Author: Hamzah Nurhamzah

  • Anthropic Mythos 5 Dibatasi Pemerintah AS, Ancaman Keamanan Siber

    Anthropic Mythos 5 Dibatasi Pemerintah AS, Ancaman Keamanan Siber

    JBNews.id — Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump baru saja membatasi akses terhadap model kecerdasan buatan (AI) canggih buatan Anthropic, Mythos 5 dan Claude Fable 5, dengan alasan potensi risiko keamanan nasional. Langkah ini diambil setelah ditemukan bahwa pengaman (guardrails) pada model Claude Fable 5 dapat dinonaktifkan, sehingga membuka akses penuh terhadap kemampuan Mythos 5 yang dinilai berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.

    Keputusan yang diumumkan pada akhir pekan lalu ini memicu perdebatan sengit di kalangan ahli keamanan siber dan industri teknologi. Meskipun Anthropic sejak awal telah mengakui sifat ganda (dual-use) dari model terbarunya, banyak pihak menilai bahwa pembatasan oleh pemerintah hanya akan menunda realita yang tak terhindarkan: kemampuan AI untuk eksploitasi keamanan siber akan segera dimiliki oleh banyak perusahaan dan pengembang lain.

    Sejak Mythos debut pada April 2026, Anthropic telah mengklaim dan memperingatkan bahwa model tersebut memiliki kemampuan canggih tidak hanya untuk menemukan kerentanan perangkat lunak guna membantu para pembela (defenders) memperbaikinya, tetapi juga untuk menemukan cara mengeksploitasinya yang dapat digunakan oleh aktor jahat. Perusahaan tersebut mencatat sifat pedang bermata dua ini dalam peluncuran Mythos 5 dan Claude Fable 5.

    “Sebagian besar penggunaan canggih model AI bersifat dual-use: pertanyaan yang sama yang bermanfaat bagi profesional keamanan siber dan peneliti biologi bisa berbahaya jika tersedia bagi aktor jahat,” tulis Anthropic dalam sebuah posting blog pekan lalu. Dengan pertimbangan ini, perusahaan awalnya merilis versi bernama Mythos Preview ke konsorsium terpilih sebagai bagian dari kelompok kerja yang dikenal sebagai Project Glasswing.

    Mythos 5 juga dirilis secara pribadi ke kelompok ini pekan lalu, sementara Claude Fable 5, yang merupakan model setara Mythos, dirilis ke publik umum dengan pembatasan spesifik pada kemampuannya untuk memberikan respons terhadap pertanyaan tentang biologi dan keamanan siber. Namun, pada akhir pekan lalu, pemerintahan Trump bergerak untuk membatasi kedua model tersebut karena diyakini bahwa pengaman Fable 5 dapat dinonaktifkan untuk memberikan akses penuh ke kemampuan Mythos 5, yang diduga menjadikannya risiko keamanan nasional.

    Pertarungan Institusional yang Menunda Realita

    Para ahli berpendapat bahwa benturan institusional ini hanya menunda atau menutupi kebenaran yang sulit: Anthropic mungkin menjadi ujung tombak saat ini, tetapi kemampuan AI secara umum dan model dari berbagai perusahaan serta pengembang open-weight hampir pasti akan memiliki kemampuan serupa dengan Mythos 5 dalam waktu dekat—jika mereka belum memilikinya.

    “Sangat picik untuk berpikir bahwa tidak ada pesaing lain Anthropic yang akan mengembangkan kemampuan serupa dengan Mythos atau bahkan mereka belum melakukannya,” kata Tarah Wheeler, kepala petugas keamanan dari firma konsultan keamanan siber khusus TPO Group. “Ada perusahaan lain yang membuntuti Anthropic yang kemungkinan juga memiliki kemampuan tersebut, dan mereka menyimpannya sebagai cadangan sambil melihat bagaimana Anthropic diperlakukan dalam lingkungan regulasi saat ini.”

    Anthropic sendiri telah menekankan poin ini sejak peluncuran Mythos Preview. “Pesan sesungguhnya adalah ini bukan tentang model atau Anthropic,” kata Logan Graham, pimpinan red team frontier perusahaan tersebut, kepada WIRED saat Mythos Preview diluncurkan pada April. “Kita perlu bersiap sekarang untuk dunia di mana kemampuan ini tersedia secara luas dalam 6, 12, 24 bulan.”

    OpenAI, misalnya, juga melakukan rilis pribadi model yang berfokus pada keamanan siber pada pertengahan April dan mengumumkan strategi keamanan siber yang diperluas. Para peneliti mencatat bahwa bahkan sebelum generasi model berikutnya ini, penawaran AI yang ada dapat digunakan untuk perburuan kerentanan canggih dan pengembangan eksploitasi dengan alat yang lebih canggih.

    Sekelompok besar pemimpin keamanan siber menekankan hal ini kepada pemerintahan dalam sebuah surat terbuka pada hari Minggu, dengan alasan bahwa arahan kontrol ekspor Gedung Putih adalah keliru. “Ini bukan satu model; ini adalah tren umum teknologi,” kata Bruce Schneier, seorang peneliti di Universitas Harvard dan Universitas Toronto yang telah menganalisis situasi ini.

    “Model yang lebih kecil, lebih murah, open-source, kadang sendiri dan kadang bersama-sama, dapat menyaingi performa Mythos/Fable dengan prompting yang lebih canggih. Dan kita harus mengharapkan model lain untuk menyaingi kreativitas dan kegigihan Mythos/Fable dalam hitungan bulan—sedikit lebih lama untuk model open-source,” tambah Schneier.

    Implikasi untuk Kebijakan Global

    Apa yang perlu difokuskan oleh Gedung Putih dan pemerintah di seluruh dunia, menurut para ahli, adalah mengembangkan secara demokratis rencana yang jauh lebih luas dan lebih transparan tentang bagaimana mereka akan menghadapi kemajuan kemampuan AI dalam keamanan siber dan di area sensitif lainnya saat hal itu terjadi secara tak terelakkan.

    “Pertanyaan kebijakan bukanlah apakah suatu teknologi memiliki risiko,” kata Chris Wysopal, salah satu pendiri perusahaan keamanan cloud Veracode. “Pertanyaannya adalah apakah pembatasan spesifik secara berarti mengurangi risiko tersebut atau apakah itu terutama memperlambat orang yang mencoba membuat sistem lebih aman.”

    Pembatasan oleh pemerintahan Trump terhadap Mythos 5 dan Claude Fable 5 menimbulkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana seharusnya teknologi AI yang sangat canggih diatur di tengah persaingan global yang semakin ketat. Sementara langkah ini mungkin dimaksudkan untuk melindungi keamanan nasional, para ahli memperingatkan bahwa pendekatan yang terlalu sempit dapat menghambat inovasi dan justru membuat sistem pertahanan siber semakin tertinggal.

    Bagi para profesional keamanan siber di Indonesia dan Asia Tenggara, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa perlombaan senjata AI di bidang keamanan siber sudah dimulai. Kemampuan untuk mendeteksi dan mengeksploitasi kerentanan tidak lagi menjadi monopoli perusahaan tertentu, melainkan akan segera menjadi komoditas yang tersedia luas. Persiapan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia di bidang ini menjadi semakin krusial.

