Ibu-GPT: Tren AI Momfluencer dan Beban Mental Ibu Modern

Ilustrasi seorang ibu menggunakan laptop dengan antarmuka chatbot AI di layar, dikelilingi mainan anak dan peralatan rumah tangga

JBNews.id — Seorang ibu di Zurich, Swiss, menggunakan ChatGPT untuk menidurkan anaknya yang berusia tiga tahun setelah semua saran dari dokter anak dan ahli tidur gagal. Metode yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan itu justru berhasil dalam waktu lima menit, sebuah pengalaman yang kemudian mendorongnya menjadi penginjil AI di kalangan ibu-ibu modern.

Fenomena ini menandai lahirnya gelombang baru momfluencer—kreator konten yang tidak lagi menjual estetika pengasuhan anak yang sempurna, melainkan menawarkan solusi berbasis AI untuk meringankan beban kerja rumah tangga yang tidak terlihat. Schmidt, sang ibu dari Zurich, menciptakan custom GPT bernama Coparent yang ia jual seharga $37 di situsnya setelah video TikTok-nya pada Juni 2025 menjadi viral dan meningkatkan jumlah pengikutnya menjadi 27.000 dalam tiga minggu.

Kesenjangan Gender dalam Adopsi AI

Data menunjukkan bahwa perempuan 20 persen lebih kecil kemungkinannya menggunakan AI generatif dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan laki-laki, sebuah fenomena yang dikenal sebagai kesenjangan gender AI. Stephanie Leblanc-Godfrey, pendiri perusahaan Mother AI yang menyebut dirinya sebagai “teknolog maternal,” mengkritik bahwa alat AI cenderung memiliki masalah “PMS”—pucat, laki-laki, dan basi.

“Anda memiliki semua orang yang menjalankan perusahaan AI ini yang sebenarnya tidak mencerminkan masyarakat yang menggunakannya, atau kebutuhan para ibu yang cenderung menjadi kepala rumah tangga,” ujarnya. Erin Grau, salah satu pendiri perusahaan riset dan pelatihan korporat Charter, berspekulasi bahwa ibu bekerja mungkin menggunakan AI lebih sedikit karena “rasa bersalah sebagai ibu”—memandang ketergantungan pada AI sebagai bentuk kecurangan.

Dari Alat Produktivitas menjadi Alat Pemberdayaan

Banyak tokoh perempuan terkemuka di bidang teknologi dan media berupaya menutup kesenjangan tersebut dengan membingkai AI generatif sebagai alat pemberdayaan perempuan. Mel Robbins, yang baru saja mengumumkan kemitraan dengan Microsoft Copilot, dalam podcastnya pada November menyatakan, “Saya tidak ingin tertinggal. Saya tidak ingin perempuan khususnya tertinggal.” Reese Witherspoon juga viral pada April dengan unggahan Instagram yang menyebut teknologi ini akan “membuat kehidupan sehari-hari kita lebih mudah dan lebih baik.”

Sarah Dooley, mantan konsultan teknologi untuk merek seperti Visa, mulai menggunakan AI generatif pada 2023 untuk membuat lagu sikat gigi bagi ketiga putrinya dan menulis catatan untuk pengasuh anak. Ia kemudian berhenti dari pekerjaannya dan memulai merek AI-Empowered Mom, yang kini bekerja penuh waktu sebagai konsultan untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mengajarkan perempuan menggunakan AI. Buku berjudul The AI-Empowered Family akan terbit tahun depan.

Dalam konteks yang lebih luas, kekhawatiran tentang dampak AI terhadap lapangan kerja juga mengemuka. Sebuah proyeksi menyebutkan bahwa hampir 15 persen tenaga kerja berisiko kehilangan pekerjaan akibat AI. Namun, para AI momfluencer cenderung menempatkan literasi AI sebagai alat pembebasan dari pekerjaan rumah tangga yang membosankan, mirip dengan penemuan penyedot debu atau mesin cuci pada pertengahan abad ke-20.

