Category: Tekno

  • Waymo Hadapi Ujian Besar di Piala Dunia 2026

    Waymo Hadapi Ujian Besar di Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Waymo, perusahaan robotaxi milik Alphabet, bersiap menghadapi ujian terbesarnya saat Piala Dunia 2026 yang diperkirakan menarik 6,5 juta pengunjung ke berbagai kota di Amerika Serikat. Perusahaan yang saat ini melayani setengah juta perjalanan berbayar setiap minggu ini akan menguji kemampuan armada otonomnya dalam menangani lonjakan permintaan transportasi massal selama lebih dari sebulan.

    Angka setengah juta perjalanan mingguan tersebut mungkin terlihat kecil dibandingkan raksasa ride-hail seperti Uber dan Lyft. Namun, angka tersebut menjadi signifikan mengingat kendaraan Waymo beroperasi tanpa pengemudi manusia. Perusahaan berencana memperluas layanan ke 20 pasar baru tahun ini saja, dengan ekspansi internasional di London dan Tokyo di depan mata. Aplikasi Waymo kini tersedia di toko aplikasi di 13 negara, termasuk Jerman, Inggris Raya, India, dan Jepang, dalam 15 bahasa berbeda.

    Bagi para pelancong yang belum pernah menaiki robotaxi di China, Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi kesempatan pertama mereka merasakan perjalanan tanpa pengemudi. Namun, ajang olahraga terbesar di dunia ini juga berpotensi menjadi panggung bagi kegagalan yang sangat terlihat publik.

    Musim Semi yang Penuh Tantangan

    Di tengah rencana ekspansi yang ambisius, Waymo menghadapi serangkaian masalah teknis pada musim semi 2026. Perusahaan terpaksa menghentikan layanan di beberapa pasar setelah kendaraannya kesulitan menangani jalanan yang tergenang banjir. Masalah ini bahkan telah menyebabkan penarikan kembali (recall) perangkat lunak secara nasional.

    Pada Mei 2026, Waymo juga menangguhkan layanan perjalanan jalan tol yang sejak akhir tahun lalu memungkinkan penumpang mencapai tujuan tertentu lebih cepat. Perusahaan menyatakan kekhawatirannya tentang bagaimana kendaraan mereka bereaksi di sekitar zona konstruksi.

    “Kami bekerja sama dengan otoritas setempat untuk mempersiapkan Piala Dunia dan acara-acara di sekitarnya,” ujar Sandy Karp, juru bicara Waymo, dalam pernyataannya. Persiapan ini mencakup koordinasi dengan kepolisian dan pengelola stadion di kota-kota tuan rumah.

    Jika semua berjalan sesuai rencana, Piala Dunia Waymo—Piala Dunia kendaraan otonom pertama—seharusnya terlihat seperti Piala Dunia lainnya. Namun, tantangan logistik tetap menjadi isu utama yang belum terpecahkan.

    Keterbatasan Fisik yang Tak Terhindarkan

    Kendaraan otonom menjanjikan berbagai hal: memberikan mobilitas baru bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan SIM, mengubah ekonomi perjalanan, dan menghilangkan pekerjaan pengemudi. Namun, dalam hal acara khusus, mobil tanpa pengemudi menghadapi keterbatasan yang sama dengan mobil berkemudi manusia.

    Ribuan orang ingin tiba di dan meninggalkan suatu tempat pada waktu yang sama. Pada akhirnya, hanya ada begitu banyak jalan yang tersedia. “Tidak akan pernah ada proses yang tertib sempurna tanpa kemacetan,” kata Adam Millard-Ball, profesor perencanaan kota di Luskin School of Public Affairs, University of California, Los Angeles.

    “Secara geometris, Anda tidak akan bisa memiliki area penjemputan ‘pintu depan’ untuk semua orang,” tambahnya. Masa depan adalah banyak hal, tetapi bebas kemacetan bukan salah satunya.

    Masalah yang sama juga dihadapi oleh jenis mobil lain. Inilah sebabnya mengapa area penjemputan dan pengantaran untuk sepupu dekat Waymo, Uber dan Lyft, terlihat seperti sekarang. Sejak taksi pasar abu-abu mulai menyebar di AS pada akhir 2000-an, beberapa kota dan institusi—bandara dan stadion di antaranya—telah menemukan cara untuk “menjinakkan” transportasi yang sangat diminati.

    Dulu, penjemputan Uber standar di bandara dilakukan di tepi jalan, tepat di luar area pengambilan bagasi. Sekarang, sebagian besar bandara mengarahkan penumpang ride-hail ke tempat parkir khusus. Hal yang sama berlaku di stadion. Bahkan, beberapa zona penjemputan ride-hail khusus ini sekarang melayani Waymo.

    “Kota Santa Clara saat ini berkolaborasi dengan layanan rideshare untuk menciptakan lokasi area layanan di sekitar Levi’s Stadium selama hari acara,” tulis Letnan Eric Lagergren dari Departemen Kepolisian Santa Clara dalam surel kepada WIRED. Hari acara di sini termasuk delapan pertandingan kandang 49ers yang terjadi setiap musim.

    “Lokasi area layanan rideshare dan transportasi umum di Santa Clara akan tetap aktif untuk semua pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 yang diselenggarakan di Kota Santa Clara,” jelasnya. Rutinitas yang sama, acara olahraga yang berbeda.

    Kritik dan Argumen dari Dalam Industri

    Ini adalah kritik umum terhadap kendaraan otonom sekaligus poin pembicaraan di kalangan pendukungnya: kendaraan tetaplah kendaraan, tidak peduli siapa yang mengemudikannya. Pengembang teknologi AV senang mendengar bahwa penumpang yang pertama kali naik ke mobil mereka sering kali menjadi bosan dengan perjalanan fiksi ilmiah itu, dan dengan cepat beralih ke ponsel di pangkuan mereka, seperti yang mereka lakukan selama perjalanan lainnya.

    Waymo dan pemain lain di industri robotaxi telah lama berargumen bahwa mobil mereka tidak boleh diatur secara berbeda dari kendaraan ride-hail lainnya. Di sisi lain, kemacetan lalu lintas di waktu pertandingan dan berbagai penantian lainnya tetap ada.

    Pada akhirnya, kendaraan otonom mungkin dapat melakukan perbaikan di bagian tepi. Millard-Ball menunjukkan bahwa Waymo adalah operator tunggal, sehingga tidak seperti kontraktor independen ride-hail, Waymo dapat mengoordinasikan armada kendaraannya. Mobil Waymo, misalnya, dapat “membentuk antrean yang tertib untuk penjemputan di tempat-tempat dengan permintaan tinggi,” katanya.

    Namun, efisiensi dapat bertentangan dengan pengalaman penjemputan mewah yang diinginkan banyak orang: mobil yang menunggu atau berputar-putar di blok dengan sabar saat Anda keluar, lalu tiba tepat saat Anda sampai di tepi jalan. Itu sama sekali tidak tertib.

    Pelajaran dari Masa Lalu

    Untuk melihat sekilas apa yang menanti dalam efisiensi ala Piala Dunia, mungkin masuk akal untuk melihat ke belakang—ke jenis transportasi umum yang membawa banyak orang ke satu tempat dengan cukup cepat: kereta dan bus. Keduanya akan digunakan selama acara tahun ini.

    Atau lihat apa yang dilakukan Uber sendiri: produk bernama Shuttle yang memungkinkan peserta pertandingan memesan kursi di minibus yang kembali dari pertandingan di New Jersey, Boston, Miami, dan Dallas. Selamat datang di masa depan.

    Bagi penggemar teknologi yang ingin melihat lebih jauh tentang inovasi di industri ini, imToken Transformasi menjadi contoh bagaimana antarmuka digital berkembang. Sementara itu, di dunia game, 36 Tim Siap Bertarung di ajang kompetisi bergengsi.

    Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang pembuktian bagi Waymo. Keberhasilan atau kegagalan perusahaan dalam menangani lonjakan permintaan ini akan menjadi indikator penting bagi masa depan transportasi otonom di acara-acara besar. Jika Waymo berhasil, ini akan menjadi langkah besar menuju adopsi massal robotaxi. Jika gagal, ini akan menjadi pengingat bahwa teknologi, secanggih apa pun, masih harus berhadapan dengan realitas fisika dan logistik perkotaan.

    Sementara itu, industri game juga menyaksikan perubahan strategi besar. Xbox Kembali ke Eksklusif menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar terus menyesuaikan pendekatan mereka di tengah persaingan yang ketat.

  • Teknologi VAR Piala Dunia 2026 Gunakan Digital Twin Pemain

    Teknologi VAR Piala Dunia 2026 Gunakan Digital Twin Pemain

    JBNews.id — Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang sepak bola dengan teknologi adjudikasi paling canggih yang pernah ada. Sistem video assistant referee (VAR) dan semi-automated offside technology (SAOT) di turnamen musim panas ini tidak hanya mengandalkan kamera dan sensor biasa, melainkan juga menghadirkan inovasi digital twin—salinan virtual presisi tinggi dari setiap pemain.

    Sepanjang pertandingan, lapangan akan dipenuhi sensor, kamera, dan perangkat lunak computer vision terbaru. Setiap pemain Piala Dunia telah menjalani pemindaian tubuh 360 derajat resolusi tinggi oleh mitra teknologi FIFA, Lenovo. Hasil pemindaian ini kemudian diolah menjadi digital twin yang secara persis mencerminkan tinggi badan, panjang anggota tubuh, hingga ukuran sepatu atlet. Salinan virtual tersebut dapat ditempatkan ke dalam simulasi virtual pertandingan untuk menentukan posisi eksak pemain relatif terhadap bola, garis batas, dan pemain lain.

    Data ini memungkinkan ofisial pertandingan mendeteksi pelanggaran, menentukan hukuman, dan memperhalus keputusan wasit. Meskipun sistem ini mampu mempelajari aksi lebih dekat daripada kemampuan mata manusia, wasit manusia tetap menjadi bagian dari permainan. Ketika wasit melakukan kesalahan—dan hal itu pasti terjadi—ofisial dapat beralih ke teknologi untuk mengoreksi kesalahan, menggantikan keputusan subjektif dengan kebenaran objektif.

    Peningkatan Sistem Pelacakan

    Elemen pengaturan tahun ini mirip dengan Piala Dunia 2022, namun dengan berbagai peningkatan. Hawk-Eye tetap menjadi penyedia pelacakan optik utama dengan sistem computer vision yang menangkap lebih dari dua lusin titik kerangka pada setiap pemain sepanjang waktu. FIFA director of innovation Johannes Holzmüller mengatakan sistem pelacakan kini menggunakan 16 kamera resolusi tinggi, meningkat dari 12 kamera pada tahun 2022.

    Data optik tersebut akan digabungkan dengan sensor canggih di dalam bola. Kinexon, pemimpin di bidang sports wearables, kembali menyediakan otak digital bola pertandingan. Kali ini, sensor ultrawide-band dan IMU (termasuk akselerometer dan giroskop untuk menangkap putaran bola) melacak lokasi presisi bola dan setiap sentuhan, merekam data 500 kali per detik.

    Berbeda dengan versi 2022 yang menempatkan sensor di tengah bola dengan sling tali, Adidas kini menciptakan kantung kecil untuk menempatkan sensor di sepanjang dinding bagian dalam bola. “Sensor ini divulkanisir di dalam kantung dengan kantong plastik kecil,” ujar Maximillian Schmidt, salah satu pendiri dan managing director Kinexon. “Vulkanisasi ini jauh lebih stabil daripada tali yang memiliki pengait yang bisa lebih mudah patah.”

    Penempatan sensor di dinding dalam bola memerlukan penyeimbangan agar bobot tambahan di satu sisi tidak membuat bola goyah. Schmidt mengatakan seluruh perangkat hanya berbobot 13 gram, namun timnya harus mengkalibrasi semuanya untuk memastikan setiap sentuhan atau pergerakan bola terlacak secara merata. Pengujian benturan yang lebih ketat juga menjadi bagian penting dari proses karena sensor kini berada tepat di titik yang bisa ditendang langsung.

    Digital Twin: Akurasi Milimeter

    Semua pemain Piala Dunia 2026 telah menjalani pemindaian 360 derajat resolusi tinggi dari Lenovo. Pemindaian ini akan dimasukkan ke dalam sistem Hawk-Eye untuk menggantikan avatar generik yang sebelumnya digunakan untuk offside dan aplikasi VAR lainnya. Art Hu, global chief innovation officer Lenovo, mengatakan pemindaian ini mendefinisikan bentuk tubuh, tonus otot, dan ukuran sepatu dengan akurasi 1 hingga 2 milimeter.

    “Itu adalah peningkatan satu tingkat magnitudo dari avatar biasa,” kata Hu. Tantangan teknis sesungguhnya adalah menggunakan satu pemindaian pemain yang diambil saat mereka berdiri diam, lalu menerapkan digital twin tersebut ke data pose kerangka Hawk-Eye dalam skenario permainan aktif—saat pemain berlari, melompat, atau meluncur. Biaya dari beberapa inci presisi tambahan ini adalah kekuatan komputasi dan penyesuaian algoritmik yang sangat besar.

    FIFA telah menguji pengaturan baru ini di Piala Dunia Antarklub dan Piala Interkontinental 2025, serta berbagai turnamen junior selama 18 bulan terakhir. Versi sebelumnya dari teknologi digital twin telah digunakan untuk membantu keputusan VAR menjelang semua gol dan tendangan penalti. Versi baru juga akan membantu meninjau hukuman kartu merah dan insiden di mana ofisial lapangan secara tidak sengaja menghukum pemain yang salah.

    Teknisi VAR kini memiliki kemampuan untuk membatalkan keputusan tendangan sudut jika sistem mendeteksi kesalahan dan kemudian memberi tahu wasit di lapangan melalui headset tanpa menunda permainan. Dalam upaya lain mengurangi waktu terbuang dari peninjauan, VAR akan mengirimkan peringatan langsung ke ofisial pinggir lapangan untuk keputusan offside yang jelas dan dapat dideteksi dengan cepat, menghentikan permainan segera. Ini berbeda dari pengaturan sebelumnya yang memungkinkan permainan berlanjut setelah pelanggaran.

    Holzmüller yakin peningkatan akurasi sistem VAR akan memungkinkan keputusan yang benar dibuat lebih sering, bahkan untuk keputusan yang sangat bernuansa, seperti “ketika hanya satu jari kaki yang offside.”

    Mengatasi Batasan Video

    Meskipun sebagian besar pelanggaran offside dapat dideteksi dengan menonton rekaman video gerakan lambat, sejumlah kecil pelanggaran terjadi pada momen tepat di antara bingkai video. FIFA bertekad mengatasi masalah ini. Holzmüller mengatakan kombinasi pemindaian 3D dan data pelacakan bola—yang menangkap posisi 500 kali per detik, menghasilkan data beresolusi lebih tinggi daripada video 60 bingkai per detik—akan melengkapi rekaman video untuk memberikan gambaran paling lengkap.

    Fitur paling menarik dari teknologi digital twin adalah “tampilan kiper 3D” dalam VAR. Visualisator ini dapat menunjukkan sudut pandang kiper dan, menggunakan input digital sistem, menentukan apakah pemain penyerang dalam posisi offside mengganggu kiper. Gangguan ini telah lama ilegal dalam sepak bola, namun jumlah pemain dan ukuran lapangan membuatnya sulit untuk dipanggil secara akurat.

    Hu menunjukkan berbagai kemungkinan penggunaan teknologi digital twin di berbagai olahraga, mulai dari aplikasi perwasitan seperti ini hingga kesehatan dan performa atlet. Seiring model menjadi lebih kuat dan biaya komputasi turun, teknologi ini hanya akan meningkat.

    Apakah Sebanding dengan Usaha?

