Blog

  • Meta Akui Kesalahan Kelola Tim AI, Janjikan Perbaikan Morale

    Meta Akui Kesalahan Kelola Tim AI, Janjikan Perbaikan Morale

    JBNews.id — Meta Platforms secara terbuka mengakui kegagalan manajemen di divisi Applied AI yang memicu penurunan kepercayaan dan moral karyawan. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Chief Technology Officer (CTO) Andrew Bosworth dalam sebuah memo internal yang panjang, menyusul laporan ketidakpuasan massal dari sekitar 6.500 insinyur dan manajer produk di unit tersebut.

    Divisi Applied AI dibentuk Meta pada Maret lalu dengan fokus mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) generatif. Namun, dalam waktu singkat, pekerja menggambarkan tugas yang diberikan sebagai “soul-crushing” dan bahkan menyebut lingkungan kerja itu sebagai “gulag.” Laporan dari WIRED pekan lalu mengungkapkan keresahan ini, yang kemudian memicu respons dari jajaran eksekutif puncak Meta.

    “Kami telah merusak kepercayaan yang Anda miliki bahwa keahlian dan kontribusi spesifik Anda akan dihargai, bahwa Anda akan tumbuh dan memajukan karier Anda, dan bahwa ini akan menjadi tempat di mana Anda benar-benar dapat memberikan dampak,” tulis Bosworth dalam memo yang dikutip oleh WIRED. Ia menambahkan bahwa pergantian struktur manajemen yang tiba-tiba dan siklus perekrutan yang tidak stabil menjadi akar masalah.

    Ketegangan ini merupakan bagian dari penurunan moral yang lebih luas di Meta, menyusul gelombang PHK massal, pengawasan ketat terhadap pekerja, dan berbagai kekhawatiran lain. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah eksekutif, termasuk CEO Mark Zuckerberg, telah mengirim pesan internal yang mengakui perasaan karyawan dan berjanji melakukan perubahan.

    Janji Perbaikan Struktur dan Perhatian Personal

    Dalam memo tersebut, Bosworth yang dikenal sebagai loyalis Zuckerberg, menjabarkan sejumlah langkah perbaikan. Meta berencana membatasi jumlah bawahan langsung (direct reports) seorang manajer maksimal 20 orang. Para manajer juga akan difokuskan pada tugas manajerial dan bukan pekerjaan independen. Selain itu, pekerja akan mendapatkan akses ke alat “AI coaching” yang dapat digunakan secara sukarela.

    “Kami melakukan pekerjaan yang buruk dalam menjelaskan visi, memberi gambaran jelas tentang bagaimana kami akan mendukung mereka dan karier mereka dalam transisi ini, serta menggambarkan bagaimana hal itu akan berubah seiring waktu,” tulis Bosworth menanggapi komentar atas memonya. Ia menyalahkan dirinya sendiri dan eksekutif lain karena kehilangan perspektif karyawan saat terburu-buru fokus pada strategi yang lebih luas, seperti bersaing di pasar alat coding AI.

    Meski demikian, Bosworth tetap membela keputusan untuk memindahkan paksa karyawan ke tim AI demi kecepatan. Ia mengingatkan bahwa pekerja mungkin harus mengerjakan proyek yang “tidak mereka anggap memuaskan secara pribadi untuk sementara waktu” karena “akan ada saat-saat di mana pekerjaan membutuhkan pengorbanan.” Pernyataan ini menunjukkan adanya ketegangan internal Meta yang belum sepenuhnya mereda.

    Karyawan Kini Bisa Pindah ke Peran Lain

    Dalam unggahan terpisah yang dilihat WIRED, Maher Saba, wakil presiden yang memimpin tim Applied AI, memberikan kelonggaran. Karyawan yang sebelumnya dipaksa bergabung ke timnya kini diizinkan mengambil peran lain di Meta jika berhasil mendapatkannya. “Kami merasa perlu memanfaatkan apa yang Meta miliki yang tidak dimiliki laboratorium AI lain: skala kami dan keahlian orang-orang kami,” kata Saba.

    Namun, ke depannya, Saba mengatakan timnya akan kembali ke prosedur normal dan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk melamar peran yang menarik minat mereka. Tim Applied AI saat ini fokus pada proyek untuk meningkatkan kemampuan coding dan agen dari model AI frontier Meta, dan dapat berkembang ke keamanan, debugging, serta pengembangan produk. Saba menyebut pendekatan baru timnya sebagai “bergerak cepat dan memperbaiki ke depan,” sebuah perubahan dari moto lama Meta, “move fast and break things.”

    Saba juga menegaskan bahwa peta jalan teknik tradisional yang biasanya disusun di awal semester tidak lagi berlaku karena “pekerjaan berkembang sangat dinamis.” Hal ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan prioritas di tengah persaingan AI yang ketat, yang juga berdampak pada karyawan Meta yang menolak hackathon AI.

    AI Tidak Akan Gantikan Pekerja, Tapi…

    Bosworth dalam memonya menekankan bahwa Meta tidak percaya AI akan sepenuhnya menggantikan pekerja AI. Namun, ia mengingatkan, “Kita harus mengindahkan pepatah, ‘AI tidak akan mengambil pekerjaan Anda, tetapi seseorang yang menguasai AI mungkin akan mengambilnya.’” Kinerja karyawan ke depan tidak hanya dinilai dari penggunaan AI, tetapi dari “dampak” yang dihasilkan dengan teknologi tersebut.

    Bosworth juga mengakui akan ada “tawar-menawar yang sulit untuk sementara waktu” terkait alokasi daya komputasi antar tim. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk bersikap transparan dan berinvestasi secara bertanggung jawab untuk mengurangi hambatan,” tulisnya, sambil mendorong karyawan untuk melaporkan masalah apa pun.

    Upaya Meningkatkan Suasana Kerja

    Dalam upaya meningkatkan moral, Bosworth berjanji menjadikan Meta tempat yang “menyenangkan dan menyenangkan” untuk bekerja. Langkah konkretnya termasuk memperbaiki “microkitchens”—area istirahat di kantor dengan camilan dan minuman—serta meningkatkan anggaran perjalanan dan pengeluaran untuk acara sosial. Tujuannya agar karyawan dapat menghabiskan waktu bersama secara langsung.

    “Saya berharap kita dapat menghidupkan kembali budaya terbaik yang kita ikuti,” tulis Bosworth. Namun, langkah ini muncul di tengah berbagai tantangan lain, termasuk lisensi software pengenalan wajah yang memicu kontroversi.

    Implikasi dari pengakuan ini jelas: Meta tengah berjuang keras menstabilkan internalnya di tengah perlombaan AI yang semakin sengit. Bagi para pengamat industri, langkah Meta ini menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun tidak kebal terhadap masalah manajemen sumber daya manusia ketika pertumbuhan dan kecepatan menjadi prioritas utama. Ke depannya, keberhasilan Meta dalam mengelola tim AI-nya akan sangat menentukan kemampuannya bersaing dengan OpenAI, Google, dan pemain lainnya di pasar yang sama.

  • Meta Aktifkan AI Mode di Facebook, Postingan Publik Jadi Data Latih

    Meta Aktifkan AI Mode di Facebook, Postingan Publik Jadi Data Latih

    JBNews.id, JAKARTA — Meta resmi meluncurkan AI Mode di Facebook, fitur pencarian bertenaga kecerdasan buatan yang mengambil data dari konten publik yang dibagikan pengguna di seluruh platform Meta. Fitur ini mulai diaktifkan pada hari ini, menandai langkah baru dalam integrasi AI generatif di media sosial.

