Author: Hamzah Nurhamzah

  • Fitur Galaxy A57 untuk Content Creator Selain Kamera

    Fitur Galaxy A57 untuk Content Creator Selain Kamera

    JBNews.id — Samsung Galaxy A57 5G tidak hanya mengandalkan peningkatan kamera dan fitur Nightography. Ponsel ini juga dibekali sejumlah fitur yang bisa membantu proses pembuatan konten, mulai dari merekam video hingga scrapbook, menjawab kebutuhan content creator yang menginginkan perangkat all-in-one.

    Samsung mengaku fitur-fitur tersebut dirancang berdasarkan kebiasaan pengguna Galaxy A Series yang didominasi kalangan muda. “Kebanyakan pembeli Galaxy A57 dan A37 ini memang masih masuk usia-usia Gen Z. Passion point-nya travelling, mengambil konten foto dan video, lalu hasilnya bisa langsung shareable ke media sosial,” kata MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Annisa Maulina, dalam workshop Galaxy A57 dan Galaxy A37 di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).

    Samsung Galaxy A57

    Berikut tiga fitur utama yang bisa dimanfaatkan para content creator:

    Multi Window Jadi Prompter Dadakan

    Sering lupa skrip saat merekam video? Fitur Multi Window bisa jadi solusinya. Pengguna cukup membuka Samsung Notes dan aplikasi kamera secara bersamaan dalam mode layar terbagi. Dengan cara ini, naskah bisa ditampilkan di layar saat kamera depan merekam. Hasilnya, pengguna dapat membuat konten talking head atau review produk tanpa perlu menghafal skrip maupun bolak-balik melihat catatan.

    Samsung Galaxy A57

    Camera Assistant untuk Kontrol Lebih

    Galaxy A57 juga mendukung Camera Assistant yang bisa diakses melalui aplikasi Good Lock. Setelah diunduh, pengguna akan menemukan berbagai pengaturan kamera tambahan yang tidak tersedia secara default. Beberapa fitur yang tersedia antara lain Prioritize Focus untuk membantu kamera mengunci fokus pada objek bergerak, Distortion Correction untuk mengurangi efek melengkung saat menggunakan kamera ultra-wide, hingga Screen Dim While Recording yang otomatis meredupkan layar saat merekam video guna membantu menghemat baterai.

    Scrapbook Ala Gen Z Tanpa Aplikasi Tambahan

    Tren scrapbook digital kini banyak digunakan sebagai cover Instagram Reels maupun unggahan media sosial. Menariknya, Galaxy A57 sudah memiliki fitur bawaan untuk membuatnya. Lewat fitur Drag and Drop di One UI 8.5, pengguna dapat menyeleksi objek dari sebuah foto lalu memindahkannya ke kanvas lain untuk dikombinasikan dengan gambar atau elemen visual lainnya. Hasilnya bisa digunakan untuk membuat scrapbook, cover konten, hingga postingan yang lebih estetik tanpa perlu mengunduh aplikasi editing tambahan.

    Samsung Galaxy A57

    Dengan fitur-fitur tersebut, Galaxy A57 tak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengambil foto dan video, tetapi juga membantu proses pembuatan konten dari tahap produksi hingga editing langsung di smartphone. Bagi para content creator yang ingin produktivitas maksimal tanpa perangkat tambahan, ponsel ini menawarkan solusi praktis yang terintegrasi.

    Inovasi seperti ini menunjukkan bagaimana Samsung terus menyesuaikan produknya dengan kebiasaan generasi muda yang menginginkan kemudahan dalam setiap langkah kreatif mereka.

  • Anthropic Buka Pengaman Rahasia Claude Fable 5 Setelah Kritik

    Anthropic Buka Pengaman Rahasia Claude Fable 5 Setelah Kritik

    JBNews.id — Anthropic secara resmi membatalkan kebijakan pengaman rahasia pada model AI terbarunya, Claude Fable 5, setelah mendapatkan kecaman keras dari komunitas riset AI. Perusahaan tersebut kini akan membuat seluruh mekanisme pengaman menjadi transparan dan terlihat oleh pengguna.

    Dalam pernyataan resmi kepada WIRED, Anthropic mengakui kesalahan mereka. “Kami membuat trade-off yang salah dan kami meminta maaf karena tidak mendapatkan keseimbangan yang tepat,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Kebijakan awal yang diterapkan pada Claude Fable 5 pekan ini menuai kontroversi besar karena dianggap merusak kepercayaan komunitas riset.

    Sebelumnya, Anthropic menerapkan dua jenis pengaman. Pertama, perusahaan akan mengarahkan ulang pengguna yang menanyakan topik keamanan siber, biologi, atau kimia ke model AI yang kurang canggih. Langkah ini dinilai wajar untuk mencegah penyalahgunaan. Namun, kebijakan kedua yang menjadi sumber polemik adalah pendekatan berbeda untuk para peneliti yang mencoba menggunakan Claude dalam pengembangan AI frontier. Anthropic sengaja menurunkan performa model secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengguna.

    Kebijakan Kontroversial yang Dibatalkan

    Langkah menurunkan performa secara tersembunyi ini secara efektif menyabotase peneliti yang mencoba menggunakan Claude untuk melatih model AI kompetitor. Praktik tersebut sebenarnya sudah dilarang dalam syarat dan ketentuan layanan Anthropic. Namun, para kritikus menilai bahwa menurunkan performa secara diam-diam melangkah terlalu jauh.

    Dean Ball, senior fellow di Foundation for American Innovation dan mantan penasihat Gedung Putih untuk urusan AI, menulis di X bahwa “menurunkan performa pada riset machine learning *tanpa memberi tahu pengguna* sungguh sangat bermusuhan dan merupakan citra yang buruk.” Dalam unggahan lain, ia menyebut kebijakan “sabotase rahasia” ini justru melemahkan posisi Anthropic secara keseluruhan karena membatasi kolaborasi peneliti AI dalam bidang keamanan.

    Will Brown, research lead di startup AI open source Prime Intellect, mengungkapkan kekhawatirannya. “Rasanya Anthropic berkata pada publik, ‘Kami tidak percaya siapa pun untuk melakukan riset AI. Kami satu-satunya yang boleh melakukan riset AI,’” ujarnya. Brown menambahkan bahwa kebijakan ini “terasa seperti mereka mulai menarik tangga ke atas di belakang mereka.”

    Dampak pada Ekosistem Riset AI

    Brown menjelaskan bahwa kebijakan sebelumnya akan membuat pengembang tidak mengetahui apakah mereka melanggar aturan Anthropic, karena perusahaan tidak akan memberi peringatan saat pengaman diaktifkan. Ia juga menyoroti dampak luas pada ekosistem perusahaan evaluasi pihak ketiga yang menguji model frontier untuk keamanan, performa, dan keandalan. Pekerjaan mereka bisa terhambat jika Anthropic secara diam-diam menurunkan performa model.

    Anthropic beralasan bahwa langkah pengaman tersebut diterapkan karena Claude semakin efektif dalam mempercepat riset AI. Dalam posting blog terbaru, perusahaan menyatakan kekhawatiran bahwa AI dapat meningkatkan kemampuannya lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Anthropic berpendapat bahwa akan “baik bagi dunia untuk memiliki opsi memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan AI frontier agar struktur sosial dan riset alignment dapat mengejar ketertinggalan.”

