Category: Tekno

  • Microsoft Batasi Claude Fable 5 karena Aturan Data Baru

    Microsoft Batasi Claude Fable 5 karena Aturan Data Baru

    JBNews.id — Microsoft membatasi penggunaan model AI terbaru Anthropic, Claude Fable 5, di lingkungan internal perusahaan karena kekhawatiran terhadap persyaratan retensi data yang baru. Langkah ini diambil hanya beberapa hari setelah model tersebut dirilis secara luas kepada pelanggan GitHub Copilot dan Foundry.

    Menurut sumber internal yang mengetahui masalah ini, Claude Fable 5 tidak tersedia di pemilih model yang digunakan karyawan Microsoft untuk versi internal GitHub Copilot. Sementara itu, semua model Claude lainnya masih dapat diakses secara internal karena beroperasi di bawah aturan Zero Data Retention (ZDR).

    Perbedaan mendasar ini muncul karena Anthropic menerapkan kebijakan retensi data untuk mengoperasikan pengklasifikasi keamanan baru pada Claude Fable 5. Kebijakan tersebut mengharuskan Anthropic menyimpan prompt dan output pengguna selama 30 hari sebelum dihapus. Bahkan, beberapa prompt dan output dapat disimpan hingga dua tahun jika terindikasi melanggar kebijakan penggunaan Anthropic.

    Microsoft dikabarkan telah memberi tahu karyawannya bahwa tim hukum perusahaan sedang mengevaluasi perubahan persyaratan retensi data Anthropic. Kekhawatiran utama berpusat pada data pelanggan dan informasi rahasia yang mungkin terekspos melalui kebijakan baru ini. Hingga saat ini, belum jelas apakah tim hukum Microsoft akan menyetujui penggunaan Claude Fable 5 untuk keperluan internal.

    Keputusan ini menjadi ironis mengingat Microsoft justru dengan cepat merilis Claude Fable 5 kepada pelanggan eksternal melalui GitHub Copilot dan Foundry. Ketidakselarasan antara ketersediaan untuk pelanggan dan pembatasan untuk karyawan internal menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kebijakan perusahaan.

    Latar Belakang Model Mythos Class

    Claude Fable 5 merupakan model pertama dari keluarga Mythos class yang dirilis secara luas oleh Anthropic. Peluncuran ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Anthropic menyatakan bahwa keluarga model tersebut sangat mumpuni dalam tugas keamanan siber sehingga dianggap terlalu berbahaya untuk dirilis ke publik.

    Untuk mengatasi risiko tersebut, Anthropic telah menerapkan perlindungan prompt yang membuat Fable 5 lebih aman digunakan. Namun, langkah pengamanan ini justru memicu perubahan kebijakan retensi data yang menjadi sumber kekhawatiran Microsoft saat ini.

    Perubahan kebijakan ini juga menimbulkan dilema bagi Microsoft yang selama ini dikenal sebagai investor utama Anthropic. Hubungan kedua perusahaan yang kompleks—sebagai mitra sekaligus pesaing di bidang AI—kini diuji dengan kebijakan data yang kontroversial ini.

    Microsoft menolak memberikan komentar resmi ketika dimintai konfirmasi terkait pembatasan ini. Sementara itu, Anthropic belum memberikan pernyataan resmi mengenai kekhawatiran yang disampaikan Microsoft.

    Implikasi bagi Ekosistem AI Perusahaan

    Kebijakan retensi data Anthropic menimbulkan tantangan baru bagi perusahaan besar yang ingin mengadopsi model AI canggih. Persyaratan penyimpanan data hingga 30 hari, dan bahkan dua tahun untuk konten yang melanggar kebijakan, dapat bertentangan dengan kepatuhan regulasi perlindungan data di berbagai yurisdiksi.

    Bagi Microsoft, situasi ini semakin rumit mengingat perusahaan sedang membangun strategi AI mandiri pasca-pemisahan dari OpenAI. Langkah pembatasan Claude Fable 5 menunjukkan bahwa Microsoft semakin selektif dalam mengelola risiko data di tengah persaingan ketat pasar AI.

    Para pengamat industri menilai bahwa insiden ini dapat memicu evaluasi ulang kebijakan adopsi AI oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya. Jika Microsoft—sebagai salah satu pemimpin industri teknologi—merasa perlu membatasi penggunaan model tertentu, perusahaan lain kemungkinan akan mengikuti jejak serupa.

    Dari sisi teknis, kebijakan retensi data Anthropic dirancang untuk meningkatkan keamanan model melalui pengklasifikasi keamanan yang memerlukan akses ke data pengguna. Namun, pendekatan ini berbenturan dengan prinsip Zero Data Retention yang selama ini menjadi standar industri untuk melindungi kerahasiaan data pelanggan.

    Keputusan Microsoft untuk tetap menyediakan Claude Fable 5 kepada pelanggan eksternal sambil membatasi penggunaannya secara internal menunjukkan adanya perbedaan perlakuan yang mungkin didasarkan pada pertimbangan hukum dan risiko yang berbeda.

    Bagi pelanggan GitHub Copilot dan Foundry yang sudah menggunakan Claude Fable 5, situasi ini belum menimbulkan dampak langsung. Namun, jika Microsoft akhirnya memutuskan untuk menarik model tersebut dari layanan pelanggan, hal ini dapat mengganggu alur kerja pengembang yang sudah mengandalkan kemampuan Fable 5.

    Insiden ini juga menyoroti tantangan yang lebih luas dalam industri AI: bagaimana menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan data. Anthropic memilih pendekatan yang lebih ketat dengan mengorbankan privasi pengguna demi keamanan model, sementara Microsoft dan banyak perusahaan lain lebih memprioritaskan perlindungan data.

    Dengan belum adanya keputusan final dari tim hukum Microsoft, masa depan Claude Fable 5 di ekosistem Microsoft masih belum pasti. Perusahaan harus menemukan keseimbangan antara memanfaatkan inovasi AI terbaru dan mematuhi standar perlindungan data yang ketat.

    Para pengamat memperkirakan bahwa kasus ini akan menjadi preseden penting bagi industri AI secara keseluruhan. Jika Microsoft akhirnya menyetujui penggunaan Claude Fable 5 dengan modifikasi tertentu, hal ini dapat membuka jalan bagi model-model AI canggih lainnya untuk diadopsi dengan persyaratan data yang lebih ketat.

    Sebaliknya, jika Microsoft memutuskan untuk tidak menggunakan model tersebut secara internal, keputusan ini dapat menjadi sinyal bagi perusahaan lain untuk lebih berhati-hati dalam mengadopsi model AI yang memerlukan retensi data pengguna.

    Perkembangan ini terjadi di tengah persaingan ketat antara raksasa teknologi dalam mengembangkan dan mengadopsi model AI tercanggih. Keputusan Microsoft untuk membatasi Claude Fable 5 menunjukkan bahwa pertimbangan keamanan data kini menjadi faktor kritis yang dapat menghambat adopsi teknologi AI, bahkan oleh perusahaan yang paling agresif sekalipun dalam mengadopsi AI.

  • Google Ubah Pengaturan Privasi Search, Simpan Data Suara dan Gambar

    Google Ubah Pengaturan Privasi Search, Simpan Data Suara dan Gambar

    JBNews.id — Google mulai menerapkan perubahan kebijakan privasi pada layanan Search-nya dengan memperkenalkan pengaturan baru bernama “Search Services History”. Pengaturan ini secara spesifik menyimpan data interaksi pengguna berupa gambar, file, audio, dan video yang digunakan untuk mencari informasi, termasuk hasil pencarian dari Google Lens dan perintah suara.

    Dalam pemberitahuan yang dikirimkan kepada pengguna, Google menyatakan bahwa pengaturan baru ini akan memisahkan data pencarian berbasis media dari pengaturan “Web & App Activity” yang selama ini berlaku. Langkah ini merupakan bagian dari transparansi yang lebih besar terkait bagaimana data pengguna dikelola dan digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa tersebut.

    Perubahan ini mencerminkan tren industri teknologi yang semakin ketat dalam mengatur privasi pengguna. Seperti yang dibahas dalam artikel Keamanan Siber 2026, perusahaan-perusahaan besar seperti Meta, xAI, dan Google terus beradaptasi dengan regulasi privasi yang semakin kompleks.

    Rincian Pengaturan Search Services History

    Berdasarkan informasi yang diperbarui di situs resmi Google, “Search Services History” akan menyimpan berbagai jenis interaksi pengguna. Data yang dimaksud mencakup gambar yang dicari menggunakan Google Lens, rekaman suara dari alat pencarian real-time Search Live, pencarian suara (voice search), serta frasa yang diucapkan ke dalam Google Translate.

    Pengguna diberikan kendali penuh atas pengaturan ini. Google menyediakan opsi untuk mematikan pengaturan “Search Services History” sepenuhnya. Selain itu, pengguna juga dapat menonaktifkan opsi “Save Media” jika tidak ingin Google menyimpan interaksi berbasis media tersebut.

