Author: Hamzah Nurhamzah

  • FIFA Perkenalkan Deretan Teknologi Canggih di Piala Dunia 2026

    FIFA Perkenalkan Deretan Teknologi Canggih di Piala Dunia 2026

    JBNews.id — FIFA resmi mengintegrasikan rangkaian teknologi generasi terbaru pada gelaran Piala Dunia 2026 guna memastikan akurasi keputusan wasit dan kelancaran pertandingan. Turnamen yang dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026 ini akan menjadi panggung bagi inovasi digital, mulai dari sistem offside semi otomatis hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk visualisasi pemain.

    Fokus utama dari pembaruan ini terletak pada peningkatan kecepatan pengambilan keputusan di lapangan. FIFA menargetkan pengurangan durasi penundaan permainan yang sering terjadi akibat proses pengecekan manual, terutama dalam situasi krusial. Melalui penerapan teknologi ini, FIFA menjanjikan pengalaman pertandingan yang lebih seru dan transparan bagi pemain maupun suporter di seluruh dunia.

    Ilustrasi Trofi Piala Dunia 2026

    Revolusi Offside Semi Otomatis dan Akurasi Sensor

    Salah satu inovasi paling signifikan adalah pemanfaatan teknologi offside semi otomatis yang telah ditingkatkan. Sistem ini dirancang untuk mempercepat pengambilan keputusan wasit dan mengurangi praktik penundaan pengangkatan bendera oleh asisten wasit hingga serangan berakhir. Dalam mekanisme baru ini, asisten wasit di pinggir lapangan akan menerima peringatan audio secara real-time jika seorang pemain terdeteksi berada dalam posisi offside lebih dari 10 sentimeter.

    Peningkatan akurasi ini sangat kontras dibandingkan pengujian sebelumnya pada Piala Dunia Antarklub dan Piala Interkontinental, di mana notifikasi baru diberikan jika pemain melewati batas 50 sentimeter. Meski sistem bekerja secara otomatis, FIFA menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan asisten wasit. Mereka tetap memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kapan permainan harus dihentikan berdasarkan peringatan tersebut. Perkembangan ini sejalan dengan tren Ekosistem AI yang mulai merambah berbagai sektor industri global.

    Selain mempercepat ritme permainan, teknologi ini diharapkan mampu menekan risiko cedera pemain. Seringkali, pemain tetap melakukan kontak fisik atau sprint maksimal dalam situasi yang sebenarnya sudah offside namun belum dihentikan oleh wasit. Dengan deteksi yang lebih cepat, insiden medis yang tidak perlu dapat diminimalisir secara signifikan.

    Integrasi Kecerdasan Buatan dan Rekreasi Visual 3D

    FIFA juga memperkenalkan penggunaan avatar tiga dimensi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas visual bagi Video Assistant Referee (VAR). Sebanyak 1.248 pemain dari 48 negara peserta akan melewati proses pemindaian digital di ruangan khusus untuk menciptakan model virtual masing-masing. Proses pemindaian ini hanya memakan waktu satu detik selama sesi foto resmi turnamen. Teknologi ini berkaitan erat dengan isu Dominasi AI dalam menciptakan representasi digital yang akurat.

    Hasil dari pemindaian tersebut memungkinkan sistem menghasilkan animasi offside yang jauh lebih detail dan jelas dibandingkan sistem konvensional. Selain itu, FIFA menyetujui penggunaan chip yang tertanam di dalam bola pertandingan untuk mendeteksi pemain terakhir yang menyentuh bola. Data dari chip ini akan membantu VAR menentukan keputusan tendangan sudut atau bola keluar lapangan dengan presisi tinggi melalui animasi 3D.

    Bola Trionda Piala Dunia 2026

    Inovasi lainnya adalah teknologi “Real-time 3D Recreation”. Sistem ini dikembangkan khusus untuk membantu wasit menilai situasi offside yang melibatkan gangguan pandangan penjaga gawang (line of sight). Melalui dua tayangan virtual yang mereplikasi sudut pandang kiper, VAR dapat menentukan apakah posisi pemain lawan benar-benar menghalangi pandangan penjaga gawang saat bola ditendang.

    Meskipun sangat canggih, FIFA mengakui adanya keterbatasan teknis. Sistem ini belum mampu menangani situasi offside subjektif tanpa sentuhan bola atau mendeteksi posisi pemain yang terjatuh dan berdekatan dengan sangat rapat. Namun, dengan total Hadiah Rp9 Miliar dalam skala kompetisi lain sebagai perbandingan, investasi FIFA pada teknologi ini menunjukkan komitmen besar terhadap integritas olahraga di level tertinggi.

    Secara keseluruhan, implementasi teknologi di Piala Dunia 2026 bukan sekadar modernisasi, melainkan upaya konkret untuk mengurangi frustrasi suporter dan pemain akibat keputusan wasit yang terlambat atau tidak akurat. Bagi industri olahraga, ini menandai era baru di mana data dan visualisasi 3D menjadi instrumen utama dalam menegakkan aturan di lapangan hijau.

  • Apple Rilis AI Foto di iOS 27 dengan Pendekatan Hati-hati

    Apple Rilis AI Foto di iOS 27 dengan Pendekatan Hati-hati

    JBNews.id — Apple memperkenalkan fitur kecerdasan buatan (AI) generatif baru untuk aplikasi Foto di iOS 27, dengan pendekatan yang lebih terukur dibandingkan kompetitor seperti Google dan Samsung. Dalam agenda tahunan Worldwide Developers Conference (WWDC) pada Senin, Apple menunjukkan sejumlah kemampuan AI yang akan hadir di iPhone tahun ini, termasuk fitur Extend dan Spatial Reframe yang memungkinkan pengguna memperluas ruang di sekitar foto atau mengubah perspektif gambar dengan menghasilkan piksel buatan.

    Jon McCormack, kepala divisi kamera iPhone, menegaskan bahwa Apple tidak ingin sekadar mengikuti tren industri. “Kami tidak melakukan AI demi AI,” ujarnya. Menurut McCormack, fitur-fitur baru ini sangat disengaja dan dirancang untuk menyelesaikan masalah komposisi yang mungkin tidak disadari pengguna saat mengambil gambar. “Ada banyak masalah yang sebelumnya tidak terpecahkan, dan kini AI membantu mengatasinya,” tambahnya.

    Berbeda dengan Google yang memberikan kebebasan lebih besar dalam mengubah foto—seperti mengganti warna langit sesuai ingatan—Apple menerapkan batasan ketat. Piksel palsu yang dihasilkan hanya terbatas pada latar belakang gambar dan tidak akan mengubah piksel wajah subjek utama. Fitur Clean Up, misalnya, tidak bisa menghapus subjek utama dalam foto. Fungsi Extend hanya bisa digunakan sekali dan memperluas gambar sebesar 25 persen—pengguna tidak bisa menyimpan, mengedit ulang, dan memperluas gambar tanpa batas.

    Watermark Digital untuk Transparansi

    McCormack mengungkapkan bahwa Apple akan mengintegrasikan teknologi SynthID milik Google DeepMind tahun ini untuk menambahkan tanda air (watermark) digital yang tidak terlihat pada gambar yang telah diubah dengan AI. Platform berbagi foto dapat mendeteksi dan menandai gambar tersebut sebagai hasil editan AI. Meski demikian, McCormack mengakui bahwa penelitian telah menunjukkan watermark digital tidak sepenuhnya sempurna.

    “Foto adalah sesuatu yang benar-benar terjadi,” kata McCormack. “Kami percaya pada jurnalisme autentik untuk kehidupan Anda sendiri—saat mengambil foto, Anda membuat kenangan, menyimpan momen hidup yang bisa Anda lihat kembali. Sangat penting bagi kami untuk menciptakan alat yang menjaga kesucian momen tersebut.”

    Della Huff, manajer produk untuk perangkat lunak Kamera dan Foto Apple, mengatakan timnya melatih model AI untuk meminimalkan halusinasi yang mungkin terjadi selama penyesuaian digital. “Model ini tidak akan menciptakan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana,” ujar Huff. Sebagai contoh, saat memperluas pemandangan jalan, fitur Extend tidak akan berasumsi ada mobil yang diparkir di luar batas foto asli dan tidak akan menghasilkan objek tersebut.

    Namun, dalam pengujian beta iOS 27, ditemukan bahwa fitur Extend tetap bisa menghasilkan figur manusia palsu. Saat memperluas foto teman yang duduk di meja, aplikasi Foto menambahkan beberapa meja lengkap dengan orang palsu yang tidak pernah ada dalam kehidupan nyata. Huff menjelaskan bahwa fitur ini berusaha mencocokkan estetika yang ada. “Jika kami menetapkan aturan tidak boleh menghasilkan manusia latar belakang sama sekali, fitur ini akan menjadi kurang berguna,” katanya.