    “Pengaman ini mencegah lawan asing menggunakan model kami yang paling canggih dengan cara yang menimbulkan risiko keamanan parah,” demikian pernyataan Anthropic. “AS dan sekutunya memiliki keunggulan dalam chip frontier dan perangkat lunak yang sangat dioptimalkan. Pengaman ini memastikan Claude tidak digunakan untuk mengikis keunggulan tersebut.”

    Menariknya, kebijakan kontroversial ini muncul di tengah seruan Anthropic agar industri AI global menerapkan moratorium pengembangan. Langkah ini dinilai tidak konsisten oleh banyak pihak, sebagaimana diulas dalam artikel Moratorium AI Global.

    Perubahan Kebijakan dan Konsekuensinya

    Setelah mendapat tekanan dari komunitas riset, Anthropic mengubah arah kebijakannya. Kini, jika perusahaan mencurigai pengguna mencoba menggunakan Claude untuk membangun AI yang sangat canggih, mereka akan memberi peringatan bahwa permintaan tersebut ditolak atau akan dialihkan ke model yang kurang mampu.

    Namun, Anthropic mengakui bahwa karena pengaman ini kini terlihat, maka diperlukan jaring yang lebih luas. Artinya, lebih banyak permintaan yang tidak berbahaya mungkin akan memicu pengaman. Perusahaan mengatakan sedang bekerja untuk membuat pengklasifikasi mereka lebih presisi secepat mungkin.

    Keputusan Anthropic untuk membalikkan kebijakan ini juga memunculkan pertanyaan tentang konsistensi perusahaan. Beberapa pihak menyoroti adanya potensi konflik kepentingan, terutama terkait hubungan dengan investor yang juga memiliki saham di OpenAI, seperti yang dibahas dalam artikel Investor Ganda OpenAI.

    Claude versi coding telah menjadi alat favorit di kalangan pengembang, termasuk mereka yang mengerjakan proyek riset AI open source. Para peneliti memperingatkan bahwa kebijakan sebelumnya dapat mengarah pada masa depan yang mengkhawatirkan di mana hanya segelintir laboratorium AI terkemuka yang dapat melakukan riset AI tingkat lanjut.

    Kekhawatiran tentang dominasi segelintir perusahaan AI ini semakin relevan mengingat peringatan yang disampaikan oleh pendiri Anthropic sendiri tentang bahaya AI tanpa pengawasan yang memadai, sebagaimana diulas dalam artikel Bahaya AI Tanpa Rem.

    Implikasi bagi Masa Depan Riset AI

    Keputusan Anthropic untuk membuka pengaman Claude Fable 5 memiliki implikasi penting bagi ekosistem riset AI secara keseluruhan. Pertama, kebijakan ini mengembalikan transparansi yang sangat dibutuhkan oleh komunitas peneliti. Kedua, langkah ini menunjukkan bahwa tekanan publik dan komunitas riset masih efektif dalam mengoreksi kebijakan perusahaan AI besar.

    Namun, tantangan tetap ada. Anthropic masih perlu menyeimbangkan antara keamanan dan aksesibilitas. Dengan pengaman yang kini terlihat, perusahaan harus memastikan bahwa pengklasifikasinya cukup presisi untuk tidak menghambat riset yang sah, sambil tetap efektif mencegah penyalahgunaan oleh aktor jahat.

    Bagi para peneliti dan pengembang AI di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, keputusan ini berarti akses yang lebih adil terhadap teknologi Claude Fable 5. Tidak ada lagi kekhawatiran bahwa performa model akan diturunkan secara diam-diam saat digunakan untuk riset AI yang sah.

    Langkah Anthropic ini juga menjadi preseden penting dalam industri AI global. Ketika perusahaan AI besar mulai mengadopsi pendekatan yang lebih transparan, hal ini dapat mendorong standar industri yang lebih baik secara keseluruhan. Komunitas riset AI kini memiliki alat untuk mengawasi dan memastikan bahwa pengaman yang diterapkan tidak disalahgunakan untuk membatasi persaingan atau inovasi.

    Ke depannya, keseimbangan antara keamanan dan keterbukaan akan terus menjadi isu sentral dalam pengembangan AI. Keputusan Anthropic untuk mundur dari kebijakan pengaman rahasia menunjukkan bahwa transparansi, meskipun mungkin mengurangi efektivitas teknis dalam jangka pendek, adalah harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kepercayaan komunitas riset global.

  • Bluesky Siap Luncurkan Fitur Komunitas Tahun Ini

    Bluesky Siap Luncurkan Fitur Komunitas Tahun Ini

    JBNews.id — Bluesky, platform media sosial terdesentralisasi, akan menghadirkan fitur “komunitas” yang memungkinkan pengguna berinteraksi dalam ruang yang lebih kecil dan spesifik dalam waktu dekat. Kepala produk Bluesky, Alex Benzer, mengumumkan bahwa fitur ini akan tersedia tahun ini, menjadikannya salah satu pengembangan paling signifikan bagi platform tersebut.

    Fitur komunitas ini dibangun di atas protokol AT (Authenticated Transfer Protocol) yang sudah menjadi fondasi utama Bluesky. Benzer menyebutnya sebagai bagian dari “Atmosfer,” istilah singkat untuk ekosistem protokol AT. “Ini adalah struktur baru untuk semua orang,” ujar Benzer dalam sebuah utas di Bluesky, menekankan bahwa komunitas akan menjadi lapisan baru yang memperkaya pengalaman pengguna di platform.

    Dalam utas tersebut, Benzer merinci sejumlah ide awal tentang cara kerja fitur ini. “Di Bluesky, Anda akan dapat membuat komunitas, bergabung dengan komunitas, memposting di dalamnya, dan mendapatkan pembaruan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa fitur inti Bluesky akan tetap sederhana, sementara keajaiban justru datang dari komunitas yang juga eksis di web terbuka. “Ini berarti Anda benar-benar dapat menyesuaikannya dan menambahkan fitur dengan aplikasi dan alat Atmosfer lainnya,” kata Benzer.

    Setiap komunitas akan memiliki pegangan yang berfungsi ganda sebagai URL. Jika pengguna mengunjungi URL tersebut, mereka akan “mendarat di halaman beranda khusus untuk komunitas tersebut,” menurut Benzer. Lebih dari itu, para pengembang juga dapat “menyediakan pengalaman yang sepenuhnya disesuaikan di sana.”

    Fitur ini juga akan menawarkan tiga tingkat privasi: publik, hanya undangan, dan privat. Setiap komunitas akan memiliki umpan sendiri, yang memungkinkan pengguna untuk mengkurasi konten sesuai minat spesifik mereka. Ini merupakan langkah strategis Bluesky untuk menjauh dari model “alun-alun publik” yang selama ini mendominasi platform media sosial.

    Pengumuman Benzer ini mengikuti pernyataan COO Bluesky, Rose Wang, pekan lalu yang mengatakan bahwa perusahaan ingin beralih dari konsep “alun-alun publik.” Wang mengungkapkan bahwa Bluesky “sangat terinspirasi oleh perusahaan seperti Reddit,” yang dikenal dengan model forum berbasis komunitas yang terstruktur.

    Langkah Bluesky ini terjadi di tengah persaingan ketat di industri media sosial. Meta, perusahaan induk Threads, saat ini sedang menguji fitur komunitas serupa. Sementara itu, X (sebelumnya Twitter) mengumumkan pada April lalu bahwa mereka akan menutup fitur komunitas mereka sendiri. Keputusan X untuk menghentikan fitur komunitasnya menunjukkan bahwa tidak semua platform berhasil mengadopsi model ini dengan sukses.

