Author: Hamzah Nurhamzah

  • Belkin Rilis Charging Grip dan Aksesori Pelindung untuk Nintendo Switch 2

    Belkin Rilis Charging Grip dan Aksesori Pelindung untuk Nintendo Switch 2

    JBNews.id — Belkin memperkenalkan jajaran aksesori terbaru untuk Nintendo Switch 2 yang dirancang untuk melindungi dan mengisi daya konsol genggam terbaru Nintendo tersebut. Produk unggulannya, Charging Grip dan Charging Case Pro, menawarkan solusi multitasking bagi pengguna yang ingin memperpanjang waktu bermain sambil meningkatkan ergonomi perangkat.

    Charging Grip dari Belkin kini tersedia melalui toko online resmi perusahaan dalam pilihan warna hitam, lilac, dan olive green dengan harga US$99,99. Aksesori ini dilengkapi baterai 10.000mAh yang dapat menambah waktu bermain hingga tiga atau empat jam tambahan. Baterai tersebut juga memberikan daya 30W melalui port USB-C di bagian atas konsol, karena Nintendo Switch 2 tidak mendukung pengisian daya nirkabel.

    Baterai magnetik 10.000mAh menempel di bagian belakang Switch 2, namun karena konsol ini tidak mendukung aksesori magnetik secara native, pengguna perlu menggunakan casing pelindung yang disertakan untuk memasangnya. Sebuah layar kecil pada baterai menunjukkan sisa daya yang tersisa, memberikan informasi penting bagi pengguna yang sedang bermain dalam perjalanan.

    Belkin menyatakan bahwa casing pelindung tersebut tidak menghalangi penggunaan kickstand Switch 2. Konsol juga masih dapat dimasukkan ke dalam TV dock dengan casing terpasang, selama baterai dilepas terlebih dahulu. Grip Joy-Con juga dapat digunakan dengan kontroler yang terlepas dari Switch 2 atau saat masih terpasang di konsol.

    Fitur Unggulan Charging Grip Belkin

    Charging Grip dirancang untuk meningkatkan ergonomi Switch 2 dengan bantalan nonslip yang lebih besar untuk kontroler Joy-Con. Ini menjadi solusi bagi pengguna yang merasa konsol standar kurang nyaman digenggam dalam sesi bermain yang panjang. Dengan tambahan baterai 10.000mAh, pengguna dapat menikmati waktu bermain lebih lama tanpa perlu mencari colokan listrik.

    Kombinasi antara daya tahan baterai dan kenyamanan genggaman menjadikan aksesori ini relevan bagi gamer yang sering bepergian. Belkin menawarkan tiga pilihan warna yang memberikan fleksibilitas estetika bagi pengguna yang ingin menyesuaikan tampilan konsol mereka.

    Charging Case Pro: Perlindungan dan Daya Sekaligus

    Selain Charging Grip, Belkin juga merilis Charging Case Pro yang dirancang untuk melindungi dan mengisi daya Switch 2 secara bersamaan. Aksesori ini memberikan perlindungan fisik terhadap benturan dan goresan, sekaligus menyediakan daya tambahan melalui baterai internal. Meskipun detail spesifik tentang kapasitas baterai dan harga belum diumumkan, produk ini menargetkan pengguna yang menginginkan solusi all-in-one.

    Langkah Belkin merilis aksesori untuk Switch 2 menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mendukung ekosistem Nintendo. Dengan harga US$99,99, Charging Grip bersaing dengan aksesori pihak ketiga lainnya yang menawarkan fitur serupa. Belkin mengandalkan reputasi kualitas dan desain yang telah terbukti di pasar aksesori teknologi.

    Dalam konteks industri yang lebih luas, inovasi aksesori seperti ini mencerminkan tren peningkatan produktivitas perangkat genggam. Perkembangan teknologi baterai dan ergonomi menjadi fokus utama bagi produsen aksesori yang ingin memenuhi kebutuhan gamer modern. Hal ini sejalan dengan perkembangan di sektor teknologi lain, seperti yang terlihat dalam Robot Amazon Proteus yang kini bisa diajak bicara, menunjukkan bagaimana interaksi manusia-mesin terus berevolusi.

    Dampak bagi Pengguna Switch 2

    Bagi pengguna Switch 2 di Indonesia, aksesori Belkin ini menawarkan solusi praktis untuk dua masalah utama: daya tahan baterai dan kenyamanan genggaman. Dengan harga US$99,99, Charging Grip menjadi investasi yang layak dipertimbangkan bagi gamer yang sering bermain dalam perjalanan atau sesi panjang di rumah.

    Namun, perlu dicatat bahwa ketersediaan di pasar Indonesia belum diumumkan. Pengguna mungkin perlu mengimpor produk ini melalui platform e-commerce internasional atau menunggu distributor resmi Belkin di Indonesia untuk membawanya masuk. Harga akhir di Indonesia kemungkinan akan lebih tinggi karena biaya impor dan pajak.

    Belkin juga menawarkan berbagai aksesori lain untuk Switch 2, termasuk pelindung layar, tas jinjing, dan kabel pengisi daya. Jajaran produk ini memberikan pilihan bagi pengguna yang ingin melengkapi konsol mereka dengan aksesori resmi berkualitas tinggi. Perusahaan terus memperluas portofolio aksesori gaming-nya seiring dengan pertumbuhan pasar konsol genggam.

    Dari sisi bisnis, langkah Belkin merilis aksesori untuk Switch 2 menunjukkan potensi pasar yang besar. Nintendo telah menjual jutaan unit Switch 2 sejak peluncurannya, menciptakan permintaan tinggi untuk aksesori pelindung dan pengisi daya. Belkin, sebagai pemain mapan di pasar aksesori, memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya.

    Dalam konteks yang lebih luas, inovasi aksesori ini mencerminkan bagaimana produsen beradaptasi dengan kebutuhan pengguna. Dengan fokus pada daya tahan baterai dan ergonomi, Belkin menjawab keluhan umum pengguna Switch 2 tentang masa pakai baterai yang terbatas dan desain yang kurang nyaman untuk sesi bermain panjang. Hal ini sejalan dengan perkembangan di industri lain, seperti yang terlihat dalam Krisis RAM dan Chipset yang mempengaruhi harga perangkat elektronik.

    Keputusan Belkin untuk menggunakan baterai 10.000mAh dengan pengisian 30W melalui USB-C adalah pilihan desain yang praktis. Meskipun Switch 2 tidak mendukung pengisian daya nirkabel, solusi kabel pendek yang terintegrasi memudahkan pengguna tanpa perlu membawa kabel tambahan. Layar kecil pada baterai juga memberikan informasi sisa daya yang berguna, fitur yang jarang ditemukan pada aksesori serupa.

    Dari segi ergonomi, grip Joy-Con yang lebih besar dengan bantalan nonslip meningkatkan kenyamanan genggaman. Ini penting bagi gamer yang sering bermain dalam sesi panjang, karena desain standar Switch 2 dapat menyebabkan kelelahan tangan. Belkin merancang grip ini agar dapat digunakan dengan kontroler yang terlepas atau terpasang, memberikan fleksibilitas maksimal.

    Belkin juga memastikan bahwa casing pelindungnya tidak mengganggu fungsionalitas utama Switch 2. Kickstand tetap dapat digunakan, dan konsol masih bisa dimasukkan ke TV dock dengan casing terpasang, asalkan baterai dilepas. Ini menunjukkan perhatian Belkin terhadap detail dan kebutuhan pengguna yang ingin melindungi perangkat tanpa mengorbankan fitur.

    Dalam jangka panjang, aksesori Belkin ini dapat memperpanjang umur pakai Switch 2 dengan memberikan perlindungan fisik terhadap benturan dan goresan. Casing pelindung juga melindungi konsol dari debu dan kotoran, menjaga kondisi perangkat tetap prima. Baterai eksternal mengurangi kebutuhan pengisian daya yang sering, yang dapat memperpanjang umur baterai internal.

    Belkin menawarkan garansi terbatas untuk aksesorinya, memberikan ketenangan pikiran bagi pengguna yang khawatir tentang kualitas produk. Perusahaan juga menyediakan dukungan pelanggan yang responsif, memudahkan pengguna yang mengalami masalah dengan produk mereka. Ini menjadi nilai tambah dibandingkan aksesori pihak ketiga murah yang mungkin tidak memiliki dukungan serupa.

    Dengan harga US$99,99, Charging Grip Belkin bersaing dengan aksesori serupa dari merek lain seperti PowerA dan Hori. Namun, reputasi Belkin dalam hal kualitas dan desain memberikan keunggulan kompetitif. Pengguna yang mengutamakan kualitas dan keandalan mungkin bersedia membayar lebih untuk produk Belkin.

