Blog

  • Morale Anjlok di Tim AI Meta: Tugas “Soul-Crushing” Picu Protes

    Morale Anjlok di Tim AI Meta: Tugas “Soul-Crushing” Picu Protes

    JBNews.id — Rencana ambisius Mark Zuckerberg membangun unit “Superintelligence” di Meta justru berujung pada krisis moral di internal perusahaan. Sebuah laporan mengungkap bahwa ribuan karyawan di tim Applied AI mengalami tekanan kerja berat dan kejenuhan luar biasa akibat tugas-tugas rutin yang dianggap tidak bermakna.

    Tim Applied AI yang beranggotakan 6.500 staf, dibentuk pada Maret lalu untuk mendukung Superintelligence Labs, kini dilanda demoralisasi. Tiga karyawan yang berbicara secara anonim kepada Wired menggambarkan tugas mingguan mereka, seperti membuat teka-teki untuk menguji keandalan model AI Meta, sebagai pekerjaan yang “soul-crushing” atau menghancurkan jiwa.

    “Ini benar-benar seperti gulag,” ujar salah satu karyawan kepada Wired. “Anda tiba-tiba tidak punya tujuan hidup, hampir tidak berinteraksi dengan siapa pun, Anda hanya memiliki tugas-tugas ini setiap minggu.”

    Suasana tegang bahkan sempat terjadi saat sebuah presentasi internal. Seorang pekerja yang kecewa menyela presentasi dan menuduh eksekutif AI Meta “menjadi budak perusahaan,” mendorong rekan-rekannya untuk menulis surat kepadanya dan “mengatakan bahwa dia adalah sampah.”

    Restrukturisasi yang berfokus pada AI di Meta telah menyebabkan ribuan karyawan dipecat, memaksa mereka yang tersisa untuk menanggung beban kerja tambahan. Salah satu karyawan yang di-PHK bahkan langsung ditahan oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) segera setelah pemecatan, sementara seruan rekan-rekan mereka kepada atasan tidak diindahkan.

    Lebih dari 1.600 karyawan telah menandatangani petisi yang menentang inisiatif baru yang dianggap drakonian. Inisiatif tersebut melibatkan pemasangan perangkat lunak di komputer kerja untuk melacak segala aktivitas karyawan, termasuk ketukan keyboard dan klik mouse. Data tersebut kemudian digunakan untuk melatih AI.

    “Visi yang kami bangun adalah di mana agen kami terutama melakukan pekerjaan, dan peran kami adalah mengarahkan, meninjau, dan membantu mereka berkembang,” kata chief technology officer Meta Andrew Bosworth kepada staf dalam memo April yang diperoleh Reuters.

    Meta juga berusaha keras mengendalikan krisis PR terkait pengawasan lainnya. Pekan lalu, Wired melaporkan bahwa Meta secara diam-diam telah mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah ke dalam kacamata pintarnya. Langkah ini menambah daftar panjang masalah yang harus dihadapi kepemimpinan Meta di tengah persaingan AI yang semakin ketat.

    Zuckerberg sendiri mengakui adanya “moral yang sangat rendah” di perusahaannya. Dalam memo pada Jumat lalu, ia menyatakan bahwa “kami telah membuat kesalahan dan hampir pasti akan membuat lebih banyak lagi.”

    “Saat kami melewati periode ini, saya juga fokus untuk memberikan stabilitas sebanyak mungkin ke depannya,” tambahnya.

    Zuckerberg berjanji bulan lalu bahwa PHK massal akan dihentikan setidaknya selama tujuh bulan ke depan. Namun, apakah upayanya untuk mengendalikan kekacauan ini akan mampu menghidupkan kembali departemen AI yang kacau masih diragukan.

    Dalam memo pekan lalu, Zuckerberg secara khusus membahas moral di dalam tim Applied AI perusahaannya, menyebut pekerjaan kasar itu “sangat penting untuk memajukan model kami.”

    Namun, reaksi publik justru berbeda. Pengguna internet kesulitan untuk bersim simpati pada karyawan Applied AI. Argumen mereka: para pekerja tahu apa yang mereka hadapi saat bergabung dengan Meta.

    “Zuckerberg hanya bisa membangun spyware yang menghabiskan sumber daya bangsa karena mereka rela mengambil uangnya,” komentar seorang pengguna pada laporan Wired. “Sekarang tiba-tiba mereka merasa teraniaya karena sedikit tidak nyaman saat membangun kerajaan sampahnya? Ayolah.”

    “Jadi para karyawan ini baik-baik saja dengan menciptakan AI yang menghancurkan jiwa yang akan dipaksakan pada pekerja lain di perusahaan lain atau yang akan mengambil pekerjaan mereka,” tulis pengguna lain, “asalkan mereka merasa pekerjaannya menantang?”

    Krisis di tim AI Meta ini menjadi gambaran nyata dari Meta Lisensi Software Pengenalan Wajah yang kontroversial dan Meta Rahasiakan Fitur Pengenalan Wajah di perangkatnya. Pertanyaan besarnya adalah apakah Zuckerberg mampu membalikkan keadaan sebelum kehilangan lebih banyak talenta terbaiknya.

    Ilustrasi Mark Zuckerberg dengan latar belakang gelap dan tegang.

  • Bos Xbox Siapkan PHK Besar dan Reset Perusahaan

    Bos Xbox Siapkan PHK Besar dan Reset Perusahaan

    JBNews.id — CEO Xbox, Asha Sharma, berencana melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas anggaran dan bersiap memberhentikan sejumlah besar karyawan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi “reset” perusahaan di tengah tekanan keuangan yang semakin berat.

    Dilansir Bloomberg, Senin (15/6/2026), pengurangan karyawan pertama dijadwalkan terjadi pada Juli mendatang, segera setelah berakhirnya tahun fiskal perusahaan. Anggaran yang dipotong mencakup dana pemasaran dan beberapa area bisnis lainnya. Meskipun jumlah pasti karyawan yang terdampak belum diumumkan, beredar rumor bahwa 1.000 karyawan akan terkena PHK. Xbox menolak memberikan komentar terkait hal tersebut.

    Langkah ini diambil setelah Sharma secara terbuka mengakui tantangan keuangan yang dihadapi Xbox. Dalam sebuah email kepada karyawan yang kemudian dipublikasikan di blog Xbox berjudul “Next 100 Days: XBOX Reset”, terungkap bahwa kinerja perusahaan sedang tidak baik-baik saja.

    Data internal menunjukkan Xbox mengalami margin akuntabilitas sebesar 3% pada fiskal ini, dan pendapatan tahunan telah menurun hampir setengah miliar dolar. “Tidak termasuk Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir, kami telah menghabiskan lebih dari USD 20 miliar untuk investasi berkelanjutan dalam konten, platform, dan subsidi perangkat keras kami, tetapi pendapatan tahunan kami telah menurun hampir setengah miliar selama periode tersebut. Ke depannya, ini tidak dapat berlanjut,” tulis Sharma dalam pernyataannya.

    Krisis yang melanda Xbox tidak terjadi secara tiba-tiba. Penjualan bisnis hardware anjlok, perusahaan gagal menghadirkan sejumlah game sukses, dan layanan Game Pass mengalami stagnasi. Di bawah tekanan dari perusahaan induknya, Microsoft, untuk meningkatkan margin keuntungan, Xbox telah menghabiskan dua tahun terakhir untuk menutup studio, membatalkan pengembangan game, dan menaikkan harga.

