Blog

  • Saham SpaceX Anjlok 13 Persen, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp3.200 Triliun

    Saham SpaceX Anjlok 13 Persen, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp3.200 Triliun

    JBNews.id — Harga saham SpaceX mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (22/6/2026), anjlok lebih dari 13 persen ke level USD 158 per saham. Ini merupakan kerugian satu hari terbesar sejak perusahaan milik Elon Musk melantai di bursa efek Amerika Serikat awal bulan ini.

    Penurunan tersebut membawa valuasi SpaceX mendekati titik terendah sejak debutnya. Dari harga tertinggi sepanjang masa di USD 225 pada 16 Juni, saham kini hanya berjarak tipis dari harga pembukaan IPO di USD 150. Dengan valuasi perusahaan yang mencapai triliunan dolar, kerugian ini setara dengan hilangnya lebih dari USD 200 miliar kapitalisasi pasar—atau sekitar Rp3.200 triliun dalam sepekan.

    Angka tersebut melampaui kerugian yang tercatat saat saham SpaceX anjlok pada pekan sebelumnya, menunjukkan tekanan jual yang semakin intensif di kalangan investor ritel.

    Kesepakatan AI Senilai USD 6,3 Miliar Tak Cukup

    Kabar positif dari lini bisnis baru pun tak mampu membendung aksi jual. SpaceX baru saja mengumumkan kerja sama dengan startup AI open-source, Reflection, yang diperkirakan bernilai sekitar USD 6,3 miliar. Namun, kesepakatan tersebut gagal menjaga antusiasme investor yang mulai mempertanyakan model bisnis raksasa antariksa dan kecerdasan buatan ini.

    Para pembeli saham ritel mulai mengajukan pertanyaan sulit mengenai prospek jangka panjang perusahaan, terutama setelah lonjakan harga yang spektakuler pasca-IPO. IPO SpaceX mencetak triliuner baru dan sejumlah miliarder di jajarannya, namun volatilitas harga kini menjadi kekhawatiran utama.

    Faktor Fundamental yang Membayangi

    Dalam dokumen yang diajukan ke Securities and Exchange Commission (SEC) menjelang IPO, SpaceX telah memperingatkan investor mengenai sejumlah risiko yang dapat menyebabkan volatilitas harga saham. Pertama, perusahaan masih membakar miliaran dolar kas setiap kuartal, sementara jalur menuju profitabilitas masih belum jelas.

    Kedua, rekam jejak Elon Musk dalam memenuhi janji-janjinya dinilai tidak konsisten. Hal ini menjadi risiko serius mengingat rencana ambisius Musk untuk membangun konstelasi pusat data raksasa di luar angkasa. Para ahli telah mempertanyakan kelayakan finansial dan fisik dari proyek tersebut.

    “Membeli saham SpaceX adalah bentuk kepercayaan pada Elon Musk, bukan keputusan berdasarkan fundamental bisnis,” demikian analisis yang muncul di kalangan investor. Persepsi pasar terhadap Musk yang fluktuatif menjadi faktor utama di balik pergerakan harga saham yang liar.

    Kolase foto yang menampilkan logo SpaceX di layar, berlatar belakang grafik kandil saham SpaceX di TradingView.

    Modal Besar Jadi Bantalan

    Meskipun harga saham tertekan, SpaceX diperkirakan tidak akan menghadapi krisis jangka pendek. Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka masih memiliki kas lebih dari USD 100 miliar, memberikan ruang gerak yang cukup untuk membayar utang jangka pendek dan menjalankan operasional.

    Dengan cadangan kas yang besar itu, SpaceX masih memiliki fleksibilitas untuk menavigasi periode volatilitas tanpa harus melakukan aksi korporasi yang mendesak. Namun, kepercayaan investor jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan Musk untuk membuktikan bahwa valuasi triliunan dolar tersebut dapat dipertahankan dengan kinerja bisnis yang nyata.

    Bagi investor ritel yang membeli di harga puncak, penurunan ini menjadi pengingat keras bahwa saham dengan valuasi astronomis membawa risiko yang sebanding. Pertanyaan besarnya kini: akankah SpaceX mampu membalikkan sentimen pasar, atau tren penurunan ini akan berlanjut?

  • Rokarolla: Malware Android Baru Ancam Keamanan M-Banking

    Rokarolla: Malware Android Baru Ancam Keamanan M-Banking

    **JBNews.id —** Ancaman siber baru bernama Rokarolla menargetkan pengguna Android dengan menyamar sebagai aplikasi populer palsu untuk mencuri data perbankan dan kredensial login. Malware ini pertama kali dideteksi oleh tim keamanan dari Zimperium dan memanfaatkan celah keamanan melalui fitur sideloading Android.

    Rokarolla bekerja dengan cara mengarahkan korban ke situs web palsu yang tampilannya sangat meyakinkan, meniru tampilan resmi aplikasi seperti TikTok atau Chrome. Ketika korban mengunduh aplikasi palsu tersebut, Rokarolla secara diam-diam ikut terinstal di latar belakang. Malware ini kemudian meminta izin akses yang tampak legal, seperti mengakses notifikasi, namun setelah disetujui, penjahat siber dapat mulai mencuri data sensitif.

    “Rokarolla menargetkan ekosistem yang luas yang terdiri dari lebih dari 200 aplikasi keuangan, mata uang kripto, dan media sosial,” jelas Zimperium dalam laporannya. “Dengan menggunakan taktik penghindaran yang canggih, ancaman ini secara khusus dirancang untuk menghindari solusi keamanan seluler berbasis tanda tangan yang sudah ada,” imbuhnya.

    Ilustrasi hacker

    Kemampuan Rokarolla sangat mengkhawatirkan karena dapat memata-matai perangkat dan mencuri data pribadi yang sensitif, termasuk banking login. Lebih berbahaya lagi, malware ini memiliki kemampuan membuat lockscreen palsu overlay untuk menangkap PIN, pattern keamanan, hingga password pengguna.

    Modus operandi utama Rokarolla memanfaatkan fitur Android untuk menginstal aplikasi dari sumber eksternal (sideloading). Fitur ini menjadi pintu masuk utama bagi malware untuk menyusup ke perangkat korban. Sideloading merupakan salah satu keunggulan Android sebagai sistem operasi yang lebih terbuka dibandingkan iOS milik Apple, namun justru menjadi celah yang dimanfaatkan oleh peretas.

    Ketika seseorang mencari aplikasi tertentu, misalnya TikTok atau Chrome, mereka akan diarahkan ke website palsu yang tampilannya sangat meyakinkan. Jika tertipu, versi palsu aplikasi akan diunduh bersamaan dengan penambahan Rokarolla di latar belakang. Aplikasi tersebut kemudian meminta sejumlah besar izin pribadi, seperti mengakses notifikasi. Karena semuanya tampak legal, mudah saja bagi pengguna untuk terjebak mengklik ‘iya’. Begitu itu terjadi, penjahat siber dapat mulai mencuri data.

    Cara terbaik untuk menghindari menjadi korban adalah hanya mengunduh aplikasi dari Google Play Store resmi. Penginstalan aplikasi dari sumber eksternal mungkin kadang dibutuhkan, tetapi mengunduh perangkat lunak dengan cara ini selalu disertai risiko. Selain itu, ada baiknya juga untuk memastikan Google Play Protect diaktifkan. Google mengatakan perangkat akan terlindungi dari bug ini jika layanan ini diaktifkan.