    Alih-alih menampilkan “hanya tautan” seperti hasil pencarian konvensional, AI Mode memberikan jawaban yang dihasilkan AI berdasarkan postingan publik di ekosistem Meta. Pengguna akan melihat opsi “AI Mode” berdampingan dengan mode pencarian biasa seperti “People” dan “Marketplace” saat mencari di Facebook.

    Fitur ini merupakan salah satu dari beberapa inovasi AI yang diperkenalkan Meta secara bersamaan. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu juga meluncurkan preset foto yang dapat menukar seragam olahraga pada penggemar dan saran template kolase. Semua fitur tersebut dirancang untuk memperdalam keterlibatan pengguna di platform.

    Meta menyatakan bahwa AI Mode “menggunakan Meta AI untuk memberikan Anda jawaban yang didasarkan pada apa yang dibicarakan orang secara publik di aplikasi kami.” Model AI yang mendukung fitur ini, Muse Spark, disebut akan “seiring waktu membuka fitur baru yang mengutip rekomendasi dan konten yang dibagikan orang di Instagram, Facebook, dan Threads.”

    Cara Kerja dan Implikasi AI Mode

    Dalam praktiknya, AI Mode akan merangkum opini publik dari postingan yang bersifat publik di platform Meta untuk menjawab pertanyaan pengguna. Misalnya, saat seseorang mencari rekomendasi restoran atau ulasan produk, AI Mode dapat menyajikan ringkasan dari berbagai pendapat yang dibagikan di Facebook, Instagram, atau Threads.

    Pendekatan ini mirip dengan yang dilakukan Google, yang telah menarik informasi dari thread Reddit untuk hasil pencarian dan AI overviews-nya. Namun, perbedaannya terletak pada sumber data yang eksklusif dari ekosistem Meta sendiri, bukan dari web secara keseluruhan.

    Pengguna juga dapat mengajukan pertanyaan lanjutan kepada AI Meta sebagai respons terhadap hasil pencarian yang dihasilkan. Ini menciptakan pengalaman percakapan yang lebih interaktif dibandingkan pencarian statis tradisional.

    Konsekuensi dari fitur ini cukup signifikan: postingan publik di Facebook, Instagram, dan Threads kini menjadi bahan baku untuk melatih dan menginformasikan hasil AI. Pengguna yang tidak ingin kontennya digunakan untuk tujuan ini perlu memeriksa pengaturan privasi akun mereka.

    Dampak bagi Pengguna dan Privasi Data

    Peluncuran AI Mode ini memunculkan pertanyaan baru tentang privasi data di era AI generatif. Seperti halnya Pengadilan Jerman Vonis Google yang bertanggung jawab atas ringkasan AI, Meta kini menghadapi potensi tantangan serupa terkait konten yang dihasilkan dari data publik.

    Bagi pengguna biasa, implikasinya jelas: setiap postingan publik yang Anda buat di Facebook, Instagram, atau Threads berpotensi digunakan sebagai data latih untuk AI Meta. Ini bukan sekadar soal visibilitas, melainkan kontribusi langsung terhadap model AI yang akan memengaruhi miliaran pengguna lainnya.

    Meta belum mengungkapkan secara detail bagaimana pengguna dapat memilih keluar (opt-out) dari penggunaan data mereka untuk fitur ini. Perusahaan hanya menyatakan bahwa AI Mode “didasarkan pada apa yang dibagikan orang secara publik,” yang berarti postingan dengan pengaturan privasi “Hanya Teman” atau “Hanya Saya” seharusnya tidak terpengaruh.

    Perbandingan dengan Kompetitor

    Langkah Meta ini menempatkannya dalam persaingan langsung dengan Google dan perusahaan AI lainnya yang telah lebih dulu mengintegrasikan konten pengguna ke dalam hasil pencarian AI. Google, misalnya, telah menggunakan data dari Reddit untuk memperkaya AI overviews-nya, sebuah praktik yang menuai kontroversi di kalangan pengguna Reddit sendiri.

    Meta memiliki keunggulan unik: akses ke miliaran postingan publik dari tiga platform besar — Facebook, Instagram, dan Threads. Dengan Muse Spark yang dirancang untuk “membuka fitur baru yang mengutip rekomendasi dan konten,” Meta berpotensi menciptakan mesin rekomendasi yang sangat personal dan kontekstual.

    Namun, keunggulan ini juga menjadi titik rawan. Semakin banyak data publik yang digunakan, semakin besar risiko penyalahgunaan atau kesalahan dalam hasil AI. Kasus ASN Pandeglang Rugi Rp200 Juta akibat modus penipuan di Facebook menunjukkan bahwa platform ini tetap menjadi sasaran empuk bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Masa Depan AI di Platform Meta

    Peluncuran AI Mode hari ini hanyalah awal dari ambisi AI Meta yang lebih besar. Perusahaan telah mengindikasikan bahwa Muse Spark akan terus berkembang, memungkinkan fitur-fitur yang lebih canggih di masa depan. Integrasi lintas platform — dari Facebook, Instagram, hingga Threads — menciptakan ekosistem data yang sangat kaya untuk melatih model AI.

    Bagi pengguna di Indonesia, di mana Facebook dan Instagram masih menjadi platform media sosial dominan, dampak fitur ini akan terasa langsung. Postingan publik dalam bahasa Indonesia, termasuk dialek lokal dan istilah gaul, akan menjadi bagian dari data yang digunakan AI Mode untuk menjawab pertanyaan.

    Sementara itu, Meta juga tengah menjajaki teknologi lain seperti lisensi software pengenalan wajah dari perusahaan militer, menandai diversifikasi investasi AI perusahaan di luar ranah media sosial murni.

    Bagi pengguna yang khawatir dengan privasi, langkah paling bijak adalah meninjau ulang pengaturan privasi akun dan memastikan hanya konten yang memang ingin dibagikan secara publik yang tetap terbuka. Di tengah larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun di Inggris, isu perlindungan data pengguna semakin menjadi perhatian global.

    AI Mode di Facebook adalah tonggak baru dalam evolusi pencarian berbasis AI. Namun, seperti semua inovasi yang bergantung pada data pengguna, keseimbangan antara kenyamanan dan privasi akan menjadi tantangan utama yang harus dihadapi Meta ke depannya.

  • Gempa Ratusan Kali Terdeteksi di Bawah Lapisan Es Antartika

    Gempa Ratusan Kali Terdeteksi di Bawah Lapisan Es Antartika

    JBNews.id — Tim ilmuwan internasional berhasil mendeteksi ratusan gempa bumi kecil yang sebelumnya tidak diketahui di bawah David Glacier, Antartika, menggunakan algoritma deep learning. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science dan mengungkap aktivitas seismik yang tidak bisa dijelaskan oleh teori lempeng tektonik konvensional.

    Peneliti menganalisis dua set data yang mencakup periode 2001–2004 dan 2012–2015. Gempa yang terdeteksi memiliki magnitudo antara 1,6 hingga 3,5, namun terjadi di kedalaman lebih dari 43 mil (sekitar 69 kilometer), jauh di bawah zona transisi kerak bumi ke mantel. Keberadaan gempa di kedalaman ini menjadi teka-teki besar bagi para ahli geologi.