    Para pengamat menilai bahwa keputusan Gedung Putih untuk membatasi akses terhadap model Anthropic mungkin hanya akan mendorong pengembangan dan penyebaran kemampuan serupa di luar pengawasan pemerintah AS. Hal ini justru dapat menciptakan celah keamanan yang lebih besar di masa depan, ketika model-model dengan kemampuan setara Mythos 5 beredar tanpa pengaman yang memadai.

    Dalam jangka pendek, pembatasan ini diperkirakan akan memperlambat penelitian dan pengembangan alat pertahanan siber berbasis AI yang sangat dibutuhkan oleh banyak organisasi. Namun, dalam jangka panjang, tren menuju demokratisasi kemampuan AI canggih tampaknya tidak dapat dihindari, terlepas dari upaya regulasi yang dilakukan oleh pemerintah mana pun.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan AI dan regulasi terkini, simak juga artikel tentang Kejutan Besar di WWDC 2026 dan Kendali Algoritma Feed.

  • Kadin Kepri 2026-2031 Fokus Ekonomi Hijau dan Digital

    Kadin Kepri 2026-2031 Fokus Ekonomi Hijau dan Digital

    JBNews.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mendorong Kadin Kepri periode 2026–2031 untuk menjemput peluang ekonomi baru melalui pengembangan ekonomi hijau dan digital yang potensial. Arahan ini disampaikan dalam pengukuhan Dewan Pengurus Kadin Provinsi Kepri yang berlangsung di Aula Wan Seri Beni, Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Selasa.

    Anindya menekankan bahwa ekonomi hijau dan digital memiliki pasar yang sangat besar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Potensi ini semakin strategis mengingat posisi Kepri yang berada di wilayah perbatasan dengan berbagai negara tetangga. “Ekonomi hijau dan ekonomi digital punya pasar yang sangat besar, baik dalam maupun luar negeri, apalagi Kepri berada di wilayah perbatasan dengan berbagai negara tetangga,” kata Anindya Bakrie.

    Selain itu, Anindya mendorong Kadin Kepri untuk memperluas pemasaran kawasan perdagangan bebas (FTZ) Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Langkah ini dinilai penting untuk menarik lebih banyak investasi di daerah tersebut. Menurut dia, pengoptimalan industrialisasi membutuhkan investasi karena investasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

    Data pertumbuhan ekonomi Kepri 2025 yang mendekati tujuh persen mendapat apresiasi dari Anindya. Angka ini berada di atas rata-rata nasional yang sebesar lima persen. Realisasi investasi tahun 2025 juga mencatatkan angka yang signifikan, yakni mencapai Rp64,67 triliun. Capaian ini menandakan bahwa Kepri menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi di Indonesia.

    “Menariknya lagi, perbandingan investasi di Kepri adalah 50 banding 50, antara dalam dan luar negeri,” ungkap Anindya. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa Kepri tidak hanya bergantung pada satu sumber investasi, melainkan memiliki daya tarik yang merata bagi investor domestik maupun asing.

    Dalam kesempatan yang sama, Anindya berpesan agar Kadin Kepri terus memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah. Kemitraan ini mencakup pelaku usaha UMKM hingga skala besar sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Ia juga menekankan esensi Kadin adalah pemberdayaan ekonomi serta menjadi jembatan antara pengusaha besar dan kecil.

    “Saya sangat optimistis Kadin Kepri mampu menjaga kestabilan serta keamanan investasi bagi investor,” ujar Anindya Bakrie. Optimisme ini didasarkan pada potensi ekonomi Kepri yang kuat serta komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

    Peluang Ekonomi Hijau dan Digital di Kepri

    Pengembangan ekonomi hijau dan digital menjadi fokus utama Kadin Kepri ke depan. Ekonomi hijau mencakup sektor energi terbarukan, pengelolaan lingkungan, dan industri ramah lingkungan. Sementara itu, ekonomi digital meliputi pengembangan infrastruktur teknologi, startup, dan layanan berbasis digital.

    Posisi geografis Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, dan Vietnam memberikan keuntungan kompetitif. Kawasan ini dapat menjadi pintu gerbang bagi investasi dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Potensi ini perlu dimanfaatkan secara optimal melalui strategi pemasaran yang agresif dan inovatif.

    Anindya juga menyoroti pentingnya penguatan industri perkapalan dan kreatif di Kepri. Kedua sektor ini memiliki keterkaitan erat dengan ekonomi maritim dan pariwisata yang menjadi andalan daerah. Pengembangan industri perkapalan dapat mendukung logistik dan perdagangan, sementara industri kreatif dapat mendorong sektor pariwisata dan ekonomi digital.

    Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Kepri

    Data investasi Kepri tahun 2025 yang mencapai Rp64,67 triliun menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi daerah. Angka ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas rata-rata nasional. Keseimbangan investasi domestik dan asing sebesar 50:50 menjadi indikator kesehatan ekonomi yang positif.

    Realisasi investasi yang tinggi ini tidak terlepas dari keberadaan kawasan perdagangan bebas Batam, Bintan, dan Karimun. FTZ BBK menawarkan berbagai insentif fiskal dan kemudahan prosedur yang menarik bagi investor. Kadin Kepri diharapkan dapat memperluas pemasaran kawasan ini untuk menjangkau lebih banyak calon investor potensial.

    Anindya menegaskan bahwa investasi adalah kunci untuk mengoptimalkan industrialisasi di Kepri. Dengan investasi yang memadai, pertumbuhan ekonomi daerah dapat meningkat secara signifikan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah pusat untuk mendorong pemerataan pembangunan ekonomi.

    Peran Kadin dalam Pemberdayaan Ekonomi

    Kadin memiliki peran strategis sebagai jembatan antara pengusaha besar dan kecil. Organisasi ini juga berfungsi sebagai mitra pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang pro-investasi. Pemberdayaan UMKM menjadi salah satu fokus utama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

    Anindya berpesan agar Kadin Kepri terus memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi ini penting untuk menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang kuat, Kepri dapat mempertahankan posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi di Indonesia.

    Optimisme Anindya terhadap kemampuan Kadin Kepri dalam menjaga stabilitas dan keamanan investasi didasarkan pada rekam jejak daerah ini. Kepri telah terbukti mampu menarik investasi signifikan dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang positif. Dengan kepemimpinan baru, diharapkan capaian ini dapat terus ditingkatkan.

    Pengembangan ekonomi hijau dan digital di Kepri sejalan dengan tren global menuju ekonomi berkelanjutan. Banyak negara tetangga yang telah lebih dulu mengadopsi teknologi hijau dan digital. Kepri perlu mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan momentum ini untuk menarik investasi berkualitas.

    Sektor perkapalan dan industri kreatif juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kepri yang merupakan wilayah kepulauan memiliki keunggulan komparatif di bidang maritim. Sementara itu, industri kreatif dapat didorong melalui pengembangan talenta lokal dan infrastruktur digital yang memadai.

    Anindya juga mengingatkan pentingnya menjaga kestabilan dan keamanan investasi. Hal ini mencakup kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan dukungan infrastruktur. Dengan lingkungan investasi yang kondusif, Kepri dapat terus menarik minat investor baik domestik maupun asing.

    Keberhasilan Kadin Kepri dalam menjalankan program-programnya akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi berarti lebih banyak lapangan kerja, pendapatan daerah yang meningkat, dan kualitas hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan mendukung penuh program kerja Kadin Kepri periode 2026-2031.

