Internet BAKTI Jadi Andalan Warga Perbatasan, Trafik Tembus 100 Mbps

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi Darien Aldiano di Pulau Maratua

JBNews.id — Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berhasil menghadirkan konektivitas internet berkecepatan tinggi di wilayah perbatasan. Trafik internet di Pos TNI AL Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menembus angka 100 Mbps pada Mei 2026, menjadikannya bukti nyata bahwa layanan digital sangat dibutuhkan di daerah 3T.

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, mengungkapkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari pembangunan titik akses internet di berbagai lokasi strategis di Pulau Maratua. “Di lokasi Pos TNI AL Pulau Maratua itu penggunaan layanan akses internetnya sudah tinggi. Terlihat sampai di titik puncak 100 Mbps di bulan Mei atau satu bulan terakhir,” kata Darien kepada awak media di Pulau Maratua, Kamis (11/6).

Pencapaian 100 Mbps ini dinilai istimewa karena layanan disalurkan melalui satelit, bukan jaringan serat optik yang umum digunakan di perkotaan. “Karena untuk koneksi satelit sampai 100 Mbps itu pencapaian yang sangat baik. Kalau optik 100 Mbps itu hal biasa karena menggunakan kabel fisik, sedangkan satelit ini tidak ada kabel fisik melainkan gelombang frekuensi, tapi bisa mencapai 100 Mbps,” paparnya.

Selain Pos TNI AL, tingkat penggunaan tinggi juga tercatat di Kantor Kepala Kampung Payung-Payung dengan trafik sekitar 50 Mbps, dan SDN 001 Payung-Payung yang mencapai hampir 40 Mbps. Data ini menunjukkan bahwa kehadiran internet di wilayah 3T benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan, pelayanan publik, hingga akses informasi.

Dari sisi jumlah pengguna, data BAKTI menunjukkan SDN 001 Payung-Payung mencatat sebanyak 502 pengguna, Kantor Kepala Kampung Payung-Payung digunakan oleh 339 pengguna, dan Pos TNI AL Pulau Maratua oleh 368 pengguna. “Dapat disimpulkan memang layanan akses internet yang disediakan oleh BAKTI ini sangat bermanfaat, terlihat dari tingkat mobilitas dan utilisasinya yang tinggi,” kata Darien.

Darien Aldiano

Seluruh layanan akses internet tersebut ditopang oleh Satelit Republik Indonesia atau SATRIA-1, satelit multifungsi milik pemerintah yang masih merupakan salah satu satelit terbesar di Asia. Menurut Darien, keberhasilan menghadirkan konektivitas hingga ke pulau-pulau terluar menjadi bukti bahwa SATRIA-1 mampu menjembatani tantangan geografis Indonesia.

“Kita cukup bangga di mana negara kita dengan segala tantangan geografisnya, punya satelit yang betul-betul milik pemerintah dan dioperasikan langsung oleh SDM-SDM lokal Indonesia di 11 gateway, serta bisa memberikan layanan sampai dengan 100 Mbps di satu titik,” ujarnya. Capaian ini menjadi langkah maju dalam upaya pemerataan akses digital di seluruh Indonesia.

Keberhasilan BAKTI di Pulau Maratua membuktikan bahwa investasi infrastruktur digital di wilayah terluar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan trafik yang terus meningkat dan jumlah pengguna yang signifikan, layanan internet BAKTI menjadi andalan utama warga perbatasan untuk mengakses informasi, pendidikan, dan layanan publik.

Implikasinya, model pengembangan infrastruktur berbasis satelit seperti SATRIA-1 dapat menjadi solusi efektif untuk daerah-daerah terpencil lainnya di Indonesia. Ke depannya, pemerintah diharapkan terus memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan agar kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan perbatasan semakin mengecil.