    Menurut makalah penelitian tersebut, asal-usul gempa “intraplate intermediate-depth earthquakes” (IDE) ini “sulit untuk diselaraskan dengan tektonik lempeng tradisional.” Para peneliti berargumen bahwa “interaksi kompleks antara sistem Bumi” bisa menjadi penyebabnya, menunjukkan bahwa Antartika jauh lebih aktif secara seismik dari perkiraan sebelumnya.

    Fenomena Gempa di Tengah Lempeng

    Yang membingungkan para ilmuwan adalah lokasi gempa-gempa ini. Alih-alih terjadi di batas pertemuan lempeng (subduksi) yang sudah dikenal sebagai zona seismik aktif, gempa ini justru terjadi di tengah lempeng. Hal ini memaksa para ahli untuk memikirkan ulang cara kerja tektonik lempeng.

    Para ilmuwan menentukan bahwa tekanan lentur (bending stresses) yang disebabkan oleh litosfer yang relatif hangat — lapisan terluar Bumi yang kaku — mendorong dari bawah Antartika Barat, serta litosfer yang relatif dingin dan jauh lebih tipis di bawah Antartika Timur, dapat menjelaskan ratusan gempa aneh ini.

    “Gempa terjadi di mana kerak dan mantel atas yang dingin dan kaku di bawah Antartika Timur bertemu dengan batuan yang lebih hangat dan lebih lunak di bawah Antartika Barat, dan kontras ini menciptakan perubahan mendadak dalam kekuatan tektonik,” ujar ahli geologi dari University of Alabama dan penulis pertama studi, Long Ho, kepada Live Science.

    Ho dan rekan-rekannya terkejut dengan jumlah gempa yang sangat banyak di wilayah tersebut, menunjukkan bahwa daerah lain juga bisa mengalami aktivitas serupa. Untuk mengetahui di mana lagi gempa IDE intraplate ini bisa terjadi, Ho dan timnya mengusulkan penggunaan kecerdasan buatan (AI).

    “Kemampuan deteksi seismik yang canggih, seperti yang digunakan di sini, dapat mengungkap bahwa gempa IDE intraplate lebih umum secara global daripada yang saat ini diakui,” demikian bunyi makalah tersebut.

    Revolusi Pemahaman Seismik Antartika

    Perkembangan ini mengejutkan karena Antartika selama ini “dianggap sebagian besar tidak memiliki gempa bumi,” seperti yang diungkapkan oleh ahli glasiologi Penn State, Richard Alley, yang tidak terlibat dalam penelitian, kepada Live Science.

    “Sekarang, kita tahu bahwa tidak adanya gempa bumi yang tampak sebenarnya adalah kurangnya [alat] untuk mendengarkan gempa bumi,” tambah Alley.

    Ini bukan satu-satunya gempa aneh yang menarik perhatian ilmuwan belakangan ini. Awal tahun ini, peneliti menemukan keberadaan “gempa bumi mantel benua” 55 mil di bawah permukaan laut, kira-kira pada kedalaman yang sama dengan gempa di bawah Antartika. Namun, proses geologi di baliknya tampak sangat berbeda.

    Penemuan ini memiliki implikasi besar bagi pemahaman kita tentang dinamika interior Bumi. Dengan bantuan AI, para ilmuwan kini memiliki alat untuk mendeteksi aktivitas seismik yang sebelumnya tersembunyi. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi deteksi yang semakin canggih, mirip dengan bagaimana Fitur Deteksi Palsu pada ponsel modern membantu pengguna mengidentifikasi ancaman tersembunyi.

    Bagi pembaca, temuan ini berarti bahwa pemahaman kita tentang planet tempat tinggal kita masih sangat terbatas. Teknologi deep learning dan AI tidak hanya berguna untuk aplikasi sehari-hari seperti Deteksi Alat Pelacak, tetapi juga untuk mengungkap misteri geologi terdalam Bumi. Penelitian ini membuka jalan bagi pemetaan ulang zona seismik global dan berpotensi merevisi teori tektonik lempeng yang sudah mapan.

    Dampak praktisnya, pemahaman yang lebih baik tentang aktivitas seismik di daerah yang sebelumnya dianggap stabil dapat membantu dalam mitigasi risiko gempa di masa depan. Meskipun gempa yang terdeteksi di Antartika berkekuatan kecil, keberadaan mereka di lokasi yang tidak terduga menunjukkan bahwa daerah lain yang selama ini dianggap aman mungkin memiliki potensi seismik yang belum teridentifikasi.

  • Kurangi Penggunaan Teknologi, Kemampuan Membaca Siswa Melonjak Drastis

    Kurangi Penggunaan Teknologi, Kemampuan Membaca Siswa Melonjak Drastis

    JBNews.id — Sebuah eksperimen berani di sebuah sekolah menengah atas di Minneapolis, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengurangan drastis penggunaan teknologi di kelas mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam membaca hingga dua kali lipat dalam waktu kurang dari enam bulan.

    Maureen Mulvaney, seorang guru AP Literature dan Bahasa Inggris di Washburn High School, Minneapolis, memulai eksperimen tanpa teknologi (low-tech) ini tahun lalu. Ia frustrasi dengan maraknya plagiarisme, siswa yang mudah terdistraksi, serta tingkat literasi yang terus menurun. Dengan dukungan penuh dari orang tua, ia akhirnya melarang penggunaan ponsel dan laptop di kelas. Semua tugas sekolah harus dikerjakan dengan pensil dan kertas.

    Hasilnya terlihat cepat dan signifikan. Pada bulan September, sebelum eksperimen dimulai, hanya 46 persen siswa Mulvaney yang merasa percaya diri dengan kemampuan membaca mereka. Angka tersebut melonjak menjadi 95 persen pada bulan Februari. “Kami menghadapi banyak masalah dalam pendidikan, dan menurut para siswa saya, solusinya adalah dengan mengurangi penggunaan teknologi,” ujar Mulvaney kepada stasiun berita lokal KARE 11, seperti dikutip dalam laporan. “Kembali ke cara-cara lama. Hilangkan semua gangguan, dan kita bisa mendapatkan kembali anak-anak kita.”

    Mulvaney awalnya membiarkan siswanya beradaptasi secara bertahap. Mereka memulai hanya dengan membaca dan menulis tangan selama sepuluh menit. Namun, hari pertama terasa berat. Dalam esainya di The Minnesota Star Tribune, ia menulis bahwa sebagian besar siswa menyerah setelah menulis setengah halaman dengan tangan. “Saya bilang ke anak-anak, ini seperti angkat beban,” katanya. “Kamu tidak bisa langsung mulai dengan beban 80 pon.”

    Pada bulan Februari, sebagian besar siswa mampu menulis setidaknya dua halaman, dan beberapa bahkan menghasilkan lima hingga enam halaman. Sebanyak 79 persen siswa mengaku lebih mudah menuangkan dan mengatur pikiran mereka di atas kertas dibandingkan di layar komputer. “Sejujurnya ini sangat menyenangkan,” kata salah satu siswa, Rue Falbo. “Saya menikmati tidak menggunakan teknologi, dan saya rasa semua orang jadi lebih terhubung satu sama lain.”

