Category: Tekno

  • Fitur Baru Threads Rayakan 500 Juta Pengguna Aktif Bulanan

    Fitur Baru Threads Rayakan 500 Juta Pengguna Aktif Bulanan

    JBNews.id — Threads resmi menembus 500 juta pengguna aktif bulanan, hampir tiga tahun setelah diluncurkan sebagai pesaing Twitter/X. Pencapaian ini dirayakan Meta dengan merilis sederet fitur baru, termasuk Communities, perluasan Live Chats, dan fitur personalisasi feed bernama Your Algo.

    Pertumbuhan 100 juta pengguna baru dalam 10 bulan terakhir ini menjadi tonggak penting bagi platform milik Meta tersebut. Update terakhir pada Agustus 2025 mencatat Threads memiliki 400 juta pengguna aktif bulanan, yang berarti terjadi akselerasi adopsi signifikan di berbagai pasar global.

    Fitur Communities: Ruang Diskusi Tematik

    Fitur utama yang diluncurkan adalah Communities, yang sebelumnya dalam tahap uji coba beta sejak tahun lalu. Kini fitur tersebut dirilis secara luas untuk seluruh pengguna. Communities merupakan tempat khusus bagi pengguna yang ingin berdiskusi tentang topik tertentu, seperti olahraga, K-pop, musik, buku, dan lainnya.

    Pengguna Threads dapat mencari komunitas yang tersedia melalui ‘Communities Hub’. Setiap komunitas juga akan memiliki ikon khusus agar mudah dikenali dan dibedakan satu sama lain. Dalam postingan blognya, Meta menyebut fitur Communities sebagai salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan pesat Threads belakangan ini.

    Pertumbuhan pengguna yang terjadi juga dinilai lebih organik. Meta mencatat banyak pengguna yang membuka aplikasi Threads secara langsung, bukan melalui klik atau arahan dari aplikasi Meta lainnya seperti Instagram atau Facebook.

    Live Chats: Percakapan Real-Time

    Selain Communities, Threads juga mengumumkan perluasan fitur ‘Live Chats’ ke lebih banyak komunitas mulai Juli mendatang. Fitur ini memungkinkan pengguna melakukan percakapan secara real-time di tengah momen-momen penting, seperti Piala Dunia 2026.

    Dengan Live Chats, pengguna bisa berdiskusi langsung saat peristiwa besar berlangsung, menciptakan pengalaman interaktif yang lebih mendalam dibandingkan sekadar posting di timeline biasa.

    Your Algo: Personalisasi Feed Secara Privat

    Fitur baru lainnya adalah ‘Your Algo’, yang merupakan perluasan dari fitur ‘Dear Algo’ yang diperkenalkan Threads pada Februari lalu. Perbedaan utama Your Algo adalah pengguna dapat menyesuaikan konten yang ditampilkan di feed secara privat, tanpa harus mengunggah postingan publik seperti yang diwajibkan fitur Dear Algo.

    Dengan Your Algo, pengguna bisa memberi tahu Threads jenis konten yang ingin dilihat lebih banyak atau lebih sedikit. Pengguna juga dapat memilih berapa lama permintaan tersebut berlaku, dengan tiga pilihan durasi: satu, tiga, atau tujuh hari.

    Pertumbuhan di Asia: Korea Selatan dan Jepang

    Meta mengungkapkan pihaknya melihat peningkatan besar di Asia, khususnya Korea Selatan dan Jepang. Waktu yang dihabiskan pengguna di Threads meningkat masing-masing sebesar 80% dan 130% dibandingkan tahun lalu. Angka ini menunjukkan adopsi yang kuat di pasar Asia, yang menjadi kunci pertumbuhan platform ke depan.

    Pencapaian 500 juta pengguna aktif bulanan ini menjadikan Threads sebagai salah satu platform media sosial dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah, meskipun masih berada di bawah bayang-bayang induknya, Instagram dan Facebook.

    Bagi pengguna di Indonesia, kehadiran fitur Communities dan Live Chats membuka peluang diskusi yang lebih terstruktur. Penggemar K-pop misalnya, bisa bergabung ke komunitas khusus untuk berdiskusi tanpa harus bercampur dengan konten lain. Fitur Terbaru ini juga relevan bagi pengguna yang ingin mengikuti momen olahraga seperti Piala Dunia 2026 melalui Live Chats.

    Dengan pendekatan personalisasi melalui Your Algo, Threads memberikan kendali lebih besar kepada pengguna atas apa yang mereka lihat. Ini menjadi pembeda dengan platform lain yang sering mengandalkan algoritma opak.

    Implikasinya, pengguna Threads kini memiliki tiga alat baru untuk mengontrol pengalaman bermedia sosial: ruang diskusi tematik (Communities), percakapan langsung saat momen besar (Live Chats), dan personalisasi feed tanpa perlu posting publik (Your Algo).

    [CONTENT_END]

  • Raksasa Teknologi Mulai Pesan Chip ke Samsung, TSMC Keteteran

    Raksasa Teknologi Mulai Pesan Chip ke Samsung, TSMC Keteteran

    JBNews.id — Dominasi TSMC di industri fabrikasi chip global mulai terusik. Meski masih menguasai lebih dari 70% pangsa pasar fabrikasi canggih, divisi semikonduktor Samsung (Samsung Foundry) justru kebanjiran pesanan dari raksasa teknologi seperti Google, Nvidia, Tesla, AMD, hingga BYD. Peralihan ini dipicu oleh ketidakmampuan TSMC memenuhi lonjakan permintaan di tengah ketatnya rantai pasok global.

    Berdasarkan laporan Nikkei Asia, Samsung Foundry telah menerima pesanan atau sedang dalam negosiasi serius dengan nama-nama besar tersebut. Kolaborasi ini difokuskan pada manufaktur chip semikonduktor tingkat lanjut berbasis teknologi di bawah 5 nanometer (sub-5nm). Menariknya, beberapa perusahaan sebelumnya merupakan klien eksklusif TSMC.

    Kini, mereka mulai merapat ke Samsung sebagai strategi hedging atau mitigasi risiko. Ketergantungan penuh pada satu pabrikan manufaktur mulai dihindari. Peralihan menuju ekosistem rantai pasok yang lebih beragam menjadi angin segar bagi Samsung untuk membayangi dominasi TSMC.

    Google dan Peran Perantara MediaTek

    Google dikabarkan tengah merancang Tensor Processing Units (TPU) untuk beban kerja Kecerdasan Buatan (AI) melalui kerja sama dengan MediaTek. Raksasa mesin pencari ini mempertimbangkan memberikan kontrak kepada Samsung guna memproduksi bagian krusial dari chip tersebut. Selain itu, Google juga berdiskusi dengan Samsung untuk memproduksi akselerator AI Axion generasi berikutnya.

    Saat ini, Google mendorong tren strategi multi-foundry dengan membagi pesanannya ke TSMC, Intel, dan Samsung. MediaTek dilaporkan bertindak sebagai perantara yang membantu Google bernegosiasi dengan ketiga pabrikan raksasa tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi mulai menghindari ketergantungan pada satu pemasok tunggal.

