pada CEO Google bahwa dia tidak diterima. Bergabunglah dengan People’s Commencement alih-alih mendengarkan kata-kata kosong seorang CEO Google.”

    Di sisi lain, Pichai tampaknya sudah bersiap menghadapi protes yang berbeda. Belajar dari puluhan contoh pembicara wisuda yang dicemooh karena menyebut AI, Pichai memastikan untuk tidak menyinggung topik tersebut sama sekali. Sebaliknya, ia memilih untuk menyoroti kisah hidupnya sendiri, seperti dilaporkan SF Gate.

    Meski demikian, kenyataan bahwa ia tetap ditolak secara terbuka menunjukkan besarnya skala frustrasi terhadap industri teknologi. Ketidakpuasan itu telah tumbuh terlalu luas dan terlalu dalam untuk dihindari oleh pidato mana pun, sekalipun dirancang dengan hati-hati.

    Aksi walk-out mahasiswa Stanford ini menjadi bukti nyata bahwa resistensi terhadap keterlibatan perusahaan teknologi dalam konflik militer dan pelanggaran hak asasi manusia semakin kuat. Pichai, yang sebelumnya harus menghadapi protes terkait kebijakan AI, kini berhadapan dengan isu yang jauh lebih mendasar: etika bisnis dan tanggung jawab sosial.

    Protes ini juga menyoroti hubungan yang semakin tegang antara institusi pendidikan dan perusahaan teknologi besar. Mahasiswa tidak lagi hanya memprotes isu-isu internal kampus, tetapi juga kebijakan global dari perusahaan tempat mereka mungkin akan bekerja. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi baru pekerja teknologi memiliki standar etika yang lebih tinggi dan tidak segan untuk menyuarakannya.

    Bagi Pichai dan Google, aksi ini menjadi pengingat bahwa popularitas dan kesuksesan finansial tidak serta-merta membeli loyalitas. Di era di mana informasi mengalir cepat dan kesadaran sosial meningkat, perusahaan teknologi harus siap menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan bisnis yang mereka ambil.

    Ke depan, industri teknologi mungkin perlu mempertimbangkan ulang strategi keterlibatan mereka dengan institusi militer dan kepolisian. Jika tidak, protes serupa kemungkinan akan terus terjadi, tidak hanya di Stanford, tetapi di kampus-kampus lain di seluruh Amerika Serikat.

    Aksi ini juga menunjukkan bahwa isu Palestina dan imigrasi telah menjadi katalis penting dalam gerakan protes mahasiswa. Kehadiran Mahmoud Khalil sebagai pembicara utama dalam acara alternatif menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya menolak, tetapi juga menawarkan narasi dan kepemimpinan alternatif.

    Dengan demikian, walk-out ini bukan sekadar aksi simbolis. Ini adalah pernyataan politik yang jelas: mahasiswa Stanford menolak untuk diam ketika perusahaan teknologi yang mereka kagumi terlibat dalam praktik yang mereka anggap tidak etis. Dan mereka siap untuk mengambil tindakan nyata, bahkan jika itu berarti meninggalkan pidato kelulusan mereka sendiri.

    Seiring dengan perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, seperti yang terlihat pada AI di Tribeca, pertanyaan tentang etika dan tanggung jawab menjadi semakin mendesak. Mahasiswa Stanford telah memberikan contoh bahwa inovasi teknologi tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan.

    Sedangkan bagi para pemimpin industri, aksi ini adalah alarm. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan pidato inspiratif tentang perjalanan hidup pribadi untuk mengalihkan perhatian dari kebijakan kontroversial. Generasi baru tidak akan mudah teralihkan. Mereka menginginkan perubahan nyata, bukan sekadar kata-kata.

    Protes ini juga relevan dengan berbagai isu lain di industri teknologi, termasuk pesanan chip AI Google yang menunjukkan dominasi perusahaan dalam rantai pasok teknologi global. Kekuatan pasar yang besar ini justru menjadi sorotan ketika digunakan untuk kepentingan militer.

