Blog

  • Google Aktifkan Penyimpanan Media untuk Latih AI

    Google Aktifkan Penyimpanan Media untuk Latih AI

    JBNews.id — Google secara diam-diam mengaktifkan fitur baru yang menyimpan seluruh unggahan media pengguna dari layanan Search, termasuk gambar, audio, dan video, untuk digunakan sebagai data pelatihan model kecerdasan buatan (AI). Fitur yang disebut Search Services History ini sudah aktif secara default pada akun pengguna, dan pengguna harus secara manual memilih keluar (opt-out) jika tidak ingin data mereka digunakan.

    Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, opsi penyimpanan media di akun pengguna Google telah dicentang secara otomatis. Kotak centang untuk menyimpan semua unggahan media dari Google Search guna keperluan pelatihan AI sudah aktif sejak pertama kali pengguna mengakses halaman pengaturan tersebut. Ini berarti jutaan pengguna Google di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, secara tidak sadar telah menyetujui data visual dan audio mereka digunakan untuk mengembangkan kemampuan AI Google.

    Ruang Lingkup Data yang Disimpan

    Cakupan data yang disimpan oleh Google jauh lebih luas dari sekadar teks yang diketik pengguna. Melalui fitur ini, Google menyimpan “gambar, file, serta rekaman audio dan video dari interaksi Anda dengan layanan Search.” Ini mencakup gambar dari Google Lens, rekaman dari Search Live atau praktik berbicara Google Translate, konten yang diunggah pengguna, hingga penelusuran suara (voice search).

    Langkah ini diambil karena model AI tidak hanya membutuhkan data teks untuk berkembang. Mereka memerlukan input yang beragam dalam berbagai bentuk, seperti audio atau video. Dengan mengumpulkan lebih banyak data dari basis penggunanya yang sangat besar, Google berpotensi berinovasi lebih cepat dibandingkan para pesaingnya.

    Prosedur Opt-Out dan Konsekuensinya

    Bagi pengguna yang ingin menonaktifkan fitur ini, langkahnya cukup sederhana. Pengguna dapat mengunjungi halaman My Activity Google, lalu memilih tab Search Services History. Di halaman tersebut, pengguna dapat mematikan seluruh pengaturan dan menghapus aktivitas yang sudah tersimpan. Langkah kritis yang harus dilakukan adalah menghapus centang pada kotak di samping opsi “Save media” jika tidak ingin unggahan gambar digunakan untuk pelatihan AI.

    Namun, ada konsekuensi yang perlu diketahui. Jika data media yang sudah disimpan telah digunakan untuk melatih model AI, data tersebut akan diputuskan dari Akun Google pengguna. “Data pelatihan ini akan disimpan hingga 4 tahun, bahkan jika Anda menghapus aktivitas aslinya,” demikian peringatan yang muncul saat fitur ini dimatikan. Ini berarti unggahan gambar yang mungkin dianggap sepele dapat terus beredar di dalam sistem AI Google untuk waktu yang lama.

    Pernyataan Resmi Google

    Davis Thompson, juru bicara Google, menyatakan melalui surel bahwa “pengaturan baru ini membantu pengguna mendapatkan hasil yang lebih relevan dan meninjau kembali penelusuran mereka—termasuk penelusuran visual dan suara—dan dapat diaktifkan atau dinonaktifkan kapan saja.” Namun, Thompson tidak menjawab pertanyaan mengenai alasan fitur ini aktif secara default.

    Dalam surel yang dikirimkan ke akun pengujian pada 23 Juni, Google membingkai perubahan ini sebagai upaya memberikan “kontrol lebih besar atas riwayat yang disimpan.” Surel tersebut memberikan contoh bagaimana penyimpanan media ini dapat membantu pengguna, seperti meninjau kembali penelusuran visual dengan Lens atau melanjutkan percakapan Search Live tentang lagu yang didengar.

    Menariknya, Google tidak memberikan contoh serupa setelah menyatakan bahwa media yang disimpan akan digunakan untuk pelatihan model AI. Surel tersebut langsung beralih ke detail berikutnya tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai manfaat pelatihan AI bagi pengguna.

    Kritik dari Pakar Privasi

    Kebijakan ini menuai kritik dari para pakar privasi. Thorin Klosowski, aktivis keamanan dan privasi senior di Electronic Frontier Foundation (EFF), menilai Google berada dalam posisi unik dibandingkan perusahaan lain. “Karena mereka menawarkan begitu banyak layanan yang telah digunakan orang sejak lama, pengguna menjadi cukup nyaman dan lengah dengan jumlah data yang dikumpulkan,” ujarnya.

    Klosowski menegaskan bahwa pendekatan opt-in seharusnya menjadi standar minimal yang diminta dari perusahaan-perusahaan ini. “Meminta pengguna untuk secara sadar memilih mengaktifkan fitur-fitur ini adalah hal paling kecil yang bisa mereka lakukan,” katanya. Menurutnya, Google harus membuat argumen yang lebih kuat kepada pengguna tentang mengapa fitur-fitur ini bermanfaat jika tidak diaktifkan secara otomatis.

    Ben Winters, direktur AI dan privasi di Consumer Federation of America, melihat perubahan ini sebagai upaya Google membebankan tanggung jawab kepada pengguna untuk menghindari pelatihan AI. Hal ini, menurutnya, berkontribusi pada kelelahan pengguna yang mendekati nihilisme. “Ada perasaan tidak berdaya dan putus asa yang meningkat tentang bahkan mencoba melindungi data Anda, karena setiap hal kecil akan diperas dari Anda,” kata Winters.

    Implikasi bagi Pengguna

    Perubahan ini merupakan contoh lain dari perubahan perangkat lunak besar yang membutuhkan waktu bagi pengguna sehari-hari untuk memprosesnya. Winters menjelaskan bahwa situasi ini menciptakan “lapisan matematika tambahan” yang harus dihitung konsumen tentang apakah mereka merasa nyaman menggunakan alat yang telah mereka gunakan untuk waktu yang lama.

    Bagi pengguna di Indonesia, kebijakan ini patut dicermati mengingat ketergantungan tinggi pada layanan Google seperti Google Lens, Google Translate, dan Google Search. Pengguna yang tidak ingin data mereka digunakan untuk pelatihan AI harus segera mengambil tindakan dengan mengunjungi halaman My Activity dan menonaktifkan fitur Search Services History.

    Langkah pencegahan ini penting dilakukan sekarang daripada nanti, karena setelah data media masuk ke dalam sistem pelatihan AI, hampir tidak ada yang bisa dilakukan untuk menariknya kembali. Kebijakan ini menunjukkan bahwa era di mana pengguna harus secara aktif melindungi data mereka dari pelatihan AI telah menjadi norma baru di industri teknologi.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kebijakan Google, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Google Home Update yang meningkatkan akurasi kamera pintar, serta Investasi Google di A24 yang memicu kekecewaan penggemar.

  • NASA Hancurkan ISS, Pakar Khawatir Dampak Ekologi Laut

    NASA Hancurkan ISS, Pakar Khawatir Dampak Ekologi Laut

    JBNews.id — Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana menjatuhkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dari orbitnya dalam beberapa tahun ke depan. Rencana ini menuai sorotan karena menimbulkan kekhawatiran serius bagi kesehatan laut global, terutama dari pakar ekologi yang mempertanyakan dampak jatuhnya puing-puing stasiun luar angkasa sebesar lapangan bola tersebut.

    Menurut cetak biru NASA saat ini, ISS akan dijatuhkan melalui serangkaian tindakan yang dimulai pada awal hingga pertengahan tahun 2028. Pada fase pertama, ISS mulai diturunkan melalui kombinasi seretan atmosfer alami dan manuver oleh segmen Rusia di ISS. Kemudian, pada pertengahan 2029, NASA berencana meluncurkan Kendaraan Deorbit yang dipasok SpaceX dan didanai pemerintah, serta memasangkannya ke ISS. Kendaraan ini akan mendorong ISS jatuh menuju ‘kuburan’ di lautan, tepatnya di zona laut yang disebut Point Nemo.

    Laporan U.S. Government Accountability Office (GAO) menyoroti rencana ini. Disebutkan bahwa akhir 2030 atau awal 2031, USDV akan melakukan pembakaran mesin untuk re-entry. Itu akan mendorong ISS melewati atmosfer dan menuju ke titik yang ditentukan sebelumnya. “Sebagai bagian dari proses masuk kembali ke atmosfer, NASA memperkirakan sebagian dari ISS dan kendaraan deorbit akan hancur dan jatuh ke bagian terpencil di lautan guna meminimalkan risiko terhadap daerah padat penduduk,” sebut GAO.