    AMD Kehabisan Jatah di TSMC

    AMD terpaksa melirik Samsung karena kapasitas produksi fabrikasi canggih TSMC (untuk arsitektur 2nm ke bawah) telah diborong habis oleh Apple dan Nvidia. Baru-baru ini, AMD dan Samsung memperluas kesepakatan kerja sama yang tak lagi sekadar suplai memori. Samsung dirumorkan berhasil mengamankan kontrak bergengsi untuk memproduksi CPU server AMD Epyc generasi mendatang menggunakan teknologi fabrikasi 2nm generasi kedua miliknya.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan kapasitas TSMC mulai berdampak langsung pada mitra lamanya. AMD menjadi salah satu korban dari dominasi Apple dan Nvidia di lini produksi TSMC.

    Borongan dari Perusahaan Elon Musk dan Startup AI

    Setelah sekian lama bekerja sama dengan TSMC maupun Samsung, Tesla dan Qualcomm kini telah menandatangani kontrak baru. Chip Tesla A15 yang digunakan di mobil listrik dan robot mereka saat ini diproduksi oleh kedua pabrikan tersebut. Namun, chip generasi berikutnya, yakni A16, dilaporkan akan diproduksi secara eksklusif oleh Samsung di fasilitas pabrik mereka di Texas, AS.

    Perusahaan milik Elon Musk lainnya, Neuralink, juga dilaporkan menawarkan kontrak yang sangat menggiurkan kepada Samsung untuk mencetak chip implan otak generasi terbaru mereka. Hal ini sejalan dengan keputusan Musk meninggalkan TSMC dan beralih ke Samsung untuk kebutuhan chip canggih.

    Di ranah AI, Groq (startup pengembang akselerator AI yang didukung Nvidia) telah mengumumkan bahwa prosesor canggih LP30 milik mereka akan diproduksi menggunakan teknologi 4nm dari Samsung Foundry. Ini menjadi bukti bahwa Samsung mulai dipercaya untuk memproduksi chip AI generasi terbaru.

    Raksasa EV China, BYD Ikut Merapat

    Raksasa kendaraan listrik (EV) asal China, BYD, menjadi klien potensial lain yang dikabarkan sedang dalam tahap “diskusi lanjutan” dengan Samsung. Berdasarkan laporan Seoul Economic Daily, diskusi ini berfokus pada produksi System on Chip (SoC) mutakhir untuk sistem pengemudian otonom (autonomous driving) dan sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS) generasi berikutnya milik BYD.

    Masuknya BYD ke dalam daftar klien potensial Samsung menunjukkan bahwa permintaan chip untuk kendaraan listrik terus meningkat. Samsung berpotensi menjadi pemasok utama bagi industri EV global.

    Sementara itu, krisis chip AI yang masih panjang membuat TSMC harus memutar otak. Bos TSMC bahkan memberi sinyal akan menaikkan harga di tengah lonjakan permintaan yang tak terpenuhi. Hal ini justru menjadi peluang bagi Samsung untuk merebut pangsa pasar.

    Peralihan besar-besaran ini menunjukkan bahwa era monopoli TSMC di industri fabrikasi canggih mulai berakhir. Samsung Foundry kini menjadi alternatif serius bagi raksasa teknologi yang ingin mendiversifikasi rantai pasok mereka. Implikasinya bagi konsumen: pasokan chip global yang lebih stabil dan potensi harga yang lebih kompetitif dalam jangka panjang.

  • Deepfake AI Marak, Wamenkomdigi Beberkan Solusi Pemerintah

    Deepfake AI Marak, Wamenkomdigi Beberkan Solusi Pemerintah

    JBNews.id — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan bahwa maraknya penipuan digital menggunakan teknologi deepfake AI mendorong pemerintah untuk memperkuat literasi digital dan menerapkan protokol etika yang ketat dalam pengembangan kecerdasan buatan. Pernyataan ini disampaikan Nezar di Jakarta, Kamis (18/6/2026), merespons semakin canggihnya modus kejahatan siber yang memanfaatkan AI untuk meniru wajah, suara, hingga video seseorang.

    Menurut Nezar, perkembangan AI telah berlangsung sangat cepat dan melampaui fase generative AI menuju era agentic AI. Teknologi ini memiliki kemampuan lebih mandiri dalam melakukan penalaran dan pengambilan keputusan. Meskipun menawarkan manfaat besar bagi sektor bisnis, pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan, kemajuan ini juga membawa risiko serius yang harus diantisipasi.

    “Sekarang suara kita bisa ditiru, gambar wajah kita bisa ditiru, dan tampil dalam bentuk deepfake video yang dihasilkan oleh AI dengan sangat mulus,” ujar Nezar dalam pernyataannya. Ia menekankan bahwa hasil manipulasi AI kini telah berkembang menjadi synthetic reality atau realitas sintetik, yaitu konten digital yang tampak sangat nyata sehingga sulit dibedakan dari aslinya.

    Dalam konteks keamanan siber, Nezar menyoroti pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan digital untuk menjalankan berbagai modus penipuan online. Teknologi deepfake yang semakin canggih memungkinkan pelaku memalsukan identitas seseorang untuk mengelabui korban. “Awamnya masyarakat kita tentang perkembangan AI ini membuat banyak yang terkecoh. Itu sebabnya scam saat ini luar biasa,” katanya.

    Untuk mengatasi ancaman ini, Nezar menilai peningkatan literasi digital masyarakat menjadi langkah penting. Masyarakat perlu memahami bahwa foto, suara, maupun video yang beredar di ruang digital tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya. Pemerintah mendorong kolaborasi antara pengembang teknologi, pelaku industri, akademisi, dan komunitas pengguna AI untuk memperkuat tata kelola serta mitigasi risiko sejak tahap awal pengembangan.

    Agentic AI dan Prinsip Human in the Loop

    Selain ancaman penipuan digital, Nezar juga menyoroti perkembangan agentic AI yang memiliki kemampuan menjalankan tugas dan mengambil keputusan secara lebih mandiri. Berbagai kalangan akademisi dan pakar teknologi telah mengusulkan penerapan protokol yang lebih ketat untuk memastikan keputusan penting tetap berada dalam kendali manusia.

    “Banyak pakar mengusulkan agar dilakukan satu protokol yang cukup ketat, termasuk menerapkan prinsip human in the loop dalam decision making,” jelas Nezar. Prinsip ini mengharuskan adanya keterlibatan manusia dalam proses pengawasan dan pengambilan keputusan akhir, terutama untuk keputusan yang berdampak besar terhadap individu maupun masyarakat.

    Nezar menegaskan bahwa pembahasan etika AI saat ini tidak lagi cukup dilakukan secara sukarela. Prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, keamanan, dan perlindungan pengguna harus menjadi bagian yang melekat sejak tahap perancangan teknologi melalui pendekatan ethics by design.

    “Transparency, accountability, safety, itu harus hadir di dalam implementasi, di dalam pengembangan satu produk AI,” tegasnya. Pemerintah mendorong kolaborasi antara pengembang teknologi, pelaku industri, akademisi, dan komunitas pengguna AI dalam memperkuat tata kelola serta mitigasi risiko sejak tahap awal pengembangan.

    “Semoga kita bisa merumuskan langkah-langkah yang tepat dan pemikiran dari forum ini mungkin bisa menjadi pertimbangan-pertimbangan dalam membuat satu kebijakan AI yang etis di Indonesia,” pungkas Nezar.

    Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

    Maraknya penipuan digital berbasis deepfake AI memiliki implikasi langsung bagi masyarakat umum. Dengan kemampuan AI yang semakin canggih, setiap orang berpotensi menjadi korban penipuan identitas. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa kasus penipuan digital meningkat signifikan seiring dengan adopsi AI yang meluas.

    Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus berupaya memperkuat pengawasan dan regulasi di ruang digital. Langkah ini sejalan dengan upaya simulasi serangan siber yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional untuk mengantisipasi ancaman keamanan digital.

    Bagi masyarakat, literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman deepfake. Memverifikasi setiap konten yang mencurigakan, tidak langsung percaya pada informasi visual atau audio yang belum terverifikasi, serta melaporkan konten mencurigakan ke pihak berwenang adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari penipuan digital.

    Dengan pendekatan ethics by design dan prinsip human in the loop, pemerintah berharap pengembangan AI di Indonesia dapat berjalan seimbang antara inovasi dan perlindungan masyarakat. Kolaborasi antara semua pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan etis.

    Ke depan, pemerintah akan terus mendorong diskusi dan forum-forum yang membahas kebijakan AI yang etis di Indonesia. Hal ini penting untuk memastikan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan keamanan dan kepentingan masyarakat luas.

  • Triasmitra Rampungkan Proyek Kabel Laut Rising 8, Target Pendapatan Rp 1 Triliun

    Triasmitra Rampungkan Proyek Kabel Laut Rising 8, Target Pendapatan Rp 1 Triliun

    JBNews.id — PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) menargetkan pendapatan menembus Rp 1,01 triliun pada 2026 setelah berhasil menyelesaikan proyek strategis Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8 segmen Jakarta-Batam. Target ini mencerminkan pertumbuhan sekitar 35% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp750 miliar.

    Direktur Utama Ketrosden Triasmitra, Titus Dondi Patria, menyatakan penyelesaian proyek tersebut menjadi tonggak penting bagi perseroan. “Keberhasilan penyelesaian SKKL Rising 8 merupakan bukti kapabilitas perseroan dalam mengembangkan dan mengoperasikan infrastruktur kabel laut berteknologi tinggi secara mandiri,” ujar Titus dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 dan Public Expose 2026 yang digelar secara online, Kamis (18/6/2026).

    Pada Mei 2026, Triasmitra menuntaskan penggelaran SKKL Rising 8 Jakarta-Batam menggunakan kapal penggelar kabel milik perseroan, Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari. Jaringan sepanjang 1.054 kilometer tersebut dilengkapi 16 fiber pair dan 11 repeater dengan kapasitas desain mencapai 400 Tbps.

    Infrastruktur ini diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung konektivitas berkapasitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan kebutuhan data dan transformasi digital nasional. Menariknya, sebelum proyek selesai dibangun, Triasmitra mengklaim telah mengantongi komitmen dari lima pelanggan yang akan menggunakan kapasitas jaringan tersebut. Menurut manajemen, hal itu menunjukkan tingginya kebutuhan pasar terhadap layanan konektivitas berkapasitas besar dan berkualitas tinggi.

    Proyek Merindo dan Ekspansi ke Timur Indonesia

    Pertumbuhan pendapatan akan ditopang oleh optimalisasi penjualan kapasitas pada jaringan kabel laut dan kabel darat yang telah beroperasi, termasuk monetisasi SKKL Rising 8 serta pengembangan proyek berikutnya, yakni SKKL Median Ring Indonesia (Merindo). Pada tahap awal, proyek tersebut akan memiliki panjang jaringan sekitar 2.360 kilometer dengan teknologi repeatered submarine cable dan 16 fiber pair yang mampu menyediakan kapasitas hingga 24 Tbps per fiber pair.

    Tahap pertama akan menghubungkan Banyuurip-Mataram-Makassar-Labuan Bajo serta Amlapura-Mataram. Selanjutnya, tahap kedua akan menghubungkan Amlapura-Kawinda Nae-Labuan Bajo. Triasmitra menargetkan penggelaran SKKL Merindo dimulai pada kuartal III 2027 dan siap beroperasi pada awal 2028.

    Adapun saat ini, sejumlah persiapan telah dilakukan mulai dari identifikasi lokasi pendaratan kabel, perolehan rekomendasi awal regulator, persiapan marine survey, hingga proses seleksi vendor utama penyedia sistem kabel dan repeater.

    Optimalisasi Kapal dan Kinerja Keuangan

    Di sisi lain, Triasmitra berupaya mengoptimalkan utilisasi kapal CLV Bentang Bahari yang sukses digunakan pada proyek Rising 8. Selain akan digunakan untuk pekerjaan Post Laid Inspection & Burial (PLIB) pada jaringan Jakarta-Batam, kapal tersebut juga disiapkan untuk mendukung pembangunan Merindo dan sejumlah proyek eksternal di wilayah Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi, hingga Indonesia Timur.

    Manajemen menilai tingginya permintaan layanan penggelaran dan pemeliharaan kabel laut akan menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus memperkuat kontribusi pendapatan berulang (recurring revenue) perseroan dalam beberapa tahun ke depan. Dengan penyelesaian Rising 8 dan persiapan pembangunan Merindo, Triasmitra berharap dapat berperan lebih besar dalam memperluas pemerataan konektivitas digital dan memperkuat infrastruktur telekomunikasi nasional hingga ke kawasan timur Indonesia.

    Perusahaan dengan emiten KETR ini juga mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang 2025. Pendapatan tumbuh 35% menjadi Rp750 miliar, sementara laba usaha meningkat 39% menjadi Rp263 miliar. Adapun laba bersih melonjak 63% menjadi Rp138 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh optimalisasi aset infrastruktur, ekspansi pelanggan, dan efisiensi operasional yang berkelanjutan.

    Dalam RUPST, pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris sebagai bagian dari penguatan tata kelola perusahaan, yakni dengan Kennedy Simanjuntak ditunjuk sebagai Komisaris Independen menggantikan Nelly Henry. Selain itu, Glory Simanjuntak ditunjuk sebagai Komisaris, sementara posisi Komisaris Utama tetap dijabat P. Sartono.

    Dengan proyek strategis yang telah rampung dan rencana ambisius ke depan, Triasmitra menunjukkan komitmennya untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan infrastruktur digital nasional. Keberhasilan proyek ini juga membuka peluang bagi perusahaan untuk menggarap proyek-proyek serupa di masa mendatang, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan konektivitas berkecepatan tinggi di Indonesia.

    Proyek Rp15,8 Miliar lainnya di berbagai daerah juga menunjukkan pentingnya infrastruktur bagi pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, tantangan seperti kasus Kades Sukabumi yang menjadi tersangka penggelapan dana proyek menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang baik.

    Implikasi dari rampungnya proyek ini sangat jelas: kapasitas internet nasional akan meningkat signifikan, mendukung transformasi digital di berbagai sektor mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga bisnis. Bagi pelaku industri telekomunikasi, ini berarti peluang baru untuk mengembangkan layanan berbasis data berkapasitas tinggi. Sementara bagi masyarakat umum, konektivitas yang lebih baik akan membuka akses ke layanan digital yang lebih luas dan berkualitas.

  • TelkomGroup Terbitkan Sustainability Report 2025, Integrasikan ESG dalam Transformasi Bisnis

    TelkomGroup Terbitkan Sustainability Report 2025, Integrasikan ESG dalam Transformasi Bisnis

    JBNews.id — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) resmi menerbitkan Sustainability Report (SR) 2025 sebagai langkah strategis mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam transformasi bisnis perusahaan. Laporan ini menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan di tengah percepatan industri digital.

