Author: Hamzah Nurhamzah

  • Pakar AI Peringatkan Risiko, Pemerintah Percepat Regulasi

    Pakar AI Peringatkan Risiko, Pemerintah Percepat Regulasi

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan bahwa pertemuannya dengan pakar AI dunia, Joshua Bengio, justru dipenuhi peringatan serius tentang risiko kecerdasan buatan. Dalam forum Bravo 500 Summit 2026 di Singapura, Meutya duduk berdampingan dengan Bengio dan berharap mendengar cerita tentang masa depan AI yang cerah. Namun, 80 persen pembicaraan Bengio justru berisi pesan untuk berhati-hati dalam mengatur teknologi ini.

    “Saya sangat excited ketika itu duduk di samping beliau. Saya pikir beliau akan banyak menceritakan bagaimana AI ke depan, merubah berbagai hal, membantu banyak orang. Itu juga betul. Dia bicara sedikit tentang itu,” kata Meutya di Jakarta, Kamis (11/6/2026). “Tapi porsi pembicaraan dia ketika duduk dengan kami kurang lebih 80 persen menyatakan bahwa ‘you have to regulate cautiously’,” lanjutnya.

    Peringatan dari Joshua Bengio, yang dikenal sebagai salah satu pionir AI, menjadi pengingat keras bagi pemerintah Indonesia. Meutya menjelaskan bahwa Bengio lebih banyak menyoroti pentingnya mitigasi risiko dibanding hanya membicarakan peluang teknologi. “Dia lebih banyak menyampaikan hal-hal yang bersifat mitigasi terhadap kerusakan-kerusakan yang potensi terjadi,” ujarnya.

    Regulasi AI Jadi Prioritas Pemerintah

    Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinan pemerintah bahwa pengembangan AI harus dibarengi dengan regulasi yang memadai. Meutya menilai kecepatan perkembangan AI saat ini menimbulkan tantangan besar bagi pemerintah, regulator, pelaku industri, hingga masyarakat. “Siap atau tidak regulasi, siap atau tidak pemerintah, siap atau tidak masyarakat. Jadi ini hal-hal yang mungkin saya yakin nanti pembicara banyak perspektif,” imbuhnya.

    Pemerintah Indonesia memilih untuk mengambil langkah aktif dalam menyiapkan regulasi AI agar inovasi tetap berkembang tanpa mengorbankan keamanan dan kepentingan publik. “Bagi kami sebagai regulator, inovasi harus diterima dengan tangan yang amat terbuka. Tapi pada saat yang sama, perlindungan terhadap masyarakat juga harus menjadi perhatian utama,” pungkas Meutya.

    Diskusi mengenai AI kini tidak hanya berkutat pada optimisme dan peluang ekonomi, tetapi juga menyangkut kekhawatiran, mitigasi risiko, dan perlindungan masyarakat. Meutya menilai sebagian negara menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi terhadap AI dibandingkan antusiasme untuk mengadopsinya.

    Isu ini semakin relevan mengingat berbagai tantangan yang muncul dari penggunaan AI. Misalnya, kasus penyalahgunaan AI untuk membuat deepfake eksplisit tanpa izin menunjukkan betapa pentingnya pengawasan ketat. Selain itu, ada juga insiden di mana advokat menggunakan AI dalam sidang hingga hakim membatalkan persidangan.

    Implikasi bagi Masyarakat dan Industri

    Peringatan dari Joshua Bengio memiliki implikasi luas bagi pengguna AI di Indonesia. Regulasi yang ketat tidak hanya melindungi masyarakat dari risiko, tetapi juga memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk berinovasi secara bertanggung jawab. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menyeimbangkan antara inovasi dan perlindungan publik.

    Meutya menekankan bahwa diskusi mengenai AI kini tidak bisa lagi hanya bersifat optimistis. “Siap atau tidak regulasi, siap atau tidak pemerintah, siap atau tidak masyarakat,” tegasnya, menunjukkan urgensi langkah konkret. Pemerintah telah memastikan bahwa Perpres AI akan terbit tahun ini untuk mengatur pengembangan dan penggunaan teknologi ini.

    Bagi masyarakat, pesan dari pakar AI ini adalah bahwa teknologi yang tampak menjanjikan juga membawa risiko yang perlu diantisipasi. Regulasi yang baik akan membantu memastikan AI digunakan untuk kebaikan, bukan untuk merugikan. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengambil langkah proaktif dalam menyiapkan kerangka regulasi yang komprehensif.

    Dengan semakin cepatnya perkembangan AI, Indonesia harus siap menghadapi tantangan yang ada. Regulasi yang tepat waktu dan tepat sasaran akan menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi AI sambil melindungi kepentingan publik.

  • Agen AI Generasi Baru Bisa Singkirkan Keyboard dan Mouse

    Agen AI Generasi Baru Bisa Singkirkan Keyboard dan Mouse

    JBNews.id — Nvidia, Microsoft, Google, dan sejumlah raksasa teknologi lainnya memperkenalkan inovasi chip, laptop, dan perangkat lunak baru yang dirancang untuk menggerakkan agen AI. Teknologi ini diyakini mampu membuka jalan bagi masa depan komputasi yang tidak lagi bergantung pada keyboard dan mouse.

    Setidaknya satu dekade, perusahaan teknologi berusaha mengembangkan komputer untuk menangani tugas-tugas rumit atas nama pengguna. Namun, upaya tersebut sebagian besar belum memberi hasil memuaskan. Asisten digital seperti Alexa dan Siri umumnya hanya digunakan untuk hal sederhana seperti alarm dan memutar musik. Kini, beberapa perusahaan teknologi terbesar meyakini situasinya segera berubah.

    “Tujuan akhirnya adalah mencari tahu, ‘Hei, bagaimana caranya saya cukup memberi tahu komputer apa yang pada dasarnya ingin saya lakukan, lalu membiarkannya mengerjakannya?’” kata Bob O’Donnell, kepala analis di firma riset Technalysis.

    Ekosistem PC dan AI Lokal

    Pada 1 Juni lalu, Nvidia meluncurkan chip baru laptop Windows bernama RTX Spark untuk menjalankan agen AI tanpa perlu terhubung cloud. Chip ini memadukan teknologi grafis, komputasi, dan jaringan Nvidia dengan kapasitas memori lebih besar dari laptop standar. Dell, HP, dan Lenovo dijadwalkan akan merilis deretan komputer dengan chip baru ini. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan chip ini dapat disimak dalam artikel Nvidia RTX Spark.

    Sementara itu, perangkat Googlebooks mendatang akan mampu menyarankan tindakan ketika pengguna mengarahkan mouse pada sesuatu di layar. Contohnya, secara otomatis menawarkan untuk mengatur jadwal rapat setelah kursor diarahkan ke tanggal di email. Asisten generasi sebelumnya memang mampu menangani tugas tunggal tapi belum mampu melakukan pekerjaan dengan banyak tahapan atau memahami preferensi pribadi. Ini mulai berubah setelah model bahasa besar meroket popularitasnya menyusul peluncuran ChatGPT.