Beban Mental yang Tak Kunjung Selesai

Meskipun para ibu berbondong-bondong menggunakan AI untuk “lebih hadir bersama anak-anak saya dan lebih terkendali secara emosional,” pertanyaan mendasar tetap mengemuka: mengapa beban untuk mempelajari AI demi efisiensi rumah tangga masih berada di pundak perempuan, dan di mana peran para ayah dalam semua ini?

Schmidt mengakui bahwa 95 persen audiensnya adalah perempuan, meskipun ia sesekali menerima surel dari para ayah yang berharap menggunakan AI untuk meringankan beban pasangan mereka. Namun, pesan-pesan ini lebih jarang dan cenderung dikirim melalui pesan pribadi, bukan komentar publik. Ketika ditanya mengapa hal ini terjadi, Schmidt hanya setengah bercanda menjawab, “patriarki.”

“Sayangnya, beban mental masih dianggap sebagai masalah perempuan. Banyak laki-laki bahkan tidak tahu apa itu beban mental,” ujarnya. Data dari Departemen Tenaga Kerja AS tahun 2022 menunjukkan bahwa ibu bekerja menghabiskan tambahan 13,5 jam per minggu untuk pekerjaan rumah tangga dan rata-rata 12,5 jam per minggu untuk pengasuhan anak—peningkatan 40 persen dari tahun 1975. Meskipun data Pew menunjukkan bahwa ayah kini menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak dibandingkan 50 tahun lalu, perempuan tetap diharapkan memikul sebagian besar beban rumah tangga.

“Bukan berarti pasangan saya tidak membantu, karena dia membantu,” kata Schmidt. “Tetapi bagi perempuan dan ibu, ada begitu banyak pekerjaan tak terlihat yang Anda pikul dan semuanya ada di tangan Anda, dan itu sebenarnya mengambil waktu bersama anak-anak Anda.”

AI: Solusi atau Beban Tambahan?

Pengalaman langsung menggunakan chatbot untuk pengasuhan anak justru menimbulkan pertanyaan baru. Memasukkan baris demi baris teks ke dalam kolom perintah untuk menjelaskan rutinitas sehari-hari sebagai ibu justru memicu stres karena melihat volume tanggung jawab rumah tangga secara agregat. AI, seperti halnya penyedot debu dan mesin cuci, tidak membuat hidup sebagai ibu lebih efisien, melainkan hanya menjadi cara yang sedikit lebih canggih untuk terus mengikat perempuan pada urusan rumah tangga.

Kekesalan muncul karena kenyataan bahwa perempuan masih harus memikul sebagian besar tanggung jawab ini sejak awal. Seorang suami, misalnya, secara teratur menggunakan Claude untuk meneliti pasar saham atau meningkatkan efisiensi dalam pekerjaannya sebagai arsitek, tetapi tidak pernah terpikir olehnya untuk menggunakan alat yang sama untuk melacak pesta ulang tahun dan jadwal dokter. Sebanyak apa pun teknologi dapat membantu meringankan beban mental, teknologi tidak melakukan apa pun untuk menghilangkan fakta bahwa perempuan masih memikul tanggung jawab itu sejak awal.

Seperti yang dikatakan Leblanc-Godfrey, “Alat-alat ini dibuat untuk orang-orang yang punya waktu luang. Dan coba tebak? Ibu tidak punya waktu luang sama sekali.”

Bagi para ibu yang ingin mulai mengeksplorasi penggunaan AI, penting untuk tetap waspada terhadap potensi risiko seperti konten palsu atau deepfake. Raffi Ahmad Imbau Warga untuk waspada terhadap ancaman ini dan mengenalkan metode SIFT sebagai langkah verifikasi informasi.

Fenomena AI momfluencer ini mencerminkan dilema yang lebih dalam: teknologi yang seharusnya membebaskan justru bisa menjadi beban tambahan jika ketidaksetaraan struktural dalam pembagian kerja rumah tangga tidak diatasi. Pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah AI dapat membantu ibu, melainkan mengapa ibu masih harus menjadi satu-satunya yang memikirkan cara untuk membuat semuanya berjalan.