Blog

  • Dilema Warga Eropa: Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup Pakai AC

    Dilema Warga Eropa: Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup Pakai AC

    JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dalam sepekan terakhir telah merenggut 40 jiwa di Prancis, memaksa warga Eropa menghadapi dilema antara rasa bersalah terhadap lingkungan dan kebutuhan bertahan hidup dengan menggunakan pendingin ruangan (AC). Suhu di Spanyol mencapai 44 derajat Celsius, sementara Inggris mencatat bulan Juni terpanas dalam sejarah.

    Setiap tahun, cuaca panas ekstrem merenggut rata-rata 175.000 nyawa di Eropa, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, penggunaan AC terbukti mampu memangkas tingkat kematian akibat panas hingga 75%, berdasarkan studi tahun 2007. Riset yang diterbitkan The Lancet pada 2019 bahkan mencatat bahwa 195.000 kematian terkait cuaca panas pada kelompok lansia di atas 65 tahun berhasil dicegah berkat adopsi AC di berbagai negara.

    Meski manfaatnya jelas, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki AC. Angka ini sangat kontras dengan Amerika Serikat, di mana 90% rumah tangga telah menggunakan pendingin ruangan. Perbedaan ini mencerminkan hambatan budaya, biaya, dan iklim yang telah lama membentuk sikap warga Eropa terhadap AC.

    Budaya, Biaya, dan Iklim Menjadi Penghalang

    Sebagian dari keengganan warga Eropa untuk memasang AC berakar pada sikap stoikisme historis. Karena AC tidak pernah digunakan pada masa lalu, banyak yang merasa tidak seharusnya dibutuhkan sekarang. Selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar wilayah Eropa memang tidak benar-benar membutuhkan AC karena iklimnya yang lebih sejuk.

    Faktor biaya juga menjadi penghalang signifikan. Minimnya pasokan gas alam domestik di banyak negara Eropa mengharuskan mereka mengimpor energi, membuat biaya listrik di Eropa lebih tinggi sementara gaji rata-rata lebih rendah dibandingkan AS. Kombinasi ini membuat investasi pembelian dan pengoperasian AC terasa memberatkan bagi banyak keluarga.

    Selain itu, banyak warga Eropa dihantui rasa bersalah terhadap dampak iklim dari penggunaan AC. Data menunjukkan bahwa penggunaan AC menyumbang 4% dari total emisi gas rumah kaca global — angka yang dua kali lipat lebih besar dari emisi seluruh industri penerbangan dunia. Beban moral ini membuat keputusan memasang AC menjadi semakin rumit.

    Gelombang Panas Ekstrem Mengubah Segalanya

    Sekarang, musim panas di wilayah selatan Eropa telah menjadi sangat ekstrem sehingga trik arsitektur tradisional yang digunakan selama berabad-abad tidak lagi mempan. Sementara di wilayah utara, rumah-rumah yang dirancang untuk menahan udara panas agar penghuninya tidak kedinginan di musim dingin, kini berubah menjadi “tungku pembakaran” saat musim panas tiba.

    Italia menjadi contoh paling dramatis dari perubahan ini. Ribuan kematian selama gelombang panas tahun 2003 menjadi titik puncak kesabaran. Pada musim panas tahun itu, diperkirakan hanya 10-15% rumah tangga Italia yang memiliki AC. Namun pada 2024, angka tersebut meroket menjadi 56%. Italia kini menyumbang sepertiga dari seluruh penggunaan listrik untuk AC di Eropa.

    Di Prancis, yang minggu ini mengalami hari-hari terpanas, toko-toko mulai kehabisan stok AC karena permintaan melonjak drastis. Di Inggris, sekitar empat juta rumah kini memiliki AC — jumlah yang dua kali lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Lonjakan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memaksa warga Eropa untuk mengutamakan keselamatan di atas pertimbangan lingkungan.

    Kisah Nyata: Dari Rasa Bersalah ke Prioritas Bertahan Hidup

    Katie, seorang warga London, menggambarkan dilema ini dengan gamblang. Baginya, memasang AC tidak pernah terlintas dalam pikiran, baik karena biaya mahal maupun dampak lingkungan. “Biasanya Anda hanya akan terkapar lemas di sofa dan sekadar mencoba bertahan hidup,” katanya.

    Namun, pandangan itu berubah total setelah ia memiliki anak. Katie dan pasangannya memutuskan membeli AC demi keselamatan bayi mereka. “Rasa bersalah terhadap iklim yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibanding prioritas untuk memastikan bayi saya memiliki tempat tidur aman,” ujarnya.

    “Siapa pun yang pernah terjebak selama sejam bagai di neraka, bercucuran keringat sambil mencoba menidurkan bayinya, pasti akan langsung membeli AC, percayalah,” tambah Katie. Kisahnya mencerminkan pergeseran prioritas yang terjadi di banyak rumah tangga Eropa saat gelombang panas semakin mematikan.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa regulasi teknologi dan kebijakan lingkungan harus mempertimbangkan realitas adaptasi iklim yang mendesak.

    Solusi: AC Modern dan Energi Terbarukan

    Guna mencegah tren perluasan penggunaan AC semakin memperburuk perubahan iklim, para pakar menekankan pentingnya pemasangan AC modern yang efisien listrik dan ditenagai energi terbarukan seperti tenaga surya. Pendekatan ini diharapkan dapat memutus lingkaran setan di mana pendinginan ruangan justru mempercepat pemanasan global.

    Uni Eropa sendiri memiliki ambisi besar untuk menjadi kawasan netral iklim pada tahun 2050. Untuk mewujudkannya, negara-negara seperti Spanyol, Italia, dan Yunani mulai membatasi sejauh mana batas pendinginan ruangan diizinkan di gedung publik selama musim panas. Langkah ini bertujuan mengendalikan konsumsi energi tanpa mengorbankan keselamatan warga.

    Masyarakat juga disarankan untuk menggabungkan dua solusi sekaligus: mengombinasikan AC bertenaga surya dengan langkah-langkah tradisional ala masyarakat kawasan Eropa selatan. Pendekatan hibrida ini dianggap sebagai jalan tengah yang paling realistis antara kebutuhan bertahan hidup dan tanggung jawab lingkungan.

    Implikasinya jelas: warga Eropa tidak lagi bisa memilih antara kenyamanan dan keberlanjutan. Gelombang panas ekstrem telah mengubah AC dari sekadar kemewahan menjadi kebutuhan dasar. Namun, cara penggunaannya — apakah dengan energi fosil atau terbarukan — akan menentukan apakah kekhawatiran terhadap masa depan ini dapat diatasi. Keputusan yang diambil sekarang akan berdampak langsung pada kemampuan Eropa mencapai target netral iklim pada 2050.

  • Sistem Audio Canggih di Balik Azan Masjidil Haram

    Sistem Audio Canggih di Balik Azan Masjidil Haram

    JBNews.id, MAKKAH — Di tengah jutaan jemaah yang memadati Masjidil Haram setiap harinya, suara imam terdengar jernih dari seluruh sudut masjid tanpa jeda atau gema. Kualitas audio yang konsisten ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem audio modern yang bekerja secara senyap di balik kemegahan Masjidil Haram.