    Sharma menegaskan Xbox perlu membangun kembali infrastruktur platformnya dan memikirkan ulang portofolio dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Perusahaan telah melakukan ekspansi untuk meningkatkan pasokan kontennya, termasuk merilis sejumlah game eksklusif seperti Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution, serta menurunkan harga layanan berlangganan Game Pass.

    Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Xbox sedang berada dalam fase transformasi yang kritis. Sebelumnya, Harga Xbox Game Pass yang naik drastis telah menyebabkan kehilangan jutaan pelanggan, memperparah kondisi keuangan perusahaan.

    Keputusan untuk melakukan PHK besar-besaran ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Asha Sharma dalam membawa Xbox keluar dari krisis. Para pengamat industri akan mencermati apakah strategi reset ini mampu mengembalikan profitabilitas perusahaan di tengah persaingan ketat dengan Sony dan Nintendo.

    Implikasinya bagi para pemain dan pelanggan Xbox adalah potensi perubahan besar dalam strategi konten dan layanan ke depannya. PHK besar-besaran ini diprediksi akan berdampak pada jadwal rilis game dan pengembangan hardware di masa mendatang.

    Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Microsoft akan memangkas 650 karyawan di divisi game Xbox. Langkah ini merupakan PHK ketiga di unit video games Microsoft.

    Krisis yang dialami Xbox juga memicu spekulasi tentang kemungkinan perubahan strategi konsol. Beberapa analis memperkirakan Microsoft akan semakin fokus pada layanan cloud gaming dan konten lintas platform, mengurangi ketergantungan pada penjualan hardware tradisional.

    Dengan pendapatan tahunan yang terus menurun dan biaya investasi yang membengkak, Xbox menghadapi tekanan untuk segera menunjukkan hasil nyata dari program reset ini. Langkah-langkah penghematan dan restrukturisasi yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu arah bisnis Xbox dalam jangka panjang.

    Bagi para penggemar Xbox, situasi ini menimbulkan ketidakpastian tentang masa depan platform yang mereka gunakan. Namun, komitmen Sharma untuk membangun kembali infrastruktur platform dan memikirkan ulang portofolio memberikan secercah harapan akan inovasi baru yang mungkin lahir dari proses transformasi ini.

    Ke depannya, Xbox harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk memangkas biaya dengan investasi yang diperlukan untuk tetap kompetitif. Kesalahan dalam mengeksekusi strategi reset ini bisa berakibat fatal bagi posisi Xbox di industri game global.

  • Jadwal Timnas MLBB di Asian Games 2026 Mulai 18 Juni

    Jadwal Timnas MLBB di Asian Games 2026 Mulai 18 Juni

    JBNews.id — Babak kualifikasi Asian Games 2026 untuk cabang esports Mobile Legends: Bang Bang akan dimulai pada 18 Juni 2026. Timnas Indonesia tergabung dalam Grup A bersama tujuh negara Asia Tenggara lainnya dan wajib finis di lima besar untuk melaju ke babak utama di Jepang.

    Fase kualifikasi ini akan diselenggarakan di Singapura selama empat hari, dari 18 hingga 21 Juni 2026. Format pertandingan yang digunakan adalah Single Round Robin best of 3 (Bo3). Artinya, setiap tim harus memenangkan dua dari tiga game dalam satu pertandingan untuk meraih kemenangan.

    Total ada 22 negara yang akan bertarung di babak kualifikasi ini. Mereka terbagi ke dalam empat grup. Grup A dihuni oleh delapan negara Asia Tenggara, sementara Grup B, C, dan D diisi oleh negara-negara dari Asia Barat, Asia Tengah, dan Asia Selatan.

    Berikut adalah pembagian grup selengkapnya berdasarkan pantauan detikINET, Senin (15/6/2026):

    Daftar Grup Kualifikasi

    Grup A: Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Vietnam, Filipina.

    Grup B: Iran, Arab Saudi, Yordania, UAE, Oman.

    Grup C: Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Tajikistan.

    Grup D: Nepal, Sri Lanka, Hong Kong China, Mongolia, Pakistan.

    Jadwal Timnas Mobile Legends di Asian Games 2026

    Selama babak kualifikasi, Timnas Mobile Legends Indonesia akan menjalani tujuh pertandingan. Berikut jadwal lengkapnya dalam Waktu Indonesia Barat (WIB):

    18 Juni 2026

    • Indonesia vs Laos — 16.00 WIB
    • Indonesia vs Vietnam — 19.30 WIB

    19 Juni 2026

    • Singapura vs Indonesia — 16.00 WIB

    20 Juni 2026

    • Indonesia vs Malaysia — 16.00 WIB
    • Indonesia vs Filipina — 19.30 WIB

    21 Juni 2026

    • Indonesia vs Myanmar — 16.00 WIB
    • Indonesia vs Kamboja — 19.30 WIB

    Format Pertandingan

    Format kelolosan berbeda antar grup. Untuk Grup A, lima tim teratas berhak melaju ke babak utama di Jepang. Sementara untuk Grup B, C, dan D, hanya tim yang finis di peringkat dua teratas yang lolos.

    Selain itu, akan ada pertandingan penentu untuk memperebutkan satu tiket terakhir ke babak utama. Tim yang berada di peringkat ketiga Grup B dan D akan saling bertarung untuk menentukan tim ke-12 yang berhak tampil di panggung utama Asian Games 2026.

    Ini menjadi momen krusial bagi timnas Indonesia. Dengan jumlah pertandingan yang padat dalam empat hari, konsistensi permainan menjadi kunci utama. Para pemain harus mampu menjaga performa di setiap laga, terutama melawan lawan-lawan kuat seperti Filipina dan Vietnam yang juga memiliki basis pemain Mobile Legends yang solid.

    Bagi penggemar esports di Indonesia, perjuangan timnas ini layak untuk diikuti. Kesuksesan di babak kualifikasi akan membuka jalan menuju babak utama di Jepang, sebuah panggung bergengsi di ajang multicabang terbesar se-Asia.

    Persaingan di Grup A dipastikan ketat. Selain Indonesia, ada tujuh negara lain yang juga mengincar tiket ke Jepang. Malaysia dan Filipina menjadi rival terdekat yang patut diwaspadai. Namun, dengan persiapan yang matang, timnas Indonesia memiliki peluang besar untuk melaju ke babak utama.

    Implikasi dari hasil kualifikasi ini sangat besar bagi perkembangan esports di Indonesia. Jika berhasil lolos, ini akan menjadi prestasi bersejarah dan semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama Mobile Legends di Asia Tenggara.

    Seluruh pertandingan kualifikasi ini akan menjadi ajang pembuktian bagi skuad timnas yang mayoritas diisi oleh pemain dari tim Alter Ego. Konsistensi dan kerja sama tim akan menjadi faktor penentu di turnamen bergengsi ini.

    Untuk informasi lebih lanjut seputar perkembangan teknologi dan inovasi, Anda dapat membaca artikel tentang NASA X-59 yang baru saja memecahkan rekor kecepatan suara.

  • Meta Lisensi Software Pengenalan Wajah dari Perusahaan Militer

    Meta Lisensi Software Pengenalan Wajah dari Perusahaan Militer

    JBNews.id — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, diketahui telah membeli lisensi perangkat lunak pengenalan wajah dari Rank One Computing, sebuah perusahaan di Denver yang sekitar 80 persen pendapatannya berasal dari klien pemerintah. Lisensi ini terikat pada versi uji coba aplikasi Meta AI yang menggerakkan kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley milik Meta.

    Informasi ini terungkap dalam dokumen lisensi perangkat lunak yang diperoleh WIRED. Rank One Computing, yang sahamnya tercatat di Nasdaq pada Februari lalu, memiliki basis klien yang luas di lembaga penegak hukum dan militer Amerika Serikat. Teknologi pengenalan wajah jarak jauh perusahaan ini bahkan mampu mengidentifikasi wajah manusia dari jarak hingga satu kilometer, yang dikembangkan untuk Komando Operasi Khusus AS.