    Siswa lain, Khalil Omar, mengatakan bahwa setelah eksperimen ini, ia lebih menikmati menulis dengan tangan daripada mengetik di laptop. “Di Chromebook, saya mungkin tergoda untuk mencari sesuatu, mencari definisi. Tapi saat menggunakan kertas, saya merasa bisa menulis untuk diri saya sendiri,” jelasnya. Seorang siswa lain menambahkan, “Saat menggunakan kertas, tidak ada godaan untuk menggunakan AI. Saya harus memaksa diri untuk menghasilkan ide sendiri.”

    Hasil eksperimen Mulvaney menjadi angin segar di tengah kekhawatiran para dosen dan guru yang mengeluhkan bahwa siswa mereka kehilangan kemampuan membaca. Kondisi ini diperparah dengan maraknya kecurangan yang difasilitasi oleh alat-alat kecerdasan buatan (AI). Banyak pihak menyalahkan AI dan ponsel, karena terdapat banyak bukti yang menunjukkan efek negatif keduanya terhadap kognitif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI mengganggu kemampuan berpikir kritis dan menyebabkan aktivitas otak yang lebih rendah saat menulis esai.

    Yang menarik dari keputusan Mulvaney adalah larangannya terhadap laptop. Selama ini, laptop sering luput dari kritik dalam diskusi serupa. Banyak sekolah melarang ponsel, tetapi tidak melarang laptop yang bisa digunakan siswa untuk bermain game, berbelanja, atau berinteraksi dengan model AI. Selama beberapa dekade, laptop dianggap sebagai alat belajar yang sangat diperlukan, namun para ahli kini mulai mempertanyakan asumsi tersebut.

    Kecepatan Mulvaney meraih hasil positif juga menjadi catatan penting. Hal ini menunjukkan bahwa masalah penurunan kemampuan kognitif akibat kecanduan perangkat digital mungkin tidak mustahil untuk diatasi. “Anak-anak tidak berubah,” tulis Mulvaney dalam op-ed-nya. “Pendidikanlah yang berubah, dan kita harus kembali ke apa yang berhasil.”

    Eksperimen di Minneapolis ini menjadi studi kasus menarik bagi dunia pendidikan global, termasuk di Indonesia. Di tengah gencarnya digitalisasi sekolah, pertanyaan tentang keseimbangan antara teknologi dan metode pembelajaran tradisional kembali mengemuka. Prestasi anak muda Indonesia di bidang teknologi, seperti yang ditunjukkan oleh dua developer RI yang bertemu Tim Cook di WWDC 2026, membuktikan bahwa penguasaan teknologi tetap penting. Namun, eksperimen ini mengingatkan bahwa fondasi literasi yang kuat mungkin justru lahir dari ruang kelas yang bebas dari gangguan digital.

    Implikasinya bagi para pendidik dan orang tua di Indonesia jelas: penggunaan teknologi di ruang belajar perlu dikaji ulang secara lebih mendalam. Bukan berarti teknologi harus dihilangkan sepenuhnya, melainkan diperlukan pendekatan yang lebih bijak dalam mengintegrasikannya ke dalam proses belajar-mengajar. Kemampuan membaca dan menulis yang baik tetap menjadi fondasi utama kesuksesan akademik, dan terkadang, cara terbaik untuk membangunnya adalah dengan kembali ke metode paling sederhana.

  • Biaya AI Membengkak, Perusahaan Teknologi Mulai Rem Penggunaan

    Biaya AI Membengkak, Perusahaan Teknologi Mulai Rem Penggunaan

    JBNews.id — Gelombang penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara masif di perusahaan teknologi mulai menemui titik balik. Para eksekutif kini dihadapkan pada kenyataan pahit: tagihan AI yang membengkak di luar kendali, mendorong mereka untuk membatasi penggunaan alat-alat AI oleh karyawan.

    Fenomena yang sebelumnya didorong oleh para CEO untuk memaksimalkan AI dalam setiap aspek operasional, dari coding hingga evaluasi kinerja, kini berubah menjadi kekhawatiran. “Ini akan menjadi mimpi buruk yang absolut,” ujar seorang eksekutif teknologi besar tanpa nama kepada The Economist, menggambarkan dilema perusahaan dalam menyeimbangkan biaya dan efisiensi AI.

    Biaya Token AI Melonjak Drastis

    Data terbaru dari Ramp AI Index menunjukkan bahwa perusahaan yang paling “kecanduan AI” menghabiskan rata-rata sekitar $7.500 per karyawan setiap bulannya. Angka ini mencerminkan betapa besarnya investasi yang dikeluarkan tanpa jaminan produktivitas yang sepadan.

    Kasus paling ekstrem terjadi di beberapa perusahaan. Seorang karyawan tunggal di sebuah perusahaan menghabiskan lebih dari $150.000 per bulan hanya untuk token AI. Seorang eksekutif Nvidia bahkan mengakui bahwa biaya AI untuk tim risetnya melebihi gaji yang dibayarkan kepada karyawan sebenarnya. Satu perusahaan dilaporkan kehilangan $500 juta dalam sebulan karena biaya penggunaan Claude.

    Ilustrasi ironis ini menjadi tamparan keras bagi para pendukung AI. Beberapa perusahaan seperti Amazon dan Meta sebelumnya bahkan menerapkan sistem papan peringkat (leaderboard) yang mendorong karyawan untuk menggunakan token AI sebanyak mungkin, seolah-olah sedang berkompetisi. Meta bahkan memasukkan penggunaan AI ke dalam evaluasi kinerja karyawan.

    Namun, semua itu kini mulai ditinggalkan. Amazon dan Meta telah menghapus papan peringkat AI mereka. Seorang eksekutif puncak Uber menyatakan bahwa AI tidak memberikan peningkatan produktivitas yang jelas dibandingkan biayanya yang mahal. Tak lama setelah pernyataan itu, Uber menerapkan batas token bulanan sebesar $1.500 per karyawan.

    Perang Harga Model AI Mengintai

    Kekhawatiran akan biaya AI tidak hanya berdampak pada perusahaan pengguna, tetapi juga pada pembuat model AI itu sendiri. Biaya token saat ini mungkin merupakan yang termurah yang pernah ada, karena secara efektif disubsidi oleh perusahaan penyedia model untuk menarik pelanggan.

    Pertanyaan kritis muncul: dapatkah perusahaan AI bertahan dengan harga rendah ketika jalan menuju profitabilitas masih belum jelas? OpenAI, yang dipimpin Sam Altman, dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk memangkas tarifnya secara drastis untuk memicu perang harga dengan saingan utamanya, Anthropic. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi langkah serupa dari Anthropic.

    Strategi ini memang bisa mengamankan lebih banyak pelanggan dalam jangka pendek dan meyakinkan dunia bisnis bahwa model AI mereka masih layak untuk diinvestasikan. Namun, semua mata akan tertuju pada kedua perusahaan untuk melihat apakah akses AI murah dapat berkelanjutan dalam jangka panjang, atau hanya langkah putus asa sebelum mereka mulai mengenakan tarif lebih tinggi lagi.

    Para ahli menyarankan perusahaan untuk menerapkan batas token pada karyawan, lebih selektif dalam penerapan AI, dan menggunakan model yang lebih murah. Langkah-langkah ini menjadi krusial di tengah sinyal perubahan yang jelas: dari euforia AI menuju kehati-hatian yang lebih besar dalam pengelolaan biaya.

