Blog

  • Kebocoran Data LastPass dan Ancaman Siber Global Terbaru

    Kebocoran Data LastPass dan Ancaman Siber Global Terbaru

    JBNews.id — LastPass kembali mengalami insiden keamanan setelah mitra bisnisnya, Klue, diretas. Perusahaan manajemen kata sandi itu mengonfirmasi kebocoran data pelanggan yang mencakup nama, nomor telepon, alamat email, alamat fisik, dan data terkait penjualan. Insiden ini menjadi tambahan terbaru dalam daftar panjang pelanggaran data signifikan yang menimpa LastPass selama bertahun-tahun.

    Serangan tersebut berawal dari peretasan terhadap Klue, sebuah perusahaan intelijen bisnis berbasis kecerdasan buatan. Penyerang berhasil mengompromikan token akses milik Klue, termasuk yang digunakan oleh LastPass, dan kemudian memanfaatkannya untuk mengambil data dari platform Salesforce serta sistem terintegrasi lainnya. LastPass menegaskan bahwa situasi ini bukanlah pelanggaran terhadap infrastruktur internal mereka dan tidak memengaruhi brankas kata sandi pengguna.

    Dalam pemberitahuan resmi kepada pelanggan, LastPass menuliskan, “Kami merekomendasikan agar pelanggan tetap waspada terhadap potensi serangan phishing atau upaya rekayasa sosial yang dapat memanfaatkan detail kontak yang terekspos. Selalu berhati-hati terhadap komunikasi yang tidak diminta, termasuk email, panggilan telepon, atau permintaan informasi sensitif.”

    Operasi Internasional Lumpuhkan Infostealer

    Di sisi lain, koalisi internasional yang melibatkan Microsoft dan Europol mengumumkan keberhasilan mereka dalam mengganggu infrastruktur infostealer Amadey dan StealC pada Rabu lalu. Kedua malware ini merupakan komponen sentral dalam ekosistem kejahatan siber global. Tindakan ini merupakan bagian dari Operasi Endgame, yang menargetkan platform dan alat yang memfasilitasi ransomware dan kejahatan siber lainnya.

    Operasi tersebut melibatkan identifikasi, pemetaan, dan penyitaan infrastruktur malware, termasuk tindakan terhadap 326 server dan 142 domain. Dalam operasi ini, aparat berhasil mengidentifikasi sekitar 47 juta dolar AS dalam bentuk mata uang kripto yang dicuri dan memulihkan hingga 27 juta kredensial akses yang dicuri. Microsoft menekankan bahwa tindakan ini dimungkinkan oleh teknik inovatif termasuk analisis berbasis AI yang menunjukkan bahwa Amadey dan StealC menggunakan infrastruktur backend yang sama dan dapat ditargetkan bersama-sama.

    Ancaman malware seperti infostealer semakin canggih dan memerlukan kewaspadaan tinggi dari pengguna. Untuk melindungi perangkat Anda, simak panduan tentang 5 Langkah Atasi Malware yang bisa diterapkan sehari-hari.

    Australia Temukan Hacker Negara di Infrastruktur Kritis

    Badan Keamanan dan Intelijen Australia (ASIO) mengungkapkan temuan mengkhawatirkan terkait keamanan siber nasional. Organisasi tersebut menyatakan bahwa mereka menemukan aktor negara bangsa telah menyusup ke jaringan penyedia infrastruktur kritis Australia dan bersiap untuk melakukan sabotase.

    Direktur Jenderal ASIO, Mike Burgess, dalam pernyataannya pada Rabu lalu mengatakan, “Kami menemukan peretas negara bangsa telah mengompromikan jaringan penyedia infrastruktur kritis Australia. ASIO menilai para peretas sedang bersiap untuk melakukan sabotase. Mereka memetakan jaringan dan mempertahankan akses sehingga mereka dapat melumpuhkannya pada waktu yang mereka pilih.”

    Burgess menambahkan, “Dalam kasus ini, kelompok yang disponsori negara tidak hanya berhasil mendapatkan akses ke penyedia infrastruktur kritis Australia, tetapi juga berhasil memperoleh kredensial—detail login dan kata sandi—untuk pengguna aktif jaringan, termasuk profesional TI yang menjaganya.”

    John Bolton Mengaku Bersalah dalam Kasus Data Rahasia

    John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, mengaku bersalah pada Jumat lalu atas satu tuduhan terkait penanganan dan penyimpanan ilegal informasi pertahanan rahasia. Bolton, 77 tahun, mencapai kesepakatan pembelaan yang memungkinkannya menghindari hukuman penjara, meskipun perjanjian tersebut merekomendasikan hukuman penjara tidak lebih dari lima tahun.

    Hakim Distrik AS Theodore Chuang di Maryland akan menentukan hukuman dalam sidang yang dijadwalkan pada 28 Oktober. Bolton bertugas di pemerintahan pertama Trump tetapi kemudian menjadi kritikus vokal Presiden Donald Trump. Sebagai bagian dari kesepakatan, Bolton juga setuju membayar denda sebesar 2,25 juta dolar AS, tetapi ia dapat menarik pengakuan bersalahnya jika Chuang memutuskan denda yang lebih besar atau hukuman penjara yang lebih lama dari yang direkomendasikan dalam kesepakatan.

    Perlindungan Data di Tengah Eskalasi Siber Global

    Serangkaian insiden keamanan siber dalam sepekan terakhir menunjukkan eskalasi ancaman yang nyata, mulai dari kebocoran data korporat hingga infiltrasi negara bangsa ke infrastruktur kritis. Bagi pengguna individu, insiden LastPass menjadi pengingat bahwa data pribadi dapat terekspos bahkan ketika perusahaan yang dipercaya telah menerapkan langkah keamanan yang ketat.

    Sementara itu, keberhasilan Operasi Endgame menunjukkan bahwa kolaborasi internasional dan pemanfaatan teknologi AI dapat menjadi alat efektif untuk melawan kejahatan siber. Namun, temuan ASIO tentang aktor negara bangsa di dalam sistem infrastruktur kritis menegaskan bahwa ancaman terus berkembang dan memerlukan respons yang lebih terkoordinasi.

    Indonesia sendiri terus memperkuat kedaulatan digitalnya melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah Kompetisi Zero Day yang bertujuan mencari peretas etis untuk memperkuat keamanan siber nasional.

    Implikasi dari rangkaian berita ini jelas: keamanan siber bukan lagi sekadar urusan departemen TI, melainkan prioritas strategis yang berdampak langsung pada keselamatan individu, stabilitas bisnis, dan kedaulatan negara. Setiap pihak—dari pengguna rumahan hingga pemerintah—harus meningkatkan kewaspadaan dan investasi di bidang keamanan digital.

  • Warga Eropa Menyerah, Berbondong Beli AC Saat Panas Ekstrem

    Warga Eropa Menyerah, Berbondong Beli AC Saat Panas Ekstrem

    JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memicu pergeseran perilaku konsumen secara dramatis. Warga Eropa yang sebelumnya enggan menggunakan pendingin ruangan kini berbondong-bondong membeli AC, mendorong lonjakan penjualan bagi produsen Asia seperti Samsung, Midea, dan Mitsubishi.

    Fenomena ini terjadi di tengah suhu yang memecahkan rekor di berbagai negara Eropa. Panas menyengat tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga mengganggu pasokan listrik dan memaksa sekolah-sekolah ditutup. Akibatnya, permintaan terhadap AC portabel maupun AC dinding melonjak drastis.

    Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa pasar utama seperti Italia, Spanyol, dan Prancis mencatat pertumbuhan penjualan AC dua digit pada paruh pertama tahun ini. Samsung, salah satu produsen AC asal Korea Selatan, mengkonfirmasi proyeksi permintaan yang berkelanjutan seiring perkiraan suhu yang terus meningkat mulai Juni 2026.