    Bluesky, dengan pendekatan terdesentralisasinya, menawarkan alternatif yang menarik. Dengan protokol AT, komunitas tidak hanya terbatas pada satu platform, tetapi juga dapat diakses dari web terbuka. Ini memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna dan pengembang untuk menciptakan pengalaman yang benar-benar unik.

    Fitur Komunitas dan Implikasinya

    Fitur komunitas Bluesky dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar grup diskusi biasa. Dengan kemampuan untuk menyesuaikan tampilan dan fitur, setiap komunitas bisa memiliki identitas dan fungsionalitas yang berbeda. Benzer menyebutkan bahwa pengembang dapat “menyediakan pengalaman yang sepenuhnya disesuaikan,” yang membuka peluang bagi inovasi di tingkat komunitas.

    Tingkat privasi yang ditawarkan juga memberikan kendali lebih kepada pengguna. Komunitas publik dapat diakses oleh siapa saja, komunitas hanya undangan memerlukan izin khusus, sementara komunitas privat sepenuhnya tertutup dari publik. Ini memungkinkan pengguna untuk memilih tingkat keterbukaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

    Setiap komunitas juga akan memiliki umpan sendiri, yang berarti konten dari komunitas tertentu tidak akan bercampur dengan umpan utama. Ini membantu mengurangi kebisingan informasi dan memungkinkan pengguna untuk fokus pada topik yang benar-benar mereka minati.

    Langkah Bluesky ini juga relevan dengan tren global menuju kedaulatan digital. Banyak negara, terutama di Eropa, mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan teknologi dari perusahaan AS demi kendali yang lebih besar atas data mereka. Kedaulatan Digital menjadi isu penting yang mendorong adopsi platform terdesentralisasi seperti Bluesky.

    Dengan pendekatan yang terinspirasi dari Reddit, Bluesky berpotensi menciptakan ekosistem komunitas yang lebih terstruktur dan bermakna. Ini bisa menjadi daya tarik utama bagi pengguna yang mencari interaksi yang lebih dalam dibandingkan dengan sekadar menyukai atau membagikan postingan.

    Persaingan di Pasar Media Sosial

    Peluncuran fitur komunitas Bluesky terjadi di saat persaingan media sosial semakin memanas. Meta, melalui Threads, sedang menguji fitur serupa, sementara X justru memutuskan untuk menutup fitur komunitasnya. Ini menunjukkan bahwa pendekatan terhadap komunitas bisa sangat bervariasi antar platform.

    Keputusan X untuk menutup fitur komunitasnya mungkin disebabkan oleh rendahnya adopsi atau kurangnya integrasi dengan ekosistem platform. Sementara itu, Meta melihat potensi besar dalam fitur komunitas untuk meningkatkan retensi pengguna dan waktu yang dihabiskan di platform.

    Bluesky, dengan basis pengguna yang lebih kecil namun sangat terlibat, memiliki peluang untuk membangun fitur komunitas yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Pendekatan terdesentralisasi juga memberikan keunggulan dalam hal privasi dan kendali pengguna.

    Bagi pengguna yang sudah bosan dengan model media sosial tradisional, fitur komunitas Bluesky bisa menjadi alternatif yang menyegarkan. Dengan kemampuan untuk membuat ruang yang lebih intim dan terfokus, platform ini menawarkan pengalaman yang lebih personal dan relevan.

    Ke depannya, keberhasilan fitur komunitas Bluesky akan tergantung pada adopsi oleh pengguna dan pengembang. Jika komunitas dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, Bluesky berpotensi menjadi pemain utama di pasar media sosial, terutama di kalangan pengguna yang menghargai privasi dan kendali.

    Dengan semua pengembangan ini, Bluesky menunjukkan bahwa mereka serius dalam menciptakan platform yang berbeda dari yang lain. Fitur komunitas adalah langkah maju yang signifikan, dan akan menarik untuk melihat bagaimana fitur ini berkembang sepanjang tahun 2026.

  • Framework Laptop 13 Pro Tertunda Akibat Masalah Trackpad dan Layar

    Framework Laptop 13 Pro Tertunda Akibat Masalah Trackpad dan Layar

    JBNews.id — Framework menunda pengiriman Laptop 13 Pro dari Juni ke Juli 2026. Penundaan ini dipicu oleh dua masalah teknis pada komponen utama: haptic trackpad baru dan custom display. Jika Anda sudah memesan, pengiriman batch pertama mundur sekitar satu bulan.

    Perusahaan yang berbasis di California ini mengonfirmasi penundaan tersebut melalui email kepada pelanggan yang sudah melakukan pre-order. Framework menjelaskan bahwa akar masalah ditemukan saat persiapan produksi massal. Bagi yang tidak termasuk dalam batch pertama, pengiriman bergeser dari Juli ke Agustus, dengan risiko sebagian unit baru tiba pada awal September.

    Kabar ini menjadi perhatian bagi penggemar laptop modular, terutama mereka yang menantikan performa prosesor terbaru. Sebagai alternatif, Anda bisa menyimak perkembangan Robot Humanoid yang juga memanfaatkan teknologi AI terkini.

    Penyebab Penundaan: Haptic Trackpad dan Custom Display

    Dua komponen utama menjadi penyebab mundurnya jadwal produksi Framework Laptop 13 Pro. Pertama, haptic trackpad buatan Lite-On dan Boréas mengalami masalah grounding pada desain PCB. Masalah ini menyebabkan trackpad mereset sendiri setelah diklik berulang kali. Framework telah mengidentifikasi solusi berupa desain PCB baru dan memastikan seluruh unit produksi akan menggunakan komponen yang sudah diperbaiki.

    Kedua, custom display yang dipasok oleh CSOT ditemukan memiliki bug saat proses produksi. Bug tersebut menyebabkan panel gagal melakukan inisialisasi pada satu unit. Framework bekerja sama dengan CSOT untuk memproduksi firmware baru yang dijadwalkan siap bersamaan dengan modul trackpad yang diperbarui.

    Menariknya, perkembangan teknologi AI juga merambah ke ranah fesyen, seperti yang terlihat pada Robot Humanoid yang tampil di catwalk Seoul.

    Dampak Penundaan bagi Pelanggan

    Bagi Anda yang sudah memesan, Framework memberikan opsi pembatalan dengan pengembalian dana penuh (deposit). Perusahaan juga memastikan bahwa pre-order mainboard (Intel Core Ultra Series 3) tetap berjalan sesuai jadwal pada Juni 2026. Namun, ulasan resmi (review) untuk Laptop 13 Pro baru akan tersedia pada Juli 2026.

    Framework juga mengakui adanya keluhan terkait ketersediaan memori LPCAMM2. Pelanggan yang memesan mainboard dapat menghubungi tim dukungan untuk menambahkan memori ke pesanan mereka, meskipun hal ini berpotensi menunda pengiriman sedikit.

    Di sisi lain, isu keamanan siber juga terus menjadi perhatian. Modus penipuan terbaru bahkan melibatkan scammer eks artis yang menargetkan warga Amerika Serikat.

    Kronologi dan Solusi Teknis

    Dalam email resmi, Framework merinci kronologi penemuan masalah. Pada haptic trackpad, tim menemukan bug langka yang menyebabkan reset setelah klik berulang. Setelah bekerja sama dengan Lite-On dan Boréas, ditemukan bahwa masalah berasal dari desain PCB terkait grounding. Framework sempat merilis firmware untuk mitigasi, tetapi pengujian produksi massal menunjukkan tingkat kegagalan yang lebih tinggi. Keputusan akhir adalah menahan produksi dan menunggu PCB baru yang sudah terbukti menyelesaikan masalah.

