Category: Tekno

  • Meta Lisensi Software Pengenalan Wajah dari Perusahaan Militer

    Meta Lisensi Software Pengenalan Wajah dari Perusahaan Militer

    JBNews.id — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, diketahui telah membeli lisensi perangkat lunak pengenalan wajah dari Rank One Computing, sebuah perusahaan di Denver yang sekitar 80 persen pendapatannya berasal dari klien pemerintah. Lisensi ini terikat pada versi uji coba aplikasi Meta AI yang menggerakkan kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley milik Meta.

    Informasi ini terungkap dalam dokumen lisensi perangkat lunak yang diperoleh WIRED. Rank One Computing, yang sahamnya tercatat di Nasdaq pada Februari lalu, memiliki basis klien yang luas di lembaga penegak hukum dan militer Amerika Serikat. Teknologi pengenalan wajah jarak jauh perusahaan ini bahkan mampu mengidentifikasi wajah manusia dari jarak hingga satu kilometer, yang dikembangkan untuk Komando Operasi Khusus AS.

    Rank One Computing didirikan pada 2015 oleh sekelompok insinyur yang sebelumnya membangun sistem pengenalan wajah di lembaga riset nirlaba Noblis. Pekerjaan mereka saat itu termasuk mengevaluasi algoritma untuk badan riset intelijen AS. Kepemimpinan perusahaan kini berasal dari jajaran senior penegak hukum dan intelijen, dengan CEO B. Scott Swann yang sebelumnya mengepalai divisi FBI yang mengoperasikan database biometrik biro tersebut.

    Lisensi yang diperoleh Meta mengizinkan penggunaan pengenalan wajah Rank One bersama dengan deteksi keaktifan (liveness detection), yang memeriksa apakah kamera melihat orang sungguhan atau foto dan topeng. Teknologi ini mendukung hingga 10 juta template wajah dan masih aktif hingga saat ini.

    Kode yang ditinjau WIRED menunjukkan bahwa sisa-sisa integrasi Rank One—rutinitas yang memuat lisensi dan menginisialisasi perangkat lunaknya—masih ada dalam versi aplikasi Meta yang dikirimkan bulan ini kepada jutaan konsumen. Sistem tersebut tidak aktif dan tidak dapat diakses oleh pengguna. Meta menghapus sistem pengenalan wajah tersebut dari aplikasi pada 5 Juni, sehari setelah WIRED mengungkap bahwa perusahaan diam-diam membangun sistem pengenalan wajah internal bernama NameTag ke dalam aplikasi Meta AI.

    Meta menolak menjawab pertanyaan WIRED tentang hubungannya dengan Rank One. Perusahaan tidak mau menjelaskan mengapa mereka melisensi perangkat lunak tersebut, kapan hubungan itu dimulai, atau apakah hubungan itu masih berlangsung. Rank One juga menolak berkomentar untuk laporan ini.

    Teknologi yang Sama untuk Konsumen dan Militer

    Keterkaitan antara Meta dan Rank One Computing menunjukkan betapa tipisnya garis antara teknologi pengawasan yang dijual ke penegak hukum dan militer dengan produk konsumen yang dijual ke masyarakat umum. Semakin sering, perusahaan yang sama dan algoritma yang mendasarinya melayani kedua pasar tersebut.

    “Ada sejarah panjang teknologi militer menjadi produk konsumen,” kata Joseph Jerome, mantan pejabat kebijakan Meta Reality Labs. “Itu bisa dibilang adalah kisah internet.”

    Teknologi Rank One telah beroperasi di sejumlah tempat penting. Layanan Marshal AS telah menggunakan kit identifikasi biometrik berbasis teknologi Rank One sejak 2021. Di Virginia Barat, puluhan sekolah menggunakan perangkat lunak tersebut untuk memindai wajah di pintu masuk mereka terhadap daftar pelanggar seks negara bagian. Algoritma Rank One juga dibundel di dalam produk DataWorks Plus dan platform Lumen milik LexisNexis, yang memungkinkan polisi melakukan pencarian wajah terhadap galeri gambar negara bagian dan regional serta database investigasi nasional FBI.

    Seperti sistem pengenalan wajah lainnya, teknologi Rank One tidak bekerja secara setara di semua kelompok demografis. Dalam pengujian oleh Institut Standar dan Teknologi Nasional (NIST), versi algoritma perusahaan menghasilkan kesalahan positif palsu pada tingkat yang sangat berbeda tergantung pada jenis kelamin dan negara kelahiran seseorang. Tingkat kesalahan terendah terjadi pada orang yang lahir di Eropa Timur dan cenderung lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

    Implikasi bagi Konsumen dan Regulasi

    Meskipun sistem pengenalan wajah di kacamata pintar Meta tidak pernah aktif untuk pengguna, keberadaan lisensi ini memunculkan pertanyaan tentang ambisi Meta di masa depan. Aplikasi Meta AI sendiri telah diunduh ke lebih dari 50 juta ponsel, dan sistem NameTag yang tidak dirilis sebelumnya telah menjadi bagian dari aplikasi tersebut secara diam-diam.

    Di Amerika Serikat, aturan nasional yang mengatur pengenalan wajah masih terbatas. Banyak negara bagian mewajibkan polisi untuk mendapatkan surat perintah sebelum mengakses data tersebut, dan semakin banyak negara bagian yang memasukkan perlindungan biometrik ke dalam undang-undang privasi konsumen umum mereka setiap tahun.

    “Tetapi perusahaan yang berorientasi konsumen jelas mendambakan akses ke teknologi pengenalan wajah bertenaga tinggi,” kata Eric Null, direktur Proyek Privasi dan Data di Pusat Demokrasi dan Teknologi. “Dan tanpa pemeriksaan yang tepat, risiko teknologi ini menjadi produk konsumen umum sangat signifikan dan sebagian besar tidak terbatas.”

    Rank One Computing sendiri memiliki jajaran dewan yang berasal dari kalangan intelijen dan keamanan tertinggi. Dewan perusahaan termasuk mantan wakil direktur CIA untuk sains dan teknologi, mantan kepala cabang sains dan teknologi FBI, dan mantan pejabat Pentagon yang mendirikan kantor kemampuan khusus senilai miliaran dolar.

    Kasus ini juga menunjukkan bagaimana teknologi yang awalnya dikembangkan untuk keperluan militer dan penegakan hukum perlahan merembes ke pasar konsumen. Dengan Meta yang telah menghadapi berbagai tantangan internal, termasuk ketegangan internal di tim AI dan protes karyawan, keputusan untuk melisensikan teknologi pengenalan wajah dari perusahaan militer menimbulkan pertanyaan serius tentang arah kebijakan privasi perusahaan.

    WIRED melaporkan bahwa kode sisa integrasi Rank One masih ada dalam versi aplikasi Meta yang dikirimkan kepada konsumen bulan ini, meskipun dalam keadaan tidak aktif. Ini berarti infrastruktur untuk mengaktifkan pengenalan wajah bermerek Rank One sudah ada di perangkat jutaan pengguna, hanya menunggu untuk diaktifkan.

    Meskipun Meta telah menghapus sistem pengenalan wajah dari aplikasi pada 5 Juni, langkah itu baru dilakukan setelah pengungkapan publik oleh WIRED. Sebelumnya, perusahaan telah membangun sistem NameTag secara diam-diam tanpa memberi tahu pengguna atau regulator.

    Teknologi deteksi keaktifan (liveness detection) yang termasuk dalam lisensi juga merupakan komponen penting. Fitur ini memastikan bahwa kamera benar-benar melihat orang sungguhan, bukan foto atau topeng yang bisa digunakan untuk menipu sistem. Teknologi semacam ini sering digunakan dalam sistem keamanan perbankan dan verifikasi identitas digital.

    Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa teknologi pengenalan wajah semakin canggih dan semakin dekat dengan produk sehari-hari. Meskipun Meta belum mengaktifkan fitur ini di kacamata pintarnya, keberadaan lisensi dan kode integrasi menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengembangkan teknologi ini.

