Mengapa AC Jarang di Eropa Meski Gelombang Panas Mematikan

Gelombang panas Eropa dengan suhu tinggi mematikan

JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat pada Juni 2026 memicu pertanyaan besar: mengapa pendingin ruangan (AC) sangat jarang ditemukan di benua tersebut, padahal suhu mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah? Prancis mencatat hari terpanas, Inggris memecahkan rekor panas bulan Juni, dan Spanyol mengalami suhu rata-rata harian tertinggi sejak 1950. Di tengah kondisi mematikan ini, sebagian besar rumah di Eropa tetap tanpa AC.

Data menunjukkan kesenjangan yang mencolok. Hampir 90 persen rumah di Amerika Serikat memiliki AC, sementara di Eropa angkanya hanya sekitar 20 persen. Alih-alih menyalakan pendingin ruangan, banyak penduduk Eropa bertahan dengan kipas angin, kompres es, dan mandi air dingin. Fenomena ini menjadi sorotan seiring perubahan iklim yang memicu gelombang panas lebih parah, berkepanjangan, dan datang lebih awal setiap tahunnya.

“Di Eropa kami tidak memiliki tradisi menggunakan AC karena hingga belum lama ini, hal itu bukanlah sebuah kebutuhan utama,” ujar Brian Motherway, Kepala Kantor Efisiensi Energi dan Transisi Inklusif di International Energy Agency (IEA). Pernyataan ini menjadi kunci untuk memahami akar persoalan yang lebih kompleks.

Faktor Historis dan Ekonomi

Alasan utama rendahnya penetrasi AC di Eropa bersifat historis. Banyak negara Eropa, terutama di bagian utara, secara tradisional tidak membutuhkan pendingin ruangan. Gelombang panas memang selalu terjadi, namun jarang mencapai suhu tinggi berkepanjangan seperti yang kini rutin dialami akibat perubahan iklim.

Secara ekonomi, AC di Eropa masih dianggap sebagai barang mewah, bukan kebutuhan pokok. Biaya pemasangan dan pengoperasiannya sangat mahal. Biaya energi di banyak negara Eropa jauh lebih tinggi dibandingkan AS, sementara tingkat pendapatan cenderung lebih rendah. Akibatnya, biaya menyalakan AC masih berada di luar jangkauan banyak orang Eropa.

Perbandingan dengan Amerika Serikat menunjukkan perbedaan budaya yang mendasar. AS secara historis memang lebih panas dan memiliki infrastruktur pendingin yang mapan. Sementara itu, Eropa baru menghadapi tekanan panas ekstrem dalam beberapa tahun terakhir, sehingga belum membangun kebiasaan dan infrastruktur serupa.

Faktor Arsitektur dan Birokrasi

Faktor arsitektur juga memainkan peran penting. Beberapa bangunan di negara Eropa selatan yang lebih panas justru dibangun untuk menghadapi cuaca panas. Dindingnya tebal, jendela berukuran kecil untuk mencegah sinar matahari masuk langsung, dan desainnya memaksimalkan aliran udara alami. Karakteristik ini membantu menjaga ruangan tetap sejuk dan mengurangi kebutuhan AC.

Namun, di wilayah Eropa lainnya, rumah tidak dirancang untuk cuaca panas. “Kami tidak terbiasa memikirkan cara agar tetap sejuk di musim panas. Ini benar-benar fenomena relatif baru,” kata Motherway. Bangunan di benua ini cenderung lebih tua, jauh sebelum teknologi AC ditemukan. Di Inggris, satu dari enam rumah dibangun sebelum tahun 1900. Memasang sistem pendingin di rumah tua menjadi jauh lebih sulit dan mahal.

Selain arsitektur, birokrasi menjadi hambatan signifikan. Otoritas Inggris sering menolak permohonan pemasangan AC, terutama di area konservasi atau bangunan bersejarah yang dilindungi. Regulasi ketat ini membuat pemilik rumah kesulitan mendapatkan izin untuk memasang unit pendingin.

Kebijakan Iklim dan Dampak Lingkungan

Ada juga sudut pandang kebijakan yang kuat. Eropa berkomitmen menjadi kawasan netral iklim pada tahun 2050. Lonjakan penggunaan AC akan membuat komitmen tersebut semakin sulit dicapai. AC tidak hanya menguras energi listrik, tetapi juga membuang udara panas ke lingkungan. Sebuah studi yang meneliti penggunaan AC di Paris menemukan bahwa alat ini dapat meningkatkan suhu luar ruangan antara 2 hingga 4 derajat Celsius.

Beberapa negara pun mulai membatasi penggunaan AC. Pada tahun 2022, Spanyol memberlakukan aturan yang mewajibkan suhu AC di tempat umum tidak boleh lebih rendah dari 27 derajat Celsius. Kebijakan ini diambil demi menghemat energi dan mengurangi dampak lingkungan.

Namun, kekhawatiran seputar penggunaan AC di Eropa kini mulai berubah seiring benua tersebut memanas dengan cepat. “Rumah kita harus tangguh, bukan hanya terhadap suhu dingin, tetapi juga terhadap suhu panas yang semakin brutal,” kata Yetunde Abdul, direktur UK Green Building Council.

Masa Depan AC di Eropa

Sudah ada tanda-tanda peningkatan penggunaan AC di Eropa. Laporan IEA memperkirakan jumlah unit AC di Uni Eropa kemungkinan melonjak hingga 275 juta unit pada tahun 2050, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2019. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas.

Implikasinya jelas: Eropa harus menyeimbangkan antara kebutuhan adaptasi terhadap perubahan iklim dan komitmen pengurangan emisi. Jika tidak dikelola dengan baik, lonjakan penggunaan AC justru akan memperparah pemanasan global melalui efek heat island dan konsumsi energi fosil yang lebih tinggi. Keputusan kebijakan dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan apakah Eropa mampu menghadapi panas ekstrem tanpa mengorbankan target iklimnya.