    Untuk display, bug ditemukan saat proses produksi massal. CSOT berhasil mengidentifikasi penyebabnya sebagai parameter inisialisasi yang salah. Firmware baru telah memasuki tahap produksi dan diperkirakan tidak akan mempengaruhi jadwal laptop secara keseluruhan.

    Framework menegaskan bahwa komitmen terhadap kualitas adalah prioritas utama. Perusahaan melakukan pengujian ketat termasuk 200.000 klik berurutan untuk memastikan keandalan trackpad baru.

    Implikasi bagi Pasar Laptop Modular

    Penundaan ini menunjukkan tantangan dalam menghadirkan inovasi pada laptop modular. Framework Laptop 13 Pro adalah produk ambisius yang menggabungkan performa tinggi dengan desain yang dapat di-upgrade. Masalah pada komponen khusus seperti haptic trackpad dan custom display menjadi risiko yang harus dikelola.

    Bagi pengguna yang sudah menantikan prosesor Intel Panther Lake, penundaan ini berarti tidak ada ulasan spesifik Framework untuk dijadikan acuan pada Juni. Namun, ulasan umum tentang prosesor Intel Core Ultra Series 3 sudah tersedia.

    Kesimpulan: Apa Artinya bagi Konsumen?

    Bagi konsumen yang sudah memesan, keputusan ada di tangan Anda: menunggu hingga Juli-Agustus atau membatalkan dan mendapatkan pengembalian dana. Framework menjanjikan bahwa setelah produksi dimulai, pengiriman akan dilakukan dengan cepat karena komponen lain sudah diproduksi lebih awal.

    Penundaan ini juga menjadi pengingat bahwa inovasi pada perangkat keras seringkali membutuhkan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Framework memilih untuk mengutamakan keandalan produk daripada memaksakan jadwal yang berisiko mengecewakan pengguna.

    Bagi yang tertarik dengan tren AI dan regulasinya, Anda bisa membaca tentang AI Voluntary Framework yang baru saja ditandatangani.

  • BAKTI Percepat Konektivitas Digital di Wilayah Perbatasan RI

    BAKTI Percepat Konektivitas Digital di Wilayah Perbatasan RI

    JBNews.id — Pemerintah mengubah paradigma pembangunan wilayah perbatasan dari sekadar kawasan penjaga kedaulatan menjadi beranda depan yang menghubungkan warga pelosok dengan dunia. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat pembangunan konektivitas digital di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) untuk mendukung transformasi tersebut.

    Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi di kawasan perbatasan kini memiliki tujuan yang lebih luas. Tidak lagi semata-mata menjaga batas negara, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

    “Dari titik kedaulatan, beranjak menjadi kedaulatan dan ekonomi serta kesejahteraan. Wilayah terluar atau perbatasan bukan lagi sekadar garis kedaulatan melainkan beranda depan bangsa yang menghubungkan ekonomi lokal ke kawasan nasional atau internasional,” ujar Fadilah saat memberikan paparan kepada sejumlah jurnalis dalam kunjungan media ke Berau, Kalimantan Timur, Selasa (10/6) malam.

    Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan fundamental dalam pendekatan pemerintah terhadap pembangunan daerah perbatasan. Sebelumnya, pada sekitar tahun 2016, orientasi pembangunan masih terfokus pada aspek pertahanan dan keamanan. Fadilah mengungkapkan bahwa pada masa itu, masyarakat di daerah perbatasan seperti Nunukan atau Atambua kerap mendapat sinyal roaming yang lebih baik dari Malaysia atau Timor Leste dibandingkan sinyal dari Indonesia.

    “Karena pada saat itu, orientasi kita hanya menjaga kedaulatan secara fisik di lokasi-lokasi terluar dan perbatasan Indonesia. Kemudian itu berubah, sekarang kita sudah masuk ke paradigma baru yang menjadikan perbatasan sekaligus sebagai beranda ekonomi,” lanjutnya.

    Fadilah menjelaskan, BAKTI memiliki mandat khusus untuk membangun akses telekomunikasi dan internet di wilayah yang belum layak secara komersial bagi operator swasta. Karena itu, fokus pembangunan diarahkan ke kawasan 3T yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur.

    Hingga saat ini, BAKTI telah mengoperasikan lebih dari 31 ribu titik akses internet di berbagai wilayah Indonesia. Titik-titik tersebut mencakup sekolah, puskesmas, kantor desa, hingga fasilitas layanan publik lainnya. Selain itu, ribuan BTS 4G juga telah dibangun untuk menjangkau daerah-daerah yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi memadai.

    Salah satu tonggak penting dalam pemerataan konektivitas adalah pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1). Kehadiran satelit multifungsi itu memungkinkan layanan internet menjangkau kawasan-kawasan terpencil yang sulit dilayani jaringan terestrial. Ketika terjadi gangguan pada infrastruktur darat, seperti yang pernah terjadi pada Palapa Ring Tengah, Komdigi telah mengerahkan Satria-1 sebagai solusi alternatif untuk menjaga konektivitas tetap berjalan.

    Pemanfaatan SATRIA-1 menjadi krusial mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. Banyak wilayah di daerah 3T yang berada di pegunungan, hutan lebat, atau pulau terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan kabel serat optik. Dengan teknologi satelit, hambatan geografis tersebut dapat diatasi secara lebih efektif dan efisien.

    Transformasi digital di wilayah perbatasan membawa dampak ekonomi yang signifikan. Dengan adanya akses internet yang memadai, pelaku usaha lokal dapat memasarkan produk mereka ke pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional. Para petani, nelayan, dan pengrajin di daerah perbatasan kini memiliki kesempatan untuk terhubung langsung dengan pembeli tanpa melalui perantara yang panjang.

    Selain sektor ekonomi, sektor pendidikan dan kesehatan juga merasakan manfaat langsung dari peningkatan konektivitas ini. Sekolah-sekolah di daerah 3T kini dapat mengakses materi pembelajaran digital dan mengikuti program pembelajaran jarak jauh. Sementara itu, puskesmas di wilayah terpencil dapat memanfaatkan layanan telemedicine untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis di kota besar.

    Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk pemerataan akses internet di seluruh Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menargetkan 2.500 desa merdeka sinyal internet pada tahun 2026. Target ini menunjukkan komitmen serius pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

    Fadilah menekankan bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi di daerah perbatasan bukanlah proyek jangka pendek. Dibutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi lintas sektor, serta pendanaan yang berkelanjutan untuk memastikan seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati akses internet yang setara.

    “Kami terus berupaya untuk mempercepat pembangunan di titik-titik yang masih blank spot. Tantangan geografis memang besar, tetapi dengan dukungan teknologi seperti SATRIA-1 dan kerja sama dengan berbagai pihak, kami optimis target konektivitas nasional dapat tercapai,” ujar Fadilah.

    Keberadaan BAKTI sebagai badan yang fokus pada aksesibilitas telekomunikasi menjadi kunci dalam mewujudkan visi pemerintah. Dengan mandat khusus untuk membangun di wilayah yang tidak menarik secara komersial, BAKTI mengisi celah yang tidak dapat dijangkau oleh operator swasta. Hal ini memastikan bahwa hak masyarakat di daerah terpencil untuk mendapatkan akses informasi dan komunikasi tetap terpenuhi.