    Namun, Mark Spalding selaku Presiden The Ocean Foundation, kelompok di Washington dengan misi meningkatkan kesehatan laut global, mengatakan ada celah struktural mengkhawatirkan dalam hukum internasional. Jika puing jatuh di wilayah negara lain atau merusak properti, negara peluncur wajib memberikan kompensasi secara mutlak dan tanpa perlu membuktikan kesalahan. “Namun perlindungan yang setara tidak ada untuk lautan,” ungkapnya, dikutip dari Space.com.

    “Akibatnya, ketika badan antariksa memiliki kendali atas di mana puing-puing akan jatuh, mereka menargetkan laut lepas dan dengan melakukannya, mereka tidak punya kewajiban hukum membiayai pembersihan atau pemulihan lingkungan,” kata Spalding.

    Spalding memahami alasan menargetkan Point Nemo, titik Bumi paling jauh dari daerah berpenduduk. “Namun, keterpencilan laut dari infrastruktur manusia tak boleh disalahartikan sebagai kurangnya nilai atau tak adanya kerentanan. Laut dan makhluk di dalamnya berhak mendapat perlindungan yang sama seperti yang diberikan hukum internasional ke wilayah suatu negara,” tegasnya.

    Spalding mempertanyakan apa yang akan terjadi pada ekosistem dan makhluk laut tempat ISS itu mendarat. “Jawaban jujurnya kita tak sepenuhnya tahu. Ini sangat mengkhawatirkan untuk sebuah struktur sebesar lapangan bola. Kita tahu bahwa tak semuanya akan habis terbakar saat masuk atmosfer. Komponen yang lebih padat akan bertahan dan mencapai dasar laut,” tambah Spalding.

    Material padat apa saja yang berasal dari re-entry ISS dan bahaya yang mungkin ditimbulkannya terhadap kehidupan laut belum dipelajari atau diungkap secara memadai. Selain itu, kerusakan lingkungan yang mungkin dimulai sebelum puing menghantam air juga mengkhawatirkan. Sebagai peristiwa masuknya objek ke atmosfer terbesar dalam sejarah, dampak kumulatif terhadap atmosfer dari jatuhnya ISS patut dipelajari serius.

    Rencana ini menjadi perhatian utama di tengah perkembangan teknologi antariksa yang pesat. Sebagai perbandingan, berbagai inovasi seperti Riset AI Cegah serangan siber juga terus dikembangkan untuk menjaga keamanan infrastruktur kritis. Sementara itu, misi-misi rahasia seperti yang dilakukan SpaceX Uji Misi Rahasia Starfall menunjukkan betapa kompleksnya operasi di luar angkasa saat ini.

    Implikasi dari rencana ini sangat luas. Bagi para pegiat lingkungan, kekhawatiran terbesar adalah tidak adanya kerangka hukum internasional yang mewajibkan badan antariksa untuk membiayai pembersihan atau pemulihan lingkungan laut jika terjadi kerusakan. Ini menjadi celah yang perlu segera diatasi sebelum operasi penurunan ISS benar-benar dilakukan.

    Selain itu, data dari laporan GAO menunjukkan bahwa proses re-entry ISS akan menjadi yang terbesar dalam sejarah. Dampak kumulatif terhadap atmosfer dari jatuhnya struktur sebesar ISS juga masih menjadi misteri yang perlu diteliti lebih lanjut. Para ilmuwan mendesak NASA dan badan antariksa lainnya untuk melakukan studi dampak lingkungan yang komprehensif sebelum mengambil langkah final.

    Di sisi lain, perkembangan teknologi kelautan juga terus berlanjut. Misalnya, inisiatif seperti Telkomsat Luncurkan AIS Data untuk transformasi digital maritim menunjukkan bahwa pemantauan laut lepas semakin canggih. Teknologi ini bisa menjadi salah satu alat untuk memantau dampak jatuhnya ISS terhadap ekosistem laut.

    Point Nemo, yang menjadi target jatuhnya ISS, adalah titik di Samudra Pasifik yang terkenal sebagai ‘kuburan pesawat antariksa’ karena lokasinya yang paling jauh dari daratan. Namun, keterpencilan ini tidak berarti laut tersebut tidak memiliki nilai ekologis. Ekosistem laut dalam di sekitar Point Nemo mungkin mengandung spesies yang belum teridentifikasi dan rentan terhadap kontaminasi dari puing-puing antariksa.

    Kekhawatiran yang diungkapkan oleh The Ocean Foundation menyoroti perlunya revisi terhadap hukum antariksa internasional yang sudah ada. Saat ini, Traktat Luar Angkasa 1967 dan Konvensi Tanggung Jawab 1972 memang mengatur kompensasi jika puing antariksa merusak properti di darat, tetapi tidak memberikan perlindungan yang setara untuk lautan lepas.

    Spalding menekankan bahwa laut dan makhluk di dalamnya berhak mendapat perlindungan yang sama. “Ini adalah panggilan untuk bertindak bagi komunitas internasional untuk menutup celah ini sebelum terlambat,” ujarnya.

    Bagi pembaca, implikasi dari berita ini sangat jelas: rencana penghancuran ISS bukan sekadar masalah teknis antariksa, tetapi juga memiliki dampak lingkungan yang serius dan belum sepenuhnya dipahami. Ini adalah pengingat bahwa setiap aktivitas manusia, bahkan di luar angkasa sekalipun, memiliki konsekuensi terhadap planet kita.

    Ke depannya, diharapkan ada dialog yang lebih terbuka antara badan antariksa, ilmuwan lingkungan, dan pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa penurunan ISS dilakukan dengan cara yang paling bertanggung jawab terhadap lingkungan. Tanpa data yang memadai tentang dampak terhadap ekosistem laut, risiko yang diambil mungkin terlalu besar.

    NASA sendiri belum memberikan tanggapan resmi terhadap kekhawatiran yang disampaikan oleh The Ocean Foundation. Namun, dengan tenggat waktu akhir 2030 atau awal 2031 untuk operasi re-entry, masih ada waktu bagi para pemangku kepentingan untuk melakukan studi dampak yang lebih komprehensif.

    Kesimpulannya, rencana NASA untuk menjatuhkan ISS ke Point Nemo membuka celah hukum dan ekologis yang serius. Ketiadaan kewajiban hukum untuk membersihkan atau memulihkan lingkungan laut setelah jatuhnya puing antariksa menjadi isu krusial yang harus segera diatasi oleh komunitas internasional.

  • Harga GTA 6 Resmi Rp1,1 Juta di Indonesia, Pre-order Dibuka

    Harga GTA 6 Resmi Rp1,1 Juta di Indonesia, Pre-order Dibuka

    JBNews.id — Take-Two Interactive dan Rockstar Games resmi mengumumkan harga Grand Theft Auto VI (GTA 6) untuk wilayah Indonesia. Gamer harus menyiapkan dana mulai dari Rp 1.190.000 untuk edisi standar guna memiliki game paling dinanti tahun ini.

    Berdasarkan pantauan dari PlayStation Store pada Kamis (25/6/2026), Rockstar menawarkan GTA 6 dalam dua edisi: Standard dan Ultimate. Untuk harga GTA 6 edisi standar dibanderol Rp 1.190.000, sementara edisi Ultimate dibanderol lebih tinggi yakni Rp 1.490.000. Perbedaan harga Rp 300.000 ini memberikan akses ke sejumlah konten eksklusif.

    “Pre-order untuk Grand Theft Auto VI dimulai tengah malam waktu setempat pada tanggal 25 Juni, termasuk Grand Theft Auto VI: Ultimate Edition, yang meningkatkan pengalaman GTA terdalam dan paling imersif,” jelas Rockstar dalam keterangan resminya. Kepastian harga ini menjadi kabar baik setelah Pre-order GTA 6 resmi dibuka serentak di PlayStation Store dan Xbox Store.

    Detail Edisi dan Konten Eksklusif

    Kedua edisi GTA 6 menawarkan keuntungan yang berbeda. Pada Ultimate Edition, pemain mendapatkan tambahan konten eksklusif berupa koleksi kendaraan premium, senjata, pakaian, dan masih banyak lagi. Namun Rockstar tidak menyebutkan fitur multiplayer atau online untuk GTA 6 pada saat peluncuran nanti.

