Blog

  • Teleskop Euclid Tangkap 60 Juta Bintang di Pusat Galaksi

    Teleskop Euclid Tangkap 60 Juta Bintang di Pusat Galaksi

    JBNews.id — Teleskop luar angkasa Euclid milik European Space Agency (ESA) berhasil menangkap gambar mosaik yang mencakup lebih dari 60 juta bintang di pusat Bima Sakti, membuka jalan bagi penemuan eksoplanet baru melalui teknik microlensing. Gambar spektakuler ini diabadikan hanya dalam 26 jam pengamatan pada 23 Maret 2025, menjadikannya salah satu pencapaian tercepat dalam sejarah astronomi observasional.

    Mosaik tersebut terdiri dari sembilan “pointing” atau eksposur berbeda yang diambil oleh kamera cahaya tampak Euclid. Setiap pointing mencakup area langit yang lebih luas dari ukuran bulan purnama. Meskipun kualitas gambar Euclid sebanding dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble, perbedaan utamanya terletak pada efisiensi waktu: setiap pointing Euclid hanya membutuhkan beberapa jam untuk mencakup area 270 kali lebih besar dari bidang pandang Hubble. Sebagai perbandingan, Observatorium Keck di Hawaii memerlukan sekitar 2.000 jam untuk mengamati mosaik yang sama.

    Mengintip Jantung Bima Sakti

    Wilayah yang menjadi target pengamatan Euclid adalah tonjolan galaksi (galactic bulge) — area paling padat dan terang di pusat Bima Sakti. Meskipun dirancang untuk mengamati miliaran galaksi jauh, kamera Euclid cukup sensitif untuk membedakan bintang-bintang individual di wilayah ekstrem ini tanpa kewalahan oleh cahaya intens. Hasilnya adalah gambar yang menampilkan lebih dari 60 juta bintang, ditambah nebula dan gugus bintang yang tersebar di area tersebut.

    “Untuk menangkap microlensing, Anda perlu mengamati bagian langit yang penuh dengan bintang, seperti di dekat pusat galaksi kita,” ujar Jean-Philippe Beaulieu, yang memimpin kampanye pengamatan Euclid, dalam sebuah pernyataan pers. “Selama 20 tahun terakhir, hampir 300 eksoplanet telah ditemukan menggunakan teknik ini, semuanya dengan teleskop berbasis darat dan semuanya menuju pusat galaksi kita.”

    Gambar dari Euclid ini mencakup 51 sistem planet yang sudah diketahui — dan akan membantu mempelajari lebih banyak lagi yang akan ditemukan di masa depan.

    Revolusi Pengukuran Massa Planet

    Meskipun mendeteksi peristiwa microlensing memerlukan pengamatan selama beberapa minggu — artinya Euclid tidak dapat mengidentifikasi peristiwa baru selama kampanye singkatnya — nilai sebenarnya dari gambar ini terletak pada kemampuannya menyediakan data untuk mengukur massa planet yang sudah diketahui maupun yang belum ditemukan. Teknik ini memungkinkan para astronom untuk mengonfirmasi keberadaan eksoplanet melalui efek pembengkokan cahaya gravitasi, sekaligus mengukur massanya dengan presisi yang lebih tinggi.

    “Dalam 24 jam, Euclid telah menangkap bintang-bintang yang terlibat dalam semua peristiwa microlensing masa depan yang akan dideteksi oleh teleskop luar angkasa Roman, tetapi sebelum bintang dan planet yang terlibat sejajar,” jelas Natalia Rektsini, yang memimpin publikasi data tersebut. (Teleskop luar angkasa Nancy Grace Roman dijadwalkan diluncurkan akhir tahun ini.) “Ini berarti siapa pun yang mendeteksi peristiwa microlensing di wilayah yang sama, misalnya dengan Roman, akan dapat mulai sekarang menggunakan data Euclid sebagai referensi waktu di masa lalu dan melihat bagaimana bintang-bintang itu tampak sebelum mereka tumpang tindih.”

    Dengan kata lain, observasi Euclid akan berfungsi sebagai arsip referensi bagi misi-misi masa depan, memungkinkan studi yang lebih mendetail tentang eksoplanet dan pengukuran massa yang lebih presisi. Data ini juga dapat digunakan untuk berbagai aplikasi ilmiah lainnya, mulai dari studi tentang katai coklat, bintang biner, hingga pergerakan bintang dan debu di seluruh galaksi kita.

    Valeria Pettorino, ilmuwan proyek Euclid dari ESA, menambahkan, “Dalam hanya 24 jam, Euclid telah memberikan data unik tentang pusat Bima Sakti, dengan pandangan yang luas dan tajam dari wilayah ini. Data ini juga dapat digunakan untuk aplikasi ilmiah lainnya, dari katai coklat dan bintang biner hingga pergerakan bintang dan debu di seluruh galaksi kita.”

    Kecepatan Euclid dalam mengumpulkan data menjadi faktor kunci. Dalam waktu yang sangat singkat — hanya 26 jam — teleskop ini berhasil melakukan apa yang membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun bagi instrumen lain. Efisiensi ini tidak hanya menghemat waktu pengamatan, tetapi juga memungkinkan para astronom untuk mempelajari fenomena yang berubah dengan cepat di pusat galaksi.

    Bagi para astronom yang mempelajari eksoplanet, data Euclid adalah harta karun. Dengan memiliki ‘foto sebelum’ dari bintang-bintang yang akan menjadi latar peristiwa microlensing, mereka dapat membandingkannya dengan pengamatan di masa depan untuk mengidentifikasi perubahan kecil dalam cahaya yang menandakan keberadaan planet. Ini seperti memiliki kamera keamanan yang merekam area langit sebelum peristiwa penting terjadi.

    Teknik microlensing sendiri telah terbukti sangat efektif dalam menemukan planet-planet yang sulit dideteksi dengan metode lain, seperti transit atau kecepatan radial. Planet-planet yang ditemukan melalui microlensing cenderung berada pada jarak yang lebih jauh dari bintang induknya, mirip dengan Jupiter atau Saturnus di tata surya kita. Dengan data Euclid, para ilmuwan berharap dapat mengukur massa planet-planet ini dengan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Kolaborasi antara Euclid dan misi masa depan seperti teleskop Roman akan menjadi tonggak baru dalam astronomi. Euclid menyediakan data baseline, sementara Roman akan menangkap peristiwa microlensing secara real-time. Gabungan kedua set data ini akan memungkinkan analisis yang jauh lebih komprehensif tentang populasi planet di galaksi kita.

