IO-AI Tech Uji Coba Robot Humanoid dengan Saraf Tiruan

Operator menggunakan sarung tangan pelacak gerakan untuk mengendalikan robot humanoid

JBNews.id — Startup asal China, IO-AI Tech, tengah mengembangkan teknologi yang memungkinkan operator manusia mengendalikan hingga sepuluh robot humanoid secara bersamaan menggunakan sarung tangan pelacak gerakan kustom. Teknologi ini mentransfer pergerakan jari manusia ke semua jari robotik secara instan, membuka potensi baru dalam otomatisasi industri.

Dalam sesi uji coba yang digelar di kantor pusat perusahaan di Shenzhen, seorang jurnalis diizinkan mencoba langsung teknologi tersebut. Dengan mengenakan sarung tangan khusus, gerakan jari tangan secara real-time diterjemahkan ke sepuluh tangan robotik dari berbagai perusahaan berbeda. Yang paling menarik, teknologi ini juga bekerja dua arah—operator dapat merasakan sentuhan objek yang dipegang oleh tangan robot.

Teknologi Teleoperasi untuk Beragam Robot Humanoid

IO-AI Tech mengembangkan algoritma yang menggabungkan kendali manusia dengan tingkat otonomi tertentu. Hal ini diperlukan karena bentuk, ukuran, dan berat antara manusia dan robot tidak selalu identik. Tanpa kemampuan bergerak secara independen, robot berisiko kehilangan keseimbangan saat meniru gerakan manusia.

Startup ini juga menguji sistem yang sedang diuji coba oleh jaringan toko swalayan di China. Menggunakan headset realitas virtual (VR) dan sepasang gripper, operator dapat mengambil kotak obat dari rak. Meskipun awalnya terasa disorientasi karena jeda kecil antara gerakan operator dan robot, setelah beberapa latihan, proses penyusunan barang berjalan lancar.

Dalam ruangan lain, pekerja menggunakan berbagai sistem berbeda untuk mengendalikan robot humanoid Unitree berukuran kecil. Seorang operator berjalan dengan robot Unitree di sampingnya, dan mesin tersebut meniru gerakan mereka di dalam apartemen tiruan. Operator yang mengenakan headset melihat pemandangan melalui kamera setinggi mata robot, lalu melakukan gerakan melepas kemeja dari gantungan dan melipatnya.

Pasar Robot Humanoid China yang Semakin Berkembang

Shenzhen, yang merupakan rumah bagi ribuan pabrikan, menjadi basis ideal bagi IO-AI Tech. Si Chin, salah satu pendiri IO-AI Tech, mengatakan lokasi tersebut memudahkan pengembangan dan penyempurnaan prototipe baru. Ia juga mencatat bahwa perusahaannya bekerja sama dengan sejumlah pabrikan lokal yang ingin mengotomatiskan tugas-tugas tertentu.

Salah satu perusahaan China, Jack Sewing Machines, produsen peralatan pembuatan pakaian, bekerja sama dengan IO-AI Tech untuk melatih robot berlengan dua melakukan tugas seperti menyetrika kemeja. Robot-robot ini dapat dipasang di lini produksi yang sudah ada dan mengotomatiskan pekerjaan yang saat ini dilakukan secara manual.

Perkembangan ini sejalan dengan tren global di mana robot humanoid di China semakin diintegrasikan ke dalam berbagai sektor industri. Bahkan, pemerintah China mewajibkan robot humanoid memiliki identitas nasional atau KTP khusus.

Pendekatan Bertahap Menuju Otonomi Penuh

Beberapa ahli robotika percaya bahwa memberikan algoritma kecerdasan buatan (AI) sejumlah besar data teleoperasi pada akhirnya akan membuka model yang sangat mumpuni dan umum. Namun, Chin dari IO-AI Tech memiliki pandangan berbeda. Ia percaya bahwa pendekatan bertahap dalam menerapkan otomatisasi bertenaga AI lebih masuk akal.

“Ini mirip dengan mobil self-driving,” kata Chin, merujuk pada cara mesin-mesin tersebut diterapkan di lebih banyak lingkungan dengan tingkat otonomi yang meningkat. “Anda membutuhkan data pelatihan yang lebih terfokus pada hal spesifik yang ingin Anda atasi.”

Ia menambahkan bahwa teleoperasi robot bahkan mulai diterapkan di beberapa sekolah kejuruan di China. Pendekatan ini memungkinkan siswa belajar mengendalikan robot humanoid tanpa harus memiliki pemahaman pemrograman yang mendalam.

Dampak bagi Industri Manufaktur Global

Keunggulan manufaktur China yang sudah menghasilkan robot berkualitas tinggi dan murah, seperti Unitree, kini diperkuat dengan kemampuan AI untuk menguasai dunia fisik. Jika IO-AI Tech menjadi indikasi, China mungkin akan memimpin dalam mengintegrasikan AI dengan robot humanoid untuk aplikasi industri.

Teknologi serupa juga mulai merambah pasar Indonesia. Chery membawa robot humanoid AiMOGA ke Indonesia yang siap berperan sebagai sales hingga perawat. Ini menandai awal adopsi robot humanoid di berbagai sektor layanan di tanah air.

Sementara itu, pengembangan AI untuk industri juga menjadi fokus utama di Indonesia. Telkom meluncurkan AIcosystem untuk menggarap peluang AI industri, menunjukkan bahwa persaingan di bidang ini semakin ketat secara global.

Bagi para pelaku industri, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Robot humanoid yang dikendalikan dari jarak jauh dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja di lingkungan berbahaya, meningkatkan efisiensi lini produksi, dan membuka peluang baru dalam otomatisasi tugas-tugas kompleks yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia.

Dengan harga robot humanoid yang semakin terjangkau dan teknologi teleoperasi yang semakin matang, adopsi teknologi ini diprediksi akan semakin meluas dalam beberapa tahun ke depan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia perlu mulai mempertimbangkan integrasi teknologi ini untuk tetap kompetitif di pasar global.

Di sisi lain, pengembangan robot humanoid tanpa kepala seperti Eno dari Genesis AI menunjukkan bahwa inovasi dalam bidang ini terus berlanjut, dengan berbagai pendekatan desain yang disesuaikan untuk kebutuhan spesifik industri.