    Ancaman Rokarolla ini mengingatkan pentingnya kewaspadaan pengguna Android terhadap Risiko Keamanan dari aplikasi tidak resmi. Pengguna disarankan untuk selalu memeriksa reputasi pengembang aplikasi sebelum menginstal, terutama jika aplikasi tersebut meminta izin akses yang tidak wajar seperti mengakses notifikasi, SMS, atau data pribadi lainnya.

    Bagi pengguna Android, langkah pencegahan paling efektif adalah menghindari sideloading aplikasi dari sumber tidak terpercaya. Meskipun fitur ini memberikan fleksibilitas lebih, risikonya sangat besar. Para ahli keamanan siber juga merekomendasikan untuk selalu memperbarui sistem operasi dan aplikasi keamanan secara rutin.

    Dengan semakin canggihnya Keamanan Open Source dan ancaman siber, pengguna harus lebih proaktif dalam melindungi data pribadi mereka. Rokarolla menjadi bukti bahwa penjahat siber terus mengembangkan metode baru untuk mengeksploitasi celah keamanan.

    Implikasinya jelas: pengguna Android harus lebih selektif dalam mengunduh aplikasi dan selalu memprioritaskan keamanan di atas kemudahan. Mengaktifkan Google Play Protect dan hanya menggunakan Google Play Store resmi adalah langkah minimal yang harus dilakukan untuk melindungi data perbankan dan informasi pribadi dari ancaman seperti Rokarolla.

  • Meta Tunjuk CEO Baru WhatsApp, Pendiri Cred Gantikan Will Cathcart

    Meta Tunjuk CEO Baru WhatsApp, Pendiri Cred Gantikan Will Cathcart

    JBNews.id — Meta secara resmi menunjuk Kunal Shah, pendiri perusahaan fintech India Cred, sebagai kepala baru WhatsApp. Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO Meta Mark Zuckerberg melalui akun Facebook-nya pada Senin (15/6/2026). Will Cathcart yang memimpin WhatsApp selama tujuh tahun terakhir akan mundur dari posisinya, namun tetap bertahan di Meta dengan peran baru.

    Kepemimpinan baru ini menandai perubahan signifikan dalam struktur manajemen aplikasi perpesanan terbesar di dunia. Kunal Shah akan meninggalkan jabatannya sebagai CEO Cred untuk fokus memimpin WhatsApp. Sebagai bagian dari transisi ini, Meta menginvestasikan dana sebesar 900 juta dolar AS ke Cred, yang memberikan Meta kepemilikan saham 20 persen di perusahaan rintisan tersebut, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

    “Kunal membangun CRED menjadi salah satu perusahaan teknologi paling penting di India, dan dia membawa mentalitas pembangun serta perspektif global yang akan membantunya dalam menjalankan aplikasi perpesanan terbesar di dunia,” tulis Zuckerberg dalam pengumumannya. Pernyataan ini menegaskan keyakinan Meta terhadap kemampuan Shah dalam mengelola WhatsApp yang memiliki basis pengguna miliaran orang di seluruh dunia.

    Perjalanan Will Cathcart di WhatsApp

    Will Cathcart menjadi kepala WhatsApp pada tahun 2019 dan selama masa kepemimpinannya, ia mengawasi sejumlah perubahan besar. Salah satu pencapaian penting adalah diperkenalkannya pencadangan obrolan terenkripsi pada tahun 2021. Langkah ini memperkuat komitmen WhatsApp terhadap privasi pengguna di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang keamanan data.

    Di bawah kepemimpinan Cathcart, WhatsApp juga mengalami ekspansi signifikan. Aplikasi perpesanan ini resmi hadir di iPad, memperkenalkan iklan, dan menambahkan fitur obrolan pribadi dengan chatbot AI milik Meta. Perkembangan ini menunjukkan transformasi WhatsApp dari sekadar aplikasi perpesanan menjadi platform yang lebih komprehensif dengan berbagai layanan tambahan.

    Meskipun mundur dari jabatan kepala WhatsApp, Cathcart tidak sepenuhnya meninggalkan Meta. Menurut pernyataan Zuckerberg, Cathcart akan mengambil peran baru di perusahaan induk tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Meta masih menghargai kontribusi Cathcart dan ingin mempertahankan pengalamannya di dalam organisasi.

    Profil Kunal Shah dan Investasi Meta

    Kunal Shah dikenal sebagai pendiri Cred, sebuah aplikasi yang memungkinkan pengguna mengelola tagihan dan menerima hadiah atas pembayaran yang dilakukan melalui platform tersebut. Cred telah berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi terkemuka di India, dan pengalaman Shah dalam membangun perusahaan dari awal dianggap sebagai aset berharga untuk memimpin WhatsApp.

    Investasi Meta sebesar 900 juta dolar AS ke Cred menunjukkan komitmen perusahaan terhadap ekosistem startup India. Dengan kepemilikan saham 20 persen, Meta memiliki kepentingan strategis di Cred, yang kemungkinan akan menjadi bagian integral dari strategi WhatsApp ke depannya. Langkah ini juga mencerminkan tren di mana perusahaan teknologi besar semakin aktif berinvestasi di perusahaan rintisan yang relevan dengan bisnis inti mereka.

    Keputusan Meta menunjuk pemimpin baru di WhatsApp terjadi di tengah persaingan ketat di pasar aplikasi perpesanan. WhatsApp terus berinovasi dengan berbagai fitur untuk mempertahankan dominasinya, termasuk Fitur Piala Dunia 2026 yang baru saja diluncurkan di platform tersebut.

    Perubahan kepemimpinan ini juga terjadi saat WhatsApp menghadapi tekanan regulasi di berbagai wilayah. Di Eropa, Uni Eropa baru-baru ini memaksa WhatsApp untuk memulihkan akses chatbot AI pesaing secara gratis. Sementara itu, di pasar Asia, WhatsApp terus beradaptasi dengan preferensi pengguna lokal, termasuk dukungan untuk dua nomor di perangkat iPhone.

    Kunal Shah akan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan pertumbuhan WhatsApp sambil menavigasi lanskap regulasi yang semakin kompleks. Pengalamannya di Cred, yang beroperasi di sektor fintech yang sangat diatur, diharapkan dapat membantunya dalam mengelola tantangan ini. Selain itu, latar belakangnya sebagai pendiri startup memberikan perspektif unik tentang inovasi dan pengembangan produk.

    Para analis industri memperkirakan bahwa di bawah kepemimpinan Shah, WhatsApp akan semakin fokus pada integrasi layanan keuangan dan e-commerce. Hal ini sejalan dengan tren global di mana aplikasi perpesanan super-app semakin populer, terutama di pasar Asia. Cred sendiri memiliki pengalaman dalam mengelola pembayaran dan hadiah, yang dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem WhatsApp.

    Meta juga terus mengembangkan fitur-fitur baru untuk WhatsApp, termasuk Harga WhatsApp Plus yang baru-baru ini diumumkan. Langkah ini menunjukkan bahwa Meta masih melihat WhatsApp sebagai platform yang terus berkembang dengan potensi monetisasi yang besar.

    Di sisi lain, pengguna WhatsApp di Indonesia juga perlu mewaspadai informasi yang beredar tentang aplikasi ini. Baru-baru ini, beredar informasi tentang arti warna kontak WhatsApp yang ternyata hoaks. Pengguna disarankan untuk selalu memverifikasi informasi dari sumber resmi.