    Holzmüller dengan terus terang mengakui bahwa kemajuan ini, dan semua kerja teknis dan finansial yang menyertainya, mungkin hanya mengubah beberapa keputusan selama seluruh turnamen. Namun dari perspektif FIFA, tidak ada pertanyaan tentang nilainya ketika menyangkut ajang olahraga terbesar di dunia. “Kami harus membawa teknologi terbaik ke Piala Dunia,” katanya. “Itu tujuan kami.”

    Penggunaan digital twin dan sistem pelacakan presisi tinggi ini menimbulkan pertanyaan di mana letak nilai sistem: dalam menghadirkan ketidakberpihakan pada momen-momen krusial, atau dalam memungkinkan liga mengadili pelanggaran kecil seinci di sana-sini. FIFA dan badan sepak bola dunia lainnya telah memperjelas posisi mereka: Mereka ingin kesalahan besar hilang, tetapi inci-inci itu juga sangat berarti.

    Teknologi serupa juga mulai diadopsi di berbagai sektor lain. Inovasi di bidang AI dan sensor ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara kita melihat dan menilai sebuah pertandingan. Sementara itu, perkembangan Fitur Terbaru di perangkat wearable juga menunjukkan tren integrasi teknologi yang semakin canggih dalam kehidupan sehari-hari.

    Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang pembuktian apakah investasi besar dalam teknologi adjudikasi ini benar-benar memberikan dampak signifikan pada keadilan pertandingan. Dengan 104 pertandingan yang akan dimainkan, kombinasi sistem optik dan pelacakan bola ini akan menangkap setiap nuansa permainan, memberikan wasit alat terbaik untuk membuat keputusan yang tepat.

  • Studi Ungkap Aktivitas Warga AS di Polymarket Capai Rp400 Triliun

    Studi Ungkap Aktivitas Warga AS di Polymarket Capai Rp400 Triliun

    JBNews.id — Sebuah studi dari Rutgers University mengungkap bahwa warga Amerika Serikat diduga telah menyalurkan dana antara USD 10,6 miliar hingga USD 26,7 miliar melalui platform prediksi pasar kripto Polymarket dalam periode satu tahun terakhir. Temuan ini menjadi estimasi pertama yang secara spesifik mengukur besarnya partisipasi pengguna AS di platform yang sebenarnya telah dilarang beroperasi di negara tersebut sejak 2022.

    Studi yang dilakukan oleh ahli statistik Rutgers University, Harry Crane, menganalisis aktivitas perdagangan yang tampak berasal dari pengguna AS di platform prediksi pasar lepas pantai antara Mei 2025 hingga akhir April 2026. Crane menemukan bahwa banyak pasar dengan volume tertinggi di Polymarket bersifat sangat Amerika-sentris, termasuk pasar yang mencakup pemilu AS dan acara olahraga domestik.

    Metodologi dan Temuan Utama

    Untuk mengukur aktivitas ini, Crane mengembangkan metodologi yang mengidentifikasi perilaku khas pedagang AS dibandingkan pedagang internasional. Indikator yang digunakan meliputi waktu perdagangan dan jenis pasar yang diminati. Misalnya, pedagang AS cenderung lebih tertarik pada acara olahraga dalam negeri dibandingkan rekan global mereka.

    “Sudah diketahui bahwa ada individu di sana, tapi yang belum diketahui adalah sejauh mana partisipasinya, apakah satu atau sepuluh orang, atau benar-benar sebagian besar,” ujar Crane yang juga anggota Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Innovation Advisory Committee. Studi ini menunjukkan bahwa pedagang AS menyumbang sekitar setengah dari aktivitas di pasar olahraga Polymarket.

    Penting untuk dicatat bahwa studi ini didanai oleh Coalition for Prediction Markets, sebuah kelompok lobi yang mewakili industri prediksi pasar. Anggota koalisi ini mencakup Kalshi, Coinbase, Crypto.com, dan pemain besar lainnya, namun Polymarket sendiri bukan anggota. Meski demikian, Crane menegaskan bahwa ia mempertahankan kendali editorial penuh atas studi tersebut.

    Larangan dan Celah Regulasi

    Polymarket dilarang beroperasi di AS sejak 2022 setelah regulator federal menemukan bahwa platform tersebut beroperasi sebagai platform perdagangan derivatif yang tidak terdaftar. Sejak Desember 2025, Polymarket mengoperasikan aplikasi seluler berlisensi AS bernama Polymarket US. Menurut laporan Pew Research, volume perdagangan Polymarket US pada April 2026 mencapai sekitar USD 1,6 miliar, sementara platform kripto utama Polymarket mencapai USD 9 miliar pada periode yang sama.

    Untuk mengakses platform utama yang diblokir, pedagang AS diduga menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi asal mereka, meskipun ketentuan layanan Polymarket melarang penggunaan VPN. CFTC sendiri tidak memiliki kewenangan normal atas pasar prediksi lepas pantai, namun Ketua CFTC Michael Selig menyatakan kesediaannya menggunakan yurisdiksi ekstrateritorial untuk menindak pelaku kejahatan secara kasus per kasus.

    Dalam konteks regulasi teknologi yang lebih luas, perkembangan ini menarik untuk dicermati seiring dengan kebijakan AI Voluntary Framework yang baru-baru ini diteken oleh Presiden Trump. Kerangka kerja sukarela untuk kecerdasan buatan ini menunjukkan bagaimana pemerintah AS berupaya menyeimbangkan inovasi dengan pengawasan regulasi di berbagai sektor teknologi.

    Kasus High-Profile dan Proyeksi Masa Depan

    Pada April 2026, terjadi contoh paling menonjol terkait aktivitas warga AS di Polymarket. Departemen Kehakiman AS mendakwa seorang tentara pasukan khusus karena diduga menggunakan informasi rahasia tentang penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk meraup keuntungan sekitar USD 400.000 dari perdagangan Polymarket.

    Studi Crane memperkirakan bahwa aktivitas berbasis AS akan terus berkembang di platform tersebut jika platform kripto Polymarket mempertahankan pangsa pasarnya. Proyeksi menunjukkan volume perdagangan berbasis AS bisa mencapai USD 133 miliar pada tahun 2030.

    University of Toronto Scarborough associate professor of finance Charles Martineau, yang telah mempelajari perilaku perdagangan Polymarket, menilai metodologi yang digunakan Crane cukup masuk akal. “Ini tidak sempurna, tapi saya pikir ini memberikan estimasi yang wajar tentang fraksi volume yang dapat diatribusikan pada perdagangan lepas pantai. Menggunakan proksi tidak langsung seperti ini adalah hal yang umum dalam riset keuangan,” ujarnya.

    Polymarket menolak berkomentar mengenai studi ini, sementara CFTC tidak menanggapi permintaan komentar. Ketidakjelasan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah regulator akan menindak pedagang AS yang menggunakan VPN untuk menghindari larangan namun tetap mematuhi hukum secara umum.

    Di sisi lain, perkembangan industri prediksi pasar di Indonesia juga menarik untuk dicermati. Kompetisi komunitas seperti UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall menunjukkan bagaimana ekosistem digital dan kompetisi berbasis komunitas terus berkembang di Tanah Air, meskipun dalam ranah yang berbeda dari prediksi pasar.

    Implikasi dari temuan studi ini sangat luas. Bagi regulator seperti CFTC, data ini memberikan gambaran tentang seberapa besar aktivitas yang luput dari pengawasan. Bagi pelaku industri, angka ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar jika regulasi dapat diadaptasi. Sementara bagi pengguna biasa, temuan ini mengingatkan bahwa penggunaan VPN untuk mengakses platform yang diblokir tetap memiliki risiko hukum yang belum sepenuhnya jelas.

    Dengan proyeksi volume perdagangan mencapai USD 133 miliar pada 2030, jelas bahwa prediksi pasar berbasis kripto akan terus menjadi isu regulasi yang signifikan di tahun-tahun mendatang, terutama terkait yurisdiksi lintas batas dan penegakan hukum di era digital.