    Google menegaskan bahwa data yang dikumpulkan melalui Search Services History akan digunakan untuk “menyediakan, mengembangkan, dan meningkatkan layanannya,” termasuk model kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan. Data ini juga akan digunakan untuk memberikan saran yang dipersonalisasi dan iklan jika pengguna mengaktifkan pengaturan “Personalized Recommendations” yang baru.

    Implikasi bagi Pengguna AI dan Privasi

    Kebijakan ini memiliki implikasi langsung terhadap pengembangan AI Google. Dengan menyimpan data suara dan gambar, perusahaan dapat melatih model AI-nya dengan lebih baik. Hal ini sejalan dengan upaya Google memperkuat ekosistem AI-nya, termasuk peluncuran Gemini Go untuk HP Android Murah yang baru-baru ini dirilis.

    Namun, langkah ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pegiat privasi. Pasalnya, data suara dan gambar dianggap lebih sensitif dibandingkan data pencarian teks biasa. Rekaman suara dapat mengungkap identitas seseorang, sementara gambar dapat berisi informasi pribadi yang tidak ingin dibagikan.

    Kekhawatiran internal tentang pengembangan AI juga pernah mencuat di Google. Seperti dilaporkan dalam artikel Karyawan Google Kecam AI Internal, sebagian karyawan menilai pengembangan AI justru menambah beban kerja, bukan meringankannya.

    Pemisahan dari Web & App Activity

    Salah satu perubahan paling signifikan adalah pemisahan Search Services History dari pengaturan “Web & App Activity”. Sebelumnya, interaksi pencarian yang melibatkan media, seperti rekaman audio dan pencarian visual, disertakan dalam satu pengaturan yang sama dengan riwayat pencarian teks.

    Dengan pemisahan ini, pengguna kini memiliki kontrol yang lebih granular. Mereka dapat memilih untuk menyimpan riwayat pencarian teks tetapi tidak menyimpan data suara dan gambar, atau sebaliknya.

    Bagi pengguna yang sebelumnya telah memblokir Google untuk menyimpan riwayat pencarian melalui Web & App Activity, Google akan mempertahankan pengaturan Search Services History dalam keadaan mati setelah transisi dilakukan. Perusahaan juga akan membawa preferensi personalisasi pengguna saat pengaturan ini diluncurkan secara bertahap dalam “beberapa bulan ke depan.”

    Dampak bagi Pengguna dan Industri

    Perubahan ini memiliki dampak langsung bagi pengguna Google di Indonesia. Pertama, pengguna perlu memeriksa pengaturan akun Google mereka untuk memastikan apakah Search Services History aktif atau tidak. Kedua, pengguna yang peduli privasi disarankan untuk menonaktifkan opsi “Save Media” jika tidak ingin data suara dan gambar mereka disimpan.

    Dari sisi industri, langkah ini menunjukkan bahwa Google semakin serius dalam mengelola data pengguna secara terpisah. Hal ini bisa menjadi preseden bagi perusahaan teknologi lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.

    Sementara itu, Google terus memperluas jangkauan teknologinya ke berbagai sektor. Salah satu contohnya adalah keterlibatan Google dalam dunia olahraga melalui Google Gemini Sponsor Timnas Argentina, yang menunjukkan bagaimana AI dan data digunakan di luar ranah pencarian tradisional.

    Cara Mengelola Pengaturan Baru

    Pengguna yang ingin mengelola pengaturan Search Services History dapat melakukannya melalui halaman “Data & Privacy” di akun Google mereka. Langkah-langkahnya meliputi:

    • Mematikan pengaturan “Search Services History” sepenuhnya
    • Menonaktifkan opsi “Save Media” untuk mencegah penyimpanan data gambar dan suara
    • Memeriksa apakah pengaturan “Personalized Recommendations” aktif dan menonaktifkannya jika tidak diinginkan

    Google menyatakan bahwa pengaturan ini akan diluncurkan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan. Pengguna akan menerima notifikasi saat perubahan mulai berlaku di akun mereka.

    Implikasi Faktual bagi Pembaca

    Bagi pengguna biasa di Indonesia, perubahan ini berarti satu hal: data interaksi Anda dengan Google kini dikelola dengan lebih transparan, tetapi juga lebih terpisah-pisah. Jika sebelumnya Anda cukup mematikan satu pengaturan untuk membatasi pelacakan, kini Anda perlu memeriksa beberapa pengaturan berbeda.

    Bagi para profesional dan pelaku bisnis yang menggunakan Google Workspace atau layanan Google lainnya, perubahan ini penting untuk dipahami dalam konteks kepatuhan terhadap regulasi privasi data di Indonesia, seperti UU PDP.

    Dengan pemisahan pengaturan ini, Google memberikan kontrol lebih kepada pengguna, tetapi juga menuntut kesadaran yang lebih tinggi untuk mengelolanya secara efektif.

  • Lulusan Baru Boikot Pidato AI, Microsoft Angkat Bicara

    Lulusan Baru Boikot Pidato AI, Microsoft Angkat Bicara

    JBNews.id — Gelombang protes dari lulusan baru perguruan tinggi di Amerika Serikat terhadap pidato wisuda yang mempromosikan kecerdasan buatan (AI) mendapat tanggapan langsung dari Microsoft. Dalam sebuah blog post sepanjang lebih dari 3.100 kata, Wakil Ketua dan Presiden Microsoft Brad Smith menulis bahwa respons negatif tersebut merupakan “panggilan untuk membangunkan” para eksekutif teknologi.

    Fenomena ini mencuat setelah serangkaian video viral dari upacara kelulusan, seperti mantan CEO Google Eric Schmidt yang diejek di University of Arizona, atau seorang pembicara di Florida yang terkejut saat mahasiswa mencemooh penyebutan AI sebagai “revolusi industri berikutnya.” Video-video tersebut, menurut analisis, mencerminkan sentimen masyarakat yang lebih luas terhadap AI—teknologi yang kini sangat tidak populer meskipun perusahaan teknologi terus menyematkannya di mana-mana tanpa persetujuan.

    Brad Smith mengambil nada rekonsiliatif dalam blog post-nya. “Mahasiswa yang meringis atau bahkan mencemooh referensi tentang AI memberi tahu kami apa yang perlu kami dengar, bahwa sudah waktunya untuk meningkatkan standar,” tulis Smith. Ia menambahkan bahwa keluhan seperti itu sebenarnya sudah sering terdengar dari mahasiswa selama beberapa dekade. “Kuncinya adalah selalu menyalurkan ketidakpastian menjadi langkah-langkah yang bertujuan membangun masa depan yang lebih baik.”

    Krisis Kepercayaan Generasi Muda

    Data menunjukkan bahwa generasi muda menggunakan AI, namun merasa bersalah karenanya. Perlawanan terhadap pusat data raksasa juga telah menjadi isu politik yang menentukan. Ada perasaan bahwa klip-klip viral ini merupakan ekspresi katarsis dari betapa tidak pekanya para eksekutif dan teknokrat terhadap realitas yang dihadapi generasi penerus.

    Meskipun bernada rekonsiliatif, substansi blog post Microsoft sebenarnya tidak jauh berbeda dari alasan yang memicu cemoohan tersebut. Smith berargumen bahwa AI akan membentuk kembali budaya, tenaga kerja, dan hubungan dengan cara-cara yang bahkan mungkin belum kita pahami sepenuhnya. Ia juga menyebut bahwa para lulusan justru lebih siap menghadapi masa depan yang dipenuhi AI karena tumbuh dengan teknologi dan lebih lincah beradaptasi.

    “Kamu berada dalam posisi unik untuk memberikan dampak positif. Kamu telah melewati tantangan signifikan,” tulis Smith kepada para lulusan. “Meskipun mungkin terasa tidak adil bahwa pasar kerja begitu tidak pasti, kamu diciptakan untuk momen ini.”

    Kritik terhadap Inkonsistensi Industri

    Gagasan bahwa yang perlu dilakukan industri teknologi hanyalah “meningkatkan standar” kemungkinan akan disambut skeptis oleh konsumen. Pasalnya, orang-orang yang sama—termasuk mitra Microsoft seperti Sam Altman dari OpenAI—pernah memperingatkan efek katastrofik AI, hanya untuk menarik kembali pernyataan tersebut setelah menyadari dampak buruknya terhadap persepsi publik.

    Eksekutif Microsoft sendiri juga sedang berusaha mencari celah di tengah isu penggantian tenaga kerja oleh AI. Pertanyaan mendasarnya: mengapa publik harus percaya bahwa orang-orang yang menyebabkan ketidakpastian ini adalah pihak yang tepat untuk membersihkan kekacauan?