    Implikasinya bagi pembaca: era AI murah dan tanpa batas mungkin akan segera berakhir. Perusahaan dan individu perlu mulai menghitung biaya riil dari penggunaan AI dan mempersiapkan diri untuk skenario di mana harga token AI naik secara signifikan.

  • Tukang Las SpaceX Kini Miliarder Usai IPO

    Tukang Las SpaceX Kini Miliarder Usai IPO

    JBNews.id — Juan Hernandez, seorang tukang las yang pernah bekerja di SpaceX selama satu dekade, mendadak menjadi miliarder setelah perusahaan roket milik Elon Musk resmi melantai di bursa saham. Debut perdana saham SpaceX di Nasdaq pada Jumat lalu mengubah hidup ribuan karyawannya, termasuk Hernandez yang kini memegang saham senilai lebih dari Rp18 miliar.

    SpaceX memulai perdagangan sahamnya di Nasdaq pada Jumat (12/6/2026) dengan simbol ticker SPCX. Harga saham perusahaan antariksa itu ditutup di angka USD 160,95 per lembar pada hari pertama. Dengan kepemilikan sekitar 6.500 saham, nilai investasi yang dimiliki Hernandez mencapai USD 1.046.175 atau setara dengan Rp18,5 miliar.

    Hernandez bergabung dengan SpaceX pada 2015 setelah direkomendasikan oleh seorang teman yang juga bekerja sebagai tukang las di sana. Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendengar tentang perusahaan tersebut. SpaceX menawarinya saham senilai USD 10.000 sebagai bagian dari paket kompensasi karyawan.

    “Itu bukan sesuatu yang besar. Saat itu saya tidak tahu apa-apa soal itu. Saya tidak tahu akan menjadi sebesar ini sekarang,” ujar Hernandez, seperti dikutip dari CBS, Selasa (16/6/2026).

    Selama 10 tahun bekerja di SpaceX, Hernandez bertugas sebagai tukang las yang menyiapkan roket untuk lepas landas. Ia membangun struktur yang membawa roket ke landasan peluncuran serta infrastruktur pendukung lainnya. Kariernya terus menanjak hingga akhirnya ia menjadi supervisor.

    Hernandez menuturkan bahwa kebijakan SpaceX yang menawarkan saham kepada karyawan memberikan dampak positif. Para pekerja merasa memiliki peran yang lebih besar dalam perusahaan dan termotivasi untuk bekerja lebih baik.

    “Mereka juga akan bekerja lebih baik karena, maksud saya, ini perusahaan mereka juga,” ucap Hernandez.

    SpaceXs next-generation Starship spacecraft atop its powerful Super Heavy rocket is prepared for launch as the moon rises over the companys Boca Chica launchpad, in Brownsville, Texas, U.S., November 16, 2024. REUTERS/Joe Skipper

    Saat ini, Hernandez bekerja di Blue Origin, startup roket milik Jeff Bezos. Meski telah menjadi miliarder dadakan, ia mengaku tidak akan berubah. Sebagai seorang imigran di Amerika Serikat, Hernandez bertekad terus bekerja keras dan mewariskan pengalamannya kepada anak-anaknya.

    Ia kini mengajari tiga orang anaknya, termasuk putrinya yang berusia 16 tahun, untuk berinvestasi. Sang putri sudah memegang saham Meta dan sejumlah perusahaan lainnya. Hernandez ingin keluarganya memahami pentingnya investasi berdasarkan apa yang ia pelajari sebagai pemilik saham SpaceX.

    IPO SpaceX tidak hanya mengubah hidup Hernandez. Peristiwa ini juga menjadikan Elon Musk sebagai triliuner pertama di dunia. Ribuan pegawai biasa SpaceX lainnya juga mendadak tajir berkat kepemilikan saham perusahaan.

    Jika diberi kesempatan berbicara langsung dengan Musk, Hernandez mengatakan ia akan berterima kasih. “Ia membantu orang-orang seperti kita, misalnya juru masak atau tukang listrik. Ia membuat kehidupan semua orang ini menjadi lebih baik dan berarti bagi keluarga mereka juga,” pungkasnya.

    Kisah Hernandez menjadi bukti nyata bagaimana program kepemilikan saham karyawan dapat menciptakan perubahan finansial yang dramatis. Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini juga sejalan dengan perkembangan teknologi terkini yang mengubah lanskap industri secara fundamental.

    Bagi para pekerja di sektor teknologi, kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memahami nilai kompensasi non-tunai. Saham perusahaan rintisan yang kemudian melantai di bursa bisa menjadi sumber kekayaan yang tak terduga, sebagaimana dialami oleh Hernandez dan ribuan karyawan SpaceX lainnya.

    Ke depan, kesuksesan IPO SpaceX diprediksi akan mendorong lebih banyak perusahaan teknologi untuk memberikan skema kompensasi serupa kepada karyawannya. Hal ini bisa menjadi tren baru dalam industri teknologi global yang semakin kompetitif dalam merebut talenta terbaik.

  • KSGC 2026 Buka Akses Pendanaan dan Pasar Korea untuk Startup Global

    KSGC 2026 Buka Akses Pendanaan dan Pasar Korea untuk Startup Global

    JBNews.id — K-Startup Grand Challenge (KSGC) 2026 memasuki tahun ke-11 dengan menawarkan akses pendanaan tanpa ekuitas hingga 950 juta won serta peluang kemitraan dengan lebih dari 20 konglomerat Korea. Program akselerasi inbound ini telah menarik 21.537 pendaftar sejak 2016, menjadikannya program paling sukses di kawasan Asia.

    Berbeda dari program akselerasi lain yang hanya menawarkan eksposur, KSGC 2026 memberikan momentum bisnis nyata di Korea. Peserta mendapatkan akses ke pertemuan negosiasi, pembicaraan pendanaan, dan kemitraan korporat yang berujung pada peningkatan pendapatan dan pertumbuhan.

    Peluang Kemitraan dengan Konglomerat Korea

    KSGC memfasilitasi peluang kerja sama bagi perusahaan rintisan terpilih dengan lebih dari 20 konglomerat terkemuka Korea. Program ini menyediakan uji konsep (PoC) yang terstruktur serta kesempatan pengembangan bersama dengan para pemimpin industri yang mencari mitra inovasi. Satu proyek PoC di Korea saja dapat membuka akses ke seluruh rantai suplai regional.

    Selain PoC, KSGC juga memfasilitasi proses pencocokan bisnis secara berkelanjutan selama program berlangsung. Perkenalan bertarget diberikan kepada perusahaan, distributor, dan mitra strategis di berbagai sektor seperti AI, bioteknologi, fintech, manufaktur pintar, mobilitas, dan energi.

    Akses Investor di COMEUP 2026

    Di COMEUP 2026, festival perusahaan rintisan terbesar di Korea Selatan, para peserta KSGC mempresentasikan ide bisnis mereka di hadapan investor modal ventura dan CVC paling aktif di Korea. Acara ini diikuti dengan sesi lanjutan yang difasilitasi oleh panitia KSGC.

    Sesi hubungan investor swasta eksklusif mempertemukan para pendiri secara langsung dengan para investor modal ventura dan CVC terkemuka. Sesi ini memberikan akses ke investor yang sulit ditandingi oleh program lain di Asia.

