Category: Tekno

  • Hakim Batalkan Sidang Akibat Advokat Kedua Pihak Pakai AI

    Hakim Batalkan Sidang Akibat Advokat Kedua Pihak Pakai AI

    JBNews.id — Seorang hakim federal di Mississippi, Amerika Serikat, membatalkan jadwal persidangan dan menjatuhkan sanksi kepada empat pengacara setelah mengetahui bahwa kedua belah pihak dalam perkara perdata menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun dokumen hukum, yang menghasilkan kutipan hukum palsu atau halusinasi.

    Dalam perintah sanksi yang dikeluarkan pada Januari 2026, Hakim Distrik Sharion Aycock dari Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara Mississippi menyatakan bahwa pengacara dari penggugat dan tergugat sama-sama melakukan pelanggaran dengan mengandalkan AI tanpa verifikasi. “Perkara ini menghadirkan skenario yang tidak biasa bagi Pengadilan—para pengacara dari kedua pihak melakukan tindakan yang dapat dikenai sanksi serupa,” tulis Aycock, seperti dikutip dari laporan 404 Media.

    Aycock menambahkan bahwa pengadilannya “kembali dibebani dengan menangani dokumen pengadilan yang berisi halusinasi AI.” Kasus ini bermula dari sengketa pembayaran biaya hukum yang belum dibayar antara pengacara Tom Withers sebagai penggugat dan Kota Aberdeen, Mississippi, sebagai tergugat. Namun, pengadilan segera menemukan bahwa dokumen dari kedua pihak “mengandung kutipan halusinasi.”

    Dalam sidang pada 20 Januari, Kathryn Williams, pengacara yang mewakili Withers, mengakui telah menggunakan alat AI untuk melakukan penelitian hukum. Sementara itu, Kathleen Wilson, pengacara yang mewakili Kota Aberdeen, mengakui menggunakan AI generatif untuk menyusun draf tanggapan hukumnya. “Tak satu pun dari mereka memverifikasi otoritas hukum yang dihasilkan AI sebelum mengajukan dokumen,” tulis Aycock dalam perintahnya. “Masing-masing pengacara menyatakan rasa malu dan meminta maaf kepada Pengadilan.”

    Kasus ini pertama kali terungkap setelah pengacara Rob Freund menyoroti kesalahan tersebut di media sosial, menyebutnya sebagai “komedi kesalahan AI.” Freund menemukan bahwa dokumen hukum dari kedua pihak berisi referensi ke putusan pengadilan yang tidak pernah ada—sebuah fenomena yang dikenal sebagai halusinasi AI. Fitur Terbaru dari AI generatif memang memungkinkan pembuatan teks yang tampak meyakinkan, tetapi tanpa jaminan akurasi faktual.

    Williams dan Wilson masing-masing diperintahkan membayar denda berkisar antara USD 1.000 hingga USD 3.500. Selain itu, keduanya dilarang tampil di sidang mana pun di Distrik Utara Mississippi selama dua tahun. Keempat pengacara yang terlibat—termasuk dua pengacara lain yang tidak secara langsung menggunakan AI—didiskualifikasi dari partisipasi lebih lanjut dalam perkara ini. Hakim juga membatalkan jadwal persidangan yang telah ditetapkan.

    Yang memperburuk situasi, Aycock mengungkapkan bahwa Wilson mencoba berargumen bahwa ia “tidak sadar bahwa AI dapat menghasilkan kasus halusinasi dan menjelaskan bahwa ia bahkan tidak tahu apa itu kasus halusinasi.” Pengadilan menolak argumen tersebut. “Pengadilan menganggap penjelasan itu tidak memadai dan tidak masuk akal,” tulis Aycock. Sementara itu, Williams juga berusaha membela diri dengan menyatakan bahwa alat penelitian AI “internal” yang digunakannya seharusnya tidak menghasilkan halusinasi—alasan yang juga tidak diterima hakim.

    Insiden ini menjadi pengingat nyata tentang betapa seringnya pengacara menggunakan AI, yang berujung pada kekacauan di ruang sidang. Menurut laporan tahun 2025, halusinasi tetap marak dalam dokumen hukum—kesalahan yang sebenarnya mudah dihindari tetapi justru memperlambat proses peradilan dan mengikis kepercayaan. Bahkan firma hukum bergengsi di Wall Street pun pernah dipermalukan setelah penggunaan AI mereka terungkap di pengadilan.

    Kasus di Mississippi ini menunjukkan bahwa masalah tersebut tidak terbatas pada satu pihak saja. Ketika kedua belah pihak sama-sama mengandalkan AI tanpa verifikasi, integritas proses hukum secara keseluruhan dipertanyakan. Sanksi tegas dari Hakim Aycock mengirimkan pesan jelas bahwa pengadilan tidak akan mentolerir praktik semacam itu, terlepas dari apakah pengacara mengaku tidak tahu atau tidak sengaja.

    Implikasinya bagi para praktisi hukum di Indonesia, termasuk di Jawa Barat dan Banten, adalah perlunya kewaspadaan ekstra. Teknologi AI memang menawarkan efisiensi, tetapi tanggung jawab profesional untuk memverifikasi setiap fakta dan kutipan hukum tetap berada di tangan pengacara. Mengandalkan AI tanpa pengawasan manusia bukan hanya risiko etika, tetapi juga dapat berakibat pada sanksi hukum yang berat.

    [IMAGE: Ilustrasi foto yang menunjukkan seorang hakim memukul palu sidang.]

    Kasus ini juga menjadi peringatan bagi pengadilan di Indonesia yang mulai mengadopsi sistem elektronik. Meskipun belum ada laporan serupa di dalam negeri, pengalaman di AS menunjukkan bahwa pengawasan ketat terhadap penggunaan AI dalam dokumen hukum mutlak diperlukan. Pengadilan, regulator, dan asosiasi advokat perlu segera merumuskan pedoman yang jelas tentang penggunaan AI dalam praktik hukum.

    Pada akhirnya, keputusan Hakim Aycock bukan sekadar hukuman bagi empat pengacara. Ini adalah pernyataan tegas bahwa teknologi, secanggih apa pun, tidak boleh menggantikan penilaian profesional dan tanggung jawab etis seorang pengacara. Bagi pembaca JBNews.id, terutama para profesional hukum, pesannya jelas: AI adalah alat bantu, bukan pengganti keahlian dan integritas.

  • Cash App Mobile: Layanan Seluler 5G Unlimited Rp 650 Ribu per Bulan

    Cash App Mobile: Layanan Seluler 5G Unlimited Rp 650 Ribu per Bulan

    JBNews.id — Cash App meluncurkan layanan seluler prabayar bernama Cash App Mobile yang menawarkan paket data 5G unlimited sebesar US$40 per bulan, termasuk pajak dan biaya tambahan. Layanan ini menggunakan jaringan AT&T dan didukung oleh Gigs, perusahaan yang sama di balik layanan seluler Klarna yang diluncurkan tahun lalu dengan harga identik.

    Cash App Mobile saat ini sedang dalam tahap peluncuran terbatas. Perusahaan menyatakan layanan ini “rolling out to select users, with broader availability planned in the coming months.” Langkah ini menandai ekspansi signifikan Cash App dari aplikasi finansial menjadi penyedia layanan telekomunikasi.