    Pada akhirnya, apa yang terjadi di Stanford adalah cerminan dari pergulatan yang lebih besar dalam masyarakat: bagaimana menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab etis. Dan mahasiswa telah memilih untuk berada di garis depan perjuangan ini.

  • Meta Aktifkan AI Mode di Facebook, Postingan Publik Jadi Data Latih

    Meta Aktifkan AI Mode di Facebook, Postingan Publik Jadi Data Latih

    JBNews.id, JAKARTA — Meta resmi meluncurkan AI Mode di Facebook, fitur pencarian bertenaga kecerdasan buatan yang mengambil data dari konten publik yang dibagikan pengguna di seluruh platform Meta. Fitur ini mulai diaktifkan pada hari ini, menandai langkah baru dalam integrasi AI generatif di media sosial.

    Alih-alih menampilkan “hanya tautan” seperti hasil pencarian konvensional, AI Mode memberikan jawaban yang dihasilkan AI berdasarkan postingan publik di ekosistem Meta. Pengguna akan melihat opsi “AI Mode” berdampingan dengan mode pencarian biasa seperti “People” dan “Marketplace” saat mencari di Facebook.

    Fitur ini merupakan salah satu dari beberapa inovasi AI yang diperkenalkan Meta secara bersamaan. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu juga meluncurkan preset foto yang dapat menukar seragam olahraga pada penggemar dan saran template kolase. Semua fitur tersebut dirancang untuk memperdalam keterlibatan pengguna di platform.

    Meta menyatakan bahwa AI Mode “menggunakan Meta AI untuk memberikan Anda jawaban yang didasarkan pada apa yang dibicarakan orang secara publik di aplikasi kami.” Model AI yang mendukung fitur ini, Muse Spark, disebut akan “seiring waktu membuka fitur baru yang mengutip rekomendasi dan konten yang dibagikan orang di Instagram, Facebook, dan Threads.”

    Cara Kerja dan Implikasi AI Mode

    Dalam praktiknya, AI Mode akan merangkum opini publik dari postingan yang bersifat publik di platform Meta untuk menjawab pertanyaan pengguna. Misalnya, saat seseorang mencari rekomendasi restoran atau ulasan produk, AI Mode dapat menyajikan ringkasan dari berbagai pendapat yang dibagikan di Facebook, Instagram, atau Threads.

    Pendekatan ini mirip dengan yang dilakukan Google, yang telah menarik informasi dari thread Reddit untuk hasil pencarian dan AI overviews-nya. Namun, perbedaannya terletak pada sumber data yang eksklusif dari ekosistem Meta sendiri, bukan dari web secara keseluruhan.

    Pengguna juga dapat mengajukan pertanyaan lanjutan kepada AI Meta sebagai respons terhadap hasil pencarian yang dihasilkan. Ini menciptakan pengalaman percakapan yang lebih interaktif dibandingkan pencarian statis tradisional.

    Konsekuensi dari fitur ini cukup signifikan: postingan publik di Facebook, Instagram, dan Threads kini menjadi bahan baku untuk melatih dan menginformasikan hasil AI. Pengguna yang tidak ingin kontennya digunakan untuk tujuan ini perlu memeriksa pengaturan privasi akun mereka.

    Dampak bagi Pengguna dan Privasi Data

    Peluncuran AI Mode ini memunculkan pertanyaan baru tentang privasi data di era AI generatif. Seperti halnya Pengadilan Jerman Vonis Google yang bertanggung jawab atas ringkasan AI, Meta kini menghadapi potensi tantangan serupa terkait konten yang dihasilkan dari data publik.

    Bagi pengguna biasa, implikasinya jelas: setiap postingan publik yang Anda buat di Facebook, Instagram, atau Threads berpotensi digunakan sebagai data latih untuk AI Meta. Ini bukan sekadar soal visibilitas, melainkan kontribusi langsung terhadap model AI yang akan memengaruhi miliaran pengguna lainnya.

