Category: Tekno

  • Kawasan Robot Beijing Jadi Pusat Inovasi Kecerdasan Berwujud

    Kawasan Robot Beijing Jadi Pusat Inovasi Kecerdasan Berwujud

    JBNews.id — Kawasan industri inovasi kecerdasan berwujud (embodied intelligence) di Beijing, China, menjadi pusat pertumbuhan bagi perusahaan-perusahaan unggulan di sektor robotika dan kecerdasan buatan. Kepadatan tinggi perusahaan di kawasan tersebut memudahkan para pemain industri untuk menemukan mitra di sepanjang rantai pasok, bahkan secara harfiah cukup dengan naik dan turun tangga di gedung perkantoran yang sama.

    Kawasan yang berlokasi di Zhongguancun, Distrik Haidian, Beijing ini menjadi bukti nyata bagaimana ekosistem industri yang terintegrasi dapat mempercepat inovasi. Sebuah robot yang mampu bermain sepak bola menjadi salah satu atraksi di kawasan tersebut, menunjukkan kemampuan teknologi kecerdasan berwujud yang semakin matang. Fenomena ini terjadi di tengah gencarnya investasi global di sektor AI dan pusat data.

    Ekosistem Industri yang Padat dan Terintegrasi

    Keunggulan utama kawasan industri ini terletak pada “tingginya kepadatan” perusahaan yang berbasis di sana. Kondisi ini menciptakan sinergi alami antara pengembang perangkat keras, perangkat lunak, dan penyedia komponen. Para pelaku industri tidak perlu lagi mencari mitra bisnis dari jarak jauh karena semua sudah tersedia dalam satu kompleks.

    Model ekosistem seperti ini sangat relevan dengan perkembangan industri pusat data global. Sebagai perbandingan, perusahaan teknologi besar seperti Meta juga tengah mengembangkan infrastruktur AI dengan pendekatan berbeda. Meta baru saja mendirikan pusat data bertenda demi mengejar ketertinggalan di bidang AI. Sementara itu, China sendiri telah meresmikan pusat data bawah laut bertenaga angin lepas pantai sebagai bagian dari strategi infrastruktur berkelanjutan.

    Dampak pada Rantai Industri Robotika

    Kepadatan perusahaan di kawasan Beijing ini memberikan dampak langsung pada efisiensi rantai industri. Mulai dari riset dan pengembangan, produksi komponen, hingga pengujian produk akhir, semua tahapan dapat dilakukan dalam jarak yang sangat dekat. Hal ini mempercepat siklus inovasi dan menekan biaya logistik.

    Fenomena serupa juga terjadi di sektor pusat data yang menjadi tulang punggung kecerdasan buatan. Namun, pertumbuhan pusat data AI juga menimbulkan tantangan lingkungan yang serius. Sebuah laporan mengungkapkan bahwa pusat data AI menghabiskan air setara kebutuhan 1,3 miliar orang, menyoroti urgensi pengembangan teknologi yang lebih efisien.

    Robot Sepak Bola sebagai Simbol Kemajuan

    Salah satu contoh nyata dari kemajuan teknologi di kawasan ini adalah robot yang mampu bermain sepak bola. Robot tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan investor yang datang ke kawasan industri. Kemampuan robot untuk bergerak, mengenali lingkungan, dan berinteraksi secara real-time menunjukkan tingkat kecerdasan berwujud yang sudah sangat maju.

    Teknologi kecerdasan berwujud ini menggabungkan kemampuan kecerdasan buatan dengan perangkat fisik yang dapat bergerak dan berinteraksi dengan dunia nyata. Berbeda dengan AI yang hanya beroperasi di dalam komputer, embodied intelligence memungkinkan robot untuk melakukan tugas-tugas fisik yang kompleks.

    Investasi Global dan Persaingan Teknologi

    Perkembangan kawasan robot di Beijing ini terjadi di tengah persaingan global yang semakin ketat di bidang kecerdasan buatan. China terus berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan AI dan robotika, sementara negara-negara lain juga tidak tinggal diam. Di sisi lain, klaim tentang keterlibatan dana asing dalam penolakan proyek teknologi masih menjadi perdebatan. Beberapa pihak meragukan klaim dana asing di balik penolakan pusat data Amerika Serikat, menunjukkan kompleksitas geopolitik dalam industri ini.

    Sementara itu, raksasa teknologi seperti SpaceX juga mengalihkan fokus mereka. IPO SpaceX menunjukkan bahwa misi Mars tergeser oleh fokus pusat data AI, menandakan prioritas industri yang berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.

    Implikasi bagi Industri Teknologi Global

    Keberhasilan kawasan industri di Beijing ini memberikan pelajaran berharga bagi pengembangan ekosistem teknologi di seluruh dunia. Kepadatan perusahaan dalam satu kawasan terbukti mampu mempercepat inovasi dan menekan biaya pengembangan. Model ini bisa menjadi referensi bagi negara-negara lain yang ingin mengembangkan industri kecerdasan buatan dan robotika.

    Bagi para pelaku industri, kawasan ini menawarkan akses langsung ke mitra potensial, investor, dan talenta terbaik. Bagi para peneliti dan pengembang, lingkungan yang kolaboratif ini memungkinkan pertukaran ide dan pengetahuan yang lebih cepat. Sementara bagi investor, kawasan ini menjadi indikator jelas bahwa sektor kecerdasan berwujud akan menjadi salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat dalam dekade mendatang.

    Dengan semakin matangnya teknologi embodied intelligence, aplikasinya tidak hanya terbatas pada robot industri atau robot hiburan seperti robot sepak bola. Potensi penggunaannya mencakup bidang kesehatan, manufaktur, logistik, hingga eksplorasi ruang angkasa. Kawasan di Beijing ini menjadi bukti bahwa masa depan kecerdasan berwujud sudah mulai terbentuk, dan Indonesia perlu memperhatikan perkembangan ini untuk tidak tertinggal dalam revolusi industri berikutnya.

  • Tanpa Bantuan Pemerintah AS, Elon Musk Sudah Bangkrut

    Tanpa Bantuan Pemerintah AS, Elon Musk Sudah Bangkrut

    JBNews.id — Elon Musk patut berterima kasih kepada pembayar pajak Amerika Serikat dan pemerintah federal. Tanpa hibah, pinjaman, dan kontrak senilai puluhan miliar dolar, perusahaan-perusahaan Musk seperti Tesla dan SpaceX kemungkinan besar sudah bangkrut sebelum mencapai kesuksesan seperti sekarang.