    Lonjakan Permintaan di Berbagai Negara

    LG Electronics, pesaing utama Samsung, melaporkan bahwa lini produksi AC di salah satu fasilitasnya di Korea Selatan telah beroperasi dengan kapasitas penuh sejak April 2026. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi permintaan musim panas yang tinggi, baik dari pasar domestik Korea maupun pasar global, termasuk Eropa.

    Sementara itu, Midea asal China mengalami lonjakan permintaan yang sangat tajam. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa pesanan yang masuk begitu deras hingga harga unit AC bekas melampaui harga unit baru. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya urgensi warga Eropa untuk mendapatkan pendingin ruangan.

    “Gelombang panas dua minggu terakhir bulan Mei signifikan mendongkrak penjualan, terutama untuk AC PortaSplit, yang habis terjual di beberapa saluran distribusi,” ungkap Midea dalam pernyataannya. Menurut perusahaan tersebut, penjualan melalui e-commerce di Jerman naik sekitar 37% pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pengiriman di Spanyol dan Prancis melonjak hingga 108%.

    Produsen Jepang Juga Kebanjiran Pesanan

    Mitsubishi Electric dari Jepang juga melaporkan adanya lonjakan permintaan unit AC dari Eropa. “Di Eropa, penjualan pendingin ruangan sangat kuat, terutama di Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman, yang dilanda gelombang panas,” ungkap perusahaan tersebut kepada Reuters. Keempat negara ini menjadi pasar utama yang mendorong pertumbuhan penjualan Mitsubishi Electric di kawasan Eropa.

    Permintaan masif terhadap AC ini menggarisbawahi pergeseran perilaku konsumen Eropa yang cukup signifikan. Sebelumnya, penggunaan AC di Eropa masih relatif jarang dibandingkan dengan Asia. Karakteristik bangunan-bangunan tua di Eropa seringkali membuat pemasangan AC menjadi mahal dan rumit, serta membutuhkan waktu lama untuk proses instalasinya.

    Tantangan Pemasangan di Bangunan Tua

    Salah satu kendala utama yang dihadapi warga Eropa adalah biaya pemasangan AC yang sangat tinggi. Midea menyebut bahwa biaya pemasangan AC di Eropa bisa mencapai lebih dari USD 1.137, menjadikannya sulit dijangkau oleh banyak rumah tangga. Biaya ini mencakup modifikasi bangunan, instalasi listrik, dan tenaga kerja yang memang mahal di kawasan tersebut.

    Menurut data International Energy Agency (IEA), total kepemilikan unit pendingin ruangan di Eropa saat ini hanya berkisar 20%. Angka ini sangat kontras dengan negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, atau China yang memiliki tingkat penetrasi AC di atas 80%. Perbedaan ini menunjukkan betapa besarnya potensi pasar AC di Eropa ke depannya.

    Meskipun menghadapi tantangan biaya dan infrastruktur, tekanan gelombang panas yang semakin ekstrem tampaknya telah mengalahkan keengganan warga Eropa. Banyak rumah tangga dan perusahaan yang kini rela mengeluarkan biaya besar demi mendapatkan kesejukan di tengah cuaca yang terik.

    Dampak Perubahan Iklim pada Perilaku Konsumen

    Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim mulai mengubah kebiasaan dan gaya hidup masyarakat di negara maju. Eropa, yang selama ini dikenal dengan iklimnya yang sejuk, kini harus beradaptasi dengan suhu yang semakin panas setiap tahunnya. Gelombang panas yang terjadi pada tahun 2026 ini menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah.

    Para ahli memperingatkan bahwa tren peningkatan suhu ini kemungkinan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Hal ini berarti permintaan terhadap AC di Eropa diperkirakan akan terus tumbuh, membuka peluang besar bagi produsen AC dari Asia untuk memperluas pangsa pasar mereka di kawasan tersebut.

    Bagi produsen seperti Samsung, LG, Midea, dan Mitsubishi Electric, lonjakan permintaan ini menjadi momentum untuk memperkuat jaringan distribusi dan layanan purna jual di Eropa. Keberhasilan mereka dalam memenuhi permintaan yang melonjak ini akan menentukan posisi mereka di pasar Eropa dalam jangka panjang.

    Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari penggunaan AC, produsen juga dituntut untuk mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Inovasi dalam hal efisiensi energi dan penggunaan refrigeran yang lebih aman bagi ozon menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen Eropa di masa depan.

  • Kisah Pria Dihantui Stalker yang Pakai AI untuk Ciptakan Bayi Palsu

    Kisah Pria Dihantui Stalker yang Pakai AI untuk Ciptakan Bayi Palsu

    JBNews.id — Seorang pria di Singapura menjadi korban penguntitan selama bertahun-tahun oleh seorang perempuan yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi foto, menciptakan narasi palsu bahwa mereka berpacaran, bertunangan, hingga memiliki seorang anak bersama. Kasus ini terungkap setelah saudara perempuan korban membuat unggahan viral di platform Threads beberapa bulan lalu.

    Pria yang disamarkan dengan nama samaran Luke itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada seorang perempuan yang memiliki obsesi tidak sehat terhadap dirinya. Ia baru mengetahui fakta tersebut dari adik perempuannya, yang mendapat laporan dari seorang teman yang melihat foto-foto hasil rekayasa AI yang diunggah oleh pelaku di media sosial.

    “Sungguh traumatis mengetahui bahwa foto-foto Anda digunakan dalam narasi yang begitu rumit,” kata Luke kepada The Straits Times. Ia menambahkan bahwa keluarganya sangat khawatir mengetahui bahwa orang asing memiliki foto dan video anak-anaknya yang disimpan di ponsel pelaku dan dibagikan secara daring sesuka hati.

    A screenshot of an AI doctored image featuring a man holding a digitally inserted child.

    Obsesi Berawal dari Masa Sekolah

    Fakta yang lebih mengejutkan, Luke ternyata tidak benar-benar mengenal perempuan tersebut. Mereka hanya pernah menjadi teman sekolah 15 tahun lalu. “Saya hanya berbicara tidak lebih dari dua kalimat dengannya saat di sekolah,” ujar Luke. Namun, obsesi yang awalnya tampak seperti rasa suka biasa di masa kanak-kanak ternyata berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.

    Pelaku tidak hanya memalsukan foto-foto kencan mereka bersama, tetapi juga menghasilkan gambar AI yang menunjukkan Luke sedang menggendong bayi yang diklaim sebagai anak mereka. Beberapa teman dari saudara perempuan Luke mengatakan bahwa pelaku menggunakan foto-foto palsu hasil AI tersebut untuk mencoba menambahkan mereka di berbagai platform media sosial.

    Klaim Palsu yang Meluas

    Menurut keterangan saudara perempuan Luke, pelaku membuat sejumlah klaim yang sangat mengkhawatirkan, antara lain bahwa ia telah bersama Luke sejak tahun 2011, bahwa ia hamil anak Luke, dan bahwa mereka bertunangan serta berencana menikah pada Desember tahun ini. Bahkan, pelaku disebut telah mengirimkan undangan pernikahan.

    Setelah unggahan saudara perempuan Luke menjadi viral, sebuah toko roti lokal menghubunginya dan mengatakan bahwa pelaku sempat memesan kue dari mereka — untuk bayi palsu tersebut. Kasus ini menunjukkan bagaimana AI generatif dapat memperkuat delusi obsesif dan memberdayakan pelaku kejahatan untuk memenuhi fantasi spesifik mereka.

    Yang lebih memprihatinkan, pelaku juga menggunakan foto keponakan dan anak saudara perempuan Luke yang diambil dari unggahan media sosial keluarga korban. “Sekarang kami sangat paranoid dan takut untuk memposting apa pun tentang anak-anak,” tulis saudara perempuan Luke di Threads.