    Meta belum mengungkapkan secara detail bagaimana pengguna dapat memilih keluar (opt-out) dari penggunaan data mereka untuk fitur ini. Perusahaan hanya menyatakan bahwa AI Mode “didasarkan pada apa yang dibagikan orang secara publik,” yang berarti postingan dengan pengaturan privasi “Hanya Teman” atau “Hanya Saya” seharusnya tidak terpengaruh.

    Perbandingan dengan Kompetitor

    Langkah Meta ini menempatkannya dalam persaingan langsung dengan Google dan perusahaan AI lainnya yang telah lebih dulu mengintegrasikan konten pengguna ke dalam hasil pencarian AI. Google, misalnya, telah menggunakan data dari Reddit untuk memperkaya AI overviews-nya, sebuah praktik yang menuai kontroversi di kalangan pengguna Reddit sendiri.

    Meta memiliki keunggulan unik: akses ke miliaran postingan publik dari tiga platform besar — Facebook, Instagram, dan Threads. Dengan Muse Spark yang dirancang untuk “membuka fitur baru yang mengutip rekomendasi dan konten,” Meta berpotensi menciptakan mesin rekomendasi yang sangat personal dan kontekstual.

    Namun, keunggulan ini juga menjadi titik rawan. Semakin banyak data publik yang digunakan, semakin besar risiko penyalahgunaan atau kesalahan dalam hasil AI. Kasus ASN Pandeglang Rugi Rp200 Juta akibat modus penipuan di Facebook menunjukkan bahwa platform ini tetap menjadi sasaran empuk bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Masa Depan AI di Platform Meta

    Peluncuran AI Mode hari ini hanyalah awal dari ambisi AI Meta yang lebih besar. Perusahaan telah mengindikasikan bahwa Muse Spark akan terus berkembang, memungkinkan fitur-fitur yang lebih canggih di masa depan. Integrasi lintas platform — dari Facebook, Instagram, hingga Threads — menciptakan ekosistem data yang sangat kaya untuk melatih model AI.

    Bagi pengguna di Indonesia, di mana Facebook dan Instagram masih menjadi platform media sosial dominan, dampak fitur ini akan terasa langsung. Postingan publik dalam bahasa Indonesia, termasuk dialek lokal dan istilah gaul, akan menjadi bagian dari data yang digunakan AI Mode untuk menjawab pertanyaan.

    Sementara itu, Meta juga tengah menjajaki teknologi lain seperti lisensi software pengenalan wajah dari perusahaan militer, menandai diversifikasi investasi AI perusahaan di luar ranah media sosial murni.

    Bagi pengguna yang khawatir dengan privasi, langkah paling bijak adalah meninjau ulang pengaturan privasi akun dan memastikan hanya konten yang memang ingin dibagikan secara publik yang tetap terbuka. Di tengah larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun di Inggris, isu perlindungan data pengguna semakin menjadi perhatian global.

    AI Mode di Facebook adalah tonggak baru dalam evolusi pencarian berbasis AI. Namun, seperti semua inovasi yang bergantung pada data pengguna, keseimbangan antara kenyamanan dan privasi akan menjadi tantangan utama yang harus dihadapi Meta ke depannya.

  • Meta Akui Kesalahan Kelola Tim AI, Janjikan Perbaikan Morale

    Meta Akui Kesalahan Kelola Tim AI, Janjikan Perbaikan Morale

    JBNews.id — Meta Platforms secara terbuka mengakui kegagalan manajemen di divisi Applied AI yang memicu penurunan kepercayaan dan moral karyawan. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Chief Technology Officer (CTO) Andrew Bosworth dalam sebuah memo internal yang panjang, menyusul laporan ketidakpuasan massal dari sekitar 6.500 insinyur dan manajer produk di unit tersebut.