    Vice President Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menyatakan bahwa perusahaan tidak hanya dituntut menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan operasional, pengelolaan lingkungan, penguatan tata kelola, serta nilai tambah bagi masyarakat. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis pada Kamis (18/6/2026).

    Melalui Sustainability Report 2025, TelkomGroup menampilkan pencapaian dan inisiatif strategis yang sejalan dengan agenda transformasi TLKM 30. Agenda tersebut mencakup peningkatan operational excellence, penyederhanaan portofolio bisnis, monetisasi aset digital, hingga transformasi menuju strategic holding company yang lebih adaptif dan kompetitif.

    “Bagi TelkomGroup, sustainability bukan sekadar pemenuhan aspek kepatuhan, melainkan bagian integral dari strategi perusahaan dalam menciptakan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing di era digital,” ujar Gunawan.

    Tiga Pilar ESG: Save Our Planet, Empower Our People, Elevate Our Business

    Implementasi ESG di TelkomGroup dijalankan melalui tiga pilar utama. Pertama, Save Our Planet, yang berfokus pada transisi menuju ekonomi rendah karbon. Inisiatif ini mencakup pengelolaan emisi, efisiensi energi, optimalisasi sumber daya, serta pengembangan infrastruktur digital ramah lingkungan, termasuk green data center.

    Gunawan menjelaskan bahwa sebagai perusahaan digital telekomunikasi, kebutuhan energi akan terus meningkat seiring pertumbuhan layanan digital. Oleh karena itu, perusahaan berkomitmen meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan nasional dan global.

    Salah satu pencapaian penting dalam laporan ini adalah peluncuran Climate Transition Plan untuk pertama kalinya. Inisiatif ini menjadi tonggak strategis dalam memperkuat kesiapan perusahaan menghadapi tantangan perubahan iklim dan mengintegrasikan pengelolaan risiko iklim ke dalam perencanaan bisnis jangka panjang.

    Kedua, pilar Empower Our People, di mana TelkomGroup terus berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia. Hingga tahun 2025, sekitar 21% posisi manajerial di TelkomGroup ditempati oleh perempuan. Selain itu, lebih dari 20,2% talenta perusahaan telah masuk kategori digital talent, selaras dengan kebutuhan industri digital masa depan.

    Komitmen terhadap pelanggan juga tercermin melalui peningkatan Net Promoter Score (NPS) yang meraih predikat ‘Excellent’. Di sisi pemberdayaan ekonomi, sekitar 12,6% UMKM binaan berhasil naik kelas pada tahun 2025 melalui pemanfaatan teknologi digital dan pendampingan berkelanjutan.

    Penguatan Tata Kelola dan Infrastruktur Digital

    Pada pilar ketiga, Elevate Our Business, TelkomGroup memperkuat tata kelola perusahaan, manajemen risiko, serta kepatuhan regulasi. Salah satu langkah strategis pada tahun 2025 adalah pembentukan Direktorat Legal & Compliance untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, kepatuhan regulasi, perlindungan data, dan keamanan informasi.

    Telkom juga terus memperkuat perannya sebagai enabler ekosistem digital nasional melalui pengembangan infrastruktur strategis, termasuk data center, jaringan fiber optik, menara telekomunikasi, serta konektivitas internasional. Upaya ini menjawab kebutuhan terhadap layanan digital, cloud computing, big data, dan teknologi kecerdasan artifisial (AI).

    Langkah ini sejalan dengan inisiatif perusahaan dalam memperkuat transformasi digital Indonesia melalui inovasi dan ekosistem teknologi yang terintegrasi.

    “Dengan penguatan infrastruktur digital, pengembangan talenta, tata kelola perusahaan yang semakin solid, serta implementasi strategi transisi rendah karbon, Telkom terus melangkah untuk mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ekonomi digital Indonesia,” tutup Gunawan.

    Bagi pelaku industri dan pengamat bisnis, penerbitan Sustainability Report 2025 ini menegaskan bahwa TelkomGroup tidak hanya fokus pada ekspansi bisnis, tetapi juga pada aspek keberlanjutan yang menjadi kunci daya saing jangka panjang. Inisiatif seperti penguatan layanan internet bisnis dan monitoring jaringan industri menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjawab kebutuhan pasar yang semakin kompleks.

    Dengan pendekatan ESG yang terstruktur, TelkomGroup diharapkan mampu menjadi pemimpin dalam transformasi digital berkelanjutan di Indonesia, sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan pemegang saham.

  • AI Gagal Prediksi Piala Dunia 2026, Copilot dan ChatGPT Meleset

    AI Gagal Prediksi Piala Dunia 2026, Copilot dan ChatGPT Meleset

    JBNews.id — Prediksi kecerdasan buatan (AI) untuk pertandingan Piala Dunia 2026 terbukti meleset total. Microsoft Copilot dan ChatGPT gagal meramalkan hasil sejumlah laga, termasuk empat pertandingan yang semuanya berakhir imbang, menunjukkan kelemahan fundamental model bahasa besar (LLM) dalam meramalkan kejadian dunia nyata.

    Pada Senin pekan ini, jurnalis olahraga USA Today menguji kemampuan Microsoft Copilot untuk memprediksi hasil empat pertandingan Piala Dunia 2026. Copilot meramalkan Spanyol akan mengalahkan Cape Verde 3-0, Belgia mengalahkan Mesir 2-1, Uruguay mengalahkan Arab Saudi 2-1, dan Iran mengalahkan Selandia Baru 1-0. Kenyataannya, setiap pertandingan berakhir imbang, sebuah hasil yang bahkan tidak dipertimbangkan oleh AI tersebut.

    Belgia vs Mesir dan Uruguay vs Arab Saudi sama-sama berakhir 1-1, sementara Iran dan Selandia Baru bermain imbang 2-2. Pukulan paling telak datang dari pertandingan Spanyol vs Cape Verde. Kiper Cape Verde, Josimar “Vozinha” Dias, tampil gemilang dan mampu menahan gempuran tim Spanyol hingga skor akhir 0-0. Penampilan Vozinha pun menjadi viral di media sosial.

    Analisis prediktif Copilot mengungkap kelemahan mendasar. Seperti ditulis USA Today, model AI tersebut beralasan bahwa penyerang Spanyol akan terus membombardir pertahanan Cape Verde yang dianggap lemah hingga akhirnya jebol. Asumsi ini mencerminkan bias dari pemberitaan media yang sensasional, bukan analisis yang matang. Prediksi Copilot lebih mencerminkan narasi media yang dikonsumsinya daripada kalkulasi objektif di atas lapangan.

    Kegagalan prediksi tidak hanya terjadi pada Copilot. Awal bulan ini, ChatGPT diminta memprediksi hasil final NBA 2026 antara New York Knicks dan San Antonio Spurs. ChatGPT memperkirakan Spurs akan menjadi juara, dengan bintang mereka Victor Wembanyama membawa seri hingga game ketujuh. Kenyataannya, Knicks memenangkan kejuaraan pada game kelima dengan cara yang spektakuler.

    Rentetan prediksi yang meleset ini memperkuat temuan studi prapublikasi yang mengejutkan. Studi tersebut menunjukkan bahwa model bahasa besar seperti ChatGPT dan Copilot sangat tidak mumpuni dalam memprediksi hasil pertandingan olahraga, bahkan untuk menganalisis momen-momen penting dalam pertandingan yang sudah terjadi. Dalam satu pengujian, model AI terbaik sekalipun hanya mampu memprediksi hasil dari segmen permainan tiga hingga 15 menit dengan benar sebanyak 43 persen.