    Pernyataan ini disampaikan oleh Ross Gerber, CEO perusahaan investasi Gerber Kawasaki sekaligus salah satu investor awal di Tesla. “Tidak akan ada (Tesla dan SpaceX) jika bukan karena pemerintah,” ujar Gerber, dikutip dari CNN.

    Pemerintah federal memberikan hibah lebih dari USD 500 juta kepada SpaceX pada tahun-tahun awal berdirinya. Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari apa yang diterima Tesla dari hibah, pinjaman, kontrak, hingga regulasi pemerintah. Bukan berarti kesuksesan SpaceX dan valuasi Tesla yang mencapai sekitar USD 1,5 triliun sepenuhnya karena pengeluaran federal, tapi kedua perusahaan memang sempat tertatih sebagai startup sebelum menerima subsidi dari uang pajak.

    Dana Awal SpaceX

    Memang hanya sebagian kecil dari kekayaan Musk merupakan hasil jerih payah pembayar pajak. Perusahaan-perusahaannya “hanya” menerima puluhan miliar dari berbagai kontrak dan program pemerintah. Namun, yang paling penting adalah kapan dana tersebut diterima.

    Keuntungan besar tak terduga pertama SpaceX adalah hibah USD 278 juta dari NASA pada tahun 2006 untuk mengembangkan roket Falcon dan kapsul Dragon. Program Pesawat Ulang Alik saat itu berakhir, dan AS membutuhkan cara baru untuk mengirim astronot dan kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Itu adalah tahap pertama dari total lebih dari USD 500 juta hibah yang akan diterima SpaceX.

    “Jumlahnya sekitar separuh dari modal yang berhasil mereka kumpulkan hingga saat itu,” kata Casey Dreier dari The Planetary Society.

    Dukungan dari NASA tidak berhenti pada hibah. Musk pernah mengakui perusahaannya hampir kehabisan uang akhir tahun 2008 ketika akhirnya mendapatkan kontrak krusial dan belum pernah terjadi sebelumnya saat itu senilai USD 1,6 miliar.

    “Faktanya adalah kami takkan bisa memulai SpaceX, atau mencapai titik ini, tanpa bantuan NASA,” ujar Musk tahun 2012 saat meluncurkan roket Falcon 9 ke ISS untuk pertama kalinya.

    Regulasi Membuat Tesla Bertahan

    Tesla menerima pinjaman bunga rendah USD 465 juta dari Departemen Energi AS, beberapa bulan sebelum penawaran saham perdana. Dengannya, perusahaan mengembangkan Model S, yang menjadi kesuksesan besar pertama.

    Kredit pajak USD 7.500 bagi pembeli kendaraan listrik memungkinkan Tesla menjual EV buatan Amerika dengan harga lebih tinggi. Pembeli Tesla menerima kredit pajak federal USD 3,4 miliar sebelum dihentikan tahun 2019. Kredit tersebut kemungkinan membuat Tesla meraup pendapatan tambahan lebih dari USD 1 miliar untuk mobil yang terjual di Amerika.

    Kredit pajak ini sempat dipulihkan tahun 2023 namun pemerintahan Trump mengakhirinya September 2025. Akan tetapi, dukungan finansial paling signifikan bagi Tesla sebenarnya dari program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon.

    Perusahaan mobil diwajibkan memenuhi ambang batas emisi. Jika gagal, mereka harus membeli “kredit emisi” dari perusahaan yang berhasil mematuhinya. Satu-satunya perusahaan yang selalu berada di bawah batas emisi adalah Tesla. Berarti hampir semua produsen mobil lain di AS menuangkan uang ke Tesla lantaran regulasi tersebut.

    Penjualan kredit ini menyumbang hampir 25% total pendapatan perusahaan tahun 2008 dan stabil di angka 10% dari pendapatan lima tahun berikutnya. Antara 2008 hingga 2019, penjualan kredit regulasi sukses menghasilkan lebih dari USD 2 miliar bagi Tesla. Tesla mungkin sudah gulung tikar tanpa kucuran dana tersebut.

    Kepercayaan Wall Street terhadap sosok Musk adalah alasan utama kekayaannya meroket. Akan tetapi, kepercayaan itu hanya bisa terbangun karena di masa lalu, ketika ia baru merintis bisnis dan sangat butuh bantuan finansial, pemerintah AS membantu.

    “Pada akhirnya, keberadaan perusahaan-perusahaan ini terbukti memberikan dampak positif bagi pemerintah, Amerika, dan masyarakat, jadi saya tidak menyesal pemerintah memberikan kucuran dana kepadanya,” pungkas Gerber.

    Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya intervensi pemerintah dalam mendorong inovasi teknologi. Tanpa dukungan tersebut, ekosistem startup berbasis teknologi tinggi seperti yang dibangun Musk mungkin tidak akan pernah terwujud. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri strategis.

    Di sisi lain, ketergantungan pada pendanaan publik juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan model bisnis perusahaan-perusahaan teknologi besar. Apakah mereka benar-benar bisa bertahan tanpa dukungan pemerintah? Kasus Musk memberikan gambaran yang jelas: tanpa bantuan pemerintah AS, ia sudah bangkrut sejak awal.

    Kisah ini juga mengingatkan pada Grok xAI yang baru-baru ini kembali menjadi sorotan, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Musk masih terus bergulat dengan berbagai tantangan. Sementara itu, Kerinduan Era Twitter di Piala Dunia 2026 juga menjadi pengingat betapa besarnya pengaruh platform media sosial yang dimiliki Musk.

  • Bigetron Juara MPL ID S17, Onic Masih Raja dengan 8 Gelar

    Bigetron Juara MPL ID S17, Onic Masih Raja dengan 8 Gelar

    JBNews.id — Bigetron by Vitality sukses mematahkan dominasi Onic dengan meraih gelar juara MPL ID Season 17. Meski demikian, Onic tetap menjadi tim dengan koleksi gelar terbanyak sepanjang sejarah turnamen ini, yaitu delapan kali juara.

    Turnamen Mobile Legends: Bang Bang Professional League Indonesia (MPL ID) S17 telah usai. Sejarah baru terukir setelah Bigetron by Vitality berhasil menjadi kampiun. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri dominasi Onic yang telah berlangsung selama beberapa musim terakhir.

    MPL ID sendiri telah bergulir selama delapan tahun, sejak Januari 2018. Dari sekian banyak tim yang pernah berpartisipasi, Onic menjadi yang paling sukses dengan total delapan gelar juara. Supremasi mereka di kompetisi Mobile Legends terbesar di Indonesia ini dimulai sejak Season 8.