    Transisi kepemimpinan ini dijadwalkan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Will Cathcart akan membantu proses transisi sebelum sepenuhnya beralih ke peran barunya di Meta. Sementara itu, Kunal Shah akan mulai mempersiapkan diri untuk tanggung jawab barunya sebagai kepala WhatsApp, yang mencakup pengawasan terhadap operasi global aplikasi tersebut.

    Dengan perubahan ini, Meta menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat posisi WhatsApp sebagai platform komunikasi global. Investasi besar di Cred dan penunjukan pendirinya sebagai pemimpin baru menandakan bahwa Meta melihat India sebagai pasar kunci untuk pertumbuhan WhatsApp di masa depan. India sendiri merupakan pasar terbesar WhatsApp dengan lebih dari 500 juta pengguna aktif.

    Keputusan ini juga mencerminkan strategi Meta untuk merekrut talenta dari luar perusahaan untuk memimpin unit bisnis utamanya. Sebelumnya, Meta lebih sering mempromosikan eksekutif internal untuk posisi kepemimpinan. Namun, dengan menunjuk pendiri Cred, Meta menunjukkan bahwa mereka terbuka terhadap perspektif eksternal yang segar.

    Bagi pengguna WhatsApp di Indonesia, perubahan kepemimpinan ini diharapkan tidak akan berdampak langsung pada layanan yang ada. WhatsApp tetap berkomitmen untuk menyediakan layanan perpesanan yang aman, andal, dan inovatif bagi miliaran penggunanya di seluruh dunia. Fitur-fitur yang sudah ada seperti enkripsi end-to-end, panggilan suara dan video, serta berbagai opsi privasi akan terus dipertahankan dan ditingkatkan.

    Ke depannya, pengamat industri memperkirakan bahwa WhatsApp akan semakin terintegrasi dengan layanan Meta lainnya seperti Facebook dan Instagram. Hal ini sejalan dengan visi Meta untuk menciptakan ekosistem digital yang saling terhubung. Kunal Shah, dengan pengalamannya membangun Cred dari awal, diharapkan dapat membawa inovasi baru yang memperkuat posisi WhatsApp di pasar global.

  • Reservasi Steam Machine 2026: Harga, Cara, dan Jadwal

    Reservasi Steam Machine 2026: Harga, Cara, dan Jadwal

    JBNews.id — Valve resmi membuka reservasi Steam Machine melalui sistem pendaftaran berbasis lotere yang dirancang untuk mengalahkan bot, dengan harga mulai dari USD 1.049 atau sekitar Rp 16,6 juta untuk varian 512GB.

    Pendaftaran dimulai hari ini dengan sistem yang berbeda dari reservasi Steam Deck yang hanya membutuhkan deposit USD 5. Valve menggunakan metode “one-time randomization” untuk menentukan urutan reservasi, bukan sistem siapa cepat dia dapat. Periode pendaftaran ditutup pada 25 Juni 2026 pukul 10.00 PT/13.00 ET.

    Empat Varian Steam Machine yang Tersedia

    Valve menawarkan empat pilihan konfigurasi Steam Machine dengan harga bervariasi tergantung kapasitas penyimpanan dan kelengkapan aksesori. Berikut daftar lengkapnya:

    • Steam Machine 512GB: USD 1.049 / CAD 1.509 / EUR 1.039 / GBP 879 / AUD 1.609 / PLN 4.389
    • Steam Machine 512GB + Steam Controller: USD 1.128 / CAD 1.628 / EUR 1.108 / GBP 938 / AUD 1.728 / PLN 4.698
    • Steam Machine 2TB: USD 1.349 / CAD 1.919 / EUR 1.359 / GBP 1.149 / AUD 2.109 / PLN 5.739
    • Steam Machine 2TB + Steam Controller: USD 1.428 / CAD 2.038 / EUR 1.428 / GBP 1.208 / AUD 2.228 / PLN 6.048

    Setiap varian memiliki daftar pendaftaran terpisah. Calon pembeli bisa mendaftar untuk beberapa varian sekaligus. Valve juga menyediakan daftar terpisah untuk setiap wilayah pengiriman. Saat ini ada empat wilayah: Amerika Utara, Inggris, Uni Eropa, dan Australia.

    Sistem Reservasi dan Randomisasi

    Proses reservasi menggunakan pendekatan unik untuk memastikan keadilan. Valve akan melakukan “one-time randomization” setelah periode pendaftaran ditutup pada 25 Juni. Hasil randomisasi ini menentukan urutan reservasi semua pendaftar.

    Jika seorang pendaftar mendapatkan reservasi untuk lebih dari satu model, Valve secara otomatis akan memberikan reservasi untuk model tertinggi yang didaftarkan dan menghapusnya dari daftar lainnya. Pendaftar yang tidak mendapatkan reservasi akan ditempatkan di waitlist untuk model yang paling mendekati posisi depan.

    Pada 25 Juni, Valve akan mengirimkan email ke semua pendaftar untuk memberi tahu apakah mereka masuk antrean reservasi atau waitlist. Pendaftar yang mendaftar setelah 25 Juni akan langsung masuk ke bagian belakang waitlist. Setelah email terkirim, konfigurasi Steam Machine tidak dapat diubah.

    Pendaftar yang mendapatkan reservasi memiliki waktu 72 jam untuk menyelesaikan pembelian. Email reservasi pertama akan dikirim pada 29 Juni 2026.

    Persyaratan Pendaftaran

    Valve menetapkan beberapa kriteria kelayakan untuk mendaftar reservasi Steam Machine:

    • Akun Steam dalam status baik
    • Telah melakukan pembelian di Steam sebelum 27 April 2026
    • Maksimal satu pendaftaran per rumah tangga

    Valve akan menggunakan metode pembayaran, alamat pengiriman, dan informasi lain untuk mengeliminasi entri ganda. Sistem ini mirip dengan upaya perusahaan teknologi lain dalam mengatasi praktik perburuan bot yang merugikan konsumen. Sebagai perbandingan, beberapa Brand Teknologi China juga mulai menerapkan sistem serupa untuk produk-produk mereka di pasar global.

    Kebijakan satu pendaftaran per rumah tangga ini menunjukkan Valve serius dalam mencegah praktik scalping yang sering terjadi pada peluncuran produk teknologi populer. Pengguna yang tidak memenuhi kriteria tidak akan bisa melanjutkan proses reservasi.

    Implikasi bagi Gamer dan Industri

    Sistem reservasi berbasis lotere ini menandai perubahan signifikan dari model penjualan konvensional. Valve belajar dari pengalaman peluncuran Steam Deck yang sempat kewalahan memenuhi permintaan akibat serangan bot dan scalper.

    Dengan harga mulai dari USD 1.049, Steam Machine 2026 diposisikan sebagai perangkat premium. Varian 2TB dengan Steam Controller mencapai USD 1.428, menunjukkan segmen pasar yang ditargetkan adalah gamer serius yang menginginkan performa tinggi.

    Pembatasan wilayah pengiriman juga menjadi pertimbangan penting. Saat ini hanya empat wilayah yang tercakup: Amerika Utara, Inggris, Uni Eropa, dan Australia. Pasar Asia, termasuk Indonesia, belum termasuk dalam daftar awal. Ini berarti gamer Indonesia harus menunggu perluasan wilayah atau menggunakan jasa pihak ketiga untuk mendapatkan perangkat ini.