    Rank One Computing sendiri telah menjadi pemain utama di pasar teknologi pengenalan wajah pemerintah AS. Dengan pendapatan yang 80 persen berasal dari klien pemerintah, perusahaan ini memiliki pengalaman luas dalam menangani database wajah skala besar dan sistem keamanan tinggi.

    Hubungan antara Meta dan Rank One Computing adalah contoh terbaru dari konvergensi antara teknologi konsumen dan teknologi pengawasan. Ketika kacamata pintar menjadi semakin populer, pertanyaan tentang bagaimana data visual yang dikumpulkan akan digunakan menjadi semakin mendesak.

    Para ahli privasi memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang jelas, teknologi pengenalan wajah bisa menjadi alat pengawasan massal yang tidak terkendali. “Risiko teknologi ini menjadi produk konsumen umum sangat signifikan,” tegas Eric Null.

    Meta sendiri belum memberikan pernyataan resmi tentang rencana masa depan mereka terkait teknologi pengenalan wajah. Namun, langkah mereka untuk melisensikan teknologi dari Rank One Computing menunjukkan bahwa perusahaan serius mempertimbangkan untuk mengintegrasikan fitur ini ke dalam produk konsumen mereka.

  • Regulasi Pusat Data AS Dibiarkan Kedaluwarsa

    Regulasi Pusat Data AS Dibiarkan Kedaluwarsa

    JBNews.id — Pemerintah federal Amerika Serikat tidak menyiapkan rencana untuk menggantikan Undang-Undang Federal Data Center Enhancement Act (FDCEA) yang akan kedaluwarsa pada musim gugur 2026. Keputusan ini, menurut sumber di Office of Management and Budget (OMB) dan General Services Administration (GSA), menandakan sikap pemerintahan Donald Trump yang semakin lepas tangan terhadap pengawasan pusat data.

    Seorang pegawai GSA yang berbicara secara anonim kepada WIRED menyebut langkah ini sangat tidak lazim. “Tidak pernah dalam sejarah kebijakan pusat data, sebuah kebijakan berakhir tanpa ada pengganti yang telah dirancang selama tiga tahun di belakang layar,” ujarnya. OMB, sebagai badan yang menetapkan panduan implementasi kebijakan sesuai agenda presiden, tidak menyediakan rencana apa pun untuk mengelola masa transisi ini.

    Kebijakan ini berpotensi menghilangkan aturan penting terkait efisiensi energi dan penggunaan air untuk pusat data federal. Sebelumnya, FDCEA mewajibkan setiap badan federal untuk mempekerjakan spesialis energi guna merancang pusat data yang paling efisien. Tanpa tekanan hukum ini, Chief Information Officer (CIO) di setiap badan akan memiliki keleluasaan lebih besar dalam pelaporan, yang berisiko menimbulkan inkonsistensi dan kesalahan.

    Dampak pada Keamanan Siber dan Transparansi

    Ketiadaan FDCEA juga berdampak langsung pada transparansi dan keamanan siber. Pemerintah telah menghentikan metrik pemantauan IT federal, seperti Federal IT Dashboard, yang berisi informasi kontrak dan belanja pusat data. Seorang pegawai GSA menyebut penghentian ini sebagai “fitur, bukan bug” — artinya, pengurangan visibilitas memang disengaja.

    Matt Triner, pendiri Hunter Strategy, perusahaan konsultan IT di Washington DC, menegaskan bahwa visibilitas adalah bagian penting dari keamanan. “Dengan mengurangi persyaratan pelaporan, Anda melucuti alat-alat yang digunakan untuk memastikan keamanan terjadi,” katanya. Meskipun FDCEA tidak secara langsung menurunkan persyaratan keamanan siber, pengurangan pelaporan membuat masalah yang ada menjadi lebih sulit diidentifikasi.

    Kontrak masa depan dengan perusahaan swasta untuk penggunaan pusat data juga akan lebih sulit dilacak. Hal ini meningkatkan risiko keamanan data sensitif warga negara yang disimpan di pusat data federal maupun kontraktor.

    Konteks: Perubahan Kebijakan dari Era Biden ke Trump

    Perubahan arah kebijakan ini dimulai pada Juli 2025, ketika Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang mendorong pembangunan pusat data secara masif di lahan federal. Perintah tersebut mencabut kebijakan era Biden yang mewajibkan rencana keberlanjutan untuk penggunaan air dan energi di pusat data baru.

    Para pejabat OMB dan GSA menilai bahwa membiarkan FDCEA kedaluwarsa adalah bagian dari semangat perintah eksekutif Juli 2025. “Dengan membiarkan ini berakhir, OMB memasuki era baru yang memprioritaskan pengembangan AI yang cepat di atas standar terpusat yang ketat,” kata pegawai GSA tersebut.

    Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan listrik dari pusat data. Electric Power Research Institute memperkirakan bahwa pada 2030, pusat data akan mengonsumsi setidaknya 9 persen listrik di AS. Lonjakan ini mendorong resistensi publik yang kuat. Menurut jajak pendapat Gallup pada Mei 2026, lebih dari 70 persen warga Amerika menentang pembangunan pusat data di komunitas mereka.

    Resistensi publik ini terjadi di berbagai negara bagian, dari Utah hingga Georgia, melintasi spektrum politik. Sebelumnya, muncul klaim bahwa dana asing berada di balik penolakan tersebut, namun klaim tersebut diragukan validitasnya.

    Sejarah Pengawasan Pusat Data Federal

    Sebelum 2010, pengawasan federal terhadap pusat data sangat terbatas. Badan-badan federal membangun pusat data secara independen tanpa memikirkan efisiensi energi atau target anggaran. Beberapa pusat data bahkan ditempatkan di lokasi tidak aman, seperti di bawah tanah di zona banjir.

    Pada masa pemerintahan Barack Obama, dimulailah upaya multi-tahun untuk memantau dan membersihkan pusat data federal, termasuk pensiunkan pusat data tertentu dan memindahkan data ke layanan berbasis cloud. Undang-Undang reformasi TI tahun 2014 kemudian melembagakan inisiatif konsolidasi dan pemantauan ini.

    FDCEA yang disahkan pada 2023 merupakan kelanjutan dari upaya tersebut. Clare Martorana, Chief Information Officer federal era Biden, mengatakan bahwa upaya luar biasa telah dilakukan selama bertahun-tahun. “Sebagian besar ekosistem ini telah dibersihkan, dan pemerintah menghemat miliaran dolar,” katanya.

    Namun, para pejawat federal yang berbicara kepada WIRED mengakui bahwa regulasi seperti FDCEA dibangun untuk dunia yang berbeda: yang berfokus pada ketahanan, keberlanjutan, dan penghematan biaya. Era AI, menurut mereka, membutuhkan strategi yang berbeda.

    Senator Jacky Rosen, yang mensponsori FDCEA saat disahkan pada 2023, mengatakan kepada WIRED bahwa timnya sedang melihat semua opsi untuk memastikan keamanan data warga Amerika. Namun, kantornya tidak mau merinci rencana tersebut.

    Pemerintah federal adalah pemberi kerja terbesar di AS, dan regulasi tentang bagaimana pusat data dibangun menjadi sangat krusial. Tanpa FDCEA, tidak ada lagi kewajiban bagi badan federal untuk mempertimbangkan penggunaan energi dan air dalam desain pusat data. Ini termasuk pelaporan tentang keberlanjutan pusat data kontraktor swasta.

    Berbeda dengan regulasi sebelumnya, FDCEA tidak disertai pendanaan untuk membantu badan-badan federal mematuhinya. Setiap CIO harus mencari sendiri anggaran untuk memenuhi persyaratan hukum. Tanpa tekanan dari undang-undang dan OMB, Matt Triner mengatakan bahwa CIO akan memiliki lebih banyak diskresi dalam pelaporan.

