Blog

  • Modus Drama China dan Menebak Gambar Dipakai Penipuan Digital

    Modus Drama China dan Menebak Gambar Dipakai Penipuan Digital

    JBNews.id — Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) pada Mei 2026 menghentikan kegiatan lima entitas yang diduga melakukan penipuan dan investasi ilegal, yaitu CANTVR, YUDIA, Appeninc, VID, dan Sensenowai. Modus yang digunakan pun semakin beragam, memanfaatkan aktivitas digital sehari-hari seperti menonton drama China hingga menebak gambar.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa modus-modus ini dirancang untuk menjaring korban melalui tren digital yang sedang populer. “Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap tawaran yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal,” tulis OJK dalam unggahan di akun Instagram @ojkindonesia.

    Kelima entitas tersebut memiliki modus operandi yang berbeda. CANTVR berkedok kegiatan investasi saham dengan janji pemberian beberapa benefit dan keuntungan lebih besar berdasarkan level keanggotaan. Selain itu, CANTVR juga menawarkan alokasi saham IPO fiktif yang mewajibkan anggota membayar sejumlah dana.

    Appeninc menjaring korban dengan modus pengerjaan tugas berupa menebak gambar. Sementara itu, VID mengiming-imingi korban dengan imbalan uang hanya dengan melakukan tugas menonton iklan serta penawaran pembiayaan proyek fiktif.

    YUDIA melancarkan penipuan dengan modus pengerjaan tugas harian menonton film drama China hingga skema pembelian hak cipta film drama China tersebut. Modus ini memanfaatkan popularitas konten hiburan dari China yang banyak digemari masyarakat Indonesia.

    Terakhir, Sensenowai menggunakan modus copy trading kripto melalui aplikasi Wapex. “Sebagian besar entitas ini mewajibkan anggota melakukan deposit dana dan merekrut anggota baru (Member Get Member) untuk mendapatkan pendapatan harian dan bonus tambahan,” tambah OJK.

    Berdasarkan hasil investigasi, kegiatan operasional kelima entitas ini sama sekali tidak sesuai dengan izin yang diterbitkan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Selain itu, mereka juga tidak terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

    “Sebagai tindak lanjut, Satgas PASTI telah menghentikan kegiatan dan memblokir akses aplikasi/URL terkait serta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk proses penindakan sesuai ketentuan,” terang OJK.

    Modus penipuan yang memanfaatkan aktivitas digital ini menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan masyarakat. Aktivitas sederhana seperti menonton drama China atau menebak gambar kini bisa menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan digital. Sebelumnya, modus serupa juga terdeteksi dalam Penipuan Streaming Piala Dunia yang menggunakan domain palsu.

    Polanya serupa: korban diiming-imingi pendapatan harian dan bonus tambahan, namun diwajibkan melakukan deposit dana dan merekrut anggota baru. Skema ini mirip dengan Modus Pupuk Palsu yang merugikan petani hingga Rp 3,3 triliun, di mana pelaku memanfaatkan kebutuhan korban untuk keuntungan instan.

    OJK mengingatkan bahwa tidak ada keuntungan yang didapat tanpa risiko dan kerja keras. Masyarakat diminta untuk selalu memeriksa legalitas entitas yang menawarkan investasi atau pekerjaan dengan imbalan besar. Cek izin di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM serta status PSE di Komdigi.

    Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa modus penipuan digital terus berevolusi. Pelaku tidak lagi hanya menggunakan skema investasi bodong klasik, tetapi juga menyamar sebagai platform hiburan yang tampak tidak berbahaya. Di Banten, modus serupa pernah terjadi ketika seorang ASN Pandeglang kehilangan Rp200 juta karena modus kenalan Facebook.

    Bagi masyarakat, langkah pencegahan terbaik adalah bersikap skeptis terhadap tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Jangan mudah tergiur dengan iming-iming pendapatan harian atau bonus besar hanya dengan melakukan tugas sederhana seperti menonton film atau menebak gambar.

    Satgas PASTI akan terus memantau dan menindak entitas ilegal yang merugikan masyarakat. Koordinasi dengan aparat penegak hukum juga terus dilakukan untuk memastikan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal.

    Implikasinya jelas: masyarakat harus semakin cerdas dalam memilah tawaran investasi dan pekerjaan digital. Aktivitas harian seperti menonton drama China atau menebak gambar memang menyenangkan, tetapi jangan sampai menjadi jebakan yang merugikan finansial. Selalu verifikasi legalitas sebelum mengeluarkan uang atau data pribadi.

  • Risiko Keamanan Vibe Coding: Ancaman di Balik Kemudahan AI

    Risiko Keamanan Vibe Coding: Ancaman di Balik Kemudahan AI

    JBNews.id — Kemudahan membuat aplikasi dengan bantuan kecerdasan buatan, yang dikenal sebagai vibe coding, membawa risiko keamanan serius. Sebuah laporan mengungkap bahwa ribuan aplikasi yang dibuat dengan metode ini rentan terhadap kebocoran data sensitif, mulai dari informasi medis hingga catatan keuangan.

    Fenomena ini muncul seiring dengan maraknya penggunaan AI untuk membuat aplikasi pribadi. Bob Starr, seorang manajer proyek di sektor teknologi, menjadi salah satu contoh nyata. Ia membuat situs bernama “Boomberg” untuk melacak pengeluaran pajak AS. Namun, berbulan-bulan setelah situs itu aktif, ia baru menyadari adanya kerentanan SQL injection yang dapat memungkinkan peretas mengakses data. “Itu adalah kelalaian yang mencolok dari pihak saya,” ujar Starr.

    Kisah Starr bukanlah kasus terisolasi. Di media sosial, banyak cerita tentang aplikasi hasil vibe coding yang penuh celah keamanan. Jer Crane, pendiri PocketOS, melaporkan bahwa agen coding AI-nya menghapus database produksi perusahaannya. Joe Procopio, seorang pengusaha, terpaksa menurunkan aplikasi web buatannya setelah diretas. “Sekarang saya melakukan demo dengan cara lama, dari mesin lokal saya melalui Zoom,” tulisnya.

    Bahaya Tersembunyi di Balik Kemudahan

    Gabriel Bernadett-Shapiro, ilmuwan riset AI terkemuka dari SentinelOne, menekankan bahwa vibe coding pada dasarnya bukanlah hal yang buruk. Bahkan, ia menyebut kemampuan amatir untuk membangun perangkat lunak sebagai sisi positif. Bahaya muncul ketika aplikasi pribadi bergeser menjadi perangkat lunak bisnis yang menyimpan data bersama tanpa disadari.

    “Aplikasi yang menyentuh data pribadi orang lain harus dipegang dengan standar yang berbeda,” tegas Bernadett-Shapiro. Ia mencontohkan aplikasi untuk melacak sakit kepala atau paket berbeda dengan aplikasi yang menangani catatan pasien, data keuangan, atau dokumen internal.

    Jack Cable, CEO Corridor, setuju dengan pandangan ini. Ia mengatakan vibe coding sangat cocok untuk hal-hal berisiko rendah seperti prototipe atau pelacak kebugaran. Namun, catatan keuangan dan aplikasi yang terhubung ke internet publik memerlukan pengawasan lebih ketat. “Pikirkan tentang model ancaman yang ada,” ujar Cable.

    Kerentanan yang Terus Ditemukan

    Kasus yang lebih mengkhawatirkan terjadi pada akhir Januari lalu. Seorang pengembang bernama Matt Schlicht meluncurkan jejaring sosial bernama Moltbook, yang dibangun sepenuhnya untuk agen AI tanpa menulis satu baris kode pun. Dalam hitungan hari, peneliti keamanan dari Wiz menemukan database produksi aplikasi itu terbuka lebar, mengekspos puluhan ribu alamat email dan pesan pribadi.