    Sistem reservasi semacam ini juga memunculkan diskusi lebih luas tentang aksesibilitas produk teknologi. Dalam konteks yang berbeda, isu serupa tentang Regulasi AI juga menunjukkan bagaimana akses terhadap teknologi canggih seringkali terbatas dan memerlukan kerangka aturan yang jelas.

    Strategi Valve Melawan Bot

    Pendekatan Valve dalam menggunakan sistem randomisasi satu kali merupakan langkah inovatif. Tidak seperti sistem pre-order tradisional yang menguntungkan pengguna dengan koneksi internet cepat atau bot otomatis, sistem ini memberikan kesempatan yang sama bagi semua pendaftar.

    Namun, sistem ini juga memiliki kelemahan. Pengguna tidak bisa memastikan apakah mereka akan mendapatkan unit atau tidak hingga pengumuman pada 25 Juni. Ketidakpastian ini bisa membuat beberapa calon pembeli frustrasi, terutama yang sangat menginginkan perangkat tersebut.

    Valve juga membatasi fleksibilitas dengan tidak mengizinkan perubahan konfigurasi setelah email konfirmasi terkirim. Ini berarti pendaftar harus sudah yakin dengan pilihan mereka sejak awal.

    Prospek dan Tantangan ke Depan

    Peluncuran Steam Machine 2026 dengan sistem reservasi baru ini menjadi ujian bagi Valve dalam mengelola permintaan tinggi. Jika berhasil, model ini bisa menjadi standar baru untuk peluncuran produk teknologi premium di masa depan.

    Bagi gamer yang berminat, langkah pertama adalah memastikan akun Steam memenuhi persyaratan dan mendaftar sebelum 25 Juni. Setelah itu, hanya keberuntungan yang menentukan apakah mereka akan mendapatkan reservasi atau harus bersabar di waitlist.

    Valve mengirimkan email pertama pada 29 Juni, memberi waktu 72 jam bagi penerima reservasi untuk menyelesaikan pembelian. Gagal melakukannya berarti kehilangan kesempatan dan harus kembali ke waitlist.

    Sistem reservasi berbasis lotere ini membuktikan bahwa Valve serius menciptakan ekosistem yang adil bagi semua penggemar setianya, meskipun dengan konsekuensi ketidakpastian yang harus diterima.

  • OpenAI Luncurkan Patch the Planet untuk Keamanan Open Source

    OpenAI Luncurkan Patch the Planet untuk Keamanan Open Source

    JBNews.id — OpenAI mengumumkan inisiatif keamanan siber berskala global bernama Patch the Planet pada Senin (22/6/2026), bekerja sama dengan perusahaan riset keamanan Trail of Bits serta platform manajemen kerentanan HackerOne dan Calif. Proyek ini bertujuan memberikan konsultasi keamanan gratis kepada para pengelola perangkat lunak sumber terbuka (open source) yang rentan tertinggal di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

    Inisiatif ini lahir dari kekhawatiran bahwa alat perburuan kerentanan berbasis AI yang semakin canggih justru membebani pengelola open source—yang sebagian besar adalah relawan—dengan laporan bug palsu atau berkualitas rendah. “Patch the Planet adalah upaya berskala internet untuk membantu perangkat lunak open source agar unggul dari alat perburuan bug AI,” ujar CEO dan salah satu pendiri Trail of Bits, Dan Guido, dalam pernyataan resmi.

    Mengatasi Banjir Laporan Bug Palsu

    Para pengelola open source, yang seringkali bekerja sukarela menjaga perangkat lunak penting yang digunakan secara luas, sudah kesulitan mengikuti laporan bug yang masuk. Munculnya perburuan kerentanan AI dalam beberapa bulan terakhir membuat tunggakan (backlog) terasa semakin tidak tertahankan. Laporan sampah (slop reports) yang dihasilkan AI menumpuk, menyulitkan prioritas, dan mengalihkan perhatian serta waktu yang terbatas dari celah keamanan kritis.

    Fouad Matin, pimpinan teknis keamanan siber OpenAI, menjelaskan bahwa para pengelola melakukan pekerjaan mereka karena kecintaan pada open source. “Kini mereka terjebak meninjau CVE sampah,” katanya. Dengan Patch the Planet, OpenAI berupaya meringankan beban tersebut melalui efisiensi token, termasuk penilaian basis kode, validasi laporan potensial, pembuatan tambalan (patch), dan penerapannya.

    Matin menambahkan bahwa untuk pemindai Codex Security—yang telah dalam pratinjau riset sejak awal tahun ini—OpenAI telah mensubsidi penggunaannya untuk kode open source dan privat “hingga 20 triliun token.”

    Dalam konteks yang lebih luas, persaingan di industri AI semakin ketat. OpenAI sendiri tengah bersiap menghadapi IPO OpenAI dan Anthropic yang disebut sebagai ujian terberat industri AI.

    Hasil Awal dan Dampak Langsung

    Lebih dari 30 proyek open source telah berpartisipasi dalam Patch the Planet, dengan lebih banyak lagi yang akan bergabung. Untuk meluncurkan proyek ini, Trail of Bits baru-baru ini melakukan sprint pembukaan selama lima hari dengan melibatkan 25 insinyur—sekitar seperlima dari total tenaga kerja mereka—yang secara simultan mengerjakan kolaborasi dengan berbagai pengelola.

    OpenAI dan Trail of Bits menyatakan bahwa proyek ini telah menemukan ratusan bug dan menghasilkan puluhan tambalan hanya dalam minggu pertamanya. Guido mengatakan bahwa dengan pendanaan dari OpenAI serta akses model tanpa batas, Trail of Bits berencana melanjutkan komitmen intensifnya pada Patch the Planet dalam jangka panjang.

    “Sangat jarang kami mendapat kesempatan untuk mengerjakan masalah keamanan open source berskala besar,” ujar Guido. “Patch the Planet bukanlah pendekatan satu-ukuran-untuk-semua. Kami berbicara dengan semua pengelola untuk setiap proyek dan mencari tahu prioritas tertinggi mereka, apakah itu membangun infrastruktur pengujian yang lebih baik, pembuat fuzz khusus, atau sekadar membersihkan data teknis di seluruh proyek.”

    Persaingan Keamanan Siber AI

    Pengumuman OpenAI pada Senin ini muncul di tengah persaingan ketat dengan Anthropic, yang harus menarik model Fable 5 dan Mythos 5 dari pasar awal bulan ini karena kekhawatiran pemerintahan Trump tentang kemampuan keamanan siber AI. Keputusan Gedung Putih untuk memberlakukan kontrol ekspor pada model OpenAI muncul setelah Anthropic merilis Mythos-grade Fable 5 dengan perlindungan yang dinilai tidak memadai oleh pemerintahan tersebut.

    Pengumuman OpenAI pada Senin, termasuk checkpoint baru GPT-5.5-Cyber, adalah bagian dari program Trusted Access for Cyber yang terbatas dan tidak melibatkan rilis publik. Dalam pengumuman GPT-5.5-Cyber, OpenAI menyebutkan bahwa model tersebut mencetak skor 85,6 persen pada tolok ukur CyberGym, peningkatan dari versi sebelumnya dan mengungguli Mythos 5 milik Anthropic yang hanya meraih 83,8 persen.

