Blog

  • Sony Xperia 1 VIII: AI Camera Assistant Gagal Total

    Sony Xperia 1 VIII: AI Camera Assistant Gagal Total

    JBNews.id — Sony Xperia 1 VIII hadir dengan fitur AI Camera Assistant yang justru merusak kualitas foto, bukan memperbaikinya. Setelah sepekan pengujian, fitur unggulan ini terbukti menghasilkan gambar yang buruk, tidak konsisten, dan membebani performa ponsel flagship tersebut.

    Saat memperkenalkan Xperia 1 VIII sebulan lalu, Sony justru mempromosikan ponselnya dengan membagikan beberapa foto terburuk yang pernah dihasilkan kamera Sony dalam beberapa tahun terakhir. Foto-foto itu sengaja diambil menggunakan AI Camera Assistant baru milik Sony. Setelah pengujian selama seminggu, hasilnya persis seperti yang diperlihatkan Sony: buruk.

    Dalam sesi pengarahan pers untuk Xperia 1 VIII, Sony pertama kali menunjukkan AI Camera Assistant. Awalnya, fitur ini disebut mirip dengan “versi perbaikan dari Google’s Camera Coach.” Namun ternyata anggapan itu keliru. Camera Coach pada Pixel terbaru adalah mode kamera khusus yang memandu pengguna membingkai bidikan, meminta fokus pada objek tertentu, dan memberikan tips spesifik tentang komposisi, posisi, lensa kamera mana yang digunakan, serta apakah perlu menggunakan mode Portrait. Meskipun dinilai kurang memuaskan saat diulas pada Pixel 10A, Camera Coach tetap berfungsi sebagai pelatih fotografi dasar.

    Sony AI Camera Assistant berbeda. Fitur ini tertanam langsung di mode default aplikasi kamera dan muncul secara otomatis saat pengguna mencoba mengambil foto. Sony memang menyediakan opsi untuk mematikannya sepenuhnya. Saat pengguna hendak memotret, sebuah kotak kecil muncul di viewfinder yang menampilkan seperti apa foto tersebut dengan pengaturan alternatif yang disarankan oleh AI Sony. Sentuhan cepat memungkinkan pengaturan itu diaktifkan, atau pengguna bisa menggeser ke bawah untuk melihat tiga opsi alternatif lainnya.

    Berbeda dengan Google Camera Coach, AI Assistant milik Sony tidak memberikan saran apa pun tentang pembingkaian atau fokus. Fitur ini hanya menerapkan filter dan menyerahkan sisanya kepada pengguna. AI Assistant bahkan tidak memberi tahu efek apa yang diterapkannya, sehingga pengguna tidak akan belajar apa pun tentang mengapa gambar terlihat seperti itu atau cara mencapai efek yang sama secara mandiri.

    Ketidakonsistenan dan Hasil yang Mengecewakan

    Saran dari AI Assistant tidak muncul secara konsisten. Fitur ini sama sekali tidak didukung pada kamera selfie, dan tidak ada penjelasan mengapa. Mengarahkan kamera langsung ke cahaya terang atau jendela yang backlight biasanya tidak memunculkan saran AI apa pun, begitu juga saat membidik dinding kosong. AI Assistant cenderung tidak menawarkan opsi untuk foto makro, meskipun kadang-kadang muncul. Jika mencoba memotret telapak tangan, AI Assistant memiliki banyak ide; tetapi jika tangan diputar ke samping atau ke belakang, opsi itu menghilang. Tidak ada logika yang bisa dijelaskan dari perilaku ini.

    Mayoritas perubahan yang disarankan AI Assistant adalah penyesuaian pada eksposur, white balance, kontras, dan pengaturan gambar dasar lainnya — dan biasanya dengan penyesuaian yang agresif. Terkadang fitur ini menyarankan penggelapan foto hingga terlihat muram dan suram, di lain waktu akan meningkatkan highlight hingga meledak di luar pengenalan. AI Assistant sangat suka menyarankan efek sepia, atau menggeser white balance ke arah kuning untuk menciptakan foto yang lebih hangat. Biasanya ada setidaknya satu opsi dengan saturasi yang ditingkatkan untuk membuat semuanya tampak mencolok.

    Selain penyesuaian warna dan eksposur, AI Assistant kadang-kadang mengaktifkan efek bokeh buatan, mengaburkan latar belakang seperti dalam mode portrait. Dalam momen yang lebih cerdas, fitur ini mungkin mencerahkan subjek gambar sambil menggelapkan latar belakang untuk membantu mereka menonjol. Sony mengklaim AI Assistant dapat menyarankan perpindahan antara tiga lensa belakang ponsel atau bahkan membantu menemukan “sudut paling fotogenik,” namun setelah seminggu pengujian, fitur ini tidak pernah terlihat berfungsi sama sekali.

    Efek yang dihasilkan AI Assistant mirip dengan filter Instagram yang sudah ada sejak 16 tahun lalu, hanya saja filter Instagram justru lebih halus. Xperia 1 VIII sebenarnya juga memiliki filter bawaan — lima pilihan termasuk simulasi film dan mode yang lebih vivid. Perbedaan utamanya adalah AI Camera Assistant seharusnya bereaksi secara dinamis terhadap pemandangan, subjek, dan pencahayaan untuk menyarankan perubahan terbaik pada momen tertentu — itulah fungsi AI-nya. Secara teori ide ini tidak buruk, tetapi dalam praktiknya hasilnya tidak dapat digunakan.

    AI Assistant hanya menghasilkan segelintir foto yang layak disimpan, lebih sedikit lagi yang layak dibagikan di media sosial, dan hanya satu atau dua yang bisa diklaim lebih baik dari aslinya. Fitur ini cenderung lebih berguna dalam kondisi pencahayaan buruk, karena pengaturan kamera default lebih mungkin kesulitan. Namun, bahkan dalam kondisi seperti itu, hanya satu atau dua foto yang layak diambil.

    Dampak pada Performa Ponsel

    Masalah kamera ini bukan karena kualitas hardware-nya. Xperia 1 VIII memiliki kamera yang bagus dengan sensor besar di ketiga lensa belakangnya, melampaui hardware milik Apple dan Google. Ponsel ini memiliki gaya pemrosesan yang khas dengan kontras yang sedikit ditingkatkan. Ini adalah kamera Xperia terbaik dari Sony dan kompetitif dengan ponsel lain di kisaran harga yang setara dengan US$1.850, meskipun ponsel ini tidak diluncurkan di Amerika Serikat.

    Kualitas kamera yang baik justru membuat AI assistant semakin membingungkan. Keputusan Sony untuk menampilkan saran sebelum mengambil foto, bukan setelahnya, tampaknya berdampak negatif pada performa. Meskipun menggunakan chipset flagship Snapdragon 8 Elite Gen 5, Xperia 1 VIII berjalan tidak merata dan rentan overheating. Menjalankan AI Camera Assistant menambah beban pada sistem. Aplikasi kamera sering terbuka lambat, dan bisa membeku atau hang selama beberapa detik saat mengganti lensa, mengakses saran AI, atau mengambil foto. Seluruh kamera pernah crash satu kali selama pengujian. Mematikan AI Assistant terbukti meringankan masalah tersebut.