    Dukungan Dana Tanpa Ekuitas

    KSGC 2026 membagikan hadiah uang tunai tanpa ekuitas sebesar 380 juta won kepada 20 tim teratas. Selain itu, hibah pengembangan usaha sebesar 250 juta won diberikan kepada 8 tim teratas. Dengan dukungan partisipasi dan komersialisasi yang disertakan, total dukungan tanpa ekuitas mencapai angka hingga 950 juta won.

    Program ini terbuka bagi perusahaan rintisan yang didirikan oleh orang non-Korea dan telah beroperasi kurang dari tujuh tahun (sepuluh tahun untuk teknologi modern), dari berbagai sektor industri. Tidak diwajibkan memiliki entitas di Korea.

    Fase 1 diselenggarakan secara daring sepenuhnya, dengan 80 tim yang terpilih untuk mengikuti program ini. Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 17 Juni 2026 pukul 15.00 GMT+9.

    Korea sebagai Pintu Masuk ke Asia

    Bagi perusahaan rintisan global, KSGC bukanlah tujuan akhir. Program ini menjadi titik awal ekspansi ke Asia. Jaringan korporat, hubungan dengan investor, dan kredibilitas pasar yang dibangun melalui program ini menjadi landasan untuk ekspansi ke Jepang, Asia Tenggara, dan wilayah lain.

    Para alumni KSGC telah berhasil mendirikan entitas di Korea, memperoleh kontrak perusahaan, dan menggalang modal lanjutan di seluruh kawasan yang lebih luas. Program ini didanai oleh Kementerian UKM dan Startup Korea (MSS), dikelola oleh Korea Institute of Startup & Entrepreneurship Development (KISED), dan dijalankan oleh Global Center for Entrepreneurship & Innovation (GCCEI).

    Perusahaan rintisan yang berminat disarankan untuk segera mendaftar. Pendaftaran dapat dilakukan di ksgc.global atau melalui email apply@ksgc.global.

    KSGC telah berjalan sejak 2016 dan membantu ratusan perusahaan rintisan internasional membangun kehadiran komersial di Korea dan Asia. Program ini menjadi salah satu program akselerasi paling bergengsi di kawasan.

    Bagi startup yang ingin memperluas jangkauan ke pasar Asia, KSGC 2026 menawarkan peluang yang sulit ditandingi. Kombinasi pendanaan tanpa ekuitas, akses ke konglomerat, dan jaringan investor membuat program ini relevan bagi perusahaan rintisan global yang serius mengembangkan bisnisnya.

  • Fisikawan Usulkan Bintang Mati Jadi Alam Semesta Baru

    Fisikawan Usulkan Bintang Mati Jadi Alam Semesta Baru

    JBNews.id — Dua fisikawan dari Goethe University Frankfurt mengusulkan teori baru yang menyatakan bahwa kematian bintang masif tidak selalu berujung pada lubang hitam, melainkan dapat melahirkan alam semesta mini yang sarat energi gelap. Teori ini diterbitkan dalam jurnal Physical Review D.

    Peneliti Daniel Jampolski dan Luciano Rezzolla mengemukakan bahwa ketika bintang raksasa kehabisan bahan bakar nuklir, alih-alih runtuh total menjadi lubang hitam, bintang tersebut dapat berhenti pada titik hampir runtuh. Pada titik ini, energi gelap memberikan tekanan ke luar yang menyeimbangkan gravitasi, mencegah keruntuhan total.

    “Ledakan Besar dari alam semesta yang muncul dapat terjadi setelah bintang hampir runtuh hingga menjadi lubang hitam,” jelas Jampolski dalam pernyataan resmi. Teori ini membangun jalur alternatif bagi bintang raksasa yang sekarat.

    Alih-alih menjadi lubang hitam dengan kepadatan tak terhingga, bintang mencapai keseimbangan saat energi gelapnya mendorong ke belakang tahap akhir keruntuhan. Kondisi ini mirip dengan batu bata yang mencegah pintu garasi menutup sepenuhnya.

    Secara spesifik, alam semesta baru akan berada di inti objek yang disebut “gravastar.” Gravastar telah dipahami sebelumnya sebagai objek dengan inti yang terbuat dari energi gelap, kekuatan kosmik hipotetis yang diperkirakan mencakup sekitar 68 persen dari total konten energi-massa alam semesta yang diketahui.

    Kondisi saat gravastar terbentuk, menurut Jampolski dan Rezzolla, tidak jauh berbeda dengan kondisi saat Ledakan Besar terjadi miliaran tahun lalu. Tekanan dari energi gelap memberikan tekanan ke luar yang cukup untuk menstabilkan gravastar, menghentikannya dari keruntuhan lebih lanjut.

    Dengan energi gelap yang cukup, gaya gravitasi ini dapat diseimbangkan, menghasilkan gravastar yang stabil. Jenis tekanan ke luar yang sama mendorong ekspansi alam semesta kita sendiri, menurut model saat ini.

    Para peneliti menekankan bahwa teori mereka tentang pembentukan gravastar yang stabil tidak serta merta menyangkal keberadaan lubang hitam. “Mencari alternatif lubang hitam tidak boleh menunjukkan skeptisisme terhadap lubang hitam, yang masih mewakili solusi paling alami dan paling sederhana untuk nasib keruntuhan gravitasi,” argumen Rezzolla.

    “Namun, sebagai ilmuwan pada umumnya, dan sebagai fisikawan teoretis pada khususnya, sangat penting untuk menjaga pendekatan yang tidak bias terhadap apa yang tidak kita ketahui dan karenanya mengeksplorasi baik kebijaksanaan yang diterima maupun interpretasi yang lebih eksotis,” tambahnya. “Sejarah mengajarkan kita bahwa tidak jarang yang terakhir menjadi yang pertama.”

    Teori ini membuka kemungkinan baru dalam memahami nasib bintang masif. Jika terbukti benar, gravastar dapat menjadi objek astronomi yang sepenuhnya baru, berbeda dari lubang hitam. Implikasinya bagi fisika fundamental sangat besar, karena menantang pemahaman kita tentang ruang, waktu, dan asal-usul alam semesta.

    Bagi pembaca, teori ini mengingatkan bahwa batas pengetahuan manusia terus bergerak. Apa yang dianggap mustahil hari ini, bisa menjadi kebenaran ilmiah di masa depan. Alam semesta, ternyata, masih menyimpan lebih banyak misteri daripada yang bisa kita bayangkan.

  • Rencana AI Preemption AS Terganjal Polemik KOSA dan Keterbatasan Waktu

    Rencana AI Preemption AS Terganjal Polemik KOSA dan Keterbatasan Waktu

    JBNews.id — Upaya terakhir lobi Big Tech untuk mengesahkan undang-undang AI federal yang komprehensif (preemption) di Kongres AS kini terganjal oleh polemik internal Partai Republik dan keterbatasan waktu menjelang reses musim panas. Rencana untuk menggabungkan aturan AI dengan undang-undang keselamatan anak (KOSA) justru memicu kebingungan di antara para pemangku kepentingan.

    Selama berbulan-bulan, para pelobi Big Tech di Washington mengejar “cawan suci” regulasi AI: preemption. Undang-undang ini akan menerapkan satu aturan AI di seluruh AS, menggantikan pendekatan negara bagian yang rumit secara hukum. Namun, upaya tersebut terus menemui hambatan politik yang signifikan. Kini, dengan kemungkinan Kongres beralih ke tangan Partai Demokrat yang lebih bermusuhan setelah pemilu paruh waktu, para pelobi berada dalam tekanan waktu yang sangat ketat.