    Dampak AI terhadap Keamanan Digital

    Kasus ini bukanlah insiden terisolasi. Jurnalis Taylor Lorenz dilaporkan menjadi target seorang penguntit yang menggunakan aplikasi pembuat video AI Sora milik OpenAI untuk membuat video tentang dirinya, yang kemudian diunggah ke ratusan akun media sosial. Dalam beberapa gugatan hukum, sejumlah perempuan mengaku bahwa penguntit mereka terdorong oleh percakapan dengan ChatGPT.

    “Kami masih sangat terkejut bahwa seseorang mampu melakukan semua ini dengan bantuan AI,” tulis saudara perempuan Luke di media sosial. “Ini menunjukkan betapa AI benar-benar bisa menghancurkan hidup seseorang.” Ia menambahkan, “Dia menyalahgunakan kekuatan AI dengan sangat gila. Saya yakin saat dia mengetahui tentang AI, dia adalah orang paling bahagia di dunia karena akhirnya bisa melakukan hal gila seperti ini.”

    Kasus ini menjadi peringatan serius tentang bagaimana teknologi AI dapat disalahgunakan untuk tujuan kriminal dan manipulasi psikologis. Keluarga korban kini hidup dalam ketakutan dan kecemasan, tidak lagi berani membagikan momen keluarga secara daring.

  • Menkomdigi Ingatkan Bahaya Aplikasi Kencan Usai Kasus Penyekapan

    Menkomdigi Ingatkan Bahaya Aplikasi Kencan Usai Kasus Penyekapan

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat akan bahaya aplikasi kencan berbasis lokasi menyusul viralnya kasus dugaan penyekapan dan kekerasan terhadap seorang perempuan berinisial YTR (29) di Kabupaten Bandung. Polisi telah menangkap tersangka Taufik Hidayat (30) yang sebelumnya masuk daftar pencarian orang (DPO).

    Kasus ini menjadi perhatian publik setelah korban diduga mengalami kekerasan dan penyekapan dalam waktu yang cukup lama hingga menderita luka serius. Menkomdigi menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan keprihatinan bersama karena menunjukkan risiko nyata dari interaksi yang berawal di ruang digital.

    “Kasus dugaan penyekapan dan kekerasan yang sedang ditangani aparat menjadi keprihatinan kita bersama. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa interaksi yang berawal dari ruang digital, termasuk melalui aplikasi kencan berbasis lokasi harus selalu disertai kehati-hatian dan literasi digital yang baik,” kata Meutya dalam pernyataan resmi yang diterima detikINET, Sabtu (27/6/2026).

    Jangan Mudah Percaya Profil di Dunia Maya

    Menkomdigi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai apa yang ditampilkan seseorang di media sosial maupun aplikasi kencan. Menurutnya, identitas digital yang ditampilkan seseorang dapat berbeda dengan kondisi sebenarnya.

    “Jangan mudah percaya pada apa yang ditampilkan di media sosial. Jangan tertipu. Apa yang kita lihat dan baca di sosial media, tidak terkecuali di aplikasi kencan seperti Tinder, belum tentu benar, bahkan bisa jadi sebaliknya. Mungkin saja semua itu hanya ilusi algoritma,” ujarnya.

    Pernyataan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong literasi digital. Sebelumnya, Menkomdigi ajak generasi muda untuk menjadi duta internet sehat guna menekan risiko kejahatan siber.

    Jaga Data Pribadi dan Lokasi

    Meutya juga mengingatkan pentingnya menjaga data pribadi. Ia meminta masyarakat tidak sembarangan membagikan informasi sensitif, akses akun, maupun lokasi secara real time kepada orang yang belum dikenal dengan baik.

    “Jangan membagikan data sensitif, akses akun, lokasi secara real time, maupun informasi lain yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi, penipuan, atau tindak kejahatan,” katanya.

    Selain itu, pengguna diminta memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia di platform digital, seperti pelaporan akun, pemblokiran pengguna, maupun berbagi lokasi kepada kontak terpercaya.

    “Gunakan fitur pelaporan, pemblokiran, berbagi lokasi dengan kontak tepercaya jika tersedia, dan segera hentikan interaksi apabila menemukan perilaku yang mencurigakan,” lanjut Menkomdigi.

    Peringatan ini relevan dengan maraknya modus kejahatan siber yang memanfaatkan teknologi. Bahkan, deepfake AI marak dan menjadi perhatian serius pemerintah dalam melindungi masyarakat dari penipuan berbasis kecerdasan buatan.

    Menkomdigi Meutya Hafid

    Meutya menegaskan bahwa ruang digital harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh masyarakat. Menurutnya, keamanan digital merupakan tanggung jawab bersama antara platform, pemerintah, dan pengguna.

    “Ruang digital harus menjadi ruang yang aman. Keamanan itu dibangun bersama oleh platform yang bertanggung jawab, pemerintah yang menghadirkan tata kelola dan pengawasan, serta masyarakat yang semakin cakap dalam memanfaatkan teknologi secara bijak,” tutupnya.

    Kasus penyekapan di Kabupaten Bandung ini menjadi pengingat keras bahwa interaksi daring tidak boleh dilakukan tanpa kewaspadaan. Masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian, terutama saat menggunakan aplikasi kencan yang mempertemukan orang asing secara langsung.

    Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong literasi digital sebagai benteng perlindungan. Dalam kesempatan terpisah, Menkomdigi apresiasi ICEC 2026 yang membahas ancaman siber anak sebagai bagian dari ekosistem keamanan digital yang lebih luas.

  • Tecno Rilis EllaClaw AI, Agen Cerdas Otomatisasi 40+ Tugas HP

    Tecno Rilis EllaClaw AI, Agen Cerdas Otomatisasi 40+ Tugas HP

    JBNews.id — Tecno memperkenalkan EllaClaw AI, agen kecerdasan buatan berbasis cloud yang mampu mengotomatisasi lebih dari 40 tugas di smartphone secara mandiri. Teknologi ini diumumkan pada 24 Juni 2026 sebagai langkah baru dalam menghadirkan pengalaman mobile yang lebih proaktif dan personal.

    Berbeda dengan asisten virtual konvensional yang hanya merespons perintah suara atau pertanyaan, EllaClaw dirancang sebagai AI agent yang mampu memahami permintaan pengguna, merencanakan langkah yang diperlukan, lalu mengeksekusinya secara mandiri. Tecno menyebut teknologi ini sebagai langkah menuju pengalaman smartphone yang lebih proaktif dan personal. Kehadiran EllaClaw juga menjadi bagian dari tren agentic AI yang mulai berkembang di industri teknologi.

    EllaClaw adalah pengembangan dari asisten bawaan TECNO, Ella AI, yang kini ditingkatkan menjadi agen AI mandiri.

    Apa Itu EllaClaw?

    EllaClaw merupakan agen AI mobile berbasis cloud yang dikembangkan Tecno. Teknologi ini dirancang untuk memahami instruksi pengguna, menyusun alur kerja, dan menjalankan berbagai tugas secara otomatis. Jika chatbot biasa hanya menjawab pertanyaan, EllaClaw mampu bertindak sebagai asisten digital yang bekerja di latar belakang. AI ini dapat mengelola beberapa langkah sekaligus untuk menyelesaikan sebuah tugas, sambil tetap memberikan informasi kepada pengguna mengenai proses yang sedang berjalan.

    Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan memahami antarmuka aplikasi atau graphical user interface (GUI). Dengan pendekatan ini, EllaClaw tidak selalu membutuhkan integrasi API khusus untuk berinteraksi dengan aplikasi pihak ketiga. Dengan izin pengguna, AI tersebut dapat beroperasi pada aplikasi transportasi, belanja online, pemesanan makanan, hingga perangkat smart home. Hal ini membuat pengalaman penggunaan smartphone menjadi lebih praktis dan efisien.