    Berbeda dengan fitur AI dari Apple di iOS 27 yang dapat mengedit objek keluar dari foto, memperluas gambar untuk menyertakan detail yang tidak ada, atau membingkai ulang bidikan asli — AI Camera Assistant Sony tidak menimbulkan pertanyaan tidak nyaman tentang apa itu foto. Fitur ini hanya membuat orang bertanya-tanya apakah tim Xperia Sony benar-benar memahami apa yang membuat foto menjadi bagus.

    Bagi pengguna yang menginginkan ponsel dengan kamera andal, fitur AI Camera Assistant justru menjadi kelemahan utama. Sebaiknya fitur ini dimatikan untuk mendapatkan hasil foto terbaik dari Xperia 1 VIII. Sementara itu, Sony masih harus bekerja keras untuk memperbaiki algoritma AI-nya agar benar-benar membantu, bukan malah merusak pengalaman fotografi.

  • Investasi Google Rp1,2 Triliun di A24 Picu Kekecewaan Penggemar

    Investasi Google Rp1,2 Triliun di A24 Picu Kekecewaan Penggemar

    JBNews.id — Google menginvestasikan dana sebesar US$75 juta atau setara Rp1,2 triliun ke studio film independen A24 sebagai bagian dari kemitraan riset kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan perangkat pembuatan film. Langkah ini langsung memicu reaksi negatif dari basis penggemar setia studio tersebut.

    Menurut laporan The Wall Street Journal pada Senin (15/6/2026), investasi tersebut menjadi salah satu kolaborasi langka antara studio film arus utama dengan perusahaan AI. Meskipun nilai investasi tergolong kecil untuk standar industri teknologi, kemitraan ini memiliki signifikansi simbolis yang besar.

    “There goes A24,” tulis sebuah unggahan viral di media sosial. “Why do they keep forcing AI on us,” keluhan lainnya ikut membanjiri linimasa para penggemar. Reaksi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu AI di kalangan komunitas pecinta film independen.

    Kemitraan dengan laboratorium DeepMind milik Google bertujuan untuk mengembangkan “perangkat baru untuk produksi dan distribusi film,” demikian dikutip dari laporan WSJ. Penting dicatat bahwa perjanjian ini tidak memberikan akses Google ke data A24, termasuk pustaka filmnya.

    Scott Belsky, mitra A24, mengakui ambivalensi para pembuat film terhadap teknologi AI. “Kami pikir ada penggunaan yang lebih baik yang menjaga kendali kreatif dan mendukung pengambilan risiko,” ujar Belsky kepada WSJ. Ia menambahkan bahwa perangkat baru tersebut “tidak akan terlihat seperti jenis AI generatif yang membuat orang merasa tidak nyaman.”

    Tim beranggotakan 20 orang yang dipimpin Belsky, A24 Labs, saat ini tengah mengembangkan alat untuk pembuatan papan cerita (storyboard) berbasis AI. Langkah ini mengikuti jejak sutradara legendaris Martin Scorsese yang baru-baru ini mendukung perusahaan rintisan AI yang menyediakan perangkat serupa, memicu krisis eksistensial di kalangan sineas.

    Kontroversi semakin memanas ketika para penggemar mengingat pernyataan Kane Parsons, sutradara berusia 20 tahun yang mengarahkan film tersukses A24 sepanjang masa berjudul “Backrooms.” Film horor yang menjadi pembuka terbesar A24 itu dipandang banyak pihak sebagai alegori melawan AI.

    “Jika saya bisa menjentikkan jari dan membuat generative AI menghilang selamanya, saya mungkin akan melakukannya,” kata Parsons dalam sebuah wawancara. “Secara kreatif, saya tidak mendapat kesenangan menggunakan alat-alat itu. Itu mengalahkan tujuan sepenuhnya bagi saya.”

    Ia menambahkan, “Generative AI terasa kurang seperti inovasi dan lebih seperti gejala dari pembusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas.” Pernyataan tegas ini kontras langsung dengan arah baru yang diambil A24 melalui kemitraannya dengan Google.

    Sebelumnya, Disney menjalin kemitraan penting dengan OpenAI tahun lalu, namun berakhir dengan buruk ketika OpenAI tiba-tiba menutup alat generator video Sora pada Maret 2026. Kasus ini menjadi peringatan bagi industri film tentang risiko ketergantungan pada teknologi AI yang belum matang.

    Investasi Google ke A24 menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kreativitas di industri film. Di satu sisi, AI dapat mempercepat proses produksi dan membuka kemungkinan artistik baru. Di sisi lain, kekhawatiran tentang penggantian tenaga kerja kreatif dan homogenisasi konten tetap menjadi isu utama.

    Fenomena perlawanan terhadap AI di industri kreatif bukanlah hal baru. Dominasi AI influencer telah menjadi ancaman nyata di media sosial, memicu perdebatan serupa tentang otentisitas dan nilai kreatif.

    Bagi A24, studio yang selama ini membangun citra sebagai underdog cerdas yang mengedepankan film-film berbasis visi sutradara, kemitraan ini berpotensi mengikis identitas yang telah dibangun bertahun-tahun. Loyalitas penggemar yang luar biasa selama ini justru menjadi pedang bermata dua ketika menghadapi keputusan bisnis yang kontroversial.

    Dampak dari kemitraan ini belum dapat diukur secara langsung. Namun, reaksi keras dari komunitas penggemar menunjukkan bahwa isu AI dalam seni tetap menjadi topik yang sangat sensitif. Para pembuat film dan studio kini berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan integritas artistik.

    Implikasinya bagi industri film Indonesia patut dicermati. Jika studio sekaliber A24 menghadapi resistensi semacam ini, bagaimana dengan industri film lokal yang mungkin mengadopsi teknologi serupa? Pertanyaan tentang keseimbangan antara efisiensi produksi dan nilai seni akan terus menjadi perdebatan hangat di tahun-tahun mendatang.

    Di tengah hiruk-pikuk ini, satu hal yang pasti: hubungan antara teknologi AI dan industri kreatif masih jauh dari kata selesai. Setiap langkah maju akan selalu diiringi dengan pertanyaan mendasar tentang apa artinya menjadi kreatif di era mesin yang bisa “belajar” meniru manusia.

  • Saham SpaceX Anjlok, Pasar Teknologi Global Terkoreksi

    Saham SpaceX Anjlok, Pasar Teknologi Global Terkoreksi

    JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan selama empat hari berturut-turut setelah debut pasar perdana yang spektakuler, menghapus hampir seluruh keuntungan awal dan memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham teknologi global.