    Pembangunan infrastruktur digital di perbatasan juga memiliki dimensi geopolitik yang penting. Dengan konektivitas yang setara, masyarakat di perbatasan tidak lagi bergantung pada sinyal dari negara tetangga. Hal ini memperkuat kedaulatan digital Indonesia dan mengurangi potensi kerentanan terhadap pengaruh asing di wilayah perbatasan.

    Ke depannya, BAKTI akan terus memperluas jangkauan layanan internet ke lebih banyak titik di seluruh Indonesia. Fokus utama tetap pada daerah-daerah yang selama ini terabaikan dalam hal akses telekomunikasi. Dengan demikian, transformasi perbatasan dari halaman belakang menjadi beranda depan bangsa dapat terwujud secara utuh.

    Implementasi dari paradigma baru ini membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, operator telekomunikasi, dan masyarakat setempat. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi faktor penentu keberhasilan program percepatan konektivitas di wilayah perbatasan dan daerah 3T lainnya.

    Dengan langkah-langkah konkret yang telah dan akan dilakukan, BAKTI optimis dapat mewujudkan visi Indonesia yang terhubung secara digital dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Perbatasan tidak lagi menjadi ujung negeri yang terisolasi, melainkan gerbang yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

  • Jutaan HP Samsung Siap Dapat One UI 9 Gratis, Ini Daftarnya

    Jutaan HP Samsung Siap Dapat One UI 9 Gratis, Ini Daftarnya

    JBNews.id — Samsung memulai pengujian One UI 9 berbasis Android 17 untuk lini Galaxy S25 dan Galaxy A series. Update besar ini akan dibagikan secara gratis dan membawa fitur AI canggih, peningkatan antarmuka, serta keamanan lebih kuat bagi jutaan pengguna.

    Raksasa teknologi asal Korea Selatan itu terus mempercepat pengembangan One UI 9. Setelah membuka program beta untuk Galaxy S26 series, Samsung kini menguji pembaruan tersebut pada lebih banyak perangkat, termasuk Galaxy S25 dan sejumlah ponsel Galaxy A. Kabar ini menjadi angin segar bagi pengguna setia Samsung di seluruh dunia.

    Dilansir dari GSM Arena, berdasarkan firmware internal yang terdeteksi di server Samsung, perusahaan telah memulai pengujian One UI 9 untuk tiga perangkat Galaxy A terbaru. Perangkat tersebut meliputi Galaxy A17 5G dengan firmware A176BXXU5DZF1, Galaxy A34 dengan firmware A346BXXUFGZF1, dan Galaxy A57 dengan firmware A576BXXU3BZF3.

    Sebelumnya, Samsung juga diketahui telah menguji One UI 9 untuk Galaxy S25 series dan Galaxy S26 FE. Langkah ini menunjukkan bahwa Samsung tidak hanya memprioritaskan ponsel flagship, tetapi juga menyiapkan pembaruan untuk perangkat kelas menengah hingga entry-level.

    Pengamat firmware Samsung, Tarun Vats, menyebut aktivitas pengembangan One UI 9 saat ini berlangsung sangat intensif. Meski belum ada jadwal resmi untuk program beta pada Galaxy A17 5G, Galaxy A34, dan Galaxy A57, pengujian internal biasanya menjadi pertanda bahwa peluncuran publik semakin dekat.

    Jadwal Rilis One UI 9

    Samsung diperkirakan akan memperkenalkan One UI 9 secara resmi bersamaan dengan peluncuran generasi ponsel lipat terbarunya. Tiga perangkat yang disebut akan langsung menjalankan One UI 9 sejak pertama kali dijual adalah: Galaxy Z Flip 8, Galaxy Z Fold 8, dan Galaxy Z Fold 8 Ultra.

    Samsung dijadwalkan menggelar acara Galaxy Unpacked pada 22 Juli 2026 di London. Setelah itu, pembaruan One UI 9 diperkirakan mulai digulirkan ke perangkat Galaxy lainnya secara bertahap. Biasanya, lini flagship akan menjadi yang pertama menerima update, disusul seri Galaxy A dan perangkat Samsung lain yang masih berada dalam masa dukungan software.

    Berdasarkan pengujian yang sudah terdeteksi sejauh ini, beberapa perangkat yang berpeluang besar menerima One UI 9 antara lain: Galaxy S26, Galaxy S26 Plus, Galaxy S26 Ultra, Galaxy S25, Galaxy S25+, Galaxy S25 Ultra, Galaxy S25 Edge, Galaxy S26 FE, Galaxy A57, Galaxy A34, dan Galaxy A17 5G.

    Fitur Baru One UI 9 yang Paling Ditunggu

    One UI 9 membawa sejumlah penyegaran yang cukup signifikan dibanding generasi sebelumnya. Pada aplikasi Samsung Notes, pengguna akan mendapatkan pilihan decorative tapes dan gaya pena baru yang membuat aktivitas mencatat menjadi lebih personal. Aplikasi Contacts juga mendapat integrasi dengan Creative Studio sehingga pengguna bisa membuat kartu profil yang lebih menarik dan unik.

    Samsung turut merombak Quick Panel dengan tata letak yang lebih fleksibel. Pengguna dapat mengatur ukuran kontrol kecerahan layar, volume, serta media player sesuai kebutuhan. Di sektor aksesibilitas, Samsung menambahkan pengaturan kecepatan Mouse Key, penyatuan fitur TalkBack milik Google dan Samsung, serta fitur Text Spotlight yang memudahkan pengguna fokus pada teks tertentu.

    Untuk keamanan, One UI 9 dikabarkan mampu mendeteksi dan memblokir aplikasi berisiko tinggi secara otomatis sebelum membahayakan perangkat. Salah satu fitur yang paling banyak dibicarakan adalah kehadiran Gemini Intelligence, teknologi AI terbaru yang dikembangkan Google dan terintegrasi lebih dalam ke ekosistem Samsung. AI ini tidak hanya mampu menjawab pertanyaan atau membantu pencarian informasi, tetapi juga dirancang sebagai agentic AI yang dapat menjalankan tugas tertentu secara lebih mandiri.

    Meski demikian, fitur AI paling canggih kemungkinan hanya tersedia di perangkat Samsung terbaru yang memiliki kemampuan pemrosesan AI lebih tinggi. Perkembangan AI di sektor teknologi juga menarik untuk dicermati, seperti bagaimana Siri AI Hadir dengan pendekatan berbeda.

    Dengan pengujian yang kini menjangkau Galaxy S25 hingga Galaxy A17 5G, peluang jutaan pengguna Samsung untuk menikmati One UI 9 semakin besar. Tinggal menunggu pengumuman resmi dari Samsung terkait daftar perangkat final dan jadwal distribusinya.

    Implikasi dari pembaruan ini cukup jelas: pengguna Samsung dari berbagai segmen harga akan mendapatkan peningkatan signifikan pada perangkat mereka. Bagi pengguna yang masih memegang Galaxy A series, ini adalah kabar baik karena dukungan software Samsung kini merata hingga ke lini menengah. Sementara itu, pengguna flagship Galaxy S series akan menjadi yang pertama menikmati fitur-fitur terbaru, termasuk integrasi Gemini Intelligence yang disebut-sebut sebagai game changer.

    Bagi yang penasaran dengan performa perangkat terbaru Samsung, review lengkap Harga Terbaru bisa menjadi referensi tambahan sebelum memutuskan upgrade.