    Apa Saja Kemampuan EllaClaw?

    Tecno menyebut EllaClaw kini memiliki lebih dari 40 Smart Skills yang dirancang untuk membantu aktivitas sehari-hari sekaligus mengoptimalkan performa perangkat. Beberapa kemampuan yang dihadirkan antara lain:

    • Smart CleanUp Boost untuk membersihkan RAM dan mengoptimalkan kinerja CPU
    • Smart Power Drain Check yang mendeteksi aplikasi boros baterai
    • Instant Cool-down Relief untuk mengurangi suhu perangkat saat digunakan berat
    • Smart Data Guardian yang memantau penggunaan data seluler

    EllaClaw juga menghadirkan fitur personal assistant yang lebih cerdas berkat teknologi persistent memory. Sistem ini memungkinkan AI mengingat kebiasaan dan preferensi pengguna. Beberapa fitur pendukung yang tersedia meliputi:

    • Morning Briefing yang menyajikan jadwal, cuaca, perjalanan, dan berita
    • Trip Prep Assistant untuk membantu menyusun rencana perjalanan
    • Pengingat konteks dan hubungan personal, seperti mengingatkan pengguna untuk menghubungi keluarga atau pasangan

    Kemampuan lintas aplikasi juga menjadi daya tarik utama. Pengguna dapat melakukan beberapa tugas hanya melalui satu perintah. Contohnya:

    • Memesan kendaraan melalui fitur One-Sentence Ride Hailing
    • Mencari dan membandingkan harga produk menggunakan Shopping Buddy
    • Mengontrol perangkat smart home
    • Membantu menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan

    Seluruh proses dilakukan secara transparan di layar sehingga pengguna dapat memantau setiap tindakan yang dilakukan AI. Tecno juga menekankan aspek keamanan dan privasi. EllaClaw menggunakan pendekatan confirmation-first, yang berarti AI akan meminta persetujuan sebelum melakukan tindakan penting atau mengakses aplikasi tertentu.

    Inovasi ini sejalan dengan langkah Tecno di pasar Indonesia yang terus menghadirkan perangkat dengan Fitur Terbaru untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Sebelumnya, Tecno juga meluncurkan HP Tipis dengan desain inovatif yang menarik perhatian pasar.

    Jadwal Ketersediaan

    Saat ini EllaClaw masih berada dalam tahap closed beta internal. Tecno menyebut teknologi ini masih berstatus konsep AI eksploratif dan akan terus dikembangkan melalui pembaruan fitur di masa mendatang. Perusahaan belum mengumumkan jadwal peluncuran global maupun daftar smartphone Tecno yang akan menerima fitur tersebut.

    Namun dengan semakin berkembangnya tren agentic AI, EllaClaw berpotensi menjadi salah satu fitur unggulan pada perangkat Tecno generasi berikutnya. Dengan kemampuan otomatisasi lintas aplikasi, lebih dari 40 Smart Skills, serta pendekatan privasi yang ketat, EllaClaw menawarkan gambaran bagaimana smartphone masa depan dapat bekerja lebih cerdas dan proaktif dalam membantu aktivitas penggunanya.

  • Casevolia Rilis Case Tipis Oppo Find X9 Ultra, Harga Rp 700 Ribuan

    Casevolia Rilis Case Tipis Oppo Find X9 Ultra, Harga Rp 700 Ribuan

    JBNews.id — Casevolia resmi meluncurkan case premium berbahan Kevlar aramid fiber untuk Oppo Find X9 Ultra. Produk ini dibanderol sekitar Rp 700 ribu dan tersedia melalui platform e-commerce Tokopedia serta Shopee.

    Langkah ini merespons kebutuhan pengguna yang menilai case bawaan Oppo Find X9 Ultra kurang mampu menonjolkan kesan premium perangkat. Case silikon berwarna cokelat yang disertakan dalam paket penjualan dinilai menambah ketebalan dan bobot ponsel.

    Menurut Satish, tech reviewer K2G sekaligus anggota komunitas Fotovolia, kehadiran case ini dilatarbelakangi minimnya pilihan aksesori premium untuk Find X9 Ultra di pasar Indonesia. “Case bawaan Oppo Find X9 Ultra hanya berupa silikon berwarna cokelat. Selain menambah ketebalan dan bobot, menurut kami juga mengurangi kesan premium dari smartphone ini,” ujar Satish.

    Casevolia menggunakan material original Kevlar aramid fiber, bukan sekadar motif yang menyerupai serat karbon atau aramid. Material tersebut selama ini banyak digunakan pada aksesori premium karena dikenal ringan namun kuat.

    Salah satu keunggulan utama produk ini adalah desainnya yang sangat tipis dan ringan sehingga tidak membuat smartphone menjadi bulky. Desainnya juga dibuat presisi mengikuti kontur Find X9 Ultra.

    “Kami ingin pengguna tetap merasakan desain asli ponselnya. Case ini mengikuti lekukan bodi sehingga nyaman digenggam dan mengurangi sisi-sisi tajam yang terkadang terasa mengganggu saat digunakan dalam waktu lama,” jelas Satish.

    Selain itu, material aramid fiber yang digunakan diklaim memiliki daya tahan tinggi dan tidak mudah pudar meski digunakan dalam jangka panjang. Casevolia juga menambahkan dukungan MagSafe yang tidak tersedia secara bawaan pada Find X9 Ultra.

    Kehadiran magnet tersebut memungkinkan pengguna mengakses berbagai aksesori MagSafe seperti charger, dompet magnetik, hingga holder mobil. “Yang tidak kalah penting, Find X9 Ultra dan case bawaannya tidak memiliki fitur MagSafe. Akibatnya pengguna tidak bisa masuk ke ekosistem aksesori MagSafe yang saat ini semakin populer,” kata Satish.

    Untuk perlindungan kamera, Casevolia turut menghadirkan camera guard atau camera lips yang membuat modul kamera tidak langsung bersentuhan dengan permukaan meja saat diletakkan.

    Saat ini seri “Shade” dari Casevolia baru tersedia untuk beberapa flagship tertentu, yakni iPhone 17 Pro Max, Samsung Galaxy S26 Ultra, Oppo Find X9 Ultra, dan Vivo X300 Ultra.

    Sedikit informasi, Casevolia lahir dari komunitas fotografi smartphone Fotovolia. Komunitas tersebut awalnya dikenal aktif mengadakan kegiatan berburu foto menggunakan smartphone sebelum akhirnya merambah bisnis aksesori premium.

    Pengalaman anggota komunitas yang banyak menggunakan smartphone flagship membuat mereka memahami kebutuhan pengguna terhadap aksesori yang tetap menjaga desain asli perangkat tanpa menambah bobot berlebihan. Dari situlah ide menghadirkan case premium berbahan aramid fiber muncul.

    Kehadiran Casevolia sekaligus memperluas ekosistem yang sebelumnya banyak berfokus pada perangkat iPhone dan Samsung. Kini pengguna Oppo Find X9 Ultra dan Vivo X300 Ultra juga mendapatkan alternatif case premium dengan dukungan MagSafe yang masih cukup jarang ditemukan di pasaran.

    Bagi pengguna yang mencari Fitur Terbaru dari smartphone flagship, kehadiran aksesori ini menjadi nilai tambah. Sementara itu, inovasi teknologi lain seperti Avatar 3D juga terus berkembang di industri.

  • Pemerintah AS Izinkan Anthropic Aktifkan Kembali Model AI Mythos 5

    Pemerintah AS Izinkan Anthropic Aktifkan Kembali Model AI Mythos 5

    JBNews.id — Pemerintah Amerika Serikat memberikan izin terbatas kepada Anthropic untuk mengaktifkan kembali model kecerdasan buatan (AI) canggihnya, Mythos 5, setelah sebelumnya diblokir karena kekhawatiran keamanan nasional. Izin ini hanya berlaku untuk sekelompok kecil mitra pertahanan siber dan penyedia infrastruktur.