    Perbedaan pelaporan antar badan, menurut Triner, juga dapat menyebabkan kesalahan. “Meskipun Kongres mengesahkan FDCEA, administrasi sebenarnya bisa menerbitkan ini dengan memorandum dan sirkuler OMB,” katanya. “Itulah cara sebagian besar pelaporan badan eksekutif dilakukan.”

    Pemerintah juga telah menghentikan metrik pemantauan IT federal lainnya, seperti Federal IT Dashboard. Ini berarti kontrak pemerintah dengan perusahaan swasta untuk penggunaan pusat data akan semakin sulit dilacak. Seiring dengan perkembangan AI yang pesat, pemerintah Indonesia juga tengah menyusun kerangka regulasi serupa; Perpres AI ditargetkan terbit tahun ini untuk mengatur perkembangan teknologi tersebut.

    Implikasi dari keputusan ini sangat luas. Dengan berkurangnya transparansi dan pengawasan, risiko keamanan data dan inefisiensi energi meningkat. Sementara itu, dorongan untuk pembangunan pusat data yang cepat terus berlanjut, menciptakan ketegangan antara pengembangan teknologi dan perlindungan publik serta lingkungan.

    Ketiadaan rencana pengganti FDCEA juga menimbulkan pertanyaan tentang komitmen pemerintah terhadap keamanan data warga negara. Dengan pusat data yang menyimpan informasi sensitif dan kritis, kelonggaran pengawasan dapat membuka celah bagi ancaman siber dan bencana alam. Situasi ini menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia, di mana interoperabilitas data diatur untuk bansos tepat sasaran.

  • Inggris Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

    Inggris Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

    JBNews.id — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini mulai berlaku pada musim semi 2027 dan mencakup platform utama seperti Facebook, Instagram, X, TikTok, Snapchat, dan YouTube.

    “Perlunya tindakan sudah sangat jelas. Media sosial membuat anak-anak kita tidak bahagia dan tidak aman,” ujar Starmer dalam unggahan di X, Senin (15/6/2026). “Anak-anak kita pantas mendapatkan yang lebih baik.”

    Larangan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Inggris melindungi anak dari konten ekstrem, grafis, dan perundungan daring. Starmer menegaskan bahwa raksasa teknologi telah gagal menjaga keamanan anak sehingga pemerintah harus turun tangan.

    “Ini adalah garis batas. Raksasa teknologi sudah punya kesempatan dan mereka gagal, tapi kami hadir untuk melindungi anak-anak, mendukung orang tua, dan menetapkan norma baru bagi generasi mendatang,” tambahnya.

    Detail Kebijakan dan Pengecualian

    Larangan ini tidak berlaku untuk layanan pesan instan seperti WhatsApp dan Signal. Pemerintah juga akan melarang fitur siaran langsung dan kemampuan orang asing untuk menghubungi anak di bawah 16 tahun di semua platform. Selain itu, usia minimum untuk chatbot yang meniru interaksi romantis dinaikkan menjadi 18 tahun.

    Pemerintah juga mempertimbangkan pemberlakuan jam malam media sosial semalam suntuk bagi anak di bawah 18 tahun untuk membatasi kebiasaan doomscrolling larut malam. Detail kebijakan ini akan diumumkan pada Juli 2026.

    Kebijakan ini mengikuti proses konsultasi publik yang berlangsung dari Maret hingga Mei 2026, yang menarik lebih dari 100.000 kiriman dari orang tua, akademisi, pelobi, dan lembaga pemerintah. Lebih dari 90 persen orang tua yang merespons mendukung larangan total.

    Respons dari Platform dan Kritikus

    Meta, X, dan TikTok tidak segera menanggapi permintaan komentar. Juru bicara YouTube Jay Stoll menyatakan bahwa platformnya adalah sumber daya penting bagi kaum muda, pendidik, dan orang tua. “Larangan menyeluruh mendorong anak-anak keluar dari pengalaman yang dikurasi, diawasi, dan bermanfaat menuju layanan anonim yang kurang aman,” ujarnya.

    Frederika Cook dari kebijakan publik Snap mengatakan bahwa sebagian besar waktu yang dihabiskan di Snapchat adalah dalam pesan pribadi antara teman dan keluarga. “Larangan total yang memutus remaja dari hubungan itu tidak membuat mereka lebih aman—malah mungkin mendorong mereka ke platform yang kurang aman,” katanya.

    Rowan Ferguson, manajer kebijakan di Molly Rose Foundation, mengkritik pendekatan pemerintah yang terburu-buru. “Yang benar-benar kami khawatirkan adalah pemerintah memilih terburu-buru ke solusi yang tidak didukung bukti, alih-alih mengatasi akar penyebab bahaya,” ujarnya. Ferguson dan lainnya berpendapat bahwa akar masalahnya adalah desain adiktif produk-produk ini, yang tidak diatasi oleh larangan.

    Emily Setty, profesor madya kriminologi di Universitas Surrey, menyebut larangan ini berpotensi hanya bersifat seremonial. “Ketakutan saya adalah larangan ini hanya bersifat performatif—dan segalanya akan tetap sama,” katanya.

    Dampak dari Larangan Australia

    Larangan ini mengikuti jejak Australia yang memberlakukan larangan serupa pada November 2025. Namun, studi terbaru oleh regulator keamanan daring Australia eSafety menemukan bahwa 70 persen anak di bawah 16 tahun di negara itu masih mengakses platform media sosial yang dilarang. Remaja dilaporkan menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi atau memberikan kredensial palsu.

    Meta menuduh pemerintah Australia gagal mempertimbangkan bukti dengan baik, sementara CEO X Elon Musk menyebut kebijakan itu sebagai cara belakang untuk mengontrol akses internet. Reddit bahkan menggugat pemerintah Australia pada Desember 2025 untuk membatalkan kebijakan tersebut.

    Implikasi Politik dan Hubungan dengan AS

    Kebijakan ini juga berpotensi memicu ketegangan antara Inggris dan Amerika Serikat, yang sangat protektif terhadap perusahaan Silicon Valley. Dalam kiriman ke konsultasi publik, pemerintah AS menganjurkan pembatasan sempit pada konten pornografi dan dewasa. “Kami memiliki kekhawatiran tentang regulasi yang membebani perusahaan Amerika secara tidak proporsional,” tulisnya.

    Seorang mantan penasihat khusus pemerintah Starmer, yang meminta anonimitas, mengatakan bahwa Starmer mempercepat larangan ini untuk memperkuat dukungan parlemen mengantisipasi tantangan kepemimpinan. “Isu ini signifikan bagi pemilih, dan tekanan tinggi dari pemilihan sela serta ancaman tantangan kepemimpinan memaksa Downing Street bergerak,” katanya.

    Di parlemen, terdapat perpecahan antara menteri senior yang khawatir mengasingkan perusahaan media sosial dan anggota parlemen yang cenderung mendukung pendekatan lebih agresif. Kelompok pendukung pembatasan berharap langkah ini menjadi “uang muka” untuk intervensi lebih lanjut guna melindungi anak dari bahaya daring.

    Molly Rose Foundation menyerukan pemerintah untuk memperluas Online Safety Act guna memberlakukan “kewajiban perawatan” yang luas pada operator platform. “Pada akhirnya, model bisnis ini memprioritaskan keuntungan di atas keselamatan anak. Sudah tepat kita menantang itu sekeras mungkin,” kata Ferguson.

  • AI Hapus Debat Offside Piala Dunia 2026

    AI Hapus Debat Offside Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang sepenuhnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan offside. Teknologi ini menghilangkan perdebatan sengit seperti yang terjadi pada era sebelum Video Assistant Referee (VAR) dan menjadikan keputusan wasit lebih akurat dalam hitungan detik.

    Adaptasi AI dalam pertandingan sepak bola membuat euforia Piala Dunia 2026 berbeda dari edisi sebelumnya. Perdebatan soal keputusan wasit, terutama offside dan hand ball, kini hampir tidak ada lagi. FIFA telah menerapkan Teknologi Offside Semi-Otomatis (SAOT) yang ditingkatkan dengan integrasi AI.