    Divisi Applied AI dibentuk Meta pada Maret lalu dengan fokus mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) generatif. Namun, dalam waktu singkat, pekerja menggambarkan tugas yang diberikan sebagai “soul-crushing” dan bahkan menyebut lingkungan kerja itu sebagai “gulag.” Laporan dari WIRED pekan lalu mengungkapkan keresahan ini, yang kemudian memicu respons dari jajaran eksekutif puncak Meta.

    “Kami telah merusak kepercayaan yang Anda miliki bahwa keahlian dan kontribusi spesifik Anda akan dihargai, bahwa Anda akan tumbuh dan memajukan karier Anda, dan bahwa ini akan menjadi tempat di mana Anda benar-benar dapat memberikan dampak,” tulis Bosworth dalam memo yang dikutip oleh WIRED. Ia menambahkan bahwa pergantian struktur manajemen yang tiba-tiba dan siklus perekrutan yang tidak stabil menjadi akar masalah.

    Ketegangan ini merupakan bagian dari penurunan moral yang lebih luas di Meta, menyusul gelombang PHK massal, pengawasan ketat terhadap pekerja, dan berbagai kekhawatiran lain. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah eksekutif, termasuk CEO Mark Zuckerberg, telah mengirim pesan internal yang mengakui perasaan karyawan dan berjanji melakukan perubahan.

    Janji Perbaikan Struktur dan Perhatian Personal

    Dalam memo tersebut, Bosworth yang dikenal sebagai loyalis Zuckerberg, menjabarkan sejumlah langkah perbaikan. Meta berencana membatasi jumlah bawahan langsung (direct reports) seorang manajer maksimal 20 orang. Para manajer juga akan difokuskan pada tugas manajerial dan bukan pekerjaan independen. Selain itu, pekerja akan mendapatkan akses ke alat “AI coaching” yang dapat digunakan secara sukarela.

    “Kami melakukan pekerjaan yang buruk dalam menjelaskan visi, memberi gambaran jelas tentang bagaimana kami akan mendukung mereka dan karier mereka dalam transisi ini, serta menggambarkan bagaimana hal itu akan berubah seiring waktu,” tulis Bosworth menanggapi komentar atas memonya. Ia menyalahkan dirinya sendiri dan eksekutif lain karena kehilangan perspektif karyawan saat terburu-buru fokus pada strategi yang lebih luas, seperti bersaing di pasar alat coding AI.

    Meski demikian, Bosworth tetap membela keputusan untuk memindahkan paksa karyawan ke tim AI demi kecepatan. Ia mengingatkan bahwa pekerja mungkin harus mengerjakan proyek yang “tidak mereka anggap memuaskan secara pribadi untuk sementara waktu” karena “akan ada saat-saat di mana pekerjaan membutuhkan pengorbanan.” Pernyataan ini menunjukkan adanya ketegangan internal Meta yang belum sepenuhnya mereda.

    Karyawan Kini Bisa Pindah ke Peran Lain

    Dalam unggahan terpisah yang dilihat WIRED, Maher Saba, wakil presiden yang memimpin tim Applied AI, memberikan kelonggaran. Karyawan yang sebelumnya dipaksa bergabung ke timnya kini diizinkan mengambil peran lain di Meta jika berhasil mendapatkannya. “Kami merasa perlu memanfaatkan apa yang Meta miliki yang tidak dimiliki laboratorium AI lain: skala kami dan keahlian orang-orang kami,” kata Saba.

    Namun, ke depannya, Saba mengatakan timnya akan kembali ke prosedur normal dan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk melamar peran yang menarik minat mereka. Tim Applied AI saat ini fokus pada proyek untuk meningkatkan kemampuan coding dan agen dari model AI frontier Meta, dan dapat berkembang ke keamanan, debugging, serta pengembangan produk. Saba menyebut pendekatan baru timnya sebagai “bergerak cepat dan memperbaiki ke depan,” sebuah perubahan dari moto lama Meta, “move fast and break things.”