    Dengan fokus pada ekonomi hijau dan digital, serta penguatan sektor perkapalan dan kreatif, Kepri memiliki prospek cerah ke depan. Dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah, serta komitmen Kadin, akan menjadi kunci keberhasilan transformasi ekonomi di provinsi ini.

    Anindya menutup sambutannya dengan optimisme tinggi terhadap kemampuan Kadin Kepri. Ia yakin bahwa dengan kerja keras dan kolaborasi, Kepri dapat terus menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi terdepan di Indonesia. “Saya sangat optimistis Kadin Kepri mampu menjaga kestabilan serta keamanan investasi bagi investor,” pungkasnya.

    Pengukuhan Dewan Pengurus Kadin Kepri periode 2026-2031 ini menjadi momentum penting bagi arah pembangunan ekonomi daerah ke depan. Dengan kepemimpinan baru, diharapkan Kadin Kepri dapat lebih responsif terhadap perubahan ekonomi global dan mampu memanfaatkan peluang yang ada secara optimal.

    Sejumlah langkah strategis telah diidentifikasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri. Selain pengembangan ekonomi hijau dan digital, penguatan sektor maritim dan industri kreatif juga menjadi prioritas. Seluruh program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif dan berkelanjutan.

    Kadin Kepri juga diharapkan dapat menjadi jembatan yang efektif antara pengusaha besar dan kecil. Pemberdayaan UMKM melalui pendampingan, akses pembiayaan, dan pengembangan pasar menjadi salah satu fokus utama. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Komitmen Kadin Kepri untuk menjaga kestabilan dan keamanan investasi menjadi jaminan bagi para investor. Dengan lingkungan bisnis yang kondusif, Kepri diprediksi akan terus menarik minat investor baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja baru.

  • Xreal Aura Resmi Dibuka Reservasi, Kacamata AR Kolaborasi Google

    Xreal Aura Resmi Dibuka Reservasi, Kacamata AR Kolaborasi Google

    JBNews.id — Xreal resmi membuka reservasi untuk kacamata augmented reality (AR) terbarunya, Xreal Aura, hasil kolaborasi dengan Google. Perangkat yang merupakan perangkat Android XR kedua setelah Samsung Galaxy XR ini bisa dipesan dengan uang muka USD 99 atau sekitar Rp 1,5 juta mulai hari ini.

    Reservasi awal ini berlaku untuk peluncuran penuh yang dijadwalkan pada musim gugur 2026 di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Kanada, dan Korea Selatan. Xreal Aura mengikuti jejak headset Samsung Galaxy XR yang merupakan perangkat pertama bertenaga Android XR dan telah diluncurkan dengan harga USD 1.799 pada Oktober 2025.

    Detail Reservasi dan Harga

    Meskipun harga final Xreal Aura belum diumumkan, Google sebelumnya menggambarkan perangkat ini sebagai “headset yang menyamar sebagai kacamata”. Yang jelas, Best Buy akan menjadi mitra ritel pertama di toko fisik saat perangkat tersedia secara komersial.

    Xreal juga menawarkan insentif menarik bagi konsumen yang melakukan reservasi dalam dua minggu pertama. Mereka akan menerima kredit sebesar USD 199 untuk pembelian nanti, yang secara efektif memberikan diskon USD 100 dari harga akhir. Skema deposit ini menjadi strategi pemasaran yang cerdas untuk membangun basis pelanggan awal.

    Dalam perkembangan industri teknologi, strategi pemasaran seperti ini juga diterapkan oleh berbagai perusahaan. Barantum Raih Rating 4,9/5 di Google Bisnis menunjukkan bagaimana kepercayaan konsumen menjadi kunci sukses produk teknologi.

    Spesifikasi dan Performa

    Dari spesifikasi yang terungkap, Xreal Aura memiliki bobot di bawah 95 gram, menjadikannya salah satu perangkat AR paling ringan di kelasnya. Kacamata ini ditenagai oleh chip Snapdragon Reality Elite terbaru dari Qualcomm, platform XR terkini yang dirancang khusus untuk perangkat realitas tertambah.

    Chip ini, yang dikombinasikan dengan sistem operasi Android XR buatan Google, bertujuan untuk memenuhi tuntutan akan “pengalaman imersif yang lebih baik, performa lebih tinggi, kecerdasan lebih besar, dan optimalisasi daya yang lebih baik,” menurut pernyataan Ziad Asghar, kepala divisi XR Qualcomm.

    Kombinasi hardware dan software ini menjanjikan pengalaman AR yang mulus dan responsif. Dengan bobot yang ringan, pengguna bisa memakai kacamata ini dalam waktu lama tanpa merasa tidak nyaman. Ini menjadi faktor penting untuk adopsi massal perangkat AR yang selama ini terkendala oleh ukuran dan berat perangkat.

    Peluncuran di Augmented World Expo

    Informasi lebih detail mengenai peluncuran Xreal Aura kemungkinan akan terungkap setelah Xreal memamerkan kacamatanya di Augmented World Expo (AWE) yang berlangsung pada 15-18 Juni 2026 di Long Beach, California. Acara ini menjadi panggung penting bagi Xreal untuk menunjukkan kemampuan perangkatnya kepada publik dan pengamat industri.

    AWE merupakan salah satu konferensi terbesar untuk industri realitas tertambah, sehingga kehadiran Xreal di sana menunjukkan keseriusan mereka dalam memasuki pasar konsumen. Para pengamat teknologi akan mencermati setiap detail yang diungkapkan dalam acara tersebut, termasuk kemungkinan harga final dan ketersediaan di pasar global.

    Dalam konteks yang lebih luas, persaingan di pasar perangkat wearable dan AR semakin ketat. ChatGPT Tembus 1 Miliar Pengguna menunjukkan bagaimana adopsi teknologi baru bisa meledak jika produknya tepat sasaran.

    Implikasi untuk Pasar AR

    Peluncuran Xreal Aura menandai langkah maju yang signifikan dalam ekosistem Android XR. Setelah Samsung Galaxy XR yang lebih mahal dan berbentuk headset, Xreal Aura menawarkan form factor yang lebih ringan dan mungkin lebih terjangkau. Ini bisa menjadi kunci untuk mendorong adopsi AR di kalangan konsumen umum.

    Kemitraan dengan Google memberikan Xreal akses ke ekosistem Android yang luas, termasuk ribuan aplikasi yang sudah ada. Sementara itu, Qualcomm dengan chip Snapdragon Reality Elite-nya menyediakan fondasi hardware yang mumpuni untuk pengalaman AR yang imersif.

    Bagi konsumen, kehadiran Xreal Aura berarti mereka memiliki pilihan lebih dalam memilih perangkat AR. Jika Samsung Galaxy XR menargetkan pengguna profesional dengan harga premium, Xreal Aura tampaknya menyasar segmen yang lebih luas dengan harga yang lebih ramah di kantong.

    Namun, masih ada pertanyaan yang belum terjawab, terutama soal harga final dan ketersediaan di luar lima negara awal. Pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum disebutkan dalam rencana peluncuran perdana. Ini berarti konsumen di kawasan ini mungkin harus menunggu lebih lama untuk bisa mendapatkan perangkat ini.

    Dengan bobot di bawah 95 gram dan performa yang didukung chip terbaru Qualcomm, Xreal Aura berpotensi menjadi game changer di pasar AR. Pertanyaannya sekarang, apakah konsumen siap mengadopsi teknologi ini secara massal? Jawabannya mungkin akan terungkap setelah peluncuran resmi pada musim gugur 2026 nanti.