    Sebelum era AI, momen ikonik seperti ‘Gol Tangan Tuhan’ Diego Maradona di Perempat Final Piala Dunia 1986 terjadi karena wasit dan timnya tidak menyadari kesalahan fatal. Argentina menang atas Inggris dengan skor 2-1. Contoh lain terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 2010, ketika Carlos Tevez mencetak gol ke gawang Meksiko dari posisi offside yang jelas, namun wasit Robert Rosetti tetap mengesahkannya.

    Kini, human error sudah bisa diminimalisir secara drastis. Melansir Inside Fifa, Senin (15/6/2026), sebanyak 1.248 pemain dari 48 skuad telah dipindai secara digital menjadi avatar 3D yang presisi. Bola pertandingan Adidas berisi sensor unit pengukuran (Inertial Measurement Unit/IMU) yang mengirimkan data 500 kali per detik. Sebanyak 12 kamera pelacak di setiap stadion memantau 29 titik data per pemain, 50 kali per detik.

    Saat bola dimainkan, sistem menghitung titik tendangan yang tepat dan memetakan posisi setiap pemain. Apabila seorang pemain berada lebih dari 10 cm di luar garis offside (turun dari ambang batas sebelumnya 50 cm), peringatan audio waktu nyata langsung dikirim ke earphone asisten wasit. Keputusan offside bisa ditentukan hanya dalam beberapa detik tanpa melalui VAR terlebih dahulu.

    Jika pun menggunakan VAR, petugas tidak perlu lagi menarik garis offside secara manual di layar. Mereka hanya bertugas memverifikasi titik tendangan (kick-point) dan garis offside yang sudah otomatis dibuat oleh sistem AI. Penonton juga akan disajikan animasi siaran dari kemiripan 3D pemain sebenarnya yang menunjukkan posisi setiap bagian tubuh saat operan dilakukan.

    Penerapan teknologi ini menandai lompatan besar dalam penggunaan AI di sepak bola. Namun, sebagian kalangan menilai euforia perdebatan khas sepak bola menjadi berkurang. Dulu, momen kontroversial seperti ‘Gol Tangan Tuhan’ menjadi bahan diskusi selama puluhan tahun. Kini, setiap keputusan bersifat final dan berbasis data.

    FIFA menyatakan bahwa teknologi ini bertujuan meningkatkan akurasi dan keadilan pertandingan. Dengan 48 tim yang berlaga, jumlah pertandingan bertambah signifikan, sehingga sistem otomatis menjadi kebutuhan operasional. Data dari 1.248 pemain yang dipindai memastikan setiap avatar 3D merepresentasikan postur asli pemain di lapangan.

    Sensor IMU pada bola buatan Adidas menjadi komponen kunci. Data 500 kali per detik memungkinkan sistem melacak pergerakan bola secara real-time. Kombinasi dengan 12 kamera pelacak yang memantau 29 titik data per pemain menciptakan peta posisi yang sangat detail. Akurasi hingga 10 cm ini jauh melampaui batas toleransi offside sebelumnya yang mencapai 50 cm.

    Implikasinya bagi jalannya pertandingan sangat jelas: keputusan offside yang sebelumnya memakan waktu 1-2 menit melalui VAR kini bisa diputuskan dalam hitungan detik. Hal ini menjaga ritme permainan dan mengurangi waktu terbuang. Bagi pemain dan pelatih, strategi bertahan dengan jebakan offside harus disesuaikan karena sistem AI tidak akan melewatkan pelanggaran sekecil apapun.

    Bagi penggemar sepak bola, pengalaman menonton berubah. Tanpa debat offside yang sengit, diskusi antar penonton bergeser ke aspek teknis permainan lainnya. Animasi 3D yang ditampilkan di siaran membantu penonton memahami keputusan wasit secara visual. Ini menjadi alat edukasi yang efektif untuk menjelaskan aturan offside yang sering membingungkan.

    Teknologi ini juga membuka peluang baru dalam pengembangan perangkat wasit. Ke depannya, integrasi AI untuk mendeteksi hand ball, pelanggaran, dan simulasi pemain bisa menjadi fitur standar. FIFA telah menunjukkan komitmennya untuk terus mengadopsi inovasi demi meningkatkan kualitas pertandingan.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan AI di berbagai bidang, simak juga artikel tentang Karyawan Google Kecam AI yang membahas dampak AI di lingkungan kerja. Sementara itu, inovasi teknologi juga merambah dunia penerbangan dengan NASA X-59 Berhasil Tembus Kecepatan Suara.

    Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sepak bola tidak lagi sama. AI telah menghapus perdebatan offside yang dulu menjadi ciri khas pertandingan. Namun, esensi sepak bola sebagai olahraga yang penuh kejutan tetap terjaga. Yang berubah hanyalah cara kita menyaksikan dan menilai permainan.

  • iOS 27: Performa iPhone Lebih Cepat dan Dukungan Lebih Lama

    iOS 27: Performa iPhone Lebih Cepat dan Dukungan Lebih Lama

    JBNews.id — Apple merilis iOS 27 dengan peningkatan performa signifikan, termasuk kecepatan membuka aplikasi hingga 30 persen lebih cepat dan dukungan perangkat lama yang lebih panjang. Pembaruan ini menjadi angin segar bagi pengguna iPhone, terutama mereka yang masih menggunakan seri lama seperti iPhone 11.

    Dalam pengujian yang dilakukan Apple, peningkatan kecepatan membuka aplikasi mencapai 30 persen pada iPhone 11 Pro Max. Sementara itu, transfer file melalui AirDrop mengalami peningkatan hingga 80 persen pada iPhone 16 Plus. Kecepatan memuat gambar di pustaka foto setelah mengambil gambar juga meningkat hingga 70 persen pada iPhone 15.

    Apple juga memperbarui sistem pencarian di Spotlight, Foto, dan Mail. Pengguna diharapkan bisa langsung menemukan apa yang dicari pada percobaan pertama. Peningkatan ini sebagian berkat optimalisasi pada CPU scheduler, komponen standar dalam sistem operasi yang mengatur lalu lintas aplikasi dan layanan agar fokus pengguna berjalan mulus dan cepat.

    Dukungan Perangkat Lama

    Apple membawa algoritma CPU scheduler tercanggihnya ke iPhone 11 dalam iOS 27. Ini menunjukkan komitmen Apple untuk mendukung perangkat lama selama mungkin. Francisco Jeronimo, wakil presiden Data dan Analitik di firma riset IDC, mengatakan konsumen tidak ingin merasa dipaksa untuk meningkatkan smartphone mereka.

    “Jika mereka bisa menyimpan perangkat lebih lama, itu berarti satu kekhawatiran berkurang, dan nilai uang yang lebih baik, terutama karena kita menghabiskan lebih banyak uang untuk smartphone saat ini daripada sebelumnya,” ujar Jeronimo.

    Ia menambahkan bahwa ini menjadi pembeda besar antara iOS dan Android. “Konsumen sekarang tahu bahwa jika mereka membeli perangkat iOS, perangkat itu akan bertahan lebih lama dan akan mempertahankan nilai pada akhirnya ketika mereka memutuskan untuk meningkatkan. Perangkat Android setelah dua, tiga tahun, tergantung mereknya, tidak akan bisa mendapatkan peningkatan lagi. Perangkat akan kehilangan nilai jika mereka ingin meningkatkan, dan mereka tidak akan bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi.”

    Apple biasanya mendukung perangkat selama enam hingga tujuh tahun. Hanya segelintir produsen Android seperti Google dan Samsung yang menjanjikan tingkat dukungan serupa. Dukungan perangkat lama ini juga membuka peluang bagi Apple untuk mendorong penjualan produk lain seperti Apple Watch atau AirPods.