    Saba juga menegaskan bahwa peta jalan teknik tradisional yang biasanya disusun di awal semester tidak lagi berlaku karena “pekerjaan berkembang sangat dinamis.” Hal ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan prioritas di tengah persaingan AI yang ketat, yang juga berdampak pada karyawan Meta yang menolak hackathon AI.

    AI Tidak Akan Gantikan Pekerja, Tapi…

    Bosworth dalam memonya menekankan bahwa Meta tidak percaya AI akan sepenuhnya menggantikan pekerja AI. Namun, ia mengingatkan, “Kita harus mengindahkan pepatah, ‘AI tidak akan mengambil pekerjaan Anda, tetapi seseorang yang menguasai AI mungkin akan mengambilnya.’” Kinerja karyawan ke depan tidak hanya dinilai dari penggunaan AI, tetapi dari “dampak” yang dihasilkan dengan teknologi tersebut.

    Bosworth juga mengakui akan ada “tawar-menawar yang sulit untuk sementara waktu” terkait alokasi daya komputasi antar tim. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk bersikap transparan dan berinvestasi secara bertanggung jawab untuk mengurangi hambatan,” tulisnya, sambil mendorong karyawan untuk melaporkan masalah apa pun.

    Upaya Meningkatkan Suasana Kerja

    Dalam upaya meningkatkan moral, Bosworth berjanji menjadikan Meta tempat yang “menyenangkan dan menyenangkan” untuk bekerja. Langkah konkretnya termasuk memperbaiki “microkitchens”—area istirahat di kantor dengan camilan dan minuman—serta meningkatkan anggaran perjalanan dan pengeluaran untuk acara sosial. Tujuannya agar karyawan dapat menghabiskan waktu bersama secara langsung.

    “Saya berharap kita dapat menghidupkan kembali budaya terbaik yang kita ikuti,” tulis Bosworth. Namun, langkah ini muncul di tengah berbagai tantangan lain, termasuk lisensi software pengenalan wajah yang memicu kontroversi.

    Implikasi dari pengakuan ini jelas: Meta tengah berjuang keras menstabilkan internalnya di tengah perlombaan AI yang semakin sengit. Bagi para pengamat industri, langkah Meta ini menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun tidak kebal terhadap masalah manajemen sumber daya manusia ketika pertumbuhan dan kecepatan menjadi prioritas utama. Ke depannya, keberhasilan Meta dalam mengelola tim AI-nya akan sangat menentukan kemampuannya bersaing dengan OpenAI, Google, dan pemain lainnya di pasar yang sama.

  • Gempa Ratusan Kali Terdeteksi di Bawah Lapisan Es Antartika

    Gempa Ratusan Kali Terdeteksi di Bawah Lapisan Es Antartika

    JBNews.id — Tim ilmuwan internasional berhasil mendeteksi ratusan gempa bumi kecil yang sebelumnya tidak diketahui di bawah David Glacier, Antartika, menggunakan algoritma deep learning. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science dan mengungkap aktivitas seismik yang tidak bisa dijelaskan oleh teori lempeng tektonik konvensional.

    Peneliti menganalisis dua set data yang mencakup periode 2001–2004 dan 2012–2015. Gempa yang terdeteksi memiliki magnitudo antara 1,6 hingga 3,5, namun terjadi di kedalaman lebih dari 43 mil (sekitar 69 kilometer), jauh di bawah zona transisi kerak bumi ke mantel. Keberadaan gempa di kedalaman ini menjadi teka-teki besar bagi para ahli geologi.

    Menurut makalah penelitian tersebut, asal-usul gempa “intraplate intermediate-depth earthquakes” (IDE) ini “sulit untuk diselaraskan dengan tektonik lempeng tradisional.” Para peneliti berargumen bahwa “interaksi kompleks antara sistem Bumi” bisa menjadi penyebabnya, menunjukkan bahwa Antartika jauh lebih aktif secara seismik dari perkiraan sebelumnya.