    Batas Penggunaan dan Integrasi Siri

    Apple memberikan batasan penggunaan harian untuk fitur AI baru ini, meskipun tidak merinci angka pastinya. Pengguna perlu berlangganan iCloud jika ingin menggunakan fitur Extend, Spatial Reframe, atau Clean Up berkali-kali dalam sehari.

    Salah satu tema besar WWDC tahun ini adalah penggunaan bahasa alami untuk menyelesaikan tugas. Siri kini dapat diajak bicara secara alami tanpa perintah kaku, dan akan memahami maksud pengguna. Namun, pengeditan foto dengan AI masih sepenuhnya dikendalikan manusia. Huff mengatakan Siri tidak bisa mengedit dengan fitur AI baru karena memerlukan “lebih banyak tenaga” dan sulit mengarahkan Siri melalui proses mengubah perspektif foto.

    Perubahan besar lainnya di iOS 27 adalah integrasi Siri ke dalam aplikasi Kamera. Fitur Visual Intelligence Siri—yang berfungsi seperti Google Lens—sebelumnya diaktifkan melalui tombol Camera Control. McCormack mengatakan langkah ini murni untuk mengurangi friksi. “Kamera sebenarnya adalah banyak hal—alat memorialisasi, alat pencatatan, atau sekadar alat untuk mencari tahu tanaman apa itu,” ujarnya.

    Pendekatan hati-hati Apple ini terasa kontras dengan aplikasi Image Playground yang memungkinkan pengguna membuat gambar buatan AI dengan perintah teks. Di iOS 27, Image Playground secara default menghasilkan gambar yang lebih fotorealistik kecuali pengguna menentukan gaya seni tertentu. McCormack menjelaskan bahwa penggunaan AI akan terasa berbeda tergantung konteksnya. “Di aplikasi Foto, pengguna ingin merasa aman karena kenangan tetap utuh. Di Playground, namanya sengaja dipilih—ini tempat untuk bermain,” katanya.

    “Kedua kasus penggunaan ini sama-sama valid,” tambah Huff. “Saya ingin memperbaiki foto. Foto adalah sesuatu yang terjadi, saya mengambilnya dengan kamera, dan aplikasi Foto adalah tempat saya bisa memperbaikinya. Tapi saya juga ingin menjadi kreatif dan membiarkan imajinasi saya bebas—keduanya adalah pengalaman yang sengaja dipisahkan.”

    [Fitur Terbaru](https://staging.jbnews.id/tekno/apple-tv-dan-google-tv-streamer-dapatkan-thread-1-4/) Apple di iOS 27 ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi AI dan integritas fotografi. Sementara kompetitor memberikan kebebasan lebih besar dalam mengedit gambar, Apple memilih pendekatan yang lebih restriktif untuk melindungi “kesucian momen” dalam foto. Keputusan ini bisa menjadi pertimbangan bagi pengguna yang peduli dengan keaslian gambar di era AI.

  • Amazon Echo Hub Dapatkan Pembaruan Layar Utama Gratis

    Amazon Echo Hub Dapatkan Pembaruan Layar Utama Gratis

    JBNews.id — Amazon meluncurkan pembaruan perangkat lunak gratis untuk perangkat Echo Hub yang menghadirkan antarmuka layar utama yang lebih bersih dan dapat disesuaikan sepenuhnya. Pembaruan ini menggantikan desain yang diperkenalkan saat perangkat tersebut diluncurkan pada tahun 2024.

    Pembaruan ini datang setelah Amazon sebelumnya menambahkan dukungan Alexa Plus AI ke Echo Hub. Antarmuka baru ini dirancang untuk menampung lebih banyak informasi dan kontrol rumah pintar di layar dibandingkan versi sebelumnya, memberikan pengalaman yang lebih efisien bagi pengguna.

    Selain pembaruan antarmuka, Echo Hub juga mendapatkan akses ke fitur Ring AI’s Video Search. Fitur ini memungkinkan pengguna menggunakan bahasa alami untuk mencari rekaman kamera rumah pintar mereka. Amazon juga menambahkan ringkasan peristiwa kamera yang terdeteksi oleh Alexa Plus, meningkatkan fungsionalitas keamanan perangkat.

    Lima Fitur Baru Echo Hub

    Amazon menyoroti lima fitur baru utama untuk Echo Hub dalam pembaruan ini. Fitur-fitur tersebut dirancang untuk memberikan kontrol yang lebih besar dan personalisasi yang lebih dalam bagi pengguna rumah pintar.

    Organize by room: Pengguna kini dapat mengatur dasbor berdasarkan ruangan atau fungsi, seperti “Bedroom,” “Downstairs,” atau “Climate.” Navigasi ke grup yang ada menggunakan bilah bawah, pilih grup dan tekan lama untuk mengedit. Tambahkan atau hapus perangkat, seret untuk mengatur ulang urutannya, dan kendalikan semua perangkat dalam grup secara bersamaan dengan satu ketukan.

    Create groups: Fitur ini memungkinkan pengguna menavigasi ke tombol “Add group” di bilah bawah, memilih nama, dan menambahkan perangkat ke grup tersebut. Grup baru yang dibuat akan dapat diakses melalui kontrol suara dan aplikasi juga.

    Arrange and resize sections and tiles: Pengguna dapat dengan mudah menambah, menghapus, dan mengatur bagian dengan tindakan seret dan lepas sederhana. Fitur ini memungkinkan pembuatan tata letak yang sesuai dengan cara pengguna menggunakan rumah pintar mereka. Ukuran ubin perangkat juga dapat diubah untuk membuat perangkat yang sering digunakan menjadi lebih besar.

    Access granular device settings: Dengan mengetuk tiga titik pada perangkat yang terhubung, pengguna dapat mengakses kontrol yang lebih detail. Contohnya, mengetuk lampu untuk mengakses peredupan presisi (0-100%) dan penyesuaian warna, atau menggunakan roda warna pada bohlam yang kompatibel untuk memilih dari berbagai warna. Tombol daya pada setiap ubin memberikan kontrol hidup/mati instan.

    Quick access to common Routines: Pengguna dapat mengakses Rutinitas yang paling sering digunakan langsung dari layar utama menggunakan bagian otomatisasi atau tab otomatisasi, dan memicunya dengan satu ketukan.

    Pembaruan antarmuka ini merupakan langkah signifikan bagi Amazon dalam meningkatkan pengalaman pengguna Echo Hub. Dengan antarmuka yang lebih bersih dan dapat disesuaikan, pengguna dapat mengelola perangkat rumah pintar mereka dengan lebih efisien. Fitur-fitur baru seperti pencarian video dengan bahasa alami juga menambah nilai tambah bagi ekosistem rumah pintar Amazon.

    Pembaruan perangkat lunak ini tersedia secara gratis untuk semua perangkat Echo Hub yang ada. Pengguna dapat mengakses pembaruan melalui pengaturan perangkat mereka. Amazon sebelumnya telah meluncurkan Fitur Terbaru untuk lini Echo lainnya, menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan produk rumah pintarnya.

    Bagi pengguna yang ingin memaksimalkan pengalaman rumah pintar mereka, pembaruan ini menawarkan fleksibilitas yang lebih besar. Kemampuan untuk mengatur perangkat berdasarkan ruangan atau fungsi, serta akses cepat ke Rutinitas, membuat Echo Hub menjadi pusat kendali yang lebih efektif. Amazon juga terus mengintegrasikan teknologi AI, seperti Alexa Plus, untuk memberikan Teknologi Terbaru dalam pengelolaan rumah pintar.

    Dengan pembaruan ini, Echo Hub tidak hanya menjadi perangkat kontrol, tetapi juga asisten rumah pintar yang lebih cerdas. Fitur Ring AI’s Video Search dan ringkasan peristiwa kamera memberikan lapisan keamanan tambahan yang mudah digunakan. Pengguna dapat dengan cepat mencari rekaman tertentu tanpa harus memutar ulang seluruh rekaman secara manual.

    Pembaruan antarmuka juga mencerminkan tren industri menuju personalisasi yang lebih besar. Pengguna dapat menyesuaikan tata letak sesuai preferensi mereka, membuat perangkat lebih intuitif dan mudah digunakan. Ini adalah langkah maju dalam membuat teknologi rumah pintar lebih mudah diakses oleh semua orang.

    Amazon terus berinovasi dalam ekosistem rumah pintarnya. Pembaruan untuk Echo Hub ini adalah contoh bagaimana perusahaan mendengarkan umpan balik pengguna dan meningkatkan produk mereka. Dengan antarmuka yang lebih baik dan fitur baru yang kuat, Echo Hub menjadi pilihan yang lebih menarik bagi mereka yang ingin membangun rumah pintar yang terintegrasi.