    Selama meliput musim haji di Masjidil Haram, jurnalis detikINET hampir setiap hari salat di lokasi yang berbeda. Kadang mendapat tempat di dekat Ka’bah, di lain waktu harus bergeser ke rooftop, pelataran, koridor, bahkan hingga ke luar area pelataran karena padatnya jemaah. Namun sejauh apa pun berpindah, kualitas suara yang terdengar nyaris tidak berubah.

    Takbir terdengar hampir bersamaan, lantunan ayat Al-Qur’an tetap jelas tanpa gema yang saling bertabrakan. Bahkan ketika ribuan jemaah mulai bergerak seusai salat, suara dari pengeras tetap terdengar nyaman. Sulit menebak dari mana asal speakernya karena distribusinya terasa merata di seluruh area.

    Tentu, para imam Masjidil Haram dikenal memiliki bacaan Al-Qur’an yang indah dan artikulasi yang jelas. Namun agar lantunan tersebut tetap terdengar jernih hingga ke berbagai sudut masjid, ada sistem audio yang bekerja di baliknya.

    260 Speaker dan Jaringan Fiber Optik

    Mengutip Saudi Press Agency (SPA), Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengoperasikan sistem audio modern untuk memastikan suara azan, salat berjemaah, dan khutbah Jumat terdengar jelas di seluruh kompleks masjid. Menurut SPA, pengembangan sistem audio ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam memanfaatkan teknologi terkini untuk meningkatkan kualitas layanan bagi para tamu Allah.

    Sistem tersebut didukung lebih dari 260 speaker yang dipasang di koridor-koridor sekitar Masjidil Haram. Seluruhnya bekerja secara sinkron agar suara tersebar merata ke segala arah. Di baliknya terdapat infrastruktur berupa lebih dari delapan kilometer kabel dan jaringan fiber optik yang memungkinkan transmisi audio berlangsung dengan akurasi tinggi dan latensi sangat rendah.

    Teknologi audio berskala besar seperti ini memiliki tantangan tersendiri. Sinkronisasi menjadi kunci utama. Dalam sistem audio berskala besar, selisih waktu beberapa milidetik saja dapat memunculkan efek gema (echo) yang membuat suara terdengar bertumpuk. Tantangan itu semakin besar karena sebagian area Masjidil Haram berada di ruang terbuka, sementara sebagian lainnya berada di dalam bangunan bertingkat dengan karakter akustik yang berbeda.

    Masjidil Haram merupakan kompleks masjid yang sangat luas dengan beberapa lantai, koridor panjang, area sa’i, pelataran terbuka, hingga kawasan mataf yang dipenuhi jemaah hampir sepanjang waktu. Saat musim haji, jutaan orang beribadah secara bersamaan sehingga distribusi suara harus dilakukan dengan presisi agar tidak menimbulkan jeda maupun gema.

    Karena bekerja begitu mulus, keberadaan teknologi ini nyaris tidak disadari para jemaah. Namun memang itulah tujuan sebuah sistem audio yang baik, tidak menjadi pusat perhatian, melainkan memastikan pengalaman beribadah berlangsung tanpa hambatan.

    Dampak bagi Jutaan Jemaah

    Bagi jutaan jemaah, yang paling membekas mungkin adalah merdunya lantunan ayat Al-Qur’an dari para imam Masjidil Haram. Namun di balik pengalaman yang terdengar begitu alami itu, ada ratusan speaker, jaringan fiber optik, dan sistem sinkronisasi yang bekerja senyap agar setiap ayat dapat didengar dengan jelas, di mana pun jemaah berada.

    Keberadaan sistem audio canggih ini menjadi bukti bahwa teknologi modern dapat diintegrasikan secara mulus ke dalam lingkungan ibadah tanpa mengganggu kekhidmatan. Infrastruktur yang andal memungkinkan jutaan orang mendengar suara imam secara bersamaan, menciptakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam.

    Bagi jemaah haji Indonesia yang tahun ini kembali beribadah ke Tanah Suci, pengalaman mendengar azan dan bacaan Al-Qur’an yang jernih di Masjidil Haram menjadi salah satu kenangan yang paling membekas. Teknologi yang bekerja di balik layar ini memastikan bahwa setiap jemaah, di mana pun posisinya, mendapatkan kualitas suara yang sama.

    Pengembangan sistem audio ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam memanfaatkan teknologi terkini untuk meningkatkan kualitas layanan bagi para tamu Allah. Dengan lebih dari 260 speaker dan jaringan kabel sepanjang delapan kilometer, sistem ini menjadi salah satu infrastruktur audio terbesar di dunia yang dirancang khusus untuk area ibadah.

    Meskipun teknologi ini bekerja secara senyap, dampaknya sangat terasa bagi puluhan juta jemaah yang datang ke Masjidil Haram setiap tahunnya. Inovasi teknologi seperti ini membuktikan bahwa kemajuan digital dapat meningkatkan kualitas pengalaman ibadah secara signifikan.

  • Apple Minta Pengecualian Beli Chip CXMT Terkait Militer China

    Apple Minta Pengecualian Beli Chip CXMT Terkait Militer China

    JBNews.id — Apple tengah berupaya mengurangi tekanan pada rantai pasoknya dengan meminta pengecualian kepada pemerintahan Trump untuk membeli chip RAM dari CXMT, perusahaan yang masuk daftar hitam Pentagon karena terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat China. Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga RAM dan penyimpanan yang memaksa Apple menaikkan harga hampir seluruh produknya pekan ini.

    Menurut laporan Financial Times, Apple secara hukum tidak dilarang membeli chip dari CXMT. Namun, menjalin bisnis dengan perusahaan yang terafiliasi dengan militer China akan membawa risiko reputasi yang serius. CXMT sendiri sebelumnya masuk dalam daftar usulan tambahan ke dalam “Entity List” oleh Departemen Perdagangan AS, tetapi sempat ditunda karena negosiasi dagang antara Gedung Putih dan China masih berlangsung.

    Kenaikan harga komponen ini telah berdampak langsung pada konsumen. Apple baru saja menaikkan harga produk secara signifikan, yang memicu kekhawatiran di kalangan pengguna. Situasi ini juga berimbas pada segmen produk rekondisi, di mana Apple menaikkan harga iPad dan Mac rekondisi meskipun komponen yang digunakan sudah lawas.

    Risiko Reputasi dan Politik

    Meskipun langkah ini masuk akal secara bisnis untuk menekan biaya produksi, keputusan tersebut sarat dengan risiko politik. John Moolenaar, ketua Komite China DPR dari Partai Republik, menegaskan bahwa “Apple memilih bermitra dengan perusahaan militer China akan menjadi kesalahan besar.” Ia menambahkan bahwa membantu Partai Komunis China menguasai rantai pasok kritis akan membuat industri teknologi AS semakin bergantung pada China.

    Tim Cook sendiri telah menghabiskan banyak waktu untuk membangun hubungan dengan pemerintahan Trump, termasuk memberikan patung-patung mewah dan menghadiri pemutaran film Melania yang disutradarai oleh Brett Ratner. Namun, belum jelas apakah administrasi akan memberikan restu kepada Apple. Jika Gedung Putih memberikan izin, keputusan tersebut kemungkinan akan menghadapi reaksi keras dari berbagai pihak.

    Dampak pada Rantai Pasok Global

    Permintaan pengecualian ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi Apple dalam mengamankan pasokan komponen. Harga RAM dan penyimpanan yang melonjak drastis telah memaksa perusahaan untuk menaikkan harga hampir seluruh lini produknya. Situasi ini diperparah dengan ketidakpastian regulasi, di mana CXMT bisa saja tetap menjadi sasaran kontrol ekspor karena dianggap merusak keamanan AS.