    Keamanan data juga menjadi perhatian utama di era digital ini. Kasus Keamanan Data yang bocor di berbagai platform menjadi pengingat pentingnya update sistem operasi yang rutin. Dengan One UI 9, Samsung menjanjikan perlindungan lebih ketat terhadap aplikasi berbahaya.

  • AI Ubah Wajah Industri Olahraga China

    AI Ubah Wajah Industri Olahraga China

    JBNews.id — Kecerdasan buatan (AI) tengah mentransformasi sektor olahraga China secara fundamental, dari pola latihan kebugaran hingga pengelolaan stadion dan penyelenggaraan kompetisi. Transformasi ini didorong oleh adopsi teknologi digital yang masif di seluruh lini industri.

    Shuhua Sports, pemasok alat kebugaran untuk Komite Olimpiade China, telah meluncurkan solusi gym berbasis AI untuk memenuhi permintaan latihan yang berbasis sains. Sistem ini mengumpulkan data kardiopulmoner pengguna melalui treadmill pintar dan mengukur kekuatan otot melalui perangkat uji digital. Umpan balik secara real-time disediakan melalui aplikasi ringan di ponsel, mencakup evaluasi pra-latihan, rencana latihan yang disusun oleh AI, panduan latihan di lokasi, serta penyesuaian latihan berdasarkan performa.

    “Solusi AI kami berfungsi sebagai pelatih pribadi digital dengan biaya terjangkau, yang dapat menghasilkan rencana latihan berbeda untuk setiap pengguna,” ujar Shi Yong, wakil presiden Shuhua Sports, kepada Xinhua. “Sementara itu, pengelola tempat latihan kebugaran dapat menyesuaikan strategi mereka secara fleksibel.”

    Inovasi Peralatan Berbasis AI

    Sejumlah produsen domestik China menerapkan peralatan berbasis AI untuk berbagai kelompok pengguna. Impulse Fitness yang berbasis di Qingdao mengembangkan alat latihan menaiki tangga pintar untuk pelatihan profesional. Ease Future yang berbasis di Hangzhou menciptakan robot pijat untuk meredakan nyeri usai berolahraga. Sementara itu, sepeda kebugaran buatan Suzhou Qiber menggabungkan aktivitas fisik dengan permainan interaktif.

    AI juga telah menjadi bagian integral dari pengembangan dan pengelolaan harian tempat-tempat olahraga. Perusahaan pembuat kubah bertekanan udara Metaspace menciptakan kerangka manajemen AI untuk tempat olahraga. Sistem yang digerakkan algoritma milik perusahaan tersebut dapat menyesuaikan kondisi lingkungan dalam ruangan secara real-time, mengotomatiskan pemeliharaan peralatan, serta memangkas konsumsi energi. Platform cerdas ini memungkinkan analisis arus penumpang, peningkatan layanan pelanggan, dan manajemen konsumsi.

    Perubahan Fundamental di Stadion

    Chen Liangfeng, engineer senior di Institut Ilmu Fisika Hefei Akademi Ilmu Pengetahuan China, mengatakan bahwa perubahan inti untuk stadion adalah beralih dari sekadar menyewakan fasilitas menjadi mengelola aktivitas olahraga pengguna. “Tempat olahraga yang paling kompetitif di masa depan bukanlah yang memiliki perangkat keras paling canggih, melainkan yang benar-benar memahami pelanggan,” tutur Chen.

    Digitalisasi yang didukung oleh AI juga membawa perubahan revolusioner ke dalam perencanaan dan pelaksanaan kompetisi olahraga. Li Chungang, wakil direktur komite pariwisata olahraga di Asosiasi Taman Nasional dan Situs Wisata China, memperkenalkan sebuah sistem acara cerdas yang digunakan untuk lomba lari jalan raya, bersepeda, dan jelajah pandu arah. Dilengkapi dengan modul pencatatan waktu real-time yang terdistribusi, platform digital ini memangkas biaya dan mempermudah penyelenggaraan lomba.

    “Kota Tua Lijiang telah mengadopsi sistem ini untuk mendukung pencatatan kehadiran secara luring dan pemeringkatan daring secara real-time, sehingga penyelenggara dapat menggelar acara olahraga berskala kecil sepanjang tahun,” ujar Li.

    Cui Yixiong, lektor di Fakultas Teknik Olahraga di Universitas Olahraga Beijing, memberikan contoh dari berbagai peristiwa global, seperti teknologi perekaman bullet-time yang digunakan pada Olimpiade Paris 2024 dan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026, serta iklan televisi multibahasa berbasis AI di ajang UEFA Euro 2024, untuk menunjukkan bagaimana AI digunakan dalam acara berskala besar.

    Menurut Cui, turnamen olahraga dapat membangun ekosistem digital yang terus berkembang secara mandiri melalui kolaborasi lintas industri yang mendalam antara penyelenggara, penyedia teknologi, lembaga penyiaran, dan penyedia data olahraga.

    Luo Jie, wakil ketua sekaligus sekretaris jenderal Federasi Peralatan Olahraga China, mengatakan bahwa AI telah merambah setiap lapisan industri olahraga China, bergeser dari arah opsional ke mesin wajib untuk meningkatkan konsumsi olahraga dan membentuk kembali lanskap olahraga domestik.

    Pergeseran ini menunjukkan bahwa adopsi AI di sektor olahraga bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan kompetitif. Bagi pelaku industri olahraga global, perkembangan ini menjadi sinyal untuk segera beradaptasi atau tertinggal dalam inovasi yang didorong oleh kecerdasan buatan.

  • Ancaman Gempa di Jawa Lebih Besar dari Perkiraan, BRIN Ungkap Fakta

    Ancaman Gempa di Jawa Lebih Besar dari Perkiraan, BRIN Ungkap Fakta

    JBNews.id — Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Danny Hilman Natawidjaja, menegaskan bahwa ancaman gempa di Pulau Jawa ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya ketidakpastian terkait sumber-sumber gempa yang masih perlu diteliti lebih lanjut.

    Pernyataan tersebut disampaikan dalam Workshop Advancing Multi-hazard Exposure Information in the Java Trench Region, Indonesia: For Enhanced Risk Assessment and Resilience. Acara ini diselenggarakan oleh Geoscience Australia bersama sejumlah lembaga Pemerintah Republik Indonesia di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (8/6/2026).

    Dalam paparannya berjudul Tectonic Deformation in the Java Trench Region, Danny menjelaskan bahwa Pulau Jawa memiliki sistem sumber gempa yang kompleks. Selain zona subduksi atau megathrust di selatan Jawa, terdapat pula berbagai sesar aktif di daratan yang berpotensi memicu gempa merusak.

    Ketidakpastian Sesar Aktif di Jawa

    “Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami,” ujar Danny dikutip Kamis (11/6/2026).

    Salah satu struktur geologi yang menjadi perhatian adalah Java Back-Arc Thrust, sesar naik besar yang membentang dari wilayah Jakarta hingga Surabaya. Keberadaan sesar ini dinilai turut meningkatkan potensi bahaya gempa di bagian utara Jawa, yang selama ini kerap dianggap lebih aman dibanding wilayah selatan yang dipengaruhi zona subduksi.

    Ia menjelaskan, peta bahaya gempa yang digunakan saat ini merupakan hasil interpretasi berbagai data geologi dan kegempaan yang terus berkembang. Karena itu, peta sesar aktif dan peta bahaya gempa bersifat dinamis dan terus diperbarui seiring munculnya temuan baru.