    Rank One Computing didirikan pada 2015 oleh sekelompok insinyur yang sebelumnya membangun sistem pengenalan wajah di lembaga riset nirlaba Noblis. Pekerjaan mereka saat itu termasuk mengevaluasi algoritma untuk badan riset intelijen AS. Kepemimpinan perusahaan kini berasal dari jajaran senior penegak hukum dan intelijen, dengan CEO B. Scott Swann yang sebelumnya mengepalai divisi FBI yang mengoperasikan database biometrik biro tersebut.

    Lisensi yang diperoleh Meta mengizinkan penggunaan pengenalan wajah Rank One bersama dengan deteksi keaktifan (liveness detection), yang memeriksa apakah kamera melihat orang sungguhan atau foto dan topeng. Teknologi ini mendukung hingga 10 juta template wajah dan masih aktif hingga saat ini.

    Kode yang ditinjau WIRED menunjukkan bahwa sisa-sisa integrasi Rank One—rutinitas yang memuat lisensi dan menginisialisasi perangkat lunaknya—masih ada dalam versi aplikasi Meta yang dikirimkan bulan ini kepada jutaan konsumen. Sistem tersebut tidak aktif dan tidak dapat diakses oleh pengguna. Meta menghapus sistem pengenalan wajah tersebut dari aplikasi pada 5 Juni, sehari setelah WIRED mengungkap bahwa perusahaan diam-diam membangun sistem pengenalan wajah internal bernama NameTag ke dalam aplikasi Meta AI.

    Meta menolak menjawab pertanyaan WIRED tentang hubungannya dengan Rank One. Perusahaan tidak mau menjelaskan mengapa mereka melisensi perangkat lunak tersebut, kapan hubungan itu dimulai, atau apakah hubungan itu masih berlangsung. Rank One juga menolak berkomentar untuk laporan ini.

    Teknologi yang Sama untuk Konsumen dan Militer

    Keterkaitan antara Meta dan Rank One Computing menunjukkan betapa tipisnya garis antara teknologi pengawasan yang dijual ke penegak hukum dan militer dengan produk konsumen yang dijual ke masyarakat umum. Semakin sering, perusahaan yang sama dan algoritma yang mendasarinya melayani kedua pasar tersebut.

    “Ada sejarah panjang teknologi militer menjadi produk konsumen,” kata Joseph Jerome, mantan pejabat kebijakan Meta Reality Labs. “Itu bisa dibilang adalah kisah internet.”

    Teknologi Rank One telah beroperasi di sejumlah tempat penting. Layanan Marshal AS telah menggunakan kit identifikasi biometrik berbasis teknologi Rank One sejak 2021. Di Virginia Barat, puluhan sekolah menggunakan perangkat lunak tersebut untuk memindai wajah di pintu masuk mereka terhadap daftar pelanggar seks negara bagian. Algoritma Rank One juga dibundel di dalam produk DataWorks Plus dan platform Lumen milik LexisNexis, yang memungkinkan polisi melakukan pencarian wajah terhadap galeri gambar negara bagian dan regional serta database investigasi nasional FBI.

    Seperti sistem pengenalan wajah lainnya, teknologi Rank One tidak bekerja secara setara di semua kelompok demografis. Dalam pengujian oleh Institut Standar dan Teknologi Nasional (NIST), versi algoritma perusahaan menghasilkan kesalahan positif palsu pada tingkat yang sangat berbeda tergantung pada jenis kelamin dan negara kelahiran seseorang. Tingkat kesalahan terendah terjadi pada orang yang lahir di Eropa Timur dan cenderung lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

    Implikasi bagi Konsumen dan Regulasi

    Meskipun sistem pengenalan wajah di kacamata pintar Meta tidak pernah aktif untuk pengguna, keberadaan lisensi ini memunculkan pertanyaan tentang ambisi Meta di masa depan. Aplikasi Meta AI sendiri telah diunduh ke lebih dari 50 juta ponsel, dan sistem NameTag yang tidak dirilis sebelumnya telah menjadi bagian dari aplikasi tersebut secara diam-diam.

    Di Amerika Serikat, aturan nasional yang mengatur pengenalan wajah masih terbatas. Banyak negara bagian mewajibkan polisi untuk mendapatkan surat perintah sebelum mengakses data tersebut, dan semakin banyak negara bagian yang memasukkan perlindungan biometrik ke dalam undang-undang privasi konsumen umum mereka setiap tahun.

    “Tetapi perusahaan yang berorientasi konsumen jelas mendambakan akses ke teknologi pengenalan wajah bertenaga tinggi,” kata Eric Null, direktur Proyek Privasi dan Data di Pusat Demokrasi dan Teknologi. “Dan tanpa pemeriksaan yang tepat, risiko teknologi ini menjadi produk konsumen umum sangat signifikan dan sebagian besar tidak terbatas.”

    Rank One Computing sendiri memiliki jajaran dewan yang berasal dari kalangan intelijen dan keamanan tertinggi. Dewan perusahaan termasuk mantan wakil direktur CIA untuk sains dan teknologi, mantan kepala cabang sains dan teknologi FBI, dan mantan pejabat Pentagon yang mendirikan kantor kemampuan khusus senilai miliaran dolar.

    Kasus ini juga menunjukkan bagaimana teknologi yang awalnya dikembangkan untuk keperluan militer dan penegakan hukum perlahan merembes ke pasar konsumen. Dengan Meta yang telah menghadapi berbagai tantangan internal, termasuk ketegangan internal di tim AI dan protes karyawan, keputusan untuk melisensikan teknologi pengenalan wajah dari perusahaan militer menimbulkan pertanyaan serius tentang arah kebijakan privasi perusahaan.

    WIRED melaporkan bahwa kode sisa integrasi Rank One masih ada dalam versi aplikasi Meta yang dikirimkan kepada konsumen bulan ini, meskipun dalam keadaan tidak aktif. Ini berarti infrastruktur untuk mengaktifkan pengenalan wajah bermerek Rank One sudah ada di perangkat jutaan pengguna, hanya menunggu untuk diaktifkan.

    Meskipun Meta telah menghapus sistem pengenalan wajah dari aplikasi pada 5 Juni, langkah itu baru dilakukan setelah pengungkapan publik oleh WIRED. Sebelumnya, perusahaan telah membangun sistem NameTag secara diam-diam tanpa memberi tahu pengguna atau regulator.

    Teknologi deteksi keaktifan (liveness detection) yang termasuk dalam lisensi juga merupakan komponen penting. Fitur ini memastikan bahwa kamera benar-benar melihat orang sungguhan, bukan foto atau topeng yang bisa digunakan untuk menipu sistem. Teknologi semacam ini sering digunakan dalam sistem keamanan perbankan dan verifikasi identitas digital.

    Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa teknologi pengenalan wajah semakin canggih dan semakin dekat dengan produk sehari-hari. Meskipun Meta belum mengaktifkan fitur ini di kacamata pintarnya, keberadaan lisensi dan kode integrasi menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengembangkan teknologi ini.

    Rank One Computing sendiri telah menjadi pemain utama di pasar teknologi pengenalan wajah pemerintah AS. Dengan pendapatan yang 80 persen berasal dari klien pemerintah, perusahaan ini memiliki pengalaman luas dalam menangani database wajah skala besar dan sistem keamanan tinggi.