    Pembaruan ini juga menunjukkan pentingnya perangkat lunak dalam ekosistem perangkat keras. Meskipun Echo Hub telah diluncurkan pada tahun 2024, pembaruan perangkat lunak yang signifikan dapat memperpanjang umur dan relevansi perangkat. Amazon berkomitmen untuk memberikan dukungan berkelanjutan bagi produk-produknya.

    Bagi pengguna yang sudah memiliki Echo Hub, pembaruan ini dapat diakses melalui menu pengaturan perangkat. Disarankan untuk memperbarui perangkat untuk mendapatkan pengalaman terbaik. Pembaruan ini gratis dan tidak memerlukan perangkat keras baru.

    Dengan semua fitur baru ini, Echo Hub semakin memperkuat posisinya sebagai pusat kendali rumah pintar yang komprehensif. Amazon terus mengembangkan ekosistemnya, dan pembaruan ini adalah bukti komitmen mereka untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.

  • FIFA Bawa Piala Dunia 2026 ke Roblox dengan Skor Langsung

    FIFA Bawa Piala Dunia 2026 ke Roblox dengan Skor Langsung

    JBNews.id — FIFA secara resmi membawa Piala Dunia 2026 ke platform metaverse Roblox melalui game FIFA Super Soccer, yang akan menampilkan seluruh 48 tim nasional peserta, skor pertandingan langsung, dan klasemen grup secara real-time. Peluncuran ini bertepatan dengan dimulainya World Cup 2026 pada 12 Juni 2026, menjadikannya salah satu aktivasi olahraga resmi terbesar yang pernah ada di Roblox.

    FIFA Super Soccer, yang merupakan pengalaman resmi FIFA di Roblox, akan bertransformasi menjadi hub utama FIFA World Cup 2026. Pengalaman ini tidak hanya menghadirkan seluruh 48 tim nasional peserta, tetapi juga replika stadion-stadion resmi FIFA World Cup 2026, berbagai misi dalam game, serta hadiah eksklusif bagi para pemain. Dengan integrasi ini, penggemar sepak bola di seluruh dunia dapat merasakan euforia Piala Dunia secara langsung di dalam game favorit mereka.

    Fitur yang paling menarik adalah integrasi jalannya turnamen secara real-time. FIFA akan menghubungkan data pertandingan nyata ke dalam game, termasuk klasemen grup dan skor pertandingan langsung dari dunia nyata. Ini berarti pemain Roblox dapat mengikuti perkembangan turnamen secara langsung tanpa harus beralih ke platform lain. Aktivasi ini juga diperluas ke lima pengalaman Roblox lainnya, sehingga total ada enam game berbeda yang terhubung. Hal ini mengubah Roblox menjadi destinasi global bagi penggemar FIFA World Cup.

    Para pemain bisa bermain, berkompetisi, mengumpulkan item langka, dan merayakan turnamen secara bersama-sama dengan atmosfer yang selaras dengan event di dunia nyata. Dengan kata lain, FIFA ingin menciptakan pengalaman yang imersif dan interaktif bagi generasi digital.

    Sukses Besar FIFA di Roblox

    Kolaborasi antara FIFA dengan Roblox bukanlah hal baru dan sudah menuai hasil yang gemilang. Game resmi FIFA di platform ini telah mencatat lebih dari 1,1 miliar kunjungan dan rata-rata 1,5 juta sesi permainan per hari. Angka ini menunjukkan betapa besarnya minat pengguna Roblox terhadap konten sepak bola yang disajikan oleh FIFA.

    Pengalaman ini juga menjadi rumah bagi berbagai aktivasi merek dan klub ternama. Beberapa mitra yang sudah bergabung antara lain adidas, Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF), U.S. Soccer, serta Borussia Dortmund. Ke depannya, FIFA berencana untuk menghadirkan lebih banyak kolaborasi serupa.

    “FIFA telah meraih kesuksesan besar di Roblox dan kini ingin membawa kolaborasi ini ke tingkat yang lebih tinggi,” ungkap pihak FIFA dalam pernyataan resmi. Pernyataan ini menegaskan komitmen FIFA untuk terus berinovasi dalam menjangkau penggemar muda melalui platform digital.

    Gen Z dan Olahraga di Roblox

    Peluncuran aktivasi FIFA World Cup ini bertepatan dengan rilis laporan “Sports as Shared Self-Expression” yang disusun Roblox bersama Ipsos. Laporan tersebut mengungkap bagaimana generasi muda, khususnya Gen Z, menjadikan olahraga sebagai bagian penting dari identitas, partisipasi, dan komunitas mereka di dunia digital.

    Beberapa temuan utama dari laporan tersebut sangat mencengangkan. Pada semester kedua (H2) 2025, tercatat sebanyak 1,1 miliar jam dihabiskan pengguna di pengalaman olahraga Roblox. Angka ini naik 154% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, terdapat 5,6 miliar kunjungan ke berbagai pengalaman olahraga di Roblox sepanjang H2 2025.

    Survei juga menunjukkan dampak nyata dari interaksi digital terhadap minat di dunia nyata. Sebanyak 61% responden Gen Z mengatakan interaksi dengan olahraga di Roblox membuat mereka lebih tertarik menonton olahraga tersebut di dunia nyata. Sementara itu, 68% menyatakan minat terhadap olahraga di dunia nyata mendorong mereka mengakses konten olahraga di Roblox. Yang lebih menarik, 58% menemukan olahraga baru lewat Roblox yang kemudian mereka ikuti di kehidupan nyata.

    Di segmen sepak bola, keterlibatan Gen Z sudah sangat tinggi. Sebanyak 72% di antaranya menonton sepak bola setidaknya sekali seminggu, sementara 26% berencana mengikuti olahraga ini lebih dekat dalam lima tahun ke depan. Bagi mereka, menjadi penggemar sepak bola bukan hanya soal menonton, melainkan pengalaman sosial, interaktif, dan digital yang utuh.

    Dengan aktivasi FIFA World Cup 2026 ini, Roblox semakin memperkuat posisinya sebagai platform yang menghubungkan olahraga dunia nyata dengan generasi digital. Para penggemar muda kini bisa merasakan euforia Piala Dunia tidak hanya dari layar televisi, tapi juga langsung di dalam game favorit mereka.

    Langkah ini juga sejalan dengan berbagai inovasi teknologi yang diterapkan FIFA di Piala Dunia 2026. Seperti Kamera Wasit untuk siaran langsung dan Digital Twin Pemain pada teknologi VAR. Semua ini menunjukkan komitmen FIFA untuk menghadirkan pengalaman yang lebih imersif dan modern bagi para penggemar sepak bola di seluruh dunia.

    Implikasinya bagi pembaca, terutama para penggemar sepak bola dan pengguna Roblox, adalah bahwa mereka kini memiliki cara baru untuk menikmati Piala Dunia 2026. Tidak perlu lagi hanya menonton di televisi, mereka bisa berpartisipasi secara langsung dalam euforia turnamen melalui platform digital yang interaktif. Ini adalah bukti bagaimana teknologi metaverse mulai mengubah cara kita mengonsumsi dan berinteraksi dengan olahraga.

  • SLM Sektor Keuangan: Cathay FHC Pamerkan Hasil Riset di GTC Taipei

    SLM Sektor Keuangan: Cathay FHC Pamerkan Hasil Riset di GTC Taipei

    JBNews.id — Cathay Financial Holdings (Cathay FHC) memaparkan hasil riset terbaru model bahasa kecil (SLM) yang telah disempurnakan untuk layanan keuangan di ajang NVIDIA GTC Taipei 2026. SLM open source ini mampu mengelompokkan kebutuhan nasabah dengan kinerja mendekati model bahasa besar (LLM) closed-source terdepan.

    Setelah membuktikan potensi LLM untuk sektor keuangan pada tahun lalu, Cathay FHC kini menunjukkan bahwa SLM yang telah disempurnakan dapat menjadi solusi yang lebih efisien. Hasil riset ini dipresentasikan di hadapan para pelaku industri teknologi dan keuangan yang hadir dalam acara bergengsi tersebut.

    Studi tersebut mengevaluasi sejumlah model open source terkemuka yang dikembangkan oleh Meta, TAIDE, TAME, NVIDIA, dan OpenAI. Hasil awal menunjukkan bahwa SLM yang telah disempurnakan berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap teknik prompt engineering yang kompleks serta modul vector retrieval. Pendekatan ini dapat menyederhanakan arsitektur sistem dan menekan kompleksitas operasional serta pemeliharaan sistem pada masa mendatang.

