JBNews.id — Watch Duty, aplikasi nonprofit pelacak kebakaran hutan yang menjadi andalan saat kebakaran besar di Los Angeles tahun lalu, kini memperluas jangkauannya ke bencana banjir. Langkah ini menjadikan banjir sebagai jenis bencana alam pertama yang ditambahkan setelah kebakaran, menandai ekspansi besar layanan yang selama ini fokus pada api.
Aplikasi yang berdiri sejak 2021 ini awalnya dirancang untuk memantau kebakaran hutan di California. Kini, Watch Duty telah mencakup seluruh wilayah Amerika Serikat dengan menggabungkan laporan dari karyawan “reporter” berbayar dan ribuan relawan yang memantau saluran radio petugas tanggap darurat. Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi data real-time bagi pengguna aplikasi.
Selama kebakaran Palisades dan Eaton di Los Angeles tahun lalu, Watch Duty menjadi sumber informasi kritis. Pengguna sangat bergantung pada data pergerakan api yang diperbarui secara langsung. Setahun setelahnya, aplikasi ini memanfaatkan pengakuan yang meningkat tersebut untuk mendatangkan ribuan pengguna baru dan menjalin kemitraan strategis, termasuk dengan kamera Ring milik Amazon yang memungkinkan pengguna berbagi video Ring mereka jika ada kebakaran di sekitar.
Strategi Pemantauan Banjir yang Berbeda
Pemantauan banjir membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan pelacakan kebakaran hutan. Menurut John Mills, CEO Watch Duty, banjir cenderung lebih mudah dipantau karena pergerakan air lebih dapat diprediksi. Kecuali ada jebolnya bendungan atau kejadian tak terduga lainnya, jalur banjir lebih mudah dilacak.
“Perbedaan dengan banjir adalah kami memiliki lebih banyak peringatan,” kata Mills. “Jadi, sejujurnya, ini sedikit lebih mudah dalam beberapa hal.”
Meskipun lebih mudah dilacak dan dilaporkan, banjir tidak kalah rumit dibandingkan kebakaran. Informasi tentang banjir datang dari berbagai lembaga di AS, seperti FEMA, National Weather Service, US Geological Survey, dan National Oceanic and Atmospheric Administration. Masalahnya, menurut Mills, informasi yang terlalu banyak dari berbagai sumber justru membuat orang kesulitan menyatukan semuanya dan mendapatkan gambaran jelas tentang apa yang menjadi perhatian langsung di sekitar mereka.
Apa yang ingin dilakukan Watch Duty adalah menyaring informasi tersebut menjadi gambaran yang lebih sederhana. “Anda disuruh melakukan sesuatu, tapi sudah terlambat. Terlalu sedikit, tidak berhasil. Dengan Watch Duty, Anda bisa mulai menyatukan banyak informasi dalam satu layar untuk membuat keputusan yang tepat,” ujar Mills.
Detail Fitur Pantau Banjir
Watch Duty tidak akan dapat mengomunikasikan detail yang lebih granular, seperti kapan setiap pohon tumbang di zona banjir. Mills mengatakan informasi banjir di Watch Duty akan disajikan secara lebih sederhana, dengan fokus pada lokasi dataran banjir dan ketinggian air.
Prakiraan banjir bergantung pada pelampung (buoys) yang mendeteksi ketinggian air. Watch Duty kini memungkinkan pengguna menemukan pelampung terdekat dan mengatur notifikasi push alert ketika ketinggian air mencapai level yang cukup tinggi sehingga banjir bisa menjadi ancaman.
Watch Duty sebelumnya pernah melaporkan beberapa banjir, tetapi itu adalah peristiwa satu kali. Mengintegrasikan banjir sepenuhnya ke dalam layanan membutuhkan waktu. Mills mengatakan memiliki lebih banyak bencana di Watch Duty selalu menjadi rencana, tetapi memastikan fitur tersebut berfungsi dengan baik merupakan tantangan — terutama selama musim kebakaran yang sibuk.
“Kami ingin mulai mengerjakannya pada Januari 2025, tetapi Anda tahu apa yang terjadi kemudian,” kata Mills merujuk pada kebakaran besar LA. “Ini selalu menjadi sesuatu yang akan kami lakukan.”
Baca Juga:
Ekspansi dan Investasi Pasca Kebakaran LA
Sejak kebakaran LA, Mills mengatakan Watch Duty telah memantapkan dirinya sebagai sumber daya bagi orang-orang di daerah rawan bencana. Hal ini juga mendorong lebih banyak investasi dan kemitraan dengan organisasi nonprofit tersebut. Mills mengungkapkan Watch Duty telah menggandakan jumlah staf dan pimpinan.
Pada April lalu, Watch Duty bermitra dengan Google.org untuk membantu membangun alat bertenaga AI yang secara otomatis mentranskripsikan lalu lintas radio petugas saat kebakaran hutan. Inovasi ini sejalan dengan perkembangan teknologi terkini seperti yang dihadirkan dalam Fitur Terbaru dari berbagai platform digital.
Mills ingin Watch Duty berkembang untuk mencakup semua bencana alam. Banjir adalah langkah pertama dalam ekspansi itu, tetapi pada akhirnya ia berpikir layanan ini akan mampu mendukung lebih banyak jenis bencana. Ia menegaskan bahwa Watch Duty hanya akan fokus pada bencana alam, bukan hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan yang memerlukan pemantauan sinyal radio polisi.
“Saya tidak peduli apakah itu lava, angin, api yang mendekati Anda, di situlah kami ingin berada,” kata Mills.
Implikasi bagi Pengguna
Penambahan fitur banjir ini memberikan nilai tambah signifikan bagi pengguna Watch Duty, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan banjir dan kebakaran. Dengan informasi yang disatukan dalam satu platform, pengguna tidak perlu lagi bolak-balik memeriksa berbagai sumber data dari lembaga berbeda. Ini mengurangi kebingungan dan mempercepat pengambilan keputusan saat darurat.
Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan banjir seperti Jakarta, Bandung, atau daerah aliran sungai lainnya, konsep aplikasi semacam ini bisa menjadi inspirasi. Meskipun Watch Duty saat ini masih berfokus di Amerika Serikat, pendekatan penyederhanaan data dari berbagai lembaga resmi menjadi informasi yang mudah dicerna adalah kebutuhan universal.
Ke depannya, jika Watch Duty benar-benar berhasil memperluas cakupannya ke semua bencana alam, aplikasi ini berpotensi menjadi platform darurat all-in-one yang sangat berharga. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan teknologi besar, akan menjadi kunci keberhasilan ekspansi ini. Inisiatif seperti ini mengingatkan pada berbagai Inovasi Digital yang terus bermunculan di berbagai sektor.
