JBNews.id — Pemilik Tesla di China menggunakan kepala boneka palsu untuk mengelabui sistem pemantauan pengemudi di dalam kabin, sebuah praktik berbahaya yang menyebar luas setelah pembaruan perangkat lunak pada Oktober lalu. Figur-figur kecil ini, yang dijual bebas di platform e-commerce seperti Taobao, Xianyu, dan Douyin, dipasang di dashboard, kaca depan, atau kaca spion untuk menghalangi kamera melihat wajah asli pengemudi.
Fenomena ini pertama kali viral setelah video-video yang memperlihatkan kepala miniatur beraksi di dalam mobil Tesla beredar luas pekan lalu. Seorang pengemudi Tesla Model 3 di China yang tidak disebutkan namanya mengaku telah menggunakan kepala palsu tersebut selama perjalanan darat sejauh 400 mil. Dengan autopilot jalan raya aktif, ia memasang kepala botak yang menyerupai Dwayne Johnson selama sekitar 250 mil perjalanan tanpa intervensi berarti dari sistem.
“Kamu harus membeli kepala mainan seukuran bola ping pong,” kata pengemudi tersebut di platform video China tempat para pemilik Tesla saling bertukar tips. “Jika terlalu kecil, kamera tidak akan bisa fokus pada mainan itu.” Dalam video yang dikirimkannya, pengemudi terlihat menggunakan satu tangan untuk makan kuaci bunga matahari dan tangan lainnya untuk merekam, sementara kepala palsu yang menempel di kaca spion menghalangi kamera melihat aktivitasnya.
Latar Belakang dan Regulasi
Tesla belum merilis sistem Full Self-Driving (Supervised) di China. Pengemudi di negara tersebut saat ini hanya dapat mengakses fitur dasar untuk cruise control, autosteering, dan autopilot di beberapa jalan perkotaan. Karena mobil tidak sepenuhnya otonom, Tesla mewajibkan pengemudi untuk tetap memperhatikan jalan. Sistem pemantauan menggunakan kamera di atas kaca depan untuk memastikan pengemudi tidak terganggu.
Jika mobil mendeteksi bahwa pengemudi tidak melihat ke depan selama beberapa detik, sistem akan meminta mereka untuk segera mengalihkan perhatian. Jika tidak dipatuhi, Tesla dapat secara otomatis mematikan mode autopilot atau bahkan melarang pengemudi menggunakan fitur bantuan pengemudi selama seminggu.
Gelombang terbaru alat pengelabuan kamera mulai menyebar di China pada Oktober, tak lama setelah Tesla meluncurkan pembaruan perangkat lunak yang mengaktifkan pemantauan pengemudi melalui kamera kabin. Beberapa pengemudi awalnya menggunakan penutup webcam untuk memblokir kamera sepenuhnya, tetapi Tesla kemudian mengeluarkan pemberitahuan bahwa fitur bantuan pengemudi tidak akan berfungsi jika kamera terhalang. Saat itulah kepala palsu mulai bermunculan.
Variasi Alat Pengelabuan
Selain kepala 3D, beberapa pemilik Tesla di China menggantung gambar statis seseorang di depan kamera. Ada pula yang menggunakan cetakan lentikular—kartu bergerigi yang berganti gambar saat dilihat dari sudut berbeda. Satu versi populer bergantian antara foto orang yang sama dengan mata terbuka dan tertutup, menciptakan ilusi berkedip saat kartu bergoyang pelan ketika mobil bergerak.
Gadget paling canggih yang ditemukan adalah layar saku yang memutar video perulangan seseorang berkedip dan menggerakkan kepala. Penjualnya mengklaim telah diuji pada Tesla Model S, Model X, dan Cybertruck, serta mencapai “tingkat kesalahan 0 persen.” Mereka juga mengaku telah menjual perangkat tersebut ke pelanggan di AS, Kanada, dan Korea yang memiliki akses ke fitur FSD penuh.
Produk-produk ini masih merupakan pasar niche yang didominasi penjual DIY. Daftar produk yang ditemukan hanya terjual beberapa lusin unit masing-masing. Namun, jika semakin populer, Tesla kemungkinan akan menindak industri ini. JBNews.id telah menghubungi Tesla untuk menanyakan apakah perusahaan mengetahui produk ini dan berencana mengambil tindakan, tetapi perusahaan tidak merespons.