    Sejarah Dominasi dan Persaingan

    Meskipun Onic pernah memperoleh titel tim terkuat pada Season 3, empat musim setelahnya ajang bergengsi ini diambil alih oleh Evos dan RRQ. RRQ Hoshi dan Evos Legends sempat berkuasa di MPL ID, keduanya selalu berhasil lolos ke babak Grand Final. Namun, memasuki Season 8, Onic mulai mengusik kedigdayaan RRQ Hoshi.

    Bahkan Onic sempat empat kali menjuarai MPL ID secara berturut-turut, sebelum akhirnya dijegal oleh Team Liquid ID di MPL ID S14. Konsistensi Onic dalam mempertahankan performa puncak menjadi bukti kekuatan tim ini di kancah esports nasional.

    Sementara itu, tim pertama yang sukses merajai MPL ID adalah Team NXL. Ketika itu, acara yang berlangsung dari Januari hingga April 2018 mempertemukan Team NXL dan Evos di Grand Final. Duel kedua tim cukup sengit, walaupun pada akhirnya Team NXL yang menjadi jawara dengan skor tipis 3-2. Sayangnya, usai meraih titel tim terkuat, Team NXL bubar dan tidak lagi mengikuti turnamen ini dari Season 2 hingga 16.

    Daftar Juara MPL ID Season 1-17

    Berikut daftar lengkap juara MPL ID dari Season 1 hingga 17 sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber:

    • MPL ID S1 — Team NXL
    • MPL ID S2 — RRQ
    • MPL ID S3 — Onic
    • MPL ID S4 — Evos Legends
    • MPL ID S5 — RRQ
    • MPL ID S6 — RRQ
    • MPL ID S7 — Evos Legends
    • MPL ID S8 — Onic
    • MPL ID S9 — RRQ
    • MPL ID S10 — Onic
    • MPL ID S11 — Onic
    • MPL ID S12 — Onic
    • MPL ID S13 — Fnatic Onic
    • MPL ID S14 — Team Liquid ID
    • MPL ID S15 — Onic
    • MPL ID S16 — Onic
    • MPL ID S17 — Bigetron by Vitality

    Dari daftar tersebut, terlihat jelas bahwa Onic mendominasi dengan 8 gelar juara, disusul oleh RRQ dengan 4 gelar, Evos Legends dengan 2 gelar, serta Team NXL, Team Liquid ID, Fnatic Onic, dan Bigetron by Vitality masing-masing satu gelar.

    Kemenangan Bigetron di Season 17 menjadi angin segar bagi persaingan MPL ID. Hal ini membuktikan bahwa peta kekuatan di kompetisi ini masih bisa berubah dan tidak ada tim yang benar-benar tak terkalahkan. Bagi penggemar esports, perkembangan terkini ini tentu menarik untuk diikuti.

    Dominasi Onic yang sempat berlangsung selama beberapa musim akhirnya berhasil dipatahkan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Bigetron mampu mempertahankan konsistensinya di musim-musim mendatang, atau justru Onic akan bangkit kembali merebut tahtanya?

    Implikasinya bagi scene esports Indonesia, persaingan yang semakin ketat ini akan mendorong setiap tim untuk terus meningkatkan kualitas. Hal ini pada akhirnya akan berdampak positif pada performa tim Indonesia di kancah internasional, termasuk turnamen M-series dan ajang global lainnya. Bagi para penggemar, ini berarti tontonan yang semakin seru dan kompetitif setiap musimnya.

  • Ilmuwan Inggris: Bukti Smartphone Rusak Otak Anak Masih Minim

    Ilmuwan Inggris: Bukti Smartphone Rusak Otak Anak Masih Minim

    JBNews.id — Kekhawatiran publik bahwa smartphone merusak otak anak belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Para ilmuwan Inggris justru menyatakan bahwa penelitian yang membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan perangkat digital dan perkembangan otak masih sangat terbatas. Fakta ini mengemuka dalam sidang Komite Sains, Inovasi, dan Teknologi Parlemen Inggris yang tengah menyelidiki dampak perangkat digital terhadap anak-anak dan remaja.

    Profesor Denis Mareschal, Direktur Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London, menjelaskan bahwa sebagian besar penelitian yang ada saat ini hanya menunjukkan hubungan atau korelasi. Artinya, penelitian dapat menemukan bahwa anak yang sering menggunakan perangkat digital memiliki karakteristik tertentu, tetapi belum bisa memastikan bahwa perangkat digital itulah penyebabnya.

    “Penelitian yang benar-benar dapat membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan perangkat digital dan perkembangan otak anak masih sangat terbatas,” ujar Mareschal dalam sidang tersebut.

    Pendapat serupa disampaikan Profesor Sarah-Jayne Blakemore dari University of Cambridge. Ia menilai bukti mengenai dampak smartphone atau media sosial terhadap otak remaja masih sangat sedikit. Sebagian besar studi yang ada berukuran kecil dan belum berhasil direplikasi secara luas.

    Meski demikian, para ilmuwan tidak serta-merta menepis seluruh kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Blakemore menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan otak. Pada fase ini, sistem penghargaan atau reward system bekerja sangat aktif, sementara area otak yang berfungsi mengendalikan impuls dan pengambilan keputusan, yakni prefrontal cortex, masih terus berkembang.

    Kondisi tersebut membuat remaja lebih rentan terdorong untuk terus mencari stimulasi yang menyenangkan, termasuk dari media sosial dan berbagai aplikasi digital. “Bahkan orang dewasa sering kesulitan meletakkan ponsel ketika terus menemukan konten menarik. Bagi anak-anak dan remaja, tantangannya bisa lebih besar karena kemampuan pengendalian dirinya masih berkembang,” jelas Blakemore dikutip dari The Register.

    Displacement: Masalah yang Lebih Nyata

    Dr Dusana Dorjee dari University of York menyoroti persoalan lain yang dianggap lebih penting, yakni displacement atau tergesernya aktivitas penting akibat penggunaan layar yang berlebihan. Menurut Dorjee, anak-anak belajar banyak keterampilan penting melalui interaksi langsung dengan orang lain, bermain, berolahraga, berbicara dengan keluarga, hingga mengeksplorasi lingkungan sekitar.

    Jika terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar, aktivitas-aktivitas tersebut berpotensi berkurang secara signifikan. “Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital, tetapi apa yang tidak mereka lakukan karena menggunakan perangkat tersebut,” ujar Dorjee.

    Para ahli juga menekankan bahwa tidak semua penggunaan layar memiliki dampak yang sama. Video call dengan keluarga, aplikasi edukasi, atau aktivitas belajar daring tidak bisa disamakan dengan kebiasaan scrolling tanpa henti yang didorong algoritma media sosial. Karena itu, mereka menolak pendekatan yang menyamaratakan seluruh bentuk penggunaan smartphone sebagai sesuatu yang berbahaya.