    Cara alternatif untuk memahami pesan Microsoft adalah bahwa surat terbuka itu sebenarnya tidak ditujukan kepada para lulusan yang marah, melainkan kepada para eksekutif C-suite yang melihat klip-klip ini dan mungkin menganggapnya sepele. Dalam sebuah unggahan di X, Smith mengatakan bahwa para lulusan yang mencemooh tersebut “mengingatkan kita bahwa AI harus melayani manusia, bukan menggantikan mereka.”

    Fakta bahwa para eksekutif Microsoft perlu diingatkan akan hal ini justru menjadi inti permasalahan. Sentimen negatif terhadap AI di kalangan generasi muda bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan indikator serius tentang kesenjangan antara visi industri teknologi dan realitas sosial yang mereka ciptakan. Microsoft, melalui pernyataan Smith, mencoba menjembatani kesenjangan tersebut, namun skeptisisme publik tetap tinggi.

    Implikasinya bagi pembaca jelas: perdebatan tentang peran AI dalam masyarakat masih jauh dari selesai. Generasi muda yang akan memasuki pasar kerja justru menjadi pihak yang paling vokal menolak narasi optimistis tanpa syarat tentang AI. Ini adalah sinyal bahwa adopsi teknologi tidak bisa lagi dilakukan secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan psikologisnya.

    Bagi para profesional dan pengamat industri, respons Microsoft ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar mulai menyadari perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dalam mengkomunikasikan transformasi digital. Namun, tanpa perubahan substantif dalam kebijakan dan praktik bisnis, kata-kata manis semata tidak akan cukup untuk memulihkan kepercayaan yang hilang.

  • Steam Hentikan Penjualan Kartu Fisik Akhir 2026

    Steam Hentikan Penjualan Kartu Fisik Akhir 2026

    JBNews.id — Valve resmi menghentikan penjualan kartu hadiah fisik Steam di toko ritel setelah lebih dari satu dekade beredar. Keputusan ini diambil karena maraknya aksi penipuan yang menargetkan pengguna layanan game tersebut.

    Dalam laman dukungan yang ditemukan oleh Windows Central, Valve menyatakan tidak akan lagi melakukan restok kartu hadiah fisik begitu stok yang tersisa habis. Perusahaan mengaitkan langkah ini dengan para penipu yang “terus berdampak pada pelanggan Steam dan individu lain yang tidak menaruh curiga.”

    Valve mulai menjual kartu hadiah fisik pada 2012 dan memperkirakan seluruh stok akan habis pada akhir 2026. Meski begitu, perusahaan menegaskan bahwa kartu yang sudah dibeli tetap dapat digunakan kapan pun.

    “Meskipun kami tidak lagi menjual kartu hadiah fisik, Anda tetap dapat menggunakan kartu hadiah yang sudah ada di Steam kapan pun Anda mau,” tulis Valve dalam pernyataan resminya.

    Modus Penipuan yang Terus Beradaptasi

    Dalam pengumumannya, Valve menautkan artikel Komisi Perdagangan Federal (FTC) yang menjelaskan bagaimana penipu meyakinkan korban untuk membeli kartu hadiah di toko dan memberikan kode yang tertera. Modus ini kerap digunakan dalam penipuan yang mengaku sebagai petugas pajak, dukungan teknis, atau anggota keluarga yang membutuhkan bantuan darurat.

    Valve mengaku telah merespons ancaman ini dengan bekerja sama dengan aparat penegak hukum, menambahkan peringatan pada kemasan kartu hadiah, dan membatasi ketersediaannya di toko fisik. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai belum cukup efektif.

    “Penipu telah beradaptasi,” kata Valve, menjelaskan alasan penghentian total penjualan kartu fisik.

    Dampak bagi Ekosistem Game

    Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam strategi distribusi Valve. Kartu hadiah fisik Steam selama ini menjadi pilihan populer bagi pengguna yang tidak memiliki akses ke kartu kredit atau dompet digital. Namun, risiko keamanan yang terus meningkat membuat Valve memilih untuk beralih sepenuhnya ke kartu hadiah digital.

    Langkah Valve ini sejalan dengan tren industri game yang semakin digital. Platform seperti Steam telah lama mendorong transaksi daring melalui dompet digital dan kartu hadiah elektronik. Penghentian kartu fisik juga mengurangi jejak karbon dari produksi dan distribusi plastik.

    Bagi pengguna, transisi ini berarti mereka harus beralih ke metode pembayaran digital. Kartu hadiah digital Steam dapat dibeli melalui situs resmi atau mitra ritel daring, dan kode dikirimkan langsung ke email pembeli.

    Valve tidak menyebutkan apakah akan memperkenalkan metode alternatif lain, seperti kemitraan dengan dompet digital lokal atau sistem pembayaran nontunai lainnya, untuk menggantikan fungsi kartu fisik.

    Implikasi bagi Konsumen

    Keputusan ini memiliki implikasi langsung bagi konsumen yang selama ini mengandalkan kartu fisik sebagai hadiah atau metode pembayaran. Setelah stok habis, satu-satunya cara untuk memberikan saldo Steam kepada orang lain adalah melalui kartu digital. Selain itu, pengguna tanpa akses perbankan daring mungkin akan kesulitan bertransaksi di platform tersebut.

    Valve menegaskan bahwa semua kartu fisik yang masih berlaku tetap dapat digunakan. Tidak ada batas waktu penggunaan saldo yang sudah ditambahkan ke akun. Perusahaan juga memastikan bahwa pengguna tidak akan kehilangan akses ke game atau konten yang sudah dibeli.

    Bagi pelaku industri, langkah ini menjadi pengingat bahwa keamanan siber harus menjadi prioritas utama dalam setiap inovasi produk. Teleskop Webb mungkin mendeteksi metana di antarbintang, namun di Bumi, ancaman penipuan digital terus berkembang dan menuntut respons cepat dari perusahaan teknologi.

    Dengan berakhirnya era kartu hadiah fisik Steam, Valve menutup satu babak dalam sejarah distribusi game digital. Keputusan ini, meskipun drastis, menunjukkan komitmen perusahaan untuk melindungi penggunanya dari kerugian finansial akibat penipuan yang semakin canggih.

    Pengguna diimbau untuk selalu waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan Steam atau layanan game lainnya. Jangan pernah memberikan kode kartu hadiah kepada pihak yang tidak dikenal, sekalipun mereka mengaku sebagai perwakilan resmi perusahaan.

  • Dilarang Pakai Deodoran di Pabrik Chip AI Intel

    Dilarang Pakai Deodoran di Pabrik Chip AI Intel

    JBNews.id — Pabrik pembuatan chip kecerdasan buatan (AI) milik Intel di Oregon, Amerika Serikat, menerapkan aturan yang sangat ketat bagi siapa pun yang masuk ke fasilitas tersebut. Larangan tersebut mencakup penggunaan deodoran, hairspray, hingga makeup karena partikel aerosol dari produk-produk ini dapat merusak chip yang sedang diproduksi. Kebijakan ekstrem ini diungkap langsung oleh jurnalis Business Insider, Olivia Nemec, yang mendapatkan kesempatan langka untuk melihat langsung ke dalam fasilitas fabrikasi Intel.

    Menurut laporan yang dikutip pada Senin (22/6/2026), lingkungan di dalam pabrik fabrikasi (fab) sangat sensitif. Peralatan yang digunakan untuk membuat chip AI begitu presisi sehingga kontaminan sekecil apa pun dapat menyebabkan kerusakan fatal pada chip yang bernilai jutaan dolar. “Saya merasa seperti raksasa yang bergerak melalui dunia yang dibangun untuk benda-benda yang jauh lebih kecil dan lebih rapuh dari saya,” tulis Nemec dalam laporannya.

    Aturan Ketat Sebelum Masuk Fasilitas

    Dalam kunjungannya ke pabrik Intel di Oregon, Nemec mendapati bahwa daftar barang yang tidak boleh digunakan atau dibawa sangatlah panjang. Beberapa di antaranya adalah makeup, hairspray, perangkat bluetooth, hingga velcro. Yang paling mengejutkan, deodoran juga termasuk dalam daftar larangan tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana bau di dalam fasilitas setelah shift panjang bekerja.

    Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Partikel aerosol dari produk-produk tersebut dapat berkisar dari beberapa nanometer hingga puluhan mikrometer. Sementara itu, chip AI modern dibuat dalam skala atom. Sebagai perbandingan, satu helai rambut manusia memiliki lebar sekitar satu juta atom. Semprotan deodoran atau hairspray yang cepat saja bisa menjadi bencana besar bagi produksi chip.

    Chris Auth, wakil presiden pengembangan manufaktur Intel, menjelaskan kepada Nemec bahwa menghancurkan satu wafer silikon—lempengan semikonduktor yang sangat datar yang menjadi fondasi microchip—dapat merugikan perusahaan hingga setengah juta dolar AS. “Setiap titik kecil dapat menyebabkan cacat, yang akan menghancurkan chip,” kata Auth saat Nemec dan timnya berada di ruang pembersihan alat.

