Blog

  • Ford Gagal dengan AI, Rekrut Ulang 350 Engineer Berpengalaman

    Ford Gagal dengan AI, Rekrut Ulang 350 Engineer Berpengalaman

    JBNews.id — Ford Motor Company mengakui kegagalan strategi kecerdasan buatan (AI) yang diterapkannya. Pabrikan otomotif AS itu terpaksa merekrut kembali 350 mantan karyawan dan teknisi baru setelah sistem AI yang diandalkan tidak mampu memenuhi standar kualitas produksi.

    Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Ford, Charles Poon, mengungkapkan pengakuan mengejutkan ini kepada para wartawan. “Kami keliru mengira bahwa hanya dengan memperkenalkan kecerdasan buatan dan menyesuaikan persyaratan desain yang kami miliki, hal itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi,” ujar Poon, seperti dikutip dari The Verge.

    Pengakuan ini menjadi sorotan tajam di industri otomotif global. Ford baru saja meraih peringkat teratas dalam survei kualitas awal JD Power untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade. Namun, di sisi lain, kegagalan implementasi AI justru memicu krisis reputasi yang mahal bagi perusahaan.

    Kesalahan Fatal: Tenaga Ahli Hengkang Sebelum AI Siap

    Menurut penjelasan Poon, masalah utama bukan terletak pada teknologi AI itu sendiri. Kegagalan terjadi karena para pekerja berpengalaman Ford telah keluar sebelum perusahaan sempat mentransfer pengetahuan berharga mereka ke dalam sistem AI. Tanpa data dan pengalaman praktis dari para ahli, sistem AI tidak dapat berfungsi optimal.

    Akibatnya, Ford terpaksa memanggil kembali mantan karyawan untuk melatih sistem AI dan para pegawai baru yang tidak kompeten. Mereka juga diminta memperbaiki pelatihan AI di balik sistem produksi tersebut.

    Poon enggan menjelaskan secara rinci alasan kepergian para pekerja berpengalaman itu. Namun, data menunjukkan Ford secara bertahap telah mengurangi tenaga kerjanya. Saat ini, perusahaan memiliki lebih dari 5.000 pekerja lebih sedikit dibandingkan tahun 2020. Sementara itu, CEO Jim Farley sebelumnya menyatakan bahwa AI “akan menggantikan secara harfiah setengah dari semua pekerja kerah putih di AS.”

    Kasus Ford ini mengingatkan pada fenomena serupa di industri teknologi. Hipotesis Amplification Spiral yang dipaparkan seorang psikiater menjelaskan bagaimana keyakinan berlebihan pada AI justru dapat memperburuk kualitas pengambilan keputusan di perusahaan.

    Dampak Nyata: Reputasi Tergerus, Produk Bermasalah

    Konsekuensi dari kegagalan implementasi AI ini cukup serius. Ford tercatat melakukan penarikan kembali (recall) mobil lebih sering dibandingkan pabrikan otomotif AS lainnya tahun ini. Peringkat keandalan Ford pun merosot dalam berbagai survei independen.

    Meskipun hanya 350 insinyur yang direkrut ulang, dipromosikan, atau dipekerjakan baru — jumlah yang relatif kecil dalam skala perusahaan raksasa — kerugian reputasi yang diderita jauh lebih besar. Kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk Ford terguncang.

    “Sungguh sebuah blunder naif yang sangat besar, dan banyak bos arogan lain juga telah melakukannya,” tulis Futurism dalam laporannya. Ford tampaknya berharap bisa keluar dari masalah ini dengan mengakui kesalahan dan membingkainya sebagai kisah peringatan bagi industri lain.

    Di tengah kegagalan ini, menarik untuk mencermati bagaimana perusahaan teknologi besar lainnya menghadapi tekanan publik. Boikot mahasiswa Stanford terhadap pidato CEO Google Sundar Pichai menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pemimpin teknologi sedang diuji di berbagai lini.

    Ford Tetap Berkomitmen pada AI

    Meskipun mengalami kegagalan ini, Ford tidak berbalik arah dari penggunaan AI. Sebaliknya, menurut laporan The Verge, Ford justru menambahkan lebih dari 100.000 tes baru bertenaga AI untuk mengidentifikasi kasus-kasus khusus (edge cases) dan menguji sistem perangkat lunak secara lebih ketat.

    Pelajaran dari kasus Ford adalah bahwa AI bukanlah solusi instan yang bisa menggantikan keahlian manusia secara mentah-mentah. Tanpa transfer pengetahuan yang sistematis dari tenaga ahli ke dalam sistem AI, teknologi canggih sekalipun akan gagal menghasilkan output berkualitas.

    Bagi perusahaan lain yang tengah berlomba mengadopsi AI, kasus Ford menjadi peringatan keras: jangan ulangi kesalahan yang sama. Investasi pada AI harus diiringi dengan investasi pada sumber daya manusia yang memahami seluk-beluk bisnis.

    Di sisi lain, situasi Ford juga menunjukkan bahwa kegagalan proyek teknologi besar bukanlah fenomena langka. Kegagalan BEAD yang menguapkan dana Rp700 triliun menjadi bukti bahwa pengelolaan teknologi berskala besar memerlukan perencanaan yang matang dan realistis.

    Implikasinya jelas: AI bukanlah pengganti pekerja, melainkan alat bantu yang memerlukan data dan pengalaman manusia untuk berfungsi optimal. Ford belajar dengan cara yang mahal — dan industri lain disarankan untuk belajar dari kesalahan Ford tanpa harus mengalaminya sendiri.

  • Meta Kembangkan Aplikasi Prediksi Arena, Tiru Polymarket

    Meta Kembangkan Aplikasi Prediksi Arena, Tiru Polymarket

    JBNews.id — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, tengah mengembangkan aplikasi prediksi bertajuk “Arena” yang menyerupai platform prediksi pasar seperti Polymarket dan Kalshi. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran para ahli akan lonjakan kecanduan judi akibat maraknya platform sejenis.

    Informasi tersebut diungkap oleh dua karyawan Meta yang mengetahui langsung masalah ini kepada The New York Times. Menurut mereka, Arena tidak akan menggunakan uang sungguhan, melainkan sistem poin yang menyerupai permainan video. Namun, Meta tidak menutup kemungkinan untuk mengizinkan pengguna bertaruh dengan uang asli di masa mendatang.

    Keputusan Meta untuk terjun ke bisnis aplikasi prediksi ini dinilai sebagai upaya CEO Mark Zuckerberg untuk mencari ide-ide baru demi tetap relevan di industri teknologi yang berubah cepat. Selama ini, aplikasi media sosial Meta telah berjuang mempertahankan relevansi dan pertumbuhan pengguna, meskipun masih menjangkau miliaran pengguna di seluruh dunia.