    Sementara itu, perkembangan di industri teknologi terus berlangsung. Mahasiswa Stanford Boikot pidato CEO Google Sundar Pichai menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar juga menghadapi tantangan dari berbagai sisi.

    Bagi para penggemar teknologi dan early adopter, Xreal Aura menawarkan prospek yang menarik. Dengan harga reservasi yang terjangkau dan insentif kredit USD 199, ini bisa menjadi kesempatan untuk menjadi salah satu pengguna pertama perangkat AR generasi baru yang didukung penuh oleh ekosistem Google.

  • Nimble SharePower: Power Bank Modular yang Bisa Dibagi Dua

    Nimble SharePower: Power Bank Modular yang Bisa Dibagi Dua

    JBNews.id — Nimble meluncurkan SharePower, sebuah power bank modular 10.000 mAh yang dapat dipisah menjadi dua unit pengisi daya independen masing-masing 5.000 mAh. Inovasi ini memungkinkan pengguna berbagi daya dengan teman atau keluarga saat perangkat mereka kehabisan baterai.

    Power bank ini menggunakan koneksi magnetik dengan pogo pin kecil untuk menyatukan kedua modul. Setiap bagian memiliki kabel USB-C bawaan—satu berfungsi sebagai tali pembawa dan satu lagi berupa konektor lipat. Saat disatukan, perangkat berukuran sekitar 3 inci persegi dengan ketebalan 1 inci ini mampu mengisi daya hingga tiga perangkat sekaligus dengan output maksimal 35 watt.

    Layar digital pada perangkat menampilkan persentase daya yang tersisa secara presisi. Bagian atas memiliki kabel USB-C loop, satu port USB-C out, dan empat LED indikator daya. Bagian bawah dilengkapi konektor USB-C lipat, satu port USB-C out, dan layar digital yang menunjukkan sisa daya dalam persentase.

    Fitur Load Balancing Canggih

    Keunggulan utama Nimble SharePower terletak pada sistem penyeimbang beban (load balancing). Ketika satu modul digunakan teman untuk mengisi daya ponsel mereka, saat kedua bagian disatukan kembali, daya akan terbagi secara merata. Hal ini memastikan tidak ada satu modul pun yang kehabisan daya lebih dulu.

    Menurut Ross Howe, salah satu pendiri dan CEO Nimble, fitur ini merupakan tantangan teknis yang signifikan. Perusahaan berbicara dengan penyedia chipset untuk beberapa ponsel lipat besar yang memiliki baterai terpisah di dalamnya guna menyempurnakan sistem load balancing. Tujuannya agar daya tidak terus-menerus berpindah bolak-balik hingga habis.

    Dalam pengujian, bagian atas SharePower mampu mengisi iPhone 16 dari kondisi mati hingga 80 persen dalam waktu sekitar satu jam. Sementara itu, bagian bawah mengisi Pixel 10 Pro XL dari 12 persen menjadi 72 persen dalam waktu sekitar 45 menit. Kedua modul dapat diisi ulang secara independen atau bersamaan.

    Komitmen Keberlanjutan

    Nimble dikenal dengan pendekatan ramah lingkungan yang serius. Perusahaan ini tersertifikasi penuh dan 100 persen akuntabel terhadap emisi CO2. SharePower dibuat dari 100 persen plastik daur ulang, bebas BPA dan PFAS, serta netral karbon. Kemasan yang digunakan juga bebas plastik dengan bahan nabati.

    Produk ini juga mendukung daur ulang limbah elektronik secara gratis untuk semua produk Nimble. Pendekatan ini sejalan dengan tren Solusi 5G dan AI yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan dalam teknologi konsumen.

    Varian dan Harga

    Unit pengujian yang digunakan adalah edisi terbatas berwarna biru yang diluncurkan di Apple. Power bank putih hadir dengan casing jelly yang memberikan tekstur tambahan. Tersedia juga varian warna pink yang memungkinkan pengguna mengganti tampilan dan melindungi power bank di dalamnya.

    Nimble SharePower dijual seharga USD 80 atau sekitar Rp 1,2 juta (estimasi kurs) dan tersedia di semua toko. Edisi terbatas dengan casing jelly juga dibanderol USD 80 dan hanya tersedia di Apple. Produk ini merupakan bagian dari koleksi musim panas Nimble yang juga mencakup Wally Pro Stretch seharga USD 60 dan Champ Stretch seharga USD 80.

    Wally Pro Stretch adalah power bank 5.000 mAh dengan kabel USB-C retractable sepanjang 2 kaki dan colokan lipat yang bisa langsung dicolokkan ke stopkontak. Perangkat ini dapat mengisi daya pada 20 watt sebagai power bank dan juga berfungsi sebagai pengisi daya dinding 30 watt. Sementara itu, Champ Stretch adalah pengisi daya portabel 10.000 mAh dengan kabel USB-C retractable sepanjang 2 kaki di satu ujung, layar digital, dan port USB-C cadangan.

    Dengan desain modular yang inovatif dan fitur load balancing canggih, Nimble SharePower menawarkan solusi praktis untuk berbagi daya tanpa khawatir kehabisan baterai. Ini menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang sering bepergian atau menghadiri acara seperti festival musik.

    Bagi Anda yang tertarik dengan inovasi teknologi serupa, jangan lewatkan ulasan tentang Framework Laptop 13 Pro Tertunda yang membahas tantangan dalam pengembangan perangkat modular lainnya.

  • Apple Siapkan AirPods Kamera dan iPhone 20th Anniversary 2027

    Apple Siapkan AirPods Kamera dan iPhone 20th Anniversary 2027

    JBNews.id — Apple tengah mengembangkan berbagai perangkat keras baru yang ambisius, termasuk AirPods dengan kamera dan iPhone edisi khusus 20 tahun. Informasi ini diungkap oleh jurnalis Bloomberg, Mark Gurman, yang sebelumnya juga melaporkan rencana Apple untuk menghadirkan fitur kecerdasan buatan di berbagai platform.

    Menurut laporan terbaru, AirPods berkamera tersebut saat ini dijadwalkan meluncur pada akhir 2027. Perangkat ini tengah diuji secara internal dengan sistem operasi iOS 28, yang merupakan pembaruan tahun depan setelah rilis iOS 27 musim gugur ini. Kehadiran kamera di bagian batang AirPods dan lampu indikator saat data diunggah ke cloud akan memberikan Siri versi terbaru “konteks visual” tentang lingkungan sekitar pengguna. Langkah ini menjadi fondasi sebelum Apple akhirnya merilis kacamata pintar pertamanya.

    Gurman juga menyebutkan rencana Apple untuk meluncurkan ponsel lipat generasi kedua pada musim gugur tahun ini. Model pertama diperkirakan akan menunjukkan komitmen Apple terhadap kategori produk baru ini. Namun, tantangan seperti aplikasi yang gagal menyesuaikan dengan layar lebih besar dan baterai lebih kecil dibandingkan ponsel flagship standar masih menjadi pekerjaan rumah. Sebagai perbandingan, pengalaman menggunakan perangkat lipat dari kompetitor seperti Pixel 10 Pro Fold masih menyisakan banyak kompromi dengan harga yang tinggi.