    Ilustrasi smartphone anak

    Debat Kebijakan di Inggris

    Perdebatan mengenai smartphone dan anak memang sedang memanas di Inggris. Pemerintah bahkan membuka konsultasi nasional terkait penggunaan media sosial dan smartphone pada anak-anak. Namun pemerintah mengakui bahwa bukti ilmiah mengenai dampak screen time terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak masih beragam dan terus berkembang.

    Sejumlah peneliti juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru mengambil kebijakan ekstrem seperti larangan total penggunaan smartphone. Akademisi dari University of Cambridge, Amy Orben, sebelumnya menyebut bukti ilmiah yang ada belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa smartphone secara inheren berbahaya bagi semua anak.

    Fenomena penurunan angka kelahiran global juga sempat dikaitkan dengan penggunaan smartphone, meski hubungan kausalnya masih diperdebatkan. Sementara itu, data dari industri menunjukkan bahwa penjualan smartphone terus tumbuh, termasuk di Indonesia yang menjadi salah satu pasar terbesar.

    Implikasi bagi Orang Tua

    Kesimpulan para ilmuwan dalam sidang tersebut cukup jelas: hingga saat ini belum ada bukti kausal yang kuat bahwa smartphone secara langsung merusak otak anak. Namun, penggunaan yang berlebihan tetap perlu diawasi karena dapat mengurangi waktu anak untuk berinteraksi, bermain, berolahraga, dan melakukan aktivitas penting lain yang mendukung tumbuh kembang mereka.

    Bagi orang tua, temuan ini memberikan perspektif yang lebih seimbang. Alih-alih melarang smartphone sepenuhnya, pendekatan yang lebih bijak adalah mengawasi durasi dan kualitas penggunaan, serta memastikan anak tetap memiliki waktu yang cukup untuk aktivitas di dunia nyata.

    Para ahli menyarankan agar orang tua lebih fokus pada apa yang tidak dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital, bukan sekadar berapa lama mereka menggunakannya. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan efektif dalam mendukung tumbuh kembang anak di era digital.

  • Ubisoft PHK 380 Karyawan dan Tutup Dua Studio

    Ubisoft PHK 380 Karyawan dan Tutup Dua Studio

    JBNews.id — Ubisoft, publisher raksasa asal Prancis, kembali melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran yang berdampak pada 380 karyawan dan berujung pada penutupan total dua studio pengembangannya. Langkah restrukturisasi ini merupakan yang terbaru dari serangkaian efisiensi yang dilakukan perusahaan di tengah krisis industri game global.

    Berdasarkan memo internal perusahaan yang dibocorkan oleh Insider Gaming, perampingan ini menyasar studio-studio Ubisoft yang tersebar di wilayah Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, dan Serbia. Keputusan drastis ini diambil hanya selang beberapa bulan setelah perusahaan mem-PHK 55 karyawan di Swedia dan menutup studio game mobile Ubisoft Halifax di Kanada pada awal Januari 2026 lalu.

    Langkah ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi oleh raksasa teknologi global di sektor hiburan interaktif.

    Rincian Dampak PHK Terbaru Ubisoft

    Berikut adalah rincian dampak badai PHK terbaru dari Ubisoft:

    1. Studio yang Ditutup dan Dipangkas

    Ubisoft memastikan akan menutup dua studionya secara permanen, sementara dua markas lainnya mengalami pemangkasan staf secara signifikan:

    • Ubisoft Belgrade (Serbia): Ditutup total, mengakibatkan hilangnya 100 lapangan pekerjaan.
    • Ubisoft Winnipeg (Kanada): Ditutup total, berdampak pada 65 karyawan.
    • Ubisoft Barcelona (Spanyol): Mengalami perampingan dengan pemangkasan 51 posisi.
    • Markas Global San Francisco (AS): Sejumlah karyawan dirumahkan, namun angkanya tidak diungkap secara spesifik ke publik.

    Sebagai informasi, Ubisoft Belgrade yang didirikan pada tahun 2016 telah berkontribusi besar pada sejumlah game populer seperti The Crew 2, Tom Clancy’s Rainbow Six, Riders Republic, dan Skull & Bones. Sementara itu, Ubisoft Winnipeg yang dibuka pada 2018 berfokus pada pengembangan teknologi untuk mesin game (game engine) andalan perusahaan, yakni Anvil dan Snowdrop.

    2. Reposisi Ratusan Karyawan di Montreal

    Selain memecat ratusan pegawainya, Ubisoft juga merombak susunan tim di studio terbesarnya, Ubisoft Montreal. Lebih dari 150 karyawan yang sebelumnya ditugaskan untuk menggarap Rainbow Six Siege, Rainbow Six Siege Mobile, serta satu proyek rahasia (unannounced project), kini ditarik dan dipindahkan ke proyek lain.

    Pihak manajemen Ubisoft beralasan bahwa serangkaian langkah pahit ini terpaksa diambil demi menyederhanakan sistem operasional, menekan biaya pengeluaran (overhead), dan memperkuat fondasi organisasi dalam jangka panjang.

    3. Masa Kelam Kreator ‘Assassin’s Creed’

    Kondisi Ubisoft belakangan ini memang jauh dari kata ideal. Perusahaan yang dikenal lewat franchise raksasa Assassin’s Creed, Prince of Persia, dan seri Tom Clancy’s ini terus menerus didera krisis, mulai dari gelombang PHK, penutupan studio, hingga pembatalan banyak judul game.

    Sejumlah proyek menjanjikan terpaksa disuntik mati sebagai bagian dari upaya pemotongan biaya. Beberapa di antaranya adalah Tom Clancy’s The Division Heartland yang diumumkan batal pada 2024, Immortals Fenyx Rising 2, serta beberapa judul rahasia lainnya.

    Langkah efisiensi berturut-turut ini membuat postur perusahaan menyusut drastis. Jika pada masa kejayaannya Ubisoft sempat mempekerjakan lebih dari 20.000 orang secara global, angka tersebut kini merosot tajam. Tercatat, lebih dari 5.000 posisi telah dipangkas dalam beberapa tahun terakhir. Menyusul gelombang PHK terbaru ini, jumlah total karyawan Ubisoft diperkirakan kini hanya tersisa di kisaran 15.000 orang, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (15/6/2026).

    Fenomena PHK massal ini bukan hanya terjadi di Ubisoft. Industri game global tengah mengalami konsolidasi besar-besaran. Beberapa waktu lalu, Microsoft juga melakukan PHK besar-besaran di tengah gencarnya investasi di bidang AI. Bahkan, Anthropic, perusahaan AI terkemuka, juga baru-baru ini kena sanksi terkait riset keamanan.

