Author: Hamzah Nurhamzah

  • Keamanan Data 985.000 KTP Pengunjung Klub Ganja Spanyol Bocor

    Keamanan Data 985.000 KTP Pengunjung Klub Ganja Spanyol Bocor

    JBNews.id — Lebih dari 985.000 foto identitas pribadi pengunjung klub ganja di Spanyol ditemukan terpapar di internet publik tanpa perlindungan kata sandi. Data sensitif ini mencakup paspor, SIM, nomor telepon, alamat rumah, hingga preferensi konsumsi ganja bulanan.

    Temuan ini diungkap oleh peneliti keamanan Sammy Azdoufal yang menggunakan alat otomatis untuk memindai kerentanan sistem milik perusahaan teknologi asal Irlandia, Cannabis Club Systems (CCS) atau Nefos Solutions. Azdoufal sebelumnya dikenal karena menemukan celah keamanan pada robot vakum DJI Romo dan jutaan kamera pengawas bayi.

    Menurut laporan Azdoufal, data yang terekspos berasal dari sistem verifikasi yang digunakan oleh klub-klub ganja di Spanyol. Sistem ini memungkinkan resepsionis mengunggah foto KTP dan selfie pengunjung ke server cloud Nefos. Tanpa disadari, data tersebut disimpan di URL publik yang sangat mudah ditebak, seperti: https://ccsnubev2.com/v8/images/_{club}/ID/{user_id}-front.jpg.

    “Kami harus melakukan sesuatu secepat mungkin, karena orang-orang akan menemukan ini dan menjualnya kembali. Ini akan menimbulkan kerusakan,” kata Azdoufal kepada The Verge pada Mei 2026.

    Kerentanan Sistem PuffPal

    Azdoufal menemukan celah keamanan setelah melakukan proses rekayasa balik (decompile) terhadap aplikasi bernama PuffPal. Aplikasi ini digunakan klub untuk mempercepat proses masuk pengunjung melalui pemindaian kode QR. Dari proses tersebut, ia menemukan bahwa Nefos tidak memiliki tingkat keamanan yang berarti.

    Beberapa temuan kritis Azdoufal meliputi:

    • Kunci rahasia untuk platform pembayaran Stripe ditemukan dalam teks biasa di dalam aplikasi
    • Profil anggota dapat diakses hanya dengan mengubah satu angka pada URL
    • Portal admin dapat diakses melalui internet publik
    • Kata sandi akun klub ganja sangat lemah dan dapat diretas dalam hitungan menit menggunakan GPU modern
    • Pesan obrolan pribadi antara klub dan anggota melalui aplikasi PuffPal juga rentan

    Setiap hari, klub-klub tersebut mengunggah 5.000 foto identitas baru dengan URL yang tidak aman. Data yang terekspos tidak hanya berasal dari warga Spanyol, tetapi juga pengunjung dari seluruh dunia, termasuk 30.000 orang dari Amerika Serikat. Azdoufal menyebutkan bahwa selebritas juga termasuk dalam basis data tersebut.

    “Mereka memiliki orang-orang terkenal. Orang-orang yang tidak ingin semua orang tahu mereka merokok ganja,” ujar Azdoufal.

    Tanggapan dan Tindakan Perusahaan

    Setelah dihubungi oleh The Verge, Nefos akhirnya mengambil tindakan berarti sekitar sebulan kemudian. Perusahaan mengumumkan akan menutup seluruh sistem PuffPal dan API yang rentan hingga diperbaiki. Dalam pengujian terbaru pada 10 Juni 2026, gambar paspor dan data pribadi tampak sudah diamankan.

    Dalam wawancara telepon, salah satu pendiri Nefos, Andreas Nilsen, mengaku telah menghubungi Otoritas Perlindungan Data (DPC) Irlandia terkait kebocoran data ini. Juru bicara DPC, Evan O’Leary, mengonfirmasi hal tersebut melalui email.

    “Kami harus berkomunikasi dengan semua orang yang berpotensi terpapar,” kata Nilsen. Ia berharap DPC dapat menunjukkan cara yang tepat untuk melakukan komunikasi tersebut.

    Nilsen mengklaim belum ada bukti bahwa pihak luar selain Azdoufal yang mengakses data tersebut. Namun, respons Nefos dinilai terlalu lambat. Perusahaan baru merespons setelah lima hari dan ancaman publikasi berita.

    Awalnya, Nefos hanya menambal lubang keamanan tanpa menghentikan operasional. Pada 4 Juni 2026, Azdoufal menemukan bahwa paspornya sendiri kembali terbuka secara online tanpa perlindungan. Hal ini terjadi karena klub-klub mengeluh bahwa gambar yang terkunci tidak muncul seperti biasanya, sehingga Nefos memilih untuk membuka kembali akses gambar tersebut.

    “70 persen dari waktu gambar terkunci sejak kami dihubungi,” klaim Nilsen.

    Pada 9 Juni 2026, Azdoufal kembali menemukan bahwa meskipun gambar paspor sudah diamankan dengan token, data lain dalam profil pengguna masih mudah diakses. Informasi seperti nomor paspor, nomor telepon, alamat email, dan alamat rumah bisa didapatkan hanya dengan perintah sederhana melalui command line. Celah ini kemudian ditutup setelah diberitahukan kepada Nefos.

    Kesalahan Pengembangan dan Konsekuensi Hukum

    Nilsen mengakui kesalahan berada di pihak perusahaannya, namun ia menuding pihak ketiga, yaitu perusahaan outsourcing 9Series, sebagai pengembang aplikasi PuffPal dan pembuat API yang rentan. Hingga berita ini diturunkan, 9Series belum memberikan tanggapan.

    Saat ini, PuffPal sudah tidak beroperasi. Nefos mengirimkan email ke setiap klub untuk memberitahu bahwa anggota tidak bisa lagi menggunakan kode QR untuk masuk. Sebagai gantinya, klub masih bisa menarik data identitas dari server Nefos setelah memindai kartu RFID atau mengetikkan nomor telepon anggota.

    Nilsen berjanji tidak akan meluncurkan kembali PuffPal yang tidak aman jika klub memintanya. “Kami akan memberi tahu mereka bahwa kami tidak bisa. Kami akan memastikan, setelah bencana ini, bahwa ini diverifikasi oleh peneliti keamanan independen dan menjamin bahwa ini 100 persen aman,” tegasnya.

    Perusahaan berencana berpisah dengan 9Series dan berharap memiliki aplikasi baru dalam beberapa bulan ke depan. Nilsen juga sadar bahwa berdasarkan hukum Uni Eropa, perusahaannya secara hukum wajib mengungkapkan kebocoran dalam waktu 72 jam atau membayar denda besar. Hal ini tidak dilakukan perusahaan.

    “Saya yakin kami akan mendapatkan hukuman apa pun yang ada,” ujar Nilsen.

    Insiden ini terjadi hanya sebulan setelah Portal Visa Inggris dilaporkan mengekspos setidaknya 100.000 paspor kepada siapa pun yang bisa menebak URL. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri teknologi untuk tidak mengorbankan keamanan data demi kenyamanan bisnis.

  • Startup Qualia Akui Video Robot Humanoidnya Hanya Ilusi

    Startup Qualia Akui Video Robot Humanoidnya Hanya Ilusi

    JBNews.id — Sebuah perusahaan perangkat lunak robotika kecil, Qualia, mengakui bahwa video promosi yang memperlihatkan robot humanoidnya sedang mencuci piring hanyalah ilusi. Pengakuan ini muncul setelah video tersebut menuai kebingungan dan kritik di media sosial, mengingatkan publik pada insiden serupa yang pernah dilakukan Tesla pada 2021.

    Video yang diunggah Qualia di platform X pada Selasa (9/6/2026) menunjukkan robot humanoid ramping berjalan di dapur minimalis untuk mencuci piring. Gerakannya tampak sangat realistis, memicu spekulasi apakah itu robot sungguhan atau sekadar hasil generasi kecerdasan buatan (AI).

    “Kami melatih model embodied yang menempatkan robot pada tugas manual nyata dan membuatnya bekerja, di lapangan, bukan dalam demo,” tulis perusahaan itu dalam keterangan unggahannya. Namun, kejanggalan segera terendus warganet.