    Popularitas platform prediksi pasar seperti Polymarket dan Kalshi telah meledak dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli memperingatkan bahwa platform-platform ini telah secara masif menurunkan hambatan masuk bagi perjudian bermasalah, memungkinkan hampir semua orang untuk mempertaruhkan uang hasil jerih payah mereka pada berbagai peristiwa, mulai dari hasil perang hingga pemenang Piala Dunia.

    Namun, pendekatan Meta dengan Arena justru dianggap membingungkan. Tanpa janji keuntungan finansial yang cepat, daya tarik utama platform prediksi pasar menjadi hilang. Sistem poin bergaya video game dinilai tidak akan mampu menarik minat pengguna seperti halnya taruhan uang sungguhan.

    Ini bukan pertama kalinya Meta bermain di ranah prediksi. Pada awal pandemi COVID-19, perusahaan meluncurkan “Forecast,” sebuah aplikasi prediksi berbasis crowdsourcing yang tidak pernah benar-benar populer. Belum diketahui apakah Arena akan bernasib lebih baik jika benar-benar diluncurkan.

    Selain aplikasi prediksi, Meta juga dikabarkan sedang mengembangkan aplikasi pembuat foto berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, sumber internal memperingatkan bahwa Arena masih dalam tahap pengembangan dan mungkin tidak akan pernah diluncurkan ke publik.

    Keputusan Meta untuk mengembangkan Arena menambah panjang daftar produk-produk yang gagal dari perusahaan tersebut. Mulai dari mata uang kripto yang gagal, membayar selebriti jutaan dolar untuk mengubah mereka menjadi chatbot AI, hingga dunia “metaverse” kartun yang dipenuhi anak-anak berteriak.

    Dalam konteks yang lebih luas, pengembangan Arena oleh Meta menunjukkan bagaimana raksasa teknologi terus berupaya memasuki sektor yang sedang tren, meskipun kontroversial. Dengan popularitas Polymarket yang mencapai triliunan rupiah, potensi pasar aplikasi prediksi memang sangat besar, namun risiko regulasi dan dampak sosialnya juga tidak bisa diabaikan.

    Para pengamat industri menilai bahwa tanpa adanya elemen taruhan uang sungguhan, Arena kemungkinan besar akan gagal menarik minat pengguna. Namun, jika Meta akhirnya mengizinkan taruhan uang asli, perusahaan akan menghadapi tantangan regulasi yang kompleks di berbagai negara, termasuk Indonesia yang melarang keras praktik perjudian.

    Hingga saat ini, Meta belum memberikan pernyataan resmi mengenai pengembangan Arena. Sumber internal menyebutkan bahwa proyek ini masih dalam tahap awal dan bisa berubah atau dibatalkan kapan saja. Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa Meta terus mencari cara untuk tetap relevan di tengah persaingan industri teknologi yang semakin ketat.

    Implikasi dari pengembangan aplikasi prediksi oleh Meta sangat luas. Jika berhasil, Arena bisa menjadi platform baru yang mengubah cara orang berinteraksi dengan berita dan peristiwa terkini. Namun, jika gagal, ini akan menjadi tambahan lain dalam deretan produk Meta yang bermasalah.

    Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini perlu diwaspadai. Meskipun Arena menggunakan sistem poin, potensi untuk beralih ke taruhan uang asli di masa depan tetap ada. Regulator di Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan masuknya platform semacam ini ke pasar domestik.

    Kesimpulannya, langkah Meta mengembangkan Arena menunjukkan bahwa tren aplikasi prediksi sedang menjadi perhatian utama perusahaan teknologi global. Namun, tanpa model bisnis yang jelas dan dengan risiko regulasi yang tinggi, masa depan Arena masih sangat tidak pasti.

  • Apple Naikkan Harga iPad dan Mac Rekondisi, Komponen Lawas Tak Terkait

    Apple Naikkan Harga iPad dan Mac Rekondisi, Komponen Lawas Tak Terkait

    JBNews.id — Apple resmi menaikkan harga untuk sebagian besar produk rekondisi (refurbished) iPad dan Mac yang dijual melalui toko online resmi Certified Refurbished. Kenaikan ini terjadi meskipun unit-unit tersebut masih menggunakan komponen lawas seperti memori, storage, dan logic board original yang seharusnya tidak terdampak oleh krisis harga chip memori global.

    Berdasarkan laporan MacRumors yang dikutip Sabtu (27/6/2026), rata-rata kenaikan harga untuk produk rekondisi mencapai USD 160-180 atau setara Rp 2,8-3,2 juta. Namun, kenaikan harga untuk lini Mac jauh lebih signifikan dibandingkan iPad. Kebijakan ini sejalan dengan kenaikan harga produk baru Apple yang dipicu oleh melonjaknya harga chip memori dan storage akibat kebutuhan pembangunan pusat data AI.

    Kenaikan Harga MacBook Rekondisi Paling Drastis

    Model MacBook Pro 14 inch dengan chip M4 Pro rekondisi mengalami kenaikan dari USD 1.699 (Rp 30,3 juta) menjadi USD 1.779 (Rp 31,7 juta). Varian yang sama dengan layar Nano-texture harganya melonjak dari USD 1.829 (Rp 32,7 juta) menjadi USD 1.909 (Rp 34,1 juta).

    Semakin premium spesifikasi Mac-nya, semakin tinggi pula kenaikan harganya. MacBook Pro 14 inch rekondisi dengan chip M5 naik dari USD 1.359 (Rp 24,46 juta) menjadi USD 1.439 (Rp 25,90 juta). Sementara itu, konfigurasi tertinggi model yang sama meroket dari USD 2.629 (Rp 47,32 juta) menjadi USD 3.309 (Rp 59,56 juta).

    Kenaikan paling ekstrem terjadi pada MacBook Pro 14 inch dengan chip M2 Max. Harganya melonjak dari USD 4.249 (Rp 76,48 juta) menjadi USD 4.839 (Rp 87,10 juta). Kenaikan hampir Rp 10,7 juta ini menjadi yang tertinggi di antara semua produk rekondisi Apple.

    Kebijakan ini membuat harga MacBook rekondisi semakin mendekati harga unit baru. Padahal, komponen internal yang digunakan masih berasal dari generasi sebelumnya. Situasi ini memperkuat tren bahwa Apple menaikkan harga MacBook dan iPad hingga 20 persen di semua lini produk.

    iPad Rekondisi Juga Terdampak, Kenaikan Lebih Konsisten

    Untuk lini iPad, kenaikan harga rekondisi lebih konsisten dengan rata-rata USD 120-150 atau sekitar Rp 2,16-2,70 juta. Model low-end seperti iPad generasi ke-10 edisi Wi-Fi 256GB naik dari USD 339 (Rp 6,10 juta) menjadi USD 409 (Rp 7,36 juta). Sementara iPad mini 6 rekondisi naik dari USD 379 (Rp 6,82 juta) menjadi USD 459 (Rp 8,26 juta).