    Dampak pada Bisnis Layanan

    Jika orang memegang ponsel lebih lama, menjaga perangkat tetap diperbarui juga membuka pintu bagi pelanggan untuk membeli produk Apple lainnya. Jeronimo mengatakan, mungkin mereka akan membeli Apple Watch atau AirPods untuk melengkapi perangkat mereka. Yang lebih krusial bagi Apple, ada insentif lebih tinggi untuk berlangganan layanan perusahaan—Fitness+, Apple TV, Apple Music, dan sebagainya.

    Apple melaporkan pada April lalu bahwa bisnis layanannya mencapai rekor pendapatan sepanjang masa sebesar $31 miliar. Ini menunjukkan bahwa strategi Apple untuk mempertahankan basis pengguna lama sangat menguntungkan secara finansial.

    “Tidak ada yang akan mengkritik mereka jika mereka tidak bisa mendukung [iPhone 11],” kata Jeronimo. “Tapi mereka jelas ingin mendukung semua perangkat mereka karena mereka tahu itu berarti banyak dalam hal nilai merek, dan bagi konsumen untuk tahu bahwa ketika mereka membeli produk mereka, produk mereka tahan lama, dan itu kritis.”

    Beberapa peningkatan ini juga berkat optimalisasi pada CPU scheduler. Ini adalah komponen standar dalam sistem operasi yang mengoordinasikan pekerjaan untuk CPU, mengelola arus lalu lintas aplikasi dan layanan sehingga hal utama yang Anda lakukan di iPhone berjalan mulus dan cepat. Apple memiliki CPU scheduler paling canggih di perangkat terbarunya, tetapi tim membawa banyak kemajuan algoritma tersebut ke iPhone 11 dalam iOS 27.

    Keterbatasan untuk Pengguna Lama

    Meskipun iPhone lama akan tetap didukung, ada catatan penting. Perangkat tersebut tidak akan bisa memanfaatkan beberapa fitur baru utama yang debut di iOS 27. Semua fitur Apple Intelligence—termasuk pengalaman Siri AI baru yang akhirnya membuat asisten suara berguna—hanya tersedia di iPhone 15 Pro atau ponsel yang lebih baru.

    Jadi, jika Anda menginginkan Siri yang lebih pintar atau ingin menggunakan AI untuk mempercantik foto, Anda akhirnya harus melakukan upgrade. Ini menjadi pertimbangan penting bagi pengguna yang masih setia dengan perangkat lama namun menginginkan teknologi terkini.

    Apple telah merombak beberapa aplikasi inti dalam pembaruan ini. Informasi lebih lanjut tentang perubahan pada Maps, Music, Podcasts, dan iCloud bisa Anda simak di artikel terkait. Sementara itu, bagi yang penasaran dengan Fitur AI Foto terbaru, Apple mengambil pendekatan yang sangat hati-hati dalam pengembangannya.

    Dengan iOS 27, Apple tidak hanya meningkatkan performa tetapi juga memperkuat ekosistemnya. Dukungan perangkat lama yang lebih panjang menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi kompetitor. Bagi pengguna, ini berarti investasi yang lebih baik dan pengalaman yang lebih mulus dalam jangka panjang.

  • Telkomsel dan Fola Play Hadirkan Live Streaming Pildun 2026

    Telkomsel dan Fola Play Hadirkan Live Streaming Pildun 2026

    JBNews.id — Telkomsel menggandeng platform streaming Fola Play untuk menghadirkan paket bundling khusus live streaming Piala Dunia 2026. Melalui kerja sama ini, pelanggan dapat menikmati akses ke seluruh 104 pertandingan kompetisi sepak bola tertinggi yang disiarkan langsung melalui aplikasi Fola Play.

    VP Digital Lifestyle Telkomsel, Kemas M. Fadhli, mengatakan kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. “Melalui kolaborasi ini, pelanggan akan mendapatkan akses ke tayangan olahraga yang lebih mudah dan terjangkau, serta dapat menikmati setiap momen pertandingan melalui channel digital kapan pun dan di mana saja mereka berada,” ujar Kemas, dikutip dari siaran pers pada Minggu (14/6/2026).

    Untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih mudah, Telkomsel meluncurkan Paket Bundling Bola Gembira Fola Play. Paket ini tersedia bagi pelanggan prabayar maupun pascabayar dengan dua pilihan utama. Pertama, Bola Gembira Fola Play Full Package seharga Rp85.000 yang mencakup kuota internet 500 MB dan akses penuh ke Fola Play. Kedua, paket Bola Gembira Fola Play 7 Hari seharga Rp25.000 yang sudah termasuk kuota 100 MB dan akses layanan streaming. Seluruh harga sudah termasuk PPN.

    Pelanggan dapat membeli paket melalui aplikasi MyTelkomsel maupun berbagai kanal resmi Telkomsel lainnya. Setelah transaksi berhasil, pelanggan akan menerima tautan aktivasi dan kode voucher melalui SMS untuk mengakses layanan Fola Play. Selain menayangkan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026, Fola Play juga menyediakan berbagai konten hiburan digital lainnya, termasuk ratusan episode microdrama vertikal yang dapat dinikmati tanpa biaya tambahan.

    Sementara itu, Direktur Utama PT Folago Global Nusantara Tbk, Subioto Jingga, menyebut kerja sama dengan Telkomsel akan memperluas jangkauan layanan Fola Play kepada masyarakat Indonesia. Sebagai OTT mitra resmi TVRI untuk streaming Piala Dunia FIFA 2026, Fola Play ingin menghadirkan pengalaman menonton yang lebih personal dan fleksibel. Menurutnya, distribusi melalui bundling Telkomsel akan memudahkan pengguna mengakses tayangan olahraga favorit mereka.

    Kolaborasi ini sekaligus memperkuat ekosistem hiburan digital Telkomsel. Dengan dukungan jaringan seluler yang luas, pelanggan dapat menikmati pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 secara lebih fleksibel melalui aplikasi Fola Play maupun platform MAXStream TV Telkomsel. Langkah ini juga sejalan dengan upaya perusahaan dalam memperkuat posisinya di industri telekomunikasi, termasuk melalui penghargaan Twimbit yang baru diraih.

    Paket bundling ini menjadi solusi bagi penggemar sepak bola yang ingin menonton seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 secara online dengan harga terjangkau. Dengan harga mulai Rp25.000, pelanggan sudah bisa menikmati siaran langsung pertandingan selama tujuh hari. Sementara untuk akses penuh, cukup dengan Rp85.000, pelanggan mendapatkan kuota internet dan akses streaming tanpa batas selama turnamen berlangsung.

    Telkomsel terus berinovasi dalam menghadirkan layanan digital yang relevan. Kolaborasi dengan Fola Play ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menyediakan akses hiburan yang mudah dan terjangkau bagi seluruh pelanggan di Indonesia. Dengan jaringan yang luas dan stabil, pengalaman menonton pertandingan sepak bola dunia pun menjadi lebih maksimal.

    Bagi pelanggan yang ingin menikmati live streaming Piala Dunia 2026, langkah pembelian paket sangat mudah. Cukup buka aplikasi MyTelkomsel, pilih menu paket bundling, lalu pilih Bola Gembira Fola Play sesuai kebutuhan. Setelah pembayaran, kode voucher akan dikirimkan melalui SMS untuk diaktivasi di aplikasi Fola Play.

    Inisiatif ini juga membuka peluang bagi pelanggan untuk menikmati konten hiburan digital lainnya. Fola Play tidak hanya menyediakan siaran pertandingan, tetapi juga ratusan episode microdrama vertikal yang bisa dinikmati gratis. Hal ini menambah nilai lebih bagi pelanggan yang ingin hiburan lengkap dalam satu platform.

    Dengan hadirnya paket bundling ini, Telkomsel dan Fola Play berharap dapat menjangkau lebih banyak penggemar sepak bola di Indonesia. Terutama mereka yang ingin menonton pertandingan secara fleksibel melalui perangkat mobile. Dukungan jaringan 5G dan 4G dari Telkomsel memastikan kualitas streaming tetap optimal selama pertandingan berlangsung.