    Hubungan antara Meta dan Rank One Computing adalah contoh terbaru dari konvergensi antara teknologi konsumen dan teknologi pengawasan. Ketika kacamata pintar menjadi semakin populer, pertanyaan tentang bagaimana data visual yang dikumpulkan akan digunakan menjadi semakin mendesak.

    Para ahli privasi memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang jelas, teknologi pengenalan wajah bisa menjadi alat pengawasan massal yang tidak terkendali. “Risiko teknologi ini menjadi produk konsumen umum sangat signifikan,” tegas Eric Null.

    Meta sendiri belum memberikan pernyataan resmi tentang rencana masa depan mereka terkait teknologi pengenalan wajah. Namun, langkah mereka untuk melisensikan teknologi dari Rank One Computing menunjukkan bahwa perusahaan serius mempertimbangkan untuk mengintegrasikan fitur ini ke dalam produk konsumen mereka.

  • Regulasi Pusat Data AS Dibiarkan Kedaluwarsa

    Regulasi Pusat Data AS Dibiarkan Kedaluwarsa

    JBNews.id — Pemerintah federal Amerika Serikat tidak menyiapkan rencana untuk menggantikan Undang-Undang Federal Data Center Enhancement Act (FDCEA) yang akan kedaluwarsa pada musim gugur 2026. Keputusan ini, menurut sumber di Office of Management and Budget (OMB) dan General Services Administration (GSA), menandakan sikap pemerintahan Donald Trump yang semakin lepas tangan terhadap pengawasan pusat data.

    Seorang pegawai GSA yang berbicara secara anonim kepada WIRED menyebut langkah ini sangat tidak lazim. “Tidak pernah dalam sejarah kebijakan pusat data, sebuah kebijakan berakhir tanpa ada pengganti yang telah dirancang selama tiga tahun di belakang layar,” ujarnya. OMB, sebagai badan yang menetapkan panduan implementasi kebijakan sesuai agenda presiden, tidak menyediakan rencana apa pun untuk mengelola masa transisi ini.

    Kebijakan ini berpotensi menghilangkan aturan penting terkait efisiensi energi dan penggunaan air untuk pusat data federal. Sebelumnya, FDCEA mewajibkan setiap badan federal untuk mempekerjakan spesialis energi guna merancang pusat data yang paling efisien. Tanpa tekanan hukum ini, Chief Information Officer (CIO) di setiap badan akan memiliki keleluasaan lebih besar dalam pelaporan, yang berisiko menimbulkan inkonsistensi dan kesalahan.

    Dampak pada Keamanan Siber dan Transparansi

    Ketiadaan FDCEA juga berdampak langsung pada transparansi dan keamanan siber. Pemerintah telah menghentikan metrik pemantauan IT federal, seperti Federal IT Dashboard, yang berisi informasi kontrak dan belanja pusat data. Seorang pegawai GSA menyebut penghentian ini sebagai “fitur, bukan bug” — artinya, pengurangan visibilitas memang disengaja.

    Matt Triner, pendiri Hunter Strategy, perusahaan konsultan IT di Washington DC, menegaskan bahwa visibilitas adalah bagian penting dari keamanan. “Dengan mengurangi persyaratan pelaporan, Anda melucuti alat-alat yang digunakan untuk memastikan keamanan terjadi,” katanya. Meskipun FDCEA tidak secara langsung menurunkan persyaratan keamanan siber, pengurangan pelaporan membuat masalah yang ada menjadi lebih sulit diidentifikasi.

    Kontrak masa depan dengan perusahaan swasta untuk penggunaan pusat data juga akan lebih sulit dilacak. Hal ini meningkatkan risiko keamanan data sensitif warga negara yang disimpan di pusat data federal maupun kontraktor.

    Konteks: Perubahan Kebijakan dari Era Biden ke Trump

    Perubahan arah kebijakan ini dimulai pada Juli 2025, ketika Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang mendorong pembangunan pusat data secara masif di lahan federal. Perintah tersebut mencabut kebijakan era Biden yang mewajibkan rencana keberlanjutan untuk penggunaan air dan energi di pusat data baru.

    Para pejabat OMB dan GSA menilai bahwa membiarkan FDCEA kedaluwarsa adalah bagian dari semangat perintah eksekutif Juli 2025. “Dengan membiarkan ini berakhir, OMB memasuki era baru yang memprioritaskan pengembangan AI yang cepat di atas standar terpusat yang ketat,” kata pegawai GSA tersebut.

    Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan listrik dari pusat data. Electric Power Research Institute memperkirakan bahwa pada 2030, pusat data akan mengonsumsi setidaknya 9 persen listrik di AS. Lonjakan ini mendorong resistensi publik yang kuat. Menurut jajak pendapat Gallup pada Mei 2026, lebih dari 70 persen warga Amerika menentang pembangunan pusat data di komunitas mereka.

    Resistensi publik ini terjadi di berbagai negara bagian, dari Utah hingga Georgia, melintasi spektrum politik. Sebelumnya, muncul klaim bahwa dana asing berada di balik penolakan tersebut, namun klaim tersebut diragukan validitasnya.

    Sejarah Pengawasan Pusat Data Federal

    Sebelum 2010, pengawasan federal terhadap pusat data sangat terbatas. Badan-badan federal membangun pusat data secara independen tanpa memikirkan efisiensi energi atau target anggaran. Beberapa pusat data bahkan ditempatkan di lokasi tidak aman, seperti di bawah tanah di zona banjir.

    Pada masa pemerintahan Barack Obama, dimulailah upaya multi-tahun untuk memantau dan membersihkan pusat data federal, termasuk pensiunkan pusat data tertentu dan memindahkan data ke layanan berbasis cloud. Undang-Undang reformasi TI tahun 2014 kemudian melembagakan inisiatif konsolidasi dan pemantauan ini.

    FDCEA yang disahkan pada 2023 merupakan kelanjutan dari upaya tersebut. Clare Martorana, Chief Information Officer federal era Biden, mengatakan bahwa upaya luar biasa telah dilakukan selama bertahun-tahun. “Sebagian besar ekosistem ini telah dibersihkan, dan pemerintah menghemat miliaran dolar,” katanya.

    Namun, para pejawat federal yang berbicara kepada WIRED mengakui bahwa regulasi seperti FDCEA dibangun untuk dunia yang berbeda: yang berfokus pada ketahanan, keberlanjutan, dan penghematan biaya. Era AI, menurut mereka, membutuhkan strategi yang berbeda.

    Senator Jacky Rosen, yang mensponsori FDCEA saat disahkan pada 2023, mengatakan kepada WIRED bahwa timnya sedang melihat semua opsi untuk memastikan keamanan data warga Amerika. Namun, kantornya tidak mau merinci rencana tersebut.

    Pemerintah federal adalah pemberi kerja terbesar di AS, dan regulasi tentang bagaimana pusat data dibangun menjadi sangat krusial. Tanpa FDCEA, tidak ada lagi kewajiban bagi badan federal untuk mempertimbangkan penggunaan energi dan air dalam desain pusat data. Ini termasuk pelaporan tentang keberlanjutan pusat data kontraktor swasta.

    Berbeda dengan regulasi sebelumnya, FDCEA tidak disertai pendanaan untuk membantu badan-badan federal mematuhinya. Setiap CIO harus mencari sendiri anggaran untuk memenuhi persyaratan hukum. Tanpa tekanan dari undang-undang dan OMB, Matt Triner mengatakan bahwa CIO akan memiliki lebih banyak diskresi dalam pelaporan.