    Bagi para penggemar game, situasi ini menjadi pengingat bahwa di balik layar gemerlap peluncuran game-game blockbuster, terdapat industri yang tengah bergulat dengan tekanan biaya produksi yang semakin tinggi dan perubahan preferensi konsumen. Dampaknya langsung terasa pada ribuan pekerja kreatif yang menjadi tulang punggung pengembangan game.

    Implikasinya, para gamer harus bersiap menghadapi potensi berkurangnya variasi judul game di masa depan, karena studio-studio kecil dan menengah semakin sulit bertahan. Sementara itu, para pengembang game independen mungkin akan melihat peluang di tengah krisis ekosistem AI dan game besar ini.

  • AMD Sindir MacBook Neo lewat Iklan Perbandingan

    AMD Sindir MacBook Neo lewat Iklan Perbandingan

    JBNews.id — AMD meluncurkan kampanye iklan untuk lini laptop Ryzen dengan menyindir kelemahan MacBook Neo, terutama dalam hal kemampuan gaming. Iklan tersebut membandingkan laptop HP OmniBook X Flip bertenaga Ryzen 5 220 dengan MacBook Neo yang menggunakan chip Apple A18 Pro.

    Kesuksesan MacBook Neo yang penjualannya mengungguli MacBook Air dan Pro pada tiga minggu pertamanya membuat pesaingnya merasa terancam. AMD kemudian menyerang titik terlemah ekosistem Apple, yakni gaming, dalam materi promosi terbarunya.

    Dalam iklan tersebut, AMD memamerkan bahwa mesin x86 miliknya menawarkan akses terbuka ke perpustakaan game raksasa di Steam, Epic Games, hingga PC Game Pass. Mereka juga menjanjikan pengalaman bermain dengan “frame rate tinggi” dan “grafis tingkat lanjut” tanpa perlu menggunakan aplikasi pihak ketiga.

    AMD menyoroti beberapa poin yang dianggap sebagai kelemahan MacBook Neo. Pertama, keterbatasan game: hanya 5 dari 20 game PC “teratas” yang bisa berjalan secara native di perangkat tersebut. Kedua, kapasitas penyimpanan awal MacBook Neo yang hanya 256GB, sementara HP OmniBook menawarkan 512GB. AMD juga menyindir absennya desain layar sentuh 2-in-1 dan minimnya port konektivitas pada laptop Apple tersebut.

    Ketiga, klaim performa: AMD mengklaim prosesor Ryzen menawarkan performa multitasking 57% lebih baik, kecepatan rendering konten 38% lebih cepat, dan koneksi WiFi hingga dua kali lipat lebih kencang.

    Perbandingan yang Dinilai Kurang Tepat

    Meski HP OmniBook X Flip yang dibanderol mulai dari USD 999 memiliki sejumlah keunggulan spesifikasi di atas kertas, perbandingan yang dibuat AMD dinilai tak sepenuhnya tepat. Faktanya, konsumen tidak membeli MacBook seri budget dengan tujuan utama bermain game PC AAA.

    Komparasi ini pada dasarnya hanya membeberkan perbedaan mendasar antara sistem operasi Windows dan macOS, sebuah realitas yang sudah sangat dipahami konsumen. Lebih jauh lagi, klaim bahwa GPU Radeon 740M pada Ryzen 5 220 mampu memberikan “grafis tingkat lanjut” juga dinilai berlebihan.

    Praktisnya, GPU terintegrasi tersebut hanya nyaman digunakan untuk judul game yang ramah spesifikasi. Pemain sering kali harus menurunkan pengaturan grafis ke level terendah pada resolusi 1080p. Di sisi lain, MacBook Neo dengan segala keterbatasannya terbukti mampu menjalankan beberapa game PC dengan performa yang cukup mengejutkan.

    Sebagai pengingat, MacBook Neo diluncurkan dengan harga awal yang sangat menggiurkan, yakni USD 599. Berkat kombinasi harga terjangkau, desain premium, dan stabilitas macOS, laptop ini sukses terjual sebanyak 1,1 juta unit hanya dalam waktu kurang dari sebulan setelah dirilis.

    Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan terbaru ekosistem Apple, informasi mengenai Fitur Terbaru dari lini MacBook lainnya juga patut disimak.

    Persaingan antara AMD dan Apple diprediksi akan semakin ketat. Ke depannya, Harga Terbaru MacBook Neo menjadi salah satu faktor yang akan menentukan peta persaingan laptop entry-level.

    Implikasinya bagi konsumen, persaingan ini justru menguntungkan. Setiap merek akan berusaha menawarkan nilai terbaik, baik dari segi harga maupun performa, untuk merebut hati pengguna.

  • ChatGPT Tembus 1 Miliar Pengguna, Kalahkan Rekor Google Maps

    ChatGPT Tembus 1 Miliar Pengguna, Kalahkan Rekor Google Maps

    JBNews.id — ChatGPT resmi menembus satu miliar pengguna aktif bulanan hanya dalam waktu 3,5 tahun sejak diluncurkan, mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang Google Maps. Pencapaian ini menjadikan aplikasi kecerdasan buatan (AI) milik OpenAI sebagai platform dengan pertumbuhan pengguna tercepat dalam sejarah aplikasi digital global.

    Menurut estimasi firma analitik Sensor Tower, aplikasi AI ini mencapai tonggak sejarah tersebut pada pertengahan 2026. Sebagai perbandingan, Google Maps membutuhkan waktu sekitar lima tahun sejak peluncurannya untuk mencapai volume penggunaan yang sama. Capaian ini makin mengukuhkan posisi ChatGPT sebagai aplikasi AI nomor satu di dunia.

    Pada Februari lalu, OpenAI mengumumkan bahwa ChatGPT telah memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan di platform web dan mobile. Perusahaan yang dipimpin Sam Altman ini mengklaim memiliki kunjungan web dan sesi mobile bulanan yang enam kali lebih besar dibandingkan platform AI terbesar berikutnya.

    Meskipun ChatGPT unggul secara signifikan dalam jumlah pengguna bulanan, model-model pesaing mulai mengejar ketertinggalannya. Data Sensor Tower menunjukkan bahwa Claude dari Anthropic dan Meta AI masing-masing mencatat pertumbuhan penggunaan tahunan sebesar 640% dan 973%, jauh di atas pertumbuhan ChatGPT yang hanya 62%.

    “ChatGPT saat ini memiliki keunggulan sebagai pelopor, tapi penggunaan aplikasi AI kompetitor terus berkembang berkat peningkatan model dan sentimen pasar yang lebih positif,” ujar analis Sensor Tower Abe Yousef kepada CNBC, seperti dikutip detikINET, Minggu (14/6/2026).