    Prosedur Sterilisasi Ketat

    Prosedur masuk ke fasilitas Intel sangatlah ketat. Semua perlengkapan, termasuk peralatan kamera, harus disterilkan dengan tisu pembersih khusus. Setelah ruang pembersihan, pengunjung dan karyawan harus memasuki ruang gowning, di mana mereka harus mengenakan pakaian terusan putih (white overalls) yang dirancang untuk mencegah partikel kulit terlepas saat berada di dalam pabrik.

    Nemec juga mencatat bahwa kertas biasa pun dapat melepaskan partikel yang bisa merusak chip. Oleh karena itu, hampir semua pekerjaan di dalam fasilitas Intel dilakukan oleh robot dari berbagai jenis, mulai dari ban berjalan (conveyor belts) hingga lengan robotik (robotic arms). Manusia, di sisi lain, hampir dianggap sebagai spesies invasif di lingkungan super-bersih ini.

    Untuk menjaga kebersihan udara, lantai pabrik dilengkapi dengan filter udara yang mampu mengganti seluruh udara di dalam pabrik hanya dalam waktu satu menit. Sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa manusia—yang secara alami melepaskan partikel kulit dan rambut—tidak mengeluarkan terlalu banyak partikel kontaminan ke lingkungan produksi.

    Dampak Lonjakan Permintaan Chip AI

    Lonjakan permintaan chip semikonduktor Intel belakangan ini didorong oleh percepatan pembangunan pusat data AI (data center). Konsekuensi finansial dari kesalahan produksi menjadi sangat besar. Setiap chip yang rusak tidak hanya berarti kerugian material, tetapi juga keterlambatan dalam memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

    Dengan lingkungan produksi yang sangat terkontrol ini, Intel berusaha meminimalkan risiko cacat produksi. Robot-robot yang mendominasi lantai pabrik bekerja tanpa menghasilkan partikel kontaminan seperti yang dilakukan manusia. Hal ini menjadi kunci untuk memproduksi chip AI dalam jumlah besar dengan tingkat kegagalan yang sangat rendah.

    “Kita hidup di dunia yang berjalan di atas chip,” tutup Nemec dalam laporannya. “Namun, untuk membuatnya, kita harus menciptakan seluruh lingkungan yang dirancang untuk melindungi chip dari kita.”

    Laporan ini memberikan gambaran betapa rumit dan mahalnya proses produksi chip AI. Bagi konsumen dan pelaku industri, pemahaman ini menjelaskan mengapa harga chip AI masih sangat tinggi dan mengapa rantai pasokannya sangat rentan terhadap gangguan. Ke depannya, inovasi dalam proses produksi yang lebih toleran terhadap kontaminasi mungkin menjadi kunci untuk menekan biaya dan meningkatkan pasokan chip AI global.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan industri semikonduktor, baca juga Perkembangan Chip AI dan Industri Semikonduktor 2026.

  • Agibot Ekspansi ke Indonesia Bawa Robot Humanoid dan AI

    Agibot Ekspansi ke Indonesia Bawa Robot Humanoid dan AI

    JBNews.id — Perusahaan robotika global Agibot resmi memasuki pasar Indonesia dengan membawa teknologi robot humanoid dan kecerdasan buatan (AI). Ekspansi ini ditandai melalui penyelenggaraan Agibot Partner Conference Indonesia (APC Indonesia) di Jakarta, menggandeng PT Denka Pratama Indonesia sebagai mitra strategis.

    Langkah ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam membawa teknologi robotika ke tahap implementasi nyata. Agibot menargetkan untuk mendukung transformasi industri dan digital di Tanah Air melalui solusi berbasis embodied Artificial Intelligence (AI).

    Dukungan Penuh dari Pemerintah

    Kehadiran Agibot di Indonesia dinilai sangat tepat waktu dan sejalan dengan fokus pemerintah dalam mempercepat adopsi teknologi embodied AI di berbagai sektor. Acara tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah dan industri.

    Beberapa pejabat yang hadir antara lain Direktur Teknologi Digital Baru di Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Dandy Yudha Feryawan, S.Ak., M.A., Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Aju Widya Sari, S.T., M.T., serta Staf Khusus Wakil Presiden RI Achmad Adhitya.

    Para peserta dari lintas sektor tersebut secara aktif berdiskusi mengenai implementasi nyata AI, penggunaan robot humanoid, kolaborasi antar-industri, serta strategi lokalisasi teknologi di Indonesia.

    Solusi Inovatif: Konsep RaaS dan Sewa Robot

    Untuk mendobrak hambatan biaya dan kerumitan adopsi teknologi canggih di pasar domestik, Agibot memperkenalkan model bisnis Robot as a Service (RaaS). President of Middle East and Asia Pacific Region Agibot, Abel Deng, menegaskan bahwa langkah ini akan membawa embodied AI ke fase realisasi sesungguhnya.

    “Robot dirancang agar mampu bekerja layaknya manusia untuk menciptakan produktivitas nyata,” ujar Abel Deng dalam pernyataannya.

    Keyakinan serupa diungkapkan oleh Founder Denka, Ching. Dalam keterangan yang diterima detikINET, ia menyebut perpaduan keunggulan teknologi Agibot dengan jaringan luas serta kapabilitas operasional lokal milik Denka akan membuka peluang pasar baru yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

    Sinergi bisnis ini semakin solid dengan ditunjuknya PT Robotika Futuristik Indonesia sebagai mitra resmi untuk penyewaan humanoid dan robodog.

    “Kolaborasi strategis ini siap membawa industri teknologi Tanah Air memasuki babak baru melalui penyediaan solusi robotika mutakhir untuk kebutuhan komersial, eksibisi, aktivasi merek, atraksi inovatif, hingga edukasi interaktif bagi masyarakat luas,” jelas Direktur RFI, Vincent Ie.

    Pendekatan XYZ Curve untuk Transformasi Digital

    Sebagai peta jalan ke depan, Agibot turut memaparkan konsep XYZ Curve dalam konferensi tersebut. Konsep ini merupakan pendekatan sistematis untuk pengembangan industri embodied AI, yang berlandaskan pada tujuh skenario produktivitas utama untuk mengimplementasikan robot di berbagai sektor industri.

    Dukungan terhadap ekosistem ini juga datang dari berbagai mitra asosiasi dan komunitas teknologi lokal yang turut berpartisipasi, seperti AIFI (AI Forum Indonesia), ARKAI (Asosiasi Robotika & Kecerdasan Artificial Indonesia), AICO (AI Community), dan Sekreativ Ai.

    Ke depannya, Agibot bersama Denka berkomitmen untuk menghadirkan portofolio produk dan solusi khusus yang telah dioptimalkan sesuai dengan kebutuhan pasar lokal. Harapannya, inovasi ini dapat membantu perusahaan-perusahaan di Indonesia meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempercepat laju transformasi digital mereka.

    Ekspansi Agibot ke Indonesia menjadi salah satu gelombang terbaru adopsi teknologi robotika di kawasan Asia Tenggara. Sebelumnya, berbagai inovasi teknologi juga bermunculan dari China Resmikan Pusat Data hingga peluncuran satelit. Sementara itu, perkembangan robot humanoid juga semakin pesat dengan berbagai aplikasi di sektor ritel dan layanan.

    Dengan model bisnis RaaS, Agibot berupaya menurunkan hambatan masuk bagi perusahaan lokal yang ingin mengadopsi teknologi robotika. Langkah ini dinilai strategis mengingat pasar Indonesia yang masih dalam tahap awal pengembangan embodied AI.

    Para pelaku industri dan pengamat teknologi menilai bahwa kehadiran Agibot dapat mempercepat transformasi digital di Indonesia, terutama di sektor manufaktur, logistik, dan layanan publik.

  • FIFA Resmi Pakai Kamera Wasit untuk Siaran Langsung Piala Dunia 2026

    FIFA Resmi Pakai Kamera Wasit untuk Siaran Langsung Piala Dunia 2026

    JBNews.id — FIFA secara resmi mengintegrasikan kamera yang dipasang di kepala wasit ke dalam siaran langsung pertandingan Piala Dunia 2026, menghadirkan perspektif baru bagi penonton untuk merasakan langsung sudut pandang pengadil lapangan. Inovasi ini memungkinkan pemirsa menyaksikan aksi dari jarak hanya beberapa kaki, melalui kamera mungil yang ditempelkan di headset wasit, tepat di dekat pelipis mereka.

    Gambar ditransmisikan secara nirkabel ke ruang siaran, di mana video dihaluskan secara digital secara real-time dan dimasukkan ke dalam program televisi. Jika Anda pernah ingin tahu seperti apa pertandingan dari sudut pandang wasit—entah untuk mempelajari gerak kaki pemain favorit atau sekadar mengkritisi keputusan wasit—keinginan itu kini terwujud.