    Perusahaan mencatat bahwa game ini hanya akan menawarkan mode single player. “Grand Theft Auto VI adalah pengalaman pemain tunggal, yang akan dirilis pada 19 November untuk PlayStation 5 dan Xbox Series X|S. Semua pre-order dan pembelian Grand Theft Auto VI sebelum 20 November akan mendapatkan Vintage Vice City Pack,” tambahnya.

    Keputusan untuk fokus pada mode pemain tunggal ini menjadi langkah berani Rockstar. Sebelumnya, GTA Online menjadi salah satu pilar pendapatan utama perusahaan melalui microtransactions.

    Jadwal Rilis dan Pre-order

    Pemain yang melakukan pre-order untuk versi digital dapat melakukan pra-unduhan game ini pada 12 November 2026. Dengan demikian, mereka bisa langsung memainkannya pada saat perilisan resmi 19 November 2026. Ketentuan ini juga berlaku untuk versi fisik alias kaset GTA 6, yang berisi kode unduhan di dalam kotak.

    Kabar ini tentu melegakan bagi gamer yang sudah menunggu lama kehadiran seri terbaru Grand Theft Auto. Sebelumnya peluncuran GTA 6 sempat molor. Rencana awalnya game ini mau diluncurkan pada 2 Mei 2025, tapi kemudian Rockstar mengumumkan penundaan hingga 26 Mei 2026. Kini, informasi terbaru mengungkapkan GTA 6 akan dirilis pada 19 November 2026 di PS5, Xbox Series X, dan Xbox Series S.

    Antusiasme terhadap GTA 6 memang luar biasa. Bahkan sebelum harga resmi diumumkan, seorang YouTuber nekat membobol kantor Rockstar demi mendapatkan bocoran. Insiden tersebut menunjukkan betapa besarnya ekspektasi publik terhadap sekuel game legendaris ini.

    Dengan banderol Rp 1,19 juta untuk edisi standar, GTA 6 menjadi salah satu game termahal yang pernah dirilis di Indonesia. Namun bagi para penggemar setia, harga tersebut sebanding dengan kualitas dan skala dunia terbuka yang dijanjikan Rockstar.

    Untuk edisi Ultimate dengan harga Rp 1,49 juta, konten eksklusif seperti kendaraan premium dan senjata khusus menjadi daya tarik tersendiri. Pemain yang ingin pengalaman bermain lebih lengkap sejak hari pertama mungkin akan mempertimbangkan opsi ini.

    Rockstar juga memastikan bahwa semua pemain yang melakukan pre-order atau pembelian sebelum 20 November akan mendapatkan Vintage Vice City Pack. Paket ini memberikan item kosmetik bertema Vice City yang ikonik, menghadirkan nostalgia bagi penggemar lama seri Grand Theft Auto.

    Dengan jadwal pra-unduh pada 12 November dan perilisan 19 November 2026, gamer Indonesia masih memiliki waktu beberapa bulan untuk menyiapkan dana. Kepastian harga GTA 6 ini setidaknya memberikan kejelasan bagi mereka yang sudah lama menanti.

    Bagi yang sudah tidak sabar, beberapa kreator bahkan telah membuat tiruan GTA 6 menggunakan AI sebagai bentuk antisipasi. Hal ini menunjukkan betapa besarnya dampak budaya yang dimiliki waralaba Grand Theft Auto.

    Secara keseluruhan, pengumuman harga dan jadwal rilis ini menjadi titik terang bagi industri game Indonesia. GTA 6 dipastikan akan menjadi salah satu game terlaris tahun ini, meskipun hanya tersedia untuk konsol generasi terbaru seperti PS5 dan Xbox Series X|S.

    Implikasinya bagi gamer Indonesia: jika Anda sudah memiliki konsol PS5 atau Xbox Series X|S, inilah saatnya menyiapkan anggaran. Dengan harga Rp 1,19 juta untuk edisi standar, game ini merupakan investasi hiburan yang cukup besar namun sepadan dengan kualitas yang ditawarkan Rockstar.

  • Meta Rilis Kacamata Pintar Murah, Siap Gantikan Smartphone?

    Meta Rilis Kacamata Pintar Murah, Siap Gantikan Smartphone?

    JBNews.id — Meta resmi meluncurkan seri kacamata pintar baru dengan harga USD 299, setidaknya USD 80 lebih murah dari generasi sebelumnya, menandai langkah agresif perusahaan mendorong adopsi perangkat wearable sebagai calon pengganti smartphone.

    CEO Mark Zuckerberg kian gencar berekspansi ke ranah perangkat wearable melalui produk terbaru yang diberi nama Meta Glasses. Kacamata pintar ini hadir dengan desain baru dan diproduksi melalui kerja sama dengan EssilorLuxottica, perusahaan induk Ray-Ban. Namun, berbeda dengan seri sebelumnya, produk ini tak lagi mengusung merek Ray-Ban maupun Oakley.

    Strategi penetapan harga yang lebih terjangkau ini dilakukan Meta di tengah memanasnya persaingan dan meningkatnya minat konsumen terhadap perangkat augmented reality. Meski pasar kacamata pintar masih tergolong kecil, Meta dan EssilorLuxottica berhasil mendominasi dengan perkiraan pangsa pasar melampaui 80%, serta mencatatkan jutaan unit terjual sejak peluncuran perdana tahun 2021.

    Meta Glasses

    Meta Glasses tidak dilengkapi layar, tapi memiliki kamera dan speaker terintegrasi. Pengguna dapat berbicara dengan AI Meta untuk menerjemahkan atau memahami apa yang mereka lihat di sekelilingnya, serta mengambil foto maupun merekam video dari sekitar. Para eksekutif Meta menyebut kacamata pintar ringan ini sebagai batu loncatan menuju perangkat yang lebih mutakhir, yang nantinya akan mengusung layar berlensa dengan kemampuan komputasi.

    Sebagai informasi, tahun lalu Meta sempat mengumumkan kacamata Ray-Ban Display seharga USD 799 yang sudah dilengkapi layar internal. Langkah ini menunjukkan komitmen Meta untuk menghadirkan opsi yang lebih terjangkau bagi konsumen yang ingin merasakan teknologi wearable tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

    Zuckerberg tampaknya meraih sukses melalui kacamata pintar dibanding headset virtual reality (VR), perangkat yang sebelumnya jadi alasan perubahan nama Facebook menjadi Meta pada tahun 2021. Pasar VR sejauh ini masih tersegmentasi dan lebih menyasar gamer, sementara Zuckerberg kini fokus menguasai platform hardware di era AI.

    Visi Zuckerberg: Kacamata Pintar Pengganti Smartphone

    Sebelumnya, Zuckerberg sempat melontarkan sejumlah pernyataan menarik terkait rencana Meta di kacamata pintar. Ia tampak yakin gadget ini suatu hari nanti akan menggantikan peran smartphone. Ia menegaskan Meta memandang kacamata pintar dan AI berkaitan erat dan merupakan masa depan komputasi.

    “Kacamata adalah wujud perangkat ideal untuk AI maupun Metaverse. Perangkat ini memungkinkan Anda membiarkan AI melihat apa yang Anda lihat, mendengar apa yang Anda dengar, dan bicara dengan Anda sepanjang hari. Selain itu, kacamata ini memungkinkan Anda memadukan dunia fisik dan digital secara bersamaan melalui wujud hologram,” sebut Zuckerberg beberapa waktu silam.

    “Saat ini, lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia memakai kacamata, dan sangat besar kemungkinannya kacamata-kacamata tersebut akan beralih menjadi kacamata AI dalam 5 hingga 10 tahun ke depan,” demikian prediksinya.

    Visi ambisius ini didukung oleh data penjualan yang solid. Sejak peluncuran perdana tahun 2021, Meta dan EssilorLuxottica telah mencatatkan jutaan unit terjual, menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap perangkat wearable terus meningkat. Keberhasilan ini juga diperkuat oleh dominasi pangsa pasar yang melampaui 80% di segmen kacamata pintar.

    Sementara itu, kompetisi kacamata pintar semakin memanas. Bulan lalu, Google menyatakan sedang mengembangkan kacamata pintar baru bermitra dengan Warby Parker, di mana perangkat tersebut akan ditenagai AI Gemini. Pekan lalu, Snap mengumumkan Specs, kacamata pintar seharga USD 2.195 yang diposisikan oleh CEO Evan Spiegel sebagai penerus smartphone.