    Bagi pengguna yang ingin menghemat biaya, ada alternatif aksesori yang lebih murah di pasaran. Namun, perlu diingat bahwa aksesori murah seringkali menggunakan bahan berkualitas rendah dan tidak memiliki fitur keamanan yang memadai. Belkin, dengan pengalamannya di pasar aksesori, menawarkan produk yang telah teruji dan memenuhi standar keamanan.

    Keputusan Belkin untuk merilis aksesori Switch 2 juga mencerminkan optimisme terhadap masa depan konsol ini. Nintendo telah mengonfirmasi bahwa Switch 2 akan didukung dengan game-game eksklusif dan fitur-fitur baru, yang akan terus mendorong permintaan aksesori. Belkin, dengan portofolio aksesorinya, siap memenuhi kebutuhan pengguna yang terus berkembang.

    Dalam industri yang terus berubah, adaptasi terhadap teknologi baru menjadi kunci kesuksesan. Hal ini juga terlihat dalam Raffi Ajak Masyarakat Tak Takut AI, di mana adaptasi dianggap sebagai kunci kemajuan. Belkin, dengan merilis aksesori inovatif untuk Switch 2, menunjukkan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

    Kesimpulannya, Belkin telah merilis jajaran aksesori untuk Nintendo Switch 2 yang menawarkan solusi perlindungan dan pengisian daya. Charging Grip dengan baterai 10.000mAh dan harga US$99,99 menjadi pilihan utama bagi pengguna yang ingin memperpanjang waktu bermain dan meningkatkan kenyamanan. Dengan tiga pilihan warna dan desain yang praktis, aksesori ini layak dipertimbangkan bagi pemilik Switch 2 yang mengutamakan kualitas dan fungsionalitas.

  • Uji Coba Manusia Regenerasi Gigi Dimulai pada 2026

    Uji Coba Manusia Regenerasi Gigi Dimulai pada 2026

    JBNews.id — Perusahaan farmasi Jepang, Toregem Biopharma, mengumumkan rencana untuk memulai uji klinis fase kedua pada manusia untuk terapi regenerasi gigi pada tahun 2026. Langkah ini didukung pendanaan segar senilai sekitar USD 5,3 juta yang akan mempercepat pengembangan klinis teknologi tersebut.

    Pada tahun 2023, Toregem mengumumkan temuan baru untuk menghambat gen yang bertanggung jawab menekan pertumbuhan gigi. Temuan ini membuka jalan bagi pendekatan revolusioner di bidang kedokteran gigi yang sebelumnya dianggap mustahil: menumbuhkan gigi hidup baru untuk menggantikan gigi yang rusak.

    “Tujuan akhir kami adalah menawarkan solusi klinis yang maju dan berbasis ilmiah untuk pertumbuhan gigi yang berasal dari jaringan pasien sendiri,” kata Presiden Toregem, Honoka Kiso, dalam pernyataan resmi pada 2023.

    Pendekatan ini merupakan terobosan radikal dalam dunia kedokteran gigi yang selama ini hanya menawarkan opsi terbatas seperti gigi palsu atau implan. “Gagasan menumbuhkan gigi baru adalah impian setiap dokter gigi,” ujar salah satu pendiri sekaligus peneliti utama Toregem, Katsu Takahashi, kepada surat kabar Jepang The Mainichi pada tahun yang sama.

    Pendanaan dan Rencana Uji Klinis

    Dengan dana segar sekitar USD 5,3 juta yang berhasil dikumpulkan dalam putaran pendanaan terbaru, Toregem menyatakan akan “lebih mempercepat pengembangan klinis” terapinya. Perusahaan berencana melaksanakan uji klinis fase kedua yang melibatkan partisipan manusia di Jepang.

    Meski demikian, siaran pers perusahaan belum mengungkapkan jadwal pasti kapan uji coba akan dimulai. Toregem masih berada pada tahap awal pengembangan perawatan ini. Namun, terdapat sejumlah tanda yang mendukung optimisme terhadap teknologi ini.

    Dalam sebuah studi pada tahun 2021, perusahaan mendemonstrasikan bahwa antibodi penetralnya dapat menekan protein yang disebut USAG-1, yang menghambat pertumbuhan tunas gigi. Perusahaan mengklaim telah berhasil memulihkan gigi pada tikus yang lahir tanpa gigi akibat defisiensi gen Runx2, gen “sakelar utama” yang berperan penting dalam perkembangan kerangka dan gigi.

    Pada studi tahun 2024, perusahaan berargumen bahwa pendekatan yang sama dapat bekerja pada manusia. Uji klinis fase pertama, yang melibatkan partisipan pria dewasa, telah menguji keamanan pendekatan ini pada tahun sebelumnya, namun hasil akhirnya masih menunggu.

    Mekanisme Kerja Terapi Regenerasi Gigi

    Terapi yang dikembangkan Toregem bekerja dengan cara menghambat gen yang menekan pertumbuhan gigi. Secara spesifik, antibodi penetral yang dikembangkan perusahaan dapat menekan protein USAG-1, yang secara alami menghambat pertumbuhan tunas gigi pada manusia dan hewan.

    Dengan menonaktifkan protein penghambat ini, tubuh dapat mengaktifkan kembali mekanisme alami pertumbuhan gigi yang biasanya hanya aktif selama masa perkembangan anak-anak. Pendekatan ini berbeda secara fundamental dengan implan gigi yang bersifat mekanis dan tidak menggantikan jaringan hidup.

    Keberhasilan pada model tikus menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat memicu pertumbuhan gigi baru dari jaringan sendiri, bukan sekadar mengganti struktur gigi yang hilang dengan material buatan. Jika berhasil pada manusia, terapi ini dapat menjadi solusi permanen bagi pasien yang kehilangan gigi akibat cedera, penyakit, atau faktor usia.

    Tantangan dan Keraguan Ahli

    Meskipun prospeknya menjanjikan, para ahli masih memiliki keraguan apakah pendekatan ini benar-benar dapat bekerja pada manusia. Mary MacDougall, dekan fakultas kedokteran gigi Universitas British Columbia, menyampaikan beberapa catatan penting kepada New Scientist tahun lalu.

    Pertama, pendekatan ini mungkin hanya efektif pada anak-anak yang masih memiliki banyak sel epitel gigi. Sel-sel ini memainkan peran fundamental dalam perkembangan gigi. Orang dewasa yang kehilangan gigi dan kekurangan sel-sel tersebut mungkin tidak akan mendapatkan manfaat yang sama.

    Kedua, MacDougall berargumen bahwa mengarahkan obat untuk bekerja pada satu gigi tertentu mungkin tidak memungkinkan. Hal ini berpotensi memicu pertumbuhan gigi yang tidak diinginkan di beberapa gigi sekaligus.

    Meskipun demikian, implikasi dari terapi yang memungkinkan manusia menumbuhkan kembali gigi sangatlah besar. Bahkan kemungkinan keberhasilannya sudah cukup beralasan untuk dilakukan investigasi menyeluruh.

    Sementara Toregem menargetkan membawa terapinya ke pasar pada tahun 2030, masih banyak penelitian dan pengujian yang harus dilakukan. Perkembangan ini sejalan dengan tren inovasi di bidang bioteknologi dan robotika, seperti penggunaan robot humanoid di berbagai sektor.

    Implikasi bagi Industri Kedokteran Gigi

    Jika terapi regenerasi gigi ini berhasil, dampaknya akan sangat luas bagi industri kedokteran gigi global. Pasar implan gigi dan gigi palsu yang bernilai miliaran dolar dapat mengalami disrupsi signifikan. Pasien tidak lagi harus bergantung pada material buatan yang memerlukan perawatan dan penggantian berkala.

    Dari sisi biaya, terapi regeneratif mungkin menawarkan solusi yang lebih ekonomis dalam jangka panjang. Meskipun biaya awal pengembangan dan pengobatan diperkirakan tinggi, pasien tidak perlu lagi menjalani prosedur penggantian implan setiap beberapa tahun.

    Perkembangan ini juga menarik perhatian para pelaku industri teknologi, mengingat pendekatan serupa dalam pengembangan teknologi canggih juga memerlukan investasi besar dan kolaborasi multidisiplin.

    Prospek Masa Depan

    Terapi regenerasi gigi Toregem masih menghadapi jalan panjang sebelum dapat digunakan secara luas. Uji klinis fase kedua yang direncanakan akan menjadi tonggak penting untuk membuktikan efektivitas pendekatan ini pada manusia.

    Jika hasil uji coba positif, perusahaan akan melanjutkan ke fase uji klinis lebih lanjut dan proses regulasi sebelum produk dapat dipasarkan. Target tahun 2030 masih realistis mengingat kemajuan yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir.