    Bagi publik, gambar ini bukan hanya pemandangan yang menakjubkan secara visual, tetapi juga jendela menuju pemahaman yang lebih dalam tentang alam semesta. Setiap titik cahaya dalam mosaik adalah bintang, dan di sekitar banyak dari bintang-bintang itu, mungkin ada planet yang menunggu untuk ditemukan. Euclid telah memberikan peta jalan untuk penemuan-penemuan itu.

    Dengan kemampuan uniknya untuk menggabungkan bidang pandang luas dengan resolusi tinggi, Euclid telah membuktikan dirinya sebagai instrumen yang tak ternilai untuk astronomi galaksi. Masa depan penemuan eksoplanet — dan pemahaman kita tentang tempat Bumi di alam semesta — semakin cerah berkat data yang dikumpulkan teleskop ini.

  • Pengguna iPhone di Rusia Diimbau Beralih ke Android

    Pengguna iPhone di Rusia Diimbau Beralih ke Android

    JBNews.id — Pemerintah Rusia secara resmi mengimbau pengguna iPhone di negaranya untuk beralih ke Android menyusul pemblokiran dua aplikasi lokal penting oleh Apple di App Store. Imbauan ini disampaikan langsung oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebagai respons atas langkah Apple yang memblokir aplikasi VKontakte dan Max.

    Apple memblokir aplikasi VKontakte, platform media sosial mirip Facebook, dan Max, aplikasi messaging lokal pengganti WhatsApp, di App Store. Pemblokiran ini membuat kedua aplikasi tersebut tidak tersedia untuk diunduh oleh pengguna iPhone di Rusia. Menurut laporan yang dikutip dari Ars Technica, aplikasi Max diblokir pada awal Juni 2026, sementara VKontakte menyusul pada 25 Juni 2026.

    Meskipun pengguna yang sudah menginstal kedua aplikasi tersebut sebelumnya masih dapat menggunakannya, Apple telah menonaktifkan fitur push notification. Hal ini secara signifikan membatasi fungsionalitas aplikasi, sehingga tidak dapat memberikan notifikasi real-time kepada pengguna.

    Menanggapi situasi ini, Dmitry Peskov menuntut penjelasan resmi dari Apple. Ia juga secara terbuka mengimbau pengguna iPhone untuk beralih ke Android jika mereka tetap ingin menggunakan VKontakte dan Max tanpa hambatan.

    “Selalu ada solusi cepat. Beralihlah ke Android, beralihlah ke sistem kami, beralihlah ke layanan kami yang setara, dan terus gunakan layanan yang Anda sukai,” kata Peskov.

    Pernyataan ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara perusahaan teknologi AS dan pemerintah Rusia. Pemblokiran aplikasi lokal oleh Apple dipandang sebagai langkah yang memiliki implikasi luas bagi pengguna iPhone di Rusia.

    Pernyataan Resmi VK Group

    VK Group, pengembang VKontakte dan layanan terkait, mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam tindakan Apple. Mereka menyatakan bahwa Apple menghapus aplikasi mereka dari App Store tanpa peringatan atau penjelasan terlebih dahulu.

    “VK tidak pernah dikenai sanksi atau dimasukkan dalam daftar sanksi, sebuah fakta yang dikonfirmasi oleh banyak pendapat hukum dari penasihat internasional dan AS,” kata VK Group dalam pernyataan resminya.

    Perusahaan tersebut menegaskan, “Apple secara sepihak menghapus aplikasi VK tanpa pemberitahuan sebelumnya… Kami menganggap tindakan Apple terhadap pengguna Rusia tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat diterima.”

    VK Group juga menekankan bahwa aplikasi mereka untuk platform Android tetap berfungsi sepenuhnya, termasuk pembaruan dan notifikasi. Aplikasi-aplikasi tersebut tersedia di berbagai platform alternatif seperti RuStore, Google Play, Huawei AppGallery, Samsung Store, Xiaomi Store, dan website resmi VK.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa pengguna Android di Rusia tidak mengalami gangguan layanan yang sama seperti pengguna iPhone. Ketersediaan aplikasi di berbagai toko aplikasi alternatif memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna Android.

    Dampak bagi Pengguna iPhone di Rusia

    Pemblokiran dua aplikasi penting ini memberikan dampak langsung bagi pengguna iPhone di Rusia. VKontakte merupakan platform media sosial yang sangat populer, sementara Max digunakan sebagai aplikasi pesan instan utama oleh banyak warga Rusia.

    Dengan tidak tersedianya kedua aplikasi ini di App Store dan dinonaktifkannya fitur push notification, pengguna iPhone menghadapi keterbatasan fungsional yang signifikan. Mereka tidak dapat mengunduh aplikasi baru atau menerima notifikasi dari aplikasi yang sudah terinstal.

    Imbauan dari pemerintah Rusia untuk beralih ke Android menjadi solusi praktis yang ditawarkan kepada pengguna iPhone. Langkah ini juga sejalan dengan dorongan pemerintah Rusia untuk menggunakan sistem dan layanan dalam negeri.

    Ketegangan antara Apple dan pemerintah Rusia bukanlah hal baru. Sebelumnya, Apple telah membatasi beberapa layanan di Rusia sebagai respons terhadap sanksi internasional. Namun, pemblokiran aplikasi lokal seperti VKontakte dan Max merupakan langkah yang lebih langsung dan berdampak luas.

    Bagi pengguna iPhone di Rusia, situasi ini menimbulkan dilema. Mereka harus memilih antara tetap menggunakan perangkat Apple dengan fungsionalitas terbatas atau beralih ke Android untuk mendapatkan akses penuh ke aplikasi lokal favorit mereka.

    Sementara itu, perkembangan teknologi dan kebijakan digital terus berubah. Polymarket Bayar Pengguna untuk konten tertentu menjadi sorotan, menunjukkan bagaimana platform digital dapat memengaruhi perilaku pengguna.

    Di sisi lain, Survei Pew Warga AS menunjukkan sentimen publik terhadap teknologi yang terus berkembang. Hal ini relevan dalam konteks bagaimana keputusan perusahaan teknologi besar seperti Apple dapat memicu reaksi dari pemerintah dan pengguna.

    Implikasi untuk Masa Depan

    Langkah Apple memblokir aplikasi VKontakte dan Max di Rusia menimbulkan pertanyaan tentang masa depan ketersediaan layanan digital di negara tersebut. Jika ketegangan terus meningkat, bukan tidak mungkin lebih banyak aplikasi lokal yang akan terkena dampak serupa.

    Bagi pengguna iPhone di Rusia, situasi ini mendorong mereka untuk mengevaluasi kembali pilihan perangkat mereka. Android, dengan ekosistem yang lebih terbuka dan beragam toko aplikasi, menawarkan alternatif yang lebih fleksibel.

