JBNews.id — Google menginvestasikan dana sebesar US$75 juta atau setara Rp1,2 triliun ke studio film independen A24 sebagai bagian dari kemitraan riset kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan perangkat pembuatan film. Langkah ini langsung memicu reaksi negatif dari basis penggemar setia studio tersebut.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Senin (15/6/2026), investasi tersebut menjadi salah satu kolaborasi langka antara studio film arus utama dengan perusahaan AI. Meskipun nilai investasi tergolong kecil untuk standar industri teknologi, kemitraan ini memiliki signifikansi simbolis yang besar.
“There goes A24,” tulis sebuah unggahan viral di media sosial. “Why do they keep forcing AI on us,” keluhan lainnya ikut membanjiri linimasa para penggemar. Reaksi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu AI di kalangan komunitas pecinta film independen.
Kemitraan dengan laboratorium DeepMind milik Google bertujuan untuk mengembangkan “perangkat baru untuk produksi dan distribusi film,” demikian dikutip dari laporan WSJ. Penting dicatat bahwa perjanjian ini tidak memberikan akses Google ke data A24, termasuk pustaka filmnya.
Scott Belsky, mitra A24, mengakui ambivalensi para pembuat film terhadap teknologi AI. “Kami pikir ada penggunaan yang lebih baik yang menjaga kendali kreatif dan mendukung pengambilan risiko,” ujar Belsky kepada WSJ. Ia menambahkan bahwa perangkat baru tersebut “tidak akan terlihat seperti jenis AI generatif yang membuat orang merasa tidak nyaman.”
Tim beranggotakan 20 orang yang dipimpin Belsky, A24 Labs, saat ini tengah mengembangkan alat untuk pembuatan papan cerita (storyboard) berbasis AI. Langkah ini mengikuti jejak sutradara legendaris Martin Scorsese yang baru-baru ini mendukung perusahaan rintisan AI yang menyediakan perangkat serupa, memicu krisis eksistensial di kalangan sineas.
Baca Juga:
Kontroversi semakin memanas ketika para penggemar mengingat pernyataan Kane Parsons, sutradara berusia 20 tahun yang mengarahkan film tersukses A24 sepanjang masa berjudul “Backrooms.” Film horor yang menjadi pembuka terbesar A24 itu dipandang banyak pihak sebagai alegori melawan AI.
“Jika saya bisa menjentikkan jari dan membuat generative AI menghilang selamanya, saya mungkin akan melakukannya,” kata Parsons dalam sebuah wawancara. “Secara kreatif, saya tidak mendapat kesenangan menggunakan alat-alat itu. Itu mengalahkan tujuan sepenuhnya bagi saya.”
Ia menambahkan, “Generative AI terasa kurang seperti inovasi dan lebih seperti gejala dari pembusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas.” Pernyataan tegas ini kontras langsung dengan arah baru yang diambil A24 melalui kemitraannya dengan Google.
Sebelumnya, Disney menjalin kemitraan penting dengan OpenAI tahun lalu, namun berakhir dengan buruk ketika OpenAI tiba-tiba menutup alat generator video Sora pada Maret 2026. Kasus ini menjadi peringatan bagi industri film tentang risiko ketergantungan pada teknologi AI yang belum matang.
Investasi Google ke A24 menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kreativitas di industri film. Di satu sisi, AI dapat mempercepat proses produksi dan membuka kemungkinan artistik baru. Di sisi lain, kekhawatiran tentang penggantian tenaga kerja kreatif dan homogenisasi konten tetap menjadi isu utama.
Fenomena perlawanan terhadap AI di industri kreatif bukanlah hal baru. Dominasi AI influencer telah menjadi ancaman nyata di media sosial, memicu perdebatan serupa tentang otentisitas dan nilai kreatif.
Bagi A24, studio yang selama ini membangun citra sebagai underdog cerdas yang mengedepankan film-film berbasis visi sutradara, kemitraan ini berpotensi mengikis identitas yang telah dibangun bertahun-tahun. Loyalitas penggemar yang luar biasa selama ini justru menjadi pedang bermata dua ketika menghadapi keputusan bisnis yang kontroversial.
Dampak dari kemitraan ini belum dapat diukur secara langsung. Namun, reaksi keras dari komunitas penggemar menunjukkan bahwa isu AI dalam seni tetap menjadi topik yang sangat sensitif. Para pembuat film dan studio kini berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan integritas artistik.
Implikasinya bagi industri film Indonesia patut dicermati. Jika studio sekaliber A24 menghadapi resistensi semacam ini, bagaimana dengan industri film lokal yang mungkin mengadopsi teknologi serupa? Pertanyaan tentang keseimbangan antara efisiensi produksi dan nilai seni akan terus menjadi perdebatan hangat di tahun-tahun mendatang.
Di tengah hiruk-pikuk ini, satu hal yang pasti: hubungan antara teknologi AI dan industri kreatif masih jauh dari kata selesai. Setiap langkah maju akan selalu diiringi dengan pertanyaan mendasar tentang apa artinya menjadi kreatif di era mesin yang bisa “belajar” meniru manusia.