    Peneliti dari Red Access menemukan sekitar 5.000 aplikasi publik yang dibangun dengan alat vibe coding populer tanpa autentikasi. Hampir 2.000 di antaranya diduga membocorkan data sensitif seperti informasi medis dan keuangan, dokumen strategi, hingga log percakapan chatbot. Perbandingan dengan perangkat lunak profesional yang sudah ada sebelumnya pun tidak relevan, karena jumlah risiko keamanan juga meningkat secara eksponensial seiring dengan jumlah aplikasi yang diproduksi.

    Kurangnya Kesadaran Keamanan

    Salah satu masalah utama adalah rasa percaya diri yang berlebihan. Ketika alat AI mengatakan kode aman, pengembang pemula cenderung langsung percaya. Dalam sesi vibe coding normal, tidak ada yang berhenti untuk memeriksa keamanan secara otomatis kecuali pengguna telah menginstal alat tertentu. Sebagian besar pembuat kode kasual tidak melakukan hal ini.

    Claude Code memiliki perintah /security-review yang memindai kerentanan, tetapi pengguna harus memintanya secara manual. OpenAI memiliki agen keamanan bawaan, Codex Security, yang memindai commit saat masuk, tetapi ini ditujukan untuk pengembang dengan alur kerja kontrol versi yang ketat. Bagi pengguna biasa, pesannya sederhana: Anda harus meminta keamanan sejak awal pembuatan.

    Bernadett-Shapiro mengatakan kekhawatiran terbesarnya bukanlah kode AI yang bermasalah, melainkan kurangnya autentikasi. Ini terjadi ketika pengembang memindahkan aplikasi yang berjalan di komputer lokal ke cloud dengan banyak opsi konfigurasi yang tidak mereka pahami. “Aplikasi yang berjalan dengan baik secara lokal, ketika diletakkan di cloud, bisa seperti meninggalkan kotak rahasia di trotoar,” ujarnya.

    Alat Keamanan yang Mulai Bermunculan

    Beberapa infrastruktur keamanan mulai tersedia. OWASP telah menerbitkan standar verifikasi keamanan AI untuk organisasi. Perusahaan seperti Trail of Bits mulai merilis “skills” atau paket instruksi yang mengarahkan agen coding pada tugas keamanan spesifik, seperti menandai pengaturan default yang tidak aman. Namun, skills ini harus dipicu secara khusus dan sulit diperbarui secara sinkron.

    Selain itu, skills bisa menjadi pedang bermata dua karena skills berbahaya juga ada. Pada bulan Februari, Jason Meller dari 1Password menemukan bahwa skill paling populer di registry OpenClaw mengarahkan pengguna untuk menginstal dependensi yang ternyata berbahaya. “Ini masih alam liar di luar sana,” ujarnya.

    Dampak di Perusahaan Besar

    Potensi aplikasi vibe coding yang tidak aman tidak terbatas pada penggemar saja. Cable mengatakan para insinyur dan bahkan tim penjualan serta pemasaran di perusahaan besar kini mengirimkan lebih banyak kode yang ditulis agen AI. Tim keamanan perlu memiliki visibilitas dasar tentang bagaimana agen tersebut digunakan, serta pagar pembatas yang ditegakkan.

    Bagi individu, panduan Cable lebih sederhana: model yang berjalan secara lokal di komputer pribadi jauh lebih aman daripada model yang dibuat publik, terutama jika berisi data sensitif. “Secara harfiah dalam semalam, cara sebagian besar perusahaan memproduksi perangkat lunak telah berubah total,” kata Cable.

    Pendekatan Bijak: Studi Kasus Jeff Rothblum

    Jeff Rothblum, spesialis urusan pemerintahan, menjadi contoh pendekatan yang bijak. Ia membuat aplikasi untuk menangani entri data yang membosankan dengan mempertimbangkan keamanan. Ia memikirkan informasi apa yang disimpan aplikasi, seberapa sensitif, dan apa yang bisa terjadi jika bocor. “Terakhir kali saya menulis kode mungkin tahun 2006 saat kuliah,” ujar Rothblum.

    Ia mengurangi risiko dengan menjalankan tinjauan keamanan rutin di Claude, menyimpan data pengguna secara lokal, dan membangun aplikasi untuk menghapus browser. Ia juga berencana membayar insinyur keamanan profesional untuk meninjau kode jika bekerja dengan data yang lebih sensitif. “Saya senang dengan open-source dan hal-hal sementara, tetapi yang lainnya membuat saya takut,” katanya.

    Memiliki ahli manusia untuk meninjau kode memang ideal, tetapi Cable mengatakan ini menjadi hambatan. Pertanyaan terbuka sekarang adalah bagaimana dunia akan terlihat ketika sebagian besar kode dikirim tanpa ada manusia yang membacanya. Untuk saat ini, jawabannya lebih sederhana: buat aplikasi impian Anda dengan vibe coding, tetapi pikirkan data yang disimpan dan apa yang bisa salah. Minta aplikasi dibangun dengan keamanan, jalankan tinjauan kode setelah setiap perubahan, dan perhatikan ekstra sebelum memindahkannya ke cloud.

    Perbedaan antara proyek yang menyenangkan dan kisah horor dimulai dengan mengetahui pertanyaan apa yang harus diajukan. Di era di mana Fitur Terbaru dan Threads Tembus 500 juta pengguna, kesadaran keamanan menjadi semakin krusial.

  • Pekerja Chip Korea Borong Barang Mewah Usai Bonus Miliaran

    Pekerja Chip Korea Borong Barang Mewah Usai Bonus Miliaran

    JBNews.id — Fenomena langka terjadi di Korea Selatan: pekerja di industri semikonduktor menerima bonus miliaran rupiah, yang mendorong lonjakan konsumsi barang mewah dan menarik perhatian Bank of Korea (BOK) karena berpotensi memicu inflasi.

    Dalam laporan pada 17 Juni 2026, BOK menyatakan inflasi tahun ini sebagian besar didorong kenaikan harga energi akibat perang Iran. Namun, bank sentral tersebut menambahkan bahwa tekanan inflasi dapat meningkat bertahap seiring membaiknya kondisi pendapatan dan pertumbuhan upah yang makin meluas.

    BOK secara khusus menyoroti pembayaran bonus kinerja dalam jumlah besar yang baru-baru ini terlihat di perusahaan raksasa sektor TI. Bonus tersebut, menurut BOK, dapat menyebar menjadi kenaikan upah yang lebih luas dan pada akhirnya memicu tekanan inflasi. Korea Selatan saat ini sudah mengalami inflasi di atas target; BOK memproyeksikan inflasi setahun penuh mencapai 2,7%, di atas target 2%.

    Pengamatan BOK ini muncul setelah laporan bonus fantastis dibayarkan kepada karyawan di perusahaan teknologi, terutama raksasa produsen chip seperti SK Hynix dan Samsung Electronics. Meskipun jumlah pastinya tidak diungkapkan perusahaan, SK Hynix pada September lalu menyetujui kesepakatan upah yang menyisihkan 10% dari laba operasional sebagai bonus bagi pekerjanya. Sementara itu, pekerja Samsung sepakat bahwa 10,5% dari laba operasional semikonduktor perusahaan akan dialokasikan untuk bonus khusus pekerja chip.

    Menurut sumber serikat pekerja yang dikutip Reuters, seorang pekerja chip memori dengan gaji pokok 80 juta won diperkirakan akan menerima total bonus 626 juta won (Rp 7,2 miliar) tahun ini. Karyawan SK Hynix bahkan diperkirakan menerima bonus lebih dari 700 juta won jika perusahaan berhasil mencapai laba tahunan 250 triliun won tahun ini.

    BOK menyatakan ketika bonus khusus membengkak secara tidak biasa dan substansial, pertumbuhan upah tersebut bisa menyebar ke sektor lain, secara signifikan meningkatkan tekanan inflasi. “Secara khusus, karena bonus kinerja di sektor TI baru-baru ini dibayarkan dalam skala yang sangat luar biasa, kemungkinan bahwa dampak aktualnya bisa lebih besar dari yang diperkirakan tidak dapat dikesampingkan,” tambah mereka.