    Model iPad Pro yang merupakan varian paling premium mengalami kenaikan lebih tinggi, antara USD 230 hingga USD 250 (sekitar Rp 4,14-4,50 juta). Kenaikan ini cukup signifikan mengingat iPad Pro rekondisi sudah dibanderol dengan harga tinggi sebelum kebijakan ini diterapkan.

    Menariknya, sebagian besar unit rekondisi Apple masih menggunakan komponen asli seperti memori, storage, dan logic board yang seharusnya tidak terpengaruh oleh krisis RAM global. Namun, Apple tampaknya sengaja menaikkan harga agar harga iPad dan Mac rekondisi lebih selaras dengan versi barunya. Dengan kata lain, nilai diskon yang ditawarkan tetap sama seperti sebelumnya meskipun harga naik.

    Dampak bagi Konsumen dan Pasar Rekondisi

    Kenaikan harga ini menjadi pukulan bagi konsumen yang selama ini mengandalkan produk rekondisi Apple sebagai alternatif lebih terjangkau. Dengan harga yang kini mendekati unit baru, daya tarik utama produk rekondisi—yaitu diskon signifikan—mulai tergerus.

    Kebijakan ini juga berpotensi mengubah peta pasar laptop dan tablet bekas premium. Konsumen mungkin akan beralih ke produk pesaing atau menunda pembelian hingga harga kembali normal. Namun, belum ada indikasi kapan Apple akan menyesuaikan kembali harga produk rekondisinya.

    Bagi para pengguna setia Apple yang ingin menghemat anggaran, opsi membeli unit baru dengan spesifikasi lebih rendah kini mungkin lebih masuk akal secara finansial dibandingkan membeli unit rekondisi yang harganya melonjak tajam. Apalagi dengan kenaikan yang tidak proporsional antara komponen lawas dan harga jual, nilai ekonomis produk rekondisi Apple patut dipertanyakan.

  • Prancis Terbelah Soal AC Saat Gelombang Panas Ekstrem

    Prancis Terbelah Soal AC Saat Gelombang Panas Ekstrem

    JBNews.id — Prancis kini terbelah dalam perdebatan sengit mengenai apakah warga harus menggunakan pendingin ruangan (AC) untuk melawan gelombang panas brutal yang melanda negara tersebut. Saat suhu memecahkan rekor dan melonjak di atas 40 derajat Celcius minggu ini, warga melakukan segala cara untuk tetap sejuk.

    Tragisnya, puluhan dilaporkan tewas tenggelam di pantai, danau, dan sungai. Warga lainnya berebut membeli kipas angin dan unit AC portabel. Bahkan, kekacauan akibat desak-desakan terekam di sebuah toko elektronik di Chambery, bagian tenggara negara tersebut.

    Prancis jauh lebih tidak siap menghadapi gelombang panas dibandingkan negara lain. Hanya sekitar 25% rumah tangga di sana punya AC, dibandingkan 50% rumah di Spanyol dan Italia, serta 90% di Amerika Serikat. Di Australia angkanya mencapai 63%. Tidak banyak pula sekolah atau rumah sakit di Prancis memiliki AC. Hal ini memicu kekacauan di mana sekolah-sekolah terpaksa ditutup dan perawat mengeluhkan kondisi panas bak neraka.

    People cool off in the Trocadero fountain in front of the Eiffel Tower as temperatures rise in Paris during a heatwave affecting a large part of France, June 23, 2026. REUTERS/Abdul Saboor

    Mengapa Prancis Enggan Menggunakan AC?

    Orang Prancis sejak dahulu memang selalu enggan atau curiga terhadap AC. Pertama, musim panas mereka dulu cukup sejuk sehingga sebagian besar rumah dan ruang publik tidak membutuhkannya. Secara tradisional, masyarakat cukup membuka jendela di malam hari dan menutup kerai pada siang hari untuk menjaga ruangan sejuk.

    Banyak orang Prancis juga percaya perubahan suhu yang tiba-tiba, seperti transisi dari luar ruangan yang panas ke ruang AC, dapat memicu flu, mual, hingga pingsan. Beberapa tahun terakhir, unit AC bahkan ditarik ke ranah politik. AC secara luas dipandang tidak ramah lingkungan, mengeluarkan udara panas ke jalan, dan memakan terlalu banyak listrik, meski sebagian besar energi di Prancis berasal dari nuklir rendah karbon.

    Kondisi ini kontras dengan negara-negara tetangga. Untuk memahami lebih dalam perbedaan kesiapan ini, Anda bisa membaca artikel tentang AC Jarang di Eropa.

    Perdebatan Politik: Sayap Kanan vs Sayap Kiri

    Kubu sayap kanan-lah yang baru-baru ini mendobraknya dan mengadvokasi penggunaan AC secara nasional. Kandidat presiden sayap kanan, Marine Le Pen, menyatakan tak masuk akal membiarkan orang meninggal karena kepanasan. Ia berjanji menerapkan pengadaan AC besar-besaran, dimulai di tempat dengan populasi paling rentan yaitu rumah sakit, panti jompo, dan sekolah.

    Namun, pemimpin sayap kiri ekstrem sekaligus kandidat saingannya, Jean-Luc Melenchon, menolak keras. “Sama sekali tidak. Memasang AC di mana-mana hanya akan memperburuk kerusakan (lingkungan),” sebutnya.

    Surat kabar progresif L’Humanite juga berkomentar. Mereka menerbitkan opini bahwa AC harus menjadi pilihan terakhir dan menyebutnya solusi sayap kanan. Ironisnya, netizen menemukan fakta bahwa gedung mereka ternyata dilengkapi AC.

    Senator Partai Komunis Prancis, Fabien Gay, yang juga direktur surat kabar tersebut, dicecar di radio RMC. “AC adalah milik sayap kanan. Komunisme percaya pada kemajuan teknologi? Bisakah Anda mengonfirmasi tempat Anda memiliki AC?” tanya pembawa acara.

    “Ya, benar, kami menyewa, kami penyewa,” jawab Gay. Ia beralasan L’Humanite dan penyewa lain di gedung tersebut dapat menikmati AC karena baru saja dipasang sebagai bagian dari renovasi. “Lalu mengapa sebagian besar anak-anak kita berada di sekolah yang kepanasan saat ini? Mengapa para lansia dirawat di rumah sakit yang sangat panas?”

    “Tentu saja lebih baik memberikan AC untuk hal-hal tersebut. Ya, kita memang tertinggal dalam hal pendingin ruangan dan ini harus segera diatasi,” jawab Gay pada akhirnya.

    Perdebatan ini semakin relevan dengan situasi global saat ini. Sementara itu, perkembangan teknologi lain juga terus berlanjut, seperti Lem Cair Pengganti Jahitan yang dikembangkan oleh Tissium.