    Fenomena Gempa di Tengah Lempeng

    Yang membingungkan para ilmuwan adalah lokasi gempa-gempa ini. Alih-alih terjadi di batas pertemuan lempeng (subduksi) yang sudah dikenal sebagai zona seismik aktif, gempa ini justru terjadi di tengah lempeng. Hal ini memaksa para ahli untuk memikirkan ulang cara kerja tektonik lempeng.

    Para ilmuwan menentukan bahwa tekanan lentur (bending stresses) yang disebabkan oleh litosfer yang relatif hangat — lapisan terluar Bumi yang kaku — mendorong dari bawah Antartika Barat, serta litosfer yang relatif dingin dan jauh lebih tipis di bawah Antartika Timur, dapat menjelaskan ratusan gempa aneh ini.

    “Gempa terjadi di mana kerak dan mantel atas yang dingin dan kaku di bawah Antartika Timur bertemu dengan batuan yang lebih hangat dan lebih lunak di bawah Antartika Barat, dan kontras ini menciptakan perubahan mendadak dalam kekuatan tektonik,” ujar ahli geologi dari University of Alabama dan penulis pertama studi, Long Ho, kepada Live Science.

    Ho dan rekan-rekannya terkejut dengan jumlah gempa yang sangat banyak di wilayah tersebut, menunjukkan bahwa daerah lain juga bisa mengalami aktivitas serupa. Untuk mengetahui di mana lagi gempa IDE intraplate ini bisa terjadi, Ho dan timnya mengusulkan penggunaan kecerdasan buatan (AI).

    “Kemampuan deteksi seismik yang canggih, seperti yang digunakan di sini, dapat mengungkap bahwa gempa IDE intraplate lebih umum secara global daripada yang saat ini diakui,” demikian bunyi makalah tersebut.

    Revolusi Pemahaman Seismik Antartika

    Perkembangan ini mengejutkan karena Antartika selama ini “dianggap sebagian besar tidak memiliki gempa bumi,” seperti yang diungkapkan oleh ahli glasiologi Penn State, Richard Alley, yang tidak terlibat dalam penelitian, kepada Live Science.

    “Sekarang, kita tahu bahwa tidak adanya gempa bumi yang tampak sebenarnya adalah kurangnya [alat] untuk mendengarkan gempa bumi,” tambah Alley.

    Ini bukan satu-satunya gempa aneh yang menarik perhatian ilmuwan belakangan ini. Awal tahun ini, peneliti menemukan keberadaan “gempa bumi mantel benua” 55 mil di bawah permukaan laut, kira-kira pada kedalaman yang sama dengan gempa di bawah Antartika. Namun, proses geologi di baliknya tampak sangat berbeda.

    Penemuan ini memiliki implikasi besar bagi pemahaman kita tentang dinamika interior Bumi. Dengan bantuan AI, para ilmuwan kini memiliki alat untuk mendeteksi aktivitas seismik yang sebelumnya tersembunyi. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi deteksi yang semakin canggih, mirip dengan bagaimana Fitur Deteksi Palsu pada ponsel modern membantu pengguna mengidentifikasi ancaman tersembunyi.

    Bagi pembaca, temuan ini berarti bahwa pemahaman kita tentang planet tempat tinggal kita masih sangat terbatas. Teknologi deep learning dan AI tidak hanya berguna untuk aplikasi sehari-hari seperti Deteksi Alat Pelacak, tetapi juga untuk mengungkap misteri geologi terdalam Bumi. Penelitian ini membuka jalan bagi pemetaan ulang zona seismik global dan berpotensi merevisi teori tektonik lempeng yang sudah mapan.

    Dampak praktisnya, pemahaman yang lebih baik tentang aktivitas seismik di daerah yang sebelumnya dianggap stabil dapat membantu dalam mitigasi risiko gempa di masa depan. Meskipun gempa yang terdeteksi di Antartika berkekuatan kecil, keberadaan mereka di lokasi yang tidak terduga menunjukkan bahwa daerah lain yang selama ini dianggap aman mungkin memiliki potensi seismik yang belum teridentifikasi.