  • YouTube Diduga Langgar Sanksi AS, Iklan Muncul di Kanal Iran

    YouTube Diduga Langgar Sanksi AS, Iklan Muncul di Kanal Iran

    JBNews.id — YouTube diduga melanggar sanksi ekonomi Amerika Serikat dengan menayangkan iklan di lebih dari 75 kanal yang dikelola entitas resmi Iran. Temuan ini diungkap oleh Tech Transparency Project (TTP), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada riset teknologi.

    Riset tersebut mengidentifikasi kanal-kanal yang tampaknya dikelola oleh pihak-pihak yang telah dijatuhi sanksi resmi oleh Office of Foreign Assets Control (OFAC), badan di bawah Kementerian Keuangan AS yang bertugas menegakkan sanksi terhadap Iran. Kanal-kanal tersebut telah dimonetisasi, artinya YouTube menjalankan iklan di video mereka untuk menghasilkan pendapatan.

    Para peneliti mendokumentasikan iklan dari berbagai perusahaan, mulai dari Subaru, Verizon, TurboTax, obat penurun berat badan Ozempic, hingga restoran cepat saji KFC. Dalam satu kasus, para peneliti mengamati iklan dari US Customs and Border Protection (CBP) muncul di video yang diproduksi oleh Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran.

    “Itu berarti YouTube menempatkan iklan yang dibayar dengan uang pajak AS di kanal milik kementerian pemerintah Iran,” tulis para peneliti. US Customs and Border Protection tidak menanggapi permintaan komentar.

    Entitas Terlarang Mendapat Pendapatan Iklan

    “Pemilik dari banyak kanal YouTube ini mencakup individu dan entitas Iran yang tidak hanya tunduk pada embargo AS yang komprehensif terhadap Iran, tetapi juga dijatuhi sanksi oleh OFAC di bawah berbagai program sanksinya, termasuk kontraterorisme, nonproliferasi, pelanggaran hak asasi manusia, atau yang spesifik untuk pemerintah Iran secara lebih umum,” kata Kian Meshkat, seorang pengacara yang berspesialisasi dalam sanksi ekonomi AS yang meninjau riset tersebut, kepada WIRED.

    Juru bicara Google, Nate Funkhouser, menyatakan, “Google berkomitmen untuk mematuhi sanksi dan hukum kepatuhan perdagangan yang berlaku. Jika kami menemukan bahwa sebuah akun melanggar kebijakan kami, kami akan mengambil tindakan yang tepat.”

    YouTube secara resmi dilarang di Iran pada tahun 2012, tetapi platform tersebut terus digunakan oleh rezim Iran untuk menyebarkan propaganda. Kebijakan penerbit Google sendiri, yang berlaku untuk YouTube, dengan jelas menyatakan bahwa alat iklan perusahaan “tidak boleh digunakan untuk atau atas nama” pihak-pihak di Iran.

    Pada tahun 2024, YouTube memang mengambil tindakan dengan menutup akun yang terkait dengan kementerian luar negeri Iran. “Karena sanksi AS yang berlaku, kanal milik negara Iran tidak diizinkan di YouTube,” kata perusahaan itu saat itu.

    Peneliti TTP menyisir platform tersebut untuk mencari nama-nama individu yang langsung dijatuhi sanksi oleh AS sebagai ancaman bagi keamanan nasional, serta akun yang tampaknya dijalankan oleh pejabat pemerintah Iran, mengidentifikasi total 84 kanal. Semua kanal menampilkan iklan di video mereka, termasuk iklan in-feed, iklan in-stream, dan iklan YouTube Shorts.

    Individu dan Lembaga yang Teridentifikasi

    Di antara individu yang dijatuhi sanksi yang teridentifikasi adalah Babak Zanjani, seorang pengusaha yang membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran menghindari sanksi; Ali Akbar Velayati, penasihat pemimpin tertinggi baru Iran yang mengancam pasukan AS di kawasan; dan Naji Sharifi Zindashti, yang dituduh menargetkan para pembangkang Iran di luar negeri untuk pembunuhan, termasuk dua penduduk Maryland.

    Al-Mustafa International University, sebuah sekolah seminari Islam Iran yang dijatuhi sanksi pada tahun 2020 karena mengindoktrinasi dan merekrut sumber intelijen asing, memiliki setidaknya empat kanal YouTube, menurut para peneliti, termasuk kanal berbahasa Inggris dan Prancis. Kanal-kanal tersebut, yang menampilkan kursus video dan ceramah, dimonetisasi dengan iklan in-stream dan in-feed, termasuk iklan untuk BJ’s Wholesale Club dan film horor Warner Bros., They Will Kill You.

    Di antara entitas pemerintah yang teridentifikasi memiliki kanal YouTube yang menampilkan iklan adalah unit Pasukan Khusus Kontraterorisme Iran, yang telah dituduh menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa yang tidak bersenjata. Kantor Berita Fars, penyiar negara Iran yang terkenal menyebarkan disinformasi dan propaganda, juga memiliki kanal YouTube yang menampilkan iklan.

    Sebagian besar kanal telah beroperasi selama bertahun-tahun, mengumpulkan jutaan penayangan. Hanya ada sedikit yang dapat dilakukan pengiklan untuk menghindari muncul di video tersebut, karena Google tidak mengizinkan perusahaan untuk memilih keluar, seperti yang dilakukannya untuk kategori konten teroris atau pelecehan hewan.

    Hal ini bahkan lebih mengkhawatirkan, kata direktur TTP Katie Paul, ketika pengiklan pemerintah AS terlibat. Para peneliti tidak dapat memastikan apakah YouTube melanggar sanksi AS dengan menjalankan iklan di kanal-kanal ini, karena tidak jelas apakah platform tersebut membagi pendapatan iklan dengan mereka.

    YouTube mulai menyembunyikan kanal mana yang mendapatkan bagian dari pendapatan iklannya pada tahun 2023, yang berarti tidak jelas apakah entitas yang dijatuhi sanksi menghasilkan uang dari iklan yang berjalan di kanal mereka. Google tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah akun yang tercantum dalam laporan tersebut menerima bagian dari pendapatan iklan.

    Bahkan tanpa berbagi pendapatan, YouTube mungkin melanggar sanksi, karena OFAC menyatakan bahwa warga negara dan perusahaan AS dilarang memberikan layanan “kepada atau untuk kepentingan orang yang diblokir.” Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar.

    “Perusahaan teknologi harus menyadari sanksi AS dan memahami risiko kepatuhan mereka serta melakukan uji tuntas untuk mencegah pelanggaran,” kata juru bicara Departemen Keuangan kepada WIRED.

    Implikasi Hukum dan Pengecualian Sanksi

    YouTube bukan satu-satunya perusahaan teknologi AS yang berpotensi melanggar sanksi AS terhadap Iran. Pada bulan Februari, WIRED mengungkapkan bahwa X (sebelumnya Twitter) bisa melanggar sanksi karena tampaknya menerima uang dari pejabat pemerintah Iran untuk akun premium.

    Untuk perusahaan teknologi AS seperti X dan YouTube, ada pengecualian terhadap sanksi terhadap pemerintah Iran. Satu pengecualian, yang dikeluarkan pada tahun 2022, mengizinkan perusahaan teknologi AS untuk menyediakan akses ke platform mereka di Iran, sehingga warga biasa dapat berbagi informasi dengan dunia luar. Pengecualian tersebut berarti pejabat pemerintah Iran juga dapat menggunakan platform ini, tetapi tidak mengizinkan transaksi keuangan dengan pemerintah Iran.

    Meshkat menambahkan bahwa bahkan jika penyediaan layanan YouTube kepada individu yang dijatuhi sanksi atau kanal pemerintah Iran memenuhi syarat untuk pengecualian, “sulit untuk memahami bagaimana, tanpa otorisasi OFAC terpisah, beberapa pihak yang diberikan kanal ini dapat memasarkan atau mengiklankan diri mereka sendiri dengan video promosi mereka sendiri. Pengecualian biasanya mengecualikan dari cakupannya penyediaan layanan pemasaran kepada pihak yang dijatuhi sanksi.”