    Kamera wasit sebenarnya telah digunakan dalam siaran di beberapa olahraga besar selama beberapa tahun terakhir. MLB semakin sering menggunakan “ump view” untuk memberikan gambaran nyata tentang kecepatan dan pergerakan lemparan. NFL dan NHL juga telah mencoba penggunaan kamera wasit untuk mendekatkan penggemar ke pertandingan, NFL sejak tahun 2018. Namun, apa yang kita lihat selama ini biasanya tidak langsung. Penyiara hanya menampilkan cuplikan saat tayangan ulang atau acara pasca-pertandingan, jarang sekali sebagai bagian dari aksi langsung.

    Sepak Bola dan Potensi Kamera Wasit Langsung

    Sepak bola sangat cocok dengan ide kamera wasit langsung. Selama pertandingan yang disiarkan, kamera utama hampir selalu diatur dalam pengambilan gambar lebar, sehingga penonton menghabiskan sebagian besar pertandingan dari jarak jauh. Kamera wasit menawarkan perubahan suasana, membawa pemirsa langsung ke lapangan.

    Iterasi awal umpan video dari kamera tubuh wasit, baik di level pengembangan Inggris maupun dalam uji coba Bundesliga Jerman tahun 2024, dijalankan dengan penundaan. Sebagian besar digunakan untuk pelatihan dan pengembangan wasit. Namun pada Maret 2025, International Football Association Board (badan pengatur sepak bola dunia) menyetujui penggunaan rekaman kamera wasit untuk siaran langsung, yang pertama kali terjadi di Piala Dunia Antarklub 2025.

    Meskipun tampak seperti perbedaan kecil, tantangan teknologi yang dihadapi FIFA dan mitranya untuk menyediakan rekaman tersebut untuk siaran langsung sangat signifikan. Tantangan pertama: mengurangi latensi dalam aliran video. Dibutuhkan waktu—kurang dari satu detik, tetapi masih cukup untuk terlihat—untuk mentransmisikan rekaman berkualitas siaran yang bebas gangguan dari wasit di lapangan ke pusat siaran stadion.

    Tantangan Latensi dan Guncangan Gambar

    Kamera yang dikenakan wasit bukanlah kamera siaran biasa dengan koneksi Ethernet. Kamera harus mentransmisikan secara nirkabel melintasi stadion yang penuh dengan perangkat dan gangguan nirkabel. Johannes Holzmüller, direktur inovasi FIFA, mengatakan organisasinya menguji beberapa sistem data nirkabel di berbagai lokasi, termasuk tempat penyelenggaraan Piala Dunia seperti Hard Rock Stadium Miami. Mereka memilih solusi 5G khusus yang menurut penyedia layanan nirkabel Verizon menggunakan pita frekuensi tinggi untuk data.

    Menghilangkan “jitter,” atau efek goyangan konstan yang kadang menyebabkan mabuk perjalanan akibat kamera di pelipis wasit yang berlari, berhenti, dan berputar mengikuti bola, menjadi tantangan yang lebih besar. “Para penyiar memberi tahu kami bahwa mereka ingin menggunakan kamera wasit lebih sering, tetapi terutama saat wasit berlari atau berlari cepat, rekamannya sangat goyah,” kata Holzmüller.

    Itu tidak akan bisa diterima untuk siaran Piala Dunia yang sesungguhnya. Oleh karena itu, FIFA menugaskan mitra teknologi Lenovo untuk menciptakan perangkat lunak berbasis AI untuk mengurangi jitter ke tingkat yang lebih terkendali. Menentukan efek jitter ini dan seberapa banyak harus dimodifikasi menjadi tantangan awal. Tidak ada yang ingin menonton rekaman mentah dari kamera yang goyang ke mana-mana, tetapi pemirsa juga tidak akan menikmati umpan video yang jelas-jelas dimanipulasi dan tidak realistis di mana semuanya mulus seperti video game berkualitas rendah.

    “Kami menggabungkan puluhan variabel yang mengukur jitter dengan cara berbeda,” kata Art Hu, kepala informasi global Lenovo. Sistem ini mengenali masalah mana yang perlu dihaluskan dan menanganinya secara spesifik. Misalnya, pertimbangkan berbagai latar belakang yang mungkin muncul di kamera wasit. Wasit yang melihat permainan rendah ke tanah dan hanya beberapa kaki jauhnya mungkin menghasilkan rekaman yang sebagian besar rumput dan kaki pemain; jika wasit melihat lebih tinggi, kita akan melihat tekstur latar belakang lain seperti kerumunan, papan skor, dan bahkan langit.

    Program pembelajaran mesin Lenovo harus dapat mengenali apa yang ada dalam bidikan dan menerapkan teknik penghalusan yang tepat dengan cukup cepat untuk siaran langsung. Lenovo menggunakan server di tempat di setiap stadion yang menjalankan beberapa sub-algoritma, masing-masing disetel ke jenis latar belakangnya sendiri. Sub-algoritma ini dikompresi saat tidak digunakan untuk menghemat bandwidth. Jika mesin mengenali ada banyak rumput dalam bidikan, ia memanggil algoritma penghalusan latar belakang rumput dan mengaktifkannya hingga pandangan wasit beralih ke latar belakang berbeda.

    Hu membandingkannya secara konseptual dengan model LLM besar seperti Claude atau Gemini yang menggunakan model lebih kecil dan terkompresi yang dapat dipanggil kapan pun diperlukan dan disimpan saat tidak digunakan.

    Uji Coba dan Persiapan Piala Dunia 2026

    Versi langsung kamera wasit pertama kali digunakan di DZAN untuk Piala Dunia Antarklub 2025 yang diadakan di AS pada Juni dan Juli, kemudian untuk beberapa kompetisi kecil lainnya selama setahun terakhir. Lenovo terus mengasah perangkat lunak penghalus jitter; baik Lenovo maupun FIFA mengatakan mereka telah mampu mengurangi kegoyangan gambar dari kamera wasit sebesar 50 persen.

    “Kami merasa sangat nyaman menjelang Piala Dunia,” kata Holzmüller. Tim begitu yakin dengan kualitas pendekatan ini sehingga tampilan kamera wasit bahkan akan dimasukkan ke dalam sistem asisten wasit video (VAR) untuk Piala Dunia. Sistem ini menggunakan informasi yang dikumpulkan dengan sensor dan kamera di lapangan untuk membantu ofisial menentukan apakah pemain offside atau apakah bola keluar lapangan dan, jika ya, pemain mana yang terakhir menyentuhnya. Jika klip dari sudut pandang wasit sendiri dapat membantu membuat keputusan yang tepat, itu akan digunakan.

    Mempercayakan kamera tubuh dengan keputusan yang berpotensi mengubah jalannya pertandingan merupakan kepercayaan yang cukup besar bahwa teknologi penghalusan akan bekerja secara memadai setiap saat.

    Perspektif Wasit Profesional

    Drew Fisher, wasit sepak bola berpengalaman 20 tahun yang memimpin pertandingan di MLS dan liga internasional, telah menggunakan beberapa jenis perangkat keras kamera wasit. (MLS memiliki versinya sendiri melalui penyedia teknologi berbeda, yang digunakan selama siaran.) Fisher mengatakan edisi FIFA, yang dipasang di sisi earpiece headset radio yang sudah dikenakan ofisial selama bertahun-tahun, cukup ringan sehingga ia hampir tidak merasakannya setelah pertandingan dimulai.

    Wasit dapat memilih di mana mereka menempatkan paket baterai dan pemancar yang menyertainya; Fisher mengatakan ia dan sebagian besar rekannya mengikatnya di lengan atas, tetapi beberapa yang lain mengikatnya di punggung. Apa yang terjadi jika kamera wasit rusak? Fisher mengatakan itu hanya terjadi sekali selama penggunaan versi FIFA, ketika salah satu bagian pendukungnya rusak. Alih-alih membuang waktu pertandingan untuk memperbaikinya, Fisher mengatakan seorang teknisi hanya melepas kamera pada penghentian berikutnya dan membiarkannya mati selama sisa pertandingan.

    Hiburan adalah tujuan utama kamera wasit FIFA, tetapi Fisher mengatakan klip juga mulai muncul dalam rapat evaluasi pasca-pertandingan di mana kru ofisial meninjau kinerja mereka dengan atasan. Mereka dapat memberikan sudut unik bagi wasit untuk menilai apakah mereka berdiri di tempat yang tepat untuk permainan tertentu atau apakah garis pandang mereka optimal. Holzmüller berpikir praktik semacam ini akan menjadi lebih umum seiring teknik penghalusan meningkat dan rekaman lebih mudah ditonton dalam potongan panjang.