    Otonomi Agen AI

    OpenClaw, asisten AI yang ramai diperbincangkan, mungkin contoh paling nyata tentang bagaimana AI mengubah kebiasaan komputasi. Ia dapat menjalankan program dan menyelesaikan permintaan tanpa perlu terus-menerus diberi instruksi. Sejumlah karyawan di teknologi dilaporkan bahkan mulai memberi perintah suara ke agen AI alih-alih mengetik. Fenomena ini juga terkait dengan laporan bahwa Traffic Bot Kalahkan Manusia untuk pertama kalinya.

    “Situasinya sangat berbeda sekarang karena lebih banyak orang sudah terbiasa menggunakan layanan seperti ChatGPT, Gemini, atau Anthropic,” ujar David Naranjo, dari Counterpoint Research.

    Baru-baru ini, CEO Nvidia Jensen Huang, mendemonstrasikan bagaimana laptop yang berjalan dengan salah satu chip barunya dapat membantu merancang desain rumah menggunakan agen AI yang beroperasi lintas aplikasi pemodelan 3D. Di sisi lain, Microsoft menciptakan agen baru Microsoft 365 yang disebut Scout, menggunakan teknologi OpenClaw. Scout dapat beroperasi mengelola berbagai konten di cloud, di komputer pribadi, maupun di web, termasuk aplikasi seperti Outlook dan Teams. Nvidia sendiri telah Nvidia Konfirmasi Tiga Generasi RTX Spark untuk mendukung AI agent.

    Meski menjanjikan, ahli meyakini sebagian besar orang masih belum akan mengendalikan komputer mereka secara utuh hanya dengan perintah suara dalam waktu dekat. Salah satu alasannya adalah karena laptop generasi baru tersebut kemungkinan besar mahal. Kebutuhan konsumen belum cukup mendesak membeli laptop baru demi mengimbangi lompatan teknologi.

    “Teknologi ini belum menjadi sesuatu yang mutlak dibutuhkan, bukan? Dan saya pikir di situlah tantangan yang harus dihadapi Nvidia, Microsoft, dan pemain lainnya,” tambah Naranjo.

    Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri, implikasi dari teknologi ini sangat jelas: interaksi manusia dengan komputer sedang berada di titik balik. Namun, adopsi massal masih akan terhambat oleh faktor harga dan belum adanya kebutuhan yang mendesak bagi konsumen rata-rata untuk mengganti perangkat mereka saat ini.

  • Huasun Energy Cetak Lompatan Peringkat di GreenTech 2026

    Huasun Energy Cetak Lompatan Peringkat di GreenTech 2026

    JBNews.id — Huasun Energy, perusahaan teknologi surya heterojunction (HJT) asal Tiongkok, menempati peringkat ke-12 dalam daftar “World’s Top GreenTech Companies 2026” yang dirilis TIME bersama Statista. Pencapaian ini menandai lompatan signifikan, setelah tahun lalu berada di posisi ke-34.

    Dalam waktu satu tahun, peringkat Huasun melesat 22 posisi sehingga menjadi perusahaan Tiongkok dengan peringkat tertinggi dalam daftar tersebut. TIME dan Statista menyusun pemeringkatan ini dengan menilai lebih dari 8.300 perusahaan di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, hanya 250 perusahaan teknologi hijau yang terpilih berdasarkan kinerja lingkungan hidup, kekuatan finansial, dan kapasitas inovasi.

    Konsistensi pada Teknologi HJT Berbuah Pengakuan

    “Pengakuan tersebut membuktikan bahwa keputusan Huasun mengembangkan teknologi HJT sejak awal berdiri merupakan langkah yang tepat,” ujar Chairman Huasun Energy, Dr. Xiaohua (Jimmy) Xu. “Langkah tersebut bukanlah pilihan yang paling mudah. Namun, kami percaya, teknologi ini akan menentukan masa depan industri tenaga surya.”

    Xu menambahkan bahwa selama bertahun-tahun, Huasun terus memperkuat kemampuan riset dan pengembangan, memperluas portofolio paten, serta mengubah berbagai terobosan teknologi menjadi produk yang kini dipercaya pelanggan di seluruh dunia. Saat ini, modul HJT buatan Huasun mencatat kinerja unggul dalam efisiensi sel produksi massal, keandalan, dan hasil energi sepanjang masa pakai. Keunggulan tersebut lahir berkat pengembangan teknologi yang konsisten, serta pengalaman rekayasa proses dan akumulasi kekayaan intelektual selama bertahun-tahun.

    Selain mengembangkan produk generasi terkini, Huasun juga merintis lini produksi percontohan sel tandem HJT-perovskite berkapasitas 100 MW. Inisiatif tersebut membuka jalan menuju teknologi fotovoltaik generasi baru dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi. Huasun juga tengah mengembangkan teknologi surya HJT untuk kebutuhan antariksa, serta menjajaki integrasi tenaga surya dengan infrastruktur komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Langkah tersebut memperkuat posisi HJT sebagai teknologi energi masa depan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari aplikasi terestrial hingga sektor-sektor baru yang membutuhkan pasokan energi besar.

    Ekspansi Global yang Didukung Kepercayaan Pasar

    Dalam waktu kurang dari enam tahun, Huasun telah mengirimkan lebih dari 16 GW modul HJT ke berbagai proyek di lebih dari 80 negara dan wilayah. Teknologi HJT menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari tingkat bifaciality yang tinggi, koefisien suhu yang rendah, hingga jejak karbon yang lebih kecil. Kombinasi tersebut membuat teknologi ini semakin dipercaya oleh pengembang proyek, kontraktor EPC, dan investor sektor energi di berbagai belahan dunia.

    Pencapaian Huasun di pemeringkatan global ini menunjukkan bahwa investasi pada satu jalur teknologi, yakni HJT, dapat menghasilkan dampak signifikan dalam waktu relatif singkat. Dengan kapasitas pengiriman yang terus bertambah dan inovasi yang berkelanjutan, Huasun memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam transisi energi global. Bagi pelaku industri dan investor, perkembangan ini menjadi indikator bahwa teknologi HJT memiliki potensi besar untuk mendominasi pasar tenaga surya di masa depan, seiring dengan meningkatnya permintaan akan solusi energi yang efisien dan rendah karbon.

    Informasi lebih lanjut mengenai Huasun Energy dapat diakses melalui situs resmi perusahaan di www.huasunsolar.com.

  • Startup World PHK Karyawan, Regulator Jadi Batu Sandungan

    Startup World PHK Karyawan, Regulator Jadi Batu Sandungan

    JBNews.id — Tools for Humanity, perusahaan rintisan di balik proyek kripto dan pemindai mata World (sebelumnya Worldcoin) besutan Sam Altman, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawannya. Langkah ini diambil karena perusahaan kesulitan meyakinkan regulator soal keamanan data dan gagal membuktikan kemampuan mencetak keuntungan.

    Berdasarkan laporan Business Insider, karyawan Tools for Humanity telah diberitahu mengenai pemangkasan ini melalui email internal dari tim HRD pada Senin lalu. Dalam memo tersebut, perusahaan beralasan harus melakukan perubahan pada sejumlah peran dan tim sebagai bagian dari pergeseran strategi dan prioritas operasional. Rincian lebih lanjut baru akan diungkap dalam pertemuan town hall yang dijadwalkan berlangsung hari ini, Rabu (10/6/2026).