    Keraguan publik akhirnya terjawab setelah pendiri Qualia, Fabian Kerj, buka suara. Menanggapi pertanyaan seorang pengguna X yang bingung apakah video itu kolaborasi nyata, Kerj menjawab terus terang. “Humanoid itu bukan robot sungguhan,” tulis Kerj. “Kami membangun infrastruktur pelatihan — bukan perangkat keras.” Ia menambahkan, “Berhasil menarik perhatian kalian, tho,” disertai emoji tersenyum.

    Reaksi di dunia maya pun keras. Seorang pengguna Reddit mempertanyakan, “Bukankah itu menyesatkan?” Pengguna lain menyalahkan Tesla sebagai pelopor praktik semacam itu. “Aku menyalahkan Elon Musk karena memulai omong kosong ini,” tulisnya.

    Dalam cuitan lanjutan, Qualia mencoba mengklarifikasi bahwa mereka “tidak membangun perangkat keras. Belum.” Namun, pengakuan itu sudah telanjur memicu kekecewaan. Pendekatan pemasaran ini dianggap bermasalah, terutama karena perusahaan tersebut tidak memproduksi robot sama sekali.

    Kejadian ini mengingatkan pada momen memalukan di Agustus 2021, ketika Tesla menggelar acara spektakuler untuk memperkenalkan robot humanoid yang disebut Tesla Bot, yang kemudian berganti nama menjadi Optimus. Saat itu, robot tersebut menari di atas panggung dengan gerakan kaku. Kenyataannya, Tesla belum siap menampilkan android sesungguhnya; mereka mengirim aktor yang mengenakan bodysuit hitam-putih. Hingga lima tahun kemudian, Tesla masih berjuang meluncurkan versi produksi robot tersebut.

    Qualia sendiri baru saja terpilih sebagai mitra Program Robotika Google DeepMind di Eropa. Kemitraan ini menjadi sorotan setelah insiden video palsu tersebut. Google Ubah Pengaturan Privasi Search dan kebijakan AI mereka kini dipertanyakan terkait pengawasan terhadap mitra.

    Dalam industri robotika yang sarat dengan klaim berlebihan dan demo menyesatkan, tindakan Qualia dinilai tidak etis. Sejumlah pengamat menilai langkah ini justru merusak kredibilitas perusahaan di mata investor dan mitra potensial. Google Gemini Sponsor Resmi Timnas Argentina menunjukkan besarnya investasi Google di bidang AI, sehingga insiden ini bisa berdampak pada hubungan bisnis mereka.

    Futurism telah menghubungi Google DeepMind dan Qualia untuk klarifikasi lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, kedua pihak belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, dunia maya masih ramai memperdebatkan batas antara pemasaran kreatif dan praktik menyesatkan di era AI.

    Implikasi dari insiden ini cukup jelas: perusahaan rintisan di bidang robotika dan AI harus lebih berhati-hati dalam strategi pemasaran mereka. Di tengah meningkatnya skeptisisme publik terhadap klaim teknologi, transparansi menjadi kunci untuk membangun kepercayaan. Bagi Qualia, insiden ini menjadi pelajaran berharga bahwa perhatian publik tidak selalu berarti positif, terutama jika didapat melalui cara yang dianggap menipu.

    Ke depannya, industri robotika perlu menetapkan standar etika yang lebih jelas dalam mempromosikan produk. Google Rilis Gemini Go untuk HP Android Murah menunjukkan komitmen Google terhadap aksesibilitas AI, namun insiden Qualia justru menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan terhadap mitra teknologi mereka.

  • Fitur AI iOS 27 Eksklusif untuk iPhone 17 Pro

    Fitur AI iOS 27 Eksklusif untuk iPhone 17 Pro

    JBNews.id — Apple merilis public beta pertama iOS 27, iPadOS 27, dan macOS 27 di ajang WWDC 2026. Pembaruan ini menghadirkan fitur kecerdasan buatan (AI) generatif baru yang berjalan secara lokal di perangkat (on-device). Namun, fitur AI tercanggih hanya bisa dijalankan di iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone Air.

    Persyaratan hardware yang ketat menjadi penghalang bagi sebagian besar pengguna. Fitur AI on-device seperti Expressive Voices dan enhanced dictation membutuhkan RAM minimal 12GB. Alhasil, iPhone 17 versi reguler dengan RAM 8GB tidak akan mendapatkan akses penuh ke fitur-fitur tersebut.

    Apple menetapkan syarat memori minimal 12GB untuk perangkat yang ingin menikmati model AI on-device baru. Kebijakan ini berlaku tidak hanya untuk lini iPhone, tetapi juga untuk iPad dan Mac. iPad membutuhkan chip M4 atau yang lebih baru, sementara Mac harus menggunakan chip M3 atau yang lebih baru.

    Meski demikian, pengguna iPhone 17 reguler dan model lawas yang masuk daftar dukungan masih bisa menikmati fitur Apple Intelligence. Mereka harus bergantung pada pemrosesan di cloud menggunakan Private Cloud Compute, yang berarti prosesnya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pemrosesan on-device.

    Fitur Eksklusif di iPhone 17 Pro

    iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone Air menjadi satu-satunya perangkat yang secara penuh mendukung seluruh fitur AI generatif terbaru. Fitur Expressive Voices dan enhanced dictation menjadi andalan utama yang hanya bisa dijalankan secara lokal di perangkat-perangkat tersebut.

    Keputusan Apple ini menimbulkan kesenjangan fitur yang cukup signifikan antar lini produk. Pengguna iPhone 17 reguler yang baru saja membeli perangkat harus menerima kenyataan bahwa perangkat mereka tidak bisa mengakses fitur AI paling canggih secara on-device.

    Fitur Apple Intelligence standar masih bisa dinikmati pada seluruh model iPhone 16 series, iPhone 15 Pro dan Pro Max, iPad mini A17 Pro, iPad dan Mac dengan chip M1 ke atas, serta Vision Pro (M2 ke atas). Jam tangan pintar seperti Apple Watch Series 9, 10, 11, Ultra 2, Ultra 3, dan SE 3 juga mendukung jika dipasangkan dengan iPhone yang kompatibel.

    Persaingan di industri teknologi semakin ketat dengan hadirnya berbagai inovasi AI. Beberapa platform seperti WhatsApp juga menghadapi tekanan regulasi terkait akses chatbot AI di Eropa, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan menjadi fokus utama pengembangan teknologi saat ini.

    Pembaruan Fungsional iOS 27

    Selain gempuran teknologi AI, iOS 27 juga membawa beberapa pembaruan fungsional yang berguna untuk keseharian pengguna. Apple menambahkan kemampuan untuk mengatur tingkat volume secara terpisah untuk nada dering (ringtone), suara sistem, serta alarm dan timer.

    Menu pengaturan AirPods juga dirombak ulang agar lebih intuitif. Fitur Custom EQ baru memberikan personalisasi output audio yang lebih maksimal bagi pengguna yang peduli dengan kualitas suara.

    Pembaruan ini menunjukkan bahwa Apple tidak hanya fokus pada AI, tetapi juga pada peningkatan pengalaman pengguna secara keseluruhan. Fitur-fitur fungsional ini tersedia untuk semua perangkat yang mendukung iOS 27, tidak terbatas pada model dengan RAM 12GB.

    Perkembangan AI juga memunculkan berbagai kontroversi, seperti kasus penggunaan AI yang kontroversial oleh BRIN saat Hari Lahir Pancasila. Hal ini menunjukkan pentingnya etika dalam pengembangan dan penerapan teknologi kecerdasan buatan.

    Implikasi bagi Pengguna

    Kebijakan Apple ini menciptakan segmentasi yang jelas antara pengguna flagship dan pengguna reguler. Pengguna yang ingin menikmati fitur AI tercanggih harus mengeluarkan budget lebih besar untuk membeli iPhone 17 Pro atau iPhone Air.

    Bagi pengguna yang sudah memiliki iPhone 17 reguler atau model lawas, mereka masih bisa mengakses fitur Apple Intelligence melalui cloud. Namun, proses yang lebih lambat menjadi konsekuensi yang harus diterima.