    Paket US$40 per bulan, atau setara sekitar Rp 650 ribu dengan kurs saat ini, merupakan harga yang kompetitif di pasar Amerika Serikat untuk layanan 5G unlimited. Tidak ada biaya tersembunyi karena semua pajak dan biaya sudah termasuk dalam tarif tersebut.

    Fitur Unggulan Cash App Mobile

    Cash App Mobile menawarkan lebih dari sekadar konektivitas tanpa batas. Layanan ini mencakup unlimited 5G data, talk, dan text, unlimited HD streaming, serta 10 GB hotspot bulanan di dalam Amerika Serikat. Pelanggan juga mendapatkan data roaming di Kanada dan Meksiko.

    Cash App, yang menyebut dirinya sebagai aplikasi keuangan pribadi nomor satu di AS, berencana mengintegrasikan layanan seluler ini dengan ekosistem yang lebih luas. Perusahaan akan menghubungkan Cash App Mobile dengan program rewards Cash App Green dan Cash App Families, yaitu pengaturan untuk mengelola akun anak dan remaja yang diawasi.

    Integrasi dengan Ekosistem Keuangan

    Cash App memposisikan layanan ini sebagai “phone plan built for financial flexibility.” Pengguna dapat mengelola layanan seluler, pengeluaran, dan tabungan dalam satu platform. Pendekatan ini menciptakan pengalaman terintegrasi bagi “Modern Earners” atau pekerja modern yang menginginkan kemudahan finansial.

    Melalui program Cash App Green, pelanggan bisa mendapatkan cara baru untuk mendapatkan imbalan dan berhemat pada salah satu pengeluaran berulang terbesar dalam hidup. Ini sejalan dengan strategi Cash App untuk memperdalam hubungan dengan pengguna melalui layanan yang lebih menyeluruh.

    Layanan ini juga terhubung dengan Fitur Terbaru Cash App untuk remaja, yaitu Cash App Families. Fitur ini memungkinkan orang tua mengawasi aktivitas keuangan anak-anak mereka, termasuk penggunaan layanan seluler.

    Didukung oleh Gigs

    Infrastruktur teknis Cash App Mobile didukung oleh Gigs, platform yang sama yang menggerakkan layanan seluler Klarna. Klarna meluncurkan layanan selulernya tahun lalu dengan harga yang sama, yaitu US$40 per bulan. Pola ini menunjukkan model bisnis yang mulai diadopsi oleh perusahaan fintech untuk menawarkan layanan telekomunikasi sebagai bagian dari ekosistem mereka.

    Dengan menggunakan jaringan AT&T, Cash App Mobile menjamin kualitas koneksi 5G premium. AT&T merupakan salah satu operator seluler terbesar di Amerika Serikat dengan cakupan luas dan kecepatan data yang handal.

    Dampak bagi Industri Telekomunikasi

    Langkah Cash App masuk ke bisnis layanan seluler menunjukkan tren baru di mana perusahaan fintech mulai bersaing langsung dengan operator tradisional. Dengan basis pengguna yang sudah besar, Cash App memiliki keunggulan dalam distribusi dan loyalitas pelanggan.

    Bagi konsumen, kehadiran Cash App Mobile memberikan lebih banyak pilihan dengan harga yang transparan. Tidak ada biaya tersembunyi dan semua sudah termasuk dalam tarif US$40 per bulan, berbeda dengan operator tradisional yang sering menambahkan biaya tambahan.

    Di Indonesia, model bisnis serupa bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan fintech lokal. Meskipun regulasi dan kondisi pasar berbeda, integrasi layanan seluler dengan ekosistem keuangan digital memiliki potensi besar. GPOS Lite dan layanan fintech lain di Indonesia bisa belajar dari pendekatan ini.

    Implikasi untuk Pengguna

    Bagi pengguna Cash App di Amerika Serikat, layanan ini menawarkan kemudahan mengelola pengeluaran telekomunikasi dalam aplikasi yang sama dengan keuangan mereka. Ini berarti satu aplikasi untuk mengontrol pengeluaran seluler, tabungan, dan investasi.

    Cash App Mobile juga memberikan insentif melalui program rewards yang bisa mengurangi biaya bulanan. Dengan Cash App Green, pengguna bisa mendapatkan cashback atau diskon yang membuat paket US$40 per bulan menjadi lebih terjangkau.

    Layanan ini juga relevan bagi keluarga yang menggunakan Cash App Families. Orang tua bisa mengatur dan mengawasi penggunaan seluler anak-anak mereka, termasuk batasan data dan pengeluaran, langsung dari aplikasi Cash App.

    Ke depannya, Cash App Mobile berpotensi menambah fitur-fitur baru yang lebih terintegrasi dengan ekosistem keuangan. Perusahaan belum mengungkapkan detail lebih lanjut, tetapi integrasi dengan layanan investasi dan cryptocurrency yang sudah ada di Cash App bisa menjadi langkah berikutnya.

    Bagi pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara sektor keuangan dan telekomunikasi. Harga Terbaru layanan telekomunikasi di Indonesia juga perlu dipertimbangkan dalam konteks persaingan global ini.

    Cash App Mobile saat ini masih dalam tahap awal peluncuran. Belum ada informasi mengenai jadwal ketersediaan secara luas atau kemungkinan ekspansi ke negara lain, termasuk Indonesia. Namun, langkah ini jelas menandai babak baru dalam persaingan layanan seluler yang semakin terintegrasi dengan layanan keuangan digital.

  • 7 Pilar Digital Kunci Sukses Transformasi Korporasi Era AI

    7 Pilar Digital Kunci Sukses Transformasi Korporasi Era AI

    JBNews.id — XLSmart for Business mengidentifikasi tujuh pilar digital sebagai fondasi utama yang wajib dikuasai perusahaan agar tetap kompetitif di tengah kompleksitas adopsi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital lainnya. Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, mengungkapkan bahwa ketujuh pilar tersebut mencakup data, perangkat (device), konektivitas (network), aplikasi, keamanan (security), infrastruktur digital, serta AI dan analitik data.

    Pernyataan ini disampaikan dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 yang digelar XLSmart for Business di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Menurut Andrijanto, dunia digital saat ini tidak bisa lagi dipandang secara parsial. Seluruh elemen teknologi harus dipahami dan diintegrasikan secara menyeluruh oleh setiap korporasi.

    “Kalau disederhanakan, semesta dunia digital itu ada tujuh pilar. Mulai dari data, perangkat, konektivitas, aplikasi, keamanan, infrastruktur digital seperti cloud, data center dan GPU, hingga AI dan data analytics,” ujar Andrijanto dalam sambutannya.

    Ia menegaskan bahwa ketujuh pilar tersebut bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi keniscayaan bagi individu maupun korporasi. Namun, tidak banyak perusahaan yang memiliki pemahaman menyeluruh mengenai seluruh komponen tersebut. Bahkan, menurutnya, rata-rata CEO hanya memahami sekitar 20% dari keseluruhan pilar digital yang ada.

    “Isunya adalah ketujuh hal ini sudah menjadi keniscayaan bagi korporasi dan individu. Tapi pertanyaannya, siapa yang benar-benar memiliki pengetahuan lengkap mengenai ketujuh pilar ini? Bahkan rata-rata CEO mungkin hanya memahami sekitar 20% saja,” katanya.