    Dengan harga USD 299, Meta Glasses menjadi pilihan yang jauh lebih terjangkau dibandingkan kompetitornya. Strategi harga ini tampaknya dirancang untuk mempercepat adopsi massal dan membangun ekosistem pengguna yang lebih luas. Dalam konteks ini, langkah Meta sejalan dengan Aplikasi Pasar Prediksi yang mereka kembangkan, menunjukkan diversifikasi bisnis perusahaan di luar media sosial.

    Meski demikian, tantangan tetap ada. Pasar kacamata pintar masih tergolong kecil dan membutuhkan edukasi konsumen yang signifikan. Selain itu, kekhawatiran tentang privasi dan keamanan data juga menjadi isu yang perlu diatasi Meta, terutama setelah Data 45.000 Karyawan perusahaan bocor dan program AI dihentikan.

    Bagi konsumen Indonesia, kehadiran Meta Glasses dengan harga terjangkau membuka peluang untuk merasakan teknologi augmented reality tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Namun, ketersediaan dan dukungan bahasa lokal masih menjadi pertanyaan yang perlu dijawab Meta dalam waktu dekat.

    Implikasinya jelas: Meta tidak hanya menjual perangkat keras, tetapi juga membangun fondasi untuk era komputasi baru di mana interaksi digital terjadi tanpa layar smartphone. Dengan harga yang semakin terjangkau dan dukungan AI yang semakin canggih, kacamata pintar berpotensi menjadi perangkat komputasi pribadi yang dominan dalam satu dekade ke depan.

  • Malware WhatsApp Web Sebar Lewat Akun Dibajak, Kaspersky Ungkap Modus

    Malware WhatsApp Web Sebar Lewat Akun Dibajak, Kaspersky Ungkap Modus

    JBNews.id — Kaspersky Global Research and Analysis Team (GReAT) membongkar kampanye serangan siber global pada Juni 2026 yang memanfaatkan akun WhatsApp Desktop dan WhatsApp Web yang telah dibajak untuk menyebarkan malware berbahaya. Peretas menggunakan akun kontak yang dikenal untuk mengirimkan file VBScript berbahaya yang disamarkan sebagai dokumen bisnis sehari-hari.

    Modus operandi serangan ini sangat bergantung pada teknik rekayasa sosial (social engineering). File jebakan tersebut didistribusikan dengan nama yang menyerupai dokumen bisnis umum, seperti faktur, laporan bank, catatan pembayaran, dan pemberitahuan utang. Untuk meningkatkan kredibilitas, nama file dilokalisasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Melayu, Portugis, Prancis, dan Jerman.

    “Dalam skema serangan ini, penyerang mengeksploitasi kepercayaan dalam platform perpesanan dengan menggunakan akun WhatsApp yang diretas untuk mengirimkan lampiran berbahaya yang tampaknya berasal dari kontak dikenal,” jelas Fareed Radzi, Peneliti Keamanan di Kaspersky GReAT.

    Lebih licik lagi, di dalam sampel VBScript tersebut, peretas sengaja menyisipkan komentar dan metadata palsu yang meniru komponen resmi dari Microsoft Windows Update. Hal ini membuat file jebakan tampak lebih legitimasi di mata korban.

    Ilustrasi WhatsApp

    Malaysia Jadi Korban Terbanyak

    Target serangan sangat luas dan menyasar berbagai negara. Berdasarkan identifikasi tim Kaspersky, korban telah berjatuhan di berbagai wilayah, termasuk Malaysia, Brasil, Singapura, Taiwan, dan Vietnam. Hingga saat ini, jumlah korban terbanyak yang terpantau berada di Malaysia.

    Penggunaan berbagai bahasa Eropa pada nama file juga mengindikasikan bahwa peretas sedang memperluas jaring target mereka ke benua tersebut. Ini menunjukkan bahwa kampanye ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia Tenggara, melainkan berskala global.

    Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya keamanan perangkat di tengah maraknya ancaman siber. Pengguna harus waspada terhadap celah keamanan yang dapat dieksploitasi oleh peretas.

    Langkah Pencegahan dari Kaspersky

    Mengingat berbahayanya skema serangan ini, para ahli dari Kaspersky GReAT merekomendasikan pengguna WhatsApp untuk melakukan langkah-langkah mitigasi berikut:

    • Waspada Terhadap Lampiran Tak Terduga: Jangan langsung percaya pada file yang dikirimkan via WhatsApp, meskipun itu berasal dari kontak yang Anda kenal. Akun mereka bisa saja sedang diretas.
    • Periksa Ekstensi File: Jangan pernah membuka file skrip atau executable yang mencurigakan, seperti .vbs, .vbe, .exe, .bat, .cmd, .js, dan .ps1 kecuali keabsahannya sudah Anda verifikasi langsung kepada pengirim (misalnya melalui telepon).
    • Gunakan Antivirus: Pasang dan gunakan solusi keamanan atau perlindungan endpoint yang kuat di komputer dan perangkat seluler Anda untuk mendeteksi dan memblokir infeksi malware sejak dini.

    Langkah-langkah ini krusial untuk melindungi data pribadi dan mencegah penyebaran malware lebih lanjut. Pengguna juga disarankan untuk selalu memperbarui sistem operasi dan aplikasi keamanan mereka.

    Serangan ini juga menekankan pentingnya dukungan perangkat yang memadai. Pengguna perangkat lawas perlu memperhatikan pembaruan sistem untuk mengurangi risiko keamanan.

  • Google Ubah Biaya Developer di Google Play, Potongan 30 Persen Dihapus

    Google Ubah Biaya Developer di Google Play, Potongan 30 Persen Dihapus

    JBNews.id — Google secara resmi mengumumkan perubahan besar pada struktur biaya pengembang di Google Play Store. Raksasa teknologi ini akan menghapus potongan flat 30 persen yang selama ini menjadi standar dan menggantinya dengan sistem tarif yang lebih rendah serta bersifat dinamis. Perubahan ini merupakan bagian dari penyelesaian gugatan antimonopoli yang diajukan oleh Epic Games, meskipun pengadilan belum memberikan persetujuan akhir atas kesepakatan tersebut.

    Dalam pengumuman resminya, Google menyatakan bahwa tarif baru ini akan mulai diterapkan secara bertahap. Skema yang disebut sebagai “lower, decoupled fees” ini secara fundamental mengubah cara Google mengambil keuntungan dari transaksi di ekosistem Android. Besaran potongan kini tidak lagi seragam, melainkan tergantung pada beberapa faktor: status pengguna (apakah aplikasi diinstal sebelum atau sesudah struktur baru berlaku), pendapatan tahunan pengembang, serta apakah pengembang menggunakan sistem billing Google Play atau alternatif lain.

    Langkah ini diambil di tengah tekanan regulasi global terhadap praktik bisnis toko aplikasi. Google selama ini menjadi sorotan karena kebijakan komisi 30 persen yang dianggap menghambat kompetisi. Dengan sistem baru ini, Google berupaya menyeimbangkan kebutuhan platform dengan tuntutan pengembang dan regulator. Sebelumnya, Saham Google Anjlok akibat hengkangnya eksekutif AI ke pesaing, menambah tekanan pada perusahaan untuk menunjukkan respons positif terhadap perubahan industri.

    Detail Tarif Baru untuk Pengembang Besar

    Bagi pengembang aplikasi yang menghasilkan pendapatan tahunan di atas satu juta dolar AS, Google akan menerapkan tarif khusus. Untuk pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) baru, potongan yang dikenakan adalah 20 persen. Sementara itu, untuk langganan (subscription), tarifnya lebih rendah lagi, yaitu 10 persen. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan kebijakan sebelumnya yang memotong 30 persen untuk semua jenis transaksi.

    Namun, perlu dicatat bahwa tarif tersebut berlaku untuk “new in-app purchases” atau transaksi baru yang terjadi setelah struktur tarif ini berlaku. Google juga masih akan membedakan perlakuan antara pengguna yang pertama kali menginstal aplikasi sebelum dan sesudah perubahan kebijakan. Detail teknis mengenai mekanisme transisi ini masih akan dijelaskan lebih lanjut oleh Google dalam panduan resmi untuk developer.