    Bagi pasien yang kehilangan gigi, terapi ini menawarkan harapan baru. Tidak lagi harus memilih antara gigi palsu yang tidak nyaman atau implan yang mahal dan invasif, pasien mungkin suatu hari bisa menumbuhkan gigi baru yang sepenuhnya alami.

    Perkembangan di bidang regenerasi gigi ini juga menunjukkan bagaimana bioteknologi modern terus mendorong batas-batas pengobatan konvensional. Inovasi serupa juga terlihat di bidang robotika, di mana regulasi baru mulai diterapkan untuk mengakomodasi kemajuan teknologi.

    Kesimpulannya, meskipun masih terdapat keraguan dan tantangan, langkah Toregem untuk memulai uji klinis fase kedua pada manusia menandai babak baru dalam upaya mewujudkan regenerasi gigi sebagai solusi nyata bagi pasien di seluruh dunia. Industri kedokteran gigi dan pasien sama-sama menanti hasil uji coba ini dengan penuh antisipasi.

  • Meta Kembangkan Fitur Pengenalan Wajah untuk Kacamata Pintar

    Meta Kembangkan Fitur Pengenalan Wajah untuk Kacamata Pintar

    JBNews.id — Meta diam-diam mengintegrasikan fitur pengenalan wajah bernama “NameTag” ke dalam aplikasi pendamping kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley, meskipun perusahaan tersebut secara publik menyatakan masih mempertimbangkan teknologi ini. Kode yang ditemukan oleh WIRED dalam pembaruan aplikasi Meta AI sepanjang tahun ini mengungkapkan bahwa komponen inti sistem telah dikirimkan ke jutaan perangkat pengguna sejak Januari 2026.

    Fitur yang belum diaktifkan ini berada di dalam aplikasi Meta AI yang telah diunduh lebih dari 50 juta kali. Jika diaktifkan, NameTag akan mengubah wajah yang ditangkap kamera kacamata pintar menjadi tanda tangan biometrik unik, atau yang dikenal sebagai faceprints, dan mencocokkannya dengan database di ponsel pengguna. Wajah yang dikenali akan memicu notifikasi, sementara yang lainnya akan dipotong, diindeks, dan disimpan ke folder “pending”.

    Temuan ini menghidupkan kembali teknologi yang dianggap Meta telah dihentikan pada 2021, ketika perusahaan mengumumkan akan menghapus lebih dari satu miliar faceprints milik pengguna Facebook. Keputusan itu diambil setelah bertahun-tahun kontroversi atas sistem penandaan foto otomatisnya. Meta akhirnya membayar $650 juta untuk menyelesaikan gugatan class-action dari pengguna Illinois dan, pada 2024, menyetujui penyelesaian terpisah senilai $1,4 miliar dengan Texas atas tuduhan pengumpulan data biometrik ilegal.

    WIRED berbagi temuan ini dengan dua peneliti keamanan eksternal yang secara independen memeriksa aplikasi dan mereproduksi aspek kunci analisis: Cooper Quintin dari Electronic Frontier Foundation dan seorang peneliti anonim bernama Buchodi. “Fitur ini belum terbuka untuk konsumen tetapi tampaknya hampir siap diluncurkan,” kata Quintin. “Meskipun ada miliaran alasan untuk tidak melakukannya, Meta tampaknya telah menciptakan kapasitas untuk mengubah pelanggan mereka menjadi mesin pengawasan terdistribusi.”

    Buchodi menjalankan tes tambahan pada jalur pengenalan. Setelah menambahkan satu faceprint dari filsuf Michel Foucault ke galeri aplikasi dan memicu NameTag, aplikasi menghasilkan notifikasi: “Person recognized.” “Komponen utama dari fitur pengenalan wajah sudah ada di aplikasi pendamping Meta,” kata Buchodi. “Tidak banyak yang tersisa antara ini dan fitur yang berfungsi penuh.”

    Pada April 2026, lebih dari 70 kelompok advokasi—termasuk American Civil Liberties Union, Electronic Privacy Information Center, dan Fight for the Future—menuntut Meta membatalkan NameTag, memperingatkan bahwa fitur ini akan memungkinkan penguntit dan pelaku kekerasan mengidentifikasi orang asing di tempat umum secara diam-diam. “Pesaing kami menawarkan produk pengenalan wajah seperti ini, kami tidak,” kata juru bicara Meta kepada WIRED saat itu. “Jika kami akan merilis fitur seperti itu, kami akan mengambil pendekatan yang sangat hati-hati sebelum meluncurkannya.”

    Tiga model AI yang mendukung NameTag telah diterapkan dari server Meta dan sekarang berada di ponsel pelanggan. Satu model mendeteksi wajah, satu memotongnya, dan satu lagi mengkodekannya menjadi data biometrik. Hanya jejak antarmuka pengguna yang saat ini ada, mengisyaratkan bagaimana fitur ini pada akhirnya akan bekerja. Versi Mei dari aplikasi mengganti nama fitur untuk pengguna sebagai “Connections”, mengundang mereka untuk “mengingat orang yang Anda temui.” Masih belum jelas wajah siapa yang akan dimasukkan dalam database pengenalan sistem, bagaimana profil tersebut dibuat, atau berapa banyak orang yang pada akhirnya dapat diidentifikasi.

    Joseph Jerome, mantan pejabat kebijakan Meta Reality Labs yang bekerja pada tinjauan privasi untuk produk AR dan VR, mengatakan bahwa dengan menanamkan pengenalan wajah ke platform wearable massal, Meta bisa menormalisasi kemampuan yang sebelumnya ditarik karena masalah privasi. “Saya tidak tahu bagaimana Meta dapat secara bertanggung jawab menerapkan teknologi seperti ini,” kata Jerome. “Anda menetapkan norma dan standar dengan menempatkan teknologi ke dalam ekosistem.”

    Meta sendiri membantah tuduhan tersebut. “Terlepas dari laporan sensasional apa pun, faktanya sederhana: Kami telah mengatakan sebelumnya bahwa kami sedang mengeksplorasi jenis fitur ini, dan apa yang Anda lihat hanyalah bukti dari eksplorasi itu,” kata juru bicara Meta Ryan Daniels. “Tidak ada yang dikirimkan ke konsumen dan tidak ada keputusan akhir yang dibuat tentang apa yang harus dilakukan di sini, jika ada. Jika kami memutuskan untuk meluncurkan sesuatu, kami akan mengambil pendekatan yang bijaksana dan melakukannya dengan transparansi penuh. Satu keputusan yang bisa kami jelaskan—kami tidak membangun database wajah terpusat.”

    Tinjauan kode WIRED menunjukkan sistem NameTag saat ini dirancang untuk menarik faceprints dari server Meta dan menyimpannya di perangkat pengguna. Meta sendiri sudah memiliki pengalaman panjang dengan teknologi ini. Sistem sebelumnya, diumumkan oleh Facebook pada 2010, menganalisis foto dan menyarankan tag untuk orang yang muncul di gambar pengguna. Sistem itu dengan cepat mencapai lebih dari satu miliar pengguna dan menjadi salah satu sistem pengenalan wajah konsumen terbesar yang pernah diterapkan.

    Teknologi ini menarik pengawasan hampir seketika. Regulator Eropa dan advokat privasi di AS mempertanyakan legalitasnya sejak 2011, dan ada kekhawatiran tentang apakah pengguna telah secara bermakna menyetujui pembuatan data biometrik. Pada 2019, Meta membayar $5 miliar ke Federal Trade Commission dan Department of Justice untuk menyelesaikan kasus privasi yang lebih luas yang mencakup masalah pengenalan wajah. Pada November 2021, Meta mengumumkan akan mematikan sistem dan menghapus template wajah yang telah dibangun, dengan alasan kekhawatiran yang berkembang tentang peran pengenalan wajah di masyarakat.

    Namun, keputusan itu tidak pernah dipahami secara internal sebagai mundur permanen, kata Jerome, yang bergabung dengan Reality Labs pada pertengahan 2021. “Selalu ada ketegangan ini, kapan kita akan meluncurkan kembali pengenalan wajah?” Pada 2025, menurut dokumen internal yang ditinjau oleh The New York Times, Meta berencana untuk memperkenalkan pengenalan wajah pada kacamata pintarnya kepada peserta konferensi untuk tunanetra sebelum membuatnya tersedia untuk masyarakat umum. Itu tidak pernah terjadi.

    Teknologi ini sebenarnya menjawab permintaan nyata. Perangkat bantu yang ada sudah memungkinkan pengguna tunanetra mengidentifikasi wajah yang telah mereka daftarkan secara pribadi. Sebuah studi 2018 oleh Cornell Tech dan peneliti Facebook menemukan bahwa setiap peserta menyebut mengenali orang sebagai tugas harian yang penting. Meta tidak menanggapi pertanyaan tentang pengguna mana yang mungkin dapat diidentifikasi melalui NameTag; apakah perusahaan bermaksud agar foto, faceprints, atau data lain yang dihasilkan oleh sistem pernah ditransmisikan kembali ke servernya; atau apakah perusahaan memiliki rencana untuk memungkinkan pengguna memilih masuk daripada keluar.