    Sementara itu, perkembangan AI di perangkat lain juga menarik untuk dicermati. Berbagai kacamata pintar dengan AI dan fitur kesehatan mulai bermunculan di tahun 2026, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan semakin terintegrasi dalam berbagai bentuk perangkat wearable.

    Di sisi lain, Apple juga merombak App Store di WWDC 2026 yang disebut-sebut akan menguntungkan pengembang. Perubahan ini menjadi bagian dari strategi Apple untuk mempertahankan ekosistemnya di tengah tekanan regulasi global.

    Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan pembelian perangkat baru, keputusan ini menjadi faktor penting. Memilih iPhone 17 Pro atau iPhone Air berarti mendapatkan akses penuh ke fitur AI on-device, sementara model reguler harus mengandalkan pemrosesan cloud yang lebih lambat.

    Dengan dirilisnya public beta iOS 27, pengguna bisa mulai mencoba fitur-fitur baru ini. Apple diperkirakan akan merilis versi stabil iOS 27 pada musim gugur 2026 bersamaan dengan peluncuran perangkat baru.

  • CISA Terbitkan Aturan Patch 3 Hari untuk Kerentanan AI

    CISA Terbitkan Aturan Patch 3 Hari untuk Kerentanan AI

    JBNews.id — Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) mengeluarkan arahan baru yang mewajibkan instansi federal untuk menambal kerentanan siber paling kritis dalam waktu tiga hari, sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman dari kecerdasan buatan (AI). Direktif ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan keamanan siber pemerintah AS di tengah kekhawatiran bahwa AI memungkinkan aktor ancaman untuk mengeksploitasi celah keamanan secara otomatis dan massal.

    Chris Butera, penjabat asisten direktur eksekutif CISA untuk keamanan siber, mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa tujuan arahan ini adalah membantu instansi memprioritaskan penanganan kerentanan. Dengan demikian, instansi dapat mengatasi kerentanan paling bermasalah terlebih dahulu sambil meluangkan lebih banyak waktu untuk memperbaiki bug yang risikonya kurang mendesak.

    “Memprioritaskan perhatian operasi TI dan keamanan pada aset yang paling berisiko sangat penting sekarang, mengingat kemajuan dalam kecerdasan buatan yang memungkinkan aktor ancaman menemukan dan mengeksploitasi kerentanan di aset federal,” kata Butera pada Rabu. “Pembela tidak bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk menambal sistem yang dapat dieksploitasi secara otonom secara massal.”

    Arahan ini muncul di saat perusahaan swasta dan pemerintah di seluruh dunia berusaha menilai dampak dari kemampuan AI dalam menemukan dan mengeksploitasi kerentanan. Kemampuan AI yang semakin canggih telah mengubah lanskap deteksi kerentanan dan perburuan bug, mendorong urgensi baru dalam proses patching.

    Kriteria Evaluasi dan Batas Waktu Patching

    Direktif CISA menetapkan kriteria khusus untuk mengevaluasi urgensi patching. Kriteria tersebut meliputi: apakah kerentanan berada dalam sistem yang terekspos publik, apakah bug terdaftar dalam Katalog Kerentanan yang Dieksploitasi Diketahui (KEV) CISA, apakah penyerang dapat mengotomatiskan semua langkah untuk mengeksploitasi kerentanan, dan seberapa besar akses yang akan diperoleh penyerang ke target jika bug dieksploitasi.

    Jika keempat poin tersebut terpenuhi, kerentanan harus diperbaiki dalam waktu tiga hari. Instansi juga harus menjalankan proses “forensic triage” untuk menentukan apakah sistem telah dikompromikan. Batas waktu tiga hari ini dianggap lebih realistis dibandingkan tenggat 24 jam yang tidak akan layak bagi sebagian besar instansi federal.

    Direktif ini menggantikan dua perintah CISA sebelumnya terkait batas waktu patching untuk kerentanan mendesak, yaitu satu dari tahun 2019 dan satu dari tahun 2021. Perintah sebelumnya menetapkan kerangka kerja di mana bug paling kritis harus ditambal dalam waktu 15 hari setelah deteksi, sementara kelas kerentanan urgensi tinggi lainnya harus diperbaiki dalam waktu 30 hari. Kedua perintah tersebut mendorong patching yang lebih cepat untuk celah parah bila memungkinkan.

    Bahkan sebelum era AI, pada tahun 2021, CISA menulis bahwa “aktor ancaman sangat cepat mengeksploitasi kerentanan pilihan mereka: dari 4% kerentanan yang diketahui dieksploitasi, 42% digunakan pada hari ke-0 pengungkapan; 50% dalam 2 hari; dan 75% dalam 28 hari.” Data ini menunjukkan betapa cepatnya aktor ancaman bergerak, memperkuat kebutuhan akan kebijakan patching yang lebih ketat.

    Dampak AI dan Tantangan Keamanan Siber Federal

    Keamanan siber federal AS telah meningkat secara signifikan selama dekade terakhir, tetapi masih sering tertinggal karena kekurangan pendanaan dan prioritas yang bersaing. Butera mengatakan bahwa CISA mengembangkan rubrik penilaian baru dan arahan ini secara lebih luas dengan mempertimbangkan keterbatasan tersebut.

    Ia mencatat, misalnya, bahwa tenggat waktu tiga hari untuk kerentanan paling mendesak bukan, misalnya, 24 jam, karena jangka waktu yang terlalu pendek tidak akan layak bagi sebagian besar instansi. Pendekatan pragmatis ini mencerminkan realitas operasional di lapangan.

    Kemampuan AI baru sudah mengubah lanskap deteksi kerentanan dan perburuan bug. Hal ini mendorong urgensi baru dalam patching, tetapi banyak peneliti mulai menyimpulkan bahwa tidak ada jumlah patching yang akan cukup. Komunitas pengembangan perangkat lunak secara global harus bekerja untuk mengadopsi pendekatan arsitektural atau sistemik baru untuk membatalkan seluruh kelas kerentanan sekaligus.

    Emily Long, CEO perusahaan keamanan cloud Edera, memberikan perspektif kritis. “Arahan CISA memiliki niat yang baik, tetapi hanya menangani setengah dari tantangan,” katanya. “Jika arsitektur Anda tidak membatasi apa yang dapat dijangkau penyerang setelah pelanggaran, Anda hanya berlari lebih cepat di treadmill yang sama. Patching akan selalu penting, tetapi kita harus lebih banyak berbicara tentang containment by design.”

    Pernyataan Long menyoroti bahwa pendekatan tradisional yang hanya berfokus pada patching mungkin tidak cukup di era AI. Arsitektur keamanan yang lebih tangguh diperlukan untuk membatasi dampak jika terjadi pelanggaran.

    Butera tampaknya mengakui evolusi ini. Arahan baru “adalah langkah awal untuk melawan peningkatan kemampuan model AI yang muncul,” katanya. “Namun, masih ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa CISA menyadari keterbatasan direktif saat ini dan berencana untuk terus mengembangkan kebijakan keamanan siber.

    Implikasi dari arahan ini bagi instansi federal AS sangat jelas: mereka harus mempercepat proses patching untuk kerentanan paling kritis, terutama yang dapat dieksploitasi secara otomatis oleh AI. Kegagalan untuk mematuhi tenggat waktu tiga hari dapat meningkatkan risiko kompromi sistem yang signifikan. Bagi pembaca, kebijakan ini menegaskan bahwa era AI telah mengubah cara kita memandang keamanan siber, dari respons reaktif menjadi proaktif dengan prioritas berdasarkan risiko.

  • Apple TV dan Google TV Streamer Dapatkan Thread 1.4

    Apple TV dan Google TV Streamer Dapatkan Thread 1.4

    JBNews.id — Apple dan Google menghadirkan pembaruan protokol smart home dengan merilis Thread 1.4 pada Apple TV dan Google TV Streamer. Langkah ini menjadi fondasi bagi perangkat yang berfungsi sebagai Thread Border Router untuk berbagi kredensial jaringan secara lebih mudah.

    Seperti pertama kali dilaporkan oleh Matter Alpha dan 9to5 Google, spesifikasi terbaru ini telah hadir pada Apple TV yang kompatibel melalui beta pengembang tvOS 27 serta Google TV Streamer melalui pembaruan perangkat lunak. Dengan adanya Thread 1.4, perangkat-perangkat ini dapat terhubung ke jaringan Thread yang sudah ada, bukan membuat jaringan baru sendiri.