    Pemerintah Rusia, melalui imbauan Dmitry Peskov, secara eksplisit mendorong peralihan ke Android. Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dan memperkuat infrastruktur digital dalam negeri.

    VK Group, sebagai pengembang aplikasi yang diblokir, terus menekankan bahwa aplikasi mereka tersedia di berbagai platform selain iOS. Hal ini memberikan opsi bagi pengguna untuk tetap terhubung tanpa harus bergantung pada ekosistem Apple.

    Ke depannya, situasi ini dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain yang mungkin menghadapi situasi serupa. Keputusan perusahaan teknologi besar untuk memblokir aplikasi lokal dapat memicu respons regulasi dan perubahan perilaku pengguna.

    Bagi konsumen di Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya diversifikasi platform dan kesadaran akan potensi risiko ketergantungan pada satu ekosistem teknologi. Memiliki akses ke berbagai aplikasi dan platform dapat mengurangi dampak jika terjadi pembatasan serupa di masa depan.

    Dengan semakin terintegrasinya teknologi dalam kehidupan sehari-hari, keputusan seperti yang diambil Apple di Rusia menunjukkan betapa besarnya pengaruh perusahaan teknologi terhadap akses informasi dan komunikasi pengguna di seluruh dunia.

    Pengguna iPhone di Rusia kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap setia pada perangkat Apple dengan fungsionalitas terbatas, atau beralih ke Android untuk mendapatkan pengalaman digital yang lebih utuh. Keputusan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki implikasi sosial dan politik yang lebih luas.

  • Polisi Vancouver Gunakan AI untuk Edit Foto Barang Bukti

    Polisi Vancouver Gunakan AI untuk Edit Foto Barang Bukti

    JBNews.id — Kepolisian Vancouver, Kanada, memicu kontroversi setelah mengunggah gambar hasil tangkapan narkoba yang diberi label “made with AI” di platform X (sebelumnya Twitter). Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi penggunaan kecerdasan buatan oleh aparat penegak hukum di seluruh dunia.

    Menurut laporan CTV News Kanada, gambar asli yang diunggah memperlihatkan barang bukti berupa sejumlah kecil uang tunai dan berbagai jenis narkoba dalam jumlah kecil. Sekilas, tidak ada yang tampak aneh pada gambar tersebut. Namun, saat diperhatikan lebih saksama, lembaran uang menunjukkan kejanggalan: uang pecahan $50 tertulis sebagai $20, sementara uang $100 terbaca sebagai “00”.

    Ditanya oleh CTV mengapa pihak kepolisian menggunakan AI untuk memanipulasi gambar, Sersan Adam Donalson dari Kepolisian Vancouver menyatakan bahwa “kami menggunakan perangkat lunak untuk mengedit nama-nama tersangka.” Respons ini membingungkan, mengingat gambar asli menunjukkan barang bukti yang ditata di atas papan kardus dengan label spidol.

    Donalson kemudian menjelaskan bahwa gambar buatan AI tersebut “telah dihapus dan diganti dengan foto asli yang telah dipotong untuk mengecualikan nama-nama tersangka,” membuat situasi semakin rumit. “Anda mengklaim ini foto ‘asli’ dari barang sitaan dibandingkan dengan gambar AI yang Anda unggah beberapa jam lalu dan hapus?” tulis seorang pengguna X dengan akun @d_boeckner pada 25 Juni 2026.

    Kasus ini bukanlah yang pertama kalinya aparat kepolisian bermasalah dengan AI. Sebelumnya, petugas polisi di berbagai wilayah telah menggunakan alat terintegrasi AI yang menghasilkan laporan polisi hallucinated, bukti yang dipalsukan dengan AI generatif, dan bahkan insiden penguntitan melalui kamera pengawas terintegrasi AI.

    Masyarakat Vancouver bereaksi keras terhadap tindakan kepolisian tersebut. “Anda menampilkan gambar buatan AI dari bukti palsu kepada publik, yang mencakup calon juri,” tulis seorang warganet dengan nada geram di bawah gambar yang diperbarui. “Seluruh kasus ini akan dibatalkan.” Pengguna lain menambahkan, “Mana foto AI yang Anda unggah sebelumnya? Saya suka dibohongi polisi, itu bagus untuk membangun kepercayaan!”

    Insiden ini menunjukkan risiko serius penggunaan AI generatif oleh institusi publik, terutama yang berkaitan dengan proses peradilan. Penggunaan teknologi AI yang tidak tepat dapat merusak kredibilitas bukti dan berpotensi menggagalkan proses hukum. Kasus di Vancouver menjadi pengingat penting bahwa adopsi AI oleh aparat penegak hukum memerlukan protokol yang ketat dan pengawasan yang transparan.

    Ke depannya, kasus serupa kemungkinan akan semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor. Kolaborasi antar perusahaan untuk mengembangkan teknologi AI yang lebih andal menjadi semakin krusial. Tanpa regulasi yang jelas dan pedoman etika yang ketat, penggunaan AI oleh aparat penegak hukum dapat mengancam integritas sistem peradilan dan kepercayaan publik.

  • Shadow AI Hambat Adopsi AI di Sektor Keuangan Global

    Shadow AI Hambat Adopsi AI di Sektor Keuangan Global

    JBNews.id — Sektor layanan keuangan global berlomba mengadopsi Kecerdasan Buatan (AI), namun ambisi ini terbentur realita: banyak perusahaan masih kesulitan memperluas skala pemanfaatan AI secara efektif karena tertinggalnya kesiapan infrastruktur, operasional, dan tata kelola internal. Fakta ini terungkap dalam laporan tahunan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) kedelapan yang dirilis oleh perusahaan komputasi hybrid multicloud, Nutanix.

    Laporan tersebut menyoroti bagaimana tekanan regulasi dan operasional menciptakan titik balik krusial bagi industri keuangan. Berdasarkan survei yang melibatkan 1.600 eksekutif di bidang cloud, IT, dan engineering dari perusahaan dengan minimal 500 karyawan di 14 negara, termasuk Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat, ditemukan sejumlah hambatan struktural yang signifikan.

    Salah satu temuan paling mencolok adalah fenomena Shadow AI. Sebanyak 66% eksekutif IT melaporkan bahwa karyawannya menggunakan layanan AI ilegal atau tidak berizin. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 86% dari mereka menyadari bahwa praktik liar tersebut menimbulkan risiko bisnis dan keamanan yang signifikan. Fenomena ini muncul ketika perusahaan lambat dalam menyediakan alat AI resmi, sehingga karyawan kerap mencari jalan pintas.