    EssilorLuxottica, yang memproduksi kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley bersama Meta, tidak menanggapi permintaan komentar. Woodrow Hartzog, profesor hukum privasi di Boston University, mengatakan bahkan perlindungan opt-in—jika Meta akhirnya menawarkannya—akan tipis. Persetujuan, katanya, sering dapat dikaitkan dengan pekerjaan, manfaat, atau akses ke layanan. Membingkai privasi sebagai masalah pilihan pribadi menguntungkan bisnis, tanpa memberikan batasan yang berarti pada pengumpulan sambil membiarkan perusahaan mengklaim pengguna memegang kendali.

    “Kita tahu bahwa semakin banyak sistem ini diterapkan, semakin banyak orang mulai melihatnya sebagai sesuatu yang biasa,” kata Hartzog. “Dan semakin kita melihatnya sebagai sesuatu yang biasa dan rutin, semakin orang cenderung mulai mengambil isyarat moral mereka tentang apakah diinginkan atau baik untuk memindai wajah Anda. Itu hanya psikologi manusia.”

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa Meta kembali serius mengembangkan teknologi pengenalan wajah meskipun menghadapi tekanan regulasi dan publik yang besar. Dengan basis pengguna lebih dari 50 juta dan integrasi ke perangkat wearable, potensi dampak dari fitur ini sangat luas. Para pengamat industri dan advokat privasi kini menunggu langkah selanjutnya dari Meta, sementara perusahaan tersebut terus mengklaim bahwa mereka masih dalam tahap eksplorasi. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan AI dan teknologi terkini, simak artikel tentang Spesifikasi Open Source untuk keamanan siber dan Tes Urine Deteksi autisme pada anak.

  • Dokumenter TikTok Ungkap Drama Politik di Balik Ancaman Larangan

    Dokumenter TikTok Ungkap Drama Politik di Balik Ancaman Larangan

    JBNews.id — Sebuah film dokumenter berjudul An All-American Tale yang disutradarai oleh sineas peraih Emmy, Hao Wu, mengupas enam tahun perjalanan politik dan hukum yang nyaris melarang TikTok beroperasi di Amerika Serikat. Film ini tayang perdana pada Kamis di Tribeca Film Festival dan menyajikan perspektif unik dari para kreator konten yang hidupnya terikat erat dengan nasib aplikasi video pendek tersebut.

    Dokumenter ini mengikuti tiga kreator TikTok—Steven King, Chloe Sexton, dan Topher Townsend—yang mewakili lebih dari 200 juta pengguna TikTok di AS. Mereka berasal dari latar belakang geografis dan politik yang sangat berbeda: Arizona, Tennessee, dan Mississippi. Satu di antaranya adalah pendukung setia Partai Demokrat, satu lagi adalah influencer Partai Republik yang sedang naik daun, dan yang ketiga hanya membuat konten non-politik yang lucu. “Dengan cara tertentu, TikTok melakukan penyaringan awal untuk kami,” kata Wu dalam sebuah wawancara.

    Kamera Wu merekam momen-momen penting, termasuk satu hari di tahun 2025 ketika TikTok sempat gelap di AS sebagai bentuk protes terhadap rencana larangan yang akan segera diberlakukan oleh pemerintahan Biden. Penonton film dapat menyaksikan detik-detik tepat ketika aplikasi tersebut menghilang bagi pengguna Amerika dan reaksi langsung para kreator.

    Kisah larangan TikTok berlangsung panjang dan berliku. Ia melewati perdebatan dan pertempuran yang tak terhitung jumlahnya saat melintasi Kongres, Mahkamah Agung, dan Gedung Putih. Aplikasi ini berubah dari isu kesayangan Trump, menjadi titik konsensus bipartisan yang langka di bawah Biden, lalu menjadi sesuatu yang sangat ditentang Trump, sebelum akhirnya menjadi alat tawar-menawar dalam perang dagang AS-China.

    Kisah yang Lebih Amerika daripada China

    Wu sebelumnya bekerja di industri teknologi China sebelum beralih menjadi pembuat film dokumenter. Film sebelumnya, People’s Republic of Desire, adalah gambaran intim tentang industri livestreaming China yang saat itu sedang berkembang pesat, yang mendahului kesuksesan TikTok dan video pendek di AS. Karena latar belakang pribadi dan profesional Wu, banyak yang memperkirakan filmnya akan membahas asal-usul TikTok dari China secara detail, tetapi ternyata tidak.

    Wu mengatakan keputusan itu diambil karena kisah tentang larangan TikTok lebih bersifat Amerika daripada China. “Film ini menjadi tentang bagaimana orang Amerika, berbagai tipe orang Amerika, berdebat satu sama lain mengenai isu ini. Ini sebenarnya bukan tentang apa yang TikTok lakukan atau tidak lakukan. Ini tentang apa yang orang Amerika persepsikan tentang TikTok yang telah dilakukan atau tidak dilakukan,” ujar Wu. Meskipun kepemilikan TikTok di China menjadikannya pariah politik, pemerintah AS tidak pernah benar-benar berusaha membuktikan di pengadilan bahwa aplikasi itu menimbulkan bahaya konkret.

    Film ini juga menyoroti bagaimana TikTok menjadi kendaraan bagi berbagai kelompok di AS untuk memproyeksikan kecemasan mereka tentang media sosial, keselamatan anak, disinformasi, dan ekstremisme. “Saya ingin orang-orang benar-benar berpikir tentang bagaimana kita masih ingin menjunjung tinggi cita-cita kebebasan berbicara secara online atau marketplace of ideas,” kata Wu. “Dalam beberapa hal, saya merasa melalui semua perdebatan ini, kita melepaskan cita-cita itu. Tapi itu terjadi secara bertahap.”

    Ketika Politik Mengalahkan Kebenaran

    Ketika Wu memutuskan untuk membuat dokumenter TikTok, ia awalnya mengira itu akan menjadi diskusi kutu buku lainnya tentang prinsip-prinsip hukum. Namun, setelah bagian Mahkamah Agung dari kisah TikTok selesai, Wu mulai mempertanyakan mengapa Trump berusaha keras menyelamatkan TikTok dan mengorbankan sebagian modal politiknya serta membuat marah beberapa sekutu Republikan dalam prosesnya.

    Salah satu protagonis film, Chloe Sexton, juga bertanya-tanya tentang hal yang sama. Ia membangun pengikut dengan berbicara tentang pengalamannya dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dan dipecat dari pekerjaannya saat hamil. Setelah berjuang mati-matian untuk mempertahankan TikTok di AS, kekuatan paling kuat yang membantunya ternyata adalah Trump, seorang politisi yang sangat ia lawan. Di akhir film, Sexton terdengar nihilistik tentang perjuangan itu dan mempertanyakan apakah satu-satunya hal yang penting pada akhirnya adalah politik Washington.

    Wu mengatakan bahwa memasukkan perubahan hati Sexton adalah pilihan yang disengaja. “Saya pikir saya ingin menggunakan kata-kata itu untuk menyampaikan peringatan saya kepada orang-orang yang begitu bersemangat dalam mendukung regulasi media sosial. Banyak keputusan di balik itu dimotivasi oleh masalah uang, kekuasaan, atau politik,” katanya. Film ini berhasil memberikan makna dari kekacauan yang terjadi selama bertahun-tahun. “Sebagai pembuat film, niat saya adalah membuat orang kembali dan menghidupkan kembali pengalaman itu, dan berpikir tentang apa yang diungkapkan oleh pengalaman itu,” pungkas Wu.

    Bagi pengguna media sosial di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi platform digital yang seimbang. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong komitmen platform digital untuk melindungi pengguna, terutama anak-anak, dengan tenggat waktu yang ketat.

  • 7 Atlet DOTA 2 Indonesia Siap Berlaga di ENC 2026

    7 Atlet DOTA 2 Indonesia Siap Berlaga di ENC 2026

    JBNews.id — Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) resmi mengumumkan tujuh atlet yang akan memperkuat tim nasional DOTA 2 pada kompetisi internasional Esports Nations Cup (ENC) 2026. Nama-nama seperti Rafli Fathur Rahman alias Mikoto dan Matthew Filemon alias Whitemon masuk dalam daftar panggilan untuk membela Timnas Esports Indonesia di ajang yang akan digelar pada November 2026.