    Thread merupakan salah satu protokol konektivitas yang digunakan oleh standar interoperabilitas Matter. Rencana awal adalah agar semua Thread Border Router dapat bekerja secara mulus di balik layar, namun kenyataannya tidak demikian. Pada tahun 2024, spesifikasi Thread 1.4 memperkenalkan cara standar bagi border router untuk berbagi kredensial.

    Dua tahun kemudian, dengan hadirnya Thread 1.4, perangkat streamer ini menawarkan cara yang lebih mudah bagi pengguna, produsen, dan ekosistem untuk berbagi kredensial sehingga perangkat baru dapat bergabung ke jaringan Thread yang sudah ada. Konsepnya mirip dengan berbagi kata sandi Wi-Fi.

    Fitur Berbagi Kredensial Thread

    Google TV Streamer kini menawarkan opsi untuk menghasilkan kode QR guna bergabung ke jaringan Thread. Namun, dalam pengujian awal, fitur tersebut belum berfungsi dengan baik. Sementara itu, meskipun alat penemuan DNS menunjukkan bahwa Apple TV sudah menggunakan Thread 1.4, belum ada opsi untuk berbagi kredensial di beta pengembang iOS dan tvOS 27 saat ini.

    Perlu dicatat bahwa Thread 1.4 sebelumnya muncul di beta tvOS 26, tetapi ditarik sebelum rilis final. Karena belum ada beta pengembang untuk HomePod Software 27, speaker pintar Apple belum bergabung dalam pembaruan ini. Google Nest Hubs juga belum menerima pembaruan Thread 1.4.

    Meskipun demikian, kehadiran Thread 1.4 di Apple TV dan Google TV Streamer merupakan langkah maju yang signifikan. Apple dan Google sebenarnya sudah menangani masalah berbagi kredensial ini lebih baik dibandingkan ekosistem lainnya, namun kesatuan protokol tetap menjadi hal positif.

    Ekosistem Smart Home Makin Terintegrasi

    Samsung telah menambahkan dukungan berbagi kredensial pada hub SmartThings sejak Oktober tahun lalu. Ikea juga sudah menerapkan Thread 1.4 pada hub Dirigera. Kini, perhatian tertuju pada Amazon yang diperkirakan akan memperbarui speaker pintarnya dengan spesifikasi terbaru tahun ini.

    Setelah Amazon melakukan pembaruan, seluruh ekosistem besar akan berada pada versi Thread yang sama. Hal ini berpotensi menghadirkan peningkatan signifikan bagi rumah pintar berbasis Matter dan Thread. Pengguna yang memiliki banyak jaringan Thread terpisah akhirnya dapat menikmati satu jaringan terpadu yang lebih stabil dan efisien.

    Pembaruan Thread 1.4 ini juga memperkuat posisi Apple dalam ekosistem smart home. Perusahaan yang berbasis di Cupertino itu terus mengembangkan perangkat lunaknya, termasuk melalui Fitur Terbaru di WWDC 2026. Selain itu, Apple juga tengah bersiap merilis produk baru seperti MacBook Neo yang diproduksi massal.

    Dengan adopsi Thread 1.4 yang semakin meluas, pengguna rumah pintar dapat berharap pada pengalaman yang lebih seamless. Perangkat dari berbagai merek akan lebih mudah saling terhubung tanpa perlu konfigurasi rumit. Ini menjadi kabar baik bagi industri smart home yang selama ini menghadapi tantangan interoperabilitas.

  • Microsoft Lakukan PHK Besar-besaran di Divisi Xbox

    Microsoft Lakukan PHK Besar-besaran di Divisi Xbox

    JBNews.id — Microsoft akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah signifikan di divisi Xbox bulan depan, menurut sumber yang mengetahui rencana perusahaan. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang telah dipersiapkan secara internal selama beberapa pekan terakhir.

    CEO Xbox Asha Sharma sebelumnya telah memberi sinyal akan “membuat pilihan sulit” bulan lalu. Sumber menyebutkan pemangkasan ini bahkan bisa mencakup penutupan studio atau perubahan pada jajaran studio Xbox. Dalam episode terbaru Giant Bomb, beredar rumor PHK mencapai 1.000 karyawan untuk divisi Xbox Microsoft.

    Bloomberg juga melaporkan hari ini bahwa pemangkasan akan bersifat “besar” dan mencakup pemotongan anggaran untuk pemasaran serta area bisnis Xbox lainnya. Laporan Bloomberg keluar beberapa saat sebelum Sharma dan kepala konten Matt Booty mengirim memo kepada staf Xbox, memperingatkan adanya “reset Xbox” dalam 100 hari ke depan.

    Dalam memo tersebut, Sharma dan Booty menunjuk pada tantangan berat yang dihadapi bisnis ini. “Tidak termasuk Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir, kami telah menghabiskan lebih dari $20 miliar untuk investasi berkelanjutan dalam konten, platform, dan subsidi perangkat keras, namun pendapatan tahunan kami menurun hampir setengah miliar dolar selama periode itu,” tulis mereka. “Ke depan, ini tidak bisa berlanjut.”

    Mereka juga mencatat bahwa “kami berada dalam krisis komponen perangkat keras,” dengan mengatakan bahwa biaya komponen untuk musim liburan 2027 diperkirakan “lebih dari 5 kali lipat harga yang kami bayar hanya dua tahun sebelumnya. Biaya memori mengikuti lintasan yang kurang lebih sama.” Sharma dan Booty menambahkan bahwa “kami membutuhkan model bisnis baru dan kemitraan untuk perangkat keras karena kami tetap berkomitmen pada Helix.”

    Sharma dan kepala strategi Xbox Matthew Ball telah mengisyaratkan model bisnis konsol yang “sangat berbeda” pekan ini. Penyebutan “kemitraan untuk perangkat keras” tentu mendukung gagasan bahwa OEM PC lain mungkin bisa membuat perangkat bermerek Xbox berdasarkan chip baru AMD di masa depan.

    Namun saat ini, “infrastruktur platform Xbox saat ini tidak dibangun untuk pertempuran di depan,” tulis Sharma dan Booty, dengan mengatakan bahwa “kami akan mengembangkan dan membangun ulang stack kami serta melihat kemampuan di seluruh XBOX dan potensi M&A untuk membantu kami menang di perangkat keras, PC, seluler, dan streaming.”

    Sharma telah mengambil beberapa keputusan besar sejak menjabat, termasuk menjadikan Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution sebagai eksklusif konsol Xbox. Keputusan ini menunjukkan Gears of War: E-Day tidak akan dirilis di PlayStation 5, membalikkan strategi multiplatform yang sebelumnya digembar-gemborkan.

    PHK ini menjadi pukulan telak bagi divisi Xbox yang telah berjuang menghadapi tekanan finansial. Dengan pendapatan yang terus menurun dan biaya komponen yang melonjak, Microsoft tampaknya memilih jalur restrukturisasi drastis untuk menyelamatkan bisnis konsolnya. Bagi pengguna, implikasinya jelas: masa depan Xbox akan sangat berbeda, dengan fokus pada kemitraan perangkat keras dan model bisnis baru yang belum pernah terlihat sebelumnya.

  • Amazon Luncurkan Sleep Studio untuk Anak di Echo

    Amazon Luncurkan Sleep Studio untuk Anak di Echo

    JBNews.id — Amazon telah meluncurkan fitur baru untuk smart speaker Echo dan Echo Kids bernama Sleep Studio yang dirancang untuk membuat transisi menuju waktu tidur lebih menarik bagi anak-anak dan tidak terlalu membuat stres bagi orang tua. Fitur ini menggabungkan dongeng pengantar tidur, suara relaksasi, dan meditasi terpandu, lengkap dengan opsi penjadwalan dan kustomisasi yang hanya dapat diakses oleh orang dewasa.

