Category: Tekno

  • Drone AI Bunuh Manusia Pertama Kali di Medan Perang Ukraina

    Drone AI Bunuh Manusia Pertama Kali di Medan Perang Ukraina

    JBNews.id — Dunia mencatat tonggak kelam baru: untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah senjata robot otonom penuh telah menewaskan manusia di medan perang. Peristiwa ini terjadi di garis depan perang Rusia-Ukraina dan diakui oleh pembuat drone Ukraina, Alexander Kokhanovskyy, dalam wawancara eksklusif dengan New Scientist. Insiden ini sengaja dirahasiakan selama dua tahun.

    Menurut Kokhanovskyy, drone yang digunakan adalah quadcopter yang dirancang untuk meluncur ke garis depan, berpatroli di sekitar perimeter selama sekitar 10 menit, lalu masuk ke mode “terminator”. Dalam mode ini, model AI yang tidak disebutkan namanya secara otomatis mencari dan menyerang target manusia. Operasi tersebut digambarkan sebagai sebuah “ujicoba” oleh tentara Ukraina.

    Drone itu dilepaskan dan berhasil mengidentifikasi serta menyerang “beberapa tentara” Rusia dan “satu truk”. Serangan itu dikonfirmasi setelahnya oleh drone lain yang dikemudikan manusia untuk memindai area terdampak. “Kami tinggal luncurkan dan kami tahu semuanya akan mati — semua yang ditemukan di area khusus itu akan mati,” ujar Kokhanovskyy kepada New Scientist.

    Ia menambahkan bahwa tidak ada koneksi sama sekali ke drone tersebut. Operator tidak bisa melihat video dan tidak bisa mengendalikan apa pun. “Semua yang dilihatnya akan dibunuh,” tegasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa drone beroperasi sepenuhnya secara otonom tanpa campur tangan manusia dalam proses penargetan dan serangan.

    Meski ini adalah serangan pertama yang dikonfirmasi, militer dunia sebenarnya sudah mendekati titik ini sejak lama. Pasukan Pertahanan Israel, misalnya, telah lama menggunakan drone bunuh diri yang berpatroli di berbagai zona demarkasi di Palestina. Namun, klaim resmi selalu menyebutkan bahwa drone tersebut masih mengandalkan operator manusia untuk menarik pelatuk.

    Lebih baru lagi, operator militer AS menggunakan sistem AI milik Anthropic, yaitu Claude, untuk memilih target pengeboman di Iran. Meskipun pejabat berargumen bahwa ada operator manusia yang terlibat, penggunaan sistem ini diduga berperan dalam penghancuran brutal sekolah perempuan Shajareh Tayyebeh. Serangan itu menewaskan 168 anak-anak, guru, dan staf sekolah.

    Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan peperangan dan etika penggunaan AI dalam konteks militer. Kokhanovskyy sendiri mengakui bahwa umat manusia telah melewati ambang batas yang tidak bisa dikembalikan lagi. “Kami tinggal luncurkan dan kami tahu semuanya akan mati,” katanya, menggambarkan betapa mudahnya senjata otonom ini digunakan.

    Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini juga menyoroti bagaimana teknologi AI yang awalnya dikembangkan untuk tujuan sipil, seperti yang terlihat pada Fitur Terbaru di berbagai perangkat konsumen, kini disalahgunakan untuk tujuan perang. Perkembangan teknologi yang seharusnya mempermudah hidup manusia justru berubah menjadi alat pemusnah massal.

    Implikasi Etis dan Regulasi

    Insiden ini membuka kembali perdebatan tentang perlunya regulasi internasional yang ketat terhadap senjata otonom. Banyak organisasi hak asasi manusia dan pakar etika teknologi telah lama memperingatkan bahaya memberikan kewenangan memutuskan hidup dan mati kepada mesin. Tanpa pengawasan manusia, risiko kesalahan identifikasi target dan korban sipil menjadi sangat tinggi.

    Kasus di Ukraina ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah ada dan digunakan secara nyata, bukan lagi sekadar skenario fiksi ilmiah. Dunia kini harus menghadapi kenyataan bahwa senjata pembunuh otonom sudah menjadi bagian dari medan perang modern. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana komunitas internasional akan merespons.

    Pemerintah di berbagai negara kini berada di bawah tekanan untuk segera merumuskan kebijakan yang jelas tentang penggunaan AI dalam operasi militer. Beberapa negara bahkan sudah mulai mengembangkan sistem serupa, menciptakan perlombaan senjata baru yang sangat berbahaya. Tanpa kesepakatan global, risiko penyalahgunaan teknologi ini akan terus meningkat.

    Masa Depan Peperangan

    Dengan diakuinya insiden ini secara terbuka, dunia kini memasuki era baru dalam sejarah peperangan. Drone otonom yang mampu memutuskan target tanpa campur tangan manusia akan mengubah dinamika konflik bersenjata secara fundamental. Biaya perang mungkin akan berkurang, tetapi konsekuensi kemanusiaannya justru semakin mengerikan.

    Para ahli memperkirakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan senjata otonom akan semakin meluas. Negara-negara dengan kemampuan teknologi tinggi akan memiliki keunggulan signifikan, sementara negara berkembang mungkin akan tertinggal. Ketimpangan ini bisa menimbulkan ketidakstabilan global yang baru.

    Bagi masyarakat sipil, implikasinya sangat jelas: risiko menjadi korban kesalahan sistem AI semakin nyata. Tanpa jaminan bahwa sistem tersebut dapat membedakan kombatan dan non-kombatan dengan akurat, setiap konflik bersenjata di masa depan berpotensi menimbulkan korban jiwa yang jauh lebih besar di kalangan warga sipil.

    Kokhanovskyy mungkin benar bahwa ambang batas sudah terlewati. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah umat manusia bisa belajar dari kesalahan ini sebelum terlambat. Regulasi, transparansi, dan pengawasan internasional menjadi kunci untuk mencegah penyalahgunaan teknologi ini lebih lanjut.

    Peristiwa di Ukraina ini bukan hanya tentang satu serangan drone. Ini adalah peringatan bagi seluruh dunia tentang bahaya teknologi yang lepas kendali. Jika tidak ada tindakan nyata, bukan tidak mungkin insiden serupa akan terulang di tempat lain dengan skala yang lebih besar.

    Dunia teknologi, yang selama ini fokus pada inovasi untuk kenyamanan hidup, kini harus menghadapi sisi gelap dari ciptaannya. AI yang seharusnya membantu manusia justru digunakan untuk membunuh. Ini adalah momentum bagi para pengembang, regulator, dan masyarakat global untuk bersama-sama menentukan batasan etis yang tidak boleh dilanggar.

  • Tesla Tabrak Garasi Akibat Mode Autopilot di Washington

    Tesla Tabrak Garasi Akibat Mode Autopilot di Washington

    JBNews.id — Sebuah Tesla menabrak pintu garasi rumah warga di Redmond, Washington, pada Senin pagi waktu setempat. Pengemudi mengklaim mode Autopilot pada kendaraannya mengalami kegagalan fungsi sebelum kecelakaan terjadi.

    Insiden ini dilaporkan oleh King 5 News dan dikonfirmasi oleh Departemen Kepolisian Redmond melalui unggahan di platform X. Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Beruntung, tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut dan tidak ditemukan indikasi pengemudi dalam keadaan mabuk.

    Foto dari lokasi kejadian menunjukkan Tesla berwarna merah tersangkut di pintu garasi yang hancur. Seorang petugas polisi terlihat mendokumentasikan pemandangan tersebut untuk keperluan investigasi resmi.