    Apple memiliki opsi lain untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok, termasuk menjajaki kerja sama dengan produsen chip lain di luar China. Namun, permintaan ke CXMT menunjukkan bahwa opsi tersebut mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam waktu dekat. Langkah ini juga berpotensi mempengaruhi strategi chip Apple ke depan, mengingat perusahaan baru-baru ini mengubah strategi chip M6 dengan meniadakan varian Pro dan Max.

    Reaksi pasar terhadap langkah ini belum terlihat, tetapi analis memperkirakan bahwa keputusan Apple akan menjadi ujian bagi hubungan antara perusahaan teknologi besar AS dan pemerintah. Sementara itu, saham Apple telah mengalami penurunan akibat kenaikan harga MacBook dan iPad, yang menunjukkan sensitivitas investor terhadap kebijakan harga perusahaan.

    Implikasi bagi Konsumen

    Bagi konsumen, langkah Apple ini berarti harga produk kemungkinan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Jika Apple berhasil mendapatkan pengecualian dan mengamankan pasokan chip dari CXMT, tekanan biaya produksi bisa berkurang. Namun, risiko reputasi dan potensi sanksi politik bisa membuat perusahaan tetap harus mencari alternatif lain.

    Dalam jangka panjang, situasi ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasok teknologi global terhadap ketegangan geopolitik. Apple, sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, kini berada di persimpangan antara efisiensi biaya dan keamanan nasional. Keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi preseden penting bagi industri teknologi secara keseluruhan.

    Belum ada kepastian apakah pemerintahan Trump akan menyetujui permintaan Apple. Namun, satu hal yang jelas: tekanan pada rantai pasok dan harga komponen akan terus mempengaruhi strategi bisnis Apple dan harga produk yang harus dibayar konsumen.

  • Tom Hanks Khawatir AI Gantikan Perannya di Toy Story 5

    Tom Hanks Khawatir AI Gantikan Perannya di Toy Story 5

    JBNews.id — Tom Hanks, pengisi suara karakter Woody dalam waralaba “Toy Story”, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan perannya setelah ia meninggal. Pernyataan ini muncul di tengah perilisan “Toy Story 5” pada tahun 2026, 31 tahun setelah film pertama dirilis pada 1995.

    Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly bersama rekannya Tim Allen (pengisi suara Buzz Lightyear), Hanks secara gamblang membahas kemungkinan Disney menggunakan AI untuk menciptakan kembali penampilannya demi sekuel lebih lanjut. “Waktu tak terkalahkan. Pertanyaannya adalah apakah kita bisa merangkai beberapa versi diriku,” ujar Hanks. “Setiap kata yang pernah kami rekam dalam ‘Toy Story’ tersimpan di media digital di suatu tempat, jadi mereka bisa merangkai apa pun yang mereka inginkan.”

    Hanks dan Allen sepakat bahwa gagasan tersebut merupakan “pemikiran yang menakutkan.” Ini bukan pertama kalinya aktor pemenang Oscar itu menyuarakan kekhawatiran tentang potensi AI. Sebelumnya, ia mengatakan kepada The San Francisco Chronicle bahwa ia khawatir penonton film mungkin menjadi tidak peduli apakah sebuah karya dibuat oleh manusia atau AI.

    “Inilah yang saya khawatirkan: akan ada sesuatu yang terang-terangan dibuat oleh AI — diciptakan, dibayangkan, diproduksi, semuanya — dan penonton tidak akan peduli bahwa itu AI,” kata Hanks. “Mereka hanya akan berkata, ‘Yah, itu AI, tapi Anda tahu, saya tetap menontonnya.’”

    Ia menambahkan, “Ada tipe elemen manusia tertentu yang diperlukan dalam kontrak antara penonton dan pembuat film, dan jika satu sisi tidak peduli dengan kontrak itu…”

    Hanks memiliki pengalaman pribadi dengan AI. Ia telah berulang kali memperingatkan para penggemarnya tentang berbagai penipuan yang menggunakan deepfake AI dari kemiripannya tanpa izin. Di sisi lain, ia pernah menggunakan teknologi peremajaan AI (de-aging) untuk film “Here” garapan Robert Zemeckis pada 2024 — sebuah penggunaan yang ia bela.

    Tentu saja, praktik cash-grab yang tidak memiliki jiwa sudah ada sebelum AI, dan Hanks bersikap ambivalen terhadap lebih banyak sekuel “Toy Story”, bahkan jika ia masih terlibat. “Jika Anda akan membuat ‘Toy Story’ lagi, itu harus bermanfaat,” katanya kepada EW. “Itu harus hebat. Anda harus mengkaji tema yang tidak sekadar menarik-narik karena orang menyukai judulnya. Maksud saya, ini adalah bisnis perusahaan besar tanpa diragukan lagi, saya tidak akan mengabaikannya. Tapi kecuali itu bagus, baru, segar, tidak ada alasan untuk melakukannya sama sekali.”

    Kekhawatiran Hanks mencerminkan perdebatan yang lebih luas di industri hiburan tentang peran AI. Sementara beberapa pihak melihat AI sebagai alat untuk efisiensi dan inovasi, yang lain memperingatkan tentang hilangnya elemen manusia dalam seni. Pertanyaan tentang kepemilikan hak cipta atas suara dan rupa aktor yang dihasilkan AI juga menjadi isu hukum yang kompleks.

    Bagi penggemar “Toy Story”, pernyataan Hanks menimbulkan pertanyaan tentang masa depan waralaba yang telah menjadi bagian dari budaya populer selama lebih dari tiga dekade. Apakah penonton akan menerima sekuel yang dibuat dengan AI jika kualitasnya tetap terjaga? Atau apakah keaslian dan sentuhan manusia tetap menjadi faktor penentu?

    [Image: Ilustrasi grafis menampilkan aktor Tom Hanks di pemutaran perdana Toy Story 5.]

  • Matter 1.6 Hadirkan Joint Fabric demi Smart Home Satu Atap

    Matter 1.6 Hadirkan Joint Fabric demi Smart Home Satu Atap

    JBNews.id — Empat tahun setelah peluncuran standar interoperabilitas smart home Matter, versi 1.6 resmi diumumkan dengan fitur baru bernama Joint Fabric yang memungkinkan satu jaringan rumah pintar dikendalikan oleh platform mana pun. Namun, adopsi lambat dari ekosistem utama seperti Apple, Google, dan Amazon masih menjadi hambatan terbesar.

    Connectivity Standards Alliance (CSA) menetapkan tahun 2025 sebagai tahun perbaikan Matter setelah peluncuran yang bermasalah dan janji yang belum terpenuhi. Dalam konferensi Unify di Austin, Texas, pekan lalu, CSA mengumumkan spesifikasi Matter 1.6. Fitur paling signifikan, Joint Fabric, memungkinkan pengguna menciptakan satu jaringan Thread dan satu fabric Matter untuk seluruh rumah, mirip dengan jaringan Wi-Fi yang sudah umum.

    “Sekarang kami benar-benar memiliki kemungkinan untuk memiliki satu jaringan Thread dan satu fabric Matter untuk rumah, seperti kami memiliki jaringan Wi-Fi. Itulah cara semua orang mengira cara kerjanya,” ujar George Yianni, kepala teknologi Philips Hue, seperti dikutip dari laporan The Verge.