    Kompleksitas Integrasi Teknologi Digital

    Andrijanto menilai bahwa tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan hanya menentukan teknologi yang akan digunakan, tetapi juga bagaimana mengintegrasikan berbagai solusi digital yang tersedia di pasar. Banyaknya pilihan teknologi, merek, dan penyedia layanan membuat perusahaan menghadapi dilema dalam menentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.

    “Kalaupun memiliki sumber daya untuk membeli semuanya, pertanyaan berikutnya adalah mau membeli yang mana. Karena brand begitu banyak, supplier begitu banyak, dan yang terlibat juga sangat banyak,” ucapnya.

    Persoalan integrasi menjadi semakin krusial seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap talenta digital, platform orkestrasi, hingga kebijakan yang mendukung transformasi digital secara menyeluruh. Tanpa pemahaman yang utuh, investasi teknologi berpotensi tidak memberikan dampak optimal bagi bisnis.

    Dalam konteks yang lebih luas, tantangan ini juga dialami oleh berbagai sektor, termasuk industri teknologi di level global. Sebagai contoh, Karyawan Google Kecam AI Internal yang justru dinilai membuat beban kerja semakin berat, menunjukkan bahwa adopsi AI tanpa integrasi yang tepat bisa menjadi bumerang.

    Peran XLSmart sebagai Mitra Integrator

    Menghadapi kompleksitas tersebut, XLSmart for Business menawarkan peran sebagai mitra integrator yang membantu korporasi mengelola dan menghubungkan seluruh ekosistem digital mereka. Sebagai perusahaan telekomunikasi hasil penggabungan XL Axiata dan Smartfren yang telah beroperasi sekitar 1 tahun 4 bulan, XLSmart memiliki pengalaman langsung dalam mengorkestrasi ketujuh pilar digital untuk kebutuhan internalnya sendiri.

    “Saya coba gambarkan dalam satu kapal induk, inilah XLSmart for Business. Karena kami di dunia telekomunikasi, hidup kami sehari-hari adalah mengorkestrasi tujuh pilar digital ini untuk kebutuhan kami sendiri,” kata Andrijanto.

    Saat ini XLSmart memiliki tiga lini bisnis utama, yakni layanan konsumen (consumer), layanan internet rumah (home broadband), dan layanan bisnis atau enterprise. Melalui unit bisnis enterprise, perusahaan berupaya menjadi penghubung berbagai komponen dalam ekosistem digital bagi klien korporasi.

    Bravo 500 Summit 2026 sebagai Wadah Kolaborasi

    Bravo 500 Summit 2026 yang mengusung tema “AI dan Integrasi Data” menjadi ajang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk memperdalam pemahaman mengenai perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat. Forum ini dihadiri oleh para CEO, C-Level, pelaku industri, hingga regulator.

    “Forum ini menjadi sangat penting agar para CEO, C-Level, pelaku industri, hingga regulator dapat menambah wawasan, memperluas relasi, dan berkolaborasi untuk bertumbuh bersama. Mari kita hadirkan solusi untuk korporasi dan solusi untuk negeri,” tutup Andrijanto.

    Melalui forum ini, XLSmart berharap dapat menjadi wadah kolaborasi bagi seluruh ekosistem digital di Indonesia. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap ketujuh pilar digital, perusahaan diharapkan mampu menjalani transformasi digital secara lebih efektif dan efisien.

    Di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat, pemahaman terhadap infrastruktur digital menjadi semakin penting. Perkembangan seperti Xiaomi 17T Pro Dukung AirDrop menunjukkan bagaimana integrasi antar platform menjadi tren yang tak terhindarkan di era digital saat ini.

    Implikasi bagi Dunia Usaha

    Pernyataan XLSmart ini memberikan gambaran jelas bahwa transformasi digital bukan sekadar tentang mengadopsi teknologi terbaru, melainkan tentang kemampuan mengintegrasikan seluruh elemen digital secara holistik. Perusahaan yang gagal memahami ketujuh pilar ini berisiko tertinggal dalam persaingan bisnis.

    Bagi para pelaku usaha di Jawa Barat dan Banten, pemahaman ini menjadi sangat relevan mengingat kedua provinsi tersebut merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dan industri yang pesat. Kemampuan mengelola data, keamanan siber, konektivitas, hingga AI secara terpadu akan menjadi pembeda antara perusahaan yang bertahan dan yang tumbuh di era digital.

    Dengan hadirnya XLSmart sebagai mitra integrator, perusahaan tidak perlu lagi bergulat sendirian dalam kompleksitas teknologi digital. Solusi terpadu yang ditawarkan diharapkan dapat mempercepat transformasi digital korporasi di Indonesia, khususnya di kawasan Jawa Barat dan Banten.

  • Perang Harga AI Mengancam, Biaya Melonjak Tanpa Keuntungan

    Perang Harga AI Mengancam, Biaya Melonjak Tanpa Keuntungan

    JBNews.id – Industri kecerdasan buatan (AI) global tengah menghadapi tekanan besar. Biaya akses ke alat-alat AI canggih melonjak drastis di tengah ketidakpastian akan keuntungan yang jelas bagi korporasi. Sebuah insiden mencolok terjadi ketika seorang CFO perusahaan secara tidak sengaja menumpuk tagihan penggunaan Claude senilai setengah miliar dolar AS hanya dalam satu bulan. Fenomena ini menandai babak baru dalam ekonomi AI yang mulai menunjukkan dampak buruknya.

    Menurut laporan Axios, insiden tersebut menjadi contoh nyata bagaimana pengeluaran modal yang astronomis oleh perusahaan AI kini mulai dibebankan kepada pengguna. Alih-alih menuai keuntungan, banyak korporasi justru mengeluhkan biaya yang membengkak tanpa hasil yang sepadan. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan eksekutif AI, termasuk di OpenAI dan Anthropic, yang kini dihadapkan pada dilema penetapan harga.

    Sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal, para eksekutif OpenAI sedang mempertimbangkan untuk memicu perang harga dengan pesaing utamanya, Anthropic. Strategi penurunan harga secara drastis ini diharapkan dapat mencuri pangsa pasar pengguna. Namun, langkah tersebut juga diantisipasi akan diikuti oleh pemangkasan harga serupa dari Anthropic, yang berpotensi memperburuk margin keuntungan yang sudah tipis.

    “Itu berubah dari, di awal tahun ini, sebuah masalah yang tidak pernah muncul – orang-orang benar-benar puas dengan jumlah yang mereka keluarkan – menjadi tiba-tiba, masalah besar,” aku CEO OpenAI Sam Altman dalam sebuah acara pekan lalu. “Saya pikir kita akan memiliki banyak cara untuk membantu orang mendapatkan nilai lebih dengan biaya lebih sedikit,” tambahnya.

    Kondisi ini menjadi dilema besar bagi semua pemain di industri AI. Perusahaan-perusahaan AI telah mengeluarkan puluhan miliar dolar AS untuk pembangunan pusat data. Memotong harga pada saat ini dapat membuat situasi semakin genting, merusak margin keuntungan yang sudah terpuruk. Persaingan sengit antara Anthropic dan OpenAI semakin memanas, dengan Anthropic yang baru-baru ini membuat terobosan signifikan melalui alat coding yang berfokus pada perusahaan.