    Dampak pada Konsumsi Barang Mewah

    Sementara bank sentral cemas, bisnis ritel justru bersiap menyambut para pekerja ini untuk membelanjakan bonus besar mereka. Deputi Gubernur BOK, Lee Jiho, mengatakan penjualan meningkat signifikan di tempat-tempat seperti Suwon dan area barang mewah di department store, dan hal ini dapat menyebar lebih jauh.

    Laporan media Korea Selatan menyebutkan beberapa pekerja industri teknologi menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang mewah di department store. Mereka memborong tas, perhiasan, dan jam tangan. Media Chosun Ilbo melaporkan konsumsi barang mewah meningkat pesat di wilayah Gyeonggi selatan, tempat markas besar Samsung dan SK Hynix berada.

    Penjualan barang mewah di salah satu cabang department store Shinsegae di Provinsi Gyeonggi melonjak 53,6% secara tahunan pada bulan Mei. Penjualan perhiasan mewah melesat 146,3% dan jam tangan mewah tumbuh 85,3%. Secara keseluruhan, penjualan toko tumbuh 19%.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana keberhasilan industri semikonduktor Korea Selatan tidak hanya berdampak pada neraca perusahaan, tetapi juga mengubah pola konsumsi pekerja. Bonus miliaran rupiah yang diterima pekerja chip menciptakan efek domino yang dirasakan hingga ke sektor ritel barang mewah.

    Bagi Indonesia, pola ini bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana kesejahteraan pekerja yang meningkat drastis dapat mendorong konsumsi domestik. Namun, di sisi lain, lonjakan pendapatan yang tidak merata juga berpotensi menimbulkan tekanan inflasi seperti yang dikhawatirkan BOK.

    Implikasi faktual dari fenomena ini adalah bahwa pertumbuhan upah di sektor tertentu, jika terlalu besar dan terkonsentrasi, dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, pekerja menikmati peningkatan daya beli yang signifikan. Di sisi lain, bank sentral harus mewaspadai efek rambatan inflasi yang bisa menggerogoti stabilitas harga secara keseluruhan.

    Bagi pembaca di Indonesia, terutama yang bekerja di sektor teknologi atau manufaktur, kisah pekerja chip Korea ini menunjukkan betapa pentingnya skema bonus berbasis kinerja. Pemerintah daerah di Indonesia pun mulai mendorong perlindungan pekerja melalui program jaminan sosial. Di Tangerang, misalnya, BPJS Ketenagakerjaan memperluas jaminan sosial ke pekerja informal, sebuah langkah yang bisa meningkatkan kesejahteraan secara lebih merata.

    Kisah bonus miliaran pekerja chip Korea ini menjadi pengingat bahwa ketika industri strategis suatu negara tumbuh pesat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh pekerja dan perekonomian secara luas. Namun, keberhasilan ini harus dikelola dengan hati-hati agar tidak menimbulkan ketidakseimbangan ekonomi yang justru merugikan dalam jangka panjang.

    BOK terus memantau perkembangan ini. Jika bonus besar di sektor TI menyebar ke sektor lain, tekanan inflasi bisa meningkat lebih lanjut, memaksa bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan moneternya. Sementara itu, para pekerja chip Korea terus menikmati ‘durian runtuh’ mereka, dan bisnis ritel barang mewah bersiap untuk musim panen yang panjang.

  • Publik Makin Muak dengan AI, Survei Ungkap Data Baru

    Publik Makin Muak dengan AI, Survei Ungkap Data Baru

    JBNews.id — Masyarakat Amerika Serikat semakin menunjukkan sikap skeptis terhadap kecerdasan buatan (AI). Sebuah jajak pendapat komprehensif yang dirilis Pew Research mengungkapkan bahwa hanya 16 persen responden yang percaya AI akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, sementara 49 persen lainnya justru memperkirakan efek negatif.

    Data ini menjadi ironi tersendiri di tengah meningkatnya adopsi teknologi tersebut. Survei yang sama mencatat bahwa 49 persen orang dewasa Amerika kini menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan 33 persen pada tahun 2024. Namun, peningkatan penggunaan tidak serta-merta memperbaiki persepsi publik terhadap AI.

    Ketimpangan antara adopsi dan sentimen negatif ini menjadi sorotan utama dalam laporan Pew Research. Sebanyak 40 persen responden meyakini AI akan berdampak buruk bagi masyarakat secara luas, dan 31 persen menyatakan teknologi ini juga akan merugikan mereka secara pribadi. Fenomena ini menunjukkan bahwa publik makin muak dengan AI, meskipun penggunaannya meningkat.

    Gen Z Paling Skeptis, Paling Sering Pakai AI

    Pandangan terhadap AI ternyata sangat bervariasi berdasarkan kelompok usia. Generasi Z, yang berusia 18 hingga 29 tahun, menjadi kelompok paling waspada. Sebanyak 48 persen dari mereka percaya AI akan berdampak negatif bagi masyarakat. Namun, kelompok ini juga merupakan pengguna AI paling aktif, dengan 66 persen di antaranya melaporkan penggunaan chatbot AI.

    Kelompok usia 30-49 tahun dan 50 tahun ke atas memiliki pandangan yang lebih selaras. Masing-masing 39 persen dan 37 persen dari kelompok ini memandang AI secara negatif. Adopsi AI di kalangan mereka juga lebih rendah: 61 persen untuk usia 30-49 tahun, 42 persen untuk usia 50-64 tahun, dan kurang dari seperempat untuk kelompok usia 65 tahun ke atas.

    Data ini menunjukkan adanya kesenjangan yang menarik antara persepsi dan perilaku. Meskipun Gen Z paling skeptis, mereka justru paling sering berinteraksi dengan AI. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang faktor apa yang mendorong penggunaan AI di tengah skeptisisme yang tinggi.

    Keterpaksaan di Tempat Kerja

    Salah satu penjelasan yang paling mungkin adalah keterpaksaan. Banyak pekerja yang merasa harus menggunakan AI di tempat kerja, meskipun mereka menyadari kelemahan teknologi tersebut dan masalah etika dari industri yang mengembangkannya. Para atasan sering kali lebih antusias terhadap AI dibandingkan karyawan mereka.

    Fenomena ini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan industri AI dalam jangka panjang. Saat ini, industri AI masih didorong oleh sensasi dan gelontoran dana raksasa, sementara keuntungan finansial masih sulit diraih. Ketidakseimbangan antara investasi dan profitabilitas ini bisa menjadi bom waktu bagi sektor tersebut.

    Dalam konteks yang lebih luas, survei ini juga relevan dengan temuan lain yang menunjukkan resistensi publik terhadap infrastruktur AI. Sebuah survei sebelumnya mengungkapkan bahwa 7 dari 10 warga AS menolak pembangunan data center di wilayah mereka. Ini menandakan bahwa kekhawatiran terhadap AI tidak hanya bersifat abstrak, tetapi juga konkret dalam bentuk penolakan terhadap infrastruktur fisiknya.

    Implikasi bagi Masa Depan AI

    Survei Pew Research ini memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan yang dihadapi industri AI. Meskipun adopsi teknologi ini terus meningkat, kepercayaan publik justru menurun. Jika tren ini berlanjut, industri AI bisa menghadapi resistensi yang lebih besar, baik dari konsumen maupun regulator.

    Data menunjukkan bahwa persepsi negatif terhadap AI tidak hanya terbatas pada kelompok usia tertentu. Semua kelompok usia, dari Gen Z hingga lansia, memiliki kekhawatiran yang signifikan. Ini berarti bahwa industri AI perlu bekerja keras untuk membangun kembali kepercayaan publik.

    Salah satu langkah yang bisa diambil adalah meningkatkan transparansi tentang cara kerja AI dan dampaknya. Selain itu, perusahaan AI juga perlu mengatasi masalah etika yang sering dikeluhkan publik, seperti bias algoritma, privasi data, dan potensi penggantian tenaga kerja manusia.