    Implikasinya jelas: Prancis menghadapi dilema antara kebutuhan mendesak akan pendingin ruangan untuk menyelamatkan jiwa dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Perdebatan ini kemungkinan akan menjadi isu sentral dalam pemilihan presiden mendatang, dengan implikasi langsung bagi jutaan warga yang rentan terhadap panas ekstrem.

  • Panas Data Center di Inggris Bikin Warga Sekitar Kesakitan

    Panas Data Center di Inggris Bikin Warga Sekitar Kesakitan

    JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa diperparah oleh keberadaan pusat data terbesar di benua tersebut yang berlokasi di Slough, Inggris. Warga sekitar melaporkan sensasi panas yang membakar kulit akibat pembuangan panas dari fasilitas tersebut, dengan suhu mencapai hampir 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 derajat Celcius di area sekitarnya.

    Berdasarkan laporan The Guardian yang dikutip JBNews.id, data stasiun cuaca mengonfirmasi bahwa suhu di dekat fasilitas tersebut beberapa derajat lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya selama sepekan terakhir. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan warga yang tinggal di dekat pusat data tersebut.

    Pusat data di Slough, yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Bandara Heathrow London, menyediakan daya komputasi bagi beberapa perusahaan teknologi terbesar dunia, termasuk Amazon, Google, dan Microsoft. Untuk menjaga suhu server tetap dingin, fasilitas ini membutuhkan peralatan pendingin yang sangat boros energi, yang kemudian membuang panas ke lingkungan sekitar.

    “Slough hampir seperti sebuah eksperimen tersendiri dalam arti bahwa investasi baru di pusat data menghidupkan generasi baru pusat data,” ujar Andrea Marinoni, associate professor dari Cambridge yang turut meneliti fenomena ini, kepada The Guardian.

    Penelitian mengenai dampak pusat data terhadap lingkungan sekitarnya masih dalam tahap awal. Sebuah makalah yang belum melalui proses peer-review oleh peneliti dari Cambridge menemukan bahwa pusat data dapat meningkatkan suhu hingga 16 derajat Fahrenheit (sekitar 8,9 derajat Celcius) di area terdekatnya, dengan rata-rata peningkatan mencapai 3,6 derajat Fahrenheit (sekitar 2 derajat Celcius).

    Fenomena ini disebut sebagai “efek pulau panas data” atau data heat island effect, yang mirip dengan efek pulau panas perkotaan di mana area terbangun mengalami suhu lebih tinggi akibat penggantian vegetasi alami dengan material penyerap panas seperti aspal dan beton. Pusat data yang mengeluarkan panas dapat memperburuk kondisi ini.

    “Hasil kami menunjukkan bahwa efek pulau panas data dapat memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap komunitas dan kesejahteraan regional di masa depan, sehingga menjadi bagian dari percakapan seputar AI yang berkelanjutan secara lingkungan di seluruh dunia,” tulis para peneliti dalam makalah mereka, memperkirakan lebih dari 340 juta orang bisa terdampak.

    Dalam konteks gelombang panas musim panas yang memecahkan rekor, fenomena ini menjadi pahit bagi publik yang sudah sangat waspada terhadap kemunculan pusat data di lingkungan mereka. Kritik terhadap tren ini semakin meningkat, dengan warga menyebutkan lonjakan harga listrik, tekanan air rendah, dan kebisingan sebagai alasan penolakan.

    Pemerintah sebelumnya bahkan pernah menyarankan penggunaan panas berlebih dari pusat data untuk memanaskan ribuan rumah di musim dingin. Namun, dalam situasi gelombang panas ekstrem, solusi tersebut justru menjadi bumerang.

    Marinoni menambahkan bahwa apa yang diukur saat ini adalah generasi pertama pusat data yang dibangun dalam 20 tahun terakhir. “Slough adalah konteks yang berbeda untuk peningkatan skala pusat data, dan ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

    Industri teknologi saat ini menginvestasikan ratusan miliar dolar untuk pembangunan pusat data baru di seluruh dunia. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang dampak lingkungan jangka panjang, terutama di tengah krisis iklim yang semakin parah.

    Laporan PBB sebelumnya memperkirakan bahwa AI akan mengonsumsi air sebanyak satu miliar orang pada tahun 2030, menunjukkan betapa besarnya sumber daya yang dibutuhkan oleh infrastruktur digital modern.

    Fenomena di Slough ini menjadi peringatan dini bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang juga mulai membangun pusat data dalam skala besar. Dampak terhadap komunitas lokal harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan pembangunan infrastruktur digital.

    Para ahli memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang tepat, pembangunan pusat data dapat menciptakan ketidakadilan lingkungan di mana komunitas sekitar harus menanggung beban panas berlebih sementara manfaatnya dinikmati oleh perusahaan teknologi besar.

    Warga Slough menggambarkan pengalaman mereka tinggal di dekat pusat data sebagai sesuatu yang “mencubit tubuh dan membakar kulit,” menunjukkan betapa seriusnya dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

    Sementara itu, perusahaan teknologi seperti Amazon, Google, dan Microsoft terus memperluas infrastruktur pusat data mereka untuk memenuhi permintaan komputasi awan dan AI yang terus meningkat. Namun, pendekatan saat ini dalam hal pendinginan dan pembuangan panas masih jauh dari sempurna.

    Dalam konteks ini, desain data center yang lebih efisien menjadi krusial. Inovasi seperti yang dipamerkan Nvidia dengan konsumsi air nyaris nol bisa menjadi solusi untuk mengurangi dampak lingkungan.

    Di sisi lain, kekhawatiran terhadap dampak pusat data juga memicu gerakan internal di perusahaan teknologi. Amazon misalnya, dilaporkan menginvestigasi karyawan yang mendukung moratorium pembangunan pusat data, menunjukkan sensitivitas isu ini di kalangan internal perusahaan.

    Fenomena efek pulau panas data ini menjadi pengingat bahwa revolusi digital memiliki konsekuensi fisik yang nyata. Semakin besar ketergantungan kita pada komputasi awan dan AI, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi dalam mengelola dampak lingkungannya.

    Bagi warga yang tinggal di sekitar pusat data, seperti di Slough, kenyataan pahit ini harus mereka hadapi setiap hari. Suhu yang lebih tinggi, tagihan listrik yang membengkak, dan kualitas hidup yang menurun menjadi harga yang harus dibayar untuk infrastruktur digital modern.

