Google Ubah Pengaturan Privasi Search, Simpan Data Suara dan Gambar

Ilustrasi pengaturan privasi Google Search dengan ikon kunci dan mikrofon

JBNews.id — Google mulai menerapkan perubahan kebijakan privasi pada layanan Search-nya dengan memperkenalkan pengaturan baru bernama “Search Services History”. Pengaturan ini secara spesifik menyimpan data interaksi pengguna berupa gambar, file, audio, dan video yang digunakan untuk mencari informasi, termasuk hasil pencarian dari Google Lens dan perintah suara.

Dalam pemberitahuan yang dikirimkan kepada pengguna, Google menyatakan bahwa pengaturan baru ini akan memisahkan data pencarian berbasis media dari pengaturan “Web & App Activity” yang selama ini berlaku. Langkah ini merupakan bagian dari transparansi yang lebih besar terkait bagaimana data pengguna dikelola dan digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa tersebut.

Perubahan ini mencerminkan tren industri teknologi yang semakin ketat dalam mengatur privasi pengguna. Seperti yang dibahas dalam artikel Keamanan Siber 2026, perusahaan-perusahaan besar seperti Meta, xAI, dan Google terus beradaptasi dengan regulasi privasi yang semakin kompleks.

Rincian Pengaturan Search Services History

Berdasarkan informasi yang diperbarui di situs resmi Google, “Search Services History” akan menyimpan berbagai jenis interaksi pengguna. Data yang dimaksud mencakup gambar yang dicari menggunakan Google Lens, rekaman suara dari alat pencarian real-time Search Live, pencarian suara (voice search), serta frasa yang diucapkan ke dalam Google Translate.

Pengguna diberikan kendali penuh atas pengaturan ini. Google menyediakan opsi untuk mematikan pengaturan “Search Services History” sepenuhnya. Selain itu, pengguna juga dapat menonaktifkan opsi “Save Media” jika tidak ingin Google menyimpan interaksi berbasis media tersebut.

Google menegaskan bahwa data yang dikumpulkan melalui Search Services History akan digunakan untuk “menyediakan, mengembangkan, dan meningkatkan layanannya,” termasuk model kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan. Data ini juga akan digunakan untuk memberikan saran yang dipersonalisasi dan iklan jika pengguna mengaktifkan pengaturan “Personalized Recommendations” yang baru.

Implikasi bagi Pengguna AI dan Privasi

Kebijakan ini memiliki implikasi langsung terhadap pengembangan AI Google. Dengan menyimpan data suara dan gambar, perusahaan dapat melatih model AI-nya dengan lebih baik. Hal ini sejalan dengan upaya Google memperkuat ekosistem AI-nya, termasuk peluncuran Gemini Go untuk HP Android Murah yang baru-baru ini dirilis.

Namun, langkah ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pegiat privasi. Pasalnya, data suara dan gambar dianggap lebih sensitif dibandingkan data pencarian teks biasa. Rekaman suara dapat mengungkap identitas seseorang, sementara gambar dapat berisi informasi pribadi yang tidak ingin dibagikan.

Kekhawatiran internal tentang pengembangan AI juga pernah mencuat di Google. Seperti dilaporkan dalam artikel Karyawan Google Kecam AI Internal, sebagian karyawan menilai pengembangan AI justru menambah beban kerja, bukan meringankannya.

Pemisahan dari Web & App Activity

Salah satu perubahan paling signifikan adalah pemisahan Search Services History dari pengaturan “Web & App Activity”. Sebelumnya, interaksi pencarian yang melibatkan media, seperti rekaman audio dan pencarian visual, disertakan dalam satu pengaturan yang sama dengan riwayat pencarian teks.

Dengan pemisahan ini, pengguna kini memiliki kontrol yang lebih granular. Mereka dapat memilih untuk menyimpan riwayat pencarian teks tetapi tidak menyimpan data suara dan gambar, atau sebaliknya.

Bagi pengguna yang sebelumnya telah memblokir Google untuk menyimpan riwayat pencarian melalui Web & App Activity, Google akan mempertahankan pengaturan Search Services History dalam keadaan mati setelah transisi dilakukan. Perusahaan juga akan membawa preferensi personalisasi pengguna saat pengaturan ini diluncurkan secara bertahap dalam “beberapa bulan ke depan.”

Dampak bagi Pengguna dan Industri

Perubahan ini memiliki dampak langsung bagi pengguna Google di Indonesia. Pertama, pengguna perlu memeriksa pengaturan akun Google mereka untuk memastikan apakah Search Services History aktif atau tidak. Kedua, pengguna yang peduli privasi disarankan untuk menonaktifkan opsi “Save Media” jika tidak ingin data suara dan gambar mereka disimpan.

Dari sisi industri, langkah ini menunjukkan bahwa Google semakin serius dalam mengelola data pengguna secara terpisah. Hal ini bisa menjadi preseden bagi perusahaan teknologi lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.

Sementara itu, Google terus memperluas jangkauan teknologinya ke berbagai sektor. Salah satu contohnya adalah keterlibatan Google dalam dunia olahraga melalui Google Gemini Sponsor Timnas Argentina, yang menunjukkan bagaimana AI dan data digunakan di luar ranah pencarian tradisional.

Cara Mengelola Pengaturan Baru

Pengguna yang ingin mengelola pengaturan Search Services History dapat melakukannya melalui halaman “Data & Privacy” di akun Google mereka. Langkah-langkahnya meliputi:

  • Mematikan pengaturan “Search Services History” sepenuhnya
  • Menonaktifkan opsi “Save Media” untuk mencegah penyimpanan data gambar dan suara
  • Memeriksa apakah pengaturan “Personalized Recommendations” aktif dan menonaktifkannya jika tidak diinginkan

Google menyatakan bahwa pengaturan ini akan diluncurkan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan. Pengguna akan menerima notifikasi saat perubahan mulai berlaku di akun mereka.

Implikasi Faktual bagi Pembaca

Bagi pengguna biasa di Indonesia, perubahan ini berarti satu hal: data interaksi Anda dengan Google kini dikelola dengan lebih transparan, tetapi juga lebih terpisah-pisah. Jika sebelumnya Anda cukup mematikan satu pengaturan untuk membatasi pelacakan, kini Anda perlu memeriksa beberapa pengaturan berbeda.

Bagi para profesional dan pelaku bisnis yang menggunakan Google Workspace atau layanan Google lainnya, perubahan ini penting untuk dipahami dalam konteks kepatuhan terhadap regulasi privasi data di Indonesia, seperti UU PDP.

Dengan pemisahan pengaturan ini, Google memberikan kontrol lebih kepada pengguna, tetapi juga menuntut kesadaran yang lebih tinggi untuk mengelolanya secara efektif.