    Ketujuh atlet tersebut terdiri dari Musthofa Pamungkas alias Jikroy, Abdala Afemi alias dalul, Saieful Ilham alias Fbz, Rafli Fathur Rahman alias Mikoto, Matthew Filemon alias Whitemon, Noel Pinot Rando Lafduti Malau alias Pota2, dan Tri Kuncoro alias Jhocam. Mereka akan dipimpin oleh pelatih Yukatheo Glen Widjaja alias you_K yang berusia 26 tahun dan aktif bermain DOTA 2 sejak 2018 hingga 2025.

    PB ESI menegaskan komitmennya untuk menampilkan kekuatan terbaik Indonesia di kancah global. “Kini saatnya para punggawa DOTA 2 Indonesia ini menunjukkan kemampuan terbaik mereka dan berjuang demi Merah Putih di panggung internasional,” tulis PB ESI melalui Instagram resminya, Kamis (4/6/2026).

    Persiapan Menuju ENC 2026

    Manajer Tim Nasional untuk ENC 2026, Glorya Famiela Ralahalo, sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia akan mendaftarkan diri di semua 16 game yang dipertandingkan. Selain DOTA 2, game lain yang diikuti antara lain R6 Siege, Rocket League, Mobile Legends, PUBG Battlegrounds, League of Legends, Valorant, PUBG Mobile, Honor of Kings, Street Fighter, Fatal Fury, Trackmania, EA Sports FC, Counter Strike 2, Chess, dan Apex Legends.

    Untuk Rocket League, Indonesia mengirimkan Louis Christian Thamrun alias LCT, Dika Utama alias ripoopi, Muhammad Athar Arrayyan alias Awkwavy, dan Maarten Van Zee alias Oscillon sebagai pelatih. Sementara itu, untuk R6 Siege, skuad diperkuat Richard Nixon alias Rixx, Razaan Adiprakasa alias Ape, Mochamad Raihan Tania alias Elang, Aldi Firmansyah alias Hovenherst, Reinaldo Gilbert alias Tolji, Ilham Surya alias Sunan, Farhan Adinepa alias Griv, serta Guilherme Alf alias Gohan sebagai pelatih. Cabang Chess diwakili oleh Yoseph Theolifus Taher.

    Jadwal ENC 2026 sendiri akan segera digelar pada November 2026. Seluruh negara peserta tidak hanya memperebutkan gelar juara dunia, tetapi juga uang hadiah yang mencapai jutaan dolar. Ini menjadi momentum penting bagi perkembangan esports Indonesia di tingkat internasional.

    PB ESI juga sebelumnya telah mengumumkan daftar pelatih untuk berbagai cabang game di ENC 2026. Dengan target juara, persiapan matang menjadi kunci utama. Para atlet DOTA 2 Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan negara-negara kuat lainnya yang telah lama menjadi langganan juara di kancah esports global.

    Kehadiran nama-nama seperti Mikoto dan Whitemon yang sudah dikenal di kancah internasional menjadi suntikan moral bagi tim. Keduanya memiliki pengalaman bermain di turnamen-tier atas dunia, termasuk ajang The International. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi timnas DOTA 2 Indonesia untuk tampil maksimal.

    Seluruh proses seleksi dan persiapan dilakukan secara transparan oleh PB ESI. Dengan pengumuman ini, publik esports Indonesia kini memiliki gambaran jelas tentang kekuatan yang akan diturunkan di ENC 2026. Dukungan dari komunitas dan penggemar esports tanah air sangat dinantikan untuk membakar semangat para atlet.

    Selain DOTA 2, perhatian juga tertuju pada cabang game lain seperti Mobile Legends yang juga memiliki basis penggemar besar di Indonesia. Pendaftaran Calon Ketua KONI di berbagai daerah juga menunjukkan bagaimana ekosistem olahraga, termasuk esports, terus berkembang di Indonesia.

    ENC 2026 menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia mampu bersaing di level tertinggi esports dunia. Dengan total 16 game yang diikuti, Indonesia menunjukkan ambisi besar untuk menjadi kekuatan utama di Asia Tenggara dan dunia. Uang hadiah jutaan dolar yang diperebutkan juga menjadi motivasi tambahan bagi para atlet.

    Bagi para penggemar esports, momen ini adalah kesempatan untuk melihat langsung aksi terbaik atlet-atlet Indonesia. Bank bjb Buka Pendaftaran untuk berbagai event olahraga juga menunjukkan sinergi antara sektor perbankan dan olahraga di Indonesia. Esports kini menjadi salah satu cabang yang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

    Ke depannya, PB ESI diharapkan terus melakukan pembinaan berkelanjutan agar lahir atlet-atlet baru berbakat. Bupati Wajibkan Perusahaan untuk mendaftarkan pekerja ke program jaminan sosial juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan tenaga kerja, termasuk atlet esports yang kini mulai diakui sebagai profesi.

    Dengan segala persiapan yang telah dilakukan, publik menanti kiprah Timnas Esports Indonesia di ENC 2026. Semoga para atlet DOTA 2 dan cabang game lainnya mampu mengharumkan nama bangsa dan membawa pulang gelar juara.

  • Cash App Luncurkan Tongkat Pembayaran NFC, Target Remaja AS

    Cash App Luncurkan Tongkat Pembayaran NFC, Target Remaja AS

    JBNews.id, Jakarta — Cash App, layanan pembayaran mobile asal Amerika Serikat, meluncurkan aksesori terbaru berupa tongkat pembayaran nirsentuh (contactless) yang diberi nama Cash App Wand. Perangkat berbentuk tongkat bintang ini memungkinkan pengguna melakukan pembayaran tanpa perlu mengeluarkan ponsel atau kartu fisik.

    Tongkat ini dilengkapi teknologi NFC (Near Field Communication) dengan permukaan iridescent dan desain bintang di ujungnya. Cash App Wand dirancang untuk merespons tren do-it-yourself (DIY) yang sudah populer di media sosial, di mana banyak pengguna membuat “casing” kreatif untuk kartu pembayaran nirsentuh, termasuk tongkat sihir dan koin bertema Nintendo.

    “Kami melihat tren di mana orang-orang membuat kreasi unik untuk kartu pembayaran mereka,” demikian pernyataan resmi Cash App. “Cash App Wand adalah jawaban kami untuk memberikan pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan menyenangkan.”

    Fitur dan Keamanan

    Cash App Wand hadir dengan desain yang lebih ringkas dibandingkan kreasi DIY karena menggunakan tag NFC internal yang terhubung langsung dengan Cash App Card aktif pengguna. Perangkat ini dilengkapi gantungan kunci (keychain) yang bisa ditempelkan di ikat pinggang atau tas, memberikan kemudahan akses tanpa khawatir kehilangan.

    Dari sisi keamanan, Cash App Wand memiliki fitur keamanan bawaan yang memungkinkan pengguna mengunci atau membuka kunci perangkat melalui aplikasi Cash App. Selain itu, terdapat notifikasi transaksi real-time dan dukungan pemantauan penipuan 24/7. Perangkat ini berfungsi di semua tempat yang menerima pembayaran tap-to-pay Visa.

    Sasaran Pasar Remaja

    Cash App secara khusus menargetkan remaja sebagai pasar utama produk ini. Data Cash App menunjukkan bahwa 1 dari 5 remaja di Amerika Serikat sudah menggunakan Cash App Card. Hal ini menjadi dasar strategi perusahaan untuk menghadirkan aksesori yang lebih menarik bagi kelompok usia tersebut.

    Cash App Wand tersedia untuk pelanggan yang memenuhi syarat berusia 13 tahun ke atas. Produk ini dijual seharga US$25 (sekitar Rp400.000) melalui aplikasi Cash App dan berlaku “selama stok masih tersedia.” Perusahaan juga mengumumkan bahwa ini adalah produk pertama dari seri Cash App Tags yang direncanakan akan dirilis secara terbatas dalam beberapa minggu ke depan, sebelum tersedia secara umum pada akhir musim panas tahun ini.

    Cash App menjelaskan bahwa desain tongkat ini juga memberikan keuntungan praktis, terutama untuk pembayaran di drive-thru karena jangkauan ekstra yang dimilikinya. Meski demikian, perusahaan mengingatkan pengguna untuk tetap waspada terhadap risiko kehilangan atau pencurian karena bentuknya yang mencolok.

    Peluncuran Cash App Wand menunjukkan bagaimana perusahaan pembayaran digital terus berinovasi untuk menarik pengguna muda dengan menggabungkan teknologi pembayaran dengan elemen hiburan dan personalisasi.

  • Raffi Ahmad Imbau Warga Waspada Deepfake, Kenalkan Metode SIFT

    Raffi Ahmad Imbau Warga Waspada Deepfake, Kenalkan Metode SIFT

    JBNews.id — Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mengungkapkan dirinya pernah menjadi korban penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya melalui konten deepfake yang digunakan untuk penipuan dan disinformasi di ruang digital.