    Belum diketahui secara pasti berapa jumlah karyawan yang didepak. Namun sebagai gambaran, Tools for Humanity diketahui mempekerjakan lebih dari 500 orang. Startup ini juga bukan perusahaan sembarangan karena memiliki valuasi mencapai USD 2,5 miliar (sekitar Rp 40,7 triliun) berkat suntikan dana ratusan juta dolar dari investor raksasa seperti Andreessen Horowitz, Bain Capital Crypto, Khosla Ventures, dan Blockchain Capital.

    Proyek Fantastis yang Sulit Dijual

    Tools for Humanity paling dikenal luas berkat perangkat kerasnya yang terinspirasi dari film Lord of the Rings, yakni “Orb”. Konsepnya terdengar sangat futuristis: Orb digunakan untuk memindai iris mata seseorang untuk menciptakan “World ID”. ID ini berfungsi sebagai paspor digital untuk membuktikan bahwa pengguna adalah manusia asli (bukan bot AI). Sebagai imbalan karena mau dipindai, pengguna akan diberikan mata uang kripto WLD.

    Namun, realitasnya jauh dari kata mulus. Meyakinkan orang untuk menyerahkan data biometrik yang sangat personal—meskipun kepada perusahaan yang terafiliasi dengan salah satu bos AI paling terkenal di dunia—selalu menjadi tantangan yang teramat berat. Pada November lalu, World sempat mematok target ambisius untuk mencapai 1 miliar pengguna terverifikasi. Sayangnya, capaian mereka saat itu bahkan belum menyentuh 2% dari target.

    Dalam konteks yang lebih luas, tantangan verifikasi identitas digital ini juga menjadi isu di sektor lain. Misalnya, Teknologi VAR Piala Dunia 2026 menggunakan pendekatan berbeda untuk memastikan keaslian data visual dalam pertandingan sepak bola.

    Terjegal Regulator di Berbagai Negara

    Selain masalah adopsi pengguna, Tools for Humanity juga babak belur menghadapi hadangan regulator. Sejumlah negara di Asia, Amerika Selatan, hingga Eropa telah melakukan penyelidikan, membatasi, bahkan melarang total operasi Worldcoin karena kekhawatiran serius terkait privasi data biometrik. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk terus-menerus berada dalam posisi defensif guna membela cara mereka menyimpan dan mengelola data iris mata pengguna.

    Di sisi bisnis, Tools for Humanity juga dikabarkan kesulitan menunjukkan bagaimana perangkat Orb bisa menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi perusahaan. Meski diterpa banyak rintangan, startup ini belum mengibarkan bendera putih. Sejak membawa teknologinya ke pasar Amerika Serikat pada Mei 2025 dengan target menyebar 7.500 unit Orb, World hingga kini masih terus beroperasi di sana.

    Mereka juga mulai mengubah fokus dengan mengincar kesepakatan verifikasi business-to-business (B2B), yang dibuktikan melalui pengumuman kemitraan baru-baru ini bersama Tinder, Zoom, dan Docusign.

    Di Indonesia, isu pengumpulan data biometrik oleh World juga menjadi sorotan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya menyatakan tengah menentukan nasib scan iris mata World di Indonesia. Aplikasi World telah beroperasi sejak 2021 dan Komdigi membantah lalai dalam pengawasan. Bahkan, Komdigi mengungkapkan bahwa TFH telah mengumpulkan 500 ribu data retina di Indonesia.

    Kasus ini menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh perusahaan rintisan yang mengusung teknologi disruptif. Di satu sisi, inovasi seperti pemindai iris mata menawarkan solusi untuk masalah verifikasi identitas di era digital. Di sisi lain, kekhawatiran privasi dan regulasi yang ketat menjadi batu sandungan yang sulit diatasi.

    Fenomena serupa juga terjadi di industri teknologi lainnya. Misalnya, Startup Robot Hancurkan Rumah Sewa Airbnb untuk uji coba, menunjukkan bahwa ambisi teknologi kadang berbenturan dengan realitas operasional dan hukum.

    Kegagalan World dalam mencapai target pengguna yang ambisius juga menjadi pelajaran berharga. Target 1 miliar pengguna terverifikasi yang dicanangkan pada November lalu, dengan realisasi di bawah 2%, menunjukkan adanya kesenjangan besar antara visi dan eksekusi. Hal ini diperparah dengan kesulitan perusahaan dalam meyakinkan regulator di berbagai negara, yang pada akhirnya menghambat ekspansi dan adopsi.

    Dari sisi bisnis, ketidakmampuan Tools for Humanity untuk menunjukkan model pendapatan yang berkelanjutan dari perangkat Orb menjadi isu krusial. Investor tentu menginginkan kejelasan tentang bagaimana perusahaan akan menghasilkan uang, bukan hanya mengandalkan suntikan dana dari investor ventura.

    Pergeseran strategi ke arah B2B, dengan menggandeng platform seperti Tinder, Zoom, dan Docusign, menunjukkan bahwa perusahaan mencoba mencari celah pasar yang lebih realistis. Namun, apakah langkah ini cukup untuk menyelamatkan perusahaan dari keterpurukan? Waktu yang akan menjawab.

    Dalam pengembangan kecerdasan buatan, isu keamanan dan etika juga menjadi perhatian. Misalnya, Anthropic Buka Pengaman Rahasia Claude Fable 5 setelah mendapatkan kritik, menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas menjadi tuntutan publik yang semakin kuat.

    Kisah Tools for Humanity dan World menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi yang paling canggih sekalipun tidak akan berhasil tanpa mempertimbangkan aspek regulasi, adopsi pengguna, dan model bisnis yang berkelanjutan. PHK yang dilakukan saat ini mungkin baru awal dari serangkaian perubahan besar di perusahaan tersebut.

    Bagi pengguna dan pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini penting untuk dicermati. Dengan 500 ribu data retina yang telah dikumpulkan di Indonesia, nasib data tersebut dan masa depan operasi World di tanah air masih menjadi tanda tanya besar. Keputusan Komdigi akan menjadi preseden penting bagi pengaturan teknologi biometrik di Indonesia.

    Ke depannya, publik tentu berharap agar regulasi yang diterapkan dapat melindungi privasi warga negara tanpa menghambat inovasi teknologi yang bermanfaat. Keseimbangan antara kemajuan teknologi dan perlindungan data pribadi adalah kunci utama.

  • Tecno Pova 8 5G Resmi, Baterai 8.000 mAh Siap Masuk RI

    Tecno Pova 8 5G Resmi, Baterai 8.000 mAh Siap Masuk RI

    JBNews.id — Tecno resmi meluncurkan Pova 8 5G di India dengan baterai jumbo 8.000 mAh dan layar 144Hz. Ponsel berkode model LK6 ini sudah mengantongi sertifikasi TKDN dan Postel Komdigi, menandakan peluang besar masuk ke Indonesia.

