Rivian R2 Jadi Penentu Masa Depan Perusahaan

SUV listrik Rivian R2 berwarna hijau diparkir di luar ruangan dengan latar pegunungan

JBNews.id — Masa depan Rivian sebagai produsen kendaraan listrik skala besar bergantung sepenuhnya pada kesuksesan model terbarunya, R2 SUV. Kegagalan R2 di pasar akan memaksa perusahaan melakukan restrukturisasi besar-besaran, termasuk mengubah model bisnis vertikal yang selama ini dibangun.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh CEO Rivian, RJ Scaringe, dalam wawancara eksklusif yang dikutip dari sumber referensi. Scaringe mengakui bahwa seluruh investasi miliaran dolar yang telah dikeluarkan perusahaan—mulai dari pengembangan perangkat lunak, elektronik, silikon, motor, hingga jaringan layanan dan distribusi—dibangun dengan asumsi bahwa R2 akan menjadi produk volume tinggi.

“Jika R2 tidak berhasil, jika R2 menjadi kegagalan, kami harus benar-benar mundur dan mengkonfigurasi ulang bisnis,” ujar Scaringe. Ia menambahkan, “Memiliki tim teknik 6.000 orang untuk menjual 50.000 kendaraan tidak masuk akal. Melakukan integrasi vertikal hingga ke silikon seperti yang kami lakukan tidak mungkin dipertahankan.”

Tekanan Finansial dan Strategi Baru

Rivian mencatatkan kerugian sebesar USD 3,6 miliar pada tahun 2025. Secara kumulatif, perusahaan telah membakar hampir USD 25 miliar dalam delapan tahun terakhir. Angka tersebut menjadikan Rivian sebagai salah satu produsen EV murni dengan pengeluaran terbesar di periode yang sama.

Meski IPO Rivian pada 2021 menjadi yang terbesar di dunia dan dalam hitungan hari membawa valuasi perusahaan melampaui USD 100 miliar, performa sahamnya kini anjlok. Harga saham Rivian turun dari puncak USD 130 menjadi sekitar USD 16 per lembar. Sejak model R1 mulai dijual pada 2021, Rivian baru berhasil menjual 175.000 unit. Sebagai perbandingan, Tesla menjual 8 juta unit di periode yang sama.

Untuk memperkuat posisinya, Volkswagen Group pada 2024 berkomitmen menggelontorkan hingga USD 5,8 miliar dalam sebuah joint venture besar untuk mengembangkan perangkat lunak dan arsitektur elektrikal bersama Rivian. Tahun ini, Uber juga mengumumkan investasi hingga USD 1,25 miliar untuk membangun dan mengerahkan hingga 50.000 robotaxi otonom penuh.

Fasilitas Produksi dan Target Volume

Rivian saat ini memiliki fasilitas Normal di Illinois dengan kapasitas 155.000 unit per tahun. Perusahaan juga telah memulai konstruksi pabrik baru di Georgia yang akan dibangun dalam dua fase. Awalnya, kapasitas fase pertama direncanakan 200.000 unit, namun karena respons positif terhadap R2, kapasitas ditingkatkan menjadi 300.000 unit. Pabrik Georgia ini juga akan mendukung produksi varian lain termasuk R3 dan ekspansi ke Eropa.

Scaringe mengonfirmasi bahwa R3 akan hadir setelah R2. “Kami sangat senang melihat antusiasme semua orang terhadap R3, yang akan menjadi kendaraan luar biasa. Tapi R3 akan datang setelah R2,” katanya. Produksi R2 di jalur perakitan Georgia ditargetkan dimulai pada akhir 2028.

Teknologi Otonom dan Persaingan dengan China

Salah satu isu krusial adalah teknologi otonom Rivian. Pada generasi pertama R1 (Gen 1), Rivian menggunakan sistem berbasis Mobileye yang kemudian diakui Scaringe sebagai “pendekatan yang salah.” Hampir bersamaan dengan peluncuran R1, perusahaan melakukan reset total dan beralih ke sistem berbasis data flywheel yang diluncurkan pada Gen 2 di akhir 2024.

R2 akan diluncurkan dengan teknologi yang disebut Scaringe sebagai “Gen 2.5″—lebih baik dari yang ada di R1 saat ini, namun belum mencapai kemampuan otonom penuh. Generasi berikutnya (Gen 3) akan menggunakan silikon buatan sendiri dengan kemampuan 800 triliun operasi per detik per chip, dilengkapi kamera lebih baik dan lidar. Gen 3 ini akan memungkinkan pengemudian otonom Level 3 dan Level 4 tanpa pengawasan.