    Raffi menyebut, sejumlah konten palsu yang beredar di internet menggunakan wajah dan namanya untuk kepentingan yang merugikan, termasuk promosi judi online hingga pembentukan citra negatif terhadap dirinya. Pernyataan itu disampaikan Raffi di The Telkom Hub Jakarta, Kamis (4/6/2026).

    “Saya ini korban deepfake promosi judi online. Ada juga yang Raffi playboy. Kalau misalnya untuk lucu-lucuan, ya hidup ini kadang ada yang memang bercanda atau apa, tapi kalau sudah yang masuknya fitnah itu tetap merusak juga,” ujar Raffi.

    Ia menilai perkembangan teknologi deepfake saat ini semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan sejumlah laporan yang ia sampaikan, produksi konten berbasis manipulasi AI tersebut meningkat signifikan hingga lebih dari 100%, bahkan disebut mencapai 550%.

    “Apalagi produksi konten deepfake itu sekarang pelonjakannya sudah lebih dari 100% bahkan 550%. Itu yang harus kita perangi bersama-sama,” tegasnya.

    Raffi pun mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di ruang digital dengan memperkuat literasi digital, khususnya kemampuan fast checking atau pengecekan cepat terhadap informasi yang beredar. Ia memperkenalkan pendekatan SIFT sebagai metode sederhana yang dapat digunakan masyarakat untuk memverifikasi informasi.

    Pertama, S (Stop), yakni berhenti sejenak sebelum langsung mempercayai informasi yang diterima. Menurutnya, masyarakat perlu menahan diri dan tidak langsung menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya.

    “Stop ini jangan langsung percaya dengan apapun. Kalau hal-hal yang membutuhkan kebenaran, jangan langsung percaya. Kita cek dulu, apakah ini benar atau tidak,” jelas Raffi.

    Kedua, I kepanjangan dari Investigate, yaitu menelusuri sumber informasi, termasuk siapa pembuat konten dan apa tujuan atau agenda di baliknya. Ketiga, F kepanjangan dari Find better coverage, yakni mencari pembanding atau konfirmasi dari sumber lain yang kredibel.

    Raffi menekankan pentingnya tidak hanya mengandalkan satu sumber informasi. “Kita harus mencari konfirmasi, jangan cuma percaya melihat satu konten saja. Minimal 3 sampai 5 media terpercaya yang sudah legitimate,” katanya.

    Terakhir, T yaitu Trace claims, yaitu menelusuri asal-usul klaim atau konten. Ia mengingatkan bahwa banyak informasi yang beredar merupakan potongan video atau konten yang tidak utuh sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

    “Lacak asal-usul konten karena banyak hoaks atau video asli tapi dipotong, padahal secara keseluruhan maksudnya tidak seperti itu. Jadi memang harus hati-hati sekali,” ucapnya.

    Raffi mengungkapkan bahwa peningkatan literasi digital menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan era AI, terutama di tengah maraknya konten manipulatif yang dapat merugikan individu maupun publik secara luas.

    Maraknya kasus penipuan digital yang memanfaatkan teknologi AI membutuhkan respons cepat dari berbagai pihak. Masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan prinsip verifikasi sebelum menyebarkan informasi yang diterima.

    Selain itu, perkembangan teknologi AI yang semakin canggih juga membawa konsekuensi pada meningkatnya risiko penyalahgunaan. Oleh karena itu, edukasi dan kesadaran publik menjadi benteng pertahanan utama.

    Pernyataan Raffi Ahmad ini menjadi pengingat bagi publik bahwa ancaman deepfake tidak hanya menimpa figur publik, tetapi juga bisa dialami oleh siapa saja. Dengan menerapkan metode SIFT, diharapkan masyarakat dapat lebih kritis dan tidak mudah terjebak oleh informasi palsu yang beredar di media sosial.

    Lonjakan produksi konten deepfake hingga 550% menunjukkan urgensi untuk segera memperkuat regulasi dan literasi digital secara masif. Langkah preventif seperti verifikasi informasi dan pengecekan silang menjadi keterampilan esensial di era digital saat ini.

  • GPOS Lite Permudah Operasional Apotek dengan Sistem Kasir dan Stok

    GPOS Lite Permudah Operasional Apotek dengan Sistem Kasir dan Stok

    JBNews.id – Pengelolaan apotek modern tidak lagi cukup mengandalkan pencatatan manual atau sistem kasir biasa. Pemilik apotek membutuhkan sistem yang mampu mengontrol stok, mempercepat pelayanan, dan meningkatkan omset bisnis. Salah satu solusi yang dipercaya ribuan apotek di Indonesia adalah GPOS Lite, bagian dari ekosistem GPOS yang menghubungkan lebih dari 9.000 apotek dengan jaringan distribusi farmasi nasional melalui platform GPOS B2B.

    GPOS Lite menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan aplikasi apotek pada umumnya. Banyak software apotek hanya fokus pada fitur sistem. Setelah proses instalasi selesai, pengguna sering kali harus belajar sendiri melalui training online atau dikenakan biaya tambahan hingga jutaan rupiah untuk pendampingan.

    Berbeda dengan itu, GPOS Lite hadir dengan dukungan Tim Lapangan yang aktif membantu apotek berkembang. Mulai dari training offline langsung di lokasi apotek hingga konsultasi bisnis bersama tim yang memahami operasional apotek sehari-hari. Layanan ini menjadi nilai tambah penting, terutama bagi apotek baru yang masih membangun sistem operasional dan strategi bisnis.

    “Sebagai apotek baru, kami sangat terbantu dengan GPOS Lite. Selain fitur-fiturnya yang bantu kelola apotek-apotek kami dengan optimal, layanan dari Tim GPOS Lite di lapangan sangat bantu kembangkan bisnis kami. Kami bisa konsultasi bagaimana kembangkan apotek kami dengan baik,” ujar Debi Elsa Gustavia, pemilik Apotek jaringan Sabi Pharma yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Kamis (4/6/2026).

    Sistem Stabil dengan Dukungan Teknis Profesional

    Dalam bisnis apotek, gangguan sistem di jam sibuk dapat menyebabkan antrean panjang, kesalahan transaksi, hingga kehilangan penjualan. Kestabilan sistem menjadi hal yang sangat krusial. GPOS Lite menggunakan server terbaik dan stabil dengan dukungan Tim Tech profesional yang terus memantau performa sistem. Hal ini membantu meminimalisir error di waktu-waktu krusial operasional apotek.

    Selain itu, tersedia layanan GPOS Care, yaitu customer service responsif yang siap membantu kendala aplikasi tanpa hari libur. Dukungan ini membuat pengguna merasa lebih aman dan nyaman dalam menjalankan operasional harian.

    Solusi Lengkap untuk Operasional Apotek Modern

    GPOS Lite menghadirkan sejumlah fitur unggulan yang dirancang untuk menjawab tantangan operasional apotek secara menyeluruh.

    1. Fitur AI Forecasting: Menghindari Kekosongan Stok Obat

    Salah satu tantangan terbesar apotek adalah menjaga ketersediaan obat tanpa membuat stok menumpuk atau kadaluarsa. Standar efisiensi menetapkan obat rusak dan kadaluarsa idealnya hanya 0,2% dari nilai persediaan. Namun pada apotek dengan pengelolaan stok yang lemah, angka ini bisa membengkak hingga lebih dari 6%, setara kerugian belasan juta rupiah dalam satu periode.

    GPOS Lite menghadirkan fitur AI Forecasting yang membantu perencanaan pembelian obat mingguan hingga bulanan, sehingga risiko kekurangan maupun kelebihan stok dapat ditekan secara signifikan.

    2. POS System: Solusi Kelola Pesanan dan Operasional Kasir

    GPOS Lite memiliki sistem kasir terintegrasi (POS) yang mendukung pencatatan transaksi online maupun offline. Studi pengelolaan apotek mencatat waktu transaksi dapat dipangkas dari sekitar 7 menit secara manual menjadi sekitar 3 menit dengan sistem — lebih dari dua kali lebih cepat, dengan tingkat akurasi pencatatan mencapai 98%. Sistem ini membantu meminimalisir kesalahan pencatatan, kebocoran kasir, hingga risiko kecurangan karyawan.

    3. Modul Manajemen Stok: Solusi Kelola Persediaan Apotek

    Manajemen stok yang buruk dapat menyebabkan banyak kerugian, terutama akibat obat kadaluarsa dan ketidaksesuaian stok. GPOS Lite menyediakan fitur manajemen stok terintegrasi, laporan stok ED (expired date), hingga fitur stok opname yang mempermudah proses administrasi persediaan.

    Dengan pencatatan stok, transaksi, dan laporan yang berjalan otomatis melalui GPOS Lite, apotek dapat menekan beban pekerjaan administratif yang biasanya menuntut tenaga tambahan, sehingga waktu dan biaya operasional dapat dialihkan ke pelayanan pelanggan.