    Fisher berharap pengalaman dekat melihat rekaman kamera wasit selama siaran langsung akan memberi penggemar apresiasi baru terhadap realitas tugas ofisial. “Kecepatan permainan dari jarak dekat dan pada sudut-sudut itu, saya pikir itu menempatkan sebagian pekerjaan kami dalam cahaya yang berbeda,” kata Fisher.

    Harapan Fisher tampaknya terkabul: Holzmüller mengatakan elemen itu adalah bagian besar dari respons positif penggemar yang “luar biasa” terhadap versi kamera wasit Piala Dunia Antarklub yang digunakan pada tahun 2025, terutama di kalangan anak muda dan di media sosial. “Banyak orang memberi kami umpan balik bahwa mereka sekarang memahami pekerjaan wasit yang menantang,” kata Holzmüller. “Mereka memahami intensitasnya, bahwa wasit perlu membuat keputusan dalam hitungan milidetik.”

    Inovasi ini tidak hanya mengubah cara penonton menikmati pertandingan, tetapi juga memberikan dampak signifikan pada dunia teknologi siaran. Penggunaan AI untuk menghaluskan gambar secara real-time menjadi bukti bahwa kecerdasan buatan kini merambah ke setiap aspek kehidupan, termasuk olahraga. Sementara itu, keputusan investasi AI oleh perusahaan teknologi besar menunjukkan tren serupa di sektor korporasi.

    Bagi penggemar sepak bola, teknologi ini menjanjikan pengalaman menonton yang benar-benar baru. Namun, bagi industri secara keseluruhan, ini adalah langkah maju dalam bagaimana data visual dapat diproses dan disajikan secara instan. Para pengamat industri juga mencatat bahwa persaingan AI semakin ketat, dengan berbagai perusahaan berlomba menghadirkan solusi inovatif.

    Dengan segala persiapan matang, FIFA dan Lenovo optimistis teknologi kamera wasit langsung akan menjadi salah satu daya tarik utama Piala Dunia 2026. Bagi penonton di rumah, ini adalah kesempatan langka untuk melihat pertandingan dari sudut pandang yang sebelumnya hanya milik para pengadil lapangan.

  • Prada Rancang Pakaian Dalam Khusus Astronaut Misi Bulan NASA 2028

    Prada Rancang Pakaian Dalam Khusus Astronaut Misi Bulan NASA 2028

    JBNews.id — Rumah mode mewah asal Italia, Prada, secara resmi memperkenalkan pakaian dalam khusus yang dirancang untuk astronaut NASA pada misi bulan mendatang. Kolaborasi dengan perusahaan teknologi antariksa Axiom Space ini menandai langkah baru industri fesyen global ke sektor eksplorasi luar angkasa.

    Pakaian lapisan dalam (inner layer suit) tersebut dipamerkan langsung oleh perwakilan Prada dan Axiom Space di New York. Produk ini dikembangkan untuk mendukung kenyamanan dan keselamatan awak misi program Artemis yang ditargetkan berlangsung pada 2028. Inovasi ini menjadi bukti bagaimana teknologi fesyen kelas atas mulai diadopsi untuk kebutuhan misi antariksa yang sangat presisi.

    Salah satu fitur paling menonjol dari pakaian dalam ini adalah sistem tabung ventilasi terintegrasi. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu pengaturan suhu tubuh astronaut selama melakukan aktivitas di luar angkasa. Dalam lingkungan yang ekstrem, kemampuan mengontrol suhu tubuh menjadi faktor krusial untuk menjaga performa dan keselamatan awak.

    Desain pakaian ini tidak hanya mengutamakan fungsi teknis, tetapi juga mempertimbangkan aspek ergonomis. Prada, yang dikenal dengan keahlian dalam pemilihan material dan detail jahitan, berkontribusi pada kenyamanan pemakaian dalam jangka waktu lama. Hal ini penting mengingat astronaut akan mengenakan pakaian tersebut selama berjam-jam dalam misi di permukaan bulan.

    Kolaborasi ini memperkuat tren keterlibatan perusahaan fesyen mewah dalam pengembangan teknologi antariksa. Sebelumnya, Prada telah bekerja sama dengan Axiom Space untuk merancang pakaian luar angkasa (spacesuit) untuk misi Artemis III. Kini, kerja sama diperluas hingga ke lapisan pakaian yang langsung bersentuhan dengan kulit astronaut.

    Program Artemis merupakan inisiatif NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan setelah lebih dari lima dekade sejak misi Apollo terakhir. Misi ini tidak hanya bertujuan untuk eksplorasi ilmiah, tetapi juga menjadi batu loncatan untuk misi berawak ke Mars di masa depan. Dengan target peluncuran pada 2028, setiap komponen perlengkapan astronaut harus melalui pengujian ketat.

    Pakaian dalam yang dikembangkan Prada dan Axiom Space ini merupakan salah satu dari sekian banyak inovasi yang diperlukan untuk mendukung kehidupan manusia di luar Bumi. Material yang digunakan harus mampu menahan radiasi, mengelola kelembaban, dan tetap nyaman dalam tekanan rendah. Keahlian Prada dalam Fitur Terbaru material tekstil menjadi nilai tambah yang signifikan.

    Peluncuran produk ini disambut antusias oleh kalangan industri fesyen dan teknologi. Para pengamat menilai kolaborasi semacam ini membuka peluang baru bagi merek-merek mewah untuk berkontribusi dalam proyek-proyek berteknologi tinggi. Di sisi lain, NASA dan Axiom Space mendapatkan akses pada inovasi material yang mungkin tidak tersedia di sektor kedirgantaraan tradisional.

    Pakaian lapisan dalam tersebut juga dilengkapi dengan sensor untuk memantau kondisi fisiologis astronaut secara real-time. Data yang dikumpulkan akan dikirimkan ke pusat kendali misi untuk memastikan kesehatan awak tetap optimal selama berada di luar angkasa. Integrasi teknologi wearable ini menjadi standar baru dalam perlengkapan antariksa modern.

    Langkah Prada ini mengikuti jejak beberapa perusahaan fesyen lain yang mulai merambah sektor antariksa, seperti SpaceX yang berkolaborasi dengan desainer tertentu untuk seragam awak. Namun, keterlibatan Prada dalam pengembangan pakaian teknis untuk misi bulan merupakan yang pertama dari rumah mode sekelasnya.

    Bagi publik, kehadiran nama besar seperti Prada dalam misi NASA mungkin terdengar tidak biasa. Namun, para ahli menjelaskan bahwa kebutuhan akan kenyamanan dan performa tinggi di luar angkasa justru membutuhkan keahlian lintas disiplin. Kombinasi antara teknologi kedirgantaraan dan inovasi fesyen mewah menghasilkan produk yang tidak hanya fungsional tetapi juga estetis.

    Proses pengembangan pakaian ini memakan waktu lebih dari dua tahun, melibatkan tim insinyur Axiom Space dan desainer teknis Prada. Uji coba dilakukan di fasilitas simulasi luar angkasa untuk memastikan pakaian dapat bertahan dalam kondisi vakum dan suhu ekstrem. Hasilnya, pakaian ini dinyatakan siap untuk digunakan dalam misi Artemis.

    Pameran publik di New York ini menjadi kesempatan bagi media dan publik untuk melihat langsung teknologi yang akan digunakan astronaut. Detail tabung ventilasi dan sistem pendingin terlihat jelas dalam tampilan produk. Desainnya yang ramping dan modern mencerminkan pendekatan baru dalam desain perlengkapan antariksa yang tidak lagi kaku dan besar.

    Ke depannya, kolaborasi antara Prada dan Axiom Space diperkirakan akan terus berlanjut untuk misi-misi berikutnya. Program Artemis yang ambisius membutuhkan inovasi berkelanjutan di berbagai aspek, termasuk perlengkapan awak. Keterlibatan sektor swasta, khususnya dari industri yang tidak terkait langsung dengan antariksa, menjadi kunci percepatan pengembangan teknologi.

    Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor. Inovasi terobosan seringkali lahir dari pertemuan antara dua bidang yang berbeda. Industri fesyen nasional pun dapat mulai melirik peluang serupa, baik untuk kebutuhan antariksa maupun sektor teknologi tinggi lainnya.

    Misi Artemis 2028 akan menjadi tonggak sejarah baru dalam eksplorasi manusia ke Bulan. Dengan dukungan teknologi dari berbagai pihak, termasuk Prada, para astronaut diharapkan dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih nyaman dan aman. Dunia akan menyaksikan bagaimana fesyen mewah berkontribusi pada pencapaian ilmiah terbesar umat manusia.

    Informasi lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis pakaian ini belum sepenuhnya dirilis ke publik. Namun, pihak Axiom Space menjanjikan akan membagikan detail lebih lengkap menjelang peluncuran misi. Publik dapat mengikuti perkembangan terkait melalui kanal resmi NASA dan Axiom Space.