    Meski demikian, pertanyaan krusial tetap mengemuka: akankah platform-platform besar mengadopsi fitur ini? Ketidakseimbangan adopsi spesifikasilah yang menjadi akar masalah Matter sejak awal. Matter 1.6 baru saja dirilis, namun Apple, Google, dan Amazon masih berada di versi 1.3 yang keluar dua tahun lalu. Samsung melalui SmartThings berkomitmen mengadopsi spesifikasi baru dalam enam bulan, tetapi belum menambahkan dukungan Matter ke peralatan rumah tangganya.

    Tanpa paritas platform, janji Matter mustahil terwujud. “Matter dalam jangka panjang tidak akan berhasil sampai semua orang bisa menggunakannya secara setara. Itulah tujuannya. Dan semua perusahaan tahu itu,” kata Tobin Richardson, CEO CSA.

    Teknolog Kevin Ashton, yang menciptakan istilah Internet of Things, memberikan perspektif tajam di atas panggung Unify. Perusahaan harus “berani bersaing dalam fitur dan manfaat, bukan mencoba membangun penjara bagi pelanggan mereka,” ujarnya.

    Jon Harros, kepala pengujian dan sertifikasi CSA, mengakui bahwa kolaborasi antar pesaing memang menyakitkan. “Kami menciptakan ruang aman bagi mereka untuk berkolaborasi. Kolaborasi memang masih menyakitkan, tapi itu adalah kolaborasi, dan itulah cara untuk menggerakkan jarum ke depan,” katanya.

    Kolaborasi Intensif di Balik Layar

    Salah satu contoh konkret kolaborasi industri terjadi saat Ikea, anggota awal Matter, meluncurkan lini produk Matter-over-Thread awal tahun ini. Produk tersebut mengalami masalah serius: pelanggan tidak bisa menghubungkan perangkat atau perangkat sering terputus. Insinyur dari beberapa ekosistem besar berkumpul dengan Ikea selama seminggu penuh untuk pemecahan masalah, bekerja dari pukul 7 pagi hingga 10:30 malam setiap hari.

    Mereka bahkan pergi ke Best Buy lokal untuk membeli lima router border Thread dan melacak produsen router ISP di LinkedIn untuk memberi tahu mereka tentang bug yang ditemukan. Upaya ini mengungkap banyak potensi masalah dan mendorong Ikea merilis beberapa perbaikan. Kolaborasi semacam ini terasa belum pernah terjadi sebelumnya di industri mana pun dan menjadi indikator kuat investasi pada standar ini.

    Data menunjukkan Matter terus tumbuh. Standar ini kini mencakup sebagian besar tipe perangkat rumah pintar, termasuk kamera keamanan, dan telah mensertifikasi lebih dari 1.200 produk unik. CSA memiliki 940 perusahaan anggota, dengan 300 di antaranya aktif mengerjakan standar ini. ADT baru saja bergabung dengan dewan direksi, membawa perusahaan warisan besar lainnya lebih dalam ke ekosistem.

    Thread, salah satu protokol konektivitas nirkabel Matter, juga mengalami lonjakan minat signifikan. Keanggotaan Thread Group meningkat 27 persen dalam dua tahun terakhir dengan lebih dari 1.000 perangkat tersertifikasi, termasuk 151 perangkat baru tahun ini saja. Ada 71 komponen bersertifikasi Thread, artinya penyedia silikon membangun solusi bagi produsen, menciptakan fondasi kuat bagi perusahaan baru yang ingin menggunakan Matter.

    Kesenjangan Spesifikasi dan Implementasi

    Kekhawatiran terbesar di kalangan peserta Unify adalah kesenjangan yang melebar antara spesifikasi dan implementasinya oleh ekosistem. Kesenjangan ini justru menimbulkan lebih banyak kebingungan konsumen, bukan mengurangi. George Yianni dari Philips Hue menyebut bahwa pengalaman awal Matter untuk pengguna Hue justru lebih buruk daripada yang bisa mereka tawarkan tanpa Matter.

    “Matter diluncurkan terlalu awal, tapi banyak masalah awal itu telah diselesaikan dengan kerja keras dari banyak perusahaan,” katanya. Tantangan sekarang adalah membawa solusi itu ke rumah-rumah orang. Yianni paling antusias dengan Joint Fabric yang baru diumumkan, namun ia juga sadar bahwa sekadar ada dalam spesifikasi tidak berarti akan diimplementasikan.

    Komunikasi kepada konsumen tentang apa itu Matter juga mengecewakan. Terlalu banyak beban ditempatkan pada produsen perangkat, sementara ekosistem masih mendorong pengguna untuk mencari lencana “Works With”. “Lencana itu adalah kruk,” kata Yianni, seraya berargumen bahwa sebagian besar pelanggan biasa tidak mencarinya. “Kebanyakan konsumen hanya berasumsi semuanya akan berfungsi.”

    John Bartucci dari Fortune Brands, pemilik Yale dan Moen, menambahkan bahwa peritel juga mengandalkan lencana tersebut. “Peritel menginginkan produk yang tidak akan dikembalikan; pelabelan yang benar adalah cara konsumen memercayai bahwa produk akan berfungsi di rumah.”

    Austin Stewart dari Schlage Locks setuju bahwa berbicara dengan pelanggan dan peritel masih merupakan “cerita Works With.” Bagi pelanggan mereka, lencana Apple Home berarti kunci ini berfungsi dengan aplikasi Apple Home, “dan itulah pengalaman yang Anda dapatkan,” katanya.

    Pada akhirnya, logo Matter harus menjadi sinonim dengan konektivitas rumah pintar, sama seperti Bluetooth identik dengan audio nirkabel dan Wi-Fi dengan internet nirkabel. “Hari ini, jika Anda membeli headphone baru, Anda tidak mencari logo Bluetooth. Seharusnya sama untuk Matter dengan rumah pintar,” kata Yianni.

    Kembali ke konsep inti Matter: kepercayaan. Standar ini menjanjikan bahwa pengguna bisa memberikan bola lampu pintar kepada ayahnya yang berusia 80 tahun dan yakin tidak akan mendapat telepon bertanya mengapa ia duduk dalam kegelapan. Kita belum sampai di sana. Namun, melihat momentum di Unify dan bukti investasi berkelanjutan dari banyak produsen dan ekosistem, Matter terasa lebih dekat untuk memenuhi janjinya daripada sebelumnya.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi terkini, simak juga artikel tentang Waymo Lawan Arah di Los Angeles saat Piala Dunia 2026.

  • Apple Naikkan Harga Produk karena AI, Konsumen Terbebani

    Apple Naikkan Harga Produk karena AI, Konsumen Terbebani

    JBNews.id — Apple secara resmi menaikkan harga sejumlah produk utamanya, termasuk MacBook Pro 16 inci, iPad Air 11 inci, dan HomePod Mini. Kenaikan harga ini mencapai hingga 30 persen untuk beberapa model, dengan kenaikan tertinggi pada iPad Air yang melonjak dari 599 dolar AS menjadi 749 dolar AS. CEO Apple Tim Cook menyebut kenaikan harga ini sebagai hal yang “tidak terhindarkan” dan menggambarkan kebijakan penetapan harga perusahaan saat ini sebagai “tidak berkelanjutan.”