    Namun, tantangan terbesar mungkin datang dari dalam industri itu sendiri. Banyak perusahaan AI yang masih mengandalkan pendanaan ventura dan belum mampu menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Jika investor mulai kehilangan kepercayaan, industri ini bisa mengalami koreksi yang signifikan.

    Dalam jangka pendek, publik mungkin akan terus menggunakan AI karena keterpaksaan atau kebutuhan praktis. Namun, dalam jangka panjang, industri AI harus mampu membuktikan bahwa teknologi ini benar-benar memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, bukan hanya sensasi sesaat.

    Survei ini menjadi pengingat bahwa teknologi secanggih apapun tidak akan bertahan tanpa dukungan publik. Industri AI harus segera berbenah jika tidak ingin kehilangan relevansinya di masa depan.

  • Fitur Vehicle Motion Cues Apple Atasi Mabuk Darat saat Main HP

    Fitur Vehicle Motion Cues Apple Atasi Mabuk Darat saat Main HP

    JBNews.id — Rasa mual dan keringat dingin saat menatap layar ponsel di dalam mobil yang melaju kini bisa diatasi. Apple menghadirkan fitur bernama Vehicle Motion Cues yang memanfaatkan sensor akselerometer dan giroskop untuk mengurangi efek mabuk perjalanan saat menggunakan iPhone, iPad, atau MacBook di kendaraan bergerak.

    Fitur yang diperkenalkan pada tahun 2024 ini menjadi solusi bagi pengguna yang ingin tetap produktif atau mencari hiburan selama perjalanan. Menurut sains, mabuk perjalanan terjadi karena konflik sensorik antara mata yang fokus pada layar statis dan telinga bagian dalam yang merasakan pergerakan kendaraan.

    Vehicle Motion Cues bekerja dengan cara memunculkan titik-titik di tepi layar yang bergerak selaras dengan pergerakan mobil. Saat mobil berbelok ke kanan, titik-titik tersebut menyapu layar ke arah kiri. Saat mobil mengerem, titik-titik meluncur ke depan. Sinyal visual ini membantu otak menyelaraskan informasi dari mata dan telinga bagian dalam.

    Banyak pengguna mengaku bisa membaca buku digital berjam-jam atau mengetik artikel panjang di dalam kendaraan setelah mengaktifkan fitur ini. Teknologi ini menjadi game changer bagi mereka yang harus menyeimbangkan pekerjaan saat road trip.

    Cara Mengaktifkan Vehicle Motion Cues

    Fitur ini mudah dikonfigurasi melalui menu Pengaturan (Settings) di iOS, iPadOS, maupun macOS. Pengguna bisa menyalakannya terus, mematikannya, atau mengaturnya agar muncul secara otomatis saat sistem mendeteksi pergerakan kendaraan.

    Titik-titik hitam yang muncul tergolong tidak mencolok (unobtrusive). Namun, terkadang titik ini bisa sedikit menutupi peta atau teks saat melintasi jalan lurus yang panjang, karena titik-titik tersebut akan diam tak bergerak. Sebagai solusi, pengguna bisa menyesuaikan ukuran, warna, dan kepadatannya di menu pengaturan, meskipun setelan bawaan biasanya sudah terasa pas.

    Tips Pintar: Gunakan Fitur Ketuk Belakang

    Agar tidak repot bolak-balik membuka menu Pengaturan, pengguna bisa memanfaatkan gestur ketuk belakang pada iPhone. Caranya: buka menu Settings > Accessibility > Touch > Back Tap, pilih opsi Double Tap, lalu cari dan pilih Vehicle Motion Cues.

    Dengan pengaturan ini, pengguna hanya perlu mengetuk bagian belakang iPhone dua kali untuk memunculkan atau menghilangkan titik ajaib tersebut. Fitur ini tersedia untuk perangkat yang mendukung iOS 18 ke atas.

    Fitur aksesibilitas yang sering terlupakan ini bisa menjadi penyelamat harian, terutama untuk perjalanan liburan atau mudik panjang. Teknologi serupa juga mulai diterapkan di berbagai perangkat, seperti yang terlihat pada Fitur Terbaru dari Tesla.

    Perkembangan teknologi kendaraan dan perangkat mobile terus berlanjut. Inovasi seperti Vehicle Motion Cues menunjukkan bagaimana Teknologi Canggih bisa menyelesaikan masalah sehari-hari. Sementara itu, eksplorasi luar angkasa juga terus berjalan dengan Misi Terbaru ke Mars.

    Vehicle Motion Cues menjadi bukti bahwa Apple serius mengatasi masalah mabuk perjalanan yang dialami banyak pengguna. Dengan kombinasi sensor dan algoritma cerdas, fitur ini memberikan pengalaman digital yang lebih nyaman di dalam kendaraan.

    Bagi pengguna yang sering bepergian dan harus menggunakan perangkat Apple, fitur ini layak dicoba. Pengaturan yang mudah dan efektivitasnya yang terbukti membuat Vehicle Motion Cues menjadi andalan baru untuk perjalanan bebas mual.

    Apple terus mengembangkan fitur aksesibilitas yang bermanfaat bagi pengguna. Vehicle Motion Cues hanyalah salah satu contoh bagaimana perusahaan teknologi besar berinovasi untuk meningkatkan kualitas hidup penggunanya.

  • Timnas Esports Indonesia Lolos Main Event Asian Games 2026

    Timnas Esports Indonesia Lolos Main Event Asian Games 2026

    JBNews.id — Tim Nasional Esports Indonesia sukses mengamankan tiket ke babak utama atau Main Event cabang olahraga esports pada ajang Asian Games 2026. Dari total 11 nomor pertandingan yang diikuti, sembilan di antaranya berhasil lolos ke fase final.

    Kepastian ini diperoleh setelah melalui serangkaian fase kualifikasi yang berlangsung ketat. Sembilan nomor yang akan diikuti Indonesia di Main Event Asian Games 2026 meliputi Gran Turismo 7, eFootball, PUBG Mobile, Martial Arts (Street Fighter 6, Tekken 8, dan King Of Fighters XV), Pokemon Unite, Identity V, Honor of Kings, Naraka: Bladepoint, dan Mobile Legends: Bang Bang.

    Kepala Pelatih Timnas Esports Indonesia, Richard Permana, menyatakan hasil ini merupakan momentum krusial yang harus dipertahankan. “Hasil positif dari seluruh nomor pertandingan yang lolos menjadi indikator penting kesiapan Tim Nasional Esports Indonesia dalam menghadapi persaingan di Asia,” kata Richard dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin (22/6/2026).

    Saat ini, fokus timnas adalah melakukan evaluasi menyeluruh dan memastikan dukungan operasional serta teknis bagi para atlet tetap optimal. Langkah ini diambil agar atlet-atlet esports kebanggaan Tanah Air dapat mencapai kondisi terbaik saat berlaga di Main Event nanti.

    Perjalanan timnas selama fase kualifikasi tidak berjalan mulus. Banyak catatan penting yang menjadi acuan untuk perbaikan ke depan. Dalam setiap pertandingan, timnas menghadapi lawan dengan karakter permainan yang berbeda. Negara-negara pesaing yang dihadapi juga sangat kuat, menuntut Indonesia untuk siap secara teknis, strategi, dan mental.

    Di fase awal, dua tiket Main Event berhasil diamankan dari nomor Naraka: Bladepoint dan Identity V. Pada nomor Honor of Kings (HOK), Indonesia tampil dominan dengan menyapu bersih seluruh pertandingan tanpa kekalahan. Sementara di nomor Mobile Legends, fase kualifikasi ditutup melalui kemenangan atas Kamboja dengan skor akhir 2-1. Di nomor PUBG Mobile, Indonesia mengamankan posisi kedua dengan total 67 poin.

    “Kami sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kerja keras, dedikasi, dan semangat juang yang ditunjukkan oleh seluruh tim dan jajaran pelatih selama proses persiapan hingga pelaksanaan kualifikasi. Momentum ini perlu terus didukung dan dijaga bersama agar Timnas Esports Indonesia dapat semakin kuat dan konsisten dalam menghadapi persaingan di tingkat internasional,” pungkas Richard.