    Klaim Pengemudi soal Mode Autopilot

    Menurut laporan King 5 News, pengemudi menyatakan bahwa mode mengemudi otonom Tesla mengalami malfungsi sebelum menabrak garasi. Pelaporan tersebut menyebut sistem yang dimaksud adalah “autopilot system,” bukan Autopilot yang merupakan sistem mengemudi yang lebih sederhana atau Full Self-Driving (Supervised) yang merupakan fitur lebih canggih milik Tesla.

    Full Self-Driving (Supervised) sebenarnya adalah nama yang keliru karena sistem ini belum mampu mengemudi sepenuhnya secara mandiri dan tetap memerlukan pengawasan konstan dari pengemudi. Jika perangkat lunak Tesla benar-benar menjadi penyebab kecelakaan, mudah untuk melihat bagaimana pengemudi mungkin terlena dengan rasa aman yang palsu.

    Perangkat lunak Tesla memang memiliki rekam jejak yang buruk dalam hal penyimpangan mendadak. Mobil yang menjalankan Full Self-Driving diketahui sering bermanuver tidak terduga, termasuk kasus menabrak pagar atau trotoar. Sebelumnya, Fitur Terbaru Tesla juga menjadi sorotan karena janji yang belum terealisasi.

    Rekam Jejak Masalah Autopilot Tesla

    Insiden di Redmond bukanlah kasus pertama yang melibatkan sistem mengemudi otonom Tesla. Mobil yang menggunakan Full Self-Driving memiliki kecenderungan untuk melaju ke jalur kereta yang melintas. Federal regulators bahkan meluncurkan investigasi menyeluruh terhadap fenomena yang disebut sebagai “death-drive” ini.

    Awal tahun ini, seorang insinyur SpaceX membagikan rekaman yang menunjukkan bagaimana FSD tiba-tiba berbelok dan mencoba melaju langsung ke danau, memaksa pengemudi untuk melakukan intervensi pada saat-saat terakhir. Rekaman tersebut menunjukkan betapa berbahayanya kegagalan sistem yang tidak terduga.

    Sementara itu, Waymo juga menarik mobil otonomnya dari jalan bebas hambatan setelah salah satu kendaraannya melarikan diri dari polisi dengan membawa pasangan yang ketakutan di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi mengemudi otonom dari berbagai perusahaan masih menghadapi tantangan serius.

    Di sisi lain, pengguna Tesla di China juga menunjukkan kreativitas yang tidak biasa. Beberapa pemilik Tesla menggunakan kepala palsu untuk mengakali kamera pengawas di dalam kabin. Tindakan ini menjadi sorotan karena menunjukkan upaya untuk menghindari pemantauan saat menggunakan fitur Kamera Pengawas Tesla.

    Dampak bagi Pengguna Teknologi Otonom

    Kasus tabrakan di Redmond menjadi pengingat bahwa teknologi mengemudi otonom masih jauh dari sempurna. Meskipun Tesla terus mengembangkan sistem Full Self-Driving, insiden semacam ini menunjukkan bahwa pengemudi tidak boleh sepenuhnya mengandalkan perangkat lunak untuk mengemudi.

    Investigasi oleh Kepolisian Redmond masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan. Hasil investigasi ini akan menjadi penting bagi pengguna Tesla dan regulator yang mengawasi keamanan kendaraan otonom.

    Bagi pengemudi Tesla, insiden ini menegaskan pentingnya tetap waspada meskipun fitur Autopilot atau Full Self-Driving aktif. Keselamatan tetap menjadi tanggung jawab pengemudi, bukan sepenuhnya pada perangkat lunak kendaraan.

    Perusahaan lain seperti Rivian juga menghadapi tekanan untuk membuktikan keandalan teknologinya. Masa Depan Perusahaan Rivian sendiri bergantung pada keberhasilan model R2 yang akan datang.

    Sementara itu, Google memesan 3 juta chip AI ke Intel, menunjukkan pergeseran dalam rantai pasokan teknologi global. TSMC Mulai Tergeser dari posisi dominannya sebagai pemasok chip utama.

    IPO SpaceX juga diprediksi akan menjadikan Elon Musk sebagai triliuner pertama dunia. Elon Musk Triliuner pertama akan menjadi tonggak sejarah dalam dunia bisnis dan teknologi.

    Implikasi dari insiden ini jelas: teknologi mengemudi otonom masih memerlukan pengawasan ketat dan pengembangan lebih lanjut. Bagi pembaca, pesan utamanya adalah jangan pernah mengandalkan sepenuhnya pada sistem otonom saat ini. Keselamatan di jalan raya tetap membutuhkan kewaspadaan manusia.

  • Visa Integrasi ChatGPT untuk Transaksi AI Otonom

    Visa Integrasi ChatGPT untuk Transaksi AI Otonom

    JBNews.id — Visa mengintegrasikan jaringan pembayarannya ke dalam ChatGPT, memungkinkan kecerdasan buatan (AI) menyelesaikan transaksi secara otonom atas nama pengguna. Langkah ini menandai babak baru dalam perdagangan digital yang sepenuhnya digerakkan oleh AI.

    Keputusan yang diumumkan pada Rabu (Juni 2026) ini memungkinkan chatbot AI tidak hanya merekomendasikan produk, tetapi juga memproses pembayaran menggunakan kartu Visa. Sebelumnya, meskipun teknologi AI untuk rekomendasi produk sudah lazim, proses checkout tetap membutuhkan persetujuan manual dari manusia. Kini, dengan integrasi ini, hambatan tersebut dihilangkan.

    Jack Forestell, chief product and strategy officer Visa, mengilustrasikan potensi fitur ini. Seorang pelanggan cukup meminta AI untuk mencarikan headphone nirkabel di bawah USD 150. Chatbot kemudian akan mencari produk yang sesuai kriteria dan langsung membelinya.

    “Saya pikir kita kini berada di titik di mana kebanyakan orang sudah sangat nyaman dengan aspek belanja dan menganggapnya sebagai pengalaman penemuan yang unggul,” ujar Forestell kepada Associated Press (AP). Namun, ia mengakui bahwa transisi dari AI yang merekomendasikan produk menjadi AI yang benar-benar membelikannya “membutuhkan tingkat kepercayaan yang sangat berbeda.”

    Inovasi ini merupakan kemenangan signifikan bagi perusahaan AI yang selama lebih dari setahun gencar mendorong pengalaman belanja berbasis AI. Dengan munculnya AI agent, perusahaan seperti OpenAI telah mempromosikan kemampuan model otonom untuk menangani seluruh proses belanja, mulai dari memilih produk hingga mengatur detail pengiriman, cukup dari satu perintah.

    Hingga saat ini, hanya sedikit vendor yang menerima pesanan yang diajukan melalui ChatGPT. Fitur Instant Checkout OpenAI, yang memungkinkan pengguna memesan langsung di antarmuka chatbot, bahkan dihentikan awal tahun ini. Kini, kolaborasi dengan Visa membuat Instant Checkout terlihat sederhana jika dibandingkan.

    Meskipun revolusioner, potensi penyalahgunaan tidak bisa diabaikan. Layanan pemeriksa penipuan Ask Silver baru-baru ini menemukan bahwa ChatGPT merekomendasikan tiruan palsu dari toko asli yang dirancang untuk mencuri uang dan data perbankan pengguna. Kekhawatiran muncul bahwa AI yang diberi kebebasan berbelanja dengan uang sungguhan akan rentan tertipu oleh skema penipuan, terutama karena semakin banyak bagian internet yang dioptimalkan untuk menjebak chatbot agar merekomendasikan produk tertentu.

    Visa berjanji akan serius menangani masalah keamanan ini. “Seiring AI agent menjadi partisipan aktif dalam ekonomi, fokus Visa adalah memastikan transaksi tepercaya, aman, dan mulus,” tegas Forestell kepada AP.