    Sleep Studio kini tersedia bagi pelanggan Amazon Kids Plus seharga USD 5,99 per bulan tanpa biaya tambahan. Amazon juga menawarkan uji coba gratis satu bulan untuk layanan tersebut, sementara pembelian perangkat Echo Kids akan memberikan langganan komplementer selama enam atau 12 bulan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Amazon untuk memperkuat ekosistem perangkat rumah pintar mereka, terutama di segmen keluarga.

    Kurasi daftar putar dan jadwal tidur dapat dikonfigurasi untuk anak-anak menggunakan Amazon Kids Parent Dashboard, yang tersedia sebagai aplikasi seluler iOS/Android mandiri dan situs web khusus. Melalui dashboard ini, orang tua dapat mengatur jadwal tidur, jendela tidur, dan daftar putar yang sesuai dengan rutinitas anak. Sistem ini memberikan fleksibilitas penuh bagi orang tua untuk menyesuaikan pengalaman tidur anak mereka.

    Rutinitas wind-down selama setengah jam akan secara otomatis dipicu di perangkat Echo 30 menit sebelum jadwal tidur anak. Anak-anak juga dapat memulainya sendiri kapan pun mereka merasa mengantuk dengan mengatakan “Alexa, mainkan Sleep Studio.” Fitur ini memungkinkan anak-anak untuk mengambil kendali atas rutinitas tidur mereka sendiri, yang dapat membantu membangun kemandirian dan kebiasaan tidur yang baik.

    Echo Glow, yang berfungsi ganda sebagai lampu tidur, juga akan menyala dengan lampu berkode warna sehingga anak-anak dapat melihat kapan mereka harus tidur dan kapan waktunya bangun dari tempat tidur. Integrasi visual ini memberikan isyarat yang jelas bagi anak-anak, mengurangi kebingungan dan potensi pertengkaran di waktu tidur. Warna lampu yang berbeda membantu anak-anak memahami transisi waktu tidur secara visual, yang sangat efektif untuk anak-anak yang lebih kecil.

    Konten menenangkan yang tersedia melalui Sleep Studio berasal dari platform-platform ternama seperti Headspace, Moshi, dan Calm. Kolaborasi ini memastikan bahwa konten yang disediakan memiliki kualitas tinggi dan telah teruji secara ilmiah untuk membantu relaksasi dan tidur. Headspace dikenal dengan meditasi terpandunya, Moshi dengan cerita tidur interaktifnya, dan Calm dengan suara latar yang menenangkan.

    “Tidur malam yang nyenyak penting untuk pikiran yang sehat dan istirahat bagi semua orang. Itulah sebabnya Calm telah menciptakan perpustakaan luas meditasi, lagu pengantar tidur, soundscape, dan Sleep Stories untuk anak-anak,” kata Fergal Walker, wakil presiden kemitraan di Calm, dalam rilis dari Amazon. Pernyataan ini menekankan komitmen Calm untuk menyediakan konten yang mendukung kesehatan mental anak-anak melalui tidur yang berkualitas.

    Peluncuran Sleep Studio hadir di tengah berbagai pengembangan lain di Amazon. Fitur Terbaru ini menunjukkan fokus Amazon pada inovasi produk rumah tangga. Sementara itu, Robot Amazon Proteus juga terus dikembangkan dengan kemampuan baru. Sleep Studio menjadi contoh bagaimana Amazon mengintegrasikan teknologi AI dan konten kurasi untuk memecahkan masalah sehari-hari orang tua.

    Fitur Sleep Studio juga relevan dengan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon terus berinvestasi dalam solusi rumah pintar yang berfokus pada kesejahteraan. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya tidur yang berkualitas, terutama bagi anak-anak, fitur ini dapat menjadi nilai jual yang signifikan bagi perangkat Echo Kids. Amazon tampaknya memahami bahwa orang tua modern mencari solusi yang tidak hanya praktis tetapi juga mendukung perkembangan anak secara holistik.

    Dari segi implementasi teknis, Sleep Studio bekerja secara mulus dengan ekosistem Amazon yang sudah ada. Orang tua dapat mengatur semua preferensi melalui Amazon Kids Parent Dashboard, yang sudah familiar bagi pengguna lama. Dashboard ini menyediakan antarmuka yang intuitif untuk mengelola konten, jadwal, dan pengaturan privasi anak. Integrasi dengan perangkat Echo lainnya, seperti Echo Glow, menambah lapisan fungsionalitas yang membuat fitur ini lebih menarik.

    Amazon juga memastikan bahwa keamanan dan privasi menjadi prioritas dalam Sleep Studio. Semua data terkait jadwal tidur dan preferensi anak disimpan dengan aman dan hanya dapat diakses oleh orang tua melalui dashboard yang dilindungi kata sandi. Ini penting mengingat kekhawatiran yang berkembang tentang privasi data anak-anak di era digital. Amazon telah mengambil langkah-langkah untuk mematuhi regulasi seperti COPPA (Children’s Online Privacy Protection Act) di Amerika Serikat.

    Kolaborasi dengan Headspace, Moshi, dan Calm juga menunjukkan bahwa Amazon serius dalam menyediakan konten berkualitas. Headspace, misalnya, telah lama dikenal dengan meditasi terpandunya yang didukung penelitian ilmiah. Moshi menawarkan cerita tidur interaktif yang dirancang khusus untuk anak-anak, sementara Calm memiliki perpustakaan suara dan meditasi yang luas. Ketiga platform ini memiliki reputasi yang solid dalam industri kesehatan mental digital.

    Fitur Sleep Studio juga dapat menjadi alat yang berguna bagi orang tua yang memiliki anak dengan kesulitan tidur atau gangguan tidur ringan. Dengan menyediakan rutinitas wind-down yang terstruktur dan konten yang menenangkan, fitur ini dapat membantu anak-anak belajar untuk menenangkan diri sebelum tidur. Ini bisa sangat bermanfaat bagi anak-anak yang cemas atau yang memiliki energi berlebih di malam hari.

    Dari perspektif bisnis, Sleep Studio adalah langkah cerdas Amazon untuk meningkatkan nilai langganan Amazon Kids Plus. Dengan menambahkan fitur eksklusif seperti ini, Amazon dapat mendorong lebih banyak orang tua untuk berlangganan layanan tersebut. Ini juga dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan mendorong pembelian perangkat Echo Kids tambahan. Model langganan ini memberikan aliran pendapatan berulang yang stabil bagi Amazon.

    Amazon juga telah mempertimbangkan aspek inklusivitas dalam desain Sleep Studio. Konten yang tersedia mencakup berbagai bahasa dan budaya, memastikan bahwa anak-anak dari berbagai latar belakang dapat menikmati fitur ini. Opsi kustomisasi yang luas juga memungkinkan orang tua untuk menyesuaikan pengalaman sesuai dengan kebutuhan spesifik anak mereka, termasuk untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus.

    Peluncuran Sleep Studio juga menunjukkan bagaimana Amazon terus berinovasi di segmen rumah pintar meskipun menghadapi tantangan di bidang lain. Perusahaan ini telah menghadapi kritik terkait praktik ketenagakerjaan dan dampak lingkungan dari pusat datanya. Namun, dengan produk seperti Sleep Studio, Amazon menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghadirkan solusi yang bermakna bagi konsumen.

    Ke depannya, Amazon kemungkinan akan terus mengembangkan Sleep Studio dengan menambahkan lebih banyak konten dan fitur. Integrasi dengan perangkat rumah pintar lainnya, seperti lampu pintar atau termostat, bisa menjadi langkah logis berikutnya. Amazon juga dapat menambahkan fitur analitik yang memungkinkan orang tua melacak pola tidur anak mereka dari waktu ke waktu, memberikan wawasan yang berharga untuk meningkatkan kualitas tidur.

    Sleep Studio adalah contoh sempurna tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggabungkan konten yang menenangkan, penjadwalan yang cerdas, dan kontrol orang tua yang kuat, Amazon telah menciptakan solusi yang dapat membantu keluarga membangun rutinitas tidur yang lebih baik. Ini adalah langkah positif dalam penggunaan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak.

    Bagi orang tua yang sudah memiliki perangkat Echo Kids, Sleep Studio adalah tambahan yang berharga yang dapat membantu mengurangi stres di waktu tidur. Dengan uji coba gratis satu bulan, tidak ada salahnya untuk mencoba fitur ini dan melihat apakah itu cocok untuk keluarga Anda. Sleep Studio mungkin menjadi alat yang Anda butuhkan untuk membuat waktu tidur menjadi momen yang lebih damai dan menyenangkan bagi semua orang.