    Keputusan tersebut disampaikan melalui surat dari Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick kepada salah satu pendiri dan kepala petugas komputasi Anthropic, Tom Brown. Surat yang diperoleh WIRED itu menyatakan bahwa Lutnick telah “menentukan bahwa langkah-langkah pengamanan yang tepat telah diterapkan.” Semafor pertama kali melaporkan keberadaan surat tersebut.

    “Anthropic telah bekerja sama dengan pemerintah AS untuk mengatasi risiko yang terkait dengan Model yang Dilindungi. Upaya ini telah menghasilkan kemajuan yang signifikan,” tulis Lutnick dalam suratnya. Namun, pemerintah menghentikan langkah untuk mengizinkan peluncuran model yang lebih luas dan tidak mengatakan apa pun tentang nasib Claude Fable 5, versi Mythos yang berorientasi konsumen dan dirilis Anthropic dengan perlindungan tambahan yang signifikan.

    Lutnick mencatat dalam suratnya bahwa persyaratan lain yang diuraikan dalam arahan awal yang ia kirim pada 12 Juni tetap berlaku. “Kami menerima pemberitahuan dari pemerintah AS bahwa Mythos 5, model keamanan siber terkuat kami, dapat digunakan kembali untuk sekelompok kecil pembela siber dan penyedia infrastruktur,” kata Juru Bicara Anthropic Eduardo Maia Silva dalam sebuah pernyataan kepada WIRED.

    “Kami sedang bekerja untuk menyediakan penyedia yang telah disetujui dan memulihkan akses mereka ke Mythos 5 secepat mungkin. Kami senang melihat kemajuan ini dan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk memperluas akses ke Mythos 5 dan membuat Fable 5 tersedia untuk penggunaan umum kembali,” tambah Silva.

    Anthropic masih dalam diskusi dengan Gedung Putih tentang pemulihan akses ke Fable 5, dan diskusi diperkirakan akan berlanjut selama akhir pekan, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut. Kedua belah pihak berharap resolusi dari insiden ini akan membantu membentuk kerangka kebijakan yang langgeng untuk peluncuran model di masa depan, kata orang tersebut.

    Latar Belakang Pembatasan

    Pemulihan sebagian ini terjadi sekitar dua minggu setelah Gedung Putih mengirimkan arahan kontrol ekspor kepada Anthropic yang mewajibkan perusahaan untuk membatasi warga negara asing mengakses Mythos dan Fable 5, termasuk orang-orang yang bekerja dan tinggal di Amerika Serikat. Sebagai tanggapan, Anthropic menonaktifkan akses ke model-model tersebut sepenuhnya.

    Dalam surat terbarunya, Lutnick menulis bahwa organisasi yang disetujui untuk menggunakan Mythos sekarang dapat mengizinkan karyawan warga negara asing mereka untuk mengakses model tersebut, dan Anthropic dapat melakukan hal yang sama untuk karyawan warga negara asingnya sendiri.

    Pemerintahan Trump semakin khawatir tentang peluncuran Mythos oleh Anthropic setelah mengetahui bahwa perusahaan tersebut memberikan akses ke sebuah perusahaan telekomunikasi Korea Selatan yang diyakini memiliki hubungan dengan China, seperti yang dilaporkan WIRED sebelumnya. Amazon dan Badan Keamanan Nasional (NSA) juga secara terpisah menyampaikan kekhawatiran kepada Gedung Putih bahwa Fable 5 dapat dibobol (jailbroken), dan pertemuan berbagai peristiwa ini meyakinkan para pejabat bahwa mereka perlu mengambil tindakan.

    Langkah Diplomatik dan Dampak Industri

    Dalam beberapa pekan terakhir, Anthropic mengirim anggota senior dari tim keamanan siber dan keselamatan AI ke Washington, DC, untuk bertemu dengan pejabat pemerintahan Trump. Bersama Brown, kepala kebijakan publik Anthropic Sarah Heck telah memimpin diskusi perusahaan dengan Departemen Perdagangan AS.

    Mengaktifkan kembali Mythos 5 menandai langkah maju yang menjanjikan bagi Anthropic dan Gedung Putih, tetapi kisah ini telah memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang arah kebijakan AI AS secara keseluruhan, khususnya sejauh mana pemerintahan Trump akan berusaha mengontrol peluncuran model di masa depan. Pada hari Jumat, OpenAI mengumumkan bahwa mereka menunda perilisan model GPT 5.6 yang akan datang sebagai tanggapan atas permintaan dari pemerintahan Trump.

    Dean Ball, kepala tim masa depan strategis di OpenAI dan mantan penasihat AI Gedung Putih, mengatakan dalam sebuah posting blog pada 16 Juni bahwa pertengkaran terbaru Anthropic dengan pemerintahan Trump telah menunjukkan kepada pengembang model AI batas depan (frontier) bahwa mereka “membutuhkan lampu hijau eksplisit dari pemerintah sekarang.”

    Pertempuran Anthropic dengan Gedung Putih telah merugikan bisnis perusahaan muda tersebut. Perusahaan itu menggugat pemerintahan Trump awal tahun ini atas penetapan risiko rantai pasokan yang diterimanya setelah mencoba menarik garis merah seputar bagaimana kontraktor militer dapat menggunakan model AI-nya. Setelah Gedung Putih mengirimkan arahan ekspornya pada Jumat malam, 12 Juni, WIRED sebelumnya melaporkan bahwa beberapa investor Anthropic bekerja sepanjang akhir pekan untuk menentukan apa artinya bagi masa depan perusahaan Anthropic.

    Insiden ini juga menyoroti kompleksitas regulasi AI global. Sementara AS memperketat kontrol, negara lain seperti China mengembangkan ekosistem AI mereka sendiri. Fenomena Akses Claude di China yang beroperasi melalui ekonomi bawah tanah menunjukkan adanya celah keamanan dan permintaan yang tinggi terhadap model AI canggih di luar regulasi resmi.

    Di sisi lain, langkah tegas pemerintahan Trump ini sejalan dengan upaya mereka untuk mempercepat pengembangan teknologi strategis lainnya. Sebelumnya, Trump Teken Dua Perintah Eksekutif untuk akselerasi komputasi kuantum, menunjukkan fokus ganda pada penguasaan teknologi masa depan, baik AI maupun kuantum.

    Implikasi dari keputusan ini bagi industri AI sangat jelas: perusahaan frontier AI kini harus beroperasi dalam kerangka izin eksplisit dari pemerintah. Model bisnis yang mengandalkan akses global dan kolaborasi internasional harus menyesuaikan diri dengan realitas geopolitik baru. Bagi para pengembang dan pengguna AI, masa depan tidak lagi hanya tentang kecepatan inovasi, tetapi juga tentang kepatuhan dan negosiasi dengan otoritas keamanan nasional.

  • Vivo X Fold6 Resmi: Kamera 200 MP dan Baterai 7.000 mAh

    Vivo X Fold6 Resmi: Kamera 200 MP dan Baterai 7.000 mAh

    JBNews.id — Vivo resmi meluncurkan Vivo X Fold6, smartphone lipat flagship terbaru yang membawa lompatan spesifikasi signifikan: kamera Zeiss 200 MP dan baterai 7.000 mAh. Perangkat ini mulai dijual di China pada 1 Juli 2026, sementara jadwal peluncuran global belum diumumkan.

    Vivo X Fold6 mengusung layar LTPO AMOLED 120Hz, chipset MediaTek Dimensity 9500 Super Edition, serta dukungan fast charging 80W. Selain peningkatan hardware, Vivo juga menghadirkan OriginOS 6 Fold dengan fitur Atomic Workbench yang memungkinkan beberapa aplikasi berjalan bersamaan di layar lipat untuk produktivitas optimal.