    Integrasi ini membuka era baru di mana AI tidak lagi sekadar asisten, melainkan agen yang bertindak atas nama pemilik rekening. Dampaknya terhadap perilaku konsumen dan lanskap keamanan siber akan menjadi fokus utama dalam waktu dekat. Bagi pengguna, kemudahan ini datang dengan risiko baru yang membutuhkan kewaspadaan ekstra. Untuk menghadapi tantangan ini, pemahaman tentang keamanan data menjadi krusial, terutama di tengah maraknya tren AI baru yang bermunculan.

    Langkah Visa ini juga berpotensi mengubah cara kita memandang otoritas finansial. Jika sebelumnya keputusan pembelian sepenuhnya ada di tangan manusia, kini AI agent diberi wewenang untuk mengambil keputusan finansial secara independen. Hal ini menimbulkan pertanyaan fundamental tentang batas kepercayaan antara manusia dan mesin dalam urusan uang.

    Visa, sebagai raksasa pembayaran global, tampaknya yakin bahwa masa depan transaksi ada pada AI otonom. Keberhasilan atau kegagalan inisiatif ini akan menjadi tolok ukur bagi industri pembayaran dan e-commerce secara keseluruhan. Jika berhasil, kita bisa menyaksikan adopsi massal AI agent dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari belanja bahan makanan hingga pembayaran tagihan bulanan.

    Namun, jalan menuju adopsi massal masih panjang. Selain masalah keamanan, ada pula isu regulasi yang harus dihadapi. Otoritas keuangan di berbagai negara kemungkinan akan meninjau kembali kerangka hukum yang ada untuk mengakomodasi transaksi yang dilakukan oleh AI. Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan pembayaran atau penipuan masih belum terjawab.

    Bagi konsumen, fitur ini menawarkan kenyamanan yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, para ahli mengingatkan untuk tetap berhati-hati. Seperti halnya memberikan kartu kredit kepada orang lain, memberikan akses penuh kepada AI untuk bertransaksi membutuhkan pertimbangan matang. Pengguna disarankan untuk menetapkan batasan belanja yang jelas dan memantau transaksi secara berkala.

    Dari sisi bisnis, integrasi ini membuka peluang baru bagi para pedagang. Mereka kini dapat menjangkau konsumen melalui jalur yang sepenuhnya baru, yaitu melalui rekomendasi dan pembelian yang dilakukan oleh AI. Ini bisa menjadi terobosan dalam strategi pemasaran dan penjualan, terutama untuk produk-produk yang mudah distandarisasi.

    Perusahaan rintisan dan pelaku e-commerce perlu bersiap menghadapi perubahan ini. Kemampuan untuk diintegrasikan dengan AI agent bisa menjadi faktor pembeda di pasar yang semakin kompetitif. Sementara itu, platform pembayaran lain mungkin akan mengikuti jejak Visa untuk tidak ketinggalan dalam perlombaan teknologi ini.

    Visa dan OpenAI tampaknya telah mempertaruhkan masa depan mereka pada visi bahwa konsumen akan mempercayakan transaksi finansial kepada AI. Waktu yang akan membuktikan apakah langkah berani ini akan menjadi standar baru atau justru menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Yang jelas, garis antara rekomendasi dan eksekusi dalam dunia belanja online kini telah kabur untuk selamanya.

    Dengan semakin canggihnya teknologi AI, pertanyaan etis dan praktis akan terus bermunculan. Masyarakat perlu terlibat dalam diskusi untuk menentukan sejauh mana kita ingin memberikan kendali kepada mesin dalam aspek paling pribadi dari kehidupan kita, termasuk keuangan. Sementara itu, para pengembang dan regulator harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang aman dan tepercaya.

    Di tengah euforia teknologi, penting untuk diingat bahwa di balik setiap transaksi ada risiko yang melekat. Inovasi ini, seperti halnya teknologi baru lainnya, membawa serta tanggung jawab yang harus dikelola dengan hati-hati. Bagi pengguna, langkah terbaik adalah tetap terinformasi dan waspada. Bagi industri, ini adalah panggilan untuk berinovasi dengan keamanan sebagai prioritas utama.

    Seiring berjalannya waktu, kita akan melihat bagaimana pasar merespons inovasi ini. Apakah konsumen akan berbondong-bondong mengadopsi AI agent untuk belanja, atau justru menolak karena kekhawatiran privasi dan keamanan? Jawabannya akan menentukan arah industri e-commerce dan fintech dalam beberapa tahun ke depan.

    Satu hal yang pasti: era di mana AI bisa menggunakan kartu kredit Anda telah tiba. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda siap untuk mempercayakannya?

    Tangan robot putih memegang kartu kredit Visa hitam dengan latar belakang gradien hijau dan kuning cerah

  • Rivian R2 Jadi Penentu Masa Depan Perusahaan

    Rivian R2 Jadi Penentu Masa Depan Perusahaan

    JBNews.id — Masa depan Rivian sebagai produsen kendaraan listrik skala besar bergantung sepenuhnya pada kesuksesan model terbarunya, R2 SUV. Kegagalan R2 di pasar akan memaksa perusahaan melakukan restrukturisasi besar-besaran, termasuk mengubah model bisnis vertikal yang selama ini dibangun.

    Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh CEO Rivian, RJ Scaringe, dalam wawancara eksklusif yang dikutip dari sumber referensi. Scaringe mengakui bahwa seluruh investasi miliaran dolar yang telah dikeluarkan perusahaan—mulai dari pengembangan perangkat lunak, elektronik, silikon, motor, hingga jaringan layanan dan distribusi—dibangun dengan asumsi bahwa R2 akan menjadi produk volume tinggi.

    “Jika R2 tidak berhasil, jika R2 menjadi kegagalan, kami harus benar-benar mundur dan mengkonfigurasi ulang bisnis,” ujar Scaringe. Ia menambahkan, “Memiliki tim teknik 6.000 orang untuk menjual 50.000 kendaraan tidak masuk akal. Melakukan integrasi vertikal hingga ke silikon seperti yang kami lakukan tidak mungkin dipertahankan.”

    Tekanan Finansial dan Strategi Baru

    Rivian mencatatkan kerugian sebesar USD 3,6 miliar pada tahun 2025. Secara kumulatif, perusahaan telah membakar hampir USD 25 miliar dalam delapan tahun terakhir. Angka tersebut menjadikan Rivian sebagai salah satu produsen EV murni dengan pengeluaran terbesar di periode yang sama.

    Meski IPO Rivian pada 2021 menjadi yang terbesar di dunia dan dalam hitungan hari membawa valuasi perusahaan melampaui USD 100 miliar, performa sahamnya kini anjlok. Harga saham Rivian turun dari puncak USD 130 menjadi sekitar USD 16 per lembar. Sejak model R1 mulai dijual pada 2021, Rivian baru berhasil menjual 175.000 unit. Sebagai perbandingan, Tesla menjual 8 juta unit di periode yang sama.

    Untuk memperkuat posisinya, Volkswagen Group pada 2024 berkomitmen menggelontorkan hingga USD 5,8 miliar dalam sebuah joint venture besar untuk mengembangkan perangkat lunak dan arsitektur elektrikal bersama Rivian. Tahun ini, Uber juga mengumumkan investasi hingga USD 1,25 miliar untuk membangun dan mengerahkan hingga 50.000 robotaxi otonom penuh.

    Fasilitas Produksi dan Target Volume

    Rivian saat ini memiliki fasilitas Normal di Illinois dengan kapasitas 155.000 unit per tahun. Perusahaan juga telah memulai konstruksi pabrik baru di Georgia yang akan dibangun dalam dua fase. Awalnya, kapasitas fase pertama direncanakan 200.000 unit, namun karena respons positif terhadap R2, kapasitas ditingkatkan menjadi 300.000 unit. Pabrik Georgia ini juga akan mendukung produksi varian lain termasuk R3 dan ekspansi ke Eropa.