    Selain Shadow AI, birokrasi internal menjadi hambatan utama. Banyak yang mengira keterbatasan teknologi adalah musuh utama, namun nyatanya masalah birokrasi justru jauh lebih menghambat. Saat mencoba meningkatkan skala penerapan AI, perusahaan keuangan menghadapi kendala seperti kompleksitas proses, faktor organisasi, dan keterbatasan teknis.

    Ilustrasi AI di bisnis

    Masalah infrastruktur juga menjadi tantangan serius. Sebanyak 68% eksekutif mengakui bahwa infrastruktur internal (on-premises) mereka belum siap untuk menanggung beban kerja AI. Sebagai jalan pintas, 64% perusahaan memilih bergantung pada penyedia pihak ketiga guna menjembatani kesenjangan infrastruktur tersebut.

    Lebih lanjut, muncul masalah baru bernama Sovereignty Debt atau Utang Kedaulatan Data. Lembaga keuangan memegang data sensitif, sehingga 79% organisasi menjadikan kedaulatan data sebagai prioritas utama. Ironisnya, 62% di antaranya masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di public cloud. Ketidakselarasan ini memicu tumpukan utang kedaulatan data yang berbahaya.

    Di sisi lain, tuntutan AI terbukti menjadi pendorong tren modernisasi. Sebanyak 90% responden sepakat bahwa AI memacu adopsi kontainerisasi, dan 89% yakin tren ini akan terus meroket. Untuk bisa beranjak dari tahap coba-coba menuju implementasi skala besar, lembaga keuangan diwajibkan menyelaraskan infrastruktur, tata kelola, dan proses operasional mereka secara terpadu.

    Jay Tuseth, Vice President & General Manager APJ di Nutanix, menegaskan bahwa persaingan kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih. “Di seluruh wilayah Asia Pasifik dan Jepang (APJ), persaingan kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan tentang siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab,” ujar Tuseth dalam keterangan resmi.

    Tuseth menambahkan bahwa pemenang dalam kompetisi ini bukanlah lembaga yang sekadar memiliki anggaran komputasi terbesar. Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang berhasil menyelaraskan infrastrukturnya dengan tuntutan regulasi regional dan kedaulatan data melalui platform berbasis kontainer yang fleksibel.

    Implikasinya bagi pelaku industri keuangan jelas: tanpa penyelarasan antara infrastruktur, tata kelola, dan regulasi, adopsi AI skala besar akan terus terhambat. Fenomena Shadow AI dan utang kedaulatan data menjadi pengingat bahwa teknologi canggih sekalipun membutuhkan fondasi yang kokoh untuk bisa dimanfaatkan secara optimal dan aman.

  • LGI Luncurkan Fitur AI Face Scan dan Sleep Tracker untuk Pantau Kesehatan

    LGI Luncurkan Fitur AI Face Scan dan Sleep Tracker untuk Pantau Kesehatan

    JBNews.id — PT Lippo General Insurance Tbk (LGI) resmi meluncurkan Care+, fitur wellness berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam aplikasi eBenefit Health. Inovasi ini memungkinkan pengguna memantau kondisi kesehatan harian melalui pemindaian wajah hingga pelacak tidur, sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan digital yang praktis dan preventif.

    Peluncuran Care+ dilakukan pada Minggu, 28 Juni 2026, di Jakarta. Fitur ini mengintegrasikan teknologi AI untuk membantu masyarakat membangun kebiasaan sehat secara konsisten tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Langkah ini memperkuat posisi LGI dalam transformasi digital di sektor asuransi kesehatan.

    Fitur Unggulan Care+

    Salah satu fitur unggulan Care+ adalah AI-Powered Face Scan. Teknologi ini memberikan gambaran kondisi kesehatan hanya melalui pemindaian wajah, termasuk indikasi detak jantung, laju pernapasan, skor respirasi, hingga tingkat stres. Fitur ini dirancang untuk memudahkan pengguna memantau kesehatan secara real-time.

    Selain itu, aplikasi juga dilengkapi Sleep Tracker untuk memantau kualitas tidur, Activity Tracker guna merekam aktivitas fisik harian, serta Nutrition Tracker yang membantu mengelola asupan nutrisi dan menyusun pola makan sesuai kebutuhan. LGI juga menyediakan artikel dan konten edukasi kesehatan yang diperbarui secara berkala sebagai panduan gaya hidup sehat.

    Strategi Perusahaan dan Dampak

    Vice President Director LGI, Ricky Choi, menyatakan bahwa Care+ merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas layanan digital. “Care+ merupakan bagian dari komitmen LGI untuk menghadirkan solusi kesehatan digital yang tidak hanya mendukung perlindungan, tetapi juga membantu masyarakat menjaga kesehatannya secara proaktif,” ujar Ricky. Menurutnya, penerapan gaya hidup sehat masih menjadi tantangan, dan pemanfaatan teknologi digital diharapkan memudahkan pengguna membangun kebiasaan sehat secara konsisten.

    Peluncuran Care+ memperkuat ekosistem digital LGI yang sebelumnya telah menghadirkan aplikasi eBenefit General, MyGo+, dan MyPro+. Sebagai perusahaan asuransi umum terkemuka, LGI mencatat rasio Risk-Based Capital (RBC) sebesar 303,99 persen per Desember 2025, jauh di atas batas minimum regulator. Perusahaan juga mempertahankan peringkat kekuatan finansial “AA+ (idn)” dari Fitch Ratings Indonesia dan “A- (Excellent)” dari AM Best.

    Implikasi bagi Pengguna

    Inovasi ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan Transformasi Digital untuk menjaga kesehatan secara preventif. Pengguna dapat memantau berbagai aspek kesehatan sehari-hari dengan lebih mudah dan terintegrasi. LGI berharap langkah ini meningkatkan kesadaran bahwa perlindungan kesehatan tidak hanya dilakukan saat sakit, tetapi dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

    Dengan fitur Fitur Terbaru seperti AI Face Scan dan Sleep Tracker, LGI menawarkan solusi yang relevan bagi masyarakat yang ingin memantau kesehatan secara proaktif. Langkah ini sejalan dengan tren global dalam adopsi teknologi AI untuk kesehatan digital.

  • Data Wajah Lebih Berbahaya dari Password Jika Bocor

    Data Wajah Lebih Berbahaya dari Password Jika Bocor

    JBNews.id — Kewajiban registrasi SIM card prabayar menggunakan biometrik wajah yang mulai berlaku 1 Juli 2026 membawa risiko keamanan yang jauh lebih serius dibandingkan kebocoran password biasa. Chairman CISSReC, Pratama Persadha, menegaskan bahwa data biometrik bersifat permanen dan tidak dapat diganti sepanjang hidup seseorang.