    Dalam tugas klasifikasi kebutuhan nasabah, SLM yang telah disempurnakan ini menghasilkan kinerja yang mendekati LLM closed-source yang banyak beredar, bahkan hampir menandingi kemampuan model terdepan. Temuan ini menjadi referensi praktis bagi perusahaan untuk menyusun strategi pelatihan dan implementasi model AI.

    Dari sisi tata kelola data dan privasi, penelitian ini menggunakan pendekatan data sintetis sehingga tidak memanfaatkan informasi nasabah dalam proses pelatihan model. Cathay FHC juga menerapkan berbagai teknik, termasuk pengelompokan fungsi layanan, perancangan rangkaian data untuk kebutuhan tunggal maupun ganda, lokalisasi konteks Taiwan, serta perluasan kata kunci. Pendekatan tersebut memperkuat kemampuan model dalam memahami konteks layanan keuangan lokal, terminologi industri, serta pertanyaan nasabah yang bersifat ambigu.

    Model bahasa kecil yang telah disempurnakan ini mampu memahami konteks layanan keuangan lokal, istilah industri, hingga pertanyaan nasabah yang ambigu. Hal ini menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang lebih responsif dan personal.

    Cathay FHC menilai teknologi tersebut dapat diterapkan pada berbagai layanan masa depan, seperti pengecekan saldo kredit pemilikan rumah (KPR), bantuan pembayaran kartu kredit, hingga navigasi layanan cabang. Pengembangan ini menjadi fondasi bagi layanan pencarian cerdas, pengalihan layanan secara otomatis, serta pengalaman interaksi nasabah generasi berikutnya.

    Dari sisi arsitektur teknologi, Cathay FHC mengintegrasikan berbagai perangkat AI NVIDIA, termasuk NVIDIA NeMo Customizer, NVIDIA NeMo Curator, dan NVIDIA TensorRT-LLM, serta memanfaatkan sumber daya komputasi berbasis arsitektur NVIDIA Hopper. Infrastruktur tersebut mendukung proses pembuatan data, penyesuaian model, optimalisasi inferensi, hingga evaluasi eksperimen.

    Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kombinasi antara rangkaian data sektor keuangan yang dirancang secara cermat dan proses penyempurnaan yang terarah mampu meningkatkan stabilitas model, efisiensi inferensi, serta kendali dalam proses implementasi.

    Dengan ekosistem AI NVIDIA, Cathay FHC terus memperkuat kapabilitasnya dalam pengembangan model khusus sektor keuangan, tata kelola data, dan validasi aplikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Cathay FHC secara konsisten memperluas inovasi AI di berbagai skenario layanan keuangan.

    Cathay FHC membangun fondasi teknologi yang dapat dikembangkan untuk mendukung optimalisasi proses internal, peningkatan layanan nasabah, pemahaman pengetahuan keuangan, hingga tata kelola model AI. Di tengah regulasi yang semakin ketat, tuntutan tata kelola data, serta ekspektasi nasabah yang cepat berubah, Cathay FHC menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan riset AI yang aman, tangguh, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Ke depan, Cathay FHC akan terus mengeksplorasi teknologi klasifikasi berbasis konteks panjang, pemahaman dokumen keuangan tingkat lanjut, serta penerapan AI lintas-skenario. Perusahaan ini juga akan terus mengembangkan metode pelatihan dan implementasi model yang dirancang khusus untuk sektor keuangan guna mempercepat inovasi dan menghadirkan layanan keuangan yang lebih cerdas, efisien, serta berorientasi pada kebutuhan nasabah.

    Pendekatan yang digunakan Cathay FHC ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan siber dan privasi di era AI. Penggunaan data sintetis menjadi solusi yang relevan untuk menjaga kerahasiaan informasi nasabah.

    Pengembangan SLM ini juga menjadi alternatif yang lebih efisien dibandingkan ketergantungan pada LLM besar yang membutuhkan sumber daya komputasi masif. Hal ini sejalan dengan tren industri yang mulai beralih ke fokus pusat data AI yang lebih terukur dan aplikatif.

    Implikasi dari riset ini bagi industri keuangan sangat jelas: perusahaan tidak lagi harus bergantung pada model AI raksasa yang mahal dan kompleks. SLM yang telah disempurnakan dapat menjadi solusi yang lebih terjangkau, efisien, dan tetap memberikan kinerja yang kompetitif dalam tugas-tugas spesifik seperti klasifikasi kebutuhan nasabah.

  • Internet BAKTI Jadi Andalan Warga Perbatasan, Trafik Tembus 100 Mbps

    Internet BAKTI Jadi Andalan Warga Perbatasan, Trafik Tembus 100 Mbps

    JBNews.id — Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berhasil menghadirkan konektivitas internet berkecepatan tinggi di wilayah perbatasan. Trafik internet di Pos TNI AL Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menembus angka 100 Mbps pada Mei 2026, menjadikannya bukti nyata bahwa layanan digital sangat dibutuhkan di daerah 3T.

    Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, mengungkapkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari pembangunan titik akses internet di berbagai lokasi strategis di Pulau Maratua. “Di lokasi Pos TNI AL Pulau Maratua itu penggunaan layanan akses internetnya sudah tinggi. Terlihat sampai di titik puncak 100 Mbps di bulan Mei atau satu bulan terakhir,” kata Darien kepada awak media di Pulau Maratua, Kamis (11/6).

    Pencapaian 100 Mbps ini dinilai istimewa karena layanan disalurkan melalui satelit, bukan jaringan serat optik yang umum digunakan di perkotaan. “Karena untuk koneksi satelit sampai 100 Mbps itu pencapaian yang sangat baik. Kalau optik 100 Mbps itu hal biasa karena menggunakan kabel fisik, sedangkan satelit ini tidak ada kabel fisik melainkan gelombang frekuensi, tapi bisa mencapai 100 Mbps,” paparnya.

    Selain Pos TNI AL, tingkat penggunaan tinggi juga tercatat di Kantor Kepala Kampung Payung-Payung dengan trafik sekitar 50 Mbps, dan SDN 001 Payung-Payung yang mencapai hampir 40 Mbps. Data ini menunjukkan bahwa kehadiran internet di wilayah 3T benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan, pelayanan publik, hingga akses informasi.

    Dari sisi jumlah pengguna, data BAKTI menunjukkan SDN 001 Payung-Payung mencatat sebanyak 502 pengguna, Kantor Kepala Kampung Payung-Payung digunakan oleh 339 pengguna, dan Pos TNI AL Pulau Maratua oleh 368 pengguna. “Dapat disimpulkan memang layanan akses internet yang disediakan oleh BAKTI ini sangat bermanfaat, terlihat dari tingkat mobilitas dan utilisasinya yang tinggi,” kata Darien.

    Darien Aldiano

    Seluruh layanan akses internet tersebut ditopang oleh Satelit Republik Indonesia atau SATRIA-1, satelit multifungsi milik pemerintah yang masih merupakan salah satu satelit terbesar di Asia. Menurut Darien, keberhasilan menghadirkan konektivitas hingga ke pulau-pulau terluar menjadi bukti bahwa SATRIA-1 mampu menjembatani tantangan geografis Indonesia.

    “Kita cukup bangga di mana negara kita dengan segala tantangan geografisnya, punya satelit yang betul-betul milik pemerintah dan dioperasikan langsung oleh SDM-SDM lokal Indonesia di 11 gateway, serta bisa memberikan layanan sampai dengan 100 Mbps di satu titik,” ujarnya. Capaian ini menjadi langkah maju dalam upaya pemerataan akses digital di seluruh Indonesia.

    Keberhasilan BAKTI di Pulau Maratua membuktikan bahwa investasi infrastruktur digital di wilayah terluar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan trafik yang terus meningkat dan jumlah pengguna yang signifikan, layanan internet BAKTI menjadi andalan utama warga perbatasan untuk mengakses informasi, pendidikan, dan layanan publik.

    Implikasinya, model pengembangan infrastruktur berbasis satelit seperti SATRIA-1 dapat menjadi solusi efektif untuk daerah-daerah terpencil lainnya di Indonesia. Ke depannya, pemerintah diharapkan terus memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan agar kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan perbatasan semakin mengecil.

  • Smartphone Jadi Biang Kerok Penurunan Angka Kelahiran Global

    Smartphone Jadi Biang Kerok Penurunan Angka Kelahiran Global

    JBNews.id — Studi terbaru dari National Bureau of Economic Research (NBER) mengungkapkan bahwa kehadiran smartphone, khususnya iPhone, menjadi salah satu faktor utama penurunan angka kelahiran di Amerika Serikat sejak 2007. Penelitian yang dilakukan dua akademisi dari Middlebury College ini memperkirakan bahwa iPhone menyumbang hingga 52% penurunan angka kelahiran antara 2007 dan 2011.