    Scaringe mengonfirmasi bahwa R3 akan hadir setelah R2. “Kami sangat senang melihat antusiasme semua orang terhadap R3, yang akan menjadi kendaraan luar biasa. Tapi R3 akan datang setelah R2,” katanya. Produksi R2 di jalur perakitan Georgia ditargetkan dimulai pada akhir 2028.

    Teknologi Otonom dan Persaingan dengan China

    Salah satu isu krusial adalah teknologi otonom Rivian. Pada generasi pertama R1 (Gen 1), Rivian menggunakan sistem berbasis Mobileye yang kemudian diakui Scaringe sebagai “pendekatan yang salah.” Hampir bersamaan dengan peluncuran R1, perusahaan melakukan reset total dan beralih ke sistem berbasis data flywheel yang diluncurkan pada Gen 2 di akhir 2024.

    R2 akan diluncurkan dengan teknologi yang disebut Scaringe sebagai “Gen 2.5″—lebih baik dari yang ada di R1 saat ini, namun belum mencapai kemampuan otonom penuh. Generasi berikutnya (Gen 3) akan menggunakan silikon buatan sendiri dengan kemampuan 800 triliun operasi per detik per chip, dilengkapi kamera lebih baik dan lidar. Gen 3 ini akan memungkinkan pengemudian otonom Level 3 dan Level 4 tanpa pengawasan.

    Scaringe membandingkan situasi ini dengan siklus upgrade ponsel. “Orang membeli iPhone 17 dengan pengetahuan penuh bahwa akan ada iPhone 18. Mengapa membeli iPhone 18 jika tahu akan ada iPhone 19?” ujarnya menanggapi kekhawatiran konsumen tentang teknologi yang cepat usang.

    Dalam persaingan global, Scaringe mengakui bahwa China unggul dalam hal biaya produksi. Xiaomi, yang mengumumkan akan membuat mobil pada 2021—tahun yang sama dengan peluncuran R1—sudah merilis mobil pertamanya pada 2023. “Kami memiliki beberapa kendaraan mereka. Sangat impresif,” aku Scaringe.

    Namun, Rivian memiliki keunggulan melalui joint venture dengan Volkswagen. Teknologi Rivian akan digunakan pada Volkswagen ID.1, mobil EV seharga USD 20.000 yang harus bersaing langsung dengan BYD di Eropa. “Joint venture ini memaksa kami memastikan teknologi kami di Eropa tepat bersaing melawan China,” tegas Scaringe.

    Scaringe juga menyoroti dominasi Tesla di pasar AS. “Fakta bahwa kendaraan Tesla memiliki pangsa pasar yang begitu signifikan bukanlah cerminan pasar yang sehat. Itu cerminan dari pasar yang sangat kurang terlayani,” ujarnya. Sekitar 50-60 persen pangsa pasar EV di AS hanya diisi oleh dua model: Model 3 dan Model Y. Scaringe menekankan pentingnya lebih banyak pilihan untuk mendorong elektrifikasi.

    Kritik terhadap Cybertruck dan Polestar

    Scaringe memberikan pandangannya tentang Cybertruck Tesla yang dinilainya gagal sebagai produk massal. “Kadang Anda mengambil risiko besar dengan sesuatu yang liar, dan mereka jelas mengambil risiko yang sangat besar. Ternyata itu bukan produk pasar massal, tapi sudah jelas dari awal bahwa itu tidak akan menjadi produk massal,” katanya. Ia menyebut Cybertruck sangat niche karena keputusan desain dan trade-off produk yang dibuat Tesla.

    Mengenai Polestar, Scaringe menilai perusahaan tersebut belum menemukan kombinasi tepat antara harga, konten, dan fitur. “Mobil-mobilnya terlihat bagus. Saya pikir itu bukan masalah desain. Tapi seluruh paket—harga, konten, fitur—belum terhubung dengan konsumen seperti yang kami harapkan R2 akan lakukan,” ujarnya.

    Haptik, Tombol, dan Masa Depan Interior Mobil

    Scaringe mengakui bahwa keputusan untuk menggunakan multi-touch secara dominan di R2 adalah keputusan berprinsip untuk memungkinkan pembaruan fitur secara berkelanjutan. Namun, R2 juga dilengkapi “Halo Wheels” pada setir yang memberikan umpan balik haptik. “Ini memberikan umpan balik, tapi meskipun terasa seperti mengklik, semuanya berbasis perangkat lunak,” jelasnya.

    Ia juga memuji interior Ferrari Luce yang dirancang Jony Ive dan Marc Newson. “Bagian interiornya luar biasa, bagaimana haptik, sakelar, dan tombol dieksekusi dengan indah. Anda bisa melihat jejak Jony di seluruh bagiannya,” puji Scaringe. Ia memperkirakan Ferrari Luce akan menjadi mobil yang berpengaruh pada desain interior kendaraan masa depan.

    Implikasi untuk Konsumen dan Industri

    Bagi konsumen yang menunggu R2, pesan Scaringe cukup jelas: teknologi akan terus berkembang, dan keputusan membeli sekarang atau menunggu generasi berikutnya adalah pilihan pribadi. Rivian mematok harga fitur otonom sebesar USD 2.500 saat ini, namun Scaringe mengakui bahwa di masa depan fitur ini bisa menjadi gratis seperti airbag yang dulunya opsi berbayar.

    Scaringe juga menegaskan bahwa kepuasan pelanggan yang tinggi menjadi prioritas utama, meskipun data reliabilitas Rivian masih rendah. “Kami lebih memilih basis pelanggan yang sangat terhubung. Tapi tujuannya adalah membangun mobil yang sangat andal,” katanya, seraya menambahkan bahwa data reliabilitas saat ini mencerminkan model 2021-2023 dan R2 akan menjadi lompatan signifikan dalam performa reliabilitas.

  • AI di Tribeca: Google Buktikan Gen AI Bisa Jadi Alat Kreatif

    AI di Tribeca: Google Buktikan Gen AI Bisa Jadi Alat Kreatif

    JBNews.id — Festival Film Tribeca 2026 menjadi panggung bagi sejumlah eksperimen film berbasis generative AI (gen AI). Meskipun teknologi ini belum mampu menghasilkan film layar lebar yang utuh, beberapa proyek menunjukkan bagaimana seniman manusia dapat memanfaatkannya secara kreatif. Salah satu yang paling menonjol adalah Dear Upstairs Neighbors, karya mantan animator Pixar yang dikembangkan bersama Google DeepMind.

    Selama ini, model video dari perusahaan AI seperti OpenAI dan xAI sebagian besar hanya mampu menghasilkan cuplikan pendek dengan visual yang tidak konsisten. Kemitraan besar Hollywood dengan perusahaan AI pun banyak yang bubar, menimbulkan keraguan tentang keandalan teknologi ini. Namun, Tribeca membuktikan bahwa gen AI bisa menjadi alat yang efektif jika digunakan dengan pendekatan yang tepat.

    Kolaborasi Manusia dan Mesin

    Film pendek Dear Upstairs Neighbors disutradarai oleh Connie Qin He, seorang veteran Pixar. Film ini berkisah tentang Ada (diisi suara oleh Márcia Mayer) yang berusaha tidur namun terus terganggu oleh suara bising dari tetangga di atas apartemennya. Untuk menciptakan dunia visual yang khas, He menggandeng desainer produksi Pixar, Yingzong Xin, yang melukis konsep seni di Photoshop dan di atas kertas menggunakan akrilik.

    Gaya ekspresionistik dari ilustrasi tersebut menjadi tantangan bagi para peneliti DeepMind. Model video AI generatif standar kesulitan mengubah gaya lukisan seperti itu menjadi footage yang konsisten secara visual. Namun, DeepMind mengembangkan versi kustom dari Veo dan Imagen yang dilatih khusus pada karya seni Xin. Hasilnya, model dapat secara konsisten menghasilkan bidikan yang sesuai dengan visi He.