    Penyebab utama kenaikan harga ini langsung diarahkan pada industri kecerdasan buatan (AI). Tim Cook dengan tegas menempatkan kesalahan pada industri AI yang sedang berkembang pesat. Fenomena ini, yang disebut sebagai “RAMageddon,” telah melanda berbagai sektor teknologi, mulai dari PC desktop, konsol game, hingga ponsel pintar. Xbox misalnya, mengalami kenaikan harga hampir 25 persen tergantung modelnya, sementara Nothing bahkan membatalkan peluncuran satu ponsel.

    Menurut Tim Derdenger, profesor pemasaran dan strategi di Tepper School of Business, Carnegie Mellon University, kenaikan harga ini adalah “ekonomi dasar.” “Ketika industri teknologi berlomba-lomba memenangkan perang AI, harga RAM melonjak drastis karena produsen memori mengalihkan lini produksi mereka untuk memproduksi memori HBM baru untuk pusat data AI, menjauhi DDR5 konsumen,” jelas Derdenger. Ketika biaya komponen naik, perusahaan cenderung membebankan biaya tersebut kepada konsumen.

    Srikanth Jagabathula, profesor teknologi, operasi, dan statistik di NYU Stern School of Business, menambahkan bahwa ini bukan masalah sementara. “Chip yang sama menghasilkan pendapatan jauh lebih besar di dalam server AI dibandingkan di dalam perangkat konsumen,” katanya. Perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Microsoft telah menggelontorkan dana yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengalahkan tawaran Apple untuk RAM dan penyimpanan, menciptakan apa yang bahkan diakui Sam Altman sebagai gelembung.

    Kenaikan Harga yang Tak Terhindarkan

    Ketidakseimbangan permintaan ini telah menghasilkan pendapatan rekor bagi perusahaan seperti Micron, yang memproduksi chip memori. “Kekurangan ini tidak bersifat sementara dan dapat berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Dan karena kenaikannya bersifat jangka panjang, bukan sementara, sekadar menyerap biaya bukanlah strategi yang berkelanjutan,” kata Jagabathula.

    Meskipun Apple telah mencatat pendapatan rekor selama setidaknya empat kuartal berturut-turut, margin keuntungannya pada penjualan perangkat keras jauh lebih tinggi dari standar industri. Markup Apple diperkirakan antara 30 hingga 40 persen, tergantung produknya. TechInsights dan The Wall Street Journal memperkirakan markup pada iPhone 17 Pro bahkan lebih tinggi, mencapai 47 persen.

    Menurut TheStreet, margin pada ponsel pintar biasanya antara 15 hingga 25 persen. Data margin laptop lebih sulit didapat, namun perkiraan menempatkannya antara 10 hingga 25 persen untuk sebagian besar industri. Apple sebenarnya termasuk yang terakhir di antara perusahaan teknologi besar yang menaikkan harga. Namun, pertanyaan kritisnya adalah: mengapa konsumen yang harus menanggung tagihan ketika Apple tampaknya dalam posisi yang sangat baik untuk menyerap biaya ini?

    Tekanan Investor dan Strategi Harga

    Ari Lightman, profesor media digital dan pemasaran di Heinz College, Carnegie Mellon University, menggambarkan sebagai “tepat sasaran” untuk mengatakan bahwa laporan keuangan publik Apple dan deskripsi Tim Cook tentang penetapan harga yang tidak berkelanjutan sulit untuk diselaraskan. Menurut Lightman, menaikkan harga adalah “tanpa keraguan” tentang menyenangkan pemegang saham yang menuntut pertumbuhan konstan.

    Lightman menunjuk pada ketertinggalan Apple dalam perlombaan AI, ketidakpastian seputar pemasangan CEO baru John Ternus, dan kurangnya kategori produk baru yang sukses sebagai faktor yang menekan perusahaan. “Ada banyak hal yang bisa membuat investor mengkritik mereka,” katanya. “Jika mereka akan menjual saham dan mempromosikan saham kepada investor institusional besar… sebagai salah satu perusahaan paling bernilai, maka mereka harus menceritakan kisah yang sangat bagus.” Kisah itu adalah tentang margin dan keuntungan besar meskipun menghadapi kenaikan biaya dan kendala pasokan yang didorong oleh AI.

    Artikel terkait lainnya dapat dibaca di tautan berikut: Strategi Chip M6 dan Bahaya Pasang Kontak.

    Implikasi bagi Konsumen

    Booming AI hampir menyentuh setiap aspek kehidupan kita, tetapi minggu ini, dampaknya sangat terasa pada dompet kita dengan pengumuman kenaikan harga putaran lain untuk Xbox, dan bahkan Arduino terkena dampak krisis memori. Para ahli pemasaran dan bisnis yang diwawancarai tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan mengapa biaya membangun lebih banyak pusat data harus menjadi beban yang ditanggung konsumen.

    Kenaikan harga produk Apple ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang keadilan pasar di era AI. Ketika perusahaan teknologi besar berlomba-lomba berinvestasi dalam infrastruktur AI, konsumen akhir yang membayar harga tertinggi. Ini bukan hanya tentang Apple; ini adalah tren industri yang lebih luas di mana biaya inovasi AI dibebankan kepada pengguna akhir.

    Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga ini berarti produk Apple akan semakin mahal. iPad Air yang sebelumnya dijual sekitar Rp 9 jutaan kini bisa melonjak hingga Rp 11 jutaan. MacBook Pro 16 inci juga akan mengalami kenaikan signifikan. Hal ini mendorong konsumen untuk mempertimbangkan ulang pilihan mereka, mungkin beralih ke produk alternatif atau menunggu produk rekondisi yang mungkin masih tersedia.

    Meskipun Apple telah menaikkan harga secara signifikan, beberapa analis memperkirakan bahwa perusahaan mungkin akan menawarkan lebih banyak opsi pembiayaan atau program trade-in untuk mengurangi dampak pada konsumen. Namun, dengan tekanan dari investor dan biaya komponen yang terus meningkat, tampaknya tren kenaikan harga ini akan berlanjut dalam waktu dekat.

    Kesimpulannya, kenaikan harga produk Apple adalah cerminan dari dinamika pasar yang lebih luas di mana industri AI mendominasi rantai pasokan komponen. Konsumen, pada akhirnya, menjadi pihak yang paling terdampak dari perang teknologi ini. Namun, dengan margin keuntungan yang sangat tinggi, Apple sebenarnya memiliki ruang untuk menyerap biaya ini tanpa membebani konsumen. Keputusan untuk tetap menaikkan harga menunjukkan prioritas perusahaan pada pertumbuhan dan keuntungan jangka pendek untuk memuaskan investor.

  • Waymo Lawan Arah di Los Angeles Saat Piala Dunia 2026

    Waymo Lawan Arah di Los Angeles Saat Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Sebuah taksi robot Waymo terekam melawan arah di persimpangan padat Los Angeles saat kemacetan parah akibat gelaran Piala Dunia 2026. Insiden ini menambah daftar panjang kegagalan operasional perusahaan otonom tersebut di tengah ekspansi agresifnya ke berbagai kota besar Amerika Serikat.

    Video yang dibagikan oleh stasiun televisi ABC 13 memperlihatkan sebuah Waymo berwarna merah berhenti di sisi jalan yang salah di Inglewood, California. Kendaraan tanpa pengemudi itu melanggar garis ganda di jalan raya, memaksa kendaraan dari arah berlawanan untuk bermanuver ke jalur yang lebih jauh.