Scaringe membandingkan situasi ini dengan siklus upgrade ponsel. “Orang membeli iPhone 17 dengan pengetahuan penuh bahwa akan ada iPhone 18. Mengapa membeli iPhone 18 jika tahu akan ada iPhone 19?” ujarnya menanggapi kekhawatiran konsumen tentang teknologi yang cepat usang.

Dalam persaingan global, Scaringe mengakui bahwa China unggul dalam hal biaya produksi. Xiaomi, yang mengumumkan akan membuat mobil pada 2021—tahun yang sama dengan peluncuran R1—sudah merilis mobil pertamanya pada 2023. “Kami memiliki beberapa kendaraan mereka. Sangat impresif,” aku Scaringe.

Namun, Rivian memiliki keunggulan melalui joint venture dengan Volkswagen. Teknologi Rivian akan digunakan pada Volkswagen ID.1, mobil EV seharga USD 20.000 yang harus bersaing langsung dengan BYD di Eropa. “Joint venture ini memaksa kami memastikan teknologi kami di Eropa tepat bersaing melawan China,” tegas Scaringe.

Scaringe juga menyoroti dominasi Tesla di pasar AS. “Fakta bahwa kendaraan Tesla memiliki pangsa pasar yang begitu signifikan bukanlah cerminan pasar yang sehat. Itu cerminan dari pasar yang sangat kurang terlayani,” ujarnya. Sekitar 50-60 persen pangsa pasar EV di AS hanya diisi oleh dua model: Model 3 dan Model Y. Scaringe menekankan pentingnya lebih banyak pilihan untuk mendorong elektrifikasi.

Kritik terhadap Cybertruck dan Polestar

Scaringe memberikan pandangannya tentang Cybertruck Tesla yang dinilainya gagal sebagai produk massal. “Kadang Anda mengambil risiko besar dengan sesuatu yang liar, dan mereka jelas mengambil risiko yang sangat besar. Ternyata itu bukan produk pasar massal, tapi sudah jelas dari awal bahwa itu tidak akan menjadi produk massal,” katanya. Ia menyebut Cybertruck sangat niche karena keputusan desain dan trade-off produk yang dibuat Tesla.

Mengenai Polestar, Scaringe menilai perusahaan tersebut belum menemukan kombinasi tepat antara harga, konten, dan fitur. “Mobil-mobilnya terlihat bagus. Saya pikir itu bukan masalah desain. Tapi seluruh paket—harga, konten, fitur—belum terhubung dengan konsumen seperti yang kami harapkan R2 akan lakukan,” ujarnya.

Haptik, Tombol, dan Masa Depan Interior Mobil

Scaringe mengakui bahwa keputusan untuk menggunakan multi-touch secara dominan di R2 adalah keputusan berprinsip untuk memungkinkan pembaruan fitur secara berkelanjutan. Namun, R2 juga dilengkapi “Halo Wheels” pada setir yang memberikan umpan balik haptik. “Ini memberikan umpan balik, tapi meskipun terasa seperti mengklik, semuanya berbasis perangkat lunak,” jelasnya.

Ia juga memuji interior Ferrari Luce yang dirancang Jony Ive dan Marc Newson. “Bagian interiornya luar biasa, bagaimana haptik, sakelar, dan tombol dieksekusi dengan indah. Anda bisa melihat jejak Jony di seluruh bagiannya,” puji Scaringe. Ia memperkirakan Ferrari Luce akan menjadi mobil yang berpengaruh pada desain interior kendaraan masa depan.

Implikasi untuk Konsumen dan Industri

Bagi konsumen yang menunggu R2, pesan Scaringe cukup jelas: teknologi akan terus berkembang, dan keputusan membeli sekarang atau menunggu generasi berikutnya adalah pilihan pribadi. Rivian mematok harga fitur otonom sebesar USD 2.500 saat ini, namun Scaringe mengakui bahwa di masa depan fitur ini bisa menjadi gratis seperti airbag yang dulunya opsi berbayar.

Scaringe juga menegaskan bahwa kepuasan pelanggan yang tinggi menjadi prioritas utama, meskipun data reliabilitas Rivian masih rendah. “Kami lebih memilih basis pelanggan yang sangat terhubung. Tapi tujuannya adalah membangun mobil yang sangat andal,” katanya, seraya menambahkan bahwa data reliabilitas saat ini mencerminkan model 2021-2023 dan R2 akan menjadi lompatan signifikan dalam performa reliabilitas.