  • Kesalahan Identifikasi Wajah: Pria Florida Ditangkap gegara Akurasi 93%

    Kesalahan Identifikasi Wajah: Pria Florida Ditangkap gegara Akurasi 93%

    JBNews.id — Seorang pria berusia 52 tahun di Florida, Amerika Serikat, ditangkap polisi setelah sistem pengenalan wajah (face recognition) milik kepolisian setempat mencocokkan fotonya dengan gambar tersangka pelecehan anak dengan tingkat akurasi 93 persen. Robert Dillon, seorang penangkap kepiting komersial dari Fort Myers, kini menggugat pihak berwenang setelah tuduhan terhadapnya dibatalkan total.

    Insiden ini bermula pada 2 November 2023, sesaat sebelum tengah malam, di sebuah restoran McDonald’s di Jacksonville Beach. Seorang pria diduga mendekati seorang anak perempuan di bawah usia 12 tahun dan berulang kali memintanya pergi bersamanya. Anak itu menolak. Setelah pria tersebut mendekatinya untuk kedua kalinya, korban memanggil ibunya. Pelaku meninggalkan lokasi sebelum polisi tiba.

    Seorang petugas polisi Jacksonville Beach yang menangani kasus ini kemudian mengirimkan buletin permintaan identifikasi ke instansi terkait pada November 2023, menggunakan foto-foto dari rekaman pengawasan McDonald’s yang diambil dengan ponsel. Seorang sersan dari Kantor Sheriff Jacksonville (JSO) menjalankan gambar tersebut melalui sistem bernama FACES—sistem pengenalan wajah yang dioperasikan oleh Kantor Sheriff Pinellas County. Hasilnya, sistem mengembalikan kecocokan sebesar “93 persen” dengan nama Robert Dillon.

    Skor yang dikeluarkan sistem FACES mewakili seberapa mirip dua gambar menurut algoritma, bukan seberapa besar kemungkinan gambar tersebut menunjukkan orang yang sama. Sistem ini menyimpan puluhan juta foto mug shot dan foto SIM Florida, dan merupakan salah satu database pengenalan wajah polisi tertua di Amerika Serikat, beroperasi sejak 2001.

    Petugas penyidik kemudian meminta pencarian pembaca plat nomor untuk dua kendaraan yang terdaftar atas nama Dillon, mencakup hari-hari sekitar kejadian. Hasilnya, tidak satupun kendaraan tersebut terdeteksi berada di wilayah Jacksonville. Menurut gugatan yang diajukan American Civil Liberties Union (ACLU), hasil ini sengaja tidak dicantumkan dalam permohonan surat perintah penangkapan.

    Enam bulan berlalu tanpa penyelidikan lebih lanjut. Pada Juli 2024, petugas tersebut mengajukan surat perintah. Seorang hakim menandatanganinya, dan Dillon ditangkap pada bulan berikutnya. Penangkapan terjadi di rumahnya di depan istrinya. Ia ditahan semalaman di sel yang dingin dan diangkut dengan van tanpa lampu yang dikurung. Ia harus menjaminkan surat kepemilikan truknya untuk membayar jaminan.

    Penangkapan itu terjadi pada puncak musim penangkapan kepiting batu, menyebabkan Dillon terlambat membayar sewa dan nyaris kehilangan rumahnya. Foto mug shot-nya tetap online selama hampir setahun, baru dihapus dari situs web county setelah seorang reporter TV turun tangan. Orang asing kini mendekati Dillon di tempat umum untuk menanyakan kasusnya, dan ia tidak lagi merasa nyaman berbicara dengan anak-anak.

    Dillon menyewa pengacara pidana dan pada Oktober 2024 menyatakan tidak bersalah. Kantor Jaksa Wilayah membatalkan semua tuduhan beberapa minggu kemudian. Namun, petugas penyidik yang menangani kasus ini justru dipromosikan pada akhir tahun.

    Gugatan yang diajukan ACLU menyebutkan beberapa fakta yang menunjukkan Dillon bukanlah pelaku, namun tidak pernah sampai ke meja hakim yang menandatangani surat perintah penangkapan. Seorang manajer McDonald’s mengatakan kepada penyidik bahwa tersangka adalah “pelanggan tetap” yang sering ia lihat di sana. Sementara itu, Dillon tidak pernah mengunjungi Jacksonville Beach, karena ia tinggal ratusan mil jauhnya.

    Dampak Teknologi Pengenalan Wajah pada Warga Biasa

    “Saya tidak akan pernah bisa melupakan betapa ketakutan dan khawatirnya saya, bertanya-tanya apakah saya akan pernah pulang ke istri dan putri saya lagi,” kata Dillon dalam pernyataan yang dibagikan pengacaranya. “Lebih dari setahun kemudian, saya masih merangkai kembali potongan-potongan hidup saya, semua karena polisi mengandalkan teknologi berbahaya ini alih-alih melakukan pekerjaan mereka dan benar-benar menyelidiki.”

    Gugatan tersebut menyebut petugas penyidik dan sersan JSO secara individu, serta menargetkan Kota Jacksonville Beach, Sheriff Jacksonville, dan Sheriff Pinellas County dalam kapasitas resmi mereka. Gugatan menuntut ganti rugi kompensasi dan punitif, serta meminta pengadilan memerintahkan ketiga lembaga tersebut untuk merombak kebijakan pengenalan wajah mereka.

    “Karena adanya litigasi yang tertunda, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut mengenai insiden ini,” kata juru bicara Kantor Sheriff Jacksonville kepada WIRED dalam sebuah pernyataan. Kantor Sheriff Pinellas County tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    Sheriff Jacksonville T.K. Waters mengatakan kepada stasiun berita lokal Action News Jax setelah kasus ini dibatalkan bahwa hasil pengenalan wajah saja tidak akan menjadi dasar probable cause di kantornya. “Jika Anda datang kepada saya dengan hasil pengenalan wajah dan itu adalah dasar probable cause Anda, saya mungkin akan mengusir Anda dari kantor saya,” katanya.

    Rekam Jejak Sistem FACES di Florida

    Sistem FACES telah dioperasikan oleh Kantor Sheriff Pinellas County sejak 2001. Pada puncaknya di tahun 2021, puluhan juta foto mug shot dan foto SIM Florida yang tersimpan di sistem ini dapat diakses oleh lebih dari 260 lembaga, termasuk FBI dan ICE. Untuk menggunakan sistem ini, penyidik mengunggah gambar tersangka, sistem membandingkannya dengan galeri, dan mengembalikan daftar peringkat kemungkinan kecocokan.

    Sistem ini telah lama beroperasi dengan sedikit pengawasan. Sebuah studi tahun 2016 oleh Pusat Privasi dan Teknologi Georgetown Law menemukan bahwa Kantor Sheriff Pinellas County tidak melakukan audit terhadap bagaimana database tersebut dicari dan tidak memerlukan kecurigaan yang beralasan untuk menjalankan kueri. Ketika ditanya apakah kantornya mengaudit pencarian untuk penyalahgunaan, Sheriff Bob Gualtieri menjawab, “Tidak, tidak juga.”

    Lembaga-lembaga di Florida juga telah menggunakan FACES untuk memindai pengunjuk rasa damai, menurut laporan Sun Sentinel dan Pulitzer Center.

    ACLU menyatakan kasus Dillon adalah salah satu dari setidaknya 15 kasus penangkapan salah yang diketahui di Amerika Serikat yang disebabkan oleh teknologi pengenalan wajah. Awal tahun ini, Kantor Sheriff Jacksonville yang sama secara keliru menangkap seorang pria dari Carolina Utara dalam penyelidikan pencurian mobil. Menurut Action News Jax, ia menghabiskan hampir tiga bulan di penjara setelah kecocokan 85 persen menyebabkan penangkapannya. Pada saat tuduhan dibatalkan, ia telah kehilangan rumah, pekerjaan, dan hak asuh kedua anaknya.