    4. Modul Akuntansi: Solusi Manajemen Keuangan Apotek

    Mengelola laporan keuangan secara manual atau menggunakan jasa eksternal membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. GPOS Lite menyediakan modul akuntansi. Setiap transaksi yang terjadi di kasir maupun pembelian persediaan akan langsung tersinkronisasi ke dalam sistem pembukuan.

    Hal ini memungkinkan pemilik apotek untuk melacak arus kas (cash flow), memantau laporan laba rugi secara real-time, dan mempermudah penarikan data untuk kebutuhan evaluasi maupun pelaporan pajak. Dengan sistem yang terintegrasi ini, proses pemantauan kesehatan finansial bisnis menjadi jauh lebih transparan, akurat, dan dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu keahlian akuntansi khusus.

    Program Marketing untuk Tingkatkan Omset

    GPOS Lite juga menghadirkan berbagai program marketing yang membantu meningkatkan penjualan apotek. Tersedia program prinsipal yang dapat membantu memberikan penghasilan tambahan hingga jutaan rupiah setiap bulan untuk masing-masing apotek. Selain itu, terdapat juga program affiliate marketing melalui Agen GPOS yang dapat menjadi tambahan pendapatan bagi karyawan apotek.

    Hal ini membuat GPOS Lite tidak hanya menjadi aplikasi operasional, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan bisnis apotek. Dengan ribuan apotek aktif dan ekosistem yang terus berkembang, GPOS Lite hadir sebagai solusi terpercaya untuk membantu apotek lebih efisien, lebih modern, dan lebih berkembang.

    Untuk informasi lebih lengkap mengenai fitur dan paket berlangganan GPOS Lite, kunjungi website resmi: www.gpos.id/aplikasi-apotek-terbaik

  • Flourish AI Kembangkan Cortex AI Tiruan Otak Manusia

    Flourish AI Kembangkan Cortex AI Tiruan Otak Manusia

    JBNews.id — Sebuah perusahaan rintisan bernama Flourish mengklaim tengah mengembangkan sistem kecerdasan buatan generasi baru yang meniru arsitektur dan efisiensi energi otak manusia, dengan pendanaan awal sebesar US$ 500 juta dan valuasi mencapai US$ 2,5 miliar.

    Perusahaan yang didirikan oleh Thomas Reardon, seorang ilmuwan saraf dan pendiri startup berulang, bersama Greg Williams, mantan eksekutif Amazon yang membawahi produk perangkat lunak seperti Alexa, ini berhasil menarik minat investor kelas berat. Jeff Bezos, pendiri Amazon, menjadi salah satu investor pertama setelah membaca proposal setebal dua halaman yang diajukan Williams pada Desember 2025.

    Pendekatan Neuromorfik untuk AI

    Flourish mengembangkan sistem yang disebut Cortex AI, yang dirancang untuk menyamai kapasitas komputasi, efisiensi belajar, dan konsumsi daya otak manusia. “Kami membangun sistem kecerdasan sintetis pertama yang dirancang untuk menyamai kapasitas komputasi, efisiensi belajar, dan konsumsi daya otak manusia,” demikian isi proposal yang dibaca Bezos saat berada di atas kapal pesiarnya, sementara Williams menonton dengan cemas melalui Zoom.

    Reardon menjelaskan bahwa AI saat ini telah “menggali lubang untuk dirinya sendiri.” Meskipun semakin kuat, model bahasa besar (LLM) adalah konsumen daya komputasi dan data yang sangat rakus. Manusia menggunakan sekitar 20 watt energi untuk memproses informasi; satu chip dalam klaster pelatihan AI menggunakan lebih dari 30 kali lipat jumlah tersebut. Para penyedia layanan cloud skala besar membutuhkan ribuan chip dan gigawatt energi, cukup untuk memberi daya pada kota-kota kecil.

    “Ada yang fundamentally salah dengan mengatakan, ‘Saya perlu membaca setiap buku yang pernah ditulis 20 kali untuk belajar bahasa Inggris,’” kata Reardon. “Bayi manusia melakukannya dengan beberapa ratus ribu ucapan.”

    Tim Ilmuwan dan Pendanaan Besar

    Reardon dan Williams belum menemukan cara untuk membangun sistem yang menyamai keajaiban otak manusia. Namun, mereka yakin bahwa tim ahli yang didanai dengan baik—terdiri dari peneliti AI dan ilmuwan saraf yang bekerja berdampingan—dapat menemukan jawabannya. Para ilmuwan saraf akan melakukan eksperimen laboratorium basah asli dengan peralatan laboratorium paling canggih yang tersedia, untuk mencari informasi yang dapat digunakan tentang arsitektur otak.

    Ketidakjelasan proposal tersebut tidak mengganggu Jeff Bezos. Setelah membaca proposal Williams, ia menyuntikkan dana sebesar US$ 50 juta. Pendanaan lain berasal dari Lux Capital dan Google Ventures, di antaranya. Bezos kemudian hampir melipatgandakan investasi awalnya dan mengatakan kepada Reardon bahwa ia akan memberikan lebih banyak jika mereka memintanya.

    Rekrut awal lainnya adalah Greg Wayne, peneliti lama di DeepMind yang memimpin Project Astra, inisiatif asisten AI Google. CEO DeepMind Demis Hassabis berjuang untuk mempertahankan Wayne, dan mereka membuat pengaturan di mana Wayne tetap mempertahankan pekerjaannya tetapi akan menghabiskan 20 persen waktunya di Flourish. Pada akhir Maret, Reardon telah mempekerjakan sekitar dua lusin ilmuwan saraf dan peneliti AI terkemuka.

    Fokus pada Kolom Kortikal

    Tim Flourish berfokus pada struktur yang disebut kolom kortikal, yang oleh salah satu ilmuwan Flourish disebut sebagai “unit komputasi kanonik” otak. “Otak memiliki rahasia yang belum kita temukan,” kata Wayne.

    Salah satu investor Flourish adalah Jacob Vogelstein, seorang ilmuwan saraf yang beralih menjadi pemodal ventura yang, bersama saudaranya Joshua dan lainnya, memulai inisiatif ambisius yang disebut Open Connectome Project. “Idenya adalah bahwa Anda dapat mengumpulkan semua gambar otak ini dan mulai melakukan pemrosesan data untuk mencoba menafsirkan sirkuitnya,” katanya. Joshua Vogelstein—rekan pendiri Flourish—baru-baru ini menjadi rekan penulis makalah tentang jaringan saraf lalat buah dan menemukan bahwa jaringannya 10 kali lebih efisien daripada transformer, unit arsitektur inti dari LLM.

    “Metode-metode tersebut berada pada titik infleksi,” kata Nathan Danielson, seorang ilmuwan saraf dan dokter Flourish yang bekerja dengan Reardon di Meta.

    Persaingan dan Risiko

    Flourish tidak sendirian dalam mencari jawaban di otak; istilah “neuromorfik” telah menjadi hampir seperti kata kunci. Sebuah perusahaan bernama Cortical Labs menggabungkan neuron yang ditumbuhkan di laboratorium dengan chip silikon. CEO OpenAI Sam Altam mendukung Merge Labs, dengan “misi jangka panjang menjembatani kecerdasan biologis dan buatan.” Kelompok superintelijen Meta mengklaim bahwa model TRIBE v2-nya “bertindak sebagai kembaran digital dari aktivitas saraf manusia.”

    Reardon percaya bahwa keunggulan perusahaan terletak pada kelompok ilmuwan sarafnya yang luar biasa kuat. Para peneliti ini akan melakukan eksperimen laboratorium sementara tim AI membangun model yang diinformasikan oleh penemuan mereka; tim algoritme, sementara itu, mungkin menemukan petunjuk yang membantu para ilmuwan saraf. “Anda tidak benar-benar tahu apakah Anda memahami sesuatu sampai Anda dapat membangunnya, mengimplementasikannya dalam silikon,” kata Josh Morgan, seorang ilmuwan saraf Flourish.

    Mereka mengatakan terbuka untuk mempublikasikan beberapa penelitian asli mereka. “Pada dasarnya, perusahaan mencari algoritma yang mendasari kecerdasan,” kata Jacob Vogelstein, sang investor.

    Jalan Menuju Pendapatan

    Reardon mengatakan kepada WIRED bahwa timnya telah mengidentifikasi jalur menuju pendapatan jangka pendek yang memanfaatkan penelitian otak terkini. Mereka mengembangkan cara yang terinspirasi dari hipokampus untuk menangani memori yang akan memungkinkan model perusahaan untuk belajar tanpa data pelatihan yang ekstensif. Tim algoritme telah membangun model yang dapat belajar secara terus-menerus dan sedang mengerjakan untuk mewujudkannya dalam “jenis perangkat yang Anda bawa di saku Anda.” Ia menambahkan bahwa ia sedang bernegosiasi dengan produsen chip besar untuk menempatkan model tersebut pada silikon.