    Selain itu, Google memperkenalkan program insentif baru yang disebut Games Level Up dan Apps Experience. Program ini dirancang untuk pengembang yang menawarkan pengalaman “luar biasa” dan “premium”. Untuk memenuhi syarat, aplikasi harus bekerja di berbagai platform seperti tablet, smart TV, atau Android Auto. Pengembang juga harus memenuhi tolok ukur penggunaan memori dan tingkat crash yang rendah, serta mendukung fitur yang direkomendasikan Google seperti cloud saves atau sign-in yang tahan terhadap phishing.

    Jadwal Implementasi Bertahap

    Google tidak menerapkan perubahan ini secara serentak di seluruh dunia. Perusahaan telah menyusun jadwal implementasi bertahap yang cukup panjang. Beberapa perubahan program akan mulai berlaku di area tertentu pada akhir September 2026. Selanjutnya, perubahan lain akan diterapkan pada akhir tahun 2026. Baru setelah itu, pada 30 September 2027, skema baru ini akan mulai digulirkan ke seluruh dunia.

    Jadwal bertahap ini memberikan waktu bagi pengembang untuk menyesuaikan model bisnis mereka. Bagi pengembang kecil dan menengah, masa transisi ini penting untuk memahami implikasi finansial dari sistem tarif baru. Google juga diharapkan akan menyediakan dokumentasi dan alat bantu agar pengembang dapat menghitung potongan biaya secara akurat berdasarkan skenario yang berbeda.

    Keputusan Google untuk tetap menggunakan sistem bertingkat berdasarkan pendapatan tahunan menunjukkan bahwa perusahaan masih ingin menjaga insentif bagi pengembang besar. Namun, dengan adanya opsi bagi pengembang untuk menggunakan sistem billing alternatif, Google memberikan fleksibilitas yang sebelumnya tidak ada. Pengembang yang memilih untuk tidak menggunakan Google Play Billing akan dikenakan tambahan biaya 5 persen, sementara yang menggunakan sistem Google Play Billing standar akan membayar lebih.

    Dampak bagi Ekosistem Android

    Perubahan ini diprediksi akan berdampak luas pada ekosistem aplikasi Android. Pengembang aplikasi yang selama ini mengeluhkan tingginya biaya komisi kini memiliki lebih banyak opsi. Dengan tarif yang lebih rendah untuk langganan, model bisnis berbasis berlangganan (subscription) menjadi lebih menarik. Hal ini dapat mendorong lebih banyak aplikasi untuk beralih ke model pendapatan berulang.

    Bagi pengguna akhir, perubahan ini mungkin tidak terasa secara langsung. Namun, dalam jangka panjang, biaya operasional yang lebih rendah bagi pengembang dapat berarti harga langganan yang lebih terjangkau atau fitur premium yang lebih banyak. Google sendiri menekankan bahwa perubahan ini dirancang untuk menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan kompetitif.

    Perubahan kebijakan Google ini juga menjadi preseden penting bagi industri toko aplikasi secara global. Apple, yang juga menghadapi tekanan serupa di berbagai yurisdiksi, kini berada di bawah sorotan untuk melakukan perubahan serupa. Google, dengan langkah ini, menunjukkan kesediaan untuk beradaptasi dengan tuntutan pasar dan regulasi. Bagi pengembang yang ingin memahami lebih dalam tentang strategi Google, artikel tentang Google Home Update menunjukkan bagaimana perusahaan terus berinovasi di berbagai lini produknya.

    Implikasi bagi Pengembang Lokal

    Bagi pengembang aplikasi di Indonesia, perubahan ini membawa angin segar. Dengan tarif yang lebih rendah untuk langganan, pengembang lokal yang mengandalkan model subscription dapat menikmati margin keuntungan yang lebih besar. Selain itu, program Games Level Up dan Apps Experience membuka peluang bagi aplikasi berkualitas tinggi untuk mendapatkan tarif yang lebih kompetitif.

    Namun, tantangan tetap ada. Pengembang harus memastikan aplikasi mereka memenuhi standar kualitas yang ditetapkan Google, seperti kinerja memori yang baik dan dukungan lintas platform. Bagi pengembang yang belum memiliki sumber daya untuk mengoptimalkan aplikasi di berbagai perangkat, program ini mungkin sulit diakses. Google diharapkan menyediakan program pendampingan untuk membantu pengembang kecil memenuhi persyaratan tersebut.

    Perubahan ini juga terjadi di tengah meningkatnya investasi Google di industri kreatif. Seperti yang dilaporkan sebelumnya, Google Investasi Rp1,2 Triliun di A24 untuk pengembangan AI film menunjukkan komitmen perusahaan terhadap konten berkualitas. Hal ini sejalan dengan program Apps Experience yang mendorong pengalaman aplikasi premium.

    Kesimpulan: Arah Baru Google Play

    Penghapusan tarif flat 30 persen dan pengenalan sistem tarif dinamis menandai perubahan signifikan dalam strategi Google Play Store. Meskipun pengadilan belum memberikan persetujuan akhir atas penyelesaian gugatan Epic Games, Google telah memutuskan untuk bergerak maju dengan implementasi perubahan. Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan regulasi dan persaingan telah memaksa Google untuk mereformasi model bisnisnya.

    Bagi pengembang, ini adalah momen untuk mengevaluasi ulang strategi monetisasi dan distribusi aplikasi. Dengan tarif yang lebih rendah dan opsi billing alternatif, pengembang memiliki kendali lebih besar atas biaya operasional mereka. Bagi konsumen, perubahan ini berpotensi menghasilkan aplikasi yang lebih baik dengan harga yang lebih kompetitif.

    Ke depannya, industri akan mengamati bagaimana Apple merespons langkah Google ini. Jika Apple mengikuti jejak serupa, persaingan di pasar toko aplikasi akan semakin ketat, yang pada akhirnya menguntungkan pengembang dan pengguna. Sementara itu, Google terus menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada toko aplikasi, tetapi juga pada berbagai inovasi lain seperti yang terlihat dalam pengembangan AI dan platform rumah pintar.

  • A24-DeepMind: Kolaborasi Riset AI Senilai Rp1,2 Triliun

    A24-DeepMind: Kolaborasi Riset AI Senilai Rp1,2 Triliun

    JBNews.id — A24, rumah produksi independen di balik film-film seperti Moonlight dan Everything Everywhere All At Once, mengumumkan kemitraan riset senilai $75 juta (sekitar Rp1,2 triliun) dengan DeepMind, laboratorium kecerdasan buatan milik Google. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembuatan film baru melalui anak perusahaan teknologi A24, A24 Labs, yang diawasi oleh salah satu pendiri, Scott Belsky.

    Pengumuman ini mengejutkan banyak pihak mengingat posisi A24 sebagai ikon budaya film independen. “Ini adalah kemitraan riset,” kata Sophia Shin, perwakilan komunikasi A24, kepada WIRED melalui surel. “Kami bekerja berdampingan dengan para peneliti DeepMind untuk belajar, mengulangi, dan membangun — dengan secara aktif membentuk alat dan alur kerja baru.”

    Langkah ini menjadi yang terbaru dalam serangkaian pernikahan kontroversial antara Silicon Valley dan Hollywood. Sebelumnya, Disney menginvestasikan $1 miliar di model generasi video OpenAI, Sora, dengan melisensikan akses ke karakter seperti Mickey Mouse dan C-3PO. Namun, Sora kemudian dinyatakan tidak berfungsi beberapa bulan setelahnya.

    Kekhawatiran Penggemar dan Respons A24

    Ancaman AI terhadap industri perfilman dan seni kreatif terasa eksistensial: mengotomatiskan pekerjaan entry-level, mengancam ruang penulis, dan memenuhi bioskop dengan karya generatif yang membosankan. Beberapa studio telah menggugat perusahaan AI atas pelanggaran hak cipta. Ada juga kekhawatiran bahwa dominasi AI di bisnis film memiliki efek mendinginkan, seperti yang terlihat dalam kasus studio yang menjauhkan diri dari biopic Luca Guadagnino tentang pendiri OpenAI, Sam Altman, berjudul Artificial.

    Pengumuman kemitraan A24-DeepMind terasa membingungkan dan kontroversial, justru karena posisi A24 dalam budaya film kontemporer. Basis penggemar setia A24 tampaknya tidak menerima kabar ini dengan baik. Setelah A24 merilis trailer untuk drama musikal baru Jesse Eisenberg, The Debut, komentar di bawah trailer di X dipenuhi kritik. Mulai dari penggemar yang memposting batu nisan dan mendeklarasikan kematian perusahaan, hingga janji untuk membajak film secara ilegal, hingga komentar sinis seperti: “Cukup ironis bahwa The Debut adalah film yang dirilis di tengah-tengah A24 mengakhiri dirinya sendiri dengan AI.”