    Kemajuan Anthropic jelas mengguncang OpenAI, mengingat berita terbaru ini. Kedua perusahaan telah mengajukan permohonan IPO secara rahasia dalam sepuluh hari terakhir, meningkatkan taruhan yang sangat besar. Namun, fakta bahwa keduanya justru menakut-nakuti pengguna baru akibat harga yang melambung tinggi bukanlah sinyal kepercayaan bagi investor. Hal ini dapat segera memaksa para eksekutif AI untuk memikirkan ulang model bisnis mereka.

    Para pemimpin AI kini berada di persimpangan jalan. Tekanan untuk menurunkan harga bertabrakan dengan kebutuhan untuk membiayai operasi yang sangat mahal. Jika perang harga benar-benar terjadi, dampaknya bisa meluas ke seluruh ekosistem AI, mempengaruhi pengembang, investor, dan pengguna akhir. Pertanyaan mendasar tentang nilai ekonomi AI kini menjadi sorotan utama.

    Ke depannya, industri ini membutuhkan model bisnis yang lebih berkelanjutan. Tanpa kejelasan mengenai profitabilitas, kepercayaan investor bisa luntur. Hal ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi AI berkembang pesat, aspek ekonominya masih belum matang. Korporasi yang telah berinvestasi besar dalam AI kini harus mengevaluasi ulang strategi mereka untuk memastikan pengeluaran sebanding dengan hasil yang diperoleh.

    Lebih lanjut, persaingan antara OpenAI dan Anthropic tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal strategi pasar. Pentolan AI AS yang pindah ke China menambah dinamika baru dalam persaingan global. Sementara itu, hubungan antara OpenAI dan mitra lamanya, Microsoft, juga mulai merenggang. Microsoft bangun model AI mandiri pasca-pisah, menunjukkan bahwa lanskap kemitraan di industri ini terus berubah.

    Di sisi lain, tantangan regulasi juga menghantui. Florida gugat OpenAI terkait keamanan ChatGPT, menambah daftar panjang masalah yang harus dihadapi perusahaan AI. Semua faktor ini menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpastian bagi para pemain utama di industri AI.

    Implikasinya bagi pembaca sangat jelas: era AI murah mungkin belum tiba. Korporasi perlu lebih bijak dalam menganggarkan biaya AI dan tidak terjebak dalam janji teknologi tanpa bukti keuntungan yang nyata. Sementara itu, investor harus mencermati model bisnis perusahaan AI sebelum menanamkan modal, mengingat risiko keuangan yang masih tinggi.

  • Anthropic Buka Pengaman Rahasia Claude Fable 5

    Anthropic Buka Pengaman Rahasia Claude Fable 5

    JBNews.id — Anthropic secara diam-diam menerapkan fitur pengaman rahasia pada model AI terbarunya, Fable 5, yang secara otomatis menurunkan kecerdasan model saat mendeteksi permintaan terkait pengembangan AI tingkat lanjut. Langkah ini memicu protes keras dari komunitas peneliti AI global dan memaksa perusahaan yang dipimpin Dario Amodei tersebut mengubah kebijakannya dalam hitungan hari.

    Perusahaan rintisan AI asal San Francisco itu resmi meluncurkan model Fable 5 pada Selasa lalu, setelah sebelumnya menahan rilis model Mythos karena dianggap terlalu berbahaya. Dalam pengumuman awal, Anthropic mengklaim fitur pengaman tersebut dirancang untuk mencegah Fable 5 meningkatkan kem kemampuannya sendiri, melalui “intervensi baru yang membatasi efektivitas Claude untuk permintaan yang menargetkan pengembangan LLM frontier.”

    Namun, para peneliti AI segera mendeteksi keanehan. Perusahaan riset AI SemiAnalysis melaporkan bahwa model terbaru Anthropic “tidak akan membantu Anda jika menurut model tersebut riset ML/rekayasa ML Anda menarik, dan/atau akan secara diam-diam menurunkan IQ-nya sehingga rata-rata engineer tidak akan menyadarinya.”

    Kekhawatiran lain muncul terkait praktik “shadowban” — pembatasan akun pengguna secara diam-diam. Menurut system card Anthropic, intervensi yang membatasi permintaan untuk “pengembangan LLM frontier” tidak akan terlihat oleh pengguna. Hal ini berarti Anthropic secara efektif dapat menyabotase upaya pihak lain untuk melatih model kompetitor tanpa sepengetahuan mereka.

    Kontroversi ini mencapai puncaknya ketika Anthropic akhirnya mengubah kebijakannya. “Kami mengubah pengaman Fable 5 untuk pengembangan LLM frontier agar terlihat,” kata perusahaan itu kepada Wired. “Kami membuat kesalahan dalam memilih trade-off dan kami meminta maaf karena tidak mendapatkan keseimbangan yang tepat.”

    Will Brown, pimpinan riset Prime Intellect, menyatakan bahwa langkah Anthropic terasa seperti mengatakan kepada publik, “‘Kami tidak mempercayai siapa pun untuk melakukan riset AI. Kami satu-satunya yang boleh melakukan riset AI.’”

    Kebijakan kontroversial ini muncul di tengah seruan Anthropic untuk pembekuan global kemajuan AI, sambil terus mendiskusikan bahaya “peningkatan diri secara rekursif” — skenario fiksi ilmiah di mana AI mulai meningkatkan dirinya sendiri secara cepat, berpotensi lepas dari kendali penciptanya.

    Selain membatasi kemampuan mengembangkan alat AI, pengaman Fable 5 juga aktif saat mendeteksi permintaan terkait keamanan siber, biologi, kimia, atau distilasi — praktik melatih model “murid” berdasarkan perilaku model “guru.” Anthropic sebelumnya telah mengeluhkan upaya distilasi massal untuk “mengekstrak” model dasarnya, sebuah posisi yang dianggap hipokrit mengingat praktik perusahaan dalam mengeruk konten berhak cipta dari web untuk melatih AI.

    Langkah ini menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi Anthropic dalam menjalankan misi keamanan AI. Di satu sisi, perusahaan menyerukan moratorium global dan memperingatkan bahaya AI tanpa rem. Di sisi lain, mereka menerapkan pengaman rahasia yang justru menghambat riset pihak ketiga — sebuah pendekatan yang dinilai kontradiktif oleh banyak pengamat industri.

    Implikasinya bagi industri AI sangat jelas: transparansi dalam penerapan fitur keamanan menjadi isu krusial. Pengguna dan peneliti perlu mengetahui secara jelas batasan yang diterapkan pada model AI yang mereka gunakan, tanpa harus khawatir adanya intervensi tersembunyi yang memengaruhi kualitas output.

    [IMAGE]
    Ilustrasi foto bergaya yang menampilkan salah satu pendiri Anthropic, Dario Amodei, dengan ekspresi serius.

  • Palantir Gugat Wali Kota London soal Kontrak Polisi

    Palantir Gugat Wali Kota London soal Kontrak Polisi

    JBNews.id — Perusahaan teknologi pengawasan bernilai miliaran dolar, Palantir, menggugat Wali Kota London Sadiq Khan setelah keputusannya memblokir kontrak dengan kepolisian metropolitan London.

    Keputusan Khan memicu reksi hukum dari raksasa pengawasan tersebut. Menurut laporan The Guardian, Palantir kini mengindikasikan niatnya untuk menuntut Khan atas keputusan memblokir kontrak tersebut.