    Temuan TTP ini menyoroti celah serius dalam pengawasan platform digital global. Dengan ribuan kanal yang berpotensi melanggar sanksi, tekanan terhadap Google untuk bertindak semakin besar. Bagi pengguna dan pengiklan di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa iklan digital bisa muncul di tempat yang tidak terduga, termasuk di kanal yang terkait dengan rezim yang dijatuhi sanksi internasional.

    Implikasinya jelas: pengawasan terhadap platform teknologi besar harus diperketat, dan perusahaan seperti Google harus lebih transparan dalam melaporkan kepatuhan mereka terhadap hukum internasional.

  • XLSmart Luncurkan Solusi 5G dan AI untuk Digitalisasi Industri

    XLSmart Luncurkan Solusi 5G dan AI untuk Digitalisasi Industri

    JBNews.id — XLSmart resmi meluncurkan solusi digital yang memadukan jaringan 5G dan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat transformasi digital di sektor korporasi. Melalui lini bisnis XLSmart For Business, operator seluler ini memperkenalkan Esta connect 5G dan Esta agent dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Esta connect 5G merupakan solusi konektivitas enterprise yang menggabungkan jaringan 5G dengan teknologi SD-WAN dan modem atau customer premises equipment (CPE). Solusi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri yang membutuhkan konektivitas berkecepatan tinggi, latensi rendah, dan kapasitas besar guna mendukung pemrosesan data secara real time.

    Dengan dukungan jaringan 5G, perusahaan dapat menghubungkan berbagai sistem, perangkat, sensor, aplikasi, dan lokasi operasional secara lebih optimal. Cakupan penerapannya meliputi smart branch, smart manufacturing, smart warehouse, smart port, hingga smart mining. Selain berfungsi sebagai jaringan utama, Esta connect 5G juga dapat digunakan sebagai koneksi cadangan untuk menjaga kelangsungan operasional saat terjadi gangguan pada jaringan utama.

    Di sisi lain, XLSmart juga menghadirkan Esta agent, solusi asisten virtual berbasis AI yang memanfaatkan teknologi Natural Language Processing (NLP) dan Generative AI. Solusi ini memungkinkan perusahaan memberikan respons yang lebih cepat, konsisten, dan personal kepada pelanggan melalui berbagai kanal komunikasi digital.

    Esta agent ditujukan untuk berbagai sektor, mulai dari korporasi besar, perusahaan menengah, hingga sektor perbankan, asuransi, telekomunikasi, dan instansi pemerintah yang membutuhkan layanan pelanggan maupun layanan informasi secara cepat dan efisien.

    Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, mengatakan fondasi konektivitas dan pemanfaatan AI menjadi elemen penting dalam mendorong daya saing perusahaan di era digital.

    “Transformasi digital yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Perusahaan membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat, kemampuan mengelola data secara efektif, serta pemanfaatan AI dan otomasi yang mampu menghasilkan dampak bisnis yang nyata,” ujar Andrijanto di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Melalui kombinasi teknologi 5G dan AI, XLSmart berharap dapat membantu perusahaan membangun operasional yang lebih adaptif, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat inovasi di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis.

    XLSmart pun terus memperluas jangkauan jaringan 5G yang tidak hanya tersedia di satu titik, tapi tersedia menyeluruh di satu kota. Perusahaan menargetkan koneksi internet cepat tersebut akan hadir di 88 kota.

    “Karena perubahan begitu cepat dan tidak semua memiliki resources yang sama, maka Bravo Summit 500 2026 ini menjadi penting, di mana para tokoh penting, CEO, C-level, dan seluruh komponen daripada industri, termasuk juga regulasi, tentunya bisa memanfaatkan forum ini untuk menambah wawasan, relasi, dan berkolaborasi untuk bertumbuh bersama,” pungkas Andrijanto.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin turut membuka XLSmart Bravo 500 Summit di Jakarta. Hadir pula sejumlah direksi dan komisaris XLSmart dalam acara tersebut.

    Bravo 500 Summit 2026 merupakan forum tahunan edisi kedua yang mempertemukan industri, pemerintah, akademisi, dan mitra teknologi di Indonesia. Acara ini mengusung tema “Solusi untuk Korporasi, Solusi untuk Negeri” dan mengundang 2.000 partisipan untuk membahas pemanfaatan AI, data, konektivitas, dan teknologi digital.

    Bagi perusahaan yang tengah mencari solusi internet murah atau inovasi di sektor lain, ekosistem Esta dari XLSmart menawarkan pendekatan terintegrasi. Kombinasi 5G dan AI yang disajikan dalam solusi ini diharapkan mampu menjadi katalis bagi digitalisasi industri di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Banten.

    Dengan jangkauan 5G yang terus diperluas ke 88 kota, XLSmart optimistis dapat menjawab tantangan konektivitas dan otomatisasi yang dihadapi korporasi. Solusi seperti solusi terbaru di sektor lain pun menunjukkan bahwa inovasi berbasis teknologi menjadi kunci daya saing.

    Implikasi dari peluncuran ini bagi dunia usaha sangat jelas: perusahaan kini memiliki akses ke infrastruktur digital yang lebih matang. Dengan Esta connect 5G sebagai tulang punggung konektivitas dan Esta agent sebagai ujung tombak layanan pelanggan, korporasi dapat mengoptimalkan operasional dan menekan biaya jangka panjang.

    Kehadiran solusi ini juga relevan dengan kebutuhan sektor publik. Instansi pemerintah yang membutuhkan layanan informasi cepat dan efisien dapat mengadopsi Esta agent. Sementara itu, sektor manufaktur dan logistik dapat memanfaatkan Esta connect 5G untuk smart manufacturing dan smart warehouse.

    XLSmart For Business, sebagai unit bisnis yang mengelola solusi ini, menegaskan komitmennya untuk mendukung transformasi digital korporasi. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana konvergensi 5G dan AI menjadi fondasi utama ekonomi digital.

    Dengan data yang menunjukkan bahwa 2.000 partisipan hadir dalam Bravo 500 Summit 2026, antusiasme pasar terhadap solusi ini terbilang tinggi. Forum ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara penyedia teknologi, regulator, dan pelaku industri sangat diperlukan untuk mempercepat adopsi digital.

    Ke depannya, XLSmart diharapkan terus menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperkuat posisinya di pasar enterprise, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional. Transformasi digital yang adaptif dan efisien bukan lagi pilihan, melainkan keharusan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan solusi 3 hari di sektor properti atau inovasi lainnya, prinsip yang sama—menggabungkan konektivitas dan otomatisasi—dapat menjadi acuan. Era digital menuntut kecepatan, ketepatan, dan kolaborasi lintas sektor.

    XLSmart, melalui Bravo 500 Summit 2026 dan ekosistem Esta, telah menunjukkan peta jalan yang jelas: 5G sebagai fondasi, AI sebagai mesin, dan kolaborasi sebagai bahan bakar transformasi.

  • BAKTI Komdigi: Semangat 3T, Misi Konektivitas Digital Indonesia

    BAKTI Komdigi: Semangat 3T, Misi Konektivitas Digital Indonesia

    JBNews.id — Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Fadilah Mathar, menyatakan bahwa seluruh karyawan di lembaganya memiliki semangat yang sama: siap bertugas ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Hal ini diungkapkannya dalam pertemuan dengan sejumlah jurnalis di Berau, Kalimantan Timur.

    Pernyataan tersebut muncul setelah Fadilah bercerita tentang kunjungannya ke perusahaan antariksa milik miliarder teknologi Elon Musk, SpaceX. Saat itu, ia bertanya kepada salah seorang petinggi perusahaan mengenai budaya kerja yang dianut organisasi tersebut. “Saya pernah bertanya waktu itu ke setingkat direktur, apa corporate culture di SpaceX? Mereka bilang semua yang kerja di sini pasti mau ke Mars,” kata Fadilah.