    Di tengah perlombaan keamanan siber AI ini, aliansi intelijen Five Eyes mengeluarkan pernyataan bersama yang tidak biasa pada Senin. Mereka memperingatkan bahwa “model AI frontier diperkirakan akan melampaui ekspektasi industri saat ini, secara fundamental mengubah kemampuan siber ofensif dan defensif. Garis waktunya bukan tahun, melainkan bulan… Dalam lingkungan ini, ketahanan siber menjadi bagian integral.”

    Meskipun demikian, tantangan finansial tetap membayangi OpenAI. Perusahaan sebelumnya melaporkan bahwa kerugian OpenAI 2025 mencapai Rp 630 triliun, yang mendorong perusahaan beralih ke model bisnis berbasis token.

    Dukungan Berkelanjutan untuk Pengelola

    Patch the Planet memberikan peserta enam bulan ChatGPT Pro gratis dan enam bulan Codex Security, serta peningkatan infrastruktur dan alur kerja yang dapat dilanjutkan dengan berbagai alat dan insinyur manusia.

    “Dengan Patch the Planet sejauh ini, hanya sekitar separuh waktu yang dihabiskan untuk menemukan bug,” kata Guido dari Trail of Bits. “Kami mencoba menemukan bug yang paling dangkal, mudah ditemukan, dan paling parah, lalu menghapusnya. Namun separuh waktu lainnya kami habiskan untuk menyesuaikan agen agar bekerja pada basis kode sehingga kami dapat meninggalkannya dan mengajari para pengelola cara menggunakannya.”

    Inisiatif ini menunjukkan bahwa di tengah perlombaan menuju IPO dan persaingan model AI, perusahaan seperti OpenAI tetap memberikan perhatian pada ekosistem open source yang menjadi fondasi industri teknologi. Dengan memberikan dukungan individual dan berkelanjutan, Patch the Planet berupaya meningkatkan keamanan dan ketahanan jangka panjang perangkat lunak yang digunakan miliaran orang di seluruh dunia.

  • Tesla Tabrak Rumah di Texas, Nenek 76 Tahun Tewas

    Tesla Tabrak Rumah di Texas, Nenek 76 Tahun Tewas

    **JBNews.id —** Seorang nenek berusia 76 tahun di Texas, Amerika Serikat, tewas setelah sebuah Tesla Model 3 yang dikemudikan dalam mode self-driving menabrak rumah keluarganya dengan kecepatan tinggi pada Jumat malam lalu. Peristiwa ini kembali memicu pertanyaan serius tentang keselamatan sistem bantuan mengemudi otonom.

    Kantor Sheriff Harris County melaporkan bahwa kendaraan tersebut keluar dari jalur, gagal berbelok ke kanan, dan langsung menabrak rumah korban. Martha Avila, 76 tahun, sedang berada di ruang depan rumahnya ketika mobil Tesla menembus dinding. Ia diterbangkan ke rumah sakit, namun akhirnya meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya.

    “Dia tidak pantas pergi seperti itu,” ujar Jennifer Barbour, putri Avila, kepada stasiun televisi lokal KHOU 11. Barbour mengatakan ia mendengar suara ledakan keras dari halaman belakang saat kecelakaan terjadi. Suaminya dan tiga anaknya yang juga berada di rumah selamat, namun ibunya menjadi korban. Ruangan yang ditabrak mobil tersebut adalah ruang bermain anak-anak.

    Penyebab kecelakaan belum dapat dikonfirmasi. KHOU 11 memperoleh rekaman yang menunjukkan Tesla melaju di jalan sebelum kecelakaan, serta video lain yang memperlihatkan mobil tersebut menabrak rumah dengan kecepatan tinggi. Pengemudi, seorang pria berusia 44 tahun yang identitasnya belum diungkap, mengatakan kepada penyidik bahwa sistem bantuan mengemudi otomatis sedang aktif saat kecelakaan terjadi.

    Ilustrasi setir mobil Tesla yang menjadi sorotan setelah kecelakaan fatal di Texas

    Sistem yang dimaksud bisa jadi adalah Autopilot, yang dulunya menjadi fitur standar pada kendaraan Tesla terbaru, atau mode Full Self-Driving (Supervised) yang lebih canggih dan merupakan opsi berbayar. Namun, penyidik belum mengonfirmasi apakah salah satu mode mengemudi tersebut benar-benar aktif selama kecelakaan.

    Baik Autopilot maupun FSD memiliki sejarah berkendara yang tidak stabil dan mengalami malfungsi. Perusahaan otomotif milik Elon Musk ini sedang diselidiki oleh regulator federal setelah sebuah Tesla yang menjalankan FSD menabrak dan membunuh seorang pejalan kaki lanjut usia di pinggir jalan. Rekaman menunjukkan kamera depan mobil tersebut silau oleh sinar matahari sesaat sebelum kecelakaan terjadi.

    Tahun lalu, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) membuka penyelidikan lain terhadap Tesla setelah meningkatnya laporan tentang FSD yang melaju ke jalur kereta yang melaju. Pengemudi dalam kecelakaan Texas ini tidak terlihat dalam pengaruh alkohol, menurut penyidik. Hingga saat ini, keluarga korban belum mengajukan tuntutan hukum.

    “Saya tidak tahu apakah ini kesalahan dia, kesalahan mobil, atau apa yang sebenarnya terjadi,” kata Barbour kepada KHOU 11. “Saya belum pernah melihat mobil melaju secepat itu.”

    Keselamatan Sistem Otonom Dipertanyakan

    Insiden ini menjadi pengingat tragis bahwa teknologi self-driving masih jauh dari sempurna. Meskipun Tesla terus mengklaim bahwa sistemnya lebih aman daripada pengemudi manusia, data dari berbagai kecelakaan menunjukkan sebaliknya. Investigasi federal terhadap Tesla masih berlangsung, dan kasus kematian Martha Avila kemungkinan akan menjadi bagian penting dari penyelidikan tersebut.

    Keluarga korban kini berduka dan mencari jawaban. Pernyataan Barbour yang meragukan apakah kesalahan ada pada pengemudi atau mobil mencerminkan kebingungan yang dirasakan banyak orang ketika berhadapan dengan teknologi otonom yang belum matang. Pertanyaan tentang tanggung jawab hukum dalam kecelakaan yang melibatkan sistem self-driving masih menjadi perdebatan hangat di kalangan ahli hukum dan regulator.

    Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini memberikan pelajaran berharga. Meskipun teknologi OJK Batasi Paylater mungkin tidak terkait langsung, esensi dari perlindungan konsumen dan regulasi yang ketat terhadap teknologi baru sangat relevan. Sama seperti sektor keuangan yang perlu diawasi, teknologi kendaraan otonom juga membutuhkan kerangka regulasi yang jelas untuk melindungi masyarakat.

    Kecelakaan ini juga menunjukkan pentingnya transparansi dari produsen teknologi. Konsumen berhak mengetahui secara pasti kemampuan dan keterbatasan sistem yang mereka gunakan. Klaim pemasaran yang berlebihan tanpa data keselamatan yang memadai dapat berakibat fatal, seperti yang dialami keluarga Avila.

    Dampak pada Industri dan Regulasi

    Kematian Martha Avila diprediksi akan mempercepat laju regulasi terhadap kendaraan otonom di Amerika Serikat. NHTSA kemungkinan akan mengeluarkan aturan yang lebih ketat mengenai pengujian dan penggunaan sistem self-driving di jalan raya. Tekanan publik terhadap Tesla juga diperkirakan akan meningkat, mendorong perusahaan untuk memperbaiki sistem keselamatannya.