    Futures S&P 500 tergelincir 1,6 persen pada Selasa, sementara futures Nasdaq 100 turun 2,8 persen, yang berpotensi menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar jika penurunan berlanjut. Tekanan jual juga melanda saham-saham teknologi utama seperti Amazon, Nvidia, Tesla, Alphabet, dan Intel, yang masing-masing anjlok lebih dari tiga persen dalam perdagangan pra-pembukaan.

    Saat bel pembukaan pada Selasa waktu AS, SpaceX dibuka pada level US$150, tepat di bawah harga penawaran perdananya. Nvidia ambles lebih dari tiga persen, sementara Tesla turun hampir empat persen. Indeks S&P 500 dibuka dengan kerugian 1,5 persen, mengonfirmasi tingkat ketidakpastian yang tidak biasa di pasar.

    Kerugian ini meluas hingga ke pasar internasional, menimbulkan kekhawatiran bahwa antusiasme terhadap siklus hype AI yang telah berlangsung selama bertahun-tahun mungkin mulai meredup. Para analis telah lama memperingatkan bahwa valuasi perusahaan teknologi yang sangat besar dan menopang seluruh pasar sedang menggelembungkan bubble yang bisa membahayakan perekonomian jika pecah.

    “Gravitasi menghantam,” demikian peringatan para trader JPMorgan dalam catatan Selasa, merujuk pada indeks Asia yang terpukul keras bersamaan dengan futures AS dan Uni Eropa.

    Skala besar debut Wall Street SpaceX dan perhatian yang diraihnya menjadi pemicu utama kegelisahan investor. Pada Senin saja, perusahaan roket tersebut kehilangan US$400 miliar nilai pasar setelah sahamnya jatuh hampir 17 persen. Penurunan empat hari berturut-turut SpaceX kemungkinan memicu sentimen negatif yang lebih luas di kalangan investor.

    SpaceX juga mengumumkan “penawaran obligasi perdana” untuk mengumpulkan dana tambahan guna mendanai rencana ambisiusnya meluncurkan satu juta satelit pusat data orbit raksasa ke luar angkasa — sebuah konsep yang masih belum teruji. Langkah ini menambah ketidakpastian di tengah volatilitas pasar yang sedang berlangsung.

    Dampak pada Sektor Teknologi dan AI

    Penurunan tajam saham teknologi ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan AI yang melambung tinggi tidak lagi sejalan dengan fundamental bisnis. Saham Nvidia, yang menjadi barometer industri AI, turun lebih dari tiga persen dalam perdagangan pra-pembukaan, sementara Tesla turun hampir empat persen.

    Para analis telah lama memperingatkan bahwa valuasi yang terlalu tinggi pada perusahaan teknologi yang menopang indeks pasar bisa menjadi risiko sistemik. Jika gelembung ini pecah, dampaknya bisa meluas ke seluruh perekonomian. Kondisi ini menjadi “gut check” besar bagi investor yang selama ini berkomitmen pada reli AI.

    Di tengah gejolak ini, inovasi teknologi lain terus berjalan. Robot Humanoid dengan saraf tiruan tengah diuji coba, menunjukkan bahwa meskipun pasar saham bergejolak, riset dan pengembangan AI tetap berlanjut.

    Implikasi bagi Pasar Global

    Jika penurunan hari Selasa bertahan, lebih dari US$1 triliun nilai pasar bisa lenyap dalam sehari. Ini menjadi salah satu koreksi terbesar dalam sejarah pasar saham AS. Kerugian yang meluas ke pasar internasional menunjukkan bahwa gejolak ini bersifat global, bukan hanya masalah domestik AS.

    Investor kini dihadapkan pada ketidakpastian tinggi. Apakah penurunan ini koreksi sementara atau awal dari penurunan yang lebih dalam? Jawabannya akan sangat bergantung pada data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan teknologi dalam beberapa pekan mendatang.

    Bagi investor ritel dan institusi, momen ini menjadi pengingat bahwa valuasi pasar yang terlalu tinggi selalu mengandung risiko. Lompatan Peringkat di sektor energi hijau menunjukkan bahwa diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi penting dalam menghadapi volatilitas.

    Seperti yang dikatakan para trader JPMorgan, “gravitasi menghantam.” Pertanyaan besarnya adalah seberapa dalam dampaknya dan seberapa cepat pasar bisa pulih.

  • Meta Luncurkan Kacamata Pintar Tanpa Brand Ray-Ban, Harga Mulai $299

    Meta Luncurkan Kacamata Pintar Tanpa Brand Ray-Ban, Harga Mulai $299

    JBNews.id — Meta resmi meluncurkan tiga model kacamata pintar baru tanpa kemitraan brand mewah, dengan banderol harga mulai $299 atau setara dengan harga generasi pertama perangkat tersebut. Langkah ini menjadi strategi perusahaan untuk membangun identitas merek sendiri di pasar perangkat wearable.

    Pada Selasa lalu, perusahaan memperkenalkan tiga varian baru: Adventurer, Fury, dan Starfire. Harga awal $299 ini sama dengan harga peluncuran kacamata pintar generasi pertama Meta, namun jauh lebih murah dibandingkan Ray-Ban Gen 2 yang dirilis tahun lalu. Perbedaan utama terletak pada tidak adanya branding Ray-Ban atau Oakley, sehingga perangkat ini hanya disebut sebagai Meta Glasses.

    Meski tanpa label mewah, Meta tetap bekerja sama dengan konglomerat kacamata EssilorLuxottica untuk memproduksi dan mendistribusikan produk baru ini. Konsumen tetap bisa membelinya di toko kacamata seperti LensCrafters, baik dengan lensa resep maupun tanpa resep dengan rentang daya -12 hingga +2.25. Produk ini sudah mulai dijual hari ini.

    Ketiga model Meta Glasses memiliki bentuk bingkai yang berbeda. Meta Adventurer hadir dengan bentuk persegi panjang klasik dalam ukuran standar dan besar. Meta Fury memiliki bentuk serupa namun tidak terlalu kotak. Kedua desain ini menawarkan 26 kustomisasi yang bisa dipilih pembeli, termasuk lensa berwarna dan berbagai warna bingkai seperti Racing Green atau Sandstone.

    Kolaborasi dengan Kylie Jenner

    Model Meta Starfire menjadi varian yang paling menonjol. Didesain bekerja sama dengan Kylie Jenner, edisi khusus ini memiliki kemiripan dengan kacamata Gentle Monster bertenaga Google yang akan diluncurkan tahun ini. Terdapat batu permata kecil di lensa, bantalan hidung logam untuk mencegah penyerapan makeup, serta asisten suara Meta AI dengan versi suara buatan Jenner yang dilengkapi suara khas lainnya. Kotak penyimpanannya juga menyertakan catatan dari Jenner dan cermin built-in.

    Meta melakukan tiga perubahan utama untuk meningkatkan kenyamanan pemakaian. Pertama, bantalan hidung yang dapat disesuaikan dengan kemiringan tiga arah. Kedua, ujung pelipis yang bisa diatur berkat kawat inti. Ketiga, engsel overextension yang membuat lengan kacamata sedikit melebar saat dipasang, memudahkan pengguna dengan kepala lebar mendapatkan ukuran yang pas.