    Layar dan Desain

    Vivo X Fold6 menggunakan layar utama 8,02 inci Samsung M14 LTPO AMOLED beresolusi 2K+ (2504 × 2312 piksel) dengan refresh rate adaptif 1-120Hz, HDR10+, Dolby Vision, dan kecerahan hingga 5.000 nits. Layar cover berukuran 6,51 inci BOE LTPO AMOLED beresolusi Full HD+ (2528 × 1120 piksel) dengan refresh rate 120Hz dan Dolby Vision.

    Kedua layar telah mengantongi sertifikasi TÜV Rheinland Global Eye Protection 3.0 dan mendukung mode pencahayaan rendah hingga 1 nit untuk mengurangi kelelahan mata. Perangkat ini memiliki dimensi 157,16 × 145,66 × 4,4 mm saat terbuka dan 74,26 × 9,4 mm saat tertutup, dengan bobot 228 gram untuk varian Polar Night dan Salt Lake, serta 235 gram untuk varian Blue Hole.

    Vivo X Fold6 tersedia dalam tiga pilihan warna: Blue Hole, Salt Lake, dan Polar Night.

    Performa dan Chipset

    Performa Vivo X Fold6 ditenagai MediaTek Dimensity 9500 Super Edition berarsitektur 3 nm yang dipadukan GPU Arm Mali-G1 Ultra MC12. Smartphone ini tersedia dalam konfigurasi RAM 12 GB dan 16 GB LPDDR5X dengan penyimpanan 256 GB, 512 GB, hingga 1 TB UFS 4.0.

    Vivo juga menyematkan chipset komunikasi buatannya sendiri yang terdiri dari satu global signal amplifier dan empat chip Wi-Fi untuk meningkatkan kestabilan sinyal. Sistem operasi yang digunakan adalah OriginOS 6 berbasis Android 16.

    Dalam konteks persaingan perangkat flagship, inovasi seperti ini sejalan dengan tren pusat data AI yang membutuhkan performa komputasi tinggi.

    Kamera Zeiss 200 MP

    Sektor fotografi menjadi salah satu keunggulan Vivo X Fold6 berkat kolaborasi dengan Zeiss dan dukungan chip pencitraan Vivo V3+. Kamera utamanya memakai sensor Samsung HPB 200 MP berukuran 1/1,4 inci dengan aperture f/1.68, OIS, dan lapisan Zeiss T*.

    Kamera telefoto menggunakan sensor Sony LYT602 50 MP dengan zoom optik 3x dan dukungan teleconverter hingga ekuivalen 200 mm. Sementara kamera ultrawide memiliki resolusi 50 MP, sedangkan kamera depan di layar utama dan layar cover sama-sama menggunakan sensor 20 MP.

    Vivo X Fold6 juga dilengkapi kamera telefoto periskop 50 MP untuk kemampuan zoom jauh yang lebih baik.

    Baterai 7.000 mAh dan Pengisian Cepat

    Vivo membekali smartphone lipat ini dengan baterai 7.000 mAh yang menggabungkan teknologi silikon anoda generasi kelima dan baterai semi-solid-state generasi ketiga. Pengisian dayanya mendukung 80W FlashCharge, 40W wireless charging, serta reverse wireless charging.

    Dengan kapasitas baterai sebesar ini, Vivo X Fold6 menjadi salah satu smartphone lipat dengan daya tahan baterai terbaik di kelasnya. Teknologi baterai semi-solid-state juga menjanjikan keamanan dan siklus pengisian yang lebih panjang.

    Ketahanan dan Sertifikasi

    Vivo X Fold6 telah mengantongi sertifikasi IP5X untuk ketahanan debu serta IPX8 dan IPX9 untuk ketahanan air. Perusahaan juga mengklaim perangkat ini tetap dapat digunakan pada suhu hingga -20 derajat Celsius.

    Sertifikasi IPX9 menunjukkan bahwa perangkat ini tahan terhadap semburan air bertekanan tinggi, menjadikannya salah satu smartphone lipat paling tangguh di pasaran. Perangkat ini juga dilengkapi sensor fingerprint di samping (side-mounted) untuk keamanan.

    Spesifikasi Lengkap Vivo X Fold6

    Berikut spesifikasi lengkap Vivo X Fold6 berdasarkan data resmi:

    • Layar Utama: 8,02 inci 2K+ LTPO AMOLED (2504 x 2312 piksel), refresh rate 1-120Hz, HDR10+, Dolby Vision, kecerahan hingga 5.000 nits, UTG Glass
    • Layar Cover: 6,51 inci FHD+ LTPO AMOLED (2528 x 1120 piksel), refresh rate 1-120Hz, Dolby Vision, kecerahan hingga 5.000 nits, Armor Glass
    • Chipset: MediaTek Dimensity 9500 Super Edition (3nm)
    • GPU: Arm Mali-G1 Ultra MC12
    • RAM: 12GB / 16GB LPDDR5X
    • Penyimpanan: 256GB / 512GB / 1TB UFS 4.0
    • Sistem Operasi: OriginOS 6 berbasis Android 16
    • Kamera Belakang: 200MP (Samsung HPB, OIS, Zeiss) + 50MP ultra-wide + 50MP telefoto periskop 3x (Sony LYT602)
    • Kamera Depan: 20MP (layar utama) + 20MP (layar cover)
    • Audio: Speaker stereo, USB Type-C Audio
    • Sensor: Fingerprint di samping (side-mounted)
    • Konektivitas: 5G SA/NSA, Dual 4G VoLTE, Wi-Fi 7, Bluetooth 5.4, NFC, GPS Dual-band, USB Type-C
    • Ketahanan: IP5X, IPX8, IPX9
    • Baterai: 7.000 mAh
    • Pengisian Daya: 80W FlashCharge, 40W Wireless FlashCharge, Reverse Wireless Charging
    • Dimensi: 157,16 × 145,66 × 4,4 mm (terbuka); 74,26 × 9,4 mm (tertutup)
    • Bobot: 228 gram (Polar Night, Salt Lake) / 235 gram (Blue Hole)
    • Warna: Blue Hole, Salt Lake, Polar Night

    Harga Vivo X Fold6

    Vivo X Fold6 tersedia dalam enam pilihan konfigurasi, mulai dari RAM 12 GB dengan penyimpanan 256 GB hingga varian 16 GB/1 TB yang dilengkapi Professional Imaging Kit. Berikut daftar harga resmi Vivo X Fold6 di China:

    • 12GB + 256GB: 7.999 yuan (sekitar Rp18 juta)
    • 12GB + 512GB: 8.999 yuan (sekitar Rp20,2 juta)
    • 16GB + 512GB: 9.999 yuan (sekitar Rp22,5 juta)
    • 16GB + 1TB: 10.999 yuan (sekitar Rp24,8 juta)
    • 16GB + 1TB Blue Hole Professional Imaging Kit: 11.999 yuan (sekitar Rp27 juta)
    • 16GB + 1TB Black Gold Professional Imaging Kit: 12.299 yuan (sekitar Rp27,7 juta)

    Pre-order dibuka sekarang, dan perangkat mulai dijual di China pada 1 Juli 2026. Vivo juga menawarkan paket Professional Imaging Kit untuk varian 1 TB dengan harga mulai 11.999 yuan hingga 12.299 yuan. Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai peluncuran global maupun Indonesia.

    Bagi pengguna yang mencari HP Android dengan fitur terkini, Vivo X Fold6 menawarkan spesifikasi kelas atas yang patut dipertimbangkan.