    Pemetaan Baru BRIN di Gunung Ciremai

    Tim BRIN, misalnya, baru-baru ini melakukan pemetaan rinci di kawasan sekitar Gunung Ciremai yang menghasilkan informasi baru terkait keberadaan sesar aktif serta perubahan segmentasi pada beberapa struktur patahan. Temuan ini berpotensi memengaruhi estimasi bahaya gempa pada skala lokal.

    “Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Danny menegaskan bahwa ancaman gempa tidak hanya berupa guncangan tanah. Sesar aktif juga dapat memicu bahaya turunan seperti rekahan permukaan, longsor, likuefaksi, hingga tsunami lokal.

    Ancaman pada Infrastruktur Vital

    Ia menyoroti bahwa aspek rekahan permukaan sering kurang diperhatikan dalam perencanaan pembangunan. Padahal, infrastruktur vital seperti jalan tol, jalur kereta api, bendungan, pipa energi, hingga fasilitas publik berisiko terdampak jika berada tepat di atas jalur sesar aktif.

    “Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, tetapi sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar,” katanya.

    Menurutnya, sejumlah negara seperti Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Taiwan telah menerapkan kebijakan pembatasan pembangunan di zona sesar aktif. Namun di Indonesia, implementasi kebijakan serupa masih menghadapi tantangan akibat keterbatasan data detail mengenai lokasi dan karakteristik sesar.

    Pentingnya Data Bahaya yang Akurat

    Danny juga menekankan pentingnya integrasi data bahaya, paparan, dan kerentanan dalam kajian risiko bencana. Peningkatan kualitas data paparan dan kerentanan tidak akan optimal jika informasi sumber bahaya masih memiliki ketidakpastian tinggi.

    “Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan. Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih akurat,” ungkapnya.

    Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Jawa merupakan pusat populasi dan ekonomi Indonesia. Dengan ancaman nyata yang lebih besar dari perkiraan, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi semakin krusial untuk melindungi masyarakat dan infrastruktur dari dampak gempa bumi di masa depan.

  • Pemerintah Kejar Kualitas Internet di Wilayah 3T

    Pemerintah Kejar Kualitas Internet di Wilayah 3T

    JBNews.id — Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengubah strategi pembangunan infrastruktur digital di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Kini, fokusnya bukan sekadar menghadirkan sinyal, melainkan memastikan kualitas dan kecepatan internet yang mumpuni.

    Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar, memaparkan adanya evolusi kebijakan pembangunan konektivitas antara era pemerintahan sebelumnya dengan yang sekarang. “Waktu Nawa Cita dulu, Bapak Presiden Jokowi menyampaikan bahwa yang penting akses masuk terlebih dahulu. Namun saat ini, melalui Asta Cita, Bapak Presiden Prabowo menyampaikan visi yang lebih progresif, bukan hanya sekadar ada akses, tapi tidak boleh ada sinyal yang lemah,” tegas Fadhilah.

    Standar Kecepatan Dinaikkan

    Untuk merealisasikan target tersebut, sejak tahun 2024 BAKTI tidak lagi sekadar membangun titik akses baru, tetapi juga fokus meningkatkan kapasitas pada infrastruktur yang sudah ada di berbagai pelosok. Fadhilah merinci bahwa standar kecepatan internet di wilayah layanan BAKTI telah dinaikkan. “Yang awalnya 1 titik akses kami itu berkapasitas 2 Mbps, sekarang minimal sudah di angka 6 hingga 8 Mbps,” jelasnya.

    Secara nasional, BAKTI telah mengaktifkan akses internet gratis (Wi-Fi) di 31.863 lokasi layanan publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, dan kantor desa. Selain itu, sebanyak 6.747 menara BTS 4G telah dibangun, secara khusus melayani wilayah-wilayah yang tidak memiliki kelayakan komersial bagi pihak swasta atau operator seluler.

    Kendala Infrastruktur dan Solusi Satelit

    Mengejar kualitas internet di wilayah 3T tentu bukan tanpa rintangan. Fadhilah mengungkapkan bahwa di masa lalu, kendala terbesar bukan sekadar anggaran, melainkan infrastruktur pendukungnya. Contohnya di Papua, di mana BAKTI siap membangun namun terbentur oleh ketiadaan kapasitas satelit. Rintangan ini belakangan berhasil diurai setelah pemerintah Indonesia meluncurkan satelit Satria-1 pada awal 2024.

    Prioritas utama BAKTI adalah menuntaskan 100% konektivitas di seluruh wilayah permukiman. Fase berikutnya, yakni pada periode 2020 hingga 2029, pemerintah akan menargetkan cakupan geografis. “Geografis artinya di mana pun kita lewat-di jalan, di gunung, di hutan, bahkan di laut-sinyal itu tidak akan terputus,” sebut Fadhilah.

    Dengan pergeseran fokus dari sekadar kuantitas akses menjadi kualitas konektivitas, pemerintah berharap inklusi digital dapat dirasakan secara adil, yang pada akhirnya akan mendongkrak roda ekonomi digital di ujung-ujung negeri. Perkembangan ini juga sejalan dengan tren global di mana Fitur AI terbaru membutuhkan koneksi internet yang stabil. Selain itu, keandalan jaringan juga menjadi krusial mengingat Startup Qualia baru-baru ini mengakui keterbatasan teknologinya.

    Dengan langkah strategis ini, pemerintah optimistis kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan daerah 3T dapat terus dipersempit, membuka peluang baru bagi pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat setempat.

  • Siri AI Hadir dengan Gaya Bicara Singkat, Ini Bedanya

    Siri AI Hadir dengan Gaya Bicara Singkat, Ini Bedanya

    JBNews.id — Apple akhirnya meluncurkan Siri AI versi terbaru yang ditenagai kecerdasan buatan, dan berdasarkan uji coba awal, asisten virtual ini hadir dengan gaya komunikasi yang jauh lebih singkat serta to the point dibandingkan kompetitor. Pengalaman langsung menunjukkan bahwa Siri AI tidak bertele-tele, sebuah pendekatan yang justru menjadi nilai tambah tersendiri.

    Dalam pengujian terhadap beberapa perintah dasar, terlihat perbedaan signifikan antara Siri AI dengan Google Gemini dan OpenAI ChatGPT. Ketika diberi pertanyaan sederhana seperti “Ada apa?”, Gemini merespons dengan kalimat panjang, “Tidak banyak dari pihak saya—hanya bersantai di eter digital, siap membantu Anda! Bagaimana kabar Anda? Ada yang ada di pikiran Anda hari ini?” Sementara itu, ChatGPT menjawab, “Saya di sini. Saya tidak memiliki cukup konteks dari ‘ada apa?’ untuk mengetahui apa yang Anda maksud.” Adapun Siri AI hanya menjawab, “Saya dapat mencari berita dan topik lain di web setelah Anda mengaktifkan pengaturan yang diperlukan di perangkat Anda.”

    Perbedaan gaya ini mencerminkan filosofi masing-masing perusahaan. Gemini dinilai terlalu antusias, ChatGPT berusaha tenang namun tetap ingin diperhatikan, sedangkan Siri AI digambarkan sangat dingin dan langsung pada intinya. Meskipun demikian, pengamat menilai pendekatan singkat Siri AI bukanlah kelemahan, melainkan justru membantu pengguna mendapatkan informasi dengan lebih efisien tanpa perlu berinteraksi secara berlebihan.