    Spesifikasi dan Fitur

    Spesifikasi hardware sebagian besar sama dengan Ray-Ban Meta Gen 2, termasuk kemampuan memotret 12 megapiksel dan merekam video 3K. Terdapat enam mikrofon untuk menangkap perintah suara, speaker di lengan untuk mendengarkan musik atau podcast, serta kontrol sentuh untuk pemutaran musik. Daya tahan baterai mencapai 8 jam dengan sekali pengisian, dan kotak penyimpanan dapat menambah 40 jam daya tambahan.

    Meta juga menjual Meta Glasses Charging Stand baru, dudukan sederhana yang membebaskan pengguna dari ketergantungan pada kotak penyimpanan. Dudukan ini kompatibel dengan model Ray-Ban Meta, Oakley Meta HSTN, dan Meta Glasses. Tombol di lengan berfungsi untuk memotret, sementara tekan lama merekam video. Terdapat LED yang menandakan saat merekam atau memotret.

    Kacamata ini menjalankan model multimodal Muse Spark terbaru yang sudah diluncurkan ke perangkat yang ada melalui pembaruan perangkat lunak. Fitur baru termasuk Dynamic Photo yang menangkap beberapa bingkai dan merekomendasikan bidikan terbaik, serta petunjuk arah belokan demi belokan yang akan hadir segera.

    Menanggapi pertanyaan privasi tentang kamera pada kacamata pintar, Chief Technology Officer Meta Andrew Bosworth mengatakan perangkat ini menggunakan teknologi deteksi gangguan yang sama dengan Ray-Ban Gen 2. Namun ia menekankan bahwa ini adalah “permainan kucing-tikus dengan pelaku jahat” dan perusahaan melakukan segala upaya untuk memperkenalkan perlindungan privasi yang lebih kuat.

    Belum ada teknologi pengenalan wajah pada Meta Glasses baru ini. Ankit Brahmbhatt, direktur senior Manajemen Produk untuk AI Glasses di Meta, menyatakan tidak ada rencana untuk pengenalan wajah karena bukan fokus perusahaan saat ini.

    Peluncuran ini terjadi di tengah masa sulit hubungan Meta dengan karyawannya. Bosworth sendiri mengirim memo internal kepada karyawan pekan lalu yang menjanjikan komunikasi lebih baik, stabilitas, dan tunjangan tempat kerja untuk meningkatkan moral yang berada di titik terendah sepanjang masa. Situasi ini semakin diperparah dengan kebocoran data 45.000 karyawan yang memaksa penghentian program AI.

    Tujuan Meta dengan kacamata ini adalah memasangkannya ke lebih banyak wajah. “Ini lebih dari sekadar apakah pas—kesesuaian dan kenyamanan sangat penting untuk diperbaiki—tetapi juga brand pribadi Anda,” kata Bristol. “Ini adalah keputusan yang sangat penting jika kami ingin orang memakainya sebagai kacamata sehari-hari.” Jika lebih banyak orang mulai memakai Meta Glasses, itu berarti lebih banyak orang menggunakan Meta AI.

    Bosworth percaya kekhawatiran privasi serupa dengan yang terjadi saat smartphone pertama kali memasukkan kamera berkualitas tinggi ke saku kita. “Ada hal normalisasi sosial yang harus terjadi,” ujarnya. “Kacamata ini sangat populer… itu tidak berarti kami tidak khawatir tentang setiap kasus pinggiran.”

    Peluncuran ini juga terjadi di tengah pergantian kepemimpinan setelah Meta menunjuk CEO baru WhatsApp, menggantikan Will Cathcart dengan pendiri Cred. Sementara itu, kondisi internal perusahaan terus memburuk dengan moral karyawan yang ambruk meskipun bos sudah menjanjikan berbagai perbaikan.

  • Schneider OffGrid Portable Power Station Resmi di Indonesia

    Schneider OffGrid Portable Power Station Resmi di Indonesia

    JBNews.id — Schneider Electric resmi meluncurkan Schneider OffGrid Portable Power Station di Indonesia, sebuah perangkat daya portabel yang dirancang untuk aktivitas luar ruangan seperti kemah dan mendaki, sekaligus menjadi sumber listrik cadangan saat terjadi pemadaman. Peluncuran ini menandai langkah strategis perusahaan dalam menjawab kebutuhan energi yang semakin mobile di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Schneider menilai kebutuhan akan sumber listrik yang praktis dan mudah dibawa semakin penting, terutama bagi pengguna yang ingin tetap terhubung meski berada jauh dari jaringan listrik. Perangkat ini mampu mengisi daya berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone, laptop, kamera, hingga perangkat berdaya rendah lainnya.

    Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Schneider OffGrid Portable Power Station dibekali beragam opsi konektivitas seperti stopkontak AC, USB-A, USB-C, port DC, soket mobil tambahan, hingga fitur pengisian daya nirkabel. Kehadiran produk ini menjadi solusi bagi mereka yang kerap beraktivitas di luar ruangan atau tinggal di daerah dengan pasokan listrik tidak stabil.

    “Peluncuran Schneider OffGrid Portable Power Station mencerminkan misi kami untuk menghadirkan akses energi yang lebih inklusif, andal, dan berkelanjutan bagi semua orang, di mana pun mereka berada. Kami memahami bahwa kebutuhan listrik saat ini tidak hanya terbatas di rumah atau kantor, tetapi juga di luar ruang, baik untuk pekerjaan, gaya hidup, maupun kondisi darurat,” ujar Ellya Cen, Business Vice President Data Center Schneider Electric Indonesia dalam keterangan resmi.

    Menurut Ellya, perangkat ini hadir dengan desain premium, ringan, namun tetap tangguh sehingga cocok digunakan dalam berbagai situasi. Mulai dari berkemah dan mendaki hingga menjadi sumber daya cadangan ketika listrik padam. Perangkat ini juga kompatibel dengan panel surya, memberikan fleksibilitas pengisian daya yang lebih luas.

    Fleksibilitas Pengisian Daya dan Keunggulan Lingkungan

    Salah satu keunggulan utama Schneider OffGrid adalah fleksibilitas pengisian dayanya. Selain dapat diisi menggunakan stopkontak rumah dan soket mobil, perangkat ini juga kompatibel dengan panel surya. Kemampuan tersebut membuatnya cocok digunakan dalam aktivitas outdoor berkepanjangan maupun di lokasi yang sulit dijangkau jaringan listrik.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Schneider juga mengklaim perangkat ini beroperasi sangat senyap dan bebas emisi. Dibandingkan generator berbahan bakar bensin, solusi ini dinilai lebih ramah lingkungan dan nyaman digunakan, baik di area perkemahan maupun lingkungan rumah. Untuk menunjang keamanan dan kenyamanan pengguna, Schneider OffGrid dilengkapi lampu LED ambient serta mode SOS berkedip yang dapat dimanfaatkan dalam situasi darurat.

