JBNews.id — Semangat kerja atau morale di internal Meta Platforms Inc. berada dalam kondisi yang sangat buruk. Bahkan, Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew “Boz” Bosworth, secara blak-blakan mengakui bahwa situasi ini mungkin merupakan salah satu yang terburuk dalam dua dekade sejarah perusahaan.
Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Bosworth dalam sebuah rapat internal tim pada awal Juni 2026. Ia tidak menampik fakta pahit yang dirasakan oleh para karyawan di berbagai lini. “Mungkin ini bukan yang terburuk dalam 20 tahun di sini, tapi ini hampir mendekati. Pasti itu,” ujar Bosworth seperti dikutip dari laporan Business Insider.
Bosworth kemudian membandingkan situasi saat ini dengan skandal Cambridge Analytica pada 2016. Saat itu, sebuah firma konsultan politik diam-diam mengambil data dari sekitar 87 juta pengguna Facebook. “Saya rasa Cambridge Analytica mungkin yang terburuk,” lanjut sang CTO. Namun, ia menambahkan bahwa rasa kebersamaan atau camaraderie di antara karyawan saat ini adalah “mungkin salah satu yang terburuk yang pernah ada.”
Pernyataan dari Bosworth ini menjadi sinyal kuat betapa parahnya krisis kepercayaan dan motivasi di tubuh Meta. Sebagai CTO, ia memiliki pandangan yang lebih komprehensif terhadap suasana hati karyawan di lapangan dibandingkan eksekutif lainnya. Kondisi ini terjadi setelah langkah agresif Mark Zuckerberg dan jajaran direksi yang memangkas ribuan pekerjaan untuk mengalokasikan lebih banyak dana bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI).
PHK dan Alih Tugas ke Divisi AI Picu Kecemasan
Gelombang PHK besar-besaran yang terjadi di Meta tentu menjadi pukulan telak bagi moral karyawan. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Banyak dari mereka yang selamat dari PHK justru dipindahkan ke peran-peran yang tidak sesuai dengan keahlian mereka, yaitu melatih model AI perusahaan. Sebuah laporan dari Wired mengungkapkan bahwa para karyawan ini merasa pekerjaan mereka direduksi menjadi tugas-tugas yang monoton dan tidak berarti.
Suasana hati yang buruk ini semakin diperparah ketika Zuckerberg mencoba mencairkan suasana dengan mengadakan hackathon internal perusahaan. Alih-alih disambut antusias, ide tersebut justru mendapat respons negatif dari karyawan. Salah satu pekerja bahkan melontarkan kritik pedas: “Saya benar-benar sibuk menjaga tim saya tetap bertahan. Saya tidak punya insentif untuk berpartisipasi, apalagi punya waktu untuk melakukannya.”
Penolakan terhadap inisiatif ringan dari CEO ini menunjukkan betapa dalamnya jurang pemisah antara manajemen puncak dan karyawan. Para pekerja merasa bahwa prioritas perusahaan saat ini tidak selaras dengan kebutuhan dan kesejahteraan mereka. Situasi ini mengingatkan pada kondisi yang sebelumnya dilaporkan, di mana Divisi AI Meta disebut seperti Gulag oleh para karyawan.
Keputusan Meta untuk memangkas ribuan posisi dan mengalihkan fokus ke AI merupakan bagian dari strategi jangka panjang Zuckerberg. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan di bidang AI yang membutuhkan investasi sangat besar. Sebelumnya, Zuckerberg menggelontorkan dana investasi yang sangat besar untuk pengembangan AI, namun hasilnya masih belum terlihat jelas. Hal ini semakin menambah tekanan pada karyawan yang harus bekerja lebih keras di tengah ketidakpastian.
Bosworth sendiri tidak menampik bahwa tekanan untuk mencapai target di bidang AI sangat besar. Pernyataannya di depan karyawan menjadi pengakuan pertama dari jajaran C-suite bahwa dampak dari strategi ini terhadap moral karyawan sangatlah serius. Biasanya, ketika moral karyawan merosot, para bos perusahaan enggan mengakuinya secara langsung dan lebih memilih untuk menyediakan program-program sumber daya manusia seperti pelatihan ketahanan, survei denyut nadi, atau kegiatan team-building yang membosankan.
Namun, Meta memilih pendekatan yang berbeda. Pengakuan jujur dari Bosworth ini bisa menjadi langkah awal untuk membangun kembali kepercayaan, atau justru sebaliknya, menjadi bukti bahwa perusahaan sadar akan masalahnya namun belum memiliki solusi yang tepat. Dengan kondisi internal yang genting seperti ini, Meta harus segera mencari cara untuk memulihkan semangat kerja karyawannya agar produktivitas dan inovasi tidak terus terhambat.
Di sisi lain, Meta juga terus berusaha memperluas basis penggunanya melalui platform lain. Salah satu platform yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah Threads, yang baru-baru ini tembus 500 juta pengguna. Namun, kesuksesan di satu lini bisnis tidak serta merta menghilangkan masalah fundamental yang menggerogoti perusahaan dari dalam.
Implikasinya bagi para pengamat industri dan investor adalah bahwa Meta saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, perusahaan harus berinvestasi besar-besaran di AI untuk masa depan. Di sisi lain, mereka harus menjaga agar mesin pertumbuhan yang ada, yaitu para karyawannya, tidak kehilangan motivasi. Jika tidak segera diatasi, krisis moral ini bisa menjadi bom waktu yang mengancam produktivitas dan inovasi jangka panjang perusahaan.
Untuk saat ini, belum ada pengumuman resmi dari Meta mengenai langkah konkret untuk memperbaiki kondisi ini. Pernyataan Bosworth setidaknya memberikan gambaran bahwa manajemen puncak sadar akan adanya masalah serius. Kini, para karyawan dan pasar menunggu langkah nyata yang akan diambil oleh Mark Zuckerberg dan timnya untuk mengembalikan kepercayaan dan semangat kerja di perusahaan teknologi raksasa tersebut.
Ke depannya, Meta harus mampu menyeimbangkan antara ambisi teknologi dengan kesejahteraan karyawan. Jika tidak, perusahaan berisiko kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang justru menjadi kunci keberhasilan dalam persaingan AI yang semakin ketat.
Kisah di Meta ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi lainnya. Pertumbuhan agresif dan efisiensi biaya tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan aset paling berharga: sumber daya manusia. Tanpa karyawan yang termotivasi, strategi bisnis sehebat apapun akan sulit untuk dijalankan.
