JBNews.id, SEOUL — Pasar saham Korea Selatan mengalami kejatuhan dramatis setelah gelembung kecerdasan buatan (AI) yang membengkak selama berbulan-bulan mulai pecah. Indeks Korea Composite Stock Price Index (Kopsi) ambles lebih dari 40 persen dari puncaknya pada Juni 2026, memicu kepanikan yang belum pernah terjadi sebelumnya di bursa efek Negeri Ginseng.
Kepanikan ini dipicu oleh laporan keuangan SK Hynix, raksasa semikonduktor Korea Selatan. Meskipun berhasil mencatatkan kenaikan laba kuartalan hingga enam kali lipat, kinerja tersebut gagal memenuhi ekspektasi investor yang sudah terlalu tinggi. Akibatnya, aksi jual massal terjadi dan dalam dua hari berturut-turut, yaitu pada 28 dan 29 Juli, Bursa Efek Korea mengaktifkan circuit breaker — mekanisme penghentian sementara perdagangan selama 30 menit — sebanyak dua kali.
Menurut laporan Seoul Economic Daily, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Kopsi memicu dua circuit breaker secara beruntun. Sepanjang sejarah bursa Korea, mekanisme ini baru diaktifkan sebanyak 15 kali, dan separuhnya terjadi dalam sepekan terakhir. Indeks Kosdaq yang sarat saham teknologi juga mengalami hal serupa untuk kali ketiga sepanjang sejarah, setelah sebelumnya terjadi pada 2020 dan 2008 — sebuah indikasi betapa dahsyatnya turbulensi yang melanda pasar keuangan Korea saat ini.
Pemerintah Korea Selatan bergerak cepat untuk meredam kepanikan. Otoritas keuangan telah melarang pencatatan saham baru untuk single-stock leveraged ETF, produk keuangan berisiko tinggi yang dinilai menjadi salah satu pemicu utama gejolak. Namun, langkah tersebut terbukti belum cukup untuk menghentikan arus keluar miliaran dolar dari bursa Korea.
“Kami telah menerapkan serangkaian langkah, dan jika diperlukan, kami akan mengambil langkah tambahan untuk membantu menormalkan pasar,” ujar Menteri Keuangan Koo Yun Cheol kepada parlemen, seperti dikutip Bloomberg. Pemerintah saat ini tengah menggelar rapat darurat untuk membahas langkah-langkah tambahan guna mencegah krisis keuangan yang lebih parah.
Kritik Tajam dari Oposisi
Krisis ini dengan cepat menjadi senjata politik bagi partai oposisi. Partai People Power Party yang konservatif menuding pemerintah gagal mengantisipasi dan mengelola kepanikan pasar. Anggota parlemen Lee Jongwook melontarkan pernyataan pedas dengan mengatakan bahwa “negara ini telah berubah menjadi kasino.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa euforia AI global yang mendorong pasar saham ke level tertinggi sepanjang masa mulai menunjukkan kerapuhannya. Korea Selatan, yang menjadi pusat manufaktur semikonduktor memori untuk chip AI, menjadi garda depan dalam gejolak ini. Ketika ekspektasi investor tidak lagi selaras dengan realitas fundamental perusahaan, koreksi tajam pun tak terhindarkan.
Di tengah kepanikan ini, pelaku pasar mulai melirik peluang di sektor lain. CXMT Catat Rekor IPO dengan valuasi tembus Rp 7.800 triliun menjadi bukti bahwa minat investor terhadap semikonduktor masih tinggi, meskipun pasar Korea sedang tertekan. Sementara itu, Arah Baru AI Samsung yang lebih personal dan kontekstual menunjukkan bahwa inovasi di bidang AI terus berlanjut, meskipun pasar keuangan sedang bergejolak.
Baca Juga:
Dampak Global dan Pelajaran untuk Indonesia
Kejatuhan bursa Korea Selatan ini memberikan pelajaran berharga bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Euforia berlebihan terhadap sektor tertentu — dalam hal ini AI — dapat berujung pada koreksi tajam yang merugikan investor ritel. Pasar yang terlalu bergantung pada satu narasi besar sangat rentan terhadap guncangan ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
Bagi investor Indonesia yang memiliki portofolio di pasar Asia, gejolak ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi. Kepanikan di Korea Selatan berpotensi merembet ke pasar lain di kawasan, mengingat keterkaitan ekonomi dan rantai pasok semikonduktor yang erat.
Pemerintah Korea Selatan sendiri terus berupaya menstabilkan pasar. Rapat darurat yang digelar oleh pejabat keuangan diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah konkret, termasuk kemungkinan intervensi langsung di pasar saham. Namun, efektivitas kebijakan ini masih harus diuji mengingat skala kepanikan yang sudah sangat meluas.
Krisis ini juga menyoroti kerentanan produk keuangan berisiko tinggi seperti single-stock leveraged ETF. Ketika pasar bergerak naik, produk semacam ini memberikan keuntungan berlipat. Namun, ketika terjadi koreksi, kerugian yang ditimbulkan juga berlipat ganda, mempercepat laju kepanikan dan memperburuk situasi.
Bagi pelaku industri teknologi, khususnya yang bergerak di bidang AI dan semikonduktor, situasi ini menjadi sinyal untuk lebih realistis dalam menyusun proyeksi bisnis. Pasar mulai memberikan sanksi kepada perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi tinggi, sekalipun kinerja fundamental mereka sebenarnya masih solid.

Implikasi bagi Pasar AI Global
Gejolak di Korea Selatan ini bisa menjadi peringatan dini bagi pasar AI global yang selama berbulan-bulan menikmati kenaikan luar biasa. Valuasi perusahaan-perusahaan AI dan semikonduktor telah mencapai level yang sulit dijustifikasi oleh fundamental bisnis. Ketika pemain kunci seperti SK Hynix — yang memasok memori berkecepatan tinggi untuk chip AI Nvidia — mulai goyah, seluruh ekosistem ikut terguncang.
Namun, perlu dicatat bahwa krisis ini bersifat siklis. Dalam jangka panjang, permintaan terhadap chip AI diperkirakan masih akan terus tumbuh seiring adopsi teknologi AI di berbagai sektor. Yang terjadi saat ini adalah koreksi pasar yang brutal, bukan akhir dari era AI.
Bagi Korea Selatan, tantangan terbesar adalah memulihkan kepercayaan investor. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa mereka memiliki kendali atas situasi dan mampu mencegah krisis sistemik. Langkah-langkah yang diambil dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan apakah kepanikan ini akan mereda atau justru semakin meluas.
Sementara itu, investor global akan terus memantau perkembangan di Semenanjung Korea dengan cermat. Stabilitas pasar keuangan Korea Selatan tidak hanya penting bagi perekonomian domestik, tetapi juga bagi rantai pasok semikonduktor global yang sangat bergantung pada pasokan dari negara tersebut.
Hak Pemerintah Sita Lahan untuk infrastruktur data center juga menjadi isu yang relevan dalam konteks ini, mengingat data center adalah tulang punggung infrastruktur AI global. Stabilitas politik dan hukum di negara-negara produsen semikonduktor menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan rantai pasok industri ini.
Kesimpulannya, kejatuhan bursa Korea Selatan adalah pengingat bahwa tidak ada pasar yang tumbuh lurus tanpa koreksi. Gelembung AI yang membengkak selama ini akhirnya menemui titik pecahnya. Bagi para pelaku pasar, pelajarannya sederhana: fundamental bisnis tetap menjadi acuan utama, bukan sekadar euforia dan ekspektasi yang tak terkendali.