    Proses produksi film ini tidak sepenuhnya bergantung pada AI. Tim kreatif menggunakan Autodesk Maya, standar industri untuk rigging 3D dan VFX, untuk membuat animasi kasar. Animasi tersebut kemudian diumpankan ke Veo untuk menghasilkan adegan yang lebih halus secara visual dan siap diperkaya dengan aset bergaya tambahan. Pendekatan ini menjadikan Dear Upstairs Neighbors sebagai studi kasus bagaimana AI dapat berfungsi sebagai alat bespoke yang benar-benar membantu seniman.

    Keterbatasan yang Masih Ada

    Tidak semua film AI di Tribeca menuai pujian. Roar—sebuah animasi pendek produksi Illuminai Studios—terasa lebih seperti montase klip AI yang membingungkan daripada sebuah film yang kohesif. Sementara itu, ChikaBOOM! dari Asteria Film Co. dinilai kurang memiliki polesan visual dan sonik yang diperlukan untuk genre fantasi cepat.

    Kekasaran kedua film tersebut mencerminkan keterbatasan teknologi yang melekat pada alur kerja produksi berbasis AI. Sebaliknya, film-film seperti Dear Upstairs Neighbors, Smoked karya Alice Gu, dan Mauvais Soleil karya Youssef Michraf menunjukkan bagaimana pembuat film dapat menghindari tantangan tersebut. Smoked menggunakan Sora untuk menciptakan kembali Kebakaran Palisades, sementara Mauvais Soleil menampilkan adegan fotorealistik yang dihasilkan dengan alat kreatif OpenAI.

    Kehadiran OpenAI di Tribeca cukup mengejutkan mengingat perusahaan tersebut baru saja menutup Sora sepenuhnya. Penutupan mendadak ini menyebabkan film panjang OpenAI, Critterz, gagal tayang perdana di Festival Film Cannes 2026. Hal ini mengindikasikan bahwa OpenAI mungkin beralih dari aplikasi video ke fokus lain.

    Biaya Rendah, Dampak Besar

    Salah satu proyek paling menarik adalah Dreams of Violets, sebuah docudrama karya sutradara Ash Koosha. Dengan biaya hanya USD 2.000 untuk biaya komputasi, Koosha mampu memproduksi film seorang diri. Ia menggunakan Kling AI, Claude, Gemini, dan Nano Banana untuk menceritakan kisah fiksi tentang sekelompok orang yang terjebak di gang saat polisi memburu warga sipil. Proyek ini hanya memakan waktu beberapa minggu untuk diselesaikan.

    Meskipun tidak terobosan secara visual, Dreams of Violets didukung oleh narasi yang kuat. Hal ini membuktikan bahwa dengan sumber daya terbatas, gen AI dapat menjadi alat yang memberdayakan pembuat film independen. Perkembangan ini sejalan dengan tren AI ubah wajah industri kreatif di berbagai sektor.

    Masa Depan AI di Industri Film

    Dari rangkaian film di Tribeca, terlihat jelas bahwa tidak ada masa depan di mana studio memproduksi film komersial hanya dengan memberikan perintah ke model AI. Konten semacam itu mungkin tidak akan hilang, tetapi bukanlah jenis yang ingin dibanggakan oleh para pemain besar Hollywood. Skenario yang lebih mungkin adalah perusahaan AI besar seperti Google bermitra dengan studio untuk membangun model bespoke yang disesuaikan dengan alur kerja spesifik.

    Alur kerja tersebut hanya akan berfungsi dengan baik jika dipandu oleh seniman manusia dengan visi kreatif yang sangat jelas. Dear Upstairs Neighbors menjadi contoh sempurna: film ini tidak akan semenarik secara visual jika diproduksi dengan versi vanilla dari model Google. Model-model tersebut bekerja dengan baik untuk film pendek ini, tetapi itu sudah diharapkan untuk proyek yang juga merupakan iklan untuk teknologi Google.

    Implikasinya bagi industri film Indonesia adalah bahwa adopsi AI harus dilakukan dengan bijak. Teknologi ini bukan pengganti kreativitas manusia, melainkan alat untuk mempercepat dan memperkaya proses produksi. Sama seperti Meta kembangkan fitur pengenalan wajah untuk kacamata pintar, pengembangan AI di industri kreatif harus tetap berpusat pada kebutuhan manusia.

    Dengan biaya komputasi yang semakin terjangkau, bukan tidak mungkin pembuat film independen di Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa. Kuncinya adalah pada visi artistik yang kuat dan kemampuan untuk memanfaatkan AI sebagai alat, bukan sebagai pembuat keputusan kreatif. Masa depan sinema mungkin tidak akan sepenuhnya digerakkan oleh AI, tetapi kolaborasi antara manusia dan mesin akan menjadi kunci inovasi.

  • Tesla Robotaxi: Hanya 59 Unit Beroperasi, Janji Besar Meleset

    Tesla Robotaxi: Hanya 59 Unit Beroperasi, Janji Besar Meleset

    JBNews.id – Tesla hanya mengoperasikan 59 unit Robotaxi di jalan raya, jauh dari janji Elon Musk yang menyebutkan ribuan unit akan beroperasi dalam hitungan bulan. Data ini terungkap dalam laporan Bloomberg yang menggambarkan kesenjangan dramatis antara ambisi dan realitas di lapangan.

    Sebelum layanan diluncurkan pada pertengahan 2025, Musk memproklamirkan bahwa lebih dari 1.000 taksi swakemudi akan melintasi jalan-jalan kota dalam “beberapa bulan.” Ia juga menyatakan bahwa satu juta Tesla swakemudi menggunakan perangkat lunak Robotaxi akan beroperasi di seluruh Amerika Serikat pada akhir 2026. Dalam panggilan pendapatan setelah peluncuran, Musk bahkan meningkatkan targetnya: “Kami mungkin akan memiliki layanan ride-hailing otonom di sekitar setengah populasi AS pada akhir tahun.”

    Namun, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Dari 59 unit yang beroperasi, sebagian masih memerlukan pengawasan manusia secara fisik. Upaya ekspansi dari basisnya di Austin, Texas, juga mengalami hambatan. Tesla terpaksa mengakui kepada regulator negara bagian California bahwa mobil swakemudinya sebenarnya tidak dapat menyetir sendiri.

    Kesenjangan Janji dan Realitas

    Kemajuan yang lambat ini mungkin masih bisa dimaklumi jika terjadi di perusahaan yang lebih kecil. Namun, Musk secara konsisten merayu investor dengan visi fiksi ilmiah tentang masa depan perusahaannya, menjaga harga saham tetap tinggi dan mendorong kapitalisasi pasar Tesla melampaui angka $1 triliun. Ironisnya, angka ini pun mengecewakan jika dibandingkan dengan proyeksi Musk saat mengumumkan pivot Robotaxi pada 2024, di mana ia memperkirakan valuasi Tesla bisa mencapai $30 triliun.

    Hip besar ini menempatkan Tesla dalam posisi paradoks: sisi bisnis perusahaan terlihat semakin genting dengan penurunan laba dan citra publik yang merosot, namun valuasi pasarnya justru melonjak. Musk membela lambatnya kemajuan dengan menekankan bahwa perusahaan “paranoid tentang keselamatan.” Ada unsur kebenaran dalam pernyataan ini, mengingat ukuran armada yang kecil dan banyaknya perjalanan Robotaxi yang masih diawasi pekerja manusia.

    Di sisi lain, Musk jelas bersedia melebih-lebihkan kemampuan teknologinya untuk terus membujuk Wall Street. “Tesla, yang menurut semua indikasi adalah perusahaan percaya diri yang dijalankan oleh orang yang sangat percaya diri, jelas tidak percaya diri dengan keandalan teknologinya,” kata Bryant Walker Smith, peneliti kendaraan otonom dan profesor hukum di University of South Carolina, kepada Bloomberg. “Skalanya sangat kecil.”