    Kesimpulan

    Dengan layar LTPO AMOLED 120Hz, chipset MediaTek Dimensity 9500 Super Edition, kamera Zeiss 200 MP, serta baterai 7.000 mAh, Vivo X Fold6 membawa peningkatan signifikan di sektor performa, fotografi, dan daya tahan baterai. Kombinasi spesifikasi tersebut membuatnya menjadi salah satu smartphone lipat flagship terbaru yang patut diperhitungkan di kelas premium.

    Bagi konsumen di Indonesia, belum ada kepastian kapan perangkat ini akan tersedia secara resmi. Namun, dengan spesifikasi yang ditawarkan, Vivo X Fold6 jelas menjadi pesaing kuat di pasar smartphone lipat global.

  • Hot51 Terseret Kasus Judol dan Porno, Polisi Sita Rp14,9 Miliar

    Hot51 Terseret Kasus Judol dan Porno, Polisi Sita Rp14,9 Miliar

    JBNews.id — Polda Metro Jaya mengungkap dugaan perjudian online, pornografi digital, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) melalui aplikasi live streaming Hot51. Polisi menetapkan delapan tersangka perorangan dan lima tersangka korporasi, serta menyita uang sekitar Rp 14,9 miliar.

    Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri mengatakan hasil penyidikan menunjukkan aplikasi tersebut diduga dimanfaatkan untuk aktivitas perjudian dan siaran langsung bermuatan pornografi. “Hasil penyidikan menunjukkan aplikasi tersebut diduga digunakan untuk perjudian dan siaran langsung bermuatan pornografi,” kata Asep dikutip dari detikNews.

    Selain menetapkan tersangka, penyidik juga memblokir 118 rekening dan virtual account. Polisi juga menetapkan seorang warga negara asing asal Tiongkok sebagai daftar pencarian orang (DPO). Perputaran transaksi yang terindikasi dalam perkara ini mencapai sekitar Rp 559,8 miliar.

    Apa Itu Aplikasi Hot51?

    Hot51 merupakan aplikasi live streaming yang cukup populer di Indonesia. Platform ini memungkinkan pengguna menonton siaran langsung, berinteraksi dengan host, mengirim hadiah virtual, hingga melakukan percakapan pribadi. Aplikasi tersebut menghadirkan berbagai kategori siaran seperti musik, hiburan, dance, obrolan, game, hingga konten dewasa yang dikenal sebagian pengguna sebagai siaran “bar-bar”.

    Pengguna juga dapat membeli koin virtual yang kemudian ditukarkan menjadi hadiah untuk host. Pada dasarnya, sistem seperti ini umum ditemukan pada platform live streaming. Namun dalam kasus yang diungkap polisi, sejumlah fitur tersebut diduga dimanfaatkan untuk kegiatan ilegal.

    Aplikasi Hot51 menjadi sorotan setelah terseret kasus judol dan pornografi. Simak apa itu aplikasi Hot51 dan modus yang diungkap Polda Metro Jaya.

    Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin bahkan menyebut aplikasi tersebut bukan sekadar platform hiburan. “Aplikasi Hot51 adalah sistem elektronik yang menyediakan layanan perjudian dan live streaming pornografi,” ujar Iman.

    Selain host dan pengguna, polisi juga menemukan dugaan keterlibatan jaringan perusahaan, payment gateway, serta perusahaan cangkang yang digunakan untuk mengelola transaksi keuangan.

    Bagaimana Modus Judol dan Pornografi di Hot51?

    Polda Metro Jaya mengungkap kasus ini berawal dari patroli siber yang kemudian dilanjutkan dengan penelusuran aliran dana atau follow the money. Polisi menemukan adanya dugaan integrasi antara perjudian online, konten pornografi, dan pencucian uang dalam satu ekosistem digital.

    Modus yang diungkap polisi antara lain:

    • Host melakukan siaran bermuatan pornografi.
    • Konten dewasa digunakan untuk menarik penonton.
    • Penonton diarahkan menuju situs judi online.
    • Deposit dilakukan melalui virtual account.
    • Dana diputar melalui perusahaan dan payment gateway.

    Polda Metro mengungkap judol, pornografi digital, dan TPPU melalui aplikasi HOT51. Polisi menetapkan tersangka perorangan hingga korporasi. (Devi P/detikcom)

    Iman menjelaskan sindikat tersebut diduga mengelabui sistem perbankan nasional dengan memanfaatkan sejumlah virtual account dan rekening perusahaan. “Sindikat ini melakukan pengelabuan sistem perbankan nasional,” kata Iman.

    Polisi juga menemukan pola penggunaan perusahaan cangkang dan penyamaran aliran dana. Perputaran transaksi yang terindikasi dalam perkara ini mencapai sekitar Rp 559,8 miliar. “Lima korporasi ini kami tetapkan sebagai tersangka yang melakukan operasional pendistribusian keuangan dari hasil perjudian online dan pornografi live stream,” ujar Iman.

    Kasus Hot51 masih terus dikembangkan oleh Polda Metro Jaya. Polisi menegaskan seluruh tersangka tetap dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

    Kasus ini menjadi pengingat bagi pengguna aplikasi live streaming untuk lebih waspada terhadap platform yang menawarkan konten dewasa dan hadiah virtual. Modus operandi seperti yang diungkap Polda Metro Jaya menunjukkan bagaimana aplikasi hiburan dapat disalahgunakan untuk kegiatan ilegal yang merugikan banyak pihak.

  • Akses Claude di China: Ekonomi Bawah Tanah dan Celah Keamanan

    Akses Claude di China: Ekonomi Bawah Tanah dan Celah Keamanan

    JBNews.id — Anthropic merilis Fable 5, versi aman dari model AI terkuatnya, Mythos, pada awal Juni. Media sosial China langsung ramai dengan unggahan pengguna yang membagikan pengalaman mereka. Namun, akses tersebut hanya berlangsung singkat. Anthropic mencabut akses model tersebut di seluruh dunia beberapa hari kemudian sebagai respons terhadap kontrol ekspor yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.

    Warga China pada umumnya masih bisa mengakses alat AI Barat lain, seperti ChatGPT milik OpenAI, dengan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN), nomor telepon asing, dan metode pembayaran internasional. Namun, Anthropic mengambil langkah lebih agresif, termasuk memblokir akun yang diduga dimiliki oleh pengguna di China.

    Di media sosial China, pengguna sering melaporkan akun Claude mereka ditangguhkan tanpa peringatan, meskipun telah melakukan berbagai tindakan pencegahan. Permainan kucing-dan-tikus ini telah mendorong ekonomi bawah tanah yang berkembang pesat untuk akses Claude di China.

    Pasar Gelap Akun Claude

    Akun Claude dijual di platform e-commerce China seperti Taobao dan melalui pasar ilegal di Telegram. Baru-baru ini, muncul industri rumahan berupa “stasiun transfer” yang bertindak sebagai perantara. Layanan ini membeli akses ke API Anthropic di luar China, lalu mendistribusikan token API Claude kepada pengguna di dalam negeri. Pengaturan ini dirancang untuk memberikan akses yang lebih stabil dan andal bagi startup dan pengguna profesional.

    Michael Aciman, juru bicara Anthropic, menyatakan bahwa perusahaan menggunakan sistem deteksi yang terus berkembang, termasuk verifikasi identitas, untuk menegakkan kebijakan terhadap akses tidak sah ke Claude. Ia menambahkan bahwa Anthropic juga berupaya mendeteksi dan mengganggu jaringan proxy yang digunakan untuk menyediakan akses chatbot di China.

    Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, masih banyak penggemar setia Anthropic di China. Claude sangat populer di kalangan programmer. Perusahaan China seperti DeepSeek dan Z.ai memiliki model open-source yang canggih, namun uji pihak ketiga menunjukkan bahwa model tersebut masih tertinggal dari model tertutup terkemuka seperti Claude.