    Smartphone terbaru dari lini Pova ini hadir membawa sejumlah peningkatan signifikan. Selain baterai berkapasitas besar, perangkat ini juga dibekali layar LCD 6,76 inci Full HD+ dengan refresh rate 144Hz yang telah tersertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light untuk mengurangi paparan cahaya biru.

    Kehadiran Tecno Pova 8 5G di Indonesia tinggal menunggu waktu. Pasalnya, perangkat dengan kode model LK6 yang diyakini sebagai Tecno Pova 8 5G sudah terpantau mengantongi sertifikasi TKDN Kementerian Perindustrian serta sertifikat Postel Komdigi. Dua sertifikasi ini biasanya menjadi salah satu tahapan sebelum sebuah smartphone dipasarkan secara resmi di Tanah Air. Meski Tecno Indonesia belum mengumumkan jadwal peluncurannya, kemunculan kode model LK6 di database TKDN dan Postel mengindikasikan kehadiran Pova 8 5G di Indonesia sudah di depan mata.

    Desain Futuristik dengan Alive Matrix Display

    Secara desain, Tecno Pova 8 5G tetap mempertahankan identitas seri Pova yang identik dengan tampilan futuristik bergaya cyberpunk. Bagian belakangnya mengusung panel semi-transparan dengan pola geometris tegas yang dipadukan dengan Alive Matrix Display, panel lampu interaktif yang dapat menampilkan hingga 49 animasi berbeda untuk notifikasi, panggilan masuk, pengisian daya, hingga aktivitas gaming.

    Tecno Pova 8 5G

    Di bagian depan, ponsel ini dibekali layar LCD berukuran 6,76 inci beresolusi Full HD+ dengan refresh rate 144Hz. Layar tersebut telah mendapatkan sertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light untuk mengurangi paparan cahaya biru saat digunakan dalam waktu lama.

    Performa Triple-Chipset dan Sistem Pendingin

    Untuk performa, Tecno mempercayakan dapur pacunya pada chipset MediaTek Dimensity 7100 berbasis fabrikasi 6nm yang dipadukan dengan RAM LPDDR5X hingga 8GB dan penyimpanan internal UFS 2.2 berkapasitas 128GB. Yang menarik, Tecno menyematkan arsitektur triple-chipset. Selain Dimensity 7100 sebagai otak utama, terdapat G1 Signal Enhancement Chip untuk memperkuat sinyal seluler di area dengan jaringan lemah dan SE1 Wi-Fi Enhancement Chip yang berfungsi meningkatkan stabilitas koneksi Wi-Fi.

    Tecno Pova 8 5G

    Tecno juga membekali perangkat ini dengan sistem pendingin berbasis lembaran grafit berukuran 15.000 mm² guna menjaga suhu tetap stabil saat bermain game atau menjalankan aplikasi berat. Inovasi serupa juga dapat ditemukan pada Pusat Data Bawah Laut yang menggunakan teknologi pendinginan alami.

    Baterai 8.000 mAh: Daya Tahan Dua Hari

    Daya tahan baterai menjadi salah satu nilai jual utama Tecno Pova 8 5G. Smartphone ini mengusung baterai berkapasitas 8.000 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga dua hari penggunaan normal. Berdasarkan klaim Tecno, baterai tersebut mampu digunakan untuk mendengarkan musik lebih dari 85 jam, streaming YouTube hingga 29 jam, atau bermain Mobile Legends: Bang Bang selama lebih dari 14 jam tanpa henti. Pengisian dayanya didukung teknologi fast charging 45W melalui port USB-C.

    Tecno Pova 8 5G

    Kamera dan Fitur Pendukung

    Untuk kebutuhan fotografi, tersedia kamera utama 50 MP menggunakan sensor Sony LYT-600 dengan bukaan f/1.8. Kamera ini mendukung 2x lossless zoom dan perekaman video hingga resolusi 2K. Sementara kamera depannya memiliki resolusi 13 MP.

    Tecno Pova 8 5G langsung menjalankan Android 16 dengan antarmuka HiOS 16 dan dijanjikan mendapatkan dua kali pembaruan sistem operasi Android. Fitur lain yang turut dibawa antara lain sertifikasi IP64 tahan debu dan percikan air, speaker stereo Dolby Atmos, NFC, IR Blaster, serta berbagai fitur AI seperti AI YouTube Summary, AI Noise Cancellation, dan AI LightMaster 2.0.

    Tecno Pova 8 5G

    Spesifikasi Lengkap Tecno Pova 8 5G

    • Layar: 6,76 inci LCD FHD+ (1080 x 2344 piksel), refresh rate 144Hz, TÜV Rheinland Low Blue Light
    • Chipset: MediaTek Dimensity 7100 (6nm)
    • Chip Tambahan: G1 Signal Enhancement Chip + SE1 Wi-Fi Enhancement Chip
    • RAM: 6GB / 8GB LPDDR5X
    • Penyimpanan: 128GB UFS 2.2
    • Sistem Operasi: Android 16 dengan HiOS 16
    • Kamera Belakang: 50 MP Sony LYT-600 (f/1.8), 2x Lossless Zoom, perekaman video hingga 2K
    • Kamera Depan: 13 MP (f/2.2)
    • Baterai: 8.000 mAh
    • Pengisian Daya: Fast Charging 45W USB Type-C
    • Sistem Pendingin: Lembaran grafit 15.000 mm²
    • Konektivitas: 5G, Wi-Fi, Bluetooth, NFC, USB-C
    • Audio: Speaker stereo dengan Dolby Atmos
    • Fitur AI: AI YouTube Summary, AI Noise Cancellation, AI LightMaster 2.0
    • Fitur Lain: Alive Matrix Display, IR Blaster, Sertifikasi IP64, Military-Grade Durability
    • Warna: 16-Bit White, Terminal Green

    Harga dan Ketersediaan

    Tecno Pova 8 5G tersedia dalam pilihan warna 16-Bit White dan Terminal Green. Di India, smartphone ini dipasarkan dengan harga:

    • 6GB + 128GB: 29.999 rupee (sekitar Rp 5,8 juta)
    • 8GB + 128GB: 31.999 rupee (sekitar Rp 6,2 juta)

    Dengan spesifikasi yang ditawarkan, Tecno Pova 8 5G menjadi pilihan menarik di segmen menengah. Baterai 8.000 mAh dan layar 144Hz menjadi nilai jual utama yang sulit ditandingi kompetitor di kelas harga yang sama. Sementara itu, kehadiran FIFA Bawa Piala Dunia ke platform digital juga menunjukkan tren integrasi teknologi terkini.

    Bagi pengguna yang menginginkan pengalaman gaming maksimal dengan daya tahan baterai ekstra, ponsel ini layak dipertimbangkan. Teknologi triple-chipset juga menjadi nilai tambah bagi mereka yang sering berada di area dengan sinyal lemah. Namun, perlu dicatat bahwa kamera utama 50 MP mungkin tidak sekelas flagship, meski sudah menggunakan sensor Sony LYT-600.