    Meskipun sebagian besar waktu kendaraan tersebut berhenti di lampu merah saat lalu lintas merayap, bagian akhir video menunjukkan momen menegangkan ketika taksi robot itu mulai bergerak maju langsung ke jalur kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Insiden ini terjadi tepat di tengah kemacetan akibat tingginya volume penumpang yang menuju ke berbagai venue pertandingan Piala Dunia di Los Angeles.

    “Uhh, kenapa Waymo ini ada di sisi jalan yang salah?” tanya Kimoon Kim, pengemudi yang merekam video tersebut. “Seharusnya dia berada di jalur belok kiri.”

    Berbicara kepada stasiun televisi lokal, Kim mengatakan Waymo tersebut kemudian tiba-tiba memotong jalurnya di persimpangan agar bisa kembali ke jalur yang benar dan berbelok ke kiri secara paksa. Perilaku agresif ini dinilai sangat membahayakan pengguna jalan lain yang sudah harus berhadapan dengan kemacetan ekstrem akibat ajang olahraga internasional tersebut.

    Insiden terbaru ini menjadi bukti bahwa Waymo masih menghadapi tantangan serius dalam menavigasi situasi lalu lintas kompleks, terutama saat kondisi jalan tidak ideal seperti kemacetan berat atau adanya gangguan rute. Perusahaan yang berbasis di Mountain View, California itu terus berupaya menyempurnakan sistem kecerdasan buatannya, namun insiden demi insiden menunjukkan masih ada celah yang perlu diperbaiki.

    Ilustrasi rambu 'wrong way' di Los Angeles, menggambarkan insiden Waymo melawan arah saat kemacetan Piala Dunia 2026

    Perilaku membahayakan yang dilakukan taksi robot Waymo di Los Angeles ini bukanlah kejadian pertama. Insiden serupa terjadi hanya tiga bulan lalu di Houston, Texas. Saat itu, pengemudi lain merekam rekaman salah satu taksi robot Waymo yang berbelok langsung ke jalur HOV satu arah, sebelum mundur dan mengoreksi dirinya sendiri. Pola kegagalan yang berulang ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan teknologi otonom untuk beroperasi di lingkungan perkotaan yang dinamis.

    Di luar kasus melawan arah, Waymo juga terlibat dalam berbagai insiden lain. Beberapa waktu lalu, kendaraan otonom Waymo terlibat dalam pengejaran kecepatan tinggi dengan polisi, membanjiri jalan-jalan perumahan yang sunyi, dan melanggar batas jalur sepeda. Bahkan, dalam insiden yang paling aneh, dua unit Waymo saling bertabrakan dan menjebak unit Waymo ketiga di lokasi kejadian.

    Masalah yang dialami Waymo begitu banyak sehingga anggota parlemen di New York bergerak untuk memblokir peluncuran Waymo di kota tersebut. Langkah ini merupakan pukulan telak bagi perusahaan yang tengah mendorong ekspansi cepat ke kota-kota besar Amerika. Para legislator khawatir bahwa teknologi yang belum matang akan membahayakan keselamatan publik jika dioperasikan di jalanan New York yang terkenal padat dan kompleks.

    Waymo sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden terbaru di Los Angeles ini. Perusahaan biasanya akan merilis pernyataan setelah melakukan investigasi internal terhadap setiap insiden yang melibatkan armadanya. Namun, frekuensi insiden yang semakin meningkat menunjukkan bahwa perusahaan mungkin perlu mengevaluasi kembali strategi ekspansinya.

    Insiden melawan arah di Los Angeles ini menjadi ironi tersendiri mengingat Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi ajang pembuktian bagi teknologi otonom Waymo. Sebaliknya, kemacetan parah dan perilaku lalu lintas yang tidak terduga justru menjadi batu sandungan yang memperlihatkan kelemahan sistem navigasi kendaraan tanpa pengemudi tersebut. Bagi warga Los Angeles yang harus berbagi jalan dengan ribuan pengunjung Piala Dunia, insiden ini menambah kekhawatiran akan keselamatan di jalan raya.

    Dari sisi bisnis, rangkaian insiden ini berpotensi menghambat laju ekspansi Waymo ke kota-kota lain. Otoritas transportasi di berbagai negara bagian kini akan semakin berhati-hati dalam memberikan izin operasi bagi taksi robot. Kepercayaan publik yang merupakan faktor kunci adopsi teknologi otonom juga terkikis setiap kali insiden seperti ini terjadi. Waymo harus segera menunjukkan perbaikan nyata jika tidak ingin kehilangan momentum di tengah persaingan ketat industri kendaraan otonom.

    Bagi pengguna jalan di Los Angeles, insiden ini menjadi pengingat bahwa teknologi otonom belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas lalu lintas dunia nyata, terutama dalam situasi luar biasa seperti gelaran Piala Dunia. Kewaspadaan ekstra saat berpapasan dengan taksi robot menjadi langkah yang bijak hingga produsen berhasil menyempurnakan sistem keselamatan kendaraan mereka.

  • Serikat Pekerja Hyundai Mogok Kerja Tolak Robot Humanoid

    Serikat Pekerja Hyundai Mogok Kerja Tolak Robot Humanoid

    JBNews.id — Ratusan ribu pekerja pabrik Hyundai Motor di Korea Selatan memutuskan untuk mogok kerja. Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran massif bahwa robot humanoid buatan Boston Dynamics, anak perusahaan Hyundai, akan menggantikan peran mereka di lini produksi.

    Keputusan mogok kerja diambil setelah negosiasi dengan manajemen menemui jalan buntu. Para pekerja yang tergabung dalam Korean Metal Worker’s Union menuntut hak untuk terlibat dalam setiap keputusan terkait otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) di pabrik.

    Menurut laporan Financial Times, tuntutan utama mereka mencakup jaminan keamanan kerja di tengah gelombang otomatisasi. “Kami khawatir tentang keamanan kerja karena kehadiran robot,” ujar seorang anggota serikat kepada FT, seperti dikutip dalam artikel sumber.

    Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pada Januari lalu, Hyundai mengumumkan akan mulai menggunakan robot Atlas buatan Boston Dynamics di pabrik Georgia pada 2028. Kemudian pada Mei, perusahaan mengungkapkan ambisi yang jauh lebih besar: akan menerjunkan lebih dari 25.000 unit robot humanoid di seluruh fasilitas manufaktur kendaraannya.

    Ilustrasi robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics dipajang di Seoul, Korea Selatan, Maret 2026.

    Selain tuntutan terkait otomatisasi, serikat pekerja juga meminta bonus kinerja yang setara dengan sekitar sepertiga dari laba tahunan Hyundai. Nominalnya mencapai sekitar $27.000 untuk masing-masing dari 73.000 pekerja. Tuntutan bonus besar ini muncul setelah pekerja di konglomerat manufaktur lain, seperti Samsung, berhasil meraih bonus besar dari keuntungan bisnis AI.

    “Saya pikir serikat pekerja memahami bahwa banyak tuntutan mereka tidak realistis,” kata Kim Pil-soo, profesor teknik otomotif di Daelim University, kepada FT. “Namun, para pekerja merasa mengalami deprivasi relatif setelah karyawan Samsung mendapatkan bonus yang lebih besar.”