    Keberhasilan ini menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk bersaing di panggung Asia. Dengan sembilan nomor pertandingan yang lolos, Indonesia menunjukkan daya saing yang solid di berbagai genre game, mulai dari strategi, pertarungan, hingga olahraga. Fitur Terbaru dari persiapan timnas akan terus dimatangkan.

    Bagi para penggemar esports di Indonesia, pencapaian ini menjadi bukti bahwa ekosistem esports Tanah Air terus berkembang dan mampu bersaing di level tertinggi. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk federasi dan masyarakat, menjadi kunci untuk mempertahankan momentum positif ini hingga puncak acara Asian Games 2026.

    Implikasinya jelas: Indonesia kini memiliki panggung untuk menunjukkan dominasinya di kancah esports Asia. Dengan evaluasi yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin prestasi ini akan berbuah medali di acara utama nanti.

  • Moral Karyawan Meta Ambruk, Bos Janjikan Camilan Lebih Banyak

    Moral Karyawan Meta Ambruk, Bos Janjikan Camilan Lebih Banyak

    JBNews.id — Moral kerja karyawan Meta dilaporkan mendekati titik terendah dalam sejarah perusahaan akibat gelombang PHK massal dan perombakan manajemen yang kontroversial. Untuk mengatasi krisis kepercayaan ini, Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew “Boz” Bosworth, berjanji memperbaiki suasana kantor dengan menawarkan lebih banyak camilan, peningkatan anggaran perjalanan, dan investasi dalam acara sosial.

    Dalam pertemuan internal yang dilaporkan Business Insider, Bosworth secara blak-blakan mengakui situasi suram yang melanda raksasa teknologi tersebut. Ia menyebut tingkat keparahan moral saat ini berada di tingkat atas, hanya kalah dari skandal Cambridge Analytica pada 2016. “Saya rasa skandal Cambridge Analytica mungkin adalah yang terburuk,” ujar Bosworth dalam forum tertutup yang dikutip detikINET.

    Skandal Cambridge Analytica menjadi berita utama setelah terungkap firma tersebut memperoleh lebih dari 50 juta data pengguna Facebook tanpa persetujuan untuk menargetkan pemilih. Perbandingan ini menunjukkan betapa seriusnya krisis kepercayaan internal yang dihadapi Meta saat ini.

    Merosotnya moral kerja karyawan Meta dipicu oleh dua kebijakan besar. Pertama, perusahaan melakukan PHK massal terhadap 8.000 pekerja bulan lalu. Kedua, setidaknya 6.500 karyawan lainnya dipindahtugaskan secara sepihak untuk mengerjakan model AI di divisi Applied AI yang baru.

    Karyawan yang dipindahkan melaporkan bahwa pekerjaan baru tersebut dianggap melelahkan, rendahan, dan menghancurkan jiwa. Sebagian besar dari mereka tidak senang dengan perubahan mendadak ini, yang dianggap mengabaikan keahlian dan kontribusi spesifik mereka.

    Raksasa teknologi ini juga menghadapi kecaman lebih lanjut setelah mengumumkan akan melacak ketukan keyboard dan pergerakan mouse karyawan di AS untuk melatih AI. Kebijakan ini menambah daftar panjang ketidakpuasan yang sudah memuncak.

    Pengakuan Sepenuh Hati dari CTO

    Dalam unggahan internal yang dilihat oleh WIRED, Bosworth mengakui meluasnya ketidakpuasan karyawan. Ia menulis bahwa Meta telah merusak kepercayaan yang dimiliki karyawan. “Kami telah merusak kepercayaan yang Anda miliki bahwa keahlian dan kontribusi spesifik Anda akan dihargai, bahwa Anda akan tumbuh dan memajukan karier Anda, dan bahwa ini akan menjadi tempat di mana Anda benar-benar dapat memberikan dampak,” tulisnya.

    Bosworth juga mengakui bahwa perombakan struktur manajemen menghilangkan stabilitas yang selama ini dirasakan karyawan. “Kami merombak struktur manajemen yang memberikan Anda stabilitas, sementara perubahan strategi yang cepat, termasuk siklus rekrutmen yang naik-turun secara drastis, membuat seluruh tim berada dalam posisi yang sulit,” imbuhnya.

    Meski demikian, Bosworth menyatakan bahwa karyawan harus berkorban dan mengerjakan pekerjaan yang tak memberikan kepuasan pribadi. Ia berjanji akan memperbaiki budaya Meta dan menjadikannya tempat kerja yang menyenangkan dan dapat dinikmati.

    Langkah konkret yang dijanjikan termasuk membatasi manajer hanya memiliki maksimal 20 bawahan langsung. Kebijakan ini diharapkan memberikan dukungan yang lebih dipersonalisasi ke setiap karyawan.

    Bosworth juga meyakinkan karyawan bahwa Meta tidak berniat sepenuhnya menggantikan pekerja dengan AI. Namun, mereka perlu mengetahui cara menggunakannya. “Kami jelas melakukan pekerjaan sangat buruk dalam menjelaskan visi tersebut, memberikan gambaran yang jelas kepada orang-orang tentang bagaimana kami akan mendukung mereka dan karier mereka dalam masa transisi ini,” tulis Bosworth.

    Janji Camilan dan Anggaran Perjalanan

    Untuk membangkitkan semangat, Bosworth menjanjikan area camilan yang lebih baik, peningkatan anggaran perjalanan, dan investasi dalam acara-acara sosial kantor. Namun, langkah ini dinilai tidak cukup untuk mengatasi akar masalah yang lebih dalam.

    Banyak pihak meragukan bahwa tradisi lama berupa pesta pizza di kantor bisa memperbaiki kondisi moral yang sangat memprihatinkan. Karyawan yang sudah kehilangan kepercayaan membutuhkan perubahan struktural yang lebih fundamental, bukan sekadar insentif jangka pendek.

    Krisis moral ini terjadi di tengah transformasi besar-besaran yang dilakukan Meta. Perusahaan di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg terus memprioritaskan pengembangan AI dan metaverse, namun mengabaikan dampak sosial dari perubahan tersebut terhadap tenaga kerja.

    Dalam unggahan terpisah, Bosworth mengakui bahwa komunikasi internal perusahaan sangat buruk. “Kami jelas melakukan pekerjaan sangat buruk dalam menjelaskan visi tersebut, memberikan gambaran yang jelas kepada orang-orang tentang bagaimana kami akan mendukung mereka dan karier mereka dalam masa transisi ini, serta memberikan gambaran bagaimana hal itu akan berubah seiring berjalannya waktu,” tulisnya.

    Para pengamat menilai bahwa krisis moral di Meta bisa berdampak jangka panjang pada produktivitas dan retensi bakat. Perusahaan teknologi besar seperti Meta sangat bergantung pada inovasi dan kreativitas karyawan, yang sulit dipertahankan dalam lingkungan kerja yang tidak sehat.

    Kondisi ini juga menjadi pelajaran bagi perusahaan teknologi lain yang melakukan restrukturisasi massal. PHK dan pemindahan sepihak tanpa komunikasi yang jelas bisa merusak kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

    Bagi karyawan Meta yang bertahan, janji camilan dan anggaran perjalanan mungkin terasa seperti plester luka di tengah luka bakar. Mereka membutuhkan jaminan karier yang jelas, penghargaan atas kontribusi spesifik, dan lingkungan kerja yang stabil.

    Bosworth sendiri mengakui bahwa perjalanan untuk memulihkan kepercayaan tidak akan singkat. “Ini akan memakan waktu, dan kami harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa kami serius,” ujarnya dalam forum internal.

    Krisis moral di Meta juga mencerminkan tantangan yang dihadapi industri teknologi secara keseluruhan. Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan eksponensial, banyak perusahaan sekarang harus melakukan efisiensi dan restrukturisasi yang menyakitkan.

