Musk Kehilangan Status Triliuner Usai Saham SpaceX Anjlok

Ilustrasi foto Elon Musk dengan latar belakang grafik saham SpaceX menurun

JBNews.id — Elon Musk resmi kehilangan statusnya sebagai triliuner pertama di dunia setelah harga saham SpaceX mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir, menghapus keuntungan besar pasca-IPO perusahaan roket tersebut.

SpaceX melantai di bursa efek awal bulan ini dengan harga pembukaan yang spektakuler. Saham perusahaan sempat meroket hingga US$225 per lembar pada 16 Juni lalu, melonjak 50 persen dari harga perdana. Lonjakan itu mendorong kekayaan bersih Musk melampaui US$1 triliun, menjadikannya triliuner pertama dalam sejarah.

Namun euforia itu tidak bertahan lama. Setelah puncak tersebut, harga saham SpaceX mulai terkoreksi. Penurunan terparah terjadi pada Senin lalu, ketika saham perusahaan mengalami hari perdagangan paling berat dengan kehilangan ratusan miliar dolar kapitalisasi pasar dalam satu sesi.

Hingga Rabu siang, saham SpaceX diperdagangkan di kisaran pertengahan US$150-an, nyaris tidak bergerak jauh dari harga IPO-nya. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Musk kini menyusut menjadi US$957 miliar — masih sangat besar, tetapi tidak lagi cukup untuk menyandang gelar triliuner.

Kondisi ini diperparah oleh pelemahan saham Tesla, perusahaan mobil listrik milik Musk, yang turun lima persen dalam lima hari terakhir seiring aksi jual besar-besaran di sektor teknologi global. Namun demikian, seperti dicatat Quartz, SpaceX masih menyumbang hampir 80 persen dari total kekayaan Musk, dengan nilai kepemilikan sahamnya mencapai US$744 miliar. Artinya, nasib keuangan Musk sangat bergantung pada kinerja perusahaan roket tersebut.

Investor Spekulatif dan Fundamental Bisnis

Fluktuasi besar dalam dua pekan terakhir membuat investor SpaceX masih berusaha memahami valuasi raksasa perusahaan tersebut, terutama mengingat fundamental bisnisnya yang masih rapuh dan rencana ambisius yang belum terbukti untuk membangun konstelasi pusat data orbital.

Para analis terus menyoroti bahwa investor ritel sebenarnya tidak terlalu mendasarkan keputusan pada kinerja perusahaan. Mereka lebih bertaruh pada sosok Musk sendiri dan visi besarnya untuk masa depan. Fenomena ini menjadikan pergerakan saham SpaceX sangat dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap pendirinya.

Ancaman Short Seller Mengintai

Di tengah pelemahan harga saham, para short seller — yang sejak lama menjadi momok bagi Musk — mulai meningkatkan posisi taruhan mereka terhadap penurunan saham SpaceX. Laporan Reuters mengonfirmasi bahwa aksi jual besar-besaran ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan dari pihak yang berspekulasi harga akan terus jatuh.

“Short interest di SpaceX meningkat sangat cepat untuk saham yang baru go public beberapa minggu,” kata Peter Hillerberg, salah satu pendiri Ortex, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa penghapusan nilai saham baru-baru ini merupakan “tanda jelas bahwa semakin banyak trader memposisikan diri untuk harga jatuh tajam.”

Kondisi ini mengingatkan pada pola yang pernah terjadi pada saham Tesla, di mana Musk kerap berseteru dengan short seller. Kini, tekanan serupa mulai menghantui perusahaan roketnya yang baru tercatat di bursa.

Penurunan saham SpaceX juga berdampak pada persepsi pasar terhadap proyek-proyek ambisius perusahaan, termasuk misi luar angkasa rahasia yang diduga untuk keperluan militer. Perusahaan sebelumnya telah menguji coba misi rahasia bernama Starfall, yang menambah spekulasi tentang diversifikasi bisnis SpaceX ke sektor pertahanan.

Bagi investor dan pengamat pasar, situasi ini menjadi ujian apakah valuasi SpaceX dapat bertahan tanpa bergantung pada popularitas pribadi Musk. Dengan fundamental bisnis yang masih dipertanyakan dan ancaman short seller yang mengintai, perjalanan saham SpaceX ke depan masih penuh ketidakpastian.

Implikasinya bagi pembaca: jika Anda berinvestasi di saham teknologi khususnya SpaceX, bersiaplah menghadapi volatilitas tinggi yang tidak semata-mata didorong oleh kinerja perusahaan, melainkan juga persepsi pasar terhadap figur sentral di belakangnya.

Artikel terkait: Misi Rahasia Starfall dan Spacex dengan Union Pacific.