    Para peneliti Cambridge menekankan bahwa temuan mereka hanyalah puncak gunung es. Dengan investasi triliunan dolar yang mengalir ke sektor ini, dampak sebenarnya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

    “Yang kami ukur adalah apa yang bisa kami sebut sebagai generasi pertama pusat data yang diimplementasikan dalam 20 tahun terakhir,” kata Marinoni. “Slough adalah konteks yang berbeda untuk peningkatan skala pusat data, dan ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

    Implikasi dari temuan ini sangat jelas: pembangunan pusat data di masa depan harus mempertimbangkan dampak termal terhadap komunitas sekitar. Tanpa perencanaan yang matang, kita berisiko menciptakan kantong-kantong panas perkotaan baru yang merugikan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

    Bagi pembaca di Jawa Barat dan Banten, fenomena ini relevan mengingat semakin banyaknya investasi pusat data di wilayah tersebut. Regulasi yang ketat dan perencanaan tata ruang yang baik menjadi kunci untuk menghindari masalah serupa di masa depan.

  • Infrastruktur NASA Picu Kekhawatiran Misi Artemis ke Bulan

    Infrastruktur NASA Picu Kekhawatiran Misi Artemis ke Bulan

    JBNews.id — Kantor Inspektur Jenderal (OIG) NASA melaporkan bahwa infrastruktur peluncuran badan antariksa tersebut sudah usang dan tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat, mengancam jadwal misi Artemis 4 yang direncanakan mendaratkan astronot di Bulan pada 2028.

    Temuan ini muncul di tengah persiapan SpaceX untuk meluncurkan roksat Starship guna mendukung program Artemis. Menurut laporan OIG, pertumbuhan jumlah peluncuran komersial telah memberikan tekanan besar pada landasan peluncuran di Kennedy Space Center, Florida, dan Wallops Flight Facility, Virginia.

    “Infrastruktur peluncuran NASA sudah usang dan kurang kapasitas untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dari badan antariksa dan mitra pemerintah maupun komersial,” demikian bunyi laporan OIG yang dikutip dari Futurism.

    Permintaan Peluncuran Super Berat Meningkat

    Laporan tersebut menyoroti bahwa “permintaan untuk kendaraan peluncur super berat” mendorong kebutuhan akan landasan peluncuran baru yang dapat mengakomodasi kendaraan tersebut. Namun, lokasi untuk landasan baru sangat terbatas dan membutuhkan waktu serta sumber daya yang ekstensif untuk dikembangkan.

    Selain itu, distribusi tenaga listrik di fasilitas NASA “digunakan di luar umur desainnya dan perlu ditingkatkan.” Infrastruktur untuk komponen bahan bakar, seperti nitrogen dan helium, juga berpotensi “menyebabkan penundaan.” Bahkan, jalan-jalan di sekitar Kennedy “tidak dirancang untuk menampung volume, frekuensi, dan berat operasi transportasi berat modern.”

    Anggaran yang menurun untuk pemeliharaan dan konstruksi semakin memperparah kondisi infrastruktur yang sudah tertinggal ini.

    Untuk misi Artemis 4, SpaceX membutuhkan setidaknya 15 peluncuran Starship dalam waktu delapan hari untuk mengisi depot bahan bakar di orbit rendah Bumi. Bahan bakar itu kemudian harus ditransfer ke varian Human Landing System (HLS) Starship yang akan membawa astronot turun ke permukaan Bulan.

    Ini adalah tantangan besar mengingat SpaceX belum pernah meluncurkan dan mendaratkan Starship dengan selamat secara penuh. Perusahaan Elon Musk itu baru mendapat persetujuan dari Federal Aviation Administration (FAA) untuk meluncurkan Starship dari kompleks 39A, tempat misi Apollo dan Space Shuttle diluncurkan sejak 1960-an.

    Persaingan dengan Blue Origin

    Kompleksitas bertambah dengan kehadiran Blue Origin milik Jeff Bezos, yang juga terpilih oleh NASA untuk mengembangkan pesawat ruang angkasa Human Landing System yang bersaing. Blue Origin membutuhkan banyak ruang dan kapasitas untuk meluncurkan roksat New Glenn yang kuat, semakin mempersulit situasi.

    OIG mencatat dalam laporannya bahwa NASA dan mitra komersialnya perlu melakukan perubahan besar untuk memastikan program Artemis tetap berjalan sesuai rencana. Hal ini menjadi kekhawatiran serius mengingat pengembangan New Glenn dan Starship sudah mengalami banyak penundaan dan kegagalan uji coba peluncuran.

    Kondisi infrastruktur yang sudah menua ini juga berdampak pada kemampuan NASA untuk mendukung misi-misi sains lainnya. Sebagai contoh, misi penyelamatan Teleskop Swift yang hampir jatuh menunjukkan betapa rapuhnya sistem pendukung misi antariksa saat ini.

    Implikasi untuk Masa Depan Eksplorasi Bulan

    Laporan OIG ini memberikan gambaran suram tentang kesiapan infrastruktur NASA dalam mendukung ambisi eksplorasi Bulan jangka panjang. Tanpa perbaikan signifikan pada landasan peluncuran, distribusi listrik, dan infrastruktur pendukung lainnya, jadwal Artemis 4 pada 2028 terancam mengalami penundaan lebih lanjut.

    Para pengamat industri antariksa menilai bahwa masalah infrastruktur ini bisa menjadi hambatan yang lebih besar daripada tantangan teknis pengembangan roksat itu sendiri. “Kita berbicara tentang puluhan miliar dolar untuk program Artemis, tetapi infrastruktur dasarnya seperti jalan dan jaringan listrik justru diabaikan,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.

    SpaceX berencana memperluas kompleks 39A secara signifikan untuk roksat Starship-nya, termasuk penambahan struktur-struktur penting di atas landasan peluncuran seperti menara dan tangki bahan bakar. Namun, perluasan ini membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.

    Sementara itu, prestasi Perseverance yang menyelesaikan maraton di Mars menunjukkan bahwa NASA masih mampu mencapai hal-hal besar, namun infrastruktur di Bumi justru menjadi titik lemah yang perlu segera diatasi.

    Bagi pembaca, artinya adalah bahwa eksplorasi Bulan yang ambisius ini mungkin akan memakan waktu lebih lama dan biaya lebih besar dari yang diperkirakan. Keterbatasan infrastruktur menjadi pengingat bahwa bahkan badan antariksa terbesar di dunia pun menghadapi tantangan logistik yang nyata di Bumi.

    Dampak dari penghancuran ISS yang direncanakan NASA juga akan menambah beban pada infrastruktur yang sudah terbatas ini, karena sumber daya harus dialokasikan untuk berbagai proyek besar secara bersamaan.

    Pada akhirnya, keberhasilan misi Artemis untuk mengembalikan manusia ke Bulan tidak hanya bergantung pada teknologi roksat canggih, tetapi juga pada fondasi infrastruktur yang kokoh di Bumi. Tanpa perbaikan signifikan, ambisi untuk kembali ke Bulan bisa tertunda lebih lama dari yang dibayangkan.