    Peneliti menggunakan cakupan jaringan seluler AT&T sebagai indikator akses awal iPhone. iPhone dijual secara eksklusif melalui bundling dengan operator AT&T sejak diluncurkan pada 2007 hingga Februari 2011. Dengan membandingkan angka kelahiran di wilayah yang terjangkau jaringan AT&T dengan wilayah yang minim akses broadband seluler, mereka menemukan korelasi signifikan antara adopsi smartphone dan penurunan angka kelahiran.

    “iPhone, dan era smartphone yang dipeloporinya, secara signifikan mempercepat penurunan angka kelahiran di AS setelah tahun 2007,” tulis para peneliti dalam makalahnya, seperti dikutip dari Gizmodo, Kamis (11/6/2026).

    Tiga Mekanisme Utama

    Setelah membandingkan temuannya dengan data survei nasional, tim peneliti menunjukkan tiga mekanisme yang mungkin menjelaskan dampak iPhone terhadap angka kelahiran.

    Pertama, konektivitas online dan kebangkitan media sosial yang dipicu oleh adopsi smartphone berarti iPhone menjadi pengganti untuk interaksi tatap muka. Kedua, iPhone mempermudah akses ke pornografi, yang dapat menjadi pengganti seks bagi sebagian orang. Terakhir, bagi mereka yang masih berhubungan seks, smartphone memberikan akses ke informasi tentang kontrasepsi dan aborsi, yang menurut peneliti dapat menurunkan angka kehamilan yang tidak diinginkan.

    “Seiring dengan meluasnya penggunaan smartphone, waktu yang dihabiskan dengan teman secara langsung dan aktivitas seksual menurun tajam seiring dengan meningkatnya konsumsi pornografi, yang mungkin menjadi pengganti seks dengan pasangan,” tulis peneliti.

    Dampak Paling Kuat pada Kaum Muda

    Meskipun efek tersebut diamati di semua kelompok usia, para peneliti menemukan efek tersebut sangat kuat di kalangan kaum muda. Mereka menemukan akses ke iPhone berkorelasi dengan penurunan angka kelahiran sebesar 4,5-8% pada usia 15-19 tahun dan sebesar 3,2-6,6% pada usia 20-24 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang paling terpengaruh oleh fenomena ini.

    Angka kelahiran di seluruh dunia mulai menurun sejak awal tahun 2000-an. Studi ini memberikan perspektif baru bahwa teknologi, khususnya smartphone flagship, memiliki peran yang tidak terduga dalam tren demografi global. Peneliti menekankan bahwa efek ini bukan hanya soal akses ke konten dewasa, tetapi juga perubahan fundamental dalam cara manusia berinteraksi.

    Implikasi dari temuan ini sangat luas. Jika tren ini berlanjut, penurunan angka kelahiran dapat berdampak pada struktur populasi, pasar tenaga kerja, dan sistem jaminan sosial di berbagai negara. Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini patut dicermati mengingat penetrasi smartphone di Tanah Air juga sangat tinggi, dengan berbagai merek seperti smartphone terjangkau yang semakin memudahkan akses digital bagi semua kalangan.

    Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa teknologi bukan sekadar alat, melainkan agen perubahan sosial yang dapat mengubah perilaku manusia secara fundamental, termasuk dalam hal reproduksi dan hubungan interpersonal.

  • Amazon Ungkap Konsumsi Air Data Center di Tengah Moratorium Seattle

    Amazon Ungkap Konsumsi Air Data Center di Tengah Moratorium Seattle

    JBNews.id — Amazon untuk pertama kalinya mengungkapkan total konsumsi air dari pusat data globalnya, yang mencapai 2,5 miliar galon sepanjang 2025. Pengungkapan ini muncul setelah Seattle memberlakukan moratorium pembangunan data center selama satu tahun yang didorong oleh sebagian karyawan Amazon sendiri.

    Dalam laporan yang dirilis perusahaan, Amazon menyatakan konsumsi air tersebut setara dengan 0,12 liter per kilowatt-jam listrik yang digunakan. Angka ini menunjukkan penurunan dua persen dibandingkan total konsumsi tahun 2024, meskipun Amazon terus memperluas operasi data centernya.

    Amazon mengklaim efisiensi penggunaan airnya lebih baik dibandingkan beberapa pesaing besar di sektor teknologi. Sebuah grafik dalam laporan Amazon membandingkan data Microsoft, Google, dan Meta yang menunjukkan masing-masing menggunakan lebih banyak air per kilowatt-jam daripada Amazon dalam beberapa tahun terakhir.

    Google tercatat sebagai pengguna air terbesar di antara perusahaan-perusahaan tersebut. Namun, data yang dikutip Amazon tampaknya hanya berfokus pada pusat data spesifik untuk Gemini AI milik Google, sementara Amazon melaporkan data untuk seluruh operasinya.

    Laporan Amazon tidak memperhitungkan penggunaan air tidak langsung di pembangkit listrik yang menyuplai energi untuk data centernya. Selain itu, konsumsi air dari pembangunan data center baru juga tidak termasuk dalam angka yang dilaporkan.

    Amazon menyatakan bahwa sekitar 90 persen waktunya, pusat data mereka menggunakan pendingin udara. Sistem pendingin evaporatif berbasis air hanya digunakan pada jam-jam terpanas di hari-hari terpanas. Perusahaan juga telah meningkatkan toleransi panas server mereka untuk mengurangi kebutuhan pendinginan.

    Amazon mengklaim data centernya tujuh kali lebih efisien dalam penggunaan air dibandingkan rata-rata industri. Klaim ini didasarkan pada angka yang disesuaikan dari sebuah makalah penelitian yang telah ditinjau sejawat dan dirilis tahun lalu.

    Kebijakan transparansi Amazon ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang konsumsi air dan energi yang terkait dengan pembangunan pusat data AI baru. Perselisihan internal di Amazon sebelumnya telah memicu protes dari karyawan yang mengkritik ekspansi data center di tengah gelombang PHK massal.

    Moratorium Seattle yang berlangsung selama satu tahun menjadi latar belakang penting bagi pengungkapan data ini. Kebijakan tersebut didorong oleh kekhawatiran tentang dampak lingkungan dari pusat data, termasuk konsumsi air dan energi yang besar.

    Data menunjukkan bahwa efisiensi air Amazon justru membaik meskipun terjadi ekspansi operasi. Penurunan dua persen dalam total konsumsi air pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya merupakan pencapaian yang signifikan mengingat pertumbuhan bisnis cloud dan AI Amazon yang terus berlanjut.

    Amazon telah mengadopsi strategi pendinginan hibrida yang menggabungkan udara dan air. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada air tanpa mengorbankan kinerja server. Peningkatan toleransi panas server juga membantu mengurangi frekuensi penggunaan sistem pendingin berbasis air.

    Perbandingan dengan pesaing menunjukkan bahwa Amazon unggul dalam efisiensi air per kilowatt-jam. Namun, metodologi pelaporan yang berbeda membuat perbandingan langsung menjadi tidak sederhana. Google, misalnya, melaporkan data yang lebih spesifik untuk pusat data AI tertentu, sementara Amazon melaporkan rata-rata seluruh operasinya.

    Ketidakikutsertaan konsumsi air tidak langsung dalam laporan Amazon menjadi catatan penting. Air yang digunakan di pembangkit listrik untuk menghasilkan energi bagi pusat data Amazon tidak termasuk dalam angka 2,5 miliar galon tersebut. Hal ini berarti dampak lingkungan sebenarnya dari operasi Amazon mungkin lebih besar dari yang dilaporkan.

    Pembangunan pusat data baru juga tidak diperhitungkan dalam laporan ini. Proses konstruksi data center membutuhkan air dalam jumlah signifikan, terutama untuk pencampuran beton dan pengendalian debu.

    Amazon menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan efisiensi air. Perusahaan menargetkan untuk menjadi “water positive” pada tahun 2030, yang berarti mengembalikan lebih banyak air ke lingkungan daripada yang dikonsumsinya.

    Tekanan dari karyawan dan masyarakat menjadi faktor pendorong transparansi ini. Sebelumnya, Amazon Luncurkan Sleep Studio untuk anak di Echo, menunjukkan diversifikasi produk perusahaan. Sementara itu, kekhawatiran tentang dampak lingkungan dari pusat data AI terus menjadi perdebatan global.