    Angka ini menunjukkan kesenjangan kinerja yang signifikan dalam kemampuan LLM untuk meramalkan hasil dunia nyata, bahkan dalam kondisi pertandingan sepak bola yang terkontrol. Para peneliti menuliskan bahwa manusia mencapai tingkat akurasi 58,9 persen secara keseluruhan dan tetap terkalibrasi dengan baik, berbeda dengan model AI. Singkatnya, LLM masih tertinggal jauh dalam hal pemahaman terhadap olahraga.

    Kegagalan ini menjadi kabar buruk bagi siapa pun yang berharap menggunakan AI untuk bertaruh pada Piala Dunia. Namun, dampaknya jauh lebih besar bagi industri teknologi yang telah membakar ratusan miliar dolar untuk mengubah LLM menjadi mesin penalaran yang kompleks. Ketidakmampuan AI dalam memprediksi hasil pertandingan olahraga menyoroti keterbatasan fundamental dari teknologi ini dalam memahami dunia nyata yang penuh ketidakpastian.

    Implikasinya jelas: meskipun AI dapat melakukan tugas-tugas spesifik seperti mengumpulkan data atau mendeteksi pola, kemampuannya untuk meramalkan kejadian kompleks yang melibatkan faktor manusia masih sangat terbatas. Bagi penggemar olahraga, hasil ini menegaskan bahwa naluri dan pengetahuan manusia tetap tak tergantikan dalam menganalisis pertandingan. Bagi industri teknologi, ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju kecerdasan buatan yang benar-benar mampu menalar masih panjang dan penuh tantangan.

  • HUAWEI MatePad Mini Hadir 24 Juni, Tablet Mini Paling Tipis

    HUAWEI MatePad Mini Hadir 24 Juni, Tablet Mini Paling Tipis

    JBNews.id — HUAWEI akan meluncurkan MatePad Mini di Indonesia pada 24 Juni 2026. Tablet berukuran 8,8 inci ini diklaim sebagai perangkat paling ringan dan tipis di dunia dengan ketebalan hanya 5,2 mm dan bobot sekitar 260 gram.

    Di tengah gaya hidup yang semakin dinamis, banyak pengguna membutuhkan perangkat yang praktis dibawa ke mana saja tanpa mengorbankan produktivitas. Smartphone sering kali kurang nyaman untuk membaca atau bekerja dalam waktu lama, sementara laptop tidak selalu praktis saat bepergian. HUAWEI MatePad Mini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan desain ultra-ringkas yang memungkinkan penggunaan satu tangan.

    Mobilitas menjadi keunggulan utama perangkat ini. Dengan ukuran yang lebih ringkas dibanding tablet konvensional, MatePad Mini dapat dengan mudah masuk ke dalam tas kecil dan menemani berbagai aktivitas sepanjang hari, mulai dari membaca e-book di MRT, mengecek email di sela meeting, menyusun presentasi di kafe, hingga menonton film saat menunggu penerbangan.

    Inovasi Layar Flexible OLED PaperMatte

    Salah satu inovasi terbesar yang dihadirkan adalah Flexible OLED PaperMatte Display, yang merupakan teknologi pertama di industri. Layar ini menggabungkan kualitas visual OLED yang tajam dan kaya warna dengan kenyamanan visual khas PaperMatte Display yang membantu mengurangi pantulan cahaya dan efek silau. Bagi pengguna yang sering membaca artikel, dokumen, jurnal, maupun e-book, pengalaman yang ditawarkan terasa lebih nyaman layaknya membaca di atas kertas.

    Layar ini didukung tingkat kecerahan hingga 1.800 nits, bezel ultra-tipis 2,99 mm, serta screen-to-body ratio mencapai 92%. Tampilan layar tetap terlihat jelas baik di dalam maupun luar ruangan. Detail lebih lanjut mengenai teknologi layar ini dapat disimak dalam ulasan Fitur Terbaru dari perangkat ini.

    Produktivitas Tanpa Batas

    Meski hadir dalam ukuran mini, HUAWEI MatePad Mini dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan produktivitas sehari-hari. Saat bekerja dari kafe, kampus, maupun co-working space, pengguna dapat mengikuti meeting online melalui Zoom, mengelola dokumen menggunakan WPS Office 3.0, hingga memanfaatkan aplikasi AI seperti ChatGPT dan Gemini.

    Bagi content creator, tablet ini dapat digunakan untuk mengedit video menggunakan CapCut. Layar 8,8 inci memberikan ruang kerja yang lebih nyaman dibanding smartphone saat mengatur timeline, menambahkan subtitle, maupun melakukan preview video. Dipadukan dengan HUAWEI M-Pencil generasi terbaru yang mendukung lebih dari 10.000 level sensitivitas tekanan, aktivitas menulis dan menggambar terasa lebih presisi.

    Pengalaman Membaca dan Mencatat yang Lebih Baik

    Bagi pecinta buku, HUAWEI MatePad Mini menjadi teman membaca yang ideal. Pengguna dapat menikmati e-book melalui Kindle, membaca dokumen PDF, mengakses jurnal akademik, hingga menikmati manga melalui Manga Plus dan komik digital di WEBTOON. Kombinasi layar 8,8 inci dengan bobot hanya 260 gram membuat aktivitas membaca terasa nyaman dalam waktu lama.

    Untuk pelajar dan profesional, HUAWEI Notes menghadirkan pengalaman mencatat yang lebih intuitif. Selain mendukung tulisan tangan menggunakan HUAWEI M-Pencil, aplikasi ini dilengkapi fitur AI yang membantu merapikan tulisan tangan, menyempurnakan bentuk objek dan diagram, serta mengelompokkan catatan agar lebih terorganisir.

    Hiburan dan Gaming dalam Genggaman

    Saat waktu bekerja selesai, MatePad Mini dapat beralih menjadi perangkat hiburan. Semua aplikasi penting termasuk aplikasi Google bisa diunduh di AppGallery, yang kini menjadi salah satu dari tiga marketplace aplikasi terbesar di dunia dengan lebih dari 440 juta pengguna aktif bulanan.

    Pengguna dapat menikmati konten video melalui YouTube, menonton film di Netflix, maupun menyaksikan tayangan olahraga di Vidio. Untuk gaming, berbagai judul populer seperti Genshin Impact, Mobile Legends: Bang Bang, dan Roblox dapat dimainkan dengan nyaman berkat area tampilan yang lebih luas dibanding smartphone.

    Daya Tahan dan Layanan Purna Jual

    HUAWEI MatePad Mini dibekali baterai berkapasitas 6.400 mAh yang siap menemani aktivitas sepanjang hari. Dukungan 66W HUAWEI SuperCharge memungkinkan pengisian daya yang lebih cepat. HUAWEI juga menghadirkan layanan resmi melalui WhatsApp HUAWEI Indonesia dengan dukungan pelanggan 24/7 dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.

    Untuk menyambut musim kembali ke sekolah dan kampus, HUAWEI menghadirkan program Back to School dengan diskon hingga 42% untuk produk tertentu. Dua puluh pembeli pertama setiap harinya berkesempatan mendapatkan HUAWEI FreeBuds SE 3 secara gratis selama persediaan masih tersedia.