    “Password bisa diganti. Nomor telepon bisa diganti. Alamat email juga bisa dibuat baru. Tetapi wajah, sidik jari, dan iris mata tidak bisa diganti sepanjang hidup seseorang,” kata Pratama kepada detikINET.

    Registrasi SIM card menggunakan data biometrik merupakan pengembangan dari pendaftaran nomor HP baru yang sebelumnya divalidasi menggunakan data nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK). Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital yang marak terjadi.

    Pratama menyoroti jika terjadi kebocoran data biometrik, konsekuensi jangka panjangnya jauh lebih besar dibandingkan kebocoran password atau identitas digital lainnya. Pelaku kejahatan siber dapat menggunakan data wajah untuk berbagai modus penipuan yang sulit dideteksi.

    Untuk meminimalkan risiko, operator seluler seharusnya tidak menyimpan foto wajah pelanggan dalam bentuk asli. Pendekatan yang lebih aman adalah mengubah hasil pemindaian menjadi template biometrik berupa representasi matematis yang hanya digunakan untuk proses pencocokan identitas.

    “Apabila basis data mengalami kebocoran, pelaku tidak langsung memperoleh foto wajah asli pengguna,” ucap Pratama.

    Penerapan prinsip data minimization juga menjadi krusial, yakni hanya mengumpulkan data yang benar-benar diperlukan dan segera menghapus data yang tidak lagi dibutuhkan setelah proses autentikasi selesai. Seluruh proses pengiriman data wajah harus menggunakan enkripsi modern agar tidak mudah disadap selama proses transmisi.

    Pratama menambahkan bahwa pemerintah dan operator seluler perlu memisahkan penyimpanan data kependudukan, data pelanggan, dan data biometrik. Dengan demikian, satu insiden kebocoran tidak berdampak terhadap seluruh informasi pengguna.

    Menurutnya, registrasi SIM berbasis biometrik memang dapat menjadi solusi efektif dalam mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital. Namun perlindungan terhadap data wajah harus menjadi prioritas utama karena biometrik merupakan aset digital permanen yang akan melekat pada setiap individu sepanjang hidupnya.

    “Keamanan sistem tidak hanya diukur dari kemampuan mengenali wajah, tetapi juga dari kemampuan melindungi data wajah tersebut dari penyalahgunaan di masa depan,” pungkas Pratama.

    Praktik keamanan siber modern seperti yang diterapkan oleh XLSmart Ajak Pengusaha dalam memanfaatkan AI juga relevan untuk diadaptasi dalam perlindungan data biometrik. Sementara itu, pengguna perangkat mobile perlu waspada karena Tablet Mini Dilirik untuk work from anywhere semakin meningkatkan paparan data pribadi.

    Bagi masyarakat yang tengah mengurus bantuan sosial, penting juga memahami Kriteria Bansos Ditolak agar tidak terkendala saat verifikasi data. Semua ini menunjukkan bahwa perlindungan data pribadi, terutama biometrik, menjadi isu lintas sektor yang membutuhkan perhatian serius.

  • Proyeksi Robot Humanoid China Melonjak, Kuasai Pasar Global

    Proyeksi Robot Humanoid China Melonjak, Kuasai Pasar Global

    JBNews.id — Morgan Stanley meningkatkan proyeksi pengiriman robot humanoid China menjadi 50.000 unit pada 2026, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 28.000 unit. Bank investasi Wall Street itu memperkirakan pasar robot humanoid China akan mencapai USD 2 miliar tahun ini dan melonjak menjadi USD 15 miliar pada 2030.

    Revisi proyeksi ini merupakan yang kedua kalinya tahun ini. Pada Januari lalu, Morgan Stanley awalnya memproyeksikan pengiriman sebanyak 14.000 unit, kemudian melipatgandakannya menjadi 28.000 unit, dan kini kembali dinaikkan secara signifikan. Pengiriman tahunan diperkirakan mencapai 446.000 unit pada 2030.

    “Verifikasi komersial, dukungan kebijakan, dan umpan balik rantai pasok menunjukkan adopsi humanoid yang lebih cepat di China,” kata Sheng Zhong, analis ekuitas di Morgan Stanley yang dikutip dari CNBC.

    China telah mempercepat dorongan untuk mendominasi industri ini. Semakin banyak produsen domestik yang berlomba meningkatkan skala produksi dan mengerahkan robot di lingkungan dunia nyata seperti pabrik, minimarket, dan restoran. Beijing menjadikan pengembangan “embodied AI” — AI yang ditanamkan dalam sistem fisik seperti robot — sebagai prioritas lima tahun ke depan.

    Pemerintah pusat mengarahkan pemerintah daerah untuk memberikan subsidi lahan dan kantor bagi startup robotika, sekaligus memerintahkan bank untuk memberikan persyaratan pinjaman yang menguntungkan. Langkah ini mempercepat komersialisasi teknologi humanoid di berbagai sektor.

    An ensemble of humanoid robots produced by Linkerbot is set up with musical instruments at the company’s office in Beijing, China, April 27, 2026. REUTERS/Maxim Shemetov

    Dominasi China di pasar robot humanoid sudah terlihat jelas. Tahun lalu, sekitar 13.000 robot humanoid dikirim di seluruh dunia menurut Omdia. Perusahaan China menduduki lima posisi teratas berdasarkan jumlah pengiriman. Pesaing dari Amerika Serikat, Figure AI, berada di peringkat ketujuh, sementara Tesla di peringkat kesembilan.

    CEO Tesla Elon Musk mengatakan awal tahun ini bahwa robot Optimus perusahaannya tidak akan dijual hingga akhir 2027. Hal ini memberi keunggulan waktu bagi produsen China untuk memperkuat posisi pasar mereka.

    Robotika humanoid menjadi target besar berikutnya bagi investor yang mengincar perkembangan teknologi China. “Jika Anda pergi ke pabrik mana pun di China saat ini, ada lebih banyak otomatisasi dan robotika yang dikerahkan daripada di tempat lain mana pun di dunia,” kata Joe Ngai, pimpinan McKinsey Greater China.

    Penelitian rantai pasok Morgan Stanley menunjukkan komersialisasi yang lebih cepat. Bank tersebut menyebut Leaderdrive, perusahaan yang terdaftar di bursa Shanghai, sebagai penerima manfaat utama dari kebangkitan humanoid. Perusahaan yang berkantor di Suzhou ini memasok komponen robotika untuk pembuat humanoid domestik seperti Ubtech dan Galbot.

    Leaderdrive diproyeksikan bisa memegang 40% pangsa pasar global tahun ini dan 25% dalam jangka panjang. Ini menunjukkan bagaimana rantai pasok domestik China sudah terintegrasi dengan industri humanoid global.