    Yousef mencontohkan kesepakatan OpenAI dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang diumumkan Februari lalu untuk menggunakan modelnya di jaringan Pentagon. Pengumuman ini membuat pengguna resah hingga mendorong mereka untuk beralih ke aplikasi lain.

    Dampak Kesepakatan dengan Pentagon

    Menurut data Sensor Tower, penghapusan aplikasi ChatGPT melonjak sekitar 295% dari hari ke hari pada 28 Februari, sehari setelah OpenAI mengumumkan kesepakatannya dengan Pentagon. Lonjakan ini menunjukkan sensitivitas pengguna terhadap isu keamanan dan etika penggunaan AI.

    Di sisi lain, Anthropic mendapatkan dorongan positif dari sentimen terhadap ChatGPT. Claude melesat sebagai aplikasi teratas di App Store pada akhir pekan yang sama, dan mengungguli jumlah unduhan ChatGPT untuk pertama kalinya, setelah menolak terlibat dalam operasi Pentagon.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan di pasar AI semakin ketat. Meskipun ChatGPT masih memimpin dari segi jumlah pengguna, pertumbuhan kompetitor yang eksplosif menjadi sinyal bahwa pangsa pasar bisa bergeser dalam waktu dekat. OpenAI kini menghadapi tekanan untuk menjaga kepercayaan pengguna di tengah ekspansi bisnisnya.

    Dalam konteks ini, strategi Super App ChatGPT yang tengah dikembangkan OpenAI menjadi krusial. Perusahaan baru-baru ini menunjuk Thibault Sottiaux untuk memimpin proyek ambisius tersebut, yang diharapkan bisa memperluas ekosistem layanan AI secara terintegrasi.

    Implikasi bagi Industri AI Global

    Pencapaian satu miliar pengguna dalam waktu singkat menegaskan bahwa adopsi AI generatif telah melampaui ekspektasi. Namun, data Sensor Tower juga mengindikasikan bahwa loyalitas pengguna belum sepenuhnya terbentuk. Pertumbuhan pesat kompetitor seperti Claude dan Meta AI menunjukkan bahwa pasar masih sangat dinamis.

    Bagi pengguna di Indonesia, pertumbuhan AI ini membawa dampak langsung pada cara bekerja dan mengakses informasi. Aplikasi AI kini tidak hanya digunakan untuk percakapan ringan, tetapi juga untuk tugas-tugas produktivitas seperti menulis, coding, hingga analisis data.

    Meski demikian, isu keamanan dan etika tetap menjadi perhatian utama. Beberapa insiden kontroversial, seperti kasus bunuh diri yang melibatkan ChatGPT, telah memicu tuntutan hukum terhadap OpenAI. Florida bahkan menggugat perusahaan tersebut terkait keamanan platform.

    Di sisi lain, integrasi AI ke dalam layanan keuangan juga mulai terlihat. Visa mengintegrasikan ChatGPT untuk transaksi AI otonom, menandai langkah baru dalam pemanfaatan teknologi ini di sektor finansial.

    Namun, kegagalan AI juga bisa berakibat fatal. Insiden di Brasil di mana AI rumah sakit salah diagnosis hingga menyebabkan pasien meninggal, menjadi pengingat bahwa teknologi ini masih memerlukan pengawasan manusia yang ketat.

    Dengan pertumbuhan pengguna yang luar biasa dan tantangan yang menyertainya, ChatGPT dan platform AI lainnya berada di persimpangan antara inovasi dan tanggung jawab. Keputusan strategis yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah industri ini untuk tahun-tahun mendatang.

    [CONTENT_END]

  • China Hapus 12.000 Jurusan Perguruan Tinggi, Digantikan Program AI

    China Hapus 12.000 Jurusan Perguruan Tinggi, Digantikan Program AI

    JBNews.id — China menghapus lebih dari 12.000 jurusan sarjana di berbagai universitas dalam lima tahun terakhir. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan dan mengatasi pengangguran lulusan muda yang masih tinggi.

    Data Kementerian Pendidikan China menunjukkan sepanjang 2021-2025, sebanyak 12.200 program sarjana dicabut atau dihentikan penerimaannya. Pada periode yang sama, universitas membuka 10.200 program baru. Artinya, lebih dari 30% jurusan di perguruan tinggi China mengalami perubahan hanya dalam lima tahun.

    Jurusan yang paling banyak terdampak berasal dari bidang seni, humaniora, bahasa asing, hingga manajemen. Bidang-bidang tersebut dinilai mulai mengalami kejenuhan dan tidak lagi sejalan dengan kebutuhan pasar kerja yang berubah cepat akibat perkembangan AI.

    Sebaliknya, kampus-kampus di China kini berlomba membuka jurusan yang mendukung agenda teknologi nasional. Salah satunya adalah embodied intelligence, bidang yang menggabungkan AI dengan robot atau mesin fisik yang mampu berinteraksi langsung dengan dunia nyata. Sedikitnya sembilan universitas telah membuka program studi tersebut.

    Gelombang perubahan ini terjadi ketika jumlah lulusan perguruan tinggi di China terus meningkat, sementara pasar kerja semakin kompetitif. Tingkat pengangguran pemuda di negara itu masih berada di kisaran belasan persen, membuat banyak lulusan kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai bidang studi mereka.

    Jurusan Seni Jadi Korban

    Salah satu contoh paling mencolok datang dari Communication University of China (CUC), salah satu kampus media dan seni paling bergengsi di Beijing. Pada 2025, kampus tersebut menutup lima jurusan seni sekaligus, yakni fotografi, komik, desain komunikasi visual, seni media baru, dan desain fesyen.

    Sebagai gantinya, CUC membuka tiga jurusan baru yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi, yaitu Intelligent Imaging Art, Intelligent Audiovisual Engineering, dan Intelligent Engineering and Creative Design.

    Keputusan itu kembali menjadi sorotan setelah Rektor CUC, Liao Xiangzhong, menjelaskan alasan di balik perombakan tersebut dalam forum politik tahunan China. Menurut Liao, masa depan akan didominasi era “kolaborasi manusia dan mesin” sehingga pendidikan tinggi harus beradaptasi. Ia bahkan menyebut jurusan fotografi tradisional tidak lagi relevan sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri.

    “Saat ini semua orang bisa menjadi kreator konten dan perekam peristiwa melalui perangkat digital yang mereka miliki,” kata Liao. Meski demikian, ia menegaskan jurusan tersebut tidak sepenuhnya dihapus, melainkan digabungkan ke program yang lebih luas, yakni Film and Television Photography and Production.