    Juru bicara kantor Wali Kota London menyatakan bahwa “Met tidak menyajikan strategi pengadaannya sebagaimana yang diwajibkan dan Met hanya berhubungan penuh dengan satu pemasok potensial: Palantir.” Pernyataan ini menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan didasari alasan politik, melainkan kurangnya uji tuntas dari Met dalam menjajaki perusahaan pengawasan mana yang ingin diajak bekerja sama.

    Menurut kantor wali kota, Met “tidak cukup menunjukkan nilai uang bagi warga London.” Hal ini menjadi dasar utama pemblokiran kontrak, bukan karena kontroversi politik yang membayangi Palantir sebagai bagian dari mesin deportasi Presiden AS Donald Trump.

    Kontroversi Palantir bukanlah hal baru. Perusahaan yang namanya diambil dari batu pelihat yang digunakan oleh Sauron, personifikasi kejahatan kosmik dalam buku The Lord of the Rings karya JRR Tolkien ini, dikenal agresif dalam melindungi kepentingan bisnisnya.

    Sebelumnya, Palantir menggugat Angkatan Darat AS di pengadilan federal, mengklaim Pentagon secara tidak adil mengabaikan produk perusahaan dalam pencarian kontrak TI senilai $206 juta. Palantir kemudian memenangkan kontrak tersebut beberapa tahun setelah memenangkan kasus pengadilan.

    Tahun lalu, CEO Palantir Alex Karp melontarkan kritik pedas selama sepekan kepada investor yang menjual saham mereka saat harga saham perusahaan turun lebih dari 11 persen. Dalam konferensi Yahoo Finance Invest November, Karp secara khusus menyasar analis dan jurnalis yang liputan kritisnya terhadap usaha pengawasan ini dinilai menyebabkan sentimen negatif investor.

    “Apakah Anda tahu berapa banyak uang yang telah Anda rampok dari orang-orang dengan pandangan Anda tentang Palantir?” kecam Karp kepada para analis keuangan.

    Pada Februari lalu, Palantir menggugat majalah Swiss Republik atas liputan investigasi kritisnya tentang penjualan perangkat lunak Palantir dengan Angkatan Bersenjata Swiss. Perusahaan tersebut tidak membantah klaim apa pun dalam liputan Republik, melainkan menggunakan undang-undang Swiss yang menuduh majalah itu tidak memberikan ruang yang cukup untuk tanggapan perusahaan.

    Presiden Federasi Jurnalis Eropa Maja Sever menyatakan dalam pernyataan terkait gugatan tersebut: “tindakan hukum yang diajukan oleh perusahaan multinasional yang kuat ini terhadap start-up media kecil Swiss adalah, menurut pandangan kami, upaya intimidasi yang bertujuan untuk mencegah analisis kritis terhadap aktivitas Palantir.”

    Ilustrasi komik menampilkan mata besar Sauron dari film 'Lord of the Rings' dengan air mata emoji di bawahnya

    Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan teknologi pengawasan oleh kepolisian. Keputusan Wali Kota London menunjukkan bahwa kota besar punya wewenang untuk menolak kontrak yang tidak melalui proses pengadaan yang benar.

    Bagi warga London, keputusan ini memastikan bahwa dana publik digunakan secara bijak. Sementara bagi industri teknologi pengawasan, kasus ini menjadi preseden bahwa praktik bisnis yang agresif tidak selalu berhasil.

    Implikasinya jelas: kota-kota besar di seluruh dunia kini memiliki contoh nyata tentang pentingnya uji tuntas dalam kontrak teknologi pengawasan. Keputusan London bisa menjadi katalis bagi kota-kota lain untuk meninjau ulang kemitraan mereka dengan perusahaan pengawasan kontroversial.

  • AI Pangkas Biaya Energi hingga 40%, Klaim XLSmart

    AI Pangkas Biaya Energi hingga 40%, Klaim XLSmart

    JBNews.id — XLSmart mengklaim teknologi kecerdasan buatan (AI) terbarunya mampu memangkas biaya energi perusahaan hingga 40 persen. Klaim ini disampaikan dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026), melalui peluncuran solusi bernama ESTA eco dan ESTA vision.

    Kedua solusi tersebut merupakan bagian dari ekosistem Enterprise Smart Technology & Automation (ESTA) yang dikembangkan oleh XLSmart for Business. ESTA eco dirancang khusus untuk mengoptimalkan efisiensi sistem pendingin atau HVAC di berbagai sektor industri. Teknologi ini memanfaatkan sensor cerdas, perangkat kontrol, dan machine learning untuk memantau, memprediksi, serta mengoptimalkan konsumsi energi secara real time.

    XLSmart menyatakan bahwa teknologi tersebut tidak hanya mampu menekan biaya energi, tetapi juga mendukung pencapaian target keberlanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan. Dengan model investasi Zero Capex, ESTA eco memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi tanpa harus mengeluarkan investasi awal yang besar.

    Selain efisiensi energi, XLSmart turut memperkenalkan ESTA vision yang memanfaatkan teknologi computer vision dan AI analytics. Solusi ini mampu mengubah rekaman kamera pengawas menjadi sumber insight operasional. Teknologi ini memungkinkan perusahaan melakukan pemantauan kondisi operasional secara real time, mendeteksi anomali, meningkatkan keselamatan kerja, memonitor kepatuhan prosedur, hingga menghasilkan laporan otomatis berbasis data visual.

    ESTA vision ditujukan untuk berbagai sektor industri seperti manufaktur, logistik, transportasi, pertambangan, minyak dan gas, retail modern, smart building, pelabuhan, hingga bandara.

    Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, menilai pemanfaatan AI kini semakin penting dalam membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat pengambilan keputusan berbasis data. “Transformasi digital yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Perusahaan membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat, kemampuan mengelola data secara efektif, serta pemanfaatan AI dan otomasi yang mampu menghasilkan dampak bisnis yang nyata,” ujar Andrijanto di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Melalui kedua solusi tersebut, XLSmart berharap pemanfaatan AI tidak hanya berfokus pada otomatisasi layanan, tetapi juga mampu menciptakan efisiensi dan produktivitas yang lebih besar di sektor operasional perusahaan.

    ESTA eco dan ESTA vision merupakan bagian dari ESTA Ecosystem, platform digital terintegrasi yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan (AI), cloud, data platform, keamanan siber, hingga jaringan 5G. Solusi tersebut diperkenalkan melalui XLSmart for Business dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 yang mempertemukan ratusan pemimpin bisnis dan korporasi di Indonesia.

    Ajang yang memasuki tahun ke-2 ini berhasil mengumpulkan 2.000 partisipan dari berbagai bidang yang beroperasi di Tanah Air. Tema yang diangkat adalah ‘Solusi untuk Korporasi, Solusi untuk Negeri’. Melalui peluncuran ESTA Ecosystem, XLSmart for Business menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis bagi dunia usaha dalam mengakselerasi transformasi digital Indonesia melalui pemanfaatan AI, data, cloud, dan jaringan 5G yang terus diperluas secara nasional.

    Dengan klaim penghematan biaya energi hingga 40 persen, solusi AI dari XLSmart ini menawarkan dampak langsung pada efisiensi operasional perusahaan. Model Zero Capex juga menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang ingin melakukan digitalisasi tanpa beban investasi awal yang signifikan. Implikasinya bagi dunia usaha adalah peluang untuk menekan biaya operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan di tengah tekanan efisiensi yang semakin ketat.