    Perusahaan robotika China juga gencar mengincar ekspansi ke luar negeri. Seer Intelligent, perusahaan robotika di Shanghai yang mulai melantai di bursa Hong Kong, telah berekspansi ke luar China sejak 2021. Pendapatan luar negeri dari lebih dari 65 negara menyumbang 18% total penjualannya tahun lalu.

    Namun, ketidakpastian geopolitik dan ketegangan perdagangan tetap menjadi hambatan terbesar. Perusahaan pun berfokus pada diversifikasi geografis untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal. Para pembuat kebijakan di Washington semakin khawatir dengan kemajuan AI China dan risiko meningkatnya ketergantungan pada teknologi China dalam beberapa tahun terakhir.

    “Jika Washington memperlakukan persaingan ini semata perlombaan untuk mencapai tolok ukur kemampuan baru, mereka mungkin memimpin dalam hal penemuan namun tertinggal dalam mempengaruhi di mana dan bagaimana AI digunakan di seluruh dunia,” kata Suzanne Nossel dari Chicago Council on Global Affairs.

    Implikasi dari proyeksi ini bagi pasar global sangat jelas. China tidak hanya memproduksi robot humanoid dalam jumlah besar, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung adopsi massal. Dukungan kebijakan pemerintah, rantai pasok yang terintegrasi, dan ekspansi internasional menjadi tiga pilar utama yang mendorong percepatan ini.

    Bagi pelaku industri dan investor, data Morgan Stanley ini menegaskan bahwa China telah menjadi pusat gravitasi baru dalam industri robot humanoid. Perusahaan yang ingin bersaing di pasar ini harus mempertimbangkan strategi yang matang, termasuk kemitraan dengan pemasok komponen China atau investasi langsung di pasar tersebut.

    Sementara itu, kekhawatiran akan ketergantungan pada teknologi China mendorong negara-negara lain, terutama AS, untuk mempercepat pengembangan robot humanoid domestik. Namun, dengan keunggulan skala produksi dan dukungan kebijakan yang masif, China diprediksi akan mempertahankan dominasinya setidaknya hingga akhir dekade ini.

    Perusahaan seperti Knightscope di AS dan pemain global lainnya harus menghadapi kenyataan bahwa persaingan di industri robotika tidak lagi hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga soal kecepatan komersialisasi dan skala produksi — dua area di mana China unggul jauh.

  • Microsoft Perpanjang Dukungan Windows 10 hingga Oktober 2027

    Microsoft Perpanjang Dukungan Windows 10 hingga Oktober 2027

    JBNews.id — Microsoft secara resmi memperpanjang dukungan keamanan untuk Windows 10 melalui program Extended Security Updates (ESU) hingga 12 Oktober 2027, keputusan yang diambil di tengah lambatnya adopsi Windows 11 dan masih besarnya basis pengguna sistem operasi lawas tersebut.

    Dukungan resmi untuk Windows 10 telah berakhir pada 2025. Namun, data terbaru dari Stat Counter per Mei 2026 menunjukkan bahwa Windows 10 masih menguasai 26,36% pangsa pasar, sementara Windows 11 mencapai 71,69%. Angka ini naik signifikan dari 55,18% untuk Windows 11 dan 41,71% untuk Windows 10 pada Oktober 2025, saat dukungan resmi Microsoft dihentikan.

    Perpanjangan ini berarti pengguna yang telah mendaftar program ESU tidak perlu mengambil tindakan apa pun. “Jika Anda sudah terdaftar, dukungan Anda akan otomatis berlanjut hingga tanggal tersebut — tidak perlu mengambil tindakan apa pun,” tulis Microsoft dalam halaman dukungannya, seperti dikutip dari PCMag, Minggu (28/6/2026).

    Program ESU sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 14 Oktober 2026. Dengan perpanjangan ini, batas akhir menjadi 12 Oktober 2027, memberikan waktu satu tahun tambahan bagi pengguna setia Windows 10.

    Syarat dan Biaya Program ESU

    Untuk bergabung dalam program ESU, pengguna dapat mencari opsi pendaftaran di menu Windows Update. Pengguna Windows 10 dapat bergabung secara gratis dengan login akun Microsoft dan menyinkronkan pengaturan sistem. Namun, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi:

    • Perangkat harus menjalankan Windows 10 versi 22H2 Home, Professional, Pro Education, atau Workstations.
    • Perangkat harus menjalankan pembaruan Windows terbaru.
    • Akun Microsoft yang dipakai login harus berupa akun administrator.
    • Akun Microsoft bukan berupa akun anak.

    Jika tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan update gratis, pengguna yang ingin mendaftar program ESU harus membayar USD 30 atau 1.000 poin Microsoft Rewards. Biaya ini berlaku bagi mereka yang tidak dapat memanfaatkan opsi gratis melalui sinkronisasi akun Microsoft.

    Microsoft juga menegaskan bahwa pendaftaran program ESU dapat dilakukan kapan saja hingga program berakhir pada 12 Oktober 2027. “Dukungan untuk Windows 10 sudah berakhir. Anda dapat mendaftar ESU kapan saja hingga program berakhir pada 12 Oktober 2027,” tulis Microsoft.

    Penyebab Lambatnya Adopsi Windows 11

    Lambatnya adopsi Windows 11 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ketentuan hardware yang lebih ketat membuat banyak PC jadul tidak dapat upgrade ke sistem operasi terbaru. Kedua, beberapa pengguna menghindari Windows 11 karena tidak ingin dijejali fitur AI yang kini menjadi fokus Microsoft.

    Selain itu, krisis RAM yang memaksa produsen PC untuk menaikkan harga turut memengaruhi keputusan konsumen. Banyak konsumen memutuskan untuk mempertahankan perangkat mereka lebih lama daripada membeli PC baru yang kompatibel dengan Windows 11. Hal ini semakin memperkuat basis pengguna Windows 10 yang masih bertahan.

    Meskipun demikian, Microsoft optimistis bahwa seiring berjalannya waktu, konsumen akhirnya harus upgrade PC mereka yang sudah ketinggalan zaman. Namun, dengan kondisi pasar saat ini, perpanjangan dukungan menjadi solusi sementara yang realistis.

    Dampak bagi Pengguna Windows 10

    Bagi pengguna Windows 10, perpanjangan ini memberikan kelegaan. Mereka tidak perlu terburu-buru melakukan upgrade ke Windows 11 atau membeli perangkat baru. Program ESU memastikan bahwa sistem operasi mereka tetap mendapat pembaruan keamanan penting hingga Oktober 2027.

    Namun, perlu dicatat bahwa program ESU hanya mencakup pembaruan keamanan, bukan fitur baru atau peningkatan performa. Pengguna yang ingin mendapatkan pengalaman terbaru dari Microsoft tetap disarankan untuk beralih ke Windows 11 jika perangkat mereka mendukung.