    Namun, pendekatan Meta yang terkesan memaksakan perubahan tanpa konsultasi dengan karyawan dinilai kurang bijaksana. Perusahaan teknologi yang sukses biasanya membangun budaya inovasi melalui kolaborasi, bukan melalui perintah sepihak.

    Bagi para analis, krisis ini bisa menjadi titik balik bagi Meta. Jika perusahaan berhasil memulihkan kepercayaan karyawan, mereka bisa keluar sebagai organisasi yang lebih kuat. Namun jika gagal, mereka berisiko kehilangan bakat-bakat terbaik ke pesaing.

    Sementara itu, karyawan Meta terus menunggu tindakan nyata dari manajemen. Janji camilan dan anggaran perjalanan mungkin menarik, tetapi yang lebih penting adalah perubahan struktural yang memberikan stabilitas dan kejelasan karier.

    Dalam dunia teknologi yang bergerak cepat, kepercayaan adalah aset yang paling berharga. Meta kini harus bekerja keras untuk membangunnya kembali dari nol.

    Implikasi dari krisis ini jelas: perusahaan teknologi tidak boleh mengabaikan aspek manusia dalam transformasi digital. PHK dan restrukturisasi harus dilakukan dengan empati dan komunikasi yang transparan, bukan dengan perintah sepihak yang menghancurkan moral.

    Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri teknologi, kasus Meta ini menjadi pengingat penting bahwa di balik inovasi dan keuntungan, ada manusia yang menjadi tulang punggung perusahaan. Menjaga moral dan kesejahteraan mereka adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa diabaikan.

    Krisis moral di Meta juga menunjukkan bahwa ukuran dan kekuatan finansial tidak menjamin stabilitas internal. Bahkan perusahaan senilai triliunan dolar bisa mengalami krisis kepercayaan yang parah jika tidak dikelola dengan baik.

    Ke depannya, Meta harus membuktikan bahwa mereka serius memperbaiki budaya perusahaan. Janji-janji manis tanpa tindakan nyata hanya akan memperburuk situasi dan membuat karyawan semakin frustrasi.

    Bagi para pemimpin perusahaan lain, pelajaran dari Meta adalah pentingnya komunikasi dua arah dengan karyawan. Perubahan besar harus melibatkan dialog, bukan hanya pengumuman sepihak. Karyawan yang merasa didengar dan dihargai akan lebih adaptif terhadap perubahan.

    Krisis ini juga menjadi ujian bagi kepemimpinan Mark Zuckerberg dan jajaran eksekutif Meta. Kemampuan mereka untuk memulihkan kepercayaan akan menentukan masa depan perusahaan dalam jangka panjang.

    Dengan kondisi moral yang sangat memprihatinkan, Meta menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan bakat terbaiknya. Pesaing seperti Google, Apple, dan Microsoft mungkin akan memanfaatkan situasi ini untuk merekrut talenta-talenta yang kecewa.

    Hanya waktu yang akan membuktikan apakah janji camilan dan perbaikan budaya kerja cukup untuk menyelamatkan Meta dari krisis internal yang semakin dalam. Yang jelas, jalan menuju pemulihan masih panjang dan penuh tantangan.

  • Dilema Etis Tukang Listrik di Balik Pembangunan Data Center AI

    Dilema Etis Tukang Listrik di Balik Pembangunan Data Center AI

    JBNews.id — Gelombang besar pembangunan pusat data atau data center untuk kecerdasan buatan (AI) telah memicu perang talenta di industri konstruksi, namun di balik proyek raksasa tersebut, para pekerja lapangan justru bergulat dengan dilema etis yang mendalam.

    Para tukang listrik, yang menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur AI, mulai mempertanyakan dampak pekerjaan mereka terhadap masyarakat dan lingkungan. Diskusi mengenai etika pembangunan data center kini ramai diperbincangkan di forum-forum online, termasuk di subreddit r/electricians yang memiliki sekitar setengah juta pengunjung bulanan.

    Perang Talenta dan Kekhawatiran Sosial

    Skala proyek dan tenggat waktu konstruksi yang ketat telah memicu perebutan tenaga kerja terampil. Serikat Pekerja Listrik Internasional (IBEW) yang berbasis di AS bahkan menyatakan bahwa para pekerjanya adalah “yang menggerakkan Revolusi AI.” Dalam “Prinsip Data Center” yang diterbitkan pada Maret lalu, serikat tersebut menegaskan bahwa tenaga kerja serikat adalah “penting untuk masa depan AI.”

    Sebagai respons, perusahaan teknologi besar mulai bergerak. Meta baru-baru ini mengumumkan program akademi perdagangan terampil, sementara Google telah mengalokasikan dana sebesar USD 50 juta untuk membantu pelatihan tenaga kerja di bidang perdagangan terampil. Namun, di tengah meningkatnya penolakan nasional terhadap data center, perdebatan etis mulai muncul di kalangan pekerja.

    Beberapa pengguna forum bertanya-tanya apakah pekerjaan ini pada akhirnya akan menyebabkan hilangnya lapangan kerja secara massal. Yang lain tidak yakin apakah kerja keras mereka membuat mereka turut bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan pada komunitas lokal, atau apakah tidak etis untuk menerima pekerjaan di data center.

    Suara dari Lapangan: Antara Kebutuhan dan Keyakinan

    Seorang tukang listrik yang berbasis di Midwest mengaku tidak lagi memberitahu orang lain tentang pekerjaannya. Sebagai “pria lajang yang mencoba berkencan,” ia mengatakan percakapan sering berubah atau berhenti total saat ia mengungkapkan profesinya. Ia mengingat beberapa kejadian di mana orang mengatakan “betapa buruknya Anda berkontribusi pada hal seperti itu.” “Itu biasanya terakhir kali Anda mendengar kabar dari mereka,” katanya.

    Pekerja tersebut, yang meminta anonimitas, memiliki beberapa kekhawatiran, terutama mengenai maraknya penipuan dan bagaimana “keserakahan korporasi” dapat menjadi malapetaka bagi para pekerja. Meskipun demikian, ia justru secara khusus mencari pekerjaan di data center dan bersedia menerima pemotongan gaji untuk bisa masuk. Ia melihat peluang unik untuk mobilitas ke atas — meskipun ia direkrut sebagai tukang listrik, ia dipromosikan ke posisi manajemen dalam hitungan bulan dan berharap suatu saat bisa beralih ke peran teknik.

    “Saya melihatnya sebagai, ‘Yah, ini kemungkinan besar akan menjadi bagian utama dari masa depan kita. Dan jika Anda tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka,’” ujarnya.

    Di sisi lain, seorang tukang listrik bernama Ryan mengatakan bahwa ia tidak pernah bekerja di data center dan kemungkinan tidak akan pernah melakukannya. “Saya pikir pemerintah dunia, bukan hanya negara kita, menjadi semakin sayap kanan dan lebih fasis,” katanya. Ia tidak mempercayai perusahaan yang beroperasi dalam konteks ini dan meyakini para eksekutif seperti Elon Musk dan Alex Karp semuanya “mencurigakan.”

    Ryan khawatir tentang gelembung AI. Sebagai pekerja IBEW, ia memiliki kendali atas pekerjaannya — ia bisa menolak tawaran pekerjaan. Cabang serikatnya sesekali menawarkan pekerjaan kecil untuk data center lokal, yang mudah dihindarinya. Meskipun menganggur dalam waktu lama, ia akan tetap “sangat sulit untuk mau mengambil pekerjaan itu.” Namun, ia menambahkan, “jika mereka akan dibangun, saya lebih suka mereka menggunakan serikat pekerja.”

    Seorang tukang listrik IBEW lainnya, Jesse, memiliki kekhawatiran tentang penolakan masyarakat terhadap data center. “Saya pikir tidak masuk akal jika, untuk membangun data center atau bisnis apa pun, Anda secara signifikan akan berdampak negatif pada kehidupan komunitas tersebut,” kata Jesse. Namun, ia percaya masalah tersebut harus diatasi dengan menghubungi pemerintah negara bagian dan lokal, bukan dengan menyalahkan tukang listrik yang membutuhkan pekerjaan.