    Selain itu, Apple juga dikabarkan sedang mengerjakan iPhone edisi “20th anniversary” dengan kode V73 dan V74. Perangkat ini akan mengikuti jejak iPhone 18 Pro dan Pro Max tahun ini dengan ukuran serupa, namun menghadirkan layar “hampir tanpa bingkai” dengan kaca melengkung yang membungkus sisi-sisi perangkat. Sementara itu, iPhone 18 standar mungkin baru akan dirilis tahun depan dengan chip seri A20 yang serupa dengan ponsel yang dirilis musim gugur ini. Setelah itu, ponsel 2027 akan beralih ke chip A21 2nm, dengan rencana peralihan ke teknologi 1.4nm untuk chip A22 Pro. Apple disebut “mempertimbangkan” menggunakan Intel untuk menangani sebagian produksi chip di samping pemasok utamanya, TSMC.

    Rencana ini sejalan dengan rumor beberapa tahun terakhir yang memperkirakan kehadiran iPhone Air yang tipis. Namun, dengan John Ternus yang mengambil alih sebagai CEO Apple, kekurangan RAM dan komponen yang membayangi, serta AI yang merambah ke mana-mana, rencana yang sudah solid sekalipun bisa berubah.

    Di tengah persiapan perangkat keras ini, Apple juga terus mengembangkan ekosistem perangkat lunaknya. Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Apple merombak Maps, Music, Podcasts, iCloud di iOS 27, menandai perubahan besar dalam layanan digital mereka. Sementara itu, Apple vs UE: Siri AI Tertunda akibat regulasi DMA, menunjukkan bagaimana kebijakan regional dapat memengaruhi peluncuran fitur baru.

    Dari segi chip, lompatan dari teknologi 3nm saat ini ke 2nm pada chip A21 dan kemudian 1.4nm pada A22 Pro akan menjadi peningkatan signifikan dalam efisiensi daya dan performa. Apple mempertimbangkan Intel sebagai mitra produksi alternatif selain TSMC, yang dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu pemasok. Keputusan ini akan sangat penting mengingat Apple Intelligence Gratis untuk iPhone Ini menunjukkan bagaimana perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam perangkat.

    Bagi konsumen, jadwal peluncuran yang masih beberapa tahun ke depan memberikan waktu bagi Apple untuk menyempurnakan teknologi. AirPods dengan kamera, misalnya, akan menjadi pintu gerbang menuju komputasi spasial yang lebih imersif sebelum kacamata pintar hadir. Sementara itu, iPhone edisi 20 tahun dengan layar melengkung dan tanpa bingkai akan menjadi pernyataan desain yang berani.

    Namun, tantangan rantai pasokan tetap menjadi faktor kritis. Kekurangan RAM dan komponen yang disebutkan Gurman dapat memengaruhi jadwal produksi. Selain itu, perubahan kepemimpinan dengan John Ternus sebagai CEO baru juga dapat membawa prioritas strategis yang berbeda.

    Implikasinya, penggemar Apple harus bersabar untuk melihat inovasi perangkat keras paling ambisius perusahaan. Fokus jangka pendek tetap pada pembaruan perangkat lunak dan layanan, sementara perangkat keras revolusioner baru akan tiba dalam beberapa tahun ke depan. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan teknologi, ini adalah waktu yang menarik untuk melihat bagaimana Apple menavigasi transisi dari perusahaan perangkat keras menjadi pemimpin dalam komputasi spasial dan kecerdasan buatan.

  • Spacex IPO Saham Mulai Turun Usai Sentuh Rekor Tertinggi

    Spacex IPO Saham Mulai Turun Usai Sentuh Rekor Tertinggi

    JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan pertama sejak debut di bursa saham pekan lalu, setelah sebelumnya melesat dan menyentuh level tertinggi di US$222 pada Selasa pagi. Penurunan ini menandai awal fase volatilitas bagi perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut di pasar modal.

    SpaceX resmi melantai di bursa pada Jumat pekan lalu dengan valuasi yang langsung menembus US$2 triliun. Harga saham perdana dibuka di US$150, atau premium 11 persen dari harga penawaran awal. Pada hari-hari berikutnya, saham terus merangkak naik hingga menembus US$200 pada Selasa. Namun, setelah mencapai puncak di US$222, saham mulai terkoreksi dan ditutup di kisaran US$200 pada akhir hari perdagangan yang sama.

    Fase koreksi ini menjadi pengingat bahwa meskipun SpaceX memiliki daya tarik luar biasa di mata investor, pergerakan sahamnya di bursa tetap tidak dapat diprediksi. “Ini adalah titik infleksi yang menarik setelah IPO SpaceX akhirnya membuka pintu air,” tulis laporan tersebut, menggambarkan euforia awal yang kini mulai meredup.

    Faktor di Balik Penurunan Minat Investor

    Melambatnya antusiasme investor terhadap saham SpaceX memiliki sejumlah alasan mendasar. Dalam dokumen pengajuan ke Securities and Exchange Commission (SEC) sebelum IPO, SpaceX secara terbuka mengakui risiko besar yang melekat pada bisnisnya. Meskipun kapitalisasi pasar perusahaan saat ini mencapai lebih dari US$2,6 triliun, mendekati nilai pasar Amazon, SpaceX tercatat terus membakar uang dalam jumlah miliaran dolar.

    Situasi keuangan ini diperparah oleh merger SpaceX dengan startup AI milik Musk, xAI, yang juga dikenal sebagai salah satu perusahaan dengan tingkat pembakaran kas tertinggi. Penggabungan ini menambah beban finansial yang sudah berat bagi perusahaan antariksa tersebut.

    Selain itu, dalam dokumen SEC, SpaceX juga mengakui bahwa rencana ambisius Musk untuk menempatkan satu juta pusat data raksasa di orbit Bumi mungkin tidak layak secara ekonomi, apalagi secara fisik. Pernyataan ini membayangi aspirasi Musk yang dikenal sangat ambisius dan seringkali sulit direalisasikan.

    Para analis Wall Street kini berada di wilayah yang belum pernah dijelajahi sebelumnya. Mereka berdiri di belakang visi berani Musk, tetapi tanpa pemahaman yang jelas tentang model bisnis yang realistis atau jal menuju profitabilitas. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi bagi pergerakan saham ke depannya.

    Dampak bagi Investor dan Pasar

    Penurunan saham SpaceX ini menjadi pelajaran berharga bagi investor yang baru pertama kali berinvestasi di perusahaan tersebut. Seperti yang dialami oleh investor Tesla, perjalanan saham SpaceX diprediksi akan penuh dengan liku-liku dan volatilitas tinggi.

    Meskipun demikian, euforia investor masih terasa. Banyak yang merasa senang bisa menjadi bagian dari sejarah perusahaan antariksa pertama yang melantai di bursa. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat risiko fundamental yang melekat pada bisnis SpaceX.

    Bagi investor ritel yang baru bergabung setelah IPO, penting untuk memahami bahwa valuasi setinggi US$2,6 triliun tidak serta-merta menjamin keuntungan jangka panjang. Data dari laporan keuangan SpaceX menunjukkan bahwa perusahaan masih membutuhkan waktu untuk mencapai profitabilitas yang stabil.

    Kondisi ini juga berdampak pada karyawan SpaceX yang tiba-tiba menjadi miliarder atau jutawan setelah IPO. Fluktuasi harga saham akan mempengaruhi nilai kekayaan mereka secara langsung. Bagi investor institusional, volatilitas ini menjadi pertimbangan serius dalam strategi alokasi aset mereka.