    Konsep awal varian kargo sistem pendaratan manusia di Bulan dari penyedia NASA, SpaceX

  • Elon Musk Resmikan Starmind, Konstelasi Pusat Data AI Raksasa

    Elon Musk Resmikan Starmind, Konstelasi Pusat Data AI Raksasa

    JBNews.id — Elon Musk dan SpaceX secara resmi mengumumkan nama proyek konstelasi satelit pusat data kecerdasan buatan (AI) terbesarnya: Starmind. Proyek ambisius ini dikonfirmasi langsung oleh Musk melalui unggahan di platform X, merespons temuan publik atas pendaftaran merek dagang ‘Starmind’ yang diajukan oleh xAI, anak perusahaan SpaceX di bidang AI.

    Pemilihan nama Starmind melanjutkan tradisi penamaan proyek SpaceX yang terinspirasi dari bintang. Beberapa proyek ambisius lainnya termasuk Starship, roket generasi terbaru yang merupakan yang terbesar dan paling bertenaga; Starbase, fasilitas utama di South Texas yang pada Mei 2025 dikukuhkan sebagai kota; serta Starlink, konstelasi satelit internet di orbit rendah Bumi yang saat ini menjadi yang terbesar dengan lebih dari 10.700 unit aktif.

    Proyek Starmind disebut-sebut sebagai yang paling ambisius dari seluruh lini proyek SpaceX. Jika berjalan sesuai rencana, konstelasi ini akan berukuran 100 kali lebih besar dari konstelasi Starlink saat ini. Langkah ini didorong oleh kebutuhan mendesak akan pusat data AI yang lebih efisien dan ramah lingkungan, mengingat berbagai masalah lingkungan yang dihadapi di Bumi seperti pasokan air, listrik, dan limbah yang mengganggu warga sekitar fasilitas.

    Pada bulan Januari lalu, SpaceX telah mengajukan permohonan kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) untuk meluncurkan konstelasi berisi satu juta satelit. Satelit-satelit ini akan menjadi fondasi pusat data AI di orbit, sebuah lompatan besar dalam teknologi luar angkasa.

    Musk kemudian mengklaim bahwa pusat data di luar angkasa jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan pusat data di darat. Keunggulan utamanya adalah pemanfaatan tenaga surya yang hampir konstan dan biaya operasional atau perawatan yang rendah.

    “Dengan memanfaatkan langsung energi matahari yang hampir konstan, dengan biaya operasional atau perawatan yang rendah, satelit-satelit ini akan mengubah kemampuan kita untuk meningkatkan skala komputasi,” tulis Musk dalam update tentang proyek AI SpaceX, seperti dikutip dari Space.com, Jumat (26/6/2026).

    Pernyataan Musk ini menegaskan bahwa Starmind bukan sekadar proyek satelit biasa, melainkan fondasi untuk era komputasi baru yang lebih berkelanjutan. Visi jangka panjangnya bahkan melampaui Bumi, membayangkan peradaban yang mampu memanfaatkan kekuatan penuh matahari.

    “Meluncurkan konstelasi satu juta satelit yang beroperasi sebagai pusat data orbital adalah langkah pertama menuju peradaban tingkat Kardashev II, peradaban yang dapat memanfaatkan kekuatan penuh matahari, sekaligus mendukung aplikasi berbasis AI untuk miliaran orang saat ini dan memastikan masa depan multiplanet umat manusia,” sambungnya.

    Dampak dan Implikasi Starmind

    Proyek Starmind membawa implikasi signifikan bagi industri teknologi dan lingkungan global. Dengan memindahkan pusat data ke orbit, SpaceX berpotensi mengatasi dua masalah besar sekaligus: keterbatasan energi terbarukan di darat dan dampak lingkungan dari pusat data raksasa.

    Jika berhasil, Starmind akan mengubah lanskap komputasi AI. Akses ke daya komputasi yang hampir tak terbatas dari orbit dapat mempercepat pengembangan aplikasi AI yang lebih canggih, mulai dari penelitian ilmiah hingga solusi bisnis. Sejumlah perusahaan AI, termasuk SpaceX, berlomba-lomba membangun pusat data AI di luar angkasa karena banyaknya masalah lingkungan yang dihadapi di Bumi.

    Namun, proyek ini juga menghadapi tantangan regulasi dan teknis yang besar. Izin dari FCC untuk meluncurkan satu juta satelit hanyalah langkah awal. Manajemen lalu lintas luar angkasa, mitigasi sampah antariksa, dan biaya peluncuran yang masif menjadi rintangan yang harus diatasi. Selain itu, kekhawatiran tentang krisis komponen dan biaya perangkat keras juga bisa menjadi faktor penghambat.

    Bagi para pengamat industri, langkah ini merupakan kelanjutan dari ambisi Musk untuk mengintegrasikan teknologi AI dan luar angkasa. xAI, yang mengajukan merek dagang Starmind, menjadi jembatan antara kemampuan komputasi AI dan infrastruktur orbital SpaceX.

    Ke depannya, keberhasilan Starmind akan bergantung pada kemampuan SpaceX untuk membangun dan mengoperasikan konstelasi satelit raksasa ini secara efisien. Jika visi Musk terwujud, Starmind tidak hanya akan menjadi pusat data orbital terbesar, tetapi juga fondasi bagi peradaban manusia yang lebih maju dan berkelanjutan di luar Bumi.

    Bagi pembaca di Jawa Barat dan Banten, proyek ini mungkin terasa jauh. Namun, dampaknya pada harga dan ketersediaan layanan internet serta komputasi awan di Indonesia bisa sangat terasa dalam beberapa tahun ke depan, terutama jika teknologi ini berhasil dikomersialkan secara global.

  • GTA 6 Diprediksi Raup USD 1 Miliar dalam Satu Jam Penjualan

    GTA 6 Diprediksi Raup USD 1 Miliar dalam Satu Jam Penjualan

    JBNews.id — Grand Theft Auto (GTA) 6 diprediksi akan mencetak rekor penjualan tercepat dalam sejarah industri game. Para analis meyakini game buatan Rockstar Games ini mampu menghasilkan pendapatan USD 1 miliar hanya dalam waktu satu jam sejak peluncuran perdana pada November 2026.

    Prediksi ini muncul setelah GTA 6 resmi membuka pre-order di sejumlah negara. Dikutip dari News.com Australia, Jumat (26/6/2026), antusiasme global terhadap sekuel yang telah ditunggu selama 13 tahun ini disebut melampaui ekspektasi. Founder Insider Gaming, Tom Henderson, menyatakan bahwa permintaan pembelian akan memecahkan rekor penjualan.

    “GTA V melakukannya dalam 3 hari, yang ini (GTA 6) akan melakukannya dalam waktu sejam. Gampang banget,” kata Henderson.

    Lonjakan trafik pada hari pertama penjualan disebut sebagai fenomena yang harus diantisipasi oleh platform distribusi digital. Henderson memperkirakan akan terjadi 12-14 juta transaksi pembelian dalam rentang waktu yang sangat singkat. Angka ini setara dengan separuh total penjualan game The Last of Us sepanjang masa.