    Informasi lebih lanjut mengenai promo Back to School dan produk HUAWEI dapat diakses melalui website resmi HUAWEI Indonesia. Dengan desain paling ringan dan tipis di dunia, Flexible OLED PaperMatte Display pertama di industri, serta dukungan aplikasi produktivitas dan hiburan yang lengkap, HUAWEI MatePad Mini siap menjadi perangkat andalan bagi pengguna yang menginginkan tablet mini tanpa kompromi.

  • Spacex IPO Saham Anjlok, Valuasi Rp1.600 Triliun Menguap

    Spacex IPO Saham Anjlok, Valuasi Rp1.600 Triliun Menguap

    JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan signifikan setelah mencapai puncaknya pasca-IPO masif, menghapus lebih dari US$100 miliar (sekitar Rp1.600 triliun) dari kapitalisasi pasar perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut.

    Saham yang sempat melesat hingga US$222 pada Selasa pagi, langsung berbalik arah dan terus merosot pada hari yang sama hingga Rabu. Pada Rabu saja, saham turun hampir lima persen, menandai hari pertama penurunan secara keseluruhan. Laporan Bloomberg mengindikasikan saham kembali tertekan 3-4 persen dalam perdagangan pra-pasar pada Kamis pagi.

    Volatilitas ini menjadi ujian nyata bagi para investor yang sebelumnya berbondong-bondong membeli saham setelah IPO saham SpaceX yang sangat dinanti. Banyak analis sebelumnya menargetkan harga saham yang jauh melampaui harga IPO US$135, namun kenyataan di pasar menunjukkan dinamika yang berbeda.

    Fundamental Bisnis yang Dipertanyakan

    Valuasi triliunan dolar SpaceX dinilai memiliki sedikit kaitan dengan fundamental bisnis. Perusahaan tercatat merugi miliaran dolar tahun lalu. Jalur menuju profitabilitas masih diselimuti ketidakpastian. Lebih memperumit situasi, merger dengan startup AI milik Musk, xAI, membebani perusahaan dengan “albatross kontroversial” yang juga merupakan lubang uang raksasa.

    “Kami sangat nyaman memiliki saham ini karena kami bisa melihat pendapatan US$200 miliar pada 2030,” kata Michael Monaghan, mitra dan manajer portofolio di Founder Funds Dallas, kepada Bloomberg. “Tapi secara harfiah dan kiasan, Anda butuh roket untuk meraih pendapatan itu.”

    Pernyataan Monaghan mencerminkan skeptisisme yang mulai meluas di kalangan investor institusional. Meskipun optimisme masih ada, realitas teknis dan operasional industri antariksa membuat proyeksi pendapatan jangka panjang menjadi sangat spekulatif.

    Peringatan dari Analis

    Andrew Beale dari Arete Research, yang memprediksi saham bisa mencapai US$400, memberikan catatan hati-hati. “Kami yakin fundamental dan potensi pertumbuhan jangka panjang SpaceX akan mendorong minat investor,” katanya kepada Bloomberg. Namun ia menambahkan, “Luar angkasa itu sulit dan jadwal bisa meleset karena anomali peluncuran, tantangan teknis, masalah lingkungan, dan berbagai faktor lainnya. Semua estimasi harus diperlakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.”

    Peringatan ini relevan mengingat sejarah Musk yang dikenal dengan janji-janji muluk yang jarang terwujud. Penurunan antusiasme terhadap saham SpaceX pekan ini bisa menjadi pemeriksaan realitas bagi mereka yang membeli visi grandiose Musk.

    Para pendukung SpaceX dan loyalis Musk kini bersiap untuk perjalanan yang lebih liar dan berlarut-larut dari yang mereka perkirakan. Volatilitas diperkirakan akan terus berlanjut, dan investor harus siap menghadapi gejolak lebih lanjut.

    Penurunan ini terjadi setelah IPO SpaceX menjadikan Elon Musk triliuner pertama dunia, namun kekayaan kertas tersebut kini tergerus seiring koreksi harga saham. Sementara itu, tukang las SpaceX kini miliarder usai IPO, menunjukkan betapa besarnya dampak IPO ini terhadap karyawan.

    Implikasi bagi investor: volatilitas saham SpaceX bukanlah kejutan, melainkan fitur intrinsik dari perusahaan yang valuasinya lebih didorong oleh narasi dan harapan daripada fundamental bisnis yang solid. Keputusan investasi harus didasarkan pada data, bukan pada visi pendiri perusahaan.

  • Fitur Piala Dunia 2026 di Threads, Instagram, dan WhatsApp

    Fitur Piala Dunia 2026 di Threads, Instagram, dan WhatsApp

    JBNews.id — Meta menghadirkan sederet fitur baru di Threads, Instagram, Facebook, Messenger, dan WhatsApp untuk menyambut Piala Dunia 2026. Pembaruan ini mencakup fitur Live Chats, skor real-time, hingga emoji khusus bola resmi turnamen.

    Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu bekerja sama dengan kreator, atlet, tim nasional, komentator, hingga pemegang hak siar untuk menghadirkan konten dan percakapan seputar pertandingan secara langsung di seluruh platform miliknya. Global Football Lead Meta Rob Pilgrim mengatakan rangkaian aplikasi Meta memungkinkan miliaran penggemar di seluruh dunia untuk terhubung dan menikmati suka duka permainan ini bersama-sama.

    “Sebagai tempat di mana percakapan tentang sepak bola hidup dan berkembang, rangkaian aplikasi Meta memungkinkan miliaran penggemar di seluruh dunia untuk terhubung dan menikmati suka duka permainan ini bersama-sama,” kata Pilgrim dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

    Fitur Unggulan di Threads

    Di Threads, Meta menghadirkan fitur Live Chats yang memungkinkan pengguna mengikuti diskusi langsung bersama komentator, atlet, dan kreator sebelum, selama, hingga setelah pertandingan berlangsung. Mantan penyerang tim nasional Argentina Sergio Aguero dan eks striker Inggris Ian Wright dijadwalkan memandu masing-masing tiga sesi Live Chats selama turnamen berlangsung.

    Ilustrasi fitur spesial Piala Dunia 2026 di Threads.

    Selain itu, Threads juga menghadirkan komunitas khusus sepak bola, skor pertandingan secara real-time, atribut bendera tim nasional pada profil pengguna, paket stiker bertema Piala Dunia 2026, emoji khusus, hingga fitur pengingat pertandingan dan sorotan percakapan yang sedang ramai dibahas.

    Langkah ini sejalan dengan pertumbuhan pesat platform tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya, Threads Tembus 500 Juta Pengguna, menjadikannya salah satu platform media sosial dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

    Pembaruan di Instagram dan Facebook

    Sementara itu, Instagram memperbarui fitur pencariannya untuk memudahkan pengguna menemukan berbagai konten terkait Piala Dunia 2026. Pengguna yang mencari topik tertentu atau mengetuk konten sepak bola akan diarahkan ke halaman khusus yang menampilkan Reels, Stories, akun resmi tim nasional, penyiar, sponsor, hingga konten buatan penggemar secara real-time.

    Ilustrasi fitur spesial Piala Dunia 2026 di Instagram.

    Instagram juga menghadirkan efek suara berbasis kecerdasan artifisial (AI) bertema “Goal!” pada fitur pesan langsung (DM) untuk menambah keseruan saat berbincang dengan teman mengenai pertandingan.