    Perbedaan pelaporan antar badan, menurut Triner, juga dapat menyebabkan kesalahan. “Meskipun Kongres mengesahkan FDCEA, administrasi sebenarnya bisa menerbitkan ini dengan memorandum dan sirkuler OMB,” katanya. “Itulah cara sebagian besar pelaporan badan eksekutif dilakukan.”

    Pemerintah juga telah menghentikan metrik pemantauan IT federal lainnya, seperti Federal IT Dashboard. Ini berarti kontrak pemerintah dengan perusahaan swasta untuk penggunaan pusat data akan semakin sulit dilacak. Seiring dengan perkembangan AI yang pesat, pemerintah Indonesia juga tengah menyusun kerangka regulasi serupa; Perpres AI ditargetkan terbit tahun ini untuk mengatur perkembangan teknologi tersebut.

    Implikasi dari keputusan ini sangat luas. Dengan berkurangnya transparansi dan pengawasan, risiko keamanan data dan inefisiensi energi meningkat. Sementara itu, dorongan untuk pembangunan pusat data yang cepat terus berlanjut, menciptakan ketegangan antara pengembangan teknologi dan perlindungan publik serta lingkungan.

    Ketiadaan rencana pengganti FDCEA juga menimbulkan pertanyaan tentang komitmen pemerintah terhadap keamanan data warga negara. Dengan pusat data yang menyimpan informasi sensitif dan kritis, kelonggaran pengawasan dapat membuka celah bagi ancaman siber dan bencana alam. Situasi ini menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia, di mana interoperabilitas data diatur untuk bansos tepat sasaran.

  • Inggris Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

    Inggris Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

    JBNews.id — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini mulai berlaku pada musim semi 2027 dan mencakup platform utama seperti Facebook, Instagram, X, TikTok, Snapchat, dan YouTube.

    “Perlunya tindakan sudah sangat jelas. Media sosial membuat anak-anak kita tidak bahagia dan tidak aman,” ujar Starmer dalam unggahan di X, Senin (15/6/2026). “Anak-anak kita pantas mendapatkan yang lebih baik.”

    Larangan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Inggris melindungi anak dari konten ekstrem, grafis, dan perundungan daring. Starmer menegaskan bahwa raksasa teknologi telah gagal menjaga keamanan anak sehingga pemerintah harus turun tangan.

    “Ini adalah garis batas. Raksasa teknologi sudah punya kesempatan dan mereka gagal, tapi kami hadir untuk melindungi anak-anak, mendukung orang tua, dan menetapkan norma baru bagi generasi mendatang,” tambahnya.

    Detail Kebijakan dan Pengecualian

    Larangan ini tidak berlaku untuk layanan pesan instan seperti WhatsApp dan Signal. Pemerintah juga akan melarang fitur siaran langsung dan kemampuan orang asing untuk menghubungi anak di bawah 16 tahun di semua platform. Selain itu, usia minimum untuk chatbot yang meniru interaksi romantis dinaikkan menjadi 18 tahun.

    Pemerintah juga mempertimbangkan pemberlakuan jam malam media sosial semalam suntuk bagi anak di bawah 18 tahun untuk membatasi kebiasaan doomscrolling larut malam. Detail kebijakan ini akan diumumkan pada Juli 2026.

    Kebijakan ini mengikuti proses konsultasi publik yang berlangsung dari Maret hingga Mei 2026, yang menarik lebih dari 100.000 kiriman dari orang tua, akademisi, pelobi, dan lembaga pemerintah. Lebih dari 90 persen orang tua yang merespons mendukung larangan total.

    Respons dari Platform dan Kritikus

    Meta, X, dan TikTok tidak segera menanggapi permintaan komentar. Juru bicara YouTube Jay Stoll menyatakan bahwa platformnya adalah sumber daya penting bagi kaum muda, pendidik, dan orang tua. “Larangan menyeluruh mendorong anak-anak keluar dari pengalaman yang dikurasi, diawasi, dan bermanfaat menuju layanan anonim yang kurang aman,” ujarnya.

    Frederika Cook dari kebijakan publik Snap mengatakan bahwa sebagian besar waktu yang dihabiskan di Snapchat adalah dalam pesan pribadi antara teman dan keluarga. “Larangan total yang memutus remaja dari hubungan itu tidak membuat mereka lebih aman—malah mungkin mendorong mereka ke platform yang kurang aman,” katanya.

    Rowan Ferguson, manajer kebijakan di Molly Rose Foundation, mengkritik pendekatan pemerintah yang terburu-buru. “Yang benar-benar kami khawatirkan adalah pemerintah memilih terburu-buru ke solusi yang tidak didukung bukti, alih-alih mengatasi akar penyebab bahaya,” ujarnya. Ferguson dan lainnya berpendapat bahwa akar masalahnya adalah desain adiktif produk-produk ini, yang tidak diatasi oleh larangan.

    Emily Setty, profesor madya kriminologi di Universitas Surrey, menyebut larangan ini berpotensi hanya bersifat seremonial. “Ketakutan saya adalah larangan ini hanya bersifat performatif—dan segalanya akan tetap sama,” katanya.

    Dampak dari Larangan Australia

    Larangan ini mengikuti jejak Australia yang memberlakukan larangan serupa pada November 2025. Namun, studi terbaru oleh regulator keamanan daring Australia eSafety menemukan bahwa 70 persen anak di bawah 16 tahun di negara itu masih mengakses platform media sosial yang dilarang. Remaja dilaporkan menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi atau memberikan kredensial palsu.

    Meta menuduh pemerintah Australia gagal mempertimbangkan bukti dengan baik, sementara CEO X Elon Musk menyebut kebijakan itu sebagai cara belakang untuk mengontrol akses internet. Reddit bahkan menggugat pemerintah Australia pada Desember 2025 untuk membatalkan kebijakan tersebut.

    Implikasi Politik dan Hubungan dengan AS

    Kebijakan ini juga berpotensi memicu ketegangan antara Inggris dan Amerika Serikat, yang sangat protektif terhadap perusahaan Silicon Valley. Dalam kiriman ke konsultasi publik, pemerintah AS menganjurkan pembatasan sempit pada konten pornografi dan dewasa. “Kami memiliki kekhawatiran tentang regulasi yang membebani perusahaan Amerika secara tidak proporsional,” tulisnya.

    Seorang mantan penasihat khusus pemerintah Starmer, yang meminta anonimitas, mengatakan bahwa Starmer mempercepat larangan ini untuk memperkuat dukungan parlemen mengantisipasi tantangan kepemimpinan. “Isu ini signifikan bagi pemilih, dan tekanan tinggi dari pemilihan sela serta ancaman tantangan kepemimpinan memaksa Downing Street bergerak,” katanya.

    Di parlemen, terdapat perpecahan antara menteri senior yang khawatir mengasingkan perusahaan media sosial dan anggota parlemen yang cenderung mendukung pendekatan lebih agresif. Kelompok pendukung pembatasan berharap langkah ini menjadi “uang muka” untuk intervensi lebih lanjut guna melindungi anak dari bahaya daring.

    Molly Rose Foundation menyerukan pemerintah untuk memperluas Online Safety Act guna memberlakukan “kewajiban perawatan” yang luas pada operator platform. “Pada akhirnya, model bisnis ini memprioritaskan keuntungan di atas keselamatan anak. Sudah tepat kita menantang itu sekeras mungkin,” kata Ferguson.

  • AI Hapus Debat Offside Piala Dunia 2026

    AI Hapus Debat Offside Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang sepenuhnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan offside. Teknologi ini menghilangkan perdebatan sengit seperti yang terjadi pada era sebelum Video Assistant Referee (VAR) dan menjadikan keputusan wasit lebih akurat dalam hitungan detik.