    Ke depannya, pergerakan saham SpaceX akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mewujudkan visi besarnya dan mencapai profitabilitas. Investor harus siap menghadapi perjalanan yang penuh tantangan, mirip dengan apa yang dialami oleh Tesla di masa-masa awal.

    Bagi pasar modal Indonesia, fenomena IPO SpaceX ini menjadi referensi penting tentang bagaimana valuasi perusahaan teknologi tinggi bisa sangat fluktuatif. Investor lokal yang tertarik berinvestasi di saham SpaceX melalui platform global perlu memahami risiko ini dengan baik.

    Seiring berjalannya waktu, pasar akan terus memantau perkembangan SpaceX, termasuk rencana ekspansi bisnisnya, kinerja keuangan, dan kemampuan untuk memenuhi target ambisius yang telah ditetapkan. Sampai saat itu tiba, volatilitas diperkirakan akan menjadi ciri khas saham SpaceX di bursa.

    Para pengamat pasar menyarankan investor untuk tidak terlalu terbawa euforia jangka pendek dan fokus pada fundamental jangka panjang perusahaan. Dengan kapitalisasi pasar yang sudah sangat besar, ruang untuk pertumbuhan eksponensial mungkin semakin terbatas, setidaknya dalam jangka pendek.

    Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa IPO bukanlah jaminan kesuksesan. Banyak perusahaan dengan valuasi tinggi saat IPO justru mengalami kesulitan mempertahankan harga sahamnya dalam jangka panjang. SpaceX, dengan segala ambisinya, harus membuktikan bahwa valuasi setinggi itu sepadan dengan kinerja riil perusahaan.

  • Qualcomm Rilis Snapdragon Reality Elite untuk Kacamata AI

    Qualcomm Rilis Snapdragon Reality Elite untuk Kacamata AI

    JBNews.id — Qualcomm secara resmi meluncurkan chipset terbaru, Snapdragon Reality Elite, yang dirancang khusus untuk mendorong performa kacamata pintar dan perangkat extended reality (XR) generasi berikutnya. Pengumuman ini dilakukan di ajang Augmented World Expo, menandai langkah besar Qualcomm dalam menyempurnakan silikon untuk perangkat wearable cerdas.

    Chip ini sebenarnya sudah mulai terlihat di perangkat nyata pada Google I/O bulan lalu, yaitu kacamata Aura untuk Android XR yang dikembangkan oleh Xreal dan Google. Saat itu, kedua perusahaan masih merahasiakan prosesor yang digunakan. Kini terungkap bahwa Aura ditenagai oleh Snapdragon Reality Elite.

    Peningkatan Performa di Semua Sektor

    Dari segi spesifikasi, Snapdragon Reality Elite menawarkan peningkatan performa yang signifikan di semua lini. GPU mendapatkan lonjakan performa hingga 60 persen, CPU meningkat 30 persen, dan NPU (Neural Processing Unit) mengalami peningkatan paling dramatis, yaitu hingga 160 persen. Peningkatan NPU ini krusial untuk menjalankan model bahasa besar (LLM) dan fitur kecerdasan buatan (AI) secara lokal di perangkat.

    Chip ini juga mendukung resolusi 4.4K per mata pada 90 frame per detik dengan latensi yang lebih rendah. Artinya, pengalaman visual imersif yang lebih halus dan jernih bisa dihadirkan tanpa jeda yang mengganggu. Qualcomm juga mengklaim telah meningkatkan efisiensi daya sehingga daya tahan baterai naik hingga 20 persen. Lebih penting lagi, sistem pendingin ditingkatkan. Saat menangani beban kerja berat, suhu chip ini bisa tetap lebih dingin hingga 12 derajat Celsius dibandingkan chip XR generasi sebelumnya dari Qualcomm.

    “Dengan peningkatan ini, chip ini seharusnya bisa mendukung visual yang lebih baik untuk pengalaman XR imersif, lebih banyak daya untuk menangani LLM yang lebih besar untuk fitur AI, serta kacamata yang lebih ringan dan berdaya tahan lebih lama,” tulis laporan yang dikutip JBNews.id. Semua ini adalah jawaban atas masalah teknis yang selama ini menghantui industri kacamata pintar.

    Dua Chip, Dua Segmen Berbeda

    Snapdragon Reality Elite hadir berbarengan dengan saudaranya, Snapdragon Wear Elite, yang diperkenalkan Qualcomm pada Mobile World Congress bulan Februari lalu. Kedua chip ini bisa digunakan untuk menenagai kacamata pintar, namun dengan segmen yang berbeda. Wear Elite kemungkinan besar akan ditemukan di kacamata audio-only (tanpa layar), sementara Reality Elite akan digunakan untuk kacamata dengan layar (display glasses) yang boros daya dan kaya fitur AI.

    Keputusan Qualcomm untuk meningkatkan performa AI di kedua chip ini memberikan petunjuk jelas: para pembuat gadget sangat antusias untuk memasukkan lebih banyak AI ke dalam kacamata, jam tangan pintar, pelacak kebugaran, pin, dan liontin pintar. Peningkatan baterai dan pendinginan juga merupakan pengakuan tersirat bahwa banyak kacamata pintar dengan layar saat ini kesulitan menyeimbangkan desain yang ringkas dengan daya tahan baterai seharian.

    Risiko overheating (panas berlebih) juga menjadi masalah besar bagi produsen kacamata pintar ketika ingin menawarkan fitur yang lebih canggih. “Karena tidak ada yang mau kacamata yang membakar wajah mereka,” tulis laporan tersebut. Jika peningkatan pada Snapdragon Reality Elite bisa memberikan perbaikan nyata di area ini, bukan tidak mungkin kita akan segera melihat lebih banyak perangkat AI wearable yang mengesankan di pasar.

    Langkah Qualcomm ini juga menjadi sinyal kuat tentang apa yang akan kita lihat dari perangkat wearable pada musim gugur tahun ini dan tahun 2027. Sebagai pembuat komponen, Qualcomm menciptakan chip untuk memenuhi permintaan spesifik dari mitra seperti Meta dan Google. Kehadiran dua chip khusus untuk wearable ini menunjukkan bahwa era kacamata pintar dengan AI canggih semakin dekat.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan chipset terkini, Anda bisa membaca artikel tentang Galaxy Z Flip 8 yang menggunakan dua chipset berbeda. Sementara itu, persaingan di sektor AI juga semakin panas dengan konfirmasi Nvidia mengenai tiga generasi RTX Spark untuk AI agent.

  • Rugi OpenAI 2025 Tembus Rp 630 Triliun, Beralih ke Token

    Rugi OpenAI 2025 Tembus Rp 630 Triliun, Beralih ke Token

    JBNews.id — Kerugian bersih OpenAI melonjak drastis dari 5 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 39 miliar dolar AS pada 2025, mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan peralihan sistem tagihan dari langganan bulanan ke model berbasis token.

    Angka kerugian tersebut terungkap dari laporan keuangan audit yang diperoleh oleh pengkritik AI Ed Zitron dan dibagikan kepada Financial Times. Meskipun seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada FT bahwa sebagian besar kerugian 2025 merupakan “biaya akuntansi non-tunai yang terkait dengan struktur perusahaan sebelumnya,” tekanan finansial tetap nyata.