    “Hubungan kami dengan audiens adalah sesuatu yang tidak kami anggap remeh,” tegas Shin. “Kemitraan ini ada karena kami ingin menentukan alat apa yang akan dibangun untuk para seniman, sehingga mereka memiliki suara dalam membentuknya, daripada menerima alat yang sudah jadi. Kami lebih memilih duduk di meja daripada di pinggir lapangan.” DeepMind Google tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    A24: Ikon Budaya di Persimpangan Jalan

    A24 adalah pembuat selera besar di dunia film. “Seperti Disney menjual nostalgia, A24 telah menjual perasaan menjadi sangat keren dan mutakhir selama mereka ada,” kata kritikus film Esther Rosenfield. Sebelum Backrooms, A24 memelopori film indie Amerika kanonik seperti The Witch, Moonlight, Midsommar, Everything Everywhere All At Once, dan Marty Supreme yang baru-baru ini dirilis. Studio ini telah meluncurkan dan mendukung karya serta karier sineas serius seperti Sofia Coppola, Denis Villeneuve, Ari Aster, Jane Schoenbrun, Celine Song, dan saudara Safdie. Sejak didirikan pada 2012, A24 telah mengumpulkan puluhan nominasi Academy Award.

    Logo khas A24 sebelum trailer film seringkali cukup untuk membangun hype. Ini adalah satu-satunya perusahaan hiburan Amerika yang memiliki penggemar setia, yang memamerkan kecintaan mereka dengan topi, tas jinjing, dan kaos tie-dye edisi terbatas A24. “Mereka memiliki departemen pemasaran yang sangat kuat dan sukses,” kata Andrew DeWaard, profesor studi media di UC San Diego dan penulis buku Derivative Media: How Wall Street Devours Culture. “Mereka telah mem-branding perusahaan mereka sebagai perusahaan yang edgy, berpikiran maju, dan menarik bagi anak muda. Mereka telah menciptakan fandom untuk perusahaan mereka.”

    Namun bagi DeWaard, kesepakatan DeepMind bukanlah pelanggaran besar dan sakral dalam praktik bisnis A24. Dalam bukunya, ia mencatat bahwa salah satu pendiri A24, Daniel Katz, sebelumnya memimpin pembiayaan film di Guggenheim Partners, firma global yang banyak berinvestasi di ekstraksi sumber daya yang merusak lingkungan. Pada 2024, perusahaan menerima suntikan dana signifikan dari Thrive Capital, yang juga banyak berinvestasi di OpenAI. Kepala A24 Labs, Scott Belsky, yang menjadi pusat kesepakatan DeepMind, termasuk di antara nama-nama yang baru-baru ini bocor terkait klub undangan milik pemodal ventura Silicon Valley, Peter Thiel, yaitu Dialog.

    AI dan Masalah Selera

    Pembenaran “duduk di meja” yang dikemukakan A24 terdengar tidak asing. Pengambilalihan AI di bioskop sering dipasarkan—oleh pemangku kepentingan di perusahaan AI—sebagai sesuatu yang sudah ditakdirkan. Bukan soal apakah, tapi kapan. “Mereka ingin membuat AI terasa tak terelakkan,” kata DeWaard tentang perusahaan AI seperti Google. “Mereka ingin membuat AI terasa ada di mana-mana. Mereka ingin hal itu terasa normal. Budaya adalah bagian dari itu.”

    Rosenfield menganggap kesepakatan itu sebagai bentuk PR positif, setidaknya di pihak Google. “Mereka berkata, ‘Kami ingin mencuci reputasi kami melalui Anda,’” katanya. “Kami ingin membuatnya terlihat seperti seniman serius akan membuat sesuatu dengan alat ini. Karena seniman serius, pada umumnya, tidak.” (Ditanya apakah kesepakatan dengan Google merupakan bentuk pencucian reputasi, A24 menolak berkomentar.)

    Di antara kekhawatiran lainnya, AI pasti menderita defisit selera. Gambar AI generatif secara teratur—dan akurat—dijuluki “slop.” Karena klien AI generatif dan model bahasa besar bukan manusia, mereka tidak bisa menilai, atau membedakan yang baik dan buruk, jelek atau indah, keren atau membosankan. Belakangan ini, elemen manusia yang lebih halus dan canggih inilah yang sangat ingin direplikasi oleh para teknolog, baik dengan menjadi tuan rumah pameran seni yang “dikurasi” AI di galeri San Francisco, atau dengan bermitra dengan perusahaan kreatif yang mereknya identik dengan selera. Sebut saja ini sebagai “taste-leeching” (menyedot selera).

    Di tempat lain, sebuah startup AI baru, yang secara harfiah bernama Taste Labs, baru-baru ini mengamankan pendanaan $18,5 juta untuk tujuannya “menghilangkan slop” dan berinvestasi pada klien AI dengan kepekaan pembuat selera mereka sendiri. Shin dari A24 bersikeras bahwa kemitraan riset ini bukanlah semacam waralaba atau permainan kekayaan intelektual. Pengguna DeepMind tidak akan bisa membayar untuk menghasilkan film kecil mereka sendiri yang menampilkan karakter A24 yang dilindungi hak cipta seperti Howie Rainer dari Uncut Gems, The Green Knight, Charles Swan III, atau domba kecil dari Lamb.

    “Kenyataannya adalah kami belum tentu menyukai hasil AI saat ini di layar Hollywood,” kata Shin. “Saya bahkan tidak tahu apakah pada akhirnya kami akan menciptakan teknologi di bidang itu. Kemitraan ini lebih tentang belajar dan membantu titik-titik masalah dalam alur kerja di belakang layar daripada hal lainnya.”

    Implikasinya bagi industri film: kolaborasi ini menandai babak baru di mana studio indie paling berpengaruh sekalipun mulai merangkul AI, meskipun dengan alasan pengembangan alat. Bagi penggemar, ini adalah ujian kepercayaan yang nyata. Bagi Google, ini adalah langkah strategis untuk mendapatkan legitimasi budaya. Bagi A24, ini adalah taruhan bahwa mereka bisa mengendalikan arah teknologi, bukan sebaliknya.

  • Robot DoorDash Nekat Terobos Aksi SWAT di Arizona

    Robot DoorDash Nekat Terobos Aksi SWAT di Arizona

    JBNews.id — Sebuah robot pengantar makanan DoorDash nekat menerobos lokasi aksi kepolisian bersenjata lengkap di Chandler, Arizona, pada 15 Juni lalu.

    Robot bernama Dot itu sedang dalam perjalanan mengantar makanan ketika secara tidak sengaja memasuki area operasi SWAT. Polisi Chandler saat itu sedang menyelidiki insiden terkait senjata api di sebuah rumah dekat Ray Road dan Hamilton Street.

    Polisi memerintahkan Dot untuk berbalik arah. Namun, perintah itu tidak dapat dijalankan karena Dot hanyalah robot otonom. Alhasil, robot tersebut tetap membandel dan menyaksikan langsung aksi SWAT meledakkan flashbang di jendela rumah yang menjadi target operasi.

    Seorang pria kemudian terlihat keluar dengan tangan di belakang kepala. Dot baru meninggalkan lokasi setelah operasi selesai, dan itu pun bukan karena inisiatif sendiri. Sebuah truk kotak DoorDash besar datang untuk menjemputnya. Seorang karyawan terlihat memandu robot tersebut secara manual menuju bagian belakang truk.

    Dalam pernyataannya kepada The Independent, DoorDash menegaskan bahwa robot mereka telah berperilaku sesuai rancangan. “Robot kami berperilaku seperti yang dirancang — berhenti dan menunggu dengan aman saat pihak berwenang menangani lokasi kejadian, dan kami berterima kasih kepada Departemen Kepolisian Chandler atas profesionalisme mereka,” ujar juru bicara DoorDash. “Kami terus meninjau insiden ini dan akan membagikan informasi lebih lanjut jika sudah diketahui.”

    Dot berbeda dari kebanyakan robot pengantar makanan. Robot ini lebih tinggi dan lebih luas, serta melaju dengan kecepatan hingga 20 mil per jam. Kecepatan ini dimungkinkan karena Dot dirancang untuk beroperasi di jalan raya dan jalur sepeda, meninggalkan robot-robot lain yang hanya berjalan di trotoar.