    Artikel ini merupakan bagian dari liputan JBNews.id mengenai inovasi teknologi terkini. Untuk informasi lain seputar perkembangan teknologi, pembaca dapat menyimak artikel tentang Bocoran Samsung atau Anang-Ashanty Bikin challenge di platform digital.

    Dengan semakin dekatnya target misi 2028, seluruh komponen perlengkapan astronaut terus disempurnakan. Pakaian dalam rancangan Prada ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak ada lagi batasan antara industri fesyen dan teknologi antariksa. Masa depan eksplorasi luar angkasa akan semakin kolaboratif dan inklusif.

  • Pengawasan Massal Piala Dunia 2026 Ancam Privasi

    Pengawasan Massal Piala Dunia 2026 Ancam Privasi

    JBNews.id — Kekhawatiran mengenai pengawasan massal dan ancaman privasi membayangi gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, seiring dengan rencana penggunaan teknologi pengintai canggih tanpa pengamanan yang memadai.

    Para pakar memperingatkan bahwa meningkatnya isu terorisme yang dikaitkan dengan perang di Iran dapat dimanfaatkan pemerintahan Trump untuk membenarkan penerapan teknologi pengawasan invasif. Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa US Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang memiliki beragam teknologi pengawasan canggih—mulai dari pengenalan wajah hingga spyware—dapat melakukan penegakan imigrasi secara agresif selama turnamen berlangsung.

    Human Rights Watch mendesak FIFA untuk mencari “gencatan senjata ICE” selama acara berlangsung, meskipun peran akhir ICE masih belum pasti. “Keamanan sering digunakan sebagai alasan untuk agenda yang tidak ada hubungannya dengan keamanan sama sekali—dan di pemerintahan Trump, itu sering berarti menggunakan sistem pengawasan untuk membantu deportasi yang kasar dan melanggar hukum,” ujar Jay Stanley, analis kebijakan senior di American Civil Liberties Union (ACLU), kepada WIRED.

    ACLU memimpin koalisi lebih dari 120 kelompok yang mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negara asing yang menghadiri Piala Dunia di Amerika Serikat, memperingatkan adanya “peningkatan pengawasan.” Daftar teknologi pengawasan yang akan digunakan sangat luas, dengan sistem drone dan kontra-drone diperkirakan memainkan peran utama.

    Fortem Technologies mengumumkan kesepakatan “multijuta dolar” dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) untuk menyediakan teknologi kontra-drone kinetiknya di venue-venue AS. Sentrycs juga telah mengamankan beberapa kontrak dengan lembaga federal, negara bagian, dan lokal untuk mendeteksi serta menetralisir drone. Teknologi kontra-drone Axon juga akan digunakan di beberapa tempat.

    Pada Januari, DHS mengumumkan pembentukan kantor baru yang didedikasikan untuk “pengadaan dan penerapan teknologi drone dan kontra-drone secara cepat,” serta investasi sebesar $115 juta untuk mengamankan turnamen dan perayaan semikuincentennial negara tersebut. Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) juga memberikan hibah $250 juta ke Distrik Columbia dan 11 negara bagian melalui Program Hibah Counter Unmanned Aircraft Systems (C-UAS).

    “Banyak jenis teknologi C-UAS berfokus pada mengganggu atau mencegat sinyal radio dari perangkat kontrol seperti ponsel,” kata Jake Laperruque, wakil direktur di Center for Democracy and Technology (CDT). Ia menambahkan bahwa “penting untuk memiliki transparansi tentang apa yang terjadi jika ada intersepsi data ponsel, dan bagaimana pemerintah akan memperlakukan data tersebut jika terkumpul.”

    Menanggapi permintaan komentar dari WIRED, juru bicara DHS menyatakan bahwa “sumber daya federal akan dikerahkan bersama 11 kota tuan rumah untuk memastikan keamanan setiap pertandingan.” Juru bicara tersebut menambahkan bahwa badan tersebut “bekerja sepanjang waktu dengan mitra federal, negara bagian, lokal, dan internasional untuk memastikan lingkungan yang aman bagi pemain, penggemar, dan komunitas.”

    Pengawasan berbasis AI juga diperkirakan memainkan peran sentral. Boston Stadium akan menggunakan pengenalan wajah bertenaga AI, memungkinkan penggemar terdaftar masuk stadion dan melakukan pembelian dengan wajah mereka. Venue lain yang menerapkan teknologi serupa termasuk Miami Stadium dan Atlanta Stadium. Dua robot anjing berkamera bertenaga AI akan ditempatkan di International Broadcast Center di Dallas, sementara dua lainnya akan bertugas di New York New Jersey Stadium. Kansas City juga mengumumkan tahun lalu akan menguji coba pengenalan wajah di bus lokal.

    “Ekspansi teknologi pengenalan wajah menjelang Piala Dunia 2026 mencerminkan tren global penggunaan acara olahraga besar untuk menormalisasi pengawasan biometrik dalam kehidupan sehari-hari,” kata Clara Lilley, pejabat senior kampanye digital di Privacy International. Selama Piala Dunia 2022, lebih dari 15.000 kamera memantau penggemar di delapan stadion dan jalan-jalan Doha.

    Transparansi seputar pengawasan AI sangat bervariasi. Banyak venue tidak mengungkapkan secara jelas apakah pengenalan wajah digunakan, apakah sistem dijalankan oleh polisi atau kontraktor swasta, atau apakah data biometrik disimpan setelah acara. “Jika pengenalan wajah digunakan untuk pemindaian kerumunan yang luas, itu menimbulkan kekhawatiran yang lebih serius, mengingat seringnya sistem pengenalan wajah membuat kesalahan,” kata Laperruque.

    Teknologi lain yang akan digunakan termasuk platform komando dan intelijen real-time. Lenovo akan menggunakan Intelligent Command Center dengan digital twins untuk memantau pergerakan kerumunan. Booz Allen Hamilton akan meluncurkan platform Sit(x) di venue tertentu, menggabungkan data drone dengan pelacakan petugas, kendaraan, dan drone. Laperruque menekankan pentingnya mengetahui alat apa yang akan digunakan dan data apa yang akan dikumpulkan: “Apakah akan ada IMSI-catchers, pembaca plat nomor otomatis, pengenalan wajah, atau sistem identifikasi biometrik lainnya?”

    Di dua negara tuan rumah lainnya, juga ada kekhawatiran serupa. Toronto meluncurkan pusat komando polisi senilai CAD 12,5 juta ($9 juta) dan memperluas penggunaan kamera tubuh, sementara Vancouver memasang 200 kamera pengawas. Langkah ini mendorong pengawas privasi Ontario dan British Columbia untuk mendesak kepatuhan terhadap hukum. Di Nuevo León, Meksiko, otoritas telah mengerahkan robot anjing keamanan di sekitar Monterrey Stadium.

    Piala Dunia 2026 hadir setelah turnamen yang sangat termiliterisasi di Qatar yang menghasilkan bisnis besar bagi kontraktor pertahanan. Sangat sedikit yang diungkapkan tentang kontrak keamanan untuk turnamen 2026. Namun, sebagian besar anggaran keamanan mungkin diberikan kepada kontraktor besar seperti Anduril, Palantir, Lockheed Martin, dan L3Harris. “Perusahaan pertahanan menggunakan acara olahraga besar sebagai panggung global untuk menormalisasi alat pengawasan yang sering diuji di medan perang—seperti teknologi pengenalan wajah—untuk kehidupan sipil,” kata Ilia Siatitsa dari Privacy International.

    Analis memperingatkan bahwa ancaman abadi terletak pada keabadian dari langkah-langkah keamanan yang seharusnya bersifat sementara. Teknologi pengawasan yang digunakan untuk Piala Dunia dapat bertahan lama setelah pertandingan terakhir, menghilangkan batas antara infrastruktur pertahanan dan kepolisian publik biasa. “Kekhawatiran utama kami adalah potensi teknologi ini untuk membekukan kebebasan sipil dan fakta bahwa infrastruktur pengawasan adalah infrastruktur,” kata Matthew Guariglia dari Electronic Frontier Foundation. “Itu akan bertahan lebih lama dari Piala Dunia saat ini dan meninggalkan kota-kota dengan pengawasan yang jauh lebih banyak untuk digunakan sehari-hari.”

    Clara Lilley dari Privacy International setuju. Langkah-langkah pengawasan yang diperkenalkan selama momen luar biasa seperti acara olahraga besar sering memiliki kekuatan abadi. “Sistem ini jarang terbatas pada tujuan awal mereka dan dapat digunakan oleh pemerintahan saat ini atau lainnya untuk menekan kebebasan sipil dan hak asasi manusia di masa depan.”

    Seiring dengan persiapan yang semakin matang, pertanyaan mendasar tentang keseimbangan antara keamanan dan privasi menjadi semakin krusial. Penggunaan teknologi AI dalam skala besar ini menjadi sorotan utama bagi para pegiat hak digital.