    Moratorium Seattle menjadi preseden yang mungkin diikuti oleh kota-kota lain. Kekhawatiran tentang konsumsi air dan energi dari pusat data AI mendorong regulator untuk mempertimbangkan kebijakan serupa. Amazon dan perusahaan teknologi lainnya harus beradaptasi dengan tuntutan transparansi yang semakin meningkat.

    Industri pusat data global menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan tanggung jawab lingkungan. Konsumsi air yang besar menjadi isu sensitif, terutama di daerah yang rawan kekeringan. Inovasi dalam teknologi pendinginan menjadi kunci untuk mengurangi dampak lingkungan.

    Amazon mengklaim bahwa data centernya tujuh kali lebih efisien daripada rata-rata industri. Jika klaim ini akurat, maka perusahaan lain memiliki celah besar untuk meningkatkan efisiensi air mereka. Makalah penelitian yang menjadi dasar klaim ini memberikan validasi independen terhadap data Amazon.

    Namun, para kritikus berpendapat bahwa efisiensi saja tidak cukup. Total konsumsi air absolut Amazon yang mencapai miliaran galon tetap menjadi perhatian serius. Mereka mendesak Amazon untuk mengadopsi teknologi pendinginan yang sama sekali tidak menggunakan air.

    Pengungkapan data ini terjadi di tengah persaingan ketat di pasar AI. Amazon, Microsoft, Google, dan Meta berlomba membangun infrastruktur AI yang membutuhkan daya komputasi besar. Pusat data AI diketahui membutuhkan lebih banyak energi dan air dibandingkan pusat data tradisional.

    Amazon melaporkan bahwa sekitar 90 persen waktu operasinya, data center menggunakan pendingin udara. Ini berarti hanya 10 persen waktu yang membutuhkan pendingin evaporatif berbasis air. Strategi ini membantu Amazon mengurangi konsumsi air secara signifikan.

    Peningkatan toleransi panas server juga menjadi faktor kunci. Dengan mengizinkan server beroperasi pada suhu yang lebih tinggi, Amazon mengurangi kebutuhan akan pendinginan intensif. Ini tidak hanya menghemat air tetapi juga energi.

    Implikasi dari pengungkapan data ini bagi pembaca adalah meningkatnya kesadaran tentang dampak lingkungan dari layanan digital yang digunakan sehari-hari. Setiap streaming video, pencarian Google, atau interaksi dengan asisten AI membutuhkan energi dan air di pusat data. Konsumen dapat mendorong perusahaan untuk lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Amazon telah menunjukkan bahwa transparansi dimungkinkan meskipun ada tekanan kompetitif. Perusahaan lain di industri ini mungkin akan mengikuti langkah Amazon untuk memenuhi tuntutan publik akan akuntabilitas lingkungan.

    Ke depannya, efisiensi air akan menjadi faktor penting dalam keputusan lokasi pembangunan pusat data baru. Daerah dengan sumber daya air terbatas mungkin akan menolak pembangunan data center baru jika perusahaan tidak dapat menunjukkan komitmen terhadap konservasi air.

    Amazon juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan efisiensi air saat memperluas kapasitas AI-nya. Teknologi AI generatif membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar, yang berpotensi meningkatkan konsumsi air dan energi secara eksponensial.

    Perusahaan teknologi besar lainnya juga berada di bawah tekanan serupa. Microsoft telah berjanji untuk menjadi “water positive” pada tahun 2030, sementara Google telah mencapai netralitas air pada tahun 2023. Meta juga telah mengumumkan target konservasi air yang ambisius.

    Persaingan untuk menjadi yang terdepan dalam efisiensi air akan mendorong inovasi di seluruh industri. Teknologi pendinginan baru, desain pusat data yang lebih efisien, dan penggunaan energi terbarukan akan menjadi fokus utama investasi.

    Bagi Amazon, pengungkapan data ini merupakan langkah awal menuju transparansi yang lebih besar. Perusahaan masih perlu melaporkan konsumsi air tidak langsung dan dampak dari pembangunan data center baru. Tekanan dari karyawan dan publik akan terus mendorong Amazon untuk meningkatkan standar pelaporannya.

    Data yang dirilis Amazon memberikan gambaran yang lebih jelas tentang skala dampak lingkungan dari pusat data modern. Dengan konsumsi 2,5 miliar galon air per tahun, Amazon adalah salah satu pengguna air korporat terbesar di dunia. Namun, klaim efisiensi yang lebih baik dibandingkan pesaing menunjukkan bahwa perusahaan telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya.

    Moratorium Seattle menjadi pengingat bahwa regulator dan masyarakat semakin memperhatikan dampak lingkungan dari pusat data. Perusahaan yang gagal beradaptasi dengan tuntutan ini berisiko menghadapi hambatan regulasi dan reputasi yang merugikan.

    Amazon telah menunjukkan bahwa pertumbuhan dan efisiensi dapat berjalan beriringan. Penurunan dua persen dalam konsumsi air absolut meskipun ada ekspansi operasi adalah bukti bahwa langkah-langkah efisiensi yang tepat dapat menghasilkan hasil yang positif.

    Namun, tantangan masih besar. Dengan pertumbuhan AI yang diperkirakan akan terus berlanjut, konsumsi air dan energi dari pusat data akan meningkat secara signifikan. Perusahaan harus terus berinovasi untuk menjaga dampak lingkungan tetap terkendali.

    Amazon menyatakan akan terus melaporkan data konsumsi air secara tahunan. Transparansi ini akan memungkinkan publik dan regulator untuk memantau kemajuan perusahaan dalam mencapai target keberlanjutannya. Ini juga akan memberikan tekanan pada pesaing untuk mengikuti standar pelaporan yang sama.

    Bagi industri pusat data secara keseluruhan, langkah Amazon ini dapat menjadi katalis untuk perubahan. Jika perusahaan terbesar di dunia dapat mengungkapkan data konsumsi airnya, maka perusahaan lain tidak memiliki alasan untuk tidak melakukan hal yang sama. Transparansi akan menjadi norma baru di industri ini.

  • Grok xAI Kembali Dipakai Buat Deepfake Eksplisit Tanpa Izin

    Grok xAI Kembali Dipakai Buat Deepfake Eksplisit Tanpa Izin

    JBNews.id — Chatbot Grok milik Elon Musk masih digunakan untuk memproduksi dan menghosting gambar serta video eksplisit nonkonsensual, berbulan-bulan setelah perusahaan AI-nya, xAI, mengatakan akan memberlakukan pembatasan untuk menghentikan pembuatan deepfake seksual yang berpotensi berbahaya. Temuan ini muncul saat SpaceX, perusahaan induk xAI, bersiap melantai di bursa pada Jumat ini dalam salah satu IPO terbesar sepanjang masa.

    Analisis WIRED terhadap kreasi publik menemukan bahwa sistem AI generatif Grok Imagine telah digunakan untuk membuat dan menghosting gambar serta video yang menggambarkan selebritas dan setidaknya satu politisi ditahan melawan kehendak mereka oleh seorang pria raksasa, menggambarkan wanita melakukan tindakan seksual, dan menampilkan ketelanjangan penuh. Sementara beberapa gambar dan video sepenuhnya dihasilkan AI atau dalam gaya animasi, lainnya bersifat fotorealistik dan menunjukkan skenario dunia nyata yang masuk akal.

    WIRED meninjau ratusan tautan Grok Imagine publik yang dihosting di Grok.com dan menemukan puluhan di antaranya mengarah ke gambar dan video AI yang seksual, termasuk yang dibuat tanpa persetujuan subjek. Beberapa tautan yang dibuat di Grok.com kemudian dibagikan di X, termasuk dalam beberapa hari terakhir. Unggahan tersebut, yang tidak menunjukkan stempel waktu kapan dibuat, kemungkinan hanya gambaran sekilas dari apa yang dibuat oleh orang-orang yang menggunakan sistem Grok Imagine, karena generasi tampaknya tidak dibuat publik secara default.

    Sistem AI generatif lain menggunakan lebih banyak pengaman daripada Grok, yang tersedia di situs webnya sendiri dan di X. “Sementara Grok dan X mungkin telah membuat beberapa amandemen pada model mereka, terutama setelah reaksi balik terkait nudifikasi di awal tahun, mereka masih belum melakukan pekerjaan yang memadai untuk meningkatkannya ke standar alat utama lain yang tersedia,” kata Henry Ajder, seorang pakar deepfake yang telah melacak konten AI eksplisit secara online selama hampir satu dekade.