    “Tidak seorang pun boleh kehilangan kebebasan atau takut meninggalkan rumah karena algoritma salah,” kata Nate Wessler, wakil direktur Proyek Bicara, Privasi, dan Teknologi ACLU, yang menyerukan kepada departemen kepolisian Florida untuk memperbaiki kesalahan dan mengadopsi perlindungan untuk mencegah penangkapan salah di masa depan. “Kepolisian di seluruh negeri sudah diperingatkan,” tambah Wessler. “Teknologi pengenalan wajah yang tidak dapat diandalkan menyakiti orang, dan kami akan terus berjuang untuk membuat mereka bertanggung jawab atas penyalahgunaan ini.”

    Kasus Robert Dillon menjadi pengingat nyata bahwa teknologi pengenalan wajah, meskipun canggih, memiliki keterbatasan fatal jika digunakan sebagai satu-satunya alat bukti tanpa penyelidikan yang memadai. Bagi warga biasa, ini berarti risiko penangkapan salah akibat kesalahan algoritma bukan lagi sekadar skenario fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang dalam semalam.

  • Instagram Beri Kendali Algoritma Feed, Ini Cara Kerjanya

    Instagram Beri Kendali Algoritma Feed, Ini Cara Kerjanya

    JBNews.id — Instagram resmi meluncurkan fitur Your Algorithm yang memungkinkan pengguna menyesuaikan topik yang muncul di main feed mereka. Langkah ini merupakan perluasan dari fitur serupa yang sebelumnya tersedia untuk Reels dan halaman Explore.

    Dalam pengumuman resminya, Kepala Instagram Adam Mosseri menyatakan bahwa fitur ini memungkinkan pengguna untuk melihat dan mengubah topik yang dianggap sistem sebagai minat mereka. “Anda kini dapat melihat topik yang kami pikir Anda minati, dan mengubahnya, di seluruh bagian utama Instagram,” ujar Mosseri dalam unggahan di Threads.

    Saat ini, fitur Your Algorithm baru menampilkan daftar topik. Namun, Mosseri mengonfirmasi bahwa timnya sedang mengembangkan dukungan untuk “permintaan terkait orang, suasana hati atau vibe berbeda, jenis konten, dan masih banyak lagi.” Perluasan ini menunjukkan komitmen Instagram dalam memberikan lebih banyak kendali kepada pengguna atas algoritma yang menentukan apa yang mereka lihat.

    Filosofi di Balik Fitur Baru

    Mosseri tidak hanya memperkenalkan fitur teknis, tetapi juga menyampaikan pandangan filosofis tentang arah pengembangan Instagram ke depan. “Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar fitur,” kata Mosseri. “Saya percaya bahwa demi kepentingan terbaik kami sebagai bisnis adalah memberdayakan orang untuk membentuk Instagram menjadi sesuatu yang bekerja bagi mereka, dan bahwa orang harus memiliki tingkat kendali yang berarti atas produk yang mereka habiskan begitu banyak waktu.”

    Pernyataan ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan Instagram terhadap algoritma rekomendasi. Mosseri mengakui bahwa meskipun rekomendasi algoritmik merupakan “pencapaian teknis yang sejati dalam banyak hal,” ada “biaya” yang harus dibayar terkait “kendali pengguna.” Ia mencatat bahwa interaksi pengguna dengan sistem selama ini menjadi satu arah.

    “Sistem belajar dari apa yang Anda ketuk, tonton, dan bagikan, tetapi Anda tidak benar-benar bisa memberi tahu sistem apa yang Anda inginkan,” jelas Mosseri. “Saya pikir inilah yang sebagian orang rasakan ketika mereka merasa tidak nyaman dengan media sosial — bukan kontennya sendiri, tetapi perasaan bahwa pengalaman itu terjadi pada mereka, bukan dibentuk oleh mereka.”

    Pendekatan baru ini sejalan dengan tren industri teknologi yang semakin sadar akan pentingnya user agency. Dalam konteks yang lebih luas, langkah Instagram ini menunjukkan bagaimana platform media sosial mulai merespons kekhawatiran publik tentang algoritma yang terlalu dominan.

    Teknologi di Balik Fitur

    Mosseri menjelaskan bahwa untuk waktu yang lama, model peringkat konten dibangun “dengan teknologi yang tidak dapat dipahami orang.” Namun, perkembangan terbaru dalam model bahasa besar (Large Language Models/LLM) membuka kemungkinan baru. “LLM dapat melihat kumpulan konten dan mendeskripsikannya dalam bahasa yang dipahami orang,” kata Mosseri.

    Kemampuan ini, menurut Mosseri, memberi Instagram “cara untuk menunjukkan kepada orang apa yang sistem pikir mereka minati, dan cara bagi mereka untuk memberi tahu sistem apa yang sebenarnya mereka inginkan.” Ini menjadi fondasi teknis yang memungkinkan fitur Your Algorithm bekerja secara efektif.

    Dengan teknologi LLM, Instagram dapat mengelompokkan konten ke dalam kategori yang mudah dipahami, bukan sekadar data mentah yang tidak bermakna bagi pengguna biasa. Pengguna kemudian dapat memilih untuk mempertahankan, menambah, atau menghapus topik tertentu dari rekomendasi mereka.

    Dampak bagi Pengguna

    Fitur Your Algorithm memberikan pengguna kemampuan untuk secara aktif membentuk pengalaman mereka di Instagram. Sebelumnya, pengguna hanya bisa memengaruhi algoritma secara pasif melalui interaksi seperti like, share, dan waktu menonton. Kini, mereka dapat secara eksplisit menyatakan preferensi topik.

    Bagi pengguna yang merasa feed mereka terlalu didominasi topik tertentu — misalnya, konten politik atau gossip selebriti — fitur ini menjadi solusi praktis. Mereka dapat menghapus topik yang tidak diinginkan dan menambahkan topik yang lebih relevan dengan minat mereka.

    Mosseri menekankan bahwa ini baru permulaan. Rencana pengembangan ke depan mencakup dukungan untuk permintaan berdasarkan orang, suasana hati, dan jenis konten. Ini berarti di masa mendatang, pengguna mungkin bisa meminta Instagram untuk menampilkan lebih banyak konten dari akun tertentu atau konten yang sesuai dengan mood tertentu.

    Dalam konteks industri media sosial, langkah Instagram ini dapat menjadi preseden bagi platform lain untuk mengadopsi pendekatan serupa. Transparansi algoritma dan kendali pengguna semakin menjadi tuntutan publik, terutama di tengah kekhawatiran tentang echo chamber dan manipulasi konten.

    Implikasi untuk Pengguna Indonesia

    Bagi pengguna Instagram di Indonesia, fitur Your Algorithm menawarkan peluang untuk mendapatkan pengalaman yang lebih personal dan relevan. Dengan populasi pengguna media sosial yang besar, Indonesia menjadi pasar penting bagi Meta, perusahaan induk Instagram.

    Pengguna dapat mulai mengeksplorasi fitur ini dengan membuka pengaturan akun mereka dan mencari opsi Your Algorithm. Dari sana, mereka akan melihat daftar topik yang saat ini digunakan algoritma untuk merekomendasikan konten. Mereka dapat menghapus topik yang tidak diinginkan atau menambahkan topik baru yang lebih sesuai.

    Langkah ini juga relevan bagi kreator konten dan pebisnis yang menggunakan Instagram sebagai platform pemasaran. Dengan memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana pengguna dapat menyesuaikannya, mereka dapat menyusun strategi konten yang lebih efektif.

    Fitur ini juga dapat membantu mengurangi kejenuhan pengguna terhadap konten yang monoton. Dengan kemampuan untuk mengubah topik kapan saja, pengguna dapat menjaga feed mereka tetap segar dan menarik tanpa harus membuat akun baru atau mengikuti ulang akun lain.

    Masa Depan Kendali Algoritma

    Mosseri menyebut fitur ini sebagai “awal dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar fitur.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Instagram memiliki visi jangka panjang untuk mengubah hubungan antara platform dan penggunanya. Prinsip bahwa “orang harus dapat memiliki tingkat kendali yang berarti atas produk yang mereka habiskan begitu banyak waktu” akan menjadi landasan pengembangan fitur-fitur selanjutnya.