    Dalam kunjungan pelaporan baru-baru ini ke China, WIRED berbicara dengan akademisi dan insinyur di beberapa perusahaan teknologi. Mereka menyatakan lebih suka menggunakan Claude untuk menghasilkan kode dibandingkan model China, dan sangat antusias untuk mencoba setiap model baru yang dirilis Anthropic.

    Kesenjangan Enam Sampai Sembilan Bulan

    Zilan Qian, asisten peneliti di Oxford China Policy Lab, meneliti pasar gelap penjualan token AI Barat kepada pengguna China. Ia mencatat bahwa pengembang perangkat lunak China lebih memilih menggunakan alat seperti Claude Code dan Codex milik OpenAI dibandingkan alat dari perusahaan domestik. “Analisis menunjukkan bahwa model China masih tertinggal enam hingga sembilan bulan di belakang model AS, dan untuk hal spesifik seperti coding dan pengembangan, Anda jelas bisa melihat kesenjangannya,” kata Qian.

    “Baik pembuat kebijakan AI China maupun teknisi, mereka tidak terlalu masalah memanfaatkan dan menggunakan ide atau produk Amerika, terlepas dari persaingan geopolitik atau ideologis,” ujar Matt Sheehan, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, yang meneliti kebijakan AI dan China. “Orang Amerikalah yang cenderung menganggap ide atau produk itu tercemar hanya karena berasal dari saingan mereka,” katanya.

    Dario Amodei, salah satu pendiri dan CEO Anthropic, sering secara eksplisit menyebut akses China ke model-model mutakhir sebagai ancaman kritis bagi keamanan nasional AS. Baru-baru ini, Anthropic menuduh Alibaba menggunakan output Claude untuk melatih model saingan perusahaan China tersebut, sebuah teknik yang dikenal sebagai “distilasi.” Anthropic juga mengklaim perusahaan China lain pernah melakukan hal serupa di masa lalu.

    Karena alasan keamanan nasional ini, Anthropic tidak menawarkan akses komersial ke Claude di China, atau ke anak perusahaan China yang berlokasi di luar negeri. Meskipun demikian, pengguna terus mencari cara untuk mengaksesnya.

    Stasiun Transfer dan Distorsi Data

    Bagi pengguna biasa, solusi klasik seperti menyalakan VPN dan menggunakan lokasi proxy yang konsisten masih menjadi andalan. Pengguna yang kurang teknis dapat membeli akun Claude yang sudah jadi di platform seperti Taobao dan Xianyu. Anthropic sering memblokir akun-akun ini setelah beberapa waktu, tetapi bagi pengguna yang hanya ingin menguji Claude atau mengajukan pertanyaan sesekali, kerugiannya masih bisa diterima.

    Pasar serupa juga muncul di Telegram dalam beberapa tahun terakhir, kata Hieu Minh Ngo, mantan peretas kriminal yang kini menjadi penyelidik kejahatan dunia maya di ChongLuaDao. Di situs web dan saluran Telegram yang dibagikan Ngo dengan WIRED, pengguna memasarkan akun Claude Pro dan Claude Max, bersama dengan akun ChatGPT Plus dan Gemini Plus. Pasar bawah tanah berbahasa China ini secara khusus berfokus pada penjualan akun “pro” yang memungkinkan pengiriman prompt dalam jumlah lebih besar.

    Demam OpenClaw di China awal tahun ini juga mendorong permintaan untuk agen AI, kata Qian. Karena alat ini melakukan tugas yang lebih kompleks, mereka mengonsumsi lebih banyak token daripada sesi chatbot biasa. Bagi pengguna berat, terutama pengembang yang membutuhkan aliran prompt dan respons yang konstan, menemukan akses yang terjangkau dan andal ke alat seperti Claude dan Codex menjadi kebutuhan mendesak.

    Stasiun transfer hadir sebagai solusi. Didirikan dengan server di negara yang didukung Anthropic, mereka bertindak sebagai perantara antara pengguna China dan Anthropic. Pengguna mengirim prompt ke situs web yang dapat diakses secara lokal, yang kemudian meneruskan permintaan ke Claude melalui akun individu atau kunci API. Respons dari model kemudian dikirimkan kembali ke pengguna. Bagi pengguna, rasanya sama seperti mengobrol dengan Claude, hanya di platform yang berbeda.

    Stasiun transfer sering kali menawarkan harga lebih murah daripada akses API langsung Claude karena mereka bisa mendapatkan diskon enterprise dari Anthropic dan distributor berlisensi lainnya. Permintaan yang tinggi telah mendorong munculnya situs web dan halaman GitHub berbahasa China yang mendaftar puluhan stasiun transfer dan membandingkan berbagai model serta harga token. Bahkan miliarder kripto China yang kontroversial, Justin Sun, ikut serta dan membuka stasiun transfernya sendiri pada bulan Mei.

    Jumlah besar pengguna China yang mengakses Anthropic melalui koneksi proxy mungkin telah mendistorsi gambaran pengguna Claude di seluruh dunia. Singapura, dengan prominensinya dalam bisnis internasional dan dominasi penggunaan bahasa China, sering menjadi target utama bagi pengguna China untuk memalsukan lokasi geografis mereka atau merutekan lalu lintas stasiun transfer. Data yang dipublikasikan Anthropic menunjukkan bahwa Singapura, negara dengan hanya 6 juta penduduk, sering berada di antara negara teratas di dunia dalam adopsi Claude relatif terhadap ukuran populasi.

    Verifikasi Identitas dan Celah Baru

    Anthropic terus memperketat pembatasan untuk mencegah akses dari China. Pada bulan April, perusahaan menerapkan verifikasi identitas untuk beberapa pengguna Claude. Proses ini ditangani oleh Persona, perusahaan pihak ketiga yang didukung oleh dana modal ventura Founders Fund, yang mewajibkan pengguna untuk mengunggah KTP yang dikeluarkan pemerintah, seperti paspor, SIM, atau KTP nasional sebelum dapat masuk ke Claude. KTP dari negara yang tidak didukung tidak akan diterima. Jika akun gagal lulus tes verifikasi, akun tersebut bisa diblokir.

    Persyaratan ini, yang oleh beberapa pengguna China disamakan dengan verifikasi identitas Know Your Customer (KYC) yang diperlukan oleh lembaga keuangan, menggeser pasar solusi dari akun dan API Claude menuju identitas palsu. Selama beberapa bulan terakhir, Ngo mengatakan dia telah melihat saluran Telegram berbahasa China mulai mengiklankan akun Claude yang telah lolos pemeriksaan identifikasi. “Mereka berbicara tentang cara melewati KYC, di mana membeli KYC Claude sehingga mereka dapat menggunakannya,” kata Ngo.

    Mungkin sudah waktunya untuk mengakui bahwa, tidak peduli seberapa ketat Anthropic menegakkan pembatasan geografisnya, selama model masih dirilis ke publik umum, pengguna yang cerdik di China dan negara lain yang tidak didukung kemungkinan akan terus menemukan cara untuk tetap menggunakan Claude. Pasar gelap selalu siap menyediakan solusi siap pakai bagi pengguna non-teknis.

    Namun, konsekuensinya adalah dengan mengakses Claude melalui alat yang tidak sah, pengguna juga mengekspos diri mereka pada lebih banyak risiko keamanan. Selain bisa ditipu oleh penjual di Telegram, informasi sensitif dan prompt yang mereka kirim melalui stasiun transfer bisa berakhir dikemas dan dijual oleh perusahaan perantara kepada pembeli yang tidak bertanggung jawab.

    Semua ini akan menimbulkan tantangan baru bagi keamanan AI. “Orang-orang yang bekerja pada keamanan AI perlu berpikir, jika infrastruktur stasiun transfer ini tetap ada, bagaimana Anda akan memonitor aktor jahat dan mencegah mereka melakukan hal-hal buruk?” kata Qian.

    Laporan tambahan oleh Will Knight.