    Di sisi lain, insiden ini bisa menjadi pukulan telak bagi industri kendaraan listrik dan otonom secara keseluruhan. Kepercayaan konsumen terhadap teknologi self-driving mungkin akan menurun, setidaknya dalam jangka pendek. Produsen mobil lain yang mengembangkan teknologi serupa juga akan terkena dampaknya.

    Bagi pengguna teknologi di Indonesia, peristiwa ini adalah pengingat untuk selalu waspada dan tidak sepenuhnya bergantung pada sistem otomatis. Fitur bantuan mengemudi, sekalipun canggih, tetaplah alat bantu, bukan pengganti pengemudi. Pengemudi harus selalu siap mengambil alih kendali kapan saja.

    Sementara itu, keluarga Avila masih berduka. Mereka kehilangan seorang ibu, nenek, dan anggota keluarga yang dicintai dengan cara yang tragis. Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk dijawab, namun yang pasti, sebuah nyawa telah melayang sia-sia.

  • Google Investasi Rp1,2 Triliun di A24 untuk AI Film

    Google Investasi Rp1,2 Triliun di A24 untuk AI Film

    JBNews.id — Google melalui laboratorium AI DeepMind mengumumkan kemitraan riset dan pengembangan dengan studio film independen A24, dengan investasi sekitar US$75 juta atau setara lebih dari Rp1,2 triliun. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan teknologi produksi film baru yang membantu sineas masa depan “memperluas kemungkinan bercerita” mereka.

    Menurut laporan The Wall Street Journal, investasi ini menandai pertama kalinya raksasa mesin pencari tersebut mengambil saham di sebuah studio film. Google menyebut kemitraan ini menyatukan laboratorium riset terkemuka dunia dengan studio yang paling berpihak pada sineas di industri perfilman.

    “Kolaborasi ini menyatukan laboratorium riset terkemuka dunia dengan studio yang paling berpihak pada sineas di industri untuk membantu para kreator mengembangkan alur kerja dan teknik baru,” tulis Google dalam pengumuman resminya. “Ini memastikan bahwa alat-alat masa depan dibentuk oleh para kreator yang menggunakannya.”

    Investasi dan Lingkup Kemitraan

    Kemitraan ini diperkirakan akan berlangsung lintas “berbagai proyek dari waktu ke waktu”, meskipun pengumuman tersebut tidak menyebutkan film spesifik apa pun yang akan melibatkan Google. WSJ melaporkan bahwa Google dan A24 bertujuan menciptakan alat baru untuk produksi dan distribusi film, sesuatu yang diisyaratkan Google dalam pengumumannya sendiri dengan mengatakan “fokus awal adalah menjembatani kesenjangan antara teknologi mutakhir dan hiburan generasi berikutnya.”

    Kesepakatan multi-tahun ini bersifat non-eksklusif dan tidak mengizinkan Google mengakses data perpustakaan film dan televisi A24. Namun, kemitraan ini kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran di industri film, mengingat model AI Google dilatih menggunakan data internet publik, dan bagaimana studio film lain seperti Disney, Universal, dan Warner Bros secara agresif melawan perusahaan AI atas dugaan pelanggaran hak cipta.

    Keterlibatan Kreator dan Kontroversi AI

    WSJ juga melaporkan bahwa Google dan A24 berharap dapat melibatkan jajaran kreator yang sudah ada di studio tersebut, termasuk kreator YouTube dan sutradara Backrooms, Kane Parsons. Dalam wawancara dengan The Australian awal bulan ini, Parsons mengatakan bahwa “AI generatif terasa kurang seperti inovasi dan lebih seperti gejala dari kebusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas,” dan bahwa ia “tidak mendapat kesenangan” dari penggunaan teknologi tersebut di proyek apa pun.

    Menurut Scott Belsky — mitra A24 yang sebelumnya merupakan chief strategy officer Adobe — alat yang dikembangkan Google dan A24 “tidak akan terlihat seperti jenis AI generatif berbasis perintah yang membuat orang merasa tidak nyaman.” Dalam pernyataannya kepada WSJ, Belsky mengatakan “ada kegunaan yang lebih baik yang mempertahankan kendali kreatif dan mendukung pengambilan risiko.”

    Kemitraan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang penggunaan AI di industri kreatif. Sebelumnya, Google AI Overviews pernah menjadi sorotan karena menyajikan konten fiksi sebagai fakta, menunjukkan tantangan dalam penerapan teknologi AI.

    Implikasi untuk Industri Film

    Investasi Google di A24 menunjukkan pergeseran strategi raksasa teknologi dalam mendekati industri kreatif. Alih-alih menghadapi resistensi seperti yang dialami perusahaan AI lain, Google memilih pendekatan kolaboratif dengan bermitra langsung dengan studio film. Pendekatan ini memungkinkan Google mengembangkan alat yang lebih sesuai dengan kebutuhan kreator, sambil menghindari konflik hak cipta yang telah memicu gugatan terhadap perusahaan AI lain.

    Bagi sineas independen dan industri film secara umum, kemitraan ini bisa menjadi preseden baru dalam adopsi AI di dunia perfilman. Fokus pada alat yang mempertahankan kendali kreatif, seperti yang ditekankan Belsky, menunjukkan bahwa AI tidak selalu harus berarti otomatisasi penuh, melainkan bisa menjadi alat bantu yang memperluas kemungkinan kreatif.

    Dengan investasi sebesar US$75 juta, Google menunjukkan komitmen serius untuk masuk ke industri hiburan melalui pintu kolaborasi, bukan konfrontasi. Langkah ini juga memperkuat posisi DeepMind sebagai laboratorium AI yang tidak hanya fokus pada riset murni, tetapi juga aplikasi praktis di industri kreatif.

    Sementara itu, Google Kalender dan layanan Google lainnya terus berkembang, menunjukkan ekspansi Google ke berbagai sektor. Kemitraan dengan A24 ini menjadi bukti bahwa Google serius mengintegrasikan AI ke dalam industri kreatif dengan cara yang lebih etis dan kolaboratif.

    Ke depannya, industri film akan mengawasi bagaimana alat yang dikembangkan Google dan A24 benar-benar diimplementasikan. Apakah alat tersebut akan diterima oleh komunitas sineas yang skeptis terhadap AI, atau justru memperdalam perpecahan antara pendukung dan penentang AI di industri kreatif, masih harus dilihat.

    Yang jelas, investasi ini menandai babak baru dalam hubungan antara teknologi besar dan Hollywood, di mana kolaborasi menjadi kata kunci, bukan kompetisi atau litigasi. Bagi sineas Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi referensi bagaimana AI dapat diadopsi secara bertanggung jawab di industri film Tanah Air.

  • Valve Buka Jalan Instalasi SteamOS di PC Rakitan Sendiri

    Valve Buka Jalan Instalasi SteamOS di PC Rakitan Sendiri

    JBNews.id — Valve resmi memberikan lampu hijau bagi pengguna untuk menginstal SteamOS langsung di PC rakitan mereka sendiri, menyusul perilisan SteamOS 3.8.10 yang meningkatkan kompatibilitas dengan platform Intel dan AMD terkini. Langkah ini membuka era baru bagi para gamer yang ingin membangun konsol berbasis PC tanpa harus bergantung pada sistem reservasi Steam Machine.