    Keluhan Pengguna dan Masalah Operasional

    Gambaran di lapangan yang dilaporkan Bloomberg menggemakan keluhan pelanggan sejak layanan Robotaxi dibuka untuk publik. Waktu tunggu seringkali mencapai 30 menit, bahkan di Austin di mana sebagian besar Robotaxi ditempatkan. Aplikasi sering memblokir pengguna dari memesan perjalanan selama periode “permintaan layanan tinggi.”

    Perilaku mobil juga tidak menentu, menjemput dan menurunkan penumpang di lokasi yang aneh dan tidak nyaman, seperti di gang. Sekitar satu dari tiga perjalanan memiliki monitor manusia yang duduk di dalam mobil, namun kehadiran mereka tampak hanya seremonial. Seorang pengguna mengeluh bahwa Robotaxi-nya menurunkannya seperempat mil dari tujuan sebenarnya, meskipun ada monitor di dalam mobil.

    Yang lebih mengkhawatirkan adalah elemen tipu-tipu di balik upaya Robotaxi. Hingga saat ini, Tesla tidak mengungkapkan angka resmi tentang ukuran armadanya dan baru belakangan melaporkan kecelakaan Robotaxi kepada regulator, dengan menyensor berat keadaan kecelakaan. Pada Januari 2026, ketika Musk mengumumkan bahwa Robotaxi akhirnya akan mulai memberikan tumpangan di Austin dengan pengawas manusia di dalam mobil, segera terungkap bahwa ini adalah tipuan lain: tumpangan masih diawasi dengan mobil lain yang dikemudikan manusia yang membuntuti Tesla.

    Kondisi ini mengingatkan pada praktik serupa di industri teknologi, seperti yang diungkap dalam artikel tentang Startup Qualia Akui Video Robot Humanoidnya Hanya Ilusi, di mana janji besar teknologi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan.

    Kegagalan Tesla memenuhi janji Robotaxi memiliki implikasi luas. Bagi investor, ini menimbulkan pertanyaan serius tentang valuasi perusahaan yang sangat bergantung pada visi masa depan ketimbang kinerja saat ini. Bagi konsumen, ini berarti teknologi swakemudi yang benar-benar andal masih jauh dari jangkauan. Regulator juga akan semakin skeptis terhadap klaim perusahaan teknologi otonom.

    Kisah Tesla Robotaxi menjadi pengingat bahwa di industri teknologi, perbedaan antara demonstrasi terkontrol dan peluncuran publik berskala besar bisa sangat besar. Seperti halnya Meta Dirikan Pusat Data Bertenda demi Kejar Ketertinggalan AI, tekanan untuk memenuhi ekspektasi pasar seringkali mendorong perusahaan untuk mengambil jalan pintas atau membuat klaim yang berlebihan.

    Stylized photo illustration featuring a Tesla Robotaxi.

    Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini relevan karena menunjukkan bahwa adopsi teknologi swakemudi masih dalam tahap awal dan penuh tantangan. Meskipun beberapa perusahaan seperti Antonio Gracias Raup Rp 1.000 Triliun dari Saham SpaceX menunjukkan kesuksesan di bidang teknologi lain, sektor kendaraan otonom masih bergulat dengan masalah keandalan dan regulasi.

    Pada akhirnya, kasus Tesla Robotaxi mengajarkan bahwa di era inovasi teknologi, data dan realitas operasional harus menjadi dasar penilaian, bukan sekadar janji dan visi masa depan. Investor dan konsumen sama-sama perlu bersikap kritis terhadap klaim-klaim besar yang belum teruji di lapangan.

  • Harga Xbox Game Pass Naik, Microsoft Kehilangan Jutaan Pelanggan

    Harga Xbox Game Pass Naik, Microsoft Kehilangan Jutaan Pelanggan

    JBNews.id — Kenaikan harga Xbox Game Pass pada Oktober 2025 membuat Microsoft kehilangan jutaan pelanggan dalam beberapa bulan. Chief Strategy Officer Xbox, Matthew Ball, secara terbuka mengakui dampak buruk dari kebijakan tersebut dalam wawancara di ajang Summer Game Fest bersama Game Business Live.

    Microsoft menaikkan tarif langganan secara drastis pada Oktober 2025. Xbox Game Pass Ultimate melonjak 50 persen dari USD 19,99 menjadi USD 29,99 per bulan. Sementara itu, PC Game Pass naik hampir 40 persen dari USD 11,99 menjadi USD 16,49 per bulan. Kebijakan ini langsung memicu gelombang protes masif dari para gamer.

    Saking banyaknya pengguna yang membatalkan langganan, website resmi Microsoft sempat tidak bisa diakses karena kelebihan jumlah pengakses. Ball mengungkapkan bahwa Xbox kehilangan “jutaan” pelanggan hanya dalam kurun waktu beberapa bulan setelah harga baru diumumkan.

    CEO Baru Xbox Turunkan Harga

    Kekacauan ini akhirnya harus dibereskan oleh CEO Xbox yang baru, Asha Sharma. Pada April 2026, melalui memo internal, Sharma mengakui bahwa Game Pass telah menjadi terlalu mahal bagi para gamer. Ia berjanji akan memangkas harga langganan.

    Beberapa minggu kemudian, tarif paket Ultimate dan PC dipangkas kembali mendekati angka normal sebelum kenaikan Oktober 2025. Ultimate kini dibanderol USD 22,99 per bulan. Namun, ada kompromi pahit yang harus ditelan penggemar franchise Call of Duty (CoD).

    Demi menekan harga langganan, game-game terbaru CoD dipastikan tidak akan lagi tersedia di Game Pass pada hari pertama rilis (Day One). Game tersebut baru akan masuk ke katalog langganan sekitar satu tahun setelah diluncurkan.

    Strategi putar balik ini membuahkan hasil positif. Pada Mei 2026, Sharma mengklaim bahwa pertumbuhan pelanggan Game Pass kembali pulih dan retensinya membaik. Ball menyebut bahwa penyesuaian harga ini sangat beresonansi dengan keinginan pengguna.

    Asha Sharma Bungkam Keraguan

    Sosok Asha Sharma awalnya dipandang sebelah mata oleh komunitas gamer. Latar belakangnya yang minim pengalaman di industri game—ditambah rekam jejaknya sebagai mantan eksekutif AI—membuat banyak pihak mengira penunjukannya adalah ‘lonceng kematian’ bagi merek Xbox.

    Seamus Blackley, tokoh legendaris di balik penciptaan konsol Xbox original tahun 2001, sempat menyindir pedas. Ia menyebut tugas Sharma di Microsoft tak ubahnya “seorang dokter perawatan paliatif yang akan mengantar Xbox perlahan menuju kematian.”

    Namun, Sharma pelan-pelan berhasil mematahkan keraguan tersebut dan merebut hati para penggemar Xbox. Sejak menjabat, ia telah mengambil sejumlah keputusan berani, di antaranya:

    • Menyelamatkan Game Pass: Menurunkan kembali harga yang sempat melambung tak masuk akal.
    • Kembali ke Eksklusivitas Konsol: Mendorong kembalinya game eksklusif Xbox, seperti diumumkannya Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution.
    • Membunuh AI Copilot: Berani mematikan proyek AI ‘Gaming Copilot’ untuk Xbox dan mobile yang sejak awal banyak dihujat oleh para gamer.

    Langkah-langkah tegas ini membuktikan bahwa manajemen baru Xbox kini mulai kembali mendengarkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh para gamer.

    Kenaikan harga layanan digital memang selalu berisiko. Kasus Xbox Game Pass menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi lainnya. Keputusan menaikkan harga secara ekstrem tanpa mempertimbangkan daya beli konsumen bisa berujung pada kehilangan basis pelanggan setia.