    Di Facebook, Meta menghadirkan Football Mode yang memungkinkan pengguna mengaktifkan tampilan aplikasi bertema sepak bola. Ada pula fitur Wear It yang memanfaatkan AI di mana pengguna dapat mencoba jersey tim peserta Piala Dunia secara virtual, lalu membagikannya sebagai foto profil, Story, atau unggahan.

    Fitur Baru di Messenger dan WhatsApp

    Messenger turut mendapatkan fitur Live Updates yang menyajikan informasi pertandingan secara langsung ke dalam grup percakapan, mulai dari gol, kartu merah, hingga momen penting lainnya. Platform tersebut juga menghadirkan tema percakapan khusus sepak bola dan paket stiker bertema Piala Dunia 2026.

    Di WhatsApp, Meta bekerja sama dengan Adidas menghadirkan bola resmi Piala Dunia 2026, Trionda, dalam bentuk emoji khusus yang dapat digunakan dalam percakapan. WhatsApp juga menambahkan efek panggilan video bertema sepak bola, paket stiker khusus, direktori sepak bola yang memuat skor dan informasi pertandingan, serta dukungan bagi kanal untuk membagikan pembaruan melalui fitur Status.

    Ilustrasi fitur spesial Piala Dunia 2026 di WhatsApp.

    Perlindungan Keamanan untuk Penggemar

    Selain menghadirkan fitur-fitur baru, Meta juga memperkuat upaya perlindungan bagi atlet dan penggemar dari potensi penipuan maupun pelecehan daring yang kerap meningkat selama ajang olahraga besar berlangsung. Perusahaan menyiapkan sejumlah pembaruan keamanan, termasuk pengingat di dalam aplikasi bagi pengguna yang mencari tiket pertandingan serta peningkatan fitur perlindungan untuk membantu pengguna tetap aman selama mengikuti rangkaian Piala Dunia 2026 melalui layanan Meta.

    Meskipun menghadirkan inovasi untuk penggemar, Meta juga menghadapi tantangan internal. Morale Meta Anjlok setelah sejumlah karyawan menolak hackathon yang digagas Mark Zuckerberg. Sementara itu, Investasi AI Meta senilai Rp 248 triliun juga belum menunjukkan hasil yang signifikan.

    Implikasinya bagi pengguna, seluruh fitur ini akan tersedia secara bertahap di aplikasi masing-masing menjelang dan selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Penggemar sepak bola di Indonesia dapat menikmati pengalaman menonton yang lebih interaktif dan terhubung langsung dengan komunitas global melalui ekosistem aplikasi Meta.

  • Inggris Uji AI Periksa Usia Pencari Suaka, Picu Kontroversi

    Inggris Uji AI Periksa Usia Pencari Suaka, Picu Kontroversi

    JBNews.id — Pemerintah Inggris berencana menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkirakan usia pencari suaka yang tiba di perbatasan negara itu mulai tahun depan. Langkah ini menjadi yang pertama kalinya sistem estimasi usia wajah atau facial age estimation (FAE) diterapkan dalam konteks imigrasi.

    Rencana ini muncul karena banyak pencari suaka tidak memiliki dokumen resmi yang membuktikan usia mereka. Jika anak-anak secara keliru diklasifikasikan sebagai orang dewasa, mereka dapat kehilangan perlindungan hukum tertentu dan ditempatkan di pusat penahanan khusus dewasa. Investigasi oleh WIRED dan Lighthouse Reports, bekerja sama dengan The Independent, telah memperoleh laporan internal pemerintah Inggris yang merinci pengujian teknologi FAE.

    Temuan investigasi menunjukkan bahwa sistem tersebut secara teratur salah mengidentifikasi anak-anak sebagai orang dewasa dan mengandung masalah bias yang serius. Hal ini secara langsung berdampak pada kelompok migran terbesar yang menjalani penilaian usia pada tahun 2025, berdasarkan data dari Home Office. Temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas teknologi dan apakah teknologi tersebut harus digunakan dalam skenario berisiko tinggi seperti ini.

    Bias Sistemik dan Akurasi yang Dipertanyakan

    Laporan Home Office yang bocor sebagian besar merinci algoritma FAE dengan kinerja “terbaik” dari tujuh algoritma yang diuji tahun lalu, meskipun tidak menyebutkan nama perusahaan di baliknya. Laporan tersebut menemukan bahwa sistem bekerja jauh lebih buruk ketika digunakan untuk memperkirakan usia orang-orang dari Afrika Sub-Sahara dibandingkan dengan kelompok lainnya.

    Kelompok Afrika Sub-Sahara adalah kelompok migran terbesar yang memasuki Inggris setelah menyeberang Selat Inggris dengan perahu kecil dalam beberapa tahun terakhir. Untuk perempuan Afrika Sub-Sahara, perkiraan usia yang dihasilkan sistem meleset rata-rata 4,6 tahun. Artinya, seorang gadis berusia 13,5 tahun dapat dinilai sebagai orang dewasa berusia 18 tahun.

    Investigasi juga menemukan bahwa Home Office membubarkan komite ilmiah yang dirancang untuk memberikan saran tentang metode estimasi usia yang lebih luas saat mereka sedang menjajaki pengenalan AI. “Kami sangat ingin menyoroti ketidakcukupan estimasi usia wajah, tetapi kesempatan ini tidak diberikan kepada kami, dan kemudian komite dibubarkan,” kata Tim Cole, profesor emeritus statistik medis di University College London’s Institute of Child Health dan mantan anggota komite. Cole menggambarkan pemindaian wajah sebagai “sangat tidak akurat.”

    Selain laporan internal dan kekhawatiran anggota komite ilmiah, hasil tes bertahun-tahun dari US National Institute of Standards and Technology telah menunjukkan bahwa akurasi sistem FAE sering bergantung pada ras orang yang dianalisis dan kualitas foto yang diambil. “Kami memiliki proses yang ketat untuk memverifikasi usia seseorang dan bekerja untuk memodernisasi ini melalui pengujian teknologi estimasi usia wajah yang cepat dan efektif,” kata juru bicara Home Office sebagai tanggapan atas temuan tersebut. Juru bicara menambahkan bahwa komite dibubarkan karena membutuhkan “bidang keahlian yang berbeda.”

    Dampak pada Anak-Anak Pencari Suaka

    Home Office mengatakan pemindaian wajah dirancang sebagai alat “tambahan” bagi petugas perbatasan dan tidak akan “menggantikan atau mengesampingkan penilaian manusia.” Namun, mereka tidak menjawab pertanyaan tentang bagaimana teknologi ini akan digunakan di lingkungan dunia nyata. “Dalam kasus ketidakpastian,” kata juru bicara, “individu akan selalu diperlakukan sebagai anak-anak sampai penilaian lebih lanjut dilakukan.”

    Pemerintah Inggris pertama kali mengumumkan rencana untuk menggunakan estimasi usia wajah bersama penilaian staf perbatasan pada Juli 2025. Sejak itu, Home Office menunda peluncuran sistem hingga 2027, dengan mengatakan akan menggunakan “AI teknologi mutakhir” untuk “memberantas klaim palsu” dengan tujuan menghentikan “orang dewasa yang mencoba mengakali sistem.”

    Dalam lima tahun terakhir, pemindaian wajah AI telah menjadi komponen kunci dari program verifikasi usia online yang kontroversial. Teknologi ini juga telah diuji coba di beberapa bar dan toko di Inggris. Estimasi usia wajah bekerja dengan menganalisis fitur wajah seseorang—dengan sistem yang mendasarinya dilatih pada jutaan wajah berlabel usia—untuk menghasilkan perkiraan usia.