    Tersedia pula layar LCD yang memudahkan pengguna memantau kapasitas baterai dan status pengoperasian secara real-time. Fitur-fitur ini menjadikan perangkat ini tidak hanya sebagai sumber daya, tetapi juga alat keselamatan yang andal saat berada di alam terbuka.

    Keberlanjutan dan Desain Ramah Lingkungan

    Aspek keberlanjutan turut menjadi perhatian dalam pengembangan produk ini. Schneider OffGrid dibuat menggunakan 60% bahan plastik daur ulang pascakonsumsi dan dikemas dengan material yang 100% dapat didaur ulang. Selain itu, fitur Eco Mode akan mematikan daya secara otomatis saat tidak digunakan guna membantu menghemat energi.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Langkah ini sejalan dengan tren global di mana konsumen semakin peduli terhadap dampak lingkungan dari produk yang mereka gunakan. Dengan komitmen pada bahan daur ulang dan efisiensi energi, Schneider Electric berupaya memberikan solusi yang tidak hanya fungsional tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis.

    Perangkat ini juga dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Material yang digunakan memastikan ketahanan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan benturan ringan, sehingga cocok untuk petualangan di alam terbuka. Pengguna tidak perlu khawatir perangkat akan cepat rusak meski digunakan dalam kondisi lapangan yang berat.

    Harga dan Ketersediaan di Indonesia

    Schneider OffGrid Portable Power Station kini sudah tersedia di Indonesia melalui situs resmi Schneider Electric, toko resmi APC, serta berbagai platform e-commerce. Perangkat ini dipasarkan dengan harga mulai Rp 4,9 juta. Dengan harga tersebut, perangkat ini menawarkan nilai kompetitif dibandingkan generator portabel konvensional yang lebih besar, berisik, dan menghasilkan emisi.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Bagi para penggemar aktivitas outdoor, investasi sebesar Rp 4,9 juta untuk perangkat yang bisa mengisi daya berbagai perangkat elektronik selama berhari-hari di alam terbuka terbilang masuk akal. Apalagi dengan kemampuan pengisian via panel surya, biaya operasional jangka panjang bisa ditekan seminimal mungkin.

    Kehadiran Schneider OffGrid Portable Power Station di Indonesia juga membuka peluang bagi para pelaku industri pariwisata dan penyedia jasa camping ground untuk menawarkan fasilitas listrik portabel kepada pengunjung. Ini bisa menjadi nilai tambah yang membedakan mereka dari kompetitor.

    Perangkat ini juga relevan bagi mereka yang tinggal di daerah rawan pemadaman listrik. Dengan kapasitas baterai yang memadai, Schneider OffGrid bisa menjadi andalan saat listrik padam untuk menyalakan lampu darurat, mengisi daya ponsel, atau bahkan menjalankan perangkat medis portabel.

    Schneider Electric, sebagai perusahaan global yang sudah lama beroperasi di Indonesia, memberikan garansi dan layanan purna jual yang memadai untuk produk ini. Konsumen bisa mendapatkan dukungan teknis melalui jaringan layanan resmi yang tersebar di berbagai kota besar.

    Dengan berbagai fitur unggulan yang ditawarkan, mulai dari fleksibilitas pengisian daya, desain ramah lingkungan, hingga harga yang kompetitif, Schneider OffGrid Portable Power Station menjadi pilihan menarik bagi siapa pun yang membutuhkan sumber listrik portabel yang andal dan berkelanjutan.

    Bagi kamu yang tertarik dengan teknologi portabel terbaru, jangan lewatkan juga artikel tentang FSR 4.1 dari AMD yang dirilis untuk Radeon RX 7000, atau kabar terbaru tentang AI Assistant dari Adobe untuk aplikasi Creative Cloud mereka.

    Implikasinya jelas: dengan semakin banyaknya perangkat elektronik yang kita bawa saat bepergian, kebutuhan akan sumber daya portabel yang andal menjadi semakin krusial. Schneider OffGrid Portable Power Station menawarkan solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi juga melakukannya dengan cara yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

  • NASA Deteksi Air Hangat Raksasa, Sinyal El Nino 2026 Menguat

    NASA Deteksi Air Hangat Raksasa, Sinyal El Nino 2026 Menguat

    JBNews.id — Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan mitranya di Eropa tengah melacak penumpukan besar air hangat di Samudra Pasifik yang menjadi sinyal kuat kedatangan fenomena El Nino pada akhir tahun 2026. Data dari satelit Sentinel-6 Michael Freilich menunjukkan hamparan luas air hangat tidak biasa telah mencapai perairan di lepas pantai Amerika Selatan.

    Fenomena ini dapat berdampak sangat luas, membawa curah hujan berlebihan ke beberapa wilayah, sementara membuat wilayah lainnya menjadi luar biasa kering. Pergeseran pola cuaca tersebut berpotensi memengaruhi sektor pertanian, transportasi, sumber daya air, dan perekonomian di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

    Satelit NASA Lacak Gelombang Kelvin

    Satelit Sentinel-6 Michael Freilich, yang diluncurkan tahun 2020 oleh NASA dan dipimpin oleh ESA (Badan Antariksa Eropa) untuk Program Copernicus Uni Eropa, memiliki peran krusial dalam pemantauan ini. Satelit tersebut mengukur ketinggian permukaan laut di seluruh samudra dunia setiap 10 hari dengan tingkat presisi hingga sepersekian inci. Salah satu tugas utamanya adalah memantau fitur perairan hangat yang dikenal sebagai gelombang Kelvin, yang terkait erat dengan perkembangan El Nino.

    Gelombang Kelvin biasanya dimulai ketika pola angin di wilayah Pasifik ekuator ujung barat secara singkat berbalik arah. Alih-alih angin timur yang biasanya bertiup dari timur ke barat, justru angin barat yang berkembang. Dikombinasikan dengan melemahnya angin timur secara lebih luas di khatulistiwa, kondisi ini menyebabkan perairan tropis di Pasifik barat menghangat dan permukaan laut pun naik. Gelombang air hangat yang dihasilkan kemudian bergerak ke timur melintasi Pasifik selama beberapa minggu. Ketika mencapai Amerika Selatan, suhu samudra dan permukaan laut di dekat pantai meningkat secara signifikan.

    El Nino terbentuk ketika beberapa gelombang Kelvin ini terjadi selama periode berbulan-bulan, menyebabkan air hangat menumpuk dalam jumlah besar. Dalam misi terbarunya, NASA juga terus memantau berbagai fenomena antariksa, termasuk Maraton 42,2 Km yang berhasil diselesaikan oleh robot Perseverance di permukaan Mars.

    Perbandingan dengan El Nino Sebelumnya

    “Meskipun fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat dari El Nino besar pada tahun 2015 dan 1997, fenomena ini mulai mengejar ketertinggalannya,” ujar Josh Willis, peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di California Selatan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa potensi kekuatan El Nino 2026 tidak bisa dianggap remeh.