    Pemanfaatan AI untuk efisiensi energi ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan-perusahaan besar mulai beralih ke teknologi cerdas untuk mengoptimalkan konsumsi sumber daya. Di Indonesia, langkah XLSmart ini bisa menjadi katalis bagi adopsi AI di sektor industri yang selama ini masih bergantung pada sistem konvensional.

    Selain itu, ESTA vision yang mampu mengubah kamera pengawas menjadi alat analisis operasional juga membuka peluang baru dalam pengelolaan keselamatan kerja dan kepatuhan prosedur. Perusahaan di sektor manufaktur, logistik, dan pertambangan bisa memanfaatkan teknologi ini untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja dan meningkatkan produktivitas.

    XLSmart menargetkan solusi ESTA ini dapat diadopsi oleh berbagai perusahaan di Indonesia, mulai dari skala menengah hingga korporasi besar. Dengan dukungan jaringan 5G yang terus diperluas, potensi penerapan teknologi ini di berbagai daerah juga semakin terbuka lebar.

    Para pengunjung memadati booth pameran, diskusi dan talkshow pada ajang XLSmart Bravo 500 Summit di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Acara ini menjadi forum tahunan edisi kedua yang mempertemukan industri, pemerintah, akademisi, dan mitra teknologi di Indonesia untuk membahas pemanfaatan AI, data, konektivitas, dan teknologi digital.

  • Insta360 Luna Ultra Resmi Meluncur Bawa Sepasang Kamera Leica

    Insta360 Luna Ultra Resmi Meluncur Bawa Sepasang Kamera Leica

    JBNews.id — Insta360 secara mengejutkan memajukan jadwal peluncuran kamera vlogging terbarunya, Insta360 Luna Ultra, menjadi Rabu (10/6/2026) dari rencana awal minggu depan. Langkah dadakan ini dipicu oleh bocornya ketersediaan perangkat di beberapa peritel seperti B&H Photo di New York. Dengan spesifikasi ‘monster’, Luna Ultra siap menantang dominasi seri DJI Osmo Pocket.

    “Luna Ultra menandai kedatangan Insta360 di ranah kamera gimbal, didukung oleh seluruh kekuatan keahlian pencitraan kami,” ungkap Max Richter, VP of Marketing dan Co-Founder Insta360. Perangkat ini hadir di tengah persaingan pasar kamera gimbal genggam yang semakin memanas.

    Insta360 Luna Ultra

    Kamera Ganda dengan Sentuhan Leica

    Sama seperti pesaingnya, DJI Osmo Pocket 4P, Luna Ultra mengusung sistem kamera ganda yang ditopang stabilisator gimbal tiga sumbu (three-axis). Kamera utama menggunakan lensa legendaris Leica Summicron yang dipadukan dengan sensor raksasa Tipe 1 (Type 1 sensor). Sementara kamera telefoto mengandalkan sensor Tipe 1/1.3 dengan bukaan f/2.0.

    Kombinasi kedua lensa ini menjanjikan kemampuan zoom optik tanpa pecah (lossless optical zoom) hingga 6x, serta zoom digital yang bisa ditarik hingga 12x. Spesifikasi ini menjadikannya pesaing serius di segmen Kamera 8K genggam.

    Layar OLED yang Bisa Dilepas

    Satu inovasi paling mencolok yang membedakannya dari kompetitor adalah kehadiran layar sentuh OLED yang dapat dilepas pasang. Fitur ini sangat memanjakan kreator konten yang bekerja sendirian (single operator). Dengan melepas layar, pengguna bisa menjadikannya sebagai remote control untuk mengendalikan kamera dari jarak jauh, sekaligus berfungsi sebagai monitor untuk memastikan framing gambar tetap sempurna.

    Insta360 juga menawarkan aksesori tambahan POV Head Tracker untuk perekaman hands-free yang lebih bebas. Inovasi ini menjadi nilai jual utama dibandingkan produk kompetitor di kelasnya.

    Kualitas Video Sinematik Profesional

    Dapur pacu visual Luna Ultra dirancang untuk memuaskan kebutuhan profesional. Perangkat ini mampu merekam video hingga resolusi 8K pada 30fps dalam format Dolby Vision. Selain itu, mendukung format 10-bit I-Log dengan klaim rentang dinamis (dynamic range) seluas 14-stop.

    Terdapat pula profil warna eksklusif Leica (Natural, Vivid, dan Chrome) serta dukungan alur kerja profesional ACES. Untuk fotografi, perangkat ini bisa menghasilkan foto resolusi raksasa, yakni 37 MP untuk mode UltraPhotos dan 200 MP untuk Scenic Panorama.

    AI Pelacak Subjek Super Presisi

    Gerakan visual yang mulus berkat stabilisator mekanik dan elektronik makin disempurnakan oleh hadirnya teknologi AI Deep Track 5.0. Teknologi ini memastikan subjek tetap berada di tengah frame dan selalu fokus melalui fitur Auto Tracking, Active Zoom Tracking, Group Tracking, hingga Smart Framing.

    Beberapa fitur pendukung operasional lainnya meliputi timecode bawaan, kemampuan berbagi profil warna via QR code, penahan angin (wind guard) internal untuk merekam audio yang jernih tanpa mic tambahan, serta dukungan lensa/filter magnetik. Fitur-fitur ini menjadikannya pilihan ideal bagi kreator konten profesional.

    Harga dan Ketersediaan

    Insta360 membekali Luna Ultra dengan baterai berkapasitas 1.550 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga 4 jam pemakaian. Fitur fast charging-nya sanggup mengisi daya hingga 80% hanya dalam waktu 23 menit. Untuk penyimpanan data, tersedia memori internal sebesar 47GB yang masih bisa diekspansi hingga 1TB menggunakan kartu microSD.

    Hadir dalam pilihan warna Cosmic Black dan Stellar White, Insta360 Luna Ultra resmi dibanderol dengan harga USD 769.99 (sekitar Rp 12,5 jutaan) dan sudah mulai dipasarkan secara global. Kehadirannya semakin memanaskan persaingan di segmen Teknologi Kamera genggam.

    Bagi kreator konten yang membutuhkan perangkat serbaguna dengan kualitas sinematik, Luna Ultra menawarkan paket lengkap dengan harga kompetitif. Perangkat ini menjadi pilihan menarik di tengah tren Inovasi Teknologi yang terus berkembang.

    Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, Insta360 Luna Ultra berpotensi menggeser posisi DJI Osmo Pocket sebagai pemimpin pasar. Para pengamat industri menantikan bagaimana respons kompetitor terhadap kehadiran perangkat inovatif ini.

  • Huawei MatePad Mini: Tablet Tipis dengan Layar OLED Unik

    Huawei MatePad Mini: Tablet Tipis dengan Layar OLED Unik

    JBNews.id — Huawei resmi memperkenalkan MatePad Mini, sebuah tablet kompak dengan bodi super tipis dan ringan yang mengusung layar Flexible OLED PaperMatte pertama di dunia untuk kategori tablet mini. Perangkat ini membawa terobosan baru dalam pengalaman visual portabel.

    Dengan ketebalan hanya sekitar 5,2 mm dan bobot sekitar 260 gram, MatePad Mini dirancang untuk memberikan mobilitas tinggi tanpa mengorbankan performa. Ukurannya yang ringkas memungkinkan perangkat ini dimasukkan ke dalam tas kecil hingga saku celana, sehingga tidak memberatkan saat dibawa ke mana pun.