    Diskusi tentang eksperimen tersebut memunculkan fenomena biologis yang luas seperti bagaimana rabies menyebar di korteks dan neurobiologi kicau burung. Mereka memperdebatkan apakah mereka harus memeriksa molekul dan sinapsis atau fokus pada sel atau sirkuit skala yang lebih besar. Apakah analisis konektom pada otak tikus cukup untuk beberapa tujuan, atau hanya otak manusia yang bisa? Putusannya, untuk saat ini, tampaknya adalah mencoba semuanya.

    “Kesimpulannya adalah kami ingin melakukan pengumpulan data di seluruh skala nano, mikro, dan meso untuk mendukung penemuan algoritma inti,” kata Sean Bittner, seorang ilmuwan saraf komputasi yang juga bekerja dengan Reardon di Meta.

    Tidak ada pertanyaan bahwa Flourish membuat taruhan berisiko dan jangka panjang. Seperti yang diceritakan Williams, setelah membaca dokumen proposal, Bezos perlu tahu satu hal—apakah para pendiri berkomitmen untuk menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk ini? Ketika dia mendapat jawaban ya yang tegas, dia setuju untuk mengeluarkan jutaan dolarnya. “Anda tidak bisa menyelesaikan banyak hal dalam tiga tahun,” kata Williams. “Cara Anda membuat perbedaan besar adalah dengan merencanakan hal-hal yang memiliki nilai tujuh hingga 10 tahun ke depan.” Reardon mengatakan ia berharap Flourish memiliki solusi besarnya dalam lima tahun.

    “Saya tidak yakin itu akan berhasil,” kata Recht dari Berkeley, penasihat Flourish, tentang misi utama perusahaan. “Tapi jika berhasil, itu akan luar biasa. AI tidak akan pernah sama lagi. Dan banyak pusat data mungkin akan kosong.”

  • Robot Amazon Proteus Kini Bisa Diajak Bicara

    Robot Amazon Proteus Kini Bisa Diajak Bicara

    JBNews.id — Amazon merilis versi terbaru robot gudang otonomnya, Proteus, yang kini dapat berinteraksi menggunakan bahasa alami menggantikan kode pemrograman. Langkah ini merupakan bagian dari pergeseran besar perusahaan menuju otomatisasi yang semakin masif di fasilitas mereka.

    Peningkatan kemampuan berbasis kecerdasan buatan ini memungkinkan karyawan manusia Amazon untuk memberikan tugas kepada robot dengan cara yang sama seperti mereka berkomunikasi dengan rekan kerja. Sebelumnya, pekerja harus menggunakan perangkat lunak khusus untuk mengarahkan sistem robotik yang bergerak lambat di lantai gudang tersebut.

    Proteus dirancang untuk tugas berat seperti mengangkat dan memindahkan kereta besar di seluruh gudang Amazon. “Anda memberi tahu apa yang perlu dilakukan. Robot itu yang menentukan prioritas, rute, dan waktunya,” ujar Scott Dresser, wakil presiden Amazon Robotics.

    Generasi berikutnya dari Proteus juga akan beroperasi di area yang jauh lebih luas dibandingkan versi saat ini. Amazon menyatakan bahwa robot yang ada sekarang hanya berfungsi di area dermaga. “Sistem baru dapat bekerja di mana pun barang perlu dipindahkan,” kata perusahaan tersebut.

    Cakupan operasi ini mencakup pengangkutan kontainer saat tiba di lokasi, memindahkannya antar stasiun kerja, serta membantu karyawan di pusat pemenuhan pesanan dan lokasi pengiriman. Saat ini, sistem baru tersebut masih dalam tahap uji coba di laboratorium Amazon.

    Perusahaan memiliki rencana untuk menyebarkan Proteus di Eropa selama paruh pertama tahun 2027. Proteus merupakan bagian dari peta jalan robotika Amazon yang lebih luas. Amazon juga berencana memperluas robot sensitif sentuhan bernama Vulcan dan sistem penanganan keranjang kolaboratif yang pertama kali diuji coba di Barcelona ke lebih banyak lokasi di Eropa dalam setahun mendatang.

    Amazon menyatakan bahwa pihaknya “menciptakan lapangan kerja baru di samping teknologi ini” dan mengklaim telah mempekerjakan ratusan ribu karyawan secara global sejak memperkenalkan robotika ke dalam operasinya. Perusahaan bersikeras bahwa robot-robotnya dirancang untuk mendukung pekerja dan menyederhanakan operasi, bukan untuk menggantikan ratusan ribu pekerja dengan robot.

    Keputusan Amazon untuk menghadirkan robot yang dapat diajak bicara secara langsung menandai perubahan signifikan dalam interaksi manusia-mesin di lingkungan industri. Dengan kemampuan ini, hambatan teknis yang sebelumnya memerlukan pelatihan khusus kini dapat diminimalkan.

    Dalam konteks yang lebih luas, langkah Amazon ini sejalan dengan tren adopsi AI di sektor logistik. Beberapa perusahaan lain juga mulai mengeksplorasi teknologi serupa untuk meningkatkan efisiensi operasional mereka. Namun, Amazon menjadi salah satu pionir dengan skala implementasi yang paling ambisius.

    Scott Dresser menjelaskan bahwa pendekatan baru ini memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar. “Karyawan tidak perlu lagi mempelajari kode atau antarmuka yang rumit. Mereka cukup berbicara seperti biasa,” katanya. Hal ini diproyeksikan dapat mempercepat waktu pelatihan dan mengurangi kesalahan operasional.

    Dari sisi dampak bisnis, otomatisasi yang lebih canggih berpotensi menekan biaya operasional Amazon secara signifikan. Proteus yang dapat beroperasi di area lebih luas juga berarti perusahaan dapat mengoptimalkan tata letak gudang tanpa harus memikirkan keterbatasan pergerakan robot.

    Amazon juga menekankan aspek keselamatan kerja. Dengan robot yang mampu memahami instruksi verbal, risiko kesalahan komunikasi antara manusia dan mesin dapat dikurangi. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi prioritas tugas dan menyesuaikan rute secara real-time.

    Meskipun demikian, kekhawatiran tentang penggantian tenaga kerja manusia tetap muncul. Amazon berulang kali membantah hal ini dengan data perekrutan mereka. Namun, para pengamat industri mencatat bahwa jenis pekerjaan yang diciptakan mungkin berbeda secara fundamental dari peran yang digantikan.

    Ke depannya, keberhasilan uji coba Proteus di laboratorium akan menjadi penentu utama jadwal peluncuran komersial. Jika sesuai rencana, Eropa akan menjadi pasar pertama yang merasakan teknologi ini pada awal 2027.

    Bagi para pelaku industri logistik dan e-commerce, perkembangan ini layak dicermati. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan robot secara alami dapat menjadi standar baru dalam otomatisasi gudang. Perusahaan yang tertarik mengadopsi teknologi serupa perlu mempersiapkan infrastruktur dan pelatihan yang sesuai.

    Amazon sendiri terus mengembangkan ekosistem robotikanya. Selain Proteus dan Vulcan, perusahaan juga memiliki berbagai sistem lain yang dirancang untuk tugas spesifik di pusat distribusi mereka. Setiap sistem dikembangkan dengan fokus pada integrasi yang mulus dengan tenaga kerja manusia.

    Dalam jangka panjang, tren ini menunjukkan bahwa batas antara instruksi manusia dan eksekusi mesin semakin kabur. Robot tidak lagi sekadar alat yang diprogram, tetapi mitra kerja yang dapat diajak berdiskusi tentang tugas yang harus diselesaikan.

    Bagi konsumen akhir, efisiensi yang dihasilkan dari otomatisasi ini berpotensi mempercepat waktu pengiriman dan mengurangi biaya layanan. Namun, dampak sosial dari perubahan ini masih menjadi topik diskusi yang hangat di kalangan pembuat kebijakan dan akademisi.

    Amazon berjanji akan terus memantau dampak implementasi robotika terhadap tenaga kerja mereka. Perusahaan menyatakan bahwa data dari uji coba akan digunakan untuk menyempurnakan sistem sebelum peluncuran skala besar.

    Dengan segala potensi dan tantangannya, Proteus versi baru ini menjadi salah satu inovasi paling menarik di dunia robotika industri tahun 2026. Semua mata kini tertuju pada laboratorium Amazon untuk melihat sejauh mana teknologi ini dapat diandalkan dalam operasi nyata.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi robotik, artikel ini memberikan gambaran tentang arah industri ke depan. Amazon jelas memilih jalur otomatisasi sebagai strategi utama mereka untuk tetap kompetitif di pasar global.