Meta Rahasiakan Fitur Pengenalan Wajah di Kacamata Pintar

Sepasang kacamata pintar Meta Ray-Ban dengan teknologi pengenalan wajah tersembunyi

JBNews.id — Meta diam-diam menyematkan teknologi pengenalan wajah ke dalam kacamata pintar Ray-Ban buatannya, dan para petinggi perusahaan justru murka setelah kode tersebut ditemukan oleh jurnalis. Kode yang dijuluki “NameTag” itu ditemukan dalam aplikasi Meta AI oleh tim Wired dan dilaporkan pada pekan lalu. Fitur yang belum dirilis ini mampu mengubah wajah yang ditangkap kamera kacamata menjadi tanda tangan biometrik unik, lalu mencocokkannya dengan data di ponsel pengguna.

Laporan Wired menegaskan bahwa NameTag belum diaktifkan dan belum bisa diakses oleh konsumen. Namun, keberadaan infrastruktur untuk fitur kontroversial ini memicu kekhawatiran baru di tengah meningkatnya adopsi kacamata pintar Meta. Jika sebuah perusahaan telah membangun sistem untuk meluncurkan fitur yang sangat sensitif, konsumen berhak mengetahuinya—meskipun fitur tersebut saat ini belum bisa digunakan.

Reaksi para eksekutif Meta justru mengejutkan. Mereka menuduh Wired melakukan pelaporan yang “tidak jujur” dan “menyesatkan.” Wakil Presiden Komunikasi Meta, Andy Stone, menyatakan di media sosial bahwa Wired baru mengungkapkan di paragraf keempat bahwa fitur itu “belum diaktifkan,” dan baru di paragraf ke-16 bahwa fitur itu bersifat eksploratif. “Ini lebih dari sekadar jurnalisme buruk, ini tidak jujur secara intelektual,” kata Stone. “Clickbait murni yang didorong advokasi.”

Chief Technology Officer Meta, Andrew “Boz” Bosworth, juga angkat bicara. “Sangat menyesatkan dari Wired, sayangnya kami semakin sering mengharapkan hal seperti ini dari mereka,” tulis Bosworth. “Benar-benar tidak jujur.”

Bukan Pertama Kali NameTag Jadi Sorotan

Ini bukan pertama kalinya NameTag muncul ke permukaan. Pada Februari lalu, New York Times melaporkan memo internal Meta yang membahas rencana pemasangan NameTag di kacamata pintar. Dalam memo tersebut, Meta mencatat bahwa fitur yang sarat etika ini sebaiknya diluncurkan “selama lingkungan politik yang dinamis di mana banyak kelompok masyarakat sipil yang kami perkirakan akan menyerang kami akan memfokuskan sumber daya mereka pada kekhawatiran lain.”

Dorongan publik setelah laporan NYT sangat cepat. Pada April, 75 organisasi menandatangani surat ACLU yang ditujukan kepada CEO Meta Mark Zuckerberg, menyebut NameTag sebagai “garis merah yang tidak boleh dilintasi masyarakat.” Gelombang protes ini menunjukkan betapa sensitifnya isu pengenalan wajah di ruang publik.

Ini bukan pertama kalinya Meta bermasalah dengan data biometrik. Pada 2025, raksasa teknologi itu membayar $1,4 miliar untuk menyelesaikan gugatan dengan Texas terkait penanganan data biometrik. Sebelumnya pada 2021, setelah menyelesaikan gugatan class action lain, Meta mematikan fitur Facebook yang menggunakan pengenalan wajah untuk menandai orang di foto secara otomatis.

Infrastruktur yang Hampir Siap

Meskipun NameTag belum dirilis, para ahli khawatir infrastrukturnya sudah hampir siap. Cooper Quintin, teknolog dari Electronic Frontier Foundation Threat Lab, meninjau kode NameTag yang tersembunyi dan menyatakan, “Fitur ini belum terbuka untuk konsumen tetapi tampaknya hampir siap untuk digunakan.” Quintin menambahkan, “Meskipun ada miliaran alasan untuk tidak melakukannya, Meta tampaknya telah menciptakan kapasitas untuk mengubah pelanggan mereka menjadi mesin pengawasan terdistribusi.”

Kekhawatiran ini diperkuat oleh laporan sebelumnya bahwa pekerja Meta mengaku melihat hal-hal yang mengganggu melalui kacamata pintar pengguna. Kombinasi antara perangkat yang selalu aktif, kamera tersembunyi, dan potensi pengenalan wajah menciptakan risiko privasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam tanggapan resminya kepada Wired, Meta menyebut temuan itu “sensasional” dan mengkarakterisasi NameTag sebagai eksploratif. “Kami telah mengatakan sebelumnya bahwa kami sedang mengeksplorasi fitur semacam ini, dan apa yang Anda lihat hanyalah bukti dari eksplorasi itu,” kata perusahaan itu. “Tidak ada yang dikirimkan ke konsumen dan belum ada keputusan akhir tentang apa yang akan dilakukan. Jika kami memutuskan untuk merilis sesuatu, kami akan mengambil pendekatan yang bijaksana dan melakukannya dengan transparansi penuh. Satu keputusan yang bisa kami tegaskan—kami tidak membangun database wajah terpusat.”

Namun, pernyataan itu tidak sepenuhnya meyakinkan. Keberadaan kode NameTag di aplikasi Meta AI, yang sudah diinstal di jutaan perangkat, menunjukkan bahwa Meta telah melewati tahap eksplorasi awal. Para pengamat menilai bahwa langkah ini mirip dengan pola Meta sebelumnya: membangun infrastruktur terlebih dahulu, lalu menghadapi kontroversi setelahnya.

Implikasinya sangat luas. Jika NameTag benar-benar dirilis, kacamata pintar Meta bisa menjadi alat pengawasan massal yang dibawa oleh konsumen sendiri. Setiap wajah yang terekam bisa langsung diidentifikasi, tanpa sepengetahuan atau izin orang yang direkam. Ini bukan sekadar masalah privasi individual, tetapi ancaman terhadap kebebasan sipil secara keseluruhan.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan siber dan privasi pada 2026, langkah Meta ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar masih bergulat dengan batasan etika. Sementara Meta mengklaim tidak akan membangun database wajah terpusat, sistem NameTag justru mengandalkan database di ponsel pengguna—yang bisa diperbarui dari Meta—menciptakan jaringan pengawasan yang terdesentralisasi namun tetap terkendali.

Bagi konsumen, temuan ini menjadi pengingat bahwa perangkat pintar yang mereka kenakan setiap hari mungkin memiliki kemampuan yang tidak mereka ketahui. Dengan investasi besar Meta dalam infrastruktur AI, termasuk pusat data bertenda, perusahaan ini jelas serius mengembangkan kemampuan pengenalan visual. Pertanyaannya sekarang: sejauh mana konsumen bersedia menerima fitur semacam ini demi kenyamanan teknologi?

Sepasang kacamata pintar Meta Ray-Ban dengan latar belakang warna-warni