    Adaptasi AI dalam pertandingan sepak bola membuat euforia Piala Dunia 2026 berbeda dari edisi sebelumnya. Perdebatan soal keputusan wasit, terutama offside dan hand ball, kini hampir tidak ada lagi. FIFA telah menerapkan Teknologi Offside Semi-Otomatis (SAOT) yang ditingkatkan dengan integrasi AI.

    Sebelum era AI, momen ikonik seperti ‘Gol Tangan Tuhan’ Diego Maradona di Perempat Final Piala Dunia 1986 terjadi karena wasit dan timnya tidak menyadari kesalahan fatal. Argentina menang atas Inggris dengan skor 2-1. Contoh lain terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 2010, ketika Carlos Tevez mencetak gol ke gawang Meksiko dari posisi offside yang jelas, namun wasit Robert Rosetti tetap mengesahkannya.

    Kini, human error sudah bisa diminimalisir secara drastis. Melansir Inside Fifa, Senin (15/6/2026), sebanyak 1.248 pemain dari 48 skuad telah dipindai secara digital menjadi avatar 3D yang presisi. Bola pertandingan Adidas berisi sensor unit pengukuran (Inertial Measurement Unit/IMU) yang mengirimkan data 500 kali per detik. Sebanyak 12 kamera pelacak di setiap stadion memantau 29 titik data per pemain, 50 kali per detik.

    Saat bola dimainkan, sistem menghitung titik tendangan yang tepat dan memetakan posisi setiap pemain. Apabila seorang pemain berada lebih dari 10 cm di luar garis offside (turun dari ambang batas sebelumnya 50 cm), peringatan audio waktu nyata langsung dikirim ke earphone asisten wasit. Keputusan offside bisa ditentukan hanya dalam beberapa detik tanpa melalui VAR terlebih dahulu.

    Jika pun menggunakan VAR, petugas tidak perlu lagi menarik garis offside secara manual di layar. Mereka hanya bertugas memverifikasi titik tendangan (kick-point) dan garis offside yang sudah otomatis dibuat oleh sistem AI. Penonton juga akan disajikan animasi siaran dari kemiripan 3D pemain sebenarnya yang menunjukkan posisi setiap bagian tubuh saat operan dilakukan.

    Penerapan teknologi ini menandai lompatan besar dalam penggunaan AI di sepak bola. Namun, sebagian kalangan menilai euforia perdebatan khas sepak bola menjadi berkurang. Dulu, momen kontroversial seperti ‘Gol Tangan Tuhan’ menjadi bahan diskusi selama puluhan tahun. Kini, setiap keputusan bersifat final dan berbasis data.

    FIFA menyatakan bahwa teknologi ini bertujuan meningkatkan akurasi dan keadilan pertandingan. Dengan 48 tim yang berlaga, jumlah pertandingan bertambah signifikan, sehingga sistem otomatis menjadi kebutuhan operasional. Data dari 1.248 pemain yang dipindai memastikan setiap avatar 3D merepresentasikan postur asli pemain di lapangan.

    Sensor IMU pada bola buatan Adidas menjadi komponen kunci. Data 500 kali per detik memungkinkan sistem melacak pergerakan bola secara real-time. Kombinasi dengan 12 kamera pelacak yang memantau 29 titik data per pemain menciptakan peta posisi yang sangat detail. Akurasi hingga 10 cm ini jauh melampaui batas toleransi offside sebelumnya yang mencapai 50 cm.

    Implikasinya bagi jalannya pertandingan sangat jelas: keputusan offside yang sebelumnya memakan waktu 1-2 menit melalui VAR kini bisa diputuskan dalam hitungan detik. Hal ini menjaga ritme permainan dan mengurangi waktu terbuang. Bagi pemain dan pelatih, strategi bertahan dengan jebakan offside harus disesuaikan karena sistem AI tidak akan melewatkan pelanggaran sekecil apapun.

    Bagi penggemar sepak bola, pengalaman menonton berubah. Tanpa debat offside yang sengit, diskusi antar penonton bergeser ke aspek teknis permainan lainnya. Animasi 3D yang ditampilkan di siaran membantu penonton memahami keputusan wasit secara visual. Ini menjadi alat edukasi yang efektif untuk menjelaskan aturan offside yang sering membingungkan.

    Teknologi ini juga membuka peluang baru dalam pengembangan perangkat wasit. Ke depannya, integrasi AI untuk mendeteksi hand ball, pelanggaran, dan simulasi pemain bisa menjadi fitur standar. FIFA telah menunjukkan komitmennya untuk terus mengadopsi inovasi demi meningkatkan kualitas pertandingan.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan AI di berbagai bidang, simak juga artikel tentang Karyawan Google Kecam AI yang membahas dampak AI di lingkungan kerja. Sementara itu, inovasi teknologi juga merambah dunia penerbangan dengan NASA X-59 Berhasil Tembus Kecepatan Suara.

    Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sepak bola tidak lagi sama. AI telah menghapus perdebatan offside yang dulu menjadi ciri khas pertandingan. Namun, esensi sepak bola sebagai olahraga yang penuh kejutan tetap terjaga. Yang berubah hanyalah cara kita menyaksikan dan menilai permainan.

  • iOS 27: Performa iPhone Lebih Cepat dan Dukungan Lebih Lama

    iOS 27: Performa iPhone Lebih Cepat dan Dukungan Lebih Lama

    JBNews.id — Apple merilis iOS 27 dengan peningkatan performa signifikan, termasuk kecepatan membuka aplikasi hingga 30 persen lebih cepat dan dukungan perangkat lama yang lebih panjang. Pembaruan ini menjadi angin segar bagi pengguna iPhone, terutama mereka yang masih menggunakan seri lama seperti iPhone 11.

    Dalam pengujian yang dilakukan Apple, peningkatan kecepatan membuka aplikasi mencapai 30 persen pada iPhone 11 Pro Max. Sementara itu, transfer file melalui AirDrop mengalami peningkatan hingga 80 persen pada iPhone 16 Plus. Kecepatan memuat gambar di pustaka foto setelah mengambil gambar juga meningkat hingga 70 persen pada iPhone 15.

    Apple juga memperbarui sistem pencarian di Spotlight, Foto, dan Mail. Pengguna diharapkan bisa langsung menemukan apa yang dicari pada percobaan pertama. Peningkatan ini sebagian berkat optimalisasi pada CPU scheduler, komponen standar dalam sistem operasi yang mengatur lalu lintas aplikasi dan layanan agar fokus pengguna berjalan mulus dan cepat.

    Dukungan Perangkat Lama

    Apple membawa algoritma CPU scheduler tercanggihnya ke iPhone 11 dalam iOS 27. Ini menunjukkan komitmen Apple untuk mendukung perangkat lama selama mungkin. Francisco Jeronimo, wakil presiden Data dan Analitik di firma riset IDC, mengatakan konsumen tidak ingin merasa dipaksa untuk meningkatkan smartphone mereka.

    “Jika mereka bisa menyimpan perangkat lebih lama, itu berarti satu kekhawatiran berkurang, dan nilai uang yang lebih baik, terutama karena kita menghabiskan lebih banyak uang untuk smartphone saat ini daripada sebelumnya,” ujar Jeronimo.

    Ia menambahkan bahwa ini menjadi pembeda besar antara iOS dan Android. “Konsumen sekarang tahu bahwa jika mereka membeli perangkat iOS, perangkat itu akan bertahan lebih lama dan akan mempertahankan nilai pada akhirnya ketika mereka memutuskan untuk meningkatkan. Perangkat Android setelah dua, tiga tahun, tergantung mereknya, tidak akan bisa mendapatkan peningkatan lagi. Perangkat akan kehilangan nilai jika mereka ingin meningkatkan, dan mereka tidak akan bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi.”