    Dalam uji laboratorium terkontrol, algoritma terbaik dapat memprediksi usia seseorang dalam rentang sekitar 2,5 tahun. Namun, hasilnya dapat sangat bervariasi tergantung pada algoritma, jenis kelamin seseorang, detail demografis, dan faktor lainnya. Gambar berkualitas buruk, seperti yang memiliki pencahayaan buruk, dapat secara drastis mengurangi kinerja sistem.

    Laporan Home Office yang bocor, yang diproduksi pada April 2025, merinci pengujian tujuh algoritma FAE terhadap lebih dari 2,5 juta gambar. Laporan internal tersebut mengatakan bahwa “algoritma dengan kinerja terbaik” yang tidak disebutkan namanya memiliki “penyimpangan substansial” ketika diuji pada gambar orang Afrika Sub-Sahara. Rata-rata, sistem itu juga cenderung memprediksi bahwa seorang berusia 17 tahun akan berusia di atas 18 tahun, dan kinerjanya lebih buruk pada perempuan.

    Kekhawatiran Hak Asasi Manusia

    Puluhan ribu orang mengajukan klaim suaka di Inggris setiap tahun, dengan banyak yang tiba di negara itu setelah perjalanan berbahaya dan menuntut secara fisik dengan perahu kecil menyeberangi Selat Inggris. Saat ini, staf perbatasan yang meragukan usia seseorang yang mengaku di bawah 18 tahun dapat menilai penampilan fisik, jawaban atas pertanyaan wawancara, dan sikap umum mereka, untuk membuat keputusan awal tentang usia mereka.

    Sejak 2010, 40 persen orang yang telah menjalani penilaian usia telah diklasifikasikan sebagai orang dewasa, menurut statistik resmi. Laporan Home Office yang bocor mengatakan bahwa temuannya didasarkan terutama pada pengujian yang menggunakan gambar berkualitas tinggi dari orang yang terdokumentasi, dan itu mungkin berarti bahwa tingkat akurasi algoritma akan lebih buruk dalam praktiknya.

    “Anak-anak yang mencari suaka sering kali mengalami trauma yang tak terbayangkan,” kata Martha Dark, salah satu direktur eksekutif kelompok hak asasi Foxglove. “Mereka tidak boleh menjadi subjek uji coba untuk teknologi eksperimental yang memiliki ketidakakuratan bawaan dan bias rasis.” Foxglove, bersama dengan 61 organisasi lainnya, mengirimkan surat terbuka kepada pemerintah Inggris pada hari Kamis yang meminta Home Office untuk membatalkan rencananya menggunakan alat tersebut.

    Tidak jelas apakah sistem yang cacat yang disebutkan dalam laporan itu dibeli oleh pemerintah Inggris, tetapi pada bulan Mei tahun ini mereka menghabiskan lebih dari $400.000 untuk teknologi pemindaian wajah dari perusahaan Jerman, Cognitec. Analisis WIRED dan Lighthouse Reports terhadap data publik tentang sistem estimasi usia wajah Cognitec menemukan bahwa sistem Cognitec salah mengklasifikasikan dua kali lebih banyak anak berusia 16 tahun sebagai berusia 18 tahun atau lebih ketika sistem diuji pada kumpulan data foto berkualitas lebih rendah yang diambil di perbatasan.

    Lighthouse Reports melakukan audit penuh terhadap data dari skor estimasi wajah NIST, yang menunjukkan perbedaan demografis dalam kinerja, termasuk bahwa anak berusia 16 tahun dari Afrika Barat lebih mungkin diklasifikasikan sebagai berusia 18 tahun atau lebih daripada anak berusia 16 tahun dari Eropa Timur. Seorang juru bicara Cognitec mengatakan mereka tidak dapat berkomentar tentang pekerjaan mereka dengan Home Office; namun, mereka menunjukkan bahwa “perbedaan demografis” dalam kinerja berlaku untuk semua algoritma pemindaian wajah.

    “Penyebab bias sangat kompleks dan sering terkait dengan masalah kualitas gambar,” kata juru bicara itu. “Bias algoritma Cognitec rendah dibandingkan dengan algoritma lain dengan akurasi keseluruhan yang serupa, dan yakinlah bahwa kami dengan tekun dan terus-menerus bekerja untuk mengurangi bias dengan mengembangkan metodologi pengujian khusus, merancang fungsi kerugian dalam pelatihan jaringan kami, dan dengan mendiversifikasi data pelatihan dan pengujian.”

    Uji Stres dan Risiko Operasional

    Bahkan jika akurasi dapat ditingkatkan, teknologi jarang dioperasikan persis seperti yang dimaksudkan oleh penciptanya. Bug, cacat teknis, dan kesalahan pengguna berarti sistem sering menghasilkan kesalahan. Ketika digabungkan dengan keputusan sensitif yang dapat mengubah hidup orang, risiko itu dapat diperparah.

    Selama bertahun-tahun, menurut laporan sebelumnya dari Inspektur Independen Utama Perbatasan dan Imigrasi Inggris, estimasi usia yang dipimpin manusia oleh Home Office telah mencakup masalah. Ada contoh pencatatan yang “buruk”, penilaian visual yang “dangkal”, dan terkadang kurangnya penjelasan dari staf perbatasan tentang proses yang ada. Staf yang melakukan penilaian usia tidak diberikan pelatihan khusus untuk tugas itu sampai tahun 2023, menurut laporan inspeksi terakhir.

    “Membuat keputusan usia awal adalah pekerjaan yang sulit dan kompleks, dengan petugas imigrasi bekerja dalam keadaan yang menantang, sering kali di bawah tekanan untuk memproses banyak pendatang baru dengan cepat,” kata Home Office dalam panduan yang baru diterbitkan tentang potensi penggunaan AI estimasi usia wajah. “Ini memungkinkan petugas imigrasi untuk menguji penilaian mereka terhadap perkiraan teknologi.”

    Namun, dalam laporan yang bocor tahun lalu, Home Office mengatakan bagaimana teknologi pemindaian wajah akan digunakan dalam “konteks operasional” masih dieksplorasi. Laporan itu, yang sebelumnya ditolak pemerintah untuk dirilis dalam permintaan catatan, juga menyoroti bahwa pengujian menemukan “penuaan sementara” yang berkaitan dengan trauma dan “stres perjalanan” tampaknya berdampak pada akurasi sistem estimasi usia wajah, menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang penggunaan teknologi dalam proses suaka.

    Sementara itu, para ahli khawatir bahwa penggunaan teknologi estimasi usia wajah di perbatasan akan “merendahkan martabat” bagi orang-orang yang terkena dampaknya dan dapat menjadi normal bagi staf. “Seiring waktu, ada risiko nyata bahwa ini akan menjadi mengakar,” kata Anna Bacciarelli, peneliti senior di Human Rights Watch. “Ada begitu banyak risiko di setiap komponen sistem ini sehingga benar-benar tidak layak untuk dikejar hanya untuk bisa mengatakan bahwa Anda menggunakan AI untuk mengatasi migrasi.”

    Laporan tambahan oleh The Independent’s Holly Bancroft. Untuk informasi lebih lanjut tentang implikasi AI di berbagai sektor, baca juga artikel tentang Anthropic Buka Pengaman Rahasia Claude Fable 5 serta YouTube Diduga Langgar Sanksi AS.