    Istilah El Nino sendiri sudah ada sejak tahun 1600-an, ketika nelayan menyadari bahwa kondisi samudra yang lebih hangat sering memuncak sekitar hari Natal. Mereka menyebut fenomena ini El Nino, bahasa Spanyol untuk “anak laki-laki,” yang merujuk pada kelahiran bayi Yesus. Perairan yang lebih hangat saat itu membuat tangkapan ikan mereka berkurang drastis.

    Dampak El Nino terhadap Cuaca Global

    Saat suhu permukaan laut meningkat di Pasifik tengah dan timur, hal ini dapat mengubah sirkulasi atmosfer dunia. Salah satu efek pentingnya adalah pergeseran aliran jet yang memengaruhi jalur pergerakan badai. Akibatnya, beberapa wilayah mungkin mengalami curah hujan atau hujan salju lebih lebat, sementara wilayah lain mengalami kondisi luar biasa panas dan kering.

    Jangkauan geografis dari dampak-dampak tersebut sangat bergantung pada seberapa kuat fenomena El Nino terjadi. El Nino yang lebih moderat, seperti yang dimulai tahun 2018 dan 2023, menyebabkan kekeringan dan banjir terutama di dalam dan di sekitar wilayah Pasifik tropis. Sementara peristiwa yang lebih kuat, termasuk El Nino 2015-2016, dampaknya jauh lebih luas, seperti berkontribusi terhadap kekeringan di Afrika dan banjir besar di California.

    Fenomena El Nino biasanya mencapai puncaknya antara bulan November dan Januari, yang berarti butuh beberapa bulan lagi sebelum keseluruhan dampak pada tahun ini terlihat jelas. “Setiap El Nino berbeda. Namun, fenomena ini hampir selalu menyebabkan datangnya tahun yang panas dan perubahan besar curah hujan di berbagai belahan dunia,” ujar peneliti permukaan laut JPL Severine Fournier, yang juga wakil ilmuwan proyek untuk Sentinel-6 Michael Freilich.

    Dalam konteks eksplorasi antariksa yang lebih luas, NASA juga tengah mengerjakan berbagai proyek ambisius, termasuk Misi Aeolus ke Mars yang digarap oleh Relativity Space.

    Implikasi untuk Indonesia

    Bagi Indonesia, yang terletak di wilayah tropis dan dekat dengan Samudra Pasifik, dampak El Nino biasanya dirasakan dalam bentuk musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Hal ini dapat mengancam ketahanan pangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menyebabkan krisis air bersih di berbagai daerah.

    Pemerintah dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi dini. Pemantauan data dari satelit seperti Sentinel-6 Michael Freilich menjadi sangat penting untuk memberikan informasi akurat mengenai perkembangan fenomena ini. Dengan memahami skala dan kekuatan El Nino yang akan datang, berbagai sektor dapat mempersiapkan diri untuk meminimalkan dampak negatifnya.

    Dengan data yang terus dikumpulkan oleh NASA dan ESA, dunia kini memiliki alat yang lebih baik untuk memprediksi dan bersiap menghadapi fenomena iklim ekstrem ini. Implikasi faktualnya jelas: pemantauan berkelanjutan dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk menghadapi perubahan cuaca global yang dipicu oleh El Nino 2026.

  • Pengguna 5G Indonesia Diprediksi Tembus 213 Juta pada 2031

    Pengguna 5G Indonesia Diprediksi Tembus 213 Juta pada 2031

    JBNews.id — Ericsson Mobility Report edisi Juni 2026 memproyeksikan jumlah pengguna 5G di Indonesia akan melonjak drastis dari 22 juta pada 2025 menjadi 213 juta pada 2031. Lonjakan ini setara dengan 59 persen dari total pengguna seluler di tanah air, menjadikan 5G sebagai tulang punggung transformasi digital nasional.

    Laporan yang dirilis oleh Ericsson pada Selasa (23/6/2026) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 3,1 miliar pengguna 5G di seluruh dunia hingga kuartal I-2026. Angka global ini diproyeksikan akan tumbuh menjadi 6,4 miliar pada tahun 2031, didorong oleh ekspansi operator di berbagai kawasan.

    “Karena sekarang sudah ada hampir majority dari operator-operator seluruh dunia itu, sudah ada 390 aktif operator di dunia yang sedang launching 5G, jadi yang kita lihat growing terus,” kata Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia dalam media briefing di Jakarta, Rabu (23/6/2026).

    Di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, adopsi 5G pada 2025 baru mencapai 14 persen, sementara koneksi 4G masih mendominasi dengan 76 persen. Ericsson meramalkan pada 2031 adopsi 5G di kawasan ini akan tumbuh hingga 56 persen, yang dipimpin oleh Thailand, Vietnam, dan Filipina.

    Ilustrasi 5G

    Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relation Ericsson Indonesia, menegaskan bahwa 5G telah menjadi infrastruktur kritis bagi pertumbuhan ekonomi digital nasional. “Sekali lagi, 5G menjadi critical infrastructure, infrastruktur yang vital untuk pertumbuhan digital economy. Dan kita lihat, ini akan membantu mencapai target Indonesia Digital 2045,” ujarnya.

    Laporan Ericsson juga menyoroti pentingnya ketersediaan frekuensi mid-band seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz untuk memperluas cakupan 5G. Perusahaan berharap lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang telah dibuka oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan mempercepat penetrasi 5G di Indonesia.

    “Mid band ini sebenarnya yang sangat penting untuk menggunakan 5G secara, potensinya secara full,” jelas Stanis. “Kalau ini dikombinasi dengan full coverage, dan kemudian ditambah dengan 5G yang kita pakai sekarang, misalnya di 1.800, 2.100, atau lebih 2.300 yang kita sebut low-band itu makin membuat mobility sama full coverage menjadi lebih baik,” imbuhnya.

    Meskipun adopsi 5G global saat ini belum merata, Ericsson telah mulai menerawang evolusi jaringan berikutnya, yaitu 6G. Spesifikasi awal 6G diperkirakan akan diselesaikan pada akhir tahun 2028 atau awal tahun 2029, dengan peluncuran layanan komersial pertama diprediksi terjadi pada tahun 2030.

    “Prediksinya ketika launching di 2031, itu market utama yang biasanya duluan itu adalah China, Jepang, Korea Selatan, kemudian negara-negara Teluk,” ucap Stanis.

    Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relation Ericsson Indonesia (kiri) dan Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia

    Proyeksi pertumbuhan 5G di Indonesia ini sejalan dengan perkembangan teknologi global. Sementara itu, inovasi di sektor lain juga terus berlanjut, seperti yang terlihat pada Perseverance NASA yang baru saja menyelesaikan maraton di Mars.

    Bagi industri telekomunikasi dan pelaku bisnis di Indonesia, lonjakan pengguna 5G ini membuka peluang besar untuk pengembangan layanan berbasis konektivitas cepat. Dari sisi regulasi, pemerintah melalui Komdigi diharapkan dapat mempercepat realisasi lelang frekuensi untuk mendukung target ambisius ini. Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati seiring dengan prediksi akuisisi besar di industri teknologi global.