    Dengan sertifikasi TKDN dan Postel yang sudah dikantongi, peluncuran Tecno Pova 8 5G di Indonesia tinggal menunggu pengumuman resmi dari Tecno Indonesia. Harga di Indonesia diperkirakan akan sedikit lebih tinggi dari harga di India karena biaya distribusi dan pajak.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi terkini, simak artikel tentang Struktur Raksasa Dua Mil yang ditemukan di Antartika.

  • Biaya Operasional BTS di Wilayah 3T Capai Rp30 Juta per Bulan

    Biaya Operasional BTS di Wilayah 3T Capai Rp30 Juta per Bulan

    JBNews.id, Maratua — Membangun jaringan telekomunikasi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menghadapi tantangan biaya operasional yang sangat tinggi, mencapai Rp30 juta per lokasi setiap bulannya. Angka itu jauh melampaui biaya operasional Base Transceiver Station (BTS) di perkotaan yang hanya berkisar Rp15-20 juta per bulan.

    Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi, Darien Aldiano, mengungkapkan perbedaan mencolok tersebut di Pulau Maratua, Kamis (11/6/2026). Menurutnya, karakteristik BTS yang beroperasi di wilayah 3T sangat berbeda dengan BTS di kawasan perkotaan karena keterbatasan infrastruktur pendukung.

    “BTS itu tidak serta-merta dibangun tower, kemudian kencang. Dari tower itu harus punya dapurnya gitu. Koneksi di belakang, backhaul-nya. Jadi kalau gak ada di daerah tersebut, mau gak mau pake VSAT. Nah kalau pake VSAT ini jadinya mahal dan terbatas,” papar Darien di hadapan awak media.

    VSAT atau Very Small Aperture Terminal menjadi solusi utama karena mayoritas wilayah 3T belum tersentuh jaringan serat optik maupun microwave yang berfungsi sebagai jalur transmisi data. Kondisi ini membuat BTS di daerah terpencil harus mengandalkan konektivitas satelit yang biayanya jauh lebih mahal.

    Biaya Tinggi vs Jumlah Pelanggan Minim

    Perbedaan biaya operasional yang mencapai dua kali lipat ini terjadi karena BTS di perkotaan umumnya menggunakan jaringan serat optik yang memiliki kapasitas besar dan biaya operasional lebih rendah. Selain itu, jumlah pelanggan yang jauh lebih banyak membuat operator dapat memperoleh skala ekonomi yang menguntungkan.

    Sebaliknya, BTS di wilayah 3T harus melayani populasi yang relatif sedikit dengan biaya operasional yang jauh lebih besar. Darien memberikan gambaran nyata tentang kondisi ini.

    “Contoh mudahnya untuk di daerah 3D itu, cost untuk support BTS itu bisa sampai 30-an juta satu site, 30 juta per bulan. Namun, kalau di kota BTS-BTS yang milik operator seluler itu ya, cost-nya mereka mungkin hanya 15-20 juta,” kata Darien.

    Ia menambahkan, “Nah sedangkan, kalau di daerah-daerah 3D, karena tidak ada optik, tidak bisa pakai microwave, mereka mau gak mau harus pakai satelit. Cost-nya jadi tinggi. Bapak Ibu bayangkan, cost-nya tinggi, tapi misalnya satu desa atau satu kamar usernya 400 atau 300 orang, atau mungkin 200. Menggunakan paket data juga mungkin yang hemat.”

    Keterbatasan Kapasitas Satelit

    Darien menjelaskan keterbatasan lain dari penggunaan satelit adalah kapasitas bandwidth yang tersedia. Berbeda dengan BTS perkotaan yang dapat menikmati kapasitas ratusan megabit per detik melalui jaringan optik, BTS berbasis satelit memiliki ruang yang lebih terbatas untuk melayani pengguna secara bersamaan.

    “Rata-rata memang kapasitas BKS yang menggunakan VSAT itu mungkin di saat ini dipakai maksimum di 12 Mbps. Nah jadi Bapak Ibu bayangkan dengan 12 Mbps kita mungkin satu orang dengan aplikasi yang kekinian ya, TikTok, Youtube itu mungkin satu orang itu aja bisa 1 Mbps, dia sendiri kan. Nah bagaimana caranya BTS VSAT dengan penggun let say 100 berbarengan, terus semuanya misalnya ya, buka TikTok dan lain-lain, pasti lemot,” papar Darien.

    Ilustrasi ini menunjukkan betapa terbatasnya kapasitas yang tersedia untuk melayani puluhan hingga ratusan pengguna secara bersamaan di wilayah 3T. Dengan bandwidth hanya 12 Mbps, jika 100 orang mengakses secara bersamaan, masing-masing hanya kebagian sekitar 0,12 Mbps — sangat jauh dari kecukupan untuk streaming video.

    Karena itu, Darien berharap masyarakat dapat memahami bahwa kualitas layanan di wilayah 3T tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan layanan telekomunikasi di daerah perkotaan.

    “Kami harap dari materi ini kita bisa memahami dan juga teman-teman di media terutama di daerah-daerah juga bisa memberikan pemahaman juga misalnya nanti ke masyarakat kalau memang BTS-BTS di daerah 3T ini, karakteristiknya beda. Tidak seperti BTS-BTS yang ada di perkotaan. Karena ada faktor-faktor yang hilang tadi,” lanjutnya.

    Negara Hadir di Tengah Keterbatasan

    Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Darien menegaskan negara tetap harus hadir untuk memastikan masyarakat di wilayah 3T memperoleh akses telekomunikasi yang layak. Menurutnya, hingga kini masih banyak lokasi yang belum menarik secara komersial bagi operator seluler karena tingginya biaya penyelenggaraan jaringan.

    “Jadi memang secara bisnis ini belum masuk ke tataran komersil jadi di situlah BAKTI hadir, negara hadir untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Jadi memang harus ada pihak yang bisa memberikan layanan kepada masyarakat di daerah 3T,” cetusnya.

    Keberadaan BTS BAKTI di wilayah 3T menjadi salah satu upaya pemerintah memastikan pemerataan akses digital, sekaligus mengurangi kesenjangan konektivitas antara masyarakat perkotaan dan daerah terpencil di seluruh Indonesia. Tantangan geografis dan populasi minim menjadi faktor utama yang membuat pembangunan infrastruktur di kawasan ini begitu berat.

    Dengan biaya operasional yang mencapai Rp30 juta per bulan per site dan jumlah pengguna yang terbatas, BAKTI harus terus mencari solusi inovatif agar layanan telekomunikasi di wilayah 3T tetap dapat berjalan secara berkelanjutan. Misi konektivitas digital ini menjadi prioritas nasional yang membutuhkan dukungan lintas sektor.

    Implikasinya bagi masyarakat di wilayah 3T adalah mereka harus bersabar dengan kualitas layanan yang belum optimal, namun di sisi lain mereka tetap mendapatkan akses komunikasi yang sebelumnya tidak ada sama sekali. Pemerintah pun terus berupaya meningkatkan kapasitas dan menekan biaya operasional melalui berbagai inovasi teknologi.