    Meski begitu, seperti kendaraan otonom lainnya, Dot tetap rentan terhadap kesalahan. Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, dua robot Serve Robotics terlihat menerobos lokasi insiden kepolisian saat petugas menangani seorang pria yang diduga mengalami krisis kesehatan mental. Robot Serve Robotics lainnya juga pernah menerobos tempat kejadian perkara.

    Insiden ini menimbulkan pertanyaan baru tentang interaksi antara robot otonom dan situasi darurat yang melibatkan aparat. Bagaimana robot-robot ini harus merespons saat menghadapi operasi kepolisian? Apakah protokol yang ada saat ini sudah memadai?

    Dot adalah bagian dari ekspansi DoorDash dalam layanan pengiriman otonom. Perusahaan ini terus menguji coba robot-robotnya di berbagai kota di Amerika Serikat. Namun, insiden di Arizona ini menunjukkan bahwa masih ada celah dalam sistem navigasi dan respons robot terhadap situasi tak terduga.

    Polisi Chandler belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, rekaman video yang beredar menunjukkan bahwa Dot tidak mengganggu jalannya operasi secara signifikan. Robot tersebut hanya diam di lokasi hingga operasi selesai.

    Ke depannya, DoorDash mungkin perlu memperbarui perangkat lunak robotnya agar dapat merespons perintah verbal atau isyarat visual dari aparat. Protokol evakuasi otomatis juga bisa menjadi solusi untuk mencegah robot terjebak di lokasi berbahaya.

    Bagi pengguna layanan DoorDash, insiden ini mungkin tidak berdampak langsung. Namun, ini menjadi pengingat bahwa teknologi otonom masih memiliki keterbatasan. Interaksi antara robot dan manusia dalam situasi darurat perlu diatur lebih jelas.

    Di sisi lain, insiden ini juga menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan rintisan robotik. Startup AI yang mengembangkan robot pengirim perlu memastikan bahwa produk mereka dapat beroperasi aman di lingkungan publik yang dinamis.

    Kisah Dot yang nekat menerobos aksi SWAT mungkin terdengar lucu, tetapi ini menyoroti tantangan serius dalam adopsi teknologi otonom. Robot-robot ini harus bisa membedakan antara situasi normal dan darurat, serta merespons dengan tepat.

    Tanpa protokol yang jelas, insiden serupa bisa terulang. Bahkan, bisa saja robot tanpa sengaja menghalangi jalannya operasi penyelamatan atau penegakan hukum. Ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga keselamatan.

    DoorDash sendiri tampaknya tidak terlalu khawatir. Perusahaan ini terus mengembangkan layanan pengiriman otonomnya. Namun, insiden di Arizona ini menjadi catatan penting bahwa teknologi otonom belum sepenuhnya siap menghadapi situasi tak terduga di dunia nyata.

    Bagi masyarakat umum, kejadian ini bisa menjadi bahan diskusi tentang sejauh mana kita ingin memberikan kepercayaan kepada robot untuk beroperasi secara mandiri. Apakah kita siap menghadapi konsekuensi dari keputusan otonom yang salah?

    Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab sebelum teknologi otonom diadopsi secara luas. Insiden Dot mungkin hanya awal dari serangkaian kejadian serupa di masa depan.

    Di Indonesia sendiri, penggunaan robot pengirim masih sangat terbatas. Namun, dengan perkembangan teknologi yang pesat, bukan tidak mungkin robot-robot seperti Dot akan hadir di jalanan kota-kota besar Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

    Pemerintah dan regulator perlu mulai mempersiapkan kerangka hukum yang mengatur operasi robot otonom di ruang publik. Regulasi baru yang jelas akan membantu mencegah insiden serupa dan memberikan kepastian hukum bagi semua pihak.

    Sementara itu, para pengembang robot otonom harus terus meningkatkan kecerdasan buatan robot mereka. Kemampuan untuk membaca situasi dan merespons perintah darurat harus menjadi prioritas utama.

    Insiden Dot di Arizona adalah pelajaran berharga. Robot otonom mungkin bisa mengantar makanan dengan efisien, tetapi mereka belum cukup pintar untuk menghindari masalah. Setidaknya, untuk sekarang.

    Ke depannya, kita mungkin akan melihat lebih banyak insiden serupa. Namun, setiap insiden adalah kesempatan untuk belajar dan memperbaiki teknologi. Yang penting, jangan sampai ada korban jiwa akibat kesalahan robot.

    Dot mungkin hanya robot pengantar makanan, tetapi insidennya menjadi pengingat bahwa teknologi otonom masih dalam tahap awal. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum robot bisa beroperasi sepenuhnya tanpa pengawasan manusia.

    Bagi DoorDash, insiden ini mungkin hanya gangguan kecil. Namun, bagi industri robotik secara keseluruhan, ini adalah sinyal bahwa masih ada celah besar yang harus ditutup. Robot keamanan yang gagal total adalah contoh lain dari tantangan yang dihadapi industri ini.

    Pada akhirnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Teknologi otonom memang menawarkan efisiensi dan kemudahan, tetapi tidak boleh mengorbankan keselamatan manusia. Insiden Dot adalah pengingat bahwa kita masih perlu berhati-hati dalam mengadopsi teknologi baru.

  • Kritik Ilmiah Guncang Klaim Quantum Microsoft

    Kritik Ilmiah Guncang Klaim Quantum Microsoft

    JBNews.id — Klaim Microsoft mengenai terobosan chip komputasi kuantum bernama Majorana 1 dan Majorana 2 dipertanyakan secara serius oleh publikasi ilmiah di jurnal Nature. Sebuah kritik yang ditulis oleh fisikawan Henry Legg dari University of St Andrews menganalisis ulang data Microsoft dan menyimpulkan bahwa perusahaan teknologi tersebut belum secara meyakinkan mendemonstrasikan qubit topologis yang berfungsi.

    Kritik ini muncul pada Rabu waktu setempat dan langsung menjadi sorotan di dunia sains. Legg menulis bahwa data yang dipresentasikan Microsoft sebagai tanda keberadaan partikel Majorana bisa jadi berasal dari pembentukan quantum dot, yaitu struktur yang mengandung elektron di dalam perangkat. Quantum dot tidak berguna untuk membangun komputer kuantum. Lebih lanjut, Legg juga menuduh Microsoft memilih data secara tidak objektif atau cherry-picked.

    “Mereka belum secara meyakinkan menunjukkan bahwa mereka memiliki Majoranas,” kata Legg kepada The Verge. “Anda tidak bisa membuat qubit jika Anda tidak memiliki Majoranas.”

    Microsoft sebelumnya mengumumkan chip Majorana 1 pada Februari 2025 dan mengklaimnya sebagai terobosan dengan teknologi qubit topologis. Perusahaan kemudian mengumumkan chip generasi berikutnya, Majorana 2, pada ajang Build awal bulan Juni 2026. Microsoft menyebut qubit topologis sebagai “blok bangunan” untuk komputer kuantum masa depan mereka dan menargetkan pembangunan komputer kuantum yang dapat diskalakan pada tahun 2029.

    Proponen komputasi kuantum memprediksi bahwa kemampuan komputasi teknologi ini akan memajukan penemuan obat baru, enkripsi, dan pembelajaran mesin. Perusahaan seperti Google dan IBM telah mendemonstrasikan mesin yang lebih canggih dari Majorana 1 atau 2, meskipun saat ini belum ada satu pun yang berhasil membuat komputer kuantum melakukan sesuatu yang berguna secara meyakinkan.

    Desain Microsoft unik di antara perusahaan komputasi kuantum. Desain ini melibatkan kawat kecil, lebih tipis dari rambut manusia, yang terbuat dari semikonduktor indium arsenide yang ditempelkan pada superkonduktor. Teori meramalkan bahwa elektron dalam kawat ini berperilaku dalam pola kolektif yang dikenal sebagai partikel Majorana, yang menjadi asal nama chip tersebut. Microsoft ingin menyandikan informasi dalam properti partikel Majorana. (Qubit topologis terhadap partikel Majorana ibarat transistor terhadap silikon.)

    Pendukung partikel Majorana menganggapnya sebagai bahan qubit yang menjanjikan karena teori meramalkan bahwa ketika dibentuk menjadi qubit topologis, Majorana akan menghitung dengan lebih sedikit kesalahan dibandingkan bahan pesaing, seperti sirkuit superkonduktor yang dikejar IBM. Ini menunjukkan bahwa pada akhirnya, lebih sedikit qubit topologis yang diperlukan untuk meningkatkan skala menuju komputer kuantum yang berguna. Itu semua berlaku jika Microsoft benar-benar telah membuat partikel Majorana.