    Setelah bertahun-tahun memberikan akses luas ke model AI dengan biaya bulanan tetap, OpenAI dan banyak pesaingnya kini tengah memperdebatkan kenaikan harga secara dramatis. Transisi ke sistem tagihan berbasis token akan membebani pengguna langsung berdasarkan jumlah daya komputasi yang mereka konsumsi, bukan langganan bulanan terbuka.

    Saat ini, OpenAI menawarkan akses API bayar-per-pakai dan langganan ChatGPT bulanan. Namun, masa pakai model langganan bulanan semakin tidak pasti. Awal bulan ini, CEO OpenAI Sam Altman berargumen bahwa “kami melihat masa depan di mana kecerdasan menjadi utilitas, seperti listrik atau air, dan orang membelinya dari kami berdasarkan meteran.”

    Pernyataan Altman memicu perbandingan dengan praktik pengedar narkoba yang membanjiri pasar dengan barang gratis, lalu menaikkan harga setelah pengguna menjadi tergantung. “Mereka pada dasarnya mengambil pendekatan crack terhadap AI,” kata seorang pengguna Reddit. “Berikan gratis, buat mereka kecanduan, lalu naikkan harga.”

    Metafora ini relevan mengingat arah yang diambil sebagian besar pemain utama industri AI. Seiring biaya pembangunan pusat data dan akses komputasi cloud jatuh tempo, perilaku serupa kemungkinan akan semakin sering terjadi.

    Biaya Operasional yang Tidak Masuk Akal

    Biaya nyata di balik langganan AI sangat mencengangkan. Menurut laporan terbaru dari perusahaan riset SemiAnalysis, langganan ChatGPT Pro seharga 200 dolar AS per bulan sebenarnya merugikan OpenAI hingga 14.000 dolar AS jika digunakan secara maksimal. Ini berarti perusahaan menanggung subsidi raksasa untuk setiap pengguna berat.

    Kenaikan harga API juga telah mengejutkan sebagian pengguna berat. Menurut Axios, seorang CFO perusahaan yang tidak disebutkan namanya secara tidak sengaja mengakumulasi biaya penggunaan Claude senilai setengah miliar dolar AS dalam satu bulan. Insiden ini menunjukkan betapa mudahnya biaya melonjak di luar kendali tanpa sistem tagihan yang transparan.

    Realitas finansial ini sulit diabaikan, dengan para CEO mulai membalikkan arah adopsi AI karena harga akses alat tersebut di luar kendali. “Pada dasarnya semua penyedia AI ini mensubsidi penggunaan token secara besar-besaran pada paket tarif tetap,” tulis pengguna Reddit lainnya. “Ini tidak berkelanjutan.”

    Implikasi bagi Pengguna dan Industri

    Bahkan dengan harga API berbasis token yang melonjak, neraca perusahaan AI masih berada di zona merah. Kondisi ini bisa bertahan lama, terutama mengingat perang harga AI yang sedang berkembang yang justru bisa memaksa mereka menurunkan harga agar tetap kompetitif.

    Bagi pengguna biasa, transisi ke sistem token berarti biaya akses AI yang tadinya tetap dan terjangkau bisa berubah menjadi variabel dan mahal. Pengguna berat yang terbiasa memanfaatkan kapasitas penuh langganan bulanan akan menjadi pihak yang paling terdampak.

    Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan model bisnis AI. Perusahaan seperti OpenAI harus menyeimbangkan antara kebutuhan pendapatan dan tekanan untuk tetap kompetitif di pasar yang semakin ramai. Keputusan mereka akan menentukan apakah AI tetap menjadi alat yang terjangkau bagi publik atau berubah menjadi komoditas mahal yang hanya bisa diakses segelintir pihak.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan industri AI, baca juga artikel tentang Super App ChatGPT dan Gugatan Terhadap OpenAI.

  • Wear OS 7 Resmi Rilis, Baterai Lebih Awet 10 Persen

    Wear OS 7 Resmi Rilis, Baterai Lebih Awet 10 Persen

    JBNews.id — Google resmi meluncurkan Wear OS 7 untuk Pixel Watch 2, 3, dan 4 hari ini. Pembaruan ini menghadirkan fitur Live Updates yang memungkinkan notifikasi aktivitas real-time, seperti skor olahraga atau status pengiriman makanan, tersinkronisasi antara jam tangan pintar dan ponsel Android.

    Selain itu, Google mengklaim Wear OS 7 menawarkan peningkatan daya tahan baterai hingga 10 persen dibandingkan Wear OS 6. Langkah ini menjadi kabar baik bagi pengguna yang kerap mengeluhkan ketahanan baterai perangkat wearable.

    Fitur Live Updates menjadi salah satu andalan utama dalam pembaruan ini. Dengan fitur tersebut, pengguna tidak perlu lagi membuka ponsel untuk melihat perkembangan terbaru dari event yang sedang berlangsung. Semua informasi langsung muncul di layar jam tangan secara real-time.

    Google juga menjanjikan kehadiran sejumlah fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diberi nama Gemini Intelligence. Namun, perusahaan menyatakan fitur-fitur tersebut baru akan tersedia pada “akhir tahun ini” atau later this year.

    Fitur Gemini Intelligence di Wear OS 7

    Salah satu fitur yang paling dinantikan adalah Create My Widget. Fitur ini memungkinkan pengguna membuat widget Wear OS kustom hanya dengan perintah bahasa alami (natural language prompts). Pengguna cukup mengetikkan apa yang diinginkan, dan sistem akan menghasilkan widget yang sesuai.

    Selain itu, Gemini di Wear OS 7 juga disebut mampu menangani otomatisasi aplikasi multi-langkah. Contohnya, pengguna dapat memesan restoran atau membuat reservasi langsung dari jam tangan tanpa harus menyentuh ponsel.

    Pembaruan ini juga membawa desain “neural expressive” baru untuk Gemini serta dukungan untuk Personal Intelligence. Fitur Personal Intelligence akan menarik data dari aplikasi Google yang terhubung untuk memberikan saran yang lebih kontekstual dan personal.

    Dalam konteks ekosistem yang lebih luas, langkah Google ini sejalan dengan tren integrasi AI yang semakin dalam di perangkat konsumen. Seperti yang terlihat dalam AI di Tribeca, Google terus membuktikan bahwa generative AI dapat menjadi alat kreatif yang powerful.

    Kemudahan Kontrol Media dan Konektivitas

    Wear OS 7 juga menghadirkan output switcher baru yang memudahkan pengguna mengontrol perangkat audio. Dengan fitur ini, pengguna dapat memindahkan output suara dari satu perangkat terhubung ke perangkat lain, misalnya dari headphone ke speaker Nest, langsung dari jam tangan.

    Google juga mengungkapkan bahwa kacamata pintar (smart glasses) seperti yang diperkenalkan pada acara I/O bulan lalu, kini dapat terhubung ke Wear OS 7. Pengguna bisa melihat pratinjau foto yang diambil dengan kacamata tersebut langsung di layar jam tangan.

    Bagi para pengembang aplikasi pihak ketiga (third-party), Google membuka akses untuk membuat Wear OS Widgets. Widget ini disebut lebih mudah dikembangkan dan lebih dinamis dibandingkan Tiles kustom yang diluncurkan pada 2019.