    Bank investasi Piper Sandler memberikan proyeksi yang lebih rinci. Lembaga tersebut memprediksi GTA 6 akan laku sebanyak 46 juta kopi dalam 24 jam pertama. Dari volume tersebut, pendapatan yang dihasilkan diperkirakan mencapai USD 3 miliar. Angka ini akan menjadi rekor penjualan tidak hanya di industri game, tetapi juga di sektor hiburan secara keseluruhan, termasuk televisi dan musik.

    Fenomena Global yang Dinanti 13 Tahun

    GTA telah menjadi fenomena dalam industri game selama tiga dekade terakhir. Gameplay yang memberikan kebebasan penuh kepada pemain—mulai dari mencuri mobil, membuat kekacauan, hingga sekadar menjelajahi sudut kota sambil mendengarkan musik—telah membuat jutaan penggemar setia.

    Grand Theft Auto V yang dirilis pada tahun 2013 menjadi titik awal penantian panjang para penggemar. Setelah 13 tahun, GTA 6 kini menjelma menjadi semacam event peluncuran global yang ditunggu-tunggu, setara dengan perilisan produk gadget ternama. Popularitas game ini bahkan telah melahirkan banyak meme dan bahan lelucon di seluruh dunia, menandakan bahwa animo terhadap game ini tetap tinggi dan konsisten.

    Dampak Finansial bagi Take-Two Interactive

    Keberhasilan GTA 6 diproyeksikan akan memberikan dampak finansial yang signifikan bagi induk perusahaan Rockstar Games, Take-Two Interactive. Dengan biaya produksi yang diperkirakan mencapai USD 1-1,5 miliar, pendapatan dari penjualan hari pertama saja sudah cukup untuk menutup seluruh biaya produksi dan menghasilkan keuntungan dua kali lipat.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa Traffic Internet global akan menghadapi tekanan luar biasa saat jutaan pemain di seluruh dunia secara bersamaan mengunduh game ini. Infrastruktur digital pun harus siap menghadapi lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Para analis membandingkan fenomena ini dengan film-film blokbuster Hollywood. Namun, kecepatan GTA 6 dalam menghasilkan pendapatan diyakini jauh melampaui film-film terlaris sekalipun. Jika film membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk mencapai pendapatan USD 1 miliar, GTA 6 diprediksi mampu melakukannya dalam hitungan jam.

    Dalam konteks industri hiburan yang lebih luas, rekor ini juga sejalan dengan prediksi bahwa Robot Humanoid akan mendominasi berbagai sektor pada masa depan. Namun untuk saat ini, GTA 6 membuktikan bahwa industri game tetap menjadi salah satu sektor hiburan dengan pertumbuhan tercepat.

    Implikasi bagi Industri Game Global

    Keberhasilan GTA 6 diprediksi akan menjadi tolok ukur baru bagi industri game global. Rekor penjualan yang diperkirakan akan tercipta menunjukkan bahwa pasar game masih memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar. Fenomena ini juga menegaskan bahwa model bisnis pre-order dan peluncuran digital telah menjadi strategi yang sangat efektif.

    Bagi para penggemar di Indonesia, momen ini menjadi sangat penting mengingat Rockstar Games telah merilis harga resmi GTA 6 edisi standar sebesar Rp 1,1 juta. Angka ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia tetap menjadi salah satu target utama bagi pengembang game global.

    Dengan segala proyeksi dan antisipasi yang ada, GTA 6 dipastikan akan menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah industri hiburan. Para pemain dan analis sama-sama menanti apakah prediksi tersebut akan terwujud saat game ini resmi diluncurkan pada November 2026.

  • Openai Tunda Rilis GPT-5.6 Atas Permintaan Gedung Putih

    Openai Tunda Rilis GPT-5.6 Atas Permintaan Gedung Putih

    JBNews.id — OpenAI menunda peluncuran model AI generasi terbarunya, GPT-5.6, atas permintaan pemerintahan Presiden Trump. Perusahaan kecerdasan buatan itu menyatakan keyakinannya bahwa penundaan ini hanya bersifat sementara dan berharap dapat merilis model tersebut secara luas dalam beberapa pekan mendatang.

    Keputusan ini diambil setelah Gedung Putih meminta OpenAI untuk membatasi ketersediaan model AI tercanggihnya. Langkah tersebut menciptakan ketidakpastian bagi laboratorium AI Amerika Serikat lainnya, terutama setelah insiden serupa terjadi pada Anthropic dua pekan sebelumnya.

    Dalam sebuah unggahan blog, OpenAI menuliskan ketidaksetujuannya terhadap proses ini. “Kami tidak percaya proses akses pemerintah seperti ini harus menjadi kebijakan jangka panjang. Ini menghalangi alat terbaik dari pengguna, pengembang, perusahaan, pembela siber, dan mitra global yang membutuhkannya,” tulis perusahaan tersebut.

    OpenAI menegaskan langkah ini diambil sebagai jalan terkuat menuju ketersediaan yang lebih luas dalam waktu dekat, sambil bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan kerangka kerja Eksekutif Order siber dan proses yang dapat diulang untuk rilis model di masa depan.

    Latar Belakang Kebijakan

    Awal bulan ini, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan mengatasi kekhawatiran keamanan siber model AI baru yang kuat. Perintah tersebut menyatakan bahwa Gedung Putih akan menciptakan “proses sukarela” bagi laboratorium AI untuk berbagi model mereka dengan pemerintah 30 hari sebelum rilis yang lebih luas.

    Mandat tersebut mencakup pengecualian, yang menyatakan bahwa pemerintah AS tidak akan mengubah proses sukarelanya menjadi rezim lisensi de facto untuk rilis model AI. Namun, dalam briefing hari Jumat, eksekutif OpenAI mengatakan kerangka kerja sukarela tersebut belum ada.

    Akibatnya, laboratorium AI terdepan berada dalam periode interim yang aneh, di mana bekerja sama dengan pemerintah AS dalam peluncuran model AI tampaknya tidak sepenuhnya sukarela. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa Anthropic masih mengalami perselisihan yang belum terselesaikan dengan Gedung Putih.

    Dampak pada Industri AI

    Gedung Putih meminta OpenAI untuk menunda rilis model AI hanya dua pekan setelah mengirimkan arahan kontrol ekspor ke Anthropic. Arahan tersebut mendorong Anthropic untuk mengambil model AI tercanggihnya dari semua pelanggan. Perselisihan Anthropic dengan Gedung Putih masih belum terselesaikan, dan beberapa karyawan perusahaan itu sendiri masih dilarang menggunakan model AI tercanggih mereka.