    Laporan yang bocor awal pekan ini mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah memberi tahu kelompok keselamatan anak dan perusahaan Big Tech bahwa mereka akan mendukung serangkaian undang-undang keselamatan anak yang didukung oleh Senator Marsha Blackburn (R-TN), salah satu penulis Kids Online Safety Act (KOSA), sebagai bagian dari paket preemption. Meskipun keselamatan anak memiliki tumpang tindih yang berarti dengan AI, isu ini hanyalah satu aspek dari serangkaian masalah yang jauh lebih besar dan kompleks dalam undang-undang yang komprehensif: keselamatan model frontier, diskriminasi, dampak lingkungan, dan lainnya.

    Kebuntuan antara Gedung Putih dan DPR

    Kesepakatan potensial ini menemui satu kendala besar: Gedung Putih ternyata tidak memberi tahu anggota DPR dari Partai Republik bahwa mereka akan menggunakan versi KOSA milik Blackburn sebagai kendaraan legislatif. DPR baru saja mengesahkan versi KOSA mereka sendiri. Para anggota DPR dari Partai Demokrat yang telah bekerja sama dengan Blackburn dalam versi KOSA Senat juga dikabarkan tidak diberi tahu. Situasi ini menciptakan kebingungan total selama seminggu bagi para pendukung kedua kebijakan tersebut. Pertanyaan kuncinya adalah: akankah preemption AI dan keselamatan anak digabungkan untuk memastikan preemption ditandatangani menjadi undang-undang, tetapi versi keselamatan anak mana yang akan disahkan? Apakah KOSA Senat yang lebih ketat? Atau versi yang lebih longgar yang didukung oleh Pemimpin Mayoritas DPR Steve Scalise (R-LA)? Dan di mana posisi Gedung Putih dalam semua ini?

    “Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang mengemudikan ini,” kata seorang pelobi Partai Republik untuk perusahaan teknologi menengah kepada The Verge. “Semua orang sangat, sangat, sangat skeptis terhadap pergerakan [RUU] ini, karena semua orang berada di halaman yang sangat berbeda. Saya pikir DPR tidak akan menyetujui apa pun yang diinginkan Blackburn.”

    Meskipun pertarungan regulasi AI telah menyebabkan perpecahan besar antara pimpinan Partai Republik dan anggota populis mereka, Presiden Donald Trump sendiri telah menyerukan pengesahan RUU preemption AI. Ini berarti Partai Republik harus mewujudkannya. Para pembuat kebijakan Gedung Putih saat ini sedang mencoba untuk merumuskan pendekatan preemption yang dipengaruhi oleh Mike Davis, seorang pengacara sekutu Trump dan pendiri Article III Project, yang sebelumnya berhasil menggagalkan moratorium AI lain di Senat tahun lalu.

    Secara umum, untuk mendapatkan persetujuan Davis, undang-undang preemption harus secara berarti melindungi seperangkat nilai yang disebut Davis sebagai “Four Cs”: children (anak-anak), conservatives (konservatif), creators (kreator), dan communities (komunitas). Beberapa dari nilai-nilai itu termasuk dalam rancangan undang-undang AI komprehensif yang diusulkan Gedung Putih pada Maret tahun ini, dan dimasukkannya KOSA memenuhi persyaratan “anak-anak”. Namun, Davis mengatakan kepada The Verge bahwa ia menginginkan undang-undang tersebut mencakup keempatnya. “Tidak ada kemungkinan preemption AI akan lolos jika tidak membahas Four Cs. Saya akan memastikan itu. Lagi.”

    Perbedaan Versi KOSA dan Tekanan Waktu

    Mengesahkan KOSA, bagaimanapun, melibatkan rekonsiliasi perbedaan besar antara versi DPR dan Senat dari RUU yang sama. Versi Senat akan mewajibkan perusahaan teknologi untuk mengasumsikan “duty of care,” tindakan pencegahan untuk melindungi pengguna muda, dan akan memperpanjang tanggung jawab itu ke perusahaan AI juga. Namun, versi DPR, yang dipimpin oleh Scalise, melonggarkan ketentuan itu pada akhir November lalu, yang membuat marah para advokat keselamatan anak. Pengecualian DPR dari diskusi Gedung Putih, oleh karena itu, sangat mencolok bagi para pengamat. “[Blackburn] benar-benar tidak menginginkan KOSA versi DPR,” catat Michael Toscano, peneliti senior dan direktur Family First Technology Initiative untuk Institute for Family Studies yang konservatif.

    Bahkan jika Trump berhasil menggalang anggota DPR dari Partai Republik, mereka akan menghadapi masalah lain: anggota DPR dari Partai Demokrat, yang juga mengetahui negosiasi Blackburn dengan Gedung Putih pada saat yang sama dengan anggota DPR dari Partai Republik. Meskipun KOSA Senat disponsori bersama oleh Senator Richard Blumenthal (D-CT) dan disahkan dengan suara 91-3 pada tahun 2024, mereka tidak menyadari bahwa undang-undang mereka sekarang akan digandengkan dengan tujuan preemption AI yang tidak populer. “Jika mereka [Blackburn dan Gedung Putih] melihat RUU yang berdiri sendiri, itu harus melalui Senat,” kata seorang advokat kebijakan AI, mencatat bahwa versi baru dari RUU ini kemudian akan membutuhkan 60 suara — dan karena itu, suara Partai Demokrat — untuk lolos.

    Bahkan jika RUU itu memiliki popularitas tertentu, jadwal mungkin tidak memungkinkan. “Sekarang pertengahan Juni. Anda punya waktu satu setengah bulan sebelum orang-orang pergi untuk reses [lima minggu]. Dan kemudian musim pemilihan [umum],” kata advokat kebijakan AI. “Tidak mungkin.” Minggu-minggu yang tersisa dalam kalender legislatif sudah diserap oleh hal-hal yang lebih mendesak: pembaruan FISA, paket penindakan imigrasi, peningkatan belanja pertahanan untuk perang Trump dengan Iran, RUU struktur pasar kripto, langkah-langkah keterjangkauan, dan RUU pemilihan SAVE America yang kontroversial. Belum lagi item anggaran rutin seperti Medicaid.

    Menggabungkan preemption dan KOSA menghadirkan pilihan sulit bagi Big Tech: Apakah mereka menginginkan preemption AI federal yang menyeluruh lebih dari mereka menginginkan kekebalan dari “duty of care”? Dan mereka tidak punya banyak waktu untuk membuat pilihan ini, catat pelobi teknologi Partai Republik, terutama jika Partai Demokrat mengambil alih salah satu kamar. “Setelah pemilihan, insentif apa yang dimiliki Partai Demokrat untuk mendukung apa pun? Seperti, mengapa mereka tidak akan berkata, ‘Persetan, kami akan melakukan urusan kami di Kongres yang baru?’ Saya sangat skeptis.”

    Austin Carson, mantan kepala operasi hubungan pemerintah Nvidia dan pendiri SeedAI, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan akses AI untuk komunitas lokal, lebih skeptis bahwa pernikahan kenyamanan KOSA-preemption ini akan berhasil. “Saya tidak bisa membayangkan skenario di mana [RUU ini] akan bergerak,” katanya kepada The Verge. “Saya tidak bisa membayangkannya.”