  • Galaxy Z Fold 8 dan Flip 8 Lolos TKDN, Siap Rilis di Indonesia

    Galaxy Z Fold 8 dan Flip 8 Lolos TKDN, Siap Rilis di Indonesia

    JBNews.id — Tiga ponsel lipat terbaru Samsung, yang diyakini sebagai Galaxy Z Fold 8 Ultra, Galaxy Z Fold 8 Wide, dan Galaxy Z Flip 8, telah mengantongi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Sertifikasi ini menjadi sinyal kuat bahwa peluncuran resmi perangkat-perangkat tersebut di Indonesia tinggal menunggu waktu.

    Pantauan di situs TKDN menunjukkan tiga nomor model Samsung, yakni SM-F776B, SM-F971B, dan SM-F976B, telah lolos sertifikasi dengan nilai TKDN sekitar 36,1%. Keberadaan sertifikasi ini merupakan salah satu syarat administratif penting sebelum sebuah perangkat elektronik dapat dipasarkan secara resmi di Indonesia. Meski Samsung Indonesia belum memberikan konfirmasi resmi, kemunculan nomor-nomor model ini menjadi indikator paling konkret mengenai rencana kehadiran mereka di Tanah Air.

    Berdasarkan berbagai bocoran yang beredar, ketiga nomor model tersebut merujuk pada: SM-F776B untuk Galaxy Z Flip 8, SM-F971B untuk Galaxy Z Fold 8 Wide, dan SM-F976B untuk Galaxy Z Fold 8 Ultra. Ketiga seri ini diprediksi akan menjadi tulang punggung lini ponsel lipat Samsung untuk tahun 2026, menawarkan segmen yang berbeda mulai dari pengguna yang mencari perangkat ringkas hingga pengguna yang mendambakan produktivitas kelas atas.

    Bocoran Galaxy Z Fold 8 Wide

    Galaxy Z Fold 8 Wide disebut hadir sebagai varian baru yang mengutamakan pengalaman layar lebih lebar. Samsung dikabarkan merancang perangkat ini untuk memberikan sensasi penggunaan yang lebih mirip tablet saat dibuka. Bocoran menyebut layar utama Fold 8 Wide memiliki ukuran sekitar 7,6 inci Dynamic AMOLED dengan refresh rate 120Hz dan rasio yang lebih mendekati format persegi. Desain tersebut diklaim lebih nyaman untuk multitasking, membaca dokumen, hingga menikmati konten multimedia.

    Galaxy Z Fold8 Wide

    Perangkat ini juga disebut memiliki bodi yang sangat tipis, hanya sekitar 4,3 mm saat dibuka, dengan bobot sekitar 201 gram. Untuk sektor performa, Samsung diperkirakan membekalinya dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy. Kapasitas baterai diprediksi berada di kisaran 4.800 mAh dengan dukungan pengisian cepat 45W. Varian ini tampaknya menjadi jawaban Samsung bagi pengguna yang menginginkan layar lebar tanpa harus membawa perangkat yang terlalu berat.

    Dummy Samsung Galaxy Z Fold 8 Wide

    Bocoran Galaxy Z Fold 8 Ultra

    Di sisi lain, Galaxy Z Fold 8 Ultra diproyeksikan menjadi model paling canggih dalam keluarga foldable Samsung tahun ini. Perangkat tersebut dirumorkan mengusung layar utama berukuran sekitar 8 inci Dynamic LTPO AMOLED 2X dengan refresh rate adaptif 120Hz. Samsung juga disebut berhasil membuat lipatan layar atau crease semakin minim dibanding generasi sebelumnya. Untuk informasi lebih lanjut tentang inovasi layar, Anda bisa membaca artikel tentang Desain Terbaru dari Samsung.

    Dari sisi fotografi, Fold 8 Ultra diperkirakan membawa kamera utama 200 MP, didampingi kamera ultrawide 50 MP dan telephoto dengan kemampuan zoom optik 3x. Untuk mendukung performa kelas flagship, Samsung kabarnya menyediakan opsi RAM hingga 16 GB dan penyimpanan internal hingga 1 TB. Baterainya disebut memiliki kapasitas sekitar 5.000 mAh dengan pengisian cepat 45W. Meski membawa spesifikasi tinggi, perangkat ini diperkirakan tetap memiliki bobot ringan sekitar 210 gram dengan ketebalan hanya sekitar 4,1 mm saat dibuka.

    Galaxy Z TriFold vs Fold7

    Galaxy Z Flip 8

    Sementara itu, Galaxy Z Flip 8 diperkirakan tetap menjadi pilihan bagi pengguna yang menginginkan ponsel lipat bergaya compact dan fashionable. Bocoran menyebut perangkat ini akan dibekali layar utama 6,9 inci Dynamic AMOLED dengan refresh rate 120Hz. Cover screen-nya juga dikabarkan semakin besar dengan ukuran sekitar 4,1 inci. Samsung disebut sedang menyiapkan desain engsel baru yang membuat lipatan layar semakin samar sekaligus membuat bodi lebih tipis. Saat dilipat, ketebalannya dikabarkan hanya sekitar 13,2 mm.

    Untuk performa, Galaxy Z Flip 8 kemungkinan menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy atau chipset Exynos 2600, tergantung wilayah pemasaran. Ponsel ini juga dirumorkan membawa RAM 12 GB, penyimpanan hingga 512 GB, serta baterai sekitar 4.300 mAh yang lebih besar dibanding pendahulunya. Bagi Anda yang penasaran dengan varian chipset yang mungkin masuk ke Indonesia, simak artikel tentang Dua Chipset yang beredar.

    Kapan Rilis di Indonesia?

    Samsung hingga kini belum mengumumkan jadwal resmi peluncuran Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8. Namun berbagai laporan menyebut acara Galaxy Unpacked berikutnya berpotensi digelar pada 22 Juli 2026 di London. Jika jadwal tersebut benar, peluncuran global kemungkinan berlangsung pada Agustus 2026.

    Dengan status TKDN yang sudah dikantongi, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi salah satu pasar yang kebagian perangkat ini tidak lama setelah debut globalnya. Soal harga, Galaxy Z Fold 8 Ultra diperkirakan akan bermain di segmen premium dengan banderol antara Rp 30 juta hingga Rp 40 jutaan. Sementara Galaxy Z Fold 8 Wide kemungkinan berada sedikit di bawahnya, dan Galaxy Z Flip 8 diperkirakan dibanderol mulai kisaran Rp 15 juta hingga Rp 25 jutaan. Bagi Anda yang mencari Fitur Terbaru untuk produktivitas, ponsel lipat ini patut dipertimbangkan.

  • Krisis Populasi, Korea Selatan Bangun Tentara AI Rp474 Miliar

    Krisis Populasi, Korea Selatan Bangun Tentara AI Rp474 Miliar

    JBNews.id — Korea Selatan mengalokasikan investasi sebesar 40 miliar won atau sekitar Rp474 miliar untuk mempercepat transformasi militer berbasis kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis populasi yang terus memperparah kekurangan personel militer di negara tersebut.

    Program ini diumumkan melalui peluncuran “Proyek Dukungan Komersialisasi Cepat Aplikasi Kecerdasan Buatan”, yang bertujuan mengadopsi teknologi AI sipil yang sudah matang untuk kebutuhan pertahanan. Negeri Ginseng itu kini tidak memiliki banyak pilihan selain mengandalkan otomatisasi dan sistem tanpa awak untuk menjaga kekuatan militernya.

    Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi besar membangun konsep Smart Army, yakni militer modern yang mengurangi ketergantungan pada jumlah personel manusia. Dalam proyek ini, pemerintah Korea Selatan menetapkan 20 kategori penelitian yang terbagi dalam empat bidang utama.

    Empat Bidang Utama Smart Army

    Pada sektor dukungan tempur, AI akan digunakan untuk membantu pengawasan wilayah perbatasan, sistem pengintaian berbasis drone, hingga platform pengambilan keputusan yang mampu menganalisis data secara cepat. Militer Korea Selatan menargetkan lebih dari 75% tugas penjagaan di garis depan dapat dibantu atau diambil alih oleh sistem berbasis AI di masa depan.

    Selain itu, teknologi AI juga diterapkan untuk mendukung struktur kekuatan militer. Sistem ini mencakup klasifikasi cepat prajurit yang terluka, manajemen logistik pintar, patroli keamanan otomatis di barak, hingga deteksi dini kerusakan peralatan militer.

    Penggunaan AI juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, mulai dari pengelolaan anggaran pertahanan, rantai pasok industri militer, hingga optimalisasi penggunaan energi di berbagai fasilitas pertahanan. Sektor keamanan siber menjadi fokus utama lainnya, di mana Korea Selatan ingin memanfaatkan AI untuk mendeteksi serangan siber, mengidentifikasi penyusupan jaringan, memperkuat enkripsi data, dan meningkatkan kemampuan perang siber modern.

    Target 90 Unit Tempur AI

    Program ini merupakan bagian dari agenda modernisasi militer yang dikenal sebagai Defense Reform 4.0 atau Reformasi Pertahanan 4.0. Pemerintah Korea Selatan menargetkan fase awal proyek selesai pada akhir 2027. Setelah itu, mereka berencana membentuk sekitar 90 unit tempur berbasis AI sebelum tahun 2028.

    Sebanyak 16 fasilitas latihan simulasi cerdas juga ditargetkan beroperasi pada 2032 untuk mendukung pelatihan personel militer di era digital. Sebagai bentuk keseriusan, Korea Selatan berencana meningkatkan porsi anggaran untuk teknologi AI dan sistem tanpa awak dari 15% menjadi 20% dalam lima tahun ke depan.

    Ilustrasi Tentara AI

    Tantangan dan Implikasi

    Meski menjanjikan, sejumlah pengamat menilai jalan menuju militer berbasis AI tidak akan mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah besarnya biaya pengembangan teknologi. Anggaran 40 miliar won dinilai relatif kecil jika harus dibagi ke dalam 20 kategori penelitian berbeda yang semuanya membutuhkan riset tingkat tinggi.

    Faktor keamanan juga menjadi perhatian utama. Sistem AI yang digunakan di medan perang harus mampu bertahan dari serangan siber, gangguan sinyal atau jamming, hingga kondisi operasional yang ekstrem. Para pakar menilai teknologi AI memang dapat membantu mengurangi dampak krisis populasi terhadap kekuatan militer Korea Selatan.

    Namun dalam waktu dekat, kecerdasan buatan masih akan berperan sebagai pendukung prajurit, bukan sepenuhnya menggantikan tentara manusia di medan tempur. Langkah Korea Selatan ini juga terjadi di tengah tekanan global pada rantai pasok semikonduktor, termasuk Krisis Chip AI yang masih berlangsung dan dampaknya terhadap harga chipset.

    Dengan tingkat kelahiran yang terus menjadi salah satu yang terendah di dunia, Korea Selatan tampaknya tidak memiliki banyak pilihan selain mempercepat transformasi menuju era Smart Army berbasis AI. Implikasinya bagi negara lain: model pertahanan otonom ini bisa menjadi cetak biru bagi negara-negara yang menghadapi masalah demografis serupa, meski jalan menuju implementasi penuh masih panjang dan penuh tantangan teknis maupun anggaran.

  • Geek Fam Vs Onic di Final Upper Bracket MPL ID S17

    Geek Fam Vs Onic di Final Upper Bracket MPL ID S17

    JBNews.id — Onic kembali bertanding di babak Playoff MPL ID S17 hari ini, Jumat (12/6/2026), setelah berhasil mengalahkan Bigetron. Kali ini lawan yang dihadapi adalah Geek Fam dalam laga final upper bracket yang digelar secara offline di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur.

    Pertandingan ini menjadi pertemuan ketiga bagi kedua tim di musim ini. Sebelumnya, Onic dan Geek Fam sudah bertarung dua kali di babak Regular Season MPL ID S17, di mana masing-masing tim berhasil mengantongi satu kemenangan. Laga hari ini akan menjadi penentu siapa yang unggul dalam rekor head-to-head mereka.

    Jadwal Playoff MPL ID S17 hari ini tidak hanya menampilkan duel antara Geek Fam vs Onic. Ada juga pertarungan hidup dan mati di semifinal lower bracket antara Team Liquid ID melawan Bigetron by Vitality. Perbedaan dari dua laga ini adalah tim yang kalah di final upper bracket tidak akan langsung tereliminasi, melainkan turun ke final lower bracket. Sementara itu, tim yang kalah di semifinal lower bracket dipastikan gugur dari turnamen.

    Berikut jam main keempat tim tersebut:

    • Semifinal lower bracket: Team Liquid ID vs Bigetron by Vitality – 13.00 WIB
    • Final upper bracket: Geek Fam vs Onic – 18.15 WIB

    Seluruh pertandingan menggunakan aturan main best of 5 (Bo5). Tim yang ingin bertahan wajib menang dengan skor 3-0, 3-1, atau 3-2.

    Tim Indonesia Pertama yang Lolos MSC 2026

    Hasil pertandingan di final upper bracket tidak hanya menentukan siapa yang mengamankan tiket ke Grand Final MPL ID S17, tetapi juga menjadi tim pertama yang lolos ke turnamen internasional, Mobile Legends: Bang Bang Mid Season Cup (MSC) 2026, di Esports World Cup (EWC) 2026. Dari Indonesia, nantinya ada dua tim yang berhak bermain di MSC 2026, yaitu juara dan runner-up MPL ID S17.

    MSC merupakan kejuaraan internasional Mobile Legends kedua selain M Series. Pada tahun ini, acaranya tidak digelar di Riyadh, Arab Saudi. MSC 2026 akan diselenggarakan di Paris Expo Porte de Versailles, Paris, Prancis, pada 1 Juli hingga 1 Agustus 2026. Seluruh tim yang bertanding tidak hanya memperebutkan gelar juara dunia, tetapi juga bagian terbesar dari total hadiah sebesar USD 3 juta atau sekitar Rp 53,7 miliar.

    Link Streaming MPL ID S17

    Bagi penggemar Mobile Legends di Tanah Air yang ingin menyaksikan pertandingan hari ini, ada dua cara. Pertama, datang langsung ke lokasi acara di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur. Apabila berhalangan hadir, keseruannya masih dapat ditonton secara online melalui kanal YouTube MPL Indonesia.