    Dengan proyeksi 213 juta pengguna pada 2031, Indonesia dipastikan akan menjadi salah satu pasar 5G terbesar di Asia Tenggara. Hal ini menuntut kesiapan infrastruktur dan regulasi yang matang agar potensi ekonomi digital nasional dapat tergarap secara optimal.

    [CONTENT_END]

  • Registrasi SIM Card Baru Wajib Face Recognition Pekan Depan

    Registrasi SIM Card Baru Wajib Face Recognition Pekan Depan

    JBNews.id — Mulai pekan depan, pembelian nomor HP baru tidak cukup hanya dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Seluruh operator seluler di Indonesia mewajibkan verifikasi wajah atau face recognition bagi pelanggan baru yang akan mengaktifkan SIM card prabayar. Kebijakan ini merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 7 Tahun 2026 tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi.

    Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) memastikan seluruh operator, termasuk Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XLSmart, telah siap menerapkan aturan tersebut. “Secara umum sih semua operator sudah siap untuk biometrik,” tegas Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir ditemui di sela acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

    Sebelumnya, proses registrasi hanya menggunakan dua mekanisme, yaitu NIK dan nomor kartu keluarga (NoKK). Kini, untuk pelanggan baru secara nasional, selain NIK dan NoKK, seluruh proses registrasi akan dilengkapi dengan pemindaian biometrik wajah. “Jadi, kesiapannya insya Allah sudah siap,” tambah Marwan.

    Selama masa uji coba yang berlangsung sejak Januari hingga Juni 2026, sebanyak 2,4 juta pengguna telah menggunakan pendaftaran dengan data biometrik. “Sekitar 2,3 juta hingga 2,4 juta yang sudah menggunakan biometrik ya,” ucap Marwan, menandakan antusiasme dan kesiapan sistem dari sisi teknis.

    Aturan ini juga menetapkan pembatasan maksimal tiga nomor seluler untuk setiap operator bagi satu identitas pelanggan. Dengan demikian, total maksimal nomor yang dapat dimiliki masyarakat adalah sembilan nomor telepon seluler. Kebijakan ini bertujuan menekan praktik penyalahgunaan SIM card dalam jumlah besar yang kerap digunakan untuk tindak kejahatan atau penipuan.

    Aturan untuk Pelanggan Lama dan Baru

    Kewajiban perekaman wajah ini hanya ditujukan bagi pelanggan yang akan mengaktifkan nomor seluler prabayar baru. Sementara itu, bagi pelanggan eksisting, proses registrasi ulang bersifat sukarela. “Kita mengharapkan (pelanggan lama) sebetulnya re-registrasi tidak dilakukan dulu. Karena apa? karena kan di dalam PM itu mengatakan bahwa pelanggan yang sudah registrasi dinyatakan sudah registrasi, jadi nggak perlu registrasi dong, ya kan, karena PM-nya bilang begitu,” jelas Marwan.

    Bagi pelanggan yang berusia di bawah 17 tahun atau belum memiliki identitas pribadi, proses registrasi dapat diwakilkan melalui data orang tua atau wali. Hal ini memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja, tetap dapat mengakses layanan telekomunikasi sesuai kebutuhan.

    Cara Registrasi dan Keamanan Data

    Registrasi SIM card dengan data perekaman wajah dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, pelanggan dapat datang langsung ke gerai operator seluler, di mana prosesnya akan dipandu oleh petugas. Kedua, registrasi mandiri (self-registration) dapat dilakukan melalui aplikasi atau situs web resmi operator.

    Salah satu kekhawatiran publik terkait kebijakan ini adalah keamanan data biometrik. Marwan menegaskan bahwa data biometrik pelanggan tidak akan disimpan di database operator. Operator hanya melakukan proses validasi (passthrough), sementara penyimpanan data berada di Direktorat Jenderal Dukcapil, Kementerian Dalam Negeri. Skema ini memastikan data sensitif warga negara tetap berada di bawah pengawasan pemerintah dan tidak mudah bocor ke pihak ketiga.

    Kebijakan ini merupakan langkah maju dalam digitalisasi layanan publik di Indonesia. Dengan menggabungkan NIK, NoKK, dan verifikasi wajah, pemerintah berharap dapat menekan angka penipuan dan penyalahgunaan identitas yang marak terjadi di sektor telekomunikasi. Bagi masyarakat, proses ini mungkin terasa lebih panjang, namun di sisi lain memberikan perlindungan lebih baik terhadap data pribadi.

    Bagi Anda yang berencana membeli nomor HP baru, pastikan untuk menyiapkan dokumen kependudukan dan bersiap menjalani proses verifikasi wajah. Kebijakan ini mulai berlaku pekan depan dan akan diterapkan di seluruh Indonesia tanpa terkecuali.

  • AMD dan Intel Bersatu Garap ACE Tantang Dominasi Nvidia

    AMD dan Intel Bersatu Garap ACE Tantang Dominasi Nvidia

    JBNews.id — Dua raksasa semikonduktor, AMD dan Intel, secara resmi meluncurkan spesifikasi baru bernama Advanced Compute Extensions (ACE) untuk meningkatkan efisiensi kecerdasan buatan (AI) pada prosesor arsitektur x86. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap dominasi Nvidia di sektor perangkat keras AI yang selama ini hampir sepenuhnya dikuasai oleh unit pemrosesan grafis (GPU).

    Perbincangan mengenai perangkat keras AI selama ini hampir selalu didominasi oleh GPU, sehingga peran CPU kerap kali dikesampingkan. Kini, AMD dan Intel bersatu untuk mengembalikan pamor CPU di ranah AI melalui spesifikasi ACE. Spesifikasi ini menetapkan cara baru agar operasi AI dapat ditangani secara jauh lebih efisien pada prosesor.

    Fokus pada Model AI Kecil dan Latensi Rendah

    Langkah ini bukanlah upaya untuk menggantikan GPU dalam ekosistem pelatihan AI skala besar (large-scale training). Sebaliknya, ACE difokuskan pada model AI yang lebih kecil, tugas-tugas yang sensitif terhadap latensi, serta sistem di mana GPU tidak tersedia atau penggunaannya dianggap terlalu berlebihan (overhead).

    Dengan pendekatan ini, ACE menawarkan solusi alternatif bagi pengembang yang membutuhkan efisiensi tinggi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada GPU. Hal ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan akan komputasi AI pada perangkat edge dan aplikasi pengguna tunggal.

    Mengatasi Masalah ‘Bottleneck’ Data

    Mengirim data bolak-balik antara CPU dan GPU nyatanya tidak gratis; ada harga kinerja yang harus dibayar. Untuk beberapa beban kerja, terutama yang membutuhkan respons cepat atau berjalan pada perangkat keras terbatas, proses transfer data tersebut dapat menjadi “leher botol” (bottleneck).