    Apple biasanya mendukung perangkat selama enam hingga tujuh tahun. Hanya segelintir produsen Android seperti Google dan Samsung yang menjanjikan tingkat dukungan serupa. Dukungan perangkat lama ini juga membuka peluang bagi Apple untuk mendorong penjualan produk lain seperti Apple Watch atau AirPods.

    Dampak pada Bisnis Layanan

    Jika orang memegang ponsel lebih lama, menjaga perangkat tetap diperbarui juga membuka pintu bagi pelanggan untuk membeli produk Apple lainnya. Jeronimo mengatakan, mungkin mereka akan membeli Apple Watch atau AirPods untuk melengkapi perangkat mereka. Yang lebih krusial bagi Apple, ada insentif lebih tinggi untuk berlangganan layanan perusahaan—Fitness+, Apple TV, Apple Music, dan sebagainya.

    Apple melaporkan pada April lalu bahwa bisnis layanannya mencapai rekor pendapatan sepanjang masa sebesar $31 miliar. Ini menunjukkan bahwa strategi Apple untuk mempertahankan basis pengguna lama sangat menguntungkan secara finansial.

    “Tidak ada yang akan mengkritik mereka jika mereka tidak bisa mendukung [iPhone 11],” kata Jeronimo. “Tapi mereka jelas ingin mendukung semua perangkat mereka karena mereka tahu itu berarti banyak dalam hal nilai merek, dan bagi konsumen untuk tahu bahwa ketika mereka membeli produk mereka, produk mereka tahan lama, dan itu kritis.”

    Beberapa peningkatan ini juga berkat optimalisasi pada CPU scheduler. Ini adalah komponen standar dalam sistem operasi yang mengoordinasikan pekerjaan untuk CPU, mengelola arus lalu lintas aplikasi dan layanan sehingga hal utama yang Anda lakukan di iPhone berjalan mulus dan cepat. Apple memiliki CPU scheduler paling canggih di perangkat terbarunya, tetapi tim membawa banyak kemajuan algoritma tersebut ke iPhone 11 dalam iOS 27.

    Keterbatasan untuk Pengguna Lama

    Meskipun iPhone lama akan tetap didukung, ada catatan penting. Perangkat tersebut tidak akan bisa memanfaatkan beberapa fitur baru utama yang debut di iOS 27. Semua fitur Apple Intelligence—termasuk pengalaman Siri AI baru yang akhirnya membuat asisten suara berguna—hanya tersedia di iPhone 15 Pro atau ponsel yang lebih baru.

    Jadi, jika Anda menginginkan Siri yang lebih pintar atau ingin menggunakan AI untuk mempercantik foto, Anda akhirnya harus melakukan upgrade. Ini menjadi pertimbangan penting bagi pengguna yang masih setia dengan perangkat lama namun menginginkan teknologi terkini.

    Apple telah merombak beberapa aplikasi inti dalam pembaruan ini. Informasi lebih lanjut tentang perubahan pada Maps, Music, Podcasts, dan iCloud bisa Anda simak di artikel terkait. Sementara itu, bagi yang penasaran dengan Fitur AI Foto terbaru, Apple mengambil pendekatan yang sangat hati-hati dalam pengembangannya.

    Dengan iOS 27, Apple tidak hanya meningkatkan performa tetapi juga memperkuat ekosistemnya. Dukungan perangkat lama yang lebih panjang menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi kompetitor. Bagi pengguna, ini berarti investasi yang lebih baik dan pengalaman yang lebih mulus dalam jangka panjang.

  • Telkomsel dan Fola Play Hadirkan Live Streaming Pildun 2026

    Telkomsel dan Fola Play Hadirkan Live Streaming Pildun 2026

    JBNews.id — Telkomsel menggandeng platform streaming Fola Play untuk menghadirkan paket bundling khusus live streaming Piala Dunia 2026. Melalui kerja sama ini, pelanggan dapat menikmati akses ke seluruh 104 pertandingan kompetisi sepak bola tertinggi yang disiarkan langsung melalui aplikasi Fola Play.

    VP Digital Lifestyle Telkomsel, Kemas M. Fadhli, mengatakan kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. “Melalui kolaborasi ini, pelanggan akan mendapatkan akses ke tayangan olahraga yang lebih mudah dan terjangkau, serta dapat menikmati setiap momen pertandingan melalui channel digital kapan pun dan di mana saja mereka berada,” ujar Kemas, dikutip dari siaran pers pada Minggu (14/6/2026).

    Untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih mudah, Telkomsel meluncurkan Paket Bundling Bola Gembira Fola Play. Paket ini tersedia bagi pelanggan prabayar maupun pascabayar dengan dua pilihan utama. Pertama, Bola Gembira Fola Play Full Package seharga Rp85.000 yang mencakup kuota internet 500 MB dan akses penuh ke Fola Play. Kedua, paket Bola Gembira Fola Play 7 Hari seharga Rp25.000 yang sudah termasuk kuota 100 MB dan akses layanan streaming. Seluruh harga sudah termasuk PPN.

    Pelanggan dapat membeli paket melalui aplikasi MyTelkomsel maupun berbagai kanal resmi Telkomsel lainnya. Setelah transaksi berhasil, pelanggan akan menerima tautan aktivasi dan kode voucher melalui SMS untuk mengakses layanan Fola Play. Selain menayangkan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026, Fola Play juga menyediakan berbagai konten hiburan digital lainnya, termasuk ratusan episode microdrama vertikal yang dapat dinikmati tanpa biaya tambahan.

    Sementara itu, Direktur Utama PT Folago Global Nusantara Tbk, Subioto Jingga, menyebut kerja sama dengan Telkomsel akan memperluas jangkauan layanan Fola Play kepada masyarakat Indonesia. Sebagai OTT mitra resmi TVRI untuk streaming Piala Dunia FIFA 2026, Fola Play ingin menghadirkan pengalaman menonton yang lebih personal dan fleksibel. Menurutnya, distribusi melalui bundling Telkomsel akan memudahkan pengguna mengakses tayangan olahraga favorit mereka.

    Kolaborasi ini sekaligus memperkuat ekosistem hiburan digital Telkomsel. Dengan dukungan jaringan seluler yang luas, pelanggan dapat menikmati pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 secara lebih fleksibel melalui aplikasi Fola Play maupun platform MAXStream TV Telkomsel. Langkah ini juga sejalan dengan upaya perusahaan dalam memperkuat posisinya di industri telekomunikasi, termasuk melalui penghargaan Twimbit yang baru diraih.

    Paket bundling ini menjadi solusi bagi penggemar sepak bola yang ingin menonton seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 secara online dengan harga terjangkau. Dengan harga mulai Rp25.000, pelanggan sudah bisa menikmati siaran langsung pertandingan selama tujuh hari. Sementara untuk akses penuh, cukup dengan Rp85.000, pelanggan mendapatkan kuota internet dan akses streaming tanpa batas selama turnamen berlangsung.

    Telkomsel terus berinovasi dalam menghadirkan layanan digital yang relevan. Kolaborasi dengan Fola Play ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menyediakan akses hiburan yang mudah dan terjangkau bagi seluruh pelanggan di Indonesia. Dengan jaringan yang luas dan stabil, pengalaman menonton pertandingan sepak bola dunia pun menjadi lebih maksimal.