    Dalam konteks industri yang lebih luas, tekanan biaya juga terjadi di sektor lain. Fenomena serupa terlihat pada harga ponsel naik akibat kelangkaan RAM, di mana Nothing memberikan peringatan kepada konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga menjadi tren di berbagai lini produk teknologi.

    Sementara itu, Apple juga menggeber produksi MacBook Neo dengan potensi kenaikan harga. Kondisi ini menambah daftar panjang produk teknologi yang harus menyesuaikan harga di tengah tekanan biaya produksi global.

    Bagi para gamer, langkah Asha Sharma menurunkan harga Game Pass menjadi angin segar. Keputusan untuk mengorbankan Call of Duty Day One demi harga yang lebih terjangkau menunjukkan bahwa Microsoft mulai mendengar suara komunitas. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang?

    Data menunjukkan bahwa pertumbuhan pelanggan kembali pulih setelah penyesuaian harga. Ini menjadi indikator positif bahwa strategi Sharma berhasil. Namun, Microsoft harus terus berinovasi tanpa harus membebani konsumen dengan biaya yang tidak masuk akal.

  • AI Ciptakan Vaksin Universal Corona, Uji Coba Manusia Berhasil

    AI Ciptakan Vaksin Universal Corona, Uji Coba Manusia Berhasil

    JBNews.id — Peneliti University of Cambridge berhasil menciptakan vaksin universal untuk keluarga virus corona dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Uji coba perdana pada manusia telah selesai dan hasilnya dipublikasikan di Journal of Infection, menjadikannya vaksin pertama yang dirancang AI yang diuji pada manusia.

    Vaksin ini dirancang untuk melindungi terhadap seluruh keluarga sarbecovirus, yang mencakup SARS dan COVID-19, serta varian hewan yang berpotensi menular ke manusia. Potensi besarnya adalah kemampuan untuk memberikan perlindungan di masa depan terhadap mutasi virus mematikan bahkan sebelum mutasi tersebut terjadi.

    “Ini tentang membuat vaksin yang tidak hanya melindungi kita dari virus saat ini, tetapi juga melindungi kita dari apa yang dapat menyebabkan wabah atau penyakit berikutnya,” ujar Jonathan Heeney, rekan penulis studi dan peneliti Cambridge, kepada BBC News. “Ini adalah perubahan fundamental dalam cara kita mempersiapkan pandemi.”

    Vaksin tradisional melatih sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus tertentu. Namun, vaksin tersebut harus terus diperbarui seiring virus bermutasi. Inilah sebabnya mengapa suntikan flu baru diperlukan setiap musim, dan mengapa kita masih mendapatkan booster COVID-19 baru.

    Vaksin berbantuan AI bisa menjadi pengubah permainan. Model pembelajaran mesin dapat memindai hampir seluruh kumpulan data genetik yang dikumpulkan dari ribuan virus terkait di seluruh dunia. Model ini memprediksi bagian virus mana yang paling mungkin tetap sama saat virus berevolusi, menurut analisis seorang ahli di The Conversation.

    Jika vaksin berfokus pada komponen virus yang tidak dapat berubah ini, secara teori vaksin dapat melindungi terhadap seluruh keluarga virus — dan mutasi masa depannya. Dan itulah yang dilakukan para peneliti.

    Dalam studi tersebut, para ilmuwan Cambridge berfokus pada keluarga sarbecovirus, yang mengandung SARS dan COVID, serta strain virus corona hewan. Setelah model AI diterapkan pada virus, model tersebut mengidentifikasi komponen virus yang tidak dapat berubah. Dari sana, para peneliti mempersempit komponen mana yang terbaik melalui eksperimen in vivo yang cermat.

    Hal ini memungkinkan mereka menciptakan “super-antigen” yang menjadi bahan utama vaksin. Hasil uji coba pada manusia menjanjikan, tetapi belum definitif. Vaksin AI berhasil mengaktifkan sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi pelawan virus. Vaksin ini juga “ditoleransi dengan baik pada keempat dosis tanpa masalah keamanan yang signifikan,” lapor para peneliti dalam studi tersebut.

    Namun, uji coba ini kecil, hanya melibatkan 39 orang. Respons imunnya “sedang”, dan belum jelas berapa lama perlindungan tersebut bertahan. Meski demikian, fondasi telah diletakkan, dan potensi keuntungannya akan mencengangkan: vaksin universal.

    Yang lebih menggembirakan lagi, vaksin yang dikembangkan berbasis DNA, bukan mRNA. Ini berarti tidak memerlukan suntikan jarum untuk diberikan. Vaksin ini juga lebih stabil, memungkinkan transportasi dan penyimpanan yang lebih mudah, berbeda dengan kondisi dingin yang terkontrol ketat yang dibutuhkan vaksin mRNA.

    Vaksin ini bahkan dapat membantu mengatasi krisis Ebola di Republik Demokratik Kongo, yang disebabkan oleh strain baru yang belum ada vaksinnya.

    “Kami telah mengubah pengembangan vaksin dari reaktif menjadi tahan masa depan. Vaksin kami akan terus memberikan perlindungan terhadap virus bahkan saat mereka bermutasi menjadi strain baru,” kata Heeney dalam sebuah pernyataan tentang pekerjaan tersebut. “Kami telah mengatasi masalah vaksin tradisional yang memiliki perlindungan terbatas. Itu berarti kami dapat keluar dari siklus konstan mengejar varian virus yang beredar pada manusia dan memperbarui vaksin untuk mencoba mengejar ketertinggalan, seperti anjing mengejar ekornya sendiri.”

    Pendekatan AI dalam desain vaksin ini menandai lompatan besar dalam virologi. Jika dikembangkan lebih lanjut, teknologi ini dapat mengubah cara dunia mempersiapkan dan merespons pandemi di masa depan. Untuk informasi lebih lanjut tentang inovasi teknologi terkini, simak artikel tentang Startup Qualia Akui Video Robot Humanoidnya Hanya Ilusi.

    Peneliti kini tengah merencanakan uji coba skala lebih besar untuk memvalidasi efektivitas dan keamanan vaksin universal ini. Jika berhasil, vaksin AI ini bisa menjadi senjata paling ampuh melawan ancaman pandemi di masa depan. Perkembangan ini juga membuka jalan bagi penerapan AI dalam berbagai aspek kesehatan masyarakat lainnya, termasuk kolaborasi antara robot humanoid dan AI di berbagai sektor.

    Ilustrasi komik seorang pria berteriak dramatis saat menerima suntikan vaksin.

  • Google Pesan 3 Juta Chip AI ke Intel, TSMC Mulai Tergeser

    Google Pesan 3 Juta Chip AI ke Intel, TSMC Mulai Tergeser

    JBNews.id, Jakarta — Upaya keras Intel untuk kembali menguasai pasar manufaktur chip canggih mulai membuahkan hasil manis. Alphabet, induk perusahaan Google, dikabarkan telah memesan lebih dari tiga juta unit Tensor Processing Unit (TPU) dari Intel yang dijadwalkan diproduksi pada tahun 2028. Langkah ini menjadi sinyal kuat pergeseran peta persaingan di industri semikonduktor global, di mana raksasa teknologi mulai meninggalkan ketergantungan pada TSMC.

    Laporan dari The Information mengungkapkan bahwa pesanan massal ini merupakan respons terhadap ketidakmampuan TSMC dalam memenuhi lonjakan permintaan chip AI. Pabrikan asal Taiwan itu disebut mulai kewalahan akibat ledakan tren kecerdasan buatan yang memicu permintaan produksi chip high-end secara eksponensial. Akibatnya, para desainer chip seperti Google terpaksa mencari alternatif pabrikan lain.