    Kolaborasi ini juga memperkuat ekosistem digital Telkomsel yang terus berkembang. Sebagai operator seluler terbesar di Indonesia, Telkomsel tidak hanya fokus pada layanan telekomunikasi, tetapi juga pada layanan hiburan digital yang terintegrasi. Langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan dalam menghadapi era digitalisasi yang semakin pesat.

    Bagi masyarakat Jawa Barat dan Banten, paket bundling ini menjadi angin segar di tengah antusiasme menyambut Piala Dunia 2026. Dengan harga terjangkau, mereka bisa menikmati seluruh pertandingan tanpa perlu khawatir dengan kuota internet. Telkomsel juga menyediakan berbagai promo menarik lainnya untuk mendukung kebutuhan digital pelanggan, termasuk promo internet WFH di wilayah Jabotabek.

    Ke depannya, Telkomsel berencana terus menghadirkan inovasi serupa untuk berbagai event olahraga dan hiburan lainnya. Dengan pengalaman dan jaringan yang dimiliki, perusahaan optimistis dapat memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Kolaborasi dengan Fola Play menjadi salah satu bukti nyata komitmen tersebut.

    Dengan demikian, live streaming Piala Dunia 2026 kini semakin mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Cukup dengan paket mulai Rp25.000, seluruh pertandingan bisa dinikmati secara langsung melalui aplikasi Fola Play. Ini adalah kesempatan emas bagi penggemar sepak bola untuk tidak melewatkan momen-momen penting di turnamen paling bergengsi di dunia.

  • Amazfit Cheetah 2 Ultra dan Pro Resmi di Indonesia, Baterai Tahan 30 Hari

    Amazfit Cheetah 2 Ultra dan Pro Resmi di Indonesia, Baterai Tahan 30 Hari

    JBNews.id — Amazfit resmi meluncurkan dua smartwatch running premium terbarunya, Amazfit Cheetah 2 Pro dan Amazfit Cheetah 2 Ultra, di Indonesia pada 10 Juni 2026. Kedua perangkat ini menawarkan daya tahan baterai hingga 30 hari serta fitur GPS presisi yang dirancang khusus untuk pelari serius dan marathon runner.

    Peluncuran ini menandai langkah agresif Amazfit di segmen sport smartwatch premium, yang selama ini didominasi oleh Garmin. Dengan kombinasi material premium, fitur olahraga berbasis AI, dan harga yang lebih kompetitif, seri Cheetah 2 mulai dipandang sebagai alternatif kuat di pasar wearable Indonesia.

    Amazfit Cheetah 2 Pro hadir untuk pengguna yang fokus pada road running dan latihan marathon. Smartwatch ini menggunakan material Grade 5 Titanium dengan bobot sekitar 45 gram, sehingga tetap ringan saat digunakan berlari dalam waktu lama. Layarnya memakai panel AMOLED 1,32 inch dengan tingkat kecerahan mencapai 3.000 nits, serta dilapisi sapphire glass agar lebih tahan gores.

    Fitur unggulan Cheetah 2 Pro meliputi Zepp Coach AI yang dapat membuat program latihan personal hingga full marathon. Jam ini juga mendukung berbagai metrik lari profesional seperti running power, lactate threshold, ground contact time, hingga analisis running posture. Untuk navigasi, Cheetah 2 Pro dibekali dual-band GPS dan dukungan enam sistem satelit positioning. Pengguna juga bisa memakai offline maps dan route navigation langsung dari smartwatch.

    Soal baterai, Amazfit mengklaim perangkat ini mampu bertahan hingga 20 hari untuk penggunaan normal dan sampai 31 jam dalam mode GPS aktif.

    Sementara itu, Amazfit Cheetah 2 Ultra ditujukan untuk trail runner dan endurance athlete yang sering menghadapi medan ekstrem. Model ini hadir dengan layar AMOLED lebih besar berukuran 1,5 inci yang tetap menawarkan tingkat kecerahan hingga 3.000 nits. Cheetah 2 Ultra membawa ketahanan standar militer, storage internal 64GB, serta kemampuan menyimpan lebih banyak peta offline maupun podcast.

    Amazfit juga meningkatkan kemampuan navigasi dengan full-color contour maps dan elevation overview untuk membantu pengguna membaca medan secara lebih detail. Dari sisi daya tahan, baterainya lebih impresif. Smartwatch ini diklaim mampu bertahan hingga 30 hari dalam penggunaan normal dan 33-60 jam dalam GPS/trail running mode tergantung skenario pemakaian.

    Amazfit Cheetah 2 Series

    Kedua smartwatch ini terintegrasi dengan ekosistem Zepp App yang menyediakan data kesehatan dan latihan secara lengkap, mulai dari HRV, kualitas tidur, training load, recovery, hingga estimasi VO₂ Max. Amazfit juga menghadirkan kompatibilitas dengan platform populer seperti Strava, TrainingPeaks, Runna, dan Intervals.icu sehingga memudahkan sinkronisasi data latihan.

    Harga resmi Amazfit Cheetah 2 Series di Indonesia mulai 10 Juni 2026 adalah:

    • Amazfit Cheetah 2 Pro: Rp 7.799.000
    • Amazfit Cheetah 2 Ultra: Rp 10.499.000

    Dengan spesifikasi dan harga tersebut, seri Cheetah 2 menjadi pilihan menarik bagi pelari yang menginginkan Fitur Terbaru dari smartwatch olahraga tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam dibandingkan kompetitor utama. Kehadiran fitur AI dan navigasi presisi membuat perangkat ini relevan untuk berbagai level pelari, dari amatir hingga profesional.

    Bagi pengguna yang menginginkan daya tahan baterai ekstra, Cheetah 2 Ultra jelas unggul dengan klaim 30 hari pemakaian normal. Sementara Cheetah 2 Pro menawarkan keseimbangan antara bobot ringan dan fitur lengkap untuk road running. Keduanya sama-sama dibekali layar AMOLED super terang yang nyaman digunakan di luar ruangan.

    Imbas dari peluncuran ini, persaingan di segmen smartwatch premium Indonesia diprediksi semakin ketat. Amazfit tidak hanya bersaing dengan Garmin, tetapi juga dengan merek-merek lain yang mulai merambah kategori serupa. Bagi konsumen, ini berarti lebih banyak pilihan dengan harga yang lebih kompetitif di tahun 2026.

    Spesifikasi Lengkap dari kedua perangkat ini menunjukkan komitmen Amazfit untuk menghadirkan teknologi wearable kelas atas dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan baterai tahan lama dan fitur GPS presisi, Cheetah 2 series layak menjadi pertimbangan utama bagi pelari yang serius meningkatkan performa.

  • PixVerse R1 Bikin Video AI Interaktif Real-Time, Dukung Bahasa Indonesia

    PixVerse R1 Bikin Video AI Interaktif Real-Time, Dukung Bahasa Indonesia

    JBNews.id — Industri video berbasis kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. PixVerse, perusahaan AI asal China, memperkenalkan teknologi terbaru bernama PixVerse R1 dalam ajang Global Connect Show (GCS) 2026 di Shenzhen, China. Berbeda dengan generator video AI konvensional, PixVerse R1 dirancang sebagai Real-time World Model yang mampu menciptakan video interaktif secara langsung dan mendukung Bahasa Indonesia.

    Teknologi ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan dunia virtual yang terus berkembang dan merespons perintah secara real-time. Founder dan CEO PixVerse, Changhu Wang, mengatakan bahwa R1 bukan sekadar peningkatan performa, melainkan perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan media digital.

    “Ini bukan hanya video yang lebih cepat. Untuk pertama kalinya, AI dapat menciptakan dunia yang persisten dan masuk akal secara fisika yang berevolusi secara real-time sesuai keinginan pengguna,” ujar Wang dalam keterangan resmi. Menurutnya, jika video tradisional merupakan rekaman masa lalu, maka teknologi seperti R1 memungkinkan AI menghasilkan pengalaman yang berlangsung pada saat itu juga.