    Perbandingan itu menjadi ilustrasi tentang pentingnya tujuan besar sebagai identitas bersama sebuah organisasi. Jika SpaceX memiliki visi menaklukkan Mars, BAKTI memiliki misi yang tak kalah ambisius: menghadirkan konektivitas digital hingga ke pelosok negeri. “Semua rekan-rekan di BAKTI ketika bapak ibu tanya culture-nya apa sih di BAKTI, mereka pasti akan bilang 3T. Mereka pasti akan siap-siap pergi ke wilayah 3T,” sebutnya.

    Peran Strategis BAKTI

    Tugas BAKTI menjadi krusial karena lembaga ini merupakan ujung tombak pemerintah dalam menyediakan akses internet dan telekomunikasi di lokasi-lokasi yang belum menarik secara bisnis bagi operator swasta. “BAKTI ini khusus untuk menyelenggarakan dan membangun akses internet atau konektivitas digital atau sinyal di wilayah-wilayah yang tidak dibangun oleh pihak swasta. Karena kalau pemerintah tidak mengurus maka sampai kapan pun akses tidak akan diterima oleh masyarakat,” jelas Fadilah.

    Saat ini, BAKTI mengelola berbagai program konektivitas nasional, mulai dari pembangunan BTS 4G, penyediaan akses internet gratis untuk sekolah dan fasilitas kesehatan, hingga pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) untuk menjangkau daerah terpencil. Hingga kini, lebih dari 31 ribu titik layanan publik telah terhubung melalui jaringan yang dibangun BAKTI. Infrastruktur tersebut tersebar di sekolah, puskesmas, kantor desa, fasilitas keamanan, dan berbagai layanan publik lainnya di seluruh Indonesia.

    BTS Bakti

    Dalam era digital seperti sekarang, konektivitas bukan lagi sekadar kebutuhan sekunder, melainkan infrastruktur dasar yang setara dengan listrik dan air bersih. Wilayah 3T yang selama ini menghadapi tantangan keterisolasian dan keterbatasan infrastruktur telekomunikasi menjadi prioritas utama BAKTI. Semangat untuk melayani wilayah-wilayah tersebut telah menjadi kultur kerja yang dibangun di lembaga tersebut.

    Dampak dan Implikasi

    Upaya BAKTI dalam menghadirkan konektivitas digital hingga ke wilayah 3T memiliki dampak luas. Akses internet yang merata dapat membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan kualitas pendidikan melalui akses informasi, serta memperkuat layanan kesehatan di daerah terpencil. Bagi masyarakat di wilayah perbatasan, konektivitas juga menjadi instrumen penting dalam menjaga kedaulatan dan memperkuat identitas nasional.

    Fadilah Mathar menekankan bahwa setiap organisasi membutuhkan tujuan besar yang menjadi identitas bersama. Di BAKTI, tujuan tersebut diwujudkan dalam komitmen melayani wilayah 3T. Hal ini selaras dengan program prioritas pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital di seluruh Indonesia.

    Meski memiliki kemiripan semangat dengan perusahaan antariksa global, tantangan yang dihadapi BAKTI berbeda secara fundamental. Jika SpaceX berhadapan dengan gravitasi bumi dan ruang angkasa, BAKTI berhadapan dengan kondisi geografis Indonesia yang menantang, mulai dari pegunungan, hutan lebat, hingga pulau-pulau terpencil. Namun, semangat untuk melayani dan menghubungkan masyarakat Indonesia tetap menjadi pendorong utama.

    Ke depan, BAKTI akan terus mengembangkan program-program konektivitas untuk memastikan tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang terisolasi secara digital. Dengan semangat 3T yang telah menjadi budaya kerja, lembaga ini optimistis dapat mewujudkan visi Indonesia Digital yang inklusif dan merata.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi dan keamanan digital, penting juga untuk waspada terhadap berbagai modus penipuan online yang semakin canggih, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Love Scam. Selain itu, perkembangan platform media sosial seperti Bluesky yang siap meluncurkan fitur komunitas baru juga patut diikuti.

    Dengan semangat yang sama seperti karyawan SpaceX yang bermimpi ke Mars, para pegawai BAKTI siap berangkat ke wilayah 3T kapan pun dibutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa misi besar dapat menyatukan dan menggerakkan sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang tampaknya mustahil.

  • YouTube Aktifkan Fitur Pesan Pribadi Setelah Sembilan Tahun

    YouTube Aktifkan Fitur Pesan Pribadi Setelah Sembilan Tahun

    JBNews.id — YouTube kembali menghadirkan fitur pesan pribadi di dalam aplikasi setelah menghentikannya pada 2019. Platform berbagi video milik Google itu mulai memperluas fitur berbagi video dan pesan pribadi ke pengguna di Amerika Serikat dan “wilayah global lainnya” yang berusia 18 tahun ke atas.

    Dalam pengumuman di blog resminya, YouTube menyatakan bahwa fitur ini merupakan salah satu permintaan paling populer dari pengguna. “Komunitas kami suka berbagi video dengan teman dan keluarga, dan kami ingin mereka bisa melakukannya di satu tempat,” tulis YouTube dalam pernyataan resmi yang dikutip JBNews.id.

    YouTube pertama kali memperkenalkan fitur pesan pribadi pada 2017, tetapi hanya bertahan dua tahun sebelum dihentikan. Saat itu, perusahaan memilih untuk fokus pada percakapan publik melalui fitur Stories yang mirip Instagram, yang kemudian juga dihapus pada 2023. Uji coba terbaru fitur perpesanan ini dimulai pada November 2025.

    Mekanisme dan Persyaratan Akses

    Sistem baru ini memiliki beberapa perbedaan signifikan dibandingkan versi sebelumnya. Pengguna diwajibkan melakukan verifikasi usia sebelum dapat mengakses fitur tersebut. Selain itu, pengguna hanya bisa memulai percakapan setelah mengirimkan tautan undangan melalui platform perpesanan pihak ketiga.

    Fitur obrolan dapat diakses dengan mengetuk ikon “Messages” di pojok kanan atas aplikasi YouTube, yang kemudian akan menyediakan tautan undangan. Cara kerja sistem ini menunjukkan bahwa YouTube berusaha membatasi komunikasi hanya dengan orang-orang yang sudah dikenal, bukan mendorong percakapan antar pengguna acak.

    “Baik itu video musik baru, tutorial yang bermanfaat, atau Short yang lucu, pembaruan ini akan memberi pengguna cara baru untuk berbagi langsung di tempat mereka menonton,” jelas YouTube dalam pernyataannya.

    Kebijakan dan Keamanan

    YouTube menegaskan bahwa Pedoman Komunitas akan berlaku untuk semua konten dan pesan yang dibagikan menggunakan fitur ini. Perusahaan juga menyatakan sedang berupaya untuk memperluas jangkauan fitur “lebih jauh lagi dalam waktu dekat.”

    Kebijakan keamanan yang ketat ini sejalan dengan tren industri teknologi yang semakin memperhatikan perlindungan pengguna muda. Dalam konteks yang lebih luas, platform digital terus beradaptasi dengan regulasi perlindungan data dan keselamatan pengguna.

    Dampak bagi Pengguna dan Ekosistem YouTube

    Kembalinya fitur pesan pribadi menandai perubahan strategi YouTube dalam menghadapi persaingan dengan platform berbagi konten lainnya. Selama bertahun-tahun, pengguna harus meninggalkan aplikasi YouTube untuk berbagi video melalui WhatsApp, Telegram, atau platform perpesanan lainnya.

    Dengan hadirnya fitur ini, pengguna kini dapat berbagi video dan berdiskusi tanpa harus berpindah aplikasi. Hal ini berpotensi meningkatkan waktu yang dihabiskan pengguna di dalam ekosistem YouTube, sekaligus memberikan data berharga bagi perusahaan tentang preferensi konten pengguna.

    Namun, pembatasan usia 18+ dan sistem undangan menunjukkan bahwa YouTube masih berhati-hati. Langkah ini berbeda dengan pendekatan YouTuber Nekat yang kerap mengambil risiko dalam konten mereka.