Kritik dan Risiko Keselamatan
Tidak semua orang antusias dengan gadget ini. Banyak pengguna media sosial China mengkritik penggunaannya, membandingkannya dengan klip yang memungkinkan pengemudi menghindari penggunaan sabuk pengaman. Kedua kategori produk ini menempatkan pengemudi dalam risiko demi kenyamanan. Jika perusahaan mobil ingin meyakinkan publik bahwa fungsi bantuan pengemudi aman dan tidak mendorong mengemudi sambil terganggu, masih banyak yang harus dilakukan.
Baca Juga:
Fenomena ini menunjukkan bahwa inovasi konsumen di China, yang sering didorong oleh keterbatasan akses terhadap fitur penuh, dapat menciptakan risiko baru. Sementara Tesla terus memperbarui sistemnya, pengemudi yang nekat terus mencari celah. Implikasinya jelas: jika sistem keselamatan dapat dikalahkan dengan kepala mainan seharga 10 dolar AS, kepercayaan terhadap teknologi otonom masih perlu diperkuat secara fundamental.
Selain itu, praktik ini juga mencerminkan budaya modifikasi kendaraan yang sudah lama ada di China, di mana pemilik mobil sering mencari cara kreatif untuk mengakali batasan pabrikan. Namun, dalam konteks keselamatan berkendara, risikonya jauh lebih tinggi dibandingkan modifikasi estetika biasa.
Para ahli keselamatan lalu lintas memperingatkan bahwa mengemudi dengan autopilot aktif sambil melakukan aktivitas lain seperti makan atau merekam video sangat berbahaya. Meskipun sistem dapat menangani sebagian besar situasi di jalan raya, kondisi darurat yang memerlukan respons cepat dari pengemudi masih mungkin terjadi. Kepala palsu yang menghalangi kamera berarti sistem tidak akan pernah tahu jika pengemudi tidak siap mengambil alih kendali.
Fenomena serupa juga terjadi di pasar lain seperti AS, di mana pengemudi Tesla telah lama mencari cara untuk mengakali kontrol keselamatan. Beberapa menggunakan kacamata hitam untuk menyulitkan kamera melacak bola mata, sementara yang lain memasang beban di setir untuk menipu sistem agar mengira tangan mereka masih memegang setir. Di Reddit, beberapa pengguna bahkan mencari model mobil lama dengan kamera dan sensor yang kurang canggih.
Semakin populernya gadget ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sistem pemantauan pengemudi berbasis kamera. Jika teknologi AI yang canggih dapat dikalahkan dengan trik sederhana seperti kepala boneka, maka industri otomotif perlu memikirkan ulang pendekatan mereka terhadap keselamatan. Solusi potensial termasuk penggunaan sensor multi-modal seperti radar atau infrared yang tidak mudah dikelabui oleh objek fisik di depan kamera.
Bagi pemilik Tesla di Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Meskipun fitur autopilot di China lebih terbatas dibandingkan di pasar lain, praktik mengakali sistem keselamatan tetap berisiko tinggi. Selain potensi kecelakaan, pengemudi juga menghadapi sanksi dari Tesla berupa larangan menggunakan fitur bantuan pengemudi selama seminggu jika terbukti melanggar aturan.
Ke depannya, Tesla dan produsen mobil lainnya perlu terus meningkatkan teknologi pemantauan pengemudi agar lebih tahan terhadap upaya pengelabuan. Ini bukan hanya soal menjaga kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga soal menyelamatkan nyawa. Sementara itu, pengemudi diingatkan bahwa tidak ada fitur bantuan pengemudi yang dapat menggantikan kewaspadaan manusia di jalan raya.
Fenomena ini juga menyoroti bagaimana Brand Teknologi China terus berinovasi, baik secara resmi maupun tidak resmi. Sementara itu, kemampuan Sistem AI China dalam berbagai aplikasi menunjukkan potensi besar teknologi tersebut, meskipun dalam kasus ini justru digunakan untuk tujuan yang kontraproduktif terhadap keselamatan.