    Tiga Teknologi Utama PixVerse R1

    PixVerse R1 dibangun di atas tiga teknologi utama. Pertama adalah Omni Native Multimodal Foundation Model yang menyatukan teks, gambar, audio, dan video dalam satu arsitektur terpadu. Dengan pendekatan ini, sistem dapat memahami berbagai jenis input secara bersamaan sehingga menghasilkan respons yang lebih alami.

    Kedua adalah Consistency-aware Autoregressive Framework yang memungkinkan video berjalan tanpa batas durasi sambil menjaga konsistensi objek, karakter, dan lingkungan di dalamnya. Teknologi ini mengatasi salah satu masalah terbesar video AI generatif, yakni perubahan visual yang sering tidak konsisten dari satu frame ke frame berikutnya.

    Ketiga adalah Instantaneous Response Engine yang memangkas proses generasi menjadi hanya 1 hingga 4 langkah sampling. Hasilnya, respons dapat muncul hampir seketika dengan kecepatan generasi diklaim mencapai 0,03 detik.

    Tiga Lini Model PixVerse

    PixVerse saat ini mengoperasikan tiga lini model utama. Seri V atau V6 menjadi model yang ditujukan untuk pasar massal dengan kemampuan menghasilkan video hingga resolusi 4K dalam waktu sekitar lima detik. Seri C atau C1 yang diperkenalkan pada April 2026 difokuskan untuk kebutuhan produksi sinematik profesional. Sementara itu, R1 menjadi model paling ambisius karena dirancang untuk mendukung streaming tanpa batas, dunia virtual interaktif, hingga kolaborasi multi-pengguna dalam satu lingkungan digital yang sama.

    “Platform ini mendukung tiga metode pembuatan konten utama, yakni text-to-video, image-to-video, dan produksi sinematik berbasis banyak gambar,” kata Robyn Tan, Global PR Head PixVerse.

    Selain itu, PixVerse juga menghadirkan sistem transparansi token yang memungkinkan pengguna melihat estimasi penggunaan kredit sebelum proses generasi dimulai. Fitur tersebut dinilai penting untuk kreator maupun perusahaan yang mengelola biaya produksi konten berbasis AI.

    Basis Pengguna Global dan Isu Etika

    PixVerse mengklaim telah memiliki lebih dari 100 juta pengguna di seluruh dunia. Basis penggunanya mencakup kreator media sosial, pembuat konten profesional, hingga perusahaan dan stasiun televisi yang memanfaatkan AI untuk mempercepat proses produksi video. Teknologi ini juga mulai digunakan untuk membuat storyboard, simulasi adegan berisiko tinggi, hingga pembuatan konten promosi tanpa harus melibatkan proses syuting konvensional yang mahal.

    Di balik perkembangan pesat tersebut, isu etika tetap menjadi perhatian utama. Kekhawatiran mengenai penyebaran deepfake, manipulasi informasi, dan perlindungan anak semakin mengemuka seiring meningkatnya kualitas video AI. Robyn Tan mengungkapkan bahwa PixVerse menerapkan watermark AI dan sistem moderasi yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan teknologi. Namun ia mengakui bahwa watermark bukan solusi sempurna karena teknologi penghapus watermark juga terus berkembang.

    Karena itu, perusahaan terus memperkuat sistem keamanan dan menjadikan perlindungan terhadap anak serta pencegahan konten non-konsensual sebagai prioritas utama.

    Rencana Pengembangan ke Depan

    Ke depan, PixVerse berencana mempertahankan siklus pembaruan besar setiap dua hingga tiga bulan. Fokus pengembangannya meliputi peningkatan logika fisika, konsistensi adegan, durasi video yang lebih panjang, serta penguatan fitur keamanan.

    Dengan dukungan Bahasa Indonesia, PixVerse R1 membuka peluang besar bagi kreator konten di Indonesia untuk menciptakan video interaktif berkualitas tinggi. Teknologi ini menjadi solusi bagi mereka yang ingin memproduksi konten promosi kreatif tanpa proses syuting konvensional yang mahal. Implikasinya, industri kreatif Tanah Air bisa memanfaatkan AI generatif untuk mempercepat produksi dan menekan biaya operasional secara signifikan.

  • Tim UGM Ungkap Penyebab Misteri Rumah Api Sleman

    Tim UGM Ungkap Penyebab Misteri Rumah Api Sleman

    JBNews.id — Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkap penyebab fenomena teror api yang terjadi di rumah warga di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan api secara tiba-tiba tersebut tidak berkaitan dengan gas alam atau fenomena supranatural, melainkan disebabkan oleh keberadaan resin poly vinyl chloride (PVC) yang mudah terbakar.

    Ketua Tim PKPE FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi, secara resmi memaparkan temuan tersebut kepada wartawan di kampus FT UGM pada Sabtu, 13 Juni 2026. Penjelasan ini sekaligus mematahkan dugaan awal tim peneliti yang sempat mengaitkan fenomena tersebut dengan keberadaan gas hidrogen yang berasal dari limbah pemotongan ayam di sekitar lokasi.

    “Sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai), tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar,” tegas Prof Alva dalam pernyataannya.

    Fenomena yang sempat menghebohkan warga dan menjadi perhatian publik ini kini mendapatkan penjelasan ilmiah yang komprehensif. Tim peneliti UGM melakukan serangkaian pengujian dan observasi untuk mengungkap misteri di balik api yang tiba-tiba muncul di kediaman Muftia di Seyegan tersebut.

    Teori Segitiga Api dan Medan Elektromagnetik

    Mengacu pada Prinsip Teori Segitiga Api dan hasil penelitian yang mendalam, pihak PKPE FT UGM menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang terukur di lokasi berada pada level aman. Hal ini mengonfirmasi bahwa medan elektromagnetik bukanlah sumber pemantik nyala api seperti yang sempat menjadi spekulasi sebagian kalangan.

    “Kemungkinan besar, api diasosiasikan dengan adanya resin PVC yang mudah terbakar bila bertemu sumber api atau ignition,” jelas Prof Alva. Kesimpulan ini diperkuat dengan ditemukannya resin PVC pada material yang terbakar di lokasi kejadian.

    Metode Penelitian dan Hasil Laboratorium

    Tim peneliti UGM menggunakan metode ilmiah yang ketat dalam penelitian ini. Salah satu temuan kunci berasal dari pengujian menggunakan metode FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) pada residu pembakaran.

    “Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berdasarkan pengujian metoda FTIR,” papar Alva. Tidak hanya itu, pihaknya juga menganalisis beberapa material terbakar menggunakan metode Headspace GC (Gas Chromatography). Hasilnya, material tersebut dipastikan tidak terbakar karena gas hidrogen.

    “Hasil analisis hanya dapat mendeteksi adanya gas CO2 dan tidak ditemukan unsur-unsur sisa hidrokarbon atau solven yang bisa dipakai sebagai akseleran kebakaran,” tutur Alva. Temuan ini semakin memperkuat hipotesis bahwa penyebab utama kebakaran adalah resin PVC, bukan gas alam atau bahan kimia lainnya.

    Kandungan PVC di Permukaan Dinding

    Lebih lanjut, hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa sampel-sampel residu pada permukaan dinding keramik maupun kayu atau tripleks di lokasi kejadian mengandung PVC yang tidak umum dijumpai pada permukaan tersebut. Keberadaan PVC ini menjadi indikator kuat bahwa material tersebut berperan sebagai bahan bakar dalam fenomena api yang terjadi.

    Hasil penelitian ini menjadi titik akhir dari rangkaian investigasi ilmiah terhadap fenomena api di rumah Muftia di Seyegan, Sleman. Temuan lengkap telah diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.

    Secara spasial, hasil observasi ketinggian menggunakan wahana drone dan sensor Thermal Infrared yang dilakukan pada dini hari di lokasi kemunculan api hingga radius 200 meter di sekitarnya, tidak menunjukkan adanya anomali termal. Data ini mengonfirmasi bahwa tidak ada aktivitas geotermal atau sumber panas bawah tanah yang dapat memicu kebakaran.