    Dampak Otomatisasi dan Kekhawatiran PHK

    Serikat pekerja Hyundai sebelumnya sudah kerap mengancam akan mogok dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait masalah upah. Namun, mereka biasanya berhasil mencapai kesepakatan tanpa penghentian produksi penuh. Pemogokan besar terakhir terjadi pada tahun 2018.

    Kali ini, situasinya berbeda. Ancaman dari robot humanoid yang semakin canggih membuat para pekerja merasa genting. “Berita dan video yang menunjukkan robot menjadi semakin lincah membuat pekerja gugup tentang masa depan,” tambah anggota serikat tersebut.

    Hyangi, pihak manajemen Hyundai, seperti dikutip dari sumber, bersikeras bahwa robot hanya akan digunakan untuk tugas-tugas berat dan berbahaya yang tidak diminati manusia. Namun, serikat pekerja membantah klaim ini dan menyebut otomatisasi skala besar justru akan membawa “kejutan ketenagakerjaan”.

    Fenomena ini bukan hanya terjadi di Hyundai. Tren penggunaan robot humanoid di lingkungan kerja nyata mulai terlihat. Bulan lalu, Japan Airlines mengumumkan akan menggunakan robot untuk menangani bagasi di Bandara Haneda Tokyo. Perusahaan pos milik China juga mulai menggunakan humanoid untuk menyortir surat.

    Produsen mobil lain pun ikut serta. BMW saat ini sedang menguji coba robot humanoid di pabriknya di Leipzig, Jerman. Seorang eksekutif BMW bahkan menyebut teknologi tersebut sebagai “masa depan produksi otomotif”.

    Kasus mogok kerja ini menjadi preseden penting bagi industri manufaktur global. Bagaimana cara perusahaan dan pekerja bernegosiasi di era di mana mesin bukan lagi sekadar alat, melainkan mitra kerja yang potensial? Jawabannya akan menentukan peta jalan ketenagakerjaan di masa depan, termasuk di Indonesia.

    Bagi para pelaku industri dan pengamat, aksi mogok ini menjadi sinyal bahwa transisi ke otomatisasi harus dikelola dengan hati-hati. Tanpa dialog yang inklusif, resistensi dari tenaga kerja bisa menghambat adopsi teknologi yang sebenarnya bertujuan meningkatkan produktivitas.

    Implikasinya jelas: negosiasi antara serikat pekerja dan manajemen Hyundai di Korea Selatan akan menjadi studi kasus bagi seluruh dunia. Hasilnya bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan lain yang berniat mengintegrasikan robot humanoid ke dalam operasional mereka.

  • IBM Pamer Chip 100 Miliar Transistor Sebesar Kuku

    IBM Pamer Chip 100 Miliar Transistor Sebesar Kuku

    JBNews.id — IBM memamerkan rancangan chip revolusioner berisi hampir 100 miliar transistor dengan ukuran hanya sebesar kuku jari manusia. Terobosan ini dicapai melalui arsitektur tiga dimensi (3D) bernama “nanostack” yang dirancang khusus untuk menangani beban kerja Kecerdasan Buatan (AI) yang makin masif.

    Perusahaan asal Amerika Serikat itu menyebut desain ini sebagai lompatan besar, bukan sekadar langkah bertahap. Kepadatan transistor pada chip baru ini mencapai dua kali lipat lebih besar dibandingkan chip generasi terakhir IBM.

    “Ini bukan sekadar langkah bertahap, melainkan sebuah lompatan besar yang bermakna,” kata Jay Gambetta, Direktur IBM Research, dalam pengarahan media. Ia menambahkan bahwa teknologi chip baru ini menunjuk pada masa depan di mana komputasi menjadi jauh lebih bertenaga tanpa dibarengi lonjakan konsumsi energi.

    Beralih ke Tumpukan Vertikal

    Alih-alih terus menyusutkan komponen pada bidang datar (horizontal), IBM mulai menyusun transistor secara vertikal. Perubahan ini terjadi karena para perancang semikonduktor mulai membentur batas fisik dari metode konvensional, di mana upaya miniaturisasi lebih lanjut menjadi semakin sulit dan tidak efisien.

    IBM mendeskripsikan terobosan ini sebagai “teknologi chip sub-1-nanometer pertama di dunia” untuk pusat data AI. Namun, label tersebut lebih merujuk pada ekspektasi performa ketimbang dimensi fisiknya. IBM menegaskan bahwa chip ini beroperasi layaknya desain sub-1-nanometer sejati, meskipun ukuran fisiknya tidak sekecil itu.

    Lompatan Performa Nanostack

    Arsitektur baru ini dibangun langsung dari fondasi karya IBM sebelumnya, yakni transistor nanosheet yang menjadi basis node 2-nanometer mereka pada tahun 2021. Pada desain nanostack, unit dasarnya terdiri dari dua transistor yang ditumpuk dan diikat menjadi satu. Setiap transistor terdiri dari tiga lembar nanosheet dengan ketebalan sekitar 5 nanometer dan jarak antar-lembar sekitar 9 nanometer.

    Solusi Atasi Kebuntuan Memori SRAM

    Performa memori adalah target utama lainnya dari IBM. Memori SRAM memainkan peran yang sangat kritis dalam sistem AI karena mendukung akses data berkecepatan tinggi. Namun, komponen ini telah menjadi salah satu bagian yang paling sulit untuk diskalakan pada beberapa generasi chip terakhir.

    IBM melaporkan adanya peningkatan 40% pada penskalaan SRAM, yang dimungkinkan oleh desain saluran zig-zag (staggered-channel) untuk memangkas tinggi sel secara keseluruhan. Desain ulang ini difokuskan pada sel bit SRAM yang masing-masing terdiri dari enam transistor, memungkinkan lebih banyak memori untuk dimuat ke dalam ruang yang sama.

    Mengubah Standar Industri CPU dan GPU

    Peran IBM dalam industri semikonduktor tetap berakar pada riset dan penelitian ketimbang manufaktur massal. Perusahaan biasanya bekerja sama dengan mitra pabrikan seperti Rapidus di Jepang atau Samsung untuk membawa desain mereka ke pasar komersial. Meski IBM belum menyebutkan mitra yang akan mengkomersialkan arsitektur nanostack, mereka menargetkan teknologi ini akan masuk ke tahap produksi dalam satu dekade ke depan, atau bahkan lebih cepat.

    Huiming Bu, Wakil Presiden IBM Semiconductors Global R&D, sangat yakin desain bersusun ini diposisikan untuk menggantikan arsitektur nanosheet sebagai standar industri lintas prosesor. “Dalam satu dekade ke depan, (teknologi) ini akan menjadi arus utama baru yang telah kami temukan dan bantu untuk mentransformasi industri,” pungkasnya, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Sabtu (27/6/2026).

    Terobosan IBM ini memiliki implikasi besar bagi industri komputasi global. Dengan ukuran SLM Sektor Keuangan yang semakin kecil namun daya komputasi yang semakin besar, efisiensi energi menjadi faktor kunci. Desain chip 3D ini memungkinkan pusat data AI beroperasi lebih hemat energi, mengatasi salah satu tantangan terbesar dalam industri saat ini.