    Dalam sebuah wawancara dengan The Verge, Pierre-Loup Griffais dari Valve mengonfirmasi bahwa perusahaan telah “meluncurkan perbaikan pada SteamOS agar lebih kompatibel dengan perangkat keras desktop.” Ini termasuk dukungan untuk kartu grafis Nvidia yang selama ini menjadi kendala utama. “Kami memiliki tim yang terus berkembang yang mengerjakan dukungan driver Nvidia untuk SteamOS,” kata Griffais, seraya menambahkan, “Kami berkolaborasi sangat erat dengan Nvidia.”

    Meskipun dukungan Nvidia mungkin belum hadir tahun ini, Griffais menekankan bahwa “ini jelas sesuatu yang sedang kami kerjakan di latar belakang.” Pernyataan ini menjadi kabar baik bagi pengguna yang selama ini terbatas pada sistem AMD untuk menjalankan SteamOS di perangkat keras mereka sendiri.

    Kompatibilitas yang Semakin Luas

    Sebelumnya, menginstal SteamOS di perangkat keras sendiri secara teknis sudah dimungkinkan, tetapi kompatibilitasnya sebagian besar terbatas pada sistem AMD. Proses instalasinya juga memerlukan penggunaan image recovery Steam Deck, yang menurut pengalaman langsung, jauh lebih rumit dibandingkan proses instalasi distribusi Linux lainnya.

    Menjalankan SteamOS pada perangkat keras Intel atau Nvidia selama ini tidak mudah. Griffais menyatakan Valve sedang bekerja untuk mengubah hal tersebut, yang berarti di masa mendatang pengguna bisa menjalankan SteamOS pada hampir semua perangkat keras gaming PC yang diinginkan, termasuk dengan kartu grafis Nvidia.

    Untuk jangka waktu yang lebih dekat, Griffais mengatakan SteamOS dalam kondisi saat ini seharusnya memberikan “pengalaman yang baik” pada setup PC bergaya konsol. “Jika Anda memiliki sesuatu yang mirip dengan kasus penggunaan Steam Machine, di mana PC akan dicolokkan ke TV, dan memiliki satu hard drive yang tidak akan Anda coba dual boot… Anda dapat memasang SteamOS di sana, dan Anda akan mendapatkan pengalaman yang sangat mirip dengan Steam Deck yang di-dock atau Steam Machine, dengan beberapa catatan tentunya,” jelasnya.

    Beberapa keterbatasan yang disebutkan termasuk kurangnya dukungan HDMI-CEC. Namun, “inti dari pengalamannya sudah ada. Driver grafis SteamOS, kompilasi awal shader… Anda bisa mendapatkan semua itu dengan SteamOS,” tegas Griffais.

    Proses Instalasi dan Dual Boot

    Meskipun Griffais menyebutkan adanya “pemasang SteamOS,” ia juga mengatakan bahwa sistem tersebut belum dirancang untuk dual boot bersamaan dengan OS lain. “Belum ada wizard instalasi di mana Anda dapat dengan mudah memindahkan OS lain dan mempartisi hard drive Anda,” jelasnya.

    Proses instalasi SteamOS saat ini masih ditujukan untuk memasang OS baru pada PC baru. Namun, Griffais membayangkan “suatu saat nanti di mana akan ada pengalaman yang lebih baik untuk menginstalnya di desktop Anda dan membuatnya hidup berdampingan dengan sistem operasi yang berbeda.”

    Bagi pengguna yang ingin mencoba, Anda dapat memasang SteamOS pada PC gaming yang sudah ada yang menjalankan Windows atau sistem operasi lain, tetapi Anda harus memformat ulang drive dalam prosesnya. Pastikan untuk mencadangkan semua data terlebih dahulu sebelum memulai instalasi.

    Dampak Krisis RAM dan Alternatif Lain

    Perlu dicatat bahwa membangun PC gaming saat ini kemungkinan akan sama mahalnya dengan membeli Steam Machine karena krisis RAM yang masih berlangsung. Namun, jika Anda tidak ingin menunggu reservasi Steam Machine, jalur DIY kini menjadi opsi yang tersedia.

    Bagi yang ingin menunggu lebih banyak perbaikan pada pengalaman desktop SteamOS, ada juga distribusi Linux berfokus gaming lain yang bisa dicoba, seperti Bazzite atau Nobara. Sementara itu, kebijakan terbaru Valve juga patut dicermati oleh para kolektor game fisik.

    Langkah Valve ini juga menarik untuk dicermati di tengah perubahan strategi industri. Seperti yang dilaporkan, Microsoft Ubah Strategi Konsol Xbox di tengah krisis RAMageddon, menunjukkan bahwa dinamika pasar konsol dan PC gaming sedang bergeser secara signifikan.

    Bagi pengguna yang ingin memanfaatkan momen ini, diskon besar-besaran yang ditawarkan Steam bisa menjadi kesempatan untuk mengisi library game sebelum membangun PC rakitan berbasis SteamOS.

  • AMD Rilis FSR 4.1 untuk Radeon RX 7000 Lebih Cepat

    AMD Rilis FSR 4.1 untuk Radeon RX 7000 Lebih Cepat

    JBNews.id — AMD resmi meluncurkan pembaruan FSR Upscaling 4.1 untuk kartu grafis Radeon RX 7000-series hari ini. Langkah ini membawa peningkatan kualitas gambar dan kelancaran permainan bagi pengguna GPU lawas berbasis arsitektur RDNA 3 tersebut.

    Peluncuran ini terjadi lebih cepat dari jadwal awal yang dijanjikan AMD pada Mei lalu. Saat itu, perusahaan menargetkan dukungan FSR 4.1 untuk seri RX 7000 baru akan tersedia pada Juli. Dengan dirilisnya pembaruan kini, AMD unggul beberapa pekan dari komitmen awalnya.

    FSR 4.1 merupakan teknologi upscaling berbasis machine learning yang dirancang untuk meningkatkan performa grafis tanpa harus mengorbankan kualitas visual. Menurut AMD, pembaruan ini sudah tersedia di lebih dari 300 game. Angka tersebut menunjukkan adopsi yang luas dari para pengembang game terhadap teknologi milik AMD.

    Jack Huynh, perwakilan AMD, menyatakan bahwa perusahaan tengah mengembangkan model machine learning ringan untuk membawa FSR 4.1 ke lebih banyak perangkat. “Kami mengembangkan model machine learning ringan untuk membawa FSR 4.1 ke lebih banyak perangkat,” ujar Huynh dalam pernyataan resmi.

    AMD juga berencana menghadirkan FSR 4.1 ke APU berbasis RDNA 3. Selain itu, dukungan untuk kartu grafis RDNA 2 dijadwalkan hadir pada awal 2027. Rencana ini memperluas jangkauan teknologi upscaling AMD ke basis pengguna yang lebih luas.

    Game Baru Dukung FSR 4.1

    Bersamaan dengan peluncuran ini, AMD mengumumkan dua game besar yang akan mendukung FSR 4.1. Pertama, Doom: The Dark Ages Revelations yang dijadwalkan rilis pada 7 Juli. Kedua, Assassin’s Creed Black Flag Resynced yang akan meluncur pada 9 Juli. Dukungan dari judul-juduk ternama ini memperkuat ekosistem FSR 4.1 di industri game.