    Dalam jangka panjang, pendekatan ini bisa mengubah cara Instagram mendesain produknya. Jika sebelumnya algoritma adalah black box yang bekerja di balik layar, ke depannya pengguna akan memiliki lebih banyak visibilitas dan kendali. Ini sejalan dengan tren global menuju algorithmic transparency dan user empowerment.

    Bagi industri teknologi, langkah Instagram ini menunjukkan bahwa model bisnis yang mengandalkan algoritma opak mungkin perlu beradaptasi. Pengguna semakin sadar akan bagaimana data mereka digunakan dan ingin memiliki lebih banyak kendali atas pengalaman digital mereka.

    Dengan peluncuran fitur Your Algorithm, Instagram mengambil langkah berani untuk mengubah paradigma hubungan platform-pengguna. Jika berhasil, ini bisa menjadi cetak biru bagi platform media sosial lain untuk mengikuti jejak serupa.

    Bagi yang tertarik dengan perkembangan teknologi dan media sosial, fitur ini layak dicoba. Pengguna dapat langsung mengakses pengaturan akun Instagram mereka dan mulai menyesuaikan topik yang muncul di feed utama. Dengan fitur ini, pengalaman bersosial media menjadi lebih personal dan sesuai keinginan masing-masing individu.

  • Google Digugat Musisi Independen atas Pelatihan AI Lyria

    Google Digugat Musisi Independen atas Pelatihan AI Lyria

    JBNews.id — Sekelompok musisi independen menggugat Google atas dugaan penggunaan lagu-lagu yang diunggah ke YouTube untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) musik bernama Lyria 3. Google mengajukan mosi untuk menolak gugatan tersebut dengan alasan bahwa para musisi telah menyetujui persyaratan layanan (ToS) YouTube yang memberikan lisensi luas atas konten yang diunggah.

    Gugatan ini diajukan oleh para musisi independen yang menuduh Google secara ilegal menggunakan karya mereka yang telah diunggah ke YouTube untuk melatih model AI Lyria 3. Dalam mosi penolakannya, Google menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Perusahaan raksasa teknologi itu berargumen bahwa para penggugat telah memberikan lisensi yang luas kepada YouTube dan Google melalui persyaratan layanan yang berlaku.

    “Gugatan mereka didasarkan pada hipotesis yang tidak didukung bahwa Google melatih model pada karya spesifik mereka,” demikian pernyataan Google dalam mosi tersebut. “Bahkan jika kami menerima tuduhan mereka yang belum teruji sebagai fakta, gugatan ini tidak dapat berdiri. Setiap penggugat telah memberikan lisensi luas kepada YouTube dan Google — yang menyediakan layanan — untuk menggunakan konten yang diunggah. Lisensi tersebut, yang ada dalam Persyaratan Layanan YouTube, telah mengesahkan perilaku yang dituduhkan dalam Gugatan.”

    Pernyataan ini merupakan bentuk lindung nilai hukum yang standar: “Anda tidak dapat membuktikan kami melakukannya, dan bahkan jika kami melakukannya, kami diizinkan.” Ketika ditanya secara langsung apakah Google menggunakan video YouTube untuk melatih model AI musik Lyria 3, perusahaan tersebut menolak berkomentar. Namun, berdasarkan pernyataan publik sebelumnya, tampaknya aman untuk berasumsi bahwa jawabannya adalah ya.

    Pernyataan CEO YouTube dan Konfirmasi Internal

    Dalam sebuah wawancara pada April 2024 dengan Bloomberg, CEO YouTube Neal Mohan mengatakan bahwa “sebagian” dari video YouTube dapat digunakan secara internal untuk melatih model seperti Gemini. Kemudian pada tahun yang sama, sebuah posting blog tentang alat kreator mengonfirmasi hal tersebut, dengan menyatakan bahwa “kami menggunakan konten yang diunggah ke YouTube untuk meningkatkan pengalaman produk bagi kreator dan pemirsa di seluruh YouTube dan Google, termasuk melalui pembelajaran mesin dan aplikasi AI.”

    Google bahkan telah mengonfirmasi kepada CNBC bahwa mereka menggunakan unggahan YouTube untuk melatih model Gemini dan Veo. Namun, yang belum dilakukan Google adalah secara spesifik mengonfirmasi bahwa mereka juga menggunakan unggahan YouTube untuk melatih Lyria. Celah inilah yang menjadi titik sentral dalam strategi hukum perusahaan.

    Dalam mosi penolakannya, Google menegaskan bahwa dengan mengunggah konten langsung ke YouTube, para penggugat telah menyetujui persyaratan layanan yang memberikan perusahaan hak untuk “memperbanyak, mendistribusikan, [dan] menyiapkan karya turunan” berdasarkan unggahan tersebut.

    Implikasi Hukum dan Strategi Google

    Dengan semua pertimbangan tersebut, mungkin tampak aneh bahwa Google tidak mau mengakui hal yang sudah jelas. Namun saat ini, perusahaan memiliki sedikit keuntungan dengan mencatat secara resmi. Dan dengan litigasi yang masih berlangsung, mempertahankan kemungkinan untuk menyangkal adalah langkah yang diperhitungkan. Google tampaknya lebih memilih untuk menjaga ambiguitas daripada memberikan pernyataan yang dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan.

    Kasus ini menyoroti ketegangan yang semakin meningkat antara kreator konten dan perusahaan teknologi besar terkait penggunaan data untuk pelatihan AI. Para musisi independen khawatir bahwa karya mereka digunakan tanpa izin atau kompensasi yang layak untuk mengembangkan model AI yang pada akhirnya dapat menggantikan peran mereka.

    Persyaratan Layanan YouTube yang ada saat ini memberikan hak yang sangat luas kepada Google untuk menggunakan konten yang diunggah. Ini berarti bahwa jutaan kreator di seluruh dunia mungkin secara tidak sadar telah memberikan izin untuk penggunaan karya mereka dalam pelatihan AI. Pertanyaan tentang transparansi dan persetujuan yang diinformasikan menjadi semakin kritis di era AI ini.

    Google belum secara resmi mengkonfirmasi penggunaan unggahan YouTube untuk Lyria, tetapi pola pernyataan publik dan kebijakan internal menunjukkan arah yang jelas. Perusahaan mungkin sedang menunggu hasil litigasi sebelum membuat pengumuman resmi tentang praktik pelatihan AI mereka.

    Dampak bagi Kreator dan Industri Musik

    Bagi para musisi independen, kasus ini memiliki implikasi yang signifikan. Jika Google menang dalam mosi penolakannya, ini akan memperkuat interpretasi bahwa persyaratan layanan platform digital memberikan hak yang hampir tidak terbatas atas konten yang diunggah. Sebaliknya, jika para penggugat berhasil, ini dapat memaksa perusahaan teknologi untuk merombak praktik pelatihan AI mereka dan memberikan kompensasi yang lebih adil kepada kreator.

    Kasus ini juga menjadi preseden penting untuk industri musik secara keseluruhan. Model AI yang dilatih dengan karya musisi tanpa izin dapat menghasilkan musik yang meniru gaya tertentu, berpotensi mengurangi permintaan untuk karya asli. Ini adalah kekhawatiran yang nyata bagi para musisi yang menggantungkan hidup pada karya kreatif mereka.

    Google, di sisi lain, berargumen bahwa penggunaan data untuk pelatihan AI adalah bagian dari peningkatan pengalaman produk yang diizinkan oleh persyaratan layanan. Perusahaan melihat AI sebagai alat untuk membantu kreator, bukan menggantikan mereka. Namun, tanpa transparansi yang jelas, sulit bagi kreator untuk mempercayai klaim tersebut.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan AI dan dampaknya, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Keamanan Siber dan Privasi 2026 yang membahas tantangan privasi di era AI, serta Karyawan Google Kecam AI Internal yang menyoroti kekhawatiran dari dalam perusahaan sendiri.

    Implikasi dari kasus ini jelas: kreator perlu lebih waspada terhadap persyaratan layanan platform yang mereka gunakan. Sementara itu, perusahaan teknologi harus mempertimbangkan kembali tingkat transparansi yang mereka berikan kepada pengguna tentang bagaimana data mereka digunakan. Tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, konflik antara kreator dan perusahaan AI kemungkinan akan terus berlanjut.