    Implikasi untuk Pengguna Indonesia

    Meskipun peluncuran awal hanya mencakup Amerika Serikat dan beberapa wilayah global lainnya, pengguna di Indonesia kemungkinan akan mendapatkan akses dalam waktu dekat. YouTube menyatakan komitmennya untuk memperluas fitur “lebih jauh lagi.”

    Bagi pengguna Indonesia yang terbiasa berbagi video YouTube melalui WhatsApp atau platform lokal, fitur ini bisa menjadi alternatif yang lebih praktis. Namun, verifikasi usia mungkin menjadi tantangan tersendiri mengingat aturan pembatasan usia untuk platform digital di Indonesia.

    Keputusan YouTube untuk menghidupkan kembali fitur perpesanan ini juga relevan dengan tren industri yang terus berubah. Sementara beberapa platform seperti Honor X5c Plus fokus pada perangkat keras, YouTube memilih untuk memperkuat fitur sosial di platformnya.

    Dari sisi bisnis, langkah ini dapat memperkuat posisi YouTube dalam persaingan dengan TikTok dan Instagram yang sudah memiliki fitur perpesanan terintegrasi. Dengan menyediakan cara baru untuk berinteraksi, YouTube berharap dapat mempertahankan pengguna yang selama ini beralih ke platform lain untuk berbagi konten.

    Kembalinya fitur ini juga menunjukkan bahwa YouTube mendengarkan masukan pengguna. Setelah menguji coba kemampuan perpesanan pada November 2025 dan menyebutnya sebagai “permintaan fitur teratas,” perusahaan akhirnya memutuskan untuk menghidupkan kembali layanan yang sempat dihapus.

  • Tenaga Surya AS Kalahkan Batu Bara Pertama Kalinya di Mei 2026

    Tenaga Surya AS Kalahkan Batu Bara Pertama Kalinya di Mei 2026

    JBNews.id — Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika Serikat, pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan lebih banyak listrik dibandingkan batu bara pada Mei 2026. Data dari lembaga riset energi global Ember menunjukkan bahwa energi surya menyumbang 12,8 persen dari seluruh pembangkit listrik AS, sementara batu bara hanya 12,2 persen.

    “Rekor ini bisa terpecahkan lagi pada bulan-bulan musim panas mendatang,” demikian catatan Ember dalam laporannya. Capaian ini menjadi tonggak sejarah yang menegaskan pergeseran fundamental dalam bauran energi Amerika Serikat.

    Penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik telah menurun drastis, hampir setengahnya dalam lima tahun terakhir saja. Sebaliknya, jumlah energi surya yang dihasilkan meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama.

    “Mengalahkan batu bara untuk pertama kalinya dalam satu bulan menunjukkan seberapa jauh energi surya telah berkembang, dari kontributor kecil menjadi sumber listrik terbesar ketiga dan dengan pertumbuhan tercepat di sistem kelistrikan AS,” ujar analis data senior Ember, Nicolas Fulghum, dalam pernyataan resminya.

    Kontras dengan Kebijakan Pemerintahan Trump

    Pencapaian ini terjadi di tengah langkah kontroversial pemerintahan Trump yang justru menggelontorkan dana federal sebesar 700 juta dolar AS untuk industri batu bara. Departemen Energi AS membatalkan rencana penutupan lima pembangkit batu bara tua, dan mendanai pembangunan pembangkit baru di Alaska dan West Virginia.

    Ironisnya, pendanaan untuk inisiatif yang dipertanyakan ini berasal dari anggaran Kongres yang semula dialokasikan untuk mengurangi emisi karbon dioksida. Batu bara merupakan bahan bakar fosil paling padat karbon yang menghasilkan polusi beracun dalam jumlah besar. Penambangan terbuka di AS juga sangat merusak lingkungan, mencabut seluruh ekosistem.

    Efisiensi dan Produksi Massal Dorong Popularitas Surya

    Popularitas energi surya melonjak berkat peningkatan efisiensi yang signifikan dan terobosan dalam manufaktur. China memainkan peran dominan, kini mewakili 80 persen produksi panel surya global. Keunggulan biaya produksi ini membuat panel surya semakin terjangkau dan mudah diadopsi secara massal.

    Dalam konteks global, transisi energi surya juga menjadi topik hangat. Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan teknologi terkini, simak liputan kami tentang Daftar Game terbaru atau Microsoft Build 2026 yang menghadirkan inovasi AI dan chip quantum.

    Sementara itu, fokus pemerintahan Trump untuk menghidupkan kembali batu bara berisiko membuat AS semakin tertinggal dalam energi terbarukan. Mendukung energi surya saat ini sangat masuk akal — membuat upaya pemerintahan Trump untuk mendukung apa yang disebut “batu bara bersih” semakin membingungkan.

    Di sisi lain, perkembangan energi surya yang pesat juga berdampak pada sektor lain. Kenaikan biaya energi di beberapa daerah, seperti yang dilaporkan dalam artikel Biaya Sampah Naik di Bandung, menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi. Sementara itu, Harga BBM Pertamina yang baru-baru ini turun juga menjadi indikator dinamika energi nasional.

    Implikasinya jelas: investasi pada energi surya bukan sekadar pilihan ramah lingkungan, melainkan keputusan ekonomi yang cerdas di tengah penurunan biaya produksi dan peningkatan efisiensi yang masif. Bagi pembaca, pergeseran ini berarti potensi penurunan biaya listrik jangka panjang dan berkurangnya ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif.

  • XLSmart-Komdigi Luncurkan DigiHer, Target 2,4 Juta Perempuan Melek Digital

    XLSmart-Komdigi Luncurkan DigiHer, Target 2,4 Juta Perempuan Melek Digital

    JBNews.id — XLSmart bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi meluncurkan DigiHer, sebuah fitur terbaru dalam aplikasi Sisternet yang dirancang khusus untuk memperluas akses pembelajaran digital bagi perempuan Indonesia. Program ini menargetkan digitalisasi 2,4 juta perempuan pada 2026 dan terintegrasi dengan program Digital Talent Scholarship (DTS) Komdigi.

    Peluncuran DigiHer berlangsung di acara Bravo 500 Summit 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menekankan pentingnya peningkatan literasi dan keterampilan digital perempuan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemberdayaan perempuan di Indonesia.

    “Peningkatan literasi dan keterampilan digital perempuan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat pemberdayaan perempuan di Indonesia. Perempuan perlu mendapatkan akses yang setara terhadap pengetahuan, teknologi, dan peluang ekonomi digital agar dapat berkontribusi lebih besar bagi keluarga, komunitas, dan pembangunan nasional,” ujar Meutya.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin membuka XLSmart Bravo 500 Summit di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Hadir pula sejumlah direksi dan komisaris XLSmart.

    Data terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan masih adanya kesenjangan akses digital antara laki-laki dan perempuan. Penetrasi internet pada laki-laki mencapai 82,7%, sementara perempuan hanya 78,6%. Selisih 4,1% ini menjadi dasar urgensi diluncurkannya program-program literasi digital yang menyasar perempuan.

    Melalui platform DigiHer, pengguna dapat mengakses berbagai materi pembelajaran mulai dari literasi digital dasar, keamanan digital, kecerdasan buatan (AI), digital marketing, personal branding, kewirausahaan digital, hingga pengembangan karier. Konten-konten ini tersedia secara on-demand melalui aplikasi Sisternet yang sudah dikenal luas sebagai ekosistem pemberdayaan digital perempuan.

    Ekosistem Pembelajaran Digital untuk Perempuan

    Direktur & Chief Regulatory Officer XLSmart Merza Fachys menjelaskan bahwa DigiHer merupakan kelanjutan dari gerakan 1 Juta Sister Digital yang selama ini dijalankan XLSmart melalui Sisternet. Pada tahap awal peluncuran, platform ini menghadirkan ratusan materi pembelajaran hasil kurasi Sisternet yang terintegrasi dengan program Digital Talent Scholarship Komdigi.