    Bagi pelanggan yang ingin menikmati live streaming Piala Dunia 2026, langkah pembelian paket sangat mudah. Cukup buka aplikasi MyTelkomsel, pilih menu paket bundling, lalu pilih Bola Gembira Fola Play sesuai kebutuhan. Setelah pembayaran, kode voucher akan dikirimkan melalui SMS untuk diaktivasi di aplikasi Fola Play.

    Inisiatif ini juga membuka peluang bagi pelanggan untuk menikmati konten hiburan digital lainnya. Fola Play tidak hanya menyediakan siaran pertandingan, tetapi juga ratusan episode microdrama vertikal yang bisa dinikmati gratis. Hal ini menambah nilai lebih bagi pelanggan yang ingin hiburan lengkap dalam satu platform.

    Dengan hadirnya paket bundling ini, Telkomsel dan Fola Play berharap dapat menjangkau lebih banyak penggemar sepak bola di Indonesia. Terutama mereka yang ingin menonton pertandingan secara fleksibel melalui perangkat mobile. Dukungan jaringan 5G dan 4G dari Telkomsel memastikan kualitas streaming tetap optimal selama pertandingan berlangsung.

    Kolaborasi ini juga memperkuat ekosistem digital Telkomsel yang terus berkembang. Sebagai operator seluler terbesar di Indonesia, Telkomsel tidak hanya fokus pada layanan telekomunikasi, tetapi juga pada layanan hiburan digital yang terintegrasi. Langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan dalam menghadapi era digitalisasi yang semakin pesat.

    Bagi masyarakat Jawa Barat dan Banten, paket bundling ini menjadi angin segar di tengah antusiasme menyambut Piala Dunia 2026. Dengan harga terjangkau, mereka bisa menikmati seluruh pertandingan tanpa perlu khawatir dengan kuota internet. Telkomsel juga menyediakan berbagai promo menarik lainnya untuk mendukung kebutuhan digital pelanggan, termasuk promo internet WFH di wilayah Jabotabek.

    Ke depannya, Telkomsel berencana terus menghadirkan inovasi serupa untuk berbagai event olahraga dan hiburan lainnya. Dengan pengalaman dan jaringan yang dimiliki, perusahaan optimistis dapat memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Kolaborasi dengan Fola Play menjadi salah satu bukti nyata komitmen tersebut.

    Dengan demikian, live streaming Piala Dunia 2026 kini semakin mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Cukup dengan paket mulai Rp25.000, seluruh pertandingan bisa dinikmati secara langsung melalui aplikasi Fola Play. Ini adalah kesempatan emas bagi penggemar sepak bola untuk tidak melewatkan momen-momen penting di turnamen paling bergengsi di dunia.

  • Amazfit Cheetah 2 Ultra dan Pro Resmi di Indonesia, Baterai Tahan 30 Hari

    Amazfit Cheetah 2 Ultra dan Pro Resmi di Indonesia, Baterai Tahan 30 Hari

    JBNews.id — Amazfit resmi meluncurkan dua smartwatch running premium terbarunya, Amazfit Cheetah 2 Pro dan Amazfit Cheetah 2 Ultra, di Indonesia pada 10 Juni 2026. Kedua perangkat ini menawarkan daya tahan baterai hingga 30 hari serta fitur GPS presisi yang dirancang khusus untuk pelari serius dan marathon runner.

    Peluncuran ini menandai langkah agresif Amazfit di segmen sport smartwatch premium, yang selama ini didominasi oleh Garmin. Dengan kombinasi material premium, fitur olahraga berbasis AI, dan harga yang lebih kompetitif, seri Cheetah 2 mulai dipandang sebagai alternatif kuat di pasar wearable Indonesia.

    Amazfit Cheetah 2 Pro hadir untuk pengguna yang fokus pada road running dan latihan marathon. Smartwatch ini menggunakan material Grade 5 Titanium dengan bobot sekitar 45 gram, sehingga tetap ringan saat digunakan berlari dalam waktu lama. Layarnya memakai panel AMOLED 1,32 inch dengan tingkat kecerahan mencapai 3.000 nits, serta dilapisi sapphire glass agar lebih tahan gores.

    Fitur unggulan Cheetah 2 Pro meliputi Zepp Coach AI yang dapat membuat program latihan personal hingga full marathon. Jam ini juga mendukung berbagai metrik lari profesional seperti running power, lactate threshold, ground contact time, hingga analisis running posture. Untuk navigasi, Cheetah 2 Pro dibekali dual-band GPS dan dukungan enam sistem satelit positioning. Pengguna juga bisa memakai offline maps dan route navigation langsung dari smartwatch.

    Soal baterai, Amazfit mengklaim perangkat ini mampu bertahan hingga 20 hari untuk penggunaan normal dan sampai 31 jam dalam mode GPS aktif.

    Sementara itu, Amazfit Cheetah 2 Ultra ditujukan untuk trail runner dan endurance athlete yang sering menghadapi medan ekstrem. Model ini hadir dengan layar AMOLED lebih besar berukuran 1,5 inci yang tetap menawarkan tingkat kecerahan hingga 3.000 nits. Cheetah 2 Ultra membawa ketahanan standar militer, storage internal 64GB, serta kemampuan menyimpan lebih banyak peta offline maupun podcast.

    Amazfit juga meningkatkan kemampuan navigasi dengan full-color contour maps dan elevation overview untuk membantu pengguna membaca medan secara lebih detail. Dari sisi daya tahan, baterainya lebih impresif. Smartwatch ini diklaim mampu bertahan hingga 30 hari dalam penggunaan normal dan 33-60 jam dalam GPS/trail running mode tergantung skenario pemakaian.

    Amazfit Cheetah 2 Series

    Kedua smartwatch ini terintegrasi dengan ekosistem Zepp App yang menyediakan data kesehatan dan latihan secara lengkap, mulai dari HRV, kualitas tidur, training load, recovery, hingga estimasi VO₂ Max. Amazfit juga menghadirkan kompatibilitas dengan platform populer seperti Strava, TrainingPeaks, Runna, dan Intervals.icu sehingga memudahkan sinkronisasi data latihan.

    Harga resmi Amazfit Cheetah 2 Series di Indonesia mulai 10 Juni 2026 adalah:

    • Amazfit Cheetah 2 Pro: Rp 7.799.000
    • Amazfit Cheetah 2 Ultra: Rp 10.499.000

    Dengan spesifikasi dan harga tersebut, seri Cheetah 2 menjadi pilihan menarik bagi pelari yang menginginkan Fitur Terbaru dari smartwatch olahraga tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam dibandingkan kompetitor utama. Kehadiran fitur AI dan navigasi presisi membuat perangkat ini relevan untuk berbagai level pelari, dari amatir hingga profesional.

    Bagi pengguna yang menginginkan daya tahan baterai ekstra, Cheetah 2 Ultra jelas unggul dengan klaim 30 hari pemakaian normal. Sementara Cheetah 2 Pro menawarkan keseimbangan antara bobot ringan dan fitur lengkap untuk road running. Keduanya sama-sama dibekali layar AMOLED super terang yang nyaman digunakan di luar ruangan.

    Imbas dari peluncuran ini, persaingan di segmen smartwatch premium Indonesia diprediksi semakin ketat. Amazfit tidak hanya bersaing dengan Garmin, tetapi juga dengan merek-merek lain yang mulai merambah kategori serupa. Bagi konsumen, ini berarti lebih banyak pilihan dengan harga yang lebih kompetitif di tahun 2026.

    Spesifikasi Lengkap dari kedua perangkat ini menunjukkan komitmen Amazfit untuk menghadirkan teknologi wearable kelas atas dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan baterai tahan lama dan fitur GPS presisi, Cheetah 2 series layak menjadi pertimbangan utama bagi pelari yang serius meningkatkan performa.