    Penerapan robot anjing berkamera di Dallas dan New York juga menunjukkan bagaimana robot canggih semakin lazim digunakan dalam operasi keamanan publik. Sementara itu, inovasi seperti bola pintar juga turut mewarnai persiapan teknis turnamen, menandai era baru dalam penyelenggaraan olahraga global.

  • 53 Kamera ALPR Pantau Stadion Piala Dunia 2026

    53 Kamera ALPR Pantau Stadion Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Sebanyak 53 kamera Automatic License Plate Recognition (ALPR) terpasang di sekitar SoFi Stadium, Inglewood, California, yang akan menjadi salah satu venue Piala Dunia 2026. Temuan ini diungkap oleh proyek pemetaan sukarela DeFlock, yang mencatat 39 kamera buatan Flock Safety dan 14 kamera buatan Motorola Solutions di lokasi tersebut.

    Keberadaan kamera ALPR ini menjadi perhatian serius bagi aktivis anti-pengawasan. Mereka menilai kota tersebut memanfaatkan momentum Piala Dunia dan Olimpiade 2028 untuk mendapatkan pendanaan tambahan dan memperluas upaya pengawasan, termasuk dengan memasang lebih banyak ALPR. SoFi Stadium sendiri akan menjadi tuan rumah delapan pertandingan Piala Dunia.

    ALPR adalah perangkat yang dipasang di pinggir jalan oleh pemerintah kota, bisnis, sekolah, dan kelompok swasta seperti asosiasi pemilik rumah untuk mencatat plat nomor setiap kendaraan yang melintas. Laporan survei pasar untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyebutkan bahwa beberapa penyedia juga dapat mengumpulkan informasi lain seperti merek, model, tahun kendaraan, dan deskripsi stiker bemper yang menempel.

    Jaringan Pengawasan Nasional

    Kelompok yang mengoperasikan jaringan kamera ini dapat menelusuri log tersebut untuk menemukan kecocokan plat nomor tertentu, sehingga menciptakan data perjalanan kendaraan secara lengkap. Flock Safety, khususnya, memungkinkan operator untuk berbagi data dengan kelompok lain di jaringan mereka. Hal ini berarti, tergantung pada operatornya, pengemudi bisa secara tidak sengaja terperangkap dalam jaringan pengawasan nasional.

    Juru bicara Flock Safety, Paris Lewbel, mengakui bahwa perusahaannya bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan “pelanggan lain” di area sekitar venue Piala Dunia. Lewbel menekankan bahwa pelanggan Flock, bukan Flock sendiri, yang “memiliki dan mengontrol data mereka, serta memutuskan apakah, kapan, dan dengan siapa data itu dibagikan.”

    Sementara itu, Andrew Elvish, VP Pemasaran Global untuk Genetec, yang menjual perangkat lunak ALPR, mengatakan perusahaan asal Kanada itu fokus membantu organisasi mengelola parkir dan tidak tertarik memberikan akses berlebihan ke data plat nomor agregat. Menurutnya, praktik semacam itu adalah hal yang perlu dikhawatirkan masyarakat.

    Penyalahgunaan dan Kekhawatiran Hukum

    ALPR adalah alat pengawasan yang kuat dan rawan disalahgunakan. Polisi dituduh menggunakannya untuk menguntit mantan pasangan dan orang asing. Pada 2025, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) terbukti melanggar hukum negara bagian dengan mengakses data Flock tentang pengemudi di Illinois. Sekretaris Negara Bagian Illinois menyebutnya sebagai “pelanggaran hukum negara bagian yang jelas.”

    Bahkan, karyawan Flock dilaporkan pernah mengakses kamera di ruang senam anak-anak dan lokasi lain sebagai bagian dari presentasi penjualan, menurut laporan 404 Media. Dalam sebuah posting blog, Flock Safety mengatakan bahwa karyawan tersebut tidak “mengintai anak-anak” dan merupakan “karyawan yang berniat baik yang mengakses jaringan kamera dengan izin eksplisit kota sebagai bagian dari pekerjaan mereka.”

    Lewbel, juru bicara Flock, mengatakan bahwa perusahaan “mengetahui sejumlah kecil insiden penyalahgunaan” dan menambahkan bahwa Flock Safety tidak memiliki hubungan dengan DHS, termasuk CBP. Ia juga menyatakan bahwa lembaga di luar Illinois harus menyatakan kepatuhan terhadap hukum Illinois sebelum dapat mengakses data Illinois.

    Tracey Ades, direktur senior pemasaran untuk Genetec, mengatakan perusahaannya berusaha semaksimal mungkin membuat alat mereka seaman mungkin. Namun, pada akhirnya, pelangganlah yang menggunakan alat tersebut. “Jadi, perlukah undang-undang untuk membatasi apa yang bisa dilakukan orang?” kata Ades. “Itu perlu dipikirkan matang-matang.”

    Perlawanan Komunitas

    Di seluruh AS, komunitas mulai melawan penyebaran ALPR dan memperjuangkan transparansi yang lebih besar. Aktivis telah membongkar log audit yang mengungkap plat nomor siapa yang dicari dan alasannya, lalu merangkainya menjadi database yang dapat dicari. Puluhan kota telah memutus kontrak, dan kelompok-kelompok merencanakan aksi nasional menentang ALPR pada Agustus mendatang.

    WIRED mengandalkan data yang dikompilasi oleh proyek pemetaan sukarela, DeFlock, untuk mengidentifikasi lokasi ALPR di dekat stadion Piala Dunia AS. Karena data bersifat crowdsourced, mungkin tidak menggambarkan gambaran lengkap semua ALPR di suatu area.

    Konsentrasi ALPR Tertinggi di Houston

    Dari semua stadion Piala Dunia di AS, WIRED mencatat jumlah ALPR terbanyak—323 kamera Flock—di sekitar NRG Stadium di Houston, Texas, yang akan menjadi tuan rumah tujuh pertandingan. Harris County, tempat stadion berada, baru saja memperbarui kontrak dengan Flock Safety senilai hampir $869.000. Juru bicara Kantor Sheriff Harris County, Jason Spencer, mengatakan kantornya memiliki akses ke 480 kamera pabrikan di seluruh county, tetapi kamera-kamera itu berada di luar batas kota Houston.

    Atlanta, yang juga merupakan markas Flock Safety, memiliki sejumlah besar ALPR di sekitar Mercedes-Benz Stadium, tempat delapan pertandingan akan dimainkan. WIRED menghitung 188 kamera Flock, 39 kamera Genetec, dan 13 kamera buatan Motorola Solutions. Motorola Solutions juga berada di balik aplikasi ALPR Mobile Companion, yang menurut pengunjuk rasa di Maine digunakan oleh agen DHS untuk mengawasi orang. Motorola Solutions tidak menanggapi permintaan komentar.

    Di area Atlanta Raya, lembaga penegak hukum telah melakukan pembelian teknologi lain sebagai persiapan Piala Dunia. Sekitar 30 menit di utara stadion, Departemen Kepolisian Cobb County baru saja mendapat persetujuan untuk kontrak senilai $9,6 juta dengan raksasa teknologi kepolisian Axon Enterprise untuk teknologi anti-drone, yang disebut sebagai persiapan untuk Piala Dunia dan perayaan America 250.

    Navigasi Alternatif dan Implikasi

    Di dekat MetLife Stadium di New Jersey, tempat delapan pertandingan termasuk final akan berlangsung, WIRED mengidentifikasi 28 ALPR buatan Motorola Solutions dan 13 kamera Flock. Sebagian besar kamera Flock terletak di sepanjang New Jersey Route 3, salah satu jalur utama menuju stadion dari New York City dan Long Island.

    Setiap kota tuan rumah Piala Dunia di AS memiliki sejumlah ALPR di sekitar stadion mereka. Meskipun kota-kota di Kanada dan Meksiko juga menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia, upaya crowdsourcing DeFlock tidak meluas ke negara-negara tersebut, sehingga tidak jelas seberapa lazim ALPR di sana.

    Bagi mereka yang lebih suka menonton Piala Dunia daripada diawasi dalam perjalanan ke stadion, ada beberapa opsi. Salah satu kontributor infrastruktur DeFlock membangun aplikasi navigasi bernama FlockHopper, yang memungkinkan pengguna memilih antara rute tercepat dan rute dengan jumlah ALPR paling sedikit. Aplikasi ini saat ini hanya tersedia untuk iOS, namun pembuatnya berharap segera meluncurkan versi Android. Tentu saja, jika ingin menghindari pengawasan ALPR sepenuhnya, selalu ada opsi untuk menonton turnamen dari kenyamanan sofa tanpa kamera.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang teknologi terkini, Anda dapat membaca artikel tentang Fitur Terbaru dari smartphone. Sementara itu, perkembangan AI juga menarik untuk disimak, seperti dalam Wawancara Eksklusif dengan Scott Hanselman.