    “Kami percaya bahwa transformasi digital yang inklusif membutuhkan akses pembelajaran yang mudah dijangkau, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Merza.

    Program DigiHer tidak hanya menyediakan konten edukasi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem Sisternet yang lebih luas. Ekosistem ini mencakup komunitas belajar, webinar, mentoring, networking, hingga informasi peluang pengembangan karier. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kompetensi digital perempuan Indonesia.

    Sasaran program ini sangat luas, mencakup seluruh perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang. Mulai dari pelajar, mahasiswa, profesional, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pekerja informal, hingga ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan kemampuan digital mereka.

    Menurut Merza, peningkatan kompetensi digital perempuan akan memberikan dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar peningkatan kemampuan individu. “Dengan dukungan ekosistem Sisternet, kolaborasi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, serta jaringan XLSmart yang terus diperkuat, kami berharap DigiHer dapat menjadi ruang belajar digital yang mendorong perempuan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga kreator, pemimpin, dan bagian dari talenta digital masa depan,” tutur Merza.

    Dukungan Infrastruktur dan Target Jangka Panjang

    Sebagai perusahaan digital connectivity, XLSmart juga menegaskan komitmennya memperluas akses digital melalui penguatan jaringan 4G dan pengembangan 5G Blanket di berbagai wilayah Indonesia. Operator seluler ini menilai konektivitas yang kuat menjadi faktor penting agar layanan pembelajaran digital seperti DigiHer dapat diakses lebih luas oleh perempuan di berbagai daerah, termasuk wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pelatihan digital.

    Ke depan, XLSmart dan Komdigi berencana terus mengembangkan DigiHer melalui penambahan materi pembelajaran, program sertifikasi, mentoring, komunitas belajar, hingga peluang pengembangan karier yang disesuaikan dengan kebutuhan industri digital yang terus berkembang. Target digitalisasi 2,4 juta perempuan pada 2026 menjadi acuan utama dalam pengembangan program ini.

    Peluncuran DigiHer di Bravo 500 Summit 2026 juga menjadi momen penting bagi XLSmart untuk menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi digital yang inklusif. Dalam kesempatan yang sama, perusahaan juga membahas berbagai inisiatif terkait kecerdasan buatan dan digitalisasi sektor korporasi melalui program-program seperti ESTA Prime.

    Dengan hadirnya DigiHer, perempuan Indonesia kini memiliki akses yang lebih mudah dan terstruktur untuk meningkatkan kompetensi digital mereka. Platform ini menjadi jembatan bagi perempuan untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga berperan aktif sebagai kreator dan pemimpin di era digital.

    Bagi perempuan Indonesia yang ingin bergabung, program DigiHer dapat diakses melalui aplikasi Sisternet yang tersedia di platform Android dan iOS. Seluruh materi pembelajaran dapat diakses secara gratis sebagai bagian dari komitmen XLSmart dan Komdigi dalam mempercepat pengembangan talenta digital perempuan Indonesia.

  • XLSmart Satukan AI, Cloud, dan 5G untuk Akselerasi Digital Korporasi

    XLSmart Satukan AI, Cloud, dan 5G untuk Akselerasi Digital Korporasi

    JBNews.id — XLSmart resmi meluncurkan Esta Ecosystem, platform digital terintegrasi yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI), cloud, data platform, keamanan siber, hingga jaringan 5G untuk mempercepat transformasi digital korporasi di Indonesia.

    Solusi tersebut diperkenalkan melalui XLSmart for Business dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 yang mempertemukan ratusan pemimpin bisnis dan korporasi di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Ajang yang memasuki tahun ke-2 ini berhasil mengumpulkan para pelaku usaha dari berbagai bidang yang beroperasi di Tanah Air.

    Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, mengatakan transformasi digital yang berhasil tidak cukup hanya mengandalkan adopsi teknologi. Perusahaan juga membutuhkan fondasi konektivitas, pengelolaan data, dan pemanfaatan AI yang mampu memberikan dampak nyata terhadap bisnis.

    “Transformasi digital yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Perusahaan membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat, kemampuan mengelola data secara efektif, serta pemanfaatan AI dan otomasi yang mampu menghasilkan dampak bisnis yang nyata,” ujar Andrijanto di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Lima Pilar Solusi Digital Terintegrasi

    Melalui ESTA Prime, ESTA eco, ESTA connect 5G, ESTA vision, dan ESTA agent, XLSmart for Business hadir sebagai mitra yang membantu pelanggan meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan membangun organisasi yang lebih adaptif di atas fondasi jaringan 5G XLSmart yang terus diperluas secara nasional.

    Dalam ekosistem tersebut, ESTA Prime menjadi platform utama yang mengintegrasikan berbagai layanan digital dalam satu sistem terpadu. Solusi ini menghubungkan data, teknologi, dan operasional bisnis sehingga perusahaan dapat mengelola transformasi digital secara lebih efisien dan terukur.

    ESTA Prime mencakup berbagai kapabilitas seperti AI, data platform, data visualization, cloud, cybersecurity, Industrial IoT, interconnect hub, connectivity, hingga advanced managed services.

    Para pengunjung memadati booth pameran, diskusi dan talkshow pada ajang XLSmart Bravo 500 Summit di Jakarta, Kamis (11/2/6/2026). Ini adalah forum tahunan edisi kedua yang mempertemukan industri, pemerintah, akademisi dan mitra teknologi di Indonesia. ‘Solusi untuk Korporasi, Solusi untuk Negeri’ jadi tema yang dipilih dalam acara B2B yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Event ini mengundang 2.000 partisipan untuk membahas pemanfaatan AI, data, konektivitas dan teknologi digital.

    XLSmart juga memperkuat platform tersebut dengan AI-ready architecture, GPU Cluster untuk pengembangan AI dan machine learning, serta Experience Operation Center (XoC) yang memungkinkan pelanggan memantau seluruh layanan digital secara real time melalui satu pusat kendali.

    Mitra Strategis untuk Transformasi Kompleks

    Melalui pengembangan ekosistem enterprise tersebut, operator seluler ini ingin memperkuat posisinya sebagai mitra strategis korporasi dalam menghadapi percepatan transformasi digital yang semakin kompleks. Langkah ini sejalan dengan target perusahaan untuk memperbesar kontribusi segmen enterprise terhadap pendapatan total, sebagaimana dibahas dalam artikel terkait.

    Sementara itu, Chief Product Partnership & Business Development XLSmart, Tony Wijaya, mengatakan perusahaan ingin hadir lebih jauh dari sekadar penyedia konektivitas.

    “Kami tidak berhenti di konektivitas. Melalui ekosistem Esta, XLSmart for Business hadir di setiap lapisan kebutuhan digital perusahaan – dari konektivitas 5G, analitik visual, otomasi layanan, hingga platform enterprise terintegrasi. Kami ingin menjadi mitra yang benar-benar membantu pelanggan membangun organisasi yang lebih cerdas dan siap menghadapi persaingan,” kata Tony.

    Peluncuran Esta Ecosystem ini menandai babak baru bagi XLSmart dalam menggarap segmen enterprise. Dengan menggabungkan AI, cloud, dan 5G dalam satu ekosistem terpadu, perusahaan menawarkan solusi yang tidak hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga kecerdasan data dan otomasi operasional.

    Bagi korporasi yang sedang menjalani transformasi digital, kehadiran platform semacam ini menjadi krusial. Perusahaan tidak lagi harus mengintegrasikan berbagai solusi dari vendor berbeda secara manual. Sebaliknya, mereka dapat mengandalkan satu ekosistem yang sudah dirancang untuk saling terhubung dan bekerja secara sinergis.

    Implikasinya jelas: efisiensi operasional meningkat, waktu implementasi lebih cepat, dan dampak bisnis lebih terukur. Inilah yang ditawarkan XLSmart melalui Esta Ecosystem — sebuah lompatan dari sekadar penyedia infrastruktur menjadi mitra strategis transformasi digital korporasi di Indonesia.