    Tak hanya jurusan seni, CUC juga menutup sejumlah program humaniora termasuk penerjemahan. Liao menilai perkembangan AI telah mengubah kebutuhan industri secara signifikan.

    “Penerjemahan sudah banyak digantikan AI. Membuka program studi empat tahun untuk penerjemahan bahasa tertentu merupakan pemborosan sumber daya nasional,” ujarnya. Pernyataan tersebut memicu perdebatan di media sosial China. Sebagian netizen menilai langkah itu terlalu drastis, sementara yang lain menganggap kampus memang harus beradaptasi dengan perubahan teknologi.

    Gelombang serupa juga terjadi di sejumlah universitas lain. Jilin University, East China Normal University, dan Nanchang University diketahui menutup beberapa jurusan seni seperti sastra film dan drama, penyiaran, penyutradaraan, hingga animasi.

    Mahasiswa Sudah Bersiap Sejak Lama

    Menariknya, mahasiswa yang terdampak mengaku tidak terlalu terkejut dengan perubahan tersebut. Seorang mahasiswa fotografi CUC mengatakan para dosen sebenarnya sudah mulai memperkenalkan penggunaan AI dalam proses kreatif sejak 2022.

    “Kami memang menghela napas saat mendengar kabar itu, tetapi tidak ada reaksi emosional yang berlebihan,” ujarnya. “Bagi saya, AI hanyalah medium kreatif atau alat baru. Yang lebih penting adalah cara berpikir manusianya.”

    Pandangan serupa juga muncul dari kalangan alumni. Menurut mereka, tantangan terbesar bukanlah kehadiran AI, melainkan bagaimana pendidikan tinggi mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensi kreativitas manusia.

    Peneliti senior National Institute of Education Sciences, Chu Zhaohui, menilai kampus tidak bisa terus-menerus menutup satu jurusan lalu membuka jurusan baru setiap kali teknologi berubah. Ia mendorong sistem pendidikan yang lebih fleksibel sehingga mahasiswa dapat memilih kombinasi mata kuliah sesuai minat, kemampuan, dan kebutuhan karier mereka.

    Apa yang terjadi di China menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu pekerjaan. Teknologi ini kini mulai memengaruhi struktur pendidikan tinggi secara langsung. Bahkan bidang-bidang yang selama ini identik dengan kreativitas manusia seperti fotografi, desain, seni visual, hingga penerjemahan kini ikut dipaksa beradaptasi dengan era baru kolaborasi manusia dan mesin.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak teknologi terhadap industri, Anda dapat membaca artikel tentang Harga Xbox Game Pass yang menunjukkan perubahan perilaku konsumen di era digital. Sementara itu, bagi yang tertarik dengan Bulan Uranus membuktikan bahwa inovasi terus terjadi di berbagai bidang.

    Implikasi dari kebijakan ini bagi pembaca cukup jelas: dunia pendidikan tinggi sedang mengalami transformasi besar-besaran. Jurusan yang tidak relevan dengan kebutuhan pasar akan ditinggalkan, sementara program studi berbasis teknologi dan AI akan menjadi primadona baru. Bagi calon mahasiswa, memilih jurusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi menjadi semakin krusial.

  • Sony 1000X The Collexion Resmi Rp 11 Juta di Indonesia

    Sony 1000X The Collexion Resmi Rp 11 Juta di Indonesia

    JBNews.id — Sony Indonesia resmi meluncurkan headphone premium terbaru, 1000X The Collexion, dengan harga Rp 10.999.000 pada Jumat, 12 Juni 2026. Perangkat ini menandai perayaan satu dekade lini headphone legendaris 1000X yang dimulai dari tipe MDR-1000X pada 2016.

    Peluncuran ini tidak hanya menghadirkan peningkatan kualitas audio khas Sony, tetapi juga menawarkan desain super mewah dengan material kelas atas. President Director PT Sony Indonesia, Motoya Itako, mengungkapkan bahwa selama satu dekade terakhir, seri 1000X telah menjadi bukti komitmen Sony dalam memberikan pengalaman mendengarkan musik terbaik bagi konsumen di seluruh dunia.

    “Melalui 1000X The Collexion, kami menghadirkan interpretasi baru dari filosofi 1000X yang memadukan kualitas suara premium, desain yang elegan, serta kenyamanan optimal dalam satu produk. Peluncuran ini mencerminkan semangat Kando untuk menyentuh emosi melalui teknologi,” ujar Itako dalam keterangan resmi.

    Sony 1000X The Collexion

    Bersamaan dengan peluncuran lini baru tersebut, Sony juga menyegarkan headphone noise-cancelling andalannya, WH-1000XM6, dengan menghadirkan varian warna baru bernuansa hangat, yakni Sandstone, seharga Rp 7.499.000.

    Desain Mewah dan Material Premium

    1000X The Collexion dirancang khusus bagi pengguna yang mengutamakan estetika kelas atas tanpa mengorbankan kenyamanan pemakaian jangka panjang. Bagian headband menggunakan material logam dengan tekstur matte hasil proses sandblasting, dengan sentuhan polesan akhir yang dikerjakan secara manual oleh perajin terampil.

    Material kulit sintetis pada perangkat ini dikembangkan secara khusus selama dua tahun agar menghasilkan sensasi sentuhan yang sangat premium dan lembut di telinga. Headphone ini juga mengusung earcup berukuran lebih besar dan headband berbantalan empuk yang lebih lebar untuk mendistribusikan bobot perangkat secara merata.

    Audio Kelas Studio dengan Fitur Pintar

    Di sektor kualitas suara, Sony menggandeng mastering engineer peraih dan nominasi Grammy Awards untuk meracik tuning pada 1000X The Collexion, guna memastikan suara vokal dan instrumen terdengar natural. Ini adalah headphone pertama Sony yang dibekali DSEE Ultimate berbasis Edge-AI, teknologi yang mampu mengembalikan detail suara pada file musik kompresi digital secara real-time.

    Headphone ini juga menghadirkan tiga mode audio spasial imersif melalui 360 Reality Audio Upmix, yakni Music, Cinema, dan Game, yang bisa dengan mudah diganti melalui tombol Listening Mode. Dari sisi peredaman bising, perangkat ini mengadopsi teknologi 12 mikrofon dengan Multi-Noise Sensor dan Adaptive NC Optimizer yang diwariskan dari seri WH-1000XM6.

    Sementara itu, varian WH-1000XM6 warna Sandstone menawarkan nuansa warna tanah yang natural dan elegan, namun tetap membawa spesifikasi peredam bising juara dan baterai tahan lama khas keluarga WH-1000XM6.