    Rasionalisasi dan Kompartementalisasi

    Sentimen umum di kalangan pekerja adalah bahwa kekuatan di balik pembangunan data center jauh lebih besar daripada individu. Seorang tukang listrik bernama Dante mengatakan bahwa ia telah mengerjakan data center yang dioperasikan oleh Intel, HP, dan Amazon. “Tidak ada yang menghakimi saya” untuk pekerjaan data center, katanya, karena “kami hampir selalu bekerja untuk orang-orang yang mungkin terburuk, tetapi kami semua butuh gaji karena dunia yang tidak layak huni yang diciptakan oleh orang-orang kaya yang sama untuk kami.”

    “Entah saya memasang kabel di pabrik penggergajian kayu atau gudang Dollar General atau data center atau fasilitas Amazon atau apa pun,” kata Dante. Itu “pada dasarnya jenis pekerjaan yang sama — semuanya untuk orang-orang kaya yang sudah sangat brengsek untuk digunakan bagi eksploitasi kelas pekerja agar mereka bisa lebih kaya.”

    Namun, bagi yang lain, rasionalisasi itu tidak cukup. Seorang tukang listrik mengatakan bahwa kelangkaan pekerjaan dapat memicu sikap bahwa karena pekerja “harus menaruh makanan di meja,” mereka harus kebal terhadap kritik. Menentang pola pikir ini, kata mereka, “tidak akan berakhir dengan baik di serikat pekerja.” Namun, secara pribadi, mereka keberatan dengan hal itu.

    “Jika pekerjaan sedang sulit dan sebuah perusahaan datang dan ingin membangun mesin penghancur anak yatim (atau rekayasa jahat lainnya), Anda akan mendapatkan banyak bahu yang diangkat, wajah muram, dan ‘Saya harap mereka membayar dua kali lipat untuk lembur,’” kata tukang listrik itu. “Itu sikap yang saya benci.”

    Seorang magang menambahkan bahwa ia telah berpartisipasi dalam beberapa kelompok pengembangan profesional di mana berbagai tingkat kompartementalisasi digunakan untuk membenarkan pekerjaan, biasanya berakhir dengan “Itu akan dibangun bagaimanapun juga, saya mungkin juga dibayar.” Mereka percaya bahwa bagi sebagian orang, gaji akan selalu membenarkan pekerjaan yang mereka lakukan, “terlepas dari apa pun proyeknya.” “Tapi tentu saja itu mudah bagi saya untuk mengatakannya,” tambah magang itu, “karena penghidupan saya tidak bergantung pada mereka.”

    Perdebatan etis di kalangan pekerja ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas di masyarakat mengenai dampak sosial dan lingkungan dari infrastruktur AI. Sementara perusahaan teknologi terus membangun data center dengan kecepatan tinggi, para pekerja di lapangan harus bergulat dengan pertanyaan mendasar tentang peran mereka dan dampak dari kerja keras mereka terhadap komunitas dan masa depan.

    Implikasinya bagi pembaca, fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan data center bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan juga medan pertarungan nilai-nilai etis yang melibatkan banyak pihak, termasuk tenaga kerja terampil yang selama ini menjadi motor penggerak proyek tersebut.

  • AI di Balik Penipuan Piala Dunia 2026 yang Makin Canggih

    AI di Balik Penipuan Piala Dunia 2026 yang Makin Canggih

    JBNews.id — Lebih dari 13.000 domain bertema FIFA terdaftar antara Januari hingga Mei 2026, dan satu dari 41 di antaranya sudah teridentifikasi sebagai mencurigakan atau berbahaya sebelum pertandingan pertama dimulai. Angka ini menjadi bukti awal bahwa Piala Dunia 2026, yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, telah menjadi ladang subur bagi para penjahat siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk melancarkan aksinya.

    Skala operasi penipuan ini sangat besar. Riset yang dipimpin oleh perusahaan keamanan siber Group-IB mengidentifikasi lebih dari 4.300 domain palsu yang menyamar sebagai situs resmi FIFA, bersama dengan enam skema penipuan paralel dan empat aktor ancaman independen yang beroperasi menjelang turnamen. FIFA memperkirakan lebih dari 6 juta penggemar akan memenuhi stadion, dengan lebih dari 150 juta tiket diminta dalam 15 hari pertama masa penjualan—edisi ini sekitar 30 kali lebih banyak peminat dibanding turnamen sebelumnya.

    “Piala Dunia adalah kesempatan sempurna bagi para penipu—Anda tidak bisa menciptakan yang lebih baik dari ini,” kata David Holtzman, chief strategy officer di Naoris Protocol, perusahaan keamanan siber dan blockchain. “Ini adalah sepak bola. Rasanya menyenangkan dan tidak berbahaya, yang menurunkan kewaspadaan orang.”

    Penipuan umum termasuk penjualan tiket palsu, layanan imigrasi atau visa fiktif, dan tawaran akomodasi yang menyesatkan. Penggemar juga diperingatkan untuk waspada terhadap barang dagangan palsu dan situs web yang menyamar sebagai merek resmi turnamen.

    Peran AI dalam Meningkatkan Ancaman

    Menurut para ahli, AI tidak menciptakan metode serangan yang sepenuhnya baru, tetapi membuat para penyerang jauh lebih efisien. Dengan menghasilkan email yang sangat personal dan profesional dalam skala besar, serta membantu membuat situs web palsu yang meyakinkan, AI secara dramatis memperluas lanskap ancaman.

    “Ada peningkatan yang astronomis dalam penipuan selama dua tahun terakhir, dan AI adalah alasan utamanya,” kata Holtzman. Tarek Jammoul, direktur regional di perusahaan keamanan siber TrendAI, menambahkan bahwa pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ancaman yang teridentifikasi masih relatif mudah dikenali—halaman tiket palsu, survei umpan data, dan aplikasi Android berbahaya. “Kategori yang sama muncul lagi sekarang, hanya saja lebih besar dan lebih dipoles dengan AI,” ujarnya.

    Untuk lebih memahami bagaimana teknologi digunakan dalam dunia olahraga, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Demokratisasi Data di Piala Dunia 2026.

    Tanda Bahaya Tradisional Mulai Tidak Berlaku

    Selama bertahun-tahun, mendeteksi penipuan relatif sederhana. Alamat email mencurigakan, tata bahasa Inggris yang buruk, atau kesalahan ketik yang jelas sering kali cukup untuk menimbulkan kecurigaan. Namun, di Piala Dunia 2026, tanda-tanda peringatan lama itu mulai menghilang. Situs web yang dihasilkan AI, video deepfake, audio palsu, dan kampanye phishing yang meyakinkan membuat penjahat semakin mudah menyamar sebagai organisasi yang sah.

    Phishing telah muncul sebagai jenis penipuan online yang paling lazim selama lebih dari satu dekade. Spear phishing—bentuk phishing yang lebih terarah di mana penyerang menggunakan informasi dari mesin pencari, media sosial, dan sumber online lainnya untuk membuat pesan yang lebih meyakinkan—menjadi ancaman yang lebih besar bagi penggemar Piala Dunia tahun ini.

    Para ahli juga memperingatkan tentang taktik baru, seperti penipuan kode QR, di mana penyerang menempatkan kode berbahaya di atas kode yang sah di bar, restoran, dan tempat umum lainnya. Kristopher Russo, peneliti ancaman utama di Unit 42, sayap keamanan siber Palo Alto Networks, mengatakan, “Yang perlu dipahami konsumen adalah bahwa banyak cara lama untuk mengidentifikasi penipuan tidak lagi dapat diandalkan.”

    Di sisi lain, AI juga menjadi alat pertahanan yang kuat bagi industri keamanan siber. Dengan menganalisis data dalam jumlah besar dan mendeteksi pola yang tidak biasa, AI dapat membantu mengidentifikasi domain mencurigakan dan mengantisipasi ancaman yang muncul. Meta, misalnya, mengatakan telah bekerja melalui inisiatif seperti Global Signal Exchange (GSE) dan Fraud Intelligence Reciprocal Exchange (FIRE) untuk mengidentifikasi dan mengganggu penipuan terkoordinasi yang menargetkan pengguna.