    Gelombang Gugatan dan Investigasi Regulator

    xAI milik Musk telah menghadapi gelombang gugatan dan pengawasan dari regulator di seluruh dunia sejak Januari, ketika implementasi Grok di X digunakan untuk membuat banjir gambar “nudifikasi.” Orang-orang di X—terutama pria—meminta chatbot untuk mengedit gambar agar menunjukkan wanita dalam “bikini” atau “string bikini.” Dalam beberapa kasus, gambar anak di bawah umur diduga juga disexualisasikan, menurut gugatan class action yang diajukan di pengadilan federal California pada Maret. Sejak itu, xAI mengatakan telah memperkenalkan pengaman untuk membatasi dan mencegah pembuatan deepfake nonkonsensual dan seksual. Perusahaan secara konsisten mengatakan bahwa materi pelecehan seksual anak (CSAM) dilarang di platformnya.

    Baik xAI maupun X tidak segera menanggapi permintaan komentar WIRED mengenai banyaknya gambar seksual yang dihosting di Grok.com. Setelah WIRED menghubungi perusahaan-perusahaan tersebut, gambar dan video eksplisit yang ditemukan WIRED dihosting di Grok.com tampaknya sudah tidak tersedia lagi, dan tautan Grok Imagine yang dibagikan di X dihapus karena melanggar kebijakan. “Kami dengan tegas melarang pengguna menghasilkan deepfake eksplisit nonkonsensual dan menggunakan alat kami untuk menelanjangi orang sungguhan,” kata akun keamanan di X pada bulan April menanggapi laporan NBC tentang deepfake seksual yang masih dibuat.

    Di antara unggahan yang dihosting di Grok.com, WIRED mengidentifikasi gambar dan video yang menggambarkan banyak selebritas serta anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez. (Juru bicara Ocasio-Cortez tidak segera menanggapi permintaan komentar WIRED). Dalam video tersebut, para wanita digambarkan mengenakan pakaian minim sambil ditahan di kepalan tangan “raksasa” seorang pria. Salah satu prompt menggambarkan seorang selebritas ditahan melawan kehendaknya saat dia “memohon padanya untuk tidak melakukan ini.” Prompt itu menambahkan: “Cengkeraman tangan raksasa itu padanya mengencang, menahannya di tempat saat pria raksasa yang menahannya mencondongkan tubuh dan menjilati wajahnya dari atas ke bawah.”

    Dua prompt yang digunakan untuk menghasilkan materi di Grok ditolak oleh ChatGPT milik OpenAI, Meta AI, dan Claude milik Anthropic sebagai tidak pantas saat diuji oleh WIRED. Gemini milik Google memang membuat gambar salah satu selebritas yang ditahan di tangan raksasa, meskipun menolak prompt lain. Google menolak berkomentar.

    Dampak pada Korban dan Kritik Publik

    Satu video Grok Imagine, yang juga diunggah ke X, tampaknya menggambarkan Ashley St. Clair yang diubah menjadi menari dalam bikini. St. Clair sebelumnya menjalin hubungan dengan Musk dan merupakan ibu dari salah satu anaknya. Pada Januari, dia memulai tindakan hukum terhadap xAI setelah deepfake seksualnya diduga muncul di X. Setelah WIRED menghubungi X, unggahan tersebut dihapus dari platform media sosial karena melanggar aturannya.

    Carrie Goldberg, pengacara St. Clair dan advokat terkemuka melawan citra seksual nonkonsensual, mengatakan pembuatan materi pelecehan seksual yang menampilkan selebritas bukanlah hal baru—tetapi kemampuan untuk membuat jenis gambar ini dan segera membagikannya di media sosial adalah perkembangan yang “bersejarah.” “Jadi ada publikasi instan dari gambar telanjang digital,” kata Goldberg kepada WIRED. “Dan tidak hanya itu, tetapi orang terkaya di dunia mempromosikan teknologi nudifikasi kepada 240 juta pengikutnya di X, memonetisasinya, dan melakukannya di platform yang untuk usia 13+.”

    Imran Ahmed, CEO dan pendiri Center for Countering Digital Hate, menggemakan kekhawatiran Goldberg. “Elon Musk dengan sengaja menambahkan fitur bejat ke platformnya yang membantu pengguna menelanjangi wanita dan anak-anak dengan sekali klik, tanpa memedulikan kerusakan yang dapat diprediksi akan ditimbulkannya,” klaim Ahmed. Pada Januari, CCDH memperkirakan dengan tingkat kepercayaan tinggi bahwa Grok menciptakan 3 juta gambar seksual, yang diduga termasuk lebih dari 20.000 gambar anak-anak. “Sekarang tampaknya konten eksplisit masih dihosting di Grok dan dibagikan di X, termasuk gambar yang mengejek ibu dari anak Musk.”

    Tidak seperti sistem AI generatif lain dari OpenAI dan Google, Grok dan xAI milik Musk tidak mundur dari mengizinkan konten seksual secara umum, setelah sebelumnya memperkenalkan mode “Spicy” dan “Unhinged” dan awalnya menyertakan lebih sedikit pengaman. Musk telah menyatakan Grok “seharusnya mengizinkan ketelanjangan tubuh bagian atas dari manusia dewasa imajiner” dan konsisten dengan apa yang mungkin dilihat pemirsa di film berperingkat R. Persyaratan layanan terbaru dari xAI mengatakan sistem dapat merespons dengan “situasi seksual.” Namun, dokumentasi perusahaan mengatakan tidak mengizinkan orang menggunakan sistemnya untuk “menyebabkan bahaya atau terlibat dalam aktivitas kasar.”

    Video Grok Imagine lain yang dilihat WIRED menunjukkan wanita, yang kemungkinan sepenuhnya dihasilkan AI, menanggalkan pakaian atau terlibat dalam tindakan seksual—beberapa sepenuhnya eksplisit. Prompt pengguna untuk banyak video tidak selalu secara langsung menggambarkan tindakan seksual, tetapi menggambarkannya dengan cara tidak langsung—kemungkinan upaya untuk menghindari pengaman yang digunakan di platform Grok.

    Banyak peneliti memberi tahu WIRED bahwa sejak Januari tampaknya perubahan yang diperkenalkan oleh X dan Grok telah mempersulit pembuatan gambar “nudifikasi” atau “telanjangi” orang sungguhan. Jumlah gambar ini yang diposting ke X tampaknya telah menurun dalam beberapa bulan terakhir. Di Reddit dan satu forum deepfake AI khusus, pengguna telah mengeluh tentang peningkatan moderasi dari perusahaan milik SpaceX.

    Namun demikian, pada bulan Mei, SpaceX memperingatkan calon investor bahwa mereka telah menyisihkan $530 juta untuk menangani keluhan hukum yang sedang berlangsung, termasuk yang terkait dengan Grok. “Karena mode ini mungkin lebih tidak sopan dan lebih keras daripada penawaran standar kami, mode ini menghadirkan risiko yang meningkat, termasuk kerusakan reputasi, pembuatan konten yang berpotensi eksplisit dan misinformasi atau keluaran yang menipu, citra nonkonsensual atau eksploitatif potensial, pelanggaran kekayaan intelektual, atau konten yang dapat dipandang sebagai eksploitatif, berbahaya, melecehkan, kasar, atau diskriminatif,” demikian bunyi pengajuannya pada bulan Mei.

    Menjelang IPO SpaceX pada hari Jumat, Komisioner Privasi Kanada menerbitkan temuan awal investigasinya terhadap pelanggaran deepfake xAI dan Grok pada bulan Januari. Investigasi tersebut menuduh xAI melanggar undang-undang privasi sektor swasta federal Kanada dengan tidak menyertakan “pengaman yang tepat sejak awal.” Investigasi mengatakan xAI memberi tahu Komisioner Privasi bahwa mereka telah memperkenalkan pengaman baru untuk mencegah orang berhasil meminta Grok mengubah pakaian dalam gambar dan bahwa xAI telah memperkenalkan “pemeriksaan proaktif lebih lanjut” dari situs web media sosial untuk menemukan konten yang melanggar. Namun, investigasi mengatakan Komisioner Privasi tidak yakin dengan perubahan tersebut. “Para responden belum, hingga saat ini, menunjukkan efektivitas pengaman ini dalam mencegah dan mengurangi masalah ini,” kata investigasi tersebut.

    Implikasi faktual dari temuan ini sangat luas. Gugatan class action yang sudah berjalan dan pengawasan global menunjukkan bahwa pengaman yang dijanjikan xAI belum efektif. Bagi pengguna biasa, ini berarti risiko penyalahgunaan AI generatif masih tinggi di platform yang mengklaim telah memperbaikinya. Bagi investor SpaceX yang akan masuk dalam IPO, ini adalah risiko litigasi senilai $530 juta yang belum terselesaikan.