    Legg pertama kali memposting kritiknya di repositori fisika online arXiv pada 11 Maret 2025, dalam waktu satu bulan setelah pengumuman Majorana 1. Butuh waktu satu tahun bagi Nature untuk melakukan peer review dan menerbitkan artikelnya. Sementara itu, pada 2 Juni 2026, Microsoft mengumumkan chip baru, Majorana 2, yang menampilkan apa yang mereka klaim sebagai generasi berikutnya dari qubit topologis mereka.

    Tim Microsoft menerbitkan bantahan di Nature yang membantah interpretasi Legg terhadap data mereka. Kritik Legg “tidak merupakan tantangan ilmiah yang substansial terhadap temuan kami,” tulis tim Microsoft. Legg belum “mengusulkan model alternatif yang cocok dengan semua data kami,” kata Chetan Nayak, fisikawan yang memimpin tim kuantum Microsoft, kepada The Verge.

    “Kami 100% mendukung hasil kami,” kata Nayak kepada The Verge. “Kami mendukung peta jalan kami. Kami mendukung komitmen jangka panjang kami terhadap ketelitian dan dialog ilmiah.”

    Legg mengatakan bahwa karakterisasi Majorana 2 oleh perusahaan, yang ditulis Microsoft dalam manuskrip yang tidak di-peer-review, mengalami masalah serupa dengan yang ia tunjukkan setahun lalu. “Tidak ada apa pun dalam [manuskrip] ini yang menyelesaikan masalah fundamental yang dimiliki begitu banyak ilmuwan dengan klaim sebelumnya dari perusahaan ini,” kata Legg kepada The Verge.

    Kontroversi ini menunjukkan betapa ketatnya proses verifikasi ilmiah dalam bidang komputasi kuantum. Klaim terobosan yang sensasional harus diuji secara independen sebelum dapat diterima sebagai fakta ilmiah. Bagi pengamat industri, situasi ini mengingatkan pada dinamika antara inovasi perusahaan dan skeptisisme akademis yang sehat.

    Implikasi dari kritik ini sangat jelas: peta jalan Microsoft menuju komputer kuantum yang dapat diskalakan pada tahun 2029 mungkin didasarkan pada fondasi yang belum terbukti secara ilmiah. Jika Legg benar, maka upaya Microsoft selama bertahun-tahun dalam mengembangkan qubit topologis bisa jadi menemui jalan buntu. Di sisi lain, jika Microsoft benar, mereka memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan dalam perlombaan komputasi kuantum.

    Koreksi: Versi awal artikel ini salah menyebutkan tanggal publikasi awal kritik Legg. Kritik tersebut diposting pada 11 Maret 2025, bukan 26 Februari 2025.

    Fenomena ini juga mengingatkan kita pada pentingnya verifikasi data di era digital yang penuh dengan klaim teknologi besar. Seperti halnya AI ubah foto apartemen yang menipu pencari rumah, klaim teknologi tanpa bukti yang kuat dapat menyesatkan publik dan investor. Oleh karena itu, proses peer-review seperti yang dilakukan Nature menjadi benteng terakhir untuk memastikan integritas ilmiah.

    Di tengah hiruk-pikuk persaingan teknologi kuantum, kasus ini menjadi pengingat bahwa sains bukanlah tentang siapa yang paling keras berteriak, melainkan tentang data yang dapat direproduksi dan diverifikasi secara independen. Dunia menanti babak selanjutnya dari kontroversi ini, yang akan menentukan arah pengembangan salah satu teknologi paling ambisius di abad ini.

  • Musk Kehilangan Status Triliuner Usai Saham SpaceX Anjlok

    Musk Kehilangan Status Triliuner Usai Saham SpaceX Anjlok

    JBNews.id — Elon Musk resmi kehilangan statusnya sebagai triliuner pertama di dunia setelah harga saham SpaceX mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir, menghapus keuntungan besar pasca-IPO perusahaan roket tersebut.

    SpaceX melantai di bursa efek awal bulan ini dengan harga pembukaan yang spektakuler. Saham perusahaan sempat meroket hingga US$225 per lembar pada 16 Juni lalu, melonjak 50 persen dari harga perdana. Lonjakan itu mendorong kekayaan bersih Musk melampaui US$1 triliun, menjadikannya triliuner pertama dalam sejarah.

    Namun euforia itu tidak bertahan lama. Setelah puncak tersebut, harga saham SpaceX mulai terkoreksi. Penurunan terparah terjadi pada Senin lalu, ketika saham perusahaan mengalami hari perdagangan paling berat dengan kehilangan ratusan miliar dolar kapitalisasi pasar dalam satu sesi.

    Hingga Rabu siang, saham SpaceX diperdagangkan di kisaran pertengahan US$150-an, nyaris tidak bergerak jauh dari harga IPO-nya. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Musk kini menyusut menjadi US$957 miliar — masih sangat besar, tetapi tidak lagi cukup untuk menyandang gelar triliuner.

    Kondisi ini diperparah oleh pelemahan saham Tesla, perusahaan mobil listrik milik Musk, yang turun lima persen dalam lima hari terakhir seiring aksi jual besar-besaran di sektor teknologi global. Namun demikian, seperti dicatat Quartz, SpaceX masih menyumbang hampir 80 persen dari total kekayaan Musk, dengan nilai kepemilikan sahamnya mencapai US$744 miliar. Artinya, nasib keuangan Musk sangat bergantung pada kinerja perusahaan roket tersebut.

    Investor Spekulatif dan Fundamental Bisnis

    Fluktuasi besar dalam dua pekan terakhir membuat investor SpaceX masih berusaha memahami valuasi raksasa perusahaan tersebut, terutama mengingat fundamental bisnisnya yang masih rapuh dan rencana ambisius yang belum terbukti untuk membangun konstelasi pusat data orbital.

    Para analis terus menyoroti bahwa investor ritel sebenarnya tidak terlalu mendasarkan keputusan pada kinerja perusahaan. Mereka lebih bertaruh pada sosok Musk sendiri dan visi besarnya untuk masa depan. Fenomena ini menjadikan pergerakan saham SpaceX sangat dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap pendirinya.

    Ancaman Short Seller Mengintai

    Di tengah pelemahan harga saham, para short seller — yang sejak lama menjadi momok bagi Musk — mulai meningkatkan posisi taruhan mereka terhadap penurunan saham SpaceX. Laporan Reuters mengonfirmasi bahwa aksi jual besar-besaran ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan dari pihak yang berspekulasi harga akan terus jatuh.

    “Short interest di SpaceX meningkat sangat cepat untuk saham yang baru go public beberapa minggu,” kata Peter Hillerberg, salah satu pendiri Ortex, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa penghapusan nilai saham baru-baru ini merupakan “tanda jelas bahwa semakin banyak trader memposisikan diri untuk harga jatuh tajam.”

    Kondisi ini mengingatkan pada pola yang pernah terjadi pada saham Tesla, di mana Musk kerap berseteru dengan short seller. Kini, tekanan serupa mulai menghantui perusahaan roketnya yang baru tercatat di bursa.

    Penurunan saham SpaceX juga berdampak pada persepsi pasar terhadap proyek-proyek ambisius perusahaan, termasuk misi luar angkasa rahasia yang diduga untuk keperluan militer. Perusahaan sebelumnya telah menguji coba misi rahasia bernama Starfall, yang menambah spekulasi tentang diversifikasi bisnis SpaceX ke sektor pertahanan.

    Bagi investor dan pengamat pasar, situasi ini menjadi ujian apakah valuasi SpaceX dapat bertahan tanpa bergantung pada popularitas pribadi Musk. Dengan fundamental bisnis yang masih dipertanyakan dan ancaman short seller yang mengintai, perjalanan saham SpaceX ke depan masih penuh ketidakpastian.

    Implikasinya bagi pembaca: jika Anda berinvestasi di saham teknologi khususnya SpaceX, bersiaplah menghadapi volatilitas tinggi yang tidak semata-mata didorong oleh kinerja perusahaan, melainkan juga persepsi pasar terhadap figur sentral di belakangnya.

    Artikel terkait: Misi Rahasia Starfall dan Spacex dengan Union Pacific.