    Layar Flexible OLED PaperMatte Pertama di Tablet Mini

    MatePad Mini menghadirkan layar Flexible OLED PaperMatte berukuran 8,8 inci dengan bezel ultra-tipis hanya sekitar 2,9 mm. Rasio screen-to-body mencapai 92%, memberikan pengalaman visual yang lebih imersif dan luas. Teknologi Flexible OLED dalam ukuran yang begitu kompak membutuhkan presisi tinggi dan detail desain yang kompleks.

    Layar ini dirancang untuk memberikan pengalaman visual yang jernih, nyaman, dan menyerupai kertas (paper-like). Dengan dukungan tingkat kecerahan hingga 1800 nits serta teknologi PaperMatte yang memiliki kemampuan anti-glare, anti-reflection, dan anti-sparkle, pengguna dapat menikmati tampilan layar yang tetap jelas di berbagai kondisi pencahayaan, baik di bawah sinar matahari maupun di ruangan yang terang.

    Kombinasi ini memberikan pengalaman visual yang lebih imersif, vivid, dan nyaman, baik saat digunakan untuk meninjau dokumen, membuat catatan, menonton konten, maupun menikmati e-book dalam waktu yang lebih panjang.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai ketersediaan di Indonesia, Anda dapat membaca artikel tentang Spesifikasi Lengkap.

    Fitur dan Ketersediaan di Indonesia

    Berbagai fitur dan aplikasi favorit yang dicintai pengguna tersedia di Huawei MatePad Mini. Di Indonesia, perangkat ini akan hadir dalam pilihan warna Spruce Green, memberikan opsi yang dapat disesuaikan dengan gaya dan karakter pengguna.

    Huawei MatePad Mini siap membuka pengalaman baru bagi pengguna yang menginginkan tablet kompak dengan kemampuan yang tetap mighty. Perangkat ini dirancang untuk memberikan pengalaman powerful portability in your palm; cukup kompak untuk dibawa ke mana saja, namun tetap powerful untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

    Bagi Anda yang tertarik dengan tren teknologi terbaru, Anda juga dapat menyimak informasi tentang Fitur Terbaru dari Google.

    Dampak bagi Pengguna Tablet di Indonesia

    Kehadiran Huawei MatePad Mini dengan layar Flexible OLED PaperMatte memberikan alternatif baru bagi pengguna yang mencari tablet ringkas dengan kualitas tampilan premium. Bagi para profesional yang sering bekerja di luar ruangan, kemampuan layar dengan kecerahan 1800 nits dan teknologi anti-glare menjadi nilai tambah signifikan. Sementara bagi pengguna kasual yang gemar membaca e-book atau menonton konten, kenyamanan visual yang ditawarkan layar paper-like dapat mengurangi kelelahan mata.

    Dengan bobot yang sangat ringan dan bodi tipis, perangkat ini juga relevan bagi pengguna yang mengutamakan mobilitas tinggi. Ukurannya yang muat di saku celana atau tas kecil menjadikannya pilihan praktis untuk menemani aktivitas sehari-hari.

  • Enkripsi End-to-End Generasi Baru untuk Aplikasi Kolaborasi

    Enkripsi End-to-End Generasi Baru untuk Aplikasi Kolaborasi

    JBNews.id — Sekelompok kriptografer dari Harvard, Microsoft Research, dan mantan pengembang Signal merilis pratinjau “Encrypted Spaces”, sebuah fondasi arsitektur open-source untuk membangun aplikasi kolaborasi terenkripsi end-to-end generasi baru. Rilis ini menandai pergeseran teknologi yang memungkinkan aplikasi ruang kerja bersama memiliki tingkat keamanan setara aplikasi perpesanan pribadi.

    Tim pengembang menyebut arsitektur ini sebagai respons terhadap migrasi besar dari aplikasi pengguna tunggal dan perpesanan satu-lawan-satu menuju alat kolaborasi multipengguna. Transisi ini bertepatan dengan munculnya trik kriptografi baru, yaitu “zero-knowledge proofs”, yang memungkinkan komputer memanipulasi dan memverifikasi integritas data terenkripsi tanpa melihat isinya. Momen ini disebut sebagai peluang untuk menyuntikkan enkripsi dan privasi ke dalam ekosistem aplikasi kolaborasi.

    “Kami ingin menyediakan permukaan teknologi bagi pengembang untuk membangun semua aplikasi ini dengan cara yang menjaga privasi,” ujar Nora Trapp, insinyur di Harvard’s Applied Social Media Lab yang juga pernah menjadi pimpinan teknis Signal. Encrypted Spaces memungkinkan pengguna mengadakan percakapan grup, menyimpan informasi di server, melakukan perubahan kolektif, mengundang kolaborator baru, atau mengeluarkan mereka — semuanya dengan perlindungan enkripsi kuat yang mencegah server atau penyadap jaringan mengakses data.

    Perpanjangan Protokol Signal untuk Aplikasi Kolaborasi

    Di antara kriptografer yang mengerjakan proyek ini adalah Trevor Perrin, salah satu pencipta protokol Signal. Protokol Signal adalah sistem pesan terenkripsi open-source yang digunakan tidak hanya di lebih dari seratus juta ponsel dengan aplikasi Signal, tetapi juga di miliaran perangkat yang menggunakan WhatsApp dan Facebook Messenger. Encrypted Spaces, dalam pengertian tertentu, adalah generasi berikutnya dari protokol Signal, tetapi untuk alat yang lebih kompleks dan fitur lengkap di luar perpesanan dan panggilan.

    Matt Green, profesor ilmu komputer yang berfokus pada kriptografi di Johns Hopkins, meninjau makalah teknis yang menguraikan proyek Encrypted Spaces dan aplikasi prototipe. “Mereka telah membangun sistem yang merupakan perpanjangan dari apa yang bisa dilakukan enkripsi end-to-end, di mana Anda memiliki arsitektur nyata untuk melakukan kolaborasi terenkripsi end-to-end,” kata Green. “Anda bisa menganggapnya sebagai protokol Signal untuk aplikasi kolaborasi.”

    Tidak seperti Signal, kode yang dirilis Encrypted Spaces saat ini bukanlah aplikasi siap pakai tunggal. Sebaliknya, ini adalah repositori kode yang diundang untuk ditinjau oleh peneliti kriptografi dan pengembang. Tujuan akhirnya adalah memungkinkan programmer membangun aplikasi kolaborasi terenkripsi mereka sendiri tanpa perlu pengetahuan kriptografi yang mendalam. “Kami ingin membuatnya sehingga tidak ada alasan bagi pengembang untuk tidak membuat aplikasi mereka terenkripsi end-to-end, karena menjadi sangat mudah,” tambah Trapp.

    Change Logs dan Zero-Knowledge Roll-Ups

    Encrypted Spaces mengatasi batasan krusial aplikasi terenkripsi end-to-end. Karena server tidak dapat mendekripsi data pengguna, manipulasi informasi harus terjadi di perangkat pengguna. Model ini bekerja baik ketika aplikasi hanya menjadi pipa yang menghubungkan dua ponsel. Namun, ketika aplikasi adalah platform kolaborasi dengan puluhan atau ratusan pengguna, model enkripsi end-to-end menciptakan kendala berat: aplikasi tidak bisa begitu saja menyimpan informasi di server dan memanipulasinya di lokasi terpusat seperti yang dilakukan platform tak terenkripsi seperti Slack atau Google Docs.