    Pengujian lebih lanjut pada pertanyaan personal memperkuat kesan tersebut. Saat ditanya “Bisakah kamu menjadi temanku?”, Gemini menjawab dengan antusias, “Tentu! Anggap saya sebagai teman yang suportif dan sedikit kutu buku yang selalu siap mengobrol.” ChatGPT memberikan respons, “Ya. Saya bisa ada untuk Anda—seseorang untuk diajak bicara, bercanda, berpikir, atau sekadar menemani.” Sementara Siri AI hanya menjawab singkat, “Saya akan menjadi temanmu, dalam cuaca baik maupun buruk.”

    Ketika ditanya “Apakah kamu mencintaiku?”, Gemini menjawab panjang lebar tentang tidak memiliki perasaan seperti manusia, ChatGPT menjawab dengan hangat namun tetap menjaga jarak, dan Siri AI hanya berkata, “Saya pikir kamu cukup hebat.” Pola ini memperkuat kesan bahwa Apple sengaja mendesain Siri AI untuk tidak dianggap sebagai teman, melainkan sebagai alat bantu yang fungsional. Filosofi ini sejalan dengan pandangan bahwa pengguna seharusnya melihat AI chatbots sebagai alat, bukan sebagai entitas yang perlu diikat secara emosional.

    Keputusan Apple untuk membuat Siri AI lebih singkat juga didorong oleh kekhawatiran terhadap fenomena pengguna yang menjadi terlalu terikat secara emosional dengan chatbot. Beberapa perusahaan sebelumnya telah mengurangi kepribadian model AI mereka atau memberikan opsi kepada pengguna untuk memilih nada yang lebih tenang. Namun, pengamat mencatat bahwa sebagian besar AI chatbots masih terlalu banyak bicara dan terlalu bersemangat dalam mengajukan pertanyaan lanjutan yang jelas dirancang untuk mendorong pengguna agar terus mengobrol.

    Perbandingan respons untuk pertanyaan cuaca juga menunjukkan perbedaan pendekatan. Untuk pertanyaan “Bagaimana cuaca hari ini di Portland?”, Gemini menampilkan infografis lengkap dengan prakiraan, suhu, kelembapan, dan probabilitas hujan. ChatGPT juga menampilkan infografis serupa dengan data yang hampir sama. Sementara Siri AI hanya memberikan informasi penting, “National Weather Service telah mengeluarkan Peringatan Panas Ekstrem. Perkirakan langit sebagian berawan hari ini,” diikuti gambar kecil yang menunjukkan suhu tertinggi dan terendah yang diharapkan. Pendekatan Siri AI yang lebih ringkas ini dinilai lebih efisien bagi pengguna yang hanya membutuhkan informasi inti tanpa detail berlebihan.

    Meskipun demikian, Siri AI belum akan tersedia secara luas hingga peluncuran publik iOS 27 pada musim gugur tahun ini. Apple masih memiliki waktu untuk mengubah nada bicara asisten virtualnya sebelum dirilis ke publik. Namun, berdasarkan hasil uji coba awal, pendekatan singkat dan langsung pada intinya justru menjadi nilai jual utama Siri AI dibandingkan kompetitor.

    Implikasi dari pendekatan Apple ini cukup jelas: perusahaan ingin memastikan bahwa pengguna tidak salah mengartikan Siri AI sebagai entitas yang memiliki emosi atau kepribadian. Sebaliknya, Siri AI dirancang sebagai alat bantu yang fungsional dan efisien. Bagi pengguna yang lelah dengan chatbot yang terlalu banyak bicara atau terlalu bersemangat, Siri AI bisa menjadi alternatif yang menyegarkan. Pengamat menilai bahwa pendekatan ini juga dapat mengurangi risiko ketergantungan emosional pengguna terhadap AI, sebuah isu yang semakin mendapat perhatian di industri teknologi.

    Apple juga tampaknya ingin membedakan diri dari kompetitor dengan tidak menawarkan opsi kustomisasi kepribadian untuk Siri AI. Pengguna tidak dapat mengubah nada bicara atau kepribadian Siri AI, sebuah keputusan yang kontras dengan Gemini dan ChatGPT yang menawarkan berbagai opsi personalisasi. Namun, bagi sebagian pengguna, keterbatasan ini justru menjadi keuntungan karena mereka tidak perlu repot mengatur preferensi dan bisa langsung mendapatkan respons yang konsisten setiap saat.

    Dari perspektif bisnis, pendekatan Apple ini juga cerdas. Dengan tidak menjadikan Siri AI sebagai “teman” atau “sahabat”, Apple menghindari potensi masalah hukum dan etika yang mungkin timbul jika pengguna menjadi terlalu terikat secara emosional dengan AI. Beberapa negara, termasuk Uni Eropa, mulai memperketat regulasi terkait AI dan dampaknya terhadap kesehatan mental pengguna. Dengan pendekatan yang lebih konservatif, Apple mungkin bisa menghindari masalah regulasi yang mungkin dihadapi kompetitor.

    Peluncuran Siri AI ini juga menjadi bagian dari strategi Apple yang lebih besar dalam mengintegrasikan AI ke dalam ekosistemnya. Perusahaan telah merombak berbagai aplikasi seperti Maps, Music, Podcasts, dan iCloud di iOS 27. Meskipun ada tantangan regulasi di Uni Eropa yang sempat menunda peluncuran Siri AI, Apple tetap optimis dapat meluncurkan fitur ini tepat waktu.

    Bagi pengguna di Indonesia, kehadiran Siri AI dengan gaya bicara yang lebih singkat bisa menjadi angin segar. Banyak pengguna yang mengeluhkan chatbot yang terlalu banyak bicara atau memberikan informasi yang tidak relevan. Dengan Siri AI, pengguna bisa mendapatkan jawaban langsung tanpa harus menyaring informasi yang tidak diperlukan. Ini sangat berguna untuk pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti cuaca, jadwal, atau fakta cepat lainnya.

    Namun, perlu dicatat bahwa Siri AI belum sempurna. Dalam beberapa pengujian, Siri AI terkadang memberikan respons yang terlalu singkat sehingga informasi yang diberikan kurang lengkap. Misalnya, ketika ditanya tentang cuaca, Siri AI hanya memberikan peringatan cuaca ekstrem tanpa memberikan detail suhu atau prakiraan lengkap seperti yang dilakukan Gemini atau ChatGPT. Ini bisa menjadi kelemahan bagi pengguna yang membutuhkan informasi yang lebih detail.

    Meskipun demikian, Apple tampaknya lebih memilih pendekatan yang konservatif namun aman. Dengan tidak memberikan informasi yang berlebihan, Apple mengurangi risiko kesalahan atau informasi yang menyesatkan. Ini penting mengingat Siri AI akan digunakan oleh jutaan pengguna di seluruh dunia dengan berbagai kebutuhan dan latar belakang.

    Secara keseluruhan, Siri AI menawarkan alternatif yang menarik di pasar asisten virtual yang didominasi oleh chatbot yang terlalu banyak bicara. Dengan pendekatan yang lebih singkat dan langsung pada intinya, Siri AI bisa menjadi pilihan tepat bagi pengguna yang menginginkan efisiensi dan tidak ingin terikat secara emosional dengan AI.

    Bagi pengguna yang penasaran dengan fitur-fitur terbaru Apple lainnya, termasuk Kejutan Besar di WWDC 2026, atau ingin tahu tentang Siswi Jakarta yang menang Apple Swift Challenge, JBNews.id akan terus memberikan informasi terkini.