    Bagi Google, mengamankan kapasitas produksi TPU internal sangat krusial. Langkah ini tidak hanya untuk mengurangi ketergantungan pada GPU buatan Nvidia, tetapi juga untuk memperkuat infrastruktur layanan cloud mandiri mereka di masa depan. Kesepakatan ini, jika terealisasi, akan menjadi dorongan masif bagi Intel Foundry untuk merebut kembali takhtanya di industri produksi chip mutakhir.

    Dalam situasi yang sama, raja chip AI saat ini, Nvidia, juga dikabarkan tengah melakukan penjajakan dengan Intel. Nvidia disebut sedang mengevaluasi apakah teknologi pabrikasi Intel mampu mendukung desain prosesor baru yang menggabungkan empat chip grafis sekaligus ke dalam satu prosesor. Meskipun belum ada pesanan resmi, ketertarikan ini membuktikan betapa terbatasnya kapasitas produksi chip high-end secara global.

    Di bawah kepemimpinan CEO Lip-Bu Tan, Intel telah menggelar roadmap ambisius yang mencakup teknologi fabrikasi generasi terbaru, yakni 14A. Strategi ini mulai selaras dengan kebutuhan pasar. Intel berhasil mengamankan Tesla sebagai pelanggan untuk proses fabrikasi 14A, yang akan digunakan untuk chip fasilitas AI Terafab milik Elon Musk. Selain itu, Apple juga mencapai kesepakatan awal untuk memproduksi chip perangkat mereka setelah negosiasi panjang.

    Faktor politis juga turut mendorong perusahaan-perusahaan teknologi AS untuk merapat ke Intel. Analis D.A. Davidson, Gil Luria, menjelaskan kepada Reuters bahwa Google dan Nvidia memiliki motivasi ekstra untuk bekerja sama dengan Intel. Mendukung Intel berarti mendukung manufaktur yang berbasis di AS, yang penting bagi hubungan mereka dengan pemerintahan AS.

    Kabar pesanan Google ini langsung direspons antusias oleh investor. Saham Intel melonjak tajam lebih dari 9% pada awal perdagangan, memperpanjang tren positif perusahaan yang sahamnya telah meroket hingga 169% sepanjang tahun ini. Hingga berita ini diturunkan, pihak Intel menolak memberikan konfirmasi, sementara Alphabet dan Nvidia belum merespons permintaan komentar.

    Ketika permintaan cip AI terus menekan batas maksimal rantai pasokan global, perusahaan-perusahaan yang dulunya hanya bertumpu pada satu pabrikan kini mulai menyebar risiko ke beberapa keranjang. Bagi Intel, pergeseran tren ini bisa menjadi pintu gerbang menuju kebangkitan besar—dengan catatan mereka mampu mengeksekusi janji teknologinya dengan baik.

    Perubahan kebijakan ini menunjukkan bagaimana tekanan rantai pasokan global memaksa perusahaan untuk beradaptasi. Sementara itu, Apple TV dan Google TV juga terus mengembangkan ekosistem mereka di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat.

    Dukungan politis dan lonjakan saham menjadi angin segar bagi Intel. Namun, tantangan terbesar tetap pada kemampuan mereka untuk memenuhi janji teknologi fabrikasi 14A. Jika berhasil, Intel tidak hanya akan merebut kembali posisinya, tetapi juga mengubah lanskap industri semikonduktor global secara fundamental.

  • Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat

    Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda Indonesia untuk menjadi duta internet sehat dan berperan aktif dalam menciptakan ruang digital yang aman, beretika, serta bebas dari kejahatan digital.

    “Kami mohon dibantu. Bagaimana adik-adik menjadi duta-duta untuk internet yang lebih baik, internet yang lebih sehat,” kata Meutya dalam kegiatan Kumpul Komunitas Waspada Kejahatan Digital di Medan, Sabtu.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga ruang digital. Hal ini disampaikan di tengah meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten provokatif, serta berbagai bentuk kejahatan digital di media sosial.

    Menurut Meutya, sebagian besar aktivitas penggunaan internet berlangsung secara personal dan berada di ruang privat masyarakat. Kondisi ini membutuhkan partisipasi aktif publik, terutama dari generasi muda, untuk turut serta menjaga ekosistem digital yang sehat.

    Dua Sisi Mata Pisau Internet

    Meutya menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat. Mulai dari perluasan akses informasi, pendidikan, ekonomi, hingga jejaring sosial. Namun, manfaat tersebut dapat berubah menjadi risiko apabila internet tidak digunakan secara bijak.

    “Internet itu seperti pisau bermata dua. Banyak manfaatnya, tetapi juga banyak dampak buruknya jika tidak digunakan dengan bijak,” ujarnya.

    Ia menilai ruang digital saat ini semakin dipenuhi konten yang mengandung hujatan, kebencian, fitnah, serta informasi tidak benar. Fenomena ini tidak terlepas dari cara kerja algoritma platform digital yang cenderung mendorong konten kontroversial karena lebih banyak menarik perhatian pengguna.

    Pemerintah terus mendorong literasi digital sebagai upaya preventif. Salah satu langkah konkret adalah melalui program yang melibatkan pegiat literasi untuk mewujudkan ruang digital yang lebih sehat dan aman bagi semua kalangan.

    Dalam kesempatan yang sama, Meutya juga menekankan pentingnya peran komunitas muda dalam membangun ruang digital yang aman, beretika, dan bebas dari hoaks, ujaran kebencian, penyalahgunaan narkoba, serta kejahatan siber.

    Ancaman Algoritma dan Ketergantungan Media Sosial

    Menkomdigi mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap media sosial dapat mengurangi minat generasi muda untuk berorganisasi dan berinteraksi langsung di masyarakat. Padahal, keterlibatan dalam komunitas dan organisasi merupakan ruang penting untuk membangun kepedulian sosial, daya kritis, serta tanggung jawab bersama.

    Sebelumnya, Meutya juga menyoroti bahaya ilusi algoritma yang dapat menjebak pengguna dalam ruang gema informasi. Fenomena ini memperkuat polarisasi dan membuat masyarakat sulit menerima sudut pandang yang berbeda.

    Pemerintah juga terus berupaya melakukan pembatasan medsos anak berbasis risiko, sebuah pendekatan yang berbeda dengan kebijakan di Australia. Langkah ini diambil untuk melindungi kelompok usia muda dari paparan konten berbahaya tanpa menghambat akses terhadap informasi yang bermanfaat.

    Klarifikasi Gangguan Instagram

    Dalam kesempatan itu, Meutya turut menyinggung gangguan layanan Instagram yang sempat terjadi di sejumlah negara. Ia menegaskan gangguan tersebut bukan akibat kebijakan pemerintah Indonesia.

    “Tidak betul Instagram ditutup. Gangguan itu terjadi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara ASEAN,” katanya.

    Pernyataan ini penting untuk meluruskan informasi yang keliru di masyarakat. Meutya mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

    Ia menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks maupun narasi provokatif yang sengaja disebarkan untuk menyesatkan publik.

    Implikasi bagi Generasi Muda

    Seruan Menkomdigi ini memiliki implikasi langsung bagi generasi muda Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi digital, peran aktif setiap individu menjadi kunci dalam menjaga kualitas ruang digital nasional.

    Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis, termasuk melalui regulasi yang lebih ketat. Salah satu wujudnya adalah dengan mendorong platform digital untuk ikut serta dalam skrining konten negatif yang beredar di media sosial.

    Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat program literasi digital melalui inisiatif Internet Sehat dan Aman yang melibatkan berbagai komunitas dan pegiat literasi di seluruh Indonesia.

    Meutya menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan generasi muda menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, aman, dan produktif bagi semua pihak.

    Dengan menjadi duta internet sehat, generasi muda tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam membangun budaya digital yang lebih baik di Indonesia.