    Penampilan keempat tim hari ini di Playoff MPL ID S17 bisa disaksikan secara langsung. Pertandingan Geek Fam vs Onic di final upper bracket menjadi laga yang paling dinantikan karena pemenangnya akan menjadi tim pertama dari Indonesia yang lolos ke MSC 2026. Dengan total hadiah USD 3 juta di turnamen internasional tersebut, setiap kemenangan di playoff ini memiliki nilai yang sangat besar.

    Bagi para penggemar yang ingin mengikuti perkembangan turnamen esports lainnya, Anda juga bisa menyimak informasi terkait teknologi terkini yang turut memengaruhi industri game dan esports di Indonesia.

    Implikasi dari pertandingan hari ini sangat jelas: pemenang final upper bracket akan mengamankan posisi di Grand Final dan tiket ke MSC 2026. Sementara itu, tim yang kalah di semifinal lower bracket harus mengubur harapan meraih gelar juara MPL ID S17. Bagi penggemar esports, ini adalah momen krusial yang menentukan perjalanan tim Indonesia di kancah internasional.

  • Antonio Gracias Raup Rp 1.000 Triliun dari Saham SpaceX

    Antonio Gracias Raup Rp 1.000 Triliun dari Saham SpaceX

    JBNews.id — Antonio Gracias, investor kawakan sekaligus pendiri Valor Equity Partners, mencatatkan lonjakan kekayaan fantastis senilai USD 65 miliar atau setara Rp 1.000 triliun menyusul aksi korporasi SpaceX yang melantai di bursa saham Amerika Serikat pada Juni 2026. Angka tersebut mengukuhkan posisi Gracias sebagai pemegang saham individu terbesar kedua di perusahaan kedirgantaraan tersebut, tepat di bawah posisi pendiri utama, Elon Musk. Keuntungan masif ini merupakan akumulasi dari dukungan strategis dan finansial yang telah diberikan Gracias selama lebih dari dua dekade terakhir.

    Data dari dokumen Initial Public Offering (IPO) SpaceX mengungkapkan bahwa Antonio Gracias bersama entitas investasi yang terafiliasi dengan Valor Equity Partners mengendalikan sekitar 503 juta lembar saham. Dengan valuasi SpaceX yang kini menyentuh angka USD 1,77 triliun, nilai kepemilikan Gracias menjadi salah satu portofolio paling bernilai dalam sejarah industri teknologi modern. Lonjakan nilai ini mencerminkan antusiasme pasar global terhadap dominasi SpaceX di sektor peluncuran roket dan layanan internet satelit.

    Keberhasilan finansial ini tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari visi jangka panjang dalam mengadopsi teknologi masa depan, termasuk pemanfaatan Kendali Era AI yang kini mulai merambah berbagai sektor industri. Gracias telah berada di lingkaran dalam Elon Musk selama kurang lebih 25 tahun, jauh sebelum SpaceX menjadi mitra utama NASA dan pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai misi luar angkasa strategis.

    Hubungan antara Gracias dan Musk melampaui sekadar kemitraan bisnis formal. Melalui Valor Equity Partners yang berbasis di Chicago, Gracias konsisten menyuntikkan modal ke berbagai lini bisnis Musk. Selain SpaceX, portofolio investasinya mencakup raksasa kendaraan listrik Tesla, SolarCity, perusahaan antarmuka otak-mesin Neuralink, hingga perusahaan infrastruktur The Boring Company. Konsistensi ini menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap ekosistem teknologi yang dibangun Musk, mirip dengan bagaimana inovasi Ekstrak Litium menjadi kunci dalam rantai pasok energi global masa depan.

    Loyalitas di Masa Krisis dan Dukungan Finansial Pribadi

    Salah satu titik balik paling krusial dalam hubungan keduanya terjadi pada tahun 2008. Saat itu, SpaceX berada di ambang kebangkrutan total setelah mengalami serangkaian kegagalan dalam peluncuran roket, yang diperparah oleh krisis keuangan global. Di tengah keraguan investor arus utama, Antonio Gracias tetap bertahan. Laporan menunjukkan bahwa Gracias bahkan sempat meminjamkan dana pribadi sebesar USD 1 juta untuk memastikan operasional perusahaan tetap berjalan di tengah tekanan likuiditas yang ekstrem.

    Antonio Gracias, sahabat Elon Musk

    Dukungan tanpa syarat tersebut kini terbayar lunas. Keberanian mengambil risiko di masa sulit menjadi pembeda utama antara Gracias dengan investor lainnya. Musk sendiri secara terbuka memuji loyalitas sahabatnya itu, dengan menyatakan bahwa posisi saham besar yang dimiliki Gracias saat ini adalah imbalan yang pantas atas dedikasi selama bertahun-tahun, terutama ketika masa depan perusahaan masih dipenuhi ketidakpastian teknis dan finansial.

    Gracias tidak hanya berperan sebagai penyedia modal, tetapi juga aktif dalam tata kelola perusahaan. Ia tercatat pernah menjabat sebagai anggota dewan direksi di Tesla selama bertahun-tahun dan hingga kini masih mempertahankan posisinya di jajaran Board of Directors SpaceX. Kedekatan ini juga merambah ke ranah personal, di mana keluarga Gracias dan Musk sering menghabiskan waktu bersama di luar urusan profesional, memperkuat ikatan kepercayaan yang menjadi fondasi investasi mereka.

    Ekspansi Bisnis SpaceX dan Proyeksi Pertumbuhan Masa Depan

    Saat ini, SpaceX bukan lagi sekadar perusahaan peluncuran roket konvensional. Unit bisnisnya telah berkembang pesat mencakup Starlink, layanan internet satelit yang telah melayani jutaan pelanggan di seluruh dunia. Selain itu, ambisi kolonisasi Mars dan pengembangan teknologi antariksa untuk pertahanan menjadikannya aset strategis bagi Amerika Serikat. Di sektor pendidikan dan inovasi, tren seperti Robot Humanoid turut memberikan gambaran bagaimana teknologi masa depan akan saling terintegrasi dengan visi SpaceX.

    Misi Artemis III NASA

    Para analis pasar memprediksi bahwa kekayaan Antonio Gracias masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan. Jika antusiasme investor terhadap Starlink dan misi eksplorasi Mars tetap tinggi pasca-IPO, nilai 503 juta saham yang dimiliki Gracias berpotensi terus meroket. Melantainya SpaceX di bursa saham menjadi tonggak sejarah yang menandai era baru industri antariksa komersial, di mana loyalitas jangka panjang terbukti mampu menghasilkan nilai ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri teknologi global.

    Secara keseluruhan, fenomena Antonio Gracias memberikan pelajaran penting bagi dunia investasi mengenai pentingnya keyakinan pada fundamental dan visi kepemimpinan, bahkan di saat krisis paling gelap sekalipun. Dengan kepemilikan saham senilai lebih dari Rp 1.000 triliun, Gracias kini berdiri sebagai simbol sukses dari strategi investasi “high risk, high reward” yang dijalankan dengan kesabaran selama dua setengah dekade.