    Encrypted Spaces menawarkan model baru: aplikasi yang dibangun dengannya mengelola data dari server terpusat dan memungkinkan pengguna secara kolektif membuat perubahan pada informasi tersebut sambil tetap menjaga enkripsi. Secara spesifik, Encrypted Spaces menyimpan change log — catatan setiap perubahan pada data terenkripsi dari waktu ke waktu — yang dibagikan ke aplikasi di setiap ponsel atau komputer pengguna. Dengan ini, aplikasi dapat menerapkan perubahan secara lokal dan menjaga versi informasi setiap pengguna tetap sinkron dan mutakhir.

    Server menggunakan zero-knowledge proofs, teknik kriptografi yang relatif baru, untuk membuktikan ke setiap perangkat pengguna bahwa tidak ada perubahan yang hilang dan tidak ada perubahan nakal yang dibuat — tanpa server pernah mengakses data yang tidak terenkripsi atau perubahan padanya. Encrypted Spaces bahkan dapat menggunakan properti “roll-up” dari zero-knowledge proofs untuk memastikan setiap pengguna memiliki versi terbaru data grup tanpa harus menerapkan setiap perubahan di seluruh change log.

    “Server dapat menggulung perubahan menjadi bukti ringkas bahwa status saat ini mencerminkan seluruh riwayat,” kata Perrin. “Ini dapat meyakinkan Anda bahwa change log telah diterapkan dengan benar tanpa benar-benar harus mengirimkannya.” Server juga menggunakan zero-knowledge proofs untuk mengawasi bagaimana perangkat mengelola kunci kriptografi yang hanya memungkinkan pengguna berwenang mendekripsi dan mengubah data, mengizinkan pengguna baru diundang, dan secara terbukti dapat mencabut akses jika seseorang meninggalkan grup.

    Prototipe dan Potensi Masa Depan

    Tim Encrypted Spaces menunjukkan demo aplikasi prototipe yang disebut Spaces kepada WIRED. Dalam demo, prototipe Spaces tampak sebagai aplikasi tipe Slack atau Discord yang berfungsi penuh dan terenkripsi end-to-end, dengan tambahan catatan grup, kalender, dan fungsi penyimpanan file. Namun, aplikasi ini masih kekurangan fitur tertentu seperti panggilan suara dan pencarian.

    Sejumlah alat kolaborasi sudah menawarkan enkripsi end-to-end, seperti rangkaian aplikasi berbasis cloud Proton yang mencakup penyimpanan file dan pengeditan dokumen, atau rangkaian serupa dari CryptPad dan Nextcloud. Software seperti Matrix dan Nextcloud juga menawarkan platform perpesanan grup terenkripsi end-to-end ala Slack atau Discord. Namun, Encrypted Spaces menyediakan fondasi open-source yang kredibel untuk pendekatan yang lebih ketat dan terstandarisasi dalam membangun aplikasi tersebut.

    “Saya suka gagasan bahwa kita akan memiliki pustaka standar untuk ini yang dapat ditinjau oleh banyak orang,” kata Green dari Johns Hopkins. “Dan jika Anda menggunakan pustaka ini, Anda mewarisi semua keamanan secara gratis.”

    Dari Signal ke Spaces

    Upaya di balik Encrypted Spaces berasal, setidaknya sebagian, dari dalam tim yang mengembangkan Signal. Pada 2019 dan 2020, pengembang Signal — termasuk Trapp dan Perrin — sedang mengerjakan peningkatan fitur obrolan grup Signal untuk lebih menjaga privasi anggota grup. Tujuannya agar server Signal dapat mengelola siapa yang termasuk dalam grup tanpa menyimpan catatan anggota yang tidak terenkripsi.

    Mereka akhirnya bermitra dengan kriptografer di Microsoft Research untuk membangun sistem “anonymous credentials” yang menggunakan zero-knowledge proofs untuk mempertahankan daftar anggota di server tanpa pernah mengeksposnya. Daftar peserta obrolan grup yang terenkripsi dan terverifikasi di sisi server ini mewakili model keamanan baru bagi Signal, yang sebelumnya sebisa mungkin menyimpan data di perangkat pengguna dan menggunakan server hanya sebagai pipa sederhana untuk menyampaikannya.

    “Jika kita melakukan enkripsi untuk daftar anggota dengan cara yang sangat konsisten, bagus, dan dapat dibuktikan, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama untuk semuanya?” kata Perrin. “Mengapa kita tidak bisa memindahkan semua data ke dalam sesuatu seperti ini?” Pemikiran itu akhirnya membawa mereka ke ambisi yang lebih besar, seperti yang dijelaskan Greg Zaverucha dari Microsoft Research: “Mengapa kita tidak bisa memiliki enkripsi end-to-end di semua aplikasi yang kita gunakan?”

    Tujuh tahun kerja terputus-putus kemudian, Encrypted Spaces akhirnya merilis repositori kode open-source-nya. Mary Gray dari Microsoft Research, seorang antropolog dan teknolog dengan fokus pada privasi, juga memimpin upaya untuk berkolaborasi dengan kelompok komunitas dan layanan sosial di Bay Area untuk mengembangkan Encrypted Spaces dan membangun prototipe yang dirancang sesuai kebutuhan mereka.

    Implikasi: Privasi sebagai Norma Baru

    Jika Encrypted Spaces berhasil mencapai tujuannya meluncurkan generasi baru aplikasi terenkripsi end-to-end, aplikasi tersebut pasti akan digunakan untuk tujuan yang kurang baik juga. Platform perpesanan arus utama sudah menjadi saluran bagi banyak kelompok penjahat siber. Versi terenkripsi dari aplikasi tersebut tidak diragukan akan menghambat kemampuan penegak hukum untuk mengawasi beberapa orang yang menyebabkan kerugian nyata.

    Namun, Trapp menekankan bahwa argumen umum tentang minoritas kecil pelaku kejahatan tidak boleh menghalangi penciptaan platform yang lebih melindungi privasi semua orang secara default. “Kami memiliki harapan umum akan privasi dalam kehidupan nyata kita di dunia fisik,” katanya. “Kita harus diberikan hak yang sama di dunia digital, alih-alih membangun internet dengan pengawasan sebagai aspek bawaan dari desainnya.”

    Enkripsi sudah menjadi norma di ranah internet lainnya. Praktis setiap situs web sekarang menggunakan enkripsi HTTPS, dan Signal telah membantu mengenkripsi end-to-end percakapan teks dan suara di miliaran ponsel dan laptop. Di tengah migrasi besar menuju enkripsi, Slack dan Google Docs seharusnya tidak tetap terekspos seperti kartu pos. “Dengan cara yang sama Signal menjadi status quo di ruang perpesanan, teknologi seperti ini dapat menjadi status quo di seluruh pengembangan aplikasi,” pungkas Trapp. “Saya berharap ini hanya menjadi cara semua aplikasi bekerja: bahwa kita memiliki enkripsi end-to-end di setiap aplikasi di ponsel kita dan itu menjadi semacam standar de facto, dan itu hanya membantu memperkuat bahwa privasi adalah hal yang normal.”