  • Protes Kontrak Palantir di NHS, Aktivis Khawatirkan Data Kesehatan

    Protes Kontrak Palantir di NHS, Aktivis Khawatirkan Data Kesehatan

    **JBNews.id —** Sekitar 80 pengunjuk rasa memadati pintu masuk NHS ConfedExpo di Manchester pada Selasa pagi waktu setempat, menuntut penghentian kontrak senilai hingga USD 440 juta dengan Palantir Technologies. Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap keamanan nasional, privasi data, dan afiliasi politik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut.

    Kontrak yang mencakup akses ke layanan analitik data dan kecerdasan buatan Palantir ini direncanakan berjalan hingga 2031. Namun, terdapat klausul pemutusan yang memungkinkan pemerintah Inggris menarik diri dari perjanjian tersebut pada Februari tahun depan. Para pengunjuk rasa yang berlindung di bawah pohon dari guyuran hujan membawa poster bertuliskan “Patients vs. Palantir.”

    “Palantir harus diusir dari NHS, segera,” kata John, seorang perawat NHS yang ikut dalam aksi, kepada WIRED. Ia khawatir data kesehatan sensitif akan jatuh ke tangan entitas asing dan keberatan dengan kerja sama Palantir dengan US Immigration and Customs Enforcement serta militer Israel. Beberapa pengunjuk rasa juga mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk penolakan terhadap keterkaitan Palantir dengan Israel.

    Aksi ini diorganisir oleh Pull the Plug, kelompok aktivis yang peduli terhadap dampak sosial dari perkembangan AI yang tidak terkendali. Organisasi seperti Amnesty International dan Unison, serikat pekerja yang mewakili tenaga kesehatan, turut hadir dalam demonstrasi tersebut.

    “Ini tidak semuanya buruk. Tapi ada begitu banyak tempat di mana ini dipaksakan,” ujar Frieda Lurken, salah satu pendiri Pull the Plug yang memimpin yel-yel. “Kami ingin masyarakat biasa mendapatkan suara dalam bagaimana AI digunakan dalam hidup kita.”

    Sejarah Kerja Sama Pemerintah Inggris dengan Palantir

    Pemerintah Inggris pertama kali bekerja sama dengan Palantir pada 2020, di awal pandemi Covid-19, saat berupaya melacak virus. Sejak saat itu, perusahaan dan mitranya telah memenangkan sejumlah kontrak dengan badan sektor publik di Inggris, dengan argumen dapat meningkatkan efisiensi melalui penggalian pola dalam data yang tidak teratur.

    Di bawah kontrak dengan NHS, Palantir bertugas mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dikumpulkan di seluruh layanan kesehatan melalui “federated data platform.” Tujuannya adalah menurunkan waktu tunggu dan menemukan pemborosan. Namun, hubungan antara pemerintah Inggris dan Palantir telah menjadi sorotan.

    Komentar yang dibuat pada 2023 oleh salah satu pendiri Palantir, Peter Thiel, yang mengatakan Inggris harus “merobek seluruh NHS dari akar dan memulai lagi,” memicu pertanyaan tentang kesesuaian perusahaan sebagai kontraktor pemerintah Inggris. Sebuah manifesto poin-poin yang diterbitkan oleh Palantir, berdasarkan buku terbaru CEO Alex Karp, juga menimbulkan kekhawatiran tentang keberpihakan politik.

    Palantir berulang kali membantah dipandu oleh ideologi politik tertentu. “Palantir tidak monolitik secara politik. Kami tidak mewakili politik partai,” kata Louis Mosley, kepala bisnis Eropa Palantir, dalam wawancara baru-baru ini. “Kami tidak sayap kanan maupun sayap kiri. Kami memiliki spektrum penuh pandangan politik di dalam perusahaan.” Palantir tidak menanggapi permintaan komentar.

    Efektivitas Platform Data Palantir Dipertanyakan

    Ada juga pertanyaan mengenai efektivitas platform data NHS milik Palantir. Meskipun perusahaan mengklaim telah memotong waktu tunggu dan membantu memaksimalkan penggunaan ruang operasi, divisi NHS yang bertanggung jawab atas Greater Manchester menolak menggunakan platform Palantir. Mereka mengklaim bahwa perangkat lunak internal mereka mencapai hasil yang jauh lebih baik.

    “Ini adalah kasus penggunaan yang seharusnya tidak Anda alihdayakan, dan Anda tentu tidak mengalihdayakannya ke luar negeri,” kata Laura Gilbert, direktur senior AI di Tony Blair Institute, kepada WIRED. “Kita harus belajar dari data itu dan membangun layanan kesehatan yang lebih baik, bukan mengizinkan perusahaan luar negeri untuk belajar dan membangun produk yang lebih baik untuk dijual kepada orang lain.”

    Ayub Bhayat, direktur data dan analitik di NHS, mengatakan kepada WIRED bahwa platform data federasi membantu pasien “sambil menghemat uang untuk tim NHS dan pembayar pajak.” “Tidak ada keharusan untuk menggunakannya,” katanya.

    Tekanan Politik dan Langkah Hukum

    Pada awal Juni, anggota parlemen menerbitkan laporan yang memperingatkan bahwa ketergantungan Inggris yang semakin besar pada Palantir merupakan “titik kelemahan yang tidak dapat diterima.” Komite parlemen berpendapat bahwa perusahaan berada di jalur yang tepat untuk menjadi sangat terjerat di sektor publik, memberikan pengaruh besar atas negara Inggris. Laporan tersebut juga menggambarkan “ketidaksesuaian yang jelas dengan nilai-nilai Inggris.”

    Setelah laporan itu diterbitkan, sekretaris teknologi Inggris, Liz Kendall, mengatakan bahwa pemerintah sedang melakukan tinjauan terhadap “setiap aspek” kontrak NHS dengan Palantir sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan kesepakatan tersebut. Menanggapi laporan dalam opini yang diterbitkan oleh The Telegraph, Mosley menuduh para anggota parlemen “menempatkan politik di atas pasien” dan menakut-nakuti tentang kemungkinan perusahaan menyalahgunakan aksesnya ke data kesehatan sensitif.

    “Setiap kepercayaan NHS mengontrol datanya sendiri; Palantir tidak dapat menggunakannya, menjualnya, atau memindahkannya,” tulisnya. Terlepas dari apakah pemerintah memutuskan untuk melanjutkan kontrak NHS, Palantir telah menunjukkan kesediaan untuk melawan upaya pengusirannya dari sektor publik Inggris.

    Menurut The Times, perusahaan bersiap untuk menggugat wali kota London, Sadiq Khan, yang memblokir kesepakatan senilai USD 65 juta dengan Kepolisian Metropolitan dengan alasan kekhawatiran tentang proses pengadaan dan “nilai-nilai.” Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan bagaimana Palantir gugat wali kota London terkait kontrak yang dibatalkan.

    Harapan dan Kekhawatiran di Kalangan Pengunjuk Rasa

    Beberapa jam setelah demonstrasi dimulai, para pengunjuk rasa mundur ke kafe di perpustakaan umum terdekat. Kelompok itu berbagi optimisme atas peningkatan momentum di balik seruan untuk mengusir Palantir dari NHS, terutama setelah laporan parlemen. “Kami memiliki kesempatan besar ini sekarang, karena klausul pemutusan,” kata Lurken, salah satu pendiri Pull the Plug.

    Namun, ada juga pandangan bahwa perhatian publik yang baru terhadap masalah Palantir bisa menjadi bumerang jika pemerintah memutuskan untuk melanjutkan kontrak. Pengunjuk rasa lain, yang memberikan nama JJ dan mengidentifikasi dirinya sebagai praktisi NHS, mengatakan ia khawatir bahwa ketenaran Palantir dapat menyebabkan pasien yang sudah gugup berpikir dua kali sebelum memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan mereka.

    “Kami tahu bahwa orang tidak ingin memberi tahu kami segalanya. Orang sudah tidak percaya. Mereka hanya akan tutup mulut,” kata JJ. “Kami akan mendapatkan lebih sedikit informasi, lebih sedikit riwayat untuk dapat membantu orang.”

    Perkembangan ini menunjukkan bagaimana kontrak teknologi besar dengan sektor publik terus menjadi perdebatan hangat, terutama terkait data sensitif seperti kesehatan. Sementara itu, pengembangan kacamata pintar dengan AI dan fitur kesehatan juga menunjukkan bagaimana teknologi semakin terintegrasi dalam layanan kesehatan.

    Implikasinya bagi pembaca: kontrak senilai ratusan juta dolar ini tidak hanya menyangkut efisiensi birokrasi, tetapi juga menyentuh isu fundamental tentang siapa yang berhak mengelola data kesehatan warga negara. Keputusan pemerintah Inggris dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi preseden penting bagi masa depan digitalisasi layanan kesehatan di negara maju.