    Bagi bisnis dan organisasi yang masih bergantung pada Windows 10, perpanjangan ini memberikan waktu tambahan untuk merencanakan migrasi. Mereka tidak perlu terburu-buru mengalokasikan anggaran untuk upgrade perangkat keras dalam waktu dekat.

    Microsoft juga telah merilis Surface Pro dan laptop 8GB dengan harga lebih murah, yang bisa menjadi opsi bagi mereka yang ingin beralih ke perangkat baru dengan biaya lebih terjangkau.

    Keputusan Microsoft untuk memperpanjang dukungan Windows 10 menunjukkan bahwa perusahaan masih mendengarkan kebutuhan pengguna setianya. Dengan pangsa pasar di atas 25%, Windows 10 masih menjadi sistem operasi yang signifikan di ekosistem Microsoft.

    Bagi pengguna yang belum mendaftar program ESU, disarankan untuk segera melakukannya melalui menu Windows Update. Prosesnya gratis bagi pengguna yang memenuhi syarat, dan hanya membutuhkan login akun Microsoft serta sinkronisasi pengaturan sistem.

    Dengan perpanjangan ini, pengguna Windows 10 memiliki waktu hingga 12 Oktober 2027 untuk merencanakan langkah selanjutnya — apakah akan tetap menggunakan Windows 10 dengan dukungan keamanan, atau beralih ke Windows 11.

  • ChatGPT Fitur Tugas Terjadwal, Bisa Jadi Asisten Pribadi

    ChatGPT Fitur Tugas Terjadwal, Bisa Jadi Asisten Pribadi

    JBNews.id — OpenAI merilis pembaruan besar pada fitur Tugas Terjadwal (Scheduled Tasks) di ChatGPT, mengubah cara kerja AI dari sekadar merespons perintah menjadi asisten proaktif yang dapat mengingatkan, memantau perubahan, dan memberikan pembaruan otomatis. Fitur ini memungkinkan pengguna menjadwalkan tugas sekali jalan maupun berulang, seperti mengingatkan jadwal rapat, mengirim ringkasan berita setiap pagi, memantau harga saham, atau memberi tahu saat paket pesanan telah dikirim.

    Pembaruan ini menandai pergeseran signifikan dalam fungsi ChatGPT. Sebelumnya, AI hanya bekerja jika menerima pertanyaan langsung dari pengguna. Kini, dengan fitur Tugas Terjadwal, ChatGPT dapat beroperasi secara mandiri berdasarkan jadwal yang ditentukan. OpenAI menyebutkan bahwa fitur ini sudah tersedia di aplikasi ChatGPT versi web dan seluler, namun belum tersedia di aplikasi desktop maupun aplikasi Codex.

    Dalam laman dukungannya, OpenAI menjelaskan bahwa “tugas terjadwal kini lebih mudah dibuat dan dikelola, dengan halaman khusus, alur pembuatan yang lebih baik, opsi penjadwalan yang lebih fleksibel, serta notifikasi yang ditingkatkan.” Pengguna dapat mengakses halaman bernama Terjadwal untuk membuat, melihat, mengedit, menjeda, maupun menghapus tugas yang telah dibuat.

    Cara Kerja dan Contoh Penggunaan

    Pengguna dapat membuat tugas langsung dari halaman Terjadwal atau cukup mengetik perintah di kolom percakapan. Contoh perintah yang didukung antara lain “ingatkan saya rapat setiap Senin pukul 09.00”, “kirim ringkasan AI setiap pagi”, atau “beri tahu saat paket saya sudah dikirim”. Fitur ini juga mendukung tugas pemantauan, di mana AI memeriksa perubahan secara berkala dan hanya mengirim notifikasi ketika terdapat informasi penting.

    Selain itu, ChatGPT terintegrasi dengan Pulse, fitur yang melakukan riset secara asinkron berdasarkan percakapan, memori, dan masukan pengguna sebelumnya. Hasil riset dikirim dalam bentuk ringkasan visual yang dapat dibaca sekilas, disimpan, atau ditindaklanjuti dengan pertanyaan baru. Seluruh tugas dapat dikelola melalui menu Pengaturan, termasuk mengubah jadwal, menjeda, melanjutkan, atau menghapus tugas kapan saja.

    Batas Penggunaan Berdasarkan Paket Langganan

    OpenAI menetapkan jumlah tugas aktif yang berbeda untuk setiap paket langganan. Pengguna Go dapat memiliki hingga tiga tugas aktif, pengguna Plus lima tugas, Business dan Edu hingga 10 tugas, sedangkan Pro dan Enterprise mencapai 15 tugas aktif. Tugas juga tidak dapat dijalankan lebih dari satu kali dalam satu jam. Jika batas tercapai, pengguna harus menghapus atau menjeda tugas yang sudah ada sebelum membuat tugas baru.

    Beberapa fitur belum didukung dalam pembaruan ini, seperti chat suara, GPT kustom, dan webhook. Meski demikian, kehadiran Tugas Terjadwal menunjukkan bahwa ChatGPT kini berkembang dari sekadar chatbot menjadi asisten AI yang dapat bekerja secara proaktif membantu aktivitas sehari-hari. Ini juga menegaskan posisi OpenAI dalam persaingan Integrasi ChatGPT dengan berbagai layanan digital.

    Dengan kemampuan baru ini, ChatGPT tidak hanya berguna untuk percakapan interaktif tetapi juga untuk tugas-tugas rutin yang membutuhkan pengingat dan pemantauan. Pengguna dapat mengandalkan AI untuk mengelola jadwal, memantau informasi penting, dan memberikan pembaruan secara otomatis tanpa harus selalu membuka aplikasi.

    Implikasi dari fitur ini cukup luas. Bagi pekerja profesional, ChatGPT kini bisa menjadi asisten virtual yang membantu mengelola agenda harian. Bagi pengguna umum, fitur ini memudahkan pemantauan paket, berita, atau informasi lain yang membutuhkan pembaruan berkala. Dengan integrasi Robot Humanoid Chery yang menggunakan ChatGPT, potensi penggunaannya semakin meluas ke dunia robotika dan interaksi fisik.

    OpenAI terus mendorong batas kemampuan AI dari sekadar alat tanya-jawab menjadi asisten yang benar-benar membantu produktivitas sehari-hari. Dengan fitur Tugas Terjadwal, pengguna dapat menghemat waktu dan tenaga dalam mengelola tugas-tugas rutin, sementara AI bekerja di latar belakang untuk memberikan informasi tepat waktu.