    Implikasi dari kebuntuan ini sangat jelas: tanpa adanya kesepakatan yang cepat, kemungkinan besar tidak akan ada undang-undang AI federal yang komprehensif dalam waktu dekat. Ini berarti perusahaan teknologi harus terus menghadapi regulasi yang berbeda-beda di setiap negara bagian, sebuah situasi yang tidak efisien dan mahal. Bagi para pelobi Big Tech, waktu adalah musuh terbesar mereka, dan dengan jadwal legislatif yang padat dan perpecahan politik yang dalam, peluang untuk mencapai preemption tampaknya semakin menipis.

    Ketidakpastian ini juga menciptakan dilema bagi perusahaan yang bergerak di sektor AI. Di satu sisi, mereka mendambakan kepastian hukum melalui regulasi federal yang seragam. Di sisi lain, mereka harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam undang-undang yang terlalu ketat, terutama yang berkaitan dengan “duty of care” yang dapat membuka celah litigasi. Sementara itu, para advokat keselamatan anak melihat peluang untuk mengamankan perlindungan yang lebih kuat bagi pengguna muda, meskipun harus melalui jalur legislatif yang rumit dan tidak pasti.

    Kisruh ini menunjukkan bahwa bahkan dengan dukungan presiden sekalipun, mengesahkan undang-undang AI yang komprehensif di AS adalah tugas yang sangat berat. Pertarungan antara kepentingan bisnis, keselamatan anak, dan ideologi politik menciptakan labirin yang sulit dinavigasi, terutama dalam waktu yang sangat terbatas. Masa depan regulasi AI di Amerika Serikat, setidaknya untuk saat ini, masih menggantung.

  • Roblox Uji Coba Verifikasi Usia Wajah Demi Keamanan Anak

    Roblox Uji Coba Verifikasi Usia Wajah Demi Keamanan Anak

    JBNews.id — Roblox mulai menguji coba teknologi verifikasi usia berbasis pemindaian wajah (video selfie) untuk memastikan penggunanya benar-benar berusia sesuai yang diklaim. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan global agar platform digital lebih serius melindungi anak-anak dari konten dan interaksi yang tidak sesuai.

    Wakil Presiden Roblox untuk Kebijakan Produk Keamanan, Eliza Jacobs, menyatakan optimismenya terhadap teknologi baru ini. “Mencentang kotak untuk mengatakan Anda berusia 13 tahun atau lebih, itu sudah tidak cukup lagi,” ujar Jacobs kepada NBC News, seperti dikutip dalam laporan yang menjadi acuan artikel ini.

    Roblox mengklaim teknologi estimasi usia wajah mereka mampu mendeteksi usia anak dalam rentang yang sangat akurat. Jacobs menyebutkan bahwa perkiraan tersebut biasanya “berada dalam 1,4 tahun dari usia pasti seorang anak.” Akurasi ini menjadi kunci untuk menyaring pengguna berdasarkan kelompok usia yang tepat.

    Pengujian dengan Anak-Anak dan Hasilnya

    Untuk menguji ketangguhan sistem ini, NBC News mengundang sekelompok anak-anak untuk mencoba proses verifikasi usia Roblox. Salah satu skenario yang diuji adalah apakah anak-anak dapat mengelabui sistem dengan menggunakan kumis palsu. Hasilnya, mereka tidak berhasil melewati verifikasi tersebut, menunjukkan bahwa teknologi pengenalan wajah Roblox cukup canggih untuk mendeteksi upaya pemalsuan fisik.

    Keberhasilan uji coba ini menjadi modal penting bagi Roblox untuk melanjutkan implementasi teknologi tersebut secara lebih luas. Sebelumnya, pada April 2026, Roblox telah mengumumkan rencana untuk menggunakan teknologi estimasi usia berbasis video selfie guna mengelompokkan pemain ke dalam kategori usia tertentu.

    Pembatasan Akun Berdasarkan Usia

    Saat ini, sistem pengelompokan usia Roblox sudah mulai diterapkan. Pengguna di bawah 16 tahun secara otomatis ditempatkan ke dalam akun Roblox Select, sementara pengguna di bawah 9 tahun masuk ke dalam akun Kids. Kedua jenis akun ini memiliki akses terbatas ke fitur chat dan jenis permainan tertentu. Selain verifikasi wajah, pengguna juga dapat menggunakan kartu identitas pemerintah (government ID) untuk memverifikasi usia mereka. Orang tua juga diberikan opsi untuk mengatur kelompok usia anak mereka secara manual.

    Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Roblox untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman. “Kami memiliki visi jangka panjang tentang keamanan dan kesopanan di platform yang kami bangun dan yakini,” tegas Jacobs.

    Dampak pada Jumlah Pengguna

    Penerapan verifikasi usia yang lebih ketat ini bukannya tanpa konsekuensi. Pada April 2026, Roblox melaporkan adanya penurunan jumlah pengguna harian (daily users) setelah menerapkan pemeriksaan usia. Meskipun demikian, Jacobs tetap pada pendiriannya. “Tidak masalah jika beberapa orang tidak selalu senang dengan hal itu,” ujarnya, menegaskan komitmen perusahaan terhadap keamanan di atas segalanya.

    Penurunan pengguna ini menjadi indikator bahwa sebagian pemain mungkin tidak nyaman dengan proses verifikasi yang lebih ketat, atau mungkin ada pengguna di bawah umur yang sebelumnya mengaku lebih tua dan kini tidak bisa lagi mengakses konten tertentu. Namun, bagi Roblox, ini adalah harga yang harus dibayar untuk menciptakan ekosistem yang lebih aman.

    Langkah Roblox ini sejalan dengan tren industri teknologi global yang semakin ketat dalam melindungi anak-anak di dunia digital. Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga telah menagih komitmen platform digital untuk melindungi anak dengan tenggat waktu yang ketat. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan regulasi terhadap platform seperti Roblox akan terus meningkat.

    Teknologi verifikasi usia berbasis wajah ini juga membuka peluang integrasi dengan platform lain. Misalnya, FIFA Piala Dunia yang dibawa ke Roblox dengan skor langsung, atau prediksi EA Sports FC tentang juara Piala Dunia 2026, semuanya membutuhkan basis pengguna yang terverifikasi usianya agar konten dapat disajikan secara tepat.

    Bagi para orang tua, langkah Roblox ini memberikan alat yang lebih baik untuk mengawasi aktivitas anak-anak mereka di platform. Dengan adanya verifikasi wajah dan opsi pengaturan manual, orang tua memiliki kendali lebih besar terhadap jenis konten dan interaksi yang dapat diakses oleh anak-anak mereka.

    Ke depannya, Roblox berencana untuk terus menyempurnakan teknologi ini. Jacobs mengakui bahwa sistem ini masih akan terus berkembang dan menjadi lebih baik seiring waktu. “Kami optimistis bahwa teknologi estimasi usia wajah ini akan terus menjadi lebih baik,” pungkasnya.

    Implikasi dari langkah ini sangat jelas: era anonimitas dan klaim usia tanpa verifikasi di platform game online mungkin akan segera berakhir. Roblox, sebagai salah satu platform terbesar di dunia dengan basis pengguna anak-anak yang masif, menjadi pionir dalam penerapan teknologi ini. Jika berhasil, bukan tidak mungkin platform lain akan mengikuti jejak serupa, mengubah lanskap keamanan digital untuk anak-anak secara fundamental.