    Selama dua tahun terakhir, pemerintahan Trump berupaya membersihkan regulasi dan hambatan birokrasi yang dapat menghambat inovasi AI Amerika dan berpotensi merugikan daya saing negara dengan China. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Gedung Putih semakin khawatir tentang kemampuan keamanan siber model AI baru dan berusaha mengatasi masalah tersebut.

    Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada WIRED bahwa pemerintahan terus berkolaborasi dengan laboratorium AI terdepan. OpenAI berencana memperluas kelompok pelanggan yang dapat berbagi GPT-5.6 pada pekan depan, termasuk beberapa mitra internasional.

    Eksekutif OpenAI mengatakan bahwa mereka tidak dapat membagikan detail tentang bagaimana tepatnya Gedung Putih menyetujui pelanggan ini—perusahaan hanya mengirimkan daftar ke pemerintah AS dan kemudian mendapat umpan balik.

    Varian Model GPT-5.6

    OpenAI mengatakan model AI GPT-5.6 akan hadir dalam tiga varian: Sol, versi model yang paling mampu; Terra, varian tingkat menengah; dan Luna, versi cepat dan terjangkau. Perusahaan menyebut GPT-5.6 Sol adalah model paling mampu mereka dalam tolok ukur yang menguji kemampuan keamanan siber, biologi, dan agen.

    Seiring dengan kemampuan baru ini, OpenAI mengatakan telah memiliki “lapisan pengaman berlapis” yang bertujuan menghentikan aktor jahat menggunakan model AI untuk serangan siber, di antara perilaku berbahaya lainnya.

    Perkembangan ini terjadi di tengah berbagai dinamika industri yang menarik. Seperti diberitakan sebelumnya, Amazon Hentikan Film OpenAI sementara Google menggelontorkan investasi besar ke A24. Di sisi lain, OpenAI Luncurkan Patch the Planet untuk meningkatkan keamanan open source.

    Ketegangan antara pemerintah AS dan laboratorium AI terdepan menciptakan preseden baru dalam regulasi teknologi. Bagi pelaku industri dan pengguna, situasi ini berarti akses ke model AI tercanggih akan semakin terkontrol dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada keputusan perusahaan pengembang.

  • Asteroid Raksasa 1997 NC1 Melintas 27 Juni 2026

    Asteroid Raksasa 1997 NC1 Melintas 27 Juni 2026

    JBNews.id — Sebuah asteroid raksasa berukuran lebih besar dari gedung pencakar langit akan melintas dekat Bumi pada Sabtu, 27 Juni 2026. Fenomena langit ini menjadi momen langka karena asteroid dengan diameter antara 700 meter hingga 1,6 kilometer tersebut tidak akan mendekati Bumi lagi hingga tahun 2133 mendatang.

    Berdasarkan data dari Badan Antariksa Eropa (ESA), jarak terdekat asteroid yang diberi kode 1997 NC1 ini mencapai 2,56 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut setara dengan 6,6 kali lipat jarak rata-rata Bumi ke Bulan. Meski tergolong dekat secara astronomis, asteroid ini tidak menimbulkan ancaman bagi planet kita.

    Waktu puncak pendekatan terdekat terjadi pada pukul 11:14 UTC atau sekitar pukul 18.14 WIB. Momen ini menjadi perhatian para astronom amatir dan pengamat langit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Meski demikian, pengamatan terbaik sangat bergantung pada lokasi geografis pengamat.

    Untuk wilayah Eropa dan Amerika Serikat, waktu optimal mengamati asteroid adalah pada malam 26 hingga 27 Juni, terutama menjelang subuh. Sementara itu, Argentina dan kawasan Cone Selatan bisa menikmati pemandangan terbaik pada malam 27 hingga 28 Juni, setelah asteroid bergerak menuju langit selatan. Bagi pengamat di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, peluang terbaik juga terbuka pada malam-malam tersebut, meskipun posisi asteroid perlu dilacak secara saksama.

    Penampakan dan Peralatan yang Dibutuhkan

    Meskipun ukurannya sangat besar, asteroid 1997 NC1 tidak akan terlihat dengan mata telanjang. ESA memperkirakan kecerahannya hanya mencapai magnitude 10, setara dengan kecerahan planet Neptunus. Artinya, objek ini 40 kali lebih redup dibandingkan bintang paling redup yang bisa dibedakan oleh mata manusia. Faktor lain yang menyulitkan adalah posisi Bulan yang hampir purnama, sehingga mengurangi kontras langit malam.

    Melalui teleskop atau teropong bintang astronomi, asteroid akan tampak sebagai titik cahaya kecil yang bergerak lambat di antara bintang-bintang. Pergerakannya sekitar 40 detik busur per menit, cukup untuk menyadari pergerakan objek jika diamati selama beberapa menit.

    Para astronom merekomendasikan penggunaan teleskop komersial dengan bukaan minimal 100 milimeter (4 inci). Namun, teleskop dengan bukaan 150 hingga 200 milimeter akan memberikan pengalaman pengamatan yang jauh lebih nyaman. Alternatif lain, teropong bintang astronomi 15 x 70 atau 20 x 80 juga bisa digunakan, sebaiknya dipasang pada tripod dan dari lokasi yang bebas polusi cahaya.

    Pada saat pendekatan terdekat, asteroid akan berada di dekat rasi bintang Ophiuchus dan Serpens Cauda, di selatan bintang terang Vega. Aplikasi astronomi seperti Stellarium, Sky Tonight, atau SkySafari dapat membantu menemukan posisi tepatnya dengan mencari kata kunci “1997 NC1”.

    Cara Alternatif Menyaksikan Fenomena

    Bagi yang terkendala cuaca mendung atau tidak memiliki teleskop, Virtual Telescope Project menyediakan siaran langsung (livestream) pada 26 dan 27 Juni. Siaran ini akan melacak pergerakan asteroid secara real-time, sehingga siapa pun bisa menyaksikan fenomena langka ini dari rumah.

    Asteroid tidak akan langsung menghilang setelah pendekatan terdekat. Objek ini masih akan terlihat selama beberapa hari, meskipun kecerahannya berangsur menurun dan posisinya di langit terus bergeser. Jika tidak bisa mengamati pada malam pertama, masih ada kesempatan di malam-malam berikutnya, meskipun kondisi akan kurang menguntungkan bagi pengamat di belahan utara.

    Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika tata surya yang terus bergerak. Dalam konteks yang lebih luas, pemantauan objek dekat Bumi seperti asteroid 1997 NC1 menjadi penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kesiapsiagaan. Sementara itu, berita tentang PHK Besar-besaran di Xbox menunjukkan bahwa perhatian publik juga tertuju pada isu-isu industri teknologi lainnya.

    Bagi para penggemar astronomi di Indonesia, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk menguji peralatan dan kemampuan observasi. Dengan persiapan yang matang dan lokasi pengamatan yang ideal, asteroid raksasa ini bisa menjadi objek langit yang menarik untuk diamati.