    Bagi para pelaku industri dan pengamat teknologi, langkah IBM ini menandai pergeseran paradigma dalam desain semikonduktor. Jika berhasil dikomersialkan, arsitektur nanostack dapat mengubah cara prosesor CPU dan GPU dirancang dalam satu dekade mendatang.

  • Kontraktor AI Gunakan Chatbot untuk Hasilkan Data Pelatihan

    Kontraktor AI Gunakan Chatbot untuk Hasilkan Data Pelatihan

    JBNews.id — Praktik kontraktor yang menggunakan chatbot AI untuk menghasilkan data pelatihan bagi model bahasa besar (LLM) semakin meluas, mengancam kualitas dan stabilitas sistem kecerdasan buatan yang tengah dikembangkan perusahaan teknologi global.

    Fenomena yang disebut sebagai “kanibalisme AI” ini terungkap setelah New Scientist mewawancarai sejumlah pekerja lepas yang direkrut perusahaan teknologi untuk menghasilkan data pelatihan orisinal. Seorang kontraktor yang diidentifikasi sebagai Alice mengakui bahwa praktik ini sangat umum terjadi di industrinya.

    “Ini sangat meluas. Setiap perusahaan tempat saya bekerja memiliki pedoman eksplisit tentang hal ini dan mereka jelas berusaha menangkap pelanggar. Tapi saya rasa mereka tidak bisa menghentikannya,” kata Alice kepada New Scientist.

    Praktik ini muncul di tengah perlombaan perusahaan teknologi untuk mengumpulkan data orisinal sebanyak-banyaknya guna melatih LLM. Sebuah studi menemukan bahwa jumlah data yang digunakan untuk melatih AI telah berlipat ganda setiap sembilan bulan sejak 2010 — pertumbuhan eksponensial yang diperkirakan akan segera menemui hambatan karena pasokan data bersih semakin menipis.

    Ketika tidak ada lagi konten orisinal yang bisa diambil, perusahaan mulai membayar pekerja untuk menghasilkan data pelatihan baru. Namun, kontrak yang ditawarkan seringkali berkualitas rendah, mencakup tugas-tugas hiper-spesifik seperti menjalankan penggajian mingguan untuk musisi Broadway hingga merekam aktivitas domestik seperti melipat pakaian.

    Kontraktor AI lainnya mengaku menggunakan LLM untuk menghindari kesalahan yang bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. “Saya sangat takut kehilangan sumber pendapatan, dan setelah itu, segalanya menjadi lebih mudah dengan menggunakan LLM,” jelas seorang kontraktor kepada New Scientist.

    “Untuk banyak proyek yang saya kerjakan sekarang, saya membuat skenario. Saya akan menggunakan satu LLM untuk membantu membuat skenario, lalu LLM lain untuk membuat file yang menyertainya. Saya merasa bersalah, tapi pada awalnya ini lebih tentang memastikan saya tidak membuat kesalahan,” tambahnya.

    Alice menegaskan bahwa kontraktor yang cermat bisa lolos dari deteksi. “Hanya pengguna paling ceroboh yang tertangkap. Siapa pun dengan kesadaran minimal tentang ciri khas AI bisa menyuruh output mereka untuk tidak menggunakannya, dan pada titik itu apa yang bisa dilakukan perusahaan?” ujarnya.

    Ia juga mengkritik praktik perusahaan yang memberikan kontrak berkualitas rendah. “Jika perusahaan ini menginginkan data berkualitas, mereka harus menawarkan kontrak berkualitas. Sebaliknya, mereka merendahkan orang-orang yang kesulitan, mempekerjakan mereka dalam waktu sesingkat mungkin, dan membuang mereka begitu proyek selesai tanpa pemberitahuan,” kata Alice.

    Fenomena ini menimbulkan ironi besar bagi perusahaan AI. Setelah mengambil konten milik orang lain tanpa izin untuk menciptakan produk yang mengancam lapangan kerja di seluruh ekonomi, mereka kini menghadapi situasi di mana pekerja yang mereka rekrut justru menggunakan teknologi yang sama untuk melakukan tugas manusia yang tersisa dengan cara semalas mungkin.

    Para ahli telah lama memperingatkan bahwa praktik kanibalisme AI dapat mengganggu stabilitas model bahasa besar. Jika data yang digunakan untuk melatih AI generasi berikutnya sudah terkontaminasi oleh output AI lainnya, kualitas dan keandalan sistem bisa menurun drastis — fenomena yang dikenal sebagai knowledge decay.

    Dampak dari situasi ini bisa sangat serius bagi industri AI secara keseluruhan. Perusahaan yang mengandalkan data berkualitas untuk mempertahankan keunggulan kompetitif mereka mungkin akan menghadapi tantangan besar jika rantai pasokan data mereka terkontaminasi oleh output AI yang tidak terverifikasi.

    Seorang pria bersetelan hitam dan kemeja putih duduk di kursi kantor dengan kaki bersandar di meja kayu. Meja memiliki laptop terbuka, beberapa kertas, dan pulpen. Fokus pada sepatu hitam mengkilap dan postur santai individu.

    Bagi kontraktor yang bekerja dalam tekanan ekonomi, penggunaan AI untuk menghasilkan data pelatihan menjadi pilihan rasional. Mereka menghadapi dilema antara menghasilkan pekerjaan berkualitas dengan upah rendah atau menggunakan jalan pintas yang berisiko namun lebih efisien secara waktu.

    “Saya sangat takut kehilangan sumber pendapatan, dan setelah itu, segalanya menjadi lebih mudah dengan menggunakan LLM,” kata seorang kontraktor, menggambarkan tekanan yang mendorong praktik ini.

    Alice menambahkan bahwa perusahaan seharusnya tidak terkejut dengan situasi ini. “Jika mereka menginginkan data berkualitas, mereka harus membayar dengan layak,” tegasnya.

    Fenomena ini juga memunculkan pertanyaan tentang efektivitas sistem deteksi yang digunakan perusahaan untuk memfilter data palsu. Meskipun perusahaan memiliki pedoman eksplisit dan berusaha menangkap pelanggar, Alice menyatakan bahwa sistem tersebut tidak cukup canggih untuk mendeteksi data yang dihasilkan AI setelah melalui proses penyuntingan minimal.

    Para pengamat industri menilai bahwa situasi ini mencerminkan masalah struktural dalam ekosistem ekonomi gig yang diciptakan oleh perusahaan teknologi. Model bisnis yang mengandalkan pekerja lepas dengan kontrak jangka pendek dan upah rendah menciptakan insentif yang salah bagi kualitas data.

    Dalam jangka panjang, praktik kanibalisme AI ini bisa memperlambat laju pengembangan AI itu sendiri. Jika data pelatihan yang terkontaminasi menghasilkan model yang kurang akurat dan tidak dapat diandalkan, kepercayaan terhadap teknologi AI secara keseluruhan bisa tergerus.

    Bagi perusahaan teknologi yang berinvestasi miliaran dolar dalam pengembangan AI, temuan ini menjadi peringatan serius. Mereka harus mengevaluasi kembali strategi pengadaan data dan memastikan bahwa kontraktor yang mereka rekrut memiliki insentif yang tepat untuk menghasilkan data berkualitas tinggi.

    Tanpa perubahan signifikan dalam cara perusahaan memperlakukan pekerja data mereka, praktik kanibalisme AI diperkirakan akan terus berlanjut dan bahkan semakin meluas, mengancam fondasi industri yang sedang dibangun dengan biaya sangat besar.