    Kehadiran FSR 4.1 di lebih dari 300 game menunjukkan komitmen AMD dalam mengembangkan teknologi upscaling yang kompetitif. Dengan basis game yang terus bertambah, pengguna Radeon RX 7000-series kini bisa menikmati pengalaman bermain yang lebih halus dan tajam.

    Teknologi upscaling seperti FSR 4.1 menjadi krusial di tengah tren PC gaming handheld yang semakin populer. Perangkat dengan daya komputasi terbatas sangat diuntungkan oleh fitur ini karena bisa menjalankan game berat dengan frame rate lebih tinggi tanpa harus menurunkan resolusi secara drastis.

    Implikasi bagi Pengguna

    Bagi pemilik kartu grafis Radeon RX 7000-series, pembaruan ini berarti akses langsung ke peningkatan kualitas visual tanpa biaya tambahan. Cukup dengan memperbarui driver, pengguna bisa merasakan perbedaan signifikan dalam game yang mendukung FSR 4.1.

    AMD juga menunjukkan keseriusannya dalam mendukung perangkat lawas. Rencana membawa FSR 4.1 ke RDNA 2 pada awal 2027 menjadi kabar baik bagi pengguna yang belum beralih ke arsitektur terbaru. Ini memperpanjang umur pakai kartu grafis lama dan memberikan nilai lebih bagi investasi pengguna.

    Perkembangan teknologi grafis seperti ini juga berdampak pada industri secara lebih luas. Produsen TV premium dan perangkat layar lainnya terus berinovasi untuk mengimbangi kebutuhan visual game modern. Ekosistem hardware dan software yang saling mendukung menjadi kunci pengalaman pengguna yang optimal.

    Peluncuran FSR 4.1 yang lebih cepat dari jadwal menandakan bahwa AMD serius dalam persaingan teknologi upscaling. Dengan basis game yang luas dan dukungan dari judul-judul besar, FSR 4.1 berpotensi menjadi standar baru bagi pengguna Radeon.

    Bagi pengguna yang tertarik, pembaruan dapat diunduh melalui perangkat lunak AMD Adrenalin Edition. Pastikan sistem sudah menjalankan driver terbaru untuk mengaktifkan fitur FSR 4.1 di game-game yang mendukung.

    Ke depannya, pengembangan model machine learning yang lebih ringan oleh AMD membuka peluang bagi lebih banyak perangkat untuk menikmati teknologi ini. APU berbasis RDNA 3 menjadi target berikutnya, yang berarti pengguna laptop dan perangkat ringkas juga akan merasakan manfaatnya.

    Dengan lebih dari 300 game yang sudah mendukung dan tambahan judul baru setiap bulannya, ekosistem FSR 4.1 terus berkembang. Pengguna Radeon RX 7000-series kini memiliki alasan kuat untuk segera memperbarui sistem mereka.

  • Aksesoris Kacamata Meta Ray-Ban, Lorika Luncurkan Ontop

    Aksesoris Kacamata Meta Ray-Ban, Lorika Luncurkan Ontop

    JBNews.id – Lorika, sebuah startup asal Italia yang digawangi oleh tim pengusaha di bawah usia 30 tahun, meluncurkan produk pertamanya berupa rangka penutup clip-on berwarna cerah untuk kacamata pintar Ray-Ban Meta. Produk yang diberi nama Ontop ini dirancang untuk dipasang di atas bingkai kacamata asli, memberikan opsi personalisasi desain yang lebih berani bagi pengguna.

    Rangka penutup Ontop terbuat dari polikarbonat dengan anyaman polimer elastis untuk stabilitas. Satu bagian dipasang di sekitar lensa dan menutupi engsel yang menghubungkan lengan kacamata, sementara bagian lainnya dipasang di lengan. Desain ini tidak menutupi kamera atau speaker yang tertanam di kacamata. Dengan ketebalan hanya satu milimeter, pemasangan Ontop tetap memberikan tampilan yang lebih tebal dan mencolok.

    “Jika Anda menginginkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berbeda dalam desain, yang lebih chubby, lebih puffy, Anda bisa mendapatkannya,” ujar Giorgio Di Cesare, CEO Lorika, dalam pernyataannya. Produk ini sudah tersedia mulai hari ini dengan harga US$35 hingga US$40 tergantung model.

    Latar Belakang dan Inspirasi

    Di Cesare mengaku merupakan pengguna awal kacamata Ray-Ban Meta. Ia merasa kecewa saat secara tidak sengaja mematahkan satu pasang kacamata pada bagian engsel. Insiden inilah yang mendorongnya untuk menciptakan Ontop. Inspirasi desainnya datang dari aksesori ponsel seperti casing. “Kami ingin menambahkan sesuatu. Kami ingin melindungi kacamata; kami ingin memperkuatnya,” jelas Di Cesare.

    Ontop saat ini kompatibel dengan kacamata Ray-Ban Meta model Wayfarer, baik generasi pertama maupun kedua. Ke depannya, Lorika berencana membuat penutup untuk model lain dari Meta, termasuk Oakley dan Display. Target jangka panjangnya adalah memproduksi casing untuk merek kacamata pintar lainnya.

    Fashion sebagai Faktor Kunci Adopsi

    Peran fashion dalam adopsi kacamata pintar semakin krusial. Peluncuran AR Specs terbaru dari Snap menjadi contoh nyata. Perangkat tersebut disebut bertenaga, namun langsung menuai kritik karena harga yang sangat mahal dan tampilan yang dianggap konyol. Bahkan, bingkainya disebut menjepit telinga CEO Snap, Evan Spiegel, saat digunakan.

    Meta, melalui kemitraannya dengan raksasa kacamata EssilorLuxottica, berhasil membuat kacamatanya tampak seperti kacamata biasa. Hal ini membantu normalisasi penggunaan perangkat di kehidupan sehari-hari, meskipun juga memicu kekhawatiran publik terkait potensi penyalahgunaan. YouTube Diduga Langgar Sanksi AS menjadi salah satu isu privasi yang mengemuka. Sementara itu, perusahaan lain seperti Google mengikuti jejak Meta dengan berkolaborasi bersama produsen kacamata seperti Warby Parker dan Gentle Monster.

    Kritik terhadap Pilihan Warna

    Meskipun Meta dinilai unggul dalam aspek estetika, Di Cesare berpendapat bahwa kacamata Meta belum cukup berani dalam hal fashion, terutama dari sisi warna. “Model yang paling umum dan populer selalu hitam atau gelap pada umumnya,” ujarnya. “Jika Anda melihat sekeliling, Anda hanya melihat gelap, gelap, gelap, atau mungkin kadang-kadang coklat tua. Di sisi warna, kami pasti memperbaikinya.”

    Lorika tidak memiliki kerja sama resmi dengan Meta. Meta pun belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari WIRED. Meski demikian, Di Cesare tetap optimistis. “Saya tidak mengatakan mereka tidak bisa membuat kacamata pintar, karena jelas mereka bisa lebih baik dari siapa pun,” katanya. “Tetapi mereka masih memiliki banyak hal untuk ditingkatkan, dan kami ingin meningkatkan itu.”

    Kehadiran Ontop menjadi bukti bahwa ekosistem aksesori untuk kacamata pintar mulai berkembang, membuka peluang bagi Dua Developer RI dan startup lain untuk berinovasi. Dengan harga yang relatif terjangkau, produk ini menawarkan cara mudah bagi pengguna untuk mengekspresikan gaya pribadi tanpa harus mengganti perangkat utama mereka.