    Untuk perangkat yang tidak mendapatkan pembaruan Wear OS 7, Google menyatakan bahwa aplikasi tetap dapat mendukung Tiles. Widget juga akan ditampilkan sebagai tile layar penuh pada Wear OS 4, 5, dan 6.

    Fitur Keamanan: Emergency Sharing

    Fitur lain yang tak kalah penting adalah peningkatan pada Emergency Sharing. Kini, jika Pixel Watch mendeteksi pengguna terjatuh (fall), kehilangan denyut nadi (loss of pulse), atau mengalami kecelakaan mobil (car crash), perangkat secara otomatis dapat menghubungi kontak darurat yang telah dipilih selain menghubungi layanan darurat.

    Fitur ini menambah lapisan keamanan bagi pengguna yang aktif berolahraga atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dengan deteksi otomatis dan notifikasi ke kontak terpercaya, respons terhadap situasi darurat bisa lebih cepat.

    Pembaruan ini menegaskan komitmen Google untuk terus mengembangkan ekosistem Wear OS. Meskipun pasar smartwatch masih didominasi oleh Apple Watch, langkah Google dengan integrasi AI dan peningkatan baterai bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna Android.

    Bagi pengguna yang penasaran dengan perkembangan teknologi AI dari Google, ada baiknya juga menyimak berita tentang ChatGPT Tembus 1 Miliar Pengguna yang menunjukkan betapa besarnya adopsi AI saat ini. Sementara itu, langkah Google memesan 3 Juta Chip AI ke Intel juga menjadi indikasi keseriusan perusahaan dalam mengembangkan infrastruktur AI.

    Dengan semua fitur baru ini, Wear OS 7 menjadi pembaruan yang signifikan bagi ekosistem smartwatch Android. Pengguna Pixel Watch 2, 3, dan 4 kini bisa menikmati pengalaman yang lebih terintegrasi, cerdas, dan aman.

  • Android 17 Resmi: Bubble Baru, Mode Gaming Lipat, dan Wear OS 7

    Android 17 Resmi: Bubble Baru, Mode Gaming Lipat, dan Wear OS 7

    JBNews.id — Google resmi meluncurkan pembaruan Android 17 yang menghadirkan fitur multitasking baru, mode perekaman layar, serta peningkatan performa untuk ponsel lipat. Pembaruan ini juga mencakup Wear OS 7 dengan fitur Live Updates dan daya tahan baterai yang lebih baik, serta persiapan untuk konektivitas dengan kacamata pintar Android XR yang akan dirilis pada musim gugur tahun ini.

    Pembaruan Android 17 mulai digulirkan pertama kali ke perangkat Pixel, kemudian menyusul ke perangkat Android lainnya. Beberapa fitur seperti Gemini Intelligence dijadwalkan hadir pada akhir tahun ini. Langkah ini menandai komitmen Google dalam menghadirkan pengalaman komputasi yang lebih imersif dan produktif di berbagai form factor perangkat.

    Fitur Unggulan Android 17

    Salah satu fitur utama dalam Android 17 adalah jendela aplikasi “Bubble” terapung yang baru. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk membuka aplikasi dalam jendela kecil yang melayang di atas aplikasi lain, sehingga mempermudah multitasking. Pengguna dapat dengan cepat beralih antar aplikasi tanpa harus menutup aplikasi yang sedang aktif.

    Selain itu, Android 17 juga menghadirkan mode perekaman Screen Reaction. Mode ini memungkinkan pengguna merekam reaksi layar secara real-time, sebuah fitur yang berguna bagi para kreator konten dan gamer yang ingin membagikan pengalaman bermain mereka.

    Bagi pengguna ponsel lipat, Android 17 membawa mode gaming 50/50 split. Fitur ini membagi layar ponsel lipat menjadi dua bagian yang sama besar saat bermain game, memberikan pengalaman bermain yang lebih optimal. Ini adalah peningkatan signifikan bagi ekosistem perangkat lipat yang semakin populer.

    Wear OS 7: Live Updates dan Baterai Lebih Awet

    Bersamaan dengan Android 17, Google juga memperkenalkan Wear OS 7 untuk jam tangan pintar. Pembaruan ini membawa fitur Live Updates yang menampilkan informasi real-time seperti skor olahraga, pengingat, dan notifikasi langsung di layar jam. Fitur ini dirancang untuk memberikan informasi penting tanpa perlu membuka aplikasi secara penuh.

    Daya tahan baterai juga menjadi fokus utama dalam Wear OS 7. Google mengklaim telah melakukan optimalisasi yang signifikan untuk memperpanjang waktu pakai jam tangan pintar. Ini merupakan respons terhadap salah satu keluhan utama pengguna smartwatch saat ini.

    Persiapan untuk Android XR

    Pembaruan ini juga menjadi fondasi untuk konektivitas dengan kacamata pintar Android XR yang akan diluncurkan pada musim gugur mendatang. Wear OS 7 akan berfungsi sebagai jembatan antara jam tangan pintar dan kacamata XR, memungkinkan pengalaman komputasi spasial yang lebih terintegrasi. Langkah ini menunjukkan ambisi Google dalam merambah pasar kacamata AR yang mulai ramai.

    Ketersediaan dan Jadwal Rilis

    Pembaruan Android 17 saat ini mulai digulirkan ke perangkat Pixel terlebih dahulu. Pengguna perangkat Android dari merek lain harus menunggu jadwal rilis dari masing-masing produsen. Sementara itu, fitur Gemini Intelligence yang menggunakan kecerdasan buatan dijadwalkan hadir pada akhir tahun ini.

    Google belum memberikan tanggal pasti untuk peluncuran kacamata pintar Android XR, namun dikonfirmasi akan hadir pada musim gugur. Ini akan menjadi langkah besar Google dalam kompetisi perangkat wearable dan komputasi spasial, mengingat harga kacamata AR dari kompetitor yang sudah mencapai puluhan juta rupiah.

    Implikasi bagi Pengguna

    Pembaruan Android 17 dan Wear OS 7 menawarkan peningkatan fungsionalitas yang signifikan bagi pengguna setia ekosistem Google. Fitur Bubble baru dan mode gaming untuk ponsel lipat memberikan nilai tambah bagi produktivitas dan hiburan. Sementara itu, peningkatan daya tahan baterai di Wear OS 7 menjawab kebutuhan pengguna smartwatch yang menginginkan perangkat lebih tahan lama.

    Dengan persiapan untuk Android XR, Google menunjukkan bahwa masa depan komputasi akan semakin terintegrasi antar perangkat. Pengguna yang berinvestasi dalam ekosistem Google dapat mengharapkan pengalaman yang lebih mulus antara ponsel, jam tangan pintar, dan kacamata pintar di masa depan.

    Bagi para pengembang aplikasi, pembaruan ini membuka peluang baru untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan interaktif. Fitur Bubble dan Screen Reaction dapat dimanfaatkan untuk aplikasi produktivitas, game, dan media sosial. Sementara itu, konektivitas dengan Android XR akan membuka pintu bagi aplikasi komputasi spasial yang inovatif.

    Pembaruan ini juga relevan dengan perkembangan industri teknologi secara global. Di tengah gencarnya pengembangan kecerdasan buatan dan perangkat wearable, Google berusaha mempertahankan posisinya sebagai pemimpin inovasi. Langkah ini patut dicermati oleh para pelaku industri dan pengamat teknologi di Indonesia.