  • Dilema Warga Eropa: Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup Pakai AC

    Dilema Warga Eropa: Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup Pakai AC

    JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dalam sepekan terakhir telah merenggut 40 jiwa di Prancis, memaksa warga Eropa menghadapi dilema antara rasa bersalah terhadap lingkungan dan kebutuhan bertahan hidup dengan menggunakan pendingin ruangan (AC). Suhu di Spanyol mencapai 44 derajat Celsius, sementara Inggris mencatat bulan Juni terpanas dalam sejarah.

    Setiap tahun, cuaca panas ekstrem merenggut rata-rata 175.000 nyawa di Eropa, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, penggunaan AC terbukti mampu memangkas tingkat kematian akibat panas hingga 75%, berdasarkan studi tahun 2007. Riset yang diterbitkan The Lancet pada 2019 bahkan mencatat bahwa 195.000 kematian terkait cuaca panas pada kelompok lansia di atas 65 tahun berhasil dicegah berkat adopsi AC di berbagai negara.

    Meski manfaatnya jelas, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki AC. Angka ini sangat kontras dengan Amerika Serikat, di mana 90% rumah tangga telah menggunakan pendingin ruangan. Perbedaan ini mencerminkan hambatan budaya, biaya, dan iklim yang telah lama membentuk sikap warga Eropa terhadap AC.

    Budaya, Biaya, dan Iklim Menjadi Penghalang

    Sebagian dari keengganan warga Eropa untuk memasang AC berakar pada sikap stoikisme historis. Karena AC tidak pernah digunakan pada masa lalu, banyak yang merasa tidak seharusnya dibutuhkan sekarang. Selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar wilayah Eropa memang tidak benar-benar membutuhkan AC karena iklimnya yang lebih sejuk.

    Faktor biaya juga menjadi penghalang signifikan. Minimnya pasokan gas alam domestik di banyak negara Eropa mengharuskan mereka mengimpor energi, membuat biaya listrik di Eropa lebih tinggi sementara gaji rata-rata lebih rendah dibandingkan AS. Kombinasi ini membuat investasi pembelian dan pengoperasian AC terasa memberatkan bagi banyak keluarga.

    Selain itu, banyak warga Eropa dihantui rasa bersalah terhadap dampak iklim dari penggunaan AC. Data menunjukkan bahwa penggunaan AC menyumbang 4% dari total emisi gas rumah kaca global — angka yang dua kali lipat lebih besar dari emisi seluruh industri penerbangan dunia. Beban moral ini membuat keputusan memasang AC menjadi semakin rumit.

    Gelombang Panas Ekstrem Mengubah Segalanya

    Sekarang, musim panas di wilayah selatan Eropa telah menjadi sangat ekstrem sehingga trik arsitektur tradisional yang digunakan selama berabad-abad tidak lagi mempan. Sementara di wilayah utara, rumah-rumah yang dirancang untuk menahan udara panas agar penghuninya tidak kedinginan di musim dingin, kini berubah menjadi “tungku pembakaran” saat musim panas tiba.

    Italia menjadi contoh paling dramatis dari perubahan ini. Ribuan kematian selama gelombang panas tahun 2003 menjadi titik puncak kesabaran. Pada musim panas tahun itu, diperkirakan hanya 10-15% rumah tangga Italia yang memiliki AC. Namun pada 2024, angka tersebut meroket menjadi 56%. Italia kini menyumbang sepertiga dari seluruh penggunaan listrik untuk AC di Eropa.

    Di Prancis, yang minggu ini mengalami hari-hari terpanas, toko-toko mulai kehabisan stok AC karena permintaan melonjak drastis. Di Inggris, sekitar empat juta rumah kini memiliki AC — jumlah yang dua kali lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Lonjakan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memaksa warga Eropa untuk mengutamakan keselamatan di atas pertimbangan lingkungan.

    Kisah Nyata: Dari Rasa Bersalah ke Prioritas Bertahan Hidup

    Katie, seorang warga London, menggambarkan dilema ini dengan gamblang. Baginya, memasang AC tidak pernah terlintas dalam pikiran, baik karena biaya mahal maupun dampak lingkungan. “Biasanya Anda hanya akan terkapar lemas di sofa dan sekadar mencoba bertahan hidup,” katanya.

    Namun, pandangan itu berubah total setelah ia memiliki anak. Katie dan pasangannya memutuskan membeli AC demi keselamatan bayi mereka. “Rasa bersalah terhadap iklim yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibanding prioritas untuk memastikan bayi saya memiliki tempat tidur aman,” ujarnya.

    “Siapa pun yang pernah terjebak selama sejam bagai di neraka, bercucuran keringat sambil mencoba menidurkan bayinya, pasti akan langsung membeli AC, percayalah,” tambah Katie. Kisahnya mencerminkan pergeseran prioritas yang terjadi di banyak rumah tangga Eropa saat gelombang panas semakin mematikan.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa regulasi teknologi dan kebijakan lingkungan harus mempertimbangkan realitas adaptasi iklim yang mendesak.

    Solusi: AC Modern dan Energi Terbarukan

    Guna mencegah tren perluasan penggunaan AC semakin memperburuk perubahan iklim, para pakar menekankan pentingnya pemasangan AC modern yang efisien listrik dan ditenagai energi terbarukan seperti tenaga surya. Pendekatan ini diharapkan dapat memutus lingkaran setan di mana pendinginan ruangan justru mempercepat pemanasan global.

    Uni Eropa sendiri memiliki ambisi besar untuk menjadi kawasan netral iklim pada tahun 2050. Untuk mewujudkannya, negara-negara seperti Spanyol, Italia, dan Yunani mulai membatasi sejauh mana batas pendinginan ruangan diizinkan di gedung publik selama musim panas. Langkah ini bertujuan mengendalikan konsumsi energi tanpa mengorbankan keselamatan warga.

    Masyarakat juga disarankan untuk menggabungkan dua solusi sekaligus: mengombinasikan AC bertenaga surya dengan langkah-langkah tradisional ala masyarakat kawasan Eropa selatan. Pendekatan hibrida ini dianggap sebagai jalan tengah yang paling realistis antara kebutuhan bertahan hidup dan tanggung jawab lingkungan.

    Implikasinya jelas: warga Eropa tidak lagi bisa memilih antara kenyamanan dan keberlanjutan. Gelombang panas ekstrem telah mengubah AC dari sekadar kemewahan menjadi kebutuhan dasar. Namun, cara penggunaannya — apakah dengan energi fosil atau terbarukan — akan menentukan apakah kekhawatiran terhadap masa depan ini dapat diatasi. Keputusan yang diambil sekarang akan berdampak langsung pada kemampuan Eropa mencapai target netral iklim pada 2050.