    Dengan mempertahankan beban kerja komputasi tetap berada di dalam CPU, spesifikasi ACE menghindari masalah bottleneck tersebut sepenuhnya. Ini menjadi keunggulan signifikan untuk aplikasi real-time seperti asisten virtual, penerjemah bahasa, atau sistem keamanan berbasis AI yang membutuhkan respons instan.

    Peningkatan Teknis Lewat Perkalian Matriks

    Di tingkat teknis, ACE dibangun dengan fokus pada perkalian matriks, yang merupakan jantung dari sebagian besar operasi AI. CPU sebenarnya sudah lama bisa menangani matematika jenis ini menggunakan instruksi AVX, namun tidak terlalu efisien karena instruksi tersebut awalnya tidak dirancang untuk beban kerja matriks yang berat.

    Berikut adalah tiga keunggulan teknis utama yang ditawarkan ACE:

    • Struktur Familiar, Hardware Baru: ACE mempertahankan struktur register AVX10 yang sudah ada dengan input 512-bit, namun menambahkan hardware khusus untuk operasi matriks. Pengembang tidak perlu repot mengubah format data secara keseluruhan.
    • Kinerja 16x Lipat: Untuk serangkaian vektor input tertentu, ACE dapat menjalankan operasi hingga 16 kali lebih banyak dibandingkan AVX10. Meskipun ini tidak berarti aplikasi akan langsung berjalan 16 kali lebih cepat, ini menunjukkan penggunaan instruksi yang jauh lebih efisien.
    • Hemat Daya: Efisiensi instruksi tersebut berujung pada konsumsi daya yang lebih rendah dan pengurangan beban pada bandwidth memori, menjadikannya sangat ideal untuk komputasi edge atau aplikasi pengguna tunggal.

    Kabar Baik bagi Pengembang dan Dilema NPU

    Bagi para pengembang (developer), ACE menawarkan konsistensi. Karena spesifikasi ini dirancang agar tidak terikat pada satu implementasi tertentu (implementation-agnostic), hal ini akan sangat memudahkan pengembang yang bekerja dengan framework populer seperti PyTorch dan TensorFlow. Mereka tidak perlu lagi pusing mencocokkan kode dengan berbagai dukungan AVX yang berbeda-beda.

    Di sisi lain, ACE juga menyoroti kelemahan NPU (Neural Processing Unit). Meski NPU kini makin menjamur, standarisasinya masih berantakan. Memindahkan beban kerja ke NPU kadang justru mendatangkan komplikasi baru tergantung pada perangkat kerasnya. ACE hadir menawarkan jalan pintas untuk menjaga tugas-tugas tertentu tetap di CPU demi kecepatan dan kemudahan.

    Meski spesifikasi ACE tidak akan mengubah status quo GPU sebagai raja pelatihan AI skala masif, inovasi ini membuktikan bahwa evolusi CPU belum berakhir. Dengan arsitektur yang tepat, prosesor x86 kini bisa menangani irisan beban kerja AI yang lebih luas dan efisien dari sebelumnya, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (23/6/2026).

    Kolaborasi antara AMD dan Intel ini juga menjadi sinyal kuat bahwa persaingan di pasar chip AI semakin memanas. Sebelumnya, Intel juga dikabarkan akan memproduksi chip untuk Apple, sementara Google telah memesan 3 juta chip AI dari Intel, menandakan pergeseran lanskap industri semikonduktor global.

  • Satelit Jadi Kunci Pemerataan Akses Digital Hingga Pelosok RI

    Satelit Jadi Kunci Pemerataan Akses Digital Hingga Pelosok RI

    JBNews.id — Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menegaskan industri satelit akan menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung transformasi digital nasional. Hal ini disampaikan menyusul pelaksanaan Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan ekosistem digital Indonesia.

    Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan forum DEAL 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha. Tujuannya adalah membangun ekosistem digital yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

    Menurut Risdianto, keberhasilan transformasi digital Indonesia sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur konektivitas yang andal. Infrastruktur itu harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil yang belum terlayani jaringan terestrial secara optimal.

    “Satelit merupakan fondasi penting dalam ekosistem digital Indonesia. Selain menyediakan konektivitas hingga wilayah yang sulit dijangkau, satelit juga mendukung keamanan jaringan, ketahanan infrastruktur nasional, serta mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi ke seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Risdianto dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).

    Ia menjelaskan, peran satelit kini tidak lagi terbatas sebagai penyedia layanan komunikasi konvensional. Seiring berkembangnya teknologi digital, satelit semakin dibutuhkan untuk mendukung berbagai layanan strategis. Mulai dari broadband, Internet of Things (IoT), layanan pemerintahan digital, sektor maritim, penanggulangan bencana, hingga integrasi teknologi kecerdasan artifisial (AI).

    Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan forum DEAL 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem digital yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan

    ASSI mendukung penuh upaya pemerintah melalui DEAL 2026 yang bertujuan menyelaraskan arah kebijakan. Forum ini juga memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekonomi digital nasional.

    Risdianto menilai penguatan ekosistem digital tidak cukup hanya melalui regulasi yang mendukung. Dibutuhkan investasi berkelanjutan, inovasi teknologi, serta pengembangan kapasitas industri dalam negeri agar mampu bersaing di tingkat global.

    Sebagai bagian dari kontribusi industri, ASSI juga terus mendorong berbagai showcase teknologi satelit dan layanan digital nasional. Hal ini untuk memperlihatkan kesiapan industri satelit Indonesia dalam mendukung agenda transformasi digital yang dicanangkan pemerintah.

    Di sisi lain, ASSI mengapresiasi peran Komdigi yang dinilai konsisten menjadi fasilitator kolaborasi antar-pemangku kepentingan. Menurutnya, DEAL menjadi wadah strategis untuk menyatukan visi berbagai pihak dalam mempercepat implementasi program-program digital nasional.

    ASSI meyakini sinergi yang terbangun melalui DEAL 2026 akan memperkuat investasi, inovasi, dan pengembangan teknologi nasional. Di tengah percepatan digitalisasi berbagai sektor, industri satelit diproyeksikan akan semakin berperan sebagai tulang punggung konektivitas dan layanan digital Indonesia pada masa mendatang.

    “Melalui DEAL, pemerintah berhasil mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu visi yang sama, yaitu membangun ekosistem digital Indonesia yang berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pungkas Risdianto.

    Perkembangan ini sejalan dengan upaya Starlink yang terus memperluas jangkauan layanan satelitnya secara global. Selain itu, China juga aktif meluncurkan satelit-satelit baru untuk memperkuat infrastruktur komunikasi mereka.

    Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah terpencil, perkembangan teknologi satelit menjadi angin segar. Akses internet yang setara dengan wilayah perkotaan kini semakin mungkin terwujud, membuka peluang baru di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

    Pemerintah melalui Komdigi terus mendorong pemanfaatan teknologi satelit sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan digital. Dengan dukungan industri dan seluruh pemangku kepentingan, target pemerataan akses digital hingga ke pelosok negeri diyakini dapat tercapai.