    Ramah Lingkungan dan Inklusif

    Sony tetap menaruh perhatian besar pada aspek keberlanjutan. Sekitar 25% material plastik pada perangkat ini menggunakan bahan daur ulang, dipadukan dengan kemasan kotak yang 100% bebas plastik.

    Dari sisi aksesibilitas, perangkat ini dirancang inklusif dengan tombol taktil yang mudah diraba, penanda posisi L/R yang jelas, serta tas penyimpanan (carrying case) bermagnet yang sangat mudah dibuka, bahkan untuk pengguna dengan keterbatasan mobilitas tangan.

    Harga Sony 1000X The Collexion

    Kedua produk audio kelas atas ini sudah bisa didapatkan oleh konsumen di Indonesia mulai hari ini, Jumat, 12 Juni 2026. Berikut adalah rincian harga resminya:

    • Sony 1000X The Collexion (Platinum & Black): Rp 10.999.000
    • Sony WH-1000XM6 (Sandstone): Rp 7.499.000

    Bagi pengguna yang mencari variasi warna yang lebih menyatu dengan gaya hidup personal, Sony memperkenalkan warna Sandstone untuk seri WH-1000XM6 yang menjadi warna kelima di jajarannya.

    Dengan harga yang menempatkannya di segmen premium, 1000X The Collexion menjadi pilihan bagi audiophile dan kolektor yang menginginkan perpaduan antara kualitas suara kelas atas dan estetika mewah. Sementara WH-1000XM6 warna Sandstone menawarkan opsi lebih terjangkau dengan tetap mempertahankan performa peredam bising terbaik di kelasnya.

    Implikasi bagi konsumen Indonesia: pasar headphone premium Tanah Air kini memiliki dua opsi baru dari Sony yang membidik segmen berbeda — 1000X The Collexion untuk pengguna yang mengutamakan eksklusivitas dan material mewah, serta WH-1000XM6 Sandstone untuk mereka yang mencari teknologi terbaru dengan harga lebih rasional.

  • Baseus PicoGo Air Rilis, Powerbank Setipis Kartu

    Baseus PicoGo Air Rilis, Powerbank Setipis Kartu

    JBNews.id — Baseus resmi meluncurkan PicoGo Air AM71, sebuah powerbank magnetik dengan ketebalan hanya 6,9 mm yang menantang Xiaomi UltraThin Magnetic Power Bank di segmen aksesori premium. Perangkat yang dipamerkan di ajang Global Connect Show (GCS) Shenzhen 2026 ini dirancang untuk pengguna yang menginginkan sumber daya cadangan portabel tanpa mengorbankan kenyamanan.

    Powerbank ini memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh, cukup untuk pengisian darurat sepanjang hari. Desain ultra-tipisnya membuat perangkat ini nyaris setipis beberapa kartu yang ditumpuk, sehingga dapat menempel di belakang smartphone tanpa mengganggu saat digunakan atau disimpan di saku.

    Dari sisi pengisian daya, PicoGo Air mendukung fast charging 22,5W melalui port USB-C. Untuk pengisian nirkabel magnetik, perangkat ini menawarkan daya hingga 15W, kompatibel dengan iPhone yang mendukung MagSafe maupun perangkat lain dengan standar Qi.

    Baseus PicoGo Air AM71

    Fitur Unggulan NFC dan Pendingin

    Salah satu fitur yang membedakan PicoGo Air dari pesaing adalah NFC Battery Monitoring. Pengguna cukup menempelkan smartphone ke powerbank untuk melihat informasi sisa daya baterai, status pengisian, hingga kondisi perangkat secara instan melalui aplikasi pendamping.

    Mengusung bodi sangat tipis menghadirkan tantangan dalam pengelolaan suhu. Baseus menyematkan Triple-Loop Cooling Structure yang dipadukan dengan material graphene dan aerogel untuk membuang panas lebih efisien. Perusahaan mengklaim sistem ini mampu menjaga suhu tetap stabil saat pengisian berlangsung, baik menggunakan kabel maupun secara nirkabel. Tersedia pula sensor pemantauan suhu pintar yang bekerja real-time guna mencegah overheating.

    Baseus juga membekali PicoGo Air dengan fitur Smart Trickle Charge Mode. Ketika kapasitas baterai perangkat yang diisi mencapai 80%, sistem akan otomatis mengurangi daya pengisian untuk menjaga kesehatan baterai jangka panjang.

    Material dan Kompatibilitas

    Powerbank ini menggunakan material aluminium unibody yang dipadukan serat kaca. Bagian sisi dibuat melengkung sehingga nyaman digenggam dan tidak mudah menggores permukaan smartphone. Perangkat ini kompatibel dengan seri iPhone 12 hingga iPhone 17, AirPods, serta berbagai perangkat lain yang mendukung pengisian daya nirkabel Qi.

    Untuk keamanan, Baseus menyematkan berbagai lapisan proteksi mulai dari perlindungan terhadap overcharge, overdischarge, overvoltage, overpower, overcurrent, korsleting, suhu berlebih, hingga gangguan elektromagnetik.

    Spesifikasi Lengkap

    Berikut spesifikasi Baseus PicoGo Air AM71:

    • Kapasitas: 5.000 mAh (19,4 Wh)
    • Ketebalan: 6,9 mm
    • Input USB-C: 5V/3A, 9V/2,2A
    • Output USB-C: hingga 22,5W
    • Wireless charging: 5W, 7,5W, 10W, 15W
    • Total output: 5V/3A
    • Material: Aluminium unibody + glass fiber
    • Fitur: NFC Battery Monitoring, Triple-Loop Cooling, Smart Trickle Charge
    • Proteksi: Overcharge, overdischarge, overvoltage, overpower, overcurrent, short-circuit, temperature protection, electromagnetic protection

    Harga dan Ketersediaan

    Meski belum diumumkan untuk pasar Indonesia, PicoGo Air sudah diperkenalkan di China dengan harga sekitar 299 yuan atau setara Rp 680 ribuan. Dengan kombinasi desain ultra-tipis, pengisian cepat 22,5W, serta fitur NFC yang unik, Baseus PicoGo Air berpotensi menjadi salah satu penantang terkuat Xiaomi UltraThin Magnetic Power Bank di kelas powerbank magnetik premium.

    Bagi pengguna yang mengikuti perkembangan teknologi terkini, kehadiran perangkat ini menjadi alternatif menarik di samping inovasi dari merek lain seperti Fitur Terbaru yang juga terus bermunculan di pasar aksesori.

    Baseus PicoGo Air AM71

    Dengan desain yang nyaris setipis kartu, Baseus PicoGo Air menawarkan solusi portabilitas maksimal bagi pengguna smartphone modern yang membutuhkan daya cadangan tanpa ribet.