    Implikasi untuk Warga dan Penanganan ke Depan

    Dengan terungkapnya penyebab ilmiah di balik fenomena rumah api ini, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir berlebihan terhadap kejadian serupa. Penjelasan dari tim UGM ini juga menjadi contoh bagaimana pendekatan ilmiah dapat mengungkap misteri yang sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

    Bagi warga Seyegan dan sekitarnya, temuan ini memberikan kejelasan bahwa fenomena tersebut bukanlah akibat dari hal-hal mistis atau fenomena alam yang berbahaya, melainkan reaksi kimia dari material tertentu yang mudah terbakar. Penanganan ke depan dapat difokuskan pada identifikasi dan eliminasi sumber resin PVC di lingkungan rumah tinggal.

    Fenomena rumah api di Sleman ini menjadi pengingat pentingnya penelitian ilmiah dalam menjawab berbagai misteri yang muncul di tengah masyarakat. Pendekatan data dan metodologi yang ketat, seperti yang dilakukan oleh tim PKPE FT UGM, mampu memberikan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan praktis.

  • Kemendikdasman Gelar Kompetisi AI untuk Murid SMK dan SMA

    Kemendikdasman Gelar Kompetisi AI untuk Murid SMK dan SMA

    JBNews.id — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menggandeng Merkle Innovation untuk menyelenggarakan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA) 2026. Kompetisi ini menjadi bagian dari rangkaian Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 dan bertujuan mendorong siswa SMK dan SMA untuk beralih dari pengguna menjadi pencipta teknologi kecerdasan buatan.

    Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene, menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) saat ini tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memfasilitasi para murid kejuruan SMK maupun SMA yang memiliki minat, bakat, dan kemampuan dalam bidang tersebut.

    “Tahun ini hal baru yang dilakukan adalah kami mengembangkan LKS yang harapannya adalah baik siswa yang mengarah ke kejuruan ataupun SMA bisa benar-benar menerapkan dan semakin melengkapi kebutuhan akan sumber daya yang mampu mengembangkan kecerdasan artifisial,” kata Irene dalam webinar bertajuk “Sosialisasi Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial Jenjang Pendidikan Menengah 2026” di Jakarta Pusat pada Senin.

    Langkah strategis ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyiapkan talenta muda Indonesia menghadapi persaingan global. Kemendikdasmen tidak hanya ingin menciptakan generasi yang mahir menggunakan AI, tetapi juga mampu mengembangkan solusi berbasis AI yang berdampak nyata bagi masyarakat. Kompetisi EKKA 2026 menjadi wadah pertama yang secara khusus dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara konsumsi dan produksi teknologi AI di kalangan pelajar.

    Menyiapkan Talenta Menuju Kompetisi Internasional

    Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Mendikdasmen bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muhammad Muchlas Rowi, menjelaskan bahwa ekshibisi kecerdasan artifisial ini dihadirkan sebagai langkah awal untuk memperkenalkan kompetisi bidang tersebut kepada para murid. Lebih dari sekadar ajang nasional, kompetisi ini juga bertujuan menyiapkan talenta menuju kompetisi internasional seperti International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI).

    Kemendikdasmen, kata dia, berupaya untuk menemukan talenta, membangun komunitas, sekaligus menciptakan ekosistem kecerdasan artifisial di Indonesia melalui gelaran tersebut. “Kami ingin mendorong potensi para murid dari pengguna teknologi baik hardware maupun kecerdasan artifisial menjadi pencipta,” tegas Muchlas.

    Visi ini menempatkan Indonesia pada peta persaingan AI global. Dengan persiapan sejak dini melalui kompetisi seperti EKKA, diharapkan lahir inovator-inovator muda yang mampu bersaing di ajang IOAI. Pendekatan ini juga menjadi fondasi untuk membangun ekosistem AI yang berkelanjutan, mulai dari pendidikan menengah hingga ke jenjang profesional.

    Dukungan Sektor Swasta dan Jadwal Kompetisi

    VP of Human Capital Merkle Innovation, Darianti, menyatakan bahwa pihaknya berupaya mendukung Kemendikdasmen dalam memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas maupun inovasi dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab. Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan solusi yang berdampak bagi masyarakat.

    Secara teknis, ia menjelaskan jadwal pendaftaran LKS EKKA 2026 dimulai dari tanggal 15 hingga 22 Juni melalui portal registrasi https://daftarbpti.kemendikdasmen.go.id. Setelah itu, para peserta wajib mengirimkan karya mereka mulai dari tanggal 22 Juni hingga 3 Juli, yang diunggah melalui laman https://forms.office.com/r/6phQnAceYA.

    Pada tahap pengiriman karya, peserta akan mengirimkan proposal solusi sebanyak maksimal 4 halaman, video pitch dan demo berdurasi 2 hingga 5 menit, serta aplikasi atau prototipe fungsional. Adapun final LKS EKKA 2026 akan dilaksanakan secara luring dari tanggal 29 Juli hingga 1 Agustus di wilayah Jakarta Utara.

    Mekanisme ini dirancang untuk menguji kemampuan peserta secara komprehensif, mulai dari perencanaan konsep hingga implementasi teknis. Keikutsertaan dalam kompetisi AI seperti ini juga menjadi bekal berharga bagi siswa yang tertarik mendalami teknologi serupa, sebagaimana terlihat dalam perkembangan AI di Tribeca yang membuktikan bahwa kecerdasan buatan generatif dapat menjadi alat kreatif yang powerful.

    Fokus pada Dampak dan Solusi Nyata

    Kompetisi EKKA 2026 tidak sekadar menjadi ajang adu kemampuan teknis. Lebih dari itu, peserta dituntut untuk menghasilkan solusi yang berdampak bagi masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan visi Kemendikdasmen untuk menciptakan ekosistem AI yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan sosial.

    Dengan melibatkan mitra dari sektor swasta seperti Merkle Innovation, Kemendikdasmen memastikan bahwa kompetisi ini memiliki standar industri yang tinggi. Para peserta akan mendapatkan pengalaman berharga dalam mengembangkan produk berbasis AI yang siap diimplementasikan di dunia nyata.

    Bagi siswa yang tertarik mengikuti kompetisi ini, persiapan matang sangat diperlukan. Mulai dari memahami dasar-dasar AI, menguasai teknik pembuatan prototipe, hingga kemampuan presentasi yang baik. Kesempatan untuk berlaga di ajang internasional seperti IOAI menjadi motivasi tambahan bagi para peserta untuk memberikan yang terbaik.

    Kompetisi ini juga membuka peluang bagi siswa untuk membangun portofolio di bidang AI, yang akan sangat berguna ketika melanjutkan studi atau memasuki dunia kerja. Perkembangan teknologi AI yang pesat membuat keterampilan ini semakin dicari oleh berbagai sektor industri.

    Implikasi bagi Dunia Pendidikan dan Industri

    Langkah Kemendikdasmen menggelar kompetisi AI ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan dan industri di Indonesia. Pertama, kompetisi ini mendorong kurikulum pendidikan menengah untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Kedua, industri mendapatkan akses ke talenta muda yang telah teruji kemampuannya di bidang AI.

    Ketiga, kompetisi ini menjadi katalis bagi pertumbuhan ekosistem AI di Indonesia. Dengan semakin banyaknya siswa yang terpapar pada teknologi AI sejak dini, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan inovator-inovator kelas dunia di masa depan. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah teknologi global, sejalan dengan upaya pengembangan infrastruktur teknologi nasional seperti yang terlihat pada proyek 60 Pembangkit Baru yang memperkuat ketahanan energi nasional.

    Bagi para siswa SMK dan SMA yang memiliki minat di bidang AI, EKKA 2026 adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuan dan berkontribusi pada pengembangan teknologi di Indonesia. Pendaftaran yang dibuka mulai 15 Juni 2026 menjadi gerbang awal bagi perjalanan mereka menjadi pencipta, bukan sekadar pengguna teknologi.