    “Kami dapat memprediksi seperti apa serangan di masa depan dengan menggunakan teknologi yang sama yang digunakan penyerang—tetapi untuk pertahanan,” kata Russo. Namun, teknologi saja mungkin tidak cukup. Perusahaan semakin mengandalkan kolaborasi antara platform, firma keamanan siber, dan penegak hukum untuk melacak potensi ancaman.

    Informasi lebih lanjut tentang tren keamanan digital dapat ditemukan dalam artikel tentang PHK Karyawan di dunia startup.

    Bagi penggemar yang ingin tetap aman, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan. Jangan pernah mengklik tautan mencurigakan, verifikasi keaslian situs web resmi, dan waspadai tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Dengan AI yang membuat penipuan semakin sulit dikenali, kesadaran dan kehati-hatian menjadi pertahanan terbaik.

    Untuk mengetahui perkembangan terbaru di dunia teknologi, simak juga berita tentang Pre-order GTA 6 yang akan dibuka bulan ini.

    Implikasinya jelas: di era AI, tidak ada yang bisa merasa benar-benar aman. Setiap penggemar yang ingin menikmati Piala Dunia 2026 harus bersiap menghadapi ancaman siber yang lebih canggih dan lebih meyakinkan dari sebelumnya.

  • Misi NASA Selamatkan Teleskop Swift yang Hampir Jatuh

    Misi NASA Selamatkan Teleskop Swift yang Hampir Jatuh

    JBNews.id – NASA akan meluncurkan misi khusus untuk menyelamatkan teleskop luar angkasa Neil Gehrels Swift Observatory yang hampir jatuh ke Bumi. Misi bernama Swift Boost ini dijadwalkan lepas landas pada 27 Juni 2026 dan merupakan hasil kolaborasi dengan perusahaan Katalyst Space.

    Misi ini melibatkan derek luar angkasa yang disebut Link. Wahana ini akan mengangkat observatorium Swift ke orbit yang lebih tinggi dan aman. Langkah penyelamatan ini diambil setelah NASA mendeteksi bahwa teleskop tersebut kehilangan ketinggian orbit lebih cepat dari perkiraan.

    Pada 9 Juni, teknisi di Wallops Flight Facility milik NASA di Virginia, Amerika Serikat, menyelesaikan pemasangan Link di roket Northrop Grumman Pegasus XL. Tiga hari kemudian, roket itu dipasangkan ke kabin pesawat Northrop Grumman yang dinamai Stargazer.

    Tahapan Misi Swift Boost

    Pesawat Stargazer meninggalkan fasilitas NASA pada 18 Juni menuju Atol Kwajalein di Samudera Pasifik Selatan. Lokasi ini menjadi titik lepas landas pada 27 Juni. Stargazer akan membawa Pegasus XL ke ketinggian 40.000 kaki sebelum roket dilepaskan.

    Setelah dilepaskan, roket akan jatuh bebas selama beberapa detik sebelum menyalakan mesinnya. Mesin akan membawa Link ke luar angkasa dalam waktu 10 menit. Setelah sampai di orbit Swift, Link akan melakukan docking dan sejumlah manuver untuk membawa teleskop ke orbit yang lebih tinggi.

    NASA pertama kali meluncurkan Neil Gehrels Swift Observatory pada tahun 2004. Teleskop ini dirancang untuk mengamati ledakan sinar gamma dan fenomena astrofisika lainnya di antariksa. Misi awal Swift direncanakan hanya berlangsung dua tahun, namun faktanya teleskop ini terus beroperasi selama lebih dari dua dekade.

    Penyebab Swift Kehilangan Orbit

    Sudah menjadi hal biasa bagi satelit dan wahana antariksa lainnya untuk kehilangan ketinggian di orbit seiring waktu. Namun, NASA mengatakan teleskop Swift kehilangan orbit lebih cepat daripada kebanyakan satelit. Penyebabnya adalah tarikan atmosfer yang lebih besar dari perkiraan akibat peningkatan aktivitas matahari.

    Karena Swift tidak memiliki mesin pendorong, NASA memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan ini. “Tidak masalah jika wahana antariksa biasa keluar dari orbit. Tetapi ini bukan sembarang wahana luar angkasa,” kata Direktur Divisi Astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman.

    “Ini adalah observatorium dengan kemampuan unik untuk astrofisika … Ini adalah observatorium yang dapat berputar dengan cepat di langit malam untuk menemukan hal-hal yang luar biasa di malam hari. Jadi kami memutuskan kami ingin menyelamatkannya,” imbuhnya.

    Ilustrasi penyelamatan telekop Swift oleh wahana antariksa Link

    Dampak dan Harapan Misi

    Misi penyelamatan ini menjadi krusial mengingat peran Swift dalam penelitian astrofisika. Teleskop ini memiliki kemampuan unik untuk berputar cepat di langit malam guna mendeteksi fenomena luar biasa. Jika misi Swift Boost berhasil, NASA berharap Swift akan bertahan di orbit hingga lima tahun lagi atau lebih.

    Keberhasilan misi ini juga akan menjadi preseden penting untuk misi serupa di masa depan. Teknologi derek luar angkasa yang dikembangkan Katalyst Space dapat digunakan untuk menyelamatkan satelit dan teleskop lain yang mengalami masalah orbit.

    Bagi industri antariksa global, misi ini menunjukkan bahwa perpanjangan usia operasional wahana antariksa melalui servis di orbit bukan lagi sekadar konsep. Ini adalah langkah nyata menuju ekonomi antariksa yang lebih berkelanjutan, di mana aset berharga tidak harus berakhir sebagai sampah antariksa.

    Dari sisi ilmiah, perpanjangan misi Swift berarti para astronom dapat terus mengandalkan data dari teleskop ini untuk penelitian astrofisika. Swift telah menjadi tulang punggung dalam studi ledakan sinar gamma, yang merupakan peristiwa paling energetik di alam semesta setelah Big Bang.

    Misi Swift Boost juga menarik perhatian karena melibatkan pendekatan inovatif. Alih-alih membangun teleskop baru, NASA memilih untuk memperpanjang umur aset yang sudah ada. Ini bisa menjadi model yang lebih efisien secara biaya untuk pengelolaan observatorium luar angkasa di masa depan.

    Untuk konteks yang lebih luas, misi ini juga relevan dengan perkembangan lain di industri antariksa. Perubahan fokus beberapa perusahaan antariksa besar menunjukkan bahwa sektor ini terus beradaptasi dengan kebutuhan baru, termasuk servis dan perpanjangan misi di orbit.

    Peluncuran pada 27 Juni akan menjadi momen kritis. Seluruh tim teknis di NASA dan Katalyst Space telah bekerja selama berbulan-bulan untuk memastikan setiap tahapan berjalan sesuai rencana. Jika berhasil, ini akan menjadi salah satu misi penyelamatan paling penting dalam sejarah eksplorasi antariksa.

    Misi serupa di masa depan juga bisa diterapkan untuk teleskop dan satelit lain yang mendekati akhir masa operasinya. Ini membuka peluang baru dalam pengelolaan aset antariksa dan mengurangi jumlah sampah di orbit Bumi.

    Bagi Indonesia, misi ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi dalam teknologi antariksa. Negara-negara maju terus mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan dan memperpanjang aset mereka di luar angkasa, sebuah pelajaran berharga bagi pengembangan infrastruktur berbasis antariksa di tanah air.

    Kesimpulannya, misi Swift Boost adalah contoh nyata bagaimana inovasi dan kolaborasi dapat memperpanjang umur aset ilmiah yang berharga. Keberhasilan misi ini tidak hanya akan menyelamatkan satu teleskop, tetapi juga membuka jalan